Shira Putri Nataniela1* , Najwa Naila Rahma Kamil2* , Muhammad Syafiq Ramadhan3 , Arrafi Raikhansyah4, Agi Ginanjar5 , Rizka Aulia Febriyani6 , Albar Syaqieb7 , Agisna Malik Alhakim8 , Riva Esya Agustiyani9 , Dian Herdiana10 , Ilham Pahman11
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung
llink akses: https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/NJPC/article/view/4891
Abstract
Pancasila is the fundamental ideology of the
Indonesian state and should serve as a guiding principle in national and civic
life; however, the implementation of its values within society remains limited.
In the educational context, Islamic boarding schools pondok pesantren play a
crucial role in character formation based on Pancasila values, particularly the
Second Principle, “Just and Civilized Humanity,” which aligns with the
pesantren’s mission to develop generations with akhlaqul karimah (noble character).
These values are believed to be implemented through moral development and
residential routines at Pondok Quran Boarding School. Therefore, this study
aims to analyze and describe specifically how the values of the Second
Principle of Pancasila are actualized in efforts to build students’ character
at Pondok Quran Boarding School. This study employs a Participatory Action
Research (PAR) approach with a qualitative design that emphasizes active
involvement and collaboration between the researchers (university students) and
participants (students). The actualization of Pancasila values, particularly
the Second Principle, was carried out through socialization activities and a
series of stages, including planning, preliminary observation, implementation
of educational activities in the field, and reflection. The findings indicate
that the PAR approach through interactive educational programs is effective as
a medium for the actualization and internalization of the Second Principle of
Pancasila among junior high school students. These activities make a tangible
contribution to strengthening students’ character by fostering respect for
human dignity, building civilized relationships, and creating a culture of
mutual respect and a healthy learning environment within the school.
Keywords: Pancasila actualization, second principle of
Pancasila, Islamic boarding school, student character, participatory action
research (PAR).
Abstrak
Pancasila adalah dasar negara yang harus menjadi acuan dalam kehidupan
berbangsa, namun implementasi nilai-nilai tersebut dalam masyarakat masih
minim. Dalam konteks pendidikan, pondok pesantren memainkan peran krusial dalam
pembentukan karakter berdasarkan nilai Pancasila, khususnya Sila Kedua
"Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," yang sejalan dengan tujuan
pesantren untuk mengembangkan generasi berakhlakul karimah. Nilai ini diyakini
diimplementasikan melalui pembinaan moral dan rutinitas berasrama di Pondok
Quran Boarding School. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis dan mendeskripsikan secara spesifik bagaimana nilai-nilai Sila
Kedua Pancasila diaktualisasikan dalam upaya membangun karakter santri di
Pesantren Pondok Quran Boarding School. Penelitian ini menggunakan pendekatan
Participatory Action Research (PAR) dengan desain kualitatif yang menekankan
pada keterlibatan aktif dan partisipasi antara peneliti (mahasiswa) dan
partisipan (siswa). Kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila
Kedua, dilaksanakan melalui sosialisasi dan serangkaian tahapan mulai dari
perencanaan, observasi awal, pelaksanaan kegiatan edukasi di lapangan, hingga
refleksi. Disimpulkan bahwa pendekatan PAR melalui program edukasi interaktif
terbukti efektif sebagai wadah aktualisasi dan internalisasi nilai Sila Kedua
Pancasila pada siswa SMP. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam
memperkuat karakter santri agar menjunjung tinggi martabat manusia, membangun
hubungan yang beradab, serta menciptakan budaya respect dan lingkungan belajar
yang sehat di sekolah.
Kata Kunci: Aktualisasi Pancasila, Sila Kedua, Pondok Pesantren, Karakter Santri, Participatory Action Research (PAR).
PENDAHULAN
Pancasila adalah
dasar Negara republik Indonesia yang dirumuskan oleh mohammad yamin, Dr.
Soepomo dan Ir. Soekarno guna menjadi acuan atau rujukan bagi seluruh rakyat
Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agar segala sesuatu yang
dilakukan rakyat Indonesia tetap dalam nilai dan asas ketuhanan, kemanusian,
persatuan, kerakyatan dan keadilan. Dalam UUD 1945 pancasila merupakan filsafat
dan dasar Negara artinya setiap hal dalam konteks penyelenggaraan Negara harus
sesuai dengan nilai pancasila, termasuk peraturan, perundang undangan,
pemerintahan, sistem demokrasi dan lainnya.
Pancasila sebagai rumusan dan pedoman yang harus dipegang teguh guna
untuk melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat
Indonesia. Saat ini sangat minim sekali masyarakat/rakyat Indonesia yang
mengimplementasikan pancasila di dalam kehidupannya.
Dalam konteks
pendidikan salah satu lembaga yang yang berperan dalam membentuk karakter
berdasarkan nilai Pancasila adalah pondok pesantren. Ia adalah lembaga
pendidikan islam yang pendidikannya lebih mengarah kepada pelajaran agama akan
tetapi tidak melupakan pelajaran pelajaran umum yang terdapat di lembaga lain
(non pesantren), pondok pesantren mempunyai pendidikan penting bagi generasi
muda Indonesia, salah satu tujuan pesantren adalah mengembangkan bangsa yang
beradab dan berakhlakul karimah, tentunya hal ini selaras dengan sila kedua
Pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab” ia mengandung nilai penghargaan
terhadap martabat manusia, sikap tenggang rasa, persaudaraan, serta menjunjung
tinggi nilai keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai inilah yang menjadi
dasar sekaligus tujuan dari pendidikan pesantren, termasuk di Pondok Quran
Boarding School.
Sebagai lembaga
pendidikan Islam yang menanamkan nilai akhlak dan perilaku beradab, pesantren
mengajarkan santri untuk saling menghormati, memperlakukan sesama secara
manusiawi, menjauhi tindak kekerasan, serta mengedepankan sikap peduli terhadap
lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan konteks bahwa pesantren memiliki
peran besar dalam membentuk karakter bangsa sejak masa perjuangan hingga saat
ini, tidak hanya melalui pemahaman agama tetapi juga melalui pembiasaan sikap
adil, saling tolong-menolong, dan menghormati keberagaman umat. Dengan
demikian, implementasi sila kedua di Pondok Quran Boarding School tampak
melalui pembinaan moral santri, disiplin yang mendidik, serta kehidupan
berasrama yang menuntut kerja sama, saling menghargai, dan menjunjung martabat
manusia. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tidak hanya diajarkan dalam
teori, tetapi langsung dipraktikkan dalam rutinitas keseharian santri, seperti
melalui kegiatan ibadah bersama, adab pada guru (ta’dzim), dan kepedulian
terhadap teman.
Hal ini
membuktikan bahwa pesantren menjadi wadah konkret dalam penanaman karakter
Pancasila, khususnya sila kedua, sehingga santri tumbuh sebagai generasi
berperikemanusiaan, bermoral, dan siap berkontribusi bagi bangsa sesuai nilai
luhur Pancasila.
Dari uraian di
atas. Kami, kelompok 2 tertarik untuk melakukan sosialisasi serta membuat
artikel dengan judul “Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila Dalam Upaya Membangun
Karakter Anak-anak Di Pesantren Pondok Quran Boarding School Kecamatan
Cilengkrang Kabupaten Bandung” untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara
lebih spesifik serta menggali bagaimana nilai nilai Pancasila dapat diterapkan
di sekolah tersebut.
METODE
Dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, kelompok
kami melaksanakan sebuah kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dengan
menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu suatu metode
penelitian partisipatif yang menekankan keterlibatan aktif antara peneliti dan
partisipan dalam proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan,
pelaksanaan, hingga refleksi secara bersama-sama.
Pendekatan PAR
kami pilih karena sesuai dengan semangat pemberdayaan, partisipasi, dan
keterlibatan langsung mahasiswa dalam proses sosial. Melalui pendekatan ini,
mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga menjadi
fasilitator yang aktif membangun dialog dan bekerja sama dengan siswa untuk
memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab
sebagaimana tercermin dalam sila kedua Pancasila.
Aktualisasi
nilai-nilai Pancasila ini kami laksanakan melalui kegiatan sosialisasi kepada
siswa-siswi sekolah dasar. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan dan
menumbuhkan pemahaman serta penghayatan terhadap nilai-nilai luhur Pancasila
sejak usia dini. Pendekatan partisipatif yang digunakan melibatkan mahasiswa
sebagai fasilitator, pemateri, serta pendamping dalam pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan ini
dilaksanakan pada 7 November 2025, dimulai pukul 08.30 WIB sampai pukul 11.00
WIB. Dalam pelaksanaannya, kelompok kami melakukan serangkaian tahapan yang
meliputi: (1) Perencanaan materi dan strategi penyampaian, (2) Koordinasi
internal antaranggota kelompok, (3) Observasi awal terhadap karakteristik
siswa, (4) Pelaksanaan kegiatan di lapangan, dan (5) Evaluasi kegiatan melalui
dokumentasi serta refleksi kelompok. Setiap anggota kelompok memiliki peran
yang telah dibagi secara proporsional berdasarkan minat dan kompetensi
masing-masing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum
Pancasila
merupakan pondasi dan pedoman bagi bangsa indonesia. Dengan demikian
nilai-nilai yang terdapat di dalamnya harus dijadikan acuan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, serta dalam aktivitas sehari-hari. Pancasila berasal
dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti dasar, sendi, asas, ata
peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian pancasila
merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang
penting dan baik ( Dwi astuti dan Ambari, 2020)
Adapun sila kedua
yang berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab” yang bermakna nilai
kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua menjamin persamaan hak dan
kewajiban serta derajat antar sesama manusia yang satu dengan yang laintanpa
harus membedabedakan berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)
(Marzuki dkk, 2025). Secara tidak langsung ini menyebutkan jika kita sebagai
manusia tidak ada perbedaan dalam kewajiban maupun hak, Nilai kemanusiaan dalam
sila ini menegaskan bahwa perlakuan terhadap sesama harus didasarkan pada
prinsip keadilan dan penghormatan terhadap manusia. Sila ini mengajarkan bahwa
kehidupan bermasyarakat harus dibangun di atas sikap saling menghargai,
menghormati, dan menjunjung tinggi kemanusiaan agar tercipta hubungan yang
harmonis dan beradab di antara seluruh warga negara.
Pada kegiatan kali ini kami menggunakan sila kedua sebagai penerapan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam lingkungan sekolah untuk menjunjung keadilan dan kesetaraan pada sesama manusia. Dari segi keilmuan, lembaga pendidikan sangatlah berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila karena tidak mungkin dalam suatu keluarga akan memberikan pelajaran yang ada di sekolah terutama nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara, pandangan hidup dasar negara bangasa Indonesia harus ditanamkan dimulai dari sekolah Kelompok Bermain sampai sekolah tingkat perguruan tinggi, di tiap sekolah Pancasila wajib dikenalkan, diajarkan, ditanamkan pada semua peserta didik dan juga anggota masyarakat (MieMindyasningrum, 2024).
Kegiatan atau
aktualisasi ini dilakukan di SMP ALQURAN yang bertempatkan di Kecamatan
Cilengkrang Kabupaten Bandung. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah islam
yang menyediakan pendidikan dan hafalan Al-quran, baik untuk masyarakat sekitar
maupun luar. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada Jum’at, 7 November 2025 pukul
08.00 - 11.00 WIB.
Mekanisme
Untuk memastikan
tujuan dalam penerapan sila kedua yang kami sampaikan dapat tersampaikan dengan
baik dan efektif kepada peserta didik di SMP ALQURAN, kami merancang seminar
dengan tema "No Toxic Just Respect" ini tidak hanya berfokus pada
materi, tetapi juga pada mekanisme pelaksanaan yang interaktif dan
partisipatif.
Kegiatan seminar
No Toxic Just Respect melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik,
pemateri, tujuan seminar, metode seminar, media dan lainnya. Selain itu peranan
seorang pemateri dalam seminar pun tak kalah penting untuk mengembangkan
pengetahuan dan potensi peserta didiknya dalam rangka memberikan ilmu
pengetahuan, agar tujuan dari seminar dapat dicapai secara optimal.
Alat interaksi
yang utama dalam seminar kali ini adalah "berbicara" dimana pemateri
dapat dengan mudah untuk menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan
tema. Sementara bagi peserta didik kegiatan belajar yang utama adalah
mendengarkan dengan seksama dan mencatat poin-poin yang penting. Jika proses
penyampaian itu sebagai salah satu yang diandalkan oleh pemateri adalah
penuturan lisan, maka pemateri harus memastikan kemampuan dalam berbicara,
terdengar huruf vokal dengan jelas dan kemampuan mengatur volume disetiap
kalimat yang terucap.
Kami menggunakan
metode diskusi interaktif. diskusi interaktif didalamnya terdapat poin-poin
yang mencakup seperti kegiatan tanya-jawab dan ketika melakukan pemaparan
pemateri sangat dianjurkan untuk tidak formal agar tidak membuat susasan bosan
dan kaku. Oleh karena itu, pemateri harus sering melakukan interaksi terhadap
peserta didik. Dengan diskusi interaktif, lebih mudah untuk peserta didik memahami materi lebih dalam dan mampu
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari secara optimal. Kemudian
kami melakukan sesi tanya-jawab dalam seminar kali ini agar pemateri tahu
sampai dimana pemahaman peserta didik tentang isi seminar tersebut.
Kegiatan Pembelajaran
(Implementasi)
Implementasi
kegiatan pada penelitian ini dilakukan melalui serangkaian acara yang telah
disusun oleh peneliti dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Adapun urutan
pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut.
1. Pembukaan oleh MC dan pembacaan
tasmi
Gambar
1: Pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Acara dimulai
dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), yaitu Riva Esya Agustiani, yang
bertugas memimpin jalannya kegiatan dari awal hingga akhir. Pada bagian ini, MC
membuka kegiatan dengan menyampaikan salam pembuka serta memberikan salam
hormat kepada para guru dan peserta yang hadir. Setelah itu, MC memperkenalkan
dirinya secara singkat serta menjelaskan tujuan pelaksanaan seminar “Not Toxic
Vibes, Just Respect” sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai Pancasila,
khususnya Sila Kedua. Pembukaan ini juga memuat pemaparan singkat mengenai
rangkaian acara yang telah disusun mulai dari sesi sambutan, penyampaian
materi, pelaksanaan kuis, sesi tanya jawab, hingga penutupan kegiatan.
Pembukaan dilakukan agar kegiatan dapat brjalan dengan tertib dan terarah.
Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan Tasmi oleh Arrafi Raikhansyah, yang dilakukan dengan khidmat sesuai prosedur pembelajaran, sebagai doa agar kegiatan berjalan lancar
2. Sambutan dari pihak
sekolah
Gambar
2: Sambutan dari pihak sekolah.
Sambutan dari pihak sekolah disampaikan oleh Ustadz Ilham Pahman, S.Pd selaku guru pembimbing. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan seminar bertema “Not Toxic Vibes, Just Respect” yang dianggap sangat relevan dengan kondisi pergaulan pelajar masa kini, khususnya generasi Z yang sering berhadapan dengan dinamika komunikasi digital maupun interaksi langsung di lingkungan sekolah. Ustadz Ilham menekankan bahwa rangkaian materi yang disiapkan mulai dari penjelasan mengenai apa itu perilaku toxic, pentingnya nilai respect sebagai kunci hubungan sosial, cara membangun suasana yang nyaman dalam sebuah organisasi, hingga upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang positif dan sehat merupakan topik yang tidak hanya aktual, tetapi juga bermanfaat untuk membentuk karakter peserta didik. Beliau berharap melalui seminar ini para siswa mampu mengenali bentuk-bentuk perilaku toxic, memahami bagaimana sikap saling menghargai dapat diterapkan, serta mengembangkan kebiasaan berinteraksi yang lebih beradab di lingkungan sekolah
3. Sambutan ketua
pelaksana
Gambar
3: Sambutan dari ketua pelaksana.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Agi Ginanjar selaku ketua pelaksana kegiatan. Dalam sambutannya, ketua pelaksana menjelaskan tujuan penyelenggaraan seminar “Not Toxic Vibes, Just Respect” sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua. Ketua pelaksana memaparkan bahwa tema tersebut dipilih untuk memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai pentingnya membangun sikap saling menghargai, menghindari perilaku toxic, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif. Selain menjelaskan alasan pemilihan tema, ketua pelaksana juga menyampaikan rangkaian kegiatan yang telah disusun, mulai dari pemaparan materi, sesi tanya jawab, hingga kegiatan interaktif yang bertujuan memperkuat pemahaman peserta. Ketua pelaksana berharap melalui seminar ini seluruh peserta dapat memperoleh wawasan yang bermanfaat dan mampu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks pertemanan, organisasi, maupun aktivitas belajar di sekolah.
4. Penyampaian Materi 1
Gambar
4: Penyampaian materi pertama "Apa Itu Toxic?".
Materi pertama
disampaikan oleh Najwa Naila Rahma Kamil dengan topik “Apa Itu Toxic?”. Pada
materi ini, pemateri menjelaskan bahwa istilah “toxic” memiliki arti dasar
beracun, namun dalam konteks hubungan sosial, toxic merujuk pada perkataan,
sikap, atau perilaku yang dapat melukai, merugikan, atau membuat orang lain
merasa tidak nyaman. Pemateri menegaskan bahwa perilaku toxic tidak selalu
terlihat secara langsung; terkadang muncul melalui ucapan halus, sikap tidak
menghargai, hingga kebiasaan kecil yang perlahan-lahan mempengaruhi suasana
lingkungan.
Pemateri
memberikan beberapa contoh perilaku toxic yang sering ditemui dalam kehidupan
sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah. Misalnya, kebiasaan merendahkan
orang lain, baik secara bercanda maupun serius, tidak menghargai pendapat
teman, serta menyebarkan gosip yang dapat memicu kesalahpahaman. Selain itu,
sikap egois dan ingin selalu menang sendiri juga termasuk perilaku toxic yang
dapat merusak kerja sama dalam organisasi ataupun kelompok belajar.
Najwa juga
menjelaskan bahwa orang dengan perilaku toxic umumnya sulit merasa bahagia,
sering mengeluh, dan cenderung melampiaskan masalahnya kepada orang lain. Hal
ini membuat lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman dan penuh tekanan. Oleh
sebab itu, mengenali tanda-tanda perilaku toxic menjadi hal yang sangat penting
bagi siswa agar mampu menjaga diri dari pengaruh negatif sekaligus tidak
menjadi bagian dari pola perilaku tersebut.
Melalui pemaparan
ini, peserta diarahkan untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar
mereka. Pemateri menekankan pentingnya membangun lingkungan yang sehat dengan
cara saling menghargai, menjaga ucapan, dan menghindari perilaku yang dapat
menurunkan kenyamanan orang lain. Materi pertama ini memberikan dasar pemahaman
yang kuat sebelum memasuki topik-topik berikutnya mengenai respect dan
pembangunan suasana positif di sekolah.
5. Penyampaian materi 2
Gambar
5: Penyampaian materi kedua "Respect adalah Kunci".
Materi kedua
disampaikan oleh Shira Putri Nataniela dengan topik “Respect adalah Kunci”.
Pada sesi ini, pemateri menekankan bahwa respect atau rasa menghargai merupakan
fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam lingkungan
sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Shira menjelaskan bahwa respect tidak
hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Ketika
seseorang mampu menghargai dirinya, ia akan lebih mudah memberi penghargaan
yang sama kepada orang di sekitarnya.
Dalam
pemaparannya, Shira memperkenalkan konsep R E S P, yaitu empat cara sederhana
namun efektif dalam menerapkan sikap respect:
1. R — Reach to Listen, yaitu mendengarkan sebelum berbicara. Sikap ini
menunjukkan bahwa kita memberi ruang kepada orang lain untuk menyampaikan
pendapat, sehingga tercipta komunikasi yang lebih sehat dan tidak saling
memotong.
2. E — Empathy First, yaitu mendahulukan empati. Dalam lingkungan
sekolah, penting untuk tidak menghakimi, tidak menyindir, dan berusaha memahami
perasaan orang lain terlebih dahulu sebelum memberikan respons.
3. S — Say It Kindly, yaitu membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan
maaf dengan tulus. Menurut pemateri, dua kata sederhana ini dapat menjaga
keharmonisan dan mencegah konflik kecil berkembang menjadi masalah besar.
4. P — Perceive Differences, yaitu menghargai perbedaan cara berpikir,
gaya kerja, maupun karakter setiap teman.
Shira juga
menegaskan bahwa respect bukan sekadar sikap sopan santun, tetapi merupakan
cara membangun kepercayaan, rasa aman, dan kerja sama antaranggota. Ketika
budaya respect telah tertanam kuat, suasana sekolah akan terasa lebih tenang,
nyaman, dan produktif. Selain itu, lingkungan yang penuh rasa saling menghargai
akan secara otomatis menekan munculnya sikap toxic, karena energi negatif tidak
memiliki ruang untuk berkembang.
Melalui materi ini, peserta diharapkan mampu memahami bahwa respect adalah kunci utama dalam membentuk hubungan yang sehat serta menjaga kekompakan dalam lingkungan sekolah. Materi kedua ini menjadi jembatan penting menuju pembahasan berikutnya mengenai pembentukan suasana positif dan sehat di lingkungan sekolah
6. Ice Breaking
Gambar
6: Ice Breaking.
Sebelum memasuki
materi berikutnya, kegiatan diselingi dengan sesi ice breaking untuk mencairkan
suasana dan meningkatkan fokus peserta. Ice breaking ini dipandu oleh Ketua
Pelaksana bersama MC, dan berjalan dengan suasana yang sangat interaktif.
Permainan dilakukan dengan instruksi gerak sederhana namun
menantang, yaitu peserta diminta melakukan kebalikan dari perintah yang
diberikan. Ketika pemandu menyebutkan “maju”, seluruh peserta justru harus melompat
ke belakang; ketika diperintahkan “ke kiri”, peserta harus bergerak ke kanan,
dan sebaliknya. Pola permainan yang sengaja dibalik ini membuat banyak peserta
tertawa karena kerap salah mengikuti instruksi.
Peserta yang
salah gerak atau terlambat merespons diminta untuk maju ke depan dan menjawab
satu pertanyaan singkat terkait materi sebelumnya, baik dari materi pertama
maupun materi kedua. Melalui mekanisme ini, ice breaking tidak hanya berfungsi
sebagai penyegar suasana, tetapi juga membantu peserta mengulang kembali
poin-poin materi secara ringan dan menyenangkan. Suasana kelas terlihat lebih
hidup, antusias, dan kondusif untuk melanjutkan sesi materi selanjutnya.
7.
Penyampaian materi 3
Gambar
7: Penyampaian materi ketiga “Bangun Suasana Nyaman dalam Organisasi”.
Materi ketiga
disampaikan oleh Rizka Aulia dengan topik “Bangun Suasana Nyaman dalam
Organisasi”. Pada sesi ini, pemateri menjelaskan bahwa suasana yang nyaman
merupakan kunci berkembangnya kerja sama dan kekompakan dalam sebuah organisasi.
Rizka menekankan bahwa lingkungan yang positif tidak terbentuk secara instan,
tetapi lahir dari kebiasaan dan sikap yang dibangun bersama oleh seluruh
anggota.
Dalam
pemaparannya, Rizka menyampaikan lima langkah utama untuk menciptakan suasana
tersebut:
1. Komunikasi Terbuka Setiap
anggota diberi ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi.
Penggunaan bahasa yang sopan dan saling menghargai menjadi syarat utama agar
komunikasi tetap sehat.
2. Menghargai Perbedaan Perbedaan pendapat atau cara kerja merupakan hal
yang wajar. Oleh karena itu, setiap permasalahan sebaiknya diselesaikan melalui
musyawarah sehingga keputusan yang diambil terasa adil untuk semua.
3. Saling Mendukung Anggota organisasi perlu saling membantu ketika ada
teman yang mengalami kesulitan. Dukungan kecil seperti menyemangati teman dapat
memberikan dampak yang besar bagi kekompakan tim.
4. Menciptakan Lingkungan Positif Rizka menekankan pentingnya menjauhi
gosip dan sikap menjatuhkan. Sebaliknya, biasakan memberi apresiasi sederhana
seperti ucapan “terima kasih” agar suasana tetap hangat dan saling menghargai.
5. Membangun Keakraban Keakraban dapat dibentuk melalui kegiatan santai
seperti makan bersama atau menonton bersama. Aktivitas ringan seperti ini mampu
membuat hubungan antaranggota lebih dekat.
Materi ini
membantu peserta memahami bahwa suasana nyaman bukan hanya membuat organisasi
bekerja lebih efektif, tetapi juga menjadikan kegiatan nya terasa lebih
menyenangkan dan penuh semangat.
8.
penyampaian materi 4
Gambar 8: Penyampaian materi keempat “Wujudkan
Lingkungan Sekolah yang Positif dan Sehat”.
Gambar
9: Operator.
Materi keempat
disampaikan oleh Arrafi Raikhansyah dengan topik “Wujudkan Lingkungan Sekolah
yang Positif dan Sehat”. Pada sesi ini, pemateri menjelaskan bahwa lingkungan
sekolah yang positif bukan hanya sekadar bebas dari perilaku toxic, tetapi juga
tercipta melalui budaya saling menghargai, kerja sama, dan dukungan antarsiswa.
Pemateri
memaparkan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk membangun
lingkungan sekolah yang sehat, di antaranya menjadi teladan yang baik melalui
sikap sopan dan bertanggung jawab, serta menggunakan media sosial dengan bijak
agar terhindar dari komentar atau unggahan yang dapat memicu konflik. Peserta
juga diajak memahami pentingnya mengelola emosi secara dewasa, terutama ketika
terjadi perbedaan pendapat, sehingga komunikasi tetap berjalan kondusif.
Selain itu,
Arrafi menekankan bahwa kesehatan mental dan kebersamaan antaranggota sangat
berpengaruh terhadap suasana sekolah. Siswa dianjurkan untuk saling memberi
dukungan, menunjukkan empati, dan peka terhadap kondisi teman di sekitarnya.
Upaya menumbuhkan kekompakan juga diperkuat melalui kegiatan refleksi, evaluasi
ringan, maupun aktivitas rekreasional yang meningkatkan kebersamaan.
Melalui
penjelasan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan perilaku positif di
lingkungan sekolah sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan
sehat bagi seluruh warga sekolah.
9.
Kegiatan Interaktif (Kuis)
Gambar
10: Pemberian hadiah kuis.
Gambar
11: Pemberian hadiah kuis.
Setelah seluruh
materi selesai dipaparkan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif.
Kuis ini dipandu langsung oleh ketua pelaksana, Agi Ginanjar, dan dibantu oleh
Najwa Naila Rahma Kamil. Dalam sesi ini, beberapa pertanyaan diajukan untuk
mengetahui sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan.
Pertanyaan yang
diberikan mencakup inti dari seluruh pembahasan, antara lain kesimpulan umum
mengenai perilaku toxic dan pentingnya sikap saling menghargai, makna dari
Reach to Listen, langkah-langkah membangun suasana yang nyaman dalam
organisasi, serta cara mewujudkan lingkungan sekolah yang positif dan sehat.
Para peserta
menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi. Banyak siswa yang berebut untuk
menjawab karena tersedia hadiah bagi peserta yang memberikan jawaban benar.
Suasana kuis berlangsung sangat meriah dan penuh semangat, sehingga mampu
meningkatkan keterlibatan peserta serta memperkuat pemahaman mereka terhadap
materi yang telah diberikan.
10.
Sesi tanya jawab
Gambar
12: Sesi tanya jawab.
Gambar
13: Divisi dokumentasi.
Setelah sesi kuis
selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, peserta
diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait materi yang telah
disampaikan. Mekanisme tanya jawab dibuat lebih interaktif, di mana setiap
peserta yang bertanya dapat memilih langsung kepada siapa pertanyaan tersebut
ingin ditujukan dari pihak penyelenggara seminar yang hadir di depan. Beberapa
peserta terlihat aktif mengajukan pertanyaan, baik mengenai bentuk-bentuk
perilaku toxic, penerapan sikap respect dalam kehidupan sehari-hari, hingga
cara menjaga suasana positif di lingkungan sekolah dan organisasi. Sesi tanya
jawab ini berjalan dengan lancar dan memberikan ruang bagi peserta untuk
memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipaparkan.
11. penutupan kegiatan
Gambar
14: Foto Bersama.
Gambar
15: Foto Bersama.
Gambar 16: Penyerahan
cinderamata untuk pihak sekolah sebagai bentuk terimakasih.
Kegiatan ditutup
oleh Master of Ceremony (MC), Riva Esya Agustiani, yang menyampaikan rangkuman
singkat jalannya acara serta ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang
telah mengikuti seminar dengan antusias. Setelah itu, ketua pelaksana, Agi
Ginanjar, turut menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang telah
memberikan izin, ruang, serta dukungan penuh sehingga kegiatan seminar “Not
Toxic Vibes, Just Respect” dapat berjalan dengan lancar dan kondusif.
Sebagai bentuk penghargaan,
dilakukan pula prosesi penyerahan plakat
kepada perwakilan pihak sekolah sebagai simbol kerja sama dan wujud
terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan.
Setelah rangkaian acara resmi ditutup, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama seluruh penyelenggara dan peserta. Dokumentasi ini dipandu oleh Agisna Malik Alhakim, selaku bagian publikasi dan dokumentasi, guna mengabadikan jalannya kegiatan sekaligus menjadi bukti pelaksanaan program aktualisasi nilai-nilai Pancasila.
SIMPULAN
Kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila,
khususnya Sila Kedua, dilaksanakan melalui sosialisasi dan serangkaian tahapan
mulai dari perencanaan, observasi awal, pelaksanaan kegiatan edukasi di
lapangan, hingga refleksi. Disimpulkan bahwa pendekatan PAR melalui program
edukasi interaktif terbukti efektif sebagai wadah aktualisasi dan internalisasi
nilai Sila Kedua Pancasila pada siswa SMP. Kegiatan ini memberikan kontribusi
nyata dalam memperkuat karakter santri agar menjunjung tinggi martabat manusia,
membangun hubungan yang beradab, serta menciptakan budaya respect dan
lingkungan belajar yang sehat di sekolah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak yang telah mendukung terlaksananya penelitian ini.
REFERENSI
Adawiyah, R., & Dewi, D. A. (2022). Implementasi nilai-nilai
Pancasila di era modern pada siswa sekolah dasar. Jurnal Kewarganegaraan.
Alaby, M. A. (2021). Aktualisasi nilai-nilai Pancasila melalui mata
kuliah Pendidikan Pancasila. Jurnal Basicedu, 5(6), 5961–5967.
Al Inu, A. N. N., & Dewi, D. A. (2021). Implementasi nilai–nilai
Pancasila melalui Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah dan di masyarakat.
Jurnal Kewarganegaraan.
Dwi Astuti Nurhayati, D., & Ambari, A. (2020). Aktualisasi
nilai-nilai Pancasila di dalam menghadapi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan
Undiksha
DetikEdu. (2023, Oktober 21). Isi rumusan Pancasila Soekarno, Moh. Yamin,
dan Soepomo. Detik.com.
Dra. Dwi Astuti Nurhayati, M.Si & Drs. Ambari, M.Si. (2020).
AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA DI DALAM MENGHADAPI. Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan Undiksha.
Habibullah, R., & Rustam. (2018). Penanaman Nilai-Nilai Pancasila
Dalam Pedidikan di Pondok Pesantren. Nusantara: Jurnal Pedidikan Indonesia.
Hendri H, Cecep D, Muhammad H. (2018). Penanaman nilai-nilai Pancasila
pada kehidupan santri di pondok. Scholarhub UNY.
M. Arief. Khumaidi. (2015, Juni 1). Pancasila: Sebuah Kesepakatan Sebagai
Bangsa. Setkab.go.id.
Marzuki, Mua’rip Zubaidi Ali Sipahutar, Raihan Nurdiansyah Zulfi, Suci
Khairi Adha Nasution, Lisa Dahliana Br Perangin-angin. (2025.). Pengertian Dan
Tujuan Pancasila Sebagai Landasa Hidup Bernegara. Gudang Jurnal
Multidisiplin Ilmu.
Mieke Mindyasningrum. (2024.). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam
Lingkungan. JURNAL WAWASAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN.
Puji Ayu Handayani & Dinie Anggraeni Dewi. (2021). IMPLEMENTASI
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA. Jurnal Kewarganegaraan
No comments
Post a Comment