Thursday, June 4, 2026

Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) Dalam Mendukung Pemerataan Pendidikan di Kota Palangka Raya

 

Implementation of the Indonesia Smart Program (PIP) in Supporting Educational Equity in Palangka Raya City

 Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) Dalam Mendukung Pemerataan Pendidikan di Kota Palangka Raya | D | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Delpin, Billy Agustino

Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya

Email : delpindel5@gmail.com billyagustino34@gmail.com

 

Abstrak

Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan pilar kebijakan strategis pemerintah yang dirancang untuk memperluas aksesibilitas dan menciptakan pemerataan layanan pendidikan bagi peserta didik dari kelompok keluarga prasejahtera melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di tingkat daerah, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memegang peranan krusial sebagai fasilitator dan pengawas jalannya program ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, mengukur efektivitasnya dalam mendorong ekuitas pendidikan, serta mengidentifikasi berbagai faktor pendukung dan penghambat di lapangan. Melalui metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan menggunakan teknik studi kepustakaan dan dokumentasi terhadap jurnal ilmiah, regulasi pemerintah, serta laporan otoritas resmi. Hasil telaah menunjukkan bahwa penyaluran PIP di Kota Palangka Raya berkontribusi positif dalam meringankan beban finansial siswa dan menekan angka putus sekolah. Namun, efisiensi program di tingkat daerah masih tereduksi oleh kendala klasik seperti ketidaktepatan data usulan (inklusi-eksklusi), birokrasi perbankan, keterlambatan pencairan, dan minimnya jangkauan sosialisasi ke wilayah pinggiran kota. Upaya sinkronisasi data Dapodik secara real-time, pengetatan supervisi oleh Dinas Pendidikan, dan optimalisasi koordinasi multipihak mutlak diperlukan agar akselerasi pemerataan pendidikan di Kota Palangka Raya dapat tercapai secara maksimal.

Kata Kunci: Program Indonesia Pintar (PIP), Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Pemerataan Pendidikan, Akses Pendidikan.

Abstract

The Program Indonesia Pintar (PIP) represents a strategic government initiative designed to expand educational accessibility and foster equity for students from economically disadvantaged backgrounds through the Kartu Indonesia Pintar (KIP). At the local level, the Palangka Raya City Education Office plays a crucial role as a facilitator and supervisor of this program. This study aims to analyze the dynamics of PIP's implementation by the Palangka Raya City Education Office, evaluate its effectiveness in promoting educational equity, and identify the driving and hindering factors encountered in the field. Utilizing a descriptive qualitative approach, data were gathered through literature and documentation studies of scientific journals, government regulations, and official institutional reports. The findings indicate that the distribution of PIP in Palangka Raya City has generated a positive impact by alleviating students' financial burdens and mitigating dropout risks. Nevertheless, the program's efficiency at the local level remains constrained by classic issues such as data inaccuracies in student proposals (inclusion-exclusion errors), banking bureaucracies, delayed disbursements, and a lack of socialization to suburban areas. Continuous refinement of Dapodik data systems, stringent supervision by the Education Office, and enhanced multi-stakeholder coordination are imperative to ensure the optimal acceleration of educational equity in Palangka Raya City.

Keywords: Program Indonesia Pintar (PIP), Palangka Raya City Education Office, Educational Equity, Education Access.

 

Article Info

Received date: 15 May  2026                                        Revised date: 20 May  2026                                         Accepted date: 02 June 2026

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan determinan utama dalam mentransformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) dan mengeskalasi roda pembangunan daerah. Melalui akses pendidikan yang inklusif dan merata, masyarakat dapat mengaktualisasikan kapasitas intelektual, mengasah keterampilan, serta memutus rantai kemiskinan struktural. Namun, tantangan geografis dan ketimpangan sosio-ekonomi sering kali menjadi batu sandungan bagi masyarakat prasejahtera untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Di Kota Palangka Raya, urusan pendidikan dasar menjadi kewenangan penuh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, Dinas Pendidikan bertanggung jawab memastikan bahwa setiap anak usia sekolah di wilayah ini mendapatkan haknya untuk belajar tanpa terhalang kendala finansial. Kebijakan jaring pengaman sosial yang menjadi instrumen utama dalam mengintervensi masalah ini adalah Program Indonesia Pintar (PIP). Melalui pemberian bantuan tunai via Kartu Indonesia Pintar (KIP), PIP dirancang untuk meringankan biaya personal peserta didik, seperti pembelian seragam, alat tulis, dan transportasi.

Secara faktual, Kota Palangka Raya memiliki tantangan tersendiri dalam pemerataan pendidikan, terutama pada wilayah urban fringe (pinggiran kota) seperti di Kecamatan Rakumpit dan Bukit Batu. Ketimpangan akses ini tecermin dari fluktuasi Angka Partisipasi Murni (APM) dan risiko putus sekolah yang didominasi oleh faktor keterbatasan ekonomi keluarga prasejahtera.

Dalam konteks lokal, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memegang peran sentral dalam melakukan verifikasi data usulan sekolah melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), melakukan pembinaan, serta mengawasi proses penyaluran agar tepat sasaran dan tepat guna. Meskipun program ini telah berjalan, realisasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan operasional. Dinamika kependudukan dan kendala teknis di Kota Palangka Raya acap kali memicu terjadinya masalah salah sasaran (inclusion and exclusion error), keterlambatan pencairan dana oleh bank penyalur, hingga minimnya literasi orang tua siswa di kawasan pinggiran kota mengenai mekanisme aktivasi rekening. Oleh karena itu, penelitian mengenai implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya penting dilakukan guna mengukur sejauh mana program ini efektif mendukung pemerataan pendidikan di daerah tersebut.

Rumusan Masalah

1.       Bagaimanakah implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya dalam mendukung pemerataan pendidikan?

2.       Sejauh mana efektivitas Program Indonesia Pintar dalam membantu siswa kurang mampu di Kota Palangka Raya?

3.       Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya dalam pelaksanaan program tersebut?

 

TINJAUAN PUSTAKA

Program Indonesia Pintar (PIP)

Program Indonesia Pintar (PIP) adalah bantuan uang tunai, perluasan akses, dan kesempatan belajar dari pemerintah yang diberikan kepada peserta didik yang berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin untuk membiayai pendidikan.

Peran Dinas Pendidikan dalam Otonomi Daerah

Berdasarkan sistem desentralisasi, Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota bertindak sebagai pengelola, pelaksana, dan pengawas teknis kebijakan pendidikan nasional di tingkat daerah, termasuk dalam proses validasi data siswa penerima bantuan sosial pendidikan.

Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan adalah upaya penyediaan kesempatan yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, sehingga meminimalkan disparitas antarkelompok masyarakat dan antarwilayah.

Teori Implementasi Kebijakan George C. Edwards III

Untuk membedah keberhasilan suatu kebijakan, teori George C. Edwards III menetapkan empat indikator krusial yang menentukan keberhasilan implementasi, yaitu:

  1. Komunikasi: Kejelasan dan konsistensi penyampaian informasi kepada pelaksana dan masyarakat.
  2. Sumber Daya: Ketersediaan staf yang kompeten, sarana, dan wewenang.
  3. Disposisi: Sikap, komitmen, dan kecenderungan para implementor.
  4. Struktur Birokrasi: Kesesuaian Standar Operasional Prosedur (SOP) dan koordinasi antarlembaga.

 

METODE PENELITIAN

Riset ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi fenomena implementasi kebijakan secara mendalam. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui teknik studi kepustakaan (library research) dan studi dokumentasi. Peneliti menganalisis jurnal ilmiah terakreditasi, dokumen regulasi, serta laporan resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan maupun dokumen publikasi terkait dari Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Batasan waktu literatur dan dokumen resmi yang ditelaah dalam studi kepustakaan ini dibatasi pada produk ilmiah dan laporan yang diterbitkan dalam rentang waktu tahun 2019 hingga 2026 demi menjaga aktualitas data. Teknik analisis data mengikuti model interaktif yang meliputi tiga tahapan mendasar:

1.    Reduksi Data: Memilah, menyederhanakan, dan memfokuskan data yang relevan dengan fokus peran Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

2.    Penyajian Data: Menyusun data ke dalam teks naratif dan tabel komparatif agar sistematis dan mudah dipahami.

3.    Penarikan Kesimpulan: Merumuskan hasil akhir penelitian berdasarkan verifikasi data yang telah disintesis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya bertindak sebagai intermedian yang menjembatani kebijakan Kementerian Pendidikan Pusat dengan pihak sekolah selaku garda terdepan. Implementasi program ini meliputi proses validasi usulan siswa kurang mampu yang diinput oleh operator sekolah ke dalam sistem Dapodik. Dinas Pendidikan juga bertugas menerbitkan surat rekomendasi aktivasi rekening bagi siswa yang ditetapkan sebagai penerima SK Nominasi, serta melakukan monitoring berkala terhadap serapan dana di bank penyalur yang telah ditunjuk oleh pemerintah.

Ditinjau dari dimensi Struktur Birokrasi, koordinasi formal telah berjalan baik, namun koordinasi eksternal (dengan bank penyalur) masih membutuhkan penguatan karena SOP pencairan bank sering kali kurang sinkron dengan kebutuhan cepat pihak sekolah.

Efektivitas Program dalam Pemerataan Pendidikan

Secara umum, intervensi PIP di Kota Palangka Raya dinilai cukup efektif dalam menekan angka putus sekolah (dropout). Stimulus finansial yang diterima siswa mampu memenuhi kebutuhan personal sekolah yang tidak tercover oleh dana BOS, seperti pembelian buku penunjang dan ongkos transportasi harian. Keberadaan program ini secara tidak langsung meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) di Kota Palangka Raya dan membantu mewujudkan ekuitas akses pendidikan bagi anak-anak di daerah marginal/pinggiran kota.

Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor Pendukung

1.    Komitmen Anggaran dan Kebijakan (Disposisi): Adanya komitmen anggaran dan regulasi yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjamin keberlanjutan program.

2.    Kemudahan Teknologi (Sumber Daya): Integrasi sistem Dapodik digital yang memudahkan pihak sekolah dalam mengusulkan data siswa prasejahtera secara cepat.

3.    Kemitraan Internal: Sinergi yang baik antara pengawas sekolah, kepala sekolah, dan komite dalam pengawalan hak siswa di lapangan.

Faktor Penghambat:

1.    Asimetri Informasi (Komunikasi): Kurangnya sosialisasi yang masif dan inklusif dari dinas ke wilayah pelosok/pinggiran Kota Palangka Raya, membuat banyak orang tua tidak paham cara aktivasi rekening buku tabungan SimPel (Simpanan Pelajar).

2.    Validitas Data (Sumber Daya Informasi): Masih ditemukan ketidaktepatan sasaran akibat data DTKS Kemensos yang belum sepenuhnya sinkron dengan kondisi riil ekonomi siswa di lapangan (inclusion and exclusion error).

3.    Kendala Birokrasi Perbankan (Struktur Birokrasi): Antrean yang panjang dan syarat administrasi perbankan yang kaku sering kali memperlambat proses pencairan dana oleh orang tua siswa. Hal ini diperparah oleh keterbatasan perangkat digital dan waktu operasional orang tua siswa prasejahtera yang bekerja di sektor informal

 

SIMPULAN

Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memiliki kontribusi besar dalam mendukung pemerataan pendidikan di wilayah tersebut. Program ini berhasil meringankan hambatan finansial dan memberikan jaminan keberlanjutan sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.  Meskipun demikian, capaian efektivitasnya di tingkat daerah masih membentur kendala berupa ketidaktepatan sasaran penerima bantuan dan keterlambatan pencairan dana akibat hambatan birokrasi perbankan serta asimetri komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, reformasi sistem pemutakhiran data secara berkala, serta penguatan koordinasi yang lebih fleksibel antara Dinas Pendidikan, pihak sekolah, lembaga perbankan, dan masyarakat agar tujuan keadilan pendidikan dapat tercapai secara maksimal di Kota Palangka Raya.

 

SARAN

1.       Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya perlu memperluas jangkauan sosialisasi program secara masif ke wilayah pinggiran kota agar meminimalkan asimetri informasi dan mencegah hangusnya dana bantuan akibat keterlambatan aktivasi.

2.       Pihak Sekolah disarankan untuk lebih selektif, objektif, dan faktual saat melakukan verifikasi kondisi ekonomi siswa sebelum melakukan input usulan ke dalam sistem Dapodik.

3.       Otoritas terkait perlu meningkatkan koordinasi dengan Pihak Perbankan Penyalur demi menciptakan simplifikasi prosedur birokrasi penarikan dana tanpa mengabaikan prinsip akuntabilitas.

4.       Diperlukan penguatan sinergi antara RT/RW atau kelurahan setempat bersama komite sekolah untuk mendampingi orang tua siswa prasejahtera yang memiliki keterbatasan literasi administrasi perbankan

 

REFERENSI

Agustina, L., & Wardani, A. K. (2021). Efektivitas penyaluran bantuan operasional Program Indonesia Pintar (PIP) dalam menekan angka putus sekolah. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, 25(2), 112–126.

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. (2024). Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Pemerintah Kota Palangka Raya.

Fitriani, S., & Nugroho, B. (2022). Peran dinas pendidikan dalam pengawasan jaring pengaman sosial bidang pendidikan di tingkat daerah. Jurnal Administrasi Publik Daerah, 14(1), 35–48.

Hidayat, R. (2020). Akurasi data Dapodik dalam penentuan sasaran penerima bantuan sosial pendidikan: Masalah inclusion dan exclusion error. Jurnal Tata Kelola Pendidikan, 8(3), 201–215.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia & Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. (2025). Petunjuk teknis pelaksanaan dan pengawasan Program Indonesia Pintar (PIP) daerah. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Lestari, P., & Supriadi, D. (2023). Analisis implementasi kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) menggunakan teori George C. Edwards III. Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 11(2), 89–104.

Murni, S. (2022). Strategi dinas pendidikan dalam pemerataan akses pendidikan di wilayah urban fringe (pinggiran kota). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, 10(4), 145–158.

Nugraha, A. P., et al. (2023). Hambatan birokrasi perbankan dan administrasi sekolah dalam pencairan dana bantuan siswa prasejahtera. Jurnal Manajemen Pendidikan, 17(2), 76–88.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2020 tentang Program Indonesia Pintar.

Prasetyo, E. (2021). Dampak sosiologis bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) terhadap motivasi belajar siswa dari keluarga miskin. Jurnal Sosio-Humaniora, 9(1), 12–25.

Putra, R. A., & Sari, M. M. (2024). Disparitas akses pendidikan dan tantangan pemerataan mutu sekolah dasar di Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Pendidikan Kebudayaan, 19(2), 130–144.

Putri, M., et al. (2022). Pendidikan sebagai upaya memutus rantai kemiskinan masyarakat. Jurnal Sosial Humaniora, 7(2), 88–97.

Rifa’i, A., & Afriansyah, H. (2019). Proses pengambilan keputusan. ResearchGate, 1–12.

Rosita, H. (2023). Evaluasi Program Indonesia Pintar dalam upaya pemerataan pendidikan. Epistemik: Indonesian Journal of Social and Political Science, 4(1), 52–66.

Saputra, H., et al. (2022). Evaluasi efektivitas Program Indonesia Pintar dalam meningkatkan angka partisipasi murni (APM). Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, 13(1), 57–71.

Sukarma, I. K., Karyasa, T. B., Hasim, H., et al. (2022). Peran bantuan pendidikan dalam meningkatkan akses pendidikan masyarakat kurang mampu. Jurnal Pendidikan dan Sosial, 5(2), 45–56.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zaidah, A., et al. (2021). Pengaruh pendidikan terhadap motivasi generasi muda dalam melanjutkan pendidikan tinggi. Jurnal Pendidikan Indonesia, 3(1), 20–29.

 

Wednesday, June 3, 2026

Fenomena “Silent Reader” di Grup Kelas: Dampaknya Terhadap Komunikasi Akademik Mahasiswa

The Role of Islamic Religious Education Teachers in Educating Students on Identity Issues and Adolescent Social Relationships at SMAN 1 Kadugede

 

Rezy Wulan Mariani1, Selfi Afrianti2, Raisa Liani Putri3, Qurratul Aini4, Aulia Putri Azahara5, Sal Sabillah Adi Putri6, Mufida Aulia7, Murni Fatmala Dewi Siagian8, Hamdani Aidil Pratama9, M. Diaz Aura Justin10, Sulthanah Nashifah Dinnullah11, Ere Mardella Arbiani12

1-12Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Riau

Email: rezy.wulan4805@student.unri.ac.id

 

Abstract

The silent reader phenomenon is one of the communication behaviors that is often found in students' online class groups. This behavior refers to individuals who read and follow information in a group, but never respond or actively engage in discussions. This study aims to analyze the phenomenon of silent readers in class groups and explore its impact on student academic communication. The method used is a literature study by examining various scientific sources that discuss digital communication, group interaction, and student behavior in online learning. The results showed that silent readers' behavior was influenced by internal factors such as low self-confidence, fear of making mistakes, and low motivation, as well as external factors such as social hierarchy, group communication culture, and information density in the group. This behavior has a negative impact on academic communication, including reduced two-way interaction, decreased quality of discussion, and inhibited collaboration between students. However, some students still get information through passive observation. Therefore, efforts are needed to create a more inclusive communication environment and encourage the active involvement of all group members so that academic communication can run more effectively.

Keywords: silent reader, academic communication, online class groups, student participation, online learning

Abstrak

Fenomena silent reader menjadi salah satu perilaku komunikasi yang kerap ditemukan dalam grup kelas daring mahasiswa. Perilaku ini merujuk pada individu yang membaca dan mengikuti informasi dalam grup, tetapi tidak pernah memberikan respons maupun terlibat aktif dalam diskusi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena silent reader dalam grup kelas serta mengeksplorasi dampaknya terhadap komunikasi akademik mahasiswa. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah yang membahas komunikasi digital, interaksi kelompok, dan perilaku mahasiswa dalam pembelajaran daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku silent reader dipengaruhi oleh faktor internal seperti rendahnya rasa percaya diri, ketakutan berbuat salah, dan motivasi yang rendah, serta faktor eksternal seperti hierarki sosial, budaya komunikasi kelompok, dan padatnya informasi dalam grup. Perilaku ini berdampak negatif pada komunikasi akademik, di antaranya berkurangnya interaksi dua arah, menurunnya kualitas diskusi, dan terhambatnya kolaborasi antarmahasiswa. Meski demikian, sebagian mahasiswa tetap memperoleh informasi melalui observasi pasif. Oleh karena itu, diperlukan upaya menciptakan lingkungan komunikasi yang lebih inklusif dan mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota grup agar komunikasi akademik dapat berjalan lebih efektif.

Kata kunci: silent reader, komunikasi akademik, grup kelas daring, partisipasi mahasiswa, pembelajaran daring

 

PENDAHULUAN

Teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang dengan cepat dan membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi satu sama lain. Perkembangan ini menjadikan penyebaran informasi lintas wilayah dan waktu semakin mudah dilakukan tanpa hambatan yang berarti (Prasasty, 2023). Perubahan pola komunikasi tersebut tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat umum, tetapi juga secara nyata memengaruhi ekosistem pendidikan, terutama dalam cara mahasiswa dan dosen bertukar informasi di luar jam perkuliahan formal.

WhatsApp, sebagai salah satu platform pesan instan yang paling banyak digunakan di Indonesia, kini menjadi media utama yang menopang komunikasi akademik mahasiswa dalam kegiatan sehari-hari (Maulani et al., 2025). Kemudahan yang ditawarkan aplikasi ini membuatnya diterima secara luas di berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga tenaga pendidik. WhatsApp mampu menyampaikan informasi secara cepat, praktis, dan serentak kepada banyak pengguna sekaligus, sehingga banyak dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar, koordinasi tugas, maupun diskusi kelompok secara daring.

Meski demikian, tingginya penggunaan platform digital ini tidak serta-merta menjamin komunikasi akademik berjalan efektif. Dalam praktiknya, tidak semua anggota grup terlibat secara aktif dalam percakapan yang berlangsung. Justru sebaliknya, muncul perilaku pengguna yang bertentangan dengan prinsip dasar komunikasi itu sendiri, yaitu fenomena silent reader atau pembaca diam (Dewi et al., 2021). Fenomena ini banyak ditemukan di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam grup WhatsApp kelas, di mana sebagian anggota memilih untuk diam meskipun secara aktif membaca setiap pesan yang masuk.

Silent reader merujuk pada anggota grup diskusi kelas yang secara sadar hanya berposisi sebagai penerima pesan pasif dan membaca setiap informasi yang masuk, namun tidak pernah memberikan respons maupun ikut terlibat dalam percakapan kelompok. Perilaku semacam ini tentu menjadi persoalan serius dalam konteks komunikasi akademik. Tanpa adanya umpan balik dari mahasiswa, pendidik tidak memiliki cara yang jelas untuk mengetahui apakah pesan, instruksi, atau materi yang disampaikan benar-benar telah diterima dan dipahami oleh seluruh anggota grup kelas

Lebih jauh, ketiadaan interaksi ini berpotensi menghambat proses pembelajaran secara keseluruhan, karena komunikasi yang sehat mensyaratkan adanya timbal balik antara pemberi dan penerima pesan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehadiran teknologi komunikasi saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh penggunanya.

 

METODE PENELITIAN

Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kombinasi metode tinjauan pustaka dan fenomenologi untuk menyelidiki pemahaman yang mendalam mengenai kejanggalan dalam perilaku komunikasi mahasiswa pada zaman digital. Pengumpulan data difokuskan pada analisis interaksi akademik di dalam forum diskusi kelas online, untuk menyelami pengalaman, sikap, dan motivasi psikologis yang mendasari pilihan mahasiswa untuk berperan sebagai pengamat pasif (Maulani et al., 2025). Data dikelola dengan cara yang menyeluruh dengan cara menelaah, membandingkan, dan menyintesis berbagai artikel jurnal penelitian sebelumnya untuk mengidentifikasi pola utama dari fenomena pembaca diam (Dewi et al., 2021).

 Melalui pendekatan metodologi ini, klasifikasi faktor penyebab diungkap secara sistematis, dampak keheningan terhadap efektivitas diskusi akademik dianalisis dari dua sisi, dan strategi komunikasi yang bersifat humanis dan aplikatif dikembangkan untuk memperbaiki kualitas partisipasi dalam grup kelas.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan dalam komunikasi akademik yang ideal pada intinya memerlukan adanya aliran pesan dua arah yang aktif serta umpan balik yang dapat diukur dari penerima, agar tujuan utama pertukaran ide dapat tercapai secara optimal (Dewi et al., 2021). Jika dilihat dari sudut pandang Teori Interaksi Simbolik, arti dari interaksi sosial terbentuk secara kognitif melalui elemen pemikiran, identitas individu, dan struktur sosial, di mana individu senantiasa menginterpretasikan dan memberikan arti terhadap tanggapan yang mereka terima dari lingkungan (Maududi et al., 2023). Pengalaman kolektif di mana seseorang merasa suaranya tidak didengar, kurang dihargai, atau bahkan ditolak secara langsung dapat menciptakan lapisan perlindungan psikologis yang muncul dalam bentuk sikap pasif dan keheningan dalam interaksi selanjutnya . Konsep ini juga berkaitan erat dengan prinsip Teori Spiral of Silence, yang menjelaskan secara mendalam bahwa individu cenderung memilih untuk tidak berbicara ketika merasa pendapatnya bertentangan dengan suara mayoritas, sebuah respons yang sepenuhnya dipicu oleh ketakutan akan kritik, pengucilan, atau penolakan dari anggota kelompok lainnya (Maulani et al., 2025).

Interaksi di dunia digital juga mengalami tantangan teknis berupa hilangnya isyarat non-verbal, seperti nada suara, variasi ekspresi wajah, dan gerak tubuh yang sebenarnya sangat penting dalam menyampaikan emosi dan nuansa percakapan di dunia nyata . Ketidakadaan elemen-elemen insani ini menjadikan pesan berbasis teks sangat rentan terhadap beragam tafsiran, ambiguitas, serta kesalahan paham yang dapat memicu konflik . Berbagai tantangan struktural ini semakin diperparah dengan munculnya masalah kelebihan informasi, di mana aliran berita yang deras dan terus-menerus dalam kelompok kelas sering kali melebihi kapasitas mental individu untuk memprosesnya dengan baik (Prasasty, 2023). Tumpukan informasi yang tidak teratur ini tidak hanya membuat instruksi-instruksi penting terancam tertutup oleh percakapan yang tidak relevan, tetapi juga secara nyata mengurangi kemampuan pembacaan pesan, yang pada akhirnya secara psikologis menurunkan keinginan mahasiswa untuk terlibat atau sekadar memberikan respons (Nisrina et al., 2025).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor  Penyebab Tumbuhnya “Silent Reader

Fenomena silent reader di kalangan mahasiswa merupakan wujud nyata dari akumulasi berbagai faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan secara kompleks. Secara internal, fenomena silent reader ini sering kali dipicu oleh rasa rendah diri serta kecemasan yang besar terhadap resiko menyampaikan argumen yang keliru di publik diskusi akademik (Maulani et al., 2025). Banyak pengguna yang secara personal menggunakan motif utilatarian untuk sekadar memantau jalannya arus informasi tanpa berniat sedikit pun untuk mengambil peran aktif, atau mereka secara sengaja memilih posisi diam sebagai zona aman demi menghindari potensi konflik, perselisihan, dan perdebatan panjang di dalam grup kelas.

Selain itu, tingkat keaktifan mahasiswa dalam berkomunikasi bersifat tidak konsisten, partisipasi verbal seorang mahasiswa nyatanya juga sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh kondisi mental atau emosional mereka, mereka sering kali menahan diri dan mundur dari percakapan apabila merasa sebuah topik bahasan tidak memicu urgensi, tidak sesuai dengan kapasitas mereka, atau dinilai kurang relevan dengan kepentingan pribadi mereka saat itu (Maududi et al., 2023). Kondisi lingkungan, iklim sosial dan budaya yang ada di dalam kelompok kelas memainkan peranan yang sangat besar dalam memfasilitasi atau justru membungkam suara anggotanya. Ketiadaan ikatan emosional yang solid atau minimnya kedekatan personal antaranggota di dalam sebuah ruang virtual secara otomatis menciptakan jarak sosial yang membuat individu merasa sangat asing dan terpisah dari kelompoknya.

Hambatan sosiologis juga muncul akibat adanya hierarki sosial, seperti rasa sungkan yang timbul dari perbedaan angkatan antara senior dan junior. Kondisi ini diperparah oleh dominasi percakapan yang dikuasai secara sepihak oleh beberapa mahasiswa aktif saja, sehingga mempersempit kesempatan bagi mahasiswa lain untuk mengutarakan pendapat mereka (Maududi et al., 2023). Selain itu, pengalaman traumatis atau negatif yang dialami seseorang, seperti saat sebuah gagasan yang susah payah dirumuskan ternyata diabaikan, atau saat sebuah pesan penting hanya dibaca tanpa adanya balasan yang layak. Hal ini meninggalkan luka dan trauma komunikasi yang secara efektif mematikan inisiatif individu untuk kembali berkontribusi di masa-masa mendatang.

Dampak yang ditimbulkan

Fenomena silent reader di dalam grup diskusi kelas membawa dampak yang bersifat ambivalen terhadap ekosistem komunikasi akademik mahasiswa. Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai bagaimana fenomena ini memengaruhi dinamika interaksi mahasiswa, berikut adalah analisis perbandingan antara dampak negatif dan dampak positif yang teridentifikasi dalam berbagai studi literatur terkait.

No.

Dampak Negatif

Dampak Positif

1.

Menciptakan komunikasi asimetris satu arah yang berpotensi melanggengkan budaya diam (culture of silence) di ruang digital (Mardiana et al., 2025).

Memberikan jeda waktu yang mendukung pemrosesan kognitif serta proses pembelajaran yang lebih reflektif (Ramdhan & Erlangga, 2024).

 

2.

Menghilangkan fungsi umpan balik (feedback), sehingga komunikator kesulitan memastikan apakah informasi telah dipahami (Dewi et al., 2021)

Memfasilitasi kebutuhan pelepasan beban psikologis mahasiswa untuk menghindari tekanan dan ketegangan (Dewi et al., 2021).

 

3.

Menimbulkan rasa tidak nyaman bagi anggota aktif karena merasa sekadar dipantau tanpa dihargai (Maududi et al., 2023).

Bertindak sebagai pengamat yang secara tidak langsung membantu merawat stabilitas dan keseimbangan grup (Maududi et al., 2023)

 

4.

Menghambat kelancaran proses brainstorming gagasan dan mengacaukan pembagian beban tugas kolaboratif (Maulani et al., 2025).

Menumbuhkan inisiatif belajar mandiri dan mendorong eksplorasi pemahaman melalui obrolan privat (Maulani et al., 2025).

 

5.

Memicu penumpukan pesan (information overload) yang secara drastis menurunkan tingkat keterbacaan instruksi akademik (Nisrina et al., 2025)002E

Memungkinkan mahasiswa untuk menyimak materi secara asinkron dengan melacak riwayat obrolan (scroll up) tanpa menginterupsi alur diskusi utama (Hartatik & Lestari, 2021).

 

Solusi

Mengatasi kebisuan yang tidak konstruktif, dan menghidupkan kembali ruang diskusi dalam kelas digital, diperlukan serangkaian strategi resolusi yang komprehensif yang menjangkau aspek manajemen informasi serta pendekatan psikologis dan kemanusiaan. Dalam manajemen konten digital secara teknis, pengelola grup, akademisi, atau pendidik perlu merestrukturisasi format informasi agar lebih teratur, padat, dan menarik secara visual. Contohnya dengan menyajikan materi dalam bentuk infografis yang interaktif agar menghindari kepadatan teks panjang yang dapat menyebabkan mahasiswa melewatkan informasi penting.

Pemanfaatan fitur-fitur bawaan dari platform perpesanan seperti WhatsApp, seperti seringnya menyematkan pesan penting atau memanfaatkan fitur penyebaran daftar siaran, sangat dianjurkan secara akademis untuk mempertahankan dan meningkatkan keterbacaan pesan di tengah banyaknya informasi. Mahasiswa juga sangat penting untuk mendapatkan edukasi dan kebiasaan tentang etika komunikasi digital, termasuk di dalamnya kebiasaan menggunakan simbol, emoji, atau stiker untuk menyampaikan nuansa emosional dan konteks yang bisa menutupi kekurangan fatal akibat ketiadaan isyarat non-verbal. Mahasiswa dan pengajar sangat dianjurkan untuk mulai menggunakan pendekatan personal yang sangat interaktif saat berinteraksi dengan rekan yang terlihat pasif. Metode ini dapat diterapkan dengan cara berkomunikasi secara personal di luar grup dengan menggunakan pilihan kata dan intonasi yang sangat meyakinkan, akrab, hangat, dan bebas dari segala bentuk penilaian. Usaha ini memiliki peran krusial dalam mereformasi kultur kelompok kelas yang kaku menjadi sebuah ruang komunal yang benar-benar inklusif, menyambut, dan memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut.

Sebagai strategi interaktif di tingkat dasar yang dapat diterapkan langsung di ruang publik, anggota yang berperan aktif dapat meningkatkan tingkat partisipasi kelas dengan secara proaktif menyebut atau menandai individu yang biasanya pendiam. Usaha untuk memanfaatkan fitur-fitur pemungutan suara seperti jajak pendapat dan voting yang pada prinsipnya hanya memerlukan usaha minimal dari peserta terbukti sangat efektif sebagai alat pendorong dalam menarik tingkat keterlibatan awal dari para mahasiswa yang cenderung menjadi pendengar pasif tersebut.

 

SIMPULAN

Meluasnya dan menjamurnya fenomena silent reader pada ranah grup diskusi kelas daring secara gamblang memvalidasi bahwa ketersediaan infrastruktur digital yang sangat efisien tidak dengan sendirinya mencetak pengguna yang komunikatif, partisipatif, dan berani berekspresi secara vocal. Fenomena ini bukanlah sekadar kemalasan akademis semata, melainkan merupakan wujud manifestasi yang sangat kompleks dari berbagai pergulatan internal, seperti krisis kepercayaan diri, absennya elemen penegas non-verbal dalam komunikasi teks digital, dinamika sosial kelompok yang terlalu hierarkis, hingga kacaunya sistem manajemen beban informasi. Keberadaan anomali perilaku komunikasi ini secara langsung menghadirkan ambivalensi; di satu sisi ia berimbas fatal pada terciptanya perbedaan komunikasi akademik yang menyurutkan kualitas kolaborasi antarmahasiswa, namun di sisi lain secara diam-diam mampu merawat stabilitas grup dan memicu kemandirian personal mahasiswa.

Langkah pemulihan dan revitalisasi ruang diskusi daring pada hakikatnya mensyaratkan penerapan strategi holistik yang tidak hanya terbatas pada mengandalkan optimalisasi tata kelola pesan visual dan fitur platform secara mekanis. Perbaikan tersebut harus secara mutlak dibarengi dengan pendekatan psikologis yang empatik, persuasif, dan inklusif, yang pada akhirnya benar-benar mampu meruntuhkan batas-batas kebisuan dan jarak emosional yang selama ini membelenggu kelancaran interaksi kelas di era digital.

 

UCAPAN  TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ibu Ere Mardella Arbiani, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan konstruktif dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan Kelompok 3 atas kolaborasi, dedikasi, serta dukungan penuh selama proses penelitian dan penulisan naskah ini berlangsung. Selain itu, penulis menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan bantuan teknis sehingga artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga hasil pemikiran ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kajian ilmu komunikasi dan bermanfaat bagi terciptanya iklim komunikasi akademik yang lebih efektif di lingkungan pendidikan tinggi.

 

REFERENSI

Dewi, G. K., Ramdhani, M., & Arindawati, W. A. (2021). Fenomena Silent Reader Dalam Grup Whatsapp (Studi Fenomenologi Pada Barista Kopi Kenangan Karawang). 5.

Hartatik, S. F., & Lestari, H. D. (2021). Penggunaan Whatsapp Sebagai Media Komunikasi Pembelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Nomosleca, 7(1), 45–56. Https://Doi.Org/10.26905/Nomosleca.V7i1.5535

Mardiana, H., Zalika, A., Kasih, A., Sununianti, V. V., & Kurniawan, A. (N.D.). Mahasiswa, Whatsapp, Dan Silent Reader: Sebuah Kajian Kritis Pada Partisipasi Dalam Ruang Publik Digital.

Maududi, M. M., Hasna, K. K., & Saputra, B. E. (N.D.). Interaksi Simbolik Dalam Grup Whatsapp Rohani Islam (Rohis) Di Sekolah Menengah Atas: Fenomena Silent Reader.

Maulani, R. N., Aziz, F., Ferdiana, R., Pranata, A., & Firmansyah, A. P. (2025). Efektivitas Komunikasi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pada Silent Reader Dalam Grup Diskusi Online. 6(1).

Nisrina, E., Farica, T., & Hutapea, E. B. (2025). Efektivitas Penyampaian Informasi Akademik Oleh Humas Perguruan Tinggi X Melalui Whatsapp Group. 9.

Prasasty, T. A. (2023). Cyberspace : Perubahan Gaya Komunikasi Pada Lingkar Pertemanan. 07(01).

Pustikayasa, I. M. (2019). Grup Whatsapp Sebagai Media Pembelajaran. Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan Hindu, 10(2), 53–62. Https://Doi.Org/10.36417/Widyagenitri.V10i2.281

Wisman, Y. (2017). Komunikasi Efektif Dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Nomosleca, 3(2). Https://Doi.Org/10.26905/Nomosleca.V3i2.2039

 

 

Friday, May 29, 2026

Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Ibu Posyandu Melalui Pelatihan Nutraceutical untuk Pencegahan Stunting di Desa Darsono


Improving the Knowledge and Skills of Posyandu Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono Village

Improving the Knowledge and Skills of Posyandu Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono Village | Rashati | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia
  1Dewi Rashati*, 1Asa Falahi, 1Anies Rohman D, 1Lindawati Setyaningrum, 1Dyan Wigati

1Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas dr.Soebandi

*email corresponding: dewirashati@uds.ac.id

 

Abstract

Stunting remains a major nutritional problem that requires community-based preventive strategies. This community service program aimed to improve the knowledge and practical skills of Posyandu mothers regarding stunting prevention through nutraceutical training in Darsono Village. The program involved 30 participants using a one-group pretest–posttest approach. Activities consisted of educational sessions on stunting, critical prevention periods, nutraceutical concepts, and the benefits of turmeric, followed by practical training in preparing turmeric pudding as a functional food product. Knowledge changes were assessed using pretest and posttest questionnaires. The results showed improved participant knowledge across all measured indicators after the intervention. The greatest improvement was found in understanding nutraceutical concepts (33.33%), followed by knowledge of nutraceutical dosage forms (26.66%) and the benefits of nutraceuticals (26.66%). The training also strengthened participants’ practical ability to utilize local food resources as an innovative nutritional intervention. These findings suggest that combining health education with hands-on practice is an effective strategy to strengthen community capacity in stunting prevention.

Keywords: Nutraceutical, Stunting, Darsono

 

Article Info

Received date: 10 May  2026                                 Revised date: 15 May  2026                                            Accepted date: 20 May 2026

 

PENDAHULUAN

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan gizi kronis yang menjadi perhatian utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam periode yang panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan menurut umur yang berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO). Stunting tidak hanya berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan keterlambatan perkembangan kognitif, penurunan kemampuan belajar, serta berpotensi menurunkan produktivitas pada usia dewasa (1).

Masalah stunting memiliki dampak multidimensional terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan neurologis, penurunan kapasitas intelektual, dan peningkatan kerentanan terhadap penyakit tidak menular di masa depan. Stunting merupakan manifestasi kompleks dari interaksi berbagai faktor seperti kekurangan asupan gizi, infeksi berulang, sanitasi lingkungan yang buruk, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas (2). Oleh karena itu, pencegahan stunting memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara berkelanjutan.

Di Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat meskipun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Faktor dominan penyebab stunting di Indonesia meliputi rendahnya kualitas konsumsi pangan rumah tangga, kurangnya pengetahuan ibu mengenai praktik pemberian makan anak, keterbatasan sanitasi, serta kurang optimalnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar. Pengetahuan ibu memiliki kontribusi penting dalam menentukan pola asuh, pemilihan bahan pangan, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sebagai upaya pencegahan stunting (3).

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan, edukasi kesehatan, serta pendampingan keluarga. Keberhasilan pelaksanaan posyandu sangat dipengaruhi oleh kapasitas kader dan ibu posyandu dalam memahami faktor risiko serta strategi pencegahan stunting. Intervensi berbasis komunitas melalui edukasi kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga terkait praktik pemberian makan anak dan pencegahan gangguan pertumbuhan (4).

Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan dalam upaya pencegahan stunting adalah pemanfaatan nutraceutical berbasis pangan lokal. Nutraceutical merupakan komponen pangan yang memiliki manfaat kesehatan tambahan di luar fungsi gizi dasar dan berpotensi meningkatkan kualitas asupan nutrisi. Pendekatan nutraceutical mampu menjadi strategi promotif-preventif yang efektif apabila dikembangkan melalui pelatihan berbasis masyarakat. Pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai nutraceutical juga memiliki keunggulan dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan (5).

Desa Darsono sebagai salah satu wilayah binaan masih memerlukan peningkatan kapasitas ibu posyandu dalam memahami pemanfaatan pangan lokal untuk pencegahan stunting. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan bergizi dapat memengaruhi efektivitas upaya promotif di tingkat masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan nutraceutical bagi ibu posyandu menjadi strategi edukatif yang relevan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu posyandu melalui pelatihan nutraceutical untuk pencegahan stunting di Desa Darsono.

 

METODE

            Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Darsono dengan melibatkan 30 ibu posyandu sebagai peserta. Kegiatan dirancang dalam bentuk edukasi kesehatan dan pelatihan keterampilan berbasis nutraceutical sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design, yaitu pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi untuk mengetahui efektivitas kegiatan edukasi yang diberikan (6). Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan, edukasi, pelatihan praktik, dan evaluasi.

Tahap Persiapan

            Tahap awal dilakukan melalui identifikasi kebutuhan mitra dengan berkoordinasi bersama perangkat desa dan kader kesehatan setempat untuk memetakan permasalahan terkait pencegahan stunting di masyarakat. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, tim menyusun bahan edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Selain itu, dilakukan penyusunan instrumen evaluasi berupa kuesioner pretest dan posttest sebagai alat ukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan (7).

 

 

Tahap Pelaksanaan Edukasi

            Penyampaian materi dilakukan melalui metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan diskusi partisipatif. Materi yang diberikan meliputi pengertian stunting, penyebab dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak, serta pentingnya pencegahan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang merupakan masa kritis dalam pembentukan status gizi dan perkembangan anak (1).

            Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai konsep nutraceutical sebagai pangan fungsional yang memiliki manfaat kesehatan di luar fungsi gizi dasar. Edukasi juga menekankan manfaat kunyit sebagai salah satu bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif kurkumin yang berpotensi mendukung kesehatan melalui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (5).

Tahap Pelatihan Praktik

            Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding kunyit sebagai inovasi pangan fungsional berbasis nutraceutical. Tim pelaksana memperagakan tahapan pembuatan mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan puding kunyit dengan pendampingan tim pelaksana. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk inovatif yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pangan bergizi untuk mendukung pencegahan stunting. Setelah pelatihan praktik selesai, dilakukan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif sebagai sarana klarifikasi materi, penguatan pemahaman, serta berbagi pengalaman antar peserta terkait implementasi materi dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap Evaluasi

            Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan metode pretest-posttest melalui kuesioner yang terdiri atas 8 butir pertanyaan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Kategori tingkat pengetahuan peserta ditentukan berdasarkan persentase skor jawaban benar, yaitu 81–100% (sangat baik), 61–80% (baik), 41–60% (cukup), 21–40% (kurang), 0–20% (sangat kurang).

Klasifikasi tersebut digunakan untuk menginterpretasikan hasil pengukuran pengetahuan peserta secara deskriptif (8). Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan distribusi kategori pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis ini digunakan untuk menggambarkan efektivitas kegiatan edukasi dan pelatihan nutraceutical dalam meningkatkan pengetahuan ibu posyandu terkait pencegahan stunting di Desa Darsono.

                                                                                  

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Gambar 1. Edukasi Kesehatan tentang Stunting dan Nutraceutical

 

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan pelatihan praktik memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan ibu posyandu mengenai pencegahan stunting.

 

 

Gambar 1. Perbandingan Persentase Hasil Pretest dan Posttest Pengetahuan Ibu Posyandu pada Setiap Indikator Edukasi Pencegahan Stunting melalui Nutraceutical Puding Kunyit.

 

Diagram menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pada seluruh indikator setelah pelaksanaan edukasi dan pelatihan. Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator pemahaman mengenai pengertian nutraceutical sebesar 33,33%, diikuti indikator bentuk sediaan nutraceutical dan manfaat nutraceutical masing-masing sebesar 26,66%, serta kandungan utama kunyit sebesar 23,33%. Temuan ini menunjukkan bahwa materi terkait konsep nutraceutical merupakan pengetahuan baru bagi sebagian besar peserta sehingga intervensi edukasi memberikan dampak peningkatan pemahaman yang cukup signifikan. Sementara itu, indikator tentang pengertian stunting dan manfaat kunyit menunjukkan peningkatan yang lebih rendah karena pengetahuan dasar peserta pada aspek tersebut sudah relatif baik sebelum intervensi dilakukan.”

Peningkatan skor posttest setelah intervensi menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif mampu memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Sirajuddin et al. (2021) yang menyatakan bahwa peningkatan literasi gizi pada ibu melalui intervensi edukatif secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas keluarga dalam upaya pencegahan stunting. Pengetahuan ibu berperan penting dalam pengambilan keputusan terkait pola konsumsi keluarga, pemilihan bahan pangan, serta praktik pemberian makan anak yang tepat (9).

Peningkatan pengetahuan peserta setelah penyuluhan juga sejalan dengan hasil penelitian Astuti (2022) yang menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan mampu meningkatkan pemahaman kader posyandu mengenai pencegahan stunting secara bermakna. Metode penyampaian materi secara interaktif memberikan kesempatan bagi peserta untuk lebih aktif dalam memahami informasi dan mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami (10).

Pelatihan praktik pembuatan puding kunyit memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan keterampilan peserta. Pembelajaran berbasis praktik dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah semata karena memungkinkan peserta mengalami proses belajar secara langsung. Hasil ini mendukung temuan Imansari et al. (2021) yang menyatakan bahwa pelatihan keterampilan berbasis demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan kader dalam mengaplikasikan pengetahuan gizi pada tingkat rumah tangga (11).

Pemanfaatan kunyit sebagai bahan dasar nutraceutical memiliki potensi besar dalam mendukung upaya promotif pencegahan stunting. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, sehingga berpotensi mendukung kesehatan saluran cerna dan meningkatkan status kesehatan secara umum. Pangan fungsional berbasis bahan alami dapat menjadi alternatif intervensi gizi yang aplikatif dan berkelanjutan apabila dikembangkan melalui pendekatan edukasi masyarakat.

 

Gambar 2. Pelatihan Pembuatan Nutraceutical Puding Kunyit

 

Sesi diskusi dan tanya jawab setelah pelatihan juga menjadi bagian penting dalam proses transfer pengetahuan. Interaksi dua arah memungkinkan peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam melalui klarifikasi materi dan berbagi pengalaman. Menurut penelitian Nuhan et al. (2023), metode edukasi yang melibatkan partisipasi aktif peserta terbukti lebih efektif dalam meningkatkan retensi pengetahuan dibandingkan penyampaian satu arah (12) .

Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan nutraceutical di Desa Darsono menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang mengintegrasikan penyuluhan, demonstrasi praktik, dan diskusi interaktif merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas ibu posyandu sebagai agen promotif pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Program ini berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendampingan lanjutan dan diversifikasi produk nutraceutical berbasis pangan lokal.

 

SIMPULAN

1.       Pelatihan nutraceutical di Desa Darsono efektif meningkatkan pengetahuan ibu posyandu tentang pencegahan stunting, yang ditunjukkan oleh peningkatan hasil pada seluruh indikator evaluasi, terutama pada pemahaman konsep nutraceutical.

2.       Kombinasi edukasi, demonstrasi pembuatan puding kunyit, dan diskusi interaktif berhasil meningkatkan keterampilan peserta dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai produk fungsional, sehingga berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan di masyarakat.

 

REFERENSI

1.    De Onis, M., Branca, F. (2018). Childhood stunting: A global perspective. Maternal & Child Nutrition, 14(S1), e12517.

2.    Prendergast, A. J., Humphrey, J. H. (2018). The stunting syndrome in developing countries. Paediatrics and International Child Health, 38(2), 98–107.

3.    Beal, T., Tumilowicz, A., Sutrisna, A., Izwardy, D., & Neufeld, L. M. (2018). A review of child stunting determinants in Indonesia. Maternal & Child Nutrition, 14(4), e12617.

4.    Torlesse, H., Cronin, A. A., Sebayang, S. K., & Nandy, R. (2021). Determinants of stunting in Indonesian children. BMC Public Health, 21(1), 1–12.

5.    Santini, A., Novellino, E., & Toffanin, R. (2018). Nutraceuticals: Opening the debate for a regulatory framework. British Journal of Clinical Pharmacology, 84(4), 659–672.

6.    Setiawan, A., Prasetyo, Y., & Hidayati, N. (2020). Efektivitas pendidikan kesehatan dengan metode pretest-posttest dalam peningkatan pengetahuan masyarakat. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 15(2), 89–96.

7.    Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

8.    Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

9.    Sirajuddin, S., et al. (2021). The intervention of maternal nutrition literacy has the potential to prevent childhood stunting. Journal of Public Health Research, 10(2), 2235

10. Astuti, D. S. T. (2022). Pengaruh pendidikan pencegahan stunting terhadap pengetahuan kader posyandu. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 21(2), 112–118.

11. Imansari, A., Madanijah, S., & Kustiyah, L. (2021). Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader melakukan konseling gizi di Posyandu. Amerta Nutrition, 5(1), 1–7.

12. Nuhan, M. V., et al. (2023). The influence of balanced nutrition education on the knowledge of Posyandu cadres in preventing stunting. Jurnal Ners dan Kebidanan, 10(3), 398–404.