Raffael Arshelangga Pria Firmansyah1,
Irfan Zhain2, Yogie Risdianto3
1,2,3Program
Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya
Email: raffaelapf22@gmail.com
Abstrak
Perkerasan
lentur pada area sisi udara (airside) bandar udara, khususnya taxiway,
menerima pembebanan yang tinggi dan berulang dari roda pesawat udara, sehingga
memerlukan lapisan perkerasan dengan kapasitas daya dukung yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dan karakteristik mekanis
campuran Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) dengan menggunakan
aspal modifikasi PG 70 berdasarkan standar pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026. Metode
penelitian yang digunakan adalah pengujian eksperimental laboratorium dengan
pengujian marshall pada tiga pengondisian benda uji, yaitu stabilitas normal
(pemadatan 75 tumbukan per sisi), stabilitas sisa (perendaman air suhu 60˚C
selama 24 jam), dan kepadatan mutlak (pemadatan 400 tumbukan per sisi).
Parameter yang dianalisis mencakup stabilitas, flow, kepadatan, Marshall
Qountient (MQ), Void in Mix (VIM), Void in Mineral Agreggate
(VMA), dan Void Filled by Asphalt (VFB). Hasil penelitian menunjukkan
campuran AC-BC PG 70 memenuhi seluruh spesifikasi. Pada stabilitas normal,
nilai VMA mencapai 15,35%. Pada stabilitas sisa, diperoleh Indeks Kekuatan Sisa
(IKS) sebesar 90,80%, VIM 3,79%, dan MQ 461,9 kg/mm yang membuktikan ketahanan
air dan durabilitas sangat tinggi. Sementara pada kepadatan mutlak, stabilitas
melonjak hingga 2355,5 kg dan MQ 743,0 kg/mm, mengindikasikan ketahanan
struktur yang kuat terhadap deformasi plastis (rutting).
Kata Kunci: AC-BC, Aspal Modifikasi PG 70, Taxiway,
Marshall Test, Indeks Kekuatan Sisa, Kepadatan Mutlak, KP DJPU 74 Tahun 2026.
Abstract
Flexible
pavement in the airside area of airports, particularly taxiways, is subjected
to high and repetitive loads from aircraft wheels, thereby requiring a pavement
layer with high load-bearing capacity. This study aims to evaluate the
performance and mechanical characteristics of Asphalt Concrete – Binder Course
(AC-BC) mixture using PG 70 modified asphalt based on the KP DJPU
74 Year 2026 guideline standard. The research method used is
laboratory experimental testing using Marshall testing under three specimen
conditioning states: normal stability (75 blows per side compaction),
retained stability (water immersion at 60°C for 24 hours),
and refusal density (400 blows per side compaction). The
parameters analyzed include stability, flow, density, Marshall Quotient
(MQ), Void in Mix (VIM), Void in Mineral Aggregate (VMA), and
Void Filled with Asphalt (VFB). The results show that the AC-BC PG
70 mixture meets all specifications. Under normal stability, the VMA value
reaches 15.35%. Under retained stability, a Retained Strength Index
(IKS) of 90.80%, VIM of 3.79%, and MQ of 461.9
kg/mm were obtained, proving very high water resistance and durability.
Meanwhile, at refusal density, stability jumped to 2,355.5 kg and MQ
to 743.0 kg/mm, indicating strong structural resistance to plastic
deformation (rutting).
Keywords:
AC-BC, PG 70 Modified Asphalt, Taxiway, Marshall Test, Retained Strength
Index, Refusal Density, KP DJPU 74 Year 2026.
Article Info
Received date: 20 August 2026 Revised date: 28 August 2026 Accepted date: 7
September 2026
PENDAHULUAN
Bandar Udara merupakan
salah satu elemen vital dalam sistem transportasi udara, yang menjadi salah
satu pilar utama dalam perekonomian Indonesia. Salah satu bagian yang sangat
penting di bandara adalah landasan hubung yang berada di sisi udara. Landasan
hubung atau taxiway adalah jalur perkerasan di bandar udara yang
disediakan khusus untuk pergerakan pesawat terbang (taxiing) dari satu
bagian bandara ke bagian lainnya. Sebagai komponen kunci dalam pergerakan
pesawat, kualitas taxiway harus memastikan keselamatan dan kenyamanan
dalam penerbangan. Oleh karena itu, pemilihan material yang tepat sangat
diperlukan untuk menciptakan perkerasan lentur yang memiliki umur layanan yang
panjang untuk taxiway. Agregat memiliki peran krusial dalam perancangan
perkerasan lentur, yang menjelaskan adanya perbedaan dalam kualitas perkerasan
lentur di bandara-bandara Indonesia (Santika, 2024).
Agar di perolehnya
kinerja sistem jaringan bandar udara yang bagus, maka di perlukan perkerasan
yang kualitas bahannya memenuhi spesifikasi campuran beton aspal. Perkerasan
bandara (Airport Pavement) merupakan struktur konstruksi lapis keras
yang dibangun di atas tanah dasar (subgrade) pada area pergerakan
pesawat. Menurut Sukirman (1992) Jenis Perkerasan berdasarkan bahan
pengikatnya, konstruksi perkerasan jalan dapat di bedakan menjadi 3 jenis yaitu
perkerasan kaku, perkerasan lentur, dan perkerasan komposit (Ichwan, 2023).
Perkerasan lentur adalah
perkerasan yang menggunakan bahan campuran aspal sebagai lapis permukaan serta
bahan berbutir sebagai lapisan di bawahnya. Perkerasan lentur juga perkerasan
yang sangat banyak digunakan dan dibandingkan dengan perkerasan yang lainnya.
Sehingga lapisan perkerasan memiliki kelenturan yang dapat menahan beban
pesawat yang melintas di atasnya. Salah satu jenis lapisan perkerasan yang
sering digunakan dalam perancangan taxiway adalah lapis aspal beton
(laston), yang juga dikenal sebagai Asphalt Concrete (AC). Laston
merupakan tipe lapisan perkerasan jalan yang dibuat dari campuran agregat
kasar, agregat halus, filler, serta aspal sebagai bahan pengikatnya.
Kekuatan dari perkerasan aspal beton diperoleh dari struktur agregat yang
saling mengunci (interlocking). Struktur interlocking ini
menghasilkan geseran internal yang tinggi dan memastikan agregat saling melekat
melalui lapisan tipis aspal perekat yang berada di antara butiran agregat (Santika, 2024).
LASTON terbagi menjadi 3
jenis AC-WC (Asphalt concrete – Wearing Course), AC-BC (Asphalt
Concrete – Binder Course), AC-Base (Asphalt Concrete – Base), Asphalt
Concrete – Binder Course (AC-BC) merupakan lapisan Perkerasan yang terletak
di bawah AC-WC dan di atas AC-Base. Lapisan AC-BC harus memiliki kriteria
seperti ketebalan dan kekakuan yang cukup untuk mengurangi tegangan/ regangan
yang di akibatkan beban yang diterima, dan di teruskan ke lapisan bawahnya
yaitu base dan sub grade. Karakteristik dari campuran ini harus
memiliki Stabilitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari cara
alternatif dalam meningkatkan kinerja campuran beraspal panas menggunakan
campuran agregat kasar, agregat halus, filler abu batu dengan jenis
campuran Asphalt Concrete – Base Course (AC – BC) menggunakan bahan ikat
aspal PG 70 (Ichwan, 2023).
Menurut Sawaludin (2018),
iklim adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada konstruksi
perkerasan bandara. Di Indonesia, yang memiliki iklim tropis dengan suhu udara
dan curah hujan yang umumnya tinggi, kondisi ini dapat menjadi salah satu
penyebab kerusakan pada konstruksi perkerasan bandara. Oleh karena itu, selain
memilih agregat sebagai bahan pengisi dan aspal sebagai bahan pengikat,
pemilihan gradasi agregat juga sangat penting. Gradasi agregat yang baik
memastikan lapisan aspal beton memiliki fleksibilitas yang tinggi,
sehingga lapisan ini tidak mudah rusak akibat suhu yang tinggi dan dapat
menjaga nilai stabilitas Marshall dengan baik.
Gradasi agregat memegang
peran penting dalam campuran beraspal, karena berbagai sifat campuran seperti
stabilitas, kekakuan, kemudahan dalam pengerjaan, permeabilitas, daya tahan,
ketahanan terhadap kelelahan, tahanan gelincir, dan ketahanan terhadap air
sangat dipengaruhi oleh gradasi agregat tersebut. Gradasi agregat adalah faktor
utama yang memengaruhi sifat-sifat Marshall dari campuran aspal beton, sehingga
pemilihan gradasi yang optimal sangatlah penting. Gradasi agregat yang terbaik
adalah gradasi yang dapat mencapai kepadatan maksimum, di mana partikel halus
ditempatkan secara efektif di antara partikel kasar untuk mengurangi ruang
kosong dan menghasilkan gradasi yang ideal (Santika, 2024).
Dari
uraian latar belakang diatas maka diperlukan penjelasan yang lebih rinci
terkait judul penelitian, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memahami judul
dari penelitian ini. Adapaun judul yang dimaksud adalah “Evaluasi Kinerja Campuran Asphalt
Concrete – Binder Course (AC-BC) Menggunakan Aspal Modifikasi PG 70 Dengan Metode Perkerasan
Mutlak Berdasarkan
Stabilitas Marshall Dan Stabilitas Sisa Pada Perkerasan Taxiway
Bandara”
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
berdasarkan pertimbangan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana
hasil komposisi gradasi pada campuran AC-BC menggunakan aspal PG 70 untuk
perkerasan taxiway bandara?
2. Bagaimana
hubungan dari parameter hasil uji marshall (stabilitas, flow, VIM, VMA,
VFA) terhadap benda uji KAO kondisi normal dari campuran AC-BC menggunakan
aspal PG 70 untuk perkerasan taxiway bandara?
3. Bagaimana
kesimpulan dari pengujian marshall terhadap benda uji kondisi normal,
stabilitas sisa dan kepadatan mutlak pada campuran AC-BC menggunakan aspal PG
70 untuk perkerasan taxiway bandara?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode eksperimental laboratorium untuk menganalisis karakteristik
campuran aspal AC-BC menggunakan aspal modifikasi polimer PG 70. Penelitian
dilaksanakan di Laboratorium Jalan dan Transportasi, Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya. Penelitian meliputi persiapan
bahan dan alat, pengujian karakteristik agregat dan aspal, perencanaan
campuran, pembuatan benda uji, pengujian Marshall, serta analisis data.
Bahan yang digunakan terdiri atas agregat kasar,
agregat halus, filler berupa abu batu, dan aspal modifikasi
polimer Styrene-Butadiene-Styrene (SBS) PG 70. Agregat diperoleh dari PT
Bumindo Sakti dan dikelompokkan berdasarkan fraksi ukuran 0–5 mm, 5–10 mm,
10–15 mm, dan 15–20 mm, sedangkan aspal PG 70 diperoleh dari PT Aspindo Group.
Peralatan penelitian meliputi oven, ayakan dan sieve shaker,
timbangan, termometer, cetakan Marshall, Marshall compactor, extruder, water
bath, timbangan hidrostatik, dan Marshall compression machine.
Pengujian bahan dilakukan untuk memastikan kesesuaian
material terhadap spesifikasi yang digunakan. Pengujian agregat meliputi
analisis saringan, berat jenis dan penyerapan, soundness, kandungan
lempung dan partikel rapuh, sand equivalent, fine aggregate
angularity, abrasi Los Angeles, persentase butir pecah, serta partikel
pipih dan lonjong. Pengujian filler meliputi indeks plastisitas. Sementara itu,
karakteristik aspal PG 70 dievaluasi melalui pengujian penetrasi, viskositas
kinematik, titik lembek, daktilitas, titik nyala dan titik bakar, kelarutan
dalam trichloroethylene, berat jenis, serta parameter geser dinamis (G/sin
δ).
Perencanaan campuran dilakukan menggunakan metode
Marshall dengan gradasi agregat tipe AC-BC. Kadar aspal rencana (Pb)
ditentukan berdasarkan proporsi agregat kasar, agregat halus, filler, dan
konstanta campuran. Selanjutnya, variasi kadar aspal ditetapkan sebesar Pb
− 1%, Pb − 0,5%, Pb, Pb + 0,5%, dan Pb + 1% untuk menentukan kadar aspal
optimum (KAO). Setiap variasi dibuat sebanyak tiga benda uji. Setelah KAO
diperoleh, dibuat benda uji tambahan untuk pengujian stabilitas normal,
stabilitas sisa, dan kepadatan mutlak, sehingga total benda uji yang digunakan
sebanyak 36 benda uji.
Pembuatan benda uji dilakukan dengan mengeringkan
agregat pada suhu 105–110 °C, memisahkan agregat berdasarkan fraksi, kemudian
memanaskan dan mencampurkan agregat dengan aspal pada temperatur pencampuran
yang ditentukan. Campuran dimasukkan ke dalam cetakan Marshall dan dipadatkan
menggunakan Marshall compactor sebanyak 75 tumbukan pada
setiap sisi untuk mensimulasikan kondisi lalu lintas berat. Benda uji
kemudian didinginkan selama kurang lebih 24 jam sebelum dilakukan pengujian.
Pengujian Marshall dilakukan berdasarkan SNI
06-2489-1991 untuk memperoleh parameter stabilitas, flow, Marshall
Quotient (MQ), VIM, VMA, dan VFA. Benda uji direndam dalam water bath pada
suhu 60 °C sebelum pengujian. Pengujian stabilitas sisa dilakukan dengan
prosedur serupa, tetapi benda uji mengalami perendaman selama 24 jam pada suhu
60 °C. Seluruh hasil pengujian kemudian dianalisis secara deskriptif melalui
tabel dan grafik hubungan antara kadar aspal dengan parameter Marshall untuk
menentukan rentang kadar aspal yang memenuhi spesifikasi dan menetapkan nilai
KAO.
Bagan alir penelitian meliputi tahapan persiapan
bahan dan alat, pengujian material, perencanaan campuran, trial gradasi,
pembuatan benda uji, pengujian Marshall dan stabilitas sisa, analisis data,
serta penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengujian Agregat
Pengujian
terhadap sifat-sifat fisis maupun mekanis agregat dilakukan untuk mengevaluasi
mutu, karakteristik material, serta tingkat kelayakan agregat ketika akan
digunakan sebagai bahan pembuatan benda uji pada perkerasan bandara. Pengujian
agregat ini dibagi menjadi 4 pengujian yakni pengujian agregat kasar yang
meliputi pengujian abrasi, gumpalan lempung, partikel pecah, dan partikel pipih
lonjong, kemudian pengujian agregat halus yang meliputi pengujian lolos
saringan 200 dan pengujian kandungan lempung. Pengujian filler dan
terakhir pengujian analisis saringan.
A. Abrasi
dengan mesin Los Angeles
Pengujian abrasi
menggunakan mesin Los Angeles ini dilakukan di Laboratorium Beton dan
Bahan Bangunan, pengujian ini mengacu pada ASTM C131 menghasilkan presentase
tertahan sebesar 16,40%. Dengan persyaratan presentase maksimal 30% untuk
perkerasan pesawat dengan berat lebih besar atau sama dengan 27.200 kg serta
presentase maksimal 40% untuk perkerasan pesawat dengan berat kurang dari
27.200 kg, maka pengujian ini telah memenuhi syarat yang ditentukan.
B. Gumpalan
lempung dan bahan mudah pecah/rapuh dalam agregat
Pengujian gumpalan
lempung dan bahan mudah pecah/rapuh dalam agregat, mengacu pada ASTM C142
menghasilkan presentase sebesar 0,25% dari total berat agregat yang sudah
diuji. Dengan persyaratan presentase maksimal 0,3%, maka pengujian ini telah
memenuhi syarat yang ditentukan.
C. Presentase
partikel pecah pada agregat kasar
Pengujian partikel
pecah pada agregat kasar ini mengacu pada ASTM D5821, menghasilkan presentase
sempurna 100%. Dengan presentase 85% agregat yang memiliki bidang pecah satu
atau lebih dan 75% agregat yang memiliki bidang pecah dua atau lebih untuk
perkerasan pesawat dengan berat lebih besar atau sama dengan 27.200 kg dan presentase
65% agregat yang memiliki bidang pecah satu atau lebih dan 50% agregat yang
memiliki bidang pecah dua atau lebih untuk perkerasan pesawat dengan berat
kurang dari 27.200 kg, maka pengujian ini telah memenuhi syarat yang
ditentukan.
D. Partikel
pipih dan lonjong
Pengujian partikel
pipih dan lonjong ini mengacu pada ASTM D4791, menghasilkan presentase 5,13%.
Dengan persyaratan presentase maksimal 8% dan perbandingan berat partikel pipih
dan lonjong lima berbanding satu, maka pengujian ini telah memenuhi syarat yang
ditentukan.
Hasil Pengujian Agregat Halus dan Filler
A. Lolos
saringan 200
Pengujian lolos
saringan 200 ini mengacu pada ASTM C 4079, menghasilkan presentase sebesar
4,53%. Dengan persyaratan presentase 3-6%, maka pengujian ini telah memenuhi
syarat karena hasil yang diperoleh berada di rentang angka presentase yang
telah ditentukan.
B. Kandungan
lempung, material organik dan bahan mudah pecah dalam agregat
Pengujian kandungan
lempung, material organik dan bahan mudah pecah dalam agregat ini mengacu pada
ASTM C142. Pengujian ini menghasilkan presentase sebesar 0,14% dari total berat
agregat yang sudah diuji. Dengan persyaratan presentase maksimal 0,3%, maka
pengujian ini telah memenuhi syarat yang ditentukan.
Hasil Pengujian Material dan Perancangan Campuran
Pengujian
analisis saringan dilakukan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran agregat
yang digunakan dalam campuran AC-BC. Pengujian mengacu pada KP DJPU 74
Tahun 2026 sebagai dasar penentuan gradasi campuran. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa nilai modulus kehalusan agregat fraksi 0–5, 5–10, 10–15, dan
15–20 masing-masing sebesar 3,65; 6,41; 7,66; dan 9,17. Hasil tersebut
menunjukkan adanya perbedaan karakteristik ukuran butiran pada setiap fraksi
yang selanjutnya digunakan dalam penentuan proporsi campuran.
Pengujian
sifat fisik aspal PG 70 meliputi penetrasi, titik lembek, daktilitas,
titik nyala, dan berat jenis. Pengujian mengacu pada standar SNI yang relevan
serta persyaratan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Nilai penetrasi
rata-rata diperoleh sebesar 55,7 (0,1 mm), titik lembek 84°C,
daktilitas rata-rata 139,5 cm, dan titik nyala rata-rata 325,5°C.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa aspal yang digunakan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan untuk penggunaannya sebagai bahan pengikat campuran beraspal
(Direktorat Jenderal Bina Marga, 2018).
Selanjutnya
dilakukan trial gradasi combine terhadap dua alternatif gradasi untuk
memperoleh komposisi agregat yang memenuhi rentang spesifikasi AC-BC. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa gradasi 1 memberikan kinerja yang lebih
baik dibandingkan gradasi 2. Salah satu parameter utama yang menunjukkan
perbedaan tersebut adalah stabilitas Marshall, yaitu sebesar 1.304 kg pada
gradasi 1 dan 1.043,9 kg pada gradasi 2. Berdasarkan hasil evaluasi
seluruh parameter, gradasi 1 dipilih sebagai dasar perancangan design
mix formula (DMF) AC-BC taxiway.
Proporsi
agregat yang diperoleh dari hasil trial gradasi terdiri atas
fraksi 15–20 sebesar 11%, fraksi 10–15 sebesar 36%, fraksi 5–10
sebesar 14%, fraksi 0–5 sebesar 38%, dan filler sebesar 1%.
Kombinasi tersebut menghasilkan persentase lolos saringan yang berada dalam
rentang spesifikasi AC-BC pada KP DJPU 74 Tahun 2026, sehingga dapat digunakan
sebagai rancangan awal campuran (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Berdasarkan
komposisi agregat tersebut, diperoleh kadar aspal rencana (initial binder
content/Pb) sebesar 5,1% menggunakan persamaan empiris kadar
aspal. Selanjutnya ditentukan lima variasi kadar aspal, yaitu 4,1%; 4,6%;
5,1%; 5,6%; dan 6,1%, yang digunakan dalam pembuatan benda uji Marshall. Setiap
benda uji dirancang dengan berat total campuran sebesar 1.200 gram, yang
terdiri atas kombinasi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus, filler,
dan aspal sesuai dengan variasi kadar aspal yang telah ditentukan. Hasil
pengujian terhadap variasi tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan
karakteristik Marshall dan kadar aspal optimum pada campuran AC-BC taxiway.
Pengujian Marshall
Pengujian
marshall pada penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan perendaman benda
uji yang telah dibuat sebelumnya kedalam waterbath dengan suhu stabil 60˚ dan
dengan durasi perendaman selama 30 menit. Setelah perendaman selesai, pengujian
marshall dilakukan dengan menggunakan alat marshall test sesuai dengan prosedur
SNI 06-2489-1991. Pengujian marshall ini menghasilkan tujuh parameter uji marshall
sesuai dengan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 yaitu stabilitas, flow, kepadatan,
marshall qountient, VIM, VMA, dan VFA.
Hasil pengujian Marshall campuran Asphalt
Concrete–Binder Course (AC-BC) dengan aspal modifikasi PG
70 menunjukkan bahwa peningkatan kadar aspal memberikan pengaruh terhadap
karakteristik campuran. Pengujian dilakukan pada kadar aspal 4,1%; 4,6%; 5,1%;
5,6%; dan 6,1% berdasarkan parameter stabilitas, flow, density, Marshall
Quotient (MQ), VIM, VMA, dan VFB sesuai KP DJPU No. 74 Tahun 2026.
Nilai stabilitas meningkat dari 1.484,69
kg pada kadar aspal 4,1% hingga mencapai maksimum 1.953,00
kg pada kadar 5,6%, kemudian menurun menjadi 1.863,48 kg pada
kadar 6,1%. Seluruh kadar aspal memenuhi persyaratan minimum stabilitas sebesar
980 kg. Nilai flow meningkat seiring penambahan kadar aspal, yaitu
dari 1,67–3,70 mm, dengan kadar 4,1% tidak memenuhi persyaratan 2–4 mm.
Nilai density meningkat dari 2,312 menjadi 2,379 gr/cc, sedangkan MQ
menunjukkan kecenderungan menurun dari 926,3 menjadi 505,2 kg/mm.
Parameter volumetrik menunjukkan bahwa nilai VIM
menurun dari 8,87% menjadi 3,39% seiring peningkatan kadar aspal.
Hanya kadar aspal 6,1% yang memenuhi rentang VIM 3,3–4%. Nilai VMA seluruh
variasi memenuhi persyaratan minimum 14%, dengan nilai
antara 16,33–17,23%, sedangkan VFB meningkat dari 48,57% menjadi
79,64%.
Berdasarkan irisan seluruh parameter yang memenuhi
spesifikasi, diperoleh rentang kadar aspal efektif 5,8–6,1%. Nilai tengah
rentang tersebut menghasilkan Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 5,95%.
Pada KAO tersebut, dilakukan pengujian pada tiga kondisi, yaitu stabilitas
normal, stabilitas sisa, dan kepadatan mutlak.
Pada stabilitas normal, diperoleh stabilitas 1.770,7
kg, flow 3,39 mm, density 2,411 gr/cc, MQ 524,8 kg/mm,
VIM 3,51%, VMA 15,35%, dan VFB 77,15%. Seluruh parameter yang
memiliki persyaratan memenuhi KP DJPU No. 74 Tahun 2026.
Pada stabilitas sisa setelah perendaman 24
jam, stabilitas menurun menjadi 1.607,8 kg, sedangkan flow meningkat
menjadi 3,48 mm. Nilai density, MQ, VIM, VMA, dan VFB masing-masing
sebesar 2,404 gr/cc; 461,9 kg/mm; 3,79%; 15,60%; dan 75,73%. Penurunan
stabilitas sebesar 162,9 kg (9,20%) menghasilkan Indeks Kekuatan
Sisa (IKS) sebesar 90,80%, sehingga masih memenuhi batas minimum 90%.
Pada kepadatan mutlak dengan 400 tumbukan
per sisi, diperoleh stabilitas tertinggi sebesar 2.355,5 kg,
flow 3,67 mm, density 2,421 gr/cc, MQ 743,0 kg/mm,
VIM 3,13%, VMA 15,02%, dan VFB 79,20%. Dibandingkan kondisi
normal, stabilitas meningkat sebesar 33,03%, menunjukkan bahwa peningkatan
kepadatan menghasilkan interlocking agregat dan kekakuan campuran yang lebih
tinggi.
Secara keseluruhan, campuran AC-BC dengan aspal
modifikasi PG 70 pada KAO 5,95% memenuhi parameter Marshall yang
dipersyaratkan dan menunjukkan stabilitas, durabilitas, serta
karakteristik volumetrik yang sesuai untuk lapisan AC-BC pada perkerasan
taxiway bandar udara.
Kadar
Aspal Optimum dan Karakteristik Marshall
Penentuan Kadar Aspal
Optimum (KAO) dilakukan berdasarkan evaluasi parameter Marshall pada variasi
kadar aspal 4,1%; 4,6%; 5,1%; 5,6%; dan 6,1% dengan mengacu pada KP DJPU 74 Tahun 2026. Parameter
yang dievaluasi meliputi stabilitas, flow, kepadatan, Marshall
Quotient (MQ), VIM, VMA, dan VFB. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh
variasi kadar aspal memenuhi persyaratan stabilitas minimum sebesar 980 kg dan
VMA minimum 14%. Parameter flow memenuhi rentang 2–4 mm pada
kadar aspal 4,6–6,1%, sedangkan VIM memenuhi rentang yang disyaratkan pada
kadar aspal 6,1%. Berdasarkan irisan seluruh parameter tersebut, diperoleh
rentang kadar aspal yang memenuhi persyaratan sebesar 5,8–6,1%.
KAO ditentukan dari nilai tengah rentang kadar aspal yang memenuhi seluruh
persyaratan, sehingga diperoleh:
Dengan demikian, kadar
aspal optimum campuran Asphalt
Concrete-Binder Course (AC-BC) dengan aspal modifikasi PG 70 adalah 5,95%.
Nilai tersebut selanjutnya digunakan pada pengujian stabilitas normal,
stabilitas sisa, dan kepadatan mutlak sesuai prosedur pengujian yang
dipersyaratkan (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Stabilitas Normal pada KAO
Pengujian stabilitas
normal dilakukan pada kadar aspal 5,95% dengan perendaman benda uji dalam waterbath pada
suhu 60°C selama 30–40 menit. Hasil pengujian menunjukkan nilai stabilitas
sebesar 1.770,7 kg, flow 3,39 mm, kepadatan 2,411 gr/cc,
MQ 524,8 kg/mm, VIM 3,51%, VMA 15,35%, dan VFB 77,15%.
Nilai stabilitas, flow, VIM, dan VMA telah memenuhi persyaratan
KP DJPU 74 Tahun 2026. Hasil ini menunjukkan bahwa campuran pada kadar aspal
5,95% memiliki karakteristik Marshall yang sesuai untuk digunakan sebagai
campuran AC-BC taxiway (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Stabilitas Sisa dan Indeks Kekuatan Sisa
Pengujian stabilitas sisa
dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan campuran terhadap pengaruh air melalui
perendaman selama 24 jam pada suhu 60°C. Pada kadar aspal 5,95%, diperoleh
stabilitas sisa sebesar 1.607,8 kg, flow 3,48 mm, kepadatan 2,404
gr/cc, MQ 461,9 kg/mm, VIM 3,79%, VMA 15,60%, dan
VFB 75,73%. Parameter stabilitas, flow, VIM, dan VMA masih memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.
Berdasarkan perbandingan
stabilitas normal sebesar 1.770,7 kg dan stabilitas sisa sebesar 1.607,8 kg,
diperoleh Indeks Kekuatan Sisa (IKS) sebesar 90,80%.
Nilai tersebut
menunjukkan bahwa campuran mampu mempertahankan sekitar 90,80% kekuatannya
setelah mengalami pengondisian perendaman, sehingga menunjukkan tingkat
durabilitas yang baik terhadap pengaruh air. Penurunan stabilitas setelah
perendaman sebesar 162,9 kg atau sekitar 9,20% dari kondisi
normal.
Kepadatan Mutlak
Pengujian kepadatan
mutlak dilakukan pada kadar aspal 5,95% dengan pemadatan 400 tumbukan pada
masing-masing sisi benda uji untuk memperoleh kondisi pemadatan maksimum. Hasil
pengujian menunjukkan stabilitas sebesar 2.355,5 kg, flow 3,67 mm, kepadatan 2,421 gr/cc, MQ 743,0 kg/mm, VIM 3,13%, VMA 15,02%, dan VFB 79,20%. Nilai stabilitas, flow,
VIM, dan VMA memenuhi persyaratan yang digunakan dalam penelitian.
Secara keseluruhan,
hasil pengujian pada kadar aspal optimum 5,95% menunjukkan bahwa campuran AC-BC dengan
aspal modifikasi PG 70 memenuhi parameter Marshall yang dipersyaratkan serta memiliki
nilai IKS sebesar 90,80%.
Hasil tersebut mengindikasikan bahwa komposisi campuran yang diperoleh memiliki
karakteristik kekuatan dan ketahanan terhadap pengaruh air yang memadai untuk
aplikasi lapisan AC-BC pada perkerasan sisi udara, khususnya taxiway, sesuai
dengan ketentuan KP DJPU 74 Tahun
2026 (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Analisis
Karakteristik Marshall Berdasarkan Tiga Kondisi Pada Campuran Perkerasan Taxiway
Lapisan AC-BC
Hasil pengujian
karakteristik Marshall campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) pada
tiga kondisi pengondisian menunjukkan adanya perbedaan respons mekanis dan
volumetrik. Pengondisian yang digunakan meliputi stabilitas normal dengan
perendaman 30–40 menit pada suhu 60°C, stabilitas sisa dengan perendaman 24 jam
pada suhu 60°C, serta kondisi kepadatan mutlak. Hasil pengujian dibandingkan
dengan persyaratan teknis perkerasan bandar udara berdasarkan KP DJPU No. 74
Tahun 2026 (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Nilai stabilitas
normal, stabilitas sisa, dan kepadatan mutlak masing-masing sebesar 1.770,7 kg,
1.607,8 kg, dan 2.355,5 kg. Stabilitas normal telah memenuhi persyaratan
minimum 980 kg. Setelah perendaman 24 jam, stabilitas menurun sebesar 9,20%
dengan nilai Indeks Kekuatan Sisa (IKS) sebesar 90,80%, sehingga masih memenuhi
batas minimum 90%. Sementara itu, stabilitas pada kondisi kepadatan mutlak
meningkat sebesar 33,03% dibandingkan kondisi normal. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa campuran memiliki daya dukung dan ketahanan terhadap pengaruh
air yang baik (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Nilai flow pada
kondisi normal, sisa, dan kepadatan mutlak berturut-turut sebesar 3,39; 3,48;
dan 3,67 mm. Seluruh nilai tersebut berada dalam rentang persyaratan 2–4 mm.
Peningkatan flow setelah perendaman sebesar 2,65% menunjukkan adanya sedikit
peningkatan deformabilitas campuran akibat pengaruh air dan suhu, sedangkan
nilai flow tertinggi pada kepadatan mutlak menunjukkan respons campuran
terhadap tingkat pemadatan yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, nilai flow
menunjukkan keseimbangan antara kekakuan dan fleksibilitas campuran yang masih
memenuhi persyaratan (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Nilai Marshall
Quotient (MQ) masing-masing sebesar 524,8; 461,9; dan 743,0 kg/mm untuk kondisi
normal, sisa, dan kepadatan mutlak. Penurunan MQ sebesar 11,99% setelah
perendaman menunjukkan berkurangnya kekakuan akibat pengaruh air, sedangkan
peningkatan MQ pada kondisi kepadatan mutlak menunjukkan meningkatnya kekakuan akibat
kerapatan campuran yang lebih tinggi. Meskipun demikian, MQ tidak memiliki
batas persyaratan khusus dalam KP DJPU No. 74 Tahun 2026, sehingga parameter
ini digunakan sebagai indikator pendukung dalam mengevaluasi keseimbangan
antara kekakuan dan fleksibilitas campuran.
Dari aspek
volumetrik, kepadatan campuran pada kondisi normal, sisa, dan kepadatan mutlak
masing-masing sebesar 2,411; 2,404; dan 2,421 g/cm³. Perubahan kepadatan
relatif kecil, dengan penurunan 0,29% setelah perendaman dan peningkatan 0,41%
pada kondisi kepadatan mutlak. Nilai VIM berturut-turut sebesar 3,51%, 3,79%,
dan 3,13%. Nilai tersebut memenuhi rentang persyaratan VIM yang berlaku, yaitu
3,3–4% pada kondisi normal dan 2–4% pada kondisi kepadatan mutlak (Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara, 2026).
Nilai VMA pada
kondisi normal, sisa, dan kepadatan mutlak masing-masing sebesar 15,35%,
15,60%, dan 15,02%. Seluruh nilai tersebut lebih besar dari batas minimum 14%,
yang menunjukkan bahwa kerangka agregat masih menyediakan ruang yang memadai
untuk aspal efektif. Sementara itu, nilai VFB masing-masing sebesar 77,15%,
75,73%, dan 79,20%. Meskipun VFB tidak memiliki persyaratan khusus dalam KP
DJPU No. 74 Tahun 2026, perubahan nilainya menunjukkan bahwa perendaman
cenderung menurunkan proporsi rongga yang terisi aspal, sedangkan kepadatan
mutlak meningkatkan proporsi tersebut.
Secara
keseluruhan, ketiga kondisi pengujian menunjukkan bahwa campuran AC-BC memenuhi
parameter utama yang dipersyaratkan untuk perkerasan sisi udara. Kondisi
stabilitas sisa menunjukkan nilai IKS sebesar 90,80%, yang mengindikasikan
durabilitas campuran terhadap pengaruh air yang baik. Kondisi kepadatan mutlak
menghasilkan stabilitas dan MQ tertinggi serta VIM terendah, sehingga
menunjukkan peningkatan kekakuan akibat pemadatan. Namun, pengendalian tingkat
pemadatan di lapangan tetap diperlukan agar tidak terjadi penurunan rongga
udara secara berlebihan yang dapat meningkatkan potensi deformasi plastis dan
bleeding pada perkerasan taxiway.
Campuran Perkerasan Taxiway
Lapisan AC-BC Kondisi Normal
Kondisi stabilitas normal merupakan gambaran keadaan awal dari
lapisan pengikat Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) setelah
dipadatkan pada Kadar Aspal Optimum (KAO) dan direndam air suhu 60˚C selama 30
– 40 menit. Kondisi ini menggambarkan keadaan fisik dan mekanis ideal
perkerasan sisi udara bandar udara, khususnya pada area taxiway, yaitu
sebelum jalan tersebut dilintasi beban pesawat secara terus-menerus atau
terpapar cuaca ekstrem dalam jangka waktu yang panjang. Pada tahap ini, butiran
agregat saling mengunci dengan kuat dan terikat rapi oleh aspal, sehingga
membentuk struktur lapisan pengikat yang stabil untuk menyalurkan beban tekan
roda pesawat udara ke lapisan di bawahnya.
Ditinjau dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan, keadaan
campuran AC-BC pada kondisi stabilitas normal berada dalam peforma yang sangat
baik dan telah memenuhi seluruh standar spesifikasi KP DJPU 74 Tahun 2026.
Dengan hasil yang telah memenuhi standar ini membuktikan bahwa campuran AC-BC
pada stabilitas normal memiliki kemampuan struktur perkerasan yang sangat baik
dan tahan terhadap deformasi plastis di area taxiway bandara.
Peforma suatu campuran beraspal pada campuran AC-BC dengan
menggunkan aspal PG 70 ditentukan oleh pemenuhan tujuh sifat utama perkerasan,
yang meliputi stabilitas, durabilitas, fleksibilitas, tahan terhadap geser,
tahan terhadap kelelehan, kedap air, dan dapat dilaksanakan. Ketujuh
karakteristik ini saling berkaitan dan membutuhkan keseimbangan yang presisi.
Berikut merupakan sifat aspal yang terdapat pada stabilitas normal:
A.
Stabilitas
Ditinjau
dari pengujian stabilitas normal, hasil stabilitas yang didapat yaitu sebesar
1770,7 kg telah memenuhi ambang batas minimum 980 kg sesuai spesifikasi pedoman
KP DJPU 74 Tahun 2026. Menurut Silvia Sukirman (2003), stabilitas adalah
kemampuan campuran beraspal untuk menahan beban pembebanan tanpa mengalami
deformasi permanen seperti gelombang atau alur. Terpenuhinya sifat stabilitas
ini secara optimal pada variasi normal membuktikan bahwa penggunaan Kadar Aspal
Optimum (KAO) berhasil membentuk susunan kerangka agregat yang saling mengunci
dan aspal yang terselimuti secara merata, sehingga campuran memiliki kapasitas
dukung mekanis yang sangat kuat untuk menahan tumpuan beban berat dari roda
pesawat udara di area taxiway bandara.
B.
Fleksibilitas
Ditinjau
dari pengujian stabilitas normal, hasil flow yang didapat yaitu sebesar
3,39 mm telah memenuhi rentang ideal spesifikasi KP DJPU 74 Tahun 2026 yaitu 2
– 4 mm. Menurut Silvia Sukirman (2003), fleksibilitas adalah kemampuan lapisan
perkerasan untuk menyesuaikan diri akibat lendutan beban lalu lintas berulang
tanpa menimbulkan retak. Pada kondisi normal, tingkat kelenturan campuran
berada pada titik paling seimbang. Aspal memberikan sifat elastis yang pas
sehingga perkerasan mampu menyesuaikan diri terhadap lendutan akibat beban roda
pesawat tanpa mengalami keretakan plastis.
C.
Tahan Terhadap Geser
Ditinjau
dari pengujian stabilitas normal, hasil marshall qountient yang didapat
yaitu sebesar 524,8 kg/mm. Menurut Silvia Sukirman (2003), ketahanan terhadap
geser adalah kemampuan campuran untuk menahan gaya dorong mendatar akibat
pengereman, percepatan, atau belokan kendaraan. Pada kondisi normal, nilai MQ
yang tinggi menunjukkan keseimbangan kekakuan dan penguncian antar agregat.
Campuran AC-BC sangat tangguh dalam menahan gaya geser horisontal mendadak
akibat pengereman, percepatan, maupun manuver belokan roda pesawat udara di taxiway.
D.
Tahan Terhadap Kelelehan
Ditinjau
dari pengujian stabilitas normal, komposisi rongga udara (VIM 3,51%) dan
kelelehan (Flow 3,39 mm) berada pada tingkat yang sangat seimbang.
Menurut Silvia Sukirman (2003), ketahanan kelelehan adalah kemampuan perkerasan
menahan beban lentur yang terjadi berulang kali tanpa mengalami retak lelah.
Keseimbangan antara ruang rongga udara yang cukup dan ketebalan selimut aspal
pada variasi normal ini memberi ruang elastisitas bagi perkerasan untuk meredam
regangan berulang dari lintasan roda pesawat, sehingga struktur perkerasan
tidak cepat mengalami kelelahan atau patah.
E.
Dapat Dilaksanakan
Ditinjau
dari pengujian stabilitas normal, campuran dirancang pada Kadar Aspal Optimum
(KAO) dengan nilai rongga antar agregat VMA sebesar 15,35% dan VIM 3,51% pada
pemadatan standar. Menurut Silvia Sukirman (2003), kemudahan pelaksanaan adalah
kemudahan suatu campuran beraspal untuk digelar dan dipadatkan di lapangan
hingga mencapai kepadatan yang direncanakan tanpa terjadi pemisahan butir. Komposisi
aspal dan rongga yang pas pada pengujian normal ini membuat campuran AC-BC
memiliki keenceran yang ideal pada suhu pelaksanaan, sehingga sangat mudah
dikerjakan dan dipadatkan secara merata. Campuran tidak terlalu kaku dan tidak
mudah mengalami pemisahan butir.
Pada
pengujian stabilitas normal terdapat 5 karakteristik campuran yang dianggap
memenuhi dari ketujuh karakteristik yang ada. Untuk durabilitas, sebenarnya
untuk stabilitas memenuhi namun dengan perbedaan kondisi pengujian dengan
stabilitas sisa dan dampaknya terhadap struktur perkerasan menjadikan
durabilitas bukanlah prioritas utama pada pengujian ini. Sedangkan untuk kedap
air, hasil VIM yang lebih rendah dibandingkan stabilitas sisa dianggap
menjadikan pengujian tidak lebih kedap air dibandingkan stabilitas sisa, yang
membuat kedap air tidak menjadi prioritas utama dalam karakteristik campuran
pada stabilitas normal.
Campuran Perkerasan
Taxiway Lapisan AC-BC Berdasarkan Durabilitas (Keawetan) Stabilitas Sisa
Pengujian stabilitas sisa difokuskan untuk mengevaluasi ketahanan
perkerasan lapis Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) terhadap
potensi kerusakan akibat pengaruh air dan cuaca ekstrem di area taxiway
bandara. Kondisi ini diperoleh dengan merendam benda uji pada Kadar Aspal
Optimum (KAO) dalam air bersuhu 60˚C selama 24 jam penuh di dalam waterbath.
Perendaman dengan durasi panjang ini merepresentasikan kondisi kritis pada
keadaan sebenarnya, yaitu saat lapisan perkerasan terendam genangan air hujan
dalam jangka waktu lama. Pemaparan ini menguji sejauh mana daya rekat antara
aspal dan agregat mampu bertahan dari risiko pelepasan butir serta penurunan
kekuatan struktur.
Ditinjau dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan, keadaan
campuran AC-BC pada kondisi stabilitas sisa berada dalam peforma yang sangat
baik dan telah memenuhi seluruh standar spesifikasi KP DJPU 74 Tahun 2026.
Dengan hasil yang telah memenuhi standar ini membuktikan bahwa campuran AC-BC
pada stabilitas sisa memiliki durabilitas dan daya tahan air yang sangat
tinggi, sehingga perkerasan taxiway dipastikan tetap kokoh dan tahan
lama meskipun beroperasi dalam kondisi lingkungan yang basah dan tergenang.
Peforma suatu campuran beraspal pada campuran AC-BC dengan
menggunkan aspal PG 70 ditentukan oleh pemenuhan tujuh sifat utama perkerasan,
yang meliputi stabilitas, durabilitas, fleksibilitas, tahan terhadap geser,
tahan terhadap kelelehan, kedap air, dan dapat dilaksanakan. Ketujuh
karakteristik ini saling berkaitan dan membutuhkan keseimbangan yang presisi.
Berikut merupakan sifat aspal yang terdapat pada stabilitas sisa:
A.
Stabilitas
Ditinjau dari pengujian stabilitas sisa,
hasil stabilitas yang didapat yaitu sebesar 1607,8 kg dengan Indeks Kekuatan
Sisa (IKS) mencapai 90,80%, yang melampaui batas minimum spesifikasi diatas
90%. Menurut Silvia Sukirman (2003), stabilitas adalah kemampuan campuran
beraspal untuk menahan beban lalu lintas tanpa mengalami perubahan bentuk
permanen. Nilai stabilitas sisa yang tetap tinggi ini membuktikan bahwa
meskipun campuran telah mengalami proses perendaman air suhu 60°C selama 24
jam, perpaduan penguncian antar agregat dan daya ikat aspal tidak mengalami
penurunan berarti, sehingga perkerasan AC-BC tetap kuat dan stabil dalam
menopang beban berat roda pesawat.
B.
Durabilitas
Ditinjau dari pengujian stabilitas sisa,
sifat durabilitas dinyatakan sangat memenuhi syarat karena pengujian ini
merupakan pembuktian utama dari keawetan campuran, dimana nilai IKS sebesar
90,80% membuktikan ketahanan air yang sangat tinggi. Menurut Silvia Sukirman
(2003), durabilitas adalah kemampuan campuran beraspal untuk bertahan dari
keausan akibat pengaruh cuaca, iklim, serta perusakan oleh air. Tingginya angka
kekuatan sisa ini menunjukkan bahwa selimut aspal melekat dengan sangat kuat
pada permukaan agregat, sehingga air tidak mampu merusak ikatan tersebut dan
perkerasan taxiway dipastikan memiliki masa layan yang panjang serta
awet terhadap genangan air hujan.
C.
Tahan Terhadap Kelelehan
Ditinjau dari pengujian stabilitas sisa,
sifat ketahanan terhadap kelelehan dinyatakan memenuhi persyaratan karena
didukung oleh nilai flow sebesar 3,48 mm dan VIM sebesar 3,79% yang tetap
terjaga ideal. Menurut Silvia Sukirman (2003), ketahanan kelelehan adalah
kemampuan perkerasan untuk menahan lendutan berulang dari beban roda kendaraan
tanpa memicu terjadinya retak lelah. Proses perendaman memberikan efek
pelunakan yang pas pada aspal tanpa merusak strukturnya, sehingga perkerasan
AC-BC tetap memiliki kelenturan yang cukup untuk menyerap regangan akibat
lintasan berulang roda pesawat udara meskipun berada dalam kondisi lingkungan
yang basah.
D.
Kedap Air
Ditinjau dari pengujian stabilitas sisa,
sifat kedap air sangat memenuhi persyaratan karena nilai rongga udara (VIM)
hanya meningkat sangat tipis menjadi 3,79% setelah perendaman air selama 24
jam. Menurut Silvia Sukirman (2003), kedap air adalah kemampuan lapisan
perkerasan untuk mencegah masuknya air dan udara ke dalam struktur internal
yang dapat memicu kerusakan. Angka VIM yang tetap stabil di kisaran ideal ini
membuktikan bahwa susunan rongga dalam campuran bersifat terputus-putus dan
tidak saling menyambung, sehingga air genangan di permukaan taxiway
tidak mudah meresap masuk ke dalam struktur lapisan AC-BC maupun merusak
pondasi di bawahnya.
Pada pengujian stabilitas sisa terdapat 4 karakteristik campuran
yang dianggap memenuhi dari ketujuh karakteristik yang ada. Untuk
fleksibilitas, sebenarnya bisa memenuhi namun, perendaman dengan suhu 60˚C
selama 24 jam memberikan efek pelunakan ringan pada selimut aspal. Ditunjukkan dengan
nilai flow 3,48% meningkat sebesar 2,65%. Untuk tahan terhadap geser,
dengan penurunan marshall qountient sebesar 11,99% menjadi 461,9 kg/mm
membuat sedikit pelunakan pada selimut aspal yang membuat stabilitas sisa
kurang optimal jika dibandingkan dengan stabilitas normal dan kepadatan mutlak.
Sedangkan untuk dapat dilaksanakan, stabilitas sisa sulit dilaksanakan pada
saat pengerjaan awal, melainkan dibiarkan terbentuk secara alami akibat adanya
genangan air hujan dan adanya cuaca ekstrem yang terjadi di lapangan.
Campuran
Perkerasan Taxiway Lapisan AC-BC Kondisi Kepadatan Mutlak
(Kapasitas Beban)
Pengujian kepadatan mutlak dirancang untuk merepresentasikan
kondisi batas akhir perkerasan lapis Asphalt Concrete – Binder Course
(AC-BC) setelah menerima pembebanan secara terus menerus dari roda pesawat
udara di area taxiway bandara. Kondisi ini diperoleh dengan memberikan
pemadatan tambahan sebanyak 400 tumbukan di setiap sisinya dibandingkan dengan
pemadatan stabilitas normal dan stabilitas sisa yang hanya dilakukan 75
tumbukan di setiap sisinya. Pemaparan pemadatan mutlak ini menggambarkan proses
pemadatan sebenarnya di lapangan seiring berjalannya masa layan, dimana butiran
agregat terdesak dan tersusun sangat rapat, sehingga ruang rongga udara pada
campuran menyusut hingga mencapai batas paling minimum.
Ditinjau dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan, keadaan
campuran AC-BC pada kondisi kepadatan mutlak berada dalam peforma yang sangat
baik dan telah memenuhi seluruh standar spesifikasi KP DJPU 74 Tahun 2026.
Dengan hasil yang telah memenuhi standar ini membuktikan bahwa campuran AC-BC
pada kepadatan mutlak tidak mengalami kegagalan akibat bleeding dan tetap
memiliki ketahanan struktur yang sangat baik terhadap risiko deformasi plastis
hingga kondisi pemadatan maksimumnya.
Peforma suatu campuran beraspal pada campuran AC-BC dengan
menggunkan aspal PG 70 ditentukan oleh pemenuhan tujuh sifat utama perkerasan,
yang meliputi stabilitas, durabilitas, fleksibilitas, tahan terhadap geser,
tahan terhadap kelelehan, kedap air, dan dapat dilaksanakan. Ketujuh
karakteristik ini saling berkaitan dan membutuhkan keseimbangan yang presisi.
Berikut merupakan sifat aspal yang terdapat pada kepadatan mutlak:
A. Stabilitas
Ditinjau dari pengujian kepadatan mutlak,
sifat stabilitas sangat memenuhi persyaratan karena nilainya melonjak ke titik
tertinggi sebesar 2355,5 kg, yang jauh melampaui batas minimum 980 kg dalam
spesifikasi KP DJPU 74 Tahun 2026. Menurut Silvia Sukirman (2003), stabilitas
adalah kemampuan campuran beraspal untuk menahan beban lalu lintas tanpa
mengalami perubahan bentuk permanen. Tingginya angka stabilitas ini terjadi
karena energi pemadatan ekstra memaksa butiran agregat tersusun sangat rapat
dan saling mengunci secara ekstrem, sehingga perkerasan AC-BC memiliki
kapasitas daya dukung mekanis puncak untuk menahan tumpuan beban berat dari
roda pesawat udara.
B. Tahan Terhadap Geser
Ditinjau dari pengujian kepadatan mutlak,
sifat ketahanan terhadap geser dinyatakan sangat memenuhi syarat karena menghasilkan
nilai marshall qountient maksimum sebesar 743,0 kg/mm. Menurut Silvia
Sukirman (2003), ketahanan terhadap geser adalah kemampuan perkerasan untuk
menahan gaya dorong mendatar akibat pengereman, percepatan, atau manuver
belokan kendaraan. Kenaikan tajam nilai MQ ini menunjukkan bahwa gesekan antar
butir agregat berada pada tingkat tertinggi, sehingga struktur perkerasan
menjadi sangat kaku dan tahan terhadap pergeseran maupun pembentukan alur (rutting)
akibat gaya gesek roda pesawat di taxiway.
C. Kedap Air
Ditinjau dari pengujian kepadatan mutlak,
sifat kedap air sangat memenuhi persyaratan karena nilai VIM menyusut hingga
3,13% dan VFB meningkat hingga 79,20%. Menurut Silvia Sukirman (2003), kedap
air adalah kemampuan lapisan perkerasan untuk mencegah masuknya air dan udara
ke dalam struktur internal yang dapat memicu kerusakan. Pada kondisi pemadatan
maksimum ini, rongga udara tersumbat rapat oleh aspal sehingga menciptakan
barier yang sangat kedap dan tidak dapat dipenetrasi oleh air hujan. Selain
itu, nilai VIM yang masih memenuhi rentang memastikan bahwa perkerasan aman
dari risiko bleeding ke permukaan.
Pada pengujian kepadatan mutlak terdapat 3 karakteristik campuran
yang dianggap memenuhi dari ketujuh karakteristik yang ada. Untuk durabilitas,
rendahnya nilai VIM yaitu 3,13% membuat campuran sangat rapat sehingga
durabilitas jangka panjangnya beresiko karena minimnya rongga udara dapat
memicu bleeding ke permukaan saat suhu perkerasan naik di bawah terik matahari.
Untuk fleksibilitas, karena VIM yang makin menyempit, aspal yang terdesak
bertindak sebagai pelumas antar butir agregat, akibatnya perkerasan kehilangan
kelenturan strukturalnya dan justru rawan mengalami pergeseran plastis (alur/rutting).
Untuk tahan terhadap kelelehan, menyempitnya rongga udara VIM membuat campuran
terlalu kaku, tidak ada lagi rongga udara yang tersedia sehingga menjadi rawan
mengalami retak lelah saat menerima pembebanan dari roda pesawat. Sedangkan
untuk dapat dilaksanakan, kepadatan mutlak sangat sulit dilaksanakan pada saat
pengerjaan awal, melainkan dibiarkan terbentuk secara alami akibat pemadatan
oleh roda pesawat selama masa layan.
Hubungan Analisa
Parameter Marshall dengan Kondisi Perkerasan di Bandara
Pada
kondisi stabilitas normal, pengujian ini mensimulasikan kekuatan struktur awal
campuran dan belum terkena pengaruh cuaca dan iklim. Pada kondisi ini, seluruh
parameter marshall berada pada proporsi optimum, dimana nilai VIM, VMA, serta
stabilitas dan flow menghasilkan nilai MQ yang seimbang untuk membentuk
perkerasan yang kokoh sekaligus elastis. Nilai VIM yang ideal memberikan ruang
yang cukup bagi aspal PG 70 untuk memuai tanpa merusak agregat, sementara
ketebalan film aspal yang pas menjamin daya rekat yang maksimal. Dampaknya,
perkerasan AC-BC terhindar dari kerusakan dini seperti alur (rutting)
maupun pengelupasan (stripping), sehingga kerusakan yang timbul di
lapangan murni berupa kerusakan jangka panjang alami akibat penuaan aspal.
Pada
kondisi stabilitas sisa, dampak perendaman waterbath selama 24 jam
dengan suhu 60˚C memicu kerusakan daya rekat antara aspal dan agregat (batuan).
Kondisi stabilitas sisa ini mensimulasikan perkerasan yang tergenang air dan
berada pada kelembaban tinggi dalam waktu yang lama. Hal ini dilihat dari
penurunan nilai stabilitas marshall dan melonjaknya nilai flow mencapai
3,48 mm. Peningkatan nilai flow ini mengindikasikan bahwa campuran telah
kehilangan kekakuannya dan melunak akibat masuknya air ke dalam struktur
perkerasan, sehingga film aspal PG 70 terkelupas dari permukaan agregat.
Kerusakan fisik yang terjadi pada perkerasan mencakup pelepasan butiran batuan
(stripping) dan membuat perkerasan berlubang.
Pada
kondisi kepadatan mutlak, pengujian ini mensimulasikan ketahanan dari pemadatan
akibat repetisi beban karena dilakukan pemadatan 400 tumbukan di setiap
sisinya. Energi berlebih mendesak nilai VIM hingga menyusut pada presentase
3,13% dan melonjakkan nilai MQ sebesar 743 kg/mm. Rendahnya VIM menyebabkan
campuran kehilangan ruang untuk memuai, sehingga pada saat temperatur permukaan
perkerasan meningkat, aspal PG 70 terdesak naik ke permukaan dan memicu
pendarahan aspal (bleeding). Selain itu, lonjakan nilai MQ yang terlalu
tinggi menggambarkan sifat campuran yang terlalu kaku, sehingga perkerasan
tidak sanggup meredam gaya pengereman yang memicu terjadinya deformasi plastis
pada suhu tinggi.
SIMPULAN
- Kadar Aspal Optimum (KAO) ditentukan
berdasarkan irisan rentang kelayakan seluruh parameter Marshall. Kadar
aspal minimum sebesar 5,8% ditentukan oleh batas minimum VIM, sedangkan
kadar maksimum sebesar 6,1%. Nilai tengah kedua batas tersebut menghasilkan KAO
sebesar 5,95%.
- Pada KAO 5,95%, komposisi campuran terdiri atas
agregat kasar fraksi 15–20 mm sebesar 11%, fraksi 10–15 mm sebesar 36%,
fraksi 5–10 mm sebesar 14%, agregat halus fraksi 0–5 mm sebesar 38%,
filler abu batu sebesar 1%, dan aspal PG 70 sebesar 5,95%.
- Pada stabilitas normal, diperoleh stabilitas
1.770,7 kg, flow 3,39 mm, VIM 3,51%, VMA 15,35%, VFB 77,15%, dan MQ 524,8
kg/mm. Pada stabilitas sisa, stabilitas sebesar 1.607,8 kg dengan
Indeks Kekuatan Sisa (IKS) sebesar 90,80%, sehingga masih memenuhi
batas minimum 90%. Sementara itu, pada kepadatan mutlak, stabilitas
meningkat menjadi 2.355,5 kg dengan VIM 3,13% dan MQ 743,0 kg/mm.
- Secara keseluruhan, campuran AC-BC dengan aspal
modifikasi PG 70 pada KAO 5,95% memenuhi persyaratan KP DJPU 74 Tahun
2026 dan menunjukkan kinerja yang memenuhi persyaratan untuk
digunakan sebagai lapisan pengikat pada perkerasan taxiway bandar udara.
SARAN
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium dan
pembahasan mengenai evaluasi kinerja campuran Asphalt Concrete – Binder
Course (AC-BC) menggunakan aspal modifikasi PG 70 pada perkerasan taxiway
bandara, disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pada
penelitian ini, pencampuran aspal dengan agregat disaat pembuatan benda uji
dilakukan dengan campuran aspal panas (Hot Mix Asphalt) dengan
temperatur pencampuran pada suhu 150˚C - 170 ˚C. Untuk penelitian selanjutnya,
disarankan mencoba campuran aspal sedang (Warm Mix Asphalt) dengan
temperatur pencampuran pada suhu 110˚C - 140 ˚C untuk melihat perbedaan
parameter marshall yang signifikan.
2. Disarankan
untuk menambah variasi jumlah tumbukan di antara kondisi normal dan mutlak
(misalnya 75, 150, 250, dan 400 tumbukan). Analisis ini dapat merepresentasikan
kondisi perkerasan taxiway pada tahun-tahun awal hingga pertengahan masa
layan, seingga dapat diketahui lebih jelas mengenai karakteristik perkerasan
taxiway bandara secara lebih rinci.
REFERENSI
Ahmad, K. A., & Yunaefi, I. (2021). Karkteristik
campuran beton aspal (AC-WC) dengan menggunakan variasi kadar filler limbah abu
terbang batubara. [Nama jurnal tidak tersedia], 2, 51–57.
Akbar, S. J. (2016). Penggunaan abu batu bara sebagai
filler pada campuran aspal beton AC-BC. [Nama jurnal tidak tersedia], 6(2),
121–130.
Al-Amri, F. (2013). Studi perbandingan penggunaan
aspal minyak dengan aspal Buton Lawele pada campuran Asphalt Concrete Base
Course (AC-BC) menggunakan metode Marshall Test. [Nama jurnal tidak
tersedia], 4(2), 181–190.
Ananto, M. A. K., & Kurniawan, M. A. (2025). Perbandingan
karakteristik Asphalt Concrete Wearing Course modifikasi PG 70 dan aspal
penetrasi 60/70 dengan bahan tambah anti stripping agent.
Ariawan, I. M. A. (2014). Variasi agregat lonjong pada
agregat kasar terhadap karakteristik lapisan aspal beton (Laston). [Nama
jurnal tidak tersedia], 1983, 1–9.
Ariawan, I. M. A., & Widhiawati, I. R. (2010).
Pengaruh gradasi agregat terhadap karakteristik campuran Laston. [Nama
jurnal tidak tersedia], 14(2), 198–207.
Ichwan, M. (2023). Perbandingan kinerja
campuran AC-BC dengan metode pencampuran konvensional dan metode pencampuran
dua tahap.
Indarwati, S., Respati, S. M. B., & Darmanto.
(2019). Kebutuhan daya pada air conditioner saat terjadi perbedaan suhu dan
kelembaban. [Nama jurnal tidak tersedia], 15(1), 91–95.
Irwansyah, R. (2021). Pengaruh substitusi
styrofoam pada campuran aspal penetrasi 60/70 terhadap Asphalt Concrete-Wearing
Course (AC-WC) dengan pengujian Marshall.
Januardi. (2011). Pengaruh kepadatan mutlak
terhadap kekuatan campuran aspal pada lapisan permukaan HRS-WC.
Mahardiananta, I. M. A., Haryawan, I. G. A.,
Prihananta, P. D., & Nyoman, I. (2022). Design and construction of
waterbath based microcontroller. JITE (Journal of Informatics and
Telecommunication Engineering), 5, 349–359.
Melati. (2024). Analisis mutu kualitas aspal
AC-BC terhadap sifat fisika material di PT BRU Kabupaten Lahat.
Meliala, A. P. (2024). Analisis rencana
penambahan tahap 1 Taxiway Alpha dan Bravo menggunakan perkerasan rigid
pavement di Bandara Internasional Kualanamu.
Muliasari, A., & Lukiana. (2013). Penentuan tebal
perkerasan lentur berdasarkan nilai CBR (California Bearing Ratio) dan ESWL
(Equivalent Single Wheel Load) pesawat rencana pada perencanaan pembangunan
bandar udara baru di Karawang. [Nama jurnal tidak tersedia],
181–191.
Putri, S. P., Pakombong, V., & Item, R. (2024).
Analisis ayakan terhadap sampel tanah pada wilayah Kadun Jaya. [Nama
jurnal tidak tersedia], 5(2), 55–60.
Ridha, N. (2017). Proses penelitian, masalah, variabel
dan paradigma penelitian. [Nama jurnal tidak tersedia], 14(1),
62–70.
Ridwan, F. S. (2017). Analisis pengaruh pemanfaatan
abu sekam sebagai filler pada campuran aspal beton. [Nama jurnal tidak
tersedia], 1–8.
Santika, Y. (2024). Analisis variasi durasi perendaman
pada campuran aspal beton menggunakan gradasi FAA dan BBA untuk perkerasan
runway. [Nama jurnal tidak tersedia], 88–97.
Simaremare, F., Bunahri, R. R., Novie, D., Arta, C.,
& Kona, M. (2023). Analisa penambahan jalur Circuit D pada Taxiway di
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai–Bali. [Nama jurnal tidak
tersedia], 1(2), 122–131.
Sukirman, S. (2016). Beton aspal campuran
panas.
Sulung, U., & Muspawi, M. (2024). Memahami sumber
data penelitian: Primer, sekunder, dan tersier. [Nama jurnal tidak
tersedia], 5, 110–116.
Suryanto, & Nurokhman. (2022). Evaluasi properti
Marshall terhadap mutu aspal beton lapangan pada runway Bandara Yogyakarta
International Airport. [Nama jurnal tidak tersedia], IV(1), 59–72.
Syahroni, M. I. (2022). Prosedur penelitian
kuantitatif. [Nama jurnal tidak tersedia], 2(3), 43–56.
Tajudin, A. N. (2017). Analisis indeks stabilitas sisa
pada campuran Asphalt Concrete dengan penggunaan limbah plastik sebagai agregat
pengganti. [Nama jurnal tidak tersedia], 1(1), 272–280.