Innovation
in Public Service Through the Electronic Self-Registration System (E-Pentole)
at Bhayangkara Hospital Surabaya
Mochamad
Farros Pambudi Luhur1, Trenda Aktiva Oktariyanda2*,
Eva Hany Fanida3, Meirinawati4
Abstract
Public
services in the health sector are required to be more effective, efficient, and
responsive to community needs. One effort to improve service quality is through
information technology-based innovation. This study aims to analyze public
service innovation through the Electronic Total Dewe Registration (E-Pentole)
system at Bhayangkara Hospital Surabaya. This study uses a qualitative approach
with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through
interviews, observation, and documentation. The research analysis uses Everett
M. Rogers' Diffusion of Innovation theory, which includes five indicators:
relative advantage, suitability, complexity, trialability, and visibility of
results. The results show that the implementation of E-Pentole can improve the
efficiency of the patient registration process, reduce service queues, and
simplify the management of hospital administrative data. This system is
considered to have advantages over manual systems because it is faster, more
practical, and integrated with patient medical records. However, challenges
remain, such as varying levels of patient technology literacy and the need for
increased public outreach. Therefore, continuous system development is needed
through increased staff training, system maintenance, and the development of
digital service features to support more optimal health services.
Keywords: public service innovation, e-government, E-Pentole, health
services
Abstrak
Pelayanan
publik di sektor kesehatan dituntut untuk semakin efektif, efisien, dan
responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan kualitas
pelayanan dilakukan melalui inovasi berbasis teknologi informasi. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis inovasi pelayanan publik melalui sistem
Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara
Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan teori Difusi Inovasi Everett M.
Rogers yang meliputi lima indikator yaitu keunggulan relatif, kesesuaian,
kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penerapan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi proses pendaftaran
pasien, mengurangi antrean pelayanan, serta mempermudah pengelolaan data
administrasi rumah sakit. Sistem ini dinilai memiliki keunggulan dibanding
sistem manual karena lebih cepat, praktis, dan terintegrasi dengan data rekam
medis pasien. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan berupa tingkat
literasi teknologi pasien yang beragam serta kebutuhan peningkatan sosialisasi
kepada masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem secara
berkelanjutan melalui peningkatan pelatihan petugas, pemeliharaan sistem, dan
pengembangan fitur layanan digital untuk mendukung pelayanan kesehatan yang
lebih optimal.
Kata kunci: inovasi pelayanan publik, e-government, E-Pentole, pelayanan
kesehatan
Article Info
Received
date: 10 April 2026 Revised date: 15 April 2026 Accepted date: 20 April 2026
PENDAHULUAN
Pelayanan publik merupakan salah satu fungsi utama
pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan
umum. Pelayanan publik mencakup berbagai sektor, salah satunya adalah pelayanan
kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa pelayanan publik merupakan
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik adalah setiap kegiatan
pemerintah terhadap sejumlah orang yang memiliki setiap kegiatan yang
menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan
meskipun hasilnya tidak terikat secara fisik terhadap suatu produk, Sinambela
(2019:5).
Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah untuk
melakukan transformasi digital dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Pelayanan publik, menurut Hardiansyah (2020:10), adalah kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material dalam
rangka memenuhi kebutuhan orang lain sesuai dengan hakhaknya melalui sistem,
prosedur, dan metode tertentu. Sementara itu, Dwiyanto (2021) menyatakan bahwa
salah satu alat penting untuk mengevaluasi kinerja birokrasi pemerintahan
adalah pelayanan publik. Menurutnya, kualitas pelayanan publik yang baik
mencerminkan kemampuan pemerintah untuk memenuhi permintaan masyarakat untuk
pelayanan yang efisien, profesional, dan berfokus pada kepentingan publik. Transformasi
ini didukung melalui kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)
yang bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, serta kualitas pelayanan
kepada masyarakat. Dalam konteks pelayanan kesehatan, digitalisasi menjadi
langkah penting untuk mempercepat proses administrasi dan meningkatkan kualitas

layanan pasien.
Gambar 1 Perbandingan Tingkat Kematangan Sistem Pemerintahan
Berbasis Elektronik (SPBE). Sumber: KemenpanRB, 2022
Namun pada kenyataannya, banyak rumah sakit masih
menggunakan sistem pendaftaran manual yang menyebabkan antrean panjang, waktu
tunggu yang lama, serta potensi kesalahan administrasi. Kondisi tersebut
menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan dapat menghambat proses pelayanan
medis. Oleh karena itu, inovasi pelayanan publik berbasis teknologi menjadi
solusi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Gambar 2 Antrean Pasien Yang Mendaftar Secara Manual
Sumber: Heloindonesia.com. 2023
Pada gambar di atas ada antrean pasien yang menumpuk di Rumah sakit
dikarenakan masih melakukan pendaftaran
secara manual. Tidak heran Banyak rumah sakit pemerintah masih mengandalkan
sistem manual dalam proses pendaftaran, pencatatan, dan pengelolaan data
pasien. Hal ini menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu lama, dan risiko
kesalahan administrasi yang tinggi. Dalam laporan Ombudsman RI (2022),
disebutkan bahwa sektor kesehatan merupakan salah satu bidang dengan tingkat
pengaduan pelayanan publik tertinggi, di mana keluhan utama berasal dari sistem
pelayanan yang lambat dan tidak efisien. keterbatasan anggaran, kekurangan
tenaga IT, dan kurangnya pelatihan staf pelayanan, sebagian rumah sakit daerah
tidak dapat menerapkan inovasi digital. Selain itu, infrastruktur jaringan
internet yang tidak merata menghalangi penerapan sistem digital secara keseluruhan. Namun, digitalisasi rumah sakit dapat memiliki
banyak manfaat, seperti mempercepat pelayanan medis, mempermudah pendaftaran
pasien, dan meningkatkan akurasi data kesehatan.
Inovasi digital rumah sakit juga merupakan wujud nyata dari transformasi
birokrasi dalam konteks pelayanan publik. Dengan demikian, inovasi pelayanan kesehatan tidak hanya
berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga pada peningkatan kualitas
hubungan antara pemerintah dan masyarakat
sebagai pengguna layanan. Salah satu kota terbaik di Indonesia untuk
mengembangkan inovasi pelayanan publik adalah Surabaya. Berbagai sistem digital
telah dikembangkan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas komunikasi dan informatika
Pemerintah Kota Surabaya untuk membantu sektor kesehatan dan layanan publik
lainnya. Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong integrasi data kesehatan antar rumah
sakit, puskesmas, dan klinik melalui program Surabaya Smart City (Qatrunnada et al, 2023).
Dalam menganalisis inovasi pelayanan publik, teori difusi inovasi yang
dikemukakan oleh Rogers (2003) dapat digunakan untuk melihat bagaimana suatu
inovasi diterapkan dan diterima oleh pengguna. Rogers menjelaskan bahwa
keberhasilan suatu inovasi dapat dilihat melalui lima karakteristik utama yaitu
keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan
keterlihatan hasil.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman yang
mendalam mengenai implementasi inovasi pelayanan publik melalui sistem
E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.
Lokasi Penelitian adalah tempat yang akan digunakan oleh peneliti sebagai
objek penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat sesuai
dengan realita pada tempat yang telah dipilih sebagai lokasi penelitian, lokasi
penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya yang terletak pada Jalan Ahmad Yani Nomor
116, Ketintang, Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur 60231. Alasan memilih lokasi ini karena Rumah Sakit
Bhayangkara merupakan tempat terjadinya inovasi pelayanan publik saya bisa melihat
proses masyarakat yang berkunjung untuk melakukan cek kesehatan melalui digital tanpa perlu ke mengantri lama di
loket pendaftaran.
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan
informan yang dipilih secara purposive, yaitu Ibu Dyah Suprihatin (Kaursim
Rs Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya),
Ibu Jasmine Annisa P.C (Staf Pelayanan), Bapak Bernard Guna P Hariaja (Admin IT E-Pentole),
Pasien yang berobat
di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya
(Bapak Rudy Fadil , Ibu
Sulistiyowati, Ibu Soeharijati dan bapak Agung.
Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan layanan,
kendala yang dihadapi, serta persepsi pengguna terhadap kualitas pelayanan.
Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi, seperti
peraturan perundang-undangan, laporan instansi, arsip pelayanan, serta
literatur ilmiah yang relevan dengan topik penelitian.
Menurut John W. Creswell (2014), metode pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif bertujuan memahami fenomena sosial melalui interaksi langsung,
pengamatan, dan analisis dokumen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan
tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi
dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk
menggali pengalaman, perspektif, dan perasaan informan secara lebih rinci (Michael
Quinn Patton, 2002). Observasi partisipatif memungkinkan peneliti mengamati
secara langsung aktivitas dan interaksi dalam lingkungan alami, seperti
interaksi pasien dengan kios digital, interaksi pasien dengan petugas, waktu
pelayanan, serta kendala teknis yang muncul saat sistem digunakan (James P.
Spradley, 1980). Selain itu, studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah
berbagai dokumen pendukung seperti SOP, laporan evaluasi sistem, catatan log
pengguna, dan data survei kepuasan pasien untuk melengkapi serta memverifikasi
temuan penelitian (Glenn A. Bowen, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis penerapan E-Pentole dalam penelitian ini
difokuskan pada unsur-unsur utama teori difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran
komunikasi, jangka waktu, dan sistem sosial, serta karakteristik inovasi yang
meliputi keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan
keterlihatan hasil untuk diamati. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji
bagaimana E-Pentole dipersepsikan oleh pasien dan petugas, bagaimana proses
adopsi berlangsung dalam lingkungan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, serta sejauh
mana inovasi ini memberikan manfaat nyata dalam mendukung peningkatan kualitas
pelayanan pendaftaran pasien.
1. Keunggulan Relatif
Sistem E-Pentole memberikan keunggulan dibandingkan sistem
pendaftaran manual. Melalui sistem ini, pasien dapat melakukan pendaftaran
secara lebih cepat sehingga waktu tunggu menjadi lebih singkat. Selain itu,
sistem ini membantu petugas dalam mengelola data pasien secara lebih efisien.
Hal ini sejalan dengan konsep inovasi pelayanan publik yang menekankan
peningkatan efisiensi dan kualitas pelayanan (Muluk, 2008). Penerapan sistem
E-Pentole memberikan dampak positif bagi rumah sakit dan pengguna layanan karena
mampu mempercepat proses pendaftaran sehingga waktu tunggu dan antrean pasien
berkurang. Sistem ini juga membuat alur kerja lebih tertata karena data
pendaftaran langsung terintegrasi dengan SIMRS, sehingga petugas dapat bekerja
lebih efisien tanpa melakukan input ulang. Selain mempermudah pengelolaan data
dan mengurangi kesalahan pencatatan bagi pihak manajemen dan IT, E-Pentole juga
memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, sehingga secara keseluruhan
berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan pasien dan kinerja pelayanan di
Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Hal ini selaras dengan perkataan Ibu Sulistiyowati selaku
pasien yang merasakan manfaat pengunaan E-Pentole, “Manfaat yang paling saya
rasakan setelah ada E-Pentole itu pendaftarannya jadi lebih cepat dan tidak
perlu antre lama. Alurnya juga lebih jelas, jadi saya tidak bingung harus ke
mana. Kalau ada yang belum paham,
biasanya dibantu petugas, jadi prosesnya terasa
lebih mudah dan nyaman.” (Wawancara, 23 Januari 2026)
2. Kesesuaian
Implementasi E-Pentole dinilai sesuai dengan kebutuhan
masyarakat serta prosedur pelayanan rumah sakit. Sistem ini mendukung
digitalisasi pelayanan kesehatan dan sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam
pengembangan e-government di sektor publik (Indrajit, 2016). Penerapan sistem
E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dinilai selaras dengan visi
pengembangan pelayanan berbasis digital. Sistem ini mempercepat dan menertibkan
proses pendaftaran serta dapat diintegrasikan dengan sistem lain seperti SIMRS
sehingga alur pelayanan menjadi lebih efisien. Bagi pegawai, E-Pentole sesuai
dengan alur kerja dan SOP yang ada sehingga memudahkan proses adaptasi dan
membuat pekerjaan lebih tertata. Sementara bagi pasien, sistem ini cukup mudah
digunakan dan membantu proses pendaftaran, meskipun pasien lanjut usia masih
memerlukan pendampingan. Secara keseluruhan, E-Pentole mendukung terciptanya
pelayanan rumah sakit yang lebih efektif dan tertib. Hal ini
disampaikan oleh Admin IT terkait Sistem E- Pentole mudah diintegrasikan dengan
sistem pelayanan lain, “E-Pentole cukup mudah diintegrasikan dengan sistem pelayanan lain. Sejak awal
sistem ini memang disiapkan untuk mendukung pelayanan berbasis digital di rumah
sakit, jadi bisa langsung terhubung dengan SIMRS. Dengan begitu, data
pendaftaran bisa langsung digunakan dan alur pelayanan jadi lebih tertata.” (Wawancara, 21 Januari 2026).
3. Kerumitan

Meskipun memberikan berbagai manfaat, sebagian pasien masih
mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem E-Pentole, terutama bagi pasien
yang kurang familiar dengan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan
upaya sosialisasi dan pendampingan kepada pengguna agar sistem dapat
dimanfaatkan secara optimal. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit
Bhayangkara Surabaya dapat dikelola dengan baik meskipun pada tahap awal
terdapat beberapa kendala dalam proses adaptasi staf dan pasien terhadap sistem
baru. Namun, kendala tersebut tidak berlangsung lama karena tampilan dan alur
penggunaan sistem dinilai cukup sederhana serta sesuai dengan proses kerja yang
ada. Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Pelayanan RS Bhayangkara “Di
awal memang ada sedikit kesulitan karena sistemnya baru. Tapi tampilannya cukup
sederhana dan ada pendampingan dari tim IT, jadi tidak lama kemudian
kami terbiasa. Setelah itu, penggunaan E-Pentole justru
terasa lebih membantu pekerjaan.” (Wawancara, 21 Januari 2026).
Dukungan sosialisasi, pendampingan dari tim IT, dan bantuan petugas kepada
pasien turut membantu proses penyesuaian, sehingga seiring waktu staf dan
pasien semakin terbiasa menggunakan E-Pentole dan sistem dapat dimanfaatkan
secara optimal dalam mendukung pelayanan pendaftaran di rumah sakit.
Gambar 3 Tampilan Input Nomor Booking. (Sumber: Dokumentasi, 2026)
Gambar diatas menampilkan
tampilan input nomor booking pada sistem E-Pentole yang digunakan dalam proses
pendaftaran pasien, di mana pada tahap ini masih berpotensi muncul kendala
teknis seperti gangguan jaringan atau kesalahan input. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya berjalan cukup baik dan dapat
dikelola dengan efektif. Kendala yang muncul umumnya terjadi pada tahap awal,
baik terkait teknis maupun pemahaman pengguna, namun dapat diminimalkan melalui
sosialisasi, pendampingan staf, koordinasi dengan tim IT, dan bantuan langsung
dari petugas kepada pasien. Tampilan dan alur sistem yang sederhana serta
kesesuaian dengan proses kerja yang sudah ada memudahkan staf dalam mengoperasikan E-Pentole,
sementara pasien pun dapat beradaptasi secara bertahap.
4. Kemungkinan Uji Coba
Sistem E-Pentole telah diuji coba sebelum diterapkan secara
penuh di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Proses uji coba ini memungkinkan
pihak rumah sakit untuk melakukan evaluasi serta perbaikan sistem sehingga
dapat digunakan secara lebih efektif oleh pasien. Hal tersebut diungkapkan oleh
Kaursimrs “Iya, sebelum E-Pentole diterapkan sepenuhnya, sistem
ini dicoba dulu. Staf ikut mencoba dan memberikan masukan, jadi kita bisa tahu kendala yang muncul. Dari situ,
perbaikan bisa dilakukan supaya saat digunakan di seluruh unit, sistemnya lebih
lancar dan sesuai kebutuhan pelayanan.” (Wawancara,
20 Januari 2026). Penerapan E-Pentole dilakukan
melalui proses evaluasi, uji coba, pelatihan, dan pendampingan bagi staf maupun
pasien. Pada tahap ini, berbagai masukan terkait kendala penggunaan dikumpulkan
dan dikaji bersama tim IT untuk menyempurnakan alur, tampilan, dan fitur sistem
agar lebih mudah digunakan. Pelatihan membantu staf beradaptasi dengan
penggunaan sistem sehingga pekerjaan menjadi lebih tertata, sementara pasien
dapat memahami cara penggunaan melalui bantuan petugas hingga akhirnya mampu
mengoperasikan E-Pentole secara mandiri. Ibu Sulistiyowati memberikan
pernyataan setelah mencoba “Iya,
kesempatan mencoba itu sangat membantu saya
memahami cara pakainya. Awalnya memang masih bingung, tapi setelah dicoba
langsung dan dibantu petugas, jadi lebih paham langkah-langkahnya. Setelah beberapa
kali mencoba, saya jadi lebih terbiasa dan tidak terlalu kesulitan lagi.” (Wawancara, 22 Januari 2026). Proses tersebut memastikan
bahwa ketika sistem diterapkan secara penuh, operasionalnya dapat berjalan
lebih lancar, efektif, dan minim kendala.
5. Keterlihatan Hasil
Hasil dari penerapan sistem E-Pentole dapat terlihat dari
berkurangnya antrean pasien serta meningkatnya efisiensi proses pelayanan
pendaftaran. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tersebut memberikan dampak
positif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pernyataan
tersebut diungkapkan oleh Kaursimrs RS Bhayangkara Surabaya terkait perubahan
E-Pentole “Perubahan yang paling terlihat setelah E- Pentole
dijalankan adalah proses pendaftaran jadi lebih cepat dan tertib. Antrean
pasien lebih teratur, data langsung
masuk ke sistem,
dan staf bisa bekerja lebih
efisien. Pasien juga merasa lebih nyaman karena alurnya jelas dan tidak perlu
menunggu lama, jadi dampak positifnya langsung
terasa.” (Wawancara, 20 Januari 2026). Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit
Bhayangkara Surabaya memberikan dampak positif terhadap pelayanan, terutama
dalam mempercepat proses pendaftaran, menata antrean pasien, serta memudahkan
pengelolaan data karena langsung tersimpan dalam sistem. Sistem ini juga
dinilai berjalan efektif berdasarkan indikator teknis seperti kecepatan sistem,
stabilitas jaringan, kesesuaian alur kerja dengan SOP, serta minimnya kesalahan
input. Dampaknya, pasien merasakan waktu tunggu yang lebih singkat, alur
pelayanan yang lebih jelas, dan kenyamanan yang meningkat, sehingga secara
keseluruhan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi, keteraturan, dan kepuasan
dalam pelayanan rumah sakit. Hal tersebut selaras oleh pernyataan pasien Rudy
Fadil memberikan pernyataan terkait perubahan setelah diterapkan E-Pentole “Ya,
saya memang merasakan perubahan setelah E-Pentole diterapkan. Proses
pendaftaran jadi lebih cepat, antreannya tidak terlalu panjang, dan alurnya
lebih jelas. Jadi saya
tidak perlu menunggu lama, dan semuanya terasa
lebih rapi. Secara keseluruhan, pelayanan sekarang terasa lebih nyaman.” (Wawancara, 22
Januari 2026). Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya membawa perubahan yang nyata bagi
pelayanan. Sistem ini membuat pekerjaan staf lebih efisien, pendaftaran pasien
lebih cepat, antrean lebih tertata,
dan kesalahan input berkurang. Pasien juga merasakan manfaatnya, dengan alur pelayanan
yang lebih jelas, waktu tunggu
lebih singkat, dan kenyamanan
yang meningkat, sehingga mereka bersedia menggunakan sistem ini kembali. Selain
meningkatkan pelayanan saat ini, E-Pentole
juga menjadi dasar untuk evaluasi dan pengembangan layanan di masa
depan, sehingga secara keseluruhan mendukung peningkatan kualitas pelayanan
rumah sakit.
SIMPULAN
Inovasi pelayanan publik melalui sistem Elektronik
Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya
memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan. Berdasarkan analisis menggunakan teori difusi inovasi Rogers, sistem
ini memiliki keunggulan relatif dibandingkan sistem manual, sesuai dengan
kebutuhan pengguna, serta mampu meningkatkan efisiensi proses pelayanan.
Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan
pemahaman teknologi pada sebagian pasien serta perlunya peningkatan sosialisasi
penggunaan sistem. Oleh karena itu, pengembangan dan evaluasi sistem secara
berkelanjutan perlu dilakukan agar inovasi pelayanan ini dapat memberikan
manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian,
disarankan agar Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya terus meningkatkan efektivitas
penerapan sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) melalui
peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tata cara penggunaan sistem
tersebut. Selain itu, pihak rumah sakit perlu melakukan pengembangan dan
evaluasi sistem secara berkala agar lebih mudah digunakan oleh berbagai
kalangan masyarakat serta dapat meminimalisir kendala teknis yang mungkin
terjadi. Penyediaan layanan pendampingan bagi pasien yang mengalami kesulitan
dalam menggunakan sistem juga perlu diperhatikan agar pelayanan tetap berjalan
optimal. Dengan upaya tersebut, diharapkan inovasi E-Pentole dapat semakin
meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sinambela, L. P. (2019). Reformasi
Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan Implementasi. Bumi Aksara.
Hardiansyah. (2020). Kualitas Pelayanan Publik:
Konsep, Dimensi, dan Implementasinya. Gava Media.
Dwiyanto, A. (2021). Reformasi Birokrasi dan
Pelayanan Publik di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Qatrunnada, A. F., Taufiqurrohman, T., &
Rachmawati, I. (2023).
Rogers, E. M. (2020). Diffusion of Innovations. New
York: Free Press.
Creswell, J. W. (2021). Research Design:
Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE
Publications.
Spradley, J. P. (dalam Paramita, R., 2021). Metode
Etnografi dalam Penelitian Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Indrajit, R. E. (2018). E-Government: Strategi
Pengembangan dan Implementasi di Indonesia. Andi Offset.