Monday, April 20, 2026

Inovasi Pelayanan Publik Melalui Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya


Innovation in Public Service Through the Electronic Self-Registration System (E-Pentole) at Bhayangkara Hospital Surabaya

 

Mochamad Farros Pambudi Luhur1, Trenda Aktiva Oktariyanda2*, Eva Hany Fanida3, Meirinawati4

Innovation in Public Service Through the Electronic Self-Registration System (E-Pentole) at Bhayangkara Hospital Surabaya | Pambudi Luhur | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Abstract

Public services in the health sector are required to be more effective, efficient, and responsive to community needs. One effort to improve service quality is through information technology-based innovation. This study aims to analyze public service innovation through the Electronic Total Dewe Registration (E-Pentole) system at Bhayangkara Hospital Surabaya. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through interviews, observation, and documentation. The research analysis uses Everett M. Rogers' Diffusion of Innovation theory, which includes five indicators: relative advantage, suitability, complexity, trialability, and visibility of results. The results show that the implementation of E-Pentole can improve the efficiency of the patient registration process, reduce service queues, and simplify the management of hospital administrative data. This system is considered to have advantages over manual systems because it is faster, more practical, and integrated with patient medical records. However, challenges remain, such as varying levels of patient technology literacy and the need for increased public outreach. Therefore, continuous system development is needed through increased staff training, system maintenance, and the development of digital service features to support more optimal health services.

Keywords: public service innovation, e-government, E-Pentole, health services

Abstrak

Pelayanan publik di sektor kesehatan dituntut untuk semakin efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan kualitas pelayanan dilakukan melalui inovasi berbasis teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi pelayanan publik melalui sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers yang meliputi lima indikator yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi proses pendaftaran pasien, mengurangi antrean pelayanan, serta mempermudah pengelolaan data administrasi rumah sakit. Sistem ini dinilai memiliki keunggulan dibanding sistem manual karena lebih cepat, praktis, dan terintegrasi dengan data rekam medis pasien. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan berupa tingkat literasi teknologi pasien yang beragam serta kebutuhan peningkatan sosialisasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem secara berkelanjutan melalui peningkatan pelatihan petugas, pemeliharaan sistem, dan pengembangan fitur layanan digital untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

Kata kunci: inovasi pelayanan publik, e-government, E-Pentole, pelayanan kesehatan

 

Article Info

Received date: 10 April 2026                                      Revised date: 15 April 2026                                      Accepted date: 20 April  2026

 

PENDAHULUAN

Pelayanan publik merupakan salah satu fungsi utama pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan umum. Pelayanan publik mencakup berbagai sektor, salah satunya adalah pelayanan kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa pelayanan publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik adalah setiap kegiatan pemerintah terhadap sejumlah orang yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat secara fisik terhadap suatu produk, Sinambela (2019:5).

Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah untuk melakukan transformasi digital dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan publik, menurut Hardiansyah (2020:10), adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material dalam rangka memenuhi kebutuhan orang lain sesuai dengan hakhaknya melalui sistem, prosedur, dan metode tertentu. Sementara itu, Dwiyanto (2021) menyatakan bahwa salah satu alat penting untuk mengevaluasi kinerja birokrasi pemerintahan adalah pelayanan publik. Menurutnya, kualitas pelayanan publik yang baik mencerminkan kemampuan pemerintah untuk memenuhi permintaan masyarakat untuk pelayanan yang efisien, profesional, dan berfokus pada kepentingan publik. Transformasi ini didukung melalui kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dalam konteks pelayanan kesehatan, digitalisasi menjadi langkah penting untuk mempercepat proses administrasi dan meningkatkan kualitas
layanan pasien.

 

Gambar 1 Perbandingan Tingkat Kematangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Sumber: KemenpanRB, 2022

 

Namun pada kenyataannya, banyak rumah sakit masih menggunakan sistem pendaftaran manual yang menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu yang lama, serta potensi kesalahan administrasi. Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan dapat menghambat proses pelayanan medis. Oleh karena itu, inovasi pelayanan publik berbasis teknologi menjadi solusi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.


Gambar 2 Antrean Pasien Yang Mendaftar Secara Manual

Sumber: Heloindonesia.com. 2023

Pada gambar di atas ada antrean pasien yang menumpuk di Rumah sakit dikarenakan masih melakukan pendaftaran secara manual. Tidak heran Banyak rumah sakit pemerintah masih mengandalkan sistem manual dalam proses pendaftaran, pencatatan, dan pengelolaan data pasien. Hal ini menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu lama, dan risiko kesalahan administrasi yang tinggi. Dalam laporan Ombudsman RI (2022), disebutkan bahwa sektor kesehatan merupakan salah satu bidang dengan tingkat pengaduan pelayanan publik tertinggi, di mana keluhan utama berasal dari sistem pelayanan yang lambat dan tidak efisien. keterbatasan anggaran, kekurangan tenaga IT, dan kurangnya pelatihan staf pelayanan, sebagian rumah sakit daerah tidak dapat menerapkan inovasi digital. Selain itu, infrastruktur jaringan internet yang tidak merata menghalangi penerapan sistem digital secara keseluruhan. Namun, digitalisasi rumah sakit dapat memiliki banyak manfaat, seperti mempercepat pelayanan medis, mempermudah pendaftaran pasien, dan meningkatkan akurasi data kesehatan.

Inovasi digital rumah sakit juga merupakan wujud nyata dari transformasi birokrasi dalam konteks pelayanan publik. Dengan demikian, inovasi pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga pada peningkatan kualitas hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna layanan. Salah satu kota terbaik di Indonesia untuk mengembangkan inovasi pelayanan publik adalah Surabaya. Berbagai sistem digital telah dikembangkan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas komunikasi dan informatika Pemerintah Kota Surabaya untuk membantu sektor kesehatan dan layanan publik lainnya. Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong integrasi data kesehatan antar rumah sakit, puskesmas, dan klinik melalui program Surabaya Smart City (Qatrunnada et al, 2023).

Dalam menganalisis inovasi pelayanan publik, teori difusi inovasi yang dikemukakan oleh Rogers (2003) dapat digunakan untuk melihat bagaimana suatu inovasi diterapkan dan diterima oleh pengguna. Rogers menjelaskan bahwa keberhasilan suatu inovasi dapat dilihat melalui lima karakteristik utama yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implementasi inovasi pelayanan publik melalui sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

Lokasi Penelitian adalah tempat yang akan digunakan oleh peneliti sebagai objek penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat sesuai dengan realita pada tempat yang telah dipilih sebagai lokasi penelitian, lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya yang terletak pada Jalan Ahmad Yani Nomor 116, Ketintang, Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur 60231. Alasan memilih lokasi ini karena Rumah Sakit Bhayangkara merupakan tempat terjadinya inovasi pelayanan publik saya bisa melihat proses masyarakat yang berkunjung untuk melakukan cek kesehatan melalui digital tanpa perlu ke mengantri lama di loket pendaftaran.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposive, yaitu Ibu Dyah Suprihatin (Kaursim Rs Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya), Ibu Jasmine Annisa P.C (Staf Pelayanan), Bapak Bernard Guna P Hariaja (Admin IT E-Pentole), Pasien yang berobat di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya (Bapak Rudy Fadil , Ibu Sulistiyowati, Ibu Soeharijati dan bapak Agung. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan layanan, kendala yang dihadapi, serta persepsi pengguna terhadap kualitas pelayanan. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi, seperti peraturan perundang-undangan, laporan instansi, arsip pelayanan, serta literatur ilmiah yang relevan dengan topik penelitian.

Menurut John W. Creswell (2014), metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena sosial melalui interaksi langsung, pengamatan, dan analisis dokumen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pengalaman, perspektif, dan perasaan informan secara lebih rinci (Michael Quinn Patton, 2002). Observasi partisipatif memungkinkan peneliti mengamati secara langsung aktivitas dan interaksi dalam lingkungan alami, seperti interaksi pasien dengan kios digital, interaksi pasien dengan petugas, waktu pelayanan, serta kendala teknis yang muncul saat sistem digunakan (James P. Spradley, 1980). Selain itu, studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah berbagai dokumen pendukung seperti SOP, laporan evaluasi sistem, catatan log pengguna, dan data survei kepuasan pasien untuk melengkapi serta memverifikasi temuan penelitian (Glenn A. Bowen, 2009).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis penerapan E-Pentole dalam penelitian ini difokuskan pada unsur-unsur utama teori difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran komunikasi, jangka waktu, dan sistem sosial, serta karakteristik inovasi yang meliputi keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil untuk diamati. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji bagaimana E-Pentole dipersepsikan oleh pasien dan petugas, bagaimana proses adopsi berlangsung dalam lingkungan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, serta sejauh mana inovasi ini memberikan manfaat nyata dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan pendaftaran pasien.

1. Keunggulan Relatif

Sistem E-Pentole memberikan keunggulan dibandingkan sistem pendaftaran manual. Melalui sistem ini, pasien dapat melakukan pendaftaran secara lebih cepat sehingga waktu tunggu menjadi lebih singkat. Selain itu, sistem ini membantu petugas dalam mengelola data pasien secara lebih efisien. Hal ini sejalan dengan konsep inovasi pelayanan publik yang menekankan peningkatan efisiensi dan kualitas pelayanan (Muluk, 2008). Penerapan sistem E-Pentole memberikan dampak positif bagi rumah sakit dan pengguna layanan karena mampu mempercepat proses pendaftaran sehingga waktu tunggu dan antrean pasien berkurang. Sistem ini juga membuat alur kerja lebih tertata karena data pendaftaran langsung terintegrasi dengan SIMRS, sehingga petugas dapat bekerja lebih efisien tanpa melakukan input ulang. Selain mempermudah pengelolaan data dan mengurangi kesalahan pencatatan bagi pihak manajemen dan IT, E-Pentole juga memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, sehingga secara keseluruhan berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan pasien dan kinerja pelayanan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Hal ini selaras dengan perkataan Ibu Sulistiyowati selaku pasien yang merasakan manfaat pengunaan E-Pentole, “Manfaat yang paling saya rasakan setelah ada E-Pentole itu pendaftarannya jadi lebih cepat dan tidak perlu antre lama. Alurnya juga lebih jelas, jadi saya tidak bingung harus ke mana. Kalau ada yang belum paham, biasanya dibantu petugas, jadi prosesnya terasa lebih mudah dan nyaman.” (Wawancara, 23 Januari 2026)

 

2. Kesesuaian

Implementasi E-Pentole dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta prosedur pelayanan rumah sakit. Sistem ini mendukung digitalisasi pelayanan kesehatan dan sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengembangan e-government di sektor publik (Indrajit, 2016). Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dinilai selaras dengan visi pengembangan pelayanan berbasis digital. Sistem ini mempercepat dan menertibkan proses pendaftaran serta dapat diintegrasikan dengan sistem lain seperti SIMRS sehingga alur pelayanan menjadi lebih efisien. Bagi pegawai, E-Pentole sesuai dengan alur kerja dan SOP yang ada sehingga memudahkan proses adaptasi dan membuat pekerjaan lebih tertata. Sementara bagi pasien, sistem ini cukup mudah digunakan dan membantu proses pendaftaran, meskipun pasien lanjut usia masih memerlukan pendampingan. Secara keseluruhan, E-Pentole mendukung terciptanya pelayanan rumah sakit yang lebih efektif dan tertib. Hal ini disampaikan oleh Admin IT terkait Sistem E- Pentole mudah diintegrasikan dengan sistem pelayanan lain, “E-Pentole cukup mudah diintegrasikan dengan sistem pelayanan lain. Sejak awal sistem ini memang disiapkan untuk mendukung pelayanan berbasis digital di rumah sakit, jadi bisa langsung terhubung dengan SIMRS. Dengan begitu, data pendaftaran bisa langsung digunakan dan alur pelayanan jadi lebih tertata.” (Wawancara, 21 Januari 2026).

 

3. Kerumitan


Meskipun memberikan berbagai manfaat, sebagian pasien masih mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem E-Pentole, terutama bagi pasien yang kurang familiar dengan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya sosialisasi dan pendampingan kepada pengguna agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dapat dikelola dengan baik meskipun pada tahap awal terdapat beberapa kendala dalam proses adaptasi staf dan pasien terhadap sistem baru. Namun, kendala tersebut tidak berlangsung lama karena tampilan dan alur penggunaan sistem dinilai cukup sederhana serta sesuai dengan proses kerja yang ada. Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Pelayanan RS Bhayangkara “Di awal memang ada sedikit kesulitan karena sistemnya baru. Tapi tampilannya cukup sederhana dan ada pendampingan dari tim IT, jadi tidak lama kemudian kami terbiasa. Setelah itu, penggunaan E-Pentole justru terasa lebih membantu pekerjaan.” (Wawancara, 21 Januari 2026). Dukungan sosialisasi, pendampingan dari tim IT, dan bantuan petugas kepada pasien turut membantu proses penyesuaian, sehingga seiring waktu staf dan pasien semakin terbiasa menggunakan E-Pentole dan sistem dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung pelayanan pendaftaran di rumah sakit.

Gambar 3 Tampilan Input Nomor Booking. (Sumber: Dokumentasi, 2026)

            Gambar diatas menampilkan tampilan input nomor booking pada sistem E-Pentole yang digunakan dalam proses pendaftaran pasien, di mana pada tahap ini masih berpotensi muncul kendala teknis seperti gangguan jaringan atau kesalahan input. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya berjalan cukup baik dan dapat dikelola dengan efektif. Kendala yang muncul umumnya terjadi pada tahap awal, baik terkait teknis maupun pemahaman pengguna, namun dapat diminimalkan melalui sosialisasi, pendampingan staf, koordinasi dengan tim IT, dan bantuan langsung dari petugas kepada pasien. Tampilan dan alur sistem yang sederhana serta kesesuaian dengan proses kerja yang sudah ada memudahkan staf dalam mengoperasikan E-Pentole, sementara pasien pun dapat beradaptasi secara bertahap.

 

4. Kemungkinan Uji Coba

Sistem E-Pentole telah diuji coba sebelum diterapkan secara penuh di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Proses uji coba ini memungkinkan pihak rumah sakit untuk melakukan evaluasi serta perbaikan sistem sehingga dapat digunakan secara lebih efektif oleh pasien. Hal tersebut diungkapkan oleh Kaursimrs “Iya, sebelum E-Pentole diterapkan sepenuhnya, sistem ini dicoba dulu. Staf ikut mencoba dan memberikan masukan, jadi  kita bisa tahu kendala yang muncul. Dari situ, perbaikan bisa dilakukan supaya saat digunakan di seluruh unit, sistemnya lebih lancar dan sesuai kebutuhan pelayanan.” (Wawancara, 20 Januari 2026). Penerapan E-Pentole dilakukan melalui proses evaluasi, uji coba, pelatihan, dan pendampingan bagi staf maupun pasien. Pada tahap ini, berbagai masukan terkait kendala penggunaan dikumpulkan dan dikaji bersama tim IT untuk menyempurnakan alur, tampilan, dan fitur sistem agar lebih mudah digunakan. Pelatihan membantu staf beradaptasi dengan penggunaan sistem sehingga pekerjaan menjadi lebih tertata, sementara pasien dapat memahami cara penggunaan melalui bantuan petugas hingga akhirnya mampu mengoperasikan E-Pentole secara mandiri. Ibu Sulistiyowati memberikan pernyataan setelah mencoba “Iya, kesempatan mencoba itu sangat membantu saya memahami cara pakainya. Awalnya memang masih bingung, tapi setelah dicoba langsung dan dibantu petugas, jadi lebih paham langkah-langkahnya. Setelah beberapa kali mencoba, saya jadi lebih terbiasa dan tidak terlalu kesulitan lagi.” (Wawancara, 22 Januari 2026). Proses tersebut memastikan bahwa ketika sistem diterapkan secara penuh, operasionalnya dapat berjalan lebih lancar, efektif, dan minim kendala.

 

5. Keterlihatan Hasil

Hasil dari penerapan sistem E-Pentole dapat terlihat dari berkurangnya antrean pasien serta meningkatnya efisiensi proses pelayanan pendaftaran. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tersebut memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Kaursimrs RS Bhayangkara Surabaya terkait perubahan E-Pentole “Perubahan yang paling terlihat setelah E- Pentole dijalankan adalah proses pendaftaran jadi lebih cepat dan tertib. Antrean pasien lebih teratur, data langsung masuk ke sistem, dan staf bisa bekerja lebih efisien. Pasien juga merasa lebih nyaman karena alurnya jelas dan tidak perlu menunggu lama, jadi dampak positifnya langsung terasa.” (Wawancara, 20 Januari 2026).  Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya memberikan dampak positif terhadap pelayanan, terutama dalam mempercepat proses pendaftaran, menata antrean pasien, serta memudahkan pengelolaan data karena langsung tersimpan dalam sistem. Sistem ini juga dinilai berjalan efektif berdasarkan indikator teknis seperti kecepatan sistem, stabilitas jaringan, kesesuaian alur kerja dengan SOP, serta minimnya kesalahan input. Dampaknya, pasien merasakan waktu tunggu yang lebih singkat, alur pelayanan yang lebih jelas, dan kenyamanan yang meningkat, sehingga secara keseluruhan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi, keteraturan, dan kepuasan dalam pelayanan rumah sakit. Hal tersebut selaras oleh pernyataan pasien Rudy Fadil memberikan pernyataan terkait perubahan setelah diterapkan E-Pentole “Ya, saya memang merasakan perubahan setelah E-Pentole diterapkan. Proses pendaftaran jadi lebih cepat, antreannya tidak terlalu panjang, dan alurnya lebih jelas. Jadi saya tidak perlu menunggu lama, dan semuanya terasa lebih rapi. Secara keseluruhan, pelayanan sekarang terasa lebih nyaman.” (Wawancara, 22 Januari 2026). Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya membawa perubahan yang nyata bagi pelayanan. Sistem ini membuat pekerjaan staf lebih efisien, pendaftaran pasien lebih cepat, antrean lebih tertata, dan kesalahan input berkurang. Pasien juga merasakan manfaatnya, dengan alur pelayanan yang lebih jelas, waktu tunggu lebih singkat, dan kenyamanan yang meningkat, sehingga mereka bersedia menggunakan sistem ini kembali. Selain meningkatkan pelayanan saat ini, E-Pentole juga menjadi dasar untuk evaluasi dan pengembangan layanan di masa depan, sehingga secara keseluruhan mendukung peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit.

 

SIMPULAN

Inovasi pelayanan publik melalui sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan analisis menggunakan teori difusi inovasi Rogers, sistem ini memiliki keunggulan relatif dibandingkan sistem manual, sesuai dengan kebutuhan pengguna, serta mampu meningkatkan efisiensi proses pelayanan. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan pemahaman teknologi pada sebagian pasien serta perlunya peningkatan sosialisasi penggunaan sistem. Oleh karena itu, pengembangan dan evaluasi sistem secara berkelanjutan perlu dilakukan agar inovasi pelayanan ini dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.

 

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya terus meningkatkan efektivitas penerapan sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tata cara penggunaan sistem tersebut. Selain itu, pihak rumah sakit perlu melakukan pengembangan dan evaluasi sistem secara berkala agar lebih mudah digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat serta dapat meminimalisir kendala teknis yang mungkin terjadi. Penyediaan layanan pendampingan bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem juga perlu diperhatikan agar pelayanan tetap berjalan optimal. Dengan upaya tersebut, diharapkan inovasi E-Pentole dapat semakin meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

 

REFERENSI

Sinambela, L. P. (2019). Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan Implementasi. Bumi Aksara.

Hardiansyah. (2020). Kualitas Pelayanan Publik: Konsep, Dimensi, dan Implementasinya. Gava Media.

Dwiyanto, A. (2021). Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

Qatrunnada, A. F., Taufiqurrohman, T., & Rachmawati, I. (2023).

Rogers, E. M. (2020). Diffusion of Innovations. New York: Free Press.

Creswell, J. W. (2021). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE Publications.

Spradley, J. P. (dalam Paramita, R., 2021). Metode Etnografi dalam Penelitian Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Indrajit, R. E. (2018). E-Government: Strategi Pengembangan dan Implementasi di Indonesia. Andi Offset.

 

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup Dikelas XI

 Syarifah Rahmah1, Syarifah Widya Ulfa2, Rasyidah3

1,2,3Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sumatera Utara

 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup Dikelas XI | Rahmah | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Abstract

This study aims to determine the effect of implementing the Problem-Based Learning (PBL) model on students' problem-solving abilities and learning outcomes in the growth and development of living things topic in grade XI of SMA Swasta Cerdas Murni. This study used a quasi-experimental method with a Non-Equivalent PretestPosttest Control Group Design. The study sample consisted of two classes: Grade XI Science 1 as the experimental class taught using the PBL model and Grade XI Science 2 as the control class taught using the conventional learning model, each with 29 students. Data collection was conducted through pretests and posttests to measure students' problem-solving abilities and learning outcomes. Data analysis was performed using normality tests, homogeneity tests, and One-Way ANOVA tests with a significance level of 0.05. The results showed that the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model had a significant impact on students' problem-solving abilities and learning outcomes. This is evident from the higher average posttest scores in the experimental class compared to the control class. The ANOVA significance value was 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the two classes. Thus, the application of the Problem-Based Learning model has proven effective in improving students' problem-solving skills and learning outcomes in the topic of growth and development of living things.

Keywords: Problem-Based Learning, problem-solving skills, learning outcomes, growth and development of living things

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup di kelas XI SMA Swasta Cerdas Murni. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu ( quasi eksperimen ) dengan desain Non-Equivalent PretestPosttest Control Group Design . Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang diajar menggunakan model PBL dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional, masing-masing berjumlah 29 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tes pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah serta hasil belajar siswa. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji One Way ANOVA dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai signifikansi uji ANOVA sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.

Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampuan pemecahan masalah, hasil belajar, pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup

 

PENDAHULUAN

Pendidikan di abad ke-21 menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan dinamis seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat. Transformasi digital, kemajuan teknologi informasi, serta perubahan sosial dan ekonomi yang telah mengubah cara hidup dan bekerja, yang pada gilirannya menuntut adanya penyesuaian dalam sistem pendidikan. Siswa pada abad ini dicirikan oleh fakta bahwa mereka dituntut untuk belajar dan berinovasi dalam Pembelajaran, literasi digital, serta Pembelajaran hidup dan karier (Virmayanti dkk., 2023). Pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan harus mendorong pengembangan kompetensi untuk memecahkan masalah. Trilling dan Fadel (2019) menyatakan bahwa pendidikan abad ke-21 harus mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bekal utama siswa dalam menghadapi tantangan global. Selain itu, Redhana (2019) menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi, khususnya kemampuan pemecahan masalah.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan dikelas XI Cerdas Murni, diketahui bahwa guru biologi menggunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) dalam proses belajar-mengajar. Model ini berpusat pada guru (teacher-centered), dimana guru menyampaikan materi secara langsung kepada siswa tanpa melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menyebabkan siswa menjadi pasif, mudah mengantuk, cepat merasa bosan, kurang fokus, serta kurang terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Selain itu, hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih tergolong rendah.

Metode pembelajaran tidak semata-mata untuk memenuhi aturan, tetapi juga perlu memperhatikan faktor tertentu, seperti karakteristik materi yang disampaikan dan siswa yang diajar. Menurut Riyadi (2019) menyatakan bahwa sebaik apapun metode pembelajaran, namun jika penerapannya kurang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa justru membuat tujuan yang ingin dicapai kurang maksimal dalam penyampaiannya. Hal ini sesuai dengan tuntutan zaman pada abad ini bahwa siswa dituntut untuk belajar berinovasi dalam pembelajaran, literasi digital, pemecahan masalah serta pembelajaran hidup dan karier. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai pendekatan yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata, dengan tujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah (Jonita et al., 2020). Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada upaya untuk mengkaji pengaruh penerapan model PBL terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa kelas XI di SMA Cerdas Murni.

 

METODE

Metode Penelitian yang digunakan adalah metode quasi experiment (eksperimen semu) dengan model penelitian Non-Equivalent Preetest Posttest Control Groups Design dengan memberikan soal pretest sebelum dikenakan perlakuan serta posttest sesudah dikenakan perlakuan yang melibatkan siswa SMA Swasta Cerdas Murni kelas XI yang pada Setiap kelasnya memiliki 29 siswa. Pada siswa kelas XI 1 yang merupakan kelas kontrol dan kelas XI 2 yang merupakan kelas eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tes disusun berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Bentuk tes yang digunakan terdiri atas soal uraian yang dirancang untuk mengungkap kemampuan siswa dalam memahami permasalahan, menganalisis informasi, serta menentukan solusi yang tepat berdasarkan konsep Biologi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, nilai rata-rata (mean) kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas eksperimen yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) sebesar 90, sedangkan nilai rata-rata pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional hanya mencapai 85. Perbedaan nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan model PBL memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Selain itu, pada variabel hasil belajar siswa, kelas eksperimen juga menunjukkan capaian yang lebih tinggi dengan nilai rata-rata posttest sebesar 83, sementara kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata yang rendah yaitu 78. Tingginya nilai rata-rata pada kelas eksperimen mengindikasikan bahwa penerapan PBL mampu mendorong siswa untuk memahami konsep materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup secara lebih mendalam melalui aktivitas pemecahan masalah, diskusi, dan analisis. Sebaliknya, pembelajaran konvensional yang lebih berpusat pada guru cenderung menghasilkan keterlibatan siswa yang lebih rendah, sehingga berdampak pada capaian nilai rata-rata yang tidak setinggi kelas eksperimen. Dengan demikian, perbedaan nilai rata-rata tersebut memberikan gambaran awal bahwa model Problem Based Learning (PBL) lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa.

Hasil uji homogenitas pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu pada kemampuan pemecahan sebesar 0,395 dan pada hasil belajar sebesar 0,901, yang menunjukkan nilai keduanya lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini membuktikan bahwa data dari kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang sama atau homogen. Kondisi ini penting karena menandakan bahwa kemampuan awal siswa pada kedua kelas relatif setara, sehingga perbedaan hasil posttest yang diperoleh lebih dapat dikaitkan dengan perlakuan pembelajaran yang diberikan, bukan karena perbedaan dasar antar kelompok. Keseragaman data ini sejalan dengan pendapat Sari (2020) yang menjelaskan bahwa homogenitas varian menjadi syarat penting untuk menjamin keadilan dalam membandingkan dua kelompok dalam penelitian. Senada dengan hal tersebut, Hidayat (2020) mengungkapkan bahwa ketika kelas eksperimen dan kontrol homogen sebelum perlakuan, maka penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal ini diperkuat oleh Wulandari (2020) yang menegaskan bahwa homogenitas merupakan salah satu syarat validitas penelitian, sebab tanpa adanya keseragaman awal sulit memastikan bahwa peningkatan hasil belajar benar-benar berasal dari perlakuan yang diberikan.

Berdasarkan hasil uji one way anova pada kemampuan pemecahan masalah diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa antara kelas eksperimen yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) dan kelas kontrol yang diajar secara konvensional. Perbedaan tersebut terlihat dari rata-rata nilai posttest, dimana kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 73,966 sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 65,862. Pada indikator pertama memahami masalah terdapat 22 siswa (76%) yang menjawab benar pada soal 1, 25 siswa (86%) pada soal 2, dan 24 siswa (83%) pada soal 3. Pada indikator kedua merencanakan penyelesaian, capaian persoal adalah 20 siswa (69%) untuk soal 1, 23 siswa (79%) untuk soal 2, dan 22 siswa (76%) untuk soal 3. Pada indikator ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, capaian masing- masing soal adalah 18 siswa (62%) pada soal 1, 20 siswa (69%) pada soal 2, dan 18 siswa (62%) pada soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil memiliki pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 16 siswa (55%) pada soal 1, 19 siswa (66%) pada soal 2, dan 16 siswa (55%) pada soal 3. Sementara itu, hasil pada kelas kontrol menampilkan kemampuan yang lebih rendah di setiap indikator. Pada indikator pertama memahami masalah terdapat 18 siswa (62%) yang menjawab benar pada soal 1, 22 siswa (76%) pada soal 2, dan 20 siswa (69%) pada soal 3. Pada indikator kedua penyelesaian, capaian persoal adalah 15 siswa (52%) untuk soal 1, 18 siswa (62%) untuk soal 2, dan 16 siswa (55%) untuk soal 3. Pada indikator ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, kemampuan masing-masing soal adalah 13 siswa (45%) pada soal 1, 15 siswa (52%) pada soal2, dan 14 siswa (48%) pada soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil memiliki pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 11 siswa (34%) pada soal 1, 13 siswa (45%) pada soal 2, dan 12 siswa (41%) pada soal 3.   

Perbedaan kemampuan antar indikator dari kedua data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah lebih menonjol pada tahap awal, yaitu mengidentifikasi permasalahan. Perolehan nilai dan jumlah siswa pada kelas eksperimen menunjukkan penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa secara lebih efektif. Nilai yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari proses berbasis masalah yang menuntut siswa aktif berpikir pembelajaran kritis, mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, serta merumuskan solusi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2021) yang menyatakan bahwa peningkatan nilai siswa melalui PBL terjadi karena mereka terbiasa menghubungkan konsep dengan permasalahan nyata yang menuntut penalaran. Hal tersebut dapat dilihat dari semua soal yang diberikan.

Aktivitas ini membuat siswa memahami konsep secara mendalam dan mampu menerapkannya dalam situasi baru. Hal ini berbeda dengan kelas kontrol, dimana pembelajaran hanya mengkomunikasikan informasi secara langsung tanpa banyak melibatkan siswa dalam proses penalaran, sehingga nilai yang diperoleh relatif lebih rendah. Kemudian penelitian dari Ananda (2019) menegaskan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan PBL memperoleh nilai lebih tinggi karena mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menyusun strategi penyelesaian masalah secara mandiri maupun kelompok. Selain itu juga Rahmawati (2021) menemukan bahwa penggunaan model Problem Based Learning merupakan pembelajaran berbasis masalah yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan hasil belajar, tetapi juga berperan penting dalam menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah.

Hasil uji one way anova pada variabel hasil belajar siswa menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil ini menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi  pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.  Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil skor posttest yang diraih siswa pada kelas eksperimen yaitu 83.  Pada soal nomor 1 yang mewakili level C2 (pemahaman), sebanyak 26 siswa (90%) dapat menjawab dengan benar. Selanjutnya, pada soal nomor 2 yang mengukur kemampuan C3 (penerapan), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 24 orang (83%). Pada soal nomor 3 yang berada pada level C4 (analisis), terdapat 23 siswa (79%) yang mampu memberikan jawaban tepat. Pada soal nomor 4 yang berhubungan dengan C5 (evaluasi), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 22 orang (76%). Terakhir, pada soal nomor 5 yang mengukur C6 (menciptakan), sebanyak 20 siswa (69%) dapat menjawab dengan benar. Sementara itu, capaian siswa pada kelas kontrol relatif lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Pada soal nomor 1 (C2), sebanyak 24 siswa atau 83% mampu menjawab dengan benar. Pada soal nomor 2 (C3), jumlah siswa yang menjawab benar menurun menjadi 20 orang atau 69%. Selanjutnya pada soal nomor 3 (C4), terdapat 18 siswa atau 62% yang menjawab dengan benar. Pada soal nomor 4 (C5), hanya 16 siswa atau 55% yang mampu menyelesaikan soal, sedangkan pada soal nomor 5 (C6) jumlah siswa yang menjawab benar terdapat 13 orang atau 45%.

Data ini menunjukkan bahwa pola penurunan kemampuan pada kelas kontrol lebih tajam dibandingkan dengan kelas eksperimen, terutama pada soal- soal dengan tingkat kognitif yang lebih tinggi. Hasil ini juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kognitif yang diukur, jumlah siswa yang mampu memberikan jawaban benar semakin menurun, meskipun persentase keberhasilan pada kelas eksperimen masih berada pada kategori cukup baik. Perolehan nilai pada kelas eksperimen menampilkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) mampu memberikan perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Demikian pula pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2022) bahwa PBL efektif dalam meningkatkan prestasi akademik siswa pada mata pelajaran biologi, karena strategi ini melibatkan siswa secara aktif dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Kemudian Suhendra (2021) juga menunjukkan hasil serupa bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan analisis kemampuan siswa karena pembelajaran ini fokus pada keterlibatan langsung siswa dalam menemukan konsep melalui pengalaman belajar yang bermakna.       

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Model Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afifa, C.T.M., Agustina , E, Widyanto, A. 2024. The implementation of the problembased learning and tiktok video to enhance student learning outcomes and activities. Jurnal Pendidikan. 10 (2): 1-11.

Anugraheni, Indri. dkk. (2018). Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning (pbl) pada siswa kelas 4 sd: kajian penelitan pendidikan dan pembelajaran, 3(1), 287-293

Astriani Hilda. (2021). Pengaruh penerapan model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas vii smp negeri 35 banjarmasin pada materi ketergantungan dalam ekosistem. Jurnal Pendidikan Hayati, Vol.7 No.2, 83 – 92

Elitasari, H. T. (2022). Kontribusi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan abad    21. Jurnal basicedu, 6(6), 9508–9516. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i6.4120

Fahmidani, Y., Andayani, Y., Srikandijana, J., & Purwoko, A. A. (2019). Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dengan media lembar kerja terhadap hasil belajar siswa sma. chemistry education practice, 2(1), 1–5.

Fatimah, S., & Apriono, D. (2024). Model pembelajaran kolaboratif berbasis on line di era copyright @ mila karina, loso judijanto, ai rukmini, muhammad sukron fauzi, muhammad arsyad milenial ( alternative pemecahan masalah). jurnal darma agung, 32(1), 407–413.

Gade, M. 2022. Penerapan model problem based learning (pbl) pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas xii mipa-1 sma negeri 1 indrajaya. jurnal pendidikan dan keguruan. 2 (2) : 53-57

Helmi, Dwifinura Meutia, & Selaras, Ganda Hijrah, (2024). Pengaruh model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi biologi sman 1 sarolangun. jurnal pendidikan tambusai, volume 8 nomor 1.

Julung, Hendrikus. 2016. Pengaruh model problem based learning (pbl) terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif siswa biologi sma.

Kurniawan, B., Dwikoranto, D., & Marsini, M. (2023). Implementasi problem based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa: studi pustaka. practice of the science of teaching journal: Jurnal Praktisi Pendidikan, 2(1), 27–36. https://doi.org/10.58362/hafecspost.v2i1.28.

Nisa, R., Desstya, A., & Prasetyo, E. H. (2020). Peningkatkan keterampilan kolaborasi melalui model pembelajaran problem based learning pada mata pelajaran matematika sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 3(2), 524–532. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i2.7351

Nurbaya, S. (2021). Peningkatan kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah melalui model problem based learning (pbl) pada pembelajaran tematik kelas vi sdn 19 cakranegara. pendagogia. Jurnal Pendidikan Dasar,                                                                     1(2),                                            106–113. https://jurnal.educ3.org/index.php/pendagogia/article/view/29

Ramadhani Mita & Ely Djulia. (2025). Pengaruh model problem based learning (pbl) dengan pendekatan stem terhadap kemampuan pemecahan masalah dan sikap ilmiah siswa materi ekologi. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya. Volume 12, Nomor 1.

Redhana, I. W. (2019). Mengembangkan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran kimia. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia.

Rofiudin, A., Prasetya, L. A., & Prasetya, D. D. (2022). Pembelajaran kolaboratif di smk : peran kerja sama siswa dalam meningkatkan keterampilan soft skills. Journal of Education Research, 5(4), 4444–4455.

Riyadi, Ahmad. (2019). Implementasi model project based learning dalam pembelajaran biologi terhadap kemampuan komunikatif, kolaboratif, berpikir kritis, dan kreatif siswa sma. TESIS. Universitas Negeri Semarang.

Rumapea Puspitasari, dkk, (2022). Pengaruh model pembelajaran problem based learning (pbl) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sel di kelas xi sma negeri 2 bandar. Jurnal Pendidikan dan Konseling, Volume 4 Nomor 6.

Surakhmad, Winarno. (2012). Pengantar penelitian ilmiah, dasar, metode dan tehnik, tarsito. Bandung.

Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills: learning for life in our times. San Francisco, CA: Jossey-Bass.

Virmayanti, K. N., Suastra, W. I., & Suma, Ketut, I. (2023). Inovasi dan kreativitas guru dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran abad 21. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 6(4), 515–527.

Wijaya nuriman., 2023. Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas vii pada materi fotosintesis di smp negeri 16 palangka raya. Journal of Biological Science and Education. Volume 4 Number