The Regeneration Crisis and
Degradation of Traditional Garut Dodol Packaging: A Threat to Sundanese
Culinary Cultural Identity
Sema Wulandari , Rani Windi Ayu S, Sakila Nanda Sifa,
Tia Devani Vanessa, Itto Turyadi
Fakultas Ekonomi, Program
Studi Manajemen, Universitas Al-Ghifari
Email: semawulandariii@gmail.com, Ayu879401@gmail.com, tentifauziah7@gmail.com,
tiadevani@gmail.com
Abstract
Dodol Garut is a traditional culinary product of Garut
Regency, West Java, which has held historical, economic, and cultural
significance since 1926. Its natural-material packaging is a key element
shaping the product's cultural identity. However, amid modernization and
globalization, two interrelated phenomena have emerged: (1) a regeneration
crisis among artisans threatening traditional knowledge continuity, and (2) a
packaging degradation from natural to synthetic materials, eroding local wisdom
values. This study employs a literature review method with a qualitative-descriptive
approach and critical analysis of scholarly sources. The findings indicate that
the packaging shift is not merely aesthetic, but reflects weakening
intergenerational knowledge transmission and erosion of Sundanese visual
cultural identity. Locally-based packaging innovation such as integration of
Garutan batik motifs and MSME mentoring has proven to enhance competitiveness
while preserving cultural identity. Comprehensive preservation strategies are
needed, including local-wisdom-based education, UMKM designer collaboration,
eco-friendly packaging evaluation, and government policies supporting
traditional product authenticity.
Keywords: regeneration crisis, traditional packaging, Dodol
Garut, cultural identity, Sundanese culinary
Abstrak
Dodol Garut adalah makanan tradisional yang berasal
dari Kabupaten Garut, dan memiliki nilai Sejarah ekonomi serta budaya sejak
tahun 1926. Kemasan yang menggunakan bahan alami menjadi salah satu unsur utama
yang membentuk identitas kultural dari
produk ini. Namun, sering dengan perkembangan jaman dan globalisasi,
terdapat dua masalah yang saling terkait: (1) tantangan dalam regenerasi para
pengrajin yang mengancam kelanjutan pengetahuan tradisional, dan (2) pergeseran
kemasan dari bahan alami ke material sintetis yang mengurangi nilai-nilai
kearifan lokal. Penelitian ini mengadopsi metode studi pustaka dengan
pendekatan kualitatif-deskriptif serta analisis kritis terhadap beragam sumber
ilmiah. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa pergeseran kemasan bukan hanya
masalah estetika tapi juga mencerminkan lemahnya proses transmisi pengetahuan
antar generasi dan hilangnya identitas visual dari budaya Sunda. Inovasi
kemasan yang berbasis lokal, seperti penerapan motif batik Garutan dan dukungan
terhadap UMKM, terbukti efektif dalam meningkatkan daya saing sekaligus menjaga
identitas budaya. Diperlukan strategi pelestarian yang menyeluruh, yang mencakup
pendidikan yang berfokus pada kearifan lokal, Kerjasama antara UMKM dengan
desainer, peninjauan kemasan yang ramah lingkungan, dan kebijakan pemerintah
yang mendukung keaslian produk tradisional.
Kata Kunci: tantangan regenerasi, kemasan tradisional, dodol
Garut, identitas budaya, kuliner Sunda
PENDAHULUAN
Dodol Garut
adalah salah satu warisan kuliner Indonesia eksis bertahan selama hampir
seratus tahun. Menurut catatan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, industri dodol di Kabupaten Garut mulai berkembang sekitar
tahun 1926 berkat upaya Ibu Karsinah. Sejak waktu itu, dodol Garut telah
bertranspormasi dari rumah sederhana menjadi produk industri yang didistribusikan
ke berbagai provinsi di Indonesia, bahkan memasuki pasar internasional seperti
Malaysia, Singapura, Jepang, Arab Saudi, dan Inggris (Infogarut.id, 2023).
Berdasarkan informasi dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Garut, kapasitas produksi dodol sebelum pandemi Covid-19 mencapai rata-rata
9.780 ton per tahun dengan melibatkan 71unit usaha dan 2.080 pekerja (Koran
Gala, 2023).
Sebagai bagian
dari budaya, dodol Garut memiliki nilai tidak hanya bernilai dari segi rasa dan
proses pembuatannya, tetapi juga dari aspek kemasan yang secara historis
menggunakan bahan-bahan alami seperti daun pisang dan anyaman bambu. Kemasan ini
tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga mencerminkan identitas
budaya masyarakat Sunda serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Julianti (2018) menekankan bahwa kemasan berfungsi sebagai sarana komunikasi
budaya yang mereflesikan nilai-nilai, tradisi, dan identitas dari produk local
tersebut.
Meskipun
demikian, dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi perubahan yang
signifikan. Kemasan tradisional yang terbuat dari bahan alami perlahan-lahan
digantikan oleh kemasan plastik, karton sintetis, dan bahan modern lainnya. Perubahan
ini sejalan dengan munculnya masalah dalam regenerasi muda semakin minim
ketertarikan untuk melanjutkan tradisi pembuatan dodol beserta pengetahuan
kultural terkait, termasuk pemahaman tentang kemasan tradisional. Penelitian
dari Equilibrium (2026), menemukan bahwa generasi muda mengalami kekurangan tidak
hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga dalam pemahaman dan nilai-nilai dalam
mewarisi kerajinan tradisional.
Isu ini patut
diteliti lebih dalam secara akademis sebab berkaitan dengan ancaman pada
identitas budaya kuliner Sunda. Triwikrama (2025) mencatat bahwa dampak perubahan
dalam makanan dan budaya tradisional termasuk hilangnya pengetahuan mengenai tradisi
serta krisis identitas kultural. Penelitian ini bertujuan untuk (1)
menganalisis kondisi kemasan tradisional dodol Garut dan perubahannya, (2)
mengidentifikasi penyebab krisis pada regenerasi pengrajin, serta (3)
merumuskan rekomendasi strategis untuk pelestarian.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Dodol Garut sebagai Warisan
Kuliner Sunda
Dodol
merupakan salah satu makanan yang mempunyai Sejarah yang panjang di Indonesia.
Secara luas dodol dikenal di sejumlah daerah dengan beragam nama, seperti dodol
Betawi, dodol kendang dari kalimantan, dodol Ulame dari Tapanuli, hingga dodol
Buleleng dari Bali (AyoBandung.id, 2025). Namun dodol Garut memiliki keunikan tersendiri
yang diakui di Tingkat nasional dan internasional. Menurut merdeka.com (2022), Pada
awal perkembangan dodol Garut, produk ini dibuat tanpa menggunakan kemasan
modern, hanya mengandalkan pembungkus yang sederhana,dan kemudian beradaptasi
seiring dengan meningkatnya permintaan dipasar.
Dodol garut
memiliki nilai Sejarah yang mendalam. Ibu karsinah,sebagai pionir industri
dodol, memproduksi makanan ini menggunakan bahan-bahan seperti tepung beras
ketan, gula pasir, susu, dan santan kelapa tanpa bahan pengawet. Menariknya,
produk ini dapat bertahan selama tiga bulan,yang menunjukan keahlian
tradisional dalam proses pembuatannya (Ayo bandung.id,2025). Pada tahun
1950-an, industry dodol mengalami perkembangan yang pesat, terlihat dari
kemunculan berbagai merek seperti Halimah, Khadijah, Jamilah, dan Fatimah (Merdeka.
Com,2022). Perkembangan ini menunjukan bahwa dodol garut lebih dari sekadar
makanan biasa, tetapi merupakan bagian penting dari ekonomi dan budaya di
kabupaten garut.
2. Kemasan sebagai Medium Identitas
Budaya
Kemasan akanan
tradisional tidak hanya berfungsi sebagai pelindung. Maflahah (2012) menyebutkan
bahwa desain kemasan makanan tradisional memiliki aspek budaya sebagai penanda
identitas dari daerah asal produk tersebut. Kemasan berfungsi sebagai sarana
komunikasi visual yang menjembatani produsen dan konsumen sambil menyampaikan
cerita budaya yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks
produk oleh-oleh khas daerah, kemasan memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga identitas
lokal. Sebuah penelitian Serenade (2023) tentang kemasan makanan tradisional
dari samarinda menunjukan bahwa kemasan yang mengandung unsur visual khas
daerah dapat berfungsi sebagai ‘Duta. Besaung: seni, desain dan budaya (2021)
yang menyelidiki kemasan oleh-oleh khas Bandung antara tahun 1930–2020 menunjukan
bagaimana kemasan mengalami perubahan yang tidak selalu sejalan dengan Upaya
pelestarian identitas visual lokal.
Lebih lanjut,
penelitian Mozaik Humaniora (2021) menemukan fakta menarik bahwa beberapa
pelaku kuliner tradisional di Yogyakarta secara sengaja mempertahankan kemasan
dari bahan alami seperti besek untuk menjaga keaslian produk. Ini menujukan
bahwa ada kesadaran di sejumlah pelaku usaha bahwa kemasan tradisional
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas produk kuliner yang
merupakan warisan budaya.
3. Krisis Regenerasi dalam Industri
Tradisional
Krisis
regenerasi di bidang kerajinan dan kuliner tradisional Indonesia telah menjadi pokus
utama dalam studi sosiologi dan budaya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan
dalam Equilibrium: jurnal Pendidikan (2026) tentang pengrajin Songkok Recca di
Sulawesi Selatan mengungkap tiga elemen penting yang mengurangi ketertarikan generasi
muda terhadap kerajinan tradisional: (1) Terputusnya waktu interaksi antar
generasi (2) Perubahan struktur keluarga, dan (3) Penurunan nilai pengetahuan tradisional dalam tatanan masa
kini. Ketiga elemen ini juga relevan untuk industry dodol garut.
Dalam konteks
yang lebih spesifik mengenai kuliner tradisional, kajian mengenai kue
tradisional Betawi (Jurnal Pariwisata dan Perhotelan, 2024) menunjukkan bahwa
sedikitnya peminat, kompetisi dari makanan modern, dan kurangnya penerus adalah
faktor-faktor utama yang membahayakan kelangsungan produk tradisional. Situasi
yang serupa bisa terjadi pada industri dodol Garut, di mana ilmu pembuatan dan
tradisi pengemasan yang diajarkan secara informal dari generasi ke generasi
mengalami tantangan signifikan.
Triwikrama:
Jurnal Ilmu Sosial (2025) melaporkan bahwa kesibukan, kemudahan akses terhadap
produk-produk modern, serta dampak media sosial mendorong generasi muda untuk
menjauh dari tradisi. Hal ini menyebabkan hilangnya pengetahuan mengenai
makanan tradisional dan timbulnya krisis identitas kuliner. Selain itu,
hilangnya budaya lokal dalam konteks modern (2024) menyatakan bahwa proses
modernisasi dan globalisasi dapat mengikis identitas budaya lokal jika tidak
disertai dengan upaya pelestarian yang terencana.
METODE PENELITIAN
Studi ini
menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif.
Sumber data terdiri dari jurnal ilmiah, buku referensi, laporan dari lembaga
pemerintah, dan artikel penelitian yang relevan dengan topik yang dibahas.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap literatur
yang saling terkait dengan tiga tema pokok: (1) sejarah serta perkembangan
industri dodol Garut, (2) transformasi kemasan makanan tradisional, dan (3)
krisis regenerasi para pengrajin kuliner tradisional di Indonesia.
Analisis data
diterapkan menggunakan metode analisis isi dan sintesis kritis berdasarkan
berbagai temuan dari beragam sumber yang telah dikumpulkan. Untuk memastikan
validitas kajian, dilakukan triangulasi sumber, yaitu dengan menggunakan
minimal tiga sumber independen untuk setiap klaim utama yang diajukan.
Penelitian ini bersifat konseptual, dengan tujuan untuk membangun kerangka
pemahaman mengenai isu krisis regenerasi dan penurunan kualitas kemasan dodol
Garut melalui sudut pandang budaya dan desain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Evolusi Kemasan Dodol Garut: Dari
Tradisional Menuju Modern
Kemasan dodol
Garut mengalami Perubahan yang berarti seiring dengan perkembangan industry ini.
Pada masa awal (1926–1950-an), Dodol Garut tidak mempunyai kemasan yang beku. Produk
ini di kemas menggunakan pembungkus sederhana yang terbuat dari bahan alami,
mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda. Perubahan dalam kemasan mulai berlangsung
secara bertahap memasuki era industrialisasi; merek Picnic menjadi pelopor
dalam mengganti kemasan sederhana menjadi karton duplex dengan isi kemasan
200gram, 500gram, dan 1.000gram sebagai strategi meningkatkan penjualan dan memperluas
pasar (Pikiran Rakyat Garut, 2024). Inovasi kemasan ini memang terbukti
meningkatkan pendapatan dan jangkauan pasar, namun juga menandai awal
pergeseran yang perlahan dari kemasan berbahan alami. Di era sekarang perubahan
kemasan semakin besar (Radar Garut, 2026).
Dari
perspektif desain komunikasi visual, Junivia dan Marwan (2024) melaporkan bahwa
produsen dodol Garut telah menggunakan desain yang modern dengan nuansa elegan,
mulai dari kotak eksklusif, kemasan yang ramah lingkungan, hingga kemasan mini
yang praktis. Sementara itu, Pabrik Dodol Garut (2025) mempromosikan kemasan
dodol masa kini dengan desain minimalis dan ilustrasi yang dimaksudkan untuk
menarik perhatian generasi muda. Pergeseran ini, di satu sisi, memang dianggap
perlu untuk bersaing di pasar, namun dari sudut pandang budaya, perubahan ini
dapat mengikis nilai-nilai tradisional yang selama ini membuat dodol Garut
otentik.
Analisis
perbandingan dari ResearchGate (2021) mengenai kemasan produk oleh-oleh UMKM di
Jawa Barat menunjukkan bahwa kemasan yang didesain dengan memperhatikan
identitas lokal terbukti meningkatkan nilai jual produk. Temuan ini sebenarnya
memberikan kesempatan bahwa pelestarian elemen tradisional dalam kemasan tidak
mesti bertentangan dengan tuntutan modernisasi pasar. Sayangnya, banyak pelaku
usaha dodol Garut yang sepenuhnya mengganti kemasan tradisional tanpa menjaga
elemen-elemen visual dari kearifan lokal yang seharusnya menjadi keunggulan
produk ini.
2. Krisis
Regenerasi: Ancaman Terhadap Rantai Pengetahuan Tradisional
Krisis
regenerasi pada industri dodol Garut berkaitan erat dengan fenomena umum
menurunya ketertarikan generasi muda pada kerja dalam bidang tradisional. Menurut
Koran Gala (2023) pandemi Covid-19 semakin memperburuk suatu di industri dodol
Garut, di mana banyak usaha kecil terpaksa tutup. Dalam keadaan ini, risiko
terputusnya transmisi pengetahuan tradisional semakin meningkat karena
pengrajin yang lebih berpengalaman kehilangan semangat dan kemampuan untuk
mentransfer keterampilan mereka.
Model teoretis
mengenai krisis penyaluran pengetahuan yang disampaikan dalam Equilibrium
(2026) memberi dasar untuk memahami situasi ini. Teori habitus Bourdieu membantu
menjelaskan bagaimana modal budaya tradisional dalam hal ini, pengetahuan
membuat dodol dan kemasannya menurun nilainnya dalam dunia ekonomi kreatif saat
ini. Generasi muda yang terbiasa dengan teknologi cenderung memandang pekerjaan
sebagai pengrajin dodol kurang bergengsi dan tidak selaras dengan cita-cita
mereka, padahal pengetahuan tersebut membawa nilai budaya yang sangat berharga.
Sebuah
penelitian yang dipublikasikan di Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (2025)
menemukan bahwa minimnya partisipasi generasi muda menjadi salah satu alasan
utama makanan tradisional semakin ditinggalkan dari pilihan konsumsi dan
produksi. Ironisnya, masalah ini menciptakan siklus negatif: kekurangan
regenerasi pengrajin berimplikasi pada menurunnya kualitas dan keaslian produk,
yang pada gilirannya semakin menurunkan daya tarik produk bagi generasi muda,
baik sebagai produsen maupun konsumen.
Konsekuensi
dari krisis regenerasi terhadap kemasan tradisional sangat nyata dan
signifikan. Ketika pengrajin yang sudah lama memahami teknik dan filosofi di
balik kemasan tradisional tidak lagi aktif dan gagal mewariskan pengetahuan
mereka, maka kemasan modern yang lebih mudah diproduksi secara massal menjadi
satu-satunya alternatif yang ada. Kusumawati et al. (2024) dalam studi mereka
mengenai kemasan UMKM jajanan tradisional di Jakarta mengamati bahwa banyak
UMKM yang belum memiliki kemasan yang kuat sebagai identitas produk yang
mencerminkan budaya lokal sebagian besar akibat kurangnya pemahaman tentang
identitas visual terkait budaya mereka sendiri..
3. Kemasan sebagai Refleksi Degradasi
Kultural dan Peluang Revitalisasi
Pergeseran
kemasan dodol Garut yang beralih dari bahan alami ke bahan sintetis bukan hanya
sekadar modifikasi bahan, tetapi juga mencerminkan proses degradasi kultural
yang lebih mendalam. Mozaik Humaniora (2021) menekankan bahwa kemasan adalah komponen
penting dari identitas budaya kuliner, ketika
kemasan berubah, aspek autentisitas dan nilai budaya yang dikandungnya juga
ikut berubah. Besaung (2021) yang mendokumentasikan perubahan kemasan olahan
khas Bandung sepanjang tahun 1930–2020 menunjukan pola serupa: elemen-elemen
desain lokal yang khas secara bertahap digantikan oleh desain yang lebih
generik.
Dari sudut
pandang konsumen, penelitian SIMASE (2021) mengenai pilihan desain produk dodol Garut mengungkapkan bahwa para
wisatawan lebih menyukai dodol Garut original dengan kemasan bertema budaya
lokal, seperti anyaman bambu, dibandingkan dengsn kemasan modern generik. Ini menunjukkan
bahwa ada ruang bagi kemasan tradisional autentik di pasar, namun produsen
tidak dapat merespons dengan baik akibat krisis regenerasi. Arifudin et al.
(2020) menunjukkan bahwa inovasi kemasan yang disertai dukungan intensif untuk UMKM
dodol nanas di Jawa Barat telah berhasil meningkatkan omset dan memperluas jangkauan
pasar, menegaskan bahwa inovasi kemasan bukan hambatan, melainkan peluang bagi
keberlanjutan industri.
4. Faktor-Faktor Pemicu Degradasi
Berdasarkan penggabungan
berbagai sumber yang dikaji, terdapat lima faktor utama yang mendorong
terjadinya krisis regenerasi dan degradasi kemasan tradisional dodol Garut:
Pertama,
adanya tekanan ekonomi dan persaingan pasar. Kemasan modern yang berbahan
dasar plastik atau karton sintetis umumnya lebih murah jika diproduksi dalam
jumlah besar dibandingkan dengan kemasan tradisional yang membutuhkan
keterampilan khusus dan waktu lebih lama dalam proses pembuatannya. Dalam perspektif
bisnis yang berfokus pada efisiensi, pergeseran kemasan baru terlihat sebagai
pilihan yang tampak rasional, tetapi berdampak pada hilangnya identitas budaya.
Kedua, lemahnya
sistem pewarisan pengetahuan. Terputusnya waktu interaksi antargenerasi dan tperubahan
dalam struktur keluarga (Equilibrium, 2026) menyebabkan pengalihan pengetahuan
tradisional termasuk teknik pembuatan kemasan tidak berjalandengan baik.
Pengetahuan yang dulu ditransfer secara tatap muka kini tersisih oleh dominasi
pengetahuan digital.
Ketiga,
perubahan gaya hidup generasi muda. Triwikrama (2025) dan Pendas (2025) melaporkan
bahwa dominasi makanan modern, perubahan
gaya hidup, serta rendahnya keterlibatan generasi muda dalam tradisi kuliner
lokal semakin memperparah krisis. Generasi muda tidak hanya kurang tertarik membeli
produk tradisional, tetapi juga semakin enggan untuk menjadi pengrajin yang
meneruskan tradisi tersebut.
Keempat,
minimnya kebijakan pelestarian yang konkret. Jurnal Pariwisata dan Perhotelan
(2024) mencatat bahwa upaya pelestarian yang berhasil memerlukan kebijakan
pemerintah yang mencakup dukungan teknis, keuangan, dan promosi. Kebijakan yang
ada sekarang masih belum cukup memadai untuk mendorong regenerasi pengrajin dan
pelestarian kemasan tradisional.
Kelima,
kurangnya dokumentasi dan riset. Identitas visual kemasan tradisional dodol
Garut belum terdokumentasi secara sistematis dalam penelitian ilmiah. Kondisi
ini menyulitkan upaya revitalisasi karena tidak adanya dasar pengetahuan yang memadai
tentang kemasan tradisional yang otentik.
5. Strategi Pelestarian yang
Diperlukan
Menghadapi
tantangan ganda ini, dibutuhkan strategi pelestarian yang bersifat beragam.
Berdasarkan penelitian literatur, ada empat pendekatan utama yang bisa diambil.
Yang pertama,
pendidikan dan pelatihan berbasis kearifan lokal. Jurnal Pariwisata dan
Perhotelan (2024) merekomendasikan lokakarya, acara budaya, dan program
pelatihan untuk generasi muda sebagai caera yang efektif untuk menjaga kuliner
tradisional. Dalam hal kemasan, perlu adanya program pelatihan yang fokus pada
teknik pembuatan kemasan tradisional dengan menggunakan bahan alami sambil
mengenalkan nilai-nilai budaya yang terdapat di dalamnya . Midang: Jurnal FIB
Unpad (2025) mengenai pelatihan penamaan usaha kuliner yang berbasis budaya
Sunda di Garut menunjukan bahwa pendekatan yang berfokus pada identitas local
dapat memanfaatkan kemampuan pengrajin kuliner.
Kedua,
Kerjasama antara UMKM dan desainer profesional. Peneliltian mengenai Uji
kelayakan Desain Kemasan UMKM Jawa Barat Research Gate (2021) menunjukan bahwa
kemasan yang memasukkan elemen local dapat secara signifikan meningkatkan nilai
produk. Dalam konteks ini, kerjasama antara pengrajin dodol yang paham nilai
tradisional dan desainer yang mengerti komunikasi visual modern dapat menciptakan
kemasan yang otentik dan bersaing. Junivia dan Marwan (2024) memberikan contoh
konkret melalui redesain logo dan kemasan Dodol Garut Picnic yang menggabungkan
motif batik Garutan dalam kemasannya adalah contoh awal yang menjanjikan.
Ketiga, adalah
intervensi kebijakan dan dokumentasi yang sistematis. Mozaik Humaniora (2021)
menunjukan bahwa kuliner tradisional memiliki peran penting dalam diplomasi
budaya, sehingga perlu didukung melalui kebijakan yang nyata. Pemerintah
Kabupaten Garut perlu mendorong pembuatan dokumentasi yang komprehensif
mengenai kemasan tradisional dodol termasuk bahan, teknik pembuatan, dan makna
simboliknya sebagai dasar dari program revitalisasi yang berkelanjutan.
Penelitian pada JINU (2025) tentang daya saing UMKM kuliner di Garut juga
menyoroti pentingnya dukungan pemerintah sebagai factor krusial dalam
pengembangan industry kuliner lokal.
Keempat,
intervensi kebijakan dan dokumentasi sistematis. Mozaik Humaniora (2021)
menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki dimensi diplomasi budaya yang
strategis sehingga layak mendapat dukungan kebijakan konkret. Pemerintah
Kabupaten Garut perlu mendorong dokumentasi komprehensif tentang kemasan
tradisional dodol meliputi bahan, teknik pembuatan, dan nilai simboliknya sebagai
fondasi program revitalisasi yang berkelanjutan. JINU (2025) juga menekankan
pentingnya dukungan pemerintah sebagai elemen kunci dalam pengembangan industri
kuliner lokal.
SIMPULAN
Krisis dalam regenerasi
pengrajin serta penurunan kualitas kemasan tradisional dodol Garut adalah dua
isu yang saling terkait dan sama-sama mengancam kelangsungan warisan kuliner
budaya Sunda. Kemasan tradisional dodol Garut, yang dulu menggunakan bahan
alami dan mengandung nilai-nilai lokal yang tinggi, kini telah beralih ke
penggunaan material sintetis yang lebih modern tetapi kurang memiliki identitas
budaya. Perubahan ini dipercepat oleh lemahnya transfer pengetahuan antar generasi,
persaingan pasar yang ketat, serta kurangnya kebijakan nyata untuk pelestarian.
Menariknya, penelitian
terhadap konsumen menunjukkan bahwa pasar tetap menghargai hal-hal yang
autentik wisatawan cenderung lebih menyukai dodol dengan kemasan tradisional
berbahan bambu anyaman dibandingkan kemasan modern generik. Sementara itu,
inovasi kemasan berbasis lokal, seperti yang dilakukan melalui redesain Dodol
Garut Picnic (Junivia & Marwan, 2024) dan pendampingan UMKM dodol nanas
(Arifudin et al., 2020), membuktikan bahwa pelestarian identitas budaya dan
peningkatan daya saing pasar bukan dua hal yang saling bertentangan.
Diperlukan
pendekatan pelestarian yang komprehensif mencakup pendidikan berbasis kearifan
lokal, kolaborasi kreatif antara pengrajin dan desainer profesional,
pengembangan kemasan ramah lingkungan yang inovatif, dokumentasi sistematis
terhadap warisan visual kemasan tradisional, serta kebijakan pemerintah yang
aktif mendukung regenerasi pengrajin dan autentisitas produk. Dodol Garut bukan
sekedar produk makanan ia adalah artefak budaya yang menyimpan sejarah, nilai,
dan identitas masyarakat Sunda yang perlu dijaga kelestariannya untuk generasi
mendatang.
REFERENSI
Arifudin, O., et al. (2020). Inovasi kemasan dan perluasan pemasaran
dodol nanas di Subang Jawa Barat. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 4(3), 408–417. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v4i3.4469
AyoBandung.id. (2025, 30 Juli). Jejak sejarah dodol Garut, warisan
kuliner tradisional sejak zaman kolonial. Diakses dari
https://www.ayobandung.id/ayo-jelajah/01687/30072025/jejak-sejarah-dodol-garut-warisan-kuliner-tradisional-sejak-zaman-kolonial
Besaung: Jurnal Seni, Desain dan Budaya. (2021). Dokumentasi dan pemetaan
kemasan oleh-oleh makanan khas Bandung tahun 1930–2020. Universitas Indo Global
Mandiri. Diakses dari https://ejournal.uigm.ac.id/index.php/Besaung
Equilibrium: Jurnal Pendidikan, Vol. 14 No. 1. (2026). Habitus dan krisis
transmisi pengetahuan tradisional: Analisis sosiologis regenerasi pengrajin
Songkok Recca di Kecamatan Awampone. Universitas Muhammadiyah Makassar.
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/equilibrium/article/view/20050
Indriana, N., Nisa, I. F., & Dyana, B. (2024). Hilirisasi olahan
Garut sebagai upaya mewujudkan regenerasi dan creativepreneurship pada UMKM
Enderese di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Jurnal SOLMA, 13(3),
2583–2596. https://journal.uhamka.ac.id/index.php/solma/article/view/16740
Infogarut.id. (2023). Sejarah dan transformasi Dodol Garut: Dari tradisi
lokal ke pasar internasional. Diakses dari
https://infogarut.id/sejarah-dan-transformasi-dodol-garut-dari-tradisi-lokal-ke-pasar-internasional
Julianti, S. (2018). The art of packaging (Edisi ke-2). PT Gramedia
Pustaka Utama.
Junivia, & Marwan, R. H. (2024). Redesign logo brand dan kemasan
Dodol Garut Picnic makanan khas Garut. Pubmedia Jurnal Desain Komunikasi
Visual, 1(1), 1–14. https://doi.org/10.47134/dkv.v1i1.2167
Jurnal Dewantara. (2024). Hilangnya budaya lokal di era modern dan upaya
pelestariannya dalam perspektif Pancasila.
https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Dewantara
Jurnal Ilmiah Nusantara (JINU). (2025). Analisis peluang bisnis kuliner
dalam mendorong daya saing UMKM di Garut. Kampus Akademik Publishing. Diakses
dari https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jinu
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan, Vol. 2 No. 1. (2024). Upaya pelestarian
dan pengembangan kue tradisional Betawi. Pubmedia.
https://journal.pubmedia.id/index.php/pjpp/article/download/3307/3245/6708
Klimchuk, M. R., & Krasovec, S. A. (2013). Packaging design:
Successful product branding from concept to shelf. John Wiley & Sons.
Koran Gala. (2023, 29 Januari). Dodol Garut, yang bertahan dan menyerah.
Diakses dari
https://www.koran-gala.id/news/pr-5877149722/dodol-garut-yang-bertahan-dan-menyerah
Kusumawati, D. N. I., Kusumah, W. I., & Bahriyyah, H. A. (2024).
Perancangan kemasan sebagai identitas dan promosi pada UMKM kue jajanan
tradisional khas Kemayoran Jakarta. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1),
2019–2031. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/12699
Maflahah, I. (2012). Desain kemasan makanan tradisional Madura dalam
rangka pengembangan IKM. Agrointek, 6(2), 118–122.
Merdeka.com. (2022, 28 Desember). Eksis sejak 1926, begini evolusi Dodol
Garut dari kudapan lokal jadi oleh-oleh khas. Diakses dari
https://www.merdeka.com/jabar/eksis-sejak-1926-begini-evolusi-dodol-garut
Midang: Jurnal Fakultas Ilmu Budaya, Vol. 3 No. 2. (2025). Pelatihan
penamaan usaha kuliner berbasis budaya Sunda bagi ibu-ibu UMKM di Desa
Cikajang, Garut. Universitas Padjadjaran. Diakses dari
https://jurnal.fib.unpad.ac.id/index.php/midang
Mozaik Humaniora, Vol. 21 No. 2. (2021). Peran kuliner tradisional dalam
mendukung pemajuan kebudayaan. Universitas Airlangga.
https://e-journal.unair.ac.id/MOZAIK/article/download/29444/pdf
Pabrik Dodol Garut. (2025). Dodol Garut kekinian dengan kemasan lucu dan
menarik. Diakses dari
https://pabrikdodolgarut.com/dodol-garut-kekinian-dengan-kemasan-lucu-dan-menarik/
Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. (2025). Pelestarian makanan
tradisional Indonesia di era globalisasi. Universitas Pasundan.
https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas
Pikiran Rakyat Garut. (2024, Februari). Kisah merek Dodol Garut dari
Herlinah ke Picnic, sebuah bisnis turun-temurun yang melegenda. Diakses dari
https://garut.pikiran-rakyat.com/garut/pr-527670956
Radar Garut. (2026, 9 April). Rahasia Dodol Garut bertahan dari tradisi
hingga era digital. Diakses dari
https://radargarut.id/2026/04/09/rahasia-dodol-garut-bertahan-dari-tradisi-hingga-era-digital/
Rahma, A. A., Azmi, F. N., Mandira, M. T., Argani, P. F., et al. (2025).
Evaluasi kemasan kertas dalam pengemasan dodol: Tinjauan dari aspek fungsional,
estetika, dan lingkungan. Karimah Tauhid, 4(5).
https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i5.19139
ResearchGate. (2021). Uji kelayakan desain kemasan produk makanan
oleh-oleh UMKM Jawa Barat menggunakan Chi-Square. Diakses dari
https://www.researchgate.net/publication/355804792
ResearchGate/SIMASE. (2023). Artikel jurnal mengenai Dodol Garut makanan
tradisional khas Garut (Proceedings SIMASE 2021). DOI:
https://doi.org/10.1063/5.0113152. Diakses dari
https://www.academia.edu/102813275
SERENADE: Seminar on Research and Innovation of Art and Design. (2023).
Identitas lokal Samarinda dalam kemasan makanan tradisional sebagai identitas
daerah. Universitas Kristen Duta Wacana.
https://serenade.ukdw.ac.id/index.php/serenade/article/view/89
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, Vol. 9 No. 6. (2025). Pergeseran kuliner
tradisional menuju makanan cepat saji di kalangan mahasiswa. Diakses dari
https://cibangsa.com/index.php/triwikrama