Optimization of Practicum-Based Science Learning through Science KIT Training for Teachers at Junior High School 8 Makassar
St. Mutia Alfiyanti
Muhiddin1*, Sitti Saenab2, Arie Arma Arsyad3, Andi
Rahmat Saleh4, Agussalim5
1,2,3,Pendidikan IPA,
Universitas Negeri Makassar, 4Pendidikan Biologi, Universitas Negeri
Makassar, 5Pendidikan Fisika, Universitas Muslim Maros
*Email korespondesi: stmutiaalfiyanti@unm.ac.id
Abstrak
Kegiatan ini bertujuan
untuk mengoptimalkan praktikum pada pembelajaran IPA melalui pemanfaatan KIT IPA
di SMP Negeri 8 Makassar. Permasalahan yang dihadapi guru-guru IPA di sekolah
tersebut adalah keterbatasan pengalaman dalam menggunakan KIT IPA secara
optimal, khususnya KIT Optik serta Listrik dan Magnet, sehingga pelaksanaan
praktikum masih belum maksimal. Pelatihan dilaksanakan melalui pendekatan workshop yang meliputi demonstrasi
penggunaan KIT, praktik langsung, dan pendampingan penyusunan LKPD berbasis
eksperimen. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman guru tentang
fungsi dan prosedur penggunaan KIT IPA, serta meningkatnya kemampuan guru IPA
dalam merancang kegiatan praktikum yang sesuai dengan capaian pembelajaran.
Selain itu, peserta mengaplikasikan modul praktikum sederhana yang dikembangkan
selama pelatihan untuk diterapkan pada pembelajaran di sekolah. Kegiatan ini
berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8
Makassar serta memperkuat kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang
aktif, kontekstual, dan berbasis inkuiri.
Kata kunci: KIT IPA, Guru IPA,
Praktikum, Pelatihan, Pembelajaran IPA
Abstract
This activity
aims to optimize practicum-based science learning through the utilization of
Science Kits (KIT IPA) at State Junior High School 8 Makassar. The problem
faced by science teachers at the school was their limited experience in using
Science Kits optimally, particularly the Optics Kit and the Electricity and
Magnetism Kit, resulting in less effective practicum implementation. The
training was conducted through a workshop approach consisting of kit usage
demonstrations, hands-on practice, and assistance in developing
experiment-based student worksheets (LKPD). The results of the activity showed
an improvement in teachers’ understanding of the functions and procedures for
using Science Kits, as well as an increase in science teachers’ ability to
design practicum activities aligned with learning outcomes. In addition,
participants applied the simple practicum modules developed during the training
to be implemented in classroom learning. This activity contributed to improving
the quality of science learning at State Junior High School 8 Makassar and
strengthening teachers’ competencies in conducting active, contextual, and
inquiry-based learning.
Keywords: Science
Kit, Science Teachers, Practicum, Training, Science Learning
Article
Info
Received
date: 30 April 2026 Revised date: 05 May 2026 Accepted date: 09 May 2026
PENDAHULUAN
Salah satu karakteristik utama Kurikulum Merdeka memberikan
fleksibilitas bagi guru. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat mengoptimalkan
proses inkuiri dalam pembelajaran IPA (Lathifah et al., 2023). Latar belakang
akademik guru IPA di sekolah menjadi salah satu alasan perlunya memaksimalkan
program, pelatihan atau workshop pengembangan diri untuk menambah wawasan dan
pengalaman dalam melaksanakan praktikum dengan menggunakan alat praktikum. Kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan
pengetahuan guru dalam merakit dan keterampilan menggunakan KIT IPA, sehingga
memiliki implikasi untuk meningkatkan penguasaan konsep sains melalui
eksperimen (Gunada
et al., 2022).
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat SMP menekankan
pentingnya pengalaman langsung melalui kegiatan praktikum untuk mengembangkan
pemahaman konsep, keterampilan proses sains, serta kemampuan berpikir kritis
peserta didik. Namun, pada kenyataannya pelaksanaan praktikum IPA di sekolah
masih belum optimal akibat berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas
laboratorium, kurangnya pemahaman guru dalam mengoperasikan alat peraga, serta
minimnya pelatihan terkait penggunaan KIT IPA. Kondisi ini juga dialami oleh
guru-guru IPA di SMP Negeri 8 Makassar, di mana pemanfaatan KIT IPA khususnya
KIT Optik dan KIT Listrik Magnet dalam pembelajaran IPA belum sepenuhnya
efektif.
KIT Optik dan Listrik Magnet merupakan media pembelajaran yang dirancang
untuk memfasilitasi pemahaman konsep fisika melalui kegiatan eksperimen. Materi
optik, listrik, dan kemagnetan merupakah materi IPA SMP yang cukup menantang bagi
peserta didik karena termasuk konsep abstrak sehingga seringkali peseta didik
kesulitan memahami konsep terkait. Oleh karena itu, melalui penggunaan media
KIT pada metode eksperimen IPA diharapkan peserta didik dapat memahami dan
menganalisis konsep-konsep tersebut serta mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Melalui KIT Optik, peserta didik dapat mempelajari fenomena
pemantulan, pembiasan, pembentukan bayangan, serta fungsi alat optik sederhana.
Sementara itu, KIT Listrik dan Magnet memungkinkan eksplorasi konsep rangkaian
listrik, hambatan, arus, tegangan, dan penerapan hukum-hukum listrik.
Optimalisasi penggunaan KIT tersebut sangat bergantung pada kompetensi guru
dalam memahami prosedur, keselamatan kerja, serta strategi pedagogis yang
tepat.
Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan pelatihan
penggunaan KIT dilakukan kepada guru-guru IPA di SMP Negeri 8 Makassar.
Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru
dalam mengoperasikan KIT, sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam merancang
dan melaksanakan pembelajaran berbasis praktikum. Melalui rangkaian kegiatan
workshop, praktik langsung, dan pendampingan, diharapkan guru mampu menerapkan
pembelajaran IPA yang lebih aktif, kontekstual, dan berorientasi pada inkuiri.
Selain meningkatkan kompetensi teknis, pelatihan ini juga bertujuan
mendukung implementasi kurikulum yang menekankan pembelajaran berbasis
kompetensi dan pengalaman. Guru sebagai fasilitator perlu memiliki keterampilan
mengintegrasikan media praktikum dalam proses pembelajaran agar peserta didik
dapat membangun pengetahuan secara mandiri melalui pengalaman empiris. Oleh
karena itu, kegiatan pelatihan ini tidak hanya melatihkan pengetahuan dan
keterampilan, tetapi juga mendorong perubahan paradigma pembelajaran menuju
pendekatan yang lebih eksperiensial dan berpusat pada peserta didik. Dengan
demikian, pelatihan penggunaan KIT IPA menjadi solusi strategis untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar.
METODE
Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan
pendekatan workshop yang berorientasi pada praktik langsung. Tim pelaksana
melakukan observasi awal dan wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 8 Makassar
untuk mengidentifikasi permasalahan terkait pelaksanaan praktikum, tingkat
pemanfaatan KIT, serta kebutuhan peningkatan kompetensi. Kemudian tim pelaksana
membuat modul pelatihan disusun mencakup konsep dasar optik dan listrik, panduan
penggunaan KIT, prosedur keselamatan, lembar kerja praktikum, dan contoh modul
ajar berbasis eksperimen.
Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi
utama. Sesi pertama merupakan demonstrasi
KIT Optik dan KIT Listrik dan Magnet. Peserta diperkenalkan komponen
alat, fungsi, prinsip kerja, dan contoh eksperimen. Sesi kedua, guru melakukan eksperimen sederhana seperti
pembentukan bayangan, hukum pemantulan, rangkaian seri-paralel, dan pengukuran
hambatan.
Tahap berikutnya peserta dibimbing untuk
merancang LKPD berbasis praktikum dengan memanfaatkan KIT yang tersedia di
sekolah. Pada akhir kegiatan, evaluasi dilakukan melalui refleksi peserta, dan diskusi
akhir.
HASIL, PEMBAHASAN, DAN
DAMPAK
Kegiatan
pelatihan berlangsung pada 27-28 April 2025 di Ruang Laboratorium IPA, SMP
Negeri 8 Makassar. Pelatihan ini diikuti oleh 14 orang guru IPA. Kegiatan
dimulai dengan observasi awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA
terkait pelaksanaan praktikum dan pemanfaatan KIT selama ini dalam pembelajaran
IPA di sekolah.
Pelatihan
dimulai dengan pemberian penjelasan komprehensif mengenai komponen KIT Optik
dan KIT Listrik Magnet beserta fungsi masing-masing komponen/alat pada KIT.
Kegiatan awal ini memberikan fondasi konseptual yang penting, karena banyak
guru IPA sebelumnya belum memahami secara detil fungsi setiap komponen, cara
penggunaan yang benar, serta potensi eksperimen yang dapat dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi, pemaparan mengenai komponen pada KIT membantu guru
mengembangkan kerangka berpikir yang lebih sistematis terkait penerapannya
dalam pembelajaran. Pada sesi ini, sebagian guru terlihat aktif bertanya,
terutama mengenai perbedaan fungsi lensa, sifat cermin, serta cara kerja alat
ukur listrik. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan besar terhadap pemahaman
teknis yang selama ini belum terpenuhi.
Gambar 1. Pemberian
Materi terkait Penggunaan KIT IPA bagi Guru IPA SMPN 8 Makassar
Demonstrasi
penggunaan KIT yang dilakukan setelah pemaparan awal memberikan dampak
signifikan pada peningkatan pemahaman prosedural guru. Melalui demonstrasi
langsung, peserta dapat melihat contoh praktik penggunaan KIT yang benar, mulai
dari pengaturan jarak pada KIT Optik hingga teknik membaca nilai ukur pada
multimeter. Demonstrasi juga berfungsi sebagai model pembelajaran eksperimen
yang dapat ditiru guru dalam pembelajaran IPA di kelas. Berdasarkan hasil
lembar observasi, guru mulai mampu mengidentifikasi potensi kesalahan umum
dalam penggunaan alat, misalnya cara menyusun rangkaian listrik atau kesalahan
penempatan lensa, sehingga mereka lebih siap melakukan praktik mandiri pada
sesi berikutnya.
Sesi
praktik berkelompok menjadi inti dari pelatihan dan memiliki dampak paling
nyata terhadap peningkatan kompetensi guru. Pada sesi KIT Optik, peserta
berhasil melakukan beberapa eksperimen dasar seperti pembentukan bayangan pada
cermin datar, cekung, dan cembung, serta percobaan menggunakan lensa untuk
melihat hubungan jarak benda, jarak bayangan, dan panjang fokus. Aktivitas ini
memperlihatkan bahwa guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu
mengoperasikan KIT secara mandiri dan sistematis. Pada sesi KIT Listrik dan
Magnet, pelatihan berfokus pada percobaan listrik di mana peserta melakukan
eksperimen mengukur hambatan menggunakan multimeter, membaca arus dan tegangan,
serta menyusun rangkaian seri dan paralel. Hasil evaluasi praktik menunjukkan
bahwa lebih dari 85% kelompok dapat menyusun rangkaian dengan benar dan
melakukan pengukuran secara akurat, menandakan bahwa pelatihan berhasil
meningkatkan keterampilan peserta.
Diskusi
akhir mengungkapkan bahwa guru merasakan manfaat besar dari pelatihan ini,
terutama dalam hal meningkatkan kepercayaan diri dalam melaksanakan praktikum
IPA. Banyak guru menyampaikan bahwa sebelum pelatihan mereka jarang menggunakan
KIT karena khawatir melakukan kesalahan teknis atau merusak alat. Namun setelah
sesi demonstrasi dan praktik berkelompok, guru merasa lebih siap untuk
memasukkan eksperimen ke dalam Modul Ajar dan menggunakannya dalam
pembelajaran. Selain itu, peserta menilai pelatihan sangat efektif karena
memberikan pengalaman langsung yang dapat segera diterapkan dalam kelas mereka,
bukan sekadar penjelasan teoretis.
Secara
keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan kompetensi konseptual,
prosedural, dan praktikal guru dalam memanfaatkan KIT Optik dan KIT Listrik.
Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan guru mengoperasikan alat, menyusun
rangkaian listrik, membaca hasil pengukuran, serta merancang aktivitas
eksperimen yang selaras dengan capaian pembelajaran. Dampak pelatihan juga
meluas pada aspek pedagogik, karena guru mulai menyadari pentingnya
pembelajaran berbasis inkuiri dan pengalaman langsung untuk meningkatkan
pemahaman peserta didik. Dengan demikian, kegiatan pelatihan tidak hanya
memperkuat keterampilan teknis guru, tetapi juga mendorong transformasi praktik
pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar menjadi lebih aktif, bermakna, dan
berpusat pada peserta didik.
Kegiatan
pengabdian menunjukkan beberapa hasil penting adanya peningkatan terhadap
pengetahuan terkait prosedur penggunaan alat pada KIT IPA khususnya KIT Optik
dan KIT Listrik dan Magnet seperti pengukuran menggunakan multimeter. Selain
itu, berdasarkan hasil observasi juga terlihat bahwa > 80% peserta pelatihan
telah mampu mengoperasikan KIT secara mandiri setelah sesi praktik.
Sebagian
besar peserta telah mampu dan percaya diri mengembangkan LKPD praktikum memanfaatkan KIT IPA yang
dapat langsung digunakan. Guru menyatakan lebih percaya diri melaksanakan
praktikum karena kini memahami cara penggunaan KIT dan prosedur keselamatan.
Beberapa guru menyampaikan rencana untuk mengintegrasikan eksperimen sebagai kegiatan rutin pada materi
optik dan listrik. Pembelajaran IPA dan laboratorium tidak dapat dipisahkan
keberadaannya secara fungsional. Guru sebagai komponen penting dalam menentukan
keberhasilan pendidikan menjadi protokol dalam kegiatan pembelajaran IPA
berbasis laboratorium (Rosidin et al., 2023). Guru IPA sebagai peserta pelatihan
merasa pelatihan meningkatkan motivasi dan percaya diri dalam menggunakan KIT
IPA khususnya yang berkaitan dengan materi Fisika. Hal ini sejalan dengan Panis
& Pasaribu (2022) yang menyatakan bahwa guru-guru IPA mengungkapkan bahwa
diperlukan pelatihan untuk menggunakan KIT praktikum Fisika yang tersedia di
sekolah, karena tidak semua guru IPA berasal dari latar belakang pendidikan
fisika, tetapi beberapa berasal dari biologi.
Pelatihan
KIT IPA dapat membekali guru dan peserta didik dalam mengembangkan
kreativitasnya dalam mengintegrasikan penggunaan KIT IPA pada pembelajaran IPA
dan metode praktikum akan membantu mempercepat pemahaman terhadap pembelajaran
IPA serta memberikan langkah kongkret dalam pemanfaatan laboratorium sebagai
tempat belajar yang menyenangkan (Selly et al., 2024). Melalui pelatihan juga
mengoptimalkan guru berlatih menggunakan KIT Praktikum IPA dengan berperan
aktif dalam berdiskusi tentang materi pelatihan dan melaksanakan kegiatan
praktikum IPA (Arifuddin et al., 2022). Hal ini juga sejalan dengan hasil
kegiatan pengabdian Nafaida et al., (2023) yang menunjukkan dampak positif
pelatihan KIT IPA bagi guru dan peserta didik dalam penggunaan peralatan
laboratorium praktikum sains di SMA Muhammadiyah Langsa.
Pelatihan
ini juga mendorong sekolah untuk dapat memaksimalkan laboratorium IPA, menambah
KIT sederhana dan bahan habis pakai, serta mengembangkan budaya pembelajaran
berbasis inkuiri. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan memberikan dampak
positif terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya diharapkan
memperbaiki kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar.
SIMPULAN
Pelatihan
penggunaan KIT IPA khususnya KIT Optik dan KIT Listrik Magnet bagi guru IPA SMP
Negeri 8 Makassar berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi signifikan
terhadap peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis
praktikum. Guru-guru memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar
optik dan listrik, mampu mengoperasikan KIT secara mandiri, serta mampu
merancang kegiatan praktikum yang relevan dan sesuai dengan capaian
pembelajaran. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik dapat
meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru, sekaligus mendukung
implementasi pembelajaran IPA yang lebih aktif, inkuiri, dan kontekstual.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis
menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Makassar bidang studi
IPA yang telah memprakarsai dan menginisiasi kegiatan pelatihan penggunaan KIT
Optik dan KIT Listrik ini sebagai bagian dari proyek kepemimpinan. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Sekolah, guru-guru IPA, serta
seluruh sivitas SMP Negeri 8 Makassar yang telah memberikan dukungan,
fasilitas, dan partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Penulis juga
berterima kasih kepada segenap sivitas akademik Jurusan Pendidikan IPA, FMIPA
UNM yang turut memberikan arahan dan dukungan akademik sehingga kegiatan ini
dapat terlaksana dengan baik.
REFERENSI
Arifuddin, M., Mahardika, A. I.,
& Muda, A. A. A. (2022). Pelatihan penggunaan kit praktikum ipa untuk guru
sd/mi sederajat di kota banjarmasin. Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian
Masyarakat, 5(3), 276–281. https://doi.org/10.29303/jppm.v5i3.3929
Gunada, I. W., Sutrio, S., Wahyudi,
W., Busyairi, A., Verawati, N. N. S. P., Ayub, S., & Kosim, K. (2022).
Pelatihan Optimalisasi Penggunaan Kit IPA Sains Untuk Meningkatkan Penguasaan
Konsep IPA Bagi Guru Guru SD Negeri 1 Cakranegara. Unram Journal of
Community Service, 3(2), 47–52.
https://doi.org/10.29303/ujcs.v3i2.200
Lathifah, S. siti, Irpan, A. M.,
Supratman, L., Rossa, A., Sari, R. P., & Meyradhia, A. G. (2023). Program
Pendampingan Guru Dalam Implementasi Basic Science Kits Pada Kurikulum Merdeka
Belajar Di Sekolah Dasar Negeri Bojong. https://doi.org/10.32877/nr.v3i1.988
Nafaida, R., Pandia, E. S., Sari, R.
P., & Nursamsu, N. (2023). Training on The Use of KIT Science Laboratory
Equipment for Teachers and Students to Support The Implementation of The
Independent Curriculum. Unram Journal of Community Service.
https://doi.org/10.29303/ujcs.v4i3.476
Panis, I. C., & Pasaribu, R.
(2022). Optimalisasi Kegiatan Laboratorium dan Kegunaan KIT Praktikum IPA
Fisika bagi Guru-guru IPA Terpadu di SMPN. 8 Kota Kupang. Educate~, 2(1),
8. https://doi.org/10.32585/educate.v2i1.2364
Rosidin, U., Maulina, D., &
Suana, W. (2023). Pelatihan Pengelolaan Laboratorium dan Penggunaan Alat Peraga
IPA bagi Guru-Guru IPA di SMP/MTs se-Kota Bandar Lampung. Jurnal
Pengabdian Masyarakat MIPA Dan Pendidikan MIPA, 7(2), 95–102.
https://doi.org/10.21831/jpmmp.v7i2.27316
Selly, R., Zainuddin, M., Jasmidi,
J., & Ahsan, J. (2024). Pelatihan Penggunaan KIT IPA Bagi Guru dan Siswa di
SMP IT Nurul Fadhilah Bandar Setia, Percut Sei Tuan, Deli Serdang Sumatera
Utara. Journal Of Human And Education, 4(4), 269–276.
https://doi.org/10.31004/jh.v4i4.1225