Showing posts with label pengabdian. Show all posts
Showing posts with label pengabdian. Show all posts

Tuesday, March 31, 2026

Penguatan Peran Keluarga dalam Revitalisasi Bahasa Biak di Kampung Dwar

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village | Smas | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

Musa Hefer Smas1*, Tri Handayani2, Meggy Merlin Mokay3 

Abstrak 

Revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya strategis dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat di tengah arus globalisasi. Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua mengalami penurunan penggunaan, terutama pada generasi muda akibat dominasi bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual di Kampung Dwar. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi masalah, sosialisasi, pelatihan, pendampingan keluarga, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman, perubahan sikap, serta keterampilan berbahasa anak-anak. Selain itu, terbentuk kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi. Dengan demikian, pendekatan pendampingan berbasis keluarga terbukti efektif sebagai model revitalisasi bahasa daerah yang berkelanjutan dan berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik serupa.

Kata kunci: bahasa Biak; keluarga; pendampingan; revitalisasi bahasa

Abstract

The revitalization of regional languages is a strategic effort to preserve the continuity of cultural identity amid globalization. The Biak language, as one of the regional languages in Papua, has experienced a decline in usage, particularly among the younger generation, due to the dominance of the Indonesian language in daily communication. This community service activity aims to strengthen the role of the family as the primary agent in the revitalization of the Biak language through a participatory and contextual mentoring approach in Dwar Village. The implementation method includes stages of problem identification, socialization, training, family mentoring, and evaluation. The results of the activity indicate improvements in the cognitive, affective, and psychomotor aspects of participants, as evidenced by increased understanding, changes in attitudes, and enhanced language skills among children. In addition, a habit of using the Biak language within the family environment has been established as a form of language internalization in daily life. These findings confirm that the family plays a strategic role in intergenerational language transmission. Therefore, a family-based mentoring approach has proven effective as a sustainable model for regional language revitalization and has the potential to be replicated in other communities with similar characteristics.

Keywords: Biak language; family; mentoring; language revitalization

PENDAHULUAN  

Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, serta pewarisan nilai-nilai sosial suatu masyarakat. Bahasa daerah tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas budaya dan penentu keberlangsungan nilai serta jati diri suatu komunitas (Suhassatya, 2025; Salam & Hunava, 2024). Dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia, bahasa daerah memiliki posisi strategis sebagai penanda identitas etnis sekaligus sebagai medium transmisi pengetahuan lokal. Namun demikian, fenomena globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa (language shift) yang berdampak pada menurunnya penggunaan bahasa daerah (Sari et.al., 2025).

Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua menghadapi ancaman serius terkait keberlanjutannya. Generasi muda cenderung lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia bahkan dalam interaksi sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan adanya gejala penurunan vitalitas bahasa (language vitality) yang apabila tidak segera diintervensi dapat mengarah pada kepunahan bahasa. Pergeseran ini menegaskan bahwa pemertahanan bahasa sangat bergantung pada praktik penggunaan sehari-hari serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaganya (Putri et al., 2025).

Menurut Fishman (1991), keberhasilan revitalisasi bahasa sangat ditentukan oleh keberadaan domain penggunaan bahasa, khususnya dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan ruang sosial pertama di mana anak memperoleh bahasa (first language acquisition). Apabila bahasa daerah tidak digunakan dalam keluarga, maka peluang keberlanjutan bahasa tersebut menjadi sangat kecil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemertahanan bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan institusional, tetapi juga pada komitmen aktif penutur dalam mempertahankan praktik kebahasaan sebagai bagian dari identitas budaya (Ekarina & Apriyani, 2026).

Permasalahan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Biak secara aktif dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan kemudahan dan tuntutan pendidikan formal. Akibatnya, anak-anak mengalami keterbatasan dalam memahami dan menggunakan bahasa Biak. Kondisi ini juga diperkuat oleh temuan bahwa pembelajaran bahasa daerah yang kurang efektif dapat menyebabkan rendahnya keterampilan berbahasa pada anak (Diu  et.al., 2022).

Selain itu, kurangnya program edukasi berbasis komunitas serta minimnya media pembelajaran bahasa Biak turut memperparah kondisi tersebut. Padahal, pemertahanan bahasa dapat berlangsung secara efektif melalui berbagai praktik sosial dan kultural yang melibatkan masyarakat secara aktif, termasuk dalam ruang-ruang sosial seperti keluarga dan kegiatan komunitas (Suriyani et al., 2025). Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual.

Lebih lanjut, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya dipahami sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai proses adaptasi agar bahasa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika sosial masyarakat (Sembiring & Lestari, 2024). Sesuai dengan masalah yang terjadi di Kampung Dwar, maka strategi revitalisasi perlu dirancang secara sistematis dengan melibatkan keluarga sebagai agen utama dalam transmisi bahasa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang dengan fokus pada penguatan peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya pelestarian bahasa Biak; (2) meningkatkan kompetensi dasar berbahasa Biak pada anak-anak; (3) membangun kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga; dan (4) mengembangkan model pendampingan berbasis keluarga dalam revitalisasi bahasa.

METODE   

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Dwar yang terletak di Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, dan Provinsi Papua dengan menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach). Pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kegiatan. 

Tahapan Pelaksanaan

a.    Identifikasi Masalah: Tahap ini dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan keluarga. Hasil identifikasi menunjukkan rendahnya penggunaan bahasa Biak dalam keluarga.

b.    Sosialisasi Program: Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian bahasa daerah. Kegiatan ini melibatkan diskusi interaktif dan penyampaian materi edukatif.

c.    Pelatihan bahasa Biak: Pelatihan difokuskan pada penguasaan kosakata dasar, ungkapan sehari-hari, dan praktik komunikasi sederhana dalam Bahasa Biak.

d.    Pendampingan Keluarga: Pendampingan dilakukan secara langsung di lingkungan keluarga dengan memberikan bimbingan penggunaan bahasa Biak dalam aktivitas sehari-hari.

e.    Evaluasi: Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman serta observasi perubahan perilaku berbahasa.

     Subjek dan Mitra Kegiatan

Subjek kegiatan dalam pengabdian ini adalah 20 keluarga yang berdomisili di Kampung Dwar dan memiliki anak usia sekolah dasar sebagai sasaran utama dalam proses revitalisasi bahasa. Pemilihan subjek didasarkan pada pertimbangan bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi, khususnya dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak.

Adapun mitra kegiatan dalam program ini adalah masyarakat lokal dan tokoh adat setempat yang berperan sebagai fasilitator sosial sekaligus penjaga nilai-nilai budaya. Keterlibatan mitra ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan program, karena mereka memiliki otoritas kultural dan kedekatan sosial dengan masyarakat, sehingga mampu memperkuat legitimasi serta keberlanjutan kegiatan revitalisasi Bahasa Biak di lingkungan komunitas.

Indikator Keberhasilan

Dalam kegiatan pengabdian ini ditentukan berdasarkan beberapa aspek utama, yaitu (1) peningkatan skor pemahaman bahasa Biak yang diukur melalui hasil pre-test dan post-test, (2) peningkatan frekuensi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga, (3) tingkat partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung, dan (4) perubahan sikap peserta terhadap bahasa daerah, khususnya dalam hal kesadaran dan komitmen untuk menggunakan serta melestarikan bahasa Biak sebagai bagian dari identitas budaya.

                     HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK  

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Dwar menunjukkan capaian yang signifikan dalam berbagai aspek, meliputi dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta. Temuan ini diperoleh melalui kombinasi instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta wawancara terbimbing terhadap peserta kegiatan. Secara umum, hasil kegiatan tidak hanya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa, tetapi juga perubahan sikap dan terbentuknya kebiasaan baru dalam penggunaan bahasa Biak di lingkungan keluarga.

                 Gambar 1. Interaksi anak dan orang tua dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk praktik penggunaan bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar.

Pada aspek kognitif, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai bahasa Biak secara signifikan. Peningkatan ini ditandai dengan bertambahnya pemahaman terhadap kosakata dasar, struktur kalimat sederhana, serta fungsi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari. Peserta tidak hanya mampu mengenali unsur-unsur dasar bahasa, tetapi juga mulai memahami penggunaannya dalam konteks yang lebih nyata dan fungsional. Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan mampu memberikan kontribusi positif terhadap penguatan pengetahuan peserta, sekaligus mencerminkan efektivitas pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan kontekstual yang dipadukan dengan praktik langsung dapat memudahkan peserta dalam memahami dan menginternalisasi bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi afektif, kegiatan ini berhasil mendorong perubahan sikap yang cukup signifikan, terutama pada kalangan orang tua. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta memiliki persepsi bahwa penggunaan bahasa daerah kurang relevan dengan kebutuhan modern, terutama dalam konteks pendidikan formal dan mobilitas sosial. Namun, setelah mengikuti rangkaian kegiatan pendampingan, terjadi pergeseran cara pandang yang positif. Orang tua mulai menyadari bahwa Bahasa Biak memiliki fungsi yang lebih luas, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan identitas etnis. Perubahan ini ditandai dengan meningkatnya komitmen orang tua untuk kembali menggunakan bahasa Biak dalam interaksi keluarga dengan anak-anak.

Pada aspek psikomotorik, peningkatan keterampilan berbahasa terlihat dari kemampuan anak-anak dalam menggunakan kosakata dasar dan ungkapan sederhana dalam bahasa Biak. Anak-anak mulai mampu merespons percakapan sehari-hari dan terlibat dalam interaksi verbal menggunakan bahasa Biak. Peningkatan keterampilan ini tidak terlepas dari metode pendampingan yang menekankan praktik langsung, seperti dialog sederhana dan interaksi rutin dalam keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan belajar dan praktik langsung lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi berbahasa dibandingkan pendekatan teoritis semata.

Selain peningkatan pada tiga aspek utama tersebut, capaian penting lainnya adalah mulai terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga. Pembentukan kebiasaan ini merupakan indikator penting dalam keberhasilan revitalisasi bahasa, karena menunjukkan adanya proses internalisasi nilai dan praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini juga berpotensi menjadi strategi berkelanjutan dalam menjaga eksistensi bahasa Biak di tengah tekanan globalisasi dan dominasi bahasa nasional.

Secara teoretis, temuan dalam kegiatan ini memperkuat pandangan Fishman (1991) yang menekankan pentingnya domain keluarga dalam upaya mempertahankan dan merevitalisasi bahasa. Dalam konsep Reversing Language Shift, keluarga dipandang sebagai ruang utama dalam transmisi bahasa antargenerasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa ketika keluarga mulai aktif menggunakan bahasa Biak, anak-anak secara alami akan menyerap dan menginternalisasi bahasa tersebut melalui interaksi sehari-hari.

Lebih lanjut, pendekatan pendampingan yang digunakan dalam kegiatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional seperti ceramah. Pendampingan memungkinkan terjadinya proses belajar yang bersifat partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam praktik penggunaan bahasa dalam situasi nyata. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung.

Dari perspektif pembelajaran sosial, keterlibatan orang tua sebagai role model memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan program. Anak-anak cenderung meniru pola bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar. Oleh karena itu, konsistensi orang tua dalam menggunakan bahasa Biak menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses pemerolehan bahasa pada anak di lingkungan keluarga.

Namun demikian, implementasi program ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Keterbatasan waktu pendampingan menjadi salah satu tantangan dalam memastikan keberlanjutan program. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kemampuan peserta yang memengaruhi kecepatan adaptasi terhadap materi yang diberikan. Faktor eksternal, seperti dominasi penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sosial yang lebih luas, juga menjadi hambatan dalam optimalisasi penggunaan bahasa Biak.

Meskipun menghadapi berbagai kendala, secara keseluruhan kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga merupakan strategi yang efektif dan relevan dalam revitalisasi bahasa daerah, khususnya dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami pergeseran bahasa. Lebih lanjut, hasil ini juga membuka peluang untuk pengembangan model pengabdian berbasis komunitas yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi adat, dalam upaya pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan.

SIMPULAN  

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa penguatan peran keluarga melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual merupakan strategi yang efektif dalam revitalisasi bahasa Biak. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta dalam menggunakan bahasa Biak, yang tercermin dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, kegiatan ini juga mampu mendorong terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis sebagai domain utama dalam transmisi bahasa antargenerasi, sehingga menjadi kunci dalam upaya pemertahanan dan revitalisasi bahasa daerah. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu pendampingan dan pengaruh lingkungan eksternal, secara keseluruhan program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran dan praktik berbahasa masyarakat.

Oleh karena itu, model pendampingan berbasis keluarga yang dikembangkan dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan sebagai pendekatan yang berkelanjutan dalam pelestarian bahasa daerah, serta berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik yang serupa, dengan dukungan berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi adat.

 

REFERENSI

Diu, A.R., Rahmat, A., & Duludu, U. (2022). Pelestarian bahasa daerah Gorontalo dalam aktivitas belajar anak usia dini di Desa Lemito Utara Kecamatan Lemito. Student Journal of Early Childhood Education. https://ejournal-fipung.ac.id/ojs/index.php/SJCE/article/ view/904

Ekarina., & Apriyani, M. (2026). Bahasa dan budaya Jawa di gereja Katolik: Pemertahanan dan identitas. Linguistik Indonesia. http://ojs.linguistikindonesia.org/index.php/linguis tikindonesia/article/view/951

Fishman, Joshua. (1991). Reversing language shift: Theoretical and empirical foundations of assistance to threatened languages. Multilingual Matters. https://doi.org/10.21832/ 9781800418097

Putri, M., Faunelzi, M., Misriani, A., & Iskandar, Z. (2025). Pemertahanan bahasa Bali di lingkungan masyarakat Desa Suro Bali di Kabupaten Kepahiang. e-theses IAIN Curup. http://e-theses.iaincurup.ac.id/id/eprint/8738

Salam, L. F., & Hunava, N. (2024). Menjaga bahasa, merawat bangsa: Strategi pelestarian bahasa daerah. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikankreatif.com/index.php/ BASAYA/article/view/43

Sari, I. P., Insani, N. N., & Ridha, M. R. (2025). Ancaman pergeseran bahasa daerah dan dampaknya terhadap keberlanjutan warisan budaya di era global. Menulis: Jurnal Penelitian. https://padangjurnal.web.id/index. php/menulis/article/view/236

Sembiring, R. P. B., & Lestari, F. A. (2024). Revitalisasi bahasa daerah dalam era globalisasi antara pelestarian dan modernisasi. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikan kreatif.com/index.php/BASAYA/article/view/46

Suhassatya, G. K. (2025). Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dalam perspektif bahasa sebagai identitas budaya. Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora. https://publisherqu. com/index.php/pediaqu/article/view/2062

Suriyani, E., Suparmanto, & Akmaluddin. (2025). Bahasa Sasak dalam ekspresi keberagamaan masyarakat Islam Lombok. Journal of Arabic Linguistics and Literature. https://unissa.edu.bn/journal/index.php/jall/article/view/ 1037

 

Tuesday, February 24, 2026

Edukasi Isi Piringku sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Gizi Seimbang pada Siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit

Education on ‘Isi Piringku’ as an Effort to Improve Understanding of Balanced Nutrition Among Students of MI Nurul Huda in Dusun Slempit

 

Galuh Amelia Ragil Rahmanda

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Email: ameliaragil722@gmail.com

 

Abstrak

Rendahnya pemahaman siswa sekolah dasar mengenai gizi seimbang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pola makan dan status kesehatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep gizi seimbang melalui edukasi Isi Piringku pada siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit. Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi awal untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, pelaksanaan edukasi menggunakan metode ceramah interaktif dan media visual, kegiatan permainan edukatif (mewarnai, menggunting, dan menempel gambar Isi Piringku), serta evaluasi untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum edukasi, sebagian besar siswa belum memahami komposisi Isi Piringku dan pentingnya konsumsi sayur serta buah dalam pola makan sehari-hari. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pemahaman yang terlihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali konsep Isi Piringku, menjawab pertanyaan dengan lebih tepat, serta menunjukkan kesadaran mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Kata kunci: edukasi gizi, Isi Piringku, gizi seimbang, siswa sekolah dasar.

Abstract

The low level of understanding among elementary school students regarding balanced nutrition is one of the factors that can influence children’s eating patterns and health status. This study aims to improve students’ understanding of the concept of balanced nutrition through Isi Piringku education for students of MI Nurul Huda in Dusun Slempit. The activity was carried out through several stages: initial observation to determine the students’ level of understanding, implementation of education using interactive lecture methods and visual media, educational games (coloring, cutting, and pasting Isi Piringku pictures), and evaluation to measure the improvement in students’ understanding. The results showed that prior to the education session, most students did not understand the composition of Isi Piringku and the importance of consuming vegetables and fruits in their daily diet. After the educational intervention, there was an improvement in understanding, as reflected in the students’ ability to re-explain the concept of Isi Piringku, answer questions more accurately, and demonstrate awareness of the importance of consuming balanced nutritious foods.

Keywords: nutrition education, Isi Piringku, balanced nutrition, elementary school students.

 

Article Info

Received date: 15  January 2026                             Revised date: 30  January 2026                                Accepted date: 15 February 2026

 

PENDAHULUAN

Pemahaman tentang gizi seimbang merupakan aspek penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya pada usia sekolah dasar. Gizi seimbang tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi kemampuan konsentrasi, daya tahan tubuh, serta prestasi belajar siswa. Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum memahami pentingnya gizi seimbang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya edukasi kesehtan, kebiasaan konsumsi makanan instan, serta minimnya peran lingkungan sekolah dan keluarga dalam memberikan pemahaman terkait pola makan sehat. Kurangnya pengetahuan ini berpotensi menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebih serta rendahnya konsumsi sayur dan buah. Upaya meningkatkan pemahaman gizi seimbang dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan eduktif, seperti penyuluhan kesehatan, penggunaan media pembelajaran yang menarik serta praktik langsung mengenal komposisi makanan sehat. Lingkungan sekolah memiliki peran strategis sebagai tempay pembentukan perilaku hidup sehat melalui integritas materi gizi dalam pembelajaran dan kegiatan pendukung lainnya. Selain itu, keterlibatan guru dan orang tua juga sangar penting dalam memberikan contoh membiasakan pola makanan sehat kepada siswa.

Gizi seimbang merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak usia sekolah dasar. Asupan gizi yang terpenuhi secara optimal tidak hanya berkontribusi pada kondisi fisik yang sehat dan daya tahan tubuh yang baik, tetapi juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan fungsi otak, kemampuan berpikir, serta tingkat konsentrasi anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Anak dengan status gizi yang baik cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal, tingkat kehadiran yang tinggi, serta prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang mengalami permasalahan gizi(Angga et al. 2023).

Usia sekolah dasar merupkan fase penting dalam siklus kehidupan anak, karena pada tahap ini terjadi pertumbuhan fisik yang pesat serta perkembangan kognitif dan sosial yang intensif. Namun, kelompok usia ini juga termasuk kategori yang rentan terhadap berbagai permasalahan gizi, baik kekurangan gizi seperti stunting dan anemia, maupun kelebihan gizi seperti overweight dan obesitas. Permasalahan tersebut sering sekali disebabkan oleh pola makan yang tidak terartur, rendahnya konsumsi makanan bergizi, serta tinggi konsumsi makanan cepat saji dan jajanan yang kurang sehat. (Menurut World Health Organization), pemenuhan gizi yang tepat pada usia anak sangat penting karena berdampak langsung terhadap kesehatan jangkan pendek maupun kualitias kesehatan pada masa dewasa.

Selain itu, rendahnya pemahaman anak mengenai pentingnya gizi seimbang juga menjadi faktor penyebab munculnya permasalah gizi. Ana sering kali belum mampu membedakan natara makanan yang sehat dan tidak sehat, segingga diperlukan upaya edukasi yang tepat sejak dini. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) telah memperkenalkan berbagai program edukasi gizi, seperti konsep “Isi Piringku”, sebagai panduan sederhana untuk membantu anak memahami komposisi makanan sehat yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam proporsi yang seimbang.

Edukasi mengenai konsep Isi Piringku merupakan salah satu metode yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Konsep ini dirancang sebagai panduan sederhana yang mudah dipahami, khususnya bagi anak usia sekolah dasar, dengan menampilkan komposisi makanan yang dianjurkan dalam satu piring makan. Dalam konsep Isi Piringku, setengah bagian piring dianjurkan berisi sayur dan buah yang kaya akan vitamin, mineral, dan serat, sedangkan setengah bagian lainnya terdiri dari makanan pokok sebagai sumber energi dan lauk pauk sebagai sumber protein yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh(Rahmi et al. 2024). Melalui penyajian dalam bentuk visual yang menarik dan mudah dipahami, konsep isi piringku membantu siswa mengenali jenis makanan yang sehat serta memahami proporsi makanan yang tepat untuk di konsumsi setiap hari. Pendekatan visual ini sangat sesuai diterapkan pada anal usia sekolah dasar karena mereka cenderung lebih mudah memahami informasi yang disampaikan melalui gambar dan contoh konkret dibandinfkan dengan pengetahuan teoritis semata.

Selain meningkatkan pengetahuan, edukasi isi piringku juga berperan dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat sejak dini. Kebiasaan makan yang terbentuk pada masa anak-anak cenderung akan terbawa hingga masa remaja dan dewasa. Oleh karena itu, pemberian edukasi gizi melalui konsep isi piringu menjadi langka penting dalam upaya pencegahan berbagai permasalahan gizi, baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi.

 

METODE

Kegiatan edukasi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai gizi seimbang melalui pengenalan konsep Isi Piringku. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara langsung proses pelaksanaan kegiatan edukasi serta respon dan pemahaman siswa setelag mebikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di MI Nurul Huda yang berlokasi di Desa Pangkatrejo, Dusun Slempit, Kecamatan Sugio, Lamongan, dengan peserta kegiatan yaitu siswa kelas 5-6 yang mengikuti kegiatan edukasi gizi.

Tahapan yang dilakukan pertamana yaitu memberikan edukasi dengan memberikan penjelasan mengenai konsep Isi Piringku sebagai panduan makan sehat dan gizi seimbang. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah sederhana yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar, serta didukung dengan media visual seperti poster dan gambar agar siswa lebih mudah memahami meteri yang disampaikan. Selain itu, siswa juga diberikan contoh jenis makanan yang termasuk dalam kategori makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah, sehingga meraka dapat mengenali komposisi makanan yang sehat dan seimbang. Setelah penyampaian metri, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam menyampaikan pendapat, bertanta, serta menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah diberikan. Melalui kegiatan ini, siswa menunjukan antusiasme yang baik dan mampu menjawab beberapa pertanyaan terkait konsep Isi Piringku. Data dalam kegiatan ini diperoleh melalui observasi langsung selama proses edukasi berlangsung, termasuk partisipasi siswa, respon siswa, serta kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menjelaskan hasil kegiatan edukasi dan perubahan pemahaman siswa secara umum setelah diberikan edukasi mengenai konsep Isi Piringku sebagai panduan makan sehat. Diharapkan melalui kegiatn edukasi ini, siswa dapat memahami pentingnya gizi seimbang serta mampu menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Umum MI Nurul Huda Dusun Slempit

Kegiatan edukasi mengenai gizi seimbang melalui pengenalan Isi Piringku dilaksanakan di MI Nurul Huda yang terletak di Dusun Slempit. Sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar, MI Nurul Huda memiliki peran strategis dalam membentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa, termasuk dalam menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai lingkungan yang dapat mendukung pembentukan perilaku positif seperti membiasakan pola makan sehat dan bergizi. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah siswa MI Nurul Huda kelas 5-6. Berdasarkan hasil pengamatan awal, ditemukan bahwa pemahaman siswa mengenai pentingnya gizi seimbang masih belum optimal. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa dalam memilih makanan yang belum memperhatikan kandungan gizinya. Sebagian siswa cenderung lebih menyukai makanan yang memiliki rasa manis dan gurih tanpa mempertimbangkan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, siswa juga belum sepenuhnya memahami bahwa tubuh memerlukan berbagai jenis makanan yang mengandung zat gizi berbeda untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan. Kurangnya pengetahuan ini menyebabkan siswa belum terbiasa menerapkan pola makan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang tepat untuk membantu siswa memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang guna mendukung kesehatan serta proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.

Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok usia yang berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang sangat penting, baik dari aspek fisik, kognitif, maupun sosial. Pada fase ini, anak mengalami pertumbuhan tinggi badan, peningkatan berat badan, serta perkembangan fungsi otak yang berperan dalam kemampuan berpikir, memahami, dan menyerap informasi. Selain itu, pada usia ini anak juga mulai aktif melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan belajar di sekolah maupun aktivitas fisik lainnya, sehingga membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang cukup. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan yang optimal, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menunjang kemampuan belajar, konsentrasi, dan prestasi siswa di sekolah.

Asupan gizi yang seimbang terdiri dari berbagai jenis zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai zat pembangun dan perbaikan jaringan tubuh, serta vitamin dan mineral yang berperan dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila kebutuhan zat gizi tersebut tidak terpenuhi dengan baik, maka dapat berdampak pada kondisi kesehatan anak, seperti tubuh menjadi mudah lelah, menurunnya daya tahan tubuh, serta terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, kondisi gizi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam mengikuti proses pembelajaran, seperti menurunnya konsentrasi, kurangnya semangat belajar, serta menurunnya prestasi akademik(Fauziah 2023).

Tingkat Pemahaman Awal Siswa tentang Gizi Seimbang dan Isi Piringku

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan terhadap siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit, diperoleh gambaran tingkat pemahaman siswa mengenai konsep Gizi Seimbang dan pedoman Isi Piringku masih tergolong sangat rendah. Sebagian besar siswa belum mampu menjelaskan pengertian gizi seimbang secara tepat serta belum memahami pentingnya mengonsumsi makanan dengan komposisi yang lengkap dan seimbang dalam satu kali makan. Siswa pada umumnya hanya mengenal makanan pokok sebagai sumber utama energi, tanpa memperhatikan keberadaan komponen lain seperti lauk pauk, sayur dan buah yang juga memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Terdapat anggapan di kalangan siswa bahwa makan dalam jumlah yang banyak sudah cukup memenuhi kebutuhan tubuh, tanpa memperhatikan kualitas dan kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi. Pandangan tersebut menunjukan bahwa siswa belum memahami prinsip dasar gizi seimbang, yaitu tidak hanya memperhatikan kuanlitas makanan tetapi juga memperhatikan kelengkapan dan keseimbangan zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Tingkat pemahaman siswa mengenai konsep gizi seimbang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah masih terbatasnya edukasi atau penyuluhan mengenai gizi seimbang yang diterima oleh siswa baik dilingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga. Kurangnya penyampaian informasi secara khusus mengenai pentingnya komposisi makanan yang seimbang menyebabkan siswa belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang prinsip-prinsip gizi seimbang dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Faktor lainnya yang turut mempengaruhi adalah kebiasaan makan sehari-hari siswa yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip gizi seimbang. Sebagian siswa masih terbiasa mengonsumsi makanan tanpa memperhatikan kelengkapan unsur gizi, khususnya konsumsi sayur dan buah. Banyak siswa yang belum menjadikan sayur dan buah sebagai bagian penting dari menu harian mereka, sehingga asupan zat gizi penting seperti vitamin, mineral dan serat belum terpenuhi secara optimal. Kondisi tersebut menunjukan bahwa diperlukan upaya edukasi yang tepat dan berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa dalam menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Pelaksanaan Kegiatan Edukasi Isi Piringku

Pelaksanaan kegiatan edukasi Isi Pirinku merupakan salah satu tahapan penting dalam upaya menanamkan pemahaman tentang gizi seimbang pada anak sejak usia sekolah dasar. Edukasi ini tidak hanya bertujuan untuk menambah pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk kesadaran sejak dini mengenai pentingnya memilik dan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat siswa sekolah dasar berada pada tahap perkembangan kognitif yang masih membutuhkan contoh konkret dan media visual, maka kegiatan dirancang dengan pendekatan yang terstruktur, sistematis, dan sesuai dengan karaktristik peserta didik(Ridzal et al. 2024).

Kegiatan edukasi mengenai Isi Piringku dilaksanakan di MI Nurul Huda yang berlokasi di Dusun Slempit dengan sasaran siswa kelas 5-6 sebagai peserta kegiatan. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai pentingnya gizi seimbang serta komposisi makanan yang sesuai dengan pedoaman Isi Piringku. Kegiatan edukasi dilaksanakan secara langsung di dalam kelas dengan suasana yang interaktif dan disesuaikan dengan karakteristil siswa sekolah dasar.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap pembukaan, yaitu pengenalan materi dan pemberian pertanyaan awal kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka tentang gizi seimbang dan Isi Piringku. Pada tahap ini, siswa terlihat antusias dalam menjawab pertanyaan, meskipun sebagian besar belum memahami konsep tersebut secara tepat. Tahap ini bertujuan untuk membangun interaksi awal dan mempersiapkan siswa dalam menerima materi edukasi.

Selanjutnya, dilakukan penyampaian materi mengenai gizi seimbang dan konsep Isi Piringku. Materi yang diberikan meliputi pengertian gizi seimbang, pentingnya mengonsumsi makanan bergizi bagi kesehatan dan pertumbuhan serta penjelasan mengenai komponen Isi Piringku terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah dengan proporsi yang seimbang. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah interaktif dengan bantuan media visual beruapa gambar dan poster Isi Piringku untuk memudahlan siswa dalam memahami materi yang disampaikan.

Selain penyampaian materi, kegiatan edukasi juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengajukan pertanyaan dan memperdalam pemahaman mereka. Kegiatan edukasi kemudian dilanjutkan dengan sesi permainan edukatif berupa aktivitas mewarnai, menggunting, dan menempel gambar yang berkaitan dengan konsep “Isi Piringku”. Dalam kegiatan ini, siswa diminta untuk mewarnai dan menyusun gambar sesuai dengan komponen makanan bergizi seimbang. Siswa yang mampu menyelesaikan kegiatan dengan hasil yang rapi dan baik diberikan apresiasi berupa hadiah, yaitu satu set alat tulis dan makanan ringan. Pemberian hadiah bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan. Kegiatan permainan edukatif ini merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar, karena menggabungkan unsur belajar dan bermain. Melalui metode ini, siswa dapat memahami konsep Isi Piringku dengan cara yang lebih menyenangkan, interaktif, dan mudah dipahami. Selain itu, kegiatan ini juga membantu meningkatkan minat, kreativitas, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik.

Kegiatan edukasi diakhiri dengan penyerahan hadiah kepada siswa yang berhasil memenangkan permainan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil kerja mereka. Pemberian hadiah ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar serta memberikan pengalaman positif kepada siswa selama mengikuti kegiatan edukasi. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto sebagai bentuk dokumentasi serta kenang-kenangan atas pelaksanaan edukasi Isi Piringku di MI Nurul Huda Dusun Slempit.

                                   

Gambar 1. Pembukaan dan materi  Tanya Jawab

      

Gambar 2. Game Mewarnai, Menggunting, Menempel

 

a)    Hasil Pemahaman Siswa Setelah Edukasi Isi Piringku

Setelah pelaksanaan egiatan mengenai konsep Isi Piringku, terjadi peningkatan pemahaman siswa MI Nurul Huda terkait pentingnya gizi seimbang. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali pengertian Isi Piringku serta menyebutkan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya, yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah-buahan. Sebagian besar siswa sudah mampu memahami bahwa setiap komponen makanan tersebut mamiliki peran penting dalam kebutuhan gizi tubuh.

Selain itu, setelah mengikuti kegiatan edukasi, siswa mulai menunjukan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan seimabang. Mereka tidak lagi hanya memusatkan perhatian pada makanan pokok dan lauk pauk sebagai sumber utama asupana sehari-hari, tetapi juga menyadari bahwa sayur dan buah merupakan komponen penting yang harus dikonsumsi secara rutin. Peningkatan pemahaman ini terlihat dari hasil sesi tanya jawab dan evaluasi terakhir, dimana siswa mampu menjawab pertanyaan dengan lebih tepat, lengkap dibandingkan sebelum diberikan edukasi. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan pada aspek pemahaman siswa terkait konsep gizi seimbang. Selain itu, siswa juga mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya memilih makanan yang sehat untuk menjaga daya tahan tubuh, menunjnag pertumbuhan, serta menudukung aktivitas belajar mereka di sekolah(Rahmy et al. 2020).

Peningkatan pemahaman siswa juga tercermin dari tingkat partisipasi selama kegiatan berlangsung. Siswa tampak lebih antusias dan terlibat secara langsung, terutama pada saat pelaksanaan permainan edukatif berupa kegiatan mewarnai, menggunting, dan menempel gambar yang berkaitan dengan konsep Isi Piringku. Melalui aktivitas tersebut, siswa dapat mengidentifikasi dan menyusun komponen makanan sesuai dengan proporsi yang dianjurkan secara konkret dan visual. Pendekatan pembelajaran yang bersifat interaktif dan menyenangkan ini terbukti membantu siswa dalam memahami materi secara lebih mudah serta memperkuat daya ingat mereka terhadap informasi yang telah diberikan.

Pelaksanaan edukasi Isi Piringku memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai prinsip gizi seimbang. Siswa tidak hanya mampu menyebutkan komponen Isi Piringku, tetapi juga memahami fungsi masing-masing kelompok makanan bagi kesehatan. Selain itu, terjadi perubahan cara pandang siswa terhadap pola makan sehat. Mereka mulai menyadari bahwa kebutuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga oleh kelengkapan dan keseimbangan zat gizi di dalamnya. Dengan demikian, edukasi ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran awal untuk menerapkan pola makan bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

b)   Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan Edukasi

Pelaksanaan edukasi Isi Piringku pada siswa MI Nurul Huda tidak terlepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilan kegiatan. Faktor-faktor ini penting untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program serta sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.

a.    Faktor Pendukung

Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan edukasi antara lain:

1.    Metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan

Penggunaan media visual, sesi tanya jawab, serta permainan eduktif seperti mewarnai, menggunting, dan menempel gambar Isi Piringku membuat siswa lebih antusias dan mudah memahami materi.

2.    Karakteristik siswa usia sekolah dasar

Anak usia sekolah dasar cenderung mudah menerima informasi baru apabila disampaikan dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual. Hal ini membantu proses internalisasi konsep gizi seimbang menjadi lebih optimal.

3.    Dukungan pihak sekolah

Kerja sama dari guru dan pihak sekolah turut mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan, baik dalam pengaturan waktu maupun pengondisian siswa selama kegiatan berlangsung.

4.    Materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

Konsep Isi Piringku berkaitan langsung dengan pola makan harian siswa, sehingga materi terasa dekat dan mudah dipahami.

b.    Faktor penghambat

Adapun beberapa kendala yang ditemui selama pelaksanaan kegiatan anatara lain:

1.    Keterbatasan waktu pelaksanaan

Waktu yang relatif singkat membuat penyampaian materi harus disesuaikan agar tetap efektif dan tidak terlalu padat.

2.    Perbedaan tingkat pemahaman siswa

Setiap siswa memiliki kemampuan menerima informasi yang berbeda, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih variatif agar semua siswa dapat memahami materi secara merata.

3.    Kebiasaan makan yang telah terbentuk sebelumnya

Beberapa siswa sudah terbiasa dengan pola makan tertentu yang kurang memeperhatikan prinsip gizi seimbang, sehingga perubahan pemahaman memerlukan proses yang berkelanjutan.

c)    Keterkaitan Teori

Berdasarkan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget (Marinda 2020), siswa usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, yaitu tahap dimana anak lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung, media visual, dan aktivitas yang bersifat nyata. Hal ini sesuai dengan metode yang saya gunakan dalam edukasi Isi Piringku, yaitu melalui media gambar, penjelasan visual, serta kegiatan mewarnai, menggunting, dan menempel. Pendektan tersebut membantu siswa memahami konsep gizi seimbang secra leboh konkret dan mudah diingat.

Selain itu, pemberian edukasi melalui media yang menarik dan interaktif terbukti mampu meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pemahaman setelah dilakukan kegiatan edukasi. Sejalan dengan kegiatan yang saya laksanakan di MI Nurul Huda, setelah diberikan edukasi, siswa mampu menjelaskan kembali komposisi Isi Piringku dengan lebih lengkap dan tepat, serta menunjukkan pemahaman yang lebih baik saat sesi tanya jawab dan evaluasi.

 

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan edukasi Isi Piringku di MI Nurul Huda Dusun Slempit, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep gizi seimbang. Sebelum pelaksanaan edukasi, sebagian besar siswa belum memahami secara tepat pengertian gizi seimbang maupun komposisi Isi Piringku yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah dengan proporsi yang sesuai. Setelah diberikan edukasi melalui metode ceramah interaktif, media visual, serta permainan edukatif, terjadi peningkatan pemahaman yang terlihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali materi dan menjawab pertanyaan dengan lebih tepat.

Edukasi yang disampaikan secara terstruktur, menarik, dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar terbukti efektif dalam membantu siswa memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan seimbang. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran awal siswa mengenai pentingnya memilih makanan sehat untuk mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta menunjang aktivitas belajar di sekolah.

 

REFERENSI

Angga, Prayogi Dwina, Muhammad Makki, Gita Prima Putra, Dyah Indraswati, Program Studi, Pendidikan Guru, Sekolah Dasar, And Universitas Mataram. 2023. “Pregi ( Program Edukasi Gizi Dan Aktivitas Fisik ): Peningkatan Pemahaman Perilaku Hidup Sehat” 3 (2): 111–25.

Fauziah, Dini. 2023. “Penerapan Asupan Gizi Seimbang Untuk Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Di Ra Tunas Harapan Ranca Emas,” No. 2: 67–74.

Kementrian Kesehatan, Https://Ayosehat.Kemkes.Go.Id/Leaflet-Informasi-Isi-Piringku

Marinda, Leny. 2020. “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Problematikanya Pada Anak Usia Sekolah Dasar.” Jurnal Kajian Perempuan& Keislaman 13: 116–52.

Rahmi, Cut, Rasima Rasima, Hilma Yasni, And Asmanidar Asmanidar. 2024. “Edukasi Gizi Melalui Leaflet ‘ Isi Piringku ’ Dalam Upaya Pencegahan Obesitas Pada Mahasiswa Di Poltekkes Kemenkes Aceh Prodi Keperawatan Aceh Selatan” 4 (Riskesdas 2018): 1–6.

Rahmy, Hafifatul Auliya, Nurul Prativa, Rahmania Andrianus, Fakultas Kesehatan, And Masyarakat Universitas. 2020. “Edukasi Gizi Pedoman Gizi Seimbang Dan Isi Piringku Pada Anak Sekolah Dasar Negeri 06 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman, 3 (2): 162–72.

Ridzal, Dewi Asriani, Veni Rosnawati, Program Studi, Pendidikan Biologi, Universitas Muslim Buton, And Universitas Muslim Buton. 2024. “Edukasi Makanan Dan Jajanan Sehat Serta Bergizi Pada Anak Sekolah Dasar” 3 (2): 87–92. Https://Doi.Org/10.37905/Ljpmt.V3i2.26477.

World Health Organization, Https://Www.Who.Int/Health-Topics/Nutrition

 

Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia

Volume 4, Nomor 11,  February 2026, P. 6-13

Licenced by CC BY-SA 4.0

e-ISSN: 2986-7002

DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18759007