Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village
Musa Hefer Smas1*, Tri Handayani2, Meggy Merlin Mokay3
Abstrak
Revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya strategis
dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat di tengah arus
globalisasi. Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua mengalami
penurunan penggunaan, terutama pada generasi muda akibat dominasi bahasa
Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
bertujuan untuk memperkuat peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi
bahasa Biak melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan
kontekstual di Kampung Dwar. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi
masalah, sosialisasi, pelatihan, pendampingan keluarga, dan evaluasi. Hasil
kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik peserta, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman, perubahan
sikap, serta keterampilan berbahasa anak-anak. Selain itu, terbentuk kebiasaan
penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi
bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga
memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi. Dengan demikian,
pendekatan pendampingan berbasis keluarga terbukti efektif sebagai model
revitalisasi bahasa daerah yang berkelanjutan dan berpotensi untuk direplikasi
di komunitas lain dengan karakteristik serupa.
Kata kunci: bahasa Biak; keluarga;
pendampingan; revitalisasi bahasa
Abstract
The revitalization of regional languages is a
strategic effort to preserve the continuity of cultural identity amid
globalization. The Biak language, as one of the regional languages in Papua,
has experienced a decline in usage, particularly among the younger generation,
due to the dominance of the Indonesian language in daily communication. This
community service activity aims to strengthen the role of the family as the
primary agent in the revitalization of the Biak language through a
participatory and contextual mentoring approach in Dwar Village. The
implementation method includes stages of problem identification, socialization,
training, family mentoring, and evaluation. The results of the activity
indicate improvements in the cognitive, affective, and psychomotor aspects of
participants, as evidenced by increased understanding, changes in attitudes,
and enhanced language skills among children. In addition, a habit of using the
Biak language within the family environment has been established as a form of
language internalization in daily life. These findings confirm that the family
plays a strategic role in intergenerational language transmission. Therefore, a
family-based mentoring approach has proven effective as a sustainable model for
regional language revitalization and has the potential to be replicated in
other communities with similar characteristics.
Keywords: Biak language; family; mentoring; language revitalization
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan bagian dari
kebudayaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, serta pewarisan
nilai-nilai sosial suatu masyarakat. Bahasa daerah tidak hanya berperan sebagai
alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas budaya dan penentu
keberlangsungan nilai serta jati diri suatu komunitas (Suhassatya, 2025; Salam
& Hunava, 2024). Dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia,
bahasa daerah memiliki posisi strategis sebagai penanda identitas etnis
sekaligus sebagai medium transmisi pengetahuan lokal. Namun demikian, fenomena
globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa (language
shift) yang berdampak pada menurunnya penggunaan bahasa daerah (Sari
et.al., 2025).
Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa
daerah di Papua menghadapi ancaman serius terkait keberlanjutannya. Generasi
muda cenderung lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia bahkan dalam
interaksi sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan adanya gejala penurunan
vitalitas bahasa (language vitality) yang apabila tidak segera
diintervensi dapat mengarah pada kepunahan bahasa. Pergeseran ini menegaskan
bahwa pemertahanan bahasa sangat bergantung pada praktik penggunaan sehari-hari
serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaganya (Putri et al., 2025).
Menurut Fishman (1991), keberhasilan
revitalisasi bahasa sangat ditentukan oleh keberadaan domain penggunaan bahasa,
khususnya dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan ruang sosial pertama di
mana anak memperoleh bahasa (first language acquisition). Apabila
bahasa daerah tidak digunakan dalam keluarga, maka peluang keberlanjutan bahasa
tersebut menjadi sangat kecil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa
pemertahanan bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan institusional, tetapi
juga pada komitmen aktif penutur dalam mempertahankan praktik kebahasaan
sebagai bagian dari identitas budaya (Ekarina & Apriyani, 2026).
Permasalahan di Kampung Dwar
menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Biak secara aktif dalam
komunikasi sehari-hari. Orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia
dengan alasan kemudahan dan tuntutan pendidikan formal. Akibatnya, anak-anak
mengalami keterbatasan dalam memahami dan menggunakan bahasa Biak. Kondisi ini juga
diperkuat oleh temuan bahwa pembelajaran bahasa daerah yang kurang efektif
dapat menyebabkan rendahnya keterampilan berbahasa pada anak (Diu et.al., 2022).
Selain itu, kurangnya program edukasi
berbasis komunitas serta minimnya media pembelajaran bahasa Biak turut memperparah kondisi
tersebut. Padahal, pemertahanan bahasa dapat berlangsung secara efektif melalui
berbagai praktik sosial dan kultural yang melibatkan masyarakat secara aktif,
termasuk dalam ruang-ruang sosial seperti keluarga dan kegiatan komunitas
(Suriyani et al., 2025). Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang tidak
hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual.
Lebih lanjut, revitalisasi bahasa
daerah tidak hanya dipahami sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai
proses adaptasi agar bahasa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika sosial
masyarakat (Sembiring & Lestari, 2024). Sesuai dengan
masalah yang terjadi di Kampung Dwar, maka strategi revitalisasi perlu dirancang secara sistematis
dengan melibatkan keluarga sebagai agen utama dalam transmisi bahasa.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang dengan fokus pada penguatan peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya pelestarian bahasa Biak; (2) meningkatkan kompetensi dasar berbahasa Biak pada anak-anak; (3) membangun kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga; dan (4) mengembangkan model pendampingan berbasis keluarga dalam revitalisasi bahasa.
METODE
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Dwar yang terletak di Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, dan Provinsi Papua dengan menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach). Pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kegiatan.
Tahapan Pelaksanaan
a. Identifikasi Masalah:
Tahap ini dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan
tokoh masyarakat dan keluarga. Hasil identifikasi menunjukkan rendahnya
penggunaan bahasa Biak dalam keluarga.
b. Sosialisasi Program:
Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya pelestarian bahasa daerah. Kegiatan ini melibatkan diskusi
interaktif dan penyampaian materi edukatif.
c. Pelatihan bahasa Biak:
Pelatihan difokuskan pada penguasaan kosakata dasar, ungkapan sehari-hari, dan
praktik komunikasi sederhana dalam Bahasa Biak.
d. Pendampingan Keluarga:
Pendampingan dilakukan secara langsung di lingkungan keluarga dengan memberikan
bimbingan penggunaan bahasa Biak dalam aktivitas sehari-hari.
e.
Evaluasi: Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test
dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman serta observasi perubahan
perilaku berbahasa.
Subjek dan
Mitra Kegiatan
Subjek
kegiatan dalam pengabdian ini adalah 20 keluarga yang berdomisili di Kampung
Dwar dan memiliki anak usia sekolah dasar sebagai sasaran utama dalam proses
revitalisasi bahasa. Pemilihan subjek didasarkan pada pertimbangan bahwa
keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran strategis dalam
transmisi bahasa antargenerasi, khususnya dalam pemerolehan bahasa pertama pada
anak.
Adapun mitra
kegiatan dalam program ini adalah masyarakat lokal dan tokoh adat setempat yang
berperan sebagai fasilitator sosial sekaligus penjaga nilai-nilai budaya.
Keterlibatan mitra ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan program,
karena mereka memiliki otoritas kultural dan kedekatan sosial dengan
masyarakat, sehingga mampu memperkuat legitimasi serta keberlanjutan kegiatan
revitalisasi Bahasa Biak di lingkungan komunitas.
Indikator Keberhasilan
Dalam kegiatan pengabdian ini ditentukan berdasarkan beberapa aspek utama, yaitu (1) peningkatan skor pemahaman bahasa Biak yang diukur melalui hasil pre-test dan post-test, (2) peningkatan frekuensi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga, (3) tingkat partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung, dan (4) perubahan sikap peserta terhadap bahasa daerah, khususnya dalam hal kesadaran dan komitmen untuk menggunakan serta melestarikan bahasa Biak sebagai bagian dari identitas budaya.
HASIL,
PEMBAHASAN, DAN DAMPAK
Pelaksanaan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Dwar menunjukkan capaian yang
signifikan dalam berbagai aspek, meliputi dimensi kognitif, afektif, dan
psikomotorik peserta. Temuan ini diperoleh melalui kombinasi instrumen evaluasi
berupa pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta wawancara
terbimbing terhadap peserta kegiatan. Secara umum, hasil kegiatan tidak hanya
menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa, tetapi juga perubahan sikap
dan terbentuknya kebiasaan baru dalam penggunaan bahasa Biak di lingkungan
keluarga.
Gambar 1. Interaksi anak dan orang tua dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk praktik penggunaan bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar.
Pada aspek
kognitif, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta
mengenai bahasa Biak secara signifikan. Peningkatan ini ditandai dengan
bertambahnya pemahaman terhadap kosakata dasar, struktur kalimat sederhana,
serta fungsi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari. Peserta tidak
hanya mampu mengenali unsur-unsur dasar bahasa, tetapi juga mulai memahami
penggunaannya dalam konteks yang lebih nyata dan fungsional. Capaian ini
menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan mampu
memberikan kontribusi positif terhadap penguatan pengetahuan peserta, sekaligus
mencerminkan efektivitas pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan
kontekstual yang dipadukan dengan praktik langsung dapat memudahkan peserta
dalam memahami dan menginternalisasi bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sisi
afektif, kegiatan ini berhasil mendorong perubahan sikap yang cukup signifikan,
terutama pada kalangan orang tua. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar
peserta memiliki persepsi bahwa penggunaan bahasa daerah kurang relevan dengan
kebutuhan modern, terutama dalam konteks pendidikan formal dan mobilitas
sosial. Namun, setelah mengikuti rangkaian kegiatan pendampingan, terjadi
pergeseran cara pandang yang positif. Orang tua mulai menyadari bahwa Bahasa
Biak memiliki fungsi yang lebih luas, tidak hanya sebagai alat komunikasi,
tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan identitas etnis. Perubahan
ini ditandai dengan meningkatnya komitmen orang tua untuk kembali menggunakan
bahasa Biak dalam interaksi keluarga dengan anak-anak.
Pada aspek
psikomotorik, peningkatan keterampilan berbahasa terlihat dari kemampuan
anak-anak dalam menggunakan kosakata dasar dan ungkapan sederhana dalam bahasa
Biak. Anak-anak mulai mampu merespons percakapan sehari-hari dan terlibat dalam
interaksi verbal menggunakan bahasa Biak. Peningkatan keterampilan ini tidak
terlepas dari metode pendampingan yang menekankan praktik langsung, seperti
dialog sederhana dan interaksi rutin dalam keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa
pendekatan belajar dan praktik langsung lebih efektif dalam meningkatkan
kompetensi berbahasa dibandingkan pendekatan teoritis semata.
Selain
peningkatan pada tiga aspek utama tersebut, capaian penting lainnya adalah
mulai terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga.
Pembentukan kebiasaan ini merupakan indikator penting dalam keberhasilan
revitalisasi bahasa, karena menunjukkan adanya proses internalisasi nilai dan
praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini juga berpotensi
menjadi strategi berkelanjutan dalam menjaga eksistensi bahasa Biak di tengah
tekanan globalisasi dan dominasi bahasa nasional.
Secara
teoretis, temuan dalam kegiatan ini memperkuat pandangan Fishman (1991) yang
menekankan pentingnya domain keluarga dalam upaya mempertahankan dan
merevitalisasi bahasa. Dalam konsep Reversing Language Shift, keluarga
dipandang sebagai ruang utama dalam transmisi bahasa antargenerasi. Hasil
kegiatan ini menunjukkan bahwa ketika keluarga mulai aktif menggunakan bahasa
Biak, anak-anak secara alami akan menyerap dan menginternalisasi bahasa
tersebut melalui interaksi sehari-hari.
Lebih lanjut,
pendekatan pendampingan yang digunakan dalam kegiatan ini terbukti lebih
efektif dibandingkan metode konvensional seperti ceramah. Pendampingan
memungkinkan terjadinya proses belajar yang bersifat partisipatif, kontekstual,
dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif,
tetapi juga terlibat aktif dalam praktik penggunaan bahasa dalam situasi nyata.
Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan
bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung.
Dari
perspektif pembelajaran sosial, keterlibatan orang tua sebagai role model
memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan program.
Anak-anak cenderung meniru pola bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam
kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar. Oleh karena itu, konsistensi orang tua
dalam menggunakan bahasa Biak menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses
pemerolehan bahasa pada anak di lingkungan keluarga.
Namun
demikian, implementasi program ini tidak terlepas dari berbagai kendala.
Keterbatasan waktu pendampingan menjadi salah satu tantangan dalam memastikan
keberlanjutan program. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kemampuan peserta
yang memengaruhi kecepatan adaptasi terhadap materi yang diberikan. Faktor
eksternal, seperti dominasi penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sosial
yang lebih luas, juga menjadi hambatan dalam optimalisasi penggunaan bahasa
Biak.
Meskipun menghadapi berbagai kendala, secara keseluruhan kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga merupakan strategi yang efektif dan relevan dalam revitalisasi bahasa daerah, khususnya dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami pergeseran bahasa. Lebih lanjut, hasil ini juga membuka peluang untuk pengembangan model pengabdian berbasis komunitas yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi adat, dalam upaya pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan.
SIMPULAN
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Dwar menunjukkan
bahwa penguatan peran keluarga melalui pendekatan pendampingan berbasis
partisipatif dan kontekstual merupakan strategi yang efektif dalam revitalisasi
bahasa Biak. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan peserta dalam menggunakan bahasa Biak, yang tercermin dalam aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, kegiatan ini juga mampu
mendorong terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan
keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini
menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis sebagai domain utama dalam
transmisi bahasa antargenerasi, sehingga menjadi kunci dalam upaya pemertahanan
dan revitalisasi bahasa daerah. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti
keterbatasan waktu pendampingan dan pengaruh lingkungan eksternal, secara
keseluruhan program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap
peningkatan kesadaran dan praktik berbahasa masyarakat.
Oleh karena
itu, model pendampingan berbasis keluarga yang dikembangkan dalam kegiatan ini
dapat direkomendasikan sebagai pendekatan yang berkelanjutan dalam pelestarian
bahasa daerah, serta berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan
karakteristik yang serupa, dengan dukungan berbagai pihak seperti pemerintah,
lembaga pendidikan, dan institusi adat.
REFERENSI
Diu, A.R., Rahmat, A., & Duludu, U. (2022). Pelestarian bahasa daerah
Gorontalo dalam aktivitas belajar anak usia dini di Desa Lemito Utara Kecamatan
Lemito. Student Journal of Early Childhood Education. https://ejournal-fipung.ac.id/ojs/index.php/SJCE/article/
view/904
Ekarina., & Apriyani, M. (2026). Bahasa dan budaya Jawa di gereja
Katolik: Pemertahanan dan identitas. Linguistik Indonesia. http://ojs.linguistikindonesia.org/index.php/linguis
tikindonesia/article/view/951
Fishman, Joshua. (1991). Reversing
language shift: Theoretical and empirical foundations
of assistance to threatened languages. Multilingual
Matters. https://doi.org/10.21832/
9781800418097
Putri, M., Faunelzi, M., Misriani, A., & Iskandar, Z. (2025). Pemertahanan
bahasa Bali di lingkungan masyarakat Desa Suro Bali di Kabupaten Kepahiang.
e-theses IAIN Curup. http://e-theses.iaincurup.ac.id/id/eprint/8738
Salam, L. F., & Hunava, N. (2024). Menjaga bahasa, merawat bangsa:
Strategi pelestarian bahasa daerah. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikankreatif.com/index.php/
BASAYA/article/view/43
Sari, I. P., Insani, N. N., & Ridha, M. R. (2025). Ancaman pergeseran
bahasa daerah dan dampaknya terhadap keberlanjutan warisan budaya di era
global. Menulis: Jurnal Penelitian. https://padangjurnal.web.id/index.
php/menulis/article/view/236
Sembiring, R. P. B., & Lestari, F. A. (2024). Revitalisasi bahasa
daerah dalam era globalisasi antara pelestarian dan modernisasi. Jurnal
Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikan
kreatif.com/index.php/BASAYA/article/view/46
Suhassatya, G. K. (2025). Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dalam
perspektif bahasa sebagai identitas budaya. Jurnal Pendidikan Sosial dan
Humaniora. https://publisherqu. com/index.php/pediaqu/article/view/2062
Suriyani, E., Suparmanto, & Akmaluddin. (2025). Bahasa Sasak dalam
ekspresi keberagamaan masyarakat Islam Lombok. Journal of Arabic Linguistics
and Literature. https://unissa.edu.bn/journal/index.php/jall/article/view/
1037