Design and Development of a Project-Based Learning (PJBL) LMS to Improve
the Competence of Junior Network Administrators among Grade XI Students at SMK
Ketintang Surabaya
Akhdany Ichsar Al-Hamam, I Gusti Lanang Putra Eka Prismana
Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.
Email: akhdany.21038@mhs.unesa.ac.id
Abstrak
Dilatarbelakangi oleh rendahnya
keaktifan serta kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran, serta
kurang optimalnya pemanfaatan teknologi oleh guru, penelitian ini bertujuan
untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Learning Management System (LMS)
berbasis Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan kompetensi Junior
Network Administrator pada mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel
siswa kelas XI SMK Ketintang Surabaya. Metode yang digunakan adalah Research
and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis,
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri
dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan pengumpulan data melalui
validasi ahli, tes hasil asesmen, serta kuesioner berbasis Technology
Acceptance Model (TAM) yang mencakup Perceived Usefulness dan Perceived Ease of
Use. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LMS berbasis PjBL memiliki tingkat
validitas sangat tinggi sebesar 90,6% serta mampu meningkatkan hasil asesmen
siswa secara signifikan, ditunjukkan oleh perbedaan rata-rata nilai antara
kelas kontrol (72,5) dan eksperimen (87,1) serta hasil uji Mann-Whitney U
dengan signifikansi <0,05. Meskipun terdapat hubungan positif antara
Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use, keduanya tidak berpengaruh
signifikan terhadap peningkatan hasil asesmen. Dengan demikian, LMS berbasis
PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, namun penerimaan
teknologi tidak memberikan pengaruh langsung terhadap peningkatan tersebut.
Kata kunci: Learning
Management System, Project-Based Learning,
Junior Network Administrator
Abstract
Motivated
by the low level of student participation and creative thinking skills in
learning, as well as the suboptimal use of technology by teachers, this study
aims to develop and examine the feasibility of a Project Based Learning
(PjBL)-based Learning Management System (LMS) to improve the Junior Network
Administrator competency in the Wired and Wireless Network Technology subject
for Grade XI students at SMK Ketintang Surabaya. This study employs a Research
and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consist of the
stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The
research subjects were divided into an ecxperimental class and a control class,
with data collected through expert validation, learning outcome test, and
questionnaires based on the Techmology Acceptance Model (TAM), including
Perceived of Usefulness and Perceived Ease of Use variabels. The result
indicate that the PjBL-based LMS has a very hugh validity level of 90.6% and is
effective in significantly improving students’ learning outcomes, as shown by
the difference in avarage scores between the control class (72.5) and the
experimental class (87.1), as well as the Mann-Whitney U test
result with a significance value of <0.05. Althought
there is a positive relationship
between Perceived of Usefulness and Perceived Ease of Use. Both variabels do
not have a significant effect on the improvement of learning outcomes.
Therefore, it can be concluded that the implementation of a PjBL-based LMS is effective
in improving students’ learning outcomes; however, technology acceptance does
not have a direct effect on these improvements.
Keywords: Learning Management System,Project-Based Learning, Junior Network Administrator
PENDAHULUAN
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah membawa perubahan
signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan.
Transformasi digital menuntut sistem pendidikan untuk mampu beradaptasi dengan
kebutuhan abad ke-21 yang menekankan pada penguasaan keterampilan berpikir
kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Dalam konteks pendidikan
kejuruan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tuntutan tersebut semakin
kompleks karena lulusan tidak hanya diharapkan memiliki pemahaman konseptual,
tetapi juga keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan
industri. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu
mengintegrasikan teknologi secara efektif untuk meningkatkan kualitas proses
dan hasil belajar siswa.
Pada
program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), khususnya pada mata
pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel, siswa dituntut untuk menguasai
kompetensi sebagai Junior Network Administrator. Kompetensi ini mencakup
kemampuan dalam merancang, mengelola, serta memecahkan permasalahan jaringan
komputer secara sistematis. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa proses
pembelajaran yang berlangsung masih didominasi oleh metode konvensional yang
berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam menerima materi, kurang
terlibat dalam diskusi, serta belum optimal dalam mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya hasil asesmen dan
kurangnya kesiapan siswa dalam menghadapi tuntutan dunia kerja.
Permasalahan
tersebut juga diperkuat oleh keterbatasan penggunaan media pembelajaran digital
yang mampu memfasilitasi pembelajaran secara terstruktur, interaktif, dan
fleksibel. Meskipun beberapa sekolah telah mulai memanfaatkan teknologi,
implementasinya belum sepenuhnya mendukung pembelajaran berbasis praktik dan
proyek. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep teoritis.
Oleh karena itu, diperlukan suatu media pembelajaran yang tidak hanya berfungsi
sebagai lingkungan belajar yang mampu mendorong keterlibatan aktif siswa.
Salah
satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan Learning Management System
(LMS). LMS merupakan platform pembelajaran digital yang memungkinkan
pengelolaan materi, aktivitas belajar, serta evaluasi secara terintegrasi dan
fleksibel. Penggunaan LMS dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui
penyediaan akses belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu. Namun,
keberhasilan implementasi LMS sangat bergantung pada desain pembelajaran yang
digunakan. LMS yang tidak dirancang dengan pendekatan pedagogis yang tepat
cenderung hanya menjadi media penyimpanan materi tanpa memberikan dampak
signifikan terhadap peningkatan kompetensi siswa.
Untuk
mengatasi hal tersebut, pendekatan Project-Based Learning (PjBL) dapat
diintegrasikan ke dalam LMS. PjBL merupakan model pembelajaran yang berfokus
pada penyelesaian proyek sebagai sarana untuk membangun pengetahuan dan
keterampilan siswa. Melalui PjBL, siswa didorong untuk aktif dalam mencari
informasi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyelesaikan permasalahan yang
bersifat kontekstual dan autentik. Pendekatan ini dinilai efektif dalam
meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan pemecahan
masalah yang sangat dibutuhkan dalam bidang jaringan komputer.
Berdasarkan
uraian tersebut, penelitian ini memiliki nilai kebaruan pada pengembangan
Learning Management System berbasis Project-Based Learning yang dikombinasikan
dengan pendekatan Technology Acceptance Model dalam konteks pembelajaran
jaringan komputer di SMK. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LMS yang
layak digunakan serta menganalisis efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi
Junior Network Administrator siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran digital yang
inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan kejuruan di era
digital.
METODE
Desain Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan
pendekatan kuantitatif. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang
terdiri dari lima tahap, yaitu analysis, design, development, implementation,
dan evaluation. Model ini dipilih karena bersifat sistematis dan sesuai untuk
pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi. Selain pengembangan pada
model ADDIE, efektivitas Learning Management System (LMS) juga akan
diuji menggunakan angket yang dinilai siswa sebagai pengguna menggunakan
variabel Technology Acceptance Model (TAM)
Subjek dan Konteks Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di SMK dengan subjek siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer dan
Jaringan (TKJ) yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning
dan diharapkan dapat menghasilkan perbedaan signifikan dengan kelas kontrol,
sedangkan kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional.
Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu validasi ahli untuk menilai
kelayakan LMS, tes hasil kompetensi untuk mengukur kompetensi siswa dengan tes
kognitif dan psikomotorik yang dilandasi dengan PjBL, serta angket berbasis
Technology Acceptance Model (TAM) untuk mengetahui tingkat penerimaan teknologi
yang digunakan siswa untuk kegiatan belajar.
Teknik Analisis Data
Teknik
analisis data dilakukan dengan beberapa tahap secara kuantitatif menggunakan
perangkat lunak statistik. Sebelum mengolah data kompetensi siswa, instrumen
penelitian yaitu media, materi dan soal pembelajaran, serta modul ajar diujikan
pada ahli sesuai bidangnya dan menghasilkan nilai validitas media. Data hasil
tes kompetensi siswa diuji normalitasnya untuk menentukan teknik
analisis selanjutnya. Apabila
hasil uji normalitas berdistribusi normal,
maka dilanjutkan dengan uji hipotesis dengan
uji parametrik, namun apabila hasil uji normalitas menujukkan data tidak
berdistribusi normal maka dilakukan uji non-parametrik Mann-Whitney U.
Selanjutnya media pembelajaran yang digunakan siswa akan dinilai menggunakan
angket dan diuji dengan validitas dan reliabilitas untuk menilai kelayakan LMS
menurut sudut pandang pengguna.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengembangan LMS Berbasis Moodle
Produk
yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa Learning Management System (LMS)
berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang dikembangkan menggunakan platform
Moodle. LMS dirancang untuk mendukung proses pembelajaran yang berpusat pada
siswa melalui integrasi aktivitas berbasis proyek yang sistematis. Struktur LMS
mencakup beberapa komponen utama, yaitu penyajian materi pembelajaran, forum
diskusi, penugasan proyek berbasis kelompok, kuis evaluasi, serta fitur
monitoring progres siswa. Pada tahap pengembangan, LMS disesuaikan dengan
karakteristik mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel, khususnya
pada kompetensi Junior Network Administrator. Setiap aktivitas pembelajaran
dirancang mengikuti sintaks Project-Based Learning, yaitu penentuan proyek,
perencanaan, pelaksanaan, monitoring, hingga evaluasi hasil proyek. Dengan
demikian, LMS tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi, tetapi
juga sebagai lingkungan belajar yang mendukung keterampilan praktis dan
pemecahan masalah. Hasil validasi oleh ahli media dan ahli materi menunjukkan
bahwa LMS yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan sebesar 90,6% dengan
kategori sangat valid. Aspek yang dinilai meliputi tampilan antarmuka,
kemudahan navigasi, kesesuaian materi, serta keterpaduan antara fitur LMS
dengan pendekatan PjBL. Hasil ini menunjukkan bahwa LMS telah memenuhi standar
kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran.
Hasil Peningkatan Kompetensi Siswa
Peningkatan
kompetensi siswa dalam penelitian ini dianalisis berdasarkan hasil asesmen
kognitif yang diperoleh melalui perbandingan nilai antara kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelompok yang mengikuti pembelajaran
menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning, sedangkan kelas kontrol
menggunakan metode pembelajaran konvensional. Secara deskriptif, hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa pada kelas eksperimen
mencapai 87,1, sedangkan rata-rata nilai kelas kontrol sebesar 72,5. Selisih
rata-rata sebesar 14,6 poin menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang
cukup signifikan pada kelompok yang menggunakan LMS berbasis PjBL. Peningkatan
ini mengindikasikan bahwa penerapan LMS berbasis proyek memberikan kontribusi
positif terhadap penguasaan materi dan keterampilan siswa.
Apabila
ditinjau lebih lanjut, peningkatan kompetensi pada kelas eksperimen tidak hanya
terlihat pada nilai rata-rata, tetapi juga pada distribusi capaian siswa.
Sebagian besar siswa pada kelas eksperimen mampu mencapai kategori nilai
tinggi, yang menunjukkan peningkatan pemahaman konsep serta kemampuan dalam
mengaplikasikan materi ke dalam konteks praktis. Sebaliknya, pada kelas kontrol
masih ditemukan variasi nilai yang cukup lebar dengan dominasi pada kategori
sedang. Hal ini menunjukkan bahwa metode konvensional belum mampu memberikan
peningkatan kompetensi secara merata pada seluruh siswa. Selain itu,
peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen juga dipengaruhi oleh
karakteristik pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan. Dalam pembelajaran
ini, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi secara teoritis, tetapi
juga harus menyelesaikan proyek yang mensimulasikan permasalahan nyata di
bidang jaringan komputer. Proses ini mendorong siswa untuk melakukan
eksplorasi, analisis, serta penerapan konsep secara langsung, sehingga terjadi
peningkatan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking
skills).
Dari
sisi proses pembelajaran, penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning
memberikan fleksibilitas bagi siswa dalam mengakses materi, berdiskusi, serta
mengerjakan tugas secara mandiri maupun kelompok. Interaksi yang terjadi
melalui forum diskusi dan aktivitas proyek juga meningkatkan keterlibatan siswa
dalam pembelajaran. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar
yang pada akhirnya berdampak pada hasil asesmen yang lebih baik. Lebih lanjut,
peningkatan kompetensi siswa juga dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam
menyelesaikan tugas proyek secara lebih sistematis dan terstruktur. Siswa pada
kelas eksperimen menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam merancang solusi,
mengimplementasikan konfigurasi jaringan, serta melakukan troubleshooting dibandingkan dengan
siswa pada kelas
kontrol. Hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran
berbasis proyek yang didukung oleh LMS mampu mengembangkan kompetensi teknis
yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa penerapan LMS berbasis Project-Based Learning tidak hanya meningkatkan
hasil belajar secara kuantitatif, tetapi juga memberikan dampak kualitatif
terhadap peningkatan keterampilan berpikir, keterlibatan belajar, serta
kemampuan pemecahan masalah siswa. Temuan ini memperkuat bahwa integrasi
teknologi dan model pembelajaran yang tepat mampu menghasilkan pembelajaran
yang lebih efektif dan bermakna, khususnya dalam konteks pendidikan kejuruan.
Hasil Uji Statistik
Untuk
memastikan bahwa peningkatan hasil kompetensi yang terjadi pada kelas
eksperimen bukan disebabkan oleh faktor kebetulan, dilakukan analisis statistik
inferensial terhadap data hasil asesmen siswa. Analisis ini bertujuan untuk
menguji hipotesis penelitian, yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara
hasil kompetensi siswa yang menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning dan
siswa yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Sebelum dilakukan uji
hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas data.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data hasil belajar siswa
berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat ditentukan jenis uji statistik
yang sesuai. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan menggunakan uji
Shapiro–Wilk karena jumlah sampel relatif kecil. Hasil uji menunjukkan bahwa
nilai signifikansi pada data hasil kompetensi siswa berada di bawah taraf
signifikansi 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa data tidak berdistribusi
normal. Berdasarkan hasil tersebut, maka analisis dilanjutkan menggunakan uji
statistik non-parametrik, yaitu uji Mann-Whitney U, yang digunakan untuk
menguji perbedaan dua kelompok independen dengan data yang tidak berdistribusi
normal.
Uji Mann-Whitney U dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) kurang dari 0,05. Dengan demikian,
hipotesis nol (H₀) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar
antara kedua kelompok ditolak, dan hipotesis alternatif (H₁) diterima. Artinya,
terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan
LMS berbasis Project-Based Learning dengan siswa yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U,
dapat disimpulkan bahwa penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa
perlakuan yang diberikan mampu meningkatkan kompetensi siswa secara nyata.
Secara statistik, hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi bukan
hanya bersifat deskriptif, tetapi juga signifikan secara inferensial. Hal ini
memperkuat bahwa penerapan LMS berbasis PjBL memiliki efektivitas yang tinggi
dalam meningkatkan hasil asesmen siswa. Selain itu, jika ditinjau dari nilai
rata-rata peringkat (mean rank) pada uji Mann-Whitney U, kelas eksperimen
memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal ini
menunjukkan bahwa secara keseluruhan, distribusi nilai siswa pada kelas
eksperimen cenderung lebih baik dibandingkan kelas kontrol.
Hasil uji statistik ini memberikan
bukti empiris bahwa integrasi LMS dengan pendekatan Project-Based Learning
mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. Temuan ini
mengindikasikan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh
penggunaan teknologi, tetapi juga oleh pendekatan pedagogis yang diterapkan.
LMS yang dipadukan dengan aktivitas berbasis proyek mampu menciptakan
pengalaman belajar yang lebih bermakna, sehingga berdampak langsung pada
peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa LMS
berbasis Project-Based Learning merupakan solusi yang efektif dan layak
diterapkan dalam pembelajaran di SMK, khususnya pada kompetensi yang menuntut
keterampilan praktis seperti Junior Network Administrator.
Pembahasan Implementasi Project-Based Learning dalam
LMS
Implementasi
Project-Based Learning (PjBL) dalam penelitian ini dilakukan secara terstruktur
melalui integrasi dengan Learning Management System (LMS). Setiap tahapan PjBL
dirancang mengikuti sintaks utama, yaitu penentuan pertanyaan mendasar (driving
question), perencanaan proyek, penyusunan jadwal, pelaksanaan proyek,
monitoring, hingga evaluasi hasil proyek. Seluruh tahapan tersebut difasilitasi
melalui fitur-fitur yang tersedia dalam LMS, sehingga proses pembelajaran dapat
berlangsung secara sistematis dan terdokumentasi dengan baik.
Pada
tahap awal, siswa diberikan permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan
konfigurasi dan pengelolaan jaringan komputer. Permasalahan ini berfungsi
sebagai pemicu untuk mendorong siswa melakukan eksplorasi dan perencanaan
solusi. Selanjutnya, siswa bekerja dalam kelompok untuk merancang proyek yang
akan dikerjakan, termasuk menentukan langkah-langkah penyelesaian, pembagian
tugas, serta target capaian. Pelaksanaan proyek dilakukan secara kolaboratif
dengan memanfaatkan LMS sebagai media koordinasi dan komunikasi. Siswa dapat
berdiskusi melalui forum, mengunggah hasil pekerjaan, serta memperoleh umpan
balik dari guru secara berkala. Proses monitoring dilakukan secara
berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap kelompok dapat menyelesaikan proyek
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Pada
tahap evaluasi, siswa mempresentasikan hasil proyek yang telah dikerjakan,
kemudian dilakukan penilaian berdasarkan aspek kognitif, keterampilan, dan
kerja sama tim. Implementasi ini menunjukkan bahwa PjBL tidak hanya
meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga mengembangkan keterampilan abad
ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Dengan dukungan
LMS, implementasi PjBL menjadi lebih efektif karena seluruh aktivitas
pembelajaran dapat terorganisasi dengan baik. LMS juga memungkinkan guru untuk
melakukan pemantauan secara lebih terstruktur terhadap perkembangan siswa,
sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan optimal.
Nilai Inovasi
dan Implikasi Temuan
Hasil
penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting, baik secara teoritis maupun
praktis. Secara teoritis, temuan ini memperkuat konsep bahwa integrasi
teknologi dengan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan efektivitas
pembelajaran. LMS yang dipadukan dengan Project-Based Learning terbukti mampu
meningkatkan hasil belajar serta keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
Secara
praktis, penelitian ini memberikan kontribusi bagi guru dan praktisi pendidikan
dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif. LMS berbasis
PjBL dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang efektif untuk
meningkatkan keterlibatan dan kompetensi siswa, khususnya pada pendidikan
kejuruan. Bagi sekolah, implementasi LMS berbasis PjBL dapat mendukung
transformasi digital dalam pembelajaran serta meningkatkan kualitas proses
pendidikan secara keseluruhan. Penggunaan LMS memungkinkan pengelolaan
pembelajaran yang lebih fleksibel, terstruktur, dan terdokumentasi, sehingga
memudahkan evaluasi dan pengembangan pembelajaran di masa mendatang.
Selain
itu, temuan penelitian ini juga memiliki implikasi bagi pengembang kurikulum,
yaitu perlunya integrasi antara teknologi dan pendekatan pembelajaran berbasis
praktik dalam desain kurikulum. Hal ini penting untuk memastikan bahwa lulusan
SMK memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Namun demikian,
penelitian ini juga memiliki keterbatasan, terutama pada lingkup penelitian
yang terbatas pada satu sekolah dan satu mata pelajaran. Oleh karena itu,
penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji penerapan LMS berbasis PjBL
pada konteks yang lebih luas, baik dari segi jumlah subjek maupun bidang
keahlian yang berbeda.
SIMPULAN
Penelitian
ini menghasilkan Learning Management System (LMS) berbasis Project-Based
Learning (PjBL) yang valid dan layak digunakan dalam pembelajaran pada mata
pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel di SMK. Hasil validasi
menunjukkan bahwa LMS yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid dari
aspek materi, media, dan kesesuaian dengan model pembelajaran. Penerapan LMS
berbasis PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi siswa, yang
ditunjukkan oleh perbedaan signifikan hasil belajar antara kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Siswa yang menggunakan LMS berbasis PjBL memperoleh hasil
belajar yang lebih tinggi serta menunjukkan peningkatan dalam keterampilan
berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi.
Hasil
uji statistik menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara kedua kelompok, sehingga dapat disimpulkan bahwa
penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning memberikan pengaruh nyata
terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Namun demikian, hasil analisis
Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa persepsi kemanfaatan dan
kemudahan penggunaan tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar,
sehingga keberhasilan pembelajaran lebih ditentukan oleh desain pembelajaran
dan implementasi model PjBL.
Secara
keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi melalui LMS
dengan pendekatan Project-Based Learning merupakan solusi efektif dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK. Implikasi dari penelitian ini
menunjukkan bahwa guru perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi yang didukung
dengan strategi pembelajaran yang tepat, serta mendorong pengembangan model
pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Penelitian
selanjutnya disarankan untuk mengembangkan fitur LMS yang lebih interaktif
serta menguji penerapannya pada konteks yang lebih luas.