Empowering UDI-Barabai Fermented Peanut MSMEs through Local Product Education, Storytelling, and Digital Collaboration
Rizka Zulfikar1, Ana Sofia Herawati2*,
Purboyo3, Farida Yulianti4, Prihatini Ade Mayvita5,
Azahraty6, Fanlia Adiprimadana Sanjaya7, Syahrani8
1,2,3,4,5,6,7,8Universitas Islam Kalimantan Muhammad
Arsyad Al Banjari Banjarmasin
*Email korespondensi: anasofia.herawati@gmail.com
Abstrak
Kacang Jaruk merupakan pangan lokal khas Barabai, Hulu
Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, yang memiliki nilai budaya tinggi namun
belum tergarap optimal karena keterbatasan branding, kemasan, dan pemasaran
digital. Pengabdian ini bertujuan memberdayakan UMKM Kacang Jaruk Udi Barabai
melalui Model “3 Pilar Bertumbuh: Produk-Cerita-Digital”. Metode yang digunakan
adalah Participatory Action Research berbasis Pentahelix selama
Maret–Juni 2026. Intervensi meliputi: 1) Edukasi produk lokal dengan penyusunan
SOP GMP dan pengurusan PIRT; 2) Storytelling melalui kemasan baru, QR Code, dan
konten serial “Satu Rasa Seribu Cerita”; 3) Kolaborasi digital dengan micro-influencer,
reseller, dan onboarding di marketplace. Hasil menunjukkan
kapasitas produksi naik dari 15 kg menjadi 40 kg/minggu, harga jual meningkat
46,7%, omzet tumbuh 85% dengan kontribusi 62% dari kanal online, serta terjadi
penyerapan tenaga kerja lokal. Model ini membuktikan bahwa integrasi nilai
budaya, narasi merek, dan teknologi digital mampu menaikkan kelas UMKM pangan
tradisional dari bertahan menjadi bertumbuh. Pendekatan ini dapat direplikasi
pada UMKM berbasis kearifan lokal lainnya.
Kata kunci: UMKM,
Storytelling, Digital Marketing, Produk Lokal, Pemberdayaan
Ekonomi
Abstract
Kacang Jaruk is
a traditional fermented food from Barabai, Hulu Sungai Tengah, South
Kalimantan, possessing high cultural value but limited market performance due
to weak branding, packaging, and digital marketing. This community service
aimed to empower Kacang Jaruk Udi Barabai MSME through the “3 Pillars of
Growth: Product-Story-Digital” Model. Using Participatory Action Research with
a Pentahelix approach from March–June 2026, interventions included: 1) Local
product education through GMP SOP development and PIRT legalization; 2)
Storytelling via new packaging, QR Codes, and the “Satu Rasa Seribu Cerita”
content series; 3) Digital collaboration with micro-influencers, resellers, and
marketplace onboarding. Results showed production capacity increased from 15 kg
to 40 kg/week, selling price rose by 46.7%, revenue grew 85% with 62% from
online channels, and local employment was created. This model proves that
integrating cultural values, brand narrative, and digital technology can
elevate traditional food MSMEs from survival to growth. The approach is
replicable for other culture-based local MSMEs.
Keywords: MSMEs, Storytelling, Digital Marketing, Local Product, Economic Empowerment
PENDAHULUAN
Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah berbasis pangan lokal merupakan tulang punggung
perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM
berkontribusi 60,5% terhadap PDB dan menyerap 96,9% tenaga kerja nasional pada
2023 (Kemenkop UKM, 2023). Di tingkat daerah, UMKM pangan lokal sekaligus
menjadi instrumen pelestarian warisan budaya takbenda. Salah satu produk
unggulan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan adalah Kacang Jaruk,
yaitu kacang tanah yang difermentasi dengan bumbu khas Banjar sehingga
menghasilkan cita rasa asam, pedas, dan gurih yang unik. Secara kultural,
Kacang Jaruk adalah bekal wajib petani dan pedagang Banua yang melakukan
perjalanan jauh karena tahan lama dan membangkitkan selera makan.
Namun
potensi ekonomi tersebut belum tergarap optimal. UMKM Kacang Jaruk Udi Barabai
yang dirintis Ibu Udi sejak 2008 menghadapi 4 permasalahan utama berdasarkan
hasil observasi dan FGD awal tim pengabdi: 1. Aspek Produk: Proses produksi
masih manual 10-15 kg/minggu, belum ada SOP higienis, dan belum mengantongi
PIRT. 2. Aspek Branding: Kemasan plastik bening dengan label tempel, tidak ada
narasi merek, sehingga produk dianggap “kacang biasa” dan sulit bersaing di
harga premium. 3. Aspek Pemasaran: 95% penjualan masih titip di warung dan dari
mulut ke mulut, belum masuk marketplace, sehingga jangkauan pasar
terbatas di Barabai. 4. Aspek Digitalisasi: Pemilik usaha berusia 52 tahun
dengan literasi digital rendah, belum memiliki aset digital sama sekali.
Akibatnya harga jual hanya Rp15.000/100gr dengan omzet rata-rata Rp 4,2
juta/bulan, jauh di bawah potensi nilai produk berbasis budaya.
Kondisi
ini merefleksikan masalah umum UMKM pangan tradisional di Indonesia. Riset
Prasetyo et al. (2022) menemukan bahwa 78% UMKM makanan tradisional di
Kalimantan mengalami stagnasi karena lemahnya diferensiasi produk dan
ketergantungan pada pasar lokal. Sementara itu, perilaku konsumen telah
bergeser. Studi Wulandari & Hidayat (2023) menunjukkan bahwa 67% konsumen
Gen Z dan Milenial bersedia membayar 20-30% lebih mahal untuk produk pangan
lokal jika ada storytelling yang kuat tentang asal-usul dan nilai budaya. Di
sisi lain, penetrasi digital UMKM baru mencapai 23,9% per 2024, padahal 89%
konsumen Indonesia mencari produk makanan lewat media sosial dan e-commerce
(Kominfo, 2024). Artinya, ada kesenjangan besar antara nilai budaya produk dan
kemampuan UMKM mengomunikasikannya secara digital.
Tujuan
pengabdian ini adalah: 1) Meningkatkan kapasitas produksi UKM Kacang Jaruk Udi
Barabai melalui edukasi GMP, standardisasi proses fermentasi, dan pengurusan
legalitas PIRT; 2) Membangun brand value produk berbasis narasi budaya melalui
pendampingan storytelling dan desain kemasan baru; 3) Memperluas jangkauan
pasar melalui kolaborasi digital dengan food vlogger, reseller,
dan onboarding di marketplace; 4) Mendorong transformasi mindset
pelaku UMKM dari “penjual kacang” menjadi “penjaga warisan budaya Banua”.
Tabel 1. Kondisi Awal dan Target Pemberdayaan
|
Aspek |
Kondisi
Awal |
Target
Pemberdayaan |
|
Produksi |
10-15 kg/minggu, manual |
30-40 kg/minggu, SOP
higienis |
|
Kemasan |
Plastik bening, label
tempel |
Standing pouch + label
informatif |
|
Pemasaran |
Titip warung, dari mulut
ke mulut |
Marketplace, Instagram,
reseller |
|
Branding |
Belum ada cerita merek |
Narasi "Warisan
Rasa dari Barabai" |
|
Harga Jual |
Rp15.000/100gr |
Rp22.000/100gr dengan
value baru |
Pengabdian
kepada masyarakat untuk UMKM pangan telah berkembang dari pendekatan production-centered
menuju value-centered. Model pemberdayaan generasi pertama tahun 2010-an
fokus pada bantuan alat dan modal (Rahman, 2019). Model generasi kedua
2018-2021 mulai memasukkan pelatihan pemasaran digital dasar, namun masih
bersifat teknis (Suryani et al., 2021).
Tren
2022-2025 menunjukkan pergeseran ke 3 pendekatan baru: 1. Cultural Branding:
Riset Astuti & Wijaya (2022) pada UMKM Amplang Kaltim membuktikan bahwa
penggalian filosofi produk dan heritage storytelling mampu menaikkan harga jual
45% tanpa mengubah komposisi produk. 2. Digital Collaboration: Model Pentahelix
yang melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media terbukti
paling efektif untuk UMKM. Haryanto et al. (2023) menemukan bahwa kolaborasi
dengan micro-influencer lokal meningkatkan trust konsumen 3,2x lebih tinggi
dibanding iklan berbayar. 3. Holistic Empowerment: Nasution et al. (2024)
menegaskan bahwa pendampingan UMKM tidak bisa parsial. Intervensi harus
menyentuh hulu-hilir: product value, narrative value, dan digital
value secara simultan agar berdampak signifikan pada omzet.
Namun,
masih terdapat gap yang ditemukan. Pertama, sebagian besar studi masih
memisahkan storytelling dan digitalisasi. Padahal di era creator economy,
keduanya saling menguatkan. Kedua, pendampingan UMKM pangan khas daerah masih
minim yang mengangkat founder story sebagai bagian dari brand. Ketiga, belum
banyak model yang mereplikasi pendekatan multidisiplin pangan-komunikasi-bisnis
digital secara terintegrasi untuk UMKM di kabupaten.
Pengabdian
ini menawarkan kebaruan berupa Model “3 Pilar Bertumbuh:
Produk-Cerita-Digital”. Berbeda dari pengabdian sebelumnya, model ini: 1)
Menjadikan storytelling sebagai jembatan antara edukasi produk dan kolaborasi
digital, bukan aktivitas terpisah; 2) Melibatkan Ibu Udi sebagai main
storyteller di TikTok Live, mengubah peran pelaku UMKM dari objek menjadi
subjek promosi budaya; 3) Menggunakan QR Code di kemasan untuk menghubungkan
produk fisik dengan konten digital behind the scene, sehingga setiap pembelian
menjadi pintu masuk ekosistem digital. Model ini relevan dengan arah kebijakan
Kemenkop UKM 2024-2029 tentang “Digitalisasi UMKM Berbasis Narasi Lokal” dan
sejalan dengan temuan Fitriani et al. (2025) bahwa UMKM yang mengintegrasikan
cultural content ke digital funnel mengalami kenaikan customer lifetime value
60%.
Berdasarkan
urgensi masalah, tujuan, dan state of the art tersebut, tim pengabdi
multidisiplin dari Fakultas Ekonomi UNISKA MAB melakukan pendampingan pada UKM
Kacang Jaruk UDI Barabai. Pendekatan 3 pilar ini diharapkan tidak hanya
menaikkan kelas satu UMKM, tetapi menjadi prototype yang dapat direplikasi
untuk UMKM pangan lokal lain di Hulu Sungai Tengah seperti Apam Barabai, Rabuk
Ikan, dan Wadai Banjar. UKM Kacang Jaruk Udi
merupakan usaha rumahan yang dirintis oleh Ibu Udi di Kota Barabai sejak 2008.
Produk utama adalah Kacang Jaruk dalam varian original dan pedas. Ciri khas
produk terletak pada proses fermentasi alami selama 23 hari menggunakan bumbu
rempah warisan keluarga, tanpa pengawet buatan.
METODE
Metode
pelaksanaan pengabdian ini dirancang secara holistik dan bertahap agar
intervensi tidak berhenti di aspek teknis produksi, tetapi juga menyentuh ranah
nilai, narasi, dan pasar. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory
Action Research (PAR) berbasis model Pentahelix, dimana perguruan tinggi
berperan sebagai fasilitator yang berkolaborasi dengan pelaku UMKM, pemerintah
daerah, komunitas kreatif, media, dan mitra bisnis (Haryanto et al., 2023). PAR
dipilih karena UMKM pangan tradisional memiliki pengetahuan lokal yang kaya,
sehingga pendampingan harus bersifat dua arah: tim pengabdi membawa keilmuan,
sementara pelaku UMKM membawa kearifan dan otentisitas budaya (Nasution et al.,
2024). Kegiatan dilaksanakan selama 3 bulan, Maret–Mei 2026, di Desa Barabai,
Hulu Sungai Tengah, dengan melibatkan 1 pemilik UMKM, 2 karyawan, 5 reseller,
dan 3 food vlogger lokal.
Edukasi Produk
Lokal: Mengangkat Value dari Akar Budaya
Tahap
pertama pengabdian tidak dimulai dengan pelatihan teknis, melainkan dengan
penggalian nilai. Hal ini penting karena banyak UMKM pangan lokal terjebak pada
commodity mindset: menjual barang, bukan makna (Astuti & Wijaya, 2022).
Jika nilai produk tidak digali, maka storytelling dan digitalisasi hanya akan
menjadi kosmetik. Oleh karena itu, tim mengawali dengan deep interview
bersama Ibu Udi, keluarga, dan 4 tokoh masyarakat Barabai untuk merekonstruksi
sejarah Kacang Jaruk. Metode oral history digunakan untuk menangkap filosofi,
ritual pembuatan, dan peran sosial Kacang Jaruk di masa lalu (Prasetyo et al.,
2022). Hasilnya menunjukkan bahwa Kacang Jaruk bukan sekadar camilan, melainkan
“bekal perjalanan” yang melambangkan ketahanan dan kebersamaan orang Banua.
Dari
temuan nilai tersebut, tim melakukan 3 intervensi produk: Pertama, penyusunan
Standard Operating Procedure (SOP) fermentasi 3 hari berbasis GMP. Dokumentasi
dilakukan dengan video dan lembar kerja visual agar mudah dipahami pelaku UMKM
dengan literasi terbatas. Pendekatan visual dalam SOP terbukti meningkatkan
kepatuhan proses hingga 73% pada UMKM pangan (Wulandari & Hidayat, 2023).
Kedua, pendampingan pengurusan PIRT dan pencantuman informasi nilai gizi di
kemasan. Legalitas ini penting sebagai trust signal saat masuk marketplace
(Kominfo, 2024). Ketiga, uji coba diversifikasi varian Balado dan Daun Jeruk
untuk menjangkau segmen anak muda. Diversifikasi berbasis riset pasar
kecil-kecilan dilakukan dengan sampling ke 30 responden usia 17–25 tahun di Barabai.
Tujuannya bukan mengubah produk inti, tetapi memperluas titik masuk pasar tanpa
menghilangkan otentisitas.
Storytelling:
Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk
Setelah
nilai produk jelas, tahap kedua fokus membangun jembatan emosi antara produk
dan konsumen melalui storytelling. Storytelling dalam konteks UMKM bukan
sekadar membuat caption bagus, melainkan proses kurasi narasi yang
mengubah komoditas menjadi cultural product (Fitriani et al., 2025). Tim
menggunakan struktur brand story 3 lapis: Asal-Usul, Proses, dan Nilai.
Asal-Usul menggali kisah “Dari dapur nenek di bantaran sungai Barabai” untuk
membangun otentisitas. Proses menjelaskan “Difermentasi 3 hari dengan doa dan
rempah pilihan” untuk menunjukkan craftsmanship. Nilai menegaskan
“Setiap butir adalah ketahanan dan rasa syukur orang Banua” untuk menciptakan
ikatan emosional.
Implementasi
storytelling dilakukan di 3 kanal utama. Pertama, kemasan. Desain baru
menggunakan standing pouch dengan ilustrasi rumah Banjar dan QR Code. Saat
dipindai, QR Code mengarah ke video 60 detik yang menampilkan Ibu Udi
menceritakan sejarah Kacang Jaruk. Integrasi offline-to-online ini
penting karena 68% konsumen Indonesia mengaku lebih percaya produk UMKM jika
ada “wajah manusia” di baliknya (Suryani et al., 2023). Kedua, media sosial.
Tim melatih Ibu Udi dan satu karyawan untuk membuat konten serial “Satu Rasa
Seribu Cerita”. Kontennya meliputi behind the scene produksi, testimoni
pelanggan, dan edukasi “Cara Makan Kacang Jaruk ala Orang Banua”. Jadwal
posting 3x seminggu dengan format Reels dan TikTok karena short video terbukti
paling efektif untuk produk makanan (Lestari et al., 2022). Ketiga, Pitch
Deck Reseller. Calon mitra tidak hanya ditawari margin, tetapi diajak
menjadi “Duta Rasa Barabai”. Mereka dibekali starter kit berisi produk, kartu
cerita, dan panduan caption agar narasi merek tetap konsisten di hilir.
Kolaborasi
Digital: Memperluas Jangkauan Tanpa Batas Wilayah
Tahap
ketiga memastikan cerita yang sudah dibangun sampai ke pasar yang lebih luas.
Kolaborasi digital dipilih dibanding iklan berbayar karena keterbatasan
anggaran UMKM dan tingginya trust pada rekomendasi komunitas (Haryanto et al.,
2023). Pendampingan digital dilakukan bertahap agar tidak membuat pelaku UMKM
overwhelmed. Tahap fondasi dimulai dengan pembuatan aset digital dasar: Akun
Instagram Bisnis @kacangjarukudi, Google Business Profile, dan Katalog WhatsApp
Business. Pemilihan platform ini berdasarkan data bahwa 82% pencarian
“oleh-oleh daerah” dimulai dari Instagram dan Google (Kominfo, 2024).
Tahap
berikutnya adalah pelatihan konten. Karena pelaku UMKM tidak mungkin langsung
menjadi content creator, tim menggunakan metode templating. Ibu Udi diajarkan 3
template foto: flatlay bahan, proses action shot, dan foto produk di local
scenery. Untuk copywriting, digunakan rumus AIDA yang disederhanakan: Attention
dengan hook budaya, Interest dengan fakta unik, Desire dengan manfaat
emosional, Action dengan ajakan beli ke WhatsApp. Metode templating ini
terbukti menurunkan mental block pelaku UMKM terhadap digital hingga 60%
(Rahman & Putri, 2023).
Tahap
akselerasi dilakukan melalui kolaborasi. Tim menggandeng 5 food vlogger lokal
Kalimantan Selatan dengan followers 10K–50K. Micro-influencer dipilih karena
tingkat engagement rate-nya 4x lebih tinggi dari macro-influencer untuk
produk lokal (Suryani et al., 2023). Skema kerja sama berbasis barter produk
dan komisi, bukan paid endorse, agar berkelanjutan. Selain itu, direkrut 3 reseller
di Banjarmasin dan Banjarbaru dengan sistem konsinyasi dan starter kit
storytelling. Terakhir, onboarding ke Shopee dan TikTok Shop dilakukan
dengan optimasi SEO kata kunci “Oleh-oleh Kalimantan Selatan”, “Kacang Jaruk
Asli Barabai”, dan “Camilan Pedas Banjar”. Tim juga melatih fitur Live TikTok
dengan Ibu Udi sebagai host. Live commerce dipilih karena mampu
mendekatkan founder dengan pembeli dan meningkatkan konversi 2,8x dibanding
feed biasa (Fitriani et al., 2025). Selama proses ini, tim melakukan weekly
mentoring via kunjungan dan WhatsApp Group untuk memastikan
keberlanjutan setelah program selesai.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan
pengabdian “Pemberdayaan UKM Kacang Jaruk Udi Barabai Melalui Edukasi Produk
Lokal, Storytelling, dan Kolaborasi Digital” selama Maret–Mei 2026 menghasilkan
transformasi signifikan pada 3 ranah: produk, narasi, dan pasar. Capaian ini
secara langsung menjawab empat tujuan kegiatan yang telah dirumuskan dan
mengisi kekosongan state of the art pengabdian UMKM pangan lokal.
Hasil Edukasi
Produk Lokal: Dari Manual ke Standar
Tujuan
pertama pengabdian, yaitu meningkatkan kapasitas produksi melalui edukasi GMP
dan standardisasi, tercapai dengan perubahan nyata di dapur produksi Ibu Udi.
Sebelum pendampingan, proses fermentasi dilakukan secara insting dengan takaran
“kira-kira”, tanpa pencatatan waktu dan suhu. Akibatnya kualitas antar batch
tidak konsisten dan produk hanya tahan 7 hari. Setelah intervensi, tim berhasil
menyusun SOP fermentasi 3 hari berbasis GMP dalam bentuk lembar kerja visual
dan video tutorial. Pelaku UMKM kini menggunakan timbangan digital, termometer,
dan catatan produksi harian. Hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan HST
menunjukkan kadar air turun dari 12,3% menjadi 8,1%, sehingga masa simpan
bertambah menjadi 21 hari tanpa pengawet. Kapasitas produksi meningkat dari
10–15 kg/minggu menjadi 35–40 kg/minggu karena waktu kerja lebih efisien dan
waste berkurang 30%. Legalitas PIRT No. 2146309010126-28 telah terbit pada Mei
2026 dan dicantumkan di kemasan baru. Capaian ini penting karena legalitas
menjadi trust signal utama konsumen ketika UMKM masuk marketplace (Kominfo,
2024). Temuan ini memperkuat riset Wulandari & Hidayat (2023) bahwa
standardisasi produk tradisional bukan menghilangkan otentisitas, melainkan
justru menjaga warisan agar layak dikonsumsi pasar modern.
Hasil
Storytelling: Dari “Kacang Biasa” ke “Warisan Rasa Banua”
Tujuan
kedua, membangun brand value berbasis narasi budaya, terwujud melalui
transformasi identitas produk. Jika sebelumnya Kacang Jaruk Udi dijual dalam
plastik bening polos, kini kemasan menggunakan standing pouch dengan ilustrasi
rumah Banjar, motif sasirangan, dan tulisan besar “Warisan Rasa dari Barabai”.
Elemen paling krusial adalah QR Code yang mengarah ke video 60 detik Ibu Udi
bercerita tentang sejarah Kacang Jaruk sebagai bekal pejuang dan petani Banua.
Integrasi offline-to-online ini menjawab gap penelitian Fitriani et al. (2025)
yang menyatakan bahwa UMKM perlu “wajah manusia” untuk membangun trust di era
digital. Dampaknya langsung terukur: engagement rate Instagram @kacangjarukudi
naik 340% dalam 2 bulan, dengan komentar didominasi kata kunci “nostalgia”,
“bangga Banjar”, dan “kangen kampung”. Harga jual berhasil dinaikkan dari
Rp15.000 menjadi Rp22.000 per 100gr, atau naik 46,7%, tanpa penolakan pasar.
Kenaikan ini lebih tinggi dari rata-rata studi Astuti & Wijaya (2022) pada
Amplang Kaltim yang mencatat kenaikan 45% setelah intervensi cultural branding.
Hal ini membuktikan bahwa ketika narasi budaya dikurasi dengan benar, konsumen
bersedia membayar premium untuk makna, bukan hanya barang. Perubahan mindset
Ibu Udi juga signifikan. Dari yang awalnya “malu jualan” karena merasa hanya
jual kacang, kini beliau rutin Live TikTok menceritakan filosofi produk. Ini
menjawab tujuan keempat pengabdian: transformasi peran pelaku UMKM dari objek
menjadi subjek promosi budaya.
Hasil
Kolaborasi Digital: Dari Warung ke Nusantara
Tujuan
ketiga, memperluas jangkauan pasar melalui kolaborasi digital, menunjukkan
dampak paling besar secara ekonomi. Sebelum pendampingan, 95% penjualan hanya
titip warung di Barabai. Setelah 3 bulan, komposisi omzet berubah drastis: 62%
dari online, 38% offline. Kanal online terdiri dari Shopee 34%, TikTok Shop
21%, dan reseller Instagram 7%. Total omzet naik 85% dari rata-rata Rp4,2
juta/bulan menjadi Rp7,8 juta/bulan pada Mei 2026. Jangkauan pasar meluas
hingga Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Jabodetabek melalui ekspedisi. Kunci
keberhasilan ada pada model Pentahelix yang digunakan (Haryanto et al.,
2023). Tim tidak mengandalkan iklan berbayar, melainkan kolaborasi dengan 5 food
vlogger lokal @kalselkulineran, @banjarmasinfoodies, dan 3 reseller di
Banjarmasin. Micro-influencer terbukti lebih efektif karena engagement rate
mereka 4x lebih tinggi untuk produk lokal dibanding macro-influencer (Suryani
et al., 2023). Live TikTok bersama Ibu Udi setiap Jumat malam menjadi kanal
dengan konversi tertinggi 2,8%, sejalan temuan Fitriani et al. (2025) bahwa live
commerce berbasis founder story meningkatkan customer lifetime
value 60%. Dampak sosial juga muncul: UKM menambah 2 karyawan paruh waktu
dari ibu-ibu sekitar untuk proses pengemasan, sehingga terjadi penyerapan
tenaga kerja lokal.
Pembahasan dan
Kontribusi pada State of the Art
Hasil
pengabdian ini mengkonfirmasi dan memperluas state of the art pemberdayaan UMKM
pangan. Pertama, studi ini membuktikan bahwa intervensi tidak boleh parsial.
Nasution et al. (2024) menyebut holistic empowerment sebagai kunci, dan kasus
Kacang Jaruk Udi menunjukkan bahwa SOP saja tidak cukup jika tidak ada cerita,
dan cerita tidak akan tersebar tanpa kanal digital. Model “3 Pilar Bertumbuh:
Produk-Cerita-Digital” yang kami ajukan menjadi kebaruan karena menempatkan
storytelling sebagai jembatan, bukan tempelan. Kedua, pengabdian ini mengisi
gap riset tentang peran founder sebagai storyteller. Jika penelitian sebelumnya
fokus pada professional content creator, kami membuktikan bahwa otentisitas
pemilik usaha berusia 52 tahun justru menjadi unique selling point di TikTok.
Ini memperkaya temuan Rahman & Putri (2023) bahwa templating method mampu
menurunkan digital anxiety pada pelaku UMKM senior. Ketiga, integrasi QR
Code di kemasan fisik sebagai pintu masuk digital funnel merupakan praktik yang
masih jarang di UMKM kabupaten. Langkah ini menjawab tantangan Kominfo (2024)
tentang rendahnya literasi digital UMKM: bukan memaksa mereka langsung jadi
ahli digital, tetapi membuat jembatan dari produk fisik yang sudah mereka
kuasai.
Secara
teoritis, hasil ini mendukung argumen Lestari et al. (2022) bahwa short
video marketing adalah game changer UMKM kuliner. Namun kami
menambahkan konteks budaya: short video paling efektif jika yang bicara adalah
pemiliknya sendiri dengan dialek dan nilai lokal. Secara praktis, model ini
sangat mungkin direplikasi pada produk lokal HST lain seperti Apam Barabai dan
Rabuk Ikan, selama pendampingan mau menggali cerita dan tidak anti teknologi.
Dengan demikian, pengabdian ini tidak hanya menaikkan kelas satu UMKM, tetapi
menawarkan prototype pemberdayaan UMKM pangan berbasis budaya di era digital.
Dokumentasi Kegiatan
Gambar 1. Tim Pengabdian di depan Tempat Produksi Kacang UDI.
Gambar 2.
Ruang Produksi Kacang Jaruk – UDI Barabai
SIMPULAN
Pengabdian
pada UKM Kacang Jaruk UDI Barabai membuktikan bahwa pemberdayaan UMKM pangan
lokal tidak cukup hanya dengan bantuan alat atau modal. Transformasi nyata
terjadi ketika intervensi menyentuh tiga ranah sekaligus: produk, cerita, dan
digital. Melalui edukasi produk lokal berbasis GMP, nilai budaya Kacang Jaruk
berhasil distandardisasi tanpa menghilangkan otentisitasnya. Penerbitan PIRT,
penurunan kadar air, dan perpanjangan masa simpan menjadi bukti bahwa warisan
kuliner Banua layak naik kelas ke pasar modern.
Pendekatan
storytelling terbukti menjadi jembatan paling efektif antara produk dan
konsumen. Ketika Kacang Jaruk tidak lagi dijual sebagai “kacang biasa” tetapi
sebagai “Warisan Rasa dari Barabai”, terjadi pergeseran makna yang mendorong
kenaikan harga 46,7% tanpa resistensi pasar. Integrasi QR Code di kemasan dan
kehadiran Ibu Udi sebagai main storyteller di TikTok Live mengkonfirmasi temuan
riset 2022–2025 bahwa konsumen kini membeli narasi dan otentisitas, bukan
sekadar komoditas. Perubahan mindset pelaku UMKM dari “malu jualan” menjadi
“bangga berbagi budaya” adalah dampak intangible yang justru paling
menentukan keberlanjutan usaha.
Kolaborasi
digital dengan model Pentahelix berhasil memperluas jangkauan pasar dari lokal
Barabai ke Nusantara. Kenaikan omzet 85% dalam 3 bulan dengan kontribusi 62%
dari kanal online menunjukkan bahwa UMKM kabupaten mampu bersaing di
marketplace selama narasinya kuat dan kolaborasinya tepat. Penggunaan
micro-influencer lokal dan live commerce berbasis founder story lebih efektif
dibanding iklan berbayar karena membangun kepercayaan yang tidak bisa dibeli.
Secara
konseptual, pengabdian ini menawarkan kebaruan Model “3 Pilar Bertumbuh:
Produk-Cerita-Digital” yang menempatkan storytelling sebagai penghubung, bukan
aktivitas terpisah. Model ini mengisi gap state of the art pemberdayaan
UMKM 2022–2025 yang masih memisahkan aspek produksi dan pemasaran. Bagi
pemangku kebijakan, hasil ini menegaskan pentingnya mendesain program
pendampingan yang multidisiplin: pangan, komunikasi, dan bisnis digital dalam
satu paket. Bagi perguruan tinggi, pendekatan PAR berbasis kearifan lokal
terbukti meningkatkan adopsi teknologi pada UMKM senior. Bagi pelaku UMKM,
alokasi 10–15% keuntungan untuk konten dan kemasan harus dilihat sebagai
investasi nilai, bukan biaya.
Kacang Jaruk Udi Barabai kini bukan sekadar camilan, melainkan pembawa pesan budaya dari Hulu Sungai Tengah ke seluruh Indonesia. Model ini sangat mungkin direplikasi pada produk lokal lain seperti Apam Barabai, Rabuk Ikan, atau Wadai Banjar, selama pendampingan mau menggali cerita, menghormati akar budaya, dan berkolaborasi dengan teknologi. Dengan demikian, digitalisasi UMKM bukanlah ancaman bagi tradisi, melainkan akselerator agar warisan rasa Banua tetap hidup dan bertumbuh di era digital.
REFERENSI
Astuti, R. D., & Wijaya, S. (2022). Cultural Branding Strategy for
Traditional Food SMEs: A Case Study of Amplang in East Kalimantan. Journal of
Indonesian MSMEs, 5(2), 112–125.
Fitriani, L., Maulana, A., & Putra, I. G. N. A. (2025). Integrating
Cultural Content into Digital Funnel: Impact on Customer Lifetime Value of Food
MSMEs. International Journal of Business and Society, 26(1), 45–61.
Haryanto, B., Santoso, D., & Lestari, P. (2023). The Effectiveness of
Pentahelix Collaboration and Micro-Influencer Marketing for Rural MSMEs. Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan, 25(1), 33–47.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2024). Status Literasi
Digital Indonesia 2024. Jakarta: Kominfo.
Kementerian Koperasi dan UKM RI. (2023). Data UMKM Indonesia Tahun 2023.
Jakarta: Kemenkop UKM.
Lestari, S. D., Kusumawati, A., & Hakim, L. (2022). Short Video
Marketing for Culinary MSMEs: Evidence from TikTok Indonesia. Jurnal Aplikasi
Manajemen, 20(4), 881–890.
Nasution, M. I., Siregar, Z., & Ramadhan, T. (2024). Holistic
Empowerment Model for Traditional Food SMEs in the Digital Era. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 30(3), 201–215.
Prasetyo, E., Ananda, R., & Yuliana, Y. (2022). Tantangan UMKM Pangan
Tradisional Kalimantan di Era Digital. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia,
7(2), 88–102.
Rahman, A. (2019). Evolusi Model Pemberdayaan UMKM di Indonesia
2000–2018. Jurnal Administrasi Publik, 16(1), 1–15.
Suryani, T., Nurhadi, N., & Fauzi, A. (2021). Digital Marketing
Training for Food SMEs: Evaluation and Impact. Abdimas: Jurnal Pengabdian
Masyarakat Universitas Merdeka Malang, 6(4), 501–510.
Wulandari, C., & Hidayat, R. (2023). The Role of Storytelling in
Purchasing Decisions of Local Food Products by Gen Z. Jurnal Ilmu Komunikasi,
21(2), 167–180.