Showing posts with label Bahasa Biak. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Biak. Show all posts

Tuesday, March 31, 2026

Penguatan Peran Keluarga dalam Revitalisasi Bahasa Biak di Kampung Dwar

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village | Smas | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

Musa Hefer Smas1*, Tri Handayani2, Meggy Merlin Mokay3 

Abstrak 

Revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya strategis dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat di tengah arus globalisasi. Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua mengalami penurunan penggunaan, terutama pada generasi muda akibat dominasi bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual di Kampung Dwar. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi masalah, sosialisasi, pelatihan, pendampingan keluarga, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman, perubahan sikap, serta keterampilan berbahasa anak-anak. Selain itu, terbentuk kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi. Dengan demikian, pendekatan pendampingan berbasis keluarga terbukti efektif sebagai model revitalisasi bahasa daerah yang berkelanjutan dan berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik serupa.

Kata kunci: bahasa Biak; keluarga; pendampingan; revitalisasi bahasa

Abstract

The revitalization of regional languages is a strategic effort to preserve the continuity of cultural identity amid globalization. The Biak language, as one of the regional languages in Papua, has experienced a decline in usage, particularly among the younger generation, due to the dominance of the Indonesian language in daily communication. This community service activity aims to strengthen the role of the family as the primary agent in the revitalization of the Biak language through a participatory and contextual mentoring approach in Dwar Village. The implementation method includes stages of problem identification, socialization, training, family mentoring, and evaluation. The results of the activity indicate improvements in the cognitive, affective, and psychomotor aspects of participants, as evidenced by increased understanding, changes in attitudes, and enhanced language skills among children. In addition, a habit of using the Biak language within the family environment has been established as a form of language internalization in daily life. These findings confirm that the family plays a strategic role in intergenerational language transmission. Therefore, a family-based mentoring approach has proven effective as a sustainable model for regional language revitalization and has the potential to be replicated in other communities with similar characteristics.

Keywords: Biak language; family; mentoring; language revitalization

PENDAHULUAN  

Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, serta pewarisan nilai-nilai sosial suatu masyarakat. Bahasa daerah tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas budaya dan penentu keberlangsungan nilai serta jati diri suatu komunitas (Suhassatya, 2025; Salam & Hunava, 2024). Dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia, bahasa daerah memiliki posisi strategis sebagai penanda identitas etnis sekaligus sebagai medium transmisi pengetahuan lokal. Namun demikian, fenomena globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa (language shift) yang berdampak pada menurunnya penggunaan bahasa daerah (Sari et.al., 2025).

Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua menghadapi ancaman serius terkait keberlanjutannya. Generasi muda cenderung lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia bahkan dalam interaksi sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan adanya gejala penurunan vitalitas bahasa (language vitality) yang apabila tidak segera diintervensi dapat mengarah pada kepunahan bahasa. Pergeseran ini menegaskan bahwa pemertahanan bahasa sangat bergantung pada praktik penggunaan sehari-hari serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaganya (Putri et al., 2025).

Menurut Fishman (1991), keberhasilan revitalisasi bahasa sangat ditentukan oleh keberadaan domain penggunaan bahasa, khususnya dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan ruang sosial pertama di mana anak memperoleh bahasa (first language acquisition). Apabila bahasa daerah tidak digunakan dalam keluarga, maka peluang keberlanjutan bahasa tersebut menjadi sangat kecil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemertahanan bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan institusional, tetapi juga pada komitmen aktif penutur dalam mempertahankan praktik kebahasaan sebagai bagian dari identitas budaya (Ekarina & Apriyani, 2026).

Permasalahan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Biak secara aktif dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan kemudahan dan tuntutan pendidikan formal. Akibatnya, anak-anak mengalami keterbatasan dalam memahami dan menggunakan bahasa Biak. Kondisi ini juga diperkuat oleh temuan bahwa pembelajaran bahasa daerah yang kurang efektif dapat menyebabkan rendahnya keterampilan berbahasa pada anak (Diu  et.al., 2022).

Selain itu, kurangnya program edukasi berbasis komunitas serta minimnya media pembelajaran bahasa Biak turut memperparah kondisi tersebut. Padahal, pemertahanan bahasa dapat berlangsung secara efektif melalui berbagai praktik sosial dan kultural yang melibatkan masyarakat secara aktif, termasuk dalam ruang-ruang sosial seperti keluarga dan kegiatan komunitas (Suriyani et al., 2025). Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual.

Lebih lanjut, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya dipahami sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai proses adaptasi agar bahasa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika sosial masyarakat (Sembiring & Lestari, 2024). Sesuai dengan masalah yang terjadi di Kampung Dwar, maka strategi revitalisasi perlu dirancang secara sistematis dengan melibatkan keluarga sebagai agen utama dalam transmisi bahasa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang dengan fokus pada penguatan peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya pelestarian bahasa Biak; (2) meningkatkan kompetensi dasar berbahasa Biak pada anak-anak; (3) membangun kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga; dan (4) mengembangkan model pendampingan berbasis keluarga dalam revitalisasi bahasa.

METODE   

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Dwar yang terletak di Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, dan Provinsi Papua dengan menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach). Pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kegiatan. 

Tahapan Pelaksanaan

a.    Identifikasi Masalah: Tahap ini dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan keluarga. Hasil identifikasi menunjukkan rendahnya penggunaan bahasa Biak dalam keluarga.

b.    Sosialisasi Program: Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian bahasa daerah. Kegiatan ini melibatkan diskusi interaktif dan penyampaian materi edukatif.

c.    Pelatihan bahasa Biak: Pelatihan difokuskan pada penguasaan kosakata dasar, ungkapan sehari-hari, dan praktik komunikasi sederhana dalam Bahasa Biak.

d.    Pendampingan Keluarga: Pendampingan dilakukan secara langsung di lingkungan keluarga dengan memberikan bimbingan penggunaan bahasa Biak dalam aktivitas sehari-hari.

e.    Evaluasi: Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman serta observasi perubahan perilaku berbahasa.

     Subjek dan Mitra Kegiatan

Subjek kegiatan dalam pengabdian ini adalah 20 keluarga yang berdomisili di Kampung Dwar dan memiliki anak usia sekolah dasar sebagai sasaran utama dalam proses revitalisasi bahasa. Pemilihan subjek didasarkan pada pertimbangan bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi, khususnya dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak.

Adapun mitra kegiatan dalam program ini adalah masyarakat lokal dan tokoh adat setempat yang berperan sebagai fasilitator sosial sekaligus penjaga nilai-nilai budaya. Keterlibatan mitra ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan program, karena mereka memiliki otoritas kultural dan kedekatan sosial dengan masyarakat, sehingga mampu memperkuat legitimasi serta keberlanjutan kegiatan revitalisasi Bahasa Biak di lingkungan komunitas.

Indikator Keberhasilan

Dalam kegiatan pengabdian ini ditentukan berdasarkan beberapa aspek utama, yaitu (1) peningkatan skor pemahaman bahasa Biak yang diukur melalui hasil pre-test dan post-test, (2) peningkatan frekuensi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga, (3) tingkat partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung, dan (4) perubahan sikap peserta terhadap bahasa daerah, khususnya dalam hal kesadaran dan komitmen untuk menggunakan serta melestarikan bahasa Biak sebagai bagian dari identitas budaya.

                     HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK  

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Dwar menunjukkan capaian yang signifikan dalam berbagai aspek, meliputi dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta. Temuan ini diperoleh melalui kombinasi instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta wawancara terbimbing terhadap peserta kegiatan. Secara umum, hasil kegiatan tidak hanya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa, tetapi juga perubahan sikap dan terbentuknya kebiasaan baru dalam penggunaan bahasa Biak di lingkungan keluarga.

                 Gambar 1. Interaksi anak dan orang tua dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk praktik penggunaan bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar.

Pada aspek kognitif, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai bahasa Biak secara signifikan. Peningkatan ini ditandai dengan bertambahnya pemahaman terhadap kosakata dasar, struktur kalimat sederhana, serta fungsi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari. Peserta tidak hanya mampu mengenali unsur-unsur dasar bahasa, tetapi juga mulai memahami penggunaannya dalam konteks yang lebih nyata dan fungsional. Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan mampu memberikan kontribusi positif terhadap penguatan pengetahuan peserta, sekaligus mencerminkan efektivitas pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan kontekstual yang dipadukan dengan praktik langsung dapat memudahkan peserta dalam memahami dan menginternalisasi bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi afektif, kegiatan ini berhasil mendorong perubahan sikap yang cukup signifikan, terutama pada kalangan orang tua. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta memiliki persepsi bahwa penggunaan bahasa daerah kurang relevan dengan kebutuhan modern, terutama dalam konteks pendidikan formal dan mobilitas sosial. Namun, setelah mengikuti rangkaian kegiatan pendampingan, terjadi pergeseran cara pandang yang positif. Orang tua mulai menyadari bahwa Bahasa Biak memiliki fungsi yang lebih luas, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan identitas etnis. Perubahan ini ditandai dengan meningkatnya komitmen orang tua untuk kembali menggunakan bahasa Biak dalam interaksi keluarga dengan anak-anak.

Pada aspek psikomotorik, peningkatan keterampilan berbahasa terlihat dari kemampuan anak-anak dalam menggunakan kosakata dasar dan ungkapan sederhana dalam bahasa Biak. Anak-anak mulai mampu merespons percakapan sehari-hari dan terlibat dalam interaksi verbal menggunakan bahasa Biak. Peningkatan keterampilan ini tidak terlepas dari metode pendampingan yang menekankan praktik langsung, seperti dialog sederhana dan interaksi rutin dalam keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan belajar dan praktik langsung lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi berbahasa dibandingkan pendekatan teoritis semata.

Selain peningkatan pada tiga aspek utama tersebut, capaian penting lainnya adalah mulai terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga. Pembentukan kebiasaan ini merupakan indikator penting dalam keberhasilan revitalisasi bahasa, karena menunjukkan adanya proses internalisasi nilai dan praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini juga berpotensi menjadi strategi berkelanjutan dalam menjaga eksistensi bahasa Biak di tengah tekanan globalisasi dan dominasi bahasa nasional.

Secara teoretis, temuan dalam kegiatan ini memperkuat pandangan Fishman (1991) yang menekankan pentingnya domain keluarga dalam upaya mempertahankan dan merevitalisasi bahasa. Dalam konsep Reversing Language Shift, keluarga dipandang sebagai ruang utama dalam transmisi bahasa antargenerasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa ketika keluarga mulai aktif menggunakan bahasa Biak, anak-anak secara alami akan menyerap dan menginternalisasi bahasa tersebut melalui interaksi sehari-hari.

Lebih lanjut, pendekatan pendampingan yang digunakan dalam kegiatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional seperti ceramah. Pendampingan memungkinkan terjadinya proses belajar yang bersifat partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam praktik penggunaan bahasa dalam situasi nyata. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung.

Dari perspektif pembelajaran sosial, keterlibatan orang tua sebagai role model memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan program. Anak-anak cenderung meniru pola bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar. Oleh karena itu, konsistensi orang tua dalam menggunakan bahasa Biak menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses pemerolehan bahasa pada anak di lingkungan keluarga.

Namun demikian, implementasi program ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Keterbatasan waktu pendampingan menjadi salah satu tantangan dalam memastikan keberlanjutan program. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kemampuan peserta yang memengaruhi kecepatan adaptasi terhadap materi yang diberikan. Faktor eksternal, seperti dominasi penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sosial yang lebih luas, juga menjadi hambatan dalam optimalisasi penggunaan bahasa Biak.

Meskipun menghadapi berbagai kendala, secara keseluruhan kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga merupakan strategi yang efektif dan relevan dalam revitalisasi bahasa daerah, khususnya dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami pergeseran bahasa. Lebih lanjut, hasil ini juga membuka peluang untuk pengembangan model pengabdian berbasis komunitas yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi adat, dalam upaya pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan.

SIMPULAN  

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa penguatan peran keluarga melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual merupakan strategi yang efektif dalam revitalisasi bahasa Biak. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta dalam menggunakan bahasa Biak, yang tercermin dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, kegiatan ini juga mampu mendorong terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis sebagai domain utama dalam transmisi bahasa antargenerasi, sehingga menjadi kunci dalam upaya pemertahanan dan revitalisasi bahasa daerah. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu pendampingan dan pengaruh lingkungan eksternal, secara keseluruhan program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran dan praktik berbahasa masyarakat.

Oleh karena itu, model pendampingan berbasis keluarga yang dikembangkan dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan sebagai pendekatan yang berkelanjutan dalam pelestarian bahasa daerah, serta berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik yang serupa, dengan dukungan berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi adat.

 

REFERENSI

Diu, A.R., Rahmat, A., & Duludu, U. (2022). Pelestarian bahasa daerah Gorontalo dalam aktivitas belajar anak usia dini di Desa Lemito Utara Kecamatan Lemito. Student Journal of Early Childhood Education. https://ejournal-fipung.ac.id/ojs/index.php/SJCE/article/ view/904

Ekarina., & Apriyani, M. (2026). Bahasa dan budaya Jawa di gereja Katolik: Pemertahanan dan identitas. Linguistik Indonesia. http://ojs.linguistikindonesia.org/index.php/linguis tikindonesia/article/view/951

Fishman, Joshua. (1991). Reversing language shift: Theoretical and empirical foundations of assistance to threatened languages. Multilingual Matters. https://doi.org/10.21832/ 9781800418097

Putri, M., Faunelzi, M., Misriani, A., & Iskandar, Z. (2025). Pemertahanan bahasa Bali di lingkungan masyarakat Desa Suro Bali di Kabupaten Kepahiang. e-theses IAIN Curup. http://e-theses.iaincurup.ac.id/id/eprint/8738

Salam, L. F., & Hunava, N. (2024). Menjaga bahasa, merawat bangsa: Strategi pelestarian bahasa daerah. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikankreatif.com/index.php/ BASAYA/article/view/43

Sari, I. P., Insani, N. N., & Ridha, M. R. (2025). Ancaman pergeseran bahasa daerah dan dampaknya terhadap keberlanjutan warisan budaya di era global. Menulis: Jurnal Penelitian. https://padangjurnal.web.id/index. php/menulis/article/view/236

Sembiring, R. P. B., & Lestari, F. A. (2024). Revitalisasi bahasa daerah dalam era globalisasi antara pelestarian dan modernisasi. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikan kreatif.com/index.php/BASAYA/article/view/46

Suhassatya, G. K. (2025). Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dalam perspektif bahasa sebagai identitas budaya. Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora. https://publisherqu. com/index.php/pediaqu/article/view/2062

Suriyani, E., Suparmanto, & Akmaluddin. (2025). Bahasa Sasak dalam ekspresi keberagamaan masyarakat Islam Lombok. Journal of Arabic Linguistics and Literature. https://unissa.edu.bn/journal/index.php/jall/article/view/ 1037