Analysis of the Learning of Targhib wa Tarhib
in Improving Students’ Understanding and Enthusiasm in Fiqh Muamalah at
Al-Manshur Islamic Boarding School for Girls, Popongan, Klaten
Isma Nur Hanifa1, Rizquna Salsabila2,
Qodim Ma'shum3
Program Studi Pendidikan Agama Islam, UIN Raden Mas
Said Surakarta
Email: ismahanifa67@gmail.com,
rizqunasalsabila225@gmail.com, qodim.mashum@staff.uinsaid.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis
pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib dalam meningkatkan pemahaman dan
antusiasme santri pada materi fikih muamalah. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi partisipatif,
wawancara, dan pengumpulan dokumentasi. Penelitian ini dilangsungkan di Pondok
Pesantren Putri Komplek Barat Al-Manshur Popongan, Klaten, dengan subyek
penelitian yang terdiri dari para kyai, pengurus pondok, dan santri. Temuan
dari penelitian menunjukkan bahwa pengajaran yang berbasis kitab Targhib Wa
Tarhib efektif dalam meningkatkan pemahaman santri akan materi muamalah, yang
ditandai dengan kemampuan santri untuk menghubungkan konsep yang diajarkan
dengan kehidupan sehari-hari serta perubahan perilaku ke arah yang lebih
positif. Lebih jauh, santri menunjukkan semangat yang sangat tinggi terhadap
pembelajaran, terlihat dari keinginan mereka untuk berpartisipasi dalam
kegiatan, aktif bertanya, serta turut serta dalam diskusi baik di dalam maupun
di luar lingkungan kelas. Meskipun Targhib Wa Tarhib tidak membahas muamalah
dengan cara yang teknis, nilai-nilai motivasi yang terdapat di dalamnya
berpotensi untuk membentuk kesadaran moral dan spiritual santri dalam
berinteraksi di dalam muamalah. Dengan demikian, penguntegrasian elemen
motivasi dalam proses pembelajaran terbukti mampu menciptakan pengalaman
belajar yang bermakna, tidak hanya pada ranah kognitif tetapi juga pada aspek
efektif dan sosial.
Kata Kunci: Elemen Motivasi, Fiqih Muamalah, Kitab
Targhib Wa Tarhib, Proses Pembelajaran
Abstract
This study aims to examine the extent of the effect of integrating
motivational elements in the teaching of Islamic jurisprudence (fiqh) on
muamalah using the Targhib Wa Tarhib book, as well as to measure the students'
understanding and enthusiasm in the learning process. The method used is
qualitative by conducting participatory observation, interviews, and
documentation collection. This research was conducted at the Al-Manshur
Popongan West Complex Girls' Islamic Boarding School, Klaten, with research subjects
consisting of kyai, boarding school administrators, and students. The findings
of the study indicate that teaching based on the Targhib Wa Tarhib book is
effective in improving students' understanding of muamalah material, which is
characterized by the students' ability to connect the concepts taught with
everyday life and changes in behavior towards a more positive direction.
Furthermore, students show very high enthusiasm for learning, seen from their
desire to participate in activities, actively ask questions, and take part in
discussions both inside and outside the classroom environment. Even though
Targhib Wa Tarhib does not discuss muamalah in a technical way, the
motivational values contained in it have the potential to shape the moral and
spiritual awareness of students in interacting within muamalah. Thus,
integrating motivational elements in the learning process has been proven to be
able to create meaningful learning experiences, not only in the cognitive realm
but also in effective and social aspects.
Keywords: Motivational Elements, Muamalah Fiqh, Book of Targhib Wa Tarhib, Learning Process
PENDAHULUAN
Pembelajaran fikih muamalah memiliki peran strategis dalam membentuk
pemahaman santri terhadap praktik kehidupan sosial dan ekonomi yang sesuai
prinsip syariat Islam. Fikih muamalah tidak hanya berfokus pada aspek hukum
semata, tetapi juga mencakup nilai-nilai etika seperti kejujuran, tanggung
jawab, amanah, dan keadilan dalam setiap interaksi sosial. Dalam konteks
pendidikan pesantren, pembelajaran muamalah menjadi sangat penting karena
santri diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan
nyata, baik dalam lingkungan masyarakat maupun dunia kerja (Azizah & Khairunnisa, 2024). Oleh karena itu, proses pembelajaran yang efektif
harus mampu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara
seimbang. Pendekatan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan tanpa pemahaman
mendalam cenderung kurang mampu membentuk karakter santri secara utuh.
Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang menggabungkan aspek pengetahuan
dan sikap secara simultan lebih efektif dalam membentuk karakter peserta didik
dan meningkatkan internalisasi nilai-nilai keagamaan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran fikih
muamalah adalah integrasi aspek motivatif melalui kajian kitab Targhib wa
Tarhib. Kitab ini memuat berbagai hadis yang berisi dorongan (targhib)
berupa janji pahala serta peringatan (tarhib) berupa ancaman bagi pelanggaran
ajaran Islam. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pemahaman normatif, tetapi
juga menumbuhkan kesadaran emosional dan spiritual dalam diri santri. Studi
yang dilakukan Agus Zainudin menunjukkan bahwa pendekatan motivatif dalam
pembelajaran agama Islam mampu meningkatkan keterlibatan belajar, memperkuat
kesadaran religius, serta membangun sikap positif terhadap materi yang
dipelajari (Zainudin, 2022). Dengan adanya unsur motivasi tersebut, santri
diharapkan memiliki dorongan internal untuk mengamalkan ajaran Islam secara
konsisten. Selain itu, penggunaan kitab klasik dalam pembelajaran juga dapat
memperkuat tradisi keilmuan pesantren yang telah berlangsung secara turun-temurun
Namun demikian, efektivitas pembelajaran berbasis kitab Targhib wa
Tarhib dalam konteks fikih muamalah masih memerlukan kajian empiris yang
lebih mendalam. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai faktor yang memengaruhi
keberhasilan pembelajaran, seperti metode penyampaian guru, kemampuan awal
santri, serta lingkungan belajar yang mendukung atau tidak. Dalam beberapa
kasus, pembelajaran berbasis kitab klasik cenderung dianggap monoton jika tidak
diiringi dengan strategi pembelajaran yang inovatif dan interaktif. Selain itu,
penggunaan bahasa dalam kitab klasik yang relatif sulit juga dapat menjadi
hambatan bagi sebagian santri dalam memahami isi materi. Oleh karena itu,
diperlukan evaluasi terhadap sejauh mana pendekatan ini mampu memberikan dampak
yang signifikan terhadap hasil belajar santri.
Selain aspek efektivitas, tingkat pemahaman santri terhadap materi muamalah
yang disampaikan melalui kitab Targhib wa Tarhib juga menjadi fokus
penting dalam penelitian ini. Pemahaman yang dimaksud tidak hanya sebatas
kemampuan menjelaskan isi materi secara verbal, tetapi juga mencakup kemampuan
mengaitkan konsep dengan realitas kehidupan sehari-hari. Santri yang memiliki
pemahaman mendalam diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip muamalah seperti
kejujuran dalam transaksi, keadilan dalam bermitra, serta tanggung jawab dalam
menjalankan amanah. Hal ini menjadi indikator bahwa pembelajaran tidak hanya
berhenti pada tataran teori, tetapi telah mencapai tahap internalisasi nilai (Prawira & Soemitra, 2022).
Di sisi lain, antusiasme santri dalam mengikuti pembelajaran juga menjadi
indikator penting dalam menilai keberhasilan suatu metode pembelajaran. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Sofiya dan rekannya menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran
berbasis motivasi religius mampu meningkatkan minat, keaktifan, dan
keterlibatan peserta didik secara signifikan. Antusiasme ini dapat dilihat dari
tingkat keaktifan santri dalam bertanya, berdiskusi, serta keterlibatan mereka
selama proses pembelajaran berlangsung. Semakin tinggi tingkat partisipasi
santri, semakin besar kemungkinan materi yang disampaikan dapat dipahami dengan
baik (Sofiya et al., 2023). Pendekatan pembelajaran yang mengandung unsur
motivatif, seperti dalam kitab Targhib wa Tarhib, berpotensi
meningkatkan minat belajar karena menyentuh aspek emosional dan spiritual
santri. Selain itu, suasana pembelajaran yang interaktif dan komunikatif juga
dapat memperkuat keterlibatan santri dalam proses belajar.
Berdasarkan uraian tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran kitab Targhib
wa Tarhib dalam pembelajaran fikih muamalah di lingkungan pesantren. Selain
itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pemahaman santri terhadap
materi muamalah yang disampaikan, baik dalam aspek konseptual maupun dalam
pengaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis tingkat antusiasme santri dalam mengikuti proses
pembelajaran, yang ditunjukkan melalui keaktifan, keterlibatan, dan respon
santri selama kegiatan belajar berlangsung.
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metode
pembelajaran fikih muamalah yang lebih inovatif, kontekstual, dan relevan
dengan kebutuhan santri di era modern, serta menjadi referensi bagi pendidik di
lingkungan pesantren dalam mengintegrasikan aspek motivatif ke dalam proses
pembelajaran.Dengan demikian, pembelajaran
tidak hanya menghasilkan santri yang cerdas secara intelektual, tetapi juga
memiliki kesadaran religius dan moral yang kuat.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipan (participant
observation), yaitu teknik pengumpulan data di mana peneliti tidak hanya
mengamati, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam proses atau kegiatan yang
sedang diteliti (Krippendorff, 2004). Pendekatan kualitatif
dengan metode observasi partisipan dipilih karena penelitian ini bertujuan
memahami proses pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib
serta efektivitasnya dalam meningkatkan motivasi belajar fikih muamalah siswa. Lokasi penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Putri Komplek Barat Al-Manshur
Popongan, Klaten. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru pengampu,
pengurus pondok pesantren, serta siswa yang mengikuti program muatan lokal
pembelajaran kitab turats.
Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode, yaitu: Observasi, untuk
mengamati secara langsung proses pembelajaran, metode yang digunakan, serta
kondisi kelas, Wawancara, yang dilakukan secara mendalam kepada
informan guna memperoleh data terkait pengalaman, pandangan, dan respon
terhadap pembelajaran, Dokumentasi, berupa arsip, jadwal kegiatan, serta data
pendukung lainnya yang relevan dengan penelitian (Krippendorff, 2004). Instrumen
penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara dan lembar observasi yang
disusun secara sistematis sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis interaktif
yang meliputi tiga tahapan, yaitu: Kondensasi
data, yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, dan pengelompokan data,Penyajian data, yaitu menyusun data dalam bentuk narasi agar
mudah dipaham, Penarikan kesimpulan, yaitu
menginterpretasikan data untuk memperoleh temuan penelitian.
Untuk
menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber
dan metode, yaitu dengan membandingkan serta mengkaji secara mendalam data yang
diperoleh dari berbagai sumber dan melalui berbagai teknik pengumpulan data
seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi sumber dilakukan
dengan mengecek konsistensi informasi dari berbagai informan agar data tidak
hanya berasal dari satu sudut pandang, sedangkan triangulasi metode dilakukan
dengan membandingkan hasil dari setiap teknik pengumpulan data untuk melihat
kesesuaian dan keterkaitan antar data. Melalui proses ini, peneliti dapat
mengidentifikasi perbedaan maupun kesamaan informasi serta melakukan
klarifikasi terhadap data yang belum konsisten, sehingga data yang diperoleh
menjadi lebih akurat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
KAJIAN
TEORI
Fikih muamalah merupakan cabang ilmu fikih yang
membahas aturan-aturan syariat Islam dalam hubungan antar manusia, khususnya
dalam bidang ekonomi, sosial, dan transaksi. Pembelajaran fikih muamalah
bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai konsep,
dasar hukum, serta praktik muamalah dalam kehidupan sehari-hari Dalam konteks pendidikan,
pembelajaran fikih tidak hanya berfokus pada aspek kognitif (pengetahuan),
tetapi juga pada aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (praktik) (Rizal et al., 2024). Hal ini penting agar siswa
tidak hanya memahami hukum, tetapi juga mampu mengimplementasikannya
dalam kehidupan nyata.
Aspek normatif dalam pembelajaran merujuk pada
penyampaian nilai-nilai, aturan, dan hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan
Hadis sebagai pedoman hidup. Dalam pembelajaran fikih muamalah, aspek ini
berfungsi sebagai landasan utama dalam memahami halal-haram serta prinsip
keadilan dalam transaksi.Sementara itu, aspek motivatif berkaitan dengan
dorongan internal maupun eksternal yang dapat menumbuhkan semangat belajar
siswa (Zainudin,
2022). Motivasi dalam
pembelajaran sangat penting karena berpengaruh terhadap keaktifan, ketekunan,
dan hasil belajar siswa. Integrasi kedua aspek ini diharapkan mampu menciptakan
pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif dan bermakna.
Motivasi belajar merupakan dorongan dalam diri
seseorang untuk melakukan aktivitas belajar guna mencapai tujuan tertentu.
Motivasi dapat berasal dari dalam diri (intrinsik) maupun dari luar
(ekstrinsik). Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi biasanya
menunjukkan ciri-ciri seperti tekun, tidak mudah menyerah, aktif dalam
pembelajaran, serta memiliki keinginan kuat untuk memahami materi. Sebaliknya, rendahnya
motivasi dapat menyebabkan kurangnya minat belajar dan rendahnya hasil belajar (Marfu’ah et al., 2024). Oleh karena itu, guru perlu
menggunakan metode pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi siswa.
Kitab Turats dan Tradisi
Pembelajaran Pesantren Kitab
turats Kitab
kuning adalah salah satu indentitas penting dalam tradisi pendidikan pesantren
di Indonesia. Kitab ini merupakan kumpulan karya tulis klasik yang menyajikan
ilmu agama Islam, biasanya ditulis
dalam bahasa Arab
tanpa harakat atau
sering disebut kitab
gundul (Suryanto &
Khoir, 2023). Warna kuning pada
kertas kitab menjadi
alasan di balik
namanya. Kitab kuning
merujuk pada literatur klasik
Islam berbahasa Arab
tanpa harakat, menjadi
dasar untuk mendalami berbagai ilmu keislaman seperti
fikih, tafsir, hadis, nahwu, tasawuf, dan sebagainya. Dalam belajar kitab
kuning, pesantren menerapkan
dua metode utama
yang telah diwariskan dari
generasi ke generasi,
yaitu metode sorogan
dan bandongan. Pada
merode sorogan, santri membaca
isi kitab di
depan kiai, lalu
kiai memberikan umpan
balik dan bimbingan. Sedangkan
metode bandongan merupakan
metode dimana kia
membacaka isi kitab di
depan santri, sementara
santri menyimak dan
mencatat (Jannah
et al., 2025).
Metode tersebut yang digunakan banyak Pondok Pesantren di Indonesia hingga saat
ini.
Kitab Targhib wa Tarhib sebagai Sumber
Pembelajaran Kitab Targhib wa Tarhib merupakan salah satu kitab yang
berisi dorongan (targhib) dan peringatan (tarhib) berdasarkan dalil-dalil
Al-Qur’an dan Hadis (Anggraini,
2018). Kitab ini memiliki keunikan karena tidak hanya menyampaikan
hukum, tetapi juga memberikan motivasi spiritual melalui janji pahala dan
ancaman bagi pelanggaran. Dalam
pembelajaran fikih muamalah, kitab ini dapat digunakan sebagai media untuk
mengintegrasikan aspek normatif dan motivatif. Dengan demikian, siswa tidak
hanya memahami hukum muamalah secara teoritis, tetapi juga terdorong untuk
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Efektivitas pembelajaran merupakan tingkat
keberhasilan suatu proses pembelajaran dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Rusman, 2013). Pembelajaran dikatakan efektif
apabila mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, serta perubahan sikap dan
perilaku siswa. Dalam konteks penelitian ini, efektivitas pembelajaran
diukur melalui peningkatan motivasi belajar dan pemahaman siswa terhadap fikih
muamalah setelah mengikuti pembelajaran berbasis kitab Targhib wa Tarhib.
HASIL
PENELITIAN
Antusiasme Santri dalam Pembelajaran Targhib Wa Tarhib
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui
bahwa tingkat antusiasme santri dalam mengikuti pembelajaran kitab Targhib
wa Tarhib tergolong sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kebiasaan santri
yang datang lebih awal ke ruang pembelajaran dan telah menunggu kehadiran kiai
sebelum kegiatan dimulai. Bahkan, sebelum pembelajaran berlangsung, sebagian
santri tampak membuka kembali kitab dan mencoba memahami materi yang telah
disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Sikap ini menunjukkan adanya kesiapan belajar
serta minat yang kuat dari santri dalam mengikuti kajian.
Selama proses pembelajaran
berlangsung, suasana kelas terlihat hidup dan interaktif. Santri menunjukkan
perhatian yang tinggi dengan menyimak penjelasan kiai secara sungguh-sungguh,
mencatat poin-poin penting, serta memberikan respon terhadap materi yang
disampaikan. Pada sesi tanya jawab, santri tampak aktif dan kritis dengan
mengajukan berbagai pertanyaan, baik yang berkaitan dengan isi teks kitab
maupun yang berhubungan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keaktifan ini mencerminkan adanya rasa ingin tahu yang tinggi serta
keterlibatan langsung santri dalam proses pembelajaran.
Selain itu, berdasarkan
hasil wawancara, santri mengaku bahwa pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib
lebih menarik dibandingkan dengan metode pembelajaran biasa, karena di dalamnya
terdapat kisah-kisah hadis yang mengandung pesan motivatif berupa janji pahala
dan ancaman hukuman. Hal ini membuat santri merasa lebih tersentuh secara
emosional dan terdorong untuk memahami materi dengan lebih serius. Pendekatan
ini juga menjadikan pembelajaran tidak monoton, sehingga santri tetap fokus dan
tidak mudah merasa bosan selama kegiatan berlangsung.
Antusiasme santri juga terlihat dari keterlibatan
mereka di luar jam pembelajaran, seperti mengulang kembali materi, berdiskusi
dengan teman, serta saling bertukar pemahaman terkait isi kajian. Beberapa
santri bahkan menunjukkan inisiatif untuk mengaitkan materi dengan pengalaman
pribadi maupun fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan
bahwa ketertarikan mereka terhadap pembelajaran tidak hanya bersifat sesaat,
tetapi berkelanjutan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kitab Targhib wa Tarhib mampu membangun antusiasme santri secara
signifikan. Tingginya minat, keaktifan, serta keterlibatan santri dalam proses
pembelajaran menjadi indikator bahwa pendekatan motivatif yang digunakan
efektif dalam menciptakan suasana belajar yang hidup, interaktif, dan bermakna,
sehingga mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal
Pemahaman
Santri Terhadap Isi Kajian Kitab Targhib Wa Tarhib
Berdasarkan hasil observasi
partisipan yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, diperoleh
temuan bahwa santri menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup baik terhadap isi
kajian kitab Targhib wa Tarhib yang disampaikan oleh guru. Pemahaman
ini tidak hanya terlihat dari kemampuan santri dalam menjelaskan kembali materi
yang telah dipelajari, tetapi juga tercermin dalam perubahan perilaku mereka
sehari-hari. Santri
mulai menunjukkan sikap yang lebih disiplin, sopan, serta berhati-hati dalam
bertindak, terutama dalam hal yang berkaitan dengan nilai-nilai moral dan
keagamaan yang terkandung dalam kajian kitab tersebut.
Dari hasil wawancara dengan beberapa santri, diketahui
bahwa mereka mampu menangkap inti pesan dari materi yang disampaikan, khususnya
terkait dengan dorongan untuk melakukan kebaikan dan peringatan terhadap
perbuatan yang dilarang. Santri memahami bahwa setiap perbuatan memiliki
konsekuensi, baik berupa pahala maupun hukuman, sehingga santri berusaha untuk
lebih selektif dalam bersikap dan bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa
pemahaman santri tidak hanya bersifat teoritis, tetapi telah sampai pada tahap
internalisasi nilai. Lebih lanjut, santri juga mengungkapkan bahwa penyampaian
materi yang disertai kisah-kisah hadis memudahkan mereka dalam memahami dan
mengingat isi kajian, serta membantu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari
seperti menjaga kejujuran, menghindari kecurangan, dan bersikap adil dalam
berinteraksi. Selain itu, muncul pula kesadaran diri pada santri untuk
mengevaluasi perilaku mereka, bahkan dalam situasi tertentu mereka mengingat
kembali materi yang telah dipelajari sebagai pedoman dalam mengambil keputusan,
sehingga menunjukkan bahwa pemahaman yang dimiliki telah berkembang menjadi
sikap reflektif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, hasil observasi juga
menunjukkan bahwa setelah kegiatan pembelajaran selesai, sebagian santri masih
terlihat mendiskusikan kembali isi kajian Targhib wa Tarhib bersama
teman-temannya. Mereka saling bertukar pendapat, mengulang materi yang telah
disampaikan, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi ini
sering berlangsung secara spontan, baik di dalam kelas maupun di lingkungan
asrama, yang menunjukkan adanya ketertarikan yang tinggi terhadap materi yang
dipelajari. Dalam proses tersebut, santri juga tampak aktif mengajukan
pertanyaan, memberikan contoh kasus, serta mencoba memahami makna yang lebih
mendalam dari isi kajian. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran
tidak berhenti pada saat kegiatan formal saja, tetapi berlanjut secara mandiri
di luar kelas. Selain itu, interaksi antar santri dalam membahas materi turut
memperkuat pemahaman mereka melalui proses saling mengingatkan dan melengkapi.
Fenomena ini menjadi indikator bahwa santri memiliki ketertarikan dan pemahaman
yang cukup mendalam terhadap materi, serta menunjukkan adanya keterlibatan
belajar yang berkelanjutan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman
santri terhadap isi kajian kitab Targhib wa Tarhib tergolong baik, yang
ditunjukkan melalui kemampuan memahami pesan materi, perubahan perilaku ke arah
yang lebih positif, serta adanya inisiatif untuk mengkaji ulang materi secara
mandiri bersama teman sebaya, sehingga pembelajaran tidak hanya berhasil pada
aspek kognitif, tetapi juga berdampak pada aspek afektif dan sosial santri.
Selain itu, pemahaman yang terbentuk juga menunjukkan adanya kesiapan santri
dalam mengimplementasikan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga pembelajaran ini berkontribusi dalam membentuk pribadi
santri yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai
keislaman.
Keefektifan Pembelajaran Kitab Targhib Wa Tarhib dalam
Bermuamalah Santri
Meskipun secara langsung kitab Targhib
wa Tarhib tidak secara spesifik membahas praktik fikih muamalah secara
rinci, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memiliki keterkaitan yang
kuat secara substantif dengan perilaku santri dalam bermuamalah. Hal ini karena
konsep targhib (dorongan melalui janji pahala) dan tarhib (peringatan melalui
ancaman hukuman) pada dasarnya membentuk kesadaran moral dan spiritual yang
menjadi landasan dalam setiap tindakan, termasuk dalam aktivitas muamalah.
Contohnya seperti seorang yang berjualan dengan tidak berlandaskan kejujuran,
kelak diakhirat dia akan mendapat siksaan yang sesuai dengan apa yang
dilakukannya.
Dengan demikian, meskipun tidak bersifat langsung atau teknis, pembelajaran
kitab Targhib wa Tarhib tetap memberikan kontribusi penting dalam
membentuk sikap kehati-hatian, kejujuran, serta tanggung jawab santri dalam
menjalankan praktik muamalah sesuai dengan prinsip syariat Islam.
Berdasarkan hasil observasi
partisipan, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di Pondok Pesantren Putri
Komplek Barat Al-Manshur Popongan, diperoleh temuan bahwa pembelajaran kitab Targhib
wa Tarhib dalam konteks fikih muamalah menunjukkan tingkat keefektifan
yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari perubahan sikap dan pemahaman santri
yang tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi
afektif dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak sekadar
mengetahui konsep muamalah, melainkan mulai menunjukkan kesadaran untuk
menerapkan nilai-nilai tersebut, seperti kejujuran dalam transaksi, tanggung
jawab, serta sikap amanah dalam berinteraksi dengan sesama.
Dari hasil wawancara
dengan guru pengampu, diketahui bahwa integrasi nilai motivatif dalam kitab Targhib
wa Tarhib memberikan pengaruh signifikan terhadap kesadaran religius
santri. Penyampaian materi yang disertai dengan penjelasan mengenai ganjaran
(pahala) dan konsekuensi (hukuman) dari setiap perbuatan menjadikan santri
lebih berhati-hati dalam bertindak. Santri menjadi lebih memahami bahwa praktik
muamalah tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga memiliki implikasi
spiritual yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Hal ini memperkuat
internalisasi nilai-nilai syariat dalam diri santri.
Selain itu, berdasarkan hasil
observasi di kelas, santri terlihat lebih antusias dan terlibat aktif selama
proses pembelajaran berlangsung. Mereka cenderung lebih fokus ketika guru
menjelaskan kisah-kisah hadis yang mengandung unsur targhib dan tarhib, serta
lebih responsif dalam sesi diskusi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan
motivatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan bermakna
dibandingkan dengan metode ceramah konvensional yang bersifat satu arah.
Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran ini memberikan bekal yang cukup bagi santri dalam menghadapi
kehidupan di luar pesantren. Santri tidak hanya memahami teori muamalah, tetapi
juga memiliki kesadaran praktis tentang pentingnya menerapkan prinsip-prinsip
syariat dalam kehidupan nyata, seperti dalam kegiatan jual beli, kerja sama,
maupun interaksi sosial lainnya. Mereka menyadari bahwa setiap pelanggaran
terhadap aturan muamalah memiliki konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual,
sehingga muncul sikap kehati-hatian dalam bertindak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kitab Targhib wa Tarhib efektif dalam membentuk pemahaman dan sikap
santri dalam bermuamalah. Efektivitas ini ditandai dengan meningkatnya
kesadaran religius, pemahaman terhadap konsekuensi hukum Islam, serta kesiapan
santri untuk mengimplementasikan nilai-nilai muamalah dalam kehidupan setelah
keluar dari pondok pesantren. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan santri
yang memahami hukum, tetapi juga memiliki komitmen moral dan spiritual dalam
menjalankannya.
SIMPULAN
hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ini
memberikan bekal yang cukup bagi santri dalam menghadapi kehidupan di luar
pesantren. Santri tidak hanya memahami teori muamalah, tetapi juga memiliki
kesadaran praktis tentang pentingnya menerapkan prinsip-prinsip syariat dalam
kehidupan nyata, seperti dalam kegiatan jual beli, kerja sama, maupun interaksi
sosial lainnya. Mereka menyadari bahwa setiap pelanggaran terhadap aturan
muamalah memiliki konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual, sehingga muncul
sikap kehati-hatian dalam bertindak.
REFERENSI
Anggraini,
F. S. (2018). Targhib wa Tarhib Perspektif Al-Quran. INOVATIF: Jurnal
Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, 4(1), 141–165.
https://doi.org/https://doi.org/10.55148/inovatif.v4i1.69
Azizah,
A. N., & Khairunnisa, A. (2024). Pendidikan Informal dan Mendidik Perilaku
Ramah Lingkungan pada Anak. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 3(7),
3299–3303.
https://doi.org/https://ejournal.nusantaraglobal.or.id/index.php/sentri/article/view/3061
Jannah,
D. F., Wati, F. A., & Mubin, N. (2025). Kitab Kuning: Metode Sorogan dan
Bandongan di Pondok Pesantren. An Najah: Jurnal Pendidikan Islam Dan Sosial
Agama, 4(4), 225–230.
https://doi.org/https://journal.nabest.id/index.php/annajah/article/view/
Krippendorff,
K. H. (2004). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (M.
H. Seawell (ed.); Second Edi). SAGE Publications.
Marfu’ah,
N., Rambe, S. M., Affandi, M., & Subhan, M. (2024). Motivasi Belajar dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Journal of Education Research, 5(4),
6001–6005. https://doi.org/https://doi.org/10.37985/jer.v5i4.1812
Prawira,
I., & Soemitra, A. (2022). Fiqih Muamalah Zakat Kontemporer dalam
Perspektif Pendidikan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2),
13676–13687. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/jptam.v6i2.4612
Rizal,
M., Suratman, & Ifa, F. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fiqih Muamalah. Jurnal Sultan
Idris Pendidikan Profesi Guru, 2(1), 105–114.
https://doi.org/https://doi.org/10.21093/si-ppg.v2i1.9996
Rusman.
(2013). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Wali Press.
Sofiya,
D. A., Purbasari, I., & Setiawan, D. (2023). Hubungan Motivasi Belajar
dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD 01 Pringtulis. Jurnal Prasasti Ilmu,
3(2), 75–80. https://doi.org/https://doi.org/10.24176/jpi.v3i2.8646
Suryanto,
L., & Khoir, M. A. (2023). Implementasi pembelajaran fiqih muamalah dalam
penguatan nilai pendidikan kewirausahaan di Pondok Pesantren Al-Islam Darul
Falah Sragen. Jurnal Pendidikan Islam International Journal of Islamic
Education, 5(1), 497–505.
https://doi.org/https://doi.org/10.51468/jpi.v5i1.189
Zainudin,
A. (2022). Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Keberhasilan Belajar Siswa. FAJAR
Jurnal Pendidikan Islam, 2(2), 231–237.
https://doi.org/https://doi.org/10.56013/fj.v2i2.2650