Sunday, April 26, 2026

Analisis Pembelajaran Kitab Targhib Wa Tarhib dalam Meningkatkan Pemahaman dan Antusiasme Santri pada Fikih Muamalah di Pondok Pesantren Putri Al-Manshur Popongan Klaten


Analysis of the Learning of Targhib wa Tarhib in Improving Students’ Understanding and Enthusiasm in Fiqh Muamalah at Al-Manshur Islamic Boarding School for Girls, Popongan, Klaten

 

Isma Nur Hanifa1, Rizquna Salsabila2, Qodim Ma'shum3

Program Studi Pendidikan Agama Islam, UIN Raden Mas Said Surakarta

Email: ismahanifa67@gmail.com,  rizqunasalsabila225@gmail.com,   qodim.mashum@staff.uinsaid.ac.id

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib dalam meningkatkan pemahaman dan antusiasme santri pada materi fikih muamalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi partisipatif, wawancara, dan pengumpulan dokumentasi. Penelitian ini dilangsungkan di Pondok Pesantren Putri Komplek Barat Al-Manshur Popongan, Klaten, dengan subyek penelitian yang terdiri dari para kyai, pengurus pondok, dan santri. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa pengajaran yang berbasis kitab Targhib Wa Tarhib efektif dalam meningkatkan pemahaman santri akan materi muamalah, yang ditandai dengan kemampuan santri untuk menghubungkan konsep yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari serta perubahan perilaku ke arah yang lebih positif. Lebih jauh, santri menunjukkan semangat yang sangat tinggi terhadap pembelajaran, terlihat dari keinginan mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan, aktif bertanya, serta turut serta dalam diskusi baik di dalam maupun di luar lingkungan kelas. Meskipun Targhib Wa Tarhib tidak membahas muamalah dengan cara yang teknis, nilai-nilai motivasi yang terdapat di dalamnya berpotensi untuk membentuk kesadaran moral dan spiritual santri dalam berinteraksi di dalam muamalah. Dengan demikian, penguntegrasian elemen motivasi dalam proses pembelajaran terbukti mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, tidak hanya pada ranah kognitif tetapi juga pada aspek efektif dan sosial.

Kata Kunci: Elemen Motivasi, Fiqih Muamalah, Kitab Targhib Wa Tarhib, Proses Pembelajaran

Abstract

This study aims to examine the extent of the effect of integrating motivational elements in the teaching of Islamic jurisprudence (fiqh) on muamalah using the Targhib Wa Tarhib book, as well as to measure the students' understanding and enthusiasm in the learning process. The method used is qualitative by conducting participatory observation, interviews, and documentation collection. This research was conducted at the Al-Manshur Popongan West Complex Girls' Islamic Boarding School, Klaten, with research subjects consisting of kyai, boarding school administrators, and students. The findings of the study indicate that teaching based on the Targhib Wa Tarhib book is effective in improving students' understanding of muamalah material, which is characterized by the students' ability to connect the concepts taught with everyday life and changes in behavior towards a more positive direction. Furthermore, students show very high enthusiasm for learning, seen from their desire to participate in activities, actively ask questions, and take part in discussions both inside and outside the classroom environment. Even though Targhib Wa Tarhib does not discuss muamalah in a technical way, the motivational values ​​contained in it have the potential to shape the moral and spiritual awareness of students in interacting within muamalah. Thus, integrating motivational elements in the learning process has been proven to be able to create meaningful learning experiences, not only in the cognitive realm but also in effective and social aspects.

Keywords: Motivational Elements, Muamalah Fiqh, Book of Targhib Wa Tarhib, Learning Process

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran fikih muamalah memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman santri terhadap praktik kehidupan sosial dan ekonomi yang sesuai prinsip syariat Islam. Fikih muamalah tidak hanya berfokus pada aspek hukum semata, tetapi juga mencakup nilai-nilai etika seperti kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan keadilan dalam setiap interaksi sosial. Dalam konteks pendidikan pesantren, pembelajaran muamalah menjadi sangat penting karena santri diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata, baik dalam lingkungan masyarakat maupun dunia kerja (Azizah & Khairunnisa, 2024). Oleh karena itu, proses pembelajaran yang efektif harus mampu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang. Pendekatan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan tanpa pemahaman mendalam cenderung kurang mampu membentuk karakter santri secara utuh. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang menggabungkan aspek pengetahuan dan sikap secara simultan lebih efektif dalam membentuk karakter peserta didik dan meningkatkan internalisasi nilai-nilai keagamaan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran fikih muamalah adalah integrasi aspek motivatif melalui kajian kitab Targhib wa Tarhib. Kitab ini memuat berbagai hadis yang berisi dorongan (targhib) berupa janji pahala serta peringatan (tarhib) berupa ancaman bagi pelanggaran ajaran Islam. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pemahaman normatif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran emosional dan spiritual dalam diri santri. Studi yang dilakukan Agus Zainudin menunjukkan bahwa pendekatan motivatif dalam pembelajaran agama Islam mampu meningkatkan keterlibatan belajar, memperkuat kesadaran religius, serta membangun sikap positif terhadap materi yang dipelajari (Zainudin, 2022). Dengan adanya unsur motivasi tersebut, santri diharapkan memiliki dorongan internal untuk mengamalkan ajaran Islam secara konsisten. Selain itu, penggunaan kitab klasik dalam pembelajaran juga dapat memperkuat tradisi keilmuan pesantren yang telah berlangsung secara turun-temurun

Namun demikian, efektivitas pembelajaran berbasis kitab Targhib wa Tarhib dalam konteks fikih muamalah masih memerlukan kajian empiris yang lebih mendalam. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran, seperti metode penyampaian guru, kemampuan awal santri, serta lingkungan belajar yang mendukung atau tidak. Dalam beberapa kasus, pembelajaran berbasis kitab klasik cenderung dianggap monoton jika tidak diiringi dengan strategi pembelajaran yang inovatif dan interaktif. Selain itu, penggunaan bahasa dalam kitab klasik yang relatif sulit juga dapat menjadi hambatan bagi sebagian santri dalam memahami isi materi. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap sejauh mana pendekatan ini mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap hasil belajar santri.

Selain aspek efektivitas, tingkat pemahaman santri terhadap materi muamalah yang disampaikan melalui kitab Targhib wa Tarhib juga menjadi fokus penting dalam penelitian ini. Pemahaman yang dimaksud tidak hanya sebatas kemampuan menjelaskan isi materi secara verbal, tetapi juga mencakup kemampuan mengaitkan konsep dengan realitas kehidupan sehari-hari. Santri yang memiliki pemahaman mendalam diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip muamalah seperti kejujuran dalam transaksi, keadilan dalam bermitra, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah. Hal ini menjadi indikator bahwa pembelajaran tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi telah mencapai tahap internalisasi nilai (Prawira & Soemitra, 2022).

Di sisi lain, antusiasme santri dalam mengikuti pembelajaran juga menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan suatu metode pembelajaran. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sofiya dan rekannya  menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis motivasi religius mampu meningkatkan minat, keaktifan, dan keterlibatan peserta didik secara signifikan. Antusiasme ini dapat dilihat dari tingkat keaktifan santri dalam bertanya, berdiskusi, serta keterlibatan mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Semakin tinggi tingkat partisipasi santri, semakin besar kemungkinan materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik (Sofiya et al., 2023). Pendekatan pembelajaran yang mengandung unsur motivatif, seperti dalam kitab Targhib wa Tarhib, berpotensi meningkatkan minat belajar karena menyentuh aspek emosional dan spiritual santri. Selain itu, suasana pembelajaran yang interaktif dan komunikatif juga dapat memperkuat keterlibatan santri dalam proses belajar.

Berdasarkan uraian tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib dalam pembelajaran fikih muamalah di lingkungan pesantren. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pemahaman santri terhadap materi muamalah yang disampaikan, baik dalam aspek konseptual maupun dalam pengaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat antusiasme santri dalam mengikuti proses pembelajaran, yang ditunjukkan melalui keaktifan, keterlibatan, dan respon santri selama kegiatan belajar berlangsung.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metode pembelajaran fikih muamalah yang lebih inovatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan santri di era modern, serta menjadi referensi bagi pendidik di lingkungan pesantren dalam mengintegrasikan aspek motivatif ke dalam proses pembelajaran.Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menghasilkan santri yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran religius dan moral yang kuat.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipan (participant observation), yaitu teknik pengumpulan data di mana peneliti tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam proses atau kegiatan yang sedang diteliti (Krippendorff, 2004). Pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipan dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami proses pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib serta efektivitasnya dalam meningkatkan motivasi belajar fikih muamalah siswa. Lokasi penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Putri Komplek Barat Al-Manshur Popongan, Klaten. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru pengampu, pengurus pondok pesantren, serta siswa yang mengikuti program muatan lokal pembelajaran kitab turats.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode, yaitu: Observasi, untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran, metode yang digunakan, serta kondisi kelas, Wawancara, yang dilakukan secara mendalam kepada informan guna memperoleh data terkait pengalaman, pandangan, dan respon terhadap pembelajaran, Dokumentasi, berupa arsip, jadwal kegiatan, serta data pendukung lainnya yang relevan dengan penelitian (Krippendorff, 2004). Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara dan lembar observasi yang disusun secara sistematis sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi tiga tahapan, yaitu: Kondensasi data, yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, dan pengelompokan data,Penyajian data, yaitu menyusun data dalam bentuk narasi agar mudah dipaham, Penarikan kesimpulan, yaitu menginterpretasikan data untuk memperoleh temuan penelitian.

Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu dengan membandingkan serta mengkaji secara mendalam data yang diperoleh dari berbagai sumber dan melalui berbagai teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi sumber dilakukan dengan mengecek konsistensi informasi dari berbagai informan agar data tidak hanya berasal dari satu sudut pandang, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil dari setiap teknik pengumpulan data untuk melihat kesesuaian dan keterkaitan antar data. Melalui proses ini, peneliti dapat mengidentifikasi perbedaan maupun kesamaan informasi serta melakukan klarifikasi terhadap data yang belum konsisten, sehingga data yang diperoleh menjadi lebih akurat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

 

KAJIAN TEORI

Fikih muamalah merupakan cabang ilmu fikih yang membahas aturan-aturan syariat Islam dalam hubungan antar manusia, khususnya dalam bidang ekonomi, sosial, dan transaksi. Pembelajaran fikih muamalah bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai konsep, dasar hukum, serta praktik muamalah dalam kehidupan sehari-hari Dalam konteks pendidikan, pembelajaran fikih tidak hanya berfokus pada aspek kognitif (pengetahuan), tetapi juga pada aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (praktik) (Rizal et al., 2024). Hal ini penting agar siswa tidak hanya memahami hukum, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

Aspek normatif dalam pembelajaran merujuk pada penyampaian nilai-nilai, aturan, dan hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup. Dalam pembelajaran fikih muamalah, aspek ini berfungsi sebagai landasan utama dalam memahami halal-haram serta prinsip keadilan dalam transaksi.Sementara itu, aspek motivatif berkaitan dengan dorongan internal maupun eksternal yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa (Zainudin, 2022). Motivasi dalam pembelajaran sangat penting karena berpengaruh terhadap keaktifan, ketekunan, dan hasil belajar siswa. Integrasi kedua aspek ini diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif dan bermakna.

Motivasi belajar merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas belajar guna mencapai tujuan tertentu. Motivasi dapat berasal dari dalam diri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik). Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi biasanya menunjukkan ciri-ciri seperti tekun, tidak mudah menyerah, aktif dalam pembelajaran, serta memiliki keinginan kuat untuk memahami materi. Sebaliknya, rendahnya motivasi dapat menyebabkan kurangnya minat belajar dan rendahnya hasil belajar (Marfu’ah et al., 2024). Oleh karena itu, guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi siswa.

Kitab Turats dan Tradisi Pembelajaran Pesantren Kitab turats Kitab kuning adalah salah satu indentitas penting dalam tradisi pendidikan pesantren di Indonesia. Kitab ini merupakan kumpulan karya tulis klasik yang menyajikan ilmu agama Islam,  biasanya  ditulis  dalam  bahasa  Arab  tanpa  harakat  atau  sering  disebut  kitab  gundul (Suryanto & Khoir, 2023). Warna  kuning  pada  kertas  kitab  menjadi  alasan  di  balik  namanya.  Kitab  kuning  merujuk pada  literatur  klasik  Islam  berbahasa  Arab  tanpa  harakat,  menjadi  dasar  untuk  mendalami berbagai ilmu keislaman seperti fikih, tafsir, hadis, nahwu, tasawuf, dan sebagainya. Dalam  belajar  kitab  kuning,  pesantren  menerapkan  dua  metode  utama  yang  telah diwariskan  dari  generasi  ke  generasi,  yaitu  metode  sorogan  dan  bandongan.  Pada  merode sorogan,  santri  membaca  isi  kitab  di  depan  kiai,  lalu  kiai  memberikan  umpan  balik  dan bimbingan.  Sedangkan  metode  bandongan  merupakan  metode  dimana  kia  membacaka  isi kitab  di  depan  santri,  sementara  santri  menyimak  dan  mencatat (Jannah et al., 2025). Metode tersebut yang digunakan banyak Pondok Pesantren di Indonesia hingga saat ini.

Kitab Targhib wa Tarhib sebagai Sumber Pembelajaran Kitab Targhib wa Tarhib merupakan salah satu kitab yang berisi dorongan (targhib) dan peringatan (tarhib) berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis (Anggraini, 2018). Kitab ini memiliki keunikan karena tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi juga memberikan motivasi spiritual melalui janji pahala dan ancaman bagi pelanggaran. Dalam pembelajaran fikih muamalah, kitab ini dapat digunakan sebagai media untuk mengintegrasikan aspek normatif dan motivatif. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami hukum muamalah secara teoritis, tetapi juga terdorong untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Efektivitas pembelajaran merupakan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Rusman, 2013). Pembelajaran dikatakan efektif apabila mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, serta perubahan sikap dan perilaku siswa. Dalam konteks penelitian ini, efektivitas pembelajaran diukur melalui peningkatan motivasi belajar dan pemahaman siswa terhadap fikih muamalah setelah mengikuti pembelajaran berbasis kitab Targhib wa Tarhib.         

HASIL PENELITIAN

Antusiasme Santri dalam Pembelajaran Targhib Wa Tarhib

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa tingkat antusiasme santri dalam mengikuti pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib tergolong sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kebiasaan santri yang datang lebih awal ke ruang pembelajaran dan telah menunggu kehadiran kiai sebelum kegiatan dimulai. Bahkan, sebelum pembelajaran berlangsung, sebagian santri tampak membuka kembali kitab dan mencoba memahami materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Sikap ini menunjukkan adanya kesiapan belajar serta minat yang kuat dari santri dalam mengikuti kajian.

Selama proses pembelajaran berlangsung, suasana kelas terlihat hidup dan interaktif. Santri menunjukkan perhatian yang tinggi dengan menyimak penjelasan kiai secara sungguh-sungguh, mencatat poin-poin penting, serta memberikan respon terhadap materi yang disampaikan. Pada sesi tanya jawab, santri tampak aktif dan kritis dengan mengajukan berbagai pertanyaan, baik yang berkaitan dengan isi teks kitab maupun yang berhubungan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Keaktifan ini mencerminkan adanya rasa ingin tahu yang tinggi serta keterlibatan langsung santri dalam proses pembelajaran.

Selain itu, berdasarkan hasil wawancara, santri mengaku bahwa pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib lebih menarik dibandingkan dengan metode pembelajaran biasa, karena di dalamnya terdapat kisah-kisah hadis yang mengandung pesan motivatif berupa janji pahala dan ancaman hukuman. Hal ini membuat santri merasa lebih tersentuh secara emosional dan terdorong untuk memahami materi dengan lebih serius. Pendekatan ini juga menjadikan pembelajaran tidak monoton, sehingga santri tetap fokus dan tidak mudah merasa bosan selama kegiatan berlangsung.

Antusiasme santri juga terlihat dari keterlibatan mereka di luar jam pembelajaran, seperti mengulang kembali materi, berdiskusi dengan teman, serta saling bertukar pemahaman terkait isi kajian. Beberapa santri bahkan menunjukkan inisiatif untuk mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi maupun fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa ketertarikan mereka terhadap pembelajaran tidak hanya bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib mampu membangun antusiasme santri secara signifikan. Tingginya minat, keaktifan, serta keterlibatan santri dalam proses pembelajaran menjadi indikator bahwa pendekatan motivatif yang digunakan efektif dalam menciptakan suasana belajar yang hidup, interaktif, dan bermakna, sehingga mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal

Pemahaman Santri Terhadap Isi Kajian Kitab Targhib Wa Tarhib

Berdasarkan hasil observasi partisipan yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, diperoleh temuan bahwa santri menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup baik terhadap isi kajian kitab Targhib wa Tarhib yang disampaikan oleh guru. Pemahaman ini tidak hanya terlihat dari kemampuan santri dalam menjelaskan kembali materi yang telah dipelajari, tetapi juga tercermin dalam perubahan perilaku mereka sehari-hari. Santri mulai menunjukkan sikap yang lebih disiplin, sopan, serta berhati-hati dalam bertindak, terutama dalam hal yang berkaitan dengan nilai-nilai moral dan keagamaan yang terkandung dalam kajian kitab tersebut.

Dari hasil wawancara dengan beberapa santri, diketahui bahwa mereka mampu menangkap inti pesan dari materi yang disampaikan, khususnya terkait dengan dorongan untuk melakukan kebaikan dan peringatan terhadap perbuatan yang dilarang. Santri memahami bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, baik berupa pahala maupun hukuman, sehingga santri berusaha untuk lebih selektif dalam bersikap dan bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman santri tidak hanya bersifat teoritis, tetapi telah sampai pada tahap internalisasi nilai. Lebih lanjut, santri juga mengungkapkan bahwa penyampaian materi yang disertai kisah-kisah hadis memudahkan mereka dalam memahami dan mengingat isi kajian, serta membantu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari seperti menjaga kejujuran, menghindari kecurangan, dan bersikap adil dalam berinteraksi. Selain itu, muncul pula kesadaran diri pada santri untuk mengevaluasi perilaku mereka, bahkan dalam situasi tertentu mereka mengingat kembali materi yang telah dipelajari sebagai pedoman dalam mengambil keputusan, sehingga menunjukkan bahwa pemahaman yang dimiliki telah berkembang menjadi sikap reflektif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, hasil observasi juga menunjukkan bahwa setelah kegiatan pembelajaran selesai, sebagian santri masih terlihat mendiskusikan kembali isi kajian Targhib wa Tarhib bersama teman-temannya. Mereka saling bertukar pendapat, mengulang materi yang telah disampaikan, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi ini sering berlangsung secara spontan, baik di dalam kelas maupun di lingkungan asrama, yang menunjukkan adanya ketertarikan yang tinggi terhadap materi yang dipelajari. Dalam proses tersebut, santri juga tampak aktif mengajukan pertanyaan, memberikan contoh kasus, serta mencoba memahami makna yang lebih mendalam dari isi kajian. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak berhenti pada saat kegiatan formal saja, tetapi berlanjut secara mandiri di luar kelas. Selain itu, interaksi antar santri dalam membahas materi turut memperkuat pemahaman mereka melalui proses saling mengingatkan dan melengkapi. Fenomena ini menjadi indikator bahwa santri memiliki ketertarikan dan pemahaman yang cukup mendalam terhadap materi, serta menunjukkan adanya keterlibatan belajar yang berkelanjutan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman santri terhadap isi kajian kitab Targhib wa Tarhib tergolong baik, yang ditunjukkan melalui kemampuan memahami pesan materi, perubahan perilaku ke arah yang lebih positif, serta adanya inisiatif untuk mengkaji ulang materi secara mandiri bersama teman sebaya, sehingga pembelajaran tidak hanya berhasil pada aspek kognitif, tetapi juga berdampak pada aspek afektif dan sosial santri. Selain itu, pemahaman yang terbentuk juga menunjukkan adanya kesiapan santri dalam mengimplementasikan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran ini berkontribusi dalam membentuk pribadi santri yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Keefektifan Pembelajaran Kitab Targhib Wa Tarhib dalam Bermuamalah Santri

              Meskipun secara langsung kitab Targhib wa Tarhib tidak secara spesifik membahas praktik fikih muamalah secara rinci, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memiliki keterkaitan yang kuat secara substantif dengan perilaku santri dalam bermuamalah. Hal ini karena konsep targhib (dorongan melalui janji pahala) dan tarhib (peringatan melalui ancaman hukuman) pada dasarnya membentuk kesadaran moral dan spiritual yang menjadi landasan dalam setiap tindakan, termasuk dalam aktivitas muamalah. Contohnya seperti seorang yang berjualan dengan tidak berlandaskan kejujuran, kelak diakhirat dia akan mendapat siksaan yang sesuai dengan apa yang dilakukannya. Dengan demikian, meskipun tidak bersifat langsung atau teknis, pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib tetap memberikan kontribusi penting dalam membentuk sikap kehati-hatian, kejujuran, serta tanggung jawab santri dalam menjalankan praktik muamalah sesuai dengan prinsip syariat Islam.

Berdasarkan hasil observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di Pondok Pesantren Putri Komplek Barat Al-Manshur Popongan, diperoleh temuan bahwa pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib dalam konteks fikih muamalah menunjukkan tingkat keefektifan yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari perubahan sikap dan pemahaman santri yang tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi afektif dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak sekadar mengetahui konsep muamalah, melainkan mulai menunjukkan kesadaran untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, seperti kejujuran dalam transaksi, tanggung jawab, serta sikap amanah dalam berinteraksi dengan sesama.

Dari hasil wawancara dengan guru pengampu, diketahui bahwa integrasi nilai motivatif dalam kitab Targhib wa Tarhib memberikan pengaruh signifikan terhadap kesadaran religius santri. Penyampaian materi yang disertai dengan penjelasan mengenai ganjaran (pahala) dan konsekuensi (hukuman) dari setiap perbuatan menjadikan santri lebih berhati-hati dalam bertindak. Santri menjadi lebih memahami bahwa praktik muamalah tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga memiliki implikasi spiritual yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Hal ini memperkuat internalisasi nilai-nilai syariat dalam diri santri.

Selain itu, berdasarkan hasil observasi di kelas, santri terlihat lebih antusias dan terlibat aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Mereka cenderung lebih fokus ketika guru menjelaskan kisah-kisah hadis yang mengandung unsur targhib dan tarhib, serta lebih responsif dalam sesi diskusi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan motivatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan bermakna dibandingkan dengan metode ceramah konvensional yang bersifat satu arah.

Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ini memberikan bekal yang cukup bagi santri dalam menghadapi kehidupan di luar pesantren. Santri tidak hanya memahami teori muamalah, tetapi juga memiliki kesadaran praktis tentang pentingnya menerapkan prinsip-prinsip syariat dalam kehidupan nyata, seperti dalam kegiatan jual beli, kerja sama, maupun interaksi sosial lainnya. Mereka menyadari bahwa setiap pelanggaran terhadap aturan muamalah memiliki konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual, sehingga muncul sikap kehati-hatian dalam bertindak.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kitab Targhib wa Tarhib efektif dalam membentuk pemahaman dan sikap santri dalam bermuamalah. Efektivitas ini ditandai dengan meningkatnya kesadaran religius, pemahaman terhadap konsekuensi hukum Islam, serta kesiapan santri untuk mengimplementasikan nilai-nilai muamalah dalam kehidupan setelah keluar dari pondok pesantren. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan santri yang memahami hukum, tetapi juga memiliki komitmen moral dan spiritual dalam menjalankannya.

 

SIMPULAN

hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ini memberikan bekal yang cukup bagi santri dalam menghadapi kehidupan di luar pesantren. Santri tidak hanya memahami teori muamalah, tetapi juga memiliki kesadaran praktis tentang pentingnya menerapkan prinsip-prinsip syariat dalam kehidupan nyata, seperti dalam kegiatan jual beli, kerja sama, maupun interaksi sosial lainnya. Mereka menyadari bahwa setiap pelanggaran terhadap aturan muamalah memiliki konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual, sehingga muncul sikap kehati-hatian dalam bertindak.

 

REFERENSI

Anggraini, F. S. (2018). Targhib wa Tarhib Perspektif Al-Quran. INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, 4(1), 141–165. https://doi.org/https://doi.org/10.55148/inovatif.v4i1.69

Azizah, A. N., & Khairunnisa, A. (2024). Pendidikan Informal dan Mendidik Perilaku Ramah Lingkungan pada Anak. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 3(7), 3299–3303. https://doi.org/https://ejournal.nusantaraglobal.or.id/index.php/sentri/article/view/3061

Jannah, D. F., Wati, F. A., & Mubin, N. (2025). Kitab Kuning: Metode Sorogan dan Bandongan di Pondok Pesantren. An Najah: Jurnal Pendidikan Islam Dan Sosial Agama, 4(4), 225–230. https://doi.org/https://journal.nabest.id/index.php/annajah/article/view/

Krippendorff, K. H. (2004). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (M. H. Seawell (ed.); Second Edi). SAGE Publications.

Marfu’ah, N., Rambe, S. M., Affandi, M., & Subhan, M. (2024). Motivasi Belajar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Journal of Education Research, 5(4), 6001–6005. https://doi.org/https://doi.org/10.37985/jer.v5i4.1812

Prawira, I., & Soemitra, A. (2022). Fiqih Muamalah Zakat Kontemporer dalam Perspektif Pendidikan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 13676–13687. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/jptam.v6i2.4612

Rizal, M., Suratman, & Ifa, F. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fiqih Muamalah. Jurnal Sultan Idris Pendidikan Profesi Guru, 2(1), 105–114. https://doi.org/https://doi.org/10.21093/si-ppg.v2i1.9996

Rusman. (2013). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Wali Press.

Sofiya, D. A., Purbasari, I., & Setiawan, D. (2023). Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD 01 Pringtulis. Jurnal Prasasti Ilmu, 3(2), 75–80. https://doi.org/https://doi.org/10.24176/jpi.v3i2.8646

Suryanto, L., & Khoir, M. A. (2023). Implementasi pembelajaran fiqih muamalah dalam penguatan nilai pendidikan kewirausahaan di Pondok Pesantren Al-Islam Darul Falah Sragen. Jurnal Pendidikan Islam International Journal of Islamic Education, 5(1), 497–505. https://doi.org/https://doi.org/10.51468/jpi.v5i1.189

Zainudin, A. (2022). Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Keberhasilan Belajar Siswa. FAJAR Jurnal Pendidikan Islam, 2(2), 231–237. https://doi.org/https://doi.org/10.56013/fj.v2i2.2650

 

No comments:

Post a Comment