Showing posts with label siswa. Show all posts
Showing posts with label siswa. Show all posts

Wednesday, May 20, 2026

Rancang Bangun LMS Berbasis PJBL dalam Meningkatkan Kompetensi Junior Network Administrator Siswa Kelas XI SMK Ketintang Surabaya

Design and Development of a Project-Based Learning (PJBL) LMS to Improve the Competence of Junior Network Administrators among Grade XI Students at SMK Ketintang Surabaya 

Design and Development of a Project-Based Learning (PJBL) LMS to Improve the Competence of Junior Network Administrators among Grade XI Students at SMK Ketintang Surabaya | Al-Hamam | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Akhdany Ichsar Al-Hamam, I Gusti Lanang Putra Eka Prismana

Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.

Email: akhdany.21038@mhs.unesa.ac.id

Abstrak

Dilatarbelakangi oleh rendahnya keaktifan serta kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran, serta kurang optimalnya pemanfaatan teknologi oleh guru, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Learning Management System (LMS) berbasis Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan kompetensi Junior Network Administrator pada mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel siswa kelas XI SMK Ketintang Surabaya. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan pengumpulan data melalui validasi ahli, tes hasil asesmen, serta kuesioner berbasis Technology Acceptance Model (TAM) yang mencakup Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LMS berbasis PjBL memiliki tingkat validitas sangat tinggi sebesar 90,6% serta mampu meningkatkan hasil asesmen siswa secara signifikan, ditunjukkan oleh perbedaan rata-rata nilai antara kelas kontrol (72,5) dan eksperimen (87,1) serta hasil uji Mann-Whitney U dengan signifikansi <0,05. Meskipun terdapat hubungan positif antara Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use, keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil asesmen. Dengan demikian, LMS berbasis PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, namun penerimaan teknologi tidak memberikan pengaruh langsung terhadap peningkatan tersebut.

Kata kunci: Learning Management System, Project-Based Learning, Junior Network Administrator

Abstract

Motivated by the low level of student participation and creative thinking skills in learning, as well as the suboptimal use of technology by teachers, this study aims to develop and examine the feasibility of a Project Based Learning (PjBL)-based Learning Management System (LMS) to improve the Junior Network Administrator competency in the Wired and Wireless Network Technology subject for Grade XI students at SMK Ketintang Surabaya. This study employs a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consist of the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The research subjects were divided into an ecxperimental class and a control class, with data collected through expert validation, learning outcome test, and questionnaires based on the Techmology Acceptance Model (TAM), including Perceived of Usefulness and Perceived Ease of Use variabels. The result indicate that the PjBL-based LMS has a very hugh validity level of 90.6% and is effective in significantly improving students’ learning outcomes, as shown by the difference in avarage scores between the control class (72.5) and the experimental class (87.1), as well as the Mann-Whitney U  test  result with a significance value of <0.05. Althought there  is a positive relationship between Perceived of Usefulness and Perceived Ease of Use. Both variabels do not have a significant effect on the improvement of learning outcomes. Therefore, it can be concluded that the implementation of a PjBL-based LMS is effective in improving students’ learning outcomes; however, technology acceptance does not have a direct effect on these improvements.

Keywords:  Learning Management System,Project-Based Learning,  Junior Network Administrator

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Transformasi digital menuntut sistem pendidikan untuk mampu beradaptasi dengan kebutuhan abad ke-21 yang menekankan pada penguasaan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Dalam konteks pendidikan kejuruan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tuntutan tersebut semakin kompleks karena lulusan tidak hanya diharapkan memiliki pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teknologi secara efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Pada program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), khususnya pada mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel, siswa dituntut untuk menguasai kompetensi sebagai Junior Network Administrator. Kompetensi ini mencakup kemampuan dalam merancang, mengelola, serta memecahkan permasalahan jaringan komputer secara sistematis. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung masih didominasi oleh metode konvensional yang berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam menerima materi, kurang terlibat dalam diskusi, serta belum optimal dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya hasil asesmen dan kurangnya kesiapan siswa dalam menghadapi tuntutan dunia kerja.

Permasalahan tersebut juga diperkuat oleh keterbatasan penggunaan media pembelajaran digital yang mampu memfasilitasi pembelajaran secara terstruktur, interaktif, dan fleksibel. Meskipun beberapa sekolah telah mulai memanfaatkan teknologi, implementasinya belum sepenuhnya mendukung pembelajaran berbasis praktik dan proyek. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep teoritis. Oleh karena itu, diperlukan suatu media pembelajaran yang tidak hanya berfungsi sebagai lingkungan belajar yang mampu mendorong keterlibatan aktif siswa.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan Learning Management System (LMS). LMS merupakan platform pembelajaran digital yang memungkinkan pengelolaan materi, aktivitas belajar, serta evaluasi secara terintegrasi dan fleksibel. Penggunaan LMS dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui penyediaan akses belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu. Namun, keberhasilan implementasi LMS sangat bergantung pada desain pembelajaran yang digunakan. LMS yang tidak dirancang dengan pendekatan pedagogis yang tepat cenderung hanya menjadi media penyimpanan materi tanpa memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut, pendekatan Project-Based Learning (PjBL) dapat diintegrasikan ke dalam LMS. PjBL merupakan model pembelajaran yang berfokus pada penyelesaian proyek sebagai sarana untuk membangun pengetahuan dan keterampilan siswa. Melalui PjBL, siswa didorong untuk aktif dalam mencari informasi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyelesaikan permasalahan yang bersifat kontekstual dan autentik. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan dalam bidang jaringan komputer.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini memiliki nilai kebaruan pada pengembangan Learning Management System berbasis Project-Based Learning yang dikombinasikan dengan pendekatan Technology Acceptance Model dalam konteks pembelajaran jaringan komputer di SMK. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LMS yang layak digunakan serta menganalisis efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi Junior Network Administrator siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran digital yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan kejuruan di era digital.

 

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pendekatan kuantitatif. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang terdiri dari lima tahap, yaitu analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Model ini dipilih karena bersifat sistematis dan sesuai untuk pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi. Selain pengembangan pada model ADDIE, efektivitas Learning Management System (LMS) juga akan diuji menggunakan angket yang dinilai siswa sebagai pengguna menggunakan variabel Technology Acceptance Model (TAM)

Subjek dan Konteks Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMK dengan subjek siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning dan diharapkan dapat menghasilkan perbedaan signifikan dengan kelas kontrol, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional.

Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu validasi ahli untuk menilai kelayakan LMS, tes hasil kompetensi untuk mengukur kompetensi siswa dengan tes kognitif dan psikomotorik yang dilandasi dengan PjBL, serta angket berbasis Technology Acceptance Model (TAM) untuk mengetahui tingkat penerimaan teknologi yang digunakan siswa untuk kegiatan belajar.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa tahap secara kuantitatif menggunakan perangkat lunak statistik. Sebelum mengolah data kompetensi siswa, instrumen penelitian yaitu media, materi dan soal pembelajaran, serta modul ajar diujikan pada ahli sesuai bidangnya dan menghasilkan nilai validitas media. Data hasil tes kompetensi siswa diuji normalitasnya untuk menentukan teknik analisis selanjutnya. Apabila hasil uji normalitas berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis dengan uji parametrik, namun apabila hasil uji normalitas menujukkan data tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji non-parametrik Mann-Whitney U. Selanjutnya media pembelajaran yang digunakan siswa akan dinilai menggunakan angket dan diuji dengan validitas dan reliabilitas untuk menilai kelayakan LMS menurut sudut pandang pengguna.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengembangan LMS Berbasis Moodle

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa Learning Management System (LMS) berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang dikembangkan menggunakan platform Moodle. LMS dirancang untuk mendukung proses pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui integrasi aktivitas berbasis proyek yang sistematis. Struktur LMS mencakup beberapa komponen utama, yaitu penyajian materi pembelajaran, forum diskusi, penugasan proyek berbasis kelompok, kuis evaluasi, serta fitur monitoring progres siswa. Pada tahap pengembangan, LMS disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel, khususnya pada kompetensi Junior Network Administrator. Setiap aktivitas pembelajaran dirancang mengikuti sintaks Project-Based Learning, yaitu penentuan proyek, perencanaan, pelaksanaan, monitoring, hingga evaluasi hasil proyek. Dengan demikian, LMS tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi, tetapi juga sebagai lingkungan belajar yang mendukung keterampilan praktis dan pemecahan masalah. Hasil validasi oleh ahli media dan ahli materi menunjukkan bahwa LMS yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan sebesar 90,6% dengan kategori sangat valid. Aspek yang dinilai meliputi tampilan antarmuka, kemudahan navigasi, kesesuaian materi, serta keterpaduan antara fitur LMS dengan pendekatan PjBL. Hasil ini menunjukkan bahwa LMS telah memenuhi standar kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran.

Hasil Peningkatan Kompetensi Siswa

Peningkatan kompetensi siswa dalam penelitian ini dianalisis berdasarkan hasil asesmen kognitif yang diperoleh melalui perbandingan nilai antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelompok yang mengikuti pembelajaran menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional. Secara deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa pada kelas eksperimen mencapai 87,1, sedangkan rata-rata nilai kelas kontrol sebesar 72,5. Selisih rata-rata sebesar 14,6 poin menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelompok yang menggunakan LMS berbasis PjBL. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa penerapan LMS berbasis proyek memberikan kontribusi positif terhadap penguasaan materi dan keterampilan siswa.

Apabila ditinjau lebih lanjut, peningkatan kompetensi pada kelas eksperimen tidak hanya terlihat pada nilai rata-rata, tetapi juga pada distribusi capaian siswa. Sebagian besar siswa pada kelas eksperimen mampu mencapai kategori nilai tinggi, yang menunjukkan peningkatan pemahaman konsep serta kemampuan dalam mengaplikasikan materi ke dalam konteks praktis. Sebaliknya, pada kelas kontrol masih ditemukan variasi nilai yang cukup lebar dengan dominasi pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa metode konvensional belum mampu memberikan peningkatan kompetensi secara merata pada seluruh siswa. Selain itu, peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen juga dipengaruhi oleh karakteristik pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan. Dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi secara teoritis, tetapi juga harus menyelesaikan proyek yang mensimulasikan permasalahan nyata di bidang jaringan komputer. Proses ini mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi, analisis, serta penerapan konsep secara langsung, sehingga terjadi peningkatan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills).

Dari sisi proses pembelajaran, penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning memberikan fleksibilitas bagi siswa dalam mengakses materi, berdiskusi, serta mengerjakan tugas secara mandiri maupun kelompok. Interaksi yang terjadi melalui forum diskusi dan aktivitas proyek juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar yang pada akhirnya berdampak pada hasil asesmen yang lebih baik. Lebih lanjut, peningkatan kompetensi siswa juga dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas proyek secara lebih sistematis dan terstruktur. Siswa pada kelas eksperimen menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam merancang solusi, mengimplementasikan konfigurasi jaringan, serta melakukan troubleshooting   dibandingkan   dengan   siswa   pada   kelas   kontrol.   Hal   ini  menunjukkan  bahwa pembelajaran berbasis proyek yang didukung oleh LMS mampu mengembangkan kompetensi teknis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan LMS berbasis Project-Based Learning tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif, tetapi juga memberikan dampak kualitatif terhadap peningkatan keterampilan berpikir, keterlibatan belajar, serta kemampuan pemecahan masalah siswa. Temuan ini memperkuat bahwa integrasi teknologi dan model pembelajaran yang tepat mampu menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna, khususnya dalam konteks pendidikan kejuruan.

Hasil Uji Statistik

Untuk memastikan bahwa peningkatan hasil kompetensi yang terjadi pada kelas eksperimen bukan disebabkan oleh faktor kebetulan, dilakukan analisis statistik inferensial terhadap data hasil asesmen siswa. Analisis ini bertujuan untuk menguji hipotesis penelitian, yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil kompetensi siswa yang menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning dan siswa yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas data. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data hasil belajar siswa berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat ditentukan jenis uji statistik yang sesuai. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan menggunakan uji Shapiro–Wilk karena jumlah sampel relatif kecil. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada data hasil kompetensi siswa berada di bawah taraf signifikansi 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa data tidak berdistribusi normal. Berdasarkan hasil tersebut, maka analisis dilanjutkan menggunakan uji statistik non-parametrik, yaitu uji Mann-Whitney U, yang digunakan untuk menguji perbedaan dua kelompok independen dengan data yang tidak berdistribusi normal.

Uji Mann-Whitney U dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) kurang dari 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (H₀) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok ditolak, dan hipotesis alternatif (H₁) diterima. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan LMS berbasis Project-Based Learning dengan siswa yang menggunakan metode pembelajaran konvensional.

Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U, dapat disimpulkan bahwa penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan mampu meningkatkan kompetensi siswa secara nyata. Secara statistik, hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi bukan hanya bersifat deskriptif, tetapi juga signifikan secara inferensial. Hal ini memperkuat bahwa penerapan LMS berbasis PjBL memiliki efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan hasil asesmen siswa. Selain itu, jika ditinjau dari nilai rata-rata peringkat (mean rank) pada uji Mann-Whitney U, kelas eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, distribusi nilai siswa pada kelas eksperimen cenderung lebih baik dibandingkan kelas kontrol.

Hasil uji statistik ini memberikan bukti empiris bahwa integrasi LMS dengan pendekatan Project-Based Learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi, tetapi juga oleh pendekatan pedagogis yang diterapkan. LMS yang dipadukan dengan aktivitas berbasis proyek mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, sehingga berdampak langsung pada peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa LMS berbasis Project-Based Learning merupakan solusi yang efektif dan layak diterapkan dalam pembelajaran di SMK, khususnya pada kompetensi yang menuntut keterampilan praktis seperti Junior Network Administrator.

Pembahasan Implementasi Project-Based Learning dalam LMS

Implementasi Project-Based Learning (PjBL) dalam penelitian ini dilakukan secara terstruktur melalui integrasi dengan Learning Management System (LMS). Setiap tahapan PjBL dirancang mengikuti sintaks utama, yaitu penentuan pertanyaan mendasar (driving question), perencanaan proyek, penyusunan jadwal, pelaksanaan proyek, monitoring, hingga evaluasi hasil proyek. Seluruh tahapan tersebut difasilitasi melalui fitur-fitur yang tersedia dalam LMS, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara sistematis dan terdokumentasi dengan baik.

Pada tahap awal, siswa diberikan permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan konfigurasi dan pengelolaan jaringan komputer. Permasalahan ini berfungsi sebagai pemicu untuk mendorong siswa melakukan eksplorasi dan perencanaan solusi. Selanjutnya, siswa bekerja dalam kelompok untuk merancang proyek yang akan dikerjakan, termasuk menentukan langkah-langkah penyelesaian, pembagian tugas, serta target capaian. Pelaksanaan proyek dilakukan secara kolaboratif dengan memanfaatkan LMS sebagai media koordinasi dan komunikasi. Siswa dapat berdiskusi melalui forum, mengunggah hasil pekerjaan, serta memperoleh umpan balik dari guru secara berkala. Proses monitoring dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap kelompok dapat menyelesaikan proyek sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Pada tahap evaluasi, siswa mempresentasikan hasil proyek yang telah dikerjakan, kemudian dilakukan penilaian berdasarkan aspek kognitif, keterampilan, dan kerja sama tim. Implementasi ini menunjukkan bahwa PjBL tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Dengan dukungan LMS, implementasi PjBL menjadi lebih efektif karena seluruh aktivitas pembelajaran dapat terorganisasi dengan baik. LMS juga memungkinkan guru untuk melakukan pemantauan secara lebih terstruktur terhadap perkembangan siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan optimal.

Nilai Inovasi dan Implikasi Temuan

Hasil penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, temuan ini memperkuat konsep bahwa integrasi teknologi dengan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. LMS yang dipadukan dengan Project-Based Learning terbukti mampu meningkatkan hasil belajar serta keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.

Secara praktis, penelitian ini memberikan kontribusi bagi guru dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif. LMS berbasis PjBL dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan kompetensi siswa, khususnya pada pendidikan kejuruan. Bagi sekolah, implementasi LMS berbasis PjBL dapat mendukung transformasi digital dalam pembelajaran serta meningkatkan kualitas proses pendidikan secara keseluruhan. Penggunaan LMS memungkinkan pengelolaan pembelajaran yang lebih fleksibel, terstruktur, dan terdokumentasi, sehingga memudahkan evaluasi dan pengembangan pembelajaran di masa mendatang.

Selain itu, temuan penelitian ini juga memiliki implikasi bagi pengembang kurikulum, yaitu perlunya integrasi antara teknologi dan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dalam desain kurikulum. Hal ini penting untuk memastikan bahwa lulusan SMK memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Namun demikian, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, terutama pada lingkup penelitian yang terbatas pada satu sekolah dan satu mata pelajaran. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji penerapan LMS berbasis PjBL pada konteks yang lebih luas, baik dari segi jumlah subjek maupun bidang keahlian yang berbeda.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menghasilkan Learning Management System (LMS) berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang valid dan layak digunakan dalam pembelajaran pada mata pelajaran Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel di SMK. Hasil validasi menunjukkan bahwa LMS yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid dari aspek materi, media, dan kesesuaian dengan model pembelajaran. Penerapan LMS berbasis PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi siswa, yang ditunjukkan oleh perbedaan signifikan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Siswa yang menggunakan LMS berbasis PjBL memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi serta menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi.

Hasil uji statistik menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan LMS berbasis Project-Based Learning memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Namun demikian, hasil analisis Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa persepsi kemanfaatan dan kemudahan penggunaan tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar, sehingga keberhasilan pembelajaran lebih ditentukan oleh desain pembelajaran dan implementasi model PjBL.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi melalui LMS dengan pendekatan Project-Based Learning merupakan solusi efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi yang didukung dengan strategi pembelajaran yang tepat, serta mendorong pengembangan model pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan fitur LMS yang lebih interaktif serta menguji penerapannya pada konteks yang lebih luas.

 

REFERENSI

Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach. Springer.

Davis, F. D. (1989). Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology. MIS Quarterly, 13(3), 319–340.

Huda, M., Maseleno, A., Shahrill, M., Jasmi, K. A., Mustari, M. I., & Basiron, B. (2020). Understanding modern learning environment (MLE) in big data era. International Journal of Emerging Technologies in Learning, 15(10), 4–17.

Kokotsaki, D., Menzies, V., & Wiggins, A. (2019). Project-based learning: A review of the literature. Improving Schools, 22(3), 267–277.

Moodle. (2023). Moodle learning platform documentation. https://moodle.org

Pratama, R. A., Suyanto, S., & Wibowo, A. (2019). Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 25(2), 150–158.

Putri, A. R., Susilowati, E., & Nugroho, A. (2020). Evaluasi efektivitas penggunaan LMS Moodle dalam pembelajaran daring. Jurnal Teknologi Pendidikan, 22(1), 45–53.

Rahmawati, Y., & Putra, A. S. (2020). Implementasi e-learning berbasis Moodle pada pembelajaran di SMK. Jurnal Pendidikan Informatika, 4(1), 12–20.

Sari, D. P., Hidayat, T., & Kurniawan, B. (2021). Pengembangan learning management system berbasis Moodle untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi, 5(2), 89–97.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Wulandari, S., & Nugroho, A. (2022). Penerapan project-based learning untuk meningkatkan keterampilan abad 21 siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan, 8(1), 23–31.

Hidayat, T., & Suryadi, A. (2021). Analisis kesiapan sekolah menengah kejuruan dalam implementasi pembelajaran berbasis teknologi. Jurnal Pendidikan Vokasi, 11(2), 101–110.

Utami, N. S., & Kurniawan, B. (2022). Pengaruh e-learning terhadap hasil belajar siswa pada pendidikan kejuruan. Jurnal Pendidikan Teknik, 6(1), 55–63.

 

Tuesday, February 24, 2026

Edukasi Isi Piringku sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Gizi Seimbang pada Siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit

Education on ‘Isi Piringku’ as an Effort to Improve Understanding of Balanced Nutrition Among Students of MI Nurul Huda in Dusun Slempit

 

Galuh Amelia Ragil Rahmanda

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Email: ameliaragil722@gmail.com

 

Abstrak

Rendahnya pemahaman siswa sekolah dasar mengenai gizi seimbang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pola makan dan status kesehatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep gizi seimbang melalui edukasi Isi Piringku pada siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit. Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi awal untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, pelaksanaan edukasi menggunakan metode ceramah interaktif dan media visual, kegiatan permainan edukatif (mewarnai, menggunting, dan menempel gambar Isi Piringku), serta evaluasi untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum edukasi, sebagian besar siswa belum memahami komposisi Isi Piringku dan pentingnya konsumsi sayur serta buah dalam pola makan sehari-hari. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pemahaman yang terlihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali konsep Isi Piringku, menjawab pertanyaan dengan lebih tepat, serta menunjukkan kesadaran mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Kata kunci: edukasi gizi, Isi Piringku, gizi seimbang, siswa sekolah dasar.

Abstract

The low level of understanding among elementary school students regarding balanced nutrition is one of the factors that can influence children’s eating patterns and health status. This study aims to improve students’ understanding of the concept of balanced nutrition through Isi Piringku education for students of MI Nurul Huda in Dusun Slempit. The activity was carried out through several stages: initial observation to determine the students’ level of understanding, implementation of education using interactive lecture methods and visual media, educational games (coloring, cutting, and pasting Isi Piringku pictures), and evaluation to measure the improvement in students’ understanding. The results showed that prior to the education session, most students did not understand the composition of Isi Piringku and the importance of consuming vegetables and fruits in their daily diet. After the educational intervention, there was an improvement in understanding, as reflected in the students’ ability to re-explain the concept of Isi Piringku, answer questions more accurately, and demonstrate awareness of the importance of consuming balanced nutritious foods.

Keywords: nutrition education, Isi Piringku, balanced nutrition, elementary school students.

 

Article Info

Received date: 15  January 2026                             Revised date: 30  January 2026                                Accepted date: 15 February 2026

 

PENDAHULUAN

Pemahaman tentang gizi seimbang merupakan aspek penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya pada usia sekolah dasar. Gizi seimbang tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi kemampuan konsentrasi, daya tahan tubuh, serta prestasi belajar siswa. Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum memahami pentingnya gizi seimbang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya edukasi kesehtan, kebiasaan konsumsi makanan instan, serta minimnya peran lingkungan sekolah dan keluarga dalam memberikan pemahaman terkait pola makan sehat. Kurangnya pengetahuan ini berpotensi menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebih serta rendahnya konsumsi sayur dan buah. Upaya meningkatkan pemahaman gizi seimbang dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan eduktif, seperti penyuluhan kesehatan, penggunaan media pembelajaran yang menarik serta praktik langsung mengenal komposisi makanan sehat. Lingkungan sekolah memiliki peran strategis sebagai tempay pembentukan perilaku hidup sehat melalui integritas materi gizi dalam pembelajaran dan kegiatan pendukung lainnya. Selain itu, keterlibatan guru dan orang tua juga sangar penting dalam memberikan contoh membiasakan pola makanan sehat kepada siswa.

Gizi seimbang merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak usia sekolah dasar. Asupan gizi yang terpenuhi secara optimal tidak hanya berkontribusi pada kondisi fisik yang sehat dan daya tahan tubuh yang baik, tetapi juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan fungsi otak, kemampuan berpikir, serta tingkat konsentrasi anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Anak dengan status gizi yang baik cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal, tingkat kehadiran yang tinggi, serta prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang mengalami permasalahan gizi(Angga et al. 2023).

Usia sekolah dasar merupkan fase penting dalam siklus kehidupan anak, karena pada tahap ini terjadi pertumbuhan fisik yang pesat serta perkembangan kognitif dan sosial yang intensif. Namun, kelompok usia ini juga termasuk kategori yang rentan terhadap berbagai permasalahan gizi, baik kekurangan gizi seperti stunting dan anemia, maupun kelebihan gizi seperti overweight dan obesitas. Permasalahan tersebut sering sekali disebabkan oleh pola makan yang tidak terartur, rendahnya konsumsi makanan bergizi, serta tinggi konsumsi makanan cepat saji dan jajanan yang kurang sehat. (Menurut World Health Organization), pemenuhan gizi yang tepat pada usia anak sangat penting karena berdampak langsung terhadap kesehatan jangkan pendek maupun kualitias kesehatan pada masa dewasa.

Selain itu, rendahnya pemahaman anak mengenai pentingnya gizi seimbang juga menjadi faktor penyebab munculnya permasalah gizi. Ana sering kali belum mampu membedakan natara makanan yang sehat dan tidak sehat, segingga diperlukan upaya edukasi yang tepat sejak dini. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) telah memperkenalkan berbagai program edukasi gizi, seperti konsep “Isi Piringku”, sebagai panduan sederhana untuk membantu anak memahami komposisi makanan sehat yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam proporsi yang seimbang.

Edukasi mengenai konsep Isi Piringku merupakan salah satu metode yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Konsep ini dirancang sebagai panduan sederhana yang mudah dipahami, khususnya bagi anak usia sekolah dasar, dengan menampilkan komposisi makanan yang dianjurkan dalam satu piring makan. Dalam konsep Isi Piringku, setengah bagian piring dianjurkan berisi sayur dan buah yang kaya akan vitamin, mineral, dan serat, sedangkan setengah bagian lainnya terdiri dari makanan pokok sebagai sumber energi dan lauk pauk sebagai sumber protein yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh(Rahmi et al. 2024). Melalui penyajian dalam bentuk visual yang menarik dan mudah dipahami, konsep isi piringku membantu siswa mengenali jenis makanan yang sehat serta memahami proporsi makanan yang tepat untuk di konsumsi setiap hari. Pendekatan visual ini sangat sesuai diterapkan pada anal usia sekolah dasar karena mereka cenderung lebih mudah memahami informasi yang disampaikan melalui gambar dan contoh konkret dibandinfkan dengan pengetahuan teoritis semata.

Selain meningkatkan pengetahuan, edukasi isi piringku juga berperan dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat sejak dini. Kebiasaan makan yang terbentuk pada masa anak-anak cenderung akan terbawa hingga masa remaja dan dewasa. Oleh karena itu, pemberian edukasi gizi melalui konsep isi piringu menjadi langka penting dalam upaya pencegahan berbagai permasalahan gizi, baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi.

 

METODE

Kegiatan edukasi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai gizi seimbang melalui pengenalan konsep Isi Piringku. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara langsung proses pelaksanaan kegiatan edukasi serta respon dan pemahaman siswa setelag mebikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di MI Nurul Huda yang berlokasi di Desa Pangkatrejo, Dusun Slempit, Kecamatan Sugio, Lamongan, dengan peserta kegiatan yaitu siswa kelas 5-6 yang mengikuti kegiatan edukasi gizi.

Tahapan yang dilakukan pertamana yaitu memberikan edukasi dengan memberikan penjelasan mengenai konsep Isi Piringku sebagai panduan makan sehat dan gizi seimbang. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah sederhana yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar, serta didukung dengan media visual seperti poster dan gambar agar siswa lebih mudah memahami meteri yang disampaikan. Selain itu, siswa juga diberikan contoh jenis makanan yang termasuk dalam kategori makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah, sehingga meraka dapat mengenali komposisi makanan yang sehat dan seimbang. Setelah penyampaian metri, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam menyampaikan pendapat, bertanta, serta menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah diberikan. Melalui kegiatan ini, siswa menunjukan antusiasme yang baik dan mampu menjawab beberapa pertanyaan terkait konsep Isi Piringku. Data dalam kegiatan ini diperoleh melalui observasi langsung selama proses edukasi berlangsung, termasuk partisipasi siswa, respon siswa, serta kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menjelaskan hasil kegiatan edukasi dan perubahan pemahaman siswa secara umum setelah diberikan edukasi mengenai konsep Isi Piringku sebagai panduan makan sehat. Diharapkan melalui kegiatn edukasi ini, siswa dapat memahami pentingnya gizi seimbang serta mampu menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Umum MI Nurul Huda Dusun Slempit

Kegiatan edukasi mengenai gizi seimbang melalui pengenalan Isi Piringku dilaksanakan di MI Nurul Huda yang terletak di Dusun Slempit. Sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar, MI Nurul Huda memiliki peran strategis dalam membentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa, termasuk dalam menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai lingkungan yang dapat mendukung pembentukan perilaku positif seperti membiasakan pola makan sehat dan bergizi. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah siswa MI Nurul Huda kelas 5-6. Berdasarkan hasil pengamatan awal, ditemukan bahwa pemahaman siswa mengenai pentingnya gizi seimbang masih belum optimal. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa dalam memilih makanan yang belum memperhatikan kandungan gizinya. Sebagian siswa cenderung lebih menyukai makanan yang memiliki rasa manis dan gurih tanpa mempertimbangkan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, siswa juga belum sepenuhnya memahami bahwa tubuh memerlukan berbagai jenis makanan yang mengandung zat gizi berbeda untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan. Kurangnya pengetahuan ini menyebabkan siswa belum terbiasa menerapkan pola makan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang tepat untuk membantu siswa memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang guna mendukung kesehatan serta proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.

Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok usia yang berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang sangat penting, baik dari aspek fisik, kognitif, maupun sosial. Pada fase ini, anak mengalami pertumbuhan tinggi badan, peningkatan berat badan, serta perkembangan fungsi otak yang berperan dalam kemampuan berpikir, memahami, dan menyerap informasi. Selain itu, pada usia ini anak juga mulai aktif melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan belajar di sekolah maupun aktivitas fisik lainnya, sehingga membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang cukup. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan yang optimal, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menunjang kemampuan belajar, konsentrasi, dan prestasi siswa di sekolah.

Asupan gizi yang seimbang terdiri dari berbagai jenis zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai zat pembangun dan perbaikan jaringan tubuh, serta vitamin dan mineral yang berperan dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila kebutuhan zat gizi tersebut tidak terpenuhi dengan baik, maka dapat berdampak pada kondisi kesehatan anak, seperti tubuh menjadi mudah lelah, menurunnya daya tahan tubuh, serta terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, kondisi gizi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam mengikuti proses pembelajaran, seperti menurunnya konsentrasi, kurangnya semangat belajar, serta menurunnya prestasi akademik(Fauziah 2023).

Tingkat Pemahaman Awal Siswa tentang Gizi Seimbang dan Isi Piringku

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan terhadap siswa MI Nurul Huda di Dusun Slempit, diperoleh gambaran tingkat pemahaman siswa mengenai konsep Gizi Seimbang dan pedoman Isi Piringku masih tergolong sangat rendah. Sebagian besar siswa belum mampu menjelaskan pengertian gizi seimbang secara tepat serta belum memahami pentingnya mengonsumsi makanan dengan komposisi yang lengkap dan seimbang dalam satu kali makan. Siswa pada umumnya hanya mengenal makanan pokok sebagai sumber utama energi, tanpa memperhatikan keberadaan komponen lain seperti lauk pauk, sayur dan buah yang juga memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Terdapat anggapan di kalangan siswa bahwa makan dalam jumlah yang banyak sudah cukup memenuhi kebutuhan tubuh, tanpa memperhatikan kualitas dan kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi. Pandangan tersebut menunjukan bahwa siswa belum memahami prinsip dasar gizi seimbang, yaitu tidak hanya memperhatikan kuanlitas makanan tetapi juga memperhatikan kelengkapan dan keseimbangan zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Tingkat pemahaman siswa mengenai konsep gizi seimbang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah masih terbatasnya edukasi atau penyuluhan mengenai gizi seimbang yang diterima oleh siswa baik dilingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga. Kurangnya penyampaian informasi secara khusus mengenai pentingnya komposisi makanan yang seimbang menyebabkan siswa belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang prinsip-prinsip gizi seimbang dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Faktor lainnya yang turut mempengaruhi adalah kebiasaan makan sehari-hari siswa yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip gizi seimbang. Sebagian siswa masih terbiasa mengonsumsi makanan tanpa memperhatikan kelengkapan unsur gizi, khususnya konsumsi sayur dan buah. Banyak siswa yang belum menjadikan sayur dan buah sebagai bagian penting dari menu harian mereka, sehingga asupan zat gizi penting seperti vitamin, mineral dan serat belum terpenuhi secara optimal. Kondisi tersebut menunjukan bahwa diperlukan upaya edukasi yang tepat dan berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa dalam menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Pelaksanaan Kegiatan Edukasi Isi Piringku

Pelaksanaan kegiatan edukasi Isi Pirinku merupakan salah satu tahapan penting dalam upaya menanamkan pemahaman tentang gizi seimbang pada anak sejak usia sekolah dasar. Edukasi ini tidak hanya bertujuan untuk menambah pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk kesadaran sejak dini mengenai pentingnya memilik dan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat siswa sekolah dasar berada pada tahap perkembangan kognitif yang masih membutuhkan contoh konkret dan media visual, maka kegiatan dirancang dengan pendekatan yang terstruktur, sistematis, dan sesuai dengan karaktristik peserta didik(Ridzal et al. 2024).

Kegiatan edukasi mengenai Isi Piringku dilaksanakan di MI Nurul Huda yang berlokasi di Dusun Slempit dengan sasaran siswa kelas 5-6 sebagai peserta kegiatan. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai pentingnya gizi seimbang serta komposisi makanan yang sesuai dengan pedoaman Isi Piringku. Kegiatan edukasi dilaksanakan secara langsung di dalam kelas dengan suasana yang interaktif dan disesuaikan dengan karakteristil siswa sekolah dasar.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap pembukaan, yaitu pengenalan materi dan pemberian pertanyaan awal kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka tentang gizi seimbang dan Isi Piringku. Pada tahap ini, siswa terlihat antusias dalam menjawab pertanyaan, meskipun sebagian besar belum memahami konsep tersebut secara tepat. Tahap ini bertujuan untuk membangun interaksi awal dan mempersiapkan siswa dalam menerima materi edukasi.

Selanjutnya, dilakukan penyampaian materi mengenai gizi seimbang dan konsep Isi Piringku. Materi yang diberikan meliputi pengertian gizi seimbang, pentingnya mengonsumsi makanan bergizi bagi kesehatan dan pertumbuhan serta penjelasan mengenai komponen Isi Piringku terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah dengan proporsi yang seimbang. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah interaktif dengan bantuan media visual beruapa gambar dan poster Isi Piringku untuk memudahlan siswa dalam memahami materi yang disampaikan.

Selain penyampaian materi, kegiatan edukasi juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengajukan pertanyaan dan memperdalam pemahaman mereka. Kegiatan edukasi kemudian dilanjutkan dengan sesi permainan edukatif berupa aktivitas mewarnai, menggunting, dan menempel gambar yang berkaitan dengan konsep “Isi Piringku”. Dalam kegiatan ini, siswa diminta untuk mewarnai dan menyusun gambar sesuai dengan komponen makanan bergizi seimbang. Siswa yang mampu menyelesaikan kegiatan dengan hasil yang rapi dan baik diberikan apresiasi berupa hadiah, yaitu satu set alat tulis dan makanan ringan. Pemberian hadiah bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan. Kegiatan permainan edukatif ini merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar, karena menggabungkan unsur belajar dan bermain. Melalui metode ini, siswa dapat memahami konsep Isi Piringku dengan cara yang lebih menyenangkan, interaktif, dan mudah dipahami. Selain itu, kegiatan ini juga membantu meningkatkan minat, kreativitas, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik.

Kegiatan edukasi diakhiri dengan penyerahan hadiah kepada siswa yang berhasil memenangkan permainan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil kerja mereka. Pemberian hadiah ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar serta memberikan pengalaman positif kepada siswa selama mengikuti kegiatan edukasi. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi foto sebagai bentuk dokumentasi serta kenang-kenangan atas pelaksanaan edukasi Isi Piringku di MI Nurul Huda Dusun Slempit.

                                   

Gambar 1. Pembukaan dan materi  Tanya Jawab

      

Gambar 2. Game Mewarnai, Menggunting, Menempel

 

a)    Hasil Pemahaman Siswa Setelah Edukasi Isi Piringku

Setelah pelaksanaan egiatan mengenai konsep Isi Piringku, terjadi peningkatan pemahaman siswa MI Nurul Huda terkait pentingnya gizi seimbang. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali pengertian Isi Piringku serta menyebutkan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya, yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah-buahan. Sebagian besar siswa sudah mampu memahami bahwa setiap komponen makanan tersebut mamiliki peran penting dalam kebutuhan gizi tubuh.

Selain itu, setelah mengikuti kegiatan edukasi, siswa mulai menunjukan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan seimabang. Mereka tidak lagi hanya memusatkan perhatian pada makanan pokok dan lauk pauk sebagai sumber utama asupana sehari-hari, tetapi juga menyadari bahwa sayur dan buah merupakan komponen penting yang harus dikonsumsi secara rutin. Peningkatan pemahaman ini terlihat dari hasil sesi tanya jawab dan evaluasi terakhir, dimana siswa mampu menjawab pertanyaan dengan lebih tepat, lengkap dibandingkan sebelum diberikan edukasi. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan pada aspek pemahaman siswa terkait konsep gizi seimbang. Selain itu, siswa juga mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya memilih makanan yang sehat untuk menjaga daya tahan tubuh, menunjnag pertumbuhan, serta menudukung aktivitas belajar mereka di sekolah(Rahmy et al. 2020).

Peningkatan pemahaman siswa juga tercermin dari tingkat partisipasi selama kegiatan berlangsung. Siswa tampak lebih antusias dan terlibat secara langsung, terutama pada saat pelaksanaan permainan edukatif berupa kegiatan mewarnai, menggunting, dan menempel gambar yang berkaitan dengan konsep Isi Piringku. Melalui aktivitas tersebut, siswa dapat mengidentifikasi dan menyusun komponen makanan sesuai dengan proporsi yang dianjurkan secara konkret dan visual. Pendekatan pembelajaran yang bersifat interaktif dan menyenangkan ini terbukti membantu siswa dalam memahami materi secara lebih mudah serta memperkuat daya ingat mereka terhadap informasi yang telah diberikan.

Pelaksanaan edukasi Isi Piringku memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai prinsip gizi seimbang. Siswa tidak hanya mampu menyebutkan komponen Isi Piringku, tetapi juga memahami fungsi masing-masing kelompok makanan bagi kesehatan. Selain itu, terjadi perubahan cara pandang siswa terhadap pola makan sehat. Mereka mulai menyadari bahwa kebutuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga oleh kelengkapan dan keseimbangan zat gizi di dalamnya. Dengan demikian, edukasi ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran awal untuk menerapkan pola makan bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

b)   Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan Edukasi

Pelaksanaan edukasi Isi Piringku pada siswa MI Nurul Huda tidak terlepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilan kegiatan. Faktor-faktor ini penting untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program serta sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.

a.    Faktor Pendukung

Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan edukasi antara lain:

1.    Metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan

Penggunaan media visual, sesi tanya jawab, serta permainan eduktif seperti mewarnai, menggunting, dan menempel gambar Isi Piringku membuat siswa lebih antusias dan mudah memahami materi.

2.    Karakteristik siswa usia sekolah dasar

Anak usia sekolah dasar cenderung mudah menerima informasi baru apabila disampaikan dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual. Hal ini membantu proses internalisasi konsep gizi seimbang menjadi lebih optimal.

3.    Dukungan pihak sekolah

Kerja sama dari guru dan pihak sekolah turut mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan, baik dalam pengaturan waktu maupun pengondisian siswa selama kegiatan berlangsung.

4.    Materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

Konsep Isi Piringku berkaitan langsung dengan pola makan harian siswa, sehingga materi terasa dekat dan mudah dipahami.

b.    Faktor penghambat

Adapun beberapa kendala yang ditemui selama pelaksanaan kegiatan anatara lain:

1.    Keterbatasan waktu pelaksanaan

Waktu yang relatif singkat membuat penyampaian materi harus disesuaikan agar tetap efektif dan tidak terlalu padat.

2.    Perbedaan tingkat pemahaman siswa

Setiap siswa memiliki kemampuan menerima informasi yang berbeda, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih variatif agar semua siswa dapat memahami materi secara merata.

3.    Kebiasaan makan yang telah terbentuk sebelumnya

Beberapa siswa sudah terbiasa dengan pola makan tertentu yang kurang memeperhatikan prinsip gizi seimbang, sehingga perubahan pemahaman memerlukan proses yang berkelanjutan.

c)    Keterkaitan Teori

Berdasarkan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget (Marinda 2020), siswa usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, yaitu tahap dimana anak lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung, media visual, dan aktivitas yang bersifat nyata. Hal ini sesuai dengan metode yang saya gunakan dalam edukasi Isi Piringku, yaitu melalui media gambar, penjelasan visual, serta kegiatan mewarnai, menggunting, dan menempel. Pendektan tersebut membantu siswa memahami konsep gizi seimbang secra leboh konkret dan mudah diingat.

Selain itu, pemberian edukasi melalui media yang menarik dan interaktif terbukti mampu meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pemahaman setelah dilakukan kegiatan edukasi. Sejalan dengan kegiatan yang saya laksanakan di MI Nurul Huda, setelah diberikan edukasi, siswa mampu menjelaskan kembali komposisi Isi Piringku dengan lebih lengkap dan tepat, serta menunjukkan pemahaman yang lebih baik saat sesi tanya jawab dan evaluasi.

 

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan edukasi Isi Piringku di MI Nurul Huda Dusun Slempit, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep gizi seimbang. Sebelum pelaksanaan edukasi, sebagian besar siswa belum memahami secara tepat pengertian gizi seimbang maupun komposisi Isi Piringku yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah dengan proporsi yang sesuai. Setelah diberikan edukasi melalui metode ceramah interaktif, media visual, serta permainan edukatif, terjadi peningkatan pemahaman yang terlihat dari kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali materi dan menjawab pertanyaan dengan lebih tepat.

Edukasi yang disampaikan secara terstruktur, menarik, dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar terbukti efektif dalam membantu siswa memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan seimbang. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran awal siswa mengenai pentingnya memilih makanan sehat untuk mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta menunjang aktivitas belajar di sekolah.

 

REFERENSI

Angga, Prayogi Dwina, Muhammad Makki, Gita Prima Putra, Dyah Indraswati, Program Studi, Pendidikan Guru, Sekolah Dasar, And Universitas Mataram. 2023. “Pregi ( Program Edukasi Gizi Dan Aktivitas Fisik ): Peningkatan Pemahaman Perilaku Hidup Sehat” 3 (2): 111–25.

Fauziah, Dini. 2023. “Penerapan Asupan Gizi Seimbang Untuk Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Di Ra Tunas Harapan Ranca Emas,” No. 2: 67–74.

Kementrian Kesehatan, Https://Ayosehat.Kemkes.Go.Id/Leaflet-Informasi-Isi-Piringku

Marinda, Leny. 2020. “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Problematikanya Pada Anak Usia Sekolah Dasar.” Jurnal Kajian Perempuan& Keislaman 13: 116–52.

Rahmi, Cut, Rasima Rasima, Hilma Yasni, And Asmanidar Asmanidar. 2024. “Edukasi Gizi Melalui Leaflet ‘ Isi Piringku ’ Dalam Upaya Pencegahan Obesitas Pada Mahasiswa Di Poltekkes Kemenkes Aceh Prodi Keperawatan Aceh Selatan” 4 (Riskesdas 2018): 1–6.

Rahmy, Hafifatul Auliya, Nurul Prativa, Rahmania Andrianus, Fakultas Kesehatan, And Masyarakat Universitas. 2020. “Edukasi Gizi Pedoman Gizi Seimbang Dan Isi Piringku Pada Anak Sekolah Dasar Negeri 06 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman, 3 (2): 162–72.

Ridzal, Dewi Asriani, Veni Rosnawati, Program Studi, Pendidikan Biologi, Universitas Muslim Buton, And Universitas Muslim Buton. 2024. “Edukasi Makanan Dan Jajanan Sehat Serta Bergizi Pada Anak Sekolah Dasar” 3 (2): 87–92. Https://Doi.Org/10.37905/Ljpmt.V3i2.26477.

World Health Organization, Https://Www.Who.Int/Health-Topics/Nutrition

 

Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia

Volume 4, Nomor 11,  February 2026, P. 6-13

Licenced by CC BY-SA 4.0

e-ISSN: 2986-7002

DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18759007