Strengthening
the Public Speaking Competence of PKK Women Through Assistance in Speech Text
Preparation in Banjarsari Village, Banyuwangi Regency
Titik
Indarti, Riki Nasrullah, Muhammad Bahruddin, Darni, Djodjok Soepardjo, Urip
Zaenal Fanani, Hespi Septiana
Fakultas
Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya
Email: titikindarti@unesa.ac.id
Abstrak
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Ibu-Ibu
PKK dalam berbagai forum kemasyarakatan, seperti rapat warga, kegiatan
posyandu, penyuluhan, pertemuan kelurahan, dan acara seremonial. Dalam konteks
tersebut, kemampuan menyusun teks pidato dan berbicara di depan umum menjadi
keterampilan yang diperlukan agar pesan dapat disampaikan secara jelas, runtut,
santun, dan meyakinkan. Namun, sebagian peserta masih mengalami kendala dalam
menata struktur pidato, memilih bahasa yang komunikatif, mengelola rasa gugup,
mengatur suara, serta membangun interaksi dengan audiens. Kegiatan ini
bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ibu-Ibu PKK Kelurahan
Banjarsari, Banyuwangi, dalam menyusun teks pidato dan menyampaikannya secara
terstruktur, jelas, dan percaya diri. Kegiatan dilaksanakan pada Senin, 11 Mei
2026, di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, dengan melibatkan 25 peserta. Metode
pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui ceramah
interaktif, diskusi, praktik penyusunan teks, simulasi pidato, umpan balik
langsung, serta refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengalami
peningkatan pemahaman tentang struktur teks pidato, terutama dalam membedakan
bagian pembukaan, isi, dan penutup. Peserta juga mulai mampu memilih tema yang
sesuai dengan kegiatan PKK, menggunakan bahasa yang lebih komunikatif, serta
menyampaikan pidato dengan artikulasi, tempo, intonasi, kontak mata, dan gestur
yang lebih baik. Selain itu, respons peserta terhadap kegiatan menunjukkan
tingkat keterterimaan yang tinggi karena materi dinilai relevan, mudah
dipahami, dan bermanfaat bagi peran sosial mereka.
Kata
kunci:
pendampingan; teks pidato; public speaking; Ibu-Ibu PKK; pemberdayaan
masyarakat.
Abstract
This
community service activity was motivated by the important role of PKK women in
various community forums, such as neighborhood meetings, posyandu activities,
counseling sessions, village meetings, and ceremonial events. In this context,
the ability to prepare speech texts and speak in public is an essential skill
so that messages can be delivered clearly, systematically, politely, and
convincingly. However, some participants still experienced difficulties in
organizing speech structures, choosing communicative language, managing
nervousness, controlling their voice, and building interaction with the
audience. This activity aimed to improve the understanding and skills of PKK
women in Banjarsari Village, Banyuwangi, in preparing speech texts and delivering
them in a structured, clear, and confident manner. The activity was conducted
on Monday, May 11, 2026, in Banjarsari Village, Banyuwangi, involving 25
participants. The implementation method used a participatory-educative approach
through interactive lectures, discussions, speech text writing practice, speech
simulations, direct feedback, and reflection. The results showed that
participants experienced an improvement in understanding the structure of
speech texts, especially in distinguishing the opening, body, and closing
sections. Participants also became more capable of selecting themes relevant to
PKK activities, using more communicative language, and delivering speeches with
better articulation, tempo, intonation, eye contact, and gestures. In addition,
participants’ responses to the activity indicated a high level of acceptance
because the materials were considered relevant, easy to understand, and
beneficial for their social roles. Therefore, assistance in speech text
preparation and public speaking practice proved effective as a strategy for
empowering public communication skills among PKK women and has the potential to
be replicated in other women’s communities.
Keywords: assistance; speech text; public speaking; PKK women; community empowerment.
PENDAHULUAN
Pemberdayaan
masyarakat membutuhkan dukungan komunikasi yang jelas, santun, dan meyakinkan (Indarti
et al., 2024; Istighosah et al., 2022; Oktaviani et al., 2024; Prayogi et al.,
2025, 2026). Dalam konteks kehidupan sosial di tingkat kelurahan,
komunikasi menjadi sarana penting untuk menyampaikan informasi, menggerakkan
partisipasi warga, membangun kesepahaman, serta memperkuat peran masyarakat
dalam berbagai program pembangunan. Salah satu organisasi kemasyarakatan yang
memiliki posisi strategis dalam proses tersebut adalah Pemberdayaan dan
Kesejahteraan Keluarga (PKK). Melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan
pendidikan keluarga, kesehatan, lingkungan, ekonomi rumah tangga, dan penguatan
peran perempuan, PKK menjadi ruang partisipasi sosial yang dekat dengan
kebutuhan masyarakat (Amalia
& Maria, 2025; Annisa, 2024; Fadillah & Salamuddin, 2024; Febriyanti et
al., 2022; Oktaviani et al., 2024; Salam & Maestro, 2025).
Peran
strategis PKK tersebut menuntut anggotanya memiliki kemampuan komunikasi yang
memadai, terutama ketika menyampaikan gagasan dalam forum formal maupun
nonformal. Ibu-Ibu PKK kerap terlibat dalam rapat warga, kegiatan posyandu,
penyuluhan, pertemuan RT/RW, kegiatan kelurahan, peringatan hari besar, hingga
acara seremonial di lingkungan masyarakat. Dalam situasi-situasi tersebut,
kemampuan berbicara di depan umum menjadi keterampilan yang penting karena
pesan yang disampaikan perlu dipahami dengan baik oleh peserta forum.
Keterampilan ini juga berpengaruh terhadap kelancaran koordinasi, keberhasilan
penyuluhan, dan efektivitas penyampaian informasi kepada warga (Nasrullah
et al., 2024).
Namun,
kemampuan berbicara di depan umum tidak selalu tumbuh secara alamiah (Khoirunisa
& Pratama, 2024; Paris & Junaedi, 2024; Prayogi et al., 2025). Sebagian anggota PKK memiliki
pengalaman sosial yang luas, tetapi belum sepenuhnya terbiasa menyusun dan
menyampaikan pidato secara terstruktur. Permasalahan yang sering muncul
berkaitan dengan kesulitan menentukan bagian pembukaan, isi, dan penutup pidato.
Selain itu, gagasan yang hendak disampaikan kadang belum tersusun secara runtut
sehingga pesan utama menjadi kurang menonjol. Pada aspek penyampaian, beberapa
peserta masih menghadapi kendala berupa rasa gugup, kurang percaya diri, tempo
bicara yang kurang stabil, intonasi yang monoton, volume suara yang belum
terkontrol, serta ekspresi yang belum mendukung isi pesan.
Kendala
lain yang cukup menonjol adalah kecenderungan peserta untuk bergantung pada
teks. Ketika berpidato, sebagian peserta membaca teks secara kaku sehingga
komunikasi dengan audiens menjadi kurang hidup. Padahal, pidato yang efektif
membutuhkan keseimbangan antara penguasaan isi, ketepatan bahasa, pengaturan
suara, ekspresi wajah, kontak mata, dan gestur tubuh. Teks pidato memang
berfungsi sebagai panduan, tetapi penyampaiannya tetap memerlukan keluwesan
agar pesan terasa dekat dengan pendengar. Dengan demikian, kemampuan menyusun
teks pidato dan kemampuan menyampaikannya merupakan dua aspek yang saling
berkaitan.
Berdasarkan
kondisi tersebut, kegiatan pendampingan penyusunan teks pidato bagi Ibu-Ibu PKK
di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, menjadi relevan untuk dilakukan.
Pendampingan ini diarahkan untuk membantu peserta memahami struktur pidato,
memilih bahasa yang sesuai dengan konteks sosial, menata gagasan secara runtut,
serta melatih teknik penyampaian yang jelas dan percaya diri. Model kegiatan
dirancang secara praktis, partisipatif, dan kontekstual agar peserta dapat
belajar melalui contoh, latihan, simulasi, umpan balik, dan refleksi. Dengan
pendekatan tersebut, kegiatan PkM ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi
komunikasi publik Ibu-Ibu PKK sebagai penggerak kegiatan sosial di lingkungan
masyarakat.
Analisis
Permasalahan Mitra
Berdasarkan
kebutuhan mitra, permasalahan utama yang dihadapi Ibu-Ibu PKK Kelurahan
Banjarsari berkaitan dengan kemampuan menyusun teks pidato dan keterampilan
menyampaikannya di depan umum. Permasalahan tersebut muncul karena kegiatan PKK
sering menempatkan anggotanya dalam situasi komunikasi publik, baik dalam forum
internal organisasi maupun kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan warga. Dalam
praktiknya, sebagian peserta sudah memiliki pengalaman berbicara dalam kegiatan
sosial, tetapi pengalaman tersebut belum sepenuhnya didukung oleh pemahaman
yang sistematis tentang struktur pidato, pilihan bahasa, dan teknik
penyampaian.
Permasalahan
pertama berkaitan dengan penyusunan teks pidato. Peserta masih mengalami
kesulitan dalam menata bagian pembukaan, isi, dan penutup secara runtut.
Akibatnya, teks pidato yang disusun cenderung belum memiliki alur gagasan yang
jelas. Pesan utama yang seharusnya menjadi pusat penyampaian sering kali belum
dirumuskan secara tegas. Kondisi ini berpengaruh terhadap kualitas pidato
karena audiens membutuhkan susunan informasi yang mudah diikuti sejak bagian
awal hingga akhir.
Selain
struktur teks, aspek kebahasaan juga menjadi persoalan penting. Bahasa pidato
yang digunakan peserta belum sepenuhnya komunikatif dan sesuai dengan konteks
audiens. Sebagian peserta masih menggunakan kalimat yang terlalu panjang,
pilihan kata yang kurang tepat, atau ungkapan yang belum menunjukkan hubungan
antargagasan secara jelas. Dampaknya, pesan yang disampaikan berpotensi kurang
mudah dipahami oleh pendengar. Padahal, kegiatan PKK banyak berkaitan dengan
penyampaian informasi praktis yang perlu diterima dengan cepat dan tepat oleh
masyarakat.
Permasalahan
berikutnya tampak pada aspek kepercayaan diri. Beberapa peserta masih merasa
gugup ketika diminta berbicara di depan umum. Rasa gugup tersebut memengaruhi
kelancaran penyampaian, terutama ketika peserta harus membuka pidato, menatap
audiens, atau mengembangkan isi pembicaraan tanpa terlalu bergantung pada teks.
Dalam situasi tertentu, peserta cenderung mempercepat tempo bicara, menunduk,
atau berhenti cukup lama karena kehilangan konsentrasi. Hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan berbicara di depan umum perlu dilatih secara bertahap melalui
praktik yang aman, terarah, dan mendapat umpan balik.
Dari
aspek teknik vokal, peserta juga masih memerlukan penguatan. Volume suara,
tempo, jeda, artikulasi, dan intonasi belum sepenuhnya dikelola secara efektif.
Beberapa pidato terdengar terlalu pelan, terlalu cepat, atau datar sehingga
pesan yang disampaikan kurang memiliki daya tarik. Pengelolaan vokal menjadi
penting karena suara merupakan media utama dalam penyampaian pidato. Tanpa
pengaturan suara yang baik, teks pidato yang telah disusun secara tepat pun
belum tentu tersampaikan secara optimal kepada audiens.
Selanjutnya,
aspek ekspresi dan bahasa tubuh juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Kontak mata, gestur, ekspresi wajah, dan sikap tubuh peserta belum sepenuhnya
mendukung isi pidato. Sebagian peserta masih terfokus pada teks sehingga
interaksi dengan audiens berkurang. Padahal, komunikasi publik yang meyakinkan
membutuhkan kesesuaian antara isi pesan, suara, dan tampilan nonverbal. Oleh
karena itu, pendampingan perlu diarahkan pada penguatan kemampuan menyusun teks
sekaligus kemampuan menampilkan pidato secara wajar, santun, dan percaya diri.
Secara
ringkas, analisis permasalahan mitra dapat disajikan pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Analisis Permasalahan Mitra
|
Aspek Permasalahan |
Kondisi yang Ditemukan |
Dampak terhadap Peserta |
|
Penyusunan teks pidato |
Peserta belum memahami struktur
pidato secara sistematis |
Teks pidato kurang runtut dan
kurang fokus |
|
Penggunaan bahasa |
Bahasa pidato belum sepenuhnya
komunikatif dan sesuai konteks |
Pesan kurang mudah dipahami
audiens |
|
Kepercayaan diri |
Peserta masih gugup saat
berbicara di depan umum |
Penyampaian kurang lancar |
|
Teknik vokal |
Volume, tempo, jeda, artikulasi,
dan intonasi belum terkelola dengan baik |
Pidato terdengar monoton, terlalu
cepat, terlalu pelan, atau kurang jelas |
|
Ekspresi dan bahasa tubuh |
Kontak mata, gestur, ekspresi
wajah, dan sikap tubuh belum optimal |
Komunikasi kurang meyakinkan dan
interaksi dengan audiens belum terbangun secara kuat |
Berdasarkan
pemetaan tersebut, kegiatan pendampingan dirancang untuk menjawab kebutuhan
mitra secara langsung. Fokus pendampingan diarahkan pada dua kompetensi utama,
yaitu kemampuan menyusun teks pidato yang terstruktur dan kemampuan
menyampaikan pidato secara jelas, komunikatif, serta percaya diri. Dengan
demikian, kegiatan PkM ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi
peningkatan kapasitas komunikasi publik Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari.
METODE PELAKSANAAN
Metode
pelaksanaan kegiatan dirancang untuk menjawab permasalahan mitra secara
langsung, terutama berkaitan dengan kemampuan menyusun teks pidato dan
keterampilan berbicara di depan umum. Oleh karena itu, kegiatan PkM ini
dilaksanakan melalui pola pendampingan yang menempatkan peserta sebagai subjek
aktif dalam proses belajar. Peserta diberi kesempatan untuk memahami konsep,
mendiskusikan pengalaman, menyusun teks, mempraktikkan pidato, menerima umpan
balik, dan merefleksikan perkembangan kemampuan yang diperoleh selama kegiatan.
Secara
umum, metode pelaksanaan kegiatan mencakup tiga tahap utama, yaitu persiapan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan melalui koordinasi dengan
mitra, identifikasi kebutuhan peserta, penyusunan materi, dan penyiapan
perangkat pendampingan. Tahap pelaksanaan difokuskan pada penyampaian materi,
praktik penyusunan teks pidato, simulasi berbicara di depan umum, serta
pemberian umpan balik. Selanjutnya, tahap evaluasi dilakukan melalui pengamatan
terhadap keterlibatan peserta, kualitas teks pidato, performa penyampaian, dan
respons peserta terhadap kegiatan. Dengan tahapan tersebut, kegiatan PkM ini
diharapkan menghasilkan capaian yang dapat diamati secara proses maupun hasil.
Pendekatan Kegiatan
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif.
Pendekatan partisipatif dipilih karena peserta dilibatkan secara aktif dalam
seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pengenalan masalah, diskusi pengalaman,
praktik penyusunan teks, simulasi pidato, hingga refleksi. Sementara itu,
pendekatan edukatif digunakan karena kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan
pemahaman dan keterampilan peserta melalui proses pembelajaran yang
terstruktur, praktis, dan sesuai dengan kebutuhan mitra.
Pendekatan
tersebut diterapkan melalui beberapa model kegiatan. Pertama, ceramah
interaktif digunakan untuk memberikan penguatan konsep dasar tentang pidato dan
public speaking. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada pengertian
pidato, fungsi pidato dalam kegiatan kemasyarakatan, struktur teks pidato,
prinsip bahasa yang komunikatif, serta aspek vokal dan nonverbal dalam
penyampaian pesan. Ceramah tidak berlangsung satu arah, tetapi disertai tanya
jawab dan contoh-contoh yang dekat dengan pengalaman peserta dalam kegiatan
PKK.
Kedua,
praktik terbimbing digunakan untuk melatih peserta menyusun teks pidato.
Peserta diarahkan untuk menentukan tema, merumuskan tujuan pidato, menyusun
pembukaan, mengembangkan isi, dan menutup pidato dengan kalimat yang santun
serta berkesan. Dalam proses ini, tim pelaksana memberikan contoh, panduan, dan
koreksi secara langsung agar peserta dapat memahami kekuatan dan kelemahan teks
yang disusun. Praktik terbimbing ini menjadi bagian penting karena kemampuan
berbicara di depan umum perlu diawali dengan kemampuan menata gagasan secara
runtut.
Ketiga,
simulasi digunakan untuk melatih peserta menyampaikan pidato di depan forum.
Melalui simulasi, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola suara,
tempo, jeda, intonasi, kontak mata, ekspresi, dan gestur. Simulasi juga
membantu peserta mengurangi rasa gugup karena mereka berlatih dalam suasana
yang mendukung dan tidak menghakimi. Dengan demikian, peserta dapat mencoba
berbagai strategi penyampaian sebelum menerapkannya dalam kegiatan sosial yang
sebenarnya.
Keempat,
umpan balik langsung diberikan setelah peserta melakukan praktik. Umpan balik
difokuskan pada dua aspek utama, yaitu kualitas teks pidato dan kualitas
penyampaian. Pada aspek teks, masukan diberikan terhadap struktur, keruntutan
gagasan, pilihan kata, dan kesesuaian isi dengan audiens. Pada aspek
penyampaian, masukan diarahkan pada kejelasan suara, pengaturan tempo,
penggunaan jeda, ekspresi, kontak mata, dan sikap tubuh. Umpan balik
disampaikan secara konstruktif agar peserta mengetahui bagian yang sudah baik
dan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Kelima,
refleksi dilakukan untuk menilai pengalaman belajar peserta. Pada tahap ini,
peserta diajak mengungkapkan kesulitan yang dialami, hal baru yang dipahami,
serta perubahan yang dirasakan setelah mengikuti pendampingan. Refleksi juga
digunakan untuk melihat sejauh mana kegiatan menjawab kebutuhan peserta. Dengan
adanya refleksi, proses pendampingan tidak berhenti pada praktik, tetapi
berlanjut pada kesadaran peserta terhadap perkembangan kemampuan komunikasi
publiknya.
Secara
ringkas, pendekatan kegiatan dapat digambarkan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Model Pelaksanaan Pendampingan
Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking
|
Model Kegiatan |
Bentuk Pelaksanaan |
Tujuan |
|
Ceramah interaktif |
Penyampaian konsep dasar pidato
dan public speaking disertai tanya jawab |
Menguatkan pemahaman awal peserta |
|
Praktik terbimbing |
Penyusunan teks pidato dengan
pendampingan tim pelaksana |
Melatih peserta menata gagasan
secara runtut |
|
Simulasi |
Praktik menyampaikan pidato di
depan forum |
Melatih keberanian dan
keterampilan berbicara |
|
Umpan balik langsung |
Pemberian masukan terhadap teks
dan performa pidato |
Membantu peserta memperbaiki
kualitas pidato |
|
Refleksi |
Pengungkapan pengalaman, kendala,
dan manfaat kegiatan |
Menilai proses belajar dan
perubahan peserta |
Lokasi dan Sasaran
Kegiatan
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Banjarsari,
Banyuwangi. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan kesesuaian antara kebutuhan
mitra dan bidang keahlian tim pelaksana, terutama dalam penguatan keterampilan
berbahasa, penyusunan teks pidato, dan komunikasi publik. Kelurahan Banjarsari
memiliki komunitas PKK yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial, sehingga
pelatihan public speaking dinilai relevan untuk mendukung peran anggota
PKK dalam forum kemasyarakatan.
Sasaran
kegiatan adalah Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Peserta merupakan
bagian dari komunitas perempuan yang memiliki peran penting dalam menyampaikan
informasi, menggerakkan partisipasi warga, dan mendukung program-program
kelurahan. Dalam kegiatan sehari-hari, anggota PKK sering berhadapan dengan
situasi komunikasi yang menuntut kemampuan berbicara secara jelas, santun, dan
terarah. Oleh karena itu, sasaran kegiatan dipilih dengan mempertimbangkan
kebutuhan praktis peserta dalam menjalankan peran sosialnya.
Bentuk
kegiatan yang dilaksanakan adalah pendampingan penyusunan teks pidato dan
praktik public speaking. Kegiatan ini menempatkan penyusunan teks
sebagai dasar penguasaan isi, sedangkan praktik berbicara digunakan untuk
melatih penyampaian pesan secara efektif. Keduanya dipadukan agar peserta tidak
hanya mampu menyiapkan naskah pidato, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan
lebih percaya diri di depan audiens.
Pelaksana
kegiatan adalah Tim Pengabdian kepada Masyarakat Prodi S-2 Pendidikan Bahasa
dan Sastra Universitas Negeri Surabaya. Keterlibatan tim pelaksana didasarkan
pada relevansi keilmuan dalam bidang pendidikan bahasa, keterampilan berbicara,
penyusunan teks, dan komunikasi publik. Melalui kegiatan ini, keahlian akademik
perguruan tinggi diterapkan untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat,
khususnya dalam penguatan keterampilan komunikasi Ibu-Ibu PKK.
Peserta
kegiatan berjumlah 25 orang yang terdiri atas pengurus dan anggota PKK
Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Jumlah tersebut menunjukkan keterlibatan
aktif mitra dalam kegiatan pendampingan. Keberagaman pengalaman peserta dalam
kegiatan sosial juga menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan kegiatan,
karena setiap peserta memiliki latar pengalaman berbicara yang berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi dasar bagi tim pelaksana untuk menerapkan pola
pendampingan yang fleksibel, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Tahapan Pelaksanaan
Kegiatan
Pelaksanaan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disusun secara bertahap agar proses
pendampingan berjalan sistematis dan sesuai dengan kebutuhan mitra. Setiap
tahap dirancang untuk menghubungkan pemahaman konseptual dengan praktik
langsung, sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang utuh. Alur
kegiatan dimulai dari persiapan, penguatan konsep, praktik penyusunan teks,
simulasi pidato, pemberian umpan balik, hingga refleksi dan evaluasi.
Tahap
persiapan dilakukan melalui koordinasi antara tim pelaksana dan mitra.
Koordinasi ini bertujuan memastikan kesesuaian kegiatan dengan kondisi peserta,
kebutuhan organisasi PKK, serta konteks sosial Kelurahan Banjarsari. Pada tahap
ini, tim pelaksana mengidentifikasi kebutuhan peserta, menyusun materi
pendampingan, menyiapkan contoh teks pidato, dan merancang instrumen evaluasi.
Hasil dari tahap persiapan berupa perangkat kegiatan yang siap digunakan dalam
pelaksanaan pendampingan.
Tahap
berikutnya adalah pelaksanaan awal berupa penyampaian konsep dasar pidato dan public
speaking. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada fungsi pidato dalam
kegiatan kemasyarakatan, pentingnya penguasaan pesan, serta prinsip dasar
penyampaian berbicara di depan umum. Penyampaian materi dilakukan secara
interaktif agar peserta dapat mengaitkan konsep yang diberikan dengan
pengalaman mereka dalam kegiatan PKK. Dengan demikian, peserta memperoleh
landasan awal sebelum masuk ke tahap praktik.
Setelah
memperoleh penguatan konsep, peserta diarahkan untuk menyusun teks pidato
berdasarkan tema yang dekat dengan kehidupan PKK. Tema yang digunakan berkaitan
dengan kegiatan keluarga, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan perempuan,
pendidikan anak, dan partisipasi masyarakat. Pada tahap ini, peserta belajar
menentukan tujuan pidato, menyusun pembukaan, mengembangkan isi, dan merumuskan
penutup. Produk yang dihasilkan berupa draf teks pidato yang kemudian digunakan
sebagai bahan simulasi.
Tahap
simulasi pidato dilakukan dengan meminta peserta mempraktikkan pidato di depan
forum. Simulasi ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada peserta
dalam mengelola suara, tempo, jeda, intonasi, ekspresi, kontak mata, dan
gestur. Melalui praktik tersebut, tim pelaksana dapat mengamati performa
berbicara peserta secara lebih konkret. Selain itu, peserta juga dapat
mengenali kendala yang muncul ketika teks pidato disampaikan secara lisan di
hadapan audiens.
Setelah
simulasi, tim pelaksana memberikan umpan balik terhadap teks dan performa
pidato peserta. Masukan diberikan pada aspek struktur teks, kesesuaian isi,
penggunaan bahasa, teknik vokal, ekspresi, dan bahasa tubuh. Umpan balik
disampaikan secara langsung dan konstruktif agar peserta mengetahui kelebihan
serta bagian yang perlu diperbaiki. Tahap ini menjadi bagian penting karena
peserta memperoleh arahan praktis untuk meningkatkan kualitas pidato.
Kegiatan
diakhiri dengan refleksi dan evaluasi. Peserta diminta mengungkapkan
pengalaman, kendala, dan manfaat yang diperoleh selama pendampingan. Evaluasi
dilakukan melalui pengamatan, angket respons, catatan refleksi, dan penilaian
terhadap produk teks pidato. Data dari tahap ini digunakan untuk melihat
perubahan pemahaman dan keterampilan peserta setelah mengikuti kegiatan.
Secara
ringkas, tahapan pelaksanaan kegiatan dapat disajikan pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Tahapan Pelaksanaan Pendampingan
Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking
|
Tahap |
Kegiatan |
Luaran yang Diharapkan |
|
Persiapan |
Koordinasi dengan mitra,
identifikasi kebutuhan, penyusunan materi, dan penyusunan instrumen evaluasi |
Materi dan perangkat pendampingan
siap digunakan |
|
Pelaksanaan awal |
Penyampaian konsep dasar pidato
dan public speaking |
Peserta memahami prinsip dasar
berbicara di depan umum |
|
Praktik penyusunan teks |
Peserta menyusun teks pidato
berdasarkan tema yang dekat dengan kehidupan PKK |
Draf teks pidato peserta |
|
Simulasi pidato |
Peserta mempraktikkan pidato di
depan forum |
Performa berbicara peserta dapat
diamati |
|
Umpan balik |
Tim memberikan masukan terhadap
struktur teks, bahasa, vokal, ekspresi, dan gestur |
Peserta mengetahui aspek yang
perlu diperbaiki |
|
Refleksi dan evaluasi |
Peserta mengisi refleksi dan/atau
mengikuti evaluasi akhir |
Data perubahan pemahaman dan
keterampilan peserta |
Materi Pendampingan
Materi
pendampingan disusun berdasarkan kebutuhan peserta dalam menyusun teks pidato
dan menyampaikannya di depan umum. Penyusunan materi dilakukan dengan
mempertimbangkan konteks kegiatan PKK, karakteristik peserta, serta situasi
komunikasi yang sering mereka hadapi dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu,
materi diberikan secara praktis, bertahap, dan mudah diterapkan dalam forum
kemasyarakatan.
Materi
pertama berkaitan dengan konsep dasar public speaking. Pada bagian ini,
peserta memperoleh pemahaman tentang pengertian public speaking, tujuan
berbicara di depan umum, dan pentingnya penguasaan pesan. Peserta juga
diarahkan untuk memahami bahwa berbicara di depan umum memerlukan persiapan
isi, keberanian tampil, serta kemampuan menyesuaikan pesan dengan audiens.
Materi ini menjadi dasar bagi peserta untuk menyadari peran komunikasi publik
dalam kegiatan PKK.
Materi
kedua membahas struktur teks pidato. Peserta diperkenalkan pada bagian-bagian
pidato yang meliputi salam pembuka, sapaan penghormatan, pembukaan, isi,
penutup, dan salam penutup. Setiap bagian dijelaskan fungsi dan contoh
penggunaannya. Dalam proses pendampingan, peserta diarahkan untuk menyusun
pidato dengan alur yang jelas agar pesan dapat diterima secara runtut oleh
pendengar. Pemahaman terhadap struktur ini penting karena teks pidato yang baik
membantu pembicara menjaga fokus pembicaraan.
Materi
ketiga berfokus pada bahasa pidato yang komunikatif. Peserta dilatih
menggunakan bahasa yang jelas, santun, runtut, sesuai dengan audiens, dan tidak
berbelit-belit. Pemilihan bahasa menjadi aspek penting karena kegiatan PKK
sering melibatkan audiens yang beragam. Dengan bahasa yang komunikatif, pesan
dapat disampaikan secara lebih mudah, dekat, dan dapat diterima oleh
masyarakat.
Materi
keempat berkaitan dengan teknik penyampaian pidato. Pada bagian ini, peserta
berlatih mengelola volume suara, artikulasi, intonasi, tempo, jeda, kontak
mata, ekspresi wajah, dan gestur. Teknik penyampaian ditekankan karena
keberhasilan pidato ditentukan oleh isi pesan dan cara penyampaiannya. Peserta
diajak merasakan perbedaan antara berbicara terlalu pelan, terlalu cepat, dan
berbicara dengan jelas serta tenang. Melalui latihan tersebut, peserta dapat
memahami pentingnya pengendalian suara dan ekspresi dalam membangun komunikasi
yang meyakinkan.
Materi
kelima berupa praktik dan refleksi. Peserta menyusun teks pidato, membaca teks
dengan variasi tempo dan intonasi, menyampaikan pidato secara singkat, serta
menerima umpan balik dari tim pelaksana. Refleksi dilakukan untuk membantu
peserta mengenali perkembangan diri, kendala yang masih dihadapi, dan strategi
perbaikan yang dapat dilakukan setelah kegiatan. Dengan susunan materi
tersebut, kegiatan pendampingan diarahkan untuk menghasilkan perubahan pada
aspek pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri peserta.
Secara
sistematis, materi pendampingan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4.
Materi
Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking
|
Materi |
Pokok Bahasan |
Orientasi Keterampilan |
|
Konsep dasar public speaking |
Pengertian public speaking,
tujuan berbicara di depan umum, kepercayaan diri, dan penguasaan pesan |
Memahami fungsi komunikasi publik
dalam kegiatan sosial |
|
Struktur teks pidato |
Salam pembuka, sapaan
penghormatan, pembukaan, isi, penutup, dan salam penutup |
Menyusun teks pidato secara
runtut |
|
Bahasa pidato yang komunikatif |
Kejelasan, kesantunan,
keruntutan, kesesuaian dengan audiens, dan kehematan kalimat |
Menggunakan bahasa yang mudah
dipahami audiens |
|
Teknik penyampaian pidato |
Volume, artikulasi, intonasi,
tempo, jeda, kontak mata, ekspresi wajah, dan gestur |
Menyampaikan pidato secara jelas
dan percaya diri |
|
Praktik dan refleksi |
Penyusunan teks, pembacaan dengan
variasi tempo dan intonasi, praktik pidato singkat, dan umpan balik |
Memperbaiki performa pidato
berdasarkan pengalaman langsung |
Instrumen Evaluasi
Evaluasi
kegiatan dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pendampingan, khususnya
dalam peningkatan pemahaman peserta terhadap teks pidato dan keterampilan
berbicara di depan umum. Instrumen evaluasi disusun secara sederhana agar
sesuai dengan karakter kegiatan PkM, tetapi tetap mampu memberikan data yang
dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi diarahkan pada proses, produk, performa,
dan respons peserta selama mengikuti kegiatan.
Instrumen
pertama adalah lembar observasi performa pidato. Instrumen ini digunakan untuk
mengamati kemampuan peserta ketika menyampaikan pidato di depan forum. Aspek
yang diamati meliputi keberanian tampil, kelancaran berbicara, pengelolaan
suara, intonasi, tempo, jeda, kontak mata, ekspresi, dan gestur. Melalui lembar
observasi, tim pelaksana dapat mencatat perkembangan peserta secara langsung
selama simulasi berlangsung.
Instrumen
kedua adalah rubrik penilaian teks pidato. Rubrik ini digunakan untuk menilai
kualitas teks yang disusun peserta. Aspek yang dinilai meliputi kelengkapan
struktur, kesesuaian isi dengan tema, keruntutan gagasan, pilihan bahasa, dan
kejelasan pesan. Penilaian terhadap teks penting dilakukan karena penyampaian
pidato yang baik perlu didukung oleh naskah yang terarah dan mudah dipahami.
Instrumen
ketiga adalah angket respons peserta. Angket digunakan untuk mengetahui
tanggapan peserta terhadap materi, metode pendampingan, praktik, umpan balik,
serta manfaat kegiatan. Melalui angket, tim pelaksana memperoleh gambaran
tentang tingkat keterterimaan program dari sudut pandang peserta. Data ini juga
dapat digunakan untuk melihat aspek kegiatan yang sudah sesuai dan bagian yang
perlu diperbaiki pada pelaksanaan berikutnya.
Instrumen
keempat adalah catatan refleksi peserta. Refleksi digunakan untuk menggali
pengalaman belajar peserta secara lebih personal. Peserta dapat menyampaikan
hal yang dirasakan sulit, perubahan yang dialami, bagian kegiatan yang paling
membantu, dan rencana tindak lanjut setelah pelatihan. Catatan refleksi
melengkapi data observasi dan angket karena memberikan informasi yang lebih
mendalam mengenai proses belajar peserta.
Instrumen
kelima adalah dokumentasi kegiatan. Dokumentasi berupa foto, catatan kegiatan,
produk teks pidato, dan bukti pelaksanaan digunakan untuk mendukung laporan
kegiatan serta memperkuat validitas data. Dokumentasi juga menjadi arsip
program yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan sejenis pada masa
berikutnya.
Indikator
evaluasi kegiatan disajikan pada tabel berikut.
Tabel 5.
Indikator evaluasi kegiatan
|
Aspek yang Dinilai |
Indikator |
|
Struktur teks |
Kelengkapan
pembukaan, isi, dan penutup |
|
Kesesuaian isi |
Relevansi tema dengan
konteks kegiatan PKK |
|
Kebahasaan |
Kejelasan,
kesantunan, dan keruntutan bahasa |
|
Vokal |
Volume, artikulasi,
intonasi, tempo, dan jeda |
|
Nonverbal |
Kontak mata,
ekspresi, gestur, dan sikap tubuh |
|
Kepercayaan diri |
Keberanian tampil dan
kelancaran berbicara |
Dengan
instrumen tersebut, evaluasi kegiatan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Data yang diperoleh menggambarkan perubahan peserta dari sisi pemahaman, produk
teks, performa berbicara, dan pengalaman belajar. Oleh karena itu, evaluasi
dalam kegiatan ini berfungsi sebagai alat untuk mengukur capaian sekaligus
sebagai dasar perbaikan program pendampingan.
Teknik Analisis Data
Data
kegiatan dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan kuantitatif sederhana.
Analisis deskriptif-kualitatif digunakan untuk menguraikan proses pelaksanaan
kegiatan, keterlibatan peserta, kualitas teks pidato, performa penyampaian,
serta pengalaman peserta selama mengikuti pendampingan. Sementara itu, analisis
kuantitatif sederhana digunakan untuk mengolah data angket respons peserta
dalam bentuk persentase. Perpaduan kedua teknik tersebut dipilih agar hasil
kegiatan dapat dijelaskan secara naratif dan didukung oleh data terukur.
Data
observasi dianalisis dengan mencermati perubahan performa peserta pada saat
simulasi pidato. Perubahan tersebut dilihat dari aspek keberanian tampil,
kelancaran berbicara, pengelolaan vokal, kontak mata, ekspresi, dan gestur.
Hasil pengamatan kemudian dideskripsikan untuk menunjukkan bagian-bagian
keterampilan yang mengalami perkembangan serta aspek yang masih memerlukan
latihan lanjutan.
Data
angket dianalisis dalam bentuk persentase untuk menggambarkan respons peserta
terhadap kegiatan. Persentase digunakan untuk menunjukkan kecenderungan jawaban
peserta mengenai kesesuaian materi, kejelasan penyampaian, kebermanfaatan
praktik, kualitas umpan balik, dan minat mengikuti kegiatan lanjutan. Hasil
analisis angket kemudian diinterpretasikan secara deskriptif agar maknanya
dapat dikaitkan dengan capaian program.
Catatan
refleksi peserta dianalisis dengan mengelompokkan informasi berdasarkan
tema-tema utama, seperti pengalaman belajar, kendala yang dihadapi, manfaat
yang dirasakan, dan rencana penerapan keterampilan setelah kegiatan.
Pengelompokan ini membantu tim pelaksana memahami perubahan peserta dari sudut
pandang mereka sendiri. Selain itu, refleksi juga digunakan untuk melihat
apakah kegiatan pendampingan sesuai dengan kebutuhan praktis peserta dalam
kegiatan PKK.
Produk
teks pidato dianalisis berdasarkan struktur, isi, dan kebahasaan. Analisis
struktur dilakukan dengan melihat kelengkapan pembukaan, isi, dan penutup.
Analisis isi dilakukan dengan mencermati relevansi tema, kejelasan pesan, dan
keruntutan gagasan. Selanjutnya, analisis kebahasaan dilakukan dengan
memperhatikan pilihan kata, kesantunan, kejelasan kalimat, dan kesesuaian
bahasa dengan audiens. Hasil analisis produk teks digunakan untuk menilai
kemampuan peserta dalam menyiapkan pidato secara tertulis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Pelaksanaan
Kegiatan
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat dengan judul Pendampingan Penyusunan Teks
Pidato untuk Meningkatkan Kompetensi Berbicara di Depan Umum (Public Speaking)
Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi dilaksanakan pada Senin, 11
Mei 2026, bertempat di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti
oleh 25 peserta yang terdiri atas pengurus dan anggota PKK Kelurahan
Banjarsari. Jumlah peserta tersebut menunjukkan adanya dukungan dan keterlibatan
mitra dalam program pendampingan, terutama karena materi yang diberikan
berkaitan langsung dengan kebutuhan komunikasi Ibu-Ibu PKK dalam kegiatan
sosial dan kemasyarakatan.
Pelaksanaan
kegiatan berlangsung secara terstruktur melalui beberapa rangkaian acara.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua
pelaksana dan sambutan ketua PKK Kelurahan Banjarsari. Setelah itu, kegiatan
masuk pada sesi penyampaian materi, praktik penyusunan teks pidato, latihan
berbicara di depan umum, serta pemberian umpan balik dari tim pelaksana.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa dan penutupan. Susunan acara tersebut
dirancang agar kegiatan berjalan tertib, tetapi tetap memberi ruang yang cukup
bagi peserta untuk berdiskusi, berlatih, dan menyampaikan pengalaman.
Pada
sesi awal, tim pelaksana memperkenalkan konsep dasar public speaking dan
pentingnya kemampuan berbicara di depan umum bagi Ibu-Ibu PKK. Materi diarahkan
pada konteks yang dekat dengan pengalaman peserta, seperti menyampaikan
sambutan dalam kegiatan PKK, memberikan informasi dalam forum warga, berbicara
dalam kegiatan posyandu, serta menyampaikan pesan dalam acara kelurahan. Dengan
mengaitkan materi pada situasi yang akrab bagi peserta, proses pendampingan
menjadi lebih mudah diterima dan dipahami.
Suasana
kegiatan berlangsung kondusif dan interaktif. Peserta mengikuti kegiatan dengan
antusias sejak awal hingga akhir. Antusiasme tersebut tampak dari kesediaan
peserta untuk memperhatikan materi, merespons pertanyaan pemateri, mengajukan
pertanyaan, dan terlibat dalam praktik. Beberapa peserta juga menyampaikan
pengalaman pribadi ketika harus berbicara di depan umum, terutama rasa gugup,
kebingungan menyusun kata-kata, dan kecenderungan membaca teks secara kaku.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk yang penting untuk membangun kesadaran
bahwa keterampilan berbicara dapat dilatih melalui proses yang bertahap.
Keterlibatan
peserta terlihat cukup kuat pada sesi praktik. Peserta mengikuti penugasan
menyusun teks pidato singkat dengan tema yang dekat dengan kegiatan PKK dan
kehidupan masyarakat. Dalam proses tersebut, peserta mulai berlatih menentukan
bagian pembukaan, isi, dan penutup. Selain itu, peserta juga diajak
memperhatikan penggunaan bahasa yang jelas, santun, dan sesuai dengan audiens.
Proses praktik ini memperlihatkan bahwa peserta memiliki potensi komunikasi
yang baik, meskipun sebagian masih memerlukan pendampingan dalam menata gagasan
dan memilih ungkapan yang lebih efektif.
Pada
sesi latihan berbicara, peserta menunjukkan keberanian untuk mencoba
menyampaikan pidato di depan forum. Meskipun beberapa peserta masih tampak
gugup, mereka tetap berupaya mengikuti arahan yang diberikan, terutama dalam
mengatur volume suara, tempo, intonasi, kontak mata, dan ekspresi. Respons awal
peserta terhadap kegiatan tergolong baik. Peserta menilai materi yang diberikan
sesuai dengan kebutuhan mereka karena dapat langsung diterapkan dalam kegiatan
PKK dan forum kemasyarakatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan
memiliki relevansi praktis bagi peningkatan kompetensi komunikasi publik
peserta.
Secara
umum, pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik, aktif, dan partisipatif.
Kegiatan ini mampu menciptakan suasana belajar yang mendukung peserta untuk
memahami konsep, mencoba praktik, menerima masukan, dan merefleksikan kemampuan
diri. Dengan demikian, hasil awal pelaksanaan menunjukkan bahwa pendampingan
penyusunan teks pidato dan praktik public speaking dapat menjadi
strategi yang relevan untuk memperkuat kapasitas komunikasi Ibu-Ibu PKK
Kelurahan Banjarsari.
Peningkatan
Pemahaman Peserta tentang Struktur Teks Pidato
Salah
satu capaian penting dalam kegiatan pendampingan ini adalah meningkatnya
pemahaman peserta tentang struktur teks pidato. Pada awal kegiatan, sebagian
peserta masih memandang pidato sebagai kegiatan membaca naskah di depan
audiens. Pemahaman tersebut membuat perhatian peserta lebih banyak tertuju pada
keberanian tampil dan kelancaran membaca, sementara aspek penataan gagasan
belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, pidato sering dipahami sebagai teks
yang dibacakan secara utuh, bukan sebagai bentuk komunikasi lisan yang
memerlukan susunan pesan, tujuan, dan strategi penyampaian yang jelas.
Sebelum
pendampingan, peserta juga belum sepenuhnya memahami fungsi setiap bagian dalam
teks pidato. Bagian pembukaan, isi, dan penutup sering disusun tanpa batas yang
tegas. Pada beberapa contoh yang muncul dalam diskusi, pembukaan pidato
cenderung langsung masuk pada inti pesan, sedangkan bagian penutup belum
dirancang untuk memberikan kesan akhir yang kuat. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa peserta membutuhkan pemahaman dasar tentang struktur pidato agar gagasan
yang disampaikan lebih runtut dan mudah diikuti oleh audiens.
Setelah
memperoleh materi dan contoh, peserta mulai memahami bahwa teks pidato perlu
disusun dengan struktur yang jelas. Peserta dapat membedakan fungsi pembukaan
sebagai bagian untuk menyapa audiens, membangun perhatian, dan mengantar topik.
Selanjutnya, bagian isi dipahami sebagai ruang untuk menyampaikan pesan utama
secara terarah. Adapun bagian penutup dipahami sebagai bagian untuk merangkum
pesan, menyampaikan ajakan, harapan, atau penegasan akhir. Pemahaman ini
membantu peserta melihat bahwa pidato yang baik memerlukan alur komunikasi yang
tertata dari awal hingga akhir.
Peningkatan
pemahaman juga tampak pada kemampuan peserta dalam menentukan fokus isi pidato.
Pada awalnya, beberapa peserta cenderung menyampaikan terlalu banyak hal dalam
satu teks sehingga isi pidato melebar. Setelah pendampingan, peserta mulai
diarahkan untuk memilih satu tema utama, menentukan tujuan pidato, dan
menyesuaikan isi dengan kebutuhan audiens. Misalnya, pidato untuk kegiatan PKK
dapat difokuskan pada kesehatan keluarga, pendidikan anak, kebersihan
lingkungan, atau peran perempuan dalam masyarakat. Dengan fokus yang lebih
jelas, pesan pidato menjadi lebih mudah dipahami dan lebih sesuai dengan
konteks kegiatan.
Dari
aspek kebahasaan, peserta juga menunjukkan perubahan pemahaman. Sebelum
pendampingan, bahasa pidato yang digunakan cenderung berada pada dua
kecenderungan, yaitu terlalu formal dan kaku atau terlalu lisan sehingga kurang
tertata. Setelah sesi pendampingan, peserta mulai memahami pentingnya bahasa
yang komunikatif, santun, dan sesuai dengan audiens. Peserta diarahkan
menggunakan kalimat yang lebih jelas, tidak berbelit, serta memiliki hubungan
antargagasan yang runtut. Perubahan ini penting karena kegiatan PKK banyak
berhubungan dengan komunikasi sosial yang membutuhkan bahasa yang akrab, sopan,
dan mudah diterima oleh warga.
Secara
umum, peningkatan pemahaman peserta dapat dilihat pada tabel 6 berikut.
Tabel
6. Perubahan
Pemahaman Peserta tentang Struktur dan Isi Teks Pidato
|
Aspek Pemahaman |
Sebelum
Pendampingan |
Setelah
Pendampingan |
|
Struktur pidato |
Peserta belum
sepenuhnya memahami bagian pembukaan, isi, dan penutup |
Peserta mampu
menyusun pidato dengan struktur yang lebih runtut |
|
Fungsi bagian pidato |
Pembukaan, isi, dan
penutup belum dibedakan secara tegas |
Peserta mulai
memahami fungsi pembukaan, isi, dan penutup dalam membangun alur pidato |
|
Fokus isi |
Isi pidato masih
melebar dan belum terarah pada satu pesan utama |
Isi pidato lebih
sesuai dengan tema, tujuan, dan kebutuhan audiens |
|
Kesesuaian konteks |
Isi pidato belum
sepenuhnya disesuaikan dengan forum dan pendengar |
Peserta mulai
menyesuaikan isi pidato dengan kegiatan PKK dan karakter audiens |
|
Bahasa |
Bahasa cenderung
formal kaku atau terlalu lisan |
Bahasa lebih
komunikatif, santun, runtut, dan mudah dipahami |
Berdasarkan
temuan tersebut, pendampingan penyusunan teks pidato memberikan dampak positif
terhadap pemahaman peserta. Peserta mulai menyadari bahwa pidato memerlukan
persiapan isi yang matang dan struktur yang sistematis. Kesadaran ini menjadi
dasar penting bagi peningkatan keterampilan berbicara di depan umum, karena
penyampaian yang baik akan lebih mudah dilakukan apabila pembicara memahami
alur dan pesan yang hendak disampaikan.
3.3
Kemampuan Peserta dalam Menyusun Teks Pidato
Kemampuan
peserta dalam menyusun teks pidato menunjukkan perkembangan setelah mengikuti
sesi penguatan konsep dan praktik terbimbing. Pada tahap praktik, peserta
diarahkan untuk menyusun teks pidato singkat berdasarkan tema yang dekat dengan
kegiatan PKK dan kehidupan masyarakat. Tema yang dipilih berkaitan dengan peran
keluarga dalam pendidikan anak, kesehatan lingkungan, gerakan hidup bersih dan
sehat, pemberdayaan perempuan, peran PKK dalam membangun masyarakat, serta
pentingnya komunikasi dalam keluarga. Pemilihan tema yang kontekstual membantu
peserta lebih mudah menemukan gagasan karena materi pidato bersumber dari
pengalaman sosial yang mereka kenal.
Dari
aspek kelengkapan struktur, sebagian besar peserta mulai mampu menyusun teks
pidato yang memuat bagian pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan,
peserta menggunakan salam, sapaan penghormatan, dan pengantar singkat menuju
topik. Pada bagian isi, peserta mulai menata gagasan utama sesuai tema yang
dipilih. Selanjutnya, pada bagian penutup, peserta berupaya menambahkan ajakan,
harapan, atau pesan akhir kepada audiens. Perkembangan ini menunjukkan bahwa
peserta mulai memahami struktur pidato sebagai kerangka yang membantu pembicara
menjaga arah penyampaian pesan.
Pada
aspek kejelasan gagasan, teks pidato peserta memperlihatkan adanya upaya untuk
merumuskan pesan utama secara lebih tegas. Misalnya, dalam tema kesehatan
lingkungan, peserta menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah, memilah
sampah, dan membiasakan perilaku hidup bersih. Dalam tema pendidikan anak,
peserta mengangkat peran orang tua dalam mendampingi belajar, membangun
komunikasi yang hangat, dan memberikan teladan di rumah. Gagasan-gagasan
tersebut menunjukkan bahwa peserta mampu mengaitkan isi pidato dengan persoalan
yang dekat dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Kesesuaian
tema juga menjadi capaian yang cukup menonjol. Peserta dapat memilih topik yang
relevan dengan kegiatan PKK, sehingga teks pidato yang disusun memiliki
kedekatan dengan kebutuhan audiens. Relevansi ini penting karena pidato dalam
forum kemasyarakatan akan lebih efektif apabila isi yang disampaikan
berhubungan langsung dengan pengalaman pendengar. Dengan memilih tema yang
akrab, peserta lebih mudah mengembangkan isi pidato dan audiens berpotensi
lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan.
Dari
segi pilihan kata, teks pidato peserta mulai mengarah pada penggunaan bahasa
yang lebih komunikatif dan santun. Pada awal praktik, beberapa peserta masih
menggunakan kalimat yang terlalu panjang atau ungkapan yang cenderung kaku.
Setelah memperoleh pendampingan, peserta mulai memperbaiki kalimat agar lebih
jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Perubahan ini tampak pada penggunaan sapaan
yang lebih tepat, kalimat ajakan yang lebih halus, serta penjelasan yang lebih
dekat dengan konteks kehidupan warga. Dengan demikian, bahasa pidato menjadi
lebih sesuai untuk forum PKK dan kegiatan masyarakat.
Kelancaran
alur teks juga mengalami penguatan. Peserta mulai memahami bahwa pidato perlu
bergerak dari pengantar menuju inti pesan, kemudian ditutup dengan simpulan
atau ajakan. Dalam beberapa teks, peserta sudah mampu menggunakan penanda
hubungan antargagasan, seperti selain itu, oleh karena itu, dengan
demikian, dan sebagai penutup. Penggunaan penanda tersebut membantu
teks menjadi lebih runtut dan mengurangi kesan melompat dari satu gagasan ke
gagasan lain. Meskipun demikian, sebagian peserta masih memerlukan latihan
lanjutan agar hubungan antarbagian dalam teks menjadi lebih halus dan alami.
Pada
bagian penutup, peserta mulai mampu menyusun kalimat akhir yang lebih berkesan.
Penutup tidak lagi berisi ucapan selesai semata, tetapi mulai memuat ajakan,
harapan, atau penegasan pesan. Misalnya, dalam tema gerakan hidup bersih dan
sehat, peserta menutup pidato dengan ajakan untuk memulai perubahan dari
keluarga sendiri. Dalam tema komunikasi keluarga, peserta menutup pidato dengan
harapan agar setiap keluarga membangun kebiasaan saling mendengar dan
menghargai. Penutup semacam ini memperlihatkan bahwa peserta mulai memahami
pentingnya kesan akhir dalam pidato.
Gambaran
kemampuan peserta dalam menyusun teks pidato dapat disajikan pada tabel
berikut.
Tabel
7. Capaian
Kemampuan Peserta dalam Menyusun Teks Pidato
|
Aspek yang
Dianalisis |
Capaian Peserta |
Catatan Penguatan |
|
Kelengkapan struktur |
Teks mulai memuat
pembukaan, isi, dan penutup |
Perlu penguatan pada
transisi antarbagian |
|
Kejelasan gagasan |
Pesan utama mulai
tampak dan sesuai dengan topik |
Perlu latihan
merumuskan gagasan utama secara lebih padat |
|
Kesesuaian tema |
Tema dekat dengan
kegiatan PKK dan kehidupan masyarakat |
Tema dapat dipertajam
sesuai jenis forum dan audiens |
|
Pilihan kata |
Bahasa lebih santun,
komunikatif, dan mudah dipahami |
Perlu menghindari
kalimat terlalu panjang |
|
Kelancaran alur |
Gagasan mulai
tersusun dari pengantar, inti, hingga penutup |
Perlu memperkuat
hubungan logis antargagasan |
|
Penutup |
Penutup mulai berisi
ajakan, harapan, atau penegasan pesan |
Perlu latihan membuat
penutup yang singkat dan kuat |
Berdasarkan
hasil tersebut, kemampuan peserta dalam menyusun teks pidato mengalami
perkembangan yang positif. Produk teks yang dihasilkan menunjukkan bahwa
peserta mulai mampu menata gagasan secara lebih sistematis, memilih tema yang
sesuai, serta menggunakan bahasa yang lebih komunikatif. Meskipun masih
terdapat kebutuhan untuk memperkuat transisi, kepadatan gagasan, dan ketepatan
kalimat, praktik penyusunan teks telah memberikan dasar yang penting bagi
peserta untuk menyampaikan pidato secara lebih terarah. Dengan bekal teks yang
lebih runtut, peserta memiliki pijakan yang lebih kuat untuk tampil dalam forum
PKK maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.
3.4
Peningkatan Kompetensi Berbicara di Depan Umum
Peningkatan
kompetensi berbicara di depan umum menjadi capaian utama dalam kegiatan
pendampingan ini. Setelah peserta memperoleh pemahaman tentang struktur teks
pidato dan berlatih menyusun naskah, kegiatan dilanjutkan dengan praktik
penyampaian pidato di depan forum. Praktik ini penting karena kemampuan
berbicara di depan umum tidak cukup dibangun melalui penguasaan konsep, tetapi
perlu dilatih melalui pengalaman langsung. Dalam sesi praktik, peserta belajar
mengelola rasa gugup, menggunakan suara secara lebih jelas, menjaga alur
penyampaian, dan membangun interaksi dengan audiens.
Perubahan
pertama tampak pada aspek kepercayaan diri. Pada awal kegiatan, sebagian
peserta masih ragu untuk tampil dan cenderung menunggu peserta lain lebih
dahulu mencoba. Keraguan tersebut muncul karena peserta merasa belum terbiasa
berbicara dalam situasi formal. Namun, setelah memperoleh arahan dan melihat
contoh penyampaian, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk maju, membaca
teks, dan mencoba menyampaikan pidato secara singkat. Keberanian ini menjadi
indikator penting karena rasa percaya diri merupakan prasyarat awal dalam
komunikasi publik.
Selain
kepercayaan diri, peningkatan juga terlihat pada aspek artikulasi. Pada awal
praktik, beberapa peserta masih mengucapkan kata secara kurang jelas, terutama
ketika berbicara terlalu cepat atau merasa gugup. Melalui latihan pengucapan
dan pembacaan kalimat secara perlahan, peserta mulai memperhatikan kejelasan
bunyi, tekanan kata, dan ketepatan pelafalan. Artikulasi yang lebih baik
membuat pesan pidato lebih mudah diterima oleh audiens. Dalam konteks kegiatan
PKK, kejelasan pengucapan menjadi penting karena informasi yang disampaikan
sering berkaitan dengan ajakan, arahan, atau penjelasan program kepada warga.
Aspek
tempo juga mengalami perkembangan. Sebagian peserta pada awalnya berbicara
terlalu cepat karena ingin segera menyelesaikan pidato, sedangkan beberapa
peserta lain berbicara terlalu pelan sehingga pesan kurang terdengar jelas.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim pelaksana memberikan latihan membaca kalimat
dengan tiga variasi gaya, yaitu terlalu pelan, terlalu cepat, dan jelas-tenang.
Latihan ini membantu peserta merasakan secara langsung perbedaan kualitas
penyampaian pesan. Setelah latihan, peserta mulai memahami bahwa tempo yang
teratur membuat pidato terdengar lebih nyaman dan mudah diikuti.
Peningkatan
berikutnya terlihat pada penggunaan intonasi. Sebelum latihan, penyampaian
beberapa peserta terdengar datar karena seluruh kalimat dibaca dengan nada yang
hampir sama. Setelah mendapatkan contoh dan umpan balik, peserta mulai mencoba
memberi penekanan pada bagian tertentu, terutama pada kalimat ajakan, pesan
utama, dan penutup. Intonasi yang lebih bervariasi membuat penyampaian pidato
terasa lebih hidup. Dengan demikian, audiens lebih mudah menangkap
bagian-bagian penting dari pesan yang disampaikan.
Kontak
mata juga menjadi aspek yang mengalami perubahan. Pada awalnya, peserta
cenderung menunduk dan membaca teks secara penuh. Ketergantungan pada naskah
membuat interaksi dengan audiens belum terbangun secara optimal. Setelah diberi
arahan, peserta mulai berlatih melihat audiens pada bagian tertentu, terutama
saat membuka pidato, menyampaikan pesan utama, dan menutup pidato. Meskipun
belum seluruh peserta mampu menjaga kontak mata secara konsisten, perubahan ini
menunjukkan adanya kesadaran bahwa pidato merupakan komunikasi langsung antara
pembicara dan pendengar.
Dari
aspek gestur, peserta mulai menggunakan gerak tubuh secara lebih wajar. Pada
awal praktik, sebagian peserta tampak kaku, berdiri tanpa gerakan, atau
memegang teks dengan posisi yang menutupi wajah. Setelah pendampingan, peserta
mulai memperbaiki sikap berdiri, menyesuaikan posisi tangan, dan menggunakan
gestur sederhana untuk mendukung isi pesan. Gestur yang wajar membantu peserta
tampak lebih tenang dan meyakinkan. Selain itu, ekspresi wajah juga mulai
disesuaikan dengan isi pidato, terutama ketika menyampaikan ajakan atau harapan
kepada audiens.
Perubahan
kompetensi berbicara di depan umum peserta dapat dirangkum pada tabel berikut.
Tabel
8. Perubahan
Kompetensi Peserta dalam Praktik Public Speaking
|
Aspek
Public Speaking |
Kondisi
Awal |
Perubahan
yang Tampak Setelah Pendampingan |
|
Kepercayaan
diri |
Peserta
masih ragu, gugup, dan menunggu peserta lain untuk tampil |
Peserta
lebih berani tampil dan mencoba berbicara di depan forum |
|
Artikulasi |
Pengucapan
beberapa kata belum jelas karena tempo terlalu cepat atau gugup |
Pengucapan
menjadi lebih jelas setelah latihan membaca dan praktik pidato |
|
Tempo |
Tempo
bicara cenderung terlalu cepat atau terlalu lambat |
Peserta
mulai mampu menghindari tempo yang terlalu cepat atau terlalu lambat |
|
Intonasi |
Penyampaian
terdengar datar dan kurang bervariasi |
Penyampaian
lebih hidup dan tidak monoton |
|
Kontak
mata |
Peserta
cenderung menunduk dan bergantung pada teks |
Peserta
mulai mengurangi ketergantungan pada teks dan mencoba melihat audiens |
|
Gestur |
Gerak
tubuh masih kaku dan belum mendukung pesan |
Peserta
mulai menggunakan gerak tubuh secara wajar |
|
Ekspresi |
Ekspresi
wajah belum sepenuhnya sesuai dengan isi pesan |
Peserta
mulai menyesuaikan ekspresi dengan tujuan pidato |
Berdasarkan
hasil tersebut, pendampingan memberikan pengaruh positif terhadap kompetensi
berbicara di depan umum peserta. Perubahan yang tampak memang masih berada pada
tahap awal, tetapi sudah menunjukkan arah perkembangan yang penting. Peserta
mulai memahami bahwa pidato yang baik memerlukan penguasaan teks, pengelolaan
suara, keberanian tampil, serta kemampuan membangun hubungan dengan audiens.
Oleh karena itu, praktik berulang, umpan balik, dan pembiasaan berbicara dalam
forum PKK perlu terus dilakukan agar keterampilan yang diperoleh dapat
berkembang menjadi kemampuan komunikasi publik yang lebih stabil.
Respons Peserta
terhadap Kegiatan Pendampingan
Respons
peserta terhadap kegiatan pendampingan menunjukkan kecenderungan yang sangat
positif. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan dan angket respons akhir,
peserta menilai bahwa materi yang diberikan mudah dipahami, sesuai dengan
kebutuhan, dan relevan dengan pengalaman mereka dalam kegiatan PKK. Respons
positif tersebut tampak sejak sesi penyampaian materi, terutama ketika peserta
mulai mengaitkan konsep public speaking dengan pengalaman berbicara
dalam rapat, penyuluhan, kegiatan posyandu, dan acara kelurahan.
Peserta
juga memberikan respons baik terhadap materi penyusunan teks pidato. Mereka
merasa terbantu karena materi disampaikan secara bertahap, mulai dari cara
membuka pidato, menyusun isi, memilih bahasa, hingga menutup pidato dengan
ajakan atau harapan. Sebagian peserta menyampaikan bahwa sebelum kegiatan
mereka sering merasa bingung ketika harus menyusun sambutan atau pidato
singkat. Setelah mengikuti pendampingan, peserta mulai memiliki gambaran yang
lebih jelas tentang cara menata pesan agar lebih runtut dan mudah dipahami oleh
audiens.
Selain
materi, sesi praktik menjadi bagian yang paling banyak mendapat tanggapan
positif. Peserta menilai bahwa praktik menyusun teks dan menyampaikan pidato
secara langsung membantu mereka mengurangi rasa gugup. Latihan membaca kalimat
dengan variasi tempo, intonasi, dan gaya penyampaian membuat peserta lebih
sadar bahwa kualitas berbicara dapat diperbaiki melalui latihan sederhana.
Dengan demikian, peserta tidak hanya menerima penjelasan konseptual, tetapi
juga memperoleh pengalaman langsung untuk mencoba, memperbaiki, dan membangun
keberanian berbicara di depan forum.
Pengalaman
baru juga dirasakan peserta ketika menerima umpan balik dari tim pelaksana.
Masukan yang diberikan terhadap struktur teks, pilihan kata, suara, kontak
mata, ekspresi, dan gestur membantu peserta mengenali kekuatan serta bagian
yang masih perlu diperbaiki. Umpan balik tersebut diterima dengan baik karena
disampaikan secara konstruktif dan berkaitan langsung dengan praktik yang
dilakukan peserta. Dalam suasana pendampingan yang kondusif, peserta merasa
lebih nyaman untuk mencoba tampil tanpa khawatir dinilai secara berlebihan.
Minat
peserta terhadap kegiatan lanjutan juga cukup tinggi. Beberapa peserta
menyampaikan harapan agar pelatihan serupa dapat dilakukan kembali dengan
materi yang lebih luas, seperti pelatihan menjadi pembawa acara, moderator,
penyuluh kegiatan masyarakat, atau penyusun sambutan untuk acara resmi. Harapan
tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan telah membangun kesadaran
peserta mengenai pentingnya keterampilan komunikasi publik dalam mendukung
peran PKK sebagai penggerak kegiatan sosial.
Hasil
angket respons peserta dapat dirangkum pada tabel berikut.
Tabel
9. Respons Peserta
terhadap Kegiatan Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public
Speaking
|
Pernyataan |
Persentase Respons
Positif |
|
Materi
sesuai dengan kebutuhan peserta |
96% |
|
Materi
pendampingan mudah dipahami |
96% |
|
Pendampingan
membantu peserta memahami struktur pidato |
92% |
|
Praktik
penyusunan teks membantu peserta menata gagasan |
92% |
|
Praktik
pidato membantu meningkatkan kepercayaan diri |
88% |
|
Umpan
balik dari tim pelaksana membantu peserta memperbaiki performa |
92% |
|
Peserta
merasa memperoleh pengalaman baru |
96% |
|
Peserta
berminat mengikuti pelatihan lanjutan |
92% |
Berdasarkan
data tersebut, kegiatan pendampingan dapat dinilai memiliki tingkat
keterterimaan yang tinggi dari peserta. Persentase respons positif berada pada
rentang 88% hingga 96%, yang menunjukkan bahwa kegiatan dipandang bermanfaat,
relevan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Respons paling tinggi tampak pada
kesesuaian materi, kemudahan pemahaman, dan pengalaman baru yang diperoleh
peserta. Sementara itu, respons terkait peningkatan kepercayaan diri berada
pada persentase 88%, yang tetap menunjukkan capaian baik, meskipun aspek ini
masih memerlukan latihan berkelanjutan.
Dengan
demikian, respons peserta memperkuat temuan bahwa pendampingan penyusunan teks
pidato dan praktik public speaking relevan diterapkan pada komunitas
PKK. Kegiatan ini memberikan ruang belajar yang praktis, aman, dan sesuai
dengan kebutuhan komunikasi peserta. Lebih jauh, tingginya minat terhadap
pelatihan lanjutan menunjukkan adanya peluang pengembangan program PkM berikutnya
yang berfokus pada penguatan keterampilan komunikasi publik bagi kader PKK dan
komunitas perempuan di tingkat kelurahan.
Faktor Pendukung dan
Penghambat
Pelaksanaan
kegiatan pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking
bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari dipengaruhi oleh beberapa faktor
pendukung dan penghambat. Identifikasi terhadap kedua faktor tersebut penting
dilakukan untuk memahami dinamika kegiatan secara lebih utuh. Melalui
identifikasi ini, capaian program dapat dilihat secara lebih proporsional,
sedangkan kendala yang muncul dapat dijadikan dasar untuk merancang strategi
perbaikan pada kegiatan serupa.
Faktor
pendukung utama dalam kegiatan ini adalah antusiasme peserta. Sejak awal
kegiatan, peserta menunjukkan perhatian yang baik terhadap materi yang
disampaikan. Mereka terlibat dalam diskusi, menjawab pertanyaan, mengajukan
pengalaman pribadi, serta mengikuti penugasan yang diberikan oleh tim
pelaksana. Antusiasme tersebut menjadi modal penting karena pembelajaran public
speaking membutuhkan kesiapan peserta untuk mencoba, berlatih, dan menerima
masukan. Tanpa keterlibatan aktif peserta, kegiatan pendampingan akan sulit
mencapai perubahan yang bermakna.
Selain
antusiasme peserta, dukungan mitra juga menjadi faktor yang memperlancar
pelaksanaan kegiatan. Pengurus PKK Kelurahan Banjarsari memberikan ruang,
kesempatan, dan koordinasi yang baik sehingga kegiatan dapat berlangsung secara
tertib. Dukungan ini tampak pada kesiapan tempat, kehadiran peserta, serta
keterbukaan mitra terhadap materi yang diberikan. Dengan adanya dukungan
kelembagaan dari mitra, kegiatan PkM dapat berjalan dalam suasana yang kondusif
dan sesuai dengan kebutuhan komunitas sasaran.
Faktor
pendukung berikutnya adalah materi yang kontekstual. Materi pendampingan
disusun dengan mengaitkan keterampilan pidato dan public speaking dengan
pengalaman nyata peserta dalam kegiatan PKK, seperti rapat warga, penyuluhan,
kegiatan posyandu, pertemuan kelurahan, dan acara seremonial. Kesesuaian
konteks tersebut membuat peserta lebih mudah memahami materi karena contoh yang
diberikan dekat dengan aktivitas sehari-hari mereka. Selain itu, penggunaan
metode praktik langsung juga memperkuat keterlibatan peserta. Melalui praktik,
peserta dapat segera mencoba menyusun teks, membaca, berbicara, dan memperbaiki
performa berdasarkan umpan balik yang diterima.
Meskipun
kegiatan berjalan dengan baik, beberapa faktor penghambat tetap ditemukan.
Salah satu kendala yang muncul adalah perbedaan tingkat pengalaman peserta.
Sebagian peserta sudah pernah menyampaikan sambutan atau berbicara dalam forum
warga, sedangkan sebagian lainnya belum terbiasa tampil di depan umum.
Perbedaan pengalaman ini berpengaruh terhadap kecepatan peserta dalam memahami
materi dan keberanian saat melakukan praktik. Peserta yang lebih berpengalaman
cenderung lebih cepat menyesuaikan diri, sedangkan peserta yang belum terbiasa
memerlukan pendampingan lebih intensif.
Rasa
gugup juga menjadi hambatan yang cukup menonjol. Beberapa peserta menunjukkan
tanda-tanda kurang percaya diri ketika diminta berbicara di depan forum,
seperti suara pelan, tempo bicara terlalu cepat, menunduk, atau terlalu sering
melihat teks. Rasa gugup tersebut wajar karena berbicara di depan umum menuntut
kesiapan mental, penguasaan isi, dan kemampuan mengelola situasi. Selain itu,
keterbatasan waktu praktik menjadi kendala tersendiri. Dengan jumlah peserta 25
orang, kesempatan setiap peserta untuk tampil dan memperoleh umpan balik secara
mendalam belum sepenuhnya maksimal.
Kendala
lain yang tampak adalah ketergantungan peserta pada teks. Sebagian peserta
masih merasa aman ketika membaca naskah secara penuh, sehingga kontak mata dan
interaksi dengan audiens belum terbangun secara optimal. Ketergantungan ini
menunjukkan bahwa peserta masih berada pada tahap awal dalam mengembangkan
keterampilan berbicara spontan dan komunikatif. Oleh karena itu, kegiatan
pendampingan perlu memberi ruang latihan yang berulang agar peserta secara
bertahap mampu menggunakan teks sebagai panduan, bukan sebagai satu-satunya
tumpuan dalam berbicara.
Untuk
mengatasi kendala tersebut, tim pelaksana menerapkan beberapa strategi
penyelesaian. Pertama, pendampingan personal diberikan kepada peserta yang
membutuhkan bantuan lebih lanjut, terutama dalam menyusun struktur pidato,
memperbaiki pilihan kata, dan mengatasi rasa gugup. Kedua, latihan dilakukan
secara bertahap, dimulai dari membaca kalimat pendek, menyampaikan bagian
pembukaan, kemudian mempraktikkan pidato singkat. Pola bertahap ini membantu
peserta membangun keberanian tanpa merasa terbebani.
Selanjutnya,
tim pelaksana memberikan contoh konkret sebelum peserta melakukan praktik.
Contoh tersebut mencakup cara membuka pidato, mengatur tempo, memberi tekanan
pada pesan utama, dan menutup pidato dengan ajakan atau harapan. Pemberian
contoh membantu peserta memperoleh gambaran nyata tentang pidato yang baik.
Setelah praktik berlangsung, umpan balik langsung diberikan agar peserta
mengetahui bagian yang sudah kuat dan aspek yang masih perlu diperbaiki. Umpan
balik disampaikan secara konstruktif sehingga peserta tetap merasa dihargai dan
termotivasi untuk mencoba kembali.
Ringkasan
faktor pendukung, penghambat, dan strategi penyelesaian disajikan pada tabel
berikut.
Tabel
10. Faktor
Pendukung, Faktor Penghambat, dan Strategi Penyelesaian dalam Pelaksanaan
Pendampingan
|
Faktor |
Uraian |
|
Faktor pendukung |
Antusiasme peserta, dukungan
mitra, materi yang kontekstual, dan metode praktik langsung |
|
Faktor penghambat |
Perbedaan tingkat pengalaman
peserta, rasa gugup, keterbatasan waktu praktik, dan ketergantungan pada teks |
|
Strategi penyelesaian |
Pendampingan personal, latihan
bertahap, pemberian contoh konkret, dan umpan balik langsung |
Berdasarkan
uraian tersebut, dapat dipahami bahwa keberhasilan kegiatan dipengaruhi oleh
kesiapan peserta, dukungan mitra, relevansi materi, dan metode pelaksanaan yang
memberi ruang praktik. Sementara itu, kendala yang muncul lebih banyak
berkaitan dengan aspek psikologis dan teknis dalam berbicara di depan umum.
Dengan strategi pendampingan yang tepat, hambatan tersebut dapat dikelola
sehingga kegiatan tetap menghasilkan capaian positif bagi peningkatan
kompetensi komunikasi publik peserta.
PEMBAHASAN
Hasil
kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan public speaking lebih efektif
ketika materi dan praktik dikaitkan langsung dengan kebutuhan nyata peserta.
Dalam konteks Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari, kebutuhan tersebut muncul dari
keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial, seperti rapat warga,
penyuluhan, kegiatan posyandu, pertemuan kelurahan, dan acara kemasyarakatan.
Situasi tersebut menuntut kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, santun,
terarah, dan meyakinkan. Oleh karena itu, pelatihan berbicara di depan umum
menjadi relevan karena berhubungan langsung dengan peran sosial peserta sebagai
penggerak kegiatan masyarakat.
Temuan
kegiatan juga memperlihatkan bahwa penyusunan teks pidato merupakan tahap
penting dalam penguatan kompetensi berbicara. Sebelum pendampingan, sebagian
peserta cenderung memahami pidato sebagai aktivitas membaca naskah di depan
audiens. Setelah memperoleh materi dan praktik terbimbing, peserta mulai
memahami bahwa teks pidato berfungsi sebagai alat untuk menata gagasan,
menentukan fokus pesan, mengatur alur penyampaian, dan menyesuaikan isi dengan
audiens. Dengan adanya teks yang lebih terstruktur, peserta memiliki pegangan
yang lebih kuat ketika berbicara di depan forum. Hal ini menunjukkan bahwa
keterampilan berbicara perlu diawali dengan kemampuan berpikir runtut dan
menyiapkan pesan secara sistematis.
Selain
kemampuan menyusun teks, praktik langsung menjadi faktor penting dalam
meningkatkan kepercayaan diri peserta. Public speaking merupakan keterampilan
performatif yang berkembang melalui latihan, pengalaman, dan pembiasaan. Dalam
kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk membaca, mencoba berbicara,
mengatur suara, memperbaiki tempo, menyesuaikan intonasi, serta membangun
kontak mata dengan audiens. Proses tersebut membantu peserta mengenali kekuatan
dan kelemahan diri secara langsung. Dengan demikian, praktik menjadi ruang
belajar yang memungkinkan peserta mengalami sendiri perubahan dalam cara
menyampaikan pesan.
Umpan
balik dari tim pelaksana juga berperan penting dalam proses peningkatan
kemampuan peserta. Masukan yang diberikan terhadap struktur teks, pilihan
bahasa, vokal, ekspresi, dan gestur membantu peserta memahami bagian yang perlu
dipertahankan serta aspek yang perlu diperbaiki. Umpan balik yang disampaikan
secara konstruktif membuat peserta merasa didampingi, bukan dinilai secara
menghakimi. Kondisi ini penting karena sebagian peserta masih memiliki rasa
gugup ketika tampil di depan forum. Melalui umpan balik yang tepat, peserta
dapat membangun keberanian secara bertahap dan lebih siap memperbaiki performa
berikutnya.
Dari
perspektif pemberdayaan masyarakat, kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan
komunikasi publik dapat mendukung kapasitas sosial Ibu-Ibu PKK. PKK sebagai
organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam menyampaikan
informasi, menggerakkan partisipasi warga, dan menjembatani program kelurahan
dengan kebutuhan masyarakat. Ketika kader PKK memiliki kemampuan berbicara yang
lebih baik, proses penyampaian informasi dalam kegiatan masyarakat dapat
berlangsung lebih efektif. Dengan demikian, pendampingan ini berkontribusi pada
penguatan peran perempuan dalam komunikasi sosial di tingkat lokal.
Pendekatan
yang digunakan dalam kegiatan ini juga sesuai dengan karakter pembelajaran
orang dewasa. Peserta memiliki pengalaman sosial yang beragam dan telah
terbiasa terlibat dalam kegiatan masyarakat. Oleh karena itu, proses belajar
menjadi lebih bermakna ketika dimulai dari pengalaman peserta, dilanjutkan
dengan penguatan konsep, kemudian diarahkan pada praktik yang dekat dengan
kebutuhan mereka. Dalam kegiatan ini, peserta tidak diposisikan sebagai
penerima materi secara pasif, tetapi dilibatkan dalam diskusi, praktik,
simulasi, dan refleksi. Pola tersebut membuat pembelajaran lebih kontekstual
dan mudah diterapkan dalam kehidupan sosial peserta.
Keberhasilan
kegiatan ini dapat dilihat dari beberapa indikator. Produk teks pidato
menunjukkan bahwa peserta mulai mampu menyusun pembukaan, isi, dan penutup
secara lebih runtut. Dari aspek performa, peserta mulai menunjukkan keberanian
tampil, artikulasi yang lebih jelas, tempo yang lebih terkendali, intonasi yang
lebih bervariasi, serta kesadaran terhadap kontak mata dan ekspresi. Selain
itu, respons peserta menunjukkan bahwa kegiatan dipandang bermanfaat dan sesuai
dengan kebutuhan mereka. Dengan kata lain, keberhasilan pendampingan dapat
dilihat dari perubahan pada aspek pemahaman, keterampilan, sikap, dan kesadaran
komunikasi peserta.
Meskipun
demikian, kegiatan ini masih memiliki ruang pengembangan. Keterbatasan waktu
praktik membuat kesempatan peserta untuk tampil dan menerima umpan balik secara
mendalam belum sepenuhnya merata. Selain itu, sebagian peserta masih
menunjukkan ketergantungan pada teks ketika berbicara di depan forum. Kondisi
ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking memerlukan pembiasaan
yang berkelanjutan. Program lanjutan dapat diarahkan pada latihan pidato
singkat secara rutin, pelatihan pembawa acara, moderator, fasilitator
penyuluhan, atau komunikasi organisasi bagi kader PKK. Dengan keberlanjutan
tersebut, kompetensi komunikasi publik peserta dapat berkembang secara lebih
stabil dan aplikatif.
Secara
keseluruhan, kegiatan pendampingan ini memperlihatkan bahwa pelatihan
penyusunan teks pidato dan praktik public speaking dapat menjadi
strategi pemberdayaan yang relevan bagi komunitas perempuan. Relevansi tersebut
terlihat dari kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta, keterlibatan aktif
dalam praktik, perubahan kemampuan berbicara, serta munculnya minat untuk
mengikuti kegiatan lanjutan. Oleh karena itu, model pendampingan ini dapat
dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam
memperkuat kapasitas komunikasi masyarakat melalui pendekatan yang praktis,
partisipatif, dan berbasis pengalaman.
SIMPULAN
Kegiatan
pendampingan penyusunan teks pidato bagi Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Banjarsari,
Banyuwangi, telah terlaksana melalui tahapan yang sistematis, meliputi
pengenalan konsep dasar pidato dan public speaking, praktik penyusunan
teks, simulasi pidato, pemberian umpan balik, serta refleksi. Rangkaian
kegiatan tersebut memungkinkan peserta memperoleh pengalaman belajar yang utuh,
mulai dari memahami konsep, menyiapkan teks, mencoba berbicara di depan forum,
hingga mengenali aspek yang perlu diperbaiki.
Kegiatan
ini meningkatkan pemahaman peserta tentang struktur teks pidato, penggunaan
bahasa yang komunikatif, dan strategi penyampaian pidato. Peserta mulai mampu
membedakan fungsi pembukaan, isi, dan penutup; menentukan fokus pesan; memilih
tema yang sesuai dengan kegiatan PKK; serta menggunakan bahasa yang lebih
santun, runtut, dan mudah dipahami. Peningkatan ini menunjukkan bahwa
pendampingan penyusunan teks dapat membantu peserta menata gagasan sebelum
berbicara di depan umum.
Selain
itu, peserta menunjukkan perkembangan dalam kompetensi berbicara di depan umum.
Perubahan tersebut tampak pada meningkatnya keberanian untuk tampil, kelancaran
berbicara, kejelasan artikulasi, pengaturan tempo, variasi intonasi, serta
kesadaran terhadap pentingnya kontak mata, ekspresi, dan gestur. Meskipun
sebagian peserta masih memerlukan latihan lanjutan, kegiatan ini telah memberi
dasar penting bagi penguatan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi
publik.
Dengan
demikian, pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking
relevan digunakan sebagai model pemberdayaan komunikasi publik bagi komunitas
perempuan, khususnya organisasi PKK. Kegiatan ini dapat membantu kader PKK
menjalankan peran sosialnya secara lebih efektif dalam menyampaikan informasi,
memandu kegiatan, dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Ke depan, program
serupa dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pelatihan lanjutan yang
berfokus pada pembawa acara, moderator, fasilitator penyuluhan, dan komunikasi
organisasi di tingkat kelurahan.
REFERENSI
Amalia, A., & Maria, G. A. R. (2025). Analisis Literatur
Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam Penurunan Kemiskinan di Kabupaten Kudus. Jurnal
Ekspos, 3(1), 26–36.
Annisa, Y. A. (2024). Implementasi Teknologi Eco-Enzim untuk Pemberdayaan
Masyarakat Desa: Tinjauan dari Aspek Sosial dan Ekonomi. TATHWIR: Jurnal
Pengembangan Masyarakat Islam, 15(1), 13–26.
https://doi.org/10.15548/jt.v15i1.8417
Fadillah, U., & Salamuddin, S. (2024). Implementation of women’s
empowerment program in improving family welfare in Batu Bara Regency. Journal
of Community Service and Empowerment, 5(2), 247–257.
https://doi.org/10.22219/jcse.v5i2.32981
Febriyanti, H. P., Afifah, T. N., Aini, N., & Setiyawati, M. E.
(2022). Socialpreneur Sebagai Strategi Dalam Mengentaskan Kemiskinan Melalui
Layanan Lembaga Keuangan Mikro: Literature Review. Akuntansi, 1(4),
261–275. https://doi.org/10.55606/jurnalrisetilmuakuntansi.v1i4.129
Indarti, T., Fanani, U. Z., Nasrullah, R., Septiana, H., & Afdholy, N.
(2024). Innovative artificial intelligence (AI) technology learning support for
Indonesian language teachers at a junior high school in Tuban. Transformasi:
Jurnal Pengabdian Masyarakat, 20(2), 438–452.
https://doi.org/10.20414/transformasi.v20i2.11317
Istighosah, N., Astuti, R. Y., Anggraeni, S., & Werdiningsih, D. A.
(2022). Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JURNAL DAMARWULAN Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 45–49.
https://ejournal.iaifa.ac.id/index.php/JPMD/article/view/485
Khoirunisa, A., & Pratama, A. C. (2024). Public Speaking Skills in
Education in the 21th Century: A Systematic Literature Review. Jurnal
Pendidikan Dan Kebudayaan, 3(2), 102–120.
https://doi.org/10.5281/zenodo.14565774
Nasrullah, R., Laksono, K., Prayogi, A., Parmin, P., & Inayatillah, F.
(2024). Establishing Literacy Foundations : Policies and Interventions for
Indonesia’s Future Excellence. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian
Dan Kajian Kepustakaan Di Bidang Pendidikan, Pengajaran Dan Pembelajaran, 10(3),
1219. https://doi.org/10.33394/jk.v10i3.11011
Oktaviani, L., Prayogi, A., Prayogo Pujiono, I., Riyadi, R., &
Nasrullah, R. (2024). Upaya Guru Pai Dalam Menanamkan Kesadaran Salat Zuhur
Berjemaah Di Sekolah. Jurnal Man-Anaa, 1(1), 1–12.
https://doi.org/10.58326/man.v1i1.217
Paris, N., & Junaedi, A. (2024). Peningkatan Motivasi untuk
Melanjutkan Studi bagi Mahasiswa Melalui. SIPAKARAYA, 3(1),
35–44.
Prayogi, A., Nasrullah, R., Pujiono, I. P., Khilda, I. N., Diniyanto, A.,
& Surabaya, U. N. (2026). Kegiatan Pembagian Makanan Tambahan Sebagai Upaya
Penguatan Gizi Ibu Hamil dan Balita Desa Kemplong Pekalongan. Community
Service: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2(1), 1–13.
Prayogi, A., Shilla, R. A., Pujiono, I. P., & Nasrullah, R. (2025).
Upaya Penguatan Kualitas Pendidikan Melalui Sharing Session-Motivasi Studi
Lanjut. Journal Inovasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 17–25.
https://doi.org/10.65255/jipmas.v2i1.147
Salam, A., & Maestro, R. (2025). Tren dan Tantangan dalam Publikasi
Ilmiah Pengabdian Masyarakat di Indonesia: Sebuah Tinjauan Literatur
Sistematis. SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1),
713–717. https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/swarna/article/view/1717