Wednesday, May 13, 2026

Penguatan Kompetensi Public Speaking Ibu-Ibu PKK melalui Pendampingan Penyusunan Teks Pidato di Kelurahan Banjarsari, Kabupaten Banyuwangi


Strengthening the Public Speaking Competence of PKK Women Through Assistance in Speech Text Preparation in Banjarsari Village, Banyuwangi Regency 

Strengthening the Public Speaking Competence of PKK Women Through Assistance in Speech Text Preparation in Banjarsari Village, Banyuwangi Regency | Indarti | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

Titik Indarti, Riki Nasrullah, Muhammad Bahruddin, Darni, Djodjok Soepardjo, Urip Zaenal Fanani, Hespi Septiana

Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Email: titikindarti@unesa.ac.id

Abstrak

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Ibu-Ibu PKK dalam berbagai forum kemasyarakatan, seperti rapat warga, kegiatan posyandu, penyuluhan, pertemuan kelurahan, dan acara seremonial. Dalam konteks tersebut, kemampuan menyusun teks pidato dan berbicara di depan umum menjadi keterampilan yang diperlukan agar pesan dapat disampaikan secara jelas, runtut, santun, dan meyakinkan. Namun, sebagian peserta masih mengalami kendala dalam menata struktur pidato, memilih bahasa yang komunikatif, mengelola rasa gugup, mengatur suara, serta membangun interaksi dengan audiens. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, dalam menyusun teks pidato dan menyampaikannya secara terstruktur, jelas, dan percaya diri. Kegiatan dilaksanakan pada Senin, 11 Mei 2026, di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, dengan melibatkan 25 peserta. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui ceramah interaktif, diskusi, praktik penyusunan teks, simulasi pidato, umpan balik langsung, serta refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman tentang struktur teks pidato, terutama dalam membedakan bagian pembukaan, isi, dan penutup. Peserta juga mulai mampu memilih tema yang sesuai dengan kegiatan PKK, menggunakan bahasa yang lebih komunikatif, serta menyampaikan pidato dengan artikulasi, tempo, intonasi, kontak mata, dan gestur yang lebih baik. Selain itu, respons peserta terhadap kegiatan menunjukkan tingkat keterterimaan yang tinggi karena materi dinilai relevan, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi peran sosial mereka.

Kata kunci: pendampingan; teks pidato; public speaking; Ibu-Ibu PKK; pemberdayaan masyarakat.

Abstract

This community service activity was motivated by the important role of PKK women in various community forums, such as neighborhood meetings, posyandu activities, counseling sessions, village meetings, and ceremonial events. In this context, the ability to prepare speech texts and speak in public is an essential skill so that messages can be delivered clearly, systematically, politely, and convincingly. However, some participants still experienced difficulties in organizing speech structures, choosing communicative language, managing nervousness, controlling their voice, and building interaction with the audience. This activity aimed to improve the understanding and skills of PKK women in Banjarsari Village, Banyuwangi, in preparing speech texts and delivering them in a structured, clear, and confident manner. The activity was conducted on Monday, May 11, 2026, in Banjarsari Village, Banyuwangi, involving 25 participants. The implementation method used a participatory-educative approach through interactive lectures, discussions, speech text writing practice, speech simulations, direct feedback, and reflection. The results showed that participants experienced an improvement in understanding the structure of speech texts, especially in distinguishing the opening, body, and closing sections. Participants also became more capable of selecting themes relevant to PKK activities, using more communicative language, and delivering speeches with better articulation, tempo, intonation, eye contact, and gestures. In addition, participants’ responses to the activity indicated a high level of acceptance because the materials were considered relevant, easy to understand, and beneficial for their social roles. Therefore, assistance in speech text preparation and public speaking practice proved effective as a strategy for empowering public communication skills among PKK women and has the potential to be replicated in other women’s communities.

Keywords: assistance; speech text; public speaking; PKK women; community empowerment.

PENDAHULUAN

Pemberdayaan masyarakat membutuhkan dukungan komunikasi yang jelas, santun, dan meyakinkan (Indarti et al., 2024; Istighosah et al., 2022; Oktaviani et al., 2024; Prayogi et al., 2025, 2026). Dalam konteks kehidupan sosial di tingkat kelurahan, komunikasi menjadi sarana penting untuk menyampaikan informasi, menggerakkan partisipasi warga, membangun kesepahaman, serta memperkuat peran masyarakat dalam berbagai program pembangunan. Salah satu organisasi kemasyarakatan yang memiliki posisi strategis dalam proses tersebut adalah Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, kesehatan, lingkungan, ekonomi rumah tangga, dan penguatan peran perempuan, PKK menjadi ruang partisipasi sosial yang dekat dengan kebutuhan masyarakat (Amalia & Maria, 2025; Annisa, 2024; Fadillah & Salamuddin, 2024; Febriyanti et al., 2022; Oktaviani et al., 2024; Salam & Maestro, 2025).

Peran strategis PKK tersebut menuntut anggotanya memiliki kemampuan komunikasi yang memadai, terutama ketika menyampaikan gagasan dalam forum formal maupun nonformal. Ibu-Ibu PKK kerap terlibat dalam rapat warga, kegiatan posyandu, penyuluhan, pertemuan RT/RW, kegiatan kelurahan, peringatan hari besar, hingga acara seremonial di lingkungan masyarakat. Dalam situasi-situasi tersebut, kemampuan berbicara di depan umum menjadi keterampilan yang penting karena pesan yang disampaikan perlu dipahami dengan baik oleh peserta forum. Keterampilan ini juga berpengaruh terhadap kelancaran koordinasi, keberhasilan penyuluhan, dan efektivitas penyampaian informasi kepada warga (Nasrullah et al., 2024).

Namun, kemampuan berbicara di depan umum tidak selalu tumbuh secara alamiah (Khoirunisa & Pratama, 2024; Paris & Junaedi, 2024; Prayogi et al., 2025). Sebagian anggota PKK memiliki pengalaman sosial yang luas, tetapi belum sepenuhnya terbiasa menyusun dan menyampaikan pidato secara terstruktur. Permasalahan yang sering muncul berkaitan dengan kesulitan menentukan bagian pembukaan, isi, dan penutup pidato. Selain itu, gagasan yang hendak disampaikan kadang belum tersusun secara runtut sehingga pesan utama menjadi kurang menonjol. Pada aspek penyampaian, beberapa peserta masih menghadapi kendala berupa rasa gugup, kurang percaya diri, tempo bicara yang kurang stabil, intonasi yang monoton, volume suara yang belum terkontrol, serta ekspresi yang belum mendukung isi pesan.

Kendala lain yang cukup menonjol adalah kecenderungan peserta untuk bergantung pada teks. Ketika berpidato, sebagian peserta membaca teks secara kaku sehingga komunikasi dengan audiens menjadi kurang hidup. Padahal, pidato yang efektif membutuhkan keseimbangan antara penguasaan isi, ketepatan bahasa, pengaturan suara, ekspresi wajah, kontak mata, dan gestur tubuh. Teks pidato memang berfungsi sebagai panduan, tetapi penyampaiannya tetap memerlukan keluwesan agar pesan terasa dekat dengan pendengar. Dengan demikian, kemampuan menyusun teks pidato dan kemampuan menyampaikannya merupakan dua aspek yang saling berkaitan.

Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pendampingan penyusunan teks pidato bagi Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, menjadi relevan untuk dilakukan. Pendampingan ini diarahkan untuk membantu peserta memahami struktur pidato, memilih bahasa yang sesuai dengan konteks sosial, menata gagasan secara runtut, serta melatih teknik penyampaian yang jelas dan percaya diri. Model kegiatan dirancang secara praktis, partisipatif, dan kontekstual agar peserta dapat belajar melalui contoh, latihan, simulasi, umpan balik, dan refleksi. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan PkM ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi komunikasi publik Ibu-Ibu PKK sebagai penggerak kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.

Analisis Permasalahan Mitra

Berdasarkan kebutuhan mitra, permasalahan utama yang dihadapi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari berkaitan dengan kemampuan menyusun teks pidato dan keterampilan menyampaikannya di depan umum. Permasalahan tersebut muncul karena kegiatan PKK sering menempatkan anggotanya dalam situasi komunikasi publik, baik dalam forum internal organisasi maupun kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan warga. Dalam praktiknya, sebagian peserta sudah memiliki pengalaman berbicara dalam kegiatan sosial, tetapi pengalaman tersebut belum sepenuhnya didukung oleh pemahaman yang sistematis tentang struktur pidato, pilihan bahasa, dan teknik penyampaian.

Permasalahan pertama berkaitan dengan penyusunan teks pidato. Peserta masih mengalami kesulitan dalam menata bagian pembukaan, isi, dan penutup secara runtut. Akibatnya, teks pidato yang disusun cenderung belum memiliki alur gagasan yang jelas. Pesan utama yang seharusnya menjadi pusat penyampaian sering kali belum dirumuskan secara tegas. Kondisi ini berpengaruh terhadap kualitas pidato karena audiens membutuhkan susunan informasi yang mudah diikuti sejak bagian awal hingga akhir.

Selain struktur teks, aspek kebahasaan juga menjadi persoalan penting. Bahasa pidato yang digunakan peserta belum sepenuhnya komunikatif dan sesuai dengan konteks audiens. Sebagian peserta masih menggunakan kalimat yang terlalu panjang, pilihan kata yang kurang tepat, atau ungkapan yang belum menunjukkan hubungan antargagasan secara jelas. Dampaknya, pesan yang disampaikan berpotensi kurang mudah dipahami oleh pendengar. Padahal, kegiatan PKK banyak berkaitan dengan penyampaian informasi praktis yang perlu diterima dengan cepat dan tepat oleh masyarakat.

Permasalahan berikutnya tampak pada aspek kepercayaan diri. Beberapa peserta masih merasa gugup ketika diminta berbicara di depan umum. Rasa gugup tersebut memengaruhi kelancaran penyampaian, terutama ketika peserta harus membuka pidato, menatap audiens, atau mengembangkan isi pembicaraan tanpa terlalu bergantung pada teks. Dalam situasi tertentu, peserta cenderung mempercepat tempo bicara, menunduk, atau berhenti cukup lama karena kehilangan konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara di depan umum perlu dilatih secara bertahap melalui praktik yang aman, terarah, dan mendapat umpan balik.

Dari aspek teknik vokal, peserta juga masih memerlukan penguatan. Volume suara, tempo, jeda, artikulasi, dan intonasi belum sepenuhnya dikelola secara efektif. Beberapa pidato terdengar terlalu pelan, terlalu cepat, atau datar sehingga pesan yang disampaikan kurang memiliki daya tarik. Pengelolaan vokal menjadi penting karena suara merupakan media utama dalam penyampaian pidato. Tanpa pengaturan suara yang baik, teks pidato yang telah disusun secara tepat pun belum tentu tersampaikan secara optimal kepada audiens.

Selanjutnya, aspek ekspresi dan bahasa tubuh juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Kontak mata, gestur, ekspresi wajah, dan sikap tubuh peserta belum sepenuhnya mendukung isi pidato. Sebagian peserta masih terfokus pada teks sehingga interaksi dengan audiens berkurang. Padahal, komunikasi publik yang meyakinkan membutuhkan kesesuaian antara isi pesan, suara, dan tampilan nonverbal. Oleh karena itu, pendampingan perlu diarahkan pada penguatan kemampuan menyusun teks sekaligus kemampuan menampilkan pidato secara wajar, santun, dan percaya diri.

Secara ringkas, analisis permasalahan mitra dapat disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Analisis Permasalahan Mitra

Aspek Permasalahan

Kondisi yang Ditemukan

Dampak terhadap Peserta

Penyusunan teks pidato

Peserta belum memahami struktur pidato secara sistematis

Teks pidato kurang runtut dan kurang fokus

Penggunaan bahasa

Bahasa pidato belum sepenuhnya komunikatif dan sesuai konteks

Pesan kurang mudah dipahami audiens

Kepercayaan diri

Peserta masih gugup saat berbicara di depan umum

Penyampaian kurang lancar

Teknik vokal

Volume, tempo, jeda, artikulasi, dan intonasi belum terkelola dengan baik

Pidato terdengar monoton, terlalu cepat, terlalu pelan, atau kurang jelas

Ekspresi dan bahasa tubuh

Kontak mata, gestur, ekspresi wajah, dan sikap tubuh belum optimal

Komunikasi kurang meyakinkan dan interaksi dengan audiens belum terbangun secara kuat

Berdasarkan pemetaan tersebut, kegiatan pendampingan dirancang untuk menjawab kebutuhan mitra secara langsung. Fokus pendampingan diarahkan pada dua kompetensi utama, yaitu kemampuan menyusun teks pidato yang terstruktur dan kemampuan menyampaikan pidato secara jelas, komunikatif, serta percaya diri. Dengan demikian, kegiatan PkM ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kapasitas komunikasi publik Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari.

 

METODE PELAKSANAAN

Metode pelaksanaan kegiatan dirancang untuk menjawab permasalahan mitra secara langsung, terutama berkaitan dengan kemampuan menyusun teks pidato dan keterampilan berbicara di depan umum. Oleh karena itu, kegiatan PkM ini dilaksanakan melalui pola pendampingan yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Peserta diberi kesempatan untuk memahami konsep, mendiskusikan pengalaman, menyusun teks, mempraktikkan pidato, menerima umpan balik, dan merefleksikan perkembangan kemampuan yang diperoleh selama kegiatan.

Secara umum, metode pelaksanaan kegiatan mencakup tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan melalui koordinasi dengan mitra, identifikasi kebutuhan peserta, penyusunan materi, dan penyiapan perangkat pendampingan. Tahap pelaksanaan difokuskan pada penyampaian materi, praktik penyusunan teks pidato, simulasi berbicara di depan umum, serta pemberian umpan balik. Selanjutnya, tahap evaluasi dilakukan melalui pengamatan terhadap keterlibatan peserta, kualitas teks pidato, performa penyampaian, dan respons peserta terhadap kegiatan. Dengan tahapan tersebut, kegiatan PkM ini diharapkan menghasilkan capaian yang dapat diamati secara proses maupun hasil.

Pendekatan Kegiatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif. Pendekatan partisipatif dipilih karena peserta dilibatkan secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pengenalan masalah, diskusi pengalaman, praktik penyusunan teks, simulasi pidato, hingga refleksi. Sementara itu, pendekatan edukatif digunakan karena kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta melalui proses pembelajaran yang terstruktur, praktis, dan sesuai dengan kebutuhan mitra.

Pendekatan tersebut diterapkan melalui beberapa model kegiatan. Pertama, ceramah interaktif digunakan untuk memberikan penguatan konsep dasar tentang pidato dan public speaking. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada pengertian pidato, fungsi pidato dalam kegiatan kemasyarakatan, struktur teks pidato, prinsip bahasa yang komunikatif, serta aspek vokal dan nonverbal dalam penyampaian pesan. Ceramah tidak berlangsung satu arah, tetapi disertai tanya jawab dan contoh-contoh yang dekat dengan pengalaman peserta dalam kegiatan PKK.

Kedua, praktik terbimbing digunakan untuk melatih peserta menyusun teks pidato. Peserta diarahkan untuk menentukan tema, merumuskan tujuan pidato, menyusun pembukaan, mengembangkan isi, dan menutup pidato dengan kalimat yang santun serta berkesan. Dalam proses ini, tim pelaksana memberikan contoh, panduan, dan koreksi secara langsung agar peserta dapat memahami kekuatan dan kelemahan teks yang disusun. Praktik terbimbing ini menjadi bagian penting karena kemampuan berbicara di depan umum perlu diawali dengan kemampuan menata gagasan secara runtut.

Ketiga, simulasi digunakan untuk melatih peserta menyampaikan pidato di depan forum. Melalui simulasi, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola suara, tempo, jeda, intonasi, kontak mata, ekspresi, dan gestur. Simulasi juga membantu peserta mengurangi rasa gugup karena mereka berlatih dalam suasana yang mendukung dan tidak menghakimi. Dengan demikian, peserta dapat mencoba berbagai strategi penyampaian sebelum menerapkannya dalam kegiatan sosial yang sebenarnya.

Keempat, umpan balik langsung diberikan setelah peserta melakukan praktik. Umpan balik difokuskan pada dua aspek utama, yaitu kualitas teks pidato dan kualitas penyampaian. Pada aspek teks, masukan diberikan terhadap struktur, keruntutan gagasan, pilihan kata, dan kesesuaian isi dengan audiens. Pada aspek penyampaian, masukan diarahkan pada kejelasan suara, pengaturan tempo, penggunaan jeda, ekspresi, kontak mata, dan sikap tubuh. Umpan balik disampaikan secara konstruktif agar peserta mengetahui bagian yang sudah baik dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

Kelima, refleksi dilakukan untuk menilai pengalaman belajar peserta. Pada tahap ini, peserta diajak mengungkapkan kesulitan yang dialami, hal baru yang dipahami, serta perubahan yang dirasakan setelah mengikuti pendampingan. Refleksi juga digunakan untuk melihat sejauh mana kegiatan menjawab kebutuhan peserta. Dengan adanya refleksi, proses pendampingan tidak berhenti pada praktik, tetapi berlanjut pada kesadaran peserta terhadap perkembangan kemampuan komunikasi publiknya.

Secara ringkas, pendekatan kegiatan dapat digambarkan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Model Pelaksanaan Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking

Model Kegiatan

Bentuk Pelaksanaan

Tujuan

Ceramah interaktif

Penyampaian konsep dasar pidato dan public speaking disertai tanya jawab

Menguatkan pemahaman awal peserta

Praktik terbimbing

Penyusunan teks pidato dengan pendampingan tim pelaksana

Melatih peserta menata gagasan secara runtut

Simulasi

Praktik menyampaikan pidato di depan forum

Melatih keberanian dan keterampilan berbicara

Umpan balik langsung

Pemberian masukan terhadap teks dan performa pidato

Membantu peserta memperbaiki kualitas pidato

Refleksi

Pengungkapan pengalaman, kendala, dan manfaat kegiatan

Menilai proses belajar dan perubahan peserta

Lokasi dan Sasaran Kegiatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan kesesuaian antara kebutuhan mitra dan bidang keahlian tim pelaksana, terutama dalam penguatan keterampilan berbahasa, penyusunan teks pidato, dan komunikasi publik. Kelurahan Banjarsari memiliki komunitas PKK yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial, sehingga pelatihan public speaking dinilai relevan untuk mendukung peran anggota PKK dalam forum kemasyarakatan.

Sasaran kegiatan adalah Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Peserta merupakan bagian dari komunitas perempuan yang memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi, menggerakkan partisipasi warga, dan mendukung program-program kelurahan. Dalam kegiatan sehari-hari, anggota PKK sering berhadapan dengan situasi komunikasi yang menuntut kemampuan berbicara secara jelas, santun, dan terarah. Oleh karena itu, sasaran kegiatan dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan praktis peserta dalam menjalankan peran sosialnya.

Bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking. Kegiatan ini menempatkan penyusunan teks sebagai dasar penguasaan isi, sedangkan praktik berbicara digunakan untuk melatih penyampaian pesan secara efektif. Keduanya dipadukan agar peserta tidak hanya mampu menyiapkan naskah pidato, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan lebih percaya diri di depan audiens.

Pelaksana kegiatan adalah Tim Pengabdian kepada Masyarakat Prodi S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya. Keterlibatan tim pelaksana didasarkan pada relevansi keilmuan dalam bidang pendidikan bahasa, keterampilan berbicara, penyusunan teks, dan komunikasi publik. Melalui kegiatan ini, keahlian akademik perguruan tinggi diterapkan untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya dalam penguatan keterampilan komunikasi Ibu-Ibu PKK.

Peserta kegiatan berjumlah 25 orang yang terdiri atas pengurus dan anggota PKK Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Jumlah tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mitra dalam kegiatan pendampingan. Keberagaman pengalaman peserta dalam kegiatan sosial juga menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan kegiatan, karena setiap peserta memiliki latar pengalaman berbicara yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi dasar bagi tim pelaksana untuk menerapkan pola pendampingan yang fleksibel, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan peserta.

Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disusun secara bertahap agar proses pendampingan berjalan sistematis dan sesuai dengan kebutuhan mitra. Setiap tahap dirancang untuk menghubungkan pemahaman konseptual dengan praktik langsung, sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang utuh. Alur kegiatan dimulai dari persiapan, penguatan konsep, praktik penyusunan teks, simulasi pidato, pemberian umpan balik, hingga refleksi dan evaluasi.

Tahap persiapan dilakukan melalui koordinasi antara tim pelaksana dan mitra. Koordinasi ini bertujuan memastikan kesesuaian kegiatan dengan kondisi peserta, kebutuhan organisasi PKK, serta konteks sosial Kelurahan Banjarsari. Pada tahap ini, tim pelaksana mengidentifikasi kebutuhan peserta, menyusun materi pendampingan, menyiapkan contoh teks pidato, dan merancang instrumen evaluasi. Hasil dari tahap persiapan berupa perangkat kegiatan yang siap digunakan dalam pelaksanaan pendampingan.

Tahap berikutnya adalah pelaksanaan awal berupa penyampaian konsep dasar pidato dan public speaking. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada fungsi pidato dalam kegiatan kemasyarakatan, pentingnya penguasaan pesan, serta prinsip dasar penyampaian berbicara di depan umum. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar peserta dapat mengaitkan konsep yang diberikan dengan pengalaman mereka dalam kegiatan PKK. Dengan demikian, peserta memperoleh landasan awal sebelum masuk ke tahap praktik.

Setelah memperoleh penguatan konsep, peserta diarahkan untuk menyusun teks pidato berdasarkan tema yang dekat dengan kehidupan PKK. Tema yang digunakan berkaitan dengan kegiatan keluarga, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan perempuan, pendidikan anak, dan partisipasi masyarakat. Pada tahap ini, peserta belajar menentukan tujuan pidato, menyusun pembukaan, mengembangkan isi, dan merumuskan penutup. Produk yang dihasilkan berupa draf teks pidato yang kemudian digunakan sebagai bahan simulasi.

Tahap simulasi pidato dilakukan dengan meminta peserta mempraktikkan pidato di depan forum. Simulasi ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengelola suara, tempo, jeda, intonasi, ekspresi, kontak mata, dan gestur. Melalui praktik tersebut, tim pelaksana dapat mengamati performa berbicara peserta secara lebih konkret. Selain itu, peserta juga dapat mengenali kendala yang muncul ketika teks pidato disampaikan secara lisan di hadapan audiens.

Setelah simulasi, tim pelaksana memberikan umpan balik terhadap teks dan performa pidato peserta. Masukan diberikan pada aspek struktur teks, kesesuaian isi, penggunaan bahasa, teknik vokal, ekspresi, dan bahasa tubuh. Umpan balik disampaikan secara langsung dan konstruktif agar peserta mengetahui kelebihan serta bagian yang perlu diperbaiki. Tahap ini menjadi bagian penting karena peserta memperoleh arahan praktis untuk meningkatkan kualitas pidato.

Kegiatan diakhiri dengan refleksi dan evaluasi. Peserta diminta mengungkapkan pengalaman, kendala, dan manfaat yang diperoleh selama pendampingan. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan, angket respons, catatan refleksi, dan penilaian terhadap produk teks pidato. Data dari tahap ini digunakan untuk melihat perubahan pemahaman dan keterampilan peserta setelah mengikuti kegiatan.

Secara ringkas, tahapan pelaksanaan kegiatan dapat disajikan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Tahapan Pelaksanaan Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking

Tahap

Kegiatan

Luaran yang Diharapkan

Persiapan

Koordinasi dengan mitra, identifikasi kebutuhan, penyusunan materi, dan penyusunan instrumen evaluasi

Materi dan perangkat pendampingan siap digunakan

Pelaksanaan awal

Penyampaian konsep dasar pidato dan public speaking

Peserta memahami prinsip dasar berbicara di depan umum

Praktik penyusunan teks

Peserta menyusun teks pidato berdasarkan tema yang dekat dengan kehidupan PKK

Draf teks pidato peserta

Simulasi pidato

Peserta mempraktikkan pidato di depan forum

Performa berbicara peserta dapat diamati

Umpan balik

Tim memberikan masukan terhadap struktur teks, bahasa, vokal, ekspresi, dan gestur

Peserta mengetahui aspek yang perlu diperbaiki

Refleksi dan evaluasi

Peserta mengisi refleksi dan/atau mengikuti evaluasi akhir

Data perubahan pemahaman dan keterampilan peserta

 

Materi Pendampingan

Materi pendampingan disusun berdasarkan kebutuhan peserta dalam menyusun teks pidato dan menyampaikannya di depan umum. Penyusunan materi dilakukan dengan mempertimbangkan konteks kegiatan PKK, karakteristik peserta, serta situasi komunikasi yang sering mereka hadapi dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, materi diberikan secara praktis, bertahap, dan mudah diterapkan dalam forum kemasyarakatan.

Materi pertama berkaitan dengan konsep dasar public speaking. Pada bagian ini, peserta memperoleh pemahaman tentang pengertian public speaking, tujuan berbicara di depan umum, dan pentingnya penguasaan pesan. Peserta juga diarahkan untuk memahami bahwa berbicara di depan umum memerlukan persiapan isi, keberanian tampil, serta kemampuan menyesuaikan pesan dengan audiens. Materi ini menjadi dasar bagi peserta untuk menyadari peran komunikasi publik dalam kegiatan PKK.

Materi kedua membahas struktur teks pidato. Peserta diperkenalkan pada bagian-bagian pidato yang meliputi salam pembuka, sapaan penghormatan, pembukaan, isi, penutup, dan salam penutup. Setiap bagian dijelaskan fungsi dan contoh penggunaannya. Dalam proses pendampingan, peserta diarahkan untuk menyusun pidato dengan alur yang jelas agar pesan dapat diterima secara runtut oleh pendengar. Pemahaman terhadap struktur ini penting karena teks pidato yang baik membantu pembicara menjaga fokus pembicaraan.

Materi ketiga berfokus pada bahasa pidato yang komunikatif. Peserta dilatih menggunakan bahasa yang jelas, santun, runtut, sesuai dengan audiens, dan tidak berbelit-belit. Pemilihan bahasa menjadi aspek penting karena kegiatan PKK sering melibatkan audiens yang beragam. Dengan bahasa yang komunikatif, pesan dapat disampaikan secara lebih mudah, dekat, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Materi keempat berkaitan dengan teknik penyampaian pidato. Pada bagian ini, peserta berlatih mengelola volume suara, artikulasi, intonasi, tempo, jeda, kontak mata, ekspresi wajah, dan gestur. Teknik penyampaian ditekankan karena keberhasilan pidato ditentukan oleh isi pesan dan cara penyampaiannya. Peserta diajak merasakan perbedaan antara berbicara terlalu pelan, terlalu cepat, dan berbicara dengan jelas serta tenang. Melalui latihan tersebut, peserta dapat memahami pentingnya pengendalian suara dan ekspresi dalam membangun komunikasi yang meyakinkan.

Materi kelima berupa praktik dan refleksi. Peserta menyusun teks pidato, membaca teks dengan variasi tempo dan intonasi, menyampaikan pidato secara singkat, serta menerima umpan balik dari tim pelaksana. Refleksi dilakukan untuk membantu peserta mengenali perkembangan diri, kendala yang masih dihadapi, dan strategi perbaikan yang dapat dilakukan setelah kegiatan. Dengan susunan materi tersebut, kegiatan pendampingan diarahkan untuk menghasilkan perubahan pada aspek pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri peserta.

Secara sistematis, materi pendampingan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Materi Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking

Materi

Pokok Bahasan

Orientasi Keterampilan

Konsep dasar public speaking

Pengertian public speaking, tujuan berbicara di depan umum, kepercayaan diri, dan penguasaan pesan

Memahami fungsi komunikasi publik dalam kegiatan sosial

Struktur teks pidato

Salam pembuka, sapaan penghormatan, pembukaan, isi, penutup, dan salam penutup

Menyusun teks pidato secara runtut

Bahasa pidato yang komunikatif

Kejelasan, kesantunan, keruntutan, kesesuaian dengan audiens, dan kehematan kalimat

Menggunakan bahasa yang mudah dipahami audiens

Teknik penyampaian pidato

Volume, artikulasi, intonasi, tempo, jeda, kontak mata, ekspresi wajah, dan gestur

Menyampaikan pidato secara jelas dan percaya diri

Praktik dan refleksi

Penyusunan teks, pembacaan dengan variasi tempo dan intonasi, praktik pidato singkat, dan umpan balik

Memperbaiki performa pidato berdasarkan pengalaman langsung

 

Instrumen Evaluasi

Evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pendampingan, khususnya dalam peningkatan pemahaman peserta terhadap teks pidato dan keterampilan berbicara di depan umum. Instrumen evaluasi disusun secara sederhana agar sesuai dengan karakter kegiatan PkM, tetapi tetap mampu memberikan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi diarahkan pada proses, produk, performa, dan respons peserta selama mengikuti kegiatan.

Instrumen pertama adalah lembar observasi performa pidato. Instrumen ini digunakan untuk mengamati kemampuan peserta ketika menyampaikan pidato di depan forum. Aspek yang diamati meliputi keberanian tampil, kelancaran berbicara, pengelolaan suara, intonasi, tempo, jeda, kontak mata, ekspresi, dan gestur. Melalui lembar observasi, tim pelaksana dapat mencatat perkembangan peserta secara langsung selama simulasi berlangsung.

Instrumen kedua adalah rubrik penilaian teks pidato. Rubrik ini digunakan untuk menilai kualitas teks yang disusun peserta. Aspek yang dinilai meliputi kelengkapan struktur, kesesuaian isi dengan tema, keruntutan gagasan, pilihan bahasa, dan kejelasan pesan. Penilaian terhadap teks penting dilakukan karena penyampaian pidato yang baik perlu didukung oleh naskah yang terarah dan mudah dipahami.

Instrumen ketiga adalah angket respons peserta. Angket digunakan untuk mengetahui tanggapan peserta terhadap materi, metode pendampingan, praktik, umpan balik, serta manfaat kegiatan. Melalui angket, tim pelaksana memperoleh gambaran tentang tingkat keterterimaan program dari sudut pandang peserta. Data ini juga dapat digunakan untuk melihat aspek kegiatan yang sudah sesuai dan bagian yang perlu diperbaiki pada pelaksanaan berikutnya.

Instrumen keempat adalah catatan refleksi peserta. Refleksi digunakan untuk menggali pengalaman belajar peserta secara lebih personal. Peserta dapat menyampaikan hal yang dirasakan sulit, perubahan yang dialami, bagian kegiatan yang paling membantu, dan rencana tindak lanjut setelah pelatihan. Catatan refleksi melengkapi data observasi dan angket karena memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai proses belajar peserta.

Instrumen kelima adalah dokumentasi kegiatan. Dokumentasi berupa foto, catatan kegiatan, produk teks pidato, dan bukti pelaksanaan digunakan untuk mendukung laporan kegiatan serta memperkuat validitas data. Dokumentasi juga menjadi arsip program yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan sejenis pada masa berikutnya.

Indikator evaluasi kegiatan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5. Indikator evaluasi kegiatan

Aspek yang Dinilai

Indikator

Struktur teks

Kelengkapan pembukaan, isi, dan penutup

Kesesuaian isi

Relevansi tema dengan konteks kegiatan PKK

Kebahasaan

Kejelasan, kesantunan, dan keruntutan bahasa

Vokal

Volume, artikulasi, intonasi, tempo, dan jeda

Nonverbal

Kontak mata, ekspresi, gestur, dan sikap tubuh

Kepercayaan diri

Keberanian tampil dan kelancaran berbicara

Dengan instrumen tersebut, evaluasi kegiatan dapat dilakukan secara lebih terarah. Data yang diperoleh menggambarkan perubahan peserta dari sisi pemahaman, produk teks, performa berbicara, dan pengalaman belajar. Oleh karena itu, evaluasi dalam kegiatan ini berfungsi sebagai alat untuk mengukur capaian sekaligus sebagai dasar perbaikan program pendampingan.

Teknik Analisis Data

Data kegiatan dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan kuantitatif sederhana. Analisis deskriptif-kualitatif digunakan untuk menguraikan proses pelaksanaan kegiatan, keterlibatan peserta, kualitas teks pidato, performa penyampaian, serta pengalaman peserta selama mengikuti pendampingan. Sementara itu, analisis kuantitatif sederhana digunakan untuk mengolah data angket respons peserta dalam bentuk persentase. Perpaduan kedua teknik tersebut dipilih agar hasil kegiatan dapat dijelaskan secara naratif dan didukung oleh data terukur.

Data observasi dianalisis dengan mencermati perubahan performa peserta pada saat simulasi pidato. Perubahan tersebut dilihat dari aspek keberanian tampil, kelancaran berbicara, pengelolaan vokal, kontak mata, ekspresi, dan gestur. Hasil pengamatan kemudian dideskripsikan untuk menunjukkan bagian-bagian keterampilan yang mengalami perkembangan serta aspek yang masih memerlukan latihan lanjutan.

Data angket dianalisis dalam bentuk persentase untuk menggambarkan respons peserta terhadap kegiatan. Persentase digunakan untuk menunjukkan kecenderungan jawaban peserta mengenai kesesuaian materi, kejelasan penyampaian, kebermanfaatan praktik, kualitas umpan balik, dan minat mengikuti kegiatan lanjutan. Hasil analisis angket kemudian diinterpretasikan secara deskriptif agar maknanya dapat dikaitkan dengan capaian program.

Catatan refleksi peserta dianalisis dengan mengelompokkan informasi berdasarkan tema-tema utama, seperti pengalaman belajar, kendala yang dihadapi, manfaat yang dirasakan, dan rencana penerapan keterampilan setelah kegiatan. Pengelompokan ini membantu tim pelaksana memahami perubahan peserta dari sudut pandang mereka sendiri. Selain itu, refleksi juga digunakan untuk melihat apakah kegiatan pendampingan sesuai dengan kebutuhan praktis peserta dalam kegiatan PKK.

Produk teks pidato dianalisis berdasarkan struktur, isi, dan kebahasaan. Analisis struktur dilakukan dengan melihat kelengkapan pembukaan, isi, dan penutup. Analisis isi dilakukan dengan mencermati relevansi tema, kejelasan pesan, dan keruntutan gagasan. Selanjutnya, analisis kebahasaan dilakukan dengan memperhatikan pilihan kata, kesantunan, kejelasan kalimat, dan kesesuaian bahasa dengan audiens. Hasil analisis produk teks digunakan untuk menilai kemampuan peserta dalam menyiapkan pidato secara tertulis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul Pendampingan Penyusunan Teks Pidato untuk Meningkatkan Kompetensi Berbicara di Depan Umum (Public Speaking) Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi dilaksanakan pada Senin, 11 Mei 2026, bertempat di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas pengurus dan anggota PKK Kelurahan Banjarsari. Jumlah peserta tersebut menunjukkan adanya dukungan dan keterlibatan mitra dalam program pendampingan, terutama karena materi yang diberikan berkaitan langsung dengan kebutuhan komunikasi Ibu-Ibu PKK dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara terstruktur melalui beberapa rangkaian acara. Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana dan sambutan ketua PKK Kelurahan Banjarsari. Setelah itu, kegiatan masuk pada sesi penyampaian materi, praktik penyusunan teks pidato, latihan berbicara di depan umum, serta pemberian umpan balik dari tim pelaksana. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa dan penutupan. Susunan acara tersebut dirancang agar kegiatan berjalan tertib, tetapi tetap memberi ruang yang cukup bagi peserta untuk berdiskusi, berlatih, dan menyampaikan pengalaman.

Pada sesi awal, tim pelaksana memperkenalkan konsep dasar public speaking dan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum bagi Ibu-Ibu PKK. Materi diarahkan pada konteks yang dekat dengan pengalaman peserta, seperti menyampaikan sambutan dalam kegiatan PKK, memberikan informasi dalam forum warga, berbicara dalam kegiatan posyandu, serta menyampaikan pesan dalam acara kelurahan. Dengan mengaitkan materi pada situasi yang akrab bagi peserta, proses pendampingan menjadi lebih mudah diterima dan dipahami.

Suasana kegiatan berlangsung kondusif dan interaktif. Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias sejak awal hingga akhir. Antusiasme tersebut tampak dari kesediaan peserta untuk memperhatikan materi, merespons pertanyaan pemateri, mengajukan pertanyaan, dan terlibat dalam praktik. Beberapa peserta juga menyampaikan pengalaman pribadi ketika harus berbicara di depan umum, terutama rasa gugup, kebingungan menyusun kata-kata, dan kecenderungan membaca teks secara kaku. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk yang penting untuk membangun kesadaran bahwa keterampilan berbicara dapat dilatih melalui proses yang bertahap.

Keterlibatan peserta terlihat cukup kuat pada sesi praktik. Peserta mengikuti penugasan menyusun teks pidato singkat dengan tema yang dekat dengan kegiatan PKK dan kehidupan masyarakat. Dalam proses tersebut, peserta mulai berlatih menentukan bagian pembukaan, isi, dan penutup. Selain itu, peserta juga diajak memperhatikan penggunaan bahasa yang jelas, santun, dan sesuai dengan audiens. Proses praktik ini memperlihatkan bahwa peserta memiliki potensi komunikasi yang baik, meskipun sebagian masih memerlukan pendampingan dalam menata gagasan dan memilih ungkapan yang lebih efektif.

Pada sesi latihan berbicara, peserta menunjukkan keberanian untuk mencoba menyampaikan pidato di depan forum. Meskipun beberapa peserta masih tampak gugup, mereka tetap berupaya mengikuti arahan yang diberikan, terutama dalam mengatur volume suara, tempo, intonasi, kontak mata, dan ekspresi. Respons awal peserta terhadap kegiatan tergolong baik. Peserta menilai materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka karena dapat langsung diterapkan dalam kegiatan PKK dan forum kemasyarakatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan memiliki relevansi praktis bagi peningkatan kompetensi komunikasi publik peserta.

Secara umum, pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik, aktif, dan partisipatif. Kegiatan ini mampu menciptakan suasana belajar yang mendukung peserta untuk memahami konsep, mencoba praktik, menerima masukan, dan merefleksikan kemampuan diri. Dengan demikian, hasil awal pelaksanaan menunjukkan bahwa pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking dapat menjadi strategi yang relevan untuk memperkuat kapasitas komunikasi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari.

Peningkatan Pemahaman Peserta tentang Struktur Teks Pidato

Salah satu capaian penting dalam kegiatan pendampingan ini adalah meningkatnya pemahaman peserta tentang struktur teks pidato. Pada awal kegiatan, sebagian peserta masih memandang pidato sebagai kegiatan membaca naskah di depan audiens. Pemahaman tersebut membuat perhatian peserta lebih banyak tertuju pada keberanian tampil dan kelancaran membaca, sementara aspek penataan gagasan belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, pidato sering dipahami sebagai teks yang dibacakan secara utuh, bukan sebagai bentuk komunikasi lisan yang memerlukan susunan pesan, tujuan, dan strategi penyampaian yang jelas.

Sebelum pendampingan, peserta juga belum sepenuhnya memahami fungsi setiap bagian dalam teks pidato. Bagian pembukaan, isi, dan penutup sering disusun tanpa batas yang tegas. Pada beberapa contoh yang muncul dalam diskusi, pembukaan pidato cenderung langsung masuk pada inti pesan, sedangkan bagian penutup belum dirancang untuk memberikan kesan akhir yang kuat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peserta membutuhkan pemahaman dasar tentang struktur pidato agar gagasan yang disampaikan lebih runtut dan mudah diikuti oleh audiens.

Setelah memperoleh materi dan contoh, peserta mulai memahami bahwa teks pidato perlu disusun dengan struktur yang jelas. Peserta dapat membedakan fungsi pembukaan sebagai bagian untuk menyapa audiens, membangun perhatian, dan mengantar topik. Selanjutnya, bagian isi dipahami sebagai ruang untuk menyampaikan pesan utama secara terarah. Adapun bagian penutup dipahami sebagai bagian untuk merangkum pesan, menyampaikan ajakan, harapan, atau penegasan akhir. Pemahaman ini membantu peserta melihat bahwa pidato yang baik memerlukan alur komunikasi yang tertata dari awal hingga akhir.

Peningkatan pemahaman juga tampak pada kemampuan peserta dalam menentukan fokus isi pidato. Pada awalnya, beberapa peserta cenderung menyampaikan terlalu banyak hal dalam satu teks sehingga isi pidato melebar. Setelah pendampingan, peserta mulai diarahkan untuk memilih satu tema utama, menentukan tujuan pidato, dan menyesuaikan isi dengan kebutuhan audiens. Misalnya, pidato untuk kegiatan PKK dapat difokuskan pada kesehatan keluarga, pendidikan anak, kebersihan lingkungan, atau peran perempuan dalam masyarakat. Dengan fokus yang lebih jelas, pesan pidato menjadi lebih mudah dipahami dan lebih sesuai dengan konteks kegiatan.

Dari aspek kebahasaan, peserta juga menunjukkan perubahan pemahaman. Sebelum pendampingan, bahasa pidato yang digunakan cenderung berada pada dua kecenderungan, yaitu terlalu formal dan kaku atau terlalu lisan sehingga kurang tertata. Setelah sesi pendampingan, peserta mulai memahami pentingnya bahasa yang komunikatif, santun, dan sesuai dengan audiens. Peserta diarahkan menggunakan kalimat yang lebih jelas, tidak berbelit, serta memiliki hubungan antargagasan yang runtut. Perubahan ini penting karena kegiatan PKK banyak berhubungan dengan komunikasi sosial yang membutuhkan bahasa yang akrab, sopan, dan mudah diterima oleh warga.

Secara umum, peningkatan pemahaman peserta dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

Tabel 6. Perubahan Pemahaman Peserta tentang Struktur dan Isi Teks Pidato

Aspek Pemahaman

Sebelum Pendampingan

Setelah Pendampingan

Struktur pidato

Peserta belum sepenuhnya memahami bagian pembukaan, isi, dan penutup

Peserta mampu menyusun pidato dengan struktur yang lebih runtut

Fungsi bagian pidato

Pembukaan, isi, dan penutup belum dibedakan secara tegas

Peserta mulai memahami fungsi pembukaan, isi, dan penutup dalam membangun alur pidato

Fokus isi

Isi pidato masih melebar dan belum terarah pada satu pesan utama

Isi pidato lebih sesuai dengan tema, tujuan, dan kebutuhan audiens

Kesesuaian konteks

Isi pidato belum sepenuhnya disesuaikan dengan forum dan pendengar

Peserta mulai menyesuaikan isi pidato dengan kegiatan PKK dan karakter audiens

Bahasa

Bahasa cenderung formal kaku atau terlalu lisan

Bahasa lebih komunikatif, santun, runtut, dan mudah dipahami

Berdasarkan temuan tersebut, pendampingan penyusunan teks pidato memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta. Peserta mulai menyadari bahwa pidato memerlukan persiapan isi yang matang dan struktur yang sistematis. Kesadaran ini menjadi dasar penting bagi peningkatan keterampilan berbicara di depan umum, karena penyampaian yang baik akan lebih mudah dilakukan apabila pembicara memahami alur dan pesan yang hendak disampaikan.

 

3.3 Kemampuan Peserta dalam Menyusun Teks Pidato

Kemampuan peserta dalam menyusun teks pidato menunjukkan perkembangan setelah mengikuti sesi penguatan konsep dan praktik terbimbing. Pada tahap praktik, peserta diarahkan untuk menyusun teks pidato singkat berdasarkan tema yang dekat dengan kegiatan PKK dan kehidupan masyarakat. Tema yang dipilih berkaitan dengan peran keluarga dalam pendidikan anak, kesehatan lingkungan, gerakan hidup bersih dan sehat, pemberdayaan perempuan, peran PKK dalam membangun masyarakat, serta pentingnya komunikasi dalam keluarga. Pemilihan tema yang kontekstual membantu peserta lebih mudah menemukan gagasan karena materi pidato bersumber dari pengalaman sosial yang mereka kenal.

Dari aspek kelengkapan struktur, sebagian besar peserta mulai mampu menyusun teks pidato yang memuat bagian pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan, peserta menggunakan salam, sapaan penghormatan, dan pengantar singkat menuju topik. Pada bagian isi, peserta mulai menata gagasan utama sesuai tema yang dipilih. Selanjutnya, pada bagian penutup, peserta berupaya menambahkan ajakan, harapan, atau pesan akhir kepada audiens. Perkembangan ini menunjukkan bahwa peserta mulai memahami struktur pidato sebagai kerangka yang membantu pembicara menjaga arah penyampaian pesan.

Pada aspek kejelasan gagasan, teks pidato peserta memperlihatkan adanya upaya untuk merumuskan pesan utama secara lebih tegas. Misalnya, dalam tema kesehatan lingkungan, peserta menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah, memilah sampah, dan membiasakan perilaku hidup bersih. Dalam tema pendidikan anak, peserta mengangkat peran orang tua dalam mendampingi belajar, membangun komunikasi yang hangat, dan memberikan teladan di rumah. Gagasan-gagasan tersebut menunjukkan bahwa peserta mampu mengaitkan isi pidato dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Kesesuaian tema juga menjadi capaian yang cukup menonjol. Peserta dapat memilih topik yang relevan dengan kegiatan PKK, sehingga teks pidato yang disusun memiliki kedekatan dengan kebutuhan audiens. Relevansi ini penting karena pidato dalam forum kemasyarakatan akan lebih efektif apabila isi yang disampaikan berhubungan langsung dengan pengalaman pendengar. Dengan memilih tema yang akrab, peserta lebih mudah mengembangkan isi pidato dan audiens berpotensi lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan.

Dari segi pilihan kata, teks pidato peserta mulai mengarah pada penggunaan bahasa yang lebih komunikatif dan santun. Pada awal praktik, beberapa peserta masih menggunakan kalimat yang terlalu panjang atau ungkapan yang cenderung kaku. Setelah memperoleh pendampingan, peserta mulai memperbaiki kalimat agar lebih jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Perubahan ini tampak pada penggunaan sapaan yang lebih tepat, kalimat ajakan yang lebih halus, serta penjelasan yang lebih dekat dengan konteks kehidupan warga. Dengan demikian, bahasa pidato menjadi lebih sesuai untuk forum PKK dan kegiatan masyarakat.

Kelancaran alur teks juga mengalami penguatan. Peserta mulai memahami bahwa pidato perlu bergerak dari pengantar menuju inti pesan, kemudian ditutup dengan simpulan atau ajakan. Dalam beberapa teks, peserta sudah mampu menggunakan penanda hubungan antargagasan, seperti selain itu, oleh karena itu, dengan demikian, dan sebagai penutup. Penggunaan penanda tersebut membantu teks menjadi lebih runtut dan mengurangi kesan melompat dari satu gagasan ke gagasan lain. Meskipun demikian, sebagian peserta masih memerlukan latihan lanjutan agar hubungan antarbagian dalam teks menjadi lebih halus dan alami.

Pada bagian penutup, peserta mulai mampu menyusun kalimat akhir yang lebih berkesan. Penutup tidak lagi berisi ucapan selesai semata, tetapi mulai memuat ajakan, harapan, atau penegasan pesan. Misalnya, dalam tema gerakan hidup bersih dan sehat, peserta menutup pidato dengan ajakan untuk memulai perubahan dari keluarga sendiri. Dalam tema komunikasi keluarga, peserta menutup pidato dengan harapan agar setiap keluarga membangun kebiasaan saling mendengar dan menghargai. Penutup semacam ini memperlihatkan bahwa peserta mulai memahami pentingnya kesan akhir dalam pidato.

Gambaran kemampuan peserta dalam menyusun teks pidato dapat disajikan pada tabel berikut.

Tabel 7. Capaian Kemampuan Peserta dalam Menyusun Teks Pidato

Aspek yang Dianalisis

Capaian Peserta

Catatan Penguatan

Kelengkapan struktur

Teks mulai memuat pembukaan, isi, dan penutup

Perlu penguatan pada transisi antarbagian

Kejelasan gagasan

Pesan utama mulai tampak dan sesuai dengan topik

Perlu latihan merumuskan gagasan utama secara lebih padat

Kesesuaian tema

Tema dekat dengan kegiatan PKK dan kehidupan masyarakat

Tema dapat dipertajam sesuai jenis forum dan audiens

Pilihan kata

Bahasa lebih santun, komunikatif, dan mudah dipahami

Perlu menghindari kalimat terlalu panjang

Kelancaran alur

Gagasan mulai tersusun dari pengantar, inti, hingga penutup

Perlu memperkuat hubungan logis antargagasan

Penutup

Penutup mulai berisi ajakan, harapan, atau penegasan pesan

Perlu latihan membuat penutup yang singkat dan kuat

Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan peserta dalam menyusun teks pidato mengalami perkembangan yang positif. Produk teks yang dihasilkan menunjukkan bahwa peserta mulai mampu menata gagasan secara lebih sistematis, memilih tema yang sesuai, serta menggunakan bahasa yang lebih komunikatif. Meskipun masih terdapat kebutuhan untuk memperkuat transisi, kepadatan gagasan, dan ketepatan kalimat, praktik penyusunan teks telah memberikan dasar yang penting bagi peserta untuk menyampaikan pidato secara lebih terarah. Dengan bekal teks yang lebih runtut, peserta memiliki pijakan yang lebih kuat untuk tampil dalam forum PKK maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.

 

3.4 Peningkatan Kompetensi Berbicara di Depan Umum

Peningkatan kompetensi berbicara di depan umum menjadi capaian utama dalam kegiatan pendampingan ini. Setelah peserta memperoleh pemahaman tentang struktur teks pidato dan berlatih menyusun naskah, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penyampaian pidato di depan forum. Praktik ini penting karena kemampuan berbicara di depan umum tidak cukup dibangun melalui penguasaan konsep, tetapi perlu dilatih melalui pengalaman langsung. Dalam sesi praktik, peserta belajar mengelola rasa gugup, menggunakan suara secara lebih jelas, menjaga alur penyampaian, dan membangun interaksi dengan audiens.

Perubahan pertama tampak pada aspek kepercayaan diri. Pada awal kegiatan, sebagian peserta masih ragu untuk tampil dan cenderung menunggu peserta lain lebih dahulu mencoba. Keraguan tersebut muncul karena peserta merasa belum terbiasa berbicara dalam situasi formal. Namun, setelah memperoleh arahan dan melihat contoh penyampaian, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk maju, membaca teks, dan mencoba menyampaikan pidato secara singkat. Keberanian ini menjadi indikator penting karena rasa percaya diri merupakan prasyarat awal dalam komunikasi publik.

Selain kepercayaan diri, peningkatan juga terlihat pada aspek artikulasi. Pada awal praktik, beberapa peserta masih mengucapkan kata secara kurang jelas, terutama ketika berbicara terlalu cepat atau merasa gugup. Melalui latihan pengucapan dan pembacaan kalimat secara perlahan, peserta mulai memperhatikan kejelasan bunyi, tekanan kata, dan ketepatan pelafalan. Artikulasi yang lebih baik membuat pesan pidato lebih mudah diterima oleh audiens. Dalam konteks kegiatan PKK, kejelasan pengucapan menjadi penting karena informasi yang disampaikan sering berkaitan dengan ajakan, arahan, atau penjelasan program kepada warga.

Aspek tempo juga mengalami perkembangan. Sebagian peserta pada awalnya berbicara terlalu cepat karena ingin segera menyelesaikan pidato, sedangkan beberapa peserta lain berbicara terlalu pelan sehingga pesan kurang terdengar jelas. Untuk mengatasi hal tersebut, tim pelaksana memberikan latihan membaca kalimat dengan tiga variasi gaya, yaitu terlalu pelan, terlalu cepat, dan jelas-tenang. Latihan ini membantu peserta merasakan secara langsung perbedaan kualitas penyampaian pesan. Setelah latihan, peserta mulai memahami bahwa tempo yang teratur membuat pidato terdengar lebih nyaman dan mudah diikuti.

Peningkatan berikutnya terlihat pada penggunaan intonasi. Sebelum latihan, penyampaian beberapa peserta terdengar datar karena seluruh kalimat dibaca dengan nada yang hampir sama. Setelah mendapatkan contoh dan umpan balik, peserta mulai mencoba memberi penekanan pada bagian tertentu, terutama pada kalimat ajakan, pesan utama, dan penutup. Intonasi yang lebih bervariasi membuat penyampaian pidato terasa lebih hidup. Dengan demikian, audiens lebih mudah menangkap bagian-bagian penting dari pesan yang disampaikan.

Kontak mata juga menjadi aspek yang mengalami perubahan. Pada awalnya, peserta cenderung menunduk dan membaca teks secara penuh. Ketergantungan pada naskah membuat interaksi dengan audiens belum terbangun secara optimal. Setelah diberi arahan, peserta mulai berlatih melihat audiens pada bagian tertentu, terutama saat membuka pidato, menyampaikan pesan utama, dan menutup pidato. Meskipun belum seluruh peserta mampu menjaga kontak mata secara konsisten, perubahan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa pidato merupakan komunikasi langsung antara pembicara dan pendengar.

Dari aspek gestur, peserta mulai menggunakan gerak tubuh secara lebih wajar. Pada awal praktik, sebagian peserta tampak kaku, berdiri tanpa gerakan, atau memegang teks dengan posisi yang menutupi wajah. Setelah pendampingan, peserta mulai memperbaiki sikap berdiri, menyesuaikan posisi tangan, dan menggunakan gestur sederhana untuk mendukung isi pesan. Gestur yang wajar membantu peserta tampak lebih tenang dan meyakinkan. Selain itu, ekspresi wajah juga mulai disesuaikan dengan isi pidato, terutama ketika menyampaikan ajakan atau harapan kepada audiens.

Perubahan kompetensi berbicara di depan umum peserta dapat dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 8. Perubahan Kompetensi Peserta dalam Praktik Public Speaking

Aspek Public Speaking

Kondisi Awal

Perubahan yang Tampak Setelah Pendampingan

Kepercayaan diri

Peserta masih ragu, gugup, dan menunggu peserta lain untuk tampil

Peserta lebih berani tampil dan mencoba berbicara di depan forum

Artikulasi

Pengucapan beberapa kata belum jelas karena tempo terlalu cepat atau gugup

Pengucapan menjadi lebih jelas setelah latihan membaca dan praktik pidato

Tempo

Tempo bicara cenderung terlalu cepat atau terlalu lambat

Peserta mulai mampu menghindari tempo yang terlalu cepat atau terlalu lambat

Intonasi

Penyampaian terdengar datar dan kurang bervariasi

Penyampaian lebih hidup dan tidak monoton

Kontak mata

Peserta cenderung menunduk dan bergantung pada teks

Peserta mulai mengurangi ketergantungan pada teks dan mencoba melihat audiens

Gestur

Gerak tubuh masih kaku dan belum mendukung pesan

Peserta mulai menggunakan gerak tubuh secara wajar

Ekspresi

Ekspresi wajah belum sepenuhnya sesuai dengan isi pesan

Peserta mulai menyesuaikan ekspresi dengan tujuan pidato

Berdasarkan hasil tersebut, pendampingan memberikan pengaruh positif terhadap kompetensi berbicara di depan umum peserta. Perubahan yang tampak memang masih berada pada tahap awal, tetapi sudah menunjukkan arah perkembangan yang penting. Peserta mulai memahami bahwa pidato yang baik memerlukan penguasaan teks, pengelolaan suara, keberanian tampil, serta kemampuan membangun hubungan dengan audiens. Oleh karena itu, praktik berulang, umpan balik, dan pembiasaan berbicara dalam forum PKK perlu terus dilakukan agar keterampilan yang diperoleh dapat berkembang menjadi kemampuan komunikasi publik yang lebih stabil.

Respons Peserta terhadap Kegiatan Pendampingan

Respons peserta terhadap kegiatan pendampingan menunjukkan kecenderungan yang sangat positif. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan dan angket respons akhir, peserta menilai bahwa materi yang diberikan mudah dipahami, sesuai dengan kebutuhan, dan relevan dengan pengalaman mereka dalam kegiatan PKK. Respons positif tersebut tampak sejak sesi penyampaian materi, terutama ketika peserta mulai mengaitkan konsep public speaking dengan pengalaman berbicara dalam rapat, penyuluhan, kegiatan posyandu, dan acara kelurahan.

Peserta juga memberikan respons baik terhadap materi penyusunan teks pidato. Mereka merasa terbantu karena materi disampaikan secara bertahap, mulai dari cara membuka pidato, menyusun isi, memilih bahasa, hingga menutup pidato dengan ajakan atau harapan. Sebagian peserta menyampaikan bahwa sebelum kegiatan mereka sering merasa bingung ketika harus menyusun sambutan atau pidato singkat. Setelah mengikuti pendampingan, peserta mulai memiliki gambaran yang lebih jelas tentang cara menata pesan agar lebih runtut dan mudah dipahami oleh audiens.

Selain materi, sesi praktik menjadi bagian yang paling banyak mendapat tanggapan positif. Peserta menilai bahwa praktik menyusun teks dan menyampaikan pidato secara langsung membantu mereka mengurangi rasa gugup. Latihan membaca kalimat dengan variasi tempo, intonasi, dan gaya penyampaian membuat peserta lebih sadar bahwa kualitas berbicara dapat diperbaiki melalui latihan sederhana. Dengan demikian, peserta tidak hanya menerima penjelasan konseptual, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung untuk mencoba, memperbaiki, dan membangun keberanian berbicara di depan forum.

Pengalaman baru juga dirasakan peserta ketika menerima umpan balik dari tim pelaksana. Masukan yang diberikan terhadap struktur teks, pilihan kata, suara, kontak mata, ekspresi, dan gestur membantu peserta mengenali kekuatan serta bagian yang masih perlu diperbaiki. Umpan balik tersebut diterima dengan baik karena disampaikan secara konstruktif dan berkaitan langsung dengan praktik yang dilakukan peserta. Dalam suasana pendampingan yang kondusif, peserta merasa lebih nyaman untuk mencoba tampil tanpa khawatir dinilai secara berlebihan.

Minat peserta terhadap kegiatan lanjutan juga cukup tinggi. Beberapa peserta menyampaikan harapan agar pelatihan serupa dapat dilakukan kembali dengan materi yang lebih luas, seperti pelatihan menjadi pembawa acara, moderator, penyuluh kegiatan masyarakat, atau penyusun sambutan untuk acara resmi. Harapan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan telah membangun kesadaran peserta mengenai pentingnya keterampilan komunikasi publik dalam mendukung peran PKK sebagai penggerak kegiatan sosial.

Hasil angket respons peserta dapat dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 9. Respons Peserta terhadap Kegiatan Pendampingan Penyusunan Teks Pidato dan Praktik Public Speaking

Pernyataan

Persentase Respons Positif

Materi sesuai dengan kebutuhan peserta

96%

Materi pendampingan mudah dipahami

96%

Pendampingan membantu peserta memahami struktur pidato

92%

Praktik penyusunan teks membantu peserta menata gagasan

92%

Praktik pidato membantu meningkatkan kepercayaan diri

88%

Umpan balik dari tim pelaksana membantu peserta memperbaiki performa

92%

Peserta merasa memperoleh pengalaman baru

96%

Peserta berminat mengikuti pelatihan lanjutan

92%

Berdasarkan data tersebut, kegiatan pendampingan dapat dinilai memiliki tingkat keterterimaan yang tinggi dari peserta. Persentase respons positif berada pada rentang 88% hingga 96%, yang menunjukkan bahwa kegiatan dipandang bermanfaat, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Respons paling tinggi tampak pada kesesuaian materi, kemudahan pemahaman, dan pengalaman baru yang diperoleh peserta. Sementara itu, respons terkait peningkatan kepercayaan diri berada pada persentase 88%, yang tetap menunjukkan capaian baik, meskipun aspek ini masih memerlukan latihan berkelanjutan.

Dengan demikian, respons peserta memperkuat temuan bahwa pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking relevan diterapkan pada komunitas PKK. Kegiatan ini memberikan ruang belajar yang praktis, aman, dan sesuai dengan kebutuhan komunikasi peserta. Lebih jauh, tingginya minat terhadap pelatihan lanjutan menunjukkan adanya peluang pengembangan program PkM berikutnya yang berfokus pada penguatan keterampilan komunikasi publik bagi kader PKK dan komunitas perempuan di tingkat kelurahan.

Faktor Pendukung dan Penghambat

Pelaksanaan kegiatan pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung dan penghambat. Identifikasi terhadap kedua faktor tersebut penting dilakukan untuk memahami dinamika kegiatan secara lebih utuh. Melalui identifikasi ini, capaian program dapat dilihat secara lebih proporsional, sedangkan kendala yang muncul dapat dijadikan dasar untuk merancang strategi perbaikan pada kegiatan serupa.

Faktor pendukung utama dalam kegiatan ini adalah antusiasme peserta. Sejak awal kegiatan, peserta menunjukkan perhatian yang baik terhadap materi yang disampaikan. Mereka terlibat dalam diskusi, menjawab pertanyaan, mengajukan pengalaman pribadi, serta mengikuti penugasan yang diberikan oleh tim pelaksana. Antusiasme tersebut menjadi modal penting karena pembelajaran public speaking membutuhkan kesiapan peserta untuk mencoba, berlatih, dan menerima masukan. Tanpa keterlibatan aktif peserta, kegiatan pendampingan akan sulit mencapai perubahan yang bermakna.

Selain antusiasme peserta, dukungan mitra juga menjadi faktor yang memperlancar pelaksanaan kegiatan. Pengurus PKK Kelurahan Banjarsari memberikan ruang, kesempatan, dan koordinasi yang baik sehingga kegiatan dapat berlangsung secara tertib. Dukungan ini tampak pada kesiapan tempat, kehadiran peserta, serta keterbukaan mitra terhadap materi yang diberikan. Dengan adanya dukungan kelembagaan dari mitra, kegiatan PkM dapat berjalan dalam suasana yang kondusif dan sesuai dengan kebutuhan komunitas sasaran.

Faktor pendukung berikutnya adalah materi yang kontekstual. Materi pendampingan disusun dengan mengaitkan keterampilan pidato dan public speaking dengan pengalaman nyata peserta dalam kegiatan PKK, seperti rapat warga, penyuluhan, kegiatan posyandu, pertemuan kelurahan, dan acara seremonial. Kesesuaian konteks tersebut membuat peserta lebih mudah memahami materi karena contoh yang diberikan dekat dengan aktivitas sehari-hari mereka. Selain itu, penggunaan metode praktik langsung juga memperkuat keterlibatan peserta. Melalui praktik, peserta dapat segera mencoba menyusun teks, membaca, berbicara, dan memperbaiki performa berdasarkan umpan balik yang diterima.

Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, beberapa faktor penghambat tetap ditemukan. Salah satu kendala yang muncul adalah perbedaan tingkat pengalaman peserta. Sebagian peserta sudah pernah menyampaikan sambutan atau berbicara dalam forum warga, sedangkan sebagian lainnya belum terbiasa tampil di depan umum. Perbedaan pengalaman ini berpengaruh terhadap kecepatan peserta dalam memahami materi dan keberanian saat melakukan praktik. Peserta yang lebih berpengalaman cenderung lebih cepat menyesuaikan diri, sedangkan peserta yang belum terbiasa memerlukan pendampingan lebih intensif.

Rasa gugup juga menjadi hambatan yang cukup menonjol. Beberapa peserta menunjukkan tanda-tanda kurang percaya diri ketika diminta berbicara di depan forum, seperti suara pelan, tempo bicara terlalu cepat, menunduk, atau terlalu sering melihat teks. Rasa gugup tersebut wajar karena berbicara di depan umum menuntut kesiapan mental, penguasaan isi, dan kemampuan mengelola situasi. Selain itu, keterbatasan waktu praktik menjadi kendala tersendiri. Dengan jumlah peserta 25 orang, kesempatan setiap peserta untuk tampil dan memperoleh umpan balik secara mendalam belum sepenuhnya maksimal.

Kendala lain yang tampak adalah ketergantungan peserta pada teks. Sebagian peserta masih merasa aman ketika membaca naskah secara penuh, sehingga kontak mata dan interaksi dengan audiens belum terbangun secara optimal. Ketergantungan ini menunjukkan bahwa peserta masih berada pada tahap awal dalam mengembangkan keterampilan berbicara spontan dan komunikatif. Oleh karena itu, kegiatan pendampingan perlu memberi ruang latihan yang berulang agar peserta secara bertahap mampu menggunakan teks sebagai panduan, bukan sebagai satu-satunya tumpuan dalam berbicara.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pelaksana menerapkan beberapa strategi penyelesaian. Pertama, pendampingan personal diberikan kepada peserta yang membutuhkan bantuan lebih lanjut, terutama dalam menyusun struktur pidato, memperbaiki pilihan kata, dan mengatasi rasa gugup. Kedua, latihan dilakukan secara bertahap, dimulai dari membaca kalimat pendek, menyampaikan bagian pembukaan, kemudian mempraktikkan pidato singkat. Pola bertahap ini membantu peserta membangun keberanian tanpa merasa terbebani.

Selanjutnya, tim pelaksana memberikan contoh konkret sebelum peserta melakukan praktik. Contoh tersebut mencakup cara membuka pidato, mengatur tempo, memberi tekanan pada pesan utama, dan menutup pidato dengan ajakan atau harapan. Pemberian contoh membantu peserta memperoleh gambaran nyata tentang pidato yang baik. Setelah praktik berlangsung, umpan balik langsung diberikan agar peserta mengetahui bagian yang sudah kuat dan aspek yang masih perlu diperbaiki. Umpan balik disampaikan secara konstruktif sehingga peserta tetap merasa dihargai dan termotivasi untuk mencoba kembali.

Ringkasan faktor pendukung, penghambat, dan strategi penyelesaian disajikan pada tabel berikut.

Tabel 10. Faktor Pendukung, Faktor Penghambat, dan Strategi Penyelesaian dalam Pelaksanaan Pendampingan

Faktor

Uraian

Faktor pendukung

Antusiasme peserta, dukungan mitra, materi yang kontekstual, dan metode praktik langsung

Faktor penghambat

Perbedaan tingkat pengalaman peserta, rasa gugup, keterbatasan waktu praktik, dan ketergantungan pada teks

Strategi penyelesaian

Pendampingan personal, latihan bertahap, pemberian contoh konkret, dan umpan balik langsung

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa keberhasilan kegiatan dipengaruhi oleh kesiapan peserta, dukungan mitra, relevansi materi, dan metode pelaksanaan yang memberi ruang praktik. Sementara itu, kendala yang muncul lebih banyak berkaitan dengan aspek psikologis dan teknis dalam berbicara di depan umum. Dengan strategi pendampingan yang tepat, hambatan tersebut dapat dikelola sehingga kegiatan tetap menghasilkan capaian positif bagi peningkatan kompetensi komunikasi publik peserta.

 

 PEMBAHASAN

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan public speaking lebih efektif ketika materi dan praktik dikaitkan langsung dengan kebutuhan nyata peserta. Dalam konteks Ibu-Ibu PKK Kelurahan Banjarsari, kebutuhan tersebut muncul dari keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial, seperti rapat warga, penyuluhan, kegiatan posyandu, pertemuan kelurahan, dan acara kemasyarakatan. Situasi tersebut menuntut kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, santun, terarah, dan meyakinkan. Oleh karena itu, pelatihan berbicara di depan umum menjadi relevan karena berhubungan langsung dengan peran sosial peserta sebagai penggerak kegiatan masyarakat.

Temuan kegiatan juga memperlihatkan bahwa penyusunan teks pidato merupakan tahap penting dalam penguatan kompetensi berbicara. Sebelum pendampingan, sebagian peserta cenderung memahami pidato sebagai aktivitas membaca naskah di depan audiens. Setelah memperoleh materi dan praktik terbimbing, peserta mulai memahami bahwa teks pidato berfungsi sebagai alat untuk menata gagasan, menentukan fokus pesan, mengatur alur penyampaian, dan menyesuaikan isi dengan audiens. Dengan adanya teks yang lebih terstruktur, peserta memiliki pegangan yang lebih kuat ketika berbicara di depan forum. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara perlu diawali dengan kemampuan berpikir runtut dan menyiapkan pesan secara sistematis.

Selain kemampuan menyusun teks, praktik langsung menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta. Public speaking merupakan keterampilan performatif yang berkembang melalui latihan, pengalaman, dan pembiasaan. Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk membaca, mencoba berbicara, mengatur suara, memperbaiki tempo, menyesuaikan intonasi, serta membangun kontak mata dengan audiens. Proses tersebut membantu peserta mengenali kekuatan dan kelemahan diri secara langsung. Dengan demikian, praktik menjadi ruang belajar yang memungkinkan peserta mengalami sendiri perubahan dalam cara menyampaikan pesan.

Umpan balik dari tim pelaksana juga berperan penting dalam proses peningkatan kemampuan peserta. Masukan yang diberikan terhadap struktur teks, pilihan bahasa, vokal, ekspresi, dan gestur membantu peserta memahami bagian yang perlu dipertahankan serta aspek yang perlu diperbaiki. Umpan balik yang disampaikan secara konstruktif membuat peserta merasa didampingi, bukan dinilai secara menghakimi. Kondisi ini penting karena sebagian peserta masih memiliki rasa gugup ketika tampil di depan forum. Melalui umpan balik yang tepat, peserta dapat membangun keberanian secara bertahap dan lebih siap memperbaiki performa berikutnya.

Dari perspektif pemberdayaan masyarakat, kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan komunikasi publik dapat mendukung kapasitas sosial Ibu-Ibu PKK. PKK sebagai organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi, menggerakkan partisipasi warga, dan menjembatani program kelurahan dengan kebutuhan masyarakat. Ketika kader PKK memiliki kemampuan berbicara yang lebih baik, proses penyampaian informasi dalam kegiatan masyarakat dapat berlangsung lebih efektif. Dengan demikian, pendampingan ini berkontribusi pada penguatan peran perempuan dalam komunikasi sosial di tingkat lokal.

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini juga sesuai dengan karakter pembelajaran orang dewasa. Peserta memiliki pengalaman sosial yang beragam dan telah terbiasa terlibat dalam kegiatan masyarakat. Oleh karena itu, proses belajar menjadi lebih bermakna ketika dimulai dari pengalaman peserta, dilanjutkan dengan penguatan konsep, kemudian diarahkan pada praktik yang dekat dengan kebutuhan mereka. Dalam kegiatan ini, peserta tidak diposisikan sebagai penerima materi secara pasif, tetapi dilibatkan dalam diskusi, praktik, simulasi, dan refleksi. Pola tersebut membuat pembelajaran lebih kontekstual dan mudah diterapkan dalam kehidupan sosial peserta.

Keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat dari beberapa indikator. Produk teks pidato menunjukkan bahwa peserta mulai mampu menyusun pembukaan, isi, dan penutup secara lebih runtut. Dari aspek performa, peserta mulai menunjukkan keberanian tampil, artikulasi yang lebih jelas, tempo yang lebih terkendali, intonasi yang lebih bervariasi, serta kesadaran terhadap kontak mata dan ekspresi. Selain itu, respons peserta menunjukkan bahwa kegiatan dipandang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan kata lain, keberhasilan pendampingan dapat dilihat dari perubahan pada aspek pemahaman, keterampilan, sikap, dan kesadaran komunikasi peserta.

Meskipun demikian, kegiatan ini masih memiliki ruang pengembangan. Keterbatasan waktu praktik membuat kesempatan peserta untuk tampil dan menerima umpan balik secara mendalam belum sepenuhnya merata. Selain itu, sebagian peserta masih menunjukkan ketergantungan pada teks ketika berbicara di depan forum. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking memerlukan pembiasaan yang berkelanjutan. Program lanjutan dapat diarahkan pada latihan pidato singkat secara rutin, pelatihan pembawa acara, moderator, fasilitator penyuluhan, atau komunikasi organisasi bagi kader PKK. Dengan keberlanjutan tersebut, kompetensi komunikasi publik peserta dapat berkembang secara lebih stabil dan aplikatif.

Secara keseluruhan, kegiatan pendampingan ini memperlihatkan bahwa pelatihan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking dapat menjadi strategi pemberdayaan yang relevan bagi komunitas perempuan. Relevansi tersebut terlihat dari kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta, keterlibatan aktif dalam praktik, perubahan kemampuan berbicara, serta munculnya minat untuk mengikuti kegiatan lanjutan. Oleh karena itu, model pendampingan ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas komunikasi masyarakat melalui pendekatan yang praktis, partisipatif, dan berbasis pengalaman.

 

SIMPULAN

Kegiatan pendampingan penyusunan teks pidato bagi Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Banjarsari, Banyuwangi, telah terlaksana melalui tahapan yang sistematis, meliputi pengenalan konsep dasar pidato dan public speaking, praktik penyusunan teks, simulasi pidato, pemberian umpan balik, serta refleksi. Rangkaian kegiatan tersebut memungkinkan peserta memperoleh pengalaman belajar yang utuh, mulai dari memahami konsep, menyiapkan teks, mencoba berbicara di depan forum, hingga mengenali aspek yang perlu diperbaiki.

Kegiatan ini meningkatkan pemahaman peserta tentang struktur teks pidato, penggunaan bahasa yang komunikatif, dan strategi penyampaian pidato. Peserta mulai mampu membedakan fungsi pembukaan, isi, dan penutup; menentukan fokus pesan; memilih tema yang sesuai dengan kegiatan PKK; serta menggunakan bahasa yang lebih santun, runtut, dan mudah dipahami. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendampingan penyusunan teks dapat membantu peserta menata gagasan sebelum berbicara di depan umum.

Selain itu, peserta menunjukkan perkembangan dalam kompetensi berbicara di depan umum. Perubahan tersebut tampak pada meningkatnya keberanian untuk tampil, kelancaran berbicara, kejelasan artikulasi, pengaturan tempo, variasi intonasi, serta kesadaran terhadap pentingnya kontak mata, ekspresi, dan gestur. Meskipun sebagian peserta masih memerlukan latihan lanjutan, kegiatan ini telah memberi dasar penting bagi penguatan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi publik.

Dengan demikian, pendampingan penyusunan teks pidato dan praktik public speaking relevan digunakan sebagai model pemberdayaan komunikasi publik bagi komunitas perempuan, khususnya organisasi PKK. Kegiatan ini dapat membantu kader PKK menjalankan peran sosialnya secara lebih efektif dalam menyampaikan informasi, memandu kegiatan, dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Ke depan, program serupa dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pelatihan lanjutan yang berfokus pada pembawa acara, moderator, fasilitator penyuluhan, dan komunikasi organisasi di tingkat kelurahan.

 

REFERENSI

Amalia, A., & Maria, G. A. R. (2025). Analisis Literatur Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam Penurunan Kemiskinan di Kabupaten Kudus. Jurnal Ekspos, 3(1), 26–36.

Annisa, Y. A. (2024). Implementasi Teknologi Eco-Enzim untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa: Tinjauan dari Aspek Sosial dan Ekonomi. TATHWIR: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 15(1), 13–26. https://doi.org/10.15548/jt.v15i1.8417

Fadillah, U., & Salamuddin, S. (2024). Implementation of women’s empowerment program in improving family welfare in Batu Bara Regency. Journal of Community Service and Empowerment, 5(2), 247–257. https://doi.org/10.22219/jcse.v5i2.32981

Febriyanti, H. P., Afifah, T. N., Aini, N., & Setiyawati, M. E. (2022). Socialpreneur Sebagai Strategi Dalam Mengentaskan Kemiskinan Melalui Layanan Lembaga Keuangan Mikro: Literature Review. Akuntansi, 1(4), 261–275. https://doi.org/10.55606/jurnalrisetilmuakuntansi.v1i4.129

Indarti, T., Fanani, U. Z., Nasrullah, R., Septiana, H., & Afdholy, N. (2024). Innovative artificial intelligence (AI) technology learning support for Indonesian language teachers at a junior high school in Tuban. Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 20(2), 438–452. https://doi.org/10.20414/transformasi.v20i2.11317

Istighosah, N., Astuti, R. Y., Anggraeni, S., & Werdiningsih, D. A. (2022). Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JURNAL DAMARWULAN Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 45–49. https://ejournal.iaifa.ac.id/index.php/JPMD/article/view/485

Khoirunisa, A., & Pratama, A. C. (2024). Public Speaking Skills in Education in the 21th Century: A Systematic Literature Review. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 3(2), 102–120. https://doi.org/10.5281/zenodo.14565774

Nasrullah, R., Laksono, K., Prayogi, A., Parmin, P., & Inayatillah, F. (2024). Establishing Literacy Foundations : Policies and Interventions for Indonesia’s Future Excellence. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian Dan Kajian Kepustakaan Di Bidang Pendidikan, Pengajaran Dan Pembelajaran, 10(3), 1219. https://doi.org/10.33394/jk.v10i3.11011

Oktaviani, L., Prayogi, A., Prayogo Pujiono, I., Riyadi, R., & Nasrullah, R. (2024). Upaya Guru Pai Dalam Menanamkan Kesadaran Salat Zuhur Berjemaah Di Sekolah. Jurnal Man-Anaa, 1(1), 1–12. https://doi.org/10.58326/man.v1i1.217

Paris, N., & Junaedi, A. (2024). Peningkatan Motivasi untuk Melanjutkan Studi bagi Mahasiswa Melalui. SIPAKARAYA, 3(1), 35–44.

Prayogi, A., Nasrullah, R., Pujiono, I. P., Khilda, I. N., Diniyanto, A., & Surabaya, U. N. (2026). Kegiatan Pembagian Makanan Tambahan Sebagai Upaya Penguatan Gizi Ibu Hamil dan Balita Desa Kemplong Pekalongan. Community Service: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2(1), 1–13.

Prayogi, A., Shilla, R. A., Pujiono, I. P., & Nasrullah, R. (2025). Upaya Penguatan Kualitas Pendidikan Melalui Sharing Session-Motivasi Studi Lanjut. Journal Inovasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 17–25. https://doi.org/10.65255/jipmas.v2i1.147

Salam, A., & Maestro, R. (2025). Tren dan Tantangan dalam Publikasi Ilmiah Pengabdian Masyarakat di Indonesia: Sebuah Tinjauan Literatur Sistematis. SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 713–717. https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/swarna/article/view/1717

 

No comments:

Post a Comment