Internalization of
Adaptive Capacity and Intrinsic Learning Motivation in Hydroponic Wick-Based
Creative Economic Empowerment
Putri Adabiyah1, Regia Reha Datul2,
Aulia Tri Halimah3, Rika Fitri Ramadani4
1,2,3,4
Program Studi Pendidikan Masyarakat, Universitas Riau
Email: rikafitriramadani@lecturer.unri.ac.id
Abstrak
Penelitian ini mengkaji peran
motivasi dan kreativitas dalam pelatihan panduan sumbu hidroponik bagi anak
muda di PKBM Aruhhama. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara
mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan tiga peserta pelatihan
sebagai informan. Temuan ini mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik secara
signifikan mendorong keterlibatan peserta, dengan kehadiran yang antusias dan
perilaku penyelidikan aktif diamati selama sesi pelatihan. Peserta yang
menunjukkan motivasi yang lebih tinggi menunjukkan pemahaman yang lebih besar
tentang prinsip-prinsip sistem sumbu dan secara independen mengeksplorasi Deep
Flow Technique (DFT) sebagai perpanjangan. Kreativitas dimanifestasikan dalam
pendekatan adaptif peserta untuk menerapkan hidroponik di lingkungan rumah
tangga mereka, meskipun dua peserta masih membutuhkan pendampingan
berkelanjutan untuk merakit sistem secara mandiri. Pelatihan di PKBM Aruhhama
secara efektif memperkenalkan hidroponik sebagai keterampilan praktis bagi
pemuda perkotaan, meskipun keberlanjutan program bergantung pada struktur
pendukung pasca-pelatihan seperti kelompok belajar sebaya dan pendampingan
terstruktur. Studi ini menyoroti pentingnya menyelaraskan desain motivasi
dengan fasilitasi kreatif dalam program pelatihan kejuruan berbasis masyarakat.
Kata Kunci: Kreativitas, generasi muda,
hidroponik wick, motivasi, PKBM
Abstract
This study examines the role of
motivation and creativity in hydroponic wick system training for youth at PKBM
Aruhhama. A qualitative approach was employed through in-depth interviews,
observations, and documentation involving three training participants as
informants. The findings reveal that intrinsic motivation significantly
encouraged participant engagement, as indicated by enthusiastic attendance and
active inquiry behavior during the training sessions. Participants who
demonstrated higher motivation showed a better understanding of wick system
principles and independently explored the Deep Flow Technique (DFT) as an
extension of their learning. Creativity was reflected in the participants’
adaptive approaches to applying hydroponics within their household
environments, although two participants still required continuous assistance to
independently assemble the system. The training program at PKBM Aruhhama
effectively introduced hydroponics as a practical skill for urban youth;
however, the sustainability of the program depends on post-training support
structures such as peer learning groups and structured mentoring. This study
highlights the importance of aligning motivational design with creative
facilitation in community-based vocational training programs.
Keywords: Creativity, youth generation, hydroponic wick system, motivation, PKBM.
PENDAHULUAN
Generasi muda di Indonesia
menghadapi tantangan nyata terkait keterbatasan lapangan kerja dan kebutuhan
akan keterampilan praktis yang relevan dengan perkembangan zaman. Badan Pusat
Statistik (2023) mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia
muda (15-24 tahun) mencapai 19,40 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan
kelompok usia lainnya. Kondisi ini mendorong kebutuhan mendesak terhadap
program pendidikan non-formal yang mampu membekali generasi muda dengan
keterampilan yang dapat diaplikasikan langsung dalam kehidupan. Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM) hadir sebagai salah satu lembaga pendidikan
non-formal yang berperan strategis dalam menjawab kebutuhan tersebut, termasuk
melalui penyelenggaraan pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal
(Zaifullah dkk., 2023).
Salah satu keterampilan yang semakin
relevan untuk diajarkan kepada generasi muda adalah teknik budidaya tanaman
secara hidroponik. Sistem hidroponik wick, yang memanfaatkan sumbu sebagai
media penyaluran larutan nutrisi ke akar tanaman, dinilai sebagai teknik yang
sederhana, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan meskipun dalam keterbatasan
lahan (Rahmawati & Hidayat, 2023). Pelatihan hidroponik telah terbukti
mampu meningkatkan keterampilan teknis peserta sekaligus membuka peluang
pengembangan usaha skala rumahan yang mendukung ketahanan pangan keluarga
(Andriani & Wahyuni, 2022). Dalam konteks pendidikan masyarakat, pelatihan
seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi
juga sebagai ruang pengembangan kapasitas yang mendorong kemandirian peserta.
Namun, keberhasilan suatu pelatihan
tidak semata ditentukan oleh kualitas materi atau ketersediaan fasilitas.
Faktor internal peserta, terutama motivasi dan kreativitas, memainkan peran
yang sangat signifikan dalam menentukan seberapa jauh seseorang dapat menyerap
dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Ryan dan Deci (2020) menegaskan
bahwa motivasi intrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri individu
berupa rasa ingin tahu dan kepuasan dalam belajar, secara konsisten
menghasilkan pembelajaran yang lebih mendalam dibandingkan motivasi yang
bersumber dari tekanan eksternal semata. Di sisi lain, kreativitas berperan
dalam mendorong peserta untuk mengadaptasi pengetahuan ke dalam konteks
kehidupan mereka yang unik dan beragam (Amabile & Pratt, 2016).
Penelitian ini berfokus pada
pelatihan hidroponik wick yang diselenggarakan di PKBM Arruhama yang beralamat
di Jl. Kutilang No.13, Kp. Melayu, Kec. Sukajadi, Kota Pekanbaru, Riau. PKBM Arruhama
dipilih sebagai lokasi penelitian karena telah menyelenggarakan program
pelatihan hidroponik yang ditujukan bagi generasi muda di wilayah perkotaan
yang memiliki keterbatasan lahan bertani dan kualitas udara yang perlu
diperhatikan. Kajian ini secara langsung relevan dengan bidang mata kuliah
Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, yang menempatkan kedua
konsep tersebut sebagai variabel utama dalam keberhasilan program pembelajaran
berbasis komunitas. Dalam perspektif pendidikan masyarakat, motivasi bukan
sekadar faktor pendukung, melainkan komponen inti yang menentukan apakah warga
belajar akan terlibat, bertahan, dan mengaplikasikan hasil belajarnya dalam
kehidupan nyata. Demikian pula kreativitas, dipandang sebagai kapasitas yang
perlu difasilitasi secara sengaja oleh pendidik masyarakat agar peserta mampu
mengadaptasi pengetahuan baru sesuai konteks lokal mereka. Tujuan penelitian
ini adalah mendeskripsikan bagaimana motivasi dan kreativitas peserta berperan
dalam proses serta hasil pelatihan hidroponik wick, dan bagaimana kedua faktor
tersebut memengaruhi keberlanjutan program pascapelatihan. Dengan memahami
peran motivasi dan kreativitas secara mendalam, diharapkan temuan ini dapat
memberikan kontribusi praktis bagi pengelola PKBM dan perancang program
pelatihan dalam merancang kegiatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan
generasi muda.
METODE
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang dipilih karena tujuan
penelitian adalah memahami pengalaman, persepsi, dan perilaku peserta secara
mendalam dalam konteks pelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama (Sugiyono,
2021). Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menggali makna di
balik data yang diperoleh, bukan hanya mencatat frekuensi atau angka semata.
Pelatihan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 12 November 2024 di PKBM Arruhama
Jl. Kutilang No.13, Kp. Melayu, Kec. Sukajadi, Kota Pekanbaru, Riau, dengan
narasumber Ilham Permana Putra. Peserta pelatihan adalah anak-anak dari PKBM Arruhama
yang berjumlah 12 peserta didik pada tingkat kesetaraan Paket B dan Paket C
dengan rentang usia 15–20 tahun. Sumber data penelitian ini adalah peserta
pelatihan yang terlibat langsung dalam kegiatan, dengan jumlah tiga orang
informan yang dipilih berdasarkan tujuan penelitian karena keterlibatan
langsung mereka dalam seluruh rangkaian kegiatan pelatihan.
Teknik pengumpulan data dilakukan
melalui tiga cara, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara
dilakukan menggunakan Google Form yang didistribusikan melalui WhatsApp untuk
memperoleh informasi mengenai pengalaman, persepsi, dan rencana tindak lanjut
peserta setelah pelatihan. Observasi dilaksanakan pada 12 November 2024 untuk
menilai partisipasi aktif dan keterlibatan peserta selama proses pelatihan
berlangsung. Materi pelatihan mencakup pengenalan dasar-dasar hidroponik,
jenis-jenis sistem hidroponik, komponen utama (nutrisi, media tanam, air),
peralatan yang diperlukan, peluang usaha berbasis hidroponik, serta
langkah-langkah menanam dan merawat tanaman. Metode yang digunakan meliputi
ceramah, diskusi, dan praktik langsung oleh peserta didik. Dokumentasi berupa
foto dan catatan kegiatan digunakan sebagai data pendukung yang memperkuat
temuan wawancara dan observasi.
Analisis data dilakukan secara
deskriptif-kualitatif menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana (2020)
yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Keabsahan data diperkuat dengan triangulasi sumber, yaitu dengan
membandingkan informasi yang diperoleh dari ketiga teknik pengumpulan data
secara bersamaan untuk meningkatkan kredibilitas temuan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Motivasi Peserta dalam Mengikuti Pelatihan Hidroponik Wick
Berdasarkan hasil wawancara dan
observasi, peserta pelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama menunjukkan
tingkat motivasi yang bervariasi namun secara umum cukup positif. Seluruh
peserta hadir penuh selama kegiatan berlangsung, dan beberapa di antaranya
aktif mengajukan pertanyaan terkait teknis pelaksanaan, seperti takaran larutan
nutrisi yang tepat dan cara memastikan sumbu bekerja secara optimal dalam
menyalurkan air ke tanaman. Keaktifan ini mencerminkan adanya rasa ingin tahu
yang tinggi dari peserta, yang merupakan salah satu indikator utama motivasi
intrinsik menurut Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh Ryan
dan Deci (2020).
Dalam kerangka SDT, motivasi
intrinsik tumbuh ketika individu merasa kompeten, mandiri, dan terhubung secara
nyaman dengan lingkungan belajarnya. Ketiga kondisi ini tampak terpenuhi dalam
pelatihan yang diselenggarakan di PKBM Arruhama, di mana fasilitator
menciptakan suasana yang kondusif dan interaktif sehingga peserta merasa nyaman
untuk terlibat aktif. Temuan ini sejalan dengan prinsip utama dalam mata kuliah
Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, yang menekankan bahwa
peran pendidik masyarakat (fasilitator) bukan sekadar menyampaikan materi,
melainkan menciptakan iklim belajar yang memicu tumbuhnya motivasi intrinsik
warga belajar. Andriani dan Wahyuni (2022) dalam penelitiannya mengenai
pelatihan budidaya hidroponik bagi masyarakat perkotaan juga menemukan bahwa
lingkungan belajar yang suportif secara signifikan meningkatkan antusiasme dan
motivasi peserta, terutama ketika materi pelatihan dikaitkan langsung dengan
kebutuhan praktis kehidupan sehari-hari.
Namun, terdapat variasi motivasi
antarindividu yang berdampak nyata pada hasil pembelajaran. Berdasarkan
pelatihan yang dilaksanakan pada 12 November 2024 ini berhasil mencapai
sebagian besar tujuan yang telah direncanakan: peserta memahami konsep dasar hidroponik,
mengidentifikasi jenis-jenis sistem (NFT, DWC, dan wick), serta seluruh peserta
berhasil menyusun sistem hidroponik sederhana menggunakan net pot, kain flanel,
dan media tanam rockwool. Satu peserta yang menunjukkan motivasi tertinggi
tidak hanya memahami sistem wick tetapi juga secara mandiri mengembangkan
pemahamannya dengan mencoba teknik Deep Flow Technique (DFT) sebagai eksplorasi
lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik yang kuat mendorong
peserta melampaui batas minimal yang ditetapkan dalam pelatihan (Zimmerman
& Schunk, 2020). Sebaliknya, dua peserta lainnya yang menunjukkan motivasi
berada pada tingkat menengah belum mampu melakukan perakitan sistem secara
mandiri dan membutuhkan pendampingan lanjutan, meskipun mereka tetap hadir dan
berpartisipasi secara fisik. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi
penguatan motivasi yang sengaja dirancang dalam program pelatihan di PKBM,
bukan hanya mengandalkan motivasi yang datang dengan sendirinya dari peserta
(Sudrajat, 2022).
Ekspresi Kreativitas Peserta dalam Adaptasi Sistem Wick
Kreativitas dalam konteks pelatihan
hidroponik wick bukan hanya berarti kemampuan menciptakan sesuatu yang
sepenuhnya baru, melainkan juga kemampuan mengadaptasi dan menerapkan teknik
yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata yang unik bagi masing-masing
individu (Amabile & Pratt, 2016). Dalam pelatihan di PKBM Arruhama,
ekspresi kreativitas peserta paling tampak pada cara mereka membayangkan dan
merencanakan penerapan sistem hidroponik di lingkungan rumah masing-masing,
mengingat kondisi tempat tinggal dan ketersediaan sumber daya yang berbeda-beda
antarindividu.
Satu peserta secara mandiri
berinisiatif mengeksplorasi sistem DFT setelah mengikuti pelatihan wick, yang
menunjukkan kemampuan transfer pengetahuan sekaligus dorongan kreatif untuk
mengembangkan apa yang telah dipelajari melampaui batas materi formal. Laporan
kegiatan mencatat bahwa pelatihan juga memberikan wawasan tentang peluang usaha
hidroponik, mulai dari budidaya sayuran seperti kangkung dan selada hingga
pengembangan produk olahan, serta mendorong kesadaran peserta tentang peran
hidroponik dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Narasumber memberikan contoh
nyata dari pengusaha hidroponik yang menginspirasi peserta untuk memanfaatkan
hidroponik sebagai peluang usaha baru. Dalam perspektif mata kuliah Motivasi
dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, perilaku ini merupakan wujud nyata
dari kreativitas yang terfasilitasi melalui program pelatihan berbasis
komunitas yakni ketika warga belajar tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi
mampu mentransformasikannya menjadi inovasi yang kontekstual dan berdaya guna.
Zhan dkk. (2022) menyatakan bahwa kreativitas sejati ditandai dengan kemampuan
individu melihat kemungkinan-kemungkinan di luar yang telah diajarkan, suatu
kemampuan yang secara jelas tampak pada peserta tersebut. Ekspresi kreativitas
seperti ini juga didukung oleh temuan Mellisa dkk. (2024) yang menemukan bahwa
peserta pelatihan hidroponik skala rumah tangga cenderung mengembangkan inovasi
teknis secara mandiri ketika mereka memiliki pemahaman dasar yang kuat dan
diberi ruang untuk bereksperimen.
Di sisi lain, dua peserta yang belum
mampu merakit sistem secara mandiri menunjukkan potensi kreativitas yang belum
teraktualisasi karena terhalang oleh keterbatasan penguasaan teknis dasar. Hal
ini sejalan dengan pandangan Amabile & Pratt (2016) bahwa kreativitas tidak
akan berkembang optimal tanpa fondasi bidang pengetahuan yang memadai. Dengan
kata lain, pelatihan teknis yang cukup mendalam merupakan prasyarat agar
kreativitas peserta dapat berkembang secara produktif dan terarah. Ekawati dan
Dwicitra (2024) juga mengidentifikasi bahwa kreativitas peserta meningkat
secara signifikan ketika pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dan
peserta diberi kebebasan bereksperimen dalam batas yang aman, sebuah temuan
yang memperkuat urgensi penyempurnaan desain pelatihan di PKBM Arruhama.
Keterkaitan Motivasi dan Kreativitas terhadap Keberlanjutan Program
Keberlanjutan program pascapelatihan
merupakan salah satu indikator terpenting dalam mengukur keberhasilan suatu
kegiatan pendidikan masyarakat (Idrus dkk., 2025). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dua dari tiga peserta menyatakan minat untuk melanjutkan praktik
hidroponik di rumah, sementara satu peserta belum memiliki rencana konkret
untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Perbedaan ini secara langsung berkaitan
dengan tingkat motivasi dan kapasitas kreatif masing-masing peserta yang
teridentifikasi selama pelatihan berlangsung.
Peserta yang menunjukkan motivasi
dan kreativitas tinggi cenderung memiliki visi yang lebih jelas mengenai
manfaat praktis hidroponik untuk kehidupan sehari-hari, termasuk potensi
penghematan biaya konsumsi sayuran dan peluang pengembangan usaha kecil berbasis
urban farming. Hal ini menegaskan salah satu prinsip kunci dalam kajian
Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, bahwa motivasi yang
bersumber dari relevansi kebutuhan hidup nyata (need-based motivation)
merupakan pendorong paling kuat bagi keberlanjutan belajar warga masyarakat.
Sari dan Putra (2021) dalam penelitiannya mengenai urban farming dan ketahanan
pangan keluarga menemukan bahwa motivasi ekonomi yang dikombinasikan dengan
keterampilan teknis yang memadai merupakan prediktor terkuat dalam
keberlanjutan praktik pertanian berbasis rumah tangga. Temuan ini selaras
dengan data lapangan di PKBM Arruhama, di mana peserta yang telah mulai
menerapkan hidroponik di rumah juga merupakan peserta yang menunjukkan tingkat
motivasi dan kreativitas tertinggi selama pelatihan.
Namun, peserta yang belum
melanjutkan praktik mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan dukungan berupa
pendanaan, pendampingan lanjutan, dan contoh keberhasilan nyata yang dapat
memotivasi mereka untuk memulai. Kebutuhan ini mencerminkan apa yang Ryan dan Deci
(2020) sebut sebagai kebutuhan akan dukungan sosial dan kompetensi yang
dirasakan, dua dari tiga kebutuhan dasar psikologis dalam SDT yang harus
terpenuhi agar motivasi intrinsik dapat bertahan dalam jangka panjang. Tanpa
pemenuhan kebutuhan tersebut, motivasi yang semula ada berisiko memudar seiring
waktu setelah pelatihan berakhir. Held dan Mejeh (2024) menekankan bahwa
pendidikan yang efektif tidak berhenti pada akhir sesi pelatihan formal,
melainkan berlanjut melalui jaringan dukungan komunitas yang memungkinkan
peserta terus belajar dan berkembang dalam lingkungan nyata mereka.
SIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa
motivasi dan kreativitas merupakan dua faktor internal peserta yang secara
signifikan memengaruhi proses pembelajaran, penguasaan keterampilan, dan
keberlanjutan program pascapelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama. Temuan
ini selaras dengan landasan konseptual mata kuliah Motivasi dan Kreativitas
dalam Pendidikan Masyarakat, yang memandang kedua konstruk tersebut bukan
sebagai bawaan tetap individu, melainkan sebagai kapasitas yang dapat
ditumbuhkan dan difasilitasi melalui desain program pendidikan nonformal yang
tepat sasaran. Secara keseluruhan, pelatihan yang diikuti 12 warga belajar
tingkat Paket B dan C (usia 15–20 tahun) ini berhasil mencapai sebagian besar
tujuannya: seluruh peserta mampu menyusun sistem hidroponik wick sederhana,
memahami komponen dasar, dan memperoleh wawasan peluang usaha serta kontribusi
terhadap ketahanan pangan. Peserta dengan motivasi intrinsik yang kuat mampu
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan berinisiatif mengembangkan
keterampilan secara mandiri, sementara kreativitas tampak pada kemampuan
peserta mengadaptasi teknik yang dipelajari ke dalam konteks kehidupan
sehari-hari. Variasi motivasi antarindividu berimplikasi langsung pada
perbedaan hasil penguasaan keterampilan, di mana peserta dengan motivasi lebih
moderat masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk dapat merakit sistem
secara mandiri.
Penelitian ini menegaskan bahwa
penyelenggaraan pelatihan di PKBM perlu menempatkan penguatan motivasi dan
stimulasi kreativitas sebagai elemen desain program yang disengaja, bukan
sebagai faktor yang diharapkan muncul dengan sendirinya dari peserta. Implikasi
ini secara langsung memperkuat urgensi kompetensi yang dibangun dalam mata
kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat bahwa seorang
pendidik masyarakat harus mampu mengidentifikasi profil motivasi warga belajar,
merancang intervensi kreatif yang kontekstual, serta membangun ekosistem
belajar yang berkelanjutan pascapelatihan. Rekomendasi utama mencakup perlunya
pendampingan pascapelatihan yang terstruktur, pembentukan kelompok belajar
teman sebaya berbasis hidroponik, serta penyediaan demonstrasi hasil panen
nyata yang dapat menjaga motivasi peserta tetap hidup dalam jangka panjang.
Dengan mengintegrasikan pendekatan motivasional dan stimulasi kreatif secara
sistematis, program pelatihan di PKBM Arruhama berpotensi menghasilkan dampak yang
lebih merata dan berkelanjutan bagi generasi muda peserta pelatihan.
REFERENSI
Amabile, T.
M., & Pratt, M. G. (2016). The dynamic componential model of creativity and
innovation in organizations: Making progress, making meaning. Research in
Organizational Behavior, 36, 157-183. https://doi.org/10.1016/j.riob.2016.10.001
Andriani,
D., & Wahyuni, S. (2022). Pelatihan budidaya hidroponik sebagai upaya
peningkatan keterampilan masyarakat perkotaan. Jurnal Pengabdian Masyarakat,
4(1), 45-52.
Idrus, A.,
Setiyadi, B., Syarif, M. I., Wahyu, A., & Suharto. (2025). Evaluation of
education program implementation at Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),
Jambi City. Evaluation and Program Planning, 111, 102535. https://doi.org/10.1016/j.evalprogplan.2025.102535
Badan Pusat
Statistik. (2023). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2023. BPS.
Ekawati, R.,
& Dwicitra, Y. (2024). Bimbingan teknis budidaya tanaman sayuran secara
hidroponik dan pembuatan pupuk kompos bagi masyarakat. Abdimas Dewantara, 7(1),
51-58.
Sudrajat, A.
(2022). Pendidikan masyarakat: Teori dan praktik di Indonesia. Remaja
Rosdakarya.
Mellisa, M.,
Fitriyeni, F., Hidayati, N., Imania, I., & Anthonia, S. (2024). Penerapan
sistem hidroponik sederhana dalam budidaya tanaman pakcoy skala rumah tangga di
Desa Kubang Jaya. Jurnal Dinamika Pengabdian, 9(2), 263-271.
Miles, M.
B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2020). Qualitative data analysis: A
methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.
Rahmawati,
F., & Hidayat, M. (2023). Penerapan sistem hidroponik wick dalam budidaya
sayuran skala rumah tangga. Jurnal Agroteknologi Terapan, 7(2), 101-110.
Ryan, R. M.,
& Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a
self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and
future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860
Sari, N.,
& Putra, R. (2021). Urban farming dan ketahanan pangan keluarga melalui
teknik hidroponik. Jurnal Pertanian Perkotaan, 3(1), 27-35.
Zimmerman,
B. J., & Schunk, D. H. (2020). Motivation and self-regulated learning:
Theory, research, and applications. Routledge.
Zhan, Z.,
Fong, P. S. W., Lin, K. Y., Zhong, B., & Yang, H. H. (2022). Creativity,
innovation, and entrepreneurship: The learning science toward higher order
abilities. Frontiers in Psychology, 13, 1063370. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1063370
Zaifullah,
Z., Cikka, H., Kahar, M. I., Ismail, M. J., & Iskadar, I. (2023). Peran
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam penyelenggaraan pendidikan
nonformal di era Society 5.0. Jurnal Pendidikan Nonformal, 18(1), 1-12.
Sugiyono.
(2021). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (2nd ed.).
Alfabeta.
Held, T.,
& Mejeh, M. (2024). Students’ motivational trajectories in vocational
education: Effects of a self-regulated learning environment. Heliyon, 10(8),
e29526. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29526