Showing posts with label pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label pembelajaran. Show all posts

Monday, May 11, 2026

Optimalisasi Pembelajaran IPA Berbasis Praktikum melalui Pelatihan KIT IPA bagi Guru SMP 8 Makassar

Optimization of Practicum-Based Science Learning through Science KIT Training for Teachers at Junior High School 8 Makassar

Optimization of Practicum-Based Science Learning through Science KIT Training for Teachers at Junior High School 8 Makassar | Muhiddin | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

St. Mutia Alfiyanti Muhiddin1*, Sitti Saenab2, Arie Arma Arsyad3, Andi Rahmat Saleh4, Agussalim5

1,2,3,Pendidikan IPA, Universitas Negeri Makassar, 4Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Makassar, 5Pendidikan Fisika, Universitas Muslim Maros

*Email korespondesi: stmutiaalfiyanti@unm.ac.id

 

Abstrak

Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan praktikum pada pembelajaran IPA melalui pemanfaatan KIT IPA di SMP Negeri 8 Makassar. Permasalahan yang dihadapi guru-guru IPA di sekolah tersebut adalah keterbatasan pengalaman dalam menggunakan KIT IPA secara optimal, khususnya KIT Optik serta Listrik dan Magnet, sehingga pelaksanaan praktikum masih belum maksimal. Pelatihan dilaksanakan melalui pendekatan workshop yang meliputi demonstrasi penggunaan KIT, praktik langsung, dan pendampingan penyusunan LKPD berbasis eksperimen. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman guru tentang fungsi dan prosedur penggunaan KIT IPA, serta meningkatnya kemampuan guru IPA dalam merancang kegiatan praktikum yang sesuai dengan capaian pembelajaran. Selain itu, peserta mengaplikasikan modul praktikum sederhana yang dikembangkan selama pelatihan untuk diterapkan pada pembelajaran di sekolah. Kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar serta memperkuat kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berbasis inkuiri.

Kata kunci: KIT IPA, Guru IPA, Praktikum, Pelatihan, Pembelajaran IPA

Abstract

This activity aims to optimize practicum-based science learning through the utilization of Science Kits (KIT IPA) at State Junior High School 8 Makassar. The problem faced by science teachers at the school was their limited experience in using Science Kits optimally, particularly the Optics Kit and the Electricity and Magnetism Kit, resulting in less effective practicum implementation. The training was conducted through a workshop approach consisting of kit usage demonstrations, hands-on practice, and assistance in developing experiment-based student worksheets (LKPD). The results of the activity showed an improvement in teachers’ understanding of the functions and procedures for using Science Kits, as well as an increase in science teachers’ ability to design practicum activities aligned with learning outcomes. In addition, participants applied the simple practicum modules developed during the training to be implemented in classroom learning. This activity contributed to improving the quality of science learning at State Junior High School 8 Makassar and strengthening teachers’ competencies in conducting active, contextual, and inquiry-based learning.

Keywords: Science Kit, Science Teachers, Practicum, Training, Science Learning

 

Article Info

Received date: 30 April  2026                                      Revised date: 05 May  2026                                            Accepted date: 09 May 2026

 

PENDAHULUAN

Salah satu karakteristik utama Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat mengoptimalkan proses inkuiri dalam pembelajaran IPA (Lathifah et al., 2023). Latar belakang akademik guru IPA di sekolah menjadi salah satu alasan perlunya memaksimalkan program, pelatihan atau workshop pengembangan diri untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam melaksanakan praktikum dengan menggunakan alat praktikum.  Kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan guru dalam merakit dan keterampilan menggunakan KIT IPA, sehingga memiliki implikasi untuk meningkatkan penguasaan konsep sains melalui eksperimen (Gunada et al., 2022).

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat SMP menekankan pentingnya pengalaman langsung melalui kegiatan praktikum untuk mengembangkan pemahaman konsep, keterampilan proses sains, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Namun, pada kenyataannya pelaksanaan praktikum IPA di sekolah masih belum optimal akibat berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas laboratorium, kurangnya pemahaman guru dalam mengoperasikan alat peraga, serta minimnya pelatihan terkait penggunaan KIT IPA. Kondisi ini juga dialami oleh guru-guru IPA di SMP Negeri 8 Makassar, di mana pemanfaatan KIT IPA khususnya KIT Optik dan KIT Listrik Magnet dalam pembelajaran IPA belum sepenuhnya efektif.

KIT Optik dan Listrik Magnet merupakan media pembelajaran yang dirancang untuk memfasilitasi pemahaman konsep fisika melalui kegiatan eksperimen. Materi optik, listrik, dan kemagnetan merupakah materi IPA SMP yang cukup menantang bagi peserta didik karena termasuk konsep abstrak sehingga seringkali peseta didik kesulitan memahami konsep terkait. Oleh karena itu, melalui penggunaan media KIT pada metode eksperimen IPA diharapkan peserta didik dapat memahami dan menganalisis konsep-konsep tersebut serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui KIT Optik, peserta didik dapat mempelajari fenomena pemantulan, pembiasan, pembentukan bayangan, serta fungsi alat optik sederhana. Sementara itu, KIT Listrik dan Magnet memungkinkan eksplorasi konsep rangkaian listrik, hambatan, arus, tegangan, dan penerapan hukum-hukum listrik. Optimalisasi penggunaan KIT tersebut sangat bergantung pada kompetensi guru dalam memahami prosedur, keselamatan kerja, serta strategi pedagogis yang tepat.

Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan pelatihan penggunaan KIT dilakukan kepada guru-guru IPA di SMP Negeri 8 Makassar. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengoperasikan KIT, sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis praktikum. Melalui rangkaian kegiatan workshop, praktik langsung, dan pendampingan, diharapkan guru mampu menerapkan pembelajaran IPA yang lebih aktif, kontekstual, dan berorientasi pada inkuiri.

Selain meningkatkan kompetensi teknis, pelatihan ini juga bertujuan mendukung implementasi kurikulum yang menekankan pembelajaran berbasis kompetensi dan pengalaman. Guru sebagai fasilitator perlu memiliki keterampilan mengintegrasikan media praktikum dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat membangun pengetahuan secara mandiri melalui pengalaman empiris. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan ini tidak hanya melatihkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mendorong perubahan paradigma pembelajaran menuju pendekatan yang lebih eksperiensial dan berpusat pada peserta didik. Dengan demikian, pelatihan penggunaan KIT IPA menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar.

 

METODE

Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan workshop yang berorientasi pada praktik langsung. Tim pelaksana melakukan observasi awal dan wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 8 Makassar untuk mengidentifikasi permasalahan terkait pelaksanaan praktikum, tingkat pemanfaatan KIT, serta kebutuhan peningkatan kompetensi. Kemudian tim pelaksana membuat modul pelatihan disusun mencakup konsep dasar optik dan listrik, panduan penggunaan KIT, prosedur keselamatan, lembar kerja praktikum, dan contoh modul ajar berbasis eksperimen.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi utama. Sesi pertama merupakan demonstrasi KIT Optik dan KIT Listrik dan Magnet. Peserta diperkenalkan komponen alat, fungsi, prinsip kerja, dan contoh eksperimen. Sesi kedua, guru melakukan eksperimen sederhana seperti pembentukan bayangan, hukum pemantulan, rangkaian seri-paralel, dan pengukuran hambatan.

Tahap berikutnya peserta dibimbing untuk merancang LKPD berbasis praktikum dengan memanfaatkan KIT yang tersedia di sekolah. Pada akhir kegiatan, evaluasi dilakukan melalui refleksi peserta, dan diskusi akhir.

 

HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK

Kegiatan pelatihan berlangsung pada 27-28 April 2025 di Ruang Laboratorium IPA, SMP Negeri 8 Makassar. Pelatihan ini diikuti oleh 14 orang guru IPA. Kegiatan dimulai dengan observasi awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA terkait pelaksanaan praktikum dan pemanfaatan KIT selama ini dalam pembelajaran IPA di sekolah.

Pelatihan dimulai dengan pemberian penjelasan komprehensif mengenai komponen KIT Optik dan KIT Listrik Magnet beserta fungsi masing-masing komponen/alat pada KIT. Kegiatan awal ini memberikan fondasi konseptual yang penting, karena banyak guru IPA sebelumnya belum memahami secara detil fungsi setiap komponen, cara penggunaan yang benar, serta potensi eksperimen yang dapat dilakukan. Berdasarkan hasil observasi, pemaparan mengenai komponen pada KIT membantu guru mengembangkan kerangka berpikir yang lebih sistematis terkait penerapannya dalam pembelajaran. Pada sesi ini, sebagian guru terlihat aktif bertanya, terutama mengenai perbedaan fungsi lensa, sifat cermin, serta cara kerja alat ukur listrik. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan besar terhadap pemahaman teknis yang selama ini belum terpenuhi.

 

Gambar 1. Pemberian Materi terkait Penggunaan KIT IPA bagi Guru IPA SMPN 8 Makassar

 

Demonstrasi penggunaan KIT yang dilakukan setelah pemaparan awal memberikan dampak signifikan pada peningkatan pemahaman prosedural guru. Melalui demonstrasi langsung, peserta dapat melihat contoh praktik penggunaan KIT yang benar, mulai dari pengaturan jarak pada KIT Optik hingga teknik membaca nilai ukur pada multimeter. Demonstrasi juga berfungsi sebagai model pembelajaran eksperimen yang dapat ditiru guru dalam pembelajaran IPA di kelas. Berdasarkan hasil lembar observasi, guru mulai mampu mengidentifikasi potensi kesalahan umum dalam penggunaan alat, misalnya cara menyusun rangkaian listrik atau kesalahan penempatan lensa, sehingga mereka lebih siap melakukan praktik mandiri pada sesi berikutnya.

Sesi praktik berkelompok menjadi inti dari pelatihan dan memiliki dampak paling nyata terhadap peningkatan kompetensi guru. Pada sesi KIT Optik, peserta berhasil melakukan beberapa eksperimen dasar seperti pembentukan bayangan pada cermin datar, cekung, dan cembung, serta percobaan menggunakan lensa untuk melihat hubungan jarak benda, jarak bayangan, dan panjang fokus. Aktivitas ini memperlihatkan bahwa guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengoperasikan KIT secara mandiri dan sistematis. Pada sesi KIT Listrik dan Magnet, pelatihan berfokus pada percobaan listrik di mana peserta melakukan eksperimen mengukur hambatan menggunakan multimeter, membaca arus dan tegangan, serta menyusun rangkaian seri dan paralel. Hasil evaluasi praktik menunjukkan bahwa lebih dari 85% kelompok dapat menyusun rangkaian dengan benar dan melakukan pengukuran secara akurat, menandakan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan keterampilan peserta.

 

Gambar 2. Sesi Praktik Berkelompok

 

Diskusi akhir mengungkapkan bahwa guru merasakan manfaat besar dari pelatihan ini, terutama dalam hal meningkatkan kepercayaan diri dalam melaksanakan praktikum IPA. Banyak guru menyampaikan bahwa sebelum pelatihan mereka jarang menggunakan KIT karena khawatir melakukan kesalahan teknis atau merusak alat. Namun setelah sesi demonstrasi dan praktik berkelompok, guru merasa lebih siap untuk memasukkan eksperimen ke dalam Modul Ajar dan menggunakannya dalam pembelajaran. Selain itu, peserta menilai pelatihan sangat efektif karena memberikan pengalaman langsung yang dapat segera diterapkan dalam kelas mereka, bukan sekadar penjelasan teoretis.

Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan kompetensi konseptual, prosedural, dan praktikal guru dalam memanfaatkan KIT Optik dan KIT Listrik. Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan guru mengoperasikan alat, menyusun rangkaian listrik, membaca hasil pengukuran, serta merancang aktivitas eksperimen yang selaras dengan capaian pembelajaran. Dampak pelatihan juga meluas pada aspek pedagogik, karena guru mulai menyadari pentingnya pembelajaran berbasis inkuiri dan pengalaman langsung untuk meningkatkan pemahaman peserta didik. Dengan demikian, kegiatan pelatihan tidak hanya memperkuat keterampilan teknis guru, tetapi juga mendorong transformasi praktik pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar menjadi lebih aktif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik.

Kegiatan pengabdian menunjukkan beberapa hasil penting adanya peningkatan terhadap pengetahuan terkait prosedur penggunaan alat pada KIT IPA khususnya KIT Optik dan KIT Listrik dan Magnet seperti pengukuran menggunakan multimeter. Selain itu, berdasarkan hasil observasi juga terlihat bahwa > 80% peserta pelatihan telah mampu mengoperasikan KIT secara mandiri setelah sesi praktik.

Sebagian besar peserta telah mampu dan percaya diri mengembangkan LKPD praktikum memanfaatkan KIT IPA yang dapat langsung digunakan. Guru menyatakan lebih percaya diri melaksanakan praktikum karena kini memahami cara penggunaan KIT dan prosedur keselamatan. Beberapa guru menyampaikan rencana untuk mengintegrasikan eksperimen sebagai kegiatan rutin pada materi optik dan listrik. Pembelajaran IPA dan laboratorium tidak dapat dipisahkan keberadaannya secara fungsional. Guru sebagai komponen penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan menjadi protokol dalam kegiatan pembelajaran IPA berbasis laboratorium (Rosidin et al., 2023). Guru IPA sebagai peserta pelatihan merasa pelatihan meningkatkan motivasi dan percaya diri dalam menggunakan KIT IPA khususnya yang berkaitan dengan materi Fisika. Hal ini sejalan dengan Panis & Pasaribu (2022) yang menyatakan bahwa guru-guru IPA mengungkapkan bahwa diperlukan pelatihan untuk menggunakan KIT praktikum Fisika yang tersedia di sekolah, karena tidak semua guru IPA berasal dari latar belakang pendidikan fisika, tetapi beberapa berasal dari biologi.

Pelatihan KIT IPA dapat membekali guru dan peserta didik dalam mengembangkan kreativitasnya dalam mengintegrasikan penggunaan KIT IPA pada pembelajaran IPA dan metode praktikum akan membantu mempercepat pemahaman terhadap pembelajaran IPA serta memberikan langkah kongkret dalam pemanfaatan laboratorium sebagai tempat belajar yang menyenangkan (Selly et al., 2024). Melalui pelatihan juga mengoptimalkan guru berlatih menggunakan KIT Praktikum IPA dengan berperan aktif dalam berdiskusi tentang materi pelatihan dan melaksanakan kegiatan praktikum IPA (Arifuddin et al., 2022). Hal ini juga sejalan dengan hasil kegiatan pengabdian Nafaida et al., (2023) yang menunjukkan dampak positif pelatihan KIT IPA bagi guru dan peserta didik dalam penggunaan peralatan laboratorium praktikum sains di SMA Muhammadiyah Langsa.

Pelatihan ini juga mendorong sekolah untuk dapat memaksimalkan laboratorium IPA, menambah KIT sederhana dan bahan habis pakai, serta mengembangkan budaya pembelajaran berbasis inkuiri. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya diharapkan memperbaiki kualitas pembelajaran IPA di SMP Negeri 8 Makassar.

 

SIMPULAN

Pelatihan penggunaan KIT IPA khususnya KIT Optik dan KIT Listrik Magnet bagi guru IPA SMP Negeri 8 Makassar berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis praktikum. Guru-guru memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar optik dan listrik, mampu mengoperasikan KIT secara mandiri, serta mampu merancang kegiatan praktikum yang relevan dan sesuai dengan capaian pembelajaran. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik dapat meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru, sekaligus mendukung implementasi pembelajaran IPA yang lebih aktif, inkuiri, dan kontekstual.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Makassar bidang studi IPA yang telah memprakarsai dan menginisiasi kegiatan pelatihan penggunaan KIT Optik dan KIT Listrik ini sebagai bagian dari proyek kepemimpinan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Sekolah, guru-guru IPA, serta seluruh sivitas SMP Negeri 8 Makassar yang telah memberikan dukungan, fasilitas, dan partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Penulis juga berterima kasih kepada segenap sivitas akademik Jurusan Pendidikan IPA, FMIPA UNM yang turut memberikan arahan dan dukungan akademik sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

 

REFERENSI

Arifuddin, M., Mahardika, A. I., & Muda, A. A. A. (2022). Pelatihan penggunaan kit praktikum ipa untuk guru sd/mi sederajat di kota banjarmasin. Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat, 5(3), 276–281. https://doi.org/10.29303/jppm.v5i3.3929

Gunada, I. W., Sutrio, S., Wahyudi, W., Busyairi, A., Verawati, N. N. S. P., Ayub, S., & Kosim, K. (2022). Pelatihan Optimalisasi Penggunaan Kit IPA Sains Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep IPA Bagi Guru Guru SD Negeri 1 Cakranegara. Unram Journal of Community Service, 3(2), 47–52. https://doi.org/10.29303/ujcs.v3i2.200

Lathifah, S. siti, Irpan, A. M., Supratman, L., Rossa, A., Sari, R. P., & Meyradhia, A. G. (2023). Program Pendampingan Guru Dalam Implementasi Basic Science Kits Pada Kurikulum Merdeka Belajar Di Sekolah Dasar Negeri Bojong. https://doi.org/10.32877/nr.v3i1.988

Nafaida, R., Pandia, E. S., Sari, R. P., & Nursamsu, N. (2023). Training on The Use of KIT Science Laboratory Equipment for Teachers and Students to Support The Implementation of The Independent Curriculum. Unram Journal of Community Service. https://doi.org/10.29303/ujcs.v4i3.476

Panis, I. C., & Pasaribu, R. (2022). Optimalisasi Kegiatan Laboratorium dan Kegunaan KIT Praktikum IPA Fisika bagi Guru-guru IPA Terpadu di SMPN. 8 Kota Kupang. Educate~, 2(1), 8. https://doi.org/10.32585/educate.v2i1.2364

Rosidin, U., Maulina, D., & Suana, W. (2023). Pelatihan Pengelolaan Laboratorium dan Penggunaan Alat Peraga IPA bagi Guru-Guru IPA di SMP/MTs se-Kota Bandar Lampung. Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA Dan Pendidikan MIPA7(2), 95–102. https://doi.org/10.21831/jpmmp.v7i2.27316

Selly, R., Zainuddin, M., Jasmidi, J., & Ahsan, J. (2024). Pelatihan Penggunaan KIT IPA Bagi Guru dan Siswa di SMP IT Nurul Fadhilah Bandar Setia, Percut Sei Tuan, Deli Serdang Sumatera Utara. Journal Of Human And Education, 4(4), 269–276. https://doi.org/10.31004/jh.v4i4.1225

 

 


Friday, May 8, 2026

Pelatihan Pemanfaatan Youtube Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Bagi Guru TKQ Al Falah

Training on the Utilization of YouTube as an Interactive Learning Media for TKQ Al Falah Teachers 

Siti Khotijah, Dewi Driyani, Muhamad Haikal, Juliana

Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI

Email Korespondensi: sitik2805@gmail.com

 

Abstrak

Kemajuan teknologi yang terus berkembang mengakibatkan berbagai bentuk pekerjaan memerlukan komputer untuk mendukung kegiatannya. Dengan komputer, teknologi dapat dikembangkan melalui jaringan internet sehingga mempermudah manusia dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Internet dapat digunakan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Dengan menggunakan internet, bahan ajar untuk siswa dapat dibuat lebih menarik, interaktif, dan bervariasi. Salah satu teknologi internet yang sering digunakan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak adalah YouTube. YouTube merupakan media sosial yang banyak diminati oleh masyarakat karena menyediakan berbagai macam konten edukatif, hiburan, dan informasi. Dalam konteks pembelajaran, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran yang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa di taman kanak-kanak. Melalui video pembelajaran yang menarik, siswa dapat lebih mudah memahami materi yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, pelatihan pembuatan dan penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran bagi guru TK Al Falah menjadi penting untuk dilakukan. Kegiatan ini bertujuan agar para guru mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan menyenangkan bagi anak-anak.

Kata Kunci: Pelatihan, Youtube, Media Pembelajaran Interaktif,  Guru TKQ Al Falah

Abstract

The advancement of technology continues to grow, resulting in various forms of work requiring computers to support their activities. With computers, technology can be developed through internet networks, making it easier for people to obtain and disseminate information. The internet can also be used to develop learning processes. By utilizing the internet, teaching materials for students can be made more interesting, interactive, and varied. One of the internet technologies frequently used by kindergarten-age children is YouTube. YouTube is a social media platform that is highly popular among the public because it provides a wide range of educational, entertainment, and informational content. In the context of learning, YouTube can be utilized as a learning medium capable of increasing students’ interest and motivation in kindergarten education. Through engaging learning videos, students can more easily understand the material delivered by teachers. Therefore, training in the creation and use of YouTube as a learning medium for teachers at TKQ Al Falah is important to conduct. This activity aims to enable teachers to optimally utilize digital technology in the teaching and learning process, thereby creating learning experiences that are more innovative, creative, and enjoyable for children.

Keywords: Training, YouTube, Interactive Learning Media, TKQ Al Falah Teachers


PENDAHULUAN

Perkembangan YouTube sebagai salah satu media sosial yang paling diminati masyarakat saat ini terus mengalami peningkatan seiring dengan pesatnya transformasi digital dan meningkatnya konsumsi konten berbasis video di berbagai kalangan. Platform ini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu sumber belajar utama dalam ekosistem pendidikan digital. Kondisi ini membuka peluang yang sangat besar dalam dunia pendidikan untuk memanfaatkan teknologi berbasis video sebagai media pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan karakteristik peserta didik masa kini.

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, kreatif, adaptif, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi di era digital dan Revolusi Industri 4.0 hingga Society 5.0. Dalam perkembangan saat ini, integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pembelajaran berbasis digital, serta platform video edukasi semakin mendorong perubahan cara belajar yang lebih fleksibel, mandiri, dan berbasis kebutuhan individu. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran menjadi langkah yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Dalam konteks pembelajaran modern, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif, interaktif, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Platform berbagi video ini mendukung konsep pembelajaran berbasis digital dan microlearning, di mana siswa dapat belajar dalam bentuk potongan materi singkat yang mudah dipahami. Melalui YouTube, siswa dapat mencari, mempelajari, mengulang, serta membagikan informasi berupa pengetahuan maupun praktik secara mandiri kapan saja dan di mana saja. Selain itu, penggunaan media audiovisual seperti YouTube membantu meningkatkan pemahaman siswa melalui kombinasi gambar, suara, animasi, serta video edukatif yang lebih menarik dan sesuai dengan gaya belajar anak usia dini yang cenderung visual dan audio-visual.

Seiring perkembangan teknologi pendidikan saat ini, YouTube juga semakin terintegrasi dengan berbagai fitur digital lainnya seperti subtitle otomatis, rekomendasi berbasis algoritma, serta dukungan pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang dapat membantu pengguna menemukan konten yang lebih relevan. Hal ini menjadikan YouTube sebagai salah satu media pembelajaran yang tidak hanya inovatif, tetapi juga personal dan adaptif terhadap kebutuhan belajar masing-masing individu.

Pemanfaatan YouTube dalam proses pembelajaran juga membantu guru dalam menciptakan suasana belajar yang lebih kreatif, menyenangkan, dan tidak monoton. Guru dapat memanfaatkan berbagai konten edukatif yang telah tersedia secara luas, maupun mengembangkan sendiri video pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan kreator konten pembelajaran digital. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan minat, motivasi, serta partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi, mitra yaitu TKQ Al-Falah masih menerapkan metode pembelajaran manual dengan sistem tatap muka konvensional. Pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi digital masih belum optimal, sehingga proses pembelajaran cenderung kurang variatif dan kurang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan belajar anak di era digital saat ini. Kondisi ini juga menyebabkan siswa lebih cepat merasa bosan karena keterbatasan media pembelajaran yang digunakan.

Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran bagi guru TKQ Al-Falah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam proses pembelajaran. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan guru mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, efektif, serta sesuai dengan perkembangan teknologi pendidikan di era digital saat ini.

Permasalahan Mitra

Berdasarkan analisis situasi yang telah dijelaskan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh mitra, yaitu sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran masih menggunakan alat bantu yang sangat terbatas dan masih bersifat manual, sehingga belum mendukung penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi secara optimal.
  2. Guru masih belum terbiasa dan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan komputer sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
  3. Guru masih belum memiliki keterampilan yang memadai dalam memanfaatkan internet, khususnya YouTube, sebagai media pembelajaran yang dapat menunjang proses belajar mengajar secara lebih interaktif dan menarik.

Solusi

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh mitra, kami sebagai dosen di bidang Informatika menawarkan beberapa solusi yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kompetensi dan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Solusi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis sehingga dapat langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Adapun solusi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan penyuluhan serta pelatihan penggunaan komputer kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dasar teknologi informasi yang diperlukan dalam mendukung kegiatan pembelajaran berbasis digital. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu guru dalam mengoperasikan komputer secara lebih efektif dan percaya diri.
  2. Memberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai penggunaan internet, khususnya YouTube, sebagai sarana pembelajaran berbasis digital yang interaktif. Guru akan dibimbing untuk memahami cara mengakses, memanfaatkan, serta memilih konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
  3. Mengadakan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis YouTube agar guru mampu mengembangkan konten pembelajaran sendiri yang lebih kreatif, inovatif, dan menarik bagi siswa. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga dapat menjadi kreator media pembelajaran digital.

Target

Target dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disusun untuk memberikan arah yang jelas terhadap hasil yang ingin dicapai. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi informasi, khususnya dalam proses pembelajaran di TKQ Al-Falah. Adapun target yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan pengetahuan guru-guru di TKQ Al-Falah mengenai penggunaan komputer sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
  2. Memberikan pelatihan penggunaan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi secara lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh siswa.
  3. Memberikan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis internet dan YouTube yang dapat digunakan secara langsung dalam proses belajar mengajar di kelas maupun sebagai bahan pembelajaran mandiri.

 

METODE

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Survei. Survei dilakukan untuk mengidentifikasi, mengamati, dan memahami secara langsung permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh data awal sebagai dasar dalam merancang kegiatan pelatihan yang tepat sasaran.
  2. Perencanaan Pelatihan. Berdasarkan hasil survei, selanjutnya dilakukan perencanaan kegiatan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra. Pada tahap ini ditentukan materi, metode pelaksanaan, serta media yang akan digunakan dalam kegiatan pelatihan.
  3. Pembuatan Materi Pelatihan. Materi pelatihan disusun berdasarkan hasil perencanaan yang telah ditetapkan. Penyusunan materi dilakukan dengan memperhatikan tingkat pemahaman peserta agar mudah dipahami dan dapat diterapkan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Pelaksanaan Pelatihan. Pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru-guru dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Pelaksanaan diawali dengan pemaparan materi oleh narasumber, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman peserta. Selanjutnya, peserta diberikan pendampingan secara langsung dalam praktik pembuatan media pembelajaran menggunakan YouTube sehingga peserta dapat mengaplikasikan materi yang telah disampaikan secara mandiri. Bottom of Form

Bahan dan Peralatan

Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digunakan media daring (online) melalui aplikasi Zoom, sehingga pelaksanaan dilakukan secara jarak jauh. Metode yang digunakan adalah drill and practice, yaitu peserta mendengarkan arahan dari narasumber terlebih dahulu, kemudian langsung mempraktikkan materi yang telah disampaikan secara mandiri maupun terbimbing.

Adapun peralatan yang digunakan untuk menunjang kegiatan ini meliputi handphone, komputer, serta ruang yang kondusif untuk mendukung kelancaran proses pelatihan. Seluruh persiapan dan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah dikoordinasikan melalui rapat antara tim pengabdian masyarakat dan mitra, yaitu guru-guru di TKQ Al-Falah.

 

HASIL KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara daring melalui media online berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Kegiatan pelatihan penggunaan internet dan YouTube kepada guru-guru TKQ Al-Falah Depok diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pembelajaran, khususnya dalam mendukung proses belajar mengajar yang lebih inovatif dan interaktif.

Gambar 1. Tim PKM

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini dapat dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut:

  1. Peserta pelatihan memberikan respon yang sangat positif terhadap kegiatan ini. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta dalam mengikuti setiap sesi pelatihan, keseriusan dalam memperhatikan materi, serta keaktifan dalam bertanya ketika mengalami kesulitan. Selain itu, peserta juga menyediakan waktu, tempat, serta perangkat seperti handphone dan koneksi internet sebagai sarana untuk mengikuti pelatihan yang diberikan oleh tim pengabdian masyarakat.
  2. Keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan peserta dalam memahami materi dan menyelesaikan tugas atau latihan secara mandiri dengan lebih baik dibandingkan sebelum pelatihan dilaksanakan.
  3. Peserta pelatihan menjadi lebih memahami pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, khususnya pada kondisi pembelajaran yang menuntut penggunaan media berbasis internet. Guru-guru juga mulai mampu merancang pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik dengan memanfaatkan YouTube sebagai media edukasi bagi anak-anak di TKQ Al-Falah.
  4. Secara umum, kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan wawasan dan kesiapan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan, sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih efektif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.

Luaran yang Dicapai

Pada pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan, luaran yang dihasilkan berupa modul pelatihan dan artikel ilmiah bagi peserta pelatihan. Modul pelatihan disusun secara sistematis dan praktis agar mudah dipahami oleh peserta, sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan yang diberikan oleh instruktur.

Gambar 2. Kegiatan PKM

Dengan adanya modul tersebut, diharapkan peserta dapat lebih mudah memahami materi pelatihan, mulai dari pengenalan dasar penggunaan komputer, pemanfaatan internet, hingga penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran. Modul ini juga dapat digunakan kembali oleh peserta sebagai referensi mandiri ketika menerapkan pembelajaran berbasis digital di lingkungan sekolah.

Selain itu, artikel ilmiah yang dihasilkan berfungsi sebagai bentuk dokumentasi akademik dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan. Artikel ini juga dapat menjadi referensi bagi kegiatan serupa di masa mendatang serta memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan.

Kedua luaran tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan, tidak hanya selama kegiatan pelatihan berlangsung, tetapi juga setelah kegiatan selesai. Guru-guru diharapkan dapat meningkatkan kompetensinya dalam memanfaatkan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan interaktif bagi peserta didik, khususnya di TKQ Al-Falah Depok. Dengan demikian, proses pembelajaran di sekolah dapat menjadi lebih menarik, efektif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi di era digital saat ini.

 

SIMPULAN

Simpulan yang diperoleh dari kegiatan pelatihan bagi guru-guru di TKQ Al-Falah Depok adalah sebagai berikut:

  1. Para peserta menjadi lebih memahami penggunaan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran, baik dari aspek pengoperasian dasar, pemanfaatan fitur, maupun penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Pemahaman ini mencakup kemampuan dalam mengakses, memilih, serta memanfaatkan konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
  2. Para peserta mampu memanfaatkan internet dan YouTube untuk mendukung proses pembelajaran kepada siswa-siswi didiknya, sehingga penyampaian materi menjadi lebih menarik, interaktif, variatif, dan lebih mudah dipahami oleh anak usia dini. Penggunaan media visual dan audio dari YouTube juga membantu meningkatkan perhatian serta minat belajar siswa.
  3. Kegiatan pelatihan ini juga memberikan peningkatan keterampilan bagi guru dalam menggunakan teknologi informasi, khususnya dalam penggunaan komputer, internet, dan platform YouTube. Keterampilan ini diharapkan dapat terus diterapkan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah secara berkelanjutan.
  4. Secara keseluruhan, pelatihan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesiapan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan guru dapat menjadi lebih kreatif, inovatif, dan adaptif dalam memanfaatkan media digital untuk mendukung proses belajar mengajar di TKQ Al-Falah Depok, baik pada pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran berbasis teknologi.
  5. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat terus digunakan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, sehingga ilmu dan keterampilan yang diperoleh tidak hanya berhenti pada saat pelatihan, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung dalam memberikan pengajaran kepada siswa-siswi didik, khususnya di lingkungan TKQ Al-Falah Depok.

Saran

            Saran dalam kegiatan pelatihan bagi guru-guru di TKQ Al-Falah Depok adalah sebagai berikut:

  1. Diperlukan peningkatan fasilitas perangkat teknologi, seperti komputer dengan spesifikasi yang lebih baik dan jaringan internet yang stabil, agar proses pelatihan maupun pembelajaran dapat berjalan lebih optimal dan efektif.
  2. Diperlukan pelatihan lanjutan secara berkala mengenai pengembangan teknologi pembelajaran, sehingga guru-guru di TKQ Al-Falah dapat menambah wawasan dan keterampilan dalam memanfaatkan berbagai media digital lainnya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran, tidak hanya terbatas pada YouTube, terutama dalam menghadapi kebutuhan pembelajaran di era digital seperti saat ini.
  3. Diharapkan adanya dukungan dari pihak sekolah untuk terus mendorong guru dalam mengembangkan kemampuan teknologi informasi melalui kegiatan workshop atau pelatihan rutin agar kompetensi guru semakin meningkat dan sesuai dengan perkembangan zaman.

 

REFERENSI

Himawan, H., Saefullah, A., & Santoso, S. (2014). Analisa dan perancangan sistem informasi penjualan online (e-commerce) pada CV Selaras Batik menggunakan analisis deskriptif. Scientific Journal of Informatics, 1(1).

Haerulah, E., & Ismiyatih, S. (2017). Aplikasi e-commerce penjualan suvenir pada Toko “XYZ”. Jurnal PROSISKO, 4(1).

Utomo, J. T. (2010). Lingkungan bisnis dan persaingan bisnis ritel. Fokus Ekonomi, 5(1), 70–80.

Pratisti, R. (2020, February 17). Inilah perbedaan online shop, e-commerce dan marketplace yang perlu kamu ketahui. Teknonisme.

 

Wednesday, May 6, 2026

Pelatihan Pembuatan Aplikasi Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Microsoft Power Point Pada Anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok

Training on Developing Interactive Learning Media Applications Using Microsoft PowerPoint for Members of the IV Demlat Regiment, Mobile Brigade Corps (Brimob), Indonesian National Police, Kelapa Dua Cimanggis, Depok | Amalia | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia


Rini Amalia, Sri Melati Sagita, Intan Mutia, Ahmad Faisal

Universitas Indraprasta PGRI

Email : 61tamelati2013@gmail.com 


Abstrak

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan instruktur dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft PowerPoint pada anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Latar belakang kegiatan ini adalah masih terbatasnya penggunaan media pembelajaran yang interaktif, di mana proses pelatihan cenderung menggunakan metode ceramah dan buku sebagai sumber utama sehingga kurang menarik dan kurang efektif. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah workshop dengan pendekatan praktik langsung, meliputi pemberian materi dasar, demonstrasi, serta pendampingan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif. Peserta terdiri dari staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) serta staf Koordinator Instruktur (Korins). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan mulai mampu mengembangkan media pembelajaran berbasis PowerPoint, meskipun masih terdapat keterbatasan pada sebagian peserta dalam penguasaan dasar komputer. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan instruktur dalam menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pelatihan di lingkungan Brimob.

Kata kunci: media pembelajaran interaktif, Microsoft PowerPoint, e-learning, pelatihan instruktur, Brimob Polri

Abstract

This community service activity aims to improve instructors’ ability to develop interactive learning media using Microsoft PowerPoint for members of the IV Demlat Regiment of the Mobile Brigade Corps (Brimob) of the Indonesian National Police in Kelapa Dua, Cimanggis, Depok. The background of this activity is the limited use of interactive learning media, where the training process tends to rely on lecture methods and books as the main sources, making it less engaging and less effective. The implementation method used was a workshop with a hands-on practice approach, including the delivery of basic materials, demonstrations, and mentoring in developing interactive learning applications. Participants consisted of staff from the Testing and Development Unit (Ujibang) and the Instructor Coordinator Unit (Korins). The results showed that participants were highly enthusiastic in attending the training and began to be able to develop PowerPoint-based learning media, although some participants still had limitations in basic computer skills. Overall, this training succeeded in improving instructors’ understanding and skills in presenting more engaging and interactive learning materials, which is expected to enhance the quality of the training process within Brimob.

Keywords: interactive learning media, Microsoft PowerPoint, e-learning, instructor training, Brimob Polri


PENDAHULUAN

Demlat Korps Brimob Polri merupakan Demonstrasi dan Latihan Brigade Mobil atau sering disingkat Brimob adalah unit (Korps) tertua di dalam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) karena mengawali pembentukan kepolisian Indonesia pada tahun 1945. Korps ini dikenal sebagai Korps Baret Biru Tua. Brimob termasuk satuan elit (pasukan khusus) dalam jajaran kesatuan Polri, Brimob juga tergolong ke dalam sebuah unit paramiliter ditinjau dari tanggung jawab dan lingkup tugas kepolisian. 

Pelaksanaan pelatihan yang diselenggarakan meliputi kegiatan tatap muka di kelas, pelatihan di lapangan dan ujian dari materi pelatihan yang telah dilaksanakan. Sebagai Pusat Pelatihan, kualitas seorang instruktur/ pelatih merupakan salah satu nilai tambah bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk mampu memberikan pelatihan sehingga menghasilkan anggota Brimob yang terlatih. Instruktur / pelatih memiliki peranan penting dalam terciptanya budaya belajar / pelatihan yang terampil, praktis serta mampu mengikuti perkembangan jaman. Materi ajar merupakan salah satu alat bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk melakukan proses belajar/ pelatihan. 

Dari hasil observasi awal yang dilakukan tim pengusul sebelum dilaksanakan tindakan pada proses pembelajaran / pelatihan bagi anggota Korps Brimob Polri, instruktur sebagai penyampai materi pada saat mengajar di ruang kelas tidak menggunakan media dan menyampaikan materi belum dilakukan secara maksimal dalam menggunakan alat-alat pendukung yang sebenarnya sudah ada, sedangkan buku referensi digunakan sebagai satu-satunya sumber dalam menyampaikan materi. Instruktur juga tidak menggunakan metode atau pun media yang memungkinkan materi pelatihan dapat disampaikan secara lebih optimal dalam meningkatkan aktivitas anggota pelatihan pada kegiatan belajar/ pelatihan. Keadaan ini tentu saja mempengaruhi minat maupun aktivitas anggota itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa anggota sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh instruktur selama ini. Pembelajaran yang hanya mengutamakan buku sumber dan metode ceramah di ruang kelas saja memberikan kesan bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang kurang menarik dan kurang bermakna. Melihat kenyataan tersebut maka instruktur dituntut untuk mengembangkan satu model pembelajaran / pelatihan yang  melibatkan anggota pelatihan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran / pelatihan. Oleh karena itu tim pelaksana mengusulkan menggunakan salah satu model pembelajaran adalah dengan media komputer berbasis Microsoft Power Point. 


METODE PELAKSANAAN

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri , Jl. Akses UI Kelapa Dua Cimanggis Depok 16451. Diikuti  oleh staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) sebanyak 20 peserta dan staf Koordinator Instruktur (Korins) sebanyak 20 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2016 dan 13 Desember 2016.

Metode Pelaksanaan

Berikut akan disampaikan metode yang telah ditempuh dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat (IbM). Implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point diselenggarakan di  staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis Depok dengan menggunakan pendekatan workshop. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk mempraktikkan langsung materi pelatihan yang diberikan oleh tim pelaksana dari UNINDRA.  Dalam kesempatan tersebut para peserta pelatihan (Instruktur staf Ujibang dan staf Korins) mempelajari dan mendapat pendampingan secara intensif mengenai cara-cara menggunakan Microsoft Power Point. 

Microsoft PowerPoint berfungsi sebagai media Presentasi para instruktur dalam pemberian pembelajaran / pelatihan bagi peserta didik..Para instruktur  dapat membuat bahan pembelajaran dengan Microsoft Power Point dengan bentuk Interaktif dan Menarik. Didalam Microsoft Power Point disediakan Slide – Slide yang mana setiap Slide dapat diisi dengan materi pembelajaran yang hendak disampaikan.Oleh karenanya dalam pelatihan ini akan digunakan Microsoft Office Power Point sebagai software utama dalam pelatihan ini. Pemilihan Microsoft Power Point sebagai software utama adalah karena pengoperasiannya mudah dan relatif mudah diakses oleh masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Microsoft Power Point pun sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga lebih mudah untuk digunakan untuk membuat materi ajar yang menarik. 

Pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tim pelaksana memberikan pengetahuan dasar mengenai Microsoft Power Point 2. Tim pelaksana memberikan contoh produk yang dibuat dalam Microsoft Power Point  3. Tim pelaksana menjelaskan langkah-langkah kerja dalam pembuatan produk  kepada peserta pelatihan. 4. Tim pelaksana meminta peserta pelatihan untuk melakukan langkah-langkah yang telah dicontohkan 5. Tim pelaksana melakukan pendampingan kepada seluruh peserta pada saat  membuat produk.   


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan sosialisasi dan wawancara 

kegiatan sosialisasi dan wawancara secara lisan kepada stock holder dalam hal ini instruktur / pelatih di staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok diperoleh informasi kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat masih dilakukan secara manual dan bertahap sehingga setiap kegiatan pelatihan membutuhkan waktu proses yang cukup lama sehingga dianggap perlu untuk menerapkan e-learning yang merupakan media pembelajaran interaktif yang memiliki nilai efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan dianggap mampu memberikan kontribusi yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri. Oleh karena itu disepakati jenis media pembelajaran yang dibutuhkan oleh instruktur / pelatih adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

      

Gambar 1 Lokasi Pelatihan

Menyiapkan Peralatan Kegiatan

Dari hasil wawancara di awal, tim pelaksana menyiapkan materi pelatihan dengan memperhatikan usulan dari pihak Brimob atau sesuai kebutuhan instruktur / pelatih. Materi yang diberikan dalam pelatihan adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

                 

Gambar 2 Persiapan Perangkat Pelatihan

Pelaksanaan Kegiatan 

Pada pelaksaan kegiatan tim memberikan pengetahuan dasar tentang pembelajaran interaktif, pengetahuan dasar Microsoft Power Point kemudian melakukan implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point pada staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Tim Pelaksana memberikan contoh pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point seperti pembuatan slide master, penambahan gambar dan video, import excel, penambahan animasi dan transisi pada teks dan gambar, penambahan hyperlink, dan penambahan animasi bergerak. Para peserta pelatihan mencoba mempraktekan materi  yang sudah diberikan dengan di dampingi oleh tim pelaksana. Pemberian materi dijelaskan langkah demi langkah, diikuti atau dipraktekan langsung oleh peserta pelatihan. Pelatihan berjalan dengan baik sampai dengan langkah pembuatan aplikasi yang terakhir. Kemudian pada sesi berikutnya para peserta pelatihan diminta membuat aplikasi sendiri sesuai dengan kemampuang masing-masing. Pada sesi pembuatan aplikasi sendiri, tidak semua peserta bisa menyelesaikan dengan sempurna. Hanya beberapa peserta yang dapat menyelesaikan dengan baik.


              

Gambar 3 Peserta Pelatihan

 Evaluasi Kegiatan

Evaluasi kegiatan dilakukan evaluasi keseluruhan proses kegiatan IbM, mencakup mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari produk aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft power point yang telah dibuat oleh peserta pelatihan. Secara keseluruhan tidak ada kendala yang berarti, dalam pelaksanaan para peserta pelatihan sangat antusias dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Dan pada saat mencoba membuat aplikasi, masih banyak yang belum mengetahui dasar-dasar penggunaan komputer dan penggunanan Microsoft Power point.. Dibutuhkan kesabaran dalam menjelaskan materi dan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan Microsoft power point. Akan tetapi ada beberapa peserta pelatihan yang sudah menguasai Microsoft power point dan mampu membuat kembali aplikasi sesuai kemampuannya.


   

Gambar 4 Tim Pelaksana dan Peserta Pelatihan



SIMPULAN 

Pada Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok dapat dilaksanakan dengan baik. Para peserta sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diberikan oleh tim. Dengan kegiatan pelatihan ini, para instruktur dapat menggunakan produk aplikasi pembelajaran interaktif  dalam proses pembelajaran / pelatihan kepada peserta didik dan membantu peningkatan mutu instruktur dalam penyajian materi. Luaran pengabdian masyarakat dalam bentuk modul media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point dapat digunakan secara umum atau bagi staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi dan instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok.


REFERENSI

Abdul Kadir. (2011). PowerPoint 2010 for Teen. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Allen, Michael. (2013). Michael Allen’s Guide to E-Learning. Canada: John Wiley & Sons.

Arsyad, Azhar. (2007). Learning Media. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

England, Elaine, & Finney, Andy. (2002). Interactive Media – What’s That? Who’s Involved? Interactive Media UK, ATSF.

Enterprise, J. (2010). Complete Guide to PowerPoint 2010. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Heinich, R., et al. (1996). Instructional Media and Technology for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Wahono, Romi Satria. Introduction to E-Learning and Its Development. Retrieved from http://ilmukomputer.org (accessed May 25, 2016).

Soekartawi. (2003). Basic Principles of E-Learning: Theory and Its Application in Indonesia. Jurnal Teknodik, Issue No. 12/VII/October/2003, 28–43.

Warsita, Bambang. (2008). Learning Technology: Foundations and Applications. Jakarta: Rineka.