Showing posts with label Jurnal Madani. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Madani. Show all posts

Wednesday, July 8, 2026

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika Siswa melalui Think Pair Share Berbantuan KACERGAM


Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika Siswa melalui Think Pair Share Berbantuan KACERGAM | Wijayanti | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Riska Zeli Wijayanti 1*, Zerra Puspita Angellina 2, Lovika Ardana Riswari 3

1,2,3 Universitas Muria Kudus, Kudus

Email: 202333154@std.umk.ac.id

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan melalui penerapan model Think Pair Share (TPS) berbantuan media Kartu Cerita Bergambar (KACERGAM). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 13 siswa kelas III SD 2 Panjunan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, tes, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif berdasarkan indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa. Persentase ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 61,5% pada siklus I menjadi 84,6% pada siklus II, sedangkan nilai rata-rata kelas meningkat dari 72 menjadi 88. Peningkatan juga terjadi pada setiap indikator kemampuan pemecahan masalah, yaitu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban. Selain itu, aktivitas belajar siswa selama pembelajaran menjadi lebih aktif melalui kegiatan berpikir mandiri, berdiskusi dengan pasangan, dan berbagi hasil diskusi di depan kelas. Dengan demikian, model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa sekolah dasar.

Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, soal cerita matematika, Think Pair Share (TPS), KACERGAM, sekolah dasar.

Abstract

This study aimed to improve the mathematical word problem-solving skills of third-grade students at SD 2 Panjunan through the implementation of the Think Pair Share (TPS) learning model assisted by the Picture Story Card (KACERGAM) media. The study employed a Classroom Action Research (CAR) design conducted in two cycles, with each cycle consisting of the planning, implementation, observation, and reflection stages. The research subjects were 13 third-grade students of SD 2 Panjunan. Data were collected through observation, tests, and documentation, while data analysis was carried out using descriptive quantitative and qualitative methods based on Polya's problem-solving indicators. The findings indicated that the implementation of the Think Pair Share model assisted by KACERGAM media effectively improved students' mathematical word problem-solving skills. The percentage of classical learning mastery increased from 61.5% in Cycle I to 84.6% in Cycle II, while the class average score increased from 72 to 88. Improvements were also observed in all problem-solving indicators, including understanding the problem, devising a plan, carrying out the solution, and reviewing the answer. Furthermore, students' learning activities became more active through independent thinking, pair discussions, and sharing discussion results with the class. Therefore, the Think Pair Share learning model assisted by KACERGAM media is effective in improving elementary school students' mathematical word problem-solving skills.

Keywords: problem-solving skills, mathematical word problems, Think Pair Share (TPS), KACERGAM, elementary school.

 

Article Info

Received date: 30 June  2026                                     Revised date: 4 July 2026                                    Accepted date: 7 July  2026

 

PENDAHULUAN

Pendidikan dasar memiliki peranan penting dalam membentuk kemampuan berpikir, bernalar, dan memecahkan masalah pada siswa sebagai bekal dalam menghadapi berbagai permasalahan di kehidupan sehari-hari. Salah satu mata pelajaran yang berperan dalam mengembangkan kemampuan tersebut adalah matematika. Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan agar siswa mampu melakukan perhitungan, tetapi juga mampu memahami konsep, menggunakan strategi yang tepat, serta menerapkan pengetahuan matematika dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah.

Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan siswa dalam memahami suatu permasalahan, menentukan langkah penyelesaian, melaksanakan strategi yang telah direncanakan, serta mengevaluasi kembali hasil yang diperoleh. Kemampuan ini menjadi salah satu indikator penting dalam keberhasilan pembelajaran matematika karena siswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh jawaban benar, tetapi juga memahami proses memperoleh jawaban tersebut. Kemampuan ini menjadi salah satu indikator penting dalam keberhasilan pembelajaran matematika karena siswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh jawaban benar, tetapi juga memahami proses memperoleh jawaban tersebut (Mutakin, Yuliani, & Chotimah, 2023). Menurut Pólya (2014), terdapat empat tahapan dalam kemampuan pemecahan masalah matematika, yaitu memahami masalah (understanding the problem), menyusun rencana penyelesaian (devising a plan), melaksanakan rencana penyelesaian (carrying out the plan), dan memeriksa kembali hasil jawaban (looking back). Keempat indikator tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika secara sistematis.

Kemampuan pemecahan masalah matematis sangat penting dimiliki oleh siswa sekolah dasar karena pembelajaran matematika berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kemampuan pemecahan masalah, siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif dalam menentukan solusi terhadap suatu permasalahan. Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan matematika, khususnya pada materi soal cerita. Soal cerita matematika membutuhkan kemampuan memahami informasi yang terdapat dalam teks, menentukan hal yang diketahui dan ditanyakan, memilih operasi atau strategi penyelesaian yang sesuai, serta menyusun langkah penyelesaian secara tepat.

Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya kemampuan siswa dalam memahami permasalahan dan menerjemahkan soal cerita ke dalam bentuk matematika. Siswa sering kali langsung melakukan perhitungan tanpa memahami maksud dari soal sehingga strategi penyelesaian yang digunakan kurang tepat. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa siswa masih membutuhkan pembelajaran yang mampu melatih kemampuan berpikir secara sistematis dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna (Sagita, Ermawati, & Riswari, 2023). Sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami masalah dan menyusun langkah penyelesaian berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya (Putri, Amaliyah, & Riswari, 2023). kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan soal cerita masih mengalami kendala terutama pada tahap memahami masalah dan menentukan strategi penyelesaian (Dewi dan Saharuddin, 2024). Pembelajaran aktif memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman konsep matematis siswa dalam proses pembelajaran matematika (Mardiati, Sanimah, & Ningsih, 2023).

Permasalahan tersebut juga ditemukan berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2026 di kelas III SD 2 Panjunan yang berjumlah 13 siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa masih belum optimal. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi soal, menentukan informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta memilih strategi penyelesaian yang tepat. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa siswa belum mencapai KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran). Selain itu, proses pembelajaran yang masih cenderung berpusat pada guru menyebabkan siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang monoton dapat menyebabkan siswa kurang tertarik dan kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran matematika (Slameto, 2019).

Pembelajaran matematika yang efektif perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk berpikir, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan menemukan solusi secara mandiri maupun bersama teman. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan berpikir, berdiskusi, dan bertukar pendapat mampu membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih baik serta meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung (Jihanifa, Sumaji, & Riswari, 2023).

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika adalah model Think Pair Share (TPS). Model Think Pair Share merupakan model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara mandiri (think), berdiskusi dengan pasangan (pair), dan menyampaikan hasil pemikiran atau diskusi kepada teman lainnya (share). Tahapan dalam model ini memungkinkan siswa untuk memahami permasalahan secara individu, memperoleh masukan melalui diskusi, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama. Penerapan model Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar karena siswa lebih aktif dalam memahami materi melalui kegiatan berpikir dan berdiskusi (Kurniawati, Suryanti, dan Jumanto, 2023). Penerapan model Think Pair Share dalam pembelajaran matematika dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar mandiri melalui kegiatan berpikir, berdiskusi, dan berbagi gagasan (Astuti, 2024). Dengan model Think Pair Share dapat meningkatkan interaksi belajar siswa melalui kegiatan bertukar pendapat dan kerja sama dalam kelompok kecil (Huda, 2017). Selain itu, penerapan model Think Pair Share juga mampu meningkatkan keaktifan dan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat selama pembelajaran berlangsung (Wardana, Riswari, & Kironoratri).

Dalam penelitian ini, model Think Pair Share (TPS) dipadukan dengan media konkret KACERGAM (Kartu Cerita Bergambar) sebagai sarana untuk membantu siswa memahami permasalahan matematika yang disajikan dalam bentuk soal cerita. Menurut teori Huda (2017) pada tahap Think, guru membagikan KACERGAM kepada setiap siswa. Siswa mengamati gambar, membaca isi cerita, mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, kemudian mencoba menyelesaikan permasalahan secara mandiri. Tahap ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara mandiri sebelum berdiskusi dengan teman. Selanjutnya, pada tahap Pair, siswa berpasangan untuk mendiskusikan hasil penyelesaian yang telah dikerjakan dengan menggunakan KACERGAM yang sama. Melalui diskusi, siswa saling bertukar pendapat, membandingkan jawaban, serta memperbaiki strategi penyelesaian apabila terdapat perbedaan. Kegiatan ini membantu siswa membangun pemahaman yang lebih baik melalui kerja sama dengan pasangan. Pada tahap Share, setiap pasangan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas dengan menunjukkan KACERGAM sebagai media pendukung. Pasangan lain memberikan tanggapan atau pertanyaan, sedangkan guru memberikan penguatan terhadap konsep yang telah dipelajari. Penggunaan KACERGAM pada setiap tahapan TPS membantu siswa menghubungkan permasalahan matematika dengan situasi yang lebih konkret sehingga memudahkan mereka memahami isi soal cerita, meningkatkan keaktifan, dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Keseluruhan tahapan tersebut sesuai dengan sintaks model Think Pair Share.

Selain penerapan model pembelajaran yang tepat, penggunaan media pembelajaran juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi matematika. Media pembelajaran dapat membantu menyajikan konsep yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Penggunaan media visual dalam pembelajaran dapat memperjelas penyampaian informasi, menarik perhatian siswa, serta membantu siswa memahami materi secara lebih efektif (Arsyad, 2019).

Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu siswa memahami soal cerita matematika adalah Kartu Cerita Bergambar (KACERGAM). Media KACERGAM merupakan media pembelajaran berupa kartu yang berisi cerita singkat disertai gambar pendukung yang berkaitan dengan permasalahan matematika. Penggunaan media ini diharapkan dapat membantu siswa memahami informasi dalam soal cerita secara lebih konkret dan menarik. Gambar yang terdapat dalam kartu dapat memberikan gambaran mengenai permasalahan yang harus diselesaikan sehingga siswa lebih mudah mengidentifikasi informasi penting dalam soal. Dengan demikian, penggunaan media KACERGAM dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang lebih aktif dan menyenangkan.

  Gambar 1. Media Kacergam (Kartu Cerita Bergambar)

State of the art penelitian ini terletak pada penggabungan model pembelajaran Think Pair Share dengan media Kartu Cerita Bergambar (KACERGAM) dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa sekolah dasar. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas penerapan model Think Pair Share terhadap hasil belajar matematika secara umum, sedangkan penelitian ini secara khusus memfokuskan pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan indikator Polya dengan bantuan media visual yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas III sekolah dasar. Kombinasi model dan media tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui kegiatan berpikir, berdiskusi, serta memahami permasalahan matematika secara visual.

Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika melalui penerapan pembelajaran yang inovatif dan melibatkan siswa secara aktif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Think Pair Share berbantuan media Kartu Cerita Bergambar (KACERGAM) serta meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan. Melalui penerapan model dan media tersebut, diharapkan siswa mampu memahami permasalahan matematika dengan lebih baik, menentukan strategi penyelesaian secara tepat, menyelesaikan soal secara sistematis, serta melakukan evaluasi terhadap hasil penyelesaian yang diperoleh.

 

METODE  

Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui suatu tindakan tertentu di dalam kelas (Arikunto, 2021). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca soal cerita matematika melalui model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM pada siswa kelas III SD 2 Panjunan yang berjumlah 13 siswa. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Model penelitian tindakan kelas yang digunakan mengacu pada pendapat Kemmis dan McTaggart (2019) yang terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Rancangan PTK oleh Kemmis dan McTaggart

Sumber: Rhamayanti. (2021)

Sebelum pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II, peneliti terlebih dahulu melakukan tahap prasiklus. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan siswa dalam membaca soal cerita matematika sebelum diberikan tindakan. Pada kegiatan prasiklus, peneliti melakukan observasi pembelajaran di kelas, mengidentifikasi permasalahan yang muncul, serta memberikan tes awal (pretest) kemampuan membaca soal cerita matematika. Hasil dari prasiklus ini digunakan sebagai data dasar (baseline) untuk menentukan langkah perbaikan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya (Sugiyono, 2022).

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pada siklus I, peneliti menyusun perangkat pembelajaran berupa modul ajar, media KACERGAM, lembar observasi, dan soal evaluasi kemampuan membaca soal cerita matematika. Selanjutnya, model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM diterapkan dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa memahami soal cerita matematika. Tahap pengamatan dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dan keterlaksanaan pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Setelah itu, dilakukan refleksi untuk mengetahui kekurangan pada siklus I sebagai dasar perbaikan pada siklus II. Pada siklus II, pembelajaran dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan yang ditemukan pada siklus sebelumnya agar kemampuan membaca soal cerita matematika siswa dapat meningkat secara optimal. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, tes, dan dokumentasi (Moleong, 2021). Berikut ini merupakan rumus yang digunakan peneliti untuk nilai kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika pada setiap siswa.

Berikut ini merupakan rumus yang digunakan peneliti untuk nilai kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika pada setiap siswa.

Sumber: Ngalim Purwanto. (2017)

Sehubungan dengan rumus di atas, N merupakan nilai akhir, sedangkan SD merupakan nilai yang diperoleh siswa dan SM merupakan nilai maksimal. Adapun rentang kriteria penilaian kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika, sebagai berikut.

Tabel 1. Kriteria Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah soal Cerita Matematika

Nilai

Kriteria

89-100

Sangat baik

74-87

Baik

60-73

Cukup

<73

Kurang

Sumber: Badan Standar, Kurikulum (2022)

Selanjutnya, peneliti melakukan perhitungan persentase ketuntasan belajar secara klasikal untuk mengetahui tingkat ketercapaian hasil belajar siswa setelah pelaksanaan pembelajaran. Perhitungan persentase ketuntasan klasikal digunakan sebagai acuan dalam mengetahui keberhasilan tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus penelitian. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase ketuntasan belajar secara klasikal adalah sebagai berikut.

Sumber: Arikunto Suharsimi. (2018)

Berdasarkan rumus tersebut, persentase ketuntasan belajar secara klasikal digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil persentase yang diperoleh menunjukkan banyaknya siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKTP yang telah ditetapkan. Semakin tinggi persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh, maka semakin baik pula kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa setelah diterapkannya model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM. Hasil tes siswa selanjutnya dihitung oleh peneliti dengan menghitung setiap indikator kemampuan pemecahan masalah untuk mengetahui rata-rata klasikal pada masing-masing indikator. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata klasikal setiap indikator kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa adalah sebagai berikut.

Sumber: Mutakin et al. (2023)

Sehubungan dengan rumus di atas, Rx merupakan rata-rata nilai indikator ke-x, sedangkan ΣSi merupakan jumlah total nilai indikator ke-x dan ΣSm adalah jumlah total nilai maksimal indikator ke-x. Perhitungan rata-rata klasikal setiap indikator dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian kemampuan pemecahan masalah siswa pada setiap indikator yang telah ditentukan. Dengan demikian, peneliti dapat mengetahui indikator yang mengalami peningkatan maupun indikator yang masih perlu diperbaiki pada setiap siklus pembelajaran.

 

 

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi keberhasilan proses dan keberhasilan hasil pembelajaran. Keberhasilan proses ditandai dengan terlaksananya pembelajaran menggunakan model Think Pair Share (TPS) berbantuan media KACERGAM (Kartu Cerita Bergambar) sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang direncanakan, sehingga siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan berpikir secara mandiri (think), berdiskusi dengan pasangan (pair), dan mempresentasikan hasil diskusi (share). Keberhasilan hasil ditandai dengan adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa setelah tindakan diberikan. Penelitian ini dinyatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 80% siswa memperoleh nilai ≥ 70 sesuai dengan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang telah ditetapkan sekolah (Arikunto et al., 2021).

 

Adapun rentang kriteria penilaian kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika per indikator, yaitu.

Tabel 2. Kriteria Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita per Indikator

Nilai

Kriteria

85-100

Sangat baik

70-84

Baik

55 – 69

Cukup baik

40 – 54

Kurang baik

0 – 39

Kurang Sekali

Sumber: Oktasya et al. (2022)

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan pada setiap siklus, diperoleh peningkatan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa melalui penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM (Kartu Cerita Bergambar). Berikut merupakan gambaran peningkatan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa pada setiap siklus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus untuk meningkatkan kemampuan membaca soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan melalui penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti terlebih dahulu melakukan tahap prasiklus untuk mengetahui kondisi awal kemampuan siswa.

Pada tahap prasiklus, peneliti melakukan observasi pembelajaran dan tes awal berupa 10 soal cerita matematika untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami soal cerita matematika. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami isi soal, menentukan informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta memilih langkah penyelesaian yang tepat. Selain itu, pembelajaran yang masih berpusat pada guru menyebabkan siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil tes prasiklus yang terdiri atas 10 soal, diperoleh jumlah nilai sebesar 920 dengan nilai rata-rata kelas 70. Dari 13 siswa, sebanyak 7 siswa (53,8%) telah mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yaitu ≥75, sedangkan 6 siswa (46,2%) belum mencapai KKTP. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memahami soal cerita matematika siswa masih tergolong rendah dan perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan tindakan perbaikan melalui penerapan model pembelajaran Think Pair Share berbantuan media KACERGAM untuk meningkatkan kemampuan memahami soal cerita matematika siswa pada siklus berikutnya.

Siklus I

a.       Perencanaan

Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun modul ajar, media KACERGAM, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi keterampilan guru, serta soal evaluasi kemampuan membaca soal cerita matematika. Peneliti juga menyusun langkah pembelajaran menggunakan model Think Pair Share yang terdiri atas tahap think, pair, dan share.

b.       Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 7–8 Mei 2026 dengan menerapkan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM. Pada tahap think, siswa diminta membaca dan memahami soal cerita matematika secara mandiri menggunakan media kartu cerita bergambar. Selanjutnya pada tahap pair, siswa berdiskusi bersama pasangan untuk menentukan informasi penting dan langkah penyelesaian soal. Pada tahap share, siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.Selama proses pembelajaran berlangsung, siswa mulai terlihat aktif mengikuti pembelajaran. Penggunaan media KACERGAM membantu siswa memahami isi soal cerita matematika dengan lebih mudah karena disertai gambar yang menarik dan sesuai dengan isi soal.

c.       Pengamatan

Tahap observasi didapatkan hasil kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi yang diajarkan diperoleh dari hasil tes evaluasi yang dilaksanakan pada akhir pertemuan siklus I, yaitu pada pertemuan kedua. Pada pertemuan tersebut seluruh siswa hadir sebanyak 13 siswa. Soal tes evaluasi terdiri dari 10 soal cerita yang disesuaikan dengan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mulai aktif berdiskusi dan berani menyampaikan hasil diskusi di depan kelas. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang kurang percaya diri dan masih mengalami kesulitan dalam menentukan langkah penyelesaian soal cerita matematika. Hasil tes pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahap prasiklus. Berikut merupakan hasil tes indikator kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa siklus I.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika Siswa Siklus I

No

Rentang Nilai

Jumlah siswa

Kriteria

1.

85 – 100

3

Sangat Baik

2.

70 – 84

5

Baik

3.

55 – 69

4

Cukup baik

4.

40 – 54

1

Kurang baik

Jumlah

13

Total Nilai

960

Rata-Rata

72

Kriteria

Baik

Nilai Tertinggi

100

Nilai Terendah

50

Jumlah Siswa Tuntas

8

Persentase Siswa Tuntas

61,5%

Sumber: Hasil Penelitian (2026)

Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa terdapat 3 siswa memperoleh kategori sangat baik, 5 siswa memperoleh kategori baik, 4 siswa memperoleh kategori cukup baik, dan 1 siswa memperoleh kategori kurang baik. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 61,5%, sedangkan 5 siswa lainnya belum mencapai KKTP yang telah ditetapkan. Rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan adalah sebesar 72 dengan kategori baik, nilai tertinggi 100, dan nilai terendah 50. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa telah mampu memahami dan menyelesaikan soal cerita matematika dengan baik, namun masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam proses pemecahan masalah.

Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa pada siklus I masih belum mencapai indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan karena persentase ketuntasan klasikal baru mencapai 61,5%. Oleh karena itu, penelitian perlu dilanjutkan pada siklus II agar kemampuan pemecahan masalah siswa dapat meningkat secara optimal dan mencapai target ketuntasan klasikal yang telah ditentukan.

d.       Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi pada siklus I, kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa menunjukkan adanya peningkatan, namun belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa mencapai 72 dengan kategori baik. Persentase ketuntasan klasikal sebesar 61,5%, yaitu sebanyak 8 dari 13 siswa telah mencapai KKTP, sedangkan 5 siswa lainnya masih belum mencapai ketuntasan. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100 dan nilai terendah adalah 50.

Hasil analisis kemampuan pemecahan masalah berdasarkan setiap indikator menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Indikator memahami masalah memperoleh nilai rata-rata 72 dengan kategori baik dan indikator menyusun rencana penyelesaian memperoleh nilai rata-rata 70 dengan kategori baik. Sementara itu, indikator melaksanakan penyelesaian memperoleh nilai rata-rata 69 dengan kategori cukup baik dan indikator memeriksa kembali jawaban memperoleh nilai rata-rata 63 dengan kategori cukup baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis serta melakukan pemeriksaan kembali terhadap jawaban yang telah diperoleh sehingga masih ditemukan kesalahan dalam proses penyelesaian soal.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan beberapa perbaikan dalam proses pembelajaran. Perbaikan yang dilakukan meliputi pemberian bimbingan yang lebih intensif kepada siswa yang belum tuntas, memperjelas tahapan penyelesaian soal cerita matematika melalui penggunaan kartu pecahan, memberikan latihan yang lebih bervariasi, serta mengoptimalkan penerapan model pembelajaran Think Pair Share pada tahap think, pair, dan share. Selain itu, guru memberikan penguatan pada kegiatan memeriksa kembali jawaban agar siswa lebih teliti dalam menyelesaikan soal. Melalui perbaikan tersebut diharapkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa dapat meningkat dan mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan pada siklus II.

 

Siklus II

a.       Perencanaan

Pada tahap perencanaan siklus II, peneliti memperbaiki kekurangan yang ditemukan pada siklus I. Peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang lebih menarik, memperjelas langkah pembelajaran model Think Pair Share, serta meningkatkan penggunaan media KACERGAM agar siswa lebih mudah memahami soal cerita matematika. Selain itu, peneliti juga memberikan pendampingan yang lebih intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal sehingga mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lebih optimal.

b.       Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 11–12 Mei 2026 dengan menerapkan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM secara lebih optimal. Pada tahap think, siswa membaca dan memahami soal cerita matematika secara mandiri dengan lebih teliti. Pada tahap pair, siswa berdiskusi dengan pasangan untuk menentukan langkah penyelesaian soal. Peneliti memberikan bimbingan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan. Selanjutnya pada tahap share, siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelas dengan lebih percaya diri dibandingkan siklus sebelumnya.

c.       Pengamatan

Pada tahap pengamatan ini diperoleh data berupa hasil tes evaluasi kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan yang diberikan pada akhir siklus II. Tes evaluasi diikuti oleh 13 siswa dengan soal yang terdiri atas 10 soal uraian materi soal cerita matematika yang disesuaikan dengan indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya, yaitu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban. Selain hasil tes evaluasi, pengamatan juga dilakukan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran menggunakan model Thixdrbnk Pair Share berbantuan media KACERGAM pada tahap think, pair, dan share untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam memahami soal cerita matematika, berdiskusi dengan pasangan, serta menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.

 

Tabel 4. Rekaptulasi Hasil Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika Siswa Siklus II

No

Rentang Nilai

Jumlah siswa

Kriteria

1.

85 – 100

8

Sangat Baik

2.

70 – 84

3

Baik

3.

55 – 69

2

Cukup baik

4.

40 – 54

0

Kurang baik

Jumlah Siswa

13

Total Nilai

1140

Rata-Rata

88

Kriteria

Sangat Baik

Nilai Tertinggi

100

Nilai Terendah

60

Jumlah Siswa Tuntas

11

Persentase Siswa Tuntas

84,6%

Sumber: Hasil Penelitian (2026)

Berdasarkan Tabel 4, diketahui bahwa terdapat 8 siswa yang memperoleh kategori sangat baik, 3 siswa memperoleh kategori baik, dan 2 siswa memperoleh kategori cukup baik. Tidak terdapat siswa yang memperoleh kategori kurang baik. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 11 siswa dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 84,6%, sedangkan 2 siswa lainnya belum mencapai KKTP yang telah ditetapkan. Rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan adalah sebesar 88 dengan kategori sangat baik, nilai tertinggi 100, dan nilai terendah 60.

Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar dari 8 siswa menjadi 11 siswa, meningkatnya persentase ketuntasan klasikal dari 61,5% menjadi 84,6%, serta meningkatnya rata-rata nilai kelas dari 72 menjadi 88. Selain itu, kemampuan siswa dalam memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban juga menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 84,6%, indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan telah tercapai. Oleh karena itu, pelaksanaan tindakan pada siklus II dinyatakan berhasil dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan.

d.       Refleksi

Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus II, kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dengan siklus I. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 88 dengan kategori sangat baik. Persentase ketuntasan klasikal mencapai 84,6%, yaitu sebanyak 11 dari 13 siswa telah mencapai KKTP yang ditetapkan, sedangkan 2 siswa lainnya belum mencapai ketuntasan. Selain itu, sebagian besar siswa telah mampu memahami isi soal, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, serta memeriksa kembali jawaban dengan lebih tepat sesuai dengan indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya.

Aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran juga mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari siswa yang lebih aktif dalam berdiskusi, berani menyampaikan pendapat, bekerja sama dengan teman, serta antusias dalam menggunakan media KACERGAM selama pembelajaran berlangsung. Penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara mandiri, berdiskusi dengan pasangan, dan berbagi hasil pemikiran sehingga membantu siswa memahami dan menyelesaikan soal cerita matematika dengan lebih baik.

Berdasarkan hasil tersebut, indikator keberhasilan penelitian telah tercapai karena persentase ketuntasan klasikal telah melebihi target yang ditetapkan peneliti, yaitu ≥75%, dan rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa telah mencapai kategori sangat baik. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas dihentikan pada siklus II karena tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan melalui penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM telah tercapai dengan baik.

Sehubungan dengan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan. Peningkatan tersebut terlihat dari kenaikan rata-rata nilai siswa dari 72 pada siklus I menjadi 88 pada siklus II, serta peningkatan persentase ketuntasan klasikal dari 61,5% menjadi 84,6%. Adapun tabel yang mengkaji mengenai peningkatan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika berdasarkan masing-masing indikator disajikan sebagai berikut.

Tabel 5. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika per Indikator

No

Indikator

Rata -Rata Nilai

Kenaikan

Siklus I

Silklus II

1.

Memahami masalah

74

(Baik)

90

(Sangat Baik)

16

2.

Menyusun rencana penyelesaian

70

(Baik)

88

(Sangat Baik)

18

3.

Melaksanakan penyelesaian

69

(Cukup Baik)

84

( Sangat Baik)

15

4.

Memeriksa kembali jawaban

63

(Cukup Baik)

86

(Sangat Baik)

23

Sumber: Hasil Penelitian (2026)

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM (Kartu Cerita Bergambar) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan. Peningkatan kemampuan tersebut terlihat dari perubahan proses pembelajaran siswa yang menjadi lebih aktif, siswa lebih mampu memahami permasalahan, menentukan strategi penyelesaian, melakukan perhitungan, serta mengevaluasi kembali hasil pekerjaan yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Polya (2014) yang menyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah dikembangkan melalui tahapan memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban.

Pada indikator memahami masalah, kemampuan siswa mengalami peningkatan setelah diterapkannya model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM. Siswa menjadi lebih mudah memahami isi soal cerita karena adanya bantuan gambar pada media KACERGAM yang membuat permasalahan matematika lebih konkret dan menarik. Melalui tahap think, siswa diberikan kesempatan untuk membaca soal secara mandiri, mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta memahami maksud dari permasalahan sebelum menentukan langkah penyelesaian. Memahami masalah merupakan langkah awal yang penting agar siswa mampu menentukan penyelesaian yang tepat (Polya, 2014). Selain itu, penggunaan media visual berupa cerita bergambar membantu siswa memahami informasi secara lebih jelas dan bermakna. Media visual dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran (Arsyad, 2019).

Pada indikator menyusun rencana penyelesaian, siswa menunjukkan perkembangan dalam menentukan strategi yang sesuai untuk menyelesaikan soal cerita matematika. Melalui tahap pair, siswa berdiskusi dengan pasangan untuk bertukar ide, membandingkan cara penyelesaian, serta memperbaiki pemahaman apabila terdapat kesalahan. Kegiatan diskusi tersebut membantu siswa dalam memilih langkah penyelesaian yang lebih tepat karena siswa tidak hanya berpikir secara individu, tetapi juga memperoleh masukan dari teman dan guru. Model Think Pair Share mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sekaligus membantu siswa memahami materi dengan lebih baik melalui kegiatan berpikir dan berdiskusi (Kurniawati, Suryanti, & Jumanto, 2023).

Pada indikator melaksanakan penyelesaian, kemampuan siswa mengalami peningkatan karena siswa mulai terbiasa menerapkan strategi yang telah dibuat sebelumnya. Siswa mampu melakukan proses perhitungan secara lebih runtut dan sesuai dengan informasi yang terdapat dalam soal. Penerapan model Think Pair Share memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami proses penyelesaian melalui kegiatan berpikir dan berdiskusi sehingga siswa lebih percaya diri dalam mengerjakan soal cerita matematika. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna sehingga kemampuan pemecahan masalah dapat berkembang secara optimal (Mardiati, Sanimah, & Ningsih, 2023).

Pada indikator memeriksa kembali jawaban, siswa mengalami perkembangan yang lebih baik setelah mengikuti pembelajaran dengan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM. Siswa mulai terbiasa mengecek kembali hasil pekerjaannya dan memastikan jawaban yang diperoleh sesuai dengan pertanyaan pada soal. Melalui tahap share, siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelas sehingga mendapatkan kesempatan untuk membandingkan jawaban, menerima masukan, dan memperbaiki kesalahan yang ditemukan. Kegiatan tersebut sesuai dengan tahap terakhir pemecahan masalah menurut Polya (2014), yaitu melakukan pemeriksaan kembali terhadap proses dan hasil penyelesaian masalah agar diperoleh jawaban yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Secara keseluruhan, penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa. Model pembelajaran ini mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif karena siswa terlibat dalam kegiatan berpikir mandiri, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pemikirannya. Penggunaan media KACERGAM juga membantu siswa memahami konsep matematika yang sebelumnya dianggap sulit menjadi lebih mudah dipahami melalui penyajian cerita dan gambar yang menarik. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kurniawati, Suryanti, dan Jumanto (2023) yang menyatakan bahwa model Think Pair Share mampu meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa, serta didukung oleh pendapat Arsyad (2019) yang menjelaskan bahwa media visual mampu membantu siswa memahami informasi secara lebih jelas, menarik, dan bermakna.

Dengan demikian, penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa sekolah dasar, khususnya dalam mengembangkan kemampuan memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban sesuai dengan tahapan pemecahan masalah Polya (2014). Selain meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, model ini juga mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, interaktif, dan berpusat pada siswa sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran aktif memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman konsep matematis siswa (Mardiati, Sanimah, & Ningsih, 2023).

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM (Kartu Cerita Bergambar) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas III SD 2 Panjunan. Penerapan model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara mandiri, berdiskusi dengan pasangan, serta menyampaikan hasil pemikirannya sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah terlihat berdasarkan indikator Polya, yaitu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban. Penggunaan media KACERGAM membantu siswa memahami permasalahan matematika secara lebih konkret dan menarik, sehingga siswa lebih mudah menentukan strategi penyelesaian serta mengevaluasi hasil pekerjaannya. Dengan demikian, model Think Pair Share berbantuan media KACERGAM dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa sekolah dasar.

 

REFERENSI

Arikunto, S. (2018). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, S. (2021). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi (2021). Penelitian tindakan kelas (Edisi revisi). Bumi Aksara.

Arsyad, A. (2019). Media Pembelajaran (Edisi Revisi). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Astuti, A. D. (2024). Self-regulated Learning for Elementary School Students' Mathematics Learning Using Think Pair Share. Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 10(1).

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dewi, N., & Saharuddin. (2024). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sekolah Dasar dalam Menyelesaikan Soal Cerita. Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia, 3(2), 96–110.

Huda, M. (2017). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jihanifa, F. A., Sumaji, & Riswari, L. A. (2023). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui Model Problem Based Learning Berbasis STEAM Berbantuan Media MONKABICO. EQUALS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 6(2), 116–128.

Kemmis, S., & McTaggart, R. (2019). The Action Research Planner. Singapore: Springer.

Kurniawati, M., Suryanti, H. H. S., & Jumanto. (2023). Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Kelas III SDN Tugu Jebres No. 120 Surakarta Tahun Ajaran 2022/2023. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(2), 17764–17770.

Mardiati, Sanimah, & Ningsih, Y. (2023). Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VII SMP IT Darul Hikmah. Jurnal Serunai Matematika, 15(2).

Moleong, L. J. (2021). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mutakin, F. T., Yuliani, A., & Chotimah, S. (2023). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis pada Siswa Kelas IX SMPN 3 Cimahi dalam Menyelesaikan Soal Statistika. Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif, 6(4), 1323–1334.

Oktasya, I., Turmuzi, M., & Setiawan, H. (2022). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika Siswa Kelas V SDN 01 Tempos. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(2), 351–353.

Polya, G. (2017). How to Solve It. Princeton University Press.

Purwanto, N. (2017). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Putri, A. I., Amaliyah, N. F., & Riswari, L. A. (2023). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas IV pada Materi Kubus dan Balok. Laplace: Jurnal Pendidikan Matematika, 6(2), 403–412.

Rhamayanti, Y. (2021). Penerapan Penelitian Tindakan Kelas dalam Pembelajaran Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 5(2), 98–105.

Sagita, D. K., Ermawati, D., & Riswari, L. A. (2023). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 9(2), 431–439.

Slameto. (2019). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Wardana, R. W., Riswari, L. A., & Kironoratri, L. (2023). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Think Pair Share (TPS) Berbantuan Mystery Pics. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 4(1), 20–24.