The
Development of Sidoarjo State Sports Senior High School (SMAN Olahraga
Sidoarjo) and Its Contribution to Sports Achievements in East Java Province,
2000–2018
Zidane
Ali Fikri Machfud
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya
Email:
zidanemuhammad.21064@mhs.unesa.ac.id
Abstrak
Berangkat
dari kebutuhan akan lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan pembinaan
prestasi olahraga dengan pendidikan formal, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendirikan
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Olahraga Sidoarjo sebagai sekolah khusus
bagi atlet pelajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan SMAN
Olahraga Sidoarjo tahun 2000–2018 serta kontribusinya terhadap prestasi
olahraga Provinsi Jawa Timur. Kebaruan penelitian terletak pada analisis
keterkaitan antara perubahan kelembagaan, perkembangan fasilitas, sistem
pembinaan, dan capaian prestasi atlet pelajar Jawa Timur. Penelitian
menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif melalui tahapan
heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh
melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis
menggunakan teori perubahan organisasi Kurt Lewin yang meliputi tahap
unfreezing, changing, dan refreezing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN
Olahraga Sidoarjo mengalami perkembangan signifikan sejak berdiri pada tahun
2000, terutama setelah perubahan status kelembagaan menjadi Unit Pelaksana
Teknis (UPT) yang mendorong peningkatan fasilitas, manajemen sekolah, dan
sistem pembinaan olahraga. Integrasi kurikulum akademik dengan program latihan
dilakukan melalui penyesuaian jadwal pembelajaran dan koordinasi antara guru
dan pelatih. Perkembangan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan prestasi
atlet pelajar yang mewakili Jawa Timur pada berbagai ajang olahraga tingkat
provinsi, nasional, dan internasional, sehingga memperkuat peran SMAN Olahraga
Sidoarjo sebagai institusi strategis dalam pembinaan atlet daerah dan
pengembangan prestasi olahraga daerah.
Kata kunci: SMAN Olahraga Sidoarjo, perkembangan sekolah, pembinaan atlet,
prestasi olahraga.
Abstract
Responding to the need for an
educational institution capable of integrating sports achievement development
with formal education, the East Java Provincial Government established Sidoarjo
State Sports Senior High School (SMAN Olahraga Sidoarjo) as a specialized
school for student-athletes. This study aims to analyze the development of SMAN
Olahraga Sidoarjo from 2000 to 2018 and its contribution to the sporting
achievements of East Java. The novelty of this study lies in analyzing the
relationship between institutional changes, facility development, athlete
training systems, and the achievements of East Java student-athletes. This
study employs a historical method with a qualitative approach through the
stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography.
Data were collected through interviews, observations, and documentary studies,
then analyzed using Kurt Lewin’s organizational change theory, consisting of
unfreezing, changing, and refreezing stages. The findings indicate that SMAN
Olahraga Sidoarjo experienced significant development since its establishment
in 2000, particularly following its institutional transformation into a
Technical Implementation Unit (UPT), which encouraged improvements in
facilities, school management, and sports training systems. Academic curricula
were integrated with training programs through adjusted learning schedules and
coordination between teachers and coaches. These developments contributed to
improved achievements among student-athletes representing East Java at
provincial, national, and international competitions, strengthening the
school’s strategic role in athlete development and regional sports achievement.
Keywords: SMAN Olahraga Sidoarjo, school
development, athlete development, sports achievement
Article Info
Received date: 20 August 2026 Revised date: 28 August 2026 Accepted date: 1 September 2026
PENDAHULUAN
Pendidikan olahraga di Indonesia semakin memperoleh perhatian
sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan
prestasi olahraga nasional. Kebijakan seperti Desain Besar Olahraga Nasional
(DBON) menempatkan sekolah berbasis olahraga sebagai institusi strategis dalam
pembinaan atlet sejak usia dini melalui integrasi pendidikan akademik dan
pelatihan olahraga yang sistematis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
keberhasilan sekolah olahraga dipengaruhi oleh dukungan fasilitas, sistem
pembinaan yang terstruktur, serta lingkungan pendidikan yang mampu mengembangkan aspek akademik, karakter, dan
prestasi peserta didik secara seimbang.
Salah satu lembaga yang memiliki peran penting dalam pembinaan
atlet pelajar di Jawa Timur adalah SMAN Olahraga Jawa Timur di Buduran,
Sidoarjo. Sejak berdiri pada tahun 2000, sekolah ini mengembangkan model
pendidikan berbasis asrama yang memadukan proses pembelajaran akademik dengan
latihan olahraga secara intensif. Meskipun telah menghasilkan berbagai atlet
berprestasi, kajian mengenai perkembangan kelembagaan, proses pembelajaran,
fasilitas, serta kontribusinya terhadap prestasi olahraga di Jawa Timur masih
relatif terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian
(research gap), khususnya dalam kajian sejarah pendidikan olahraga di Indonesia.
Berdasarkan
kondisi tersebut, penelitian ini mengajukan pertanyaan: (1) bagaimana sejarah
berdirinya SMAN Olahraga Jawa Timur, (2) bagaimana proses pembelajarannya pada
periode 2000–2018, (3) bagaimana perkembangan fasilitas sekolah selama periode
tersebut, dan (4) bagaimana kontribusinya terhadap prestasi atlet pelajar di tingkat
provinsi maupun nasional? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah
berdirinya sekolah, menganalisis integrasi pembelajaran akademik dan pembinaan
olahraga, mengkaji perkembangan fasilitas, serta menjelaskan kontribusi sekolah
terhadap pencapaian prestasi atlet pelajar selama tahun 2000–2018.
Penelitian ini diharapkan memberikan
kontribusi ilmiah dengan memperkaya historiografi pendidikan olahraga di
Indonesia, khususnya mengenai perkembangan sekolah menengah berbasis olahraga.
Selain mengisi kekosongan kajian historis mengenai SMAN Olahraga Jawa Timur,
hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan
pendidikan olahraga, pembinaan atlet pelajar, serta penelitian lanjutan
mengenai hubungan antara perkembangan kelembagaan pendidikan olahraga dan
pencapaian prestasi olahraga daerah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif historis
dengan menerapkan metode sejarah untuk mengkaji perkembangan SMAN Olahraga Jawa
Timur serta kontribusinya terhadap prestasi olahraga Provinsi Jawa Timur pada
periode 2000-2018. Metode ini dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu
heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.
Tahap
heuristik dilakukan dengan mengumpulkan sumber primer dan sekunder melalui
studi kepustakaan serta penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan
menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk
memperoleh gambaran kondisi sekolah, wawancara dilakukan dengan kepala sekolah
dan guru guna memperoleh informasi mengenai perkembangan sekolah dan sistem
pembinaan atlet, sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan arsip,
surat keputusan pendirian, laporan pertanggungjawaban, data
prestasi atlet, serta foto-foto yang berkaitan dengan penelitian.
Data
yang terkumpul selanjutnya dianalisis melalui kritik sumber, baik secara
internal maupun eksternal, untuk menguji keaslian dan kredibilitas sumber
sehingga diperoleh fakta sejarah yang valid. Tahap berikutnya adalah
interpretasi, yaitu menganalisis hubungan antar fakta sejarah dengan
memperhatikan konteks waktu, kebijakan pendidikan, dan perkembangan pembinaan
olahraga. Analisis dilakukan menggunakan Model Perubahan Tiga Tahap Kurt Lewin
(1947) yang meliputi unfreezing, changing, dan refreezing
untuk menjelaskan dinamika perkembangan kelembagaan SMAN Olahraga Jawa Timur.
Tahap
akhir adalah historiografi, yaitu penyusunan hasil penelitian secara sistematis
dalam bentuk karya ilmiah sejarah berdasarkan fakta-fakta yang telah
diverifikasi dan diinterpretasikan. Melalui tahapan tersebut dihasilkan
rekonstruksi sejarah mengenai perkembangan SMAN Olahraga Jawa Timur beserta
kontribusinya terhadap peningkatan prestasi olahraga pelajar di Provinsi Jawa
Timur.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
Sejarah berdirinya
SMAN Olaharaga Jawa Timur
Berdirinya
SMAN Olahraga Jawa Timur di Desa Pagerwojo Kecamatan Buduran, Kabupaten
Sidoarjo, merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatrkan
kualitas pembinaan atlet pelajar di tingkat provinsi. Pada fase inim perubahan
tidak lagi bersifat sementara, tetapi telah menjadi bagian dari budaya
institusi. “SMANOR ini dibawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,
karena dulu Pemerintah Sidoarjo tidak berani mengambil alih naungan SMANOR”.
Berdasarkan MoU antara kementrian Pendidikan dan Budaya dengan KONI di tindak
lanjuti penandatanganan kerja sama pada tanggal 18 Juni 2000, antara Dirjen
Dikdasmen, Gubernur Jawa Timur, dan KONI Jawa Timur sekolah ini didirikan pada
tahun 2000 sebagai respons terhadap kebutuhan akan lembaga pendidikan yang
mampu mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pembinaan olahraga secara
sistematis dan berkelanjutan.” Waktu pemerintah pusat ini menginginkan sekolah
olahraga kedua setelah Ragunan di wilayah timur, itu rencananya ditaruh di
Makasar Sulawesi. Terus Pak Imam Utomo, Gubernur pada saat itu menolak,
kemudian meminta di Jawa Timur, nah pas sudah terpilih di Jatim, kendalanya
banyak sekali”. Kondisi
ini menunjukkan adanya fase unfreezing, di mana sekolah mulai menyadari
perlunya perubahan untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet. Latar belakang
pendirian SMAN Olahraga Jawa Timur tidak terlepas dari kondisi pembinaan
olahraga di daerah yang pada saat itu masih belum terintegrasi secara optimal
dengan sistem pendidikan formal. Pembinaan atlet cenderung dilakukan secara
terpisah dari kegiatan akademik, sehingga seringkali menimbulkan kesulitan bagi
atlet pelajar dalam menyeimbangkan antara pendidikan dan latihan. Oleh karena
itu, diperlukan suatu model pendidikan yang mampu mengakomodasi kedua aspek
tersebut secara seimbang. Sebagai sekolah berbasis olahraga, SMAN Olahraga Jawa
Timur menerapkan sistem pendidikan berbasis asrama yang memungkinkan siswa
untuk menjalani program pembinaan secara intensif. Sistem ini memberikan
lingkungan yang kondusif bagi pengembangan disiplin, tanggung jawab, serta
fokus dalam mencapai prestasi olahraga. Selain itu, kurikulum akademik tetap
dilaksanakan dengan penyesuaian tertentu agar dapat selaras dengan jadwal
latihan atlet.
Seiring
waktu, SMANOR mengalami perkembangan
signifikan, baik dalam aspek fasilitas, sistem pembelajaran, maupun prestasi
atlet. Proses ini sejalan dengan tahap changing dalam teori Lewin, di mana
sekolah mulai melakukan berbagai inovasi, seperti: pengembangan fasilitas
olahraga; integrasi program latihan dengan kurikulum akademik; dan peningkatan
kualitas pembinaan atlet. Pola
perkembangan ini menunjukkan kesamaan, yaitu bahwa keberhasilan sekolah
olahraga sangat ditentukan oleh kombinasi antara: fasilitas yang memadai;
program latihan yang sistematis; manajemen yang terorganisasi; maupun dukungan
psikologis bagi atlet. Namun, SMANOR memiliki karakteristik khas sebagai
sekolah berbasis daerah, di mana dinamika perkembangan sangat dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah provinsi serta kondisi lokal. Dalam
perjalanan perkembangannya, SMAN Olahraga Jawa Timur mengalami berbagai
dinamika, baik dari segi kebijakan, fasilitas, maupun sistem pembinaan.
Dukungan pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan sarana dan prasarana,
menjadi faktor penting dalam menunjang keberlanjutan program pendidikan
olahraga di sekolah ini. Namun demikian, proses pengembangan tersebut tidak
selalu berjalan mulus dan menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan
anggaran dan kebutuhan peningkatan fasilitas.
Keberadaan SMAN Olahraga Jawa Timur
kemudian menunjukkan kontribusi yang signifikan dalam menghasilkan atlet-atlet
pelajar berprestasi. Hal ini terlihat dari partisipasi dan capaian siswa dalam
berbagai kompetisi olahraga di tingkat provinsi maupun nasional. Dengan
demikian, sejarah berdirinya SMAN Olahraga Jawa Timur tidak hanya mencerminkan
perkembangan institusi pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi
pembangunan olahraga daerah yang berorientasi pada prestasi.
2.
Proses Pembelajaran
SMAN Olaharaga Jawa Timur
Dalam
praktiknya, proses pembelajaran di SMANOR tidak sepenuhnya mengikuti pola
konvesional sekolah umum.
Table 1. Jadwal Kegiatan Siswa SMANOR Jawa Timur
|
Alokasi Waktu |
Rincian Kegiatan |
|
05.00-07.00 |
Latihan fisik dengan pelatih masing-masing cabang
olahraga |
|
07.30-14.00 |
Belajar akademik di sekolah |
|
15.00-17.00 |
Latihan ke 2 bersama pelatih masing-masing cabang
olahraga |
|
18.00-18.45 |
Belajar akademik di sekolah |
Berdasarkan
tabel jadwal kegiatan harian siswa SMANOR, terlihat bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan
memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sekolah menengah pada umumnya.
Aktivitas siswa tidak hanya berpusat pada kegiatan akademik, tetapi dirancang
untuk mengakomodasi dua peran utama peserta didik, yaitu sebagai siswa dan
sebagai atlet. Pola kegiatan dimulai sejak pukul 05.00–07.00 dengan latihan
fisik bersama pelatih masing-masing cabang olahraga, kemudian dilanjutkan
dengan pembelajaran akademik pada pukul 07.30–14.00. Setelah kegiatan akademik
selesai, siswa kembali menjalani latihan lanjutan pada pukul 15.00–17.00
sebelum mengikuti pembelajaran tambahan pada malam hari. Dari sisi kurikulum, SMANOR
mengikuti dinamika kebijakan nasional, mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), hingga Kurikulum saat ini.
Namun demikian, implementasinya mengalami penyesuaian kontekstual agar selaras
dengan kebutuhan siswa sebagai atlet. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru
SMANOR, pengaturan waktu tersebut merupakan bentuk penyesuaian sistem
pendidikan agar atlet pelajar tetap dapat menjalankan kewajiban akademik tanpa
mengurangi intensitas latihan olahraga. “anak
anak atlet usia sekolah, dia bisa belajar sekaligus berlatih tanpa harus
meninggalkan kedua-duanya. Sehingga dulu jam mengajarnya diatur jam 5-7 itu
olahraga ditangani pelatih masing-masing nanti setelah jam 7 ke sekolah
pelajaran sampai jam 2 siang. Kemudian berlatih lagi sampai habis maghrib jam
6, dilanjut malamnya jam 7 pelajaran lagi supaya memenuhi 48 jam[1].”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di SMANOR tidak menggunakan
pendekatan sekolah reguler, melainkan menerapkan sistem pendidikan yang
bersifat adaptif terhadap kebutuhan atlet. Jadwal yang padat menggambarkan
adanya upaya sekolah dalam menciptakan keseimbangan antara tuntutan prestasi
olahraga dan keberlangsungan pendidikan formal. Dalam konteks ini, sekolah
berperan sebagai lingkungan pembinaan yang mengatur aktivitas siswa secara
menyeluruh, mulai dari latihan, pembelajaran, hingga pola kehidupan sehari-hari
melalui sistem asrama.
Penerapan sistem asrama menjadi
faktor pendukung penting dalam pelaksanaan pola pendidikan tersebut. Dengan
adanya lingkungan asrama, sekolah memiliki kontrol yang lebih besar terhadap
kedisiplinan siswa, pengaturan waktu istirahat, pola makan, serta kesiapan
fisik atlet dalam menjalani latihan. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan di
SMANOR tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknik olahraga, tetapi
juga memperhatikan aspek kesehatan dan keberlanjutan performa atlet. Dengan
demikian, sistem pembelajaran SMANOR dapat dipahami sebagai bentuk pendekatan
holistik yang mengintegrasikan pendidikan, latihan olahraga, dan pengelolaan
kesejahteraan atlet (athlete well-being). Berdasarkan data wawancara
guru, kegiatan harian siswa diatur dalam jadwal yang ketat, dimulai dari
latihan fisik pada pagi hari, dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran
akademik, dan diakhiri dengan latihan lanjutan pada sore hari. Sistem ini
diperkuat dengan penerapan pola asrama, yang memungkinkan kontrol terhadap
disiplin, pola hidup, serta intensitas latihan siswa. Sistem asrama dalam
sekolah olahraga mampu menciptakan lingkungan pembinaan yang terstruktur dan
mendukung konsistensi latihan atlet pelajar.
Terlepas, jika dilihat dari sisi
kurikulum akademik, SMANOR tetap mengikuti kebijakan pendidikan nasional yang
berlaku, mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), hingga kurikulum nasional terbaru. Namun, penerapan
kurikulum tersebut mengalami modifikasi berdasarkan karakteristik peserta didik
sebagai atlet. Penyesuaian tersebut terlihat melalui pengaturan waktu belajar,
pembatasan beban tugas, serta fleksibilitas dalam mengikuti kegiatan akademik
ketika siswa harus mengikuti kompetisi atau program latihan. Hal tersebut
diperkuat melalui hasil wawancara guru: “kita mengikuti KurNas (Kurikulum Nasional), selalu
menyesuaikan, cuma kegiatan belajarnya kita modifikasi. Seperti contoh, kalo
anak SMANOR kita pulangkan jam 2 siang, takutnya ga kuat nanti, hehehe. Tidak
mungkin kita samakan dengan sekolah reguler, tugas kita batasi dari awal
berdiri sampai sekarang sama[2]”. Pernyataan tersebut menunjukkan
bahwa fleksibilitas kurikulum menjadi strategi utama SMANOR dalam
mempertahankan keseimbangan antara prestasi akademik dan olahraga. Sekolah
tidak mengurangi standar pendidikan nasional, tetapi melakukan penyesuaian
implementasi agar sesuai dengan kondisi fisik dan psikologis atlet pelajar. Hal
ini sejalan dengan konsep pendidikan olahraga yang menempatkan peserta didik
sebagai individu yang berkembang secara menyeluruh, mencakup aspek kognitif,
afektif, fisik, dan sosial.
Integrasi ini tidak hanya bersifat
administratif, tetapi juga operasional, di mana kedua aspek tersebut dirancang
untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan dan prestasi atletik. Berdasarkan
hasil wawancara guru dibawah ini: “..untuk
filosofi SMANOR ini, meskipun tidak tertulis, hanya saja dulu ketika rapat,
selalu terlontar ‘ya berlatih sambil belajar’, banyak yang tidak menyelesaikan
tugas, pr, dan tidak upacara, ya kena hukum di sekolah. Jadi kita seimbang[3].” Dalam pernyataan diatas, secara
konseptual, integrasi ini mencerminkan model pendidikan olahraga modern yang
menekankan keseimbangan antara pengembangan intelektual dan kemampuan atletik.
Dalam konteks SMANOR, integrasi tersebut diwujudkan melalui beberapa strategi,
antara lain: penyesuaian jadwal pembelajaran dengan program latihan, kolaborasi
antara guru akademik dan pelatih, serta penerapan metode pembelajaran yang
kontekstual bagi siswa atlet. “...tenaga
pendidik disini, seperti guru, ya sama dengan sekolah reguler. Banyak juga yang
sudah P3K. Terus pelatih hampir semua; Pak Bambang, Pak Sugeng, Pak Habib,
sudah mencicipi skala nasional Sea Games masih banyak. Kalo dari segi pelatih,
emang kita ga main-main. Bahkan di tahun awal, kita pernah merekrut pelatih
dari luar negeri, itu judo. Kalo gulat dari yugoslavia seinget saya[4]”
Berdasarkan data lapangan dari
pernyataan diatas, pelatih di SMANOR tidak hanya berperan sebagai instruktur
latihan, tetapi juga terlibat dalam pembinaan karakter dan pengawasan akademik
siswa. Hal ini menciptakan sinergi antara aspek akademik dan olahraga, sehingga
siswa tidak mengalami dikotomi antara “belajar” dan “latihan”. Model ini
memiliki kesamaan dengan praktik di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan,
dimana integrasi kurikulum dilakukan melalui fleksibilitas pembelajaran dan
dukungan sistem pelatihan profesional. Selain itu, integrasi ini juga didukung
oleh lingkungan belajar berbasis asrama yang memungkinkan pengawasan menyeluruh
terhadap perkembangan siswa.
3.
Perkembangan
fasilitas fisik dan nonfisik penunjang prestasi olaharaga
Pada periode awal berdirinya
(2000–2010), SMAN Olahraga Jawa Timur berada dalam fase perintisan yang
ditandai dengan keterbatasan fasilitas fisik maupun nonfisik. “Kalo
anggaran itu, semuanya di handle sama APBD. Dulu itu anggarannya hampir 4M,..”,
“..bupati Sidoarjo, Pak Win, ditawarin menaungi SMANOR, akan tetapi beliau
menolak, dikarenakan anggaran terlalu besar. Beliau mengatakan, ‘takut sekolah
yang lain pada iri, pak, soalnya SMAN 1 aja anggarannya tidak mencapai
1M’. Nah, cuma dibagi 2, untuk bangun gedung-gedung. Ini di handle sama
pemerintah pusat. Kemudian untuk biaya kesehatan dan uang saku atlet, di handle
sama pemerintah provinsi Jawa Timur…[5]” Pada masa awal pendiriannya, SMAN
Olahraga Jawa Timur diarahkan untuk membina atlet muda pada cabang olahraga
yang relatif kurang mendapatkan dukungan sponsor, seperti gulat, panjat tebing,
sepak takraw, atletik, renang, judo, dan karate. Fokus ini menunjukkan bahwa
sejak awal, sekolah tidak hanya berorientasi pada cabang olahraga populer,
tetapi juga berupaya mengembangkan potensi atlet pada cabang-cabang yang kurang
diminati namun memiliki peluang prestasi. Namun, arah pembinaan tersebut belum sepenuhnya
diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang memadai. Pada periode 2000–2008,
sarana dan prasarana yang dimiliki masih sangat terbatas, di mana fasilitas
utama hanya terdiri atas ruang kelas, lapangan sekolah, serta dua gedung
latihan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat jumlah cabang
olahraga yang dibina telah mencapai tujuh cabang. Akibatnya, penggunaan
fasilitas harus dilakukan secara bergantian antar cabang olahraga, bahkan dalam
beberapa kondisi, ruang kelas juga difungsikan sebagai tempat latihan atlet
bersama pelatih.
Temuan ini memperlihatkan adanya
ketidakseimbangan antara kebutuhan pembinaan dengan kapasitas fasilitas yang
tersedia. Meskipun jumlah siswa pada periode awal masih relatif sedikit,
peningkatan jumlah pendaftar dari tahun ke tahun menunjukkan adanya minat yang
terus berkembang terhadap SMANOR sebagai lembaga pembinaan atlet pelajar.
Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak
serta-merta menghambat daya tarik institusi, melainkan justru menjadi tantangan
yang mendorong sekolah untuk terus mengupayakan pengembangan sarana dan
prasarana.Di sisi lain, keterbatasan fasilitas tersebut tidak terlepas dari
kendala struktural dalam pengelolaan anggaran dan kebijakan. Berdasarkan data
wawancara, pada periode awal kepala sekolah belum memiliki kewenangan penuh
dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan fasilitas, karena posisi
kelembagaan SMANOR saat itu masih bersifat fungsional dan belum menjadi bagian
struktural dari Pemerintah Daerah. Kondisi ini berdampak pada lambatnya
realisasi pembangunan infrastruktur sekolah, meskipun kebutuhan akan fasilitas
terus meningkat.
Perubahan signifikan baru mulai
terjadi setelah diterbitkannya Peraturan Gubernur Nomor 120 Tahun 2008, yang
menetapkan SMAN Olahraga sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada 25 Agustus
2008. Status kelembagaan ini memberikan dampak penting terhadap pengelolaan
sekolah, terutama dalam hal akses terhadap anggaran dan kewenangan pengembangan
fasilitas. Sejak berstatus sebagai UPT, SMANOR mulai menunjukkan peningkatan
baik dari segi pengolahan maupun capaian prestasi atlet, yang secara tidak
langsung turut meningkatkan reputasi sekolah di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah pendaftar yang mencapai 161 siswa
pada periode tersebut.
Seiring dengan meningkatnya
kepercayaan masyarakat dan konsistensi prestasi yang dihasilkan, SMANOR juga
mulai melakukan pengembangan dalam aspek pembinaan olahraga. Setelah hampir
satu dekade berdiri, pada tahun ajaran 2010 sekolah menambah cabang olahraga
baru dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB), yang turut
berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah pendaftar menjadi 219 calon siswa.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa meskipun pada fase awal sekolah menghadapi
berbagai keterbatasan, proses pembinaan yang dijalankan tetap mampu
menghasilkan kepercayaan publik serta memperluas jangkauan institusi di
kalangan atlet usia dini.
Oleh karena itu, periode 2000–2010
tidak hanya menggambarkan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menunjukkan
dinamika awal perkembangan SMANOR sebagai lembaga pendidikan olahraga. Data
wawancara yang telah dipaparkan sebelumnya menguatkan bahwa kondisi
keterbatasan tersebut bukan sekadar hambatan, melainkan bagian dari proses awal
yang mendorong munculnya kebutuhan akan perubahan struktural dan penguatan
kelembagaan, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan pada periode
selanjutnya. “... berdekatan
dengan itu, ada kunjungan dari Menpora, melihat kondisi SMANOR dengan Ragunan
sangat jauh, ingin mengambil alih, jadi SMANOR ikut pemerintah pusat. Tapi
gubernur, Pak Imam Utomo, menolak. Akhirnya, mengumpulkan biro hukum dan kepala
dinas. Dari pertemuan itu menghasilkan, supaya anggaran SMANOR tidak macet.
Jadilah UPT SMANOR. Sehingga anggaran cair 30M untuk operasional, untuk
renovasi gedung, dan fasilitas serentak,..[6]”
Berdasarkan data wawancara, kondisi
sarana prasarana pada tahap ini masih jauh dari ideal untuk mendukung pembinaan
atlet secara optimal. Fasilitas seperti lapangan olahraga, peralatan latihan,
serta asrama masih terbatas baik dari segi jumlah maupun kualitas, sehingga
belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan latihan intensif siswa. Keterbatasan
tersebut tidak terlepas dari minimnya dukungan pendanaan pada masa awal
pendirian sekolah. Upaya pengajuan bantuan pembangunan fasilitas kepada
pemerintah daerah pada periode ini, sebagaimana diungkapkan dalam data
wawancara, belum sepenuhnya mendapatkan respons yang memadai. Akibatnya, proses
pembinaan atlet lebih banyak mengandalkan fasilitas yang ada dengan segala
keterbatasannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada fase awal, prioritas
institusi lebih difokuskan pada keberlangsungan operasional sekolah
dibandingkan dengan pengembangan infrastruktur secara besar-besaran.
Dari perspektif pendidikan
olahraga, keterbatasan fasilitas ini berpotensi mempengaruhi kualitas latihan
dan performa atlet. Fasilitas yang tidak memadai dapat menghambat efektivitas
latihan serta menurunkan motivasi atlet. Keterbatasan sarana dan prasarana
menjadi salah satu faktor penghambat prestasi olahraga di tingkat sekolah
menengah.
Walaupun demikian, kondisi
keterbatasan ini justru menjadi pemicu munculnya kesadaran akan pentingnya
perubahan dalam pengelolaan fasilitas. Fase ini merupakan tahap di mana
institusi mulai menyadari adanya kesenjangan antara kondisi ideal dan realitas
yang dihadapi. Kesadaran ini kemudian menjadi dasar bagi upaya perbaikan dan
pengembangan fasilitas pada periode selanjutnya. Sehingga, periode 2000–2010
tidak hanya mencerminkan keterbatasan fasilitas, tetapi juga menjadi pondasi
penting dalam proses transformasi SMAN Olahraga Jawa Timur menuju lembaga
pendidikan olahraga yang lebih terstruktur dan kompetitif.
Memasuki periode 2010–2018, SMAN
Olahraga Jawa Timur mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam aspek
fasilitas, baik fisik maupun nonfisik. Periode ini ditandai dengan meningkatnya
dukungan dari pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan sarana dan
prasarana olahraga yang lebih representatif.
Berdasarkan data lapangan, berbagai
fasilitas mulai mengalami pembangunan dan renovasi, seperti lapangan olahraga
yang lebih standar, gedung olahraga, asrama yang lebih layak, serta pengadaan
peralatan latihan yang lebih modern. Peningkatan fasilitas ini tidak dapat
dilepaskan dari peran pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas
Pemuda dan Olahraga yang mulai memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan
sekolah berbasis olahraga. Dukungan tersebut mencerminkan adanya pergeseran
kebijakan menuju pembinaan olahraga yang lebih sistematis dan terencana,
sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam pengembangan prestasi olahraga.
Setelah sebelumnya membuka cabang olahraga baru pada periode awal penguatan
UPT, pada tahun ajaran 2011 sekolah kembali menambah cabang olahraga voli
pantai. Penambahan ini menandai upaya institusi dalam memperluas cakupan
pembinaan sekaligus merespons perkembangan kebutuhan dan potensi cabang
olahraga yang kompetitif di tingkat pelajar[7]. Selain fasilitas fisik, perkembangan
juga terjadi pada aspek nonfisik, seperti peningkatan kualitas manajemen
pembinaan, sistem pelatihan yang lebih terstruktur, serta dukungan psikologis
dan nutrisi bagi atlet. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan fasilitas tidak
hanya dipahami sebagai pembangunan infrastruktur, tetapi juga sebagai upaya
peningkatan kualitas ekosistem pembinaan secara keseluruhan. yang menegaskan
bahwa keberhasilan pembinaan atlet ditentukan oleh kombinasi antara fasilitas,
program latihan, manajemen, dan dukungan psikologis.
Dalam konteks proses pembelajaran
(Bab III), peningkatan fasilitas ini juga berdampak pada kualitas integrasi
antara kegiatan akademik dan latihan olahraga. Fasilitas yang lebih memadai
memungkinkan siswa untuk menjalani latihan secara optimal tanpa mengganggu
proses pembelajaran, sehingga tercipta keseimbangan antara prestasi akademik
dan atletik. “...pada tahun
2014 dari status kita, SMA biasa, nah kita masih belum bisa memegang dana
anggaran. Kepala sekolahnya tidak berwenang di anggaran, karena statusnya bukan
struktural, melainkan fungsional. Tidak boleh mengelola APBD, sehingga uangnya
dipegang provinsi. Kalo ada apa apa, tinggal mengajukan. Tapi prosesnya tidak
berjalan dengan mulus…[8]”
Gambar
1. Gedung cabang olahraga Gulat, Pencak
Silat, Taekwondo, Judo, dan Karate
Sumber: Dokumentasi
Pribadi
Gambar
2. Gedung cabang olahraga Panjat Tebing
dan Sepatu Roda
Sumber:
Dokumentasi
Pribadi
Gambar 3.
Gedung cabang olahraga Voli Pantai
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Puncak perkembangan fasilitas pada
periode ini terjadi sekitar tahun 2014, ketika SMA Negeri Olahraga Jawa Timur
mulai mampu menyediakan sarana yang lebih representatif bagi masing-masing
cabang olahraga. Berdasarkan data wawancara, pada fase ini kebutuhan akan ruang
latihan yang sebelumnya harus digunakan secara bergantian mulai teratasi
melalui pembangunan dan pengembangan gedung-gedung latihan yang lebih spesifik.
Setiap cabang olahraga secara bertahap memperoleh ruang latihan tersendiri,
sehingga proses pembinaan dapat berlangsung lebih optimal dan terfokus. Kondisi
ini menunjukkan adanya peningkatan kapasitas fasilitas yang tidak hanya
bersifat kuantitatif, tetapi juga berdampak pada efektivitas pelaksanaan
latihan. “...jadi ini
semua hasil UPT pada tahun 2014, baru pada tahun 2018, kita dikembalikan ke SMA
lagi, di naungan provinsi. Nah, dulu sebelum UPT, fasilitas gedung kita sangat
terbatas. Latihan sering dibuat gantian, bahkan kelas yang khusus akademik,
kita buat venue latihan.[9]”
Berdasarkan informasi wawancara
tersebut, sejalan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor: 95, Tahun 2016,
tanggal 4 November 2016, tentang Nomenklatur, susunan organisasi uraian tugas
dan fungsi serta tata kerja unit pelaksanaan teknis Dinas Pendidikan Provinsi Jawa
Timur, SMAN Olahraga (SMANOR) Jawa Timur kembali lagi menjadi SMA dibawa Bidang
Pendidikan Khusus/Pendidikan Layanan Khusus (Bidang PK/PLK) sampai sekarang.
Seiring dengan peningkatan fasilitas tersebut, SMANOR juga menunjukkan
perkembangan dalam aspek pembinaan melalui penambahan cabang olahraga.
Gambar 4. Gedung
cabang olahraga Tenis Lapangan
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
Gambar 5. Gedung
cabang olahraga Sepak Takraw dan Gedung Serba Guna
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
Perkembangan tersebut berlanjut
pada tahun-tahun berikutnya, dimana SMANOR secara konsisten menambah cabang
olahraga baru sebagai bagian dari strategi penguatan kelembagaan. Pada tahun
2016, dibuka cabang olahraga anggar dan tenis meja, kemudian pada tahun 2017
ditambah lagi cabang olahraga tenis lapangan dan taekwondo. Penambahan cabang
olahraga ini tidak hanya menunjukkan peningkatan kapasitas institusi dalam
mengelola pembinaan atlet, tetapi juga mencerminkan adanya dukungan fasilitas
dan sumber daya yang semakin memadai untuk menunjang keberlangsungan program
latihan. Akan tetapi, dinamika kelembagaan masih mewarnai perkembangan SMANOR
pada periode ini. Berdasarkan data wawancara, meskipun telah berstatus sebagai
Unit Pelaksana Teknis (UPT), pengelolaan anggaran masih berada di bawah
kewenangan pemerintah provinsi, sehingga sekolah belum memiliki otonomi penuh
dalam pengelolaan dana. Kondisi ini berdampak pada proses pengajuan dan
realisasi anggaran yang tidak selalu berjalan secara optimal. Meskipun
demikian, secara bertahap dukungan pemerintah tetap mengalami peningkatan,
terutama dalam pengembangan fasilitas dan operasional pembinaan.
Periode ini kemudian ditutup dengan
perubahan status kelembagaan pada tahun 2018, di mana SMANOR dikembalikan dari
status UPT menjadi sekolah menengah atas di bawah naungan pemerintah provinsi.
Perubahan ini menandai fase baru dalam pengelolaan institusi, sekaligus
menunjukkan bahwa SMANOR telah mencapai tingkat perkembangan tertentu yang
memungkinkan integrasi kembali ke dalam sistem pendidikan menengah secara lebih
luas. Maka dari itu, data wawancara yang telah dipaparkan memperlihatkan bahwa
periode 2010–2018 merupakan fase akselerasi perkembangan yang ditandai oleh
peningkatan fasilitas, perluasan cabang olahraga, serta dinamika kelembagaan
yang berpengaruh terhadap pengelolaan sekolah. Perkembangan ini tidak hanya
mencerminkan pertumbuhan institusi secara fisik, tetapi juga menunjukkan adanya
transformasi dalam sistem pembinaan yang semakin terstruktur dan berorientasi
pada prestasi.
Perubahan ini secara langsung
berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembinaan atlet di SMAN Olahraga
Jawa Timur. Sehingga, dalam periode 2010–2018 dapat dipahami sebagai fase
akselerasi perkembangan fasilitas yang berperan penting dalam memperkuat posisi
SMAN Olahraga Jawa Timur sebagai lembaga pendidikan berbasis olahraga yang
kompetitif di tingkat provinsi.
4.
Kontribusi Perolehan
Prestasi terhadap Provinsi Jawa Timur
Jika dianalisis menggunakan teori
perubahan Kurt Lewin, kontribusi SMAN Olahraga Jawa Timur terhadap prestasi
olahraga dapat dipahami sebagai hasil dari proses perubahan organisasi yang
berlangsung secara bertahap. Pada tahap unfreezing, muncul kesadaran
akan pentingnya pembinaan atlet yang terintegrasi dengan sistem pendidikan
formal. Tahap ini ditandai dengan pendirian SMANOR sebagai respons terhadap
kebutuhan tersebut. Selanjutnya, tahap changing ditunjukkan melalui
berbagai upaya pengembangan, seperti peningkatan fasilitas, perbaikan sistem
pembinaan, serta integrasi kurikulum akademik dengan program latihan olahraga.
Tahap ini merupakan fase transformasi yang paling dinamis dalam perkembangan SMANOR.
Adapun tahap refreezing terlihat pada kondisi ketika sistem pembinaan,
fasilitas, dan prestasi telah mencapai tingkat stabilitas, dimana SMANOR secara
konsisten menghasilkan atlet berprestasi dan menjadi bagian dari sistem
pembinaan olahraga daerah.
Keberadaan Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN) Olahraga Jawa Timur di Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran,
Kabupaten Sidoarjo, merupakan bagian dari strategi pengembangan olahraga daerah
yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga pada
pembinaan prestasi atlet secara sistematis. Sejak didirikan pada tahun 2000,
SMAN Olahraga Jawa Timur berfungsi sebagai lembaga yang mengintegrasikan
pembelajaran akademik dengan program latihan olahraga intensif, sehingga mampu
menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pengembangan potensi atlet
pelajar secara optimal. Dalam konteks ini, kontribusi SMANOR tidak hanya dapat
dilihat dari aspek kuantitas prestasi yang dihasilkan, tetapi juga dari proses
pembinaan, sistem pendidikan, serta dukungan kelembagaan yang berkelanjutan.
Kontribusi pertama yang dapat
diidentifikasi adalah dalam aspek pengembangan potensi atlet pelajar. SMAN Olahraga
Jawa Timur menerapkan sistem pendidikan berbasis asrama yang memungkinkan siswa
menjalani rutinitas yang terstruktur dan disiplin. Berdasarkan hasil wawancara
dengan guru, aktivitas siswa telah diatur sejak pagi hari, dimulai dari latihan
fisik hingga kegiatan akademik, sehingga tercipta keseimbangan antara
pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan olahraga. Pola pembinaan
ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar,
tetapi juga sebagai pusat pelatihan atlet yang terintegrasi. Integrasi ini
memperkuat proses internalisasi nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung
jawab, dan kerja keras yang menjadi pondasi penting dalam pencapaian prestasi
olahraga. Disamping itu, proses pembelajaran di SMANOR juga dirancang secara
adaptif terhadap kebutuhan siswa sebagai atlet. Penyesuaian jadwal belajar
dengan waktu latihan, kolaborasi antara guru akademik dan pelatih, serta
penggunaan metode pembelajaran yang kontekstual menjadi bagian dari strategi
untuk memastikan bahwa siswa tetap dapat mencapai kompetensi akademik tanpa
mengabaikan tuntutan latihan. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi SMANOR tidak
hanya dalam menghasilkan atlet berprestasi, tetapi juga dalam menciptakan model
pendidikan olahraga yang integratif dan berkelanjutan.
Kontribusi berikutnya berkaitan
dengan perkembangan fasilitas sebagai faktor penunjang utama dalam pembinaan
prestasi. Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, perkembangan
fasilitas di SMAN Olahraga Jawa Timur mengalami peningkatan signifikan terutama
pada periode 2010–2018. Ketersediaan sarana seperti lapangan olahraga, gedung
latihan, asrama, serta peralatan latihan yang lebih modern memberikan dampak
langsung terhadap kualitas pembinaan atlet. Fasilitas yang memadai memungkinkan
pelaksanaan latihan yang lebih terarah, meningkatkan intensitas dan kualitas
latihan, serta mengurangi risiko cedera bagi atlet pelajar.
Dalam perspektif empiris, temuan
ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyatakan bahwa kualitas sarana
dan prasarana memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas pembinaan
olahraga dan pencapaian prestasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
peningkatan fasilitas di SMANOR menjadi salah satu faktor penting yang
berkontribusi terhadap peningkatan prestasi atlet pelajar di tingkat provinsi
maupun nasional. Kontribusi SMAN Olahraga Jawa Timur terhadap Provinsi Jawa
Timur secara konkret dapat dilihat dari keterlibatan dan pencapaian atlet dalam
berbagai ajang kompetisi. Atlet-atlet yang dibina di SMANOR secara konsisten
mewakili Jawa Timur dalam kompetisi seperti Pekan Olahraga Pelajar Nasional
(POPNAS), kejuaraan antar pelajar, serta event olahraga lainnya. Tidak hanya
sebagai peserta, atlet dari SMANOR juga berhasil meraih berbagai prestasi
yang turut menyumbang perolehan medali bagi Provinsi Jawa Timur.
Table 2. Rekapitulasi Perolehan Prestasi SMAN Olahraga
Jawa Timur
|
Tahun |
Perolehan Prestasi SMAN Olahraga Jawa Timur |
|
|
Nasional |
Internasional |
|
|
2010 |
48 |
2 |
|
2011 |
179 |
4 |
|
2012 |
158 |
29 |
|
2013 |
193 |
19 |
|
2014 |
139 |
15 |
|
2015 |
162 |
14 |
|
2016 |
109 |
14 |
|
2017 |
262 |
47 |
|
2018 |
289 |
20 |
Sumber: Observasi
SMAN Olahraga Jawa Timur
Sebagai Berdasarkan data tersebut, terlihat
bahwa kontribusi SMAN Olahraga Jawa Timur dalam menghasilkan prestasi atlet
menunjukkan pola perkembangan yang cenderung meningkat, meskipun mengalami
fluktuasi pada beberapa tahun tertentu. Pada periode 2010–2018, jumlah prestasi
tingkat nasional mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari 48 capaian
pada tahun 2010 menjadi 289 capaian pada tahun 2018. Peningkatan tersebut
menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang diterapkan oleh SMANOR mengalami
perkembangan dari sisi kualitas maupun kapasitas dalam menghasilkan atlet
berprestasi. Selain itu, capaian tingkat internasional juga menunjukkan
perkembangan positif, terutama pada tahun 2017 dengan perolehan tertinggi
sebanyak 47 prestasi internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan yang
dilakukan tidak hanya mampu memenuhi standar kompetisi tingkat daerah dan
nasional, tetapi juga mulai menghasilkan atlet yang mampu bersaing pada tingkat
yang lebih luas.
Jika dilihat secara lebih mendalam,
peningkatan prestasi tersebut tidak terjadi secara terpisah dari perkembangan
kelembagaan SMANOR. Periode peningkatan capaian prestasi tersebut beriringan
dengan perkembangan fasilitas, penguatan sistem pembinaan, serta peningkatan
kualitas sumber daya manusia yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Perubahan status kelembagaan dan peningkatan dukungan pemerintah daerah
memberikan ruang bagi sekolah untuk memperbaiki sistem pelatihan, menyediakan
fasilitas yang lebih memadai, serta meningkatkan kualitas layanan pendukung
bagi atlet. Dengan demikian, data prestasi pada Tabel 6 tidak hanya menunjukkan
jumlah perolehan medali atau kejuaraan, tetapi juga menggambarkan keberhasilan
proses transformasi SMANOR sebagai lembaga pendidikan berbasis olahraga.
Namun demikian, perlu dipahami
bahwa peningkatan prestasi atlet tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fasilitas
maupun sistem organisasi secara langsung. Prestasi merupakan hasil interaksi
berbagai faktor, seperti kualitas pelatih, konsistensi latihan, kondisi fisik
dan psikologis atlet, dukungan keluarga, serta lingkungan pembinaan yang
mendukung. Oleh karena itu, perkembangan capaian prestasi dalam tabel tersebut
dapat dipahami sebagai indikator keberhasilan ekosistem pembinaan yang dibangun
oleh SMANOR, bukan sebagai hasil dari satu faktor tunggal.
Meskipun data kuantitatif
menunjukkan peningkatan capaian prestasi, terdapat keterbatasan dokumentasi
terutama pada periode awal berdirinya SMANOR (2000–2010). Berdasarkan hasil
wawancara, kondisi tersebut disebabkan oleh sistem administrasi dan pendataan
prestasi yang pada masa awal masih belum terstruktur secara optimal. Selain
itu, fokus utama sekolah pada periode awal lebih diarahkan pada pembangunan
sistem pembinaan, pemenuhan kebutuhan dasar atlet, serta pengembangan
fasilitas, sehingga dokumentasi prestasi belum menjadi prioritas utama. Kondisi
ini menyebabkan sebagian capaian atlet pada periode tersebut belum
terdokumentasi secara lengkap.
Untuk memperkuat pemahaman mengenai
kontribusi SMANOR terhadap perkembangan olahraga Jawa Timur, data kuantitatif
tersebut juga perlu dilihat melalui pengalaman dan capaian individu atlet yang
menjadi bagian dari proses pembinaan sekolah. Keberhasilan SMANOR
mencetak atlet muda seperti Sarah
Tria Monita cabang olahraga Pencak Silat Juara 3 kelas F Remaja Putri ASEAN
Schools Games 4 yang dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 4 juli 2012, Bima Dea Sakti Antono cabang
olahraga selam juara 3 Estafet 4x200m Surface kompetisi Asian Junior Fin
Swimming Competitionn yang dilaksanakan di Da Nang Vietnam pada 10 November
2012. tidak hanya
tercermin dari jumlah prestasi yang tercatat, tetapi juga dari perjalanan atlet
yang mampu berkembang melalui sistem pendidikan, latihan, dan dukungan
kelembagaan yang tersedia. Beberapa atlet lulusan maupun peserta didik SMANOR
kemudian berhasil mencapai tingkat prestasi yang lebih tinggi melalui berbagai kompetisi
nasional maupun internasional.
Capaian individu tersebut menjadi
bukti empiris bahwa sistem pembinaan yang diterapkan di SMANOR mampu memberikan
kontribusi nyata terhadap perkembangan atlet pelajar, sekaligus memperkuat
posisi sekolah sebagai salah satu lembaga strategis dalam pembinaan olahraga
prestasi di Provinsi Jawa Timur Seiring
berjalannya waktu, peran pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa
Timur, menjadi semakin signifikan dalam mendukung pengembangan SMANOR. Dukungan
tersebut diwujudkan dalam bentuk peningkatan anggaran, pembangunan fasilitas,
serta penguatan program pembinaan atlet. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan
SMANOR tidak terlepas dari sinergi antara pihak sekolah dan pemerintah sebagai
pemangku kebijakan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
SMANOR tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai model
pembinaan atlet pelajar berbasis integrasi sistemik. Sebagai hasilnya,
kontribusi SMAN Olahraga Jawa Timur terhadap Provinsi Jawa Timur tidak hanya terbatas
pada pencapaian prestasi dalam bentuk medali atau kejuaraan, tetapi juga
mencakup peran strategis dalam membangun sistem pembinaan atlet pelajar yang
terstruktur dan berkelanjutan. Keberhasilan ini merupakan hasil dari integrasi
antara proses pembelajaran, ketersediaan fasilitas, kualitas pembinaan, serta
dukungan pemerintah daerah. SMANOR tidak hanya berfungsi sebagai lembaga
pendidikan, tetapi juga sebagai institusi yang berperan penting dalam mencetak
atlet pelajar yang mampu bersaing di tingkat regional, nasional, hingga
internasional.
SIMPULAN
Perkembangan SMAN Olahraga Jawa Timur (SMANOR) pada
periode 2000–2018 menunjukkan keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam
membangun sistem pembinaan atlet pelajar yang terintegrasi dengan pendidikan
formal. Sejak berdiri pada tahun 2000, SMANOR hadir untuk mengatasi
permasalahan atlet usia sekolah dengan menggabungkan pendidikan akademik dan
pembinaan olahraga melalui sistem asrama, penyesuaian jadwal belajar, serta
koordinasi antara guru dan pelatih.
Perkembangan kelembagaan dan peningkatan fasilitas
turut memperkuat kualitas pembinaan. Perubahan status menjadi Unit Pelaksana
Teknis (UPT) mendorong peningkatan dukungan pemerintah melalui pembangunan
fasilitas olahraga, penyediaan peralatan, serta pengembangan cabang olahraga.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya
bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada manajemen, kebijakan pemerintah,
dan kualitas sumber daya manusia.
Pada periode 2010–2018, prestasi atlet SMANOR di
tingkat nasional dan internasional menunjukkan kecenderungan meningkat meskipun
mengalami fluktuasi pada beberapa tahun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa
integrasi pendidikan, latihan olahraga, sistem asrama, kualitas pelatih,
dukungan pemerintah, dan penguatan kelembagaan telah berkontribusi terhadap
perkembangan prestasi olahraga Jawa Timur. Dengan demikian, SMANOR menjadi
salah satu institusi strategis dalam pembinaan dan pengembangan atlet pelajar di
Jawa Timur.
REFERENSI
Abdullah,
F. M., & Setijono, H. (2018). Profil proses pembelajaran siswa Sekolah
Menengah Atas Negeri Olahraga Sidoarjo tahun 2017. Jurnal Prestasi
Olahraga, 1(1). Universitas Negeri Surabaya.
Adi, R.
W., & Kurniawan, A. (2019). Analisis pemanfaatan sarana olahraga di sekolah
dasar negeri. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 8(2), 55–63.
Algemeen
Verslag van het Onderwijs in Nederlandsch-Indië, Eerste Deel: Tekst, 1916–1917.
(1918). Departement van Onderwijs.
Anwar, Y.
(2018). Kondisi fasilitas olahraga dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran
PJOK. Jurnal SPORTIF, 4(2), 134–142.
Bin
Kahar, M. J. (2018). Sejarah dan perkembangan Sekolah Menengah
Kebangsaan Agama Sibu Sarawak, Malaysia tahun 1985–2018 M [Skripsi,
UIN Sunan Ampel Surabaya]. Digilib UIN Sunan Ampel.
Dinas
Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. (n.d.). SMANOR, sekolah
pencetak atlet berprestasi. https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/615
Fajar,
M., & Widiastuti, W. (2019). Hubungan kualitas sarana olahraga dengan
prestasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Jasmani, 7(2), 112–120.
Gustian,
U., Saputra, D. R., Rakhmat, C., Yustiana, Y. R., & Primayanti, I. (2024).
Physical education and its scope: A literature review of empirical studies with
a holistic perspective teaching practices in Indonesia. Indonesian
Journal of Physical Education and Sport Science, 4(2), 171–186.
https://doi.org/10.52188/ijpess.v4i2.729
Hafsari,
A. D. A., Darmawan, A., Wahyudi, U., & Yudasmara, D. S. (2024). Kelayakan
sarana pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dan prestasi olahraga di SMK
Negeri se-Kabupaten Tulungagung tahun 2022. Sport Science and Health.
Lewin, K.
(1947). Frontiers in group dynamics: Concept, method and reality in social
science; social equilibria and social change. Human Relations, 1(1),
5–41.
Republik
Indonesia. (2005). Presiden Republik Indonesia.
Staatsblad
van Nederlandsch-Indië. (1932). Staatsblad van Nederlandsch-Indië (No.
230).
Sukadiyanto,
D., & Muluk. (2011). Pengantar teori dan metodologi melatih fisik.
Lubuk Agung.
[1] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[2] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[3] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[4] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[5] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[6] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[7] “SMANOR, Sekolah Pencetak Atlet Berprestasi,” Dinas
Kominfo Jawa Timur, n.d., https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/615.
[8] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”
[9] “Wawancara Dengan Budi Moeljono, SMANOR Jawa Timur.”