Syarifah Rahmah1, Syarifah Widya Ulfa2, Rasyidah3
1,2,3Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sumatera Utara
Abstract
This study
aims to determine the effect of implementing the Problem-Based Learning (PBL)
model on students' problem-solving abilities and learning outcomes in the
growth and development of living things topic in grade XI of SMA Swasta Cerdas
Murni. This study used a quasi-experimental method with a Non-Equivalent
PretestPosttest Control Group Design. The study sample consisted of two
classes: Grade XI Science 1 as the experimental class taught using the PBL
model and Grade XI Science 2 as the control class taught using the conventional
learning model, each with 29 students. Data collection was conducted through
pretests and posttests to measure students' problem-solving abilities and
learning outcomes. Data analysis was performed using normality tests, homogeneity
tests, and One-Way ANOVA tests with a significance level of 0.05. The results
showed that the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model had a
significant impact on students' problem-solving abilities and learning
outcomes. This is evident from the higher average posttest scores in the
experimental class compared to the control class. The ANOVA significance value
was 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the two
classes. Thus, the application of the Problem-Based Learning model has proven
effective in improving students' problem-solving skills and learning outcomes
in the topic of growth and development of living things.
Keywords: Problem-Based Learning,
problem-solving skills, learning outcomes, growth and development of living
things
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi
pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup di kelas XI SMA Swasta Cerdas Murni.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu ( quasi eksperimen ) dengan
desain Non-Equivalent PretestPosttest Control Group Design . Sampel penelitian
terdiri dari dua kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang
diajar menggunakan model PBL dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol yang
diajar menggunakan model pembelajaran konvensional, masing-masing berjumlah 29
siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tes pretest dan posttest untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah serta hasil belajar siswa. Analisis data
dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji One Way ANOVA dengan
taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari
peningkatan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai signifikansi uji ANOVA sebesar 0,000
< 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas.
Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning terbukti efektif dalam
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi
pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.
Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampuan pemecahan masalah, hasil belajar, pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup
PENDAHULUAN
Pendidikan di abad ke-21 menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan
dinamis seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat. Transformasi digital,
kemajuan teknologi informasi, serta perubahan sosial dan ekonomi yang telah
mengubah cara hidup dan bekerja, yang pada gilirannya menuntut adanya
penyesuaian dalam sistem pendidikan. Siswa pada abad ini dicirikan oleh fakta
bahwa mereka dituntut untuk belajar dan berinovasi dalam Pembelajaran, literasi
digital, serta Pembelajaran hidup dan karier (Virmayanti dkk., 2023).
Pendidikan tidak lagi cukup hanya
berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan harus mendorong pengembangan
kompetensi untuk memecahkan masalah. Trilling dan Fadel (2019) menyatakan bahwa pendidikan abad ke-21 harus
mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan
kolaborasi sebagai bekal utama siswa dalam menghadapi tantangan global. Selain
itu, Redhana (2019) menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus
pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi
juga mendorong pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi, khususnya
kemampuan pemecahan masalah.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan dikelas XI Cerdas Murni,
diketahui bahwa guru biologi menggunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) dalam proses
belajar-mengajar. Model ini berpusat pada guru (teacher-centered), dimana guru menyampaikan materi secara langsung
kepada siswa tanpa melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran.
Kondisi ini menyebabkan siswa menjadi pasif, mudah mengantuk, cepat merasa
bosan, kurang fokus, serta kurang
terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Selain itu, hasil observasi
yang dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih
tergolong rendah.
Metode pembelajaran tidak semata-mata untuk memenuhi aturan,
tetapi juga perlu
memperhatikan faktor tertentu, seperti karakteristik materi yang disampaikan dan siswa yang diajar. Menurut
Riyadi (2019) menyatakan bahwa sebaik apapun metode pembelajaran, namun jika
penerapannya kurang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa justru membuat
tujuan yang ingin dicapai kurang maksimal dalam penyampaiannya. Hal ini sesuai
dengan tuntutan zaman pada abad ini bahwa siswa dituntut untuk belajar
berinovasi dalam pembelajaran, literasi digital, pemecahan masalah serta
pembelajaran hidup dan karier. Berdasarkan hal tersebut, penelitian
ini menerapkan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) sebagai pendekatan yang berorientasi pada penyelesaian
masalah nyata, dengan tujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan
kreatif siswa, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah
(Jonita et al., 2020). Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada upaya
untuk mengkaji pengaruh penerapan model PBL terhadap kemampuan pemecahan
masalah dan hasil belajar siswa kelas XI di SMA Cerdas Murni.
METODE
Metode Penelitian yang digunakan adalah metode quasi experiment
(eksperimen semu) dengan model penelitian Non-Equivalent Preetest Posttest
Control Groups Design dengan memberikan soal pretest sebelum dikenakan
perlakuan serta posttest sesudah dikenakan perlakuan yang melibatkan siswa SMA Swasta Cerdas Murni kelas XI yang pada
Setiap kelasnya memiliki 29 siswa. Pada siswa kelas XI 1 yang
merupakan kelas kontrol dan kelas XI 2 yang merupakan kelas
eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
berupa tes yang bertujuan untuk mengukur
kemampuan pemecahan masalah
dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.
Tes disusun berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang mengacu pada
kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Bentuk tes yang
digunakan terdiri atas soal uraian yang dirancang untuk mengungkap kemampuan
siswa dalam memahami permasalahan, menganalisis informasi, serta menentukan
solusi yang tepat berdasarkan konsep Biologi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis statistik
deskriptif, nilai rata-rata (mean) kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas
eksperimen yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) sebesar 90,
sedangkan nilai rata-rata pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran
konvensional hanya mencapai 85. Perbedaan nilai rata-rata tersebut menunjukkan
bahwa siswa yang dibelajarkan dengan model PBL memiliki kemampuan pemecahan
masalah yang lebih baik dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Selain itu, pada
variabel hasil belajar siswa, kelas eksperimen juga menunjukkan capaian yang
lebih tinggi dengan nilai rata-rata posttest sebesar 83, sementara kelas
kontrol memperoleh nilai rata-rata yang rendah yaitu 78. Tingginya nilai
rata-rata pada kelas eksperimen mengindikasikan bahwa penerapan PBL mampu
mendorong siswa untuk memahami konsep materi pertumbuhan dan perkembangan
makhluk hidup secara lebih mendalam melalui aktivitas pemecahan masalah,
diskusi, dan analisis. Sebaliknya, pembelajaran konvensional yang lebih berpusat
pada guru cenderung menghasilkan keterlibatan siswa yang lebih rendah, sehingga
berdampak pada capaian nilai rata-rata yang tidak setinggi kelas eksperimen.
Dengan demikian, perbedaan nilai rata-rata tersebut memberikan gambaran awal
bahwa model Problem Based Learning (PBL) lebih efektif dibandingkan
pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan
hasil belajar siswa.
Hasil uji homogenitas pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar
menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu pada kemampuan pemecahan sebesar 0,395
dan pada hasil belajar sebesar 0,901, yang menunjukkan nilai keduanya lebih
besar dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini membuktikan bahwa data dari kelas eksperimen
dan kelas kontrol memiliki varian yang sama atau homogen. Kondisi ini penting
karena menandakan bahwa kemampuan awal siswa pada kedua kelas relatif setara,
sehingga perbedaan hasil posttest yang diperoleh lebih dapat dikaitkan dengan
perlakuan pembelajaran yang diberikan, bukan karena perbedaan dasar antar
kelompok. Keseragaman data ini sejalan dengan pendapat Sari (2020) yang
menjelaskan bahwa homogenitas varian menjadi syarat penting untuk menjamin
keadilan dalam membandingkan dua kelompok dalam penelitian. Senada dengan hal
tersebut, Hidayat (2020) mengungkapkan bahwa ketika kelas eksperimen dan
kontrol homogen sebelum perlakuan, maka penerapan model Problem Based Learning
(PBL) dapat menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan
masalah siswa. Hal ini diperkuat oleh Wulandari (2020) yang menegaskan bahwa
homogenitas merupakan salah satu syarat validitas penelitian, sebab tanpa
adanya keseragaman awal sulit memastikan bahwa peningkatan hasil belajar
benar-benar berasal dari perlakuan yang diberikan.
Berdasarkan
hasil uji one way anova pada kemampuan pemecahan masalah diperoleh nilai
signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa antara
kelas eksperimen yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) dan
kelas kontrol yang diajar secara konvensional. Perbedaan tersebut terlihat dari
rata-rata nilai posttest, dimana kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata
73,966 sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 65,862. Pada indikator pertama
memahami masalah terdapat 22 siswa (76%) yang menjawab benar pada soal 1, 25
siswa (86%) pada soal 2, dan 24 siswa (83%) pada soal 3. Pada indikator kedua
merencanakan penyelesaian, capaian persoal adalah 20 siswa (69%) untuk soal 1,
23 siswa (79%) untuk soal 2, dan 22 siswa (76%) untuk soal 3. Pada indikator
ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, capaian masing- masing soal adalah 18
siswa (62%) pada soal 1, 20 siswa (69%) pada soal 2, dan 18 siswa (62%) pada
soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil memiliki
pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 16 siswa (55%) pada soal 1, 19
siswa (66%) pada soal 2, dan 16 siswa (55%) pada soal 3. Sementara itu, hasil
pada kelas kontrol menampilkan kemampuan yang lebih rendah di setiap indikator.
Pada indikator pertama memahami masalah terdapat 18 siswa (62%) yang menjawab
benar pada soal 1, 22 siswa (76%) pada soal 2, dan 20 siswa (69%) pada soal 3.
Pada indikator kedua penyelesaian, capaian persoal adalah 15 siswa (52%) untuk
soal 1, 18 siswa (62%) untuk soal 2, dan 16 siswa (55%) untuk soal 3. Pada
indikator ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, kemampuan masing-masing
soal adalah 13 siswa (45%) pada soal 1, 15 siswa (52%) pada soal2, dan 14 siswa
(48%) pada soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil
memiliki pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 11 siswa (34%) pada soal
1, 13 siswa (45%) pada soal 2, dan 12 siswa (41%) pada soal 3.
Perbedaan kemampuan antar indikator dari kedua data
tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah lebih
menonjol pada tahap awal, yaitu mengidentifikasi permasalahan. Perolehan nilai
dan jumlah siswa pada kelas eksperimen menunjukkan penerapan PBL dapat
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa secara lebih efektif. Nilai yang
diperoleh siswa pada kelas eksperimen tidak terjadi secara kebetulan, melainkan
hasil dari proses berbasis masalah yang menuntut siswa aktif berpikir pembelajaran
kritis, mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, serta merumuskan
solusi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari
(2021) yang menyatakan bahwa peningkatan nilai siswa melalui PBL terjadi karena
mereka terbiasa menghubungkan konsep dengan permasalahan nyata yang menuntut
penalaran. Hal tersebut dapat dilihat dari semua soal yang diberikan.
Aktivitas ini membuat siswa memahami konsep secara
mendalam dan
mampu menerapkannya dalam situasi baru. Hal ini berbeda dengan kelas kontrol,
dimana pembelajaran hanya mengkomunikasikan informasi secara langsung tanpa
banyak melibatkan siswa dalam proses penalaran, sehingga nilai yang diperoleh
relatif lebih rendah. Kemudian penelitian dari Ananda (2019) menegaskan bahwa
siswa yang dibelajarkan dengan PBL memperoleh nilai lebih tinggi karena mereka
tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menyusun strategi penyelesaian
masalah secara mandiri maupun kelompok. Selain itu juga Rahmawati (2021)
menemukan bahwa penggunaan model Problem Based Learning merupakan pembelajaran
berbasis masalah yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan hasil belajar,
tetapi juga berperan penting dalam menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah.
Hasil uji one way anova pada variabel hasil belajar siswa menunjukkan
nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan
yang signifikan antara hasil belajar siswa pada kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen. Hasil ini menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil
belajar siswa pada materi pertumbuhan
dan perkembangan makhluk hidup.
Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil skor posttest yang diraih siswa
pada kelas eksperimen yaitu 83. Pada
soal nomor 1 yang mewakili level C2 (pemahaman), sebanyak 26 siswa (90%) dapat
menjawab dengan benar. Selanjutnya, pada soal nomor 2 yang mengukur kemampuan
C3 (penerapan), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 24 orang (83%). Pada
soal nomor 3 yang berada pada level C4 (analisis), terdapat 23 siswa (79%) yang
mampu memberikan jawaban tepat. Pada soal nomor 4 yang berhubungan dengan C5
(evaluasi), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 22 orang (76%). Terakhir, pada
soal nomor 5 yang mengukur C6 (menciptakan), sebanyak 20 siswa (69%) dapat
menjawab dengan benar. Sementara itu, capaian siswa pada kelas kontrol relatif
lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Pada soal nomor 1 (C2), sebanyak 24
siswa atau 83% mampu menjawab dengan benar. Pada soal nomor 2 (C3), jumlah siswa
yang menjawab benar menurun menjadi 20 orang atau 69%. Selanjutnya pada soal
nomor 3 (C4), terdapat 18 siswa atau 62% yang menjawab dengan benar. Pada soal
nomor 4 (C5), hanya 16 siswa atau 55% yang mampu menyelesaikan soal, sedangkan
pada soal nomor 5 (C6) jumlah siswa yang menjawab benar terdapat 13 orang atau
45%.
Data ini menunjukkan bahwa pola penurunan kemampuan pada kelas kontrol
lebih tajam dibandingkan dengan kelas eksperimen, terutama pada soal- soal
dengan tingkat kognitif yang lebih tinggi. Hasil ini juga menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat kognitif yang diukur, jumlah siswa yang mampu memberikan
jawaban benar semakin menurun, meskipun persentase keberhasilan pada kelas
eksperimen masih berada pada kategori cukup baik. Perolehan nilai pada kelas
eksperimen menampilkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) mampu
memberikan perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Demikian
pula pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2022) bahwa PBL efektif dalam
meningkatkan prestasi akademik siswa pada mata pelajaran biologi, karena
strategi ini melibatkan siswa secara aktif dalam kolaborasi, komunikasi, dan
pemecahan masalah. Kemudian Suhendra (2021) juga menunjukkan hasil serupa bahwa
penerapan PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan analisis kemampuan siswa
karena pembelajaran ini fokus pada keterlibatan langsung siswa dalam menemukan
konsep melalui pengalaman belajar yang bermakna.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model Problem Based
Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Model Problem
Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan
makhluk hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Afifa, C.T.M., Agustina , E, Widyanto, A. 2024. The implementation of the
problembased learning and tiktok video to enhance student learning outcomes and
activities. Jurnal Pendidikan. 10 (2):
1-11.
Anugraheni, Indri. dkk. (2018). Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar
siswa melalui model pembelajaran problem based learning (pbl) pada siswa kelas 4 sd: kajian penelitan pendidikan
dan pembelajaran, 3(1), 287-293
Astriani Hilda. (2021). Pengaruh penerapan model pembelajaran problem
based learning (pbl) terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas vii smp negeri
35 banjarmasin pada materi ketergantungan dalam ekosistem. Jurnal Pendidikan Hayati, Vol.7 No.2, 83 – 92
Elitasari, H. T. (2022).
Kontribusi guru dalam meningkatkan
kualitas pendidikan abad 21.
Jurnal basicedu, 6(6), 9508–9516. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i6.4120
Fahmidani, Y., Andayani, Y., Srikandijana, J., & Purwoko, A. A.
(2019). Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dengan media lembar kerja
terhadap hasil belajar siswa sma. chemistry education practice, 2(1), 1–5.
Fatimah, S., & Apriono, D. (2024). Model pembelajaran kolaboratif
berbasis on line di era copyright @
mila karina, loso judijanto, ai rukmini, muhammad sukron fauzi, muhammad
arsyad milenial ( alternative pemecahan
masalah). jurnal
darma agung, 32(1), 407–413.
Gade, M. 2022. Penerapan model problem based learning (pbl) pada materi
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas xii mipa-1 sma negeri 1 indrajaya. jurnal
pendidikan dan keguruan. 2 (2) : 53-57
Helmi, Dwifinura Meutia, & Selaras, Ganda Hijrah, (2024). Pengaruh
model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap keterampilan pemecahan
masalah siswa pada materi biologi sman 1 sarolangun. jurnal pendidikan tambusai, volume 8 nomor 1.
Julung, Hendrikus. 2016. Pengaruh model problem based learning (pbl)
terhadap kemampuan memecahkan masalah
dan hasil belajar kognitif
siswa biologi sma.
Kurniawan, B., Dwikoranto, D., & Marsini, M. (2023). Implementasi
problem based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa: studi
pustaka. practice of the science of teaching journal: Jurnal Praktisi Pendidikan, 2(1), 27–36. https://doi.org/10.58362/hafecspost.v2i1.28.
Nisa, R., Desstya, A., & Prasetyo, E. H. (2020). Peningkatkan
keterampilan kolaborasi melalui model pembelajaran problem based learning pada
mata pelajaran matematika sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 3(2), 524–532. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i2.7351
Nurbaya, S. (2021). Peningkatan
kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah melalui model problem based
learning (pbl) pada pembelajaran tematik kelas
vi sdn 19 cakranegara. pendagogia. Jurnal
Pendidikan Dasar, 1(2), 106–113. https://jurnal.educ3.org/index.php/pendagogia/article/view/29
Ramadhani Mita & Ely Djulia. (2025). Pengaruh model problem based
learning (pbl) dengan pendekatan stem terhadap kemampuan pemecahan masalah dan
sikap ilmiah siswa materi ekologi. Jurnal
Biologi dan Pembelajarannya. Volume 12, Nomor 1.
Redhana, I. W. (2019).
Mengembangkan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran kimia. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia.
Rofiudin, A., Prasetya, L. A., & Prasetya, D. D. (2022). Pembelajaran
kolaboratif di smk : peran kerja sama siswa dalam meningkatkan keterampilan
soft skills. Journal of Education
Research, 5(4), 4444–4455.
Riyadi, Ahmad. (2019). Implementasi model project based learning dalam
pembelajaran biologi terhadap kemampuan komunikatif, kolaboratif, berpikir
kritis, dan kreatif siswa sma. TESIS. Universitas Negeri Semarang.
Rumapea Puspitasari, dkk, (2022). Pengaruh
model pembelajaran problem based learning (pbl) dalam meningkatkan hasil
belajar siswa pada materi sel di kelas xi sma negeri 2 bandar. Jurnal Pendidikan dan Konseling, Volume
4 Nomor 6.
Surakhmad, Winarno. (2012). Pengantar penelitian ilmiah, dasar, metode
dan tehnik, tarsito. Bandung.
Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills:
learning for life in our times.
San Francisco, CA: Jossey-Bass.
Virmayanti, K. N., Suastra, W. I., & Suma, Ketut, I. (2023).
Inovasi dan kreativitas guru dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran abad 21. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 6(4),
515–527.
Wijaya nuriman., 2023. Pengaruh
model problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas vii pada materi
fotosintesis di smp negeri 16 palangka raya. Journal of Biological Science and Education. Volume 4 Number