Showing posts with label Model Pembelajaran Problem Based Learning. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran Problem Based Learning. Show all posts

Wednesday, May 6, 2026

Pelatihan Pembuatan Aplikasi Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Microsoft Power Point Pada Anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok

Training on Developing Interactive Learning Media Applications Using Microsoft PowerPoint for Members of the IV Demlat Regiment, Mobile Brigade Corps (Brimob), Indonesian National Police, Kelapa Dua Cimanggis, Depok | Amalia | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia


Rini Amalia, Sri Melati Sagita, Intan Mutia, Ahmad Faisal

Universitas Indraprasta PGRI

Email : 61tamelati2013@gmail.com 


Abstrak

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan instruktur dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft PowerPoint pada anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Latar belakang kegiatan ini adalah masih terbatasnya penggunaan media pembelajaran yang interaktif, di mana proses pelatihan cenderung menggunakan metode ceramah dan buku sebagai sumber utama sehingga kurang menarik dan kurang efektif. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah workshop dengan pendekatan praktik langsung, meliputi pemberian materi dasar, demonstrasi, serta pendampingan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif. Peserta terdiri dari staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) serta staf Koordinator Instruktur (Korins). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan mulai mampu mengembangkan media pembelajaran berbasis PowerPoint, meskipun masih terdapat keterbatasan pada sebagian peserta dalam penguasaan dasar komputer. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan instruktur dalam menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pelatihan di lingkungan Brimob.

Kata kunci: media pembelajaran interaktif, Microsoft PowerPoint, e-learning, pelatihan instruktur, Brimob Polri

Abstract

This community service activity aims to improve instructors’ ability to develop interactive learning media using Microsoft PowerPoint for members of the IV Demlat Regiment of the Mobile Brigade Corps (Brimob) of the Indonesian National Police in Kelapa Dua, Cimanggis, Depok. The background of this activity is the limited use of interactive learning media, where the training process tends to rely on lecture methods and books as the main sources, making it less engaging and less effective. The implementation method used was a workshop with a hands-on practice approach, including the delivery of basic materials, demonstrations, and mentoring in developing interactive learning applications. Participants consisted of staff from the Testing and Development Unit (Ujibang) and the Instructor Coordinator Unit (Korins). The results showed that participants were highly enthusiastic in attending the training and began to be able to develop PowerPoint-based learning media, although some participants still had limitations in basic computer skills. Overall, this training succeeded in improving instructors’ understanding and skills in presenting more engaging and interactive learning materials, which is expected to enhance the quality of the training process within Brimob.

Keywords: interactive learning media, Microsoft PowerPoint, e-learning, instructor training, Brimob Polri


PENDAHULUAN

Demlat Korps Brimob Polri merupakan Demonstrasi dan Latihan Brigade Mobil atau sering disingkat Brimob adalah unit (Korps) tertua di dalam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) karena mengawali pembentukan kepolisian Indonesia pada tahun 1945. Korps ini dikenal sebagai Korps Baret Biru Tua. Brimob termasuk satuan elit (pasukan khusus) dalam jajaran kesatuan Polri, Brimob juga tergolong ke dalam sebuah unit paramiliter ditinjau dari tanggung jawab dan lingkup tugas kepolisian. 

Pelaksanaan pelatihan yang diselenggarakan meliputi kegiatan tatap muka di kelas, pelatihan di lapangan dan ujian dari materi pelatihan yang telah dilaksanakan. Sebagai Pusat Pelatihan, kualitas seorang instruktur/ pelatih merupakan salah satu nilai tambah bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk mampu memberikan pelatihan sehingga menghasilkan anggota Brimob yang terlatih. Instruktur / pelatih memiliki peranan penting dalam terciptanya budaya belajar / pelatihan yang terampil, praktis serta mampu mengikuti perkembangan jaman. Materi ajar merupakan salah satu alat bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk melakukan proses belajar/ pelatihan. 

Dari hasil observasi awal yang dilakukan tim pengusul sebelum dilaksanakan tindakan pada proses pembelajaran / pelatihan bagi anggota Korps Brimob Polri, instruktur sebagai penyampai materi pada saat mengajar di ruang kelas tidak menggunakan media dan menyampaikan materi belum dilakukan secara maksimal dalam menggunakan alat-alat pendukung yang sebenarnya sudah ada, sedangkan buku referensi digunakan sebagai satu-satunya sumber dalam menyampaikan materi. Instruktur juga tidak menggunakan metode atau pun media yang memungkinkan materi pelatihan dapat disampaikan secara lebih optimal dalam meningkatkan aktivitas anggota pelatihan pada kegiatan belajar/ pelatihan. Keadaan ini tentu saja mempengaruhi minat maupun aktivitas anggota itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa anggota sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh instruktur selama ini. Pembelajaran yang hanya mengutamakan buku sumber dan metode ceramah di ruang kelas saja memberikan kesan bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang kurang menarik dan kurang bermakna. Melihat kenyataan tersebut maka instruktur dituntut untuk mengembangkan satu model pembelajaran / pelatihan yang  melibatkan anggota pelatihan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran / pelatihan. Oleh karena itu tim pelaksana mengusulkan menggunakan salah satu model pembelajaran adalah dengan media komputer berbasis Microsoft Power Point. 


METODE PELAKSANAAN

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri , Jl. Akses UI Kelapa Dua Cimanggis Depok 16451. Diikuti  oleh staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) sebanyak 20 peserta dan staf Koordinator Instruktur (Korins) sebanyak 20 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2016 dan 13 Desember 2016.

Metode Pelaksanaan

Berikut akan disampaikan metode yang telah ditempuh dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat (IbM). Implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point diselenggarakan di  staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis Depok dengan menggunakan pendekatan workshop. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk mempraktikkan langsung materi pelatihan yang diberikan oleh tim pelaksana dari UNINDRA.  Dalam kesempatan tersebut para peserta pelatihan (Instruktur staf Ujibang dan staf Korins) mempelajari dan mendapat pendampingan secara intensif mengenai cara-cara menggunakan Microsoft Power Point. 

Microsoft PowerPoint berfungsi sebagai media Presentasi para instruktur dalam pemberian pembelajaran / pelatihan bagi peserta didik..Para instruktur  dapat membuat bahan pembelajaran dengan Microsoft Power Point dengan bentuk Interaktif dan Menarik. Didalam Microsoft Power Point disediakan Slide – Slide yang mana setiap Slide dapat diisi dengan materi pembelajaran yang hendak disampaikan.Oleh karenanya dalam pelatihan ini akan digunakan Microsoft Office Power Point sebagai software utama dalam pelatihan ini. Pemilihan Microsoft Power Point sebagai software utama adalah karena pengoperasiannya mudah dan relatif mudah diakses oleh masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Microsoft Power Point pun sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga lebih mudah untuk digunakan untuk membuat materi ajar yang menarik. 

Pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tim pelaksana memberikan pengetahuan dasar mengenai Microsoft Power Point 2. Tim pelaksana memberikan contoh produk yang dibuat dalam Microsoft Power Point  3. Tim pelaksana menjelaskan langkah-langkah kerja dalam pembuatan produk  kepada peserta pelatihan. 4. Tim pelaksana meminta peserta pelatihan untuk melakukan langkah-langkah yang telah dicontohkan 5. Tim pelaksana melakukan pendampingan kepada seluruh peserta pada saat  membuat produk.   


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan sosialisasi dan wawancara 

kegiatan sosialisasi dan wawancara secara lisan kepada stock holder dalam hal ini instruktur / pelatih di staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok diperoleh informasi kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat masih dilakukan secara manual dan bertahap sehingga setiap kegiatan pelatihan membutuhkan waktu proses yang cukup lama sehingga dianggap perlu untuk menerapkan e-learning yang merupakan media pembelajaran interaktif yang memiliki nilai efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan dianggap mampu memberikan kontribusi yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri. Oleh karena itu disepakati jenis media pembelajaran yang dibutuhkan oleh instruktur / pelatih adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

      

Gambar 1 Lokasi Pelatihan

Menyiapkan Peralatan Kegiatan

Dari hasil wawancara di awal, tim pelaksana menyiapkan materi pelatihan dengan memperhatikan usulan dari pihak Brimob atau sesuai kebutuhan instruktur / pelatih. Materi yang diberikan dalam pelatihan adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

                 

Gambar 2 Persiapan Perangkat Pelatihan

Pelaksanaan Kegiatan 

Pada pelaksaan kegiatan tim memberikan pengetahuan dasar tentang pembelajaran interaktif, pengetahuan dasar Microsoft Power Point kemudian melakukan implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point pada staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Tim Pelaksana memberikan contoh pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point seperti pembuatan slide master, penambahan gambar dan video, import excel, penambahan animasi dan transisi pada teks dan gambar, penambahan hyperlink, dan penambahan animasi bergerak. Para peserta pelatihan mencoba mempraktekan materi  yang sudah diberikan dengan di dampingi oleh tim pelaksana. Pemberian materi dijelaskan langkah demi langkah, diikuti atau dipraktekan langsung oleh peserta pelatihan. Pelatihan berjalan dengan baik sampai dengan langkah pembuatan aplikasi yang terakhir. Kemudian pada sesi berikutnya para peserta pelatihan diminta membuat aplikasi sendiri sesuai dengan kemampuang masing-masing. Pada sesi pembuatan aplikasi sendiri, tidak semua peserta bisa menyelesaikan dengan sempurna. Hanya beberapa peserta yang dapat menyelesaikan dengan baik.


              

Gambar 3 Peserta Pelatihan

 Evaluasi Kegiatan

Evaluasi kegiatan dilakukan evaluasi keseluruhan proses kegiatan IbM, mencakup mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari produk aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft power point yang telah dibuat oleh peserta pelatihan. Secara keseluruhan tidak ada kendala yang berarti, dalam pelaksanaan para peserta pelatihan sangat antusias dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Dan pada saat mencoba membuat aplikasi, masih banyak yang belum mengetahui dasar-dasar penggunaan komputer dan penggunanan Microsoft Power point.. Dibutuhkan kesabaran dalam menjelaskan materi dan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan Microsoft power point. Akan tetapi ada beberapa peserta pelatihan yang sudah menguasai Microsoft power point dan mampu membuat kembali aplikasi sesuai kemampuannya.


   

Gambar 4 Tim Pelaksana dan Peserta Pelatihan



SIMPULAN 

Pada Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok dapat dilaksanakan dengan baik. Para peserta sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diberikan oleh tim. Dengan kegiatan pelatihan ini, para instruktur dapat menggunakan produk aplikasi pembelajaran interaktif  dalam proses pembelajaran / pelatihan kepada peserta didik dan membantu peningkatan mutu instruktur dalam penyajian materi. Luaran pengabdian masyarakat dalam bentuk modul media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point dapat digunakan secara umum atau bagi staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi dan instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok.


REFERENSI

Abdul Kadir. (2011). PowerPoint 2010 for Teen. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Allen, Michael. (2013). Michael Allen’s Guide to E-Learning. Canada: John Wiley & Sons.

Arsyad, Azhar. (2007). Learning Media. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

England, Elaine, & Finney, Andy. (2002). Interactive Media – What’s That? Who’s Involved? Interactive Media UK, ATSF.

Enterprise, J. (2010). Complete Guide to PowerPoint 2010. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Heinich, R., et al. (1996). Instructional Media and Technology for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Wahono, Romi Satria. Introduction to E-Learning and Its Development. Retrieved from http://ilmukomputer.org (accessed May 25, 2016).

Soekartawi. (2003). Basic Principles of E-Learning: Theory and Its Application in Indonesia. Jurnal Teknodik, Issue No. 12/VII/October/2003, 28–43.

Warsita, Bambang. (2008). Learning Technology: Foundations and Applications. Jakarta: Rineka.


Monday, April 20, 2026

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup Dikelas XI

 Syarifah Rahmah1, Syarifah Widya Ulfa2, Rasyidah3

1,2,3Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Negeri Sumatera Utara

 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup Dikelas XI | Rahmah | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Abstract

This study aims to determine the effect of implementing the Problem-Based Learning (PBL) model on students' problem-solving abilities and learning outcomes in the growth and development of living things topic in grade XI of SMA Swasta Cerdas Murni. This study used a quasi-experimental method with a Non-Equivalent PretestPosttest Control Group Design. The study sample consisted of two classes: Grade XI Science 1 as the experimental class taught using the PBL model and Grade XI Science 2 as the control class taught using the conventional learning model, each with 29 students. Data collection was conducted through pretests and posttests to measure students' problem-solving abilities and learning outcomes. Data analysis was performed using normality tests, homogeneity tests, and One-Way ANOVA tests with a significance level of 0.05. The results showed that the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model had a significant impact on students' problem-solving abilities and learning outcomes. This is evident from the higher average posttest scores in the experimental class compared to the control class. The ANOVA significance value was 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the two classes. Thus, the application of the Problem-Based Learning model has proven effective in improving students' problem-solving skills and learning outcomes in the topic of growth and development of living things.

Keywords: Problem-Based Learning, problem-solving skills, learning outcomes, growth and development of living things

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup di kelas XI SMA Swasta Cerdas Murni. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu ( quasi eksperimen ) dengan desain Non-Equivalent PretestPosttest Control Group Design . Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang diajar menggunakan model PBL dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional, masing-masing berjumlah 29 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui tes pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah serta hasil belajar siswa. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji One Way ANOVA dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai signifikansi uji ANOVA sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.

Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampuan pemecahan masalah, hasil belajar, pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup

 

PENDAHULUAN

Pendidikan di abad ke-21 menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan dinamis seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat. Transformasi digital, kemajuan teknologi informasi, serta perubahan sosial dan ekonomi yang telah mengubah cara hidup dan bekerja, yang pada gilirannya menuntut adanya penyesuaian dalam sistem pendidikan. Siswa pada abad ini dicirikan oleh fakta bahwa mereka dituntut untuk belajar dan berinovasi dalam Pembelajaran, literasi digital, serta Pembelajaran hidup dan karier (Virmayanti dkk., 2023). Pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan harus mendorong pengembangan kompetensi untuk memecahkan masalah. Trilling dan Fadel (2019) menyatakan bahwa pendidikan abad ke-21 harus mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bekal utama siswa dalam menghadapi tantangan global. Selain itu, Redhana (2019) menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi, khususnya kemampuan pemecahan masalah.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan dikelas XI Cerdas Murni, diketahui bahwa guru biologi menggunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) dalam proses belajar-mengajar. Model ini berpusat pada guru (teacher-centered), dimana guru menyampaikan materi secara langsung kepada siswa tanpa melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menyebabkan siswa menjadi pasif, mudah mengantuk, cepat merasa bosan, kurang fokus, serta kurang terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Selain itu, hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih tergolong rendah.

Metode pembelajaran tidak semata-mata untuk memenuhi aturan, tetapi juga perlu memperhatikan faktor tertentu, seperti karakteristik materi yang disampaikan dan siswa yang diajar. Menurut Riyadi (2019) menyatakan bahwa sebaik apapun metode pembelajaran, namun jika penerapannya kurang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa justru membuat tujuan yang ingin dicapai kurang maksimal dalam penyampaiannya. Hal ini sesuai dengan tuntutan zaman pada abad ini bahwa siswa dituntut untuk belajar berinovasi dalam pembelajaran, literasi digital, pemecahan masalah serta pembelajaran hidup dan karier. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai pendekatan yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata, dengan tujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah (Jonita et al., 2020). Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada upaya untuk mengkaji pengaruh penerapan model PBL terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa kelas XI di SMA Cerdas Murni.

 

METODE

Metode Penelitian yang digunakan adalah metode quasi experiment (eksperimen semu) dengan model penelitian Non-Equivalent Preetest Posttest Control Groups Design dengan memberikan soal pretest sebelum dikenakan perlakuan serta posttest sesudah dikenakan perlakuan yang melibatkan siswa SMA Swasta Cerdas Murni kelas XI yang pada Setiap kelasnya memiliki 29 siswa. Pada siswa kelas XI 1 yang merupakan kelas kontrol dan kelas XI 2 yang merupakan kelas eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tes disusun berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Bentuk tes yang digunakan terdiri atas soal uraian yang dirancang untuk mengungkap kemampuan siswa dalam memahami permasalahan, menganalisis informasi, serta menentukan solusi yang tepat berdasarkan konsep Biologi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, nilai rata-rata (mean) kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas eksperimen yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) sebesar 90, sedangkan nilai rata-rata pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional hanya mencapai 85. Perbedaan nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan model PBL memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Selain itu, pada variabel hasil belajar siswa, kelas eksperimen juga menunjukkan capaian yang lebih tinggi dengan nilai rata-rata posttest sebesar 83, sementara kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata yang rendah yaitu 78. Tingginya nilai rata-rata pada kelas eksperimen mengindikasikan bahwa penerapan PBL mampu mendorong siswa untuk memahami konsep materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup secara lebih mendalam melalui aktivitas pemecahan masalah, diskusi, dan analisis. Sebaliknya, pembelajaran konvensional yang lebih berpusat pada guru cenderung menghasilkan keterlibatan siswa yang lebih rendah, sehingga berdampak pada capaian nilai rata-rata yang tidak setinggi kelas eksperimen. Dengan demikian, perbedaan nilai rata-rata tersebut memberikan gambaran awal bahwa model Problem Based Learning (PBL) lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa.

Hasil uji homogenitas pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu pada kemampuan pemecahan sebesar 0,395 dan pada hasil belajar sebesar 0,901, yang menunjukkan nilai keduanya lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini membuktikan bahwa data dari kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang sama atau homogen. Kondisi ini penting karena menandakan bahwa kemampuan awal siswa pada kedua kelas relatif setara, sehingga perbedaan hasil posttest yang diperoleh lebih dapat dikaitkan dengan perlakuan pembelajaran yang diberikan, bukan karena perbedaan dasar antar kelompok. Keseragaman data ini sejalan dengan pendapat Sari (2020) yang menjelaskan bahwa homogenitas varian menjadi syarat penting untuk menjamin keadilan dalam membandingkan dua kelompok dalam penelitian. Senada dengan hal tersebut, Hidayat (2020) mengungkapkan bahwa ketika kelas eksperimen dan kontrol homogen sebelum perlakuan, maka penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal ini diperkuat oleh Wulandari (2020) yang menegaskan bahwa homogenitas merupakan salah satu syarat validitas penelitian, sebab tanpa adanya keseragaman awal sulit memastikan bahwa peningkatan hasil belajar benar-benar berasal dari perlakuan yang diberikan.

Berdasarkan hasil uji one way anova pada kemampuan pemecahan masalah diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa antara kelas eksperimen yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) dan kelas kontrol yang diajar secara konvensional. Perbedaan tersebut terlihat dari rata-rata nilai posttest, dimana kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 73,966 sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 65,862. Pada indikator pertama memahami masalah terdapat 22 siswa (76%) yang menjawab benar pada soal 1, 25 siswa (86%) pada soal 2, dan 24 siswa (83%) pada soal 3. Pada indikator kedua merencanakan penyelesaian, capaian persoal adalah 20 siswa (69%) untuk soal 1, 23 siswa (79%) untuk soal 2, dan 22 siswa (76%) untuk soal 3. Pada indikator ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, capaian masing- masing soal adalah 18 siswa (62%) pada soal 1, 20 siswa (69%) pada soal 2, dan 18 siswa (62%) pada soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil memiliki pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 16 siswa (55%) pada soal 1, 19 siswa (66%) pada soal 2, dan 16 siswa (55%) pada soal 3. Sementara itu, hasil pada kelas kontrol menampilkan kemampuan yang lebih rendah di setiap indikator. Pada indikator pertama memahami masalah terdapat 18 siswa (62%) yang menjawab benar pada soal 1, 22 siswa (76%) pada soal 2, dan 20 siswa (69%) pada soal 3. Pada indikator kedua penyelesaian, capaian persoal adalah 15 siswa (52%) untuk soal 1, 18 siswa (62%) untuk soal 2, dan 16 siswa (55%) untuk soal 3. Pada indikator ketiga melaksanakan rencana penyelesaian, kemampuan masing-masing soal adalah 13 siswa (45%) pada soal 1, 15 siswa (52%) pada soal2, dan 14 siswa (48%) pada soal 3. Pada indikator keempat melihat kembali proses dan hasil memiliki pencapaian terendah secara keseluruhan yaitu 11 siswa (34%) pada soal 1, 13 siswa (45%) pada soal 2, dan 12 siswa (41%) pada soal 3.   

Perbedaan kemampuan antar indikator dari kedua data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah lebih menonjol pada tahap awal, yaitu mengidentifikasi permasalahan. Perolehan nilai dan jumlah siswa pada kelas eksperimen menunjukkan penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa secara lebih efektif. Nilai yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari proses berbasis masalah yang menuntut siswa aktif berpikir pembelajaran kritis, mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, serta merumuskan solusi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2021) yang menyatakan bahwa peningkatan nilai siswa melalui PBL terjadi karena mereka terbiasa menghubungkan konsep dengan permasalahan nyata yang menuntut penalaran. Hal tersebut dapat dilihat dari semua soal yang diberikan.

Aktivitas ini membuat siswa memahami konsep secara mendalam dan mampu menerapkannya dalam situasi baru. Hal ini berbeda dengan kelas kontrol, dimana pembelajaran hanya mengkomunikasikan informasi secara langsung tanpa banyak melibatkan siswa dalam proses penalaran, sehingga nilai yang diperoleh relatif lebih rendah. Kemudian penelitian dari Ananda (2019) menegaskan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan PBL memperoleh nilai lebih tinggi karena mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menyusun strategi penyelesaian masalah secara mandiri maupun kelompok. Selain itu juga Rahmawati (2021) menemukan bahwa penggunaan model Problem Based Learning merupakan pembelajaran berbasis masalah yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan hasil belajar, tetapi juga berperan penting dalam menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah.

Hasil uji one way anova pada variabel hasil belajar siswa menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil ini menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi  pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.  Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil skor posttest yang diraih siswa pada kelas eksperimen yaitu 83.  Pada soal nomor 1 yang mewakili level C2 (pemahaman), sebanyak 26 siswa (90%) dapat menjawab dengan benar. Selanjutnya, pada soal nomor 2 yang mengukur kemampuan C3 (penerapan), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 24 orang (83%). Pada soal nomor 3 yang berada pada level C4 (analisis), terdapat 23 siswa (79%) yang mampu memberikan jawaban tepat. Pada soal nomor 4 yang berhubungan dengan C5 (evaluasi), jumlah siswa yang menjawab benar adalah 22 orang (76%). Terakhir, pada soal nomor 5 yang mengukur C6 (menciptakan), sebanyak 20 siswa (69%) dapat menjawab dengan benar. Sementara itu, capaian siswa pada kelas kontrol relatif lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Pada soal nomor 1 (C2), sebanyak 24 siswa atau 83% mampu menjawab dengan benar. Pada soal nomor 2 (C3), jumlah siswa yang menjawab benar menurun menjadi 20 orang atau 69%. Selanjutnya pada soal nomor 3 (C4), terdapat 18 siswa atau 62% yang menjawab dengan benar. Pada soal nomor 4 (C5), hanya 16 siswa atau 55% yang mampu menyelesaikan soal, sedangkan pada soal nomor 5 (C6) jumlah siswa yang menjawab benar terdapat 13 orang atau 45%.

Data ini menunjukkan bahwa pola penurunan kemampuan pada kelas kontrol lebih tajam dibandingkan dengan kelas eksperimen, terutama pada soal- soal dengan tingkat kognitif yang lebih tinggi. Hasil ini juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kognitif yang diukur, jumlah siswa yang mampu memberikan jawaban benar semakin menurun, meskipun persentase keberhasilan pada kelas eksperimen masih berada pada kategori cukup baik. Perolehan nilai pada kelas eksperimen menampilkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) mampu memberikan perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Demikian pula pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2022) bahwa PBL efektif dalam meningkatkan prestasi akademik siswa pada mata pelajaran biologi, karena strategi ini melibatkan siswa secara aktif dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Kemudian Suhendra (2021) juga menunjukkan hasil serupa bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan analisis kemampuan siswa karena pembelajaran ini fokus pada keterlibatan langsung siswa dalam menemukan konsep melalui pengalaman belajar yang bermakna.       

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Model Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afifa, C.T.M., Agustina , E, Widyanto, A. 2024. The implementation of the problembased learning and tiktok video to enhance student learning outcomes and activities. Jurnal Pendidikan. 10 (2): 1-11.

Anugraheni, Indri. dkk. (2018). Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning (pbl) pada siswa kelas 4 sd: kajian penelitan pendidikan dan pembelajaran, 3(1), 287-293

Astriani Hilda. (2021). Pengaruh penerapan model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas vii smp negeri 35 banjarmasin pada materi ketergantungan dalam ekosistem. Jurnal Pendidikan Hayati, Vol.7 No.2, 83 – 92

Elitasari, H. T. (2022). Kontribusi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan abad    21. Jurnal basicedu, 6(6), 9508–9516. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i6.4120

Fahmidani, Y., Andayani, Y., Srikandijana, J., & Purwoko, A. A. (2019). Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dengan media lembar kerja terhadap hasil belajar siswa sma. chemistry education practice, 2(1), 1–5.

Fatimah, S., & Apriono, D. (2024). Model pembelajaran kolaboratif berbasis on line di era copyright @ mila karina, loso judijanto, ai rukmini, muhammad sukron fauzi, muhammad arsyad milenial ( alternative pemecahan masalah). jurnal darma agung, 32(1), 407–413.

Gade, M. 2022. Penerapan model problem based learning (pbl) pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas xii mipa-1 sma negeri 1 indrajaya. jurnal pendidikan dan keguruan. 2 (2) : 53-57

Helmi, Dwifinura Meutia, & Selaras, Ganda Hijrah, (2024). Pengaruh model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi biologi sman 1 sarolangun. jurnal pendidikan tambusai, volume 8 nomor 1.

Julung, Hendrikus. 2016. Pengaruh model problem based learning (pbl) terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif siswa biologi sma.

Kurniawan, B., Dwikoranto, D., & Marsini, M. (2023). Implementasi problem based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa: studi pustaka. practice of the science of teaching journal: Jurnal Praktisi Pendidikan, 2(1), 27–36. https://doi.org/10.58362/hafecspost.v2i1.28.

Nisa, R., Desstya, A., & Prasetyo, E. H. (2020). Peningkatkan keterampilan kolaborasi melalui model pembelajaran problem based learning pada mata pelajaran matematika sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 3(2), 524–532. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i2.7351

Nurbaya, S. (2021). Peningkatan kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah melalui model problem based learning (pbl) pada pembelajaran tematik kelas vi sdn 19 cakranegara. pendagogia. Jurnal Pendidikan Dasar,                                                                     1(2),                                            106–113. https://jurnal.educ3.org/index.php/pendagogia/article/view/29

Ramadhani Mita & Ely Djulia. (2025). Pengaruh model problem based learning (pbl) dengan pendekatan stem terhadap kemampuan pemecahan masalah dan sikap ilmiah siswa materi ekologi. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya. Volume 12, Nomor 1.

Redhana, I. W. (2019). Mengembangkan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran kimia. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia.

Rofiudin, A., Prasetya, L. A., & Prasetya, D. D. (2022). Pembelajaran kolaboratif di smk : peran kerja sama siswa dalam meningkatkan keterampilan soft skills. Journal of Education Research, 5(4), 4444–4455.

Riyadi, Ahmad. (2019). Implementasi model project based learning dalam pembelajaran biologi terhadap kemampuan komunikatif, kolaboratif, berpikir kritis, dan kreatif siswa sma. TESIS. Universitas Negeri Semarang.

Rumapea Puspitasari, dkk, (2022). Pengaruh model pembelajaran problem based learning (pbl) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sel di kelas xi sma negeri 2 bandar. Jurnal Pendidikan dan Konseling, Volume 4 Nomor 6.

Surakhmad, Winarno. (2012). Pengantar penelitian ilmiah, dasar, metode dan tehnik, tarsito. Bandung.

Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills: learning for life in our times. San Francisco, CA: Jossey-Bass.

Virmayanti, K. N., Suastra, W. I., & Suma, Ketut, I. (2023). Inovasi dan kreativitas guru dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran abad 21. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 6(4), 515–527.

Wijaya nuriman., 2023. Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas vii pada materi fotosintesis di smp negeri 16 palangka raya. Journal of Biological Science and Education. Volume 4 Number