BSF Maggot Cultivation Training as a Sustainable Solution for Organic Waste and Affordable Animal Feed in Cisalak Village
Abdul Hamid1, Neli Purwanti², Sutopo3
1Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas April, Sumedang, Indonesia
2Program Studi Ekonomi Syariah, STAI Sebelas
April Sumedang, Sumedang, Indonesia
3Fakultas Teknologi dan Bisnis, Universitas
Bakti Tunas Husada, Indonesia
Email: abdulhamid.feb@unsap.ac.id,
nelipurwanti@staisebelasapril.ac.id,
sutopo@universitas-bth.ac.id
Abstract
Cisalak Village has various potentials, one
of which is in the livestock sector. In this sector, there are various types of
cultivation businesses, such as chicken, catfish, patin fish, and other fish
for consumption. However, farmers often face challenges in the form of
increasing prices of animal feed. Both chicken and fish require large amounts
of feed before they can be harvested, so that the spike in feed prices is an
obstacle to the sustainability of livestock businesses in the village. This PKM
program aims to provide training on BSF maggot cultivation as a solution in
managing organic waste as well as an alternative to animal feed in Cisalak
Village, Cisarua, Sumedang. The method used in this PKM is a socialization
approach. This training activity was carried out well on March 9, 2026 and
received a positive response from the local community. The enthusiasm of the
residents was very high in participating in the series of activities, because
this training offers a solution to the problem of expensive animal feed. The
sustainability of this program depends on the consistency of the community in
cultivating BSF maggots, so that the availability of animal feed is maintained
and the price of feed is more affordable.
Keywords: Maggot Cultivation, BSF Maggots, Organic Waste, Animal Feed
Abstrak
Desa Cisalak memiliki beragam potensi, salah satunya dalam sektor
peternakan. Di bidang ini, terdapat berbagai jenis usaha budidaya, seperti
ayam, ikan lele, ikan patin, serta ikan konsumsi lainnya. Namun, para peternak
kerap menghadapi tantangan berupa meningkatnya harga pakan ternak. Baik ayam
maupun ikan memerlukan pakan dalam jumlah besar sebelum dapat dipanen, sehingga
lonjakan harga pakan menjadi hambatan dalam keberlanjutan usaha ternak di desa
tersebut. Program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan mengenai
budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik sekaligus
alternatif pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Metode yang
digunakan dalam PKM ini adalah pendekatan sosialisasi. Kegiatan pelatihan ini
telah terlaksana dengan baik pada 3 Februari 2025 dan mendapat respons positif
dari masyarakat setempat. Antusiasme warga sangat tinggi dalam mengikuti
rangkaian kegiatan, karena pelatihan ini menawarkan solusi atas permasalahan
pakan ternak yang mahal. Keberlanjutan program ini bergantung pada konsistensi
masyarakat dalam membudidayakan maggot BSF, sehingga ketersediaan pakan ternak
tetap terjaga dan harga pakan lebih terjangkau.
Kata kunci: Budidaya Maggot, Maggot BSF, Sampah
Organik, Pakan Ternak.
PENDAHULUAN
Desa
Cisalak terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, berada di bagian
barat wilayah kecamatan. Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan
Cimalaka, Kecamatan Sumedang Utara, dan Kecamatan Ganeas. Di bagian selatan,
aliran Sungai Cipeles menjadi batas alami wilayahnya. Lokasi Desa Cisalak cukup
strategis, dengan jarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Cisarua ke
arah barat, menjadikannya mudah dijangkau dari berbagai wilayah sekitarnya.
Desa
Cisalak memiliki berbagai potensi, terutama dalam bidang peternakan. Di sektor
ini, banyak warga yang membudidayakan ternak seperti ayam, ikan lele, ikan
patin, dan berbagai jenis ikan konsumsi lainnya. Namun, salah satu tantangan
utama dalam usaha peternakan di desa ini adalah meningkatnya harga pakan ternak
(Hasaya, at
al., 2024). Ayam
dan ikan yang dibudidayakan membutuhkan jumlah pakan yang cukup besar hingga
mencapai tahap panen. Akibatnya, lonjakan harga pakan menjadi kendala yang
dapat menghambat keberlangsungan usaha peternakan masyarakat setempat (Soni &Sulistyowati,
2021).
Sebagai
solusi atas permasalahan tersebut, penulis mengusulkan budidaya maggot BSF
sebagai alternatif inovatif dalam penyediaan pakan ternak. Maggot BSF berasal
dari serangga yang tergolong dalam keluarga lalat (Diptera) dan dapat tumbuh
dengan baik dengan memanfaatkan limbah tanaman hortikultura serta bahan organik
lainnya( Ahmad,at
al., 2021). Maggot
ini merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly, yang sering kali dianggap
sebagai hama oleh sebagian besar masyarakat. Secara fisik, lalat dewasa BSF
menyerupai tawon dengan tubuh berwarna hitam dan panjang sekitar 15–20 mm (Rachmawati, et al., 2015).
Dalam
siklus hidupnya, BSF mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari tahap
telur, larva, prepupa, pupa, dan akhirnya menjadi lalat dewasa. Tahapan larva
inilah yang disebut sebagai maggot dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak
berkualitas tinggi. Siklus hidup BSF tergolong singkat, hanya memerlukan waktu
sekitar 40 hingga 44 hari, tergantung pada kondisi lingkungan dan ketersediaan
makanan (Hakim
& Syarif, 2021).
Dari segi
kandungan nutrisi, maggot BSF memiliki kadar protein yang cukup tinggi, yakni
mencapai 44,26%, dengan kandungan lemak sebesar 29,65%. Selain itu, maggot juga
kaya akan asam amino, asam lemak, dan mineral yang setara dengan sumber protein
lainnya, menjadikannya alternatif pakan yang ideal bagi ternak (Hadi Sasongko et al. 2021).
Berdasarkan
latar belakang tersebut, program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan
budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik serta
penyediaan pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang
METODE PELAKSANAAN
A. Tempat
dan Waktu
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk Pelatihan Budidaya Maggot BSF
Sebagai Solusi
Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua,
Kabupaten Sumedang, telah sukses diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2026.
B. Ruang
Lingkup dan Objek Pengabdian
Kegiatan
PKM ini ditujukan bagi para pelaku budidaya ternak serta masyarakat umum di
Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua,
Kabupaten Sumedang, dengan tujuan memberikan pemahaman dan keterampilan dalam
budidaya maggot BSF sebagai solusi alternatif untuk pengelolaan sampah organik
dan penyediaan pakan ternak yang lebih terjangkau.
C. Pendekatan
atau Teknik Pengabdian
Metode
yang digunakan dalam kegiatan PKM Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa
Cisalak,
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, adalah pendekatan sosialisasi. Melalui
metode ini, peserta diberikan pemahaman teoritis dan praktik langsung mengenai
budidaya maggot BSF, sehingga mereka dapat mengimplementasikan teknik yang
telah dipelajari dalam usaha peternakan maupun pengelolaan sampah organik di
lingkungan mereka.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pelatihan
Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan
Ternak Murah di Desa Cisalak telah dilaksanakan secara luring pada tanggal 3
Februari 2025. Dalam pelatihan ini, materi disampaikan langsung
oleh tutor berpengalaman, Ridwan
Fatamorgana
Pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai siklus hidup Black Soldier
Fly (BSF) serta proses terbentuknya maggot secara teori. Selanjutnya, peserta
diberikan pemahaman tentang manfaat maggot sebagai pakan ternak, khususnya bagi
unggas dan ikan, serta jenis sampah organik yang dapat digunakan sebagai sumber
pakan bagi maggot.
Black
Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens, yang dalam bahasa Indonesia
dikenal sebagai Lalat Tentara Hitam, merupakan salah satu jenis lalat yang
memiliki banyak manfaat bagi manusia. Berbeda dengan lalat hijau atau lalat
sampah yang berperan sebagai vektor penyakit, BSF adalah jenis lalat yang
bersih dan tidak membawa patogen berbahaya. Keunggulan inilah yang
menjadikannya solusi potensial dalam pengelolaan limbah organik sekaligus
sebagai alternatif sumber pakan ternak yang bernutrisi tinggi (Resti Rahayu et a, l2021).
Gambar
1. Pengenalan Magot Oleh Narasumber Kepada Mitra PKM
Para peserta dalam Pelatihan Budidaya Maggot BSF
terdiri dari masyarakat umum serta para pelaku usaha ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Melalui pelatihan ini, mereka diharapkan mampu memahami dan
mempraktikkan secara langsung teknik budidaya maggot BSF sebagai solusi pakan
ternak dan pengelolaan sampah organik.
Selama kegiatan berlangsung, baik narasumber maupun
peserta menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan
mencuci tangan dengan sabun. Setelah sesi pemaparan materi selesai, peserta
diajak untuk mengenali dan mengamati kehidupan BSF di kandang yang telah
disediakan oleh Tim PKM. Mereka dapat melihat langsung proses bertelur dan
penetasan, pemindahan telur ke wadah budidaya untuk berkembang menjadi larva,
hingga pertumbuhan larva menjadi maggot yang hanya mengonsumsi sampah organik.
Ridwan
Fatamorgana selaku tutor pelatihan, menekankan bahwa "Maggot
adalah solusi untuk protein alternatif bagi ternak, baik diberikan secara
langsung maupun sebagai substitusi dalam pakan ternak." Selain itu, ia
juga menjelaskan bahwa maggot berperan penting dalam pengelolaan sampah organik
di Desa Cisalak, karena dalam jumlah kecil saja, maggot mampu mengurai dan
menghabiskan berkilo-kilo sampah organik. Proses budidayanya pun tergolong
murah dan mudah, sehingga dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin
memanfaatkannya.
Gambar
2. Pengenalan dan Pengamatan Kehidupan BSF Kepada Mitra PKM
Selama berlangsungnya pelatihan, peserta
menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mendengarkan dan mengajukan
berbagai pertanyaan. Setiap pertanyaan yang diajukan mencerminkan respons
positif masyarakat terhadap dua isu utama yang dihadapi di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang, yaitu pengelolaan sampah organik yang masih jarang dilakukan serta
tingginya harga pakan ternak.
Melalui diskusi yang interaktif, terlihat bahwa
masyarakat semakin tertarik untuk menerapkan budidaya maggot BSF sebagai solusi
nyata dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kesadaran akan manfaat maggot
tidak hanya sebagai alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis tetapi juga
sebagai metode pengurangan sampah organik semakin tumbuh di kalangan peserta,
sehingga diharapkan program ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak
positif bagi masyarakat Desa Cisalak.
Gambar
3. Respon Mitra PKM Terhadap Pelatihan Budidaya Maggot BSF
Setelah pelatihan selesai dilaksanakan, pemahaman
dan keterampilan masyarakat Desa Cisalak dalam budidaya maggot BSF mengalami
peningkatan yang signifikan, dan mereka pun mulai mampu mengaplikasikan ilmu
yang telah diperoleh dengan baik. Diharapkan, peserta yang telah mengikuti
pelatihan ini tidak hanya memanfaatkan maggot untuk mendukung usaha peternakan
mereka sendiri, tetapi juga dapat menyebarluaskan edukasi kepada warga lain di
Desa Cisalak yang memiliki kebutuhan serupa.
Dengan adanya transfer ilmu dari peserta pelatihan
kepada masyarakat yang belum berkesempatan hadir, manfaat dari kegiatan
budidaya maggot BSF ini diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas. Selain
membantu menekan biaya pakan ternak, program ini juga berkontribusi dalam
pengelolaan sampah organik, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sekaligus
mendorong keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Gambar 4. Foto Bersama
Pemateri dan Tim PKM
SIMPULAN
Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai
Solusi Berkelanjutan untuk
Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak",
Cisarua, Sumedang telah sukses diselenggarakan
pada 3 Februari 2025 dengan lancar. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti
setiap rangkaian kegiatan pelatihan sangat tinggi, mengingat program ini
menawarkan solusi konkret terhadap permasalahan tingginya harga pakan ternak yang
selama ini menjadi kendala bagi para peternak di desa tersebut.
Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat kini
memiliki alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau serta berkelanjutan. Ke
depannya, diharapkan mereka dapat konsisten dan berkomitmen dalam menjalankan
budidaya maggot BSF agar ketersediaan pakan ternak tetap terjamin, sehingga
biaya produksi ternak dapat ditekan dan daya beli pakan ternak yang lebih
ekonomis dapat tercapai
REFERENSI
Ahmad,
Soni Maulana, and Sulistyowati Sulistyowati. “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya
Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak.” Journal of
Empowerment 2, no. 2 (2021): 243.
Hadi
Sasongko et al., “Maggot Cultivation Training to Support Efforts to Strengthen
the Economy during the COVID-19 Pandemic in Somongari Village, Purworejo,” Community
Empowerment 6, no. 9 (2021): 1636–1642.
Hasaya, H., Navanti, D., Ramadhan, L. R., Susanto, I., Kartika, W.,
Meilani, S. S., ... &
Warniningsih. (2024). Perbandingan
kompos produk pemanfaatan limbah maggot
black soldier fly (BSF) dengan kompos
sampah organik. Jurnal Rekayasa Lingkungan, 1-11.
M
R Hakim and I Syarif, “SP Diseminasi Maggot Sebagai Pakan Lokal Alternatif
Sumber Protein Ayam Kampung Pada Kegiatan PK-M Kelompok Tani-Ternak Liku Labbua
Di Kecamatan …,” JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan … 5, no. 3
(2021): 17–22,
http://journal.fdi.or.id/index.php/jatiemas/article/view/488.
Rachmawati,
R., Buchori, D., Hidayat, P., Hem, S., & Fahmi, M. R. (2015). Perkembangan
dan Kandungan Nutrisi Larva Hermetia illucens (Linnaeus) (Diptera: Stratiomyidae)
pada Bungkil Kelapa Sawit. Jurnal Entomologi Indonesia, 7(1), 28.
https://doi.org/10.5994/jei.7.1.28
Resti
Rahayu et al., “Pelatihan Budidaya Maggot Black Soldier Fly Sebagai Pakan
Alternatif Dalam Upaya Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga,” Jurnal Warta
Pengabdian Andalas 28, no. 2 (2021): 91–98.
Soni
Maulana Ahmad and Sulistyowati Sulistyowati, “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya
Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak,” Journal of
Empowerment 2, no. 2 (2021): 243