Design and
Implementation of an Internet of Things-Based Automatic Plant Watering System
for Household Environments with Mobile Control
1Adi
Wahyu Candra Kusuma, ²Azka
Rijaalunnaafian
, ³Novian Affan, ⁴Putra Aditya, ⁵Anggin
Mayastari, ⁶Azora Sania Salma, ⁷Hasna
Nur Askhia
1-7Department
of Informatics, Faculty of Science and Technology, UIN SAIZU, Purwokerto,
Indonesia.
Email : adiwahyucandrakusuma@uinsaizu.ac.id
Abstrak
Perkembangan
teknologi Internet of Things memungkinkan perangkat fisik bekerja secara cerdas
melalui proses monitoring dan kontrol jarak jauh. Salah satu penerapannya
adalah sistem penyiraman tanaman otomatis yang dirancang untuk membantu merawat
tanaman tanpa perlu melakukan penyiraman manual setiap saat. Sistem ini
ditujukan bagi pengguna yang ingin berkebun atau merawat tanaman, tetapi memiliki keterbatasan waktu untuk menyiram
tanaman secara rutin. Proyek ini mengembangkan sistem penyiraman berbasis ESP32
yang terhubung dengan sensor kelembaban tanah untuk memantau kondisi media
tanam secara real time. Ketika
kelembaban berada dibawah ambang batas tertentu, pompa air akan aktif otomatis
sesuai durasi penyiraman yang telah diatur. Sistem ini mengintegrasikan
perangkat keras yaitu ESP32 dan sensor dengan layanan cloud Firebase. Selain itu, pengguna dapat mengontrol sistem
secara manual melalui
aplikasi mobile berbasis Wi-Fi. Proyek ini menunjukkan sistem berjalan dengan
baik. Solusi ini memiliki potensi
untuk dikembangkan lebih lanjut, seperti optimasi algoritma penyiraman,
integrasi penyimpanan data, serta peningkatan efisiensi penggunaan air melalui
analisis pola kelembaban dalam jangka panjang.
Keywords: Penyiraman Otomatis, ESP32, Internet of Things,
Kelembaban Tanah
Abstract
The development of
Internet of Things (IoT) technology enables physical devices to operate
intelligently through remote monitoring and control processes. One of its
applications is an automatic plant watering system designed to assist in plant
care without the need for manual watering at all times. This system is intended
for users who enjoy gardening or maintaining plants but have limited time to
water them regularly. This project develops a watering system based on ESP32,
connected to a soil moisture sensor to monitor the condition of the growing
media in real time. When the moisture level falls below a certain threshold, a
water pump is automatically activated according to a predefined watering
duration. The system integrates hardware components, namely the ESP32 and
sensors, with the Firebase cloud service. In addition, users can manually
control the system through a Wi-Fi-based mobile application. The project
demonstrates that the system operates effectively. This solution has the
potential for further development, such as optimizing the watering algorithm,
integrating data storage, and improving water usage efficiency through
long-term moisture pattern analysis.
Keywords: Automatic
Watering, ESP32, Internet of Things, Soil Moisture
INTRODUCTION
Perkembangan
teknologi terjadi di berbagai bidang, tidak terkecuali pada bidang pertanian.
Begitu banyak inovasi teknologi yang muncul di bidang pertanian. Tidak terbatas
pada pertanian dalam skala besar, namun dalam pertanian skala kecil, contohnya
berkebun skala rumah tangga di rumah juga dapat kita temui permasalahan seputar
berkebun. Mulai dari pemilihan
tanaman yang sesuai untuk berkebun
dalam skala rumah tangga, perawatan tanaman, dan masalah lain yang
muncul. Salah satu aspek penting dalam berkebun adalah bagaimana kita
memastikan tanaman kita terawat. Baik tanaman hias maupun tanaman biasa, perawatan pada
tanaman merupakan hal yang penting. Salah satu hal krusial dalam perawatan
tanaman yaitu penyiraman tanaman.
Dengan menggunakan cara
manual, kita perlu menyiram tanaman secara langsung dan rutin, dengan cara manual ini
memerlukan waktu dan tenaga lebih untuk memastikan tanaman terawat dengan baik.
[1][2]
Proyek
penyiraman tanaman otomatis ini dapat menjadi
solusi untuk permasalahan penyiraman tanaman tersebut.
Dengan menggunakan alat penyiraman tanaman otomatis yang terintegrasi dengan
aplikasi mobile ini, pengguna
dapat dengan mudah melakukan penyiraman tanaman tanpa perlu menggunakan cara manual.[3][4]
Pada
penelitian sebelumnya terkait pengembangan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) telah
memberikan landasan penting bagi penelitian atau proyek ini, khususnya dalam penerapan teknologi mikrokontroler dan metode kendali
irigasi. Astutiningtyas et al. merancang sistem Smart Garden untuk taman skala
rumah tangga. Penelitian tersebut menekankan penggunaan sensor kelembaban tanah
dan Arduino Uno untuk mengotomatisasi penyiraman, yang bertujuan membantu
pemilik tanaman yang memiliki
keterbatasan waktu. Sistem ini memungkinkan pemantauan kelembaban tanah melalui
smartphone menggunakan jaringan nirkabel. Namun, penelitian ini masih
menggunakan arsitektur yang memisahkan unit mikrokontroler (Arduino) dengan modul komunikasi, yang
berbeda dengan pendekatan System on Chip (SoC) yang lebih terintegrasi [5].
Selain itu,
Setiawan et al. melakukan penelitian spesifik pada komoditas bawang merah Palu
menggunakan Arduino dan penyimpanan data lokal pada SD Card. penelitian
tersebut berfokus pada analisis statistik untuk menentukan durasi
penyiraman optimal, dan didapatkan bahwa waktu penyiraman 3 detik memberikan hasil terbaik untuk parameter pertumbuhan
tanaman tertentu. Studi ini menyoroti pentingnya kalibrasi sensor dan logika
durasi penyiraman untuk efisiensi air. Meskipun memberikan wawasan mendalam
logika kontrol waktu, sistem yang dikembangkan lebih berfokus pada
pencatatan data lokal (offline logging)
dan belum sepenuhnya memanfaatkan sinkronisasi cloud secara real-time
untuk kendali jarak jauh yang responsif.[6]
Pada
penelitian lain, Owen et al. (2025)
mengembangkan sebuah prototipe sistem monitoring kelembapan tanah dan
pengendalian penyiraman tanaman cabai berbasis Internet of Things (IoT) dengan ESP32 dan Blynk sebagai antarmuka pemantauan.
Sistem ini memungkinkan pengguna untuk memonitor secara real time dan
mengendalikan proses penyiraman melalui dashboard IoT berbasis cloud.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa integrasi ESP32 dengan sistem monitoring
dan kontrol berbasis IoT mampu menjaga kondisi kelembapan tanah pada rentang
yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai. Pendekatan ini sejalan dengan arah
penelitian ini dalam penggunaan mikrokontroler
ESP32 yang efisien dan terhubung ke Internet, namun
ketergantungan pada platform pihak ketiga seperti Blynk masih memiliki
keterbatasan dalam fleksibilitas dan kustomisasi antarmuka pengguna
[7].
Melalui peninjauan terhadap penelitian-
penelitian di atas,
dapat disimpulkan bahwa pengembangan sistem irigasi pintar telah berkembang dari penggunaan mikrokontroler
dasar hingga penerapan algoritma cerdas. Penelitian
ini membangun dan memperluas temuan sebelumnya dengan mengintegrasikan
keunggulan dari ESP32 sebagai unit pemrosesan utama dan menggabungkannya dengan
layanan Firebase Realtime Database serta aplikasi berbasis Kotlin yang dikembangkan secara khusus (native).
Dengan
demikian, kontribusi utama penelitian ini yaitu pengembangan ekosistem
penyiraman tanaman otomatis yang tidak hanya menawarkan monitoring
secara real-time dengan latensi rendah melalui arsitektur tiga lapis atau Three-Layer
Architecture yaitu Hardware-Cloud-App, tetapi juga menyertakan fitur
keamanan khusus (safety cutoff).
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada logika Fuzzy
atau analisis statistk durasi, penelitian ini menekankan pada reliabilitas
sistem melalui mekanisme proteksi pompa dan fleksibilitas mode operasi yaitu
mode otomatis dan mode manual melalui aplikasi kustom yang dirancang untuk
memberikan pengalaman pengguna yang lebih intuitif, efektif, dan aman
[8][9][10].
METHOD
Pengembangan
sistem dilakukan menggunakan pendekatan metode prototyping, karena sistem membutuhkan
iterasi antara kebutuhan pengguna, perancangan, implementasi, dan evaluasi.
Alasan dipilihnya metode ini karena
metode ini memungkinkan penyesuaian perangkat keras, algoritma pembacaan
sensor, serta komunikasi data sebelum menghasilkan produk akhir yang stabil. [11][12]
Figure 1.
Metode Prototyping
Sistem ini terdiri dari tiga lapisan
utama atau disebut juga Three-Layer
Architecture, yaitu:
a.) Lapisan Perangkat
Keras (Hardware Layer)
b.) Lapisan Server dan
Database (Cloud Layer)
c.)
![]() |
Lapisan Antarmuka Pengguna (Application Layer)
Figure 2.
Diagram Blok Lapisan Utama Sistem
Tahapan yang
dilakukan dalam pembangunan sistem ini dimulai dengan tahap perancangan dan perakitan perangkat keras. ESP32 dipilih sebagai mikrokontroler utama karena
kemampuan Wi-Fi terintegrasi dan
dukungan pembacaan nilai analog sensor. Dua sensor kelembaban tanah dipasang
pada pin ADC (Analog-to-Digital Converter)
ESP32 untuk memperoleh data kadar air tanah dalam satuan
presentase. Modul relay 2 channel dihubungkan ke pin
output digital ESP32 untuk mengontrol pompa air. Rangkaian awal disusun
menggunakan breadboard agar konfigurasi komponen dapat diuji dan dimodifikasi
dengan mudah sebelum dibuat rangkaian permanen [13].
Tahap kedua adalah konfigurasi layanan cloud menggunakan
Firebase Realtime Database. Struktur data dibuat dalam
format JSON agar perangkat keras dan aplikasi mobile dapat
membaca dan memperbarui data secara real-time. Mekanisme komunikasi
memanfaatkan sinkronisasi Firebase sehingga perubahan nilai sensor atau
perintah pengguna dapat diproses dalam waktu singkat.
Tahap ketiga
adalah implementasi perangkat lunak pada ESP32 menggunakan Arduino IDE. Logika
sistem mencakup dua mode operasi yaitu otomatis dan manual. Pada mode otomatis,
ESP32 memantau nilai
kelembaban dan mengaktifkan pompa jika nilai sensor berada di bawah ambang
batas yang ditentukan. Pada mode manual,
pompa hanya aktif berdasarkan instruksi aplikasi mobile. Sistem
dilengkapi batasan durasi penyiraman untuk menghindari kerusakan atau
penyiraman berlebih akibat kesalahan pembacaan sensor.
Tahap
keempat adalah pengembangan aplikasi Android menggunakan bahasa Kotlin.
Aplikasi menampilkan data kelembaban tanah, mode sistem, serta status
pompa dalam bentuk antarmuka visual
yang mudah dipahami atau user-friendly.
Aplikasi juga memungkinkan pengguna mengubah mode operasi dan memberi perintah penyiraman secara manual melalui
koneksi ke Firebase.
Tahap
terakhir adalah pengujian sistem secara fungsional. Pengujian dilakukan pada
beberapa kondisi kelembaban tanah dan mode operasi. Evaluasi mencakup
sensitivitas sensor, respon
relay dan pompa, stabilitas koneksi cloud, serta kecepatan penyelarasan data
antara perangkat keras dan aplikasi. Hasil pengujian digunakan untuk
memperbaiki konfigurasi sensor, parameter logika algoritma, serta tampilan
antarmuka agar sistem
lebih responsive dan dapat digunakan dengan nyaman
![]() |
.
Figure 3.
Arsitektur Komunikasi Data dan Integrasi
IoT
Dalam pembuatan alat penyiraman otomatis ini, komponen
yang digunakan antara lain :
a.)
![]() |
Mikrokontroler ESP32
Figure 4.
Mikrokontroler ESP32
Sebagai unit pemrosesan
pusat (Central Processing Unit) yang
mengolah logika program
dan modul komunikasi Wi-Fi untuk terhubung ke internet.
b.)
Sensor Kelembaban Tanah
![]() |
Figure 5.
Sensor Kelembaban Tanah
Untuk mendeteksi kadar
air dalam tanah.
c.)
![]() |
Modul Relay 2 Channel
Figure 6.
Modul Relay 2 Channel
Bertindak
sebagai saklar elektronik untuk mengendalikan aliran Listrik tegangan tinggi
atau besar menuju pompa air, yang dipicu
oleh sinyal logika rendah (3.3 V) dari ESP32.
d.)
![]() |
Pompa DC
Figure 7.
Pompa DC
Berfungsi mengalirkan air ke tanaman saat
menerima daya listrik dari relay.
e.)
![]() |
Bread Board
Figure 8.
Bread Board
Berfungsi
sebagai platform uji rangkaian tanpa proses penyolderan, sehingga konfigurasi
komponen dapat dirancang serta dimodifikasi dengan mudah.
f.)
![]() |
Kabel USB
Figure 9.
Kabel USB
Kabel USB digunakan sebagai
media
transfer data dan suplai daya antara komputer dan
mikrokontroler ESP32 selama proses pemrograman dan pengujian.
g.)
![]() |
Kabel Jumper
Figure 10.
Kabel Jumper
Berfungsi sebagai penghubung antar komponen pada rangkaian, termasuk
sensor, modul, dan mikrokontroler, untuk memastikan aliran sinyal dan daya berjalan sesuai desain
sistem.
Figure 11.
Flowchart Algoritma Pengendalian
Sistem
Implementasi
logika sistem seperti pada Figure 11 diatas, memastikan
operasi berjalan secara sistematis dan responsif. Proses dimulai dari akuisisi
data sensor yang disinkronisasi ke Firebase untuk pemantauan real-time, diikuti oleh evaluasi mode
operasi yang aktif. Pada mode otomatis,
Keputusan penyiraman bergantung sepenuhnya pada komparasi nilai kelembaban
tanah terhadap ambang batas yang telah ditentukan, sedangkan mode manual
memberikan prioritas eksekusi pada intervensi pengguna melalui aplikasi
Android. Seluruh perubahan status aktuator kemudian diperbarui kembali ke basis
data untuk menutup siklus umpan balik, menjamin
konsistensi infomasi antara kondisi fisik di lapangan
dan tampilan antarmuka
pengguna.
RESULT
![]() |
![]() |
Figure 12. Hasil Akhir Prototipe Penyiraman Otomatis
Figure 13.
Tampilan Aplikasi
Mobile Penyiraman Otomatis
Implementasi Sistem
Hasil
implementasi sistem penyiraman tanaman otomatis
ini berhasil megintegrasikan tiga komponnen utama yaitu perangkat
keras berbasis ESP32, backend Firebase Realtime Database, dan aplikasi Android
berbasis Kotlin. Pada sisi perangkat keras, mikrokontroler ESP32 berfungsi
sebagai gateway utama. Sensor Soil
Moisture ditempatkan pada media tanam untuk mengakuisisi data analog yang
dikonversi menjadi nilai digital (0-4095). Berdasarkan pengujian fisik, modul
relay berhasil memutus dan menyambungkan arus Listrik AC ke pompa air
berdasarkan sinyal logic (HIGH/LOW) yang dikirimkan oleh pin GPIO ESP32.
Aplikasi
Android dirancang dengan antarmuka yang minimalis untuk memudahkan penggunaan.
Halaman utama menampilkan :
a.) Status kelembaban tanah : indikator visual berupa presentase (%)
dan status teks atau keterangan kondisi tanah (Tanah KERING/Tanah BASAH)
b.) Mode : Keterangan mode
yang dipilih (MANUAL/OTOMATIS)
c.) Pompa : Keterangan
kondisi pompa secara real-time (ON/OFF)
d.) Tombol pengaturan mode :
tombol interaktif untuk memilih mode penyiraman manual atau otomatis
e.) Tombol siram : tombol
interaktif untuk melakukan penyiraman tanaman
saat tombol ditekan
secara real time
Pengujian
menunjukkan bahwa aplikasi mampu mempertahankan
stabil dengan Firebase, dan perubahan data pada user-interface terjadi secara
real-time mengikuti perubahan pada database.
Pengujian dan Analisis
Fungsional
Pengujian
dila9kukan untuk memvalidasi alur kerja sistem, baik pada mode uplink
(monitoring) maupun downlink (controlling).
Pada analisis latensi transmisi data (Monitoring), sistem memanfaatkan protokol
WebSocket yang disediakan oleh Firebase. Dalam pengujian monitoring, dilakukan
observasi terhadapp jeda waktu (latency)
antara perubahan kondisi tanah fisik hingga data tampil di layar Android. Hasil rata rata latensi
yang terukur adalah <1
detik pada koneksi internet stabil. Kecepatan
ini tercapai karena arsitektur Firebase yang menggunakan mekanisme
listener. Aplikasi Android tidak perlu melakukan request berulang (polling), melainkan
hanya menerima perubahan data pada node JSON tertentu. Hal ini membuktikan
efisiensi penggunaan bandwidth dan responsivitas sistem yang tinggi.[14][15] Kemudian pada pengujian mode operasi
(controlling), sistem diuji dalam dua skenario utama untuk memastikan logika
program berjalan sesuai rancangan :
1. Skenario Mode Manual
Pengguna
menekan tombol “SIRAM SEKARANG” pada aplikasi. Kemudian database memperbarui
status pompa menjadi ON, ESP32 membaca perubahan tersebut dan mengaktifkan relay.
Hasilnya pompa menyala sesuai perintah jarak jauh
tanpa memperhatikan kondisi kelembaban tanah. Ini memberikan kendali penuh kepada pengguna
saat terjadi anomali atau kebutuhan penyiraman insidental.
2. Skenario Mode Otomatis
Threshold
ditetapkan pada kelembaban 30%. Kemudian sensor diletakkan pada tanah kering
(Kelembaban dibawah 30%), lalu sistem secara otomatis
mengabaikan input tombol manual.
Mikrokontroler mengambil alih kendali dan mengaktifkan pompa hingga
nilai sensor mencapai >30%.
Table 1.
Tabel Hasil
Pengujian Sensor Tanah
dan Pompa Air
|
Mode |
Tombol Manual |
Kelembaban |
Pompa |
|
Otomatis |
- |
10% |
Menyala Otomatis |
|
Otomatis |
- |
15% |
Menyala |
|
|
|
|
Otomatis |
|
Otomatis |
- |
48% |
Mati |
|
Otomatis |
- |
72% |
Mati |
|
Manual |
ON |
27% |
Menyala |
|
|
|
|
Manual |
|
Manual |
ON |
20% |
Menyala |
|
Manual |
OFF |
80% |
manual Mati |
Sistem dapat
dijalankan dengan baik dan dapat beralih
antara mode otomatis
dan mode manual dengan
baik dan cepat.
Sistem juga dapat menjalankan kontrol pompa sesuai dengan
logika program yang sudah dibuat dengan respon waktu yang akurat
dan real time.
Table 2. Tabel Hasil Pengujian Sensor Tanah dan Pompa
Air
|
Aspek Pengujian |
Hasil |
Kesimpulan |
|
Sensor membaca |
Sesuai kondisi |
10% |
|
Nilai kelembaban Otomatisasi berdasarkan kelembaban |
tanah Pompa ON < 30% |
15% |
|
Mode manual
aktif dan bekerja |
- |
48% |
|
Pergantian mode berjalan lancar |
- |
72% |
|
Respon Sistem |
On |
27% |
Berdasarkan
karakteristik prototipe yang dihasilkan, sistem ini sangat direkomendasikan
untuk digunakan pada tanaman seperti cabai atau tomat. Rekomendasi ini
didasarkan pada pengaturan otomatis alat yang mulai melakukan penyiraman saat
kelembaban tanah turun ke angka 30%, yang merupakan batas aman agar tanaman
tersebut tidak layu atau stres akibat kekeringan. Dengan
menjaga kadar air dalam tanah tetap
stabil di atas angka yang sudah ditetapkan tersebut, sistem ini memastikan
tanaman mendapatkan asupan air yang cukup untuk tumbuh subur tanpa risiko
pemberian air berlebih yang justru dapat membuat tanaman mati.
Implementasi
arsitektur tiga lapis atau Three-Layer
Architecture berbasis ESP32 dan
Firebase dalam penelitian ini berhasil menawarkan efisiensi komunikasi data yang
lebih unggul dibandingkan pendekatan konvensional yang masih memisahkan unit
mikrokontroler dengan modul komunikasi. Berbeda dengan pengembangan terdahulu
yang cenderung berfokus
pada kompleksitas algoritma
seperti logika fuzzy atau analisis statistik durasi, penelitian ini justru
memprioritaskan reliabilitas operasional melalui integrasi mekanisme Safety Cutoff pada metode ambang batas
sederhana. Strategi ini terbukti
efektif memitigasi risiko kegagalan sensor yang seringkali
menyebabkan anomali data atau overwatering
di lapangan. Keputusan untuk mengembangkan aplikasi Android secara native memberikan
otonomi penuh dalam manajemen fitur kontrol hibrida, mengatasi keterbatasan
kustomisasi yang umumnya ditemui pada penggunaan platform IoT siap pakai,
sehingga menghasilkan sistem yang tidak hanya responsif tapi juga aman untuk
penggunaan jangka panjang.
CONCLUSION
Dari
perancangan dan pembangunan sistem penyiraman tanaman otomatis ini dapat
disimpulkan bahwa integrasi arsitektur tiga lapis atau Three-Layer Architecture yang meliputi ESP32, Firebase Realtime Database, dan aplikasi Android native berhasil menciptakan ekosistem
penyiraman otomatis yang responsif dan efektif. Pengujian sistem membuktikan
bahwa mekanisme kontrol hibrida (manual dan otomatis) mampu menjaga kelembaban
tanah pada kondisi ideal, dengan latensi komunikasi data yang terminimalisir
secara signifikan berkat sinkronisasi cloud berbasis WebSocket. Keberadaan fitur Safety
Cutoff menjadi nilai tambah krusial yang secara efektif memitigasi risiko
kegagalan perangkat keras dan pemborosan air. Secara
keseluruhan, sistem ini mampu menjaga kondisi tanah tetap ideal secara
otomatis, sekaligus memberikan rasa aman bagi pengguna melalui fitur monitoring
dan kendali jarak jauh [16][17].
REFERENCES
[1] Candradewani, B. L.,
Indriyanto, S., & Permatasari, I. (2025). Sistem monitoring kelembapan
media tanam Aglaonema SP berbasis Internet of Things (IoT). Jurnal
SINTA: Sistem Informasi dan Teknologi Komputasi, 2(3), 103–115.
https://doi.org/10.61124/sinta.v2i3.60
[2] Amazon Web Services, Inc.
(2019). AWS IoT device services: Bringing intelligence to the edge in smart
home applications [Slide deck]. AWS. https://pages.awscloud.com/rs/112-TZM-766/images/2019_0416-IOT_Slide-Deck.pdf
[3] Ariyaratne, U. H. D. T.
N., Vitharana, V. D. Y., Deelaka, L. H. D. R., & Herath, H. M. S. M.
(2022). IoT smart plant monitoring, watering and security system
(arXiv:2202.08153) [Preprint]. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2202.08153
[4] Azzaky, N., &
Widiantoro, A. (2020). Alat penyiram tanaman otomatis berbasis Arduino
menggunakan Internet of Things (IoT). J-Eltrik, 2(2), 86–91.
https://doi.org/10.30649/j-eltrik.v2i2.48
[5] Astutiningtyas, M. B. I.,
Nugraheni, M. M., & Suyoto. (2021). Automatic plants watering system for
small garden. International Journal of Interactive Mobile Technologies
(i-JIM), 15(2), 200–207. https://doi.org/10.3991/ijim.v15i02.12803
[6] Setiawan, I., &
Amaliah, F. R. (2022). Automatic plant watering system for local red onion Palu
using Arduino. Jurnal Online Informatika, 7(1), 28–37.
https://doi.org/10.15575/join.v7i1.813
[7] Owen, M., Suhardi, I.,
Burhan, M. I., Imran, A., & Sari, D. A. L. (2025). Design of a prototype
for soil moisture monitoring and watering control of chili plants based on IoT
(Internet of Things) using Blynk. Journal of Electrical Engineering and
Informatics, 2(2), 99–107. https://doi.org/10.59562/jeeni.v2i2.6800
[8] Mursalin, S. B., Sunardi,
H., & Zulkifli, Z. (2020). Sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis
sensor kelembaban tanah menggunakan logika fuzzy. Jurnal Ilmiah
Informatika Global, 11(1). https://doi.org/10.36982/jiig.v11i1.1072
[9] Febrina, D., Agustina,
S., & Trisnawati, F. (2021). Alat pendeteksi kelembapan tanah dan penyiram
tanaman otomatis berbasis Arduino Uno menggunakan soil moisture sensor dan
relay. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kendali dan Listrik, 2(2),
57–65. https://doi.org/10.33365/jimel.v1i1
[10] Kusuma, A. W. C.,
Nurwarsito, H., & Suprayogo, D. (2021). Monitoring system for
water level and soil moisture for rice fields with LoRa communication on a
wireless sensor network. Journal of Science and Agricultural
Technology, 2(1), 28–37. https://doi.org/10.14456/jsat.2020.6
[11] Gunawan, G., & Sari,
M. (2018). Rancang bangun alat penyiram tanaman otomatis menggunakan sensor
kelembaban tanah. JET (Journal of Electrical Technology), 3(1).
https://doi.org/0.30743/jet.v3i1.290
[12] Subagja, F. E.,
Supriyadi, A. P., & Kurniadi, A. R. (2023). Pengujian sistem penyiraman
tanaman otomatis berbasis IoT. Infotronik, 8(2), 91–97. https://doi.org/10.32897/infotronik.2023.8.2.3015
[13] Hanafi, A., Yuniar, A.
P., Ananda, S. D., & Pramono, P. (2025). Sistem penyiraman otomatis tanaman
cabai berbasis ESP32 dan Internet of Things. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Informasi dan Bisnis (SENATIB) 2025.
https://doi.org/10.47701/b4cwpk49
[14] Ramadhan, F., Dewi, I.
R., & Ayumi, M. A. (2024). Sistem monitoring dan penyiraman otomatis
tanaman Srigading (Nyctanthes arbor-tristis) berbasis IoT dengan
menggunakan sensor kelembapan tanah dan suhu ruang pada pot. INFOTECH
Journal, 10(1), 19–27. https://doi.org/10.31949/infotech.v10i1.8093
[15] Wahid, H. A., Maulindar,
J., & Pradana, A. I. (2023). Rancang bangun sistem penyiraman tanaman
otomatis Aglonema berbasis IoT menggunakan Blynk dan NodeMCU 32. Innovative:
Journal Of Social Science Research, 3(2), 6265–6276. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/1094
[16] Effendi, N., Ramadhani,
W., & Farida, F. (2022). Perancangan sistem penyiraman tanaman otomatis
menggunakan sensor kelembapan tanah berbasis IoT. Jurnal CoSciTech
(Computer Science and Information Technology), 3(2), 91–98.
https://doi.org/10.37859/coscitech.v3i2.3923
[17] Tullah, R., Sutarman,
& Setyawan, A. H. (2019). Sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis
mikrokontroler Arduino Uno pada toko tanaman hias Yopi. Jurnal
SISFOTEK Global, 9(1). http://dx.doi.org/10.38101/sisfotek.v9i1.219










