Tuesday, April 28, 2026

Perancangan dan Implementasi Sistem Penyiraman Tanaman Otomatis Berbasis Internet of Things untuk Lingkungan Rumah Tangga dengan Kendali Mobile


Design and Implementation of an Internet of Things-Based Automatic Plant Watering System for Household Environments with Mobile Control

 Design and Implementation of an Internet of Things-Based Automatic Plant Watering System for Household Environments with Mobile Control | Kusuma | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

1Adi Wahyu Candra Kusuma, ²Azka Rijaalunnaafian , ³Novian Affan, ⁴Putra Aditya, ⁵Anggin Mayastari,Azora Sania Salma,Hasna Nur Askhia

1-7Department of Informatics, Faculty of Science and Technology, UIN SAIZU, Purwokerto, Indonesia.

Email :  adiwahyucandrakusuma@uinsaizu.ac.id

 

Abstrak

Perkembangan teknologi Internet of Things memungkinkan perangkat fisik bekerja secara cerdas melalui proses monitoring dan kontrol jarak jauh. Salah satu penerapannya adalah sistem penyiraman tanaman otomatis yang dirancang untuk membantu merawat tanaman tanpa perlu melakukan penyiraman manual setiap saat. Sistem ini ditujukan bagi pengguna yang ingin berkebun atau merawat tanaman, tetapi memiliki keterbatasan waktu untuk menyiram tanaman secara rutin. Proyek ini mengembangkan sistem penyiraman berbasis ESP32 yang terhubung dengan sensor kelembaban tanah untuk memantau kondisi media tanam secara real time. Ketika kelembaban berada dibawah ambang batas tertentu, pompa air akan aktif otomatis sesuai durasi penyiraman yang telah diatur. Sistem ini mengintegrasikan perangkat keras yaitu ESP32 dan sensor dengan layanan cloud Firebase. Selain itu, pengguna dapat mengontrol sistem secara manual melalui aplikasi mobile berbasis Wi-Fi. Proyek ini menunjukkan sistem berjalan dengan baik. Solusi ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, seperti optimasi algoritma penyiraman, integrasi penyimpanan data, serta peningkatan efisiensi penggunaan air melalui analisis pola kelembaban dalam jangka panjang.

Keywords: Penyiraman Otomatis, ESP32, Internet of Things, Kelembaban Tanah

Abstract

The development of Internet of Things (IoT) technology enables physical devices to operate intelligently through remote monitoring and control processes. One of its applications is an automatic plant watering system designed to assist in plant care without the need for manual watering at all times. This system is intended for users who enjoy gardening or maintaining plants but have limited time to water them regularly. This project develops a watering system based on ESP32, connected to a soil moisture sensor to monitor the condition of the growing media in real time. When the moisture level falls below a certain threshold, a water pump is automatically activated according to a predefined watering duration. The system integrates hardware components, namely the ESP32 and sensors, with the Firebase cloud service. In addition, users can manually control the system through a Wi-Fi-based mobile application. The project demonstrates that the system operates effectively. This solution has the potential for further development, such as optimizing the watering algorithm, integrating data storage, and improving water usage efficiency through long-term moisture pattern analysis.

Keywords: Automatic Watering, ESP32, Internet of Things, Soil Moisture


INTRODUCTION

Perkembangan teknologi terjadi di berbagai bidang, tidak terkecuali pada bidang pertanian. Begitu banyak inovasi teknologi yang muncul di bidang pertanian. Tidak terbatas pada pertanian dalam skala besar, namun dalam pertanian skala kecil, contohnya berkebun skala rumah tangga di rumah juga dapat kita temui permasalahan seputar berkebun. Mulai dari pemilihan tanaman yang sesuai untuk berkebun dalam skala rumah tangga, perawatan tanaman, dan masalah lain yang muncul. Salah satu aspek penting dalam berkebun adalah bagaimana kita memastikan tanaman kita terawat.  Baik  tanaman  hias  maupun tanaman biasa, perawatan pada tanaman merupakan hal yang penting. Salah satu hal krusial dalam perawatan tanaman yaitu penyiraman tanaman. Dengan menggunakan cara manual, kita perlu menyiram tanaman secara langsung dan rutin, dengan cara manual ini memerlukan waktu dan tenaga lebih untuk memastikan tanaman terawat dengan baik. [1][2]

Proyek penyiraman tanaman otomatis ini dapat menjadi solusi untuk permasalahan penyiraman tanaman tersebut. Dengan menggunakan alat penyiraman tanaman otomatis yang terintegrasi dengan aplikasi mobile ini, pengguna dapat dengan mudah melakukan penyiraman tanaman tanpa perlu menggunakan cara manual.[3][4]

Pada penelitian sebelumnya terkait pengembangan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) telah memberikan landasan penting bagi penelitian atau proyek ini, khususnya dalam penerapan teknologi mikrokontroler dan metode kendali irigasi. Astutiningtyas et al. merancang sistem Smart Garden untuk taman skala rumah tangga. Penelitian tersebut menekankan penggunaan sensor kelembaban tanah dan Arduino Uno untuk mengotomatisasi penyiraman, yang bertujuan membantu pemilik tanaman yang memiliki keterbatasan waktu. Sistem ini memungkinkan pemantauan kelembaban tanah melalui smartphone menggunakan jaringan nirkabel. Namun, penelitian ini masih menggunakan arsitektur yang memisahkan unit mikrokontroler (Arduino) dengan modul komunikasi, yang berbeda dengan pendekatan System on Chip (SoC) yang lebih terintegrasi [5].

Selain itu, Setiawan et al. melakukan penelitian spesifik pada komoditas bawang merah Palu menggunakan Arduino dan penyimpanan data lokal pada SD Card. penelitian tersebut berfokus pada analisis statistik untuk menentukan durasi penyiraman optimal, dan didapatkan bahwa waktu penyiraman 3 detik memberikan hasil terbaik untuk parameter pertumbuhan tanaman tertentu. Studi ini menyoroti pentingnya kalibrasi sensor dan logika durasi penyiraman untuk efisiensi air. Meskipun memberikan wawasan mendalam logika kontrol waktu, sistem yang dikembangkan lebih berfokus pada pencatatan data lokal (offline logging) dan belum sepenuhnya memanfaatkan sinkronisasi cloud secara real-time untuk kendali jarak jauh yang responsif.[6]

Pada penelitian lain, Owen et al. (2025) mengembangkan sebuah prototipe sistem monitoring kelembapan tanah dan pengendalian penyiraman tanaman cabai berbasis Internet of Things (IoT) dengan ESP32 dan Blynk sebagai antarmuka pemantauan. Sistem ini memungkinkan pengguna untuk memonitor secara real time dan mengendalikan proses penyiraman melalui dashboard IoT berbasis cloud. Hasil pengujian menunjukkan bahwa integrasi ESP32 dengan sistem monitoring dan kontrol berbasis IoT mampu menjaga kondisi kelembapan tanah pada rentang yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai. Pendekatan ini sejalan dengan arah penelitian ini dalam penggunaan mikrokontroler ESP32 yang efisien dan terhubung ke Internet, namun ketergantungan pada platform pihak ketiga seperti Blynk masih memiliki keterbatasan dalam fleksibilitas dan kustomisasi antarmuka pengguna [7].

Melalui peninjauan terhadap penelitian- penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan sistem irigasi pintar telah berkembang dari penggunaan mikrokontroler dasar hingga penerapan algoritma cerdas. Penelitian ini membangun dan memperluas temuan sebelumnya dengan mengintegrasikan keunggulan dari ESP32 sebagai unit pemrosesan utama dan menggabungkannya dengan layanan Firebase Realtime Database serta aplikasi berbasis Kotlin yang dikembangkan secara khusus (native).

Dengan demikian, kontribusi utama penelitian ini yaitu pengembangan ekosistem penyiraman tanaman otomatis yang tidak hanya menawarkan monitoring secara real-time dengan latensi rendah melalui arsitektur tiga lapis atau Three-Layer Architecture yaitu Hardware-Cloud-App, tetapi juga menyertakan fitur keamanan khusus (safety cutoff). Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada logika Fuzzy atau analisis statistk durasi, penelitian ini menekankan pada reliabilitas sistem melalui mekanisme proteksi pompa dan fleksibilitas mode operasi yaitu mode otomatis dan mode manual melalui aplikasi kustom yang dirancang untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih intuitif, efektif, dan aman [8][9][10].

 

METHOD

Pengembangan sistem dilakukan menggunakan   pendekatan   metode prototyping, karena sistem membutuhkan iterasi antara kebutuhan pengguna, perancangan, implementasi, dan evaluasi. Alasan dipilihnya metode ini karena metode ini memungkinkan penyesuaian perangkat keras, algoritma pembacaan sensor, serta komunikasi data sebelum menghasilkan produk akhir yang stabil. [11][12]

Figure 1.

Metode Prototyping

Sistem ini terdiri dari tiga lapisan utama atau disebut juga Three-Layer Architecture, yaitu:

a.)  Lapisan Perangkat Keras (Hardware Layer)

b.)  Lapisan Server dan Database (Cloud Layer)

c.)  


Lapisan Antarmuka Pengguna (Application Layer)

 

Figure 2. Diagram Blok Lapisan Utama Sistem

Tahapan yang dilakukan dalam pembangunan sistem ini dimulai dengan tahap perancangan dan perakitan perangkat keras. ESP32 dipilih sebagai mikrokontroler utama karena kemampuan Wi-Fi terintegrasi dan dukungan pembacaan nilai analog sensor. Dua sensor kelembaban tanah dipasang pada pin ADC (Analog-to-Digital Converter) ESP32 untuk memperoleh data kadar air tanah dalam satuan presentase.  Modul relay 2 channel dihubungkan ke pin output digital ESP32 untuk mengontrol pompa air. Rangkaian awal disusun menggunakan breadboard agar konfigurasi komponen dapat diuji dan dimodifikasi dengan mudah sebelum dibuat rangkaian permanen [13].

Tahap kedua adalah konfigurasi layanan cloud menggunakan Firebase Realtime Database. Struktur data dibuat dalam format JSON agar perangkat keras dan aplikasi mobile dapat membaca dan memperbarui data secara real-time. Mekanisme komunikasi memanfaatkan sinkronisasi Firebase sehingga perubahan nilai sensor atau perintah pengguna dapat diproses dalam waktu singkat.

Tahap ketiga adalah implementasi perangkat lunak pada ESP32 menggunakan Arduino IDE. Logika sistem mencakup dua mode operasi yaitu otomatis dan manual. Pada mode otomatis, ESP32 memantau nilai kelembaban dan mengaktifkan pompa jika nilai sensor berada di bawah ambang batas yang ditentukan. Pada mode manual, pompa hanya aktif berdasarkan instruksi aplikasi mobile. Sistem dilengkapi batasan durasi penyiraman untuk menghindari kerusakan atau penyiraman berlebih akibat kesalahan pembacaan sensor.

Tahap keempat adalah pengembangan aplikasi Android menggunakan bahasa Kotlin. Aplikasi menampilkan data kelembaban tanah, mode sistem, serta status pompa dalam bentuk antarmuka visual yang mudah dipahami atau user-friendly. Aplikasi juga memungkinkan pengguna mengubah mode  operasi  dan  memberi  perintah penyiraman secara manual melalui koneksi ke Firebase.

Tahap terakhir adalah pengujian sistem secara fungsional. Pengujian dilakukan pada beberapa kondisi kelembaban tanah dan mode operasi. Evaluasi mencakup sensitivitas sensor, respon relay dan pompa, stabilitas koneksi cloud, serta kecepatan penyelarasan data antara perangkat keras dan aplikasi. Hasil pengujian digunakan untuk memperbaiki konfigurasi sensor, parameter logika algoritma, serta tampilan antarmuka agar sistem lebih responsive dan dapat digunakan dengan nyaman

 

 

 

 

 

 

 


.

 

Figure 3.

Arsitektur Komunikasi Data dan Integrasi IoT

Dalam pembuatan alat penyiraman otomatis ini, komponen yang digunakan antara lain :

a.)                         


Mikrokontroler ESP32

Figure 4.

Mikrokontroler ESP32

Sebagai unit pemrosesan pusat (Central Processing Unit) yang mengolah logika program dan modul komunikasi Wi-Fi untuk terhubung ke internet.

b.)                          Sensor Kelembaban Tanah


Figure 5. Sensor Kelembaban Tanah

Untuk mendeteksi kadar air dalam tanah.

c.)                          


Modul Relay 2 Channel

 

Figure 6. Modul Relay 2 Channel

 

Bertindak sebagai saklar elektronik untuk mengendalikan aliran Listrik tegangan tinggi atau besar menuju pompa air, yang dipicu oleh sinyal logika rendah (3.3 V) dari ESP32.

d.) 


Pompa DC

 

Figure 7. Pompa DC

Berfungsi mengalirkan air ke tanaman saat menerima daya listrik dari relay.

e.) 


Bread Board

Figure 8. Bread Board

Berfungsi sebagai platform uji rangkaian tanpa proses penyolderan, sehingga konfigurasi komponen dapat dirancang serta dimodifikasi dengan mudah.

f.)   


Kabel USB

 

Figure 9.

Kabel USB

Kabel USB digunakan sebagai media transfer data dan suplai daya antara komputer          dan mikrokontroler ESP32 selama proses pemrograman dan pengujian.

g.)                         


Kabel Jumper

 

Figure 10.

Kabel Jumper

Berfungsi sebagai penghubung antar komponen pada rangkaian, termasuk sensor, modul, dan mikrokontroler, untuk memastikan aliran sinyal dan daya berjalan sesuai desain sistem.


 

Figure 11.

Flowchart Algoritma Pengendalian Sistem

Implementasi logika sistem seperti pada Figure 11 diatas, memastikan operasi berjalan secara sistematis dan responsif. Proses dimulai dari akuisisi data sensor yang disinkronisasi ke Firebase untuk pemantauan real-time, diikuti oleh evaluasi mode operasi yang aktif. Pada mode otomatis, Keputusan penyiraman bergantung sepenuhnya pada komparasi nilai kelembaban tanah terhadap ambang batas yang telah ditentukan, sedangkan mode manual memberikan prioritas eksekusi pada intervensi pengguna melalui aplikasi Android. Seluruh perubahan status aktuator kemudian diperbarui kembali ke basis data untuk menutup siklus umpan balik, menjamin konsistensi infomasi antara kondisi fisik di lapangan dan tampilan antarmuka pengguna.

 

 

 

 

 

 

RESULT

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Figure 12. Hasil Akhir Prototipe Penyiraman Otomatis

 

Figure 13. Tampilan Aplikasi Mobile Penyiraman Otomatis

Implementasi Sistem

Hasil implementasi sistem penyiraman tanaman otomatis ini berhasil megintegrasikan tiga komponnen utama yaitu perangkat keras berbasis ESP32, backend Firebase Realtime Database, dan aplikasi Android berbasis Kotlin. Pada sisi perangkat keras, mikrokontroler ESP32 berfungsi sebagai gateway utama. Sensor Soil Moisture ditempatkan pada media tanam untuk mengakuisisi data analog yang dikonversi menjadi nilai digital (0-4095). Berdasarkan pengujian fisik, modul relay berhasil memutus dan menyambungkan arus Listrik AC ke pompa air berdasarkan sinyal logic (HIGH/LOW) yang dikirimkan oleh pin GPIO ESP32.

Aplikasi Android dirancang dengan antarmuka yang minimalis untuk memudahkan penggunaan. Halaman utama menampilkan :

a.)       Status kelembaban tanah : indikator visual berupa presentase (%) dan status teks atau keterangan kondisi tanah (Tanah KERING/Tanah BASAH)

b.)      Mode : Keterangan mode yang dipilih (MANUAL/OTOMATIS)

c.)       Pompa : Keterangan kondisi pompa secara real-time (ON/OFF)

d.)      Tombol pengaturan mode : tombol interaktif untuk memilih mode penyiraman manual atau otomatis

e.)       Tombol siram : tombol interaktif untuk melakukan penyiraman tanaman saat tombol ditekan secara real time

Pengujian menunjukkan bahwa aplikasi  mampu  mempertahankan stabil dengan Firebase, dan perubahan data pada user-interface terjadi secara real-time mengikuti perubahan pada database.

Pengujian dan Analisis Fungsional

Pengujian dila9kukan untuk memvalidasi alur kerja sistem, baik pada mode uplink (monitoring) maupun downlink (controlling). Pada analisis latensi transmisi data (Monitoring), sistem memanfaatkan protokol WebSocket yang disediakan oleh Firebase. Dalam pengujian monitoring, dilakukan observasi terhadapp jeda waktu (latency) antara perubahan kondisi tanah fisik hingga data tampil di layar Android. Hasil rata rata latensi yang terukur adalah <1 detik pada koneksi internet stabil. Kecepatan ini tercapai karena arsitektur Firebase yang menggunakan mekanisme listener. Aplikasi Android tidak perlu melakukan request berulang (polling), melainkan hanya menerima perubahan data pada node JSON tertentu. Hal ini membuktikan efisiensi penggunaan bandwidth dan responsivitas sistem yang tinggi.[14][15] Kemudian pada pengujian mode operasi (controlling), sistem diuji dalam dua skenario utama untuk memastikan logika program berjalan sesuai rancangan :

1.    Skenario Mode Manual

Pengguna menekan tombol “SIRAM SEKARANG” pada aplikasi. Kemudian database memperbarui status pompa menjadi ON, ESP32 membaca perubahan tersebut dan mengaktifkan relay. Hasilnya pompa menyala sesuai perintah jarak jauh tanpa memperhatikan kondisi kelembaban tanah. Ini memberikan kendali penuh kepada pengguna saat terjadi anomali atau kebutuhan penyiraman insidental.

2.    Skenario Mode Otomatis

Threshold ditetapkan pada kelembaban 30%. Kemudian sensor diletakkan pada tanah kering (Kelembaban dibawah 30%), lalu sistem secara otomatis mengabaikan input tombol manual. Mikrokontroler mengambil alih kendali dan mengaktifkan pompa hingga nilai sensor mencapai >30%.

Table 1. Tabel Hasil Pengujian Sensor Tanah dan Pompa Air

Mode

Tombol Manual

Kelembaban

Pompa

Otomatis

-

10%

Menyala

Otomatis

Otomatis

-

15%

Menyala

 

 

 

Otomatis

Otomatis

-

48%

Mati

Otomatis

-

72%

Mati

Manual

ON

27%

Menyala

 

 

 

Manual

Manual

ON

20%

Menyala

Manual

OFF

80%

manual

Mati

 

Sistem dapat dijalankan dengan baik dan dapat beralih antara mode otomatis dan mode manual dengan baik dan cepat. Sistem juga dapat menjalankan kontrol pompa sesuai dengan logika program yang sudah dibuat dengan respon waktu yang akurat dan real time.

 

Table 2. Tabel Hasil Pengujian Sensor Tanah dan Pompa Air

Aspek Pengujian

Hasil

Kesimpulan

Sensor membaca

Sesuai kondisi

10%

Nilai kelembaban

Otomatisasi berdasarkan kelembaban

tanah

Pompa ON < 30%

15%

Mode manual aktif

dan bekerja

-

48%

Pergantian mode berjalan lancar

-

72%

Respon Sistem

On

27%

 

Berdasarkan karakteristik prototipe yang dihasilkan, sistem ini sangat direkomendasikan untuk digunakan pada tanaman seperti cabai atau tomat. Rekomendasi ini didasarkan pada pengaturan otomatis alat yang mulai melakukan penyiraman saat kelembaban tanah turun ke angka 30%, yang merupakan batas aman agar tanaman tersebut tidak layu atau stres akibat kekeringan. Dengan menjaga kadar air dalam tanah tetap stabil di atas angka yang sudah ditetapkan tersebut, sistem ini memastikan tanaman mendapatkan asupan air yang cukup untuk tumbuh subur tanpa risiko pemberian air berlebih yang justru dapat membuat tanaman mati.

Implementasi arsitektur tiga lapis atau Three-Layer Architecture berbasis ESP32 dan Firebase dalam penelitian ini berhasil menawarkan efisiensi komunikasi data yang lebih unggul dibandingkan pendekatan konvensional yang masih memisahkan unit mikrokontroler dengan modul komunikasi. Berbeda dengan pengembangan terdahulu yang cenderung berfokus pada kompleksitas algoritma seperti logika fuzzy atau analisis statistik durasi, penelitian ini justru memprioritaskan reliabilitas operasional melalui integrasi mekanisme Safety Cutoff pada metode ambang batas sederhana. Strategi ini terbukti efektif memitigasi risiko kegagalan sensor yang seringkali menyebabkan anomali data atau overwatering di lapangan. Keputusan untuk mengembangkan aplikasi Android secara native memberikan otonomi penuh dalam manajemen fitur kontrol hibrida, mengatasi keterbatasan kustomisasi yang umumnya ditemui pada penggunaan platform IoT siap pakai, sehingga menghasilkan sistem yang tidak hanya responsif tapi juga aman untuk penggunaan jangka panjang.

 

CONCLUSION

Dari perancangan dan pembangunan sistem penyiraman tanaman otomatis ini dapat disimpulkan bahwa integrasi arsitektur tiga lapis atau Three-Layer Architecture yang meliputi ESP32, Firebase Realtime Database, dan aplikasi Android native berhasil menciptakan ekosistem penyiraman otomatis yang responsif dan efektif. Pengujian sistem membuktikan bahwa mekanisme kontrol hibrida (manual dan otomatis) mampu menjaga kelembaban tanah pada kondisi ideal, dengan latensi komunikasi data yang terminimalisir secara signifikan berkat sinkronisasi cloud berbasis WebSocket. Keberadaan fitur Safety Cutoff menjadi nilai tambah krusial yang secara efektif memitigasi risiko kegagalan perangkat keras dan pemborosan air. Secara keseluruhan, sistem ini mampu menjaga kondisi tanah tetap ideal secara otomatis, sekaligus memberikan rasa aman bagi pengguna melalui fitur monitoring dan kendali jarak jauh [16][17].

 

REFERENCES

[1] Candradewani, B. L., Indriyanto, S., & Permatasari, I. (2025). Sistem monitoring kelembapan media tanam Aglaonema SP berbasis Internet of Things (IoT). Jurnal SINTA: Sistem Informasi dan Teknologi Komputasi, 2(3), 103–115. https://doi.org/10.61124/sinta.v2i3.60

[2] Amazon Web Services, Inc. (2019). AWS IoT device services: Bringing intelligence to the edge in smart home applications [Slide deck]. AWS. https://pages.awscloud.com/rs/112-TZM-766/images/2019_0416-IOT_Slide-Deck.pdf

[3] Ariyaratne, U. H. D. T. N., Vitharana, V. D. Y., Deelaka, L. H. D. R., & Herath, H. M. S. M. (2022). IoT smart plant monitoring, watering and security system (arXiv:2202.08153) [Preprint]. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2202.08153

[4] Azzaky, N., & Widiantoro, A. (2020). Alat penyiram tanaman otomatis berbasis Arduino menggunakan Internet of Things (IoT). J-Eltrik, 2(2), 86–91. https://doi.org/10.30649/j-eltrik.v2i2.48

[5] Astutiningtyas, M. B. I., Nugraheni, M. M., & Suyoto. (2021). Automatic plants watering system for small garden. International Journal of Interactive Mobile Technologies (i-JIM), 15(2), 200–207. https://doi.org/10.3991/ijim.v15i02.12803

[6] Setiawan, I., & Amaliah, F. R. (2022). Automatic plant watering system for local red onion Palu using Arduino. Jurnal Online Informatika, 7(1), 28–37. https://doi.org/10.15575/join.v7i1.813

[7] Owen, M., Suhardi, I., Burhan, M. I., Imran, A., & Sari, D. A. L. (2025). Design of a prototype for soil moisture monitoring and watering control of chili plants based on IoT (Internet of Things) using Blynk. Journal of Electrical Engineering and Informatics, 2(2), 99–107. https://doi.org/10.59562/jeeni.v2i2.6800

[8] Mursalin, S. B., Sunardi, H., & Zulkifli, Z. (2020). Sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis sensor kelembaban tanah menggunakan logika fuzzy. Jurnal Ilmiah Informatika Global, 11(1). https://doi.org/10.36982/jiig.v11i1.1072

[9] Febrina, D., Agustina, S., & Trisnawati, F. (2021). Alat pendeteksi kelembapan tanah dan penyiram tanaman otomatis berbasis Arduino Uno menggunakan soil moisture sensor dan relay. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kendali dan Listrik, 2(2), 57–65. https://doi.org/10.33365/jimel.v1i1

[10] Kusuma, A. W. C., Nurwarsito, H., & Suprayogo, D. (2021). Monitoring system for water level and soil moisture for rice fields with LoRa communication on a wireless sensor network. Journal of Science and Agricultural Technology, 2(1), 28–37. https://doi.org/10.14456/jsat.2020.6

[11] Gunawan, G., & Sari, M. (2018). Rancang bangun alat penyiram tanaman otomatis menggunakan sensor kelembaban tanah. JET (Journal of Electrical Technology), 3(1). https://doi.org/0.30743/jet.v3i1.290

[12] Subagja, F. E., Supriyadi, A. P., & Kurniadi, A. R. (2023). Pengujian sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis IoT. Infotronik, 8(2), 91–97. https://doi.org/10.32897/infotronik.2023.8.2.3015

[13] Hanafi, A., Yuniar, A. P., Ananda, S. D., & Pramono, P. (2025). Sistem penyiraman otomatis tanaman cabai berbasis ESP32 dan Internet of Things. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Bisnis (SENATIB) 2025. https://doi.org/10.47701/b4cwpk49

[14] Ramadhan, F., Dewi, I. R., & Ayumi, M. A. (2024). Sistem monitoring dan penyiraman otomatis tanaman Srigading (Nyctanthes arbor-tristis) berbasis IoT dengan menggunakan sensor kelembapan tanah dan suhu ruang pada pot. INFOTECH Journal, 10(1), 19–27. https://doi.org/10.31949/infotech.v10i1.8093

[15] Wahid, H. A., Maulindar, J., & Pradana, A. I. (2023). Rancang bangun sistem penyiraman tanaman otomatis Aglonema berbasis IoT menggunakan Blynk dan NodeMCU 32. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(2), 6265–6276. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/1094

[16] Effendi, N., Ramadhani, W., & Farida, F. (2022). Perancangan sistem penyiraman tanaman otomatis menggunakan sensor kelembapan tanah berbasis IoT. Jurnal CoSciTech (Computer Science and Information Technology), 3(2), 91–98. https://doi.org/10.37859/coscitech.v3i2.3923

[17] Tullah, R., Sutarman, & Setyawan, A. H. (2019). Sistem penyiraman tanaman otomatis berbasis mikrokontroler Arduino Uno pada toko tanaman hias Yopi. Jurnal SISFOTEK Global, 9(1). http://dx.doi.org/10.38101/sisfotek.v9i1.219

 

No comments:

Post a Comment