Analysis of Ammonia (NH₃) Levels in Cigarette Industry Wastewater in Pasuruan Regency as Environmental Quality Monitoring Using the Phenate Spectrophotometric Method
Reka Driananta Tresna Dewi1, Indah Ardiningsih2, Rinto Erwin Handoko3
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis kadar amonia (NH₃) pada air limbah industri
rokok sebagai upaya pemantauan kualitas lingkungan di UPT Laboratorium
Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan. Metode yang digunakan
adalah spektrofotometri secara fenat berdasarkan standar SM APHA 24 rd
Ed. 5240 C.2023, di mana amonia bereaksi dengan fenol dan hipoklorit membentuk
senyawa kompleks indofenol berwarna biru yang diukur pada panjang gelombang 640
nm. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kurva
kalibrasi sebagai dasar penentuan konsentrasi amonia dalam sampel. Hasil
analisis menunjukkan bahwa kurva kalibrasi memiliki hubungan linear yang baik
dengan nilai koefisien determinasi (R²) yang memenuhi syarat validitas metode.
Data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan baku mutu air limbah sesuai
peraturan yang berlaku untuk menilai tingkat pencemaran. Secara umum, analisis
kadar amonia ini penting dalam mendukung pengendalian pencemaran lingkungan
serta memastikan kualitas air limbah yang dibuang telah sesuai standar yang
ditetapkan.
Kata
Kunci: Amonia
(NH₃), Air limbah, Industri rokok, Spektrofotometri fenat.
Abstract
This
study aims to analyze the ammonia (NH₃) levels in cigarette industry wastewater
as an effort to monitor environmental quality at the Environmental Laboratory
Unit of the Environmental Agency of Pasuruan Regency. The method used is
phenate spectrophotometry based on the SM APHA 24 rd Ed. 5240 C.2023
standard, in which ammonia reacts with phenol and hypochlorite to form a blue
indophenol complex compound measured at a wavelength of 640 nm. This research
is descriptive quantitative in nature, utilizing a calibration curve as the
basis for determining ammonia concentration in the samples. The analysis
results show that the calibration curve has a good linear relationship with a
coefficient of determination (R²) that meets the method validity requirements.
The obtained data were then compared with wastewater quality standards
according to applicable regulations to assess the level of pollution. Overall,
the analysis of ammonia levels is important in supporting environmental
pollution control and ensuring that discharged wastewater meets the established
standards.
Keywords:
Ammonia
(NH₃), Wastewater, Cigarette industry, Phenate spectrophotometry.
Article Info
Received date: 10 April 2026 Revised date: 15
April 2026 Accepted date: 20 April 2026
PENDAHULUAN
Air merupakan sumber daya
alam yang diperlukan untuk kebutuhan hidup orang banyak, bahkan oleh semua
mahkluk hidup. Sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan
dengan baik oleh manusia serta mahkluk hidup yang lain, pemanfaatan air untuk
berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana (Azizah & Humairoh,
2015). Namun, peningkatan aktivitas manusia yang tidak diimbangi dengan
pengelolaan limbah yang baik telah menyebabkan pencemaran air dan menurunkan
kualitas lingkungan (Rosmeiliyana & Wardhani, 2021).
Pencemaran air dapat
terjadi dari berbagai macam sumber, yaitu dari kegiatan manusia ataupun dari
alam sekitar (Hussein, 2021). Namun, salah
satu sumber pencemaran berasal dari limbah industri, termasuk industri rokok
yang menghasilkan limbah cair mengandung senyawa kimia seperti amonia (Mason,
2002). Amonia dalam konsentrasi tinggi bersifat toksik, dapat menyebabkan
eutrofikasi, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta berdampak buruk bagi
organisme perairan dan kesehatan manusia (Davis, 1999).
Untuk mengendalikan
pencemaran, pemerintah menetapkan baku mutu air limbah dengan berbagai
parameter, termasuk amonia, yang umumnya dianalisis secara ex situ di
laboratorium (Ramadhan & Hamidah, 2024). Oleh karena itu, analisis kadar
amonia pada air limbah industri rokok penting dilakukan sebagai upaya
pemantauan kualitas lingkungan dan memastikan kesesuaian dengan standar yang
berlaku.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Maret 2025 di UPT Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan.
Alat
Alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalahspektrofotometer, timbangan analitik, erlenmeyer, labu
ukur, gelas ukur, pipet volumetrik, pipet ukur, dan gelas piala.
Bahan
Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah amonium klorida (NH4Cl), larutan fenol
(C6H5OH), natrium nitroprusida (C5FeN6Na2O)
0,5%, larutan alkali sitrat (C6H5Na3O7),
natrium hipoklorit (NaClO) 5%, dan larutan pengoksidasi.
Rancangan
Penelitian
Adapun rancangan
penelitian yang dilakukan adalah pembuatan larutan induk amonia, pembuatan
larutan baku amonia, pembuatan larutan kerja amonia, pembuatan kurva kalibrasi,
dan pengujian kadar amonia.
Pembuatan
Larutan Induk Amonia
Larutkan 3.189 g amonium
klorida (telah dikeringkan pada suhu 100o C) dimasukkan dalam labu
ukur 1000 mL, dan diencerkan dengan air suling sampai tanda tera kemudian
dihomogenkan.
Pembuatan
Larutan Baku Amonia
Larutan baku amonia 100
mg N/L dibuat dengan memipet 10 mL larutan baku, kemudian diencerkan dengan air
suling hingga volume 100 mL dan dihomogenkan.
Pembuatan
Larutan Kerja Amonia
Larutan standar dibuat
dengan memipet masing-masing 0,0; 1,0; 2,0; 3,0; dan 5,0 mL larutan baku amonia
10 mg N/L ke dalam labu ukur 100 mL, kemudian diencerkan dengan air suling
hingga tanda tera dan dihomogenkan.
Pembuatan Kurva Kalibrasi
Pengukuran kadar amonia
dilakukan dengan mencampurkan 25 mL larutan kerja dengan reagen fenol, natrium
nitroprusid, dan pengoksidasi, kemudian didiamkan selama 1 jam. Selanjutnya,
larutan diukur serapannya pada panjang gelombang 640 nm menggunakan
spektrofotometer, dan data yang diperoleh digunakan untuk membuat kurva
kalibrasi.
Pengujian Kadar Amonia
Sebanyak 25 mL sampel
ditambahkan reagen fenol, natrium nitroprusid, dan pengoksidasi, kemudian
didiamkan selama 1 jam sebelum diukur absorbansinya pada 640 nm dengan
spektrofotometer.
Perhitungan
a. Amonia
total (NH3 – N)
Kadar Amonia (Mg/L)
= C x fp
Dengan
pengertian:
C
adalah kadar yang di dapat dari hasil pengukuran (Mg/L),
Fp
adalah faktor pengenceran.
b. Amonia
bebas (NH3)
Kadar Amonia =
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pembuatan
Kurva Kalibrasi
Sebelum melakukan
pengukuran konsentrasi ammonium dalam sampel limbah cair industri rokok diperlukan
kurva kalibrasi. Kurva kalibrasi merupakan grafik hubungan antara variasi
konsentrasi ammonium standar dengan absorbansi yang dihasilkan pada panjang
gelombang Visible (Nie dkk., 2020). Output dari
kurva kalibrasi ini adalah suatu persaman garis linear y = ax + b yang akan digunakan
untuk mencari konsentrasi ammonium dalam sampel. Konsentrasi yang digunakan
untuk larutan standar yaitu 0 ppm; 0,02 ppm; 0,1 ppm; 0,5 ppm; 1,0 ppm; 1,5
ppm; dan 2,0 ppm. Untuk larutan kerja 0 ppm hanya menggunakan aquades.
Pemilihan rentang konsentrasi dalam penelitian ini didasarkan pada batas
maksimum konsentrasi ammonium yang diperbolehkan sesuai dengan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 yaitu (≤10 mg/L
NH₃-N). Berdasarkan hasil pengukuran maka diperoleh absorbansi larutan standar
yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.
Absorbansi larutan standar amonia
|
Standar ke- |
Konsentrasi
mg/L |
Absorbansi |
|
0 |
0,000 |
0,000 |
|
1 |
0,020 |
0,043 |
|
2 |
0,100 |
0,210 |
|
3 |
0,500 |
0,571 |
|
4 |
1,000 |
0,987 |
|
5 |
1,500 |
1,474 |
|
6 |
2,000 |
1,960 |
Berdasarkan data
pada Tabel 1. diperoleh kurva kalibrasi seperti yang disajikan
pada Gambar 1.
Berdasarkan kurva
kalibrasi diperoleh persamaan regresi linier 0,95314x + 0,05222 dengan nilai R²
= 0,99719, yang digunakan untuk menentukan konsentrasi amonia. Nilai tersebut
memenuhi syarat keberterimaan koefisien korelasi (r ≥ 0,97) menurut SM APHA 24
rd Ed. 5240 C.2023. Diketahui bahwa nilai R2 pada Gambar 4.2
yakni 0,99719, dengan demikian nilai r yaitu 0,99855 sehingga hasil dari kurva
kalibrasi yang dibuat memenuhi syarat dan dapat digunakan untuk proses analisis.
Selain itu, hubungan antara konsentrasi amonium dan absorbansi bersifat linear,
di mana peningkatan konsentrasi diikuti dengan peningkatan nilai absorbansi
(Safitri, 2014).
Pengujian
Kadar Amonia
Pada penelitian ini jumlah
sampel yang akan diuji yaitu 3 sampel limbah cair industri rokok (sampel X, Y,
dan Z), dan dilakukan pengulangan perlakuan sebanyak tiga kali. Pengujian
parameter amonia diawali dengan pembuatan reagen. Pertama yakni pembuatan
reagen fenol. Fungsi dari reagen fenol dalam pengujian amonia dengan metode
fenat yakni untuk membentuk kompleks berwarna biru yang dapat mengindikasikan
keberadaan amonia dalam larutan (Murti & Purwanti, 2014).
Tahap kedua yaitu pembuatan
larutan pengoksidasi. Fungsi dari larutan pengoksidasi yakni untuk mengubah
amonia (NH3) menjadi ion amonium (NH4+).
Natrium hipoklorit bertinda sebagai oksidator dalam reaksi dengan amonia.
Ketika larutan NaOCl ditambahkan ke dalam larutan yang mengandung amonia, ia
bereaksi dengan amonia untuk membentuk ion amonium (NH₄⁺) dan ion klorida (Cl⁻) (Paramita., 2023). Reaksinya yaitu:
NH3 +NaOCl
+ H2O → NH4+ + Cl- + NaOH
Tahap ketiga yaitu menyiapkan
natrium nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0,5%. Fungsi
dari larutan nitroprusida yakni sebagai katalis (Alkindi dkk., 2023) untuk
mempercepat reaksi dengan cara menyediakan alternatif jalur dengan energi
aktivasi yang lebih rendah (Lolowang et al., 2017), sehingga
reaksi dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Kemudian sampel diambil
dengan pipet volume 25 mL dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL kemudian
ditambahkan 1 mL larutan fenol dan dihomogenkan lalu ditambahkan 1 mL natrium
nitroprusid, dihomogenkan dan ditambahkan 2,5 mL larutan pengoksidasi,
dihomogenkan. Erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil lalu ditunggu selama 1
jam untuk pembentukan warna (biru). Reaksi pembentukan warna biru membentuk
senyawa indofenol. Pada reaksi ini amonia yang terkandung dalam sampel akan
bereaksi dengan natrium hipoklorit yang berasal dari larutan pengoksidasi
membentuk senyawa monokloramin. Reaksinya yaitu:
NH3 + NaOCl → NH2Cl
+ NaOH
Setelah 1 jam warna yang
terbentuk sudah maksimal dan siap dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan
spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis dilakukan
pada panjang gelombang 640 nm. Berikut hasil pengukuran kadar amonia dengan
spektrofotometer UV-Vis yang dilakukan pada panjang gelombang 640 nm.
|
Sampel IDE |
Absorbansi |
Baku Mutu (mg/L) |
Konsentrasi (mg/L) |
|
Sampel X |
0,0712 |
10 |
0,0199 |
|
Sampel Y |
0,1226 |
10 |
0, 0738 |
|
Sampel Z |
0,0685 |
10 |
0,0170 |
|
Sampel Z dp |
0,0687 |
10 |
0,0173 |
Berdasarkan hasil
pengukuran dengan instrument spektrofotometer UV-Vis diperoleh hasil nilai
absorbansi pada sampel industri rokok X sebesar ;
pada sampel industri rokok Y sebesar
;
pada sampel industri rokok Z sebesar
;
dan pada sampel industri rokok Z secara duplo sebesar
L.
Hasil tersebut kemudian dihitung dengan persamaan linear yang telah didapatkan,
sehingga diperoleh konsentrasi amonia total dalam sampel limbah cair industri
rokok X, Y, Z, Z duplo secara berturut-turut adalah 0,0199 mg/L;
0,0738 mg/L;
0,0170 mg/L;
dan 0,0173 mg/L.
Dikarenakan sampel limbah cair industri rokok Z dilakukan pengulangan (duplo)
maka konsentrasi amonia pada sampel Z dirata-rata terlebih dahulu dan
didapatkan hasil sebesar 0,01715 mg/L.
Berdasarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014, baku mutu air limbah
bagi industri rokok kategori II sebesar 10 mg/L. Pada sampel yang diujikan
konsentrasi amonia tidak melebihi baku mutu. Jika kadar amonia dalam limbah
industri rokok tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 untuk Kategori II (≤10
mg/L NH₃-N), maka limbah tersebut dianggap aman terhadap lingkungan, baik bagi
ekosistem air maupun kesehatan masyarakat.
KESIMPULAN
Berdasarkan baku mutu air
limbah industri rokok yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014, semua sampel air limbah industri rokok
yang telah diuji memenuhi baku mutu parameter amonia, dimana ditetapkan dalam
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 untuk
Kategori II yaitu (≤10 mg/L NH₃-N).
UCAPAN
TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini,
peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu
terwujudnya penelitian ini yaitu UPT Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pasuruan.
REFERENSI
Alkindi, F. F.,
Budiono, R., & Al-Islami, F. N. (2023). Pengujian Analisis Kadar Amonia
Dalam Air Sungai Di Daerah Industri Sier Surabaya Menggunakan Metode Fenat
Secara Spektrofotometri Visible. MEDFARM: Jurnal Farmasi Dan Kesehatan, 12(2),
181–189. https://doi.org/10.48191/medfarm.v12i2.234
Azizah, M., &
Humairoh, M. (2015). Analisis Kadar Amonia (NH3) Dalam Air Sungai Cileungsi. Nusa
Sylva, 15(82), 47–54.
Hussein, S. (2021). Pencemaran perairan akibat kadar amonia
yang tinggi dari limbah cair industri tempe. Jurnal Akuatika, 4(2),
183–194.
Lolowang, F., Suryanto, E., & Citraningtyas, G. (2017).
Aktivitas Antioksidan Dari Ekstrak Residu Empelur Batang Sagu Baruk (Arenga
microcarpha). PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT, 6(4), 139–148.
Mason C, Lehman D, M. G. (2002). Texbook of diagnostic
microbiologi 4th ed. Saunders Elsevier, 12(2), 420-853P.
Murti, R. S., & Purwanti, C. M. H. (2014). Optimasi
waktu reaksi pembentukan kompleks indofenol biru stabil pada uji n-amonia air
limbah industri penyamakan kulit dengan metode fenat. Majalah Kulit, Karet,
Dan Plastik, 30(1), 29. https://doi.org/10.20543/mkkp.v30i1.121
Nie, J., Gao, Q., Fu, J., & He, Y. (2020). Grafting of
3D Bioprinting to In Vitro Drug Screening: A Review. Advanced Healthcare
Materials, 9(7), 1–18. https://doi.org/10.1002/adhm.201901773
Paramita., R. A. (2023). Analisis Total Suspended Solid
(TSS) Dan Amonia Total (NH3-N) Pada Aliran Air Sungai Bedaung Di Daerah
Arjasa Jember. Inovasi Teknik Kimia, 8(2), 77–82.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
(2014). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun
2014 tentang peraturan baku mutu air limbah.
Ramadhan, M. N., & Hamidah, L. N. (2024). Eksplorasi
Kualitas Air Limbah Domestik pada Kawasan Perhotelan. Kerja Praktek Teknik
Lingkungan, 1(1), 1–10. https://journal.unusida.ac.id/index.php/kptl/
Rosmeiliyana, T. K., & Wardhani, F. (2021). Uji Kualitas Air Sumur
Dengan Menggunakan Metode Mpn (Most Probable Numbers) Di Desa Dayah Tanoh
Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie Tahun 2020. Jurnal Real Riset,
3(2), 118. https://doi.org/10.47647/jrr
Safitri, W, R. (2014). Analisis Korelasi Dalam Menentukan
Hubungan Antara Kejadian Demam Berdarah Dengue Dengan Kepadatan Penduduk Di
Kota Surabaya Pada Tahun 2012 - 2014. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(3),
1–9.
No comments:
Post a Comment