The Role of Islamic Religious Education Teachers in Educating Students on Identity Issues and Adolescent Social Relationships at SMAN 1 Kadugede
Rezy Wulan Mariani1, Selfi Afrianti2, Raisa Liani Putri3, Qurratul Aini4, Aulia Putri Azahara5, Sal Sabillah Adi Putri6, Mufida Aulia7, Murni Fatmala Dewi Siagian8, Hamdani Aidil Pratama9, M. Diaz Aura Justin10, Sulthanah Nashifah Dinnullah11, Ere Mardella Arbiani12
1-12Program Studi
Pendidikan Kimia Universitas Riau
Email:
rezy.wulan4805@student.unri.ac.id
Abstract
The silent reader phenomenon is one of the
communication behaviors that is often found in students' online class groups.
This behavior refers to individuals who read and follow information in a group,
but never respond or actively engage in discussions. This study aims to analyze
the phenomenon of silent readers in class groups and explore its impact on
student academic communication. The method used is a literature study by
examining various scientific sources that discuss digital communication, group
interaction, and student behavior in online learning. The results showed that
silent readers' behavior was influenced by internal factors such as low
self-confidence, fear of making mistakes, and low motivation, as well as
external factors such as social hierarchy, group communication culture, and
information density in the group. This behavior has a negative impact on
academic communication, including reduced two-way interaction, decreased
quality of discussion, and inhibited collaboration between students. However,
some students still get information through passive observation. Therefore,
efforts are needed to create a more inclusive communication environment and
encourage the active involvement of all group members so that academic
communication can run more effectively.
Keywords: silent reader,
academic communication, online class groups, student participation, online
learning
Abstrak
Fenomena silent reader menjadi salah satu perilaku
komunikasi yang kerap ditemukan dalam grup kelas daring mahasiswa. Perilaku ini
merujuk pada individu yang membaca dan mengikuti informasi dalam grup, tetapi
tidak pernah memberikan respons maupun terlibat aktif dalam diskusi. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis fenomena silent reader dalam grup kelas serta
mengeksplorasi dampaknya terhadap komunikasi akademik mahasiswa. Metode yang
digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah yang
membahas komunikasi digital, interaksi kelompok, dan perilaku mahasiswa dalam
pembelajaran daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku silent reader
dipengaruhi oleh faktor internal seperti rendahnya rasa percaya diri, ketakutan
berbuat salah, dan motivasi yang rendah, serta faktor eksternal seperti
hierarki sosial, budaya komunikasi kelompok, dan padatnya informasi dalam grup.
Perilaku ini berdampak negatif pada komunikasi akademik, di antaranya
berkurangnya interaksi dua arah, menurunnya kualitas diskusi, dan terhambatnya
kolaborasi antarmahasiswa. Meski demikian, sebagian mahasiswa tetap memperoleh
informasi melalui observasi pasif. Oleh karena itu, diperlukan upaya
menciptakan lingkungan komunikasi yang lebih inklusif dan mendorong keterlibatan
aktif seluruh anggota grup agar komunikasi akademik dapat berjalan lebih
efektif.
Kata kunci: silent reader, komunikasi akademik, grup kelas daring, partisipasi mahasiswa, pembelajaran daring
PENDAHULUAN
Teknologi
informasi dan komunikasi terus berkembang dengan cepat dan membawa perubahan
mendasar dalam cara manusia berinteraksi satu sama lain. Perkembangan ini
menjadikan penyebaran informasi lintas wilayah dan waktu semakin mudah
dilakukan tanpa hambatan yang berarti (Prasasty, 2023). Perubahan pola
komunikasi tersebut tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat umum,
tetapi juga secara nyata memengaruhi ekosistem pendidikan, terutama dalam cara
mahasiswa dan dosen bertukar informasi di luar jam perkuliahan formal.
WhatsApp,
sebagai salah satu platform pesan instan yang paling banyak digunakan di
Indonesia, kini menjadi media utama yang menopang komunikasi akademik mahasiswa
dalam kegiatan sehari-hari (Maulani et al., 2025). Kemudahan yang ditawarkan
aplikasi ini membuatnya diterima secara luas di berbagai kalangan, mulai dari
pelajar hingga tenaga pendidik. WhatsApp mampu menyampaikan informasi secara
cepat, praktis, dan serentak kepada banyak pengguna sekaligus, sehingga banyak
dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar, koordinasi tugas, maupun diskusi
kelompok secara daring.
Meski
demikian, tingginya penggunaan platform digital ini tidak serta-merta menjamin
komunikasi akademik berjalan efektif. Dalam praktiknya, tidak semua anggota
grup terlibat secara aktif dalam percakapan yang berlangsung. Justru
sebaliknya, muncul perilaku pengguna yang bertentangan dengan prinsip dasar
komunikasi itu sendiri, yaitu fenomena silent reader atau pembaca diam (Dewi et
al., 2021). Fenomena ini banyak ditemukan di kalangan mahasiswa yang tergabung
dalam grup WhatsApp kelas, di mana sebagian anggota memilih untuk diam meskipun
secara aktif membaca setiap pesan yang masuk.
Silent
reader merujuk pada anggota grup diskusi kelas yang secara sadar hanya
berposisi sebagai penerima pesan pasif dan membaca setiap informasi yang masuk,
namun tidak pernah memberikan respons maupun ikut terlibat dalam percakapan
kelompok. Perilaku semacam ini tentu menjadi persoalan serius dalam konteks
komunikasi akademik. Tanpa adanya umpan balik dari mahasiswa, pendidik tidak
memiliki cara yang jelas untuk mengetahui apakah pesan, instruksi, atau materi
yang disampaikan benar-benar telah diterima dan dipahami oleh seluruh anggota
grup kelas
Lebih
jauh, ketiadaan interaksi ini berpotensi menghambat proses pembelajaran secara
keseluruhan, karena komunikasi yang sehat mensyaratkan adanya timbal balik
antara pemberi dan penerima pesan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehadiran
teknologi komunikasi saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kesadaran dan
partisipasi aktif dari seluruh penggunanya.
METODE PENELITIAN
Studi ini
menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kombinasi metode tinjauan
pustaka dan fenomenologi untuk menyelidiki pemahaman yang mendalam mengenai
kejanggalan dalam perilaku komunikasi mahasiswa pada zaman digital. Pengumpulan
data difokuskan pada analisis interaksi akademik di dalam forum diskusi kelas
online, untuk menyelami pengalaman, sikap, dan motivasi psikologis yang
mendasari pilihan mahasiswa untuk berperan sebagai pengamat pasif (Maulani et
al., 2025). Data dikelola dengan cara yang menyeluruh dengan cara menelaah,
membandingkan, dan menyintesis berbagai artikel jurnal penelitian sebelumnya
untuk mengidentifikasi pola utama dari fenomena pembaca diam (Dewi et al.,
2021).
Melalui pendekatan metodologi ini, klasifikasi
faktor penyebab diungkap secara sistematis, dampak keheningan terhadap
efektivitas diskusi akademik dianalisis dari dua sisi, dan strategi komunikasi
yang bersifat humanis dan aplikatif dikembangkan untuk memperbaiki kualitas
partisipasi dalam grup kelas.
TINJAUAN
PUSTAKA
Keberhasilan dalam
komunikasi akademik yang ideal pada intinya memerlukan adanya aliran pesan dua
arah yang aktif serta umpan balik yang dapat diukur dari penerima, agar tujuan
utama pertukaran ide dapat tercapai secara optimal (Dewi et al., 2021). Jika dilihat
dari sudut pandang Teori Interaksi Simbolik, arti dari interaksi sosial
terbentuk secara kognitif melalui elemen pemikiran, identitas individu, dan
struktur sosial, di mana individu senantiasa menginterpretasikan dan memberikan
arti terhadap tanggapan yang mereka terima dari lingkungan (Maududi et al.,
2023). Pengalaman kolektif di mana seseorang merasa suaranya tidak didengar,
kurang dihargai, atau bahkan ditolak secara langsung dapat menciptakan lapisan
perlindungan psikologis yang muncul dalam bentuk sikap pasif dan keheningan
dalam interaksi selanjutnya . Konsep ini juga berkaitan erat dengan prinsip
Teori Spiral of Silence, yang menjelaskan secara mendalam bahwa individu
cenderung memilih untuk tidak berbicara ketika merasa pendapatnya bertentangan
dengan suara mayoritas, sebuah respons yang sepenuhnya dipicu oleh ketakutan
akan kritik, pengucilan, atau penolakan dari anggota kelompok lainnya (Maulani
et al., 2025).
Interaksi di dunia
digital juga mengalami tantangan teknis berupa hilangnya isyarat non-verbal,
seperti nada suara, variasi ekspresi wajah, dan gerak tubuh yang sebenarnya
sangat penting dalam menyampaikan emosi dan nuansa percakapan di dunia nyata .
Ketidakadaan elemen-elemen insani ini menjadikan pesan berbasis teks sangat
rentan terhadap beragam tafsiran, ambiguitas, serta kesalahan paham yang dapat
memicu konflik . Berbagai tantangan struktural ini semakin diperparah dengan
munculnya masalah kelebihan informasi, di mana aliran berita yang deras dan
terus-menerus dalam kelompok kelas sering kali melebihi kapasitas mental
individu untuk memprosesnya dengan baik (Prasasty, 2023). Tumpukan informasi
yang tidak teratur ini tidak hanya membuat instruksi-instruksi penting terancam
tertutup oleh percakapan yang tidak relevan, tetapi juga secara nyata
mengurangi kemampuan pembacaan pesan, yang pada akhirnya secara psikologis
menurunkan keinginan mahasiswa untuk terlibat atau sekadar memberikan respons
(Nisrina et al., 2025).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor Penyebab
Tumbuhnya “Silent Reader”
Fenomena silent
reader di kalangan mahasiswa merupakan wujud nyata dari akumulasi berbagai
faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan secara kompleks. Secara
internal, fenomena silent reader ini sering kali dipicu oleh rasa rendah diri
serta kecemasan yang besar terhadap resiko menyampaikan argumen yang keliru di
publik diskusi akademik (Maulani et al., 2025). Banyak pengguna yang secara
personal menggunakan motif utilatarian untuk sekadar memantau jalannya arus
informasi tanpa berniat sedikit pun untuk mengambil peran aktif, atau mereka
secara sengaja memilih posisi diam sebagai zona aman demi menghindari potensi
konflik, perselisihan, dan perdebatan panjang di dalam grup kelas.
Selain itu,
tingkat keaktifan mahasiswa dalam berkomunikasi bersifat tidak konsisten,
partisipasi verbal seorang mahasiswa nyatanya juga sangat fluktuatif dan
dipengaruhi oleh kondisi mental atau emosional mereka, mereka sering kali
menahan diri dan mundur dari percakapan apabila merasa sebuah topik bahasan
tidak memicu urgensi, tidak sesuai dengan kapasitas mereka, atau dinilai kurang
relevan dengan kepentingan pribadi mereka saat itu (Maududi et al., 2023).
Kondisi lingkungan, iklim sosial dan budaya yang ada di dalam kelompok kelas
memainkan peranan yang sangat besar dalam memfasilitasi atau justru membungkam
suara anggotanya. Ketiadaan ikatan emosional yang solid atau minimnya kedekatan
personal antaranggota di dalam sebuah ruang virtual secara otomatis menciptakan
jarak sosial yang membuat individu merasa sangat asing dan terpisah dari
kelompoknya.
Hambatan
sosiologis juga muncul akibat adanya hierarki sosial, seperti rasa sungkan yang
timbul dari perbedaan angkatan antara senior dan junior. Kondisi ini diperparah
oleh dominasi percakapan yang dikuasai secara sepihak oleh beberapa mahasiswa
aktif saja, sehingga mempersempit kesempatan bagi mahasiswa lain untuk
mengutarakan pendapat mereka (Maududi et al., 2023). Selain itu, pengalaman
traumatis atau negatif yang dialami seseorang, seperti saat sebuah gagasan yang
susah payah dirumuskan ternyata diabaikan, atau saat sebuah pesan penting hanya
dibaca tanpa adanya balasan yang layak. Hal ini meninggalkan luka dan trauma
komunikasi yang secara efektif mematikan inisiatif individu untuk kembali
berkontribusi di masa-masa mendatang.
Dampak
yang ditimbulkan
Fenomena silent
reader di dalam grup diskusi kelas membawa dampak yang bersifat ambivalen
terhadap ekosistem komunikasi akademik mahasiswa. Untuk memberikan gambaran
yang lebih terstruktur mengenai bagaimana fenomena ini memengaruhi dinamika
interaksi mahasiswa, berikut adalah analisis perbandingan antara dampak negatif
dan dampak positif yang teridentifikasi dalam berbagai studi literatur terkait.
|
No. |
Dampak Negatif |
Dampak Positif |
|
1. |
Menciptakan
komunikasi asimetris satu arah yang berpotensi melanggengkan budaya diam (culture
of silence) di ruang digital (Mardiana et al., 2025). |
Memberikan
jeda waktu yang mendukung pemrosesan kognitif serta proses pembelajaran yang
lebih reflektif (Ramdhan & Erlangga, 2024). |
|
2. |
Menghilangkan
fungsi umpan balik (feedback), sehingga komunikator kesulitan
memastikan apakah informasi telah dipahami (Dewi et al., 2021) |
Memfasilitasi
kebutuhan pelepasan beban psikologis mahasiswa untuk menghindari tekanan dan
ketegangan (Dewi et al., 2021). |
|
3. |
Menimbulkan
rasa tidak nyaman bagi anggota aktif karena merasa sekadar dipantau tanpa
dihargai (Maududi et al., 2023). |
Bertindak
sebagai pengamat yang secara tidak langsung membantu merawat stabilitas dan
keseimbangan grup (Maududi et al., 2023) |
|
4. |
Menghambat
kelancaran proses brainstorming gagasan dan mengacaukan pembagian
beban tugas kolaboratif (Maulani et al., 2025). |
Menumbuhkan
inisiatif belajar mandiri dan mendorong eksplorasi pemahaman melalui obrolan
privat (Maulani et al., 2025). |
|
5. |
Memicu penumpukan pesan (information overload) yang
secara drastis menurunkan tingkat keterbacaan instruksi akademik (Nisrina et
al., 2025)002E |
Memungkinkan
mahasiswa untuk menyimak materi secara asinkron dengan melacak riwayat
obrolan (scroll up) tanpa menginterupsi alur diskusi utama (Hartatik
& Lestari, 2021). |
Solusi
Mengatasi kebisuan yang tidak konstruktif,
dan menghidupkan kembali ruang diskusi dalam kelas digital, diperlukan serangkaian
strategi resolusi yang komprehensif yang menjangkau aspek manajemen informasi
serta pendekatan psikologis dan kemanusiaan. Dalam manajemen konten digital
secara teknis, pengelola grup, akademisi, atau pendidik perlu merestrukturisasi
format informasi agar lebih teratur, padat, dan menarik secara visual.
Contohnya dengan menyajikan materi dalam bentuk infografis yang interaktif agar
menghindari kepadatan teks panjang yang dapat menyebabkan mahasiswa melewatkan
informasi penting.
Pemanfaatan fitur-fitur bawaan dari
platform perpesanan seperti WhatsApp, seperti seringnya menyematkan pesan
penting atau memanfaatkan fitur penyebaran daftar siaran, sangat dianjurkan
secara akademis untuk mempertahankan dan meningkatkan keterbacaan pesan di
tengah banyaknya informasi. Mahasiswa juga sangat penting untuk mendapatkan
edukasi dan kebiasaan tentang etika komunikasi digital, termasuk di dalamnya
kebiasaan menggunakan simbol, emoji, atau stiker untuk menyampaikan nuansa
emosional dan konteks yang bisa menutupi kekurangan fatal akibat ketiadaan
isyarat non-verbal. Mahasiswa dan pengajar sangat dianjurkan untuk mulai
menggunakan pendekatan personal yang sangat interaktif saat berinteraksi dengan
rekan yang terlihat pasif. Metode ini dapat diterapkan dengan cara
berkomunikasi secara personal di luar grup dengan menggunakan pilihan kata dan
intonasi yang sangat meyakinkan, akrab, hangat, dan bebas dari segala bentuk
penilaian. Usaha ini memiliki peran krusial dalam mereformasi kultur kelompok
kelas yang kaku menjadi sebuah ruang komunal yang benar-benar inklusif,
menyambut, dan memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk mengekspresikan
diri tanpa rasa takut.
Sebagai strategi interaktif di tingkat
dasar yang dapat diterapkan langsung di ruang publik, anggota yang berperan
aktif dapat meningkatkan tingkat partisipasi kelas dengan secara proaktif
menyebut atau menandai individu yang biasanya pendiam. Usaha untuk memanfaatkan
fitur-fitur pemungutan suara seperti jajak pendapat dan voting yang pada
prinsipnya hanya memerlukan usaha minimal dari peserta terbukti sangat efektif
sebagai alat pendorong dalam menarik tingkat keterlibatan awal dari para
mahasiswa yang cenderung menjadi pendengar pasif tersebut.
SIMPULAN
Meluasnya dan menjamurnya fenomena silent
reader pada ranah grup diskusi kelas daring secara gamblang memvalidasi bahwa
ketersediaan infrastruktur digital yang sangat efisien tidak dengan sendirinya
mencetak pengguna yang komunikatif, partisipatif, dan berani berekspresi secara
vocal. Fenomena ini bukanlah sekadar kemalasan akademis semata, melainkan
merupakan wujud manifestasi yang sangat kompleks dari berbagai pergulatan
internal, seperti krisis kepercayaan diri, absennya elemen penegas non-verbal
dalam komunikasi teks digital, dinamika sosial kelompok yang terlalu hierarkis,
hingga kacaunya sistem manajemen beban informasi. Keberadaan anomali perilaku
komunikasi ini secara langsung menghadirkan ambivalensi; di satu sisi ia
berimbas fatal pada terciptanya perbedaan komunikasi akademik yang menyurutkan
kualitas kolaborasi antarmahasiswa, namun di sisi lain secara diam-diam mampu
merawat stabilitas grup dan memicu kemandirian personal mahasiswa.
Langkah pemulihan dan revitalisasi ruang
diskusi daring pada hakikatnya mensyaratkan penerapan strategi holistik yang
tidak hanya terbatas pada mengandalkan optimalisasi tata kelola pesan visual
dan fitur platform secara mekanis. Perbaikan tersebut harus secara mutlak
dibarengi dengan pendekatan psikologis yang empatik, persuasif, dan inklusif,
yang pada akhirnya benar-benar mampu meruntuhkan batas-batas kebisuan dan jarak
emosional yang selama ini membelenggu kelancaran interaksi kelas di era
digital.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ibu Ere Mardella Arbiani,
S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah
memberikan bimbingan, arahan, serta masukan konstruktif dalam penyusunan
artikel ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan
Kelompok 3 atas kolaborasi, dedikasi, serta dukungan penuh selama proses
penelitian dan penulisan naskah ini berlangsung. Selain itu, penulis
menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi
dan bantuan teknis sehingga artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga
hasil pemikiran ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kajian
ilmu komunikasi dan bermanfaat bagi terciptanya iklim komunikasi akademik yang
lebih efektif di lingkungan pendidikan tinggi.
REFERENSI
Dewi, G. K., Ramdhani,
M., & Arindawati, W. A. (2021). Fenomena Silent Reader Dalam Grup
Whatsapp (Studi Fenomenologi Pada Barista Kopi Kenangan Karawang). 5.
Hartatik, S. F., &
Lestari, H. D. (2021). Penggunaan Whatsapp Sebagai Media Komunikasi
Pembelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Nomosleca, 7(1), 45–56.
Https://Doi.Org/10.26905/Nomosleca.V7i1.5535
Mardiana, H., Zalika,
A., Kasih, A., Sununianti, V. V., & Kurniawan, A. (N.D.). Mahasiswa,
Whatsapp, Dan Silent Reader: Sebuah Kajian Kritis Pada Partisipasi Dalam Ruang
Publik Digital.
Maududi, M. M., Hasna,
K. K., & Saputra, B. E. (N.D.). Interaksi Simbolik Dalam Grup Whatsapp
Rohani Islam (Rohis) Di Sekolah Menengah Atas: Fenomena Silent Reader.
Maulani, R. N., Aziz,
F., Ferdiana, R., Pranata, A., & Firmansyah, A. P. (2025). Efektivitas
Komunikasi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pada Silent Reader Dalam Grup Diskusi
Online. 6(1).
Nisrina, E., Farica,
T., & Hutapea, E. B. (2025). Efektivitas Penyampaian Informasi Akademik
Oleh Humas Perguruan Tinggi X Melalui Whatsapp Group. 9.
Prasasty, T. A.
(2023). Cyberspace : Perubahan Gaya Komunikasi Pada Lingkar Pertemanan. 07(01).
Pustikayasa, I. M.
(2019). Grup Whatsapp Sebagai Media Pembelajaran. Widya Genitri : Jurnal
Ilmiah Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan Hindu, 10(2), 53–62.
Https://Doi.Org/10.36417/Widyagenitri.V10i2.281
Wisman, Y. (2017).
Komunikasi Efektif Dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Nomosleca, 3(2).
Https://Doi.Org/10.26905/Nomosleca.V3i2.2039
No comments:
Post a Comment