Improving the Knowledge and Skills of Posyandu
Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono
Village
Improving the Knowledge and Skills of Posyandu Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono Village | Rashati | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia
1Dewi
Rashati*, 1Asa Falahi, 1Anies Rohman D, 1Lindawati
Setyaningrum, 1Dyan Wigati
1Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan,
Universitas dr.Soebandi
*email
corresponding: dewirashati@uds.ac.id
Abstract
Stunting remains a major nutritional problem that
requires community-based preventive strategies. This community service program
aimed to improve the knowledge and practical skills of Posyandu mothers
regarding stunting prevention through nutraceutical training in Darsono
Village. The program involved 30 participants using a one-group
pretest–posttest approach. Activities consisted of educational sessions on
stunting, critical prevention periods, nutraceutical concepts, and the benefits
of turmeric, followed by practical training in preparing turmeric pudding as a
functional food product. Knowledge changes were assessed using pretest and
posttest questionnaires. The results showed improved participant knowledge
across all measured indicators after the intervention. The greatest improvement
was found in understanding nutraceutical concepts (33.33%), followed by
knowledge of nutraceutical dosage forms (26.66%) and the benefits of
nutraceuticals (26.66%). The training also strengthened participants’ practical
ability to utilize local food resources as an innovative nutritional
intervention. These findings suggest that combining health education with
hands-on practice is an effective strategy to strengthen community capacity in
stunting prevention.
Keywords: Nutraceutical, Stunting, Darsono
Article
Info
Received
date: 10 May 2026 Revised date: 15 May 2026
Accepted date: 20 May 2026
PENDAHULUAN
Stunting masih menjadi salah satu permasalahan
gizi kronis yang menjadi perhatian utama dalam pembangunan kesehatan
masyarakat, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Stunting
merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang
terjadi dalam periode yang panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama
Kehidupan (HPK). Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan menurut umur yang
berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan World
Health Organization (WHO). Stunting tidak hanya berdampak pada gangguan
pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan keterlambatan perkembangan
kognitif, penurunan kemampuan belajar, serta berpotensi menurunkan
produktivitas pada usia dewasa (1).
Masalah stunting memiliki dampak
multidimensional terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami
stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan neurologis, penurunan
kapasitas intelektual, dan peningkatan kerentanan terhadap penyakit tidak
menular di masa depan. Stunting merupakan manifestasi kompleks dari interaksi
berbagai faktor seperti kekurangan asupan gizi, infeksi berulang, sanitasi
lingkungan yang buruk, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas (2). Oleh karena itu, pencegahan stunting memerlukan pendekatan
komprehensif yang melibatkan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara
berkelanjutan.
Di Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi
tantangan kesehatan masyarakat meskipun menunjukkan tren penurunan dalam
beberapa tahun terakhir. Faktor dominan penyebab stunting di Indonesia meliputi
rendahnya kualitas konsumsi pangan rumah tangga, kurangnya pengetahuan ibu
mengenai praktik pemberian makan anak, keterbatasan sanitasi, serta kurang
optimalnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar. Pengetahuan ibu memiliki
kontribusi penting dalam menentukan pola asuh, pemilihan bahan pangan, dan
pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sebagai upaya pencegahan stunting (3).
Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya
kesehatan berbasis masyarakat yang memiliki peran strategis dalam mendukung
percepatan penurunan stunting melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan, edukasi
kesehatan, serta pendampingan keluarga. Keberhasilan pelaksanaan posyandu
sangat dipengaruhi oleh kapasitas kader dan ibu posyandu dalam memahami faktor
risiko serta strategi pencegahan stunting. Intervensi berbasis komunitas
melalui edukasi kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan
keluarga terkait praktik pemberian makan anak dan pencegahan gangguan
pertumbuhan (4).
Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan dalam
upaya pencegahan stunting adalah pemanfaatan nutraceutical berbasis pangan
lokal. Nutraceutical merupakan komponen pangan yang memiliki manfaat kesehatan
tambahan di luar fungsi gizi dasar dan berpotensi meningkatkan kualitas asupan
nutrisi. Pendekatan nutraceutical mampu menjadi strategi promotif-preventif
yang efektif apabila dikembangkan melalui pelatihan berbasis masyarakat.
Pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai nutraceutical juga memiliki keunggulan
dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan (5).
Desa Darsono sebagai salah satu wilayah binaan
masih memerlukan peningkatan kapasitas ibu posyandu dalam memahami pemanfaatan
pangan lokal untuk pencegahan stunting. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan
dalam pengolahan pangan bergizi dapat memengaruhi efektivitas upaya promotif di
tingkat masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan nutraceutical bagi ibu posyandu
menjadi strategi edukatif yang relevan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dalam pengolahan pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting. Berdasarkan
uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan
pengetahuan dan keterampilan ibu posyandu melalui pelatihan nutraceutical untuk
pencegahan stunting di Desa Darsono.
METODE
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di
Desa Darsono dengan melibatkan 30 ibu posyandu sebagai peserta. Kegiatan
dirancang dalam bentuk edukasi kesehatan dan pelatihan keterampilan berbasis nutraceutical
sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam
pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pre-experimental dengan
pendekatan one group pretest-posttest design, yaitu pengukuran tingkat
pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi untuk mengetahui
efektivitas kegiatan edukasi yang diberikan (6). Pelaksanaan kegiatan
dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan, edukasi, pelatihan
praktik, dan evaluasi.
Tahap Persiapan
Tahap awal dilakukan melalui identifikasi kebutuhan mitra
dengan berkoordinasi bersama perangkat desa dan kader kesehatan setempat untuk
memetakan permasalahan terkait pencegahan stunting di masyarakat. Berdasarkan
hasil identifikasi tersebut, tim menyusun bahan edukasi yang disesuaikan dengan
kebutuhan peserta. Selain itu, dilakukan penyusunan instrumen evaluasi berupa
kuesioner pretest dan posttest sebagai alat ukur tingkat pengetahuan peserta
sebelum dan sesudah kegiatan (7).
Tahap Pelaksanaan
Edukasi
Penyampaian materi dilakukan melalui metode ceramah
interaktif yang dipadukan dengan diskusi partisipatif. Materi yang diberikan
meliputi pengertian stunting, penyebab dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak,
serta pentingnya pencegahan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
yang merupakan masa kritis dalam pembentukan status gizi dan perkembangan anak
(1).
Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai konsep
nutraceutical sebagai pangan fungsional yang memiliki manfaat kesehatan di luar
fungsi gizi dasar. Edukasi juga menekankan manfaat kunyit sebagai salah satu
bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif kurkumin yang berpotensi mendukung
kesehatan melalui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (5).
Tahap Pelatihan
Praktik
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan
demonstrasi pembuatan puding kunyit sebagai inovasi pangan fungsional berbasis
nutraceutical. Tim pelaksana memperagakan tahapan pembuatan mulai dari
persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian. Peserta kemudian
diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan
puding kunyit dengan pendampingan tim pelaksana. Pelatihan ini bertujuan
meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi
produk inovatif yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pangan bergizi untuk
mendukung pencegahan stunting. Setelah pelatihan praktik selesai, dilakukan
sesi tanya jawab dan diskusi interaktif sebagai sarana klarifikasi materi,
penguatan pemahaman, serta berbagi pengalaman antar peserta terkait
implementasi materi dalam kehidupan sehari-hari.
Tahap Evaluasi
Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan metode
pretest-posttest melalui kuesioner yang terdiri atas 8 butir pertanyaan.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta
setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Kategori tingkat pengetahuan
peserta ditentukan berdasarkan persentase skor jawaban benar, yaitu 81–100% (sangat
baik), 61–80% (baik), 41–60% (cukup), 21–40% (kurang), 0–20% (sangat kurang).
Klasifikasi tersebut
digunakan untuk menginterpretasikan hasil pengukuran pengetahuan peserta secara
deskriptif (8). Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif
kuantitatif dengan membandingkan distribusi kategori pengetahuan sebelum dan
sesudah intervensi. Analisis ini digunakan untuk menggambarkan efektivitas
kegiatan edukasi dan pelatihan nutraceutical dalam meningkatkan pengetahuan ibu
posyandu terkait pencegahan stunting di Desa Darsono.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 1. Edukasi Kesehatan tentang Stunting dan
Nutraceutical
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi
kesehatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan pelatihan praktik memberikan
dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan ibu posyandu mengenai
pencegahan stunting.
Gambar
1. Perbandingan Persentase Hasil Pretest dan Posttest Pengetahuan Ibu Posyandu
pada Setiap Indikator Edukasi Pencegahan Stunting melalui Nutraceutical Puding
Kunyit.
Diagram menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pada seluruh
indikator setelah pelaksanaan edukasi dan pelatihan. Peningkatan tertinggi
terjadi pada indikator pemahaman mengenai pengertian nutraceutical sebesar
33,33%, diikuti indikator bentuk sediaan nutraceutical dan manfaat
nutraceutical masing-masing sebesar 26,66%, serta kandungan utama kunyit
sebesar 23,33%. Temuan ini menunjukkan bahwa materi terkait konsep
nutraceutical merupakan pengetahuan baru bagi sebagian besar peserta sehingga
intervensi edukasi memberikan dampak peningkatan pemahaman yang cukup
signifikan. Sementara itu, indikator tentang pengertian stunting dan manfaat
kunyit menunjukkan peningkatan yang lebih rendah karena pengetahuan dasar
peserta pada aspek tersebut sudah relatif baik sebelum intervensi dilakukan.”
Peningkatan skor posttest setelah intervensi
menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif mampu memperkuat
pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Temuan ini sejalan dengan
penelitian oleh Sirajuddin et al. (2021) yang menyatakan bahwa
peningkatan literasi gizi pada ibu melalui intervensi edukatif secara
signifikan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas keluarga dalam upaya
pencegahan stunting. Pengetahuan ibu berperan penting dalam pengambilan keputusan
terkait pola konsumsi keluarga, pemilihan bahan pangan, serta praktik pemberian
makan anak yang tepat (9).
Peningkatan pengetahuan peserta setelah
penyuluhan juga sejalan dengan hasil penelitian Astuti (2022) yang menunjukkan
bahwa pendidikan kesehatan mampu meningkatkan pemahaman kader posyandu mengenai
pencegahan stunting secara bermakna. Metode penyampaian materi secara
interaktif memberikan kesempatan bagi peserta untuk lebih aktif dalam memahami
informasi dan mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami (10).
Pelatihan praktik pembuatan puding kunyit
memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan keterampilan peserta.
Pembelajaran berbasis praktik dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah
semata karena memungkinkan peserta mengalami proses belajar secara langsung.
Hasil ini mendukung temuan Imansari et al. (2021) yang menyatakan bahwa
pelatihan keterampilan berbasis demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan kader
dalam mengaplikasikan pengetahuan gizi pada tingkat rumah tangga (11).
Pemanfaatan kunyit sebagai bahan dasar
nutraceutical memiliki potensi besar dalam mendukung upaya promotif pencegahan
stunting. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang diketahui memiliki aktivitas
antioksidan dan antiinflamasi, sehingga berpotensi mendukung kesehatan saluran
cerna dan meningkatkan status kesehatan secara umum. Pangan fungsional berbasis
bahan alami dapat menjadi alternatif intervensi gizi yang aplikatif dan
berkelanjutan apabila dikembangkan melalui pendekatan edukasi masyarakat.
Gambar 2. Pelatihan Pembuatan Nutraceutical Puding
Kunyit
Sesi diskusi dan tanya jawab setelah pelatihan
juga menjadi bagian penting dalam proses transfer pengetahuan. Interaksi dua
arah memungkinkan peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam melalui
klarifikasi materi dan berbagi pengalaman. Menurut penelitian Nuhan et al.
(2023), metode edukasi yang melibatkan partisipasi aktif peserta terbukti lebih
efektif dalam meningkatkan retensi pengetahuan dibandingkan penyampaian satu
arah (12) .
Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan
nutraceutical di Desa Darsono menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang
mengintegrasikan penyuluhan, demonstrasi praktik, dan diskusi interaktif
merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas ibu posyandu
sebagai agen promotif pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Program ini
berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendampingan
lanjutan dan diversifikasi produk nutraceutical berbasis pangan lokal.
SIMPULAN
1.
Pelatihan nutraceutical di Desa Darsono efektif meningkatkan pengetahuan
ibu posyandu tentang pencegahan stunting, yang ditunjukkan oleh peningkatan
hasil pada seluruh indikator evaluasi, terutama pada pemahaman konsep
nutraceutical.
2.
Kombinasi edukasi, demonstrasi pembuatan puding kunyit, dan diskusi
interaktif berhasil meningkatkan keterampilan peserta dalam memanfaatkan pangan
lokal sebagai produk fungsional, sehingga berpotensi mendukung upaya pencegahan
stunting secara berkelanjutan di masyarakat.
REFERENSI
1.
De Onis, M., Branca,
F. (2018). Childhood stunting: A global perspective. Maternal & Child
Nutrition, 14(S1), e12517.
2.
Prendergast, A. J.,
Humphrey, J. H. (2018). The stunting syndrome in developing countries. Paediatrics
and International Child Health, 38(2), 98–107.
3.
Beal, T., Tumilowicz,
A., Sutrisna, A., Izwardy, D., & Neufeld, L. M. (2018). A review of child
stunting determinants in Indonesia. Maternal & Child Nutrition,
14(4), e12617.
4.
Torlesse, H., Cronin,
A. A., Sebayang, S. K., & Nandy, R. (2021). Determinants of stunting in
Indonesian children. BMC Public Health, 21(1), 1–12.
5.
Santini, A.,
Novellino, E., & Toffanin, R. (2018). Nutraceuticals: Opening the debate
for a regulatory framework. British Journal of Clinical Pharmacology,
84(4), 659–672.
6.
Setiawan, A.,
Prasetyo, Y., & Hidayati, N. (2020). Efektivitas pendidikan kesehatan
dengan metode pretest-posttest dalam peningkatan pengetahuan masyarakat. Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia, 15(2), 89–96.
7.
Sugiyono. (2019). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
8.
Notoatmodjo, S.
(2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
9.
Sirajuddin, S., et
al. (2021). The intervention of maternal nutrition literacy has the potential
to prevent childhood stunting. Journal of Public Health Research, 10(2),
2235
10. Astuti, D. S. T. (2022). Pengaruh pendidikan
pencegahan stunting terhadap pengetahuan kader posyandu. Jurnal Ilmiah
Kesehatan, 21(2), 112–118.
11. Imansari, A., Madanijah, S., & Kustiyah, L.
(2021). Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan
kader melakukan konseling gizi di Posyandu. Amerta Nutrition, 5(1), 1–7.
12. Nuhan, M. V., et al. (2023). The influence of
balanced nutrition education on the knowledge of Posyandu cadres in preventing
stunting. Jurnal Ners dan Kebidanan, 10(3), 398–404.
No comments:
Post a Comment