Perceptual Bias in
Tabligh Communication on the TikTok Account Megaputriaulia0911
Rizky Aprilia, Maulida
Azizah, Rihhadul Aisy, Nasichah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstrak
Penelitian ini mengkaji bias persepsi dalam komunikasi tabligh pada
akun TikTok @megaputriaulia0911, seorang pendakwah yang sebelumnya dikenal
sebagai artis sinetron. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena
peralihan peran publik figur menjadi pendakwah tanpa kejelasan kredibilitas
keilmuan agama, namun mampu menarik perhatian besar melalui branding media
sosial. Hal ini menimbulkan perbedaan persepsi di kalangan audiens sebagian
mengapresiasi sebagai bentuk hijrah dan dakwah modern, sementara sebagian lain
meragukan otoritas dan keabsahan pesan yang disampaikan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menganalisis bentuk dan faktor penyebab bias persepsi dalam
komunikasi tabligh yang dilakukan oleh figur publik melalui platform digital.
Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap
sejumlah pengikut akun serta analisis konten video dakwah yang diunggah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa bias persepsi muncul akibat ketidakseimbangan
antara citra religius yang dibangun melalui branding dan kedalaman substansi
dakwah yang disampaikan, serta pengaruh kuat latar belakang artis yang melekat
pada diri pendakwah. Kesimpulannya, kredibilitas komunikator menjadi faktor
utama dalam efektivitas komunikasi tabligh di media sosial. Penelitian ini
berkontribusi dalam memahami tantangan dakwah digital, khususnya terkait peran
figur publik dalam menjaga keaslian dan keilmuan pesan keagamaan di ruang
virtual.
Kata kunci: bias persepsi, komunikasi tabligh, dakwah digital,
kredibilitas da’i, media sosial.
Abstract
This study examines perceptual bias in tabligh
communication on the TikTok account @megaputriaulia0911, a preacher who was
previously known as a television soap opera actress. The background of this
research stems from the phenomenon of public figures transitioning into the
role of preachers without clear religious scholarly credentials, yet gaining
significant attention through social media branding. This situation generates
differing perceptions among audiences: some appreciate it as a form of hijrah
and modern da‘wah, while others question the authority and legitimacy of the
messages conveyed. The purpose of this study is to analyze the forms and
factors contributing to perceptual bias in tabligh communication conducted by
public figures through digital platforms. The research employs a qualitative
method, utilizing in-depth interviews with several followers of the account and
content analysis of uploaded da‘wah videos. The findings indicate that
perceptual bias arises from an imbalance between the religious image
constructed through branding and the depth of the da‘wah content delivered, as
well as the strong influence of the preacher’s background as an artist. In
conclusion, the credibility of the communicator is a key factor in the
effectiveness of tabligh communication on social media. This study contributes
to an understanding of the challenges of digital da‘wah, particularly regarding
the role of public figures in maintaining the authenticity and scholarly
integrity of religious messages in virtual spaces.
Keywords: perceptual
bias, tabligh communication, digital da‘wah, preacher credibility, social
media.
PENDAHULUAN
Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi
arena penting bagi aktivitas dakwah, khususnya melalui platform seperti TikTok
yang menjangkau khalayak muda secara masif. Melalui platform ini, siapapun
dapat tampil sebagai pendakwah dengan branding yang menarik, termasuk figur
publik yang sebelumnya aktif di dunia hiburan. Fenomena arah balik karier dari
artis sinetron menjadi pendakwah menimbulkan urgensi penelitian karena
kredibilitas keilmuan agama yang dimiliki tidak selalu tampak jelas, sementara
pengaruh dan jangkauannya malah sangat luas. Dalam konteks dakwah digital, hal
ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana persepsi publik terhadap
komunikasi tabligh yang dibawakan oleh figur dengan latar belakang
non-tradisional dakwah. Menurut studi, kredibilitas da’i di era digital menjadi
faktor krusial: “kredibilitas yang dimaksudkan adalah hal yang berkaitan dengan
kompetensi, sikap, kepribadian dan sifat dinamisme seorang da’i dalam
berdakwah.”[1][2] Lebih lanjut, riset lain menyebut bahwa media sosial
sebagai sarana dakwah membawa tantangan etika dan kepercayaan, sebab hubungan
antara da’i dan mad’u semakin jarang tatap muka langsung.[3] Dengan demikian, penelitian tentang bias persepsi
dalam komunikasi tabligh melalui akun TikTok sangat penting untuk memahami
dinamika dakwah digital kontemporer.
Isu utama yang diangkat adalah munculnya fenomena
figur publik yang sebelumnya berkarier sebagai artis sinetron yang kini tampil
sebagai pendakwah melalui akun TikTok seperti megaputriaulия0911. Figur tersebut mungkin
memiliki branding kuat di media sosial, namun latar belakang keilmuan agamanya
belum selalu transparan atau diuji secara akademis. Akibatnya, audiens
kemungkinan mengalami bias persepsi misalnya, menilai pesan dakwah sebagai
inspiratif karena branding artis, atau sebaliknya menilai dakwah itu kurang
kredibel karena latar belakang komunikatornya bukan dari jalur tradisional
dakwah. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap
kredibilitas da’i di era digital sangat beragam. Selain
itu, media sosial sebagai platform dakwah juga menghadapi tantangan seperti
penyebaran konten yang tidak diverifikasi dan pergeseran gaya komunikasi yang
lebih mengejar popularitas daripada substansi.3
Meskipun ranah dakwah digital, kredibilitas da’i, dan
strategi konten di media sosial telah menjadi subjek banyak penelitian, masih
terdapat beberapa kesenjangan substansial yang memerlukan perhatian lebih
lanjut. Secara umum, studi yang ada cenderung terfokus pada da’i tradisional
atau mereka yang memiliki latar belakang keilmuan formal agama. Kondisi ini
menyebabkan adanya kekurangan penelitian yang spesifik mengkaji figurfigur
pendakwah yang melakukan transisi karier, terutama mereka yang beralih dari profesi
artis atau selebritas sinetron dan kini aktif berdakwah, khususnya melalui
platform yang sedang populer seperti TikTok.
Selain itu, penelitian yang ada sering kali hanya
menyoroti strategi dakwah atau media sosial secara umum, namun belum mendalami
bias persepsi yang dimiliki audiens terhadap proses komunikasi dakwah
(tabligh). Kesenjangan ini timbul ketika komunikator memiliki latar belakang
hiburan dan branding yang kuat di media sosial, yang berpotensi memengaruhi
bagaimana pesan dakwah diterima atau diinterpretasikan. Oleh karena itu,
terdapat kebutuhan mendesak akan penelitian yang secara konkret mengaitkan tiga
variabel utama latar belakang non-tradisional da’i, strategi branding media
sosial yang mereka terapkan, dan bagaimana kombinasi kedua hal ini memengaruhi
persepsi khalayak terhadap kredibilitas dan substansi pesan dakwah yang mereka
sampaikan. Penelitian di area ini akan memberikan pemahaman yang lebih kaya
mengenai dinamika komunikasi agama di era digital.
Penelitian ini relevan untuk bidang komunikasi Islam,
media dan dakwah digital, serta psikologi sosial persepsi. Dengan menganalisis
bagaimana bias persepsi muncul dalam komunikasi tabligh di media sosial,
penelitian ini dapat memperkaya teori tentang kredibilitas komunikator dan
efektivitas pesan dakwah di era digital. Selain itu, hasil penelitian dapat
memberi kontribusi praktis bagi penggiat dakwah untuk memahami tantangan baru
dalam komunikasi keagamaan daring dan merumuskan strategi komunikasi yang lebih
etis dan efektif.
Fenomena yang diamati dalam ranah dakwah digital
semakin kompleks, terutama dengan hadirnya figur-figur publik yang melakukan
transisi radikal dari industri hiburan ke arena keagamaan. Kasus
@megaputriaulia0911 di TikTok menjadi studi kasus yang sangat relevan, di mana
seorang mantan artis sinetron kini secara aktif menjalankan peran sebagai
pendakwah. Transformasi peran ini telah memicu spektrum persepsi yang sangat
luas dan kontras di kalangan netizen dan pengikutnya.
Di satu kutub, terdapat apresiasi yang kuat dari
sebagian besar audiens yang melihat transisi ini sebagai tindakan hijrah yang
otentik dan inspiratif. Mereka menganggap kontennya sebagai contoh positif
perubahan hidup dan sumber motivasi spiritual, mengagumi keberanian dan
komitmen personal sang figur. Figur seperti ini dianggap mampu menjembatani
kesenjangan antara nilai-nilai keagamaan dan budaya populer, membuat dakwah
terasa lebih relevan dan mudah diakses, terutama oleh generasi muda.
Namun, di kutub yang berlawanan, muncul kritik pedas
dan keraguan signifikan yang berpusat pada dua aspek utama: kredibilitas
keilmuan agama dan kedalaman substansi pesan dakwah yang disampaikan. Netizen
sering mempertanyakan apakah latar belakang artis sinetron memberikan bekal
keilmuan yang memadai untuk menyampaikan ajaran agama secara benar dan
komprehensif. Dinamika persepsi yang polarisasi ini secara terang-terangan
menunjukkan adanya bias persepsi yang kuat dalam komunikasi dakwah digital.
Seringkali, daya tarik popularitas, branding personal, dan citra selebritas
dari figur publik tersebut mendominasi, bahkan mengaburkan, kualitas dan
validitas isi dakwah yang sesungguhnya. Fenomena ini menggarisbawahi tantangan
krusial dalam dakwah kontemporer: bagaimana memastikan otentisitas dan
kedalaman pesan tetap menjadi fokus utama di tengah hiruk pikuk pesona
selebritas dan daya pikat media sosial.
TINJAUAN
PUSTAKA
Dalam era digital, dakwah tidak lagi terbatas pada
tatap muka secara langsung.
Penggunaan platform digital, seperti media sosial dan
aplikasi pesan instan, telah menjadi sarana utama dalam menyebarkan pesan
keagamaan. Namun, penyampaian pesan melalui media digital tidak lepas dari bias
persepsi yang dapat memengaruhi efektivitas komunikasi. Bias persepsi adalah
kecenderungan individu untuk menafsirkan informasi secara subjektif, sesuai
dengan pengalaman, keyakinan, atau preferensi pribadi mereka. Dalam konteks
dakwah digital, bias ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya bias konfirmasi,
di mana pendakwah atau penerima pesan cenderung menekankan informasi yang
sesuai dengan pandangan awal mereka, dan mengabaikan informasi yang
bertentangan. Bias seleksi juga kerap terjadi ketika pesanpesan tertentu
dipilih untuk disebarkan, sementara informasi yang dianggap kurang relevan atau
tidak sejalan dengan keyakinan pendakwah diabaikan (Aswar, 2025).[4]
Dakwah masa kini sudah serba digital. Dimana dengan
adanya gadget yang kita miliki terdapat banyak fitur islami yang menunjang kita
dalam mempermudah aktivitas sehari-hari. Seperti terdapat aplikasi membaca
Al-Qur’an, pengingat salat, pengingat
zakat dan masih
banyak lagi. Hal
tersebut sangat mempermudah
kita dalam mendalami ajaran Islam. Bagi da’i dakwah digital merupakan
peluang baru untukberdakwah dengan mengikuti
tren masa kini
yaitu dengan memanfaatkan media sosial.
Ketua Komisi Informasi
dan Komunikasi MUI
Masduki Baidlowi mengatakan bahwa
paradigma berdakwah sudah
mengalami pergeseran antara dakwah cetak dengan oral menjadi
dakwah lewat media digital salah satunya media sosial. Menurutnya,
dakwah melalui media
sosial adalah jalan
yang murah dan strategis untuk penyampaian pesan dakwah
(Ramdhani, 2020).[5]
Pendidikan menjadi faktor kunci dalam mempersiapkan pendakwah yang mampu menghadapi tantangan dakwah digital. Pendidikan bagi pendakwah tidak hanya meliputi pengetahuan agama, tetapi juga mencakup kompetensi komunikasi, literasi digital, dan etika penyampaian pesan. Dengan pendidikan yang memadai, pendakwah dapat memahami mekanisme komunikasi digital, termasuk cara menyusun pesan yang menarik, relevan, dan mudah diterima oleh audiens. Sebagai contoh, penelitian oleh Nugroho (2025) menunjukkan bahwa pendakwah yang mengikuti pelatihan literasi digital cenderung lebih efektif dalam menyampaikan pesan yang dapat diterima berbagai kelompok usia dan latar belakang. Pendidikan ini juga membekali pendakwah dengan keterampilan menanggapi kritik atau pertanyaan audiens secara bijaksana dan reflektif.[6]
METODE
PENELITIAN
Metode penulisan dalam penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan teknik observasi serta penyebaran angket kepada
Mahasiswa UIN Jakarta. Pendekatan kualitatif dipilih karena lebih menekankan
pada pengamatan fenomena secara langsung dan mendalam, serta menelaah substansi
makna dari fenomena yang diteliti. Fokus utama dalam penelitian kualitatif
adalah pada proses terjadinya fenomena dan bagaimana hasilnya dipahami atau
dimaknai oleh subjek penelitian. Penelitian
ini menaruh perhatian khusus pada elemen manusia, objek, dan
upayakan-pakai-media-sosial-sebagai-media dakwah institusi, serta interaksi di
antara mereka dalam konteks studi, untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh
mengenai permasalahan pendakwah perempuan dengan branding solehah di media
sosial. Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memahami secara menyeluruh
perilaku, persepsi, dan dinamika sosial yang terjadi terkait fenomena tersebut.
Tujuan utama dari penelitian kualitatif ini adalah untuk menjelaskan fenomena yang sedang berlangsung secara sedalamdalamnya dengan cara mengumpulkan data yang rinci dan menyeluruh. Pendekatan ini menegaskan pentingnya kedalaman dan detail dalam data yang didapatkan, sehingga pemahaman terhadap permasalahan yang terjadi tidak hanya sebatas permukaan, melainkan juga mencakup makna dan konteks yang lebih luas. Dengan demikian, metode ini sangat tepat untuk menggali berbagai aspek yang berkaitan dengan kredibilitas, persepsi, dan dampak dakwah yang dilakukan oleh pendakwah perempuan tanpa latar belakang keilmuan agama formal.
KERANGKA BERPIKIR
Kerangka berpikir penelitian ini berawal dari
perubahan besar dalam dakwah Islam di era digital, di mana media sosial seperti
TikTok menjadi ruang baru bagi penyebaran pesan
keagamaan. Platform ini memungkinkan siapa pun untuk tampil sebagai pendakwah,
termasuk figur publik yang sebelumnya dikenal sebagai artis. Fenomena ini
menimbulkan dinamika sosial baru: di satu sisi membuka akses dakwah yang lebih
luas dan modern, namun di sisi lain menghadirkan persoalan kredibilitas dan
bias persepsi di kalangan masyarakat.
Bias persepsi muncul karena adanya ketimpangan antara
citra dan substansi. Masyarakat kerap menilai dakwah bukan berdasarkan
kedalaman ilmu dan ketepatan isi pesan, tetapi dari penampilan, gaya bicara,
dan popularitas komunikatornya.
Dalam konteks akun TikTok
@megaputriaulia0911, bias ini terlihat ketika audiens merepresentasikan hijrah dan modernisasi
dakwah, sementara sebagian lainnya menilai bahwa pesan yang disampaikan kurang
kredibel karena latar belakang keagamaan sang figur tidak berasal dari jalur
akademis atau tradisional. Di titik inilah bias persepsi masyarakat terbentuk—
pandangan mereka terhadap pesan dakwah menjadi sangat dipengaruhi oleh
identitas dan citra publik figur, bukan oleh substansi pesan itu sendiri.
Konten yang diunggah dalam media sosial tersebut turut
memperkuat konstruksi persepsi tersebut. Pola komunikasi dakwah yang
mengutamakan visualisasi, estetika, dan gaya berbicara menarik sering kali
membuat audiens lebih fokus pada bentuk daripada isi. Video berdurasi pendek,
musik latar, ekspresi wajah, serta gaya komunikasi yang akrab menjadi elemen
utama yang menentukan keberhasilan penyampaian pesan, bukan keakuratan
teologisnya. Maka, konten dakwah di media sosial menjadi arena di mana pesan
agama dikemas ulang agar sesuai dengan algoritma dan selera pengguna. Fenomena
ini memperlihatkan bagaimana substansi pesan keagamaan harus beradaptasi dengan
format media yang cepat dan visual, sehingga membuka celah lebih besar terhadap
munculnya bias persepsi.
Lebih jauh, peran media sosial seperti TikTok sendiri
juga menjadi variabel penting dalam terbentuknya bias tersebut. Sebagai
platform yang berorientasi pada popularitas dan keterlibatan pengguna, TikTok
cenderung menonjolkan konten yang viral dan menghibur, bukan yang mendalam
secara substansi. Algoritma TikTok mendorong munculnya konten yang memiliki
daya tarik tinggi, seperti tampilan fisik, keunikan gaya, atau emosi positif.
Akibatnya, dakwah yang disampaikan melalui platform ini sering kali dinilai dari
seberapa menarik dan viral kontennya, bukan dari seberapa sahih dan ilmiah
pesan keagamaannya. Hal ini menimbulkan fenomena “komodifikasi dakwah,” di mana
pesan agama menjadi bagian dari konten hiburan dan branding personal.
Dalam konteks inilah kerangka berpikir penelitian
terbentuk: bias persepsi masyarakat lahir dari interaksi kompleks antara tiga
unsur utama figur pendakwah sebagai komunikator yang membawa latar belakang
non-tradisional, konten dakwah yang dikemas sesuai karakter media sosial, serta
algoritma dan budaya populer dari platform itu sendiri. Ketiga unsur ini saling
berinteraksi dan membentuk persepsi yang berlapis-lapis. Branding religius dari
seorang figur publik membentuk ekspektasi tertentu di benak audiens; konten
yang visual dan populer memperkuat daya tarik emosionalnya; sementara logika
media sosial mendorong audiens untuk menilai dakwah berdasarkan daya tarik,
bukan kedalaman makna.
Kerangka berpikir ini akhirnya mengarah pada kesimpulan bahwa bias persepsi dalam dakwah digital bukan hanya masalah individu atau pesan, melainkan hasil dari sistem komunikasi baru yang dibentuk oleh budaya media sosial. Kredibilitas seorang da’i tidak lagi diukur semata dari ilmu dan pengalaman dakwah, tetapi juga dari kemampuan beradaptasi dengan ekosistem digital yang sarat citra dan sensasi. Oleh karena itu, pendidikan dan literasi digital menjadi penting untuk menyeimbangkan antara gaya komunikasi modern dan keaslian ajaran agama, agar dakwah di era digital tidak kehilangan substansinya di tengah gelombang persepsi yang bias.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil angket menunjukkan bahwa mayoritas responden,
sekitar 8%, menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor kunci yang sangat
memengaruhi keberhasilan mereka dalam berdakwah. Pendidikan formal, yang
mencakup penguasaan ilmu agama, literasi Al-Qur’an, dan pemahaman tentang fiqih
dakwah, memberikan fondasi keilmuan yang kuat. Dengan landasan ini, pendakwah
mampu menyusun materi dakwah secara terstruktur, sistematis, dan akurat,
sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami secara jelas oleh audiens dari berbagai
latar belakang.
Selain pendidikan formal, pendidikan non-formal
terbukti juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan keterampilan praktis
pendakwah. Pelatihan komunikasi, workshop manajemen media sosial, dan seminar
literasi digital menjadi media penting untuk memperkuat kemampuan mereka dalam
menyampaikan pesan dengan cara yang menarik dan sesuai konteks audiens. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pendakwah yang mengikuti pelatihan semacam ini
lebih percaya diri dalam menghadapi audiens, lebih adaptif terhadap perubahan
medium komunikasi, serta mampu menyampaikan pesan dengan pendekatan yang lebih
persuasif dan interaktif.
Dari perspektif angket, terdapat hubungan positif
antara tingkat pendidikan pendakwah dan kemampuan mereka untuk mengelola
komunikasi yang efektif.[7]
Pendakwah yang memiliki pendidikan lebih memadai cenderung lebih mampu
memanfaatkan pengalaman hidup mereka dalam menyampaikan pesan, menyesuaikan
metode dakwah dengan karakteristik audiens, dan mengurangi risiko bias persepsi
dalam komunikasi digital maupun tatap muka. Mereka juga lebih mampu menciptakan
suasana pembelajaran yang kondusif, mendorong audiens untuk berpartisipasi
aktif, serta membangun ikatan emosional yang memperkuat penerimaan pesan.
Sebaliknya, pendakwah yang kurang mendapatkan
pendidikan formal maupun pelatihan non-formal cenderung menghadapi kesulitan
dalam menyampaikan pesan secara terstruktur dan interaktif. Pesan dakwah yang
disampaikan seringkali bersifat monolog, kurang kontekstual, dan kurang relevan
dengan pengalaman audiens, sehingga mengurangi dampak dan efektivitas dakwah
itu sendiri. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya memperluas
pengetahuan, tetapi juga membekali pendakwah dengan kemampuan praktis dan strategi
komunikasi yang adaptif, yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi audiens modern
dan kompleks.
Di era digital, media sosial menjadi salah satu
platform utama bagi individu untuk menampilkan diri sebagai figur keagamaan.
Banyak pendakwah muda yang membangun branding sholehah, menampilkan citra
religius yang menarik dan komunikatif untuk mendapatkan perhatian audiens.
Popularitas seperti ini memang efektif meningkatkan visibilitas, namun
penelitian berbasis angket menunjukkan bahwa branding sholehah dan kemampuan
berbicara yang baik di media sosial tidak cukup untuk menjamin kredibilitas
sebagai pendakwah.
Penelitian ini melibatkan 22 responden, terdiri dari
mahasiswa/i UIN Jakarta, yang diminta menilai kredibilitas pendakwah
berdasarkan berbagai kriteria, termasuk penampilan religius, kemampuan
berbicara di media sosial, pemahaman agama, dan integritas pribadi. Hasil
angket menunjukkan bahwa hanya 12% responden yang menilai branding sholehah dan
kemampuan berbicara online sebagai indikator utama kredibilitas, sedangkan
mayoritas (88%) menekankan pentingnya pemahaman keagamaan yang mendalam,
pengalaman praktik dakwah, dan integritas moral.
Temuan ini mengindikasikan bahwa audiens lebih
memperhatikan substansi pesan daripada sekadar gaya penyampaian atau
popularitas online. Branding sholehah dan retorika persuasif dapat menarik
perhatian sementara, tetapi tidak menjamin keakuratan dan kedalaman dakwah.
Bahkan, dalam beberapa kasus, popularitas digital
tanpa landasan keilmuan dapat menimbulkan penyebaran informasi yang keliru,
bias persepsi, atau interpretasi ajaran yang menyimpang. Hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan komunikasi di media sosial hanya menjadi pendukung, bukan
fondasi utama kredibilitas pendakwah.
Selain itu, angket juga menunjukkan bahwa pendakwah
yang hanya mengandalkan citra religius cenderung kurang dipercaya untuk
memberikan nasihat atau panduan praktik ibadah yang kompleks. Dengan kata lain,
pendidikan formal maupun non-formal menjadi elemen esensial untuk memastikan
pendakwah tidak hanya populer, tetapi juga profesional, terpercaya, dan efektif
dalam menyampaikan dakwah.[8]
Lebih jauh, penelitian ini menekankan pentingnya
integrasi antara branding positif, kemampuan komunikasi digital, dan fondasi
keilmuan yang kuat. Branding sholehah dan kemampuan berbicara di media sosial
sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung untuk memperluas jangkauan dakwah,
bukan sebagai satusatunya indikator kredibilitas. Pendakwah yang efektif adalah
mereka yang dapat menyampaikan pesan secara akurat, kontekstual, dan dapat
dipertanggungjawabkan, serta mampu menghadapi kritik atau pertanyaan audiens
secara bijaksana.
Secara keseluruhan, hasil penelitian berbasis angket
ini menegaskan bahwa popularitas digital tidak dapat menggantikan pendidikan
dan kompetensi agama. Pendidikan
formal dan pelatihan dakwah menjadi fondasi utama yang memastikan pendakwah
tidak hanya menarik di mata audiens, tetapi juga memiliki kemampuan analisis,
integritas, dan profesionalitas yang dibutuhkan untuk menyampaikan dakwah
secara kredibel. Branding sholehah dan kemampuan media sosial hanyalah
pelengkap strategi dakwah, bukan penentu utama kualitas seorang pendakwah.
Meskipun branding sholehah dan kemampuan berbicara di media sosial dapat membantu dalam menarik perhatian audiens, hal tersebut tidak cukup untuk menjadikan seseorang pendakwah yang kredibel. Pendidikan yang mendalam dan komprehensif adalah fondasi utama dalam membangun kredibilitas seorang pendakwah. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu yang ingin menjadi pendakwah untuk menempuh pendidikan yang memadai, baik formal maupun nonformal, guna memastikan bahwa pesan pendidikan Islam. Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam yang disampaikan sesuai dengan ajaran agama yang benar dan dapat diterima oleh audiens dengan baik.
SIMPULAN
Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk
kredibilitas dan efektivitas seorang pendakwah. Meskipun branding sholehah dan kemampuan berbicara di media
sosial dapat meningkatkan visibilitas dan menarik perhatian audiens, hal
tersebut tidak cukup untuk menjamin kualitas dakwah yang kredibel. Kredibilitas
seorang pendakwah ditentukan oleh kombinasi antara pemahaman agama yang
mendalam, integritas moral, pengalaman praktik dakwah, dan keterampilan
komunikasi yang adaptif.
Hasil penelitian berbasis angket dan temuan dari
berbagai studi menunjukkan bahwa pendakwah yang memiliki pendidikan formal
maupun non-formal lebih mampu menyusun materi dakwah secara sistematis,
menghadapi bias persepsi, dan menyampaikan pesan yang relevan serta aplikatif
bagi audiens. Pendidikan juga memungkinkan pendakwah untuk memanfaatkan
pengalaman pribadi sebagai sumber pembelajaran, membangun komunikasi dua arah
yang efektif, dan meningkatkan profesionalitas serta kepercayaan diri.
Pendidikan memungkinkan pendakwah untuk
mengintegrasikan pengalaman hidup pribadi sebagai modal dalam menyampaikan
dakwah, mengembangkan strategi komunikasi yang kontekstual, dan membangun
interaksi dua arah yang lebih efektif dengan audiens. Hal ini sangat penting
mengingat audiens modern cenderung kritis, terpapar berbagai informasi di media
digital, dan mampu menilai kredibilitas pendakwah berdasarkan kualitas konten,
bukan hanya daya tarik visual atau retorika. Pendidikan juga membekali
pendakwah dengan kemampuan untuk menghadapi tantangan komunikasi, seperti
perbedaan interpretasi, kesalahpahaman, dan bias persepsi, sehingga dakwah yang
disampaikan tetap tepat sasaran dan berdampak positif.
Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa branding sholehah dan kemampuan berbicara di media sosial hanyalah alat pendukung, bukan penentu utama kualitas seorang pendakwah. Kredibilitas dan efektivitas dakwah tetap bergantung pada kombinasi antara kompetensi keilmuan, integritas pribadi, pengalaman praktik, dan keterampilan komunikasi. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas pendakwah melalui pendidikan formal, pelatihan nonformal, literasi digital, serta pembinaan pengalaman praktik dakwah merupakan langkah strategis yang esensial untuk visual, tetapi juga akurat, relevan, dan dapat memastikan bahwa dakwah yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan disampaikan tidak hanya menarik secara moral.
REFERENSI
Aswar, A. (2025). Dakwah
Digital Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah. Repositori UIN Alauddin.
Nugroho, D. (2025). Media Sosial dan Transformasi Dakwah.
Maulidna, F. (2025). Etika Dakwah di Media Digital: Tantangan dan Solusi. Journal of
Media and Islamic Communication.
Mahdi, M. (2023). Strategi
Komunikasi Dakwah Jama’ah Tabligh Masjid Jami’ al-Burhan. Journal of
Islamic Communication Studies.
Ali, M. (2023). Penyuluh Agama Islam Sebagai Penggerak
Pendidikan Keagamaan dan Penguatan Karakter Untuk Meningkatkan Kesadaran
Spiritual Masyarakat. Jurnal AnNasyr: Jurnal Dakwah Dalam Mata Tinta, 4(2).
Universitas Islam Asy-Syafi’iyah.
Muchtar, M., Setiawan, D., & Bahri, S. (2017).
Konsep Pendidikan Akhlak dan Dakwah dalam Perspektif Dr. KH. Zakky Mubarak, MA.
Jurnal Studi Al-Qur’an, 12(2), 194216.
Iskandar, S., Yusup, A. M., Shamsul, M. N., &
Agusman. (2025). Model pendidikan kaderisasi da’i di Wahdah Islamiyah dalam
perspektif pendidikan Islam. Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam.
Bukhari, B. (2014). Membangun Kompetensi dan
Kredibilitas Da’i. Jurnal Ilmiah Dakwah dan Komunikasi.
Rizky, F. Umh. (2024). Kompetensi Da’i Profesional
untuk Berdakwah di Kalangan Generasi Z. Tanzhim: Jurnal Dakwah Terprogram,
Ikram, M. (2022). Kredibilitas Da’i dalam Dakwah
Digital. UIN Alauddin Makassar.
https://repositori.uin-alauddin.ac.id/26093/1/80100219047_MUH.%20IKRAM.pdf
Nurhadi, A. (2023). Etika Dakwah di Media Digital:
Tantangan dan Solusi. ResearchGate.
Fauzi, & Muhibuddin. (2024). Counter-narrative
dakwah digital: Menangkal islamofobia melalui konten positif. Jurnal
Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia, 3(2). Retrieved from https://jurnal.iuqibogor.ac.id
Ramdhani, J. (2020). Ulama Upayakan Pakai Media Sosial
sebagai Medium Dakwah. Diakses Pada Tanggal 8 Mei 2020.
https://m/detik.com/news/berita/d-3354863/ulamaupayakan-pakai-media-sosial-sebagai-media-dakwah
[1] Muh. Ikram, Kredibilitas Da’i dalam
Dakwah Digital (Makassar: UIN Alauddin
Repository,
[2] ), 14,
https://repositori.uinalauddin.ac.id/26093/1/80100219047_MUH.%20I KRAM.pdf
[3] A. Nurhadi, Etika Dakwah di Media
Digital: Tantangan dan Solusi (researchgate, 2023), https://www.researchgate.net/publication/39112412
[4] Aswar, A. (2025). Dakwah Digital Majelis Tabligh Pimpinan
Wilayah. Repositori UIN Alauddin.
[5] Ramdhani, J. (2020). Ulama Upayakan
Pakai Media Sosial sebagai Medium Dakwah. Diakses Pada Tanggal 8 Mei 2020. Https://m/detik.com/news/berita/d-3354863/ulama-
[6] Nugroho, D. (2025). Media Sosial dan Transformasi Dakwah.
[7] Muchtar, M., Setiawan, D., &
Bahri, S. (2017). Konsep Pendidikan Akhlak dan Dakwah dalam Perspektif Dr. KH.
Zakky Mubarak, MA. Jurnal Studi Al-Qur’an
[8] Iskandar, S., Yusup, A. M., Shamsul,
M. N., & Agusman. (2025). Model pendidikan kaderisasi da’i di Wahdah
Islamiyah dalam perspektif
No comments
Post a Comment