Tragedy Illustration by Walter Molin
Kunto Adi Rumekso1
1Institut Teknologi dan
Bisnis Kristen Bukit Pengharapan Tawangmangu
Email: kuntoadi@bukitpengharapan.ac.id
Abstract
Walter Molino's creativity in producing illustrations rich in
tragic themes has become unique among illustrators. His name has become
legendary and an inspiration for many young illustrators who also explore
similar themes. This article is a study of Walter Molino's illustrations
through the Italian weekly newspaper La Domenica del Corriere. Walter Molino's
genius in responding to issues in society and packaging them according to his
own imagination and creativity without straying from the norms of the publishing
world is a skill in itself, allowing all of this to continue to run smoothly.
Molino's illustrations are known for their negative themes to most people, but
there are many positive things that can be taken from his work and life
process. One of them is how we can understand that success requires
perseverance and authenticity.
Keywords: Tragedy, Creativity,
Illustration, Walter Molino
Abstrak
Kreatifitas
Walter Molino menciptakan karya-karya ilustrasi yang syarat dengan tema tragedi
seakan menjadi keunikan tersendiri di kalangan illustrator. Namanya menjadi
legenda sekaligus inspirasi bagi banyak illustrator muda yang juga terjun dalam
tema-tema serupa. Penulisan ini merupakan kajian tentang karya-karya ilustrasi
dari Walter Molino melalui koran mingguan La Domenica del Corriere dari
Itali. Kejeniusan Walter Molino dalam menanggapi isu yang terjadi di masyarakat
sekaligus mengemasnya sesuai dengan imajinasi dan kreatifitasnya sendiri tanpa
sedikit keluar dari lajur yang ditetapkan dalam dunia publikasi, merupakan
kelihaian tersendiri sehingga semua itu dapat terus berjalan beriringan.
Karya-karya ilustrasi Molino terkenal melalui tema negatif bagi kebanyakan
orang, namun banyak sekali hal positif yang dapat diambil melalui karya dan
proses hidupnya. Salah satunya adalah bagaimana kita bisa mengerti bahwa
keberhasilan membutuhkan suatu ketekunan dan kesejatian diri.
Kata Kunci: Tragedi, Kreatifitas, Ilustrasi, Walter Molino
PENDAHULUAN
Kata ilustrasi (Bahasa Indonesia) diambil dari istilah
Bahasa Inggris illustration dengan akar kata illustrate, yang mempunyai
makna sebagai “pembuat cerah” atau “membuat terang”. Dalam hal ini, peran
ilustrasi tentu sudah bisa diasumsikan secara kasar sebagai “penjelasan”,
seperti yang juga diutarakan lewat kamus The American Heritage, perihal
kata illustrate yang juga memiliki arti sebagai “penjelas” atau
“memberikan sebuah kejelasan” melalui perbandingan, analogi dan lain
sebagainya. Pemaknaan lain tentang ilustrasi, disampaikan oleh museum Ilustrasi
Nasional yang berada di Amerika tepatnya di Rhode Island, di mana diartikan
sebagai gabungan antara ekspresi pribadi dengan representasi visual dalam
tujuan utama penyampaian suatu ide. Sedangkan Gruger menjelaskan juga perihal
ilustrasi dalam buku seni ilustrasi, ialah “gambar yang bercerita” (Salam,
2017:2)
Berangkat dari pengertian-pengertian ilustrasi dari
beberapa sumber tersebut maka pembuatan karya seni visual dalam hal ini
ilustrasi, mencakup kompleksitas yang sedikit berbeda dari karya seni rupa
seperti lukisan, yakni dalam ilustrasi dibutuhkan adanya sentuhan rasa dari
pencipta yang menghasilkan gaya tertentu untuk tujuan originalitas maupun
keontentikan karya, pembentukan visual dalam tujuan yang nantinya dapat secara
mudah dicerna oleh audience dan menghasilkan pendapat yang seia-sekata, tanpa
menghasilkan multi-tafsir, serta yang terutama adanya muatan cerita. Sehingga setiap
hal inilah kemudian menjadi saling terkait dan membentuk suatu keutuhan dari
sebuah karya visual yang dapat menjelaskan secara terang, utuh dan tunggal
perihal mengkomunikasikan suatu peristiwa, gagasan maupun ide dari pencipta
dalam media visual.
Ide pembuatan sebuah ilustrasi bisa berangkat dari
mana saja, peristiwa-peristiwa yang benar terjadi di masyarakat seperti laporan
berita aktual, bisa menghasilkan sebuah ilustrasi jurnalistik, sedangkan adanya
minat produsen untuk mempromosikan bahan dagangannya-pun bisa menjadikan
ilustrasi sebagai media efektif untuk menggaet konsumen melalui estetika visual
yang informatif. Ide pembuatan ilustrasi juga bisa berangkat dari kreatifitas
dari seorang illustrator-nya, sehingga melalui hal ini, ilustrasi dihasilkan secara
otentik dan menjadikan illustrator tersebut mempunyai ciri khas, memberinya
identitas secara khusus, serta melekat dalam setiap karyanya,
Sisi kreatifitas dalam mengilustrasikan suatu
peristiwa ini selaras dengan apa yang telah dikatakan oleh Pambuko (2011:6) yang
menjelaskan bahwa kreatifitas yang terus diulang, itulah kehidupan, kebebasan
pikiran dalam menafsirkan sesuatu hingga membuat sebuah hal menjadi bernilai.
Dalam arti lain, bila dihubungkan dengan peran ilustrasi, ialah bagaimana sebuah
peristiwa yang dianggap sepele, namun bisa bernilai hingga mendapat banyak
perhatian masyarakat, bila peristiwa tersebut dikemas dengan ketrampilan seorang
illustrator dalam memilih serta membentuk visual yang dikonsep, disusun
sedemikian rupa untuk menghadirkan kembali sebuah peristiwa dalam wujud yang
berbeda, dalam visual yang berestetika.
Karya-karya ilustrasi dari Walter Molino mempunyai
ciri khas tersendiri, yang membedakan dirinya dengan illustrator lainnya, yakni
lewat tema yang diusungnya. Tema kecelakaan, tragedy maupun bencana menjadi
pilihan utama bahkan inspirasi utamanya untuk membuat sebuah ilustrasi. Hal ini
tentu unik, karena tema demikian tidaklah umum untuk diusung, terlebih dalam
berkarya yang mengutamakan kepuasan konsumen, maupun pasar. Namun hal ini tidak
berlaku bagi Walter Molino, kecakapannya dalam teknik melukis bergaya realis
dipadu dengan tema cerita yang diangkat, malah membuatnya terkenal dan
dipandang hebat. Kepandaian Walter dalam menuangkan setiap kengerian, kesedihan
atau detik-detik yang dramatis dalam visual sangatlah terkonsep dengan matang
melalui pemilihan sudut pandang, warna, serta ekspresi, sehingga dalam
pembuatannya seakan Molino memaksa dirinya untuk “ikut merasakan” kejadian
tersebut dalam menghasilkan visual yang berjiwa dan bercerita (Soedarso SP:
Mike Susanto, 2002:101).
METODE
Ide penelitian menggunakan
metode kualitatif dari Creswell (2013), yang diawali oleh sebuah pendapat
pribadi serta adanya penggunaan teori-teori dari para ahli untuk adanya hubungan,
yang saling mempengaruhi makna dari sebuah masalah. Sedangkan objek yang dikaji
melalui penelitian ini berfokus pada karya-karya ilustrasi tragedi milik Walter
Molino.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Seniman komik yang juga
seorang illustrator dari Itali bernama Walter Molino, lahir di Reggio Emilia,
Itali pada tanggal 5 November 1915 dan meninggal dunia pada 8 Desember 1997,
merupakan seorang seniman yang dikenal lewat karya-karyanya yang sebagian besar
dalam bentuk ilustrasi bertemakan tragedi. Debutnya pada tahun 1935 sebagai
seorang ilustrator dan karikaturis di sebuah koran Italia Il Popolo d’Italia
dan dua majalah untuk anak-anak bernama Il Monello dan L’Intrepido.
Karirnya kemudian berlanjut menjadi komikus di tahun 1936 dalam serial Virus,
il mago della Foresta Morta (Fossati, Franco, 1992). Pekerjaan yang
berkutat dalam ilustrasi, komik maupun karikatur terus berlanjut hingga pada
tahun 1941, Walter Molino direkrut menjadi ilustrator resmi untuk sampul La
Domenica del Corriere, sebuah koran mingguan Itali yang berdiri sejak tahun
1899 (Mitchell V. Charnley, 1953) dari pekerjaannya di koran mingguan
inilah karya-karya Molino dikenal publik, serta melambungkan namanya menjadi
seorang ilustrator yang berciri-khaskan tragedi dan penuh kengerian.
Ilustrasi Tragedi
Walter Molino dalam koran La
Domenica del Corriere banyak menghasilkan ilustrasi-ilustrasi bertema
bencana dan tragedi. Molino memiliki imajinasi yang gelap, inilah yang
membuatnya kuat. Lain dari ilustrator se-zamannya, yang juga bekerja untuk
surat kabar bernama Norman Rockwell, ilustrasi-ilustrasi Rockwell menonjolkan
realitas yang terjadi sehari-hari di kehidupan nyata, seperti kehangatan sebuah
keluarga, ekspresi senang seorang pegawai dalam menjalani hari-harinya di
kantor yang sibuk, seorang ibu yang mencuci baju dengan anak yang menangis di
sampingnya, dan lain sebagainya. Berbeda 180 derajat dengan Molino, yang konstan
menonjolkan kegetiran lewat drama dan kehancuran. Konsep ilustrasi dari Walter
Molino terbangun di antara alam nyata dan alam khayal, peristiwa yang memang
terjadi atau bahkan sebuah ramalan yang mungkin hanya dibentuk di alam pikiran
Molino saja.
Gambar 1. Ilustrasi “Life in 2022”, 1963
Kehadiran Walter Molino di
antara “dua alam” tersebut dihadirkan dalam salah satu karya Molino yang
terkenal, dibuat pada tahun 1963 berjudul “Life in 2022”. Karya
ilustrasi ini sempat membuat gempar di tahun 2020, mengingat di tahun ini
seluruh negara sedang dilanda wabah covid-19, dan pada tahun ini juga
dianjurkan untuk jaga jarak, atau social distancing. Ilustrasi yang
dibuat Walter Molino pada tahun 1963 ini seakan meramalkan apa yang terjadi di
tahun 2022, di mana kehidupan masyarakat menjadi demikian terkotak dan
terprivasi satu sama lain, tidak adanya jabat tangan, bertegur sapa hanya lewat
wahana pribadi seperti yang dihadirkan dalam visual tersebut, ada seorang kakek
yang mengangkat topinya sebagai tanda menyapa dan kehidupan seakan cukup
beracun untuk dinikmati secara langsung, sehingga membutuhkan adanya wahana
tertentu yang dapat melindungi tubuh maupun psikologi antar satu sama lain
maupun kepada alam.
Cerita dalam ilustrasi ini bila
disimak secara singkat akan menghadirkan kepedihan tersendiri dan
memperlihatkan bagaimana suramnya hidup di masa depan, walaupun teknologi
semakin canggih namun adanya pengorbanan dari sisi humanisme dan juga sisi
kesehatan. Tapi sebenarnya, ilustrasi ini tidak secara mentah meramalkan
bagaimana keadaan alam di masa depan yang beracun dan berbahaya untuk tubuh,
melainkan Molino lebih mengutarakan cerita bagaimana keadaan transportasi di
masa depan. Dapat dilihat adanya sosok pria yang berdiri di pinggir jalan
mengamati arus lalu lintas di depannya, pria tersebut tidak berdiri di dalam
wahana berkaca. Hal ini menggambarkan bagaimana Molino meramalkan bahwa mobil,
bus, sepeda motor nantinya akan beralih menjadi wahana-wahana yang lebih kecil
dan praktis per-individu. Mengutamakan mobilitas yang sederhana, sehingga dapat
menjangkau segala medan dengan mudah melalui struktur rangka kendaraan yang
kecil, dipadu dengan teknologi semakin mutakhir. Namun sisi tragedi ditangkap
oleh masyarakat melalui bagaimana Molino memvisualkan “jarak” maupun “relasi”
dalam ilustrasi ini, kesibukan masyarakat yang tumpah ruah ke jalan, menjadi
sebuah aktifitas baru yang begitu cuek dan terprivat menjadi terlihat cukup
mengerikan pada tahun 1963, mengingat hubungan bermasyarakat pada tahun itu
masih luwes dan berbaur. Dengan kata lain, ilustrasi “Life in 2022” ini
tidak dipandang baik oleh mata orang-orang di tahun 1963 dan juga tidak nyaman
dilihat oleh orang-orang di tahun 2020, sebab karena visualnya yang saling
terkait antara kultur lama dan kultur baru akibat wabah serta gaya hidup
modern.
Karya ilustrasi Walter Molino
berikutnya dan juga terkenal adalah “Flowers Beating”, ilustrasi ini
dibuat pada tahun 1958
Gambar 2. Ilustrasi “Flowers Beating”,
1958
Ilustrasi ini terkenal karena
cerita yang diusung begitu unik, sisi lain dari kehidupan berupa asmara yang
kandas dikemas dalam visual dramatik menghasilkan kegelian sekaligus empati, di
mana ilustrasi ini berfokus hanya pada dua subjek utama, antara lelaki yang
dihajar oleh bunga dan wanita yang disakiti hatinya. Hanya sebatas itu asumsi
mulai bermunculan dari publik, ada yang menerjemahkan bahwa wanita itu marah
karena pria yang dikasihinya selingkuh, atau wanita yang marah akibat pria
tersebut terus menerus mengganggunya dengan dalih cinta, bahkan ada asumsi dari
sudut pandang pria, bahwa wanita tersebut cukup materialistis sehingga dengan
pemberian berupa seikat bunga tidaklah cukup untuk cintanya.
Walter Molino sukses membuat audience
terpisah menjadi dua kubu, kubu wanita dan kubu pria. Molino juga
memperlihatkan atas ketidakberpihakannya pada pria atau wanita, ditunjukkan
melalui judul yang dipilihnya “Flowers Beating” atau dalam terjemahan
kasarnya “Dipukul oleh Bunga”, tidak mendukung wanita atau pria hanya
menyajikan sebuah adegan pertengkaran yang dilanjutkan dengan kekerasan fisik.
Pemilihan tema, dan penyajian cerita dalam visual ini dipandang jenius untuk
menghasilkan “kengerian” yang unik dan hampir tidak pernah disorot atau dipilih
dalam membuat ilustrasi, berangkat dari peristiwa sehari-hari yang sekiranya
juga banyak dialami oleh setiap pasangan dan lumrah mewarnai hubungan asmara,
Walter Molino berhasil membuat karya ini menyentuh perasaan.
Gambar 3. Ilustrasi “Presso Torino un'auto
falcia Cinque Bambini”
Kekuatan emosional pada karya
ilustrasi ketiga ini dapat dilihat bagaimana Molino menyajikan detail, visual
yang menjelaskan secara rinci kerusakan, kesakitan, kejadian yang tiba-tiba,
dan kelalaian manusia. Dikemas dalam suatu rangkaian objek maupun figur
sehingga menjadi sebuah karya berjudul asli “Presso Torino un'auto falcia
Cinque Bambini” atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “a Car
Kills Five Children near Turin”. Karya
ini kuat oleh sebab emosional yang dibawa, selain ditunjang dengan teknik mumpuni dan sudut pandang yang dipilih.
Walter Molino menyajikan
kengerian tidak dalam visual penuh darah atau syarat gore, melainkan
tetap dalam balutan gaya realis – romantis penuh drama untuk menarik perhatian
konsumen, mengingat dia bekerja di surat kabar yang menuntut daya jual,
sehingga Molino dengan cerdik mengganti kengerian darah serta kehancuran tubuh
tersebut dengan kecermatan dalam pemilihan warna, pembentukan figur, proporsi,
dimensi, tekstur, sehingga setiap unsur ini bisa saling mendukung satu sama
lain untuk menghasilkan desain utuh, yang memperlihatkan hubungan antar objek
di dalam karyanya (Hakim, 1984) dan yang paling penting adalah mempertahankan
visualnya tetap masuk dalam kategori aman untuk diterbitkan dan dikonsumsi
pembaca surat kabar untuk segala kalangan.
Karya-karya kecelakaan lainnya
juga turut mewarnai koran La Domenica del Corriere, tidak hanya
kecelakaan mobil namun juga beragam alat transportasi lain. Walter Molino
seakan ingin mengulik lebih dalam tentang dunia kecelakaan, sekaligus
memberikan kesan kepada kita bahwa bencana, tragedi dan kengerian bisa terjadi
kapanpun tanpa kita sadari, saat kita sedang makan, minum, berpergian bersama
pasangan, hubungan percintaan dan lain-lain.
Gambar 4. Ilustrasi “Tragedia a Sesmila
Metri”
Gambar 5. Ilustrasi “Elicottero
precipita in piazza dell’Esedra”
Kecelakaan udara cukup banyak
dijadikan ide oleh Molino dalam membuat ilustrasi, beberapa di antaranya adalah
karya yang berjudul “Tragedia a Sesmila Metri” atau dalam bahasa Inggris
disebut “Tragedy at Six Thousand Meters” (Gambar 4) dan “Elicottero
precipita in piazza dell’Esedra” atau “Helicopter Crashes in Piazza
dell’Esedra” (Gambar 5). Dalam
ilustrasi gambar 4, diperlihatkan seorang wanita yang sedang berjuang
mempertahankan dirinya agar tidak jatuh dari pesawat yang tengah terbang
kencang di udara. Dibantu oleh rekannya, seorang pria dengan wajah yang seakan
berusaha tetap tenang meskipun perasaan panik melanda. Hal ini sedikit dapat
disadari bagaimana hubungan mimik wajah dengan peristiwa yang diusung,
peristiwa mengerikan dan menuntut pikiran menjadi kacau bahkan kehilangan akal
sehat. Namun oleh Molino dipikirkan hingga mendetail, melalui ekspresi teman
prianya yang terlihat berusaha tenang tersebut dapat ditafsirkan tentang
pengendalian diri menghadapi situasi yang tidak menentu, tinggi resiko, dan
minimnya peluang untuk berhasil. Sekaligus mengajarkan kepada publik bagaimana
seharusnya kita dalam menghadapi permasalahan, dengan sikap tenang yang menyingkirkan
kegelisahan maka dapat mengalirkan suatu kejernihan pikiran serta logika bening
untuk dapat mengatasi masalah dengan tuntas.
Ekspresi menjadi salah satu
kekuatan dari ilustrasi Walter Molino, dengan karya-karya yang syarat tragedi
dan bencana maupun kecelakaan, maka mustahil bagi audience untuk ikut
berempati bila tidak menyematkan ekspresi pada wajah setiap figur visual. Unsur
ekspresi menjadi salah satu unsur penguat cerita dan atmosfer visual, dan Molino
berhasil mengolahnya sehingga setiap karya-karyanya berjiwa dan dapat
“dirasakan” oleh para audience yang menyimaknya. Gaya ilustrasi yang
dipakai juga menjadi senjata utama dalam penyampaian pesan secara langsung atau
on point, tidak menjadikan publik berasumsi lain dalam menerka objek
visual, melainkan langsung mengerti dan memahami apa sebenarnya yang ingin
disampaikan oleh Walter Molino dalam visualnya.
Begitu juga dalam penyajian
ilustrasi gambar 5, pengambilan gambar dari jauh tidak memungkinkan untuk
menjelaskan secara detail ekspresi pada wajah, maka Walter Molino menampilkan
cara lain untuk menyampaikan kepanikan dan kengerian, yaitu melalui gestur. Bagaimana
digambarkan kejadian itu menjadi sebuah tragedi yang tidak dipikirkan
sebelumnya, tiba-tiba terjadi sebuah helikopter kuning yang terjun bebas di
tengah situasi yang sebelumnya aman dan damai. Detik-detik kengerian dapat
disimak melalui gestur pada figur-figur yang dihadirkan di sana, orang-orang
berlari, terkejut hingga jatuh seakan membawa suasana yang ribut dan penuh
jeritan. Pada ilustrasi gambar 5 ini juga diungkap bagaimana kreatifitas Molino
mampu menggiring opini publik lewat visual.
Gambar 6. Ilustrasi “un Petardo Trasforma
in Tragedia una Festa” 1959
Tragedi diusung oleh Molino secara khusus
untuk menopang kualitas karyanya, bagaimana tema cerita tragedi dan kengerian
dipadukan dengan teknik visualnya hingga menjadikan sebuah pertunjukan visual
dua dimensi yang mampu membuat ngeri siapapun yang melihat. Dalam karya
ilustrasi berjudul “un Petardo Trasforma in Tragedia una Festa” atau yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris berarti “a Firecracker turns a Party into a Tragedy”
menonjolkan teknik yang digunakan oleh Walter Molino dalam mengutarakan
kekacauan dalam kerumunan orang. Figur-figur tidak seluruhnya disajikan detail,
hanya di baris depan saja sedangkan di baris-baris belakang hanya mengandalkan
persepsi yang dibentuk oleh bayangan, sehingga praktis untuk menciptakan kerumunan.
Warna yang dipakai juga mengandalkan kontras, warna-warna primer hingga
komplementer dipadu dan dilumat dengan warna hitam dan kuning terang sehingga
menciptakan visual yang lembut dan tidak terkesan norak dalam warna, akibat
pengaruh ritme tersebut.
Kecelakaan akibat ledakan kembang
api menjadi ancaman pada setiap momen perayaan terlebih pada pergantian tahun, Walter
Molino dengan cakap mengemas ancaman ini menjadi karya yang indah untuk
dinikmati sekaligus pedih untuk dikenang, apabila ada seseorang yang dikasihi
pernah ditimpa kejadian serupa. Maka ilustrasi ini membawa dua perasaan, kagum
pada olah teknik gambar yang diberikan sekaligus sedih atas empati yang
ditawarkan.
Ilustrasi Walter Molino
termasuk dalam ilustrasi kontemporer, lebih menonjolkan ekspresi dalam balutan
imajinasinya yang liar dan cenderung gelap. Ilustrasi kontemporer ini mempunyai
resiko tersendiri, melalui kreatifitas yang seringkali unik, maka dikhawatirkan
akan menghasilkan kesalahpahaman atau tidak dapat terkomunikasikan dengan jelas
(Salam, 2017:155), hal ini diwujudkan oleh Walter melalui contoh karyanya di
Gambar 1, dengan judul “Life in 2022”, yang telah dibahas tentang adanya
ketidaksesuaian antara imajinasi Molino dengan kultur atau kebiasaan yang
tengah terjadi di kala itu, sehingga menghasilkan tanggapan beragam atas karya
tersebut. Namun Walter Molino tetap konsekuen dalam menghidupi tema-tema
tragedinya, hal ini dibuktikan dengan tetap bertahannya ia dalam
imajinasi-imajinasi yang bebas mengusung cerita-cerita kecelakaan oleh
kelalaian manusia, alat transportasi, binatang, bahkan Molino juga tanggap
mengenai isu-isu tentang kehidupan di luar angkasa.
Beberapa kali Walter Molino
membuat ilustrasi tentang kehadiran Alien dalam wujud piring terbang, hadir di
tengah kehidupan manusia di bumi, bahkan bersinggungan langsung dengan manusia.
Gambar 7. Beberapa ilustrasi Walter Molino
tentang Alien
Pada tahun 1960-an berita
tentang UFO (Unidentified Flying
Object) atau banyak yang
menyebutnya dengan Alien melonjak drastis dan menggemparkan
publik, beragam teori bermunculan tentang adanya kehidupan di luar bumi, dan
bagaimana kehidupan publik pada saat itu merasa cemas dan khawatir akibat
dramatisasi media tentang penculikan oleh Alien dan kunjungan asing. Menanggapi
kasus ini, tentunya koran La Domenica del Corriere tidak mau kehilangan
momen.
Walter Molino mengemas
desas-desus perihal kehadiran makhluk asing dari luar angkasa tersebut menjadi
kumpulan karya ilustrasi baru, dengan tetap memuat unsur tragedi dan juga
fenomena yang tengah melanda publik. Gambar 7 menunjukkan beberapa karya Molino
tentang kehadiran makluk luar angkasa, demikian juga dalam ilustrasi di gambar
8
Gambar 8. Ilustrasi “Rapito dai Dischi
Volanti” 1962
Ilustrasi “Rapito dai
Dischi Volanti” atau dalam bahasa Inggis diterjemahkan menjadi “Kidnapped
by Flying Saucers” merupakan bukti “ramuan” Walter Molino antara isu yang
tengah naik daun dengan imajinasinya yang gelap. Menghasilkan ilustrasi atas kehadiran
Alien di dalam pesawat piring terbangnya, yang tanpa rasa iba dan tidak peduli
tengah menculik seorang pria. Ekspresi pria lain digambarkan panik, terkejut
dan ketakutan, alih-alih menolong temannya yang diculik, dia malah lari masuk
ke sebuah bangunan. Penggambaran ini juga tidak lepas dari sentuhan sisi
kemanusiawian, di kala ancaman mewujud nyata secara mendadak maka relasi yang
kuat pun akan mengendur bahkan putus lewat dalih keselamatan diri sendiri.
Walter Molino secara tidak langsung menjelaskan tentang ini.
Cerita dalam ilustrasi ini memang
dapat dipahami secara singkat melalui pembacaan judulnya, namun tidak dapat disimak
tentang adanya kengerian suasana yang terjadi bila tidak melihat visual yang
disajikan oleh Walter Molino. Setiap detail baik itu ekspresi, pose, pemilihan
warna dan teknik visualisasi dicermati sedemikian rupa dalam tujuan membangun
suasana panik dan takut. Ilustrasi-ilustrasi yang disajikan dengan menggandeng
isu terkini, merupakan pembuktian bahwa ide dapat lebur dengan perkembangan
jaman tanpa sedikitpun menghilangkan identitas.
SIMPULAN
Kehadiran ilustrasi sebagai penjelas,
penyampai pesan bahkan sebagai salah satu media berkomunikasi dapat menjadi
sangat ampuh apabila dikombinasikan dengan ide serta kreatifitas. Karya-karya
dari Walter Molino tidak hanya bercerita tentang tragedi, namun bagaimana
proses dapat menghasilkan suatu hasil yang menjanjikan apabila dilakukan secara
konstan dan berkesinambungan. Citra diri menghasilkan keotentikan yang tidak
dapat ditiru oleh orang lain, apabila dalam pembangunannya disertai dengan
keseriusan dan kepercayaan diri.
Tragedi, kecelakaan, kesedian dan
kengerian hanya bagian-bagian yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Namun
tidak banyak orang yang mau menjadikan tema ini sebagai ide utama atau sumber
inspirasi, pola pandang yang diwujudkan oleh Walter Molino dalam menjawab
tantangan hidup inilah yang juga dapat kita renungkan apabila melihat
karya-karyanya. Bekerja untuk koran mingguan La Domenica del Corriere tidak
serta merta membunuh kreatifitasnya. Namun bagaimana cara agar kreatifitas,
imajinasi, dan kebutuhan publik dapat berjalan beriringan inilah yang menjadi
sumber kekuatan serta keunikan yang dimiliki oleh Walter Molino, mengingat
usungan tema-tema dalam ilustrasinya sangatlah berlawanan dengan tema yang
sewajarnya.
REFERENSI
Fossati,
Franco. Dizionario Illustrato del Fumetto. Italy:Mondadori. 1992
Hakim, Arfial
Arsad. Nirmana Dwimatra (Desain Dasar Dwimatra). Yogyakarta: ANDI. 1984
Mitchell V.
Charnley (September 1953). "The Rise of the Weekly Magazine in
Italy". Journalism Quarterly. 30 (4): 477.
Pambuko Kristian. 2011.
Konsep Dasar Kreativitas Majalah “Bende”, UPT Pendidikan dan Pengembangan
Kesenian Sekolah, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur edisi 96 hal 6. Oktober
2011.
Salam, Sofyan. SENI ILUSTRASI : ESENSI - SANG ILUSTRATOR - LINTASAN – PENILAIAN. Makassar:
Universitas Negeri Makassar. 2017
Sp. Soedarso, Susanto Mike.
Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta: Jendela, 2002.
No comments
Post a Comment