Madani: Jurnal Ilmiah
Multidisiplin
Volume 4, Nomor 1,
February 2026, P. 707-712
E-ISSN: 2986-6340
Licenced by CC BY-SA 4.0
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18522668
The Implementation of Kitab Kuning Learning in Indonesian Islamic Boarding Schools: A Comparison between the Traditional Sorogan Method and Digital-Based Innovations
Abstract
The study of yellow books is
a treasure trove
of classical Islamic
knowledge and has served as the hallmark and primary
identity of Islamic boarding schools education in Indonesia for centuries.
Amidst the rapid development of technology and the emergence of a "digital
native" generation, Islamic boarding schools now face inherent challenges
in maintaining the tradition of classical methodology while embracing
educational innovation. In this case, the author uses a literature review
method with the aim of analyzing and comparing the implementation of yellow
books learning using the traditional sorogan
method with digital-based innovation methods. By analyzing
four primary documents (three theses
and one indexed
journal article from 2012
– 2024), this study found that the sorogan method implemented at the
Al-Munawwaroh Kepahiang and Miftahul Ulum Malang Islamic Boarding Schools has
significant advantages in fostering depth of understanding, a sense of responsibility, and direct interaction between students and kyai, although it is constrained by the need for high time and patience. In contrast, the digital approach
developed by Islamic Boarding School students at IAIN Bone offers acfcessibility,
flexibility, and collaboration across time, but still requires intensive
digital literacy mentoring. Student oriented Islamic boarding schools like Ibnu
Katsir 2 in Jember demonstrate a hybrid model that integrates both. This study
concludes that neither approach is absolutely superior; sorogan remains the
lifeblood of character formation and depth of interpretation, while digital
technology provides an inclusive
solution in the millennial era. The primary recommendation is the development
of a blended learning model for the yellow book (kitab kuning) that combines
the power of sorogan with an open digital platform.
Keywords: yellow book learning,
traditional and digital
methods, Islamic boarding
school students.
Abstrak
Pembelajaran kitab kuning merupakan
khazanah keilmuan Islam klasik dan telah menjadi ciri khas serta identitas
utama pendidikan pesantren di Indonesia selama berabad-abad. Di tengah pesatnya
perkembangan teknologi dan munculnya generasi yang "digital native", pesantren kini menghadapi
tantangan inheren dalam mempertahankan tradisi metodologi klasik sambil merangkul inovasi pendidikan. Dalam
hal ini penulis
menggunakan metode kajian
pustaka dengan tujuan menganalisis dan membandingkan implementasi antara pembelajaran kitab kuning yang
menggunakan metode sorogan tradisional dengan metode inovasi berbasis digital.
Dengan menganalisis empat dokumen primer (tiga skripsi dan satu artikel jurnal
terindeks tahun 2012 – 2024), kajian ini
menemukan bahwa metode sorogan yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-
Munawwaroh Kepahiang dan Miftahul Ulum Malang memiliki keunggulan signifikan
dalam membentuk kedalaman pemahaman, rasa tanggung jawab, dan interaksi
langsung santri–kyai, meskipun terkendala oleh kebutuhan waktu dan kesabaran
yang tinggi. Sebaliknya, pendekatan digital yang dikembangkan pada mahasiswa
Prodi PAI IAIN Bone menawarkan aksesibilitas, fleksibilitas, dan kolaborasi lintas
waktu, namun masih memerlukan pendampingan literasi digital yang intensif.
Pesantren mahasiswa seperti
Ibnu Katsir 2 Jember menunjukkan model hibrid yang mengintegrasikan keduanya. Kajian
ini menyimpulkan bahwa tidak ada pendekatan yang secara mutlak lebih unggul;
sorogan tetap menjadi jiwa pembentukan karakter dan kedalaman tafsir, sedangkan
digital menjadi solusi inklusif di era milenial. Rekomendasi utama adalah
pengembangan model blended learning kitab kuning yang memadukan kekuatan
sorogan dengan platform digital terbuka.
Kata Kunci: pembelajaran kitab kuning, metode
tradisional dan digital,
mahasiswa pesantren.
Article Info
Received date: 22 January 2026 Revised date:
29 January 2026
Accepted date: 5 February 2026
PENDAHULUAN
Kitab kuning, yang dikenal sebagai khazanah keilmuan Islam klasik
berbahasa Arab, merupakan rujukan primer
yang telah membentuk corak pendidikan pesantren di Indonesia selama berabad-abad. Kitab-kitab ini
tidak sekadar berisi materi teoretis, melainkan mencakup disiplin ilmu yang luas seperti fikih, tauhid, tafsir, tasawuf, hingga tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf).
Oleh karena itu, pembelajaran kitab kuning menjadi ciri khas dan
identitas utama yang membedakan pendidikan pesantren dari sistem pendidikan
lainnya di Indonesia.
Tujuan dari pembelajaran kitab kuning melampaui sekadar transfer
informasi atau pengetahuan kognitif. Fokus utamanya adalah
pembentukan adab, akhlak,
dan karakter Islami santri, yang dicapai melalui
interaksi intensif dengan kyai. Tradisi pembelajaran seperti sorogan dan bandongan telah terbukti efektif selama ratusan tahun dalam
memastikan kedalaman pemahaman dan minimnya kesalahan tafsir.
Pesantren saat ini dihadapkan pada tantangan besar yang muncul
seiring dengan akselerasi revolusi industri 4.0 dan
Society 5.0. Generasi santri saat ini, yang merupakan generasi Z dan Alpha, adalah
digital native yang menuntut metode
pembelajaran yang lebih fleksibel dan mudah diakses. Tantangan ini memicu perdebatan mengenai bagaimana pesantren dapat mempertahankan
metode tradisional yang berorientasi pada karakter, sambil merespons kebutuhan
digitalisasi dan efisiensi.
Sebagai respons terhadap tantangan zaman, muncul berbagai inovasi
pembelajaran kitab kuning berbasis digital. Inovasi ini mencakup pengembangan
aplikasi digital kitab kuning, platform e-learning, hingga pembelajaran daring
untuk meningkatkan aksesibilitas dan kolaborasi lintas
waktu. Pendekatan digital ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman kognitif
dan fleksibilitas akses bagi santri mahasiswa.
Meskipun telah ada implementasi dari kedua metode tradisional (sorogan)
dan digital kajian yang secara
eksplisit membandingkan efektivitas kedua pendekatan tersebut
masih terbatas. Sebagian besar
literatur cenderung fokus secara terpisah, misalnya pada metode sorogan atau
inovasi pesantren mahasiswa , sehingga belum ada gambaran komprehensif mengenai
kelebihan, kekurangan, dan tantangan dari masing-masing metode secara
berdampingan.
Kajian pustaka ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis
dan membandingkan implementasi pembelajaran kitab kuning melalui dua pendekatan
dominan: metode sorogan tradisional dan inovasi berbasis
digital. Data primer yang digunakan berasal dari empat dokumen kunci yang
merepresentasikan tiga wilayah berbeda di Indonesia (Jawa Timur, Bengkulu, dan
Sulawesi Selatan) dan mencakup rentang waktu 12 tahun (2012–2024), memberikan
perspektif evolusioner yang memadai.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini merumuskan masalah utama sebagai berikut: Bagaimana karakteristik implementasi, kelebihan, kekurangan, dan tantangan dari metode sorogan tradisional dan pendekatan digital? Dan yang paling krusial, model pembelajaran kitab kuning ideal seperti apakah yang dapat mengintegrasikan kekuatan tradisi dengan kemajuan teknologi di masa depan?
METODE KAJIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka (library research)
dengan analisis isi (content analysis)
dan analisis komparatif. Sumber data primer
adalah empat dokumen
berikut:
1.
Mahrus (2012). Implementasi
Metode Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Gondang Legi
Malang. Skripsi S1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
2.
Rodiah, Zulkarnain, & Qolbi
Khoiri (2018). Implementasi Metode Sorogan dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren
Al-Munawwaroh Kabupaten Kepahiang. Jurnal Literasiologi, 1(1),
37–48.
3.
Nurul Safikah (2022).
Implementasi Pembelajaran Kitab Kuning Pesantren Mahasiswa (Studi Kasus di
Pondok Pesantren Al-Qur’an Ibnu Katsir 2 Jember). Skripsi S1 UIN Kiai Haji
Achmad Siddiq Jember.
4.
A. Fajar Awaluddin dkk. (2024).
Penerapan Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis Digital dalam Meningkatkan Pemahaman Keislaman Mahasiswa
Program Studi Pendidikan Agama Islam. EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan,
23(2), 140–156. Dokumen-dokumen tersebut dipilih
karena merepresentasikan tiga wilayah berbeda
(Jawa
Timur, Bengkulu, Sulawesi Selatan) dan rentang waktu 12 tahun (2012–2024), sehingga memberikan gambaran evolusi metode.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Implementasi
Pembelajaran
Implementasi pembelajaran adalah pelaksanaan atau
penerapan pembelajaran. Namun jika kita tarik secara mendalam implementasi
pembelajan adalah sebuah tindakan yang di lakukan atas dasar perencanaan yang
telah tersusun secara konseptual dan sistematis untuk melakukan proses
pembelajaran.
Sedangkan menurut kaca mata Hamzah, pelaksanaan pembelajaran adalah
penerapan proses interaksi antara peserta didik dan pendidik serta sumber
belajar dalam lingkungan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa saling
bertukar informasi satu sama lain.[1]
Dari beberapa kesimpulan di
atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran merupakan proses
penerapan dalam pengajaran untuk melaksanakan gagasan, program, atau
serangkaian kegiatan baru dengan harapan dapat membawa perubahan pada peserta
didik.
Pengertian kitab kuning
Kitab kuning
sering disebut sebagai kitab klasik (Al Kutub Al Qadimah). Kitab-kitab ini
merujuk pada karya-karya tradisional para ulama klasik dengan gaya bahasa Arab
yang berbeda dari buku modern.[2] Beberapa juga menafsirkan
bahwa kitab-kitab tersebut disebut kitab kuning karena ditulis pada kertas
berwarna kuning, sehingga jika sebuah kitab ditulis pada kertas putih, maka
akan disebut kitab putih, bukan kitab kuning.[3]
Menurut Azyumardi
Azra, kitab kuning adalah kitab keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab,
Melayu, Jawa, atau bahasa lain, di Indonesia menggunakan aksara Arab, yang
selain ditulis oleh para ulama di Timur Tengah, juga ditulis oleh ulama
Indonesia.
Metode Sorogan
sebagai Pendekatan Tradisional Utama
Metode sorogan adalah sistem pembelajaran individu di mana
santri secara bergiliran menghadap kyai atau ustadz, membaca
kitab kuning, dan langsung dikoreksi (Rodiah dkk., 2018). Di Pondok Pesantren Al-Munawwaroh
Kepahiang, sorogan bahkan dijadikan kebijakan utama meskipun pesantren tersebut berbentuk khalafiyah (modern). Hasil penelitian Rodiah dkk. (2018) menunjukkan bahwa sorogan mampu
menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan interaksi langsung yang
intensif.
Sama halnya dengan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Gondang Legi Malang,
Mahrus (2012) menemukan bahwa sorogan tetap menjadi metode andalan untuk
kitab-kitab tingkat lanjut (misalnya Fathul Qarib, Fathul Muin, dan Alfiyah Ibn
Malik). Keunggulan utama adalah koreksi langsung atas kesalahan nahwu, sharaf,
dan pemaknaan, sehingga pemahaman santri lebih mendalam.
Kelebihan sorogan
1) Kemajuan pada setiap individu lebih bisa terjamin karena santri
dapat langsung menuntaskan program belajarnya sesuai dengan kemampuan
masing-masing. Dengan demikian santri tidak terhambat dengan keterbatasan yang
dihadapi seperti kecepatan daya tangkap atau dalam belajar. Sehingga santri
dapat saling bersaing/berkompetisi secara sehat.[4]
2) Adanya interaksi langung antara kyai dan santri, yang secara
langsung kyai dapat membimbing santri dari segi pembelajaranya, baik dari segi
bahasa, pemahaman materi, serta dapat selalu mengontrol perkembangan santri.[5]
3) Membentuk karakter pada diri santri karena dengan metode ini santri
dapat dengan sabar menunggu baik menunggu waktu mereka maju ke depan, sabar
dalam belajar dari materi yang belum difaham dan masih banyak lagi. Bukan hanya
sabar tapi mereka juga di tuntut bersikap ta’dzim (hormat) terhadap ustadz/kyai
karena itulah etika santri kepada kyainya.
Kekurangan sorogan
1)
Ini membutuhkan banyak kesabaran, ketekunan,
tekad, ketahanan, dan disiplin pribadi dari seorang kyai/ustadz.
2)
Ustadz lebih kreatif dibandingkan santri karena
proses pembelajaran berlangsung secara satu arah (monolog).
3) Dari segi waktu dan upaya mengajar, metode ini kurang efektif karena memerlukan periode yang relatif panjang, terutama jika jumlah santri banyak, yang akan memerlukan waktu yang sangat lama dan energi yang besar untuk mengajar.
Inovasi Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis
Digital
A. Fajar Awaluddin dkk. (2024) melakukan penelitian pada 38 mahasiswa Prodi PAI IAIN Bone dengan menerapkan pembelajaran kitab kuning berbasis
digital selama satu semester. Bentuk implementasinya:
1)
Digitalisasi teks kitab (PDF
interaktif dengan fitur pencarian, harakat otomatis, terjemah pop-up)
2)
Konten interaktif (video koreksi
bacaan, rekaman ngaji
kyai)
3)
Forum diskusi daring dan bimbingan via Zoom/WhatsApp
4)
Evaluasi berbasis kuis Google
Form dan tugas video bacaan
5)
Aksesibilitas 24 jam melalui
aplikasi Android khusus
Hasil temuan
1) 92% mahasiswa menyatakan pemahaman kognitif meningkat
2) Akses fleksibel sangat
membantu mahasiswa yang tinggal jauh
3) Kolaborasi antar-mahasiswa lintas
angkatan menjadi lebih
mudah
Kelemahan yang masih
ada
1) Interaksi emosional dan adab tatap muka hilang
2) Literasi digital santri
dan dosen masih bervariasi
3) Risiko salah tafsir jika tidak ada pendampingan langsung
Tabel 1. Perbandingan Metode Sorogan dan Digital
|
Aspek |
Sorogan Tradisional |
Digital |
Pesantren Mahasiswa (Hibrid) |
|
Interaksi Guru–Santri |
Sangat tinggi (tatap muka) |
Rendah–sedang (daring) |
Tinggi + terjadwal |
|
Kedalaman Pemahaman |
Sangat tinggi |
Sedang–tinggi |
Tinggi |
|
Efisiensi Waktu |
Rendah |
Tinggi |
Sedang |
|
Jangkauan Santri |
Terbatas |
Tidak terbatas |
Terbatas tapi terarah |
|
Pembentukan Adab & Akhlak |
Sangat kuat |
Lemah |
Kuat |
|
Biaya |
Rendah |
Sedang–tinggi |
Sedang |
|
Ket tergantungan pada Kyai |
Tinggi |
Rendah |
Sedang |
Pembelajaran Kitab
Kuning di Pesantren Mahasiswa
Pesantren mahasiswa merupakan fenomena baru yang muncul sejak akhir
1990-an, di mana santri adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi. Nurul Safikah
(2022) mengambil kasus Pondok Pesantren Al-Qur’an Ibnu Katsir 2 Jember yang
santri-santri nya 100% mahasiswa UIN KHAS Jember dan perguruan tinggi lain.
Ciri khasnya:
1) Kombinasi sorogan, bandongan, dan wetonan
2) Jadwal malam intensif (19.00–23.00) karena siang
hari kuliah formal
3) Kitab yang diajarkan tetap
klasik (Tafsir Jalalain, Fathul Mu’in, Alfiyah, dll)
4) Tantangan utama: keterbatasan waktu dan kelelahan fisik santri
Pesantren mahasiswa ini menjadi bukti bahwa metode sorogan masih relevan bahkan di kalangan generasi milenial yang sibuk.
SIMPULAN
Kajian pustaka ini menyimpulkan bahwa metode sorogan tetap
menjadi “jiwa” pembelajaran kitab kuning yang sulit digantikan dalam hal
pembentukan adab, akhlak, dan kedalaman tafsir. Namun,
di era digital, pendekatan berbasis
teknologi menjadi keniscayaan untuk memperluas akses dan menjawab kebutuhan generasi baru. Model ideal di masa depan adalah
Blended Learning Kitab Kuning dengan komposisi:
1)
60–70% pertemuan tatap muka (sorogan
+ bandongan)
2) 30–40% pembelajaran daring (digitalisasi kitab, forum diskusi, rekaman koreksi, kuis otomatis)
REKOMENDASI
1) Kementerian Agama RI menerbitkan Pedoman
Nasional Digitalisasi Kitab Kuning
Pesantren.
2) Pengembangan aplikasi open-source kitab kuning berbasis Android/iOS
(bisa kerja sama dengan komunitas developer Muslim Indonesia).
3) Pelatihan literasi digital
bagi kyai dan asatidz senior
di setiap provinsi.
4) Setiap pesantren mahasiswa
wajib memiliki unit “Digital Kitab Kuning Center”.
Dengan demikian, tradisi kitab kuning tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin relevan dan inklusif bagi generasi mendatang.
REFERENSI
Awaluddin, F.,
et al. (2024). Penerapan pembelajaran kitab kuning berbasis digital. Eksposè,
23(2), 140–156.
Bruinessen, M.
van. (1995). Kitab kuning, pesantren dan tarekat. Mizan.
Dhofier, Z.
(1983). Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kyai. LP3ES.
Mahrus. (2012). Implementasi
metode pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Miftahul Ulum
(Undergraduate thesis). UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Qomar, M.
(2005). Pesantren: Dari transformasi metodologi. Erlangga.
Rodiah, et al.
(2018). Implementasi metode sorogan dalam pembelajaran kitab kuning. Literasiologi,
1(1), 37–48.
Safikah, N.
(2022). Implementasi pembelajaran kitab kuning di pesantren mahasiswa
(Undergraduate thesis). UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
[1] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran
(Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 2.
[2] Endang Turmudi, Perselingkuhan Kyai dan
Kekuasaan (Yogyakarta: Lkis, 2004), 36.
[3] 3 Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif:Akar
tradisi & Integrasi keilmuan Pendidikan Islam (Malang: UIN Maliki Press,
2011), 62.
[4] Sa’id Aqiel Siradj et.al, Pesantren Masa
Depan, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 281
[5] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada,1996), h.. 50
No comments
Post a Comment