Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia
Volume 4, Nomor 10, January 2026, Halaman 30-37
Licenced by CC BY-SA 4.0
e-ISSN: 2986-7002
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18196669
Hanuna Huwaida Analez1), Muhammad Aditya Raya2), Zaky Muhammad Javier3), Fatimah Azzahra4), Nabilah Nur Aprilia5), Muhamad Fikry Ramadhani6), Restu Nurafni7), Ghazy Nufal Muttaqin8), Muhammad Raihan Abdul Malik9), Annisa Sri Rahayu10), Yani
Komariah, 11), Dian Herdiana, 12), Nabilah Nur Aprilia13)
Program Studi Hukum
Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
E-mail: 1 hanunaanalez@gmail.com, 2 adityarayaa676@gmail.com, 3 zmjavier631@gmail.com, 4 fazzah742@gmail.com, 5 nabilahaprilia147@gmail.com, 6 muhamadfikryramadhani2005@gmail.com, 7 restunurafni@gmail.com , 8 ghazynaufalmuttaqin06@gmail.com, 9 raihanabdulmalik@gmail.com , 10 annisasrirahayu408@gmail.com, 11 komariahyani72@gmail.com, 12 dianherdiana@uinsgd.ac.id, 13 nabilahaprilia147@gmail.com
Abstrak
Nilai-nilai Pancasila
dalam keseharian dapat membentuk kepribadian yang baik dan memperkuat kerukunan
hidup bermasyarakat. Hasilnya, nilai-nilai Pancasila terbukti ampuh dalam
menumbuhkan sikap saling menghargai, memperkuat rasa persatuan, serta melatih kebiasaan
untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Praktek nyata dari nilai-nilai
Pancasila ini mendorong lahirnya lingkungan masyarakat yang adil. Pada
kesempatan kali ini kami kelompok 2 dari mata kuliah Pendidikan Pancasila
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung telah melaksanakan tugas
aktualisasi nilai-nilai Pancasila di Madrasah Ibtidaiyah Perguruan Islam pada
tanggal 28 Oktober 2025 dengan materi Pentingnya Nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari untuk memahami maknanya secara lebih
mendalam, kita hanya mengkaji 3 landasan utama yang membentuk moral dan jati
diri bangsa, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia dengan
menyadarkan bahwa hal-hal seperti membantu orang tua, menolong sesama teman
dan Berdo’a sebelum belajar itu adalah salah satu penerapan 3 poin Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kata
kunci: Pengajaran, aktualisasi, Nilai-nilai Pancasila
Abstract
The
values of Pancasila in daily life can foster good character and strengthen
communal harmony. Indeed, Pancasila's values have proven effective in nurturing
mutual respect, reinforcing a sense of unity, and cultivating the habit of
deliberation in decision-making. The practical application of these values
encourages the emergence of a just societal environment. On this occasion, we,
Group 2 from the Pancasila Education course at Sunan Gunung Djati State Islamic
University Bandung, carried out an assignment to actualize Pancasila values at
Madrasah Ibtidaiyah Perguruan Islam on October 28, 2025, with the material on
"The Importance of Pancasila Values in Daily Life." To understand
their significance more deeply, we focused on three main foundations that shape
the nation's morality and identity: Belief in the One and Only God, a Just and
Civilized Humanity, and the Unity of Indonesia. This involved raising awareness
that actions such as helping parents, assisting friends, and praying before
studying are part of applying these three points of Pancasila in everyday life.
Keywords: Teaching; Actualization; Pancasila Values
PENDAHULUAN
Nilai-nilai Pancasila adalah prinsip fundamental yang termuat di setiap silanya. Nilai-nilai ini bersifat universal, terintegrasi satu sama lain, dan berfungsi sebagai pandangan hidup serta tuntunan berprilaku bagi seluruh warga Indonesia. Seperti ditegaskan oleh Muhammad Hatta dalam bukunya ‘Uraian Pancasila’, kelima asas tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat di pisahkan, saling berhubungan dan melengkapi. Pancasila bersumber dari nilai agama, dan nilai budaya bangsa Indonesia (Kemenristek Dikti, 2016).
Pancasila sebagai dasar filosofi negara yang sangat
menarik untuk kita kaji dalam berbagai aspek kehidupan (Siswoyo, 2013). Kita
menelaah dan mengingat dalam nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pada
Pancasila, sangat sesuai dengan tujuan Pendidikan yang kita harapkan bagi
peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Madrasah Ibtidaiyah
ataupun sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila tidak selalu termuat
dalam satu mata pelajaran, tetapi dalam setiap pokok bahasan pada suatu mata pelajaran.
Penanaman nilai-nilai Pancasila sangat penting di
lakukan oleh guru kepada siswa nya di sekolahnya dengan tidak hanya memberikan
pengetahuan tentang apa itu Pancasila, tetapi jauh dari itu, yang terkandung di
dalamnya. Penerapan 3 nilai Pancasila akan membentuk karakter para siswa untuk
menjadi pribadi yang lebih baik. Di Madrasah Ibtidaiyah kita menerapkan nilai
Pancasila itu sendiri seperti, membantu orang tua, menolong sesama
teman, Berdo’a
sebelum belajar, dan lain sebagainya. Ini merupakan contoh cerminan nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila
Dalam sila pertama yang di dalamnya memuat nilai
ketuhanan, Indonesia merupakan negara dengan warganegara nya beragam. Dalam
Pendidikan pun guru dapat membahas kasus yang sedang terjadi semisal tentang
toleransi umat beragama (Ramdani & Marzuki, 2019).
Dalam sila kedua yang di dalamnya memuat nilai
kemanusiaan, nilai kemanusiaan disini artinya yakni menekankan bagaimana
perilaku seorang terhadap orang lain (Meinarno & Mashoedi, 2016) di
kalangan siswa dapat mencerminkan sikap sopan santun, mengucap salam, senyum,
saat bertemu baik teman sebayanya, guru, orang tua, dan orang yang tidak di
kenalnya pun. Hal tersebut merupakan pengimplementasian dan budaya yang baik
secara langsung dari siswa ketika di lingkungan sekolah maupun di luar.
Dalam sila ketiga yang di dalamnya memuat nilai
persatuan, kita hubungkan dengan dunia Pendidikan di madrasah atau Lembaga
Pendidikan. Hendaknya siswa saling menghargai guru dan teman-temannya, serta
dalam suatu kepentingan lebih mementingkan persamaan dan sikap persatuan dengan
mementingkan kepentingan Bersama (Hanafi, 2018).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dilihat berapa penting kaitan antara Pendidikan dengan nilai Pancasila, yaitu mendukung tercapainya tujuan Pendidikan nasional. Pada intinya 3 nilai Pancasila yang kita bahas ibarat sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan. Ketiganya saling terkait dan membentuk landasan perilaku kita dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
METOD
Kegiatan Aktualisasi nilai-nilai Pancasila ini
merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah pendidikan pancasila, kegiatan ini
menggunakan metode demonstrasi dengan
cara memberikan contoh langsung dari nilai-nilai Pancasila yang bertujuan untuk membentuk karakter
siswa. Khususnya dari ke-3 Nilai Pancasila ini untuk menganalisis dan
menginterprestasikan terhadap keadaan yang sedang terjadi. Metode ini lebih
responsive dan mudah untuk penyesuaian pola pikir siswa. Kami melakukan
aktualisasi nilai Pancasila ini di Madrasah Ibtidaiyah Perguruan Islam Kec.
Cikancung Kab. Bandung. Dengan jumlah anggota 10 orang.
Fatimah Azzahra, Ghazy Naufal Muttaqin, Restu Nurafni,
bertugas membuka acara dalam pembelajaran seperti membaca do’a sebelum belajar.
Hanuna Huwaida Analez, Muhammad Aditiya Raya, Zaky Muhammad Javier, bertugas
memaparkan materi nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Nabilah Nur Aprilia dan Muhamad Fikry Ramadhani, bertugas membimbing siswa agar
tetap fokus dalam berjalannya pembelajaran nilai-nilai Pancasila. Annisa Sri
Rahayu dan Muhammad Raihan Abdul Malik, bertugas mengadakan quiz materi yang
telah di sampaikan. Kegiatan aktualisasi ini yang telah di
laksanakan sebagaimana telah terperinci di atas, telah di susun dan di
diskusikan secara sesama dan di harapkan kegiatan antara satu dengan yang
lainnya dapat memberikan manfaat yang sama kepada siswa dan lingkungannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktualisai Sila Pertama:
Ketuhanan yang Maha Esa
Sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa,
implementasi Sila Peratama di sekolah ddasar tidak hanya berfokus pada
penyampaian teori, tetapi lebih kepada pengalaman religius yang dapat dirasakan
langsung oleh siswa. Usia sekolah dasar khususnya kelas VI merupakan fase
perkembangan dimana anak mulai mampu memahami hubungan antara keyakinan,
ritual, ibadah, dan perilaku moral. Oleh sebab itu, pendekatan pembelajaran
yang dipilih harus bersifat konkret bertahap, dan melibatkan aktivitas fisik
maupun refleksi sederhana (Kemendikbud, 2019)
Dalam kegiatan pembelajaran, fasilitator atau guru
berperan sebagai model dan pembimbing utama. Proses pengajaran dimulai dengan
memperkenalkan konsep dasar ibadah, lalu dilanjutkan dengan praktik langsung
misalnya sebelum melaksanakan pembelajaran, guru terlebih dahulu membacakan doa
sebelum belajar. Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa ibadah bukan
hanya rutinitas mekanis, tetapi juga sarana membersihkan hati dan pikiran
sebelum melaksanakan pembelajaran.
Kegiatan berdoa sebelum belajar dilaksanakan pada awal pembelajaran sebagai bentuk pengingat bahwa segala aktivitas harus diawali dengan memohon bimbingan tuhan. Guru memimpin pembacaan doa pembuka belajar, kemudian siswa mengikutinya dengan khidmat. Pembiasaan ini menanamkan nilai kesadran spiritual, rasa syukur serta pemahaman bahwa ilmu yang dipelajari merupakan bagian dari ikhtiar yang harus disertai keikhlasan dan permohonan, pertolongan kepada tuhan.
Gambar 1 Kegiatan penyampaian point sila ke-1 kelas 6
Selain doa pembukan dan penutup pelajaran, guru juga
membimbing siswa untuk melafalkan doa -doa harian sesuai konteks, seperti doa
sebelum pulang, doa keselamatan, dan doa memohon kemudahan. Meskipun sederhana,
pembiasaaan ini membentuk pola berpikir religius bahwa setiap aktivitas
kehidupan dipandu oleh tuntunan spiritual. Siswa belajar bahwa mengingat Tuhan
tidak harus malaui ibadah ritual yang Panjang, tetapi dapat dilakukan melalui
kesadaran dan ucapan yang singkat namun bermakna (Majid & Andayani, 2015;
Samani & Hariyanto, 2013).
Lebih jauh, guru memberikan penjelasan singkat
mengenai makna doa yang dibaca misalnya bahwa berdoa sebelum belajar berarti
memohon agar hati dipermudah menerima ilmu, atau bahwa berdoa sebelum makan
merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Penjelasan ini
membantu siswa tidak hanya menghafal doa, tetapi juga memahami nilai filosofis
dibaliknya (Muslich, 2011; Lickona, 2012).
Implementasi nilai Ketuhanan juga diperkuat melalui
sikap sehari-hari yang ditunjukkan guru, seperti mengajak siswa bersikap sopan,
jujur, rendah hati, dan menghargai perbedaan. Guru menekankan bahwa sikap
positif tersebut merupakan bagian dari wujud keimanan yang tercermin dalam
perilaku, bukan sekedar ucapan (Hosnan, 2016; Basuki, 2017)
Dengan demikian kegiatan sederhana berupa berdoa
sebelum belajar dan pembacaan doa-doa harian terbukti menjadi sarana efektif
untuk menanamkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa pada siswa sekolah dasar. Kegiatan ini tidak hanya membangun kebiasaaan
religius, tetapi juga membentuk sikap spiritual yang tercermin dalam perilaku
sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun rumah (Hasibuan, 2020;
Kemdikbudristek, 2021).
Aktualisasi Sila Kedua:
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Aktualisasi sila kedua dimulai dengan pengenalan
nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial, seperti saling
menghargai, membantu satu sama lain, dan menegakkan keadilan tanpa membedakan
agama, etnis, maupun status sosial. Fasilitator menekankan bahwa menjadi insan
yang beradab berarti mampu bertindak etis dalam kehidupan sehari-hari, memiliki
kesadaran moral serta menujukkan kepekaan sosial sejak dini. Pemahaman awal ini
penting agar siswa menegrti bahwa nilai kemanusiaan tidak hanya berupa konsep
abstrak, tetapi harus tercermin dalam tidakan nyata (Azzet, 2013).
Untuk memperjelas penerapan nilai tersebut, siswa
diberi pemahaman menegenai pentingnya etika dan sopan santun terhadap orang
tua, guru, serta teman sebaya. Penyampaian dilakukan dengan Bahasa sederhana
dan contoh konkret agar mudah dipahami (Kunandar, 2015). Fasilitator memberikan
narasi reflektif, seperti pentingnya menyapa orang lain, berbicara dengan tutur
kata yang baik, dan tidak memotong pembicaraan. Sopan santun ini bukan hanya
menunjukan kesusilaan tetapi juga mencerminkan pengakuan atas martabat setiap
individu (Mahfud, 2020)
Gambar 2 Kegiatan penyampaian point sila ke-2 kelas 6
Selanjutnya, siswa diarahkan untuk mempraktikan
perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya menyapa guru saaat masuk
kelas dengan ramah, menawarkan bantuan kepada teman yang mengalami kesulitan
belajar, serta menunjukkan empati ketika ada teman yang sedih atau merasa
tersisih. Melalui simulasi singkat dan permainan peran, siswa dapat mengalami
langsung bagaiman nilai kemanusiaan diterapkan. Aktivitas ini membantu mereka
memahami bahwa sikap baik memiliki dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan
sekitar.
Salah satu aspek penting dalam materi ini adalah
penanaman nilai keadilan. Fasilitator mengenalkan konsep keadilan melalui
contoh yang sederhana namun bermakna, seperti berbagi makanan secara adil,
tidak mengambil jatah teman, dan tidak mendominasi permainan bersama. Diskusi
juga dilakukan untuk menghindarkan siswa dari perilaku diskriminatif dan
perundungan yang dapat menyakiti orang lain. Penekanan diberikan bahwa keadilan
bukan soal memberikan hak secara proposional, tetapi juga kemampuan memahami kebutuhan
orang lain dengan empati.
Dalam sesi diskusi kelompok kecil, siswa diberi
kesempatan untuk berbagi pengalaman terkait keadilan dan ketidakadilan yang
pernah mereka alami di sekolah. Mereka kemudian diajak berpikir bersama untuk
menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Pendekatan naratif dan
partisipatif menjadi strategi utama dalam proses belajar ini. Melalui cerita
inspiratif dan contoh nyata, baik dari tokoh teladan maupun pengalaman pribadi,
siswa belajar menarik kesimpulan moral secara mandiri. Mereka juga dilatih
untuk menghargai perbedaan pendapat dan melihat persoalan daro sudut pandang
orang lain (Megawangi, 2015).
Gambar 3 Siswa bertanya mengenai sila ke-2 kelas 6
Aktualisasi nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
tidak hanya memperkuat pemahaman tentang sila kedua, tetapi juga menumbuhkan
nilai karakter lain seperti empati, solidaritas, tanggung jawab sosial, dan
penerimaan terhadap keberagaman (Kemendikbud, 2019). Hal ini selaras dengan
tujuan Pendidikan karakter yang bertujuan membentuk manusia yang utuh tidak
hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial (Muslich,
2011). Dengan membiasakan siswa untuk bdrsikap adil, menghormati sesame, dan
menjunjung tinggi martabat manusia, sekolah berperan penting dalam membangun
budaya damai, toleransi, dan lingkungan sosial yang harmonis.
Kegiatan pembelajaran ini menjadi bentuk nyata bahwa
Aktualisasi sila kedua tidak berhenti pada teori, tetapi diwujudkan dalam
kebiasaan dan tindakan sehari-hari siswa. Dengan demikian, Pendidikan karakter
berbasis Pancasila benar-benar dapat memainkan peran strategis dalam
membentukgenerasi yang berakhlak mulia dan berperilaku beradab.
Aktualisasi sila ketiga:
Persatuan Indonesia
Implementasi sila ketiga Pancasila di sekolah dasar
dilakukan melalui kegiatan yang menumbuhkan rasa kebersamaan, kekompakan, dan
saling menghargai dalam keberagaman. Pada siswa kela VI madrasah ibtidaiyah,
nilai persatuan Indonesia ddi tanamkan melalui aktivitas sederhana namun
bermakna, seperti permainan kebangsaan, kerja sama, dan latihan menghargai
sesame. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran bahwa persatuan merupakan
kekuatan utama dalam kehidupan sosial (Samani & Hariyanto, 2013; kemdikbud,
2013).
Mahasiswa mengawali pembelajaran dengan memberikan
pemahaman mengenai keberagaman Indonesia. Siswa diperkenalkan bahwa bangsa
Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, Bahasa, dan agama, tetapi tetap
bersatu dalam satu identitas nasional. Penyampaian ini dilakukan melalui
cerita, gambar, dan dialog ringan agar siswa memahami bahwa perbedaan merupakan
kekayaan bangsa yang harus dijaga, bukan dipertentangkan (Aqib, 2013; Lickona,
2012).
Salah satu bentuk implementasi nilai persatuan adalah
melalui kegiatan menyanyikan lagu-lagu nasional, seperti Indonesia Raya, Garuda
Pancasila, Tanah Airku, dan lagu kebangsaan lainnya. Setelah itu, mahasiswa
mengadakan permainan “Tebak Lagu Nasional”, dimana siswa diminta menebak judul
lagu hanya dari melodi awal atau potongan lirik yang dinyanyikan. Kegiata ini
membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus menumbuhkan
kecintaan siswa terhadap symbol-simbol kebangsaan. Dengan mengenal dan menyanyikan
lagu nasional, siswa menumpuk rasa persatuan dan identitas nasional sejak usia
dini (Majid & Andayani, 2015; Basuki, 2017).
Gambar 4 Menyanyikan
lagu Nasional di kelas 6
Gambar 5 Menyanyikan lagu Nasional
Selain menyanyi dan menebak lagu nsional, mahasiswa
juga menekankan pentingnya kerja sama dan toleransi dalam setiap aktivitas
kelas. Siswa diajak untuk menghargai teman, tidak bertengkar, dan menjaga
situasi kelas yang harmonis. Kegiatan ini mengajarkan bahwa persatuan tidak
hanya ditujukan melalui symbol kebangsaaan, tetapi juga melalui sikap saling
menghormati dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari (Hosnan, 2016;
Kemdikbudristek, 2021).
Mahasiswa melanjutkan dengan diskusi ringan tentang
pengalaman kebersamaan, misalnya bekerja sama saat piket, bermain tanpa
membeda-bedakan teman, atau saling membantudalam pembelajaran. Melalui diskusi
ini, siswa menyadari bahwa persatuan bias diwujudkan dalam tindakan sederhana
yang dilakukan bersama-sama (Muslich, 2011; Hasibuan, 2020).
Dengan demikian kegiatan menyanyikan lagu nasional dan permainan tebak lagu nasional menjadi metode menyenangkan dan efektif untuk menanamkan nilai Persatuan Indonesia. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mengenal simbol kebangsaan, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai keberagaman, dan membangun rasa memiliki terhadap bangsa. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat tertanam kuat dan terbawa hingga mereka dewasa (Samani & Hariyanto, 2013; Hidayat, 2019).
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil aktualisasi nilai-nilai Pancasila
dalam proses pembelajaran di kelas VI madrasah ibtidaiyah, dapat disimpulkan
bahwa internalisasi Pancasila dapat dilakukan secara efektif mmelalui kegiatan
pembelajaran yang sederhana, konstektual, dan dekat dengan dunia siswa.
Aktualisasi yang dilakukan pada ketiga sila pertama membuktikan bahwa
nilai-nilai dasar Pancasila dapat dipahami dan dipraktikan oleh siswa sekolah
dasar apabila disampaikan dengan metode yang tepat, menyenangkan, dan bermakna.
Pada sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, kegiatan
pembiasaaan berdoa sebelum dan sesudah belajar seryta doa-doa harian terbukti
mampu menumbuhkan kesadaran spiritual siswa. Pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, nilai
kemausiaan diperkaya melalui pengalaman langsung siswa dalam berinteraksi,
berdiskusi, dan mempraktikan sikap adil, sopan, serta saling menghargai. Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia,
kegiatan menyanyikan lagu nasional dan permainan tebak lagu nasional menjadi
sarana efektif untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap
identitas bangsa.
Secara keseluruhan, implementasi tiga sila pertama Pancasila ini menunjukkan bahwa sekolah berperan strategis dalam membentuk watak dan karakter siswa. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila mampu menciptakan lingkungan belajar yang bermakna, menyenangkan, sekaligus mendidik. Melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara berulang, siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai penting seperti religiusitas, empati, keadilan, kerja sama, dan rasa cinta tanah air. Upaya ini menjadi investasi jangka Panjang dalam membentuk generasi muda Indonesia yang berakhlak mulia, berkepribadian baik, dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan.
SARAN
Pembelajaran ke-3 sila ini sebaiknya dilakukan secara rutin dengan metode yang menarik, agar siswa benar - benar memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari - hari. Dengan penerapan 3 nilai Pancasila ini dapat tertanam levih kuat dalam diri seorang siswa sehingga siswa todak hanya memahami isi nya saja tetapi melakukannya dalam kehidupan sehari hari
UCAPAN TERIMAKSIH
Sejatinya, kesempurnaan hanyalah milik Alllah SWT. Segala ikhtiar dan aktifitas yang telah kita lakukan dalam proses aktualisasi ini semata mata di niatkan untuk kebaikan. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, dan kesempatan selama pelaksanaan kegiatan aktualisasi ini. Dan terimakasih kami sampaikan kepada pembingbing pihak sekolah, serta semua pihak yang turut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga segala kebaikan yang telah di berikan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Kami menyadari bahwa laporan/jurnal ini masih memiliki kekurangan, dan untuk itu kami terbuka terhadap kririk serta saran yang bersifat membangun. Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila pada program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun Akademik 2025/2026.
REFERENSI
Aqib, Z. (2013). Pendidikan
karakter di sekolah dasar. Yrama Widya.
Basuki, A. (2017). Pembentukan
karakter melalui lagu nasional. PT Remaja Rosdakarya.
Hasibuan, M. (2020). Penguatan
pendidikan karakter. Perdana Publishing.
Hidayat, A. (2019). Implementasi
nilai persatuan dalam pembelajaran. Alfabeta.
Hosnan, M. (2016). Pendekatan
saintifik dalam pembelajaran. Kencana.
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan. (2013). Pedoman penanaman nilai-nilai Pancasila di sekolah
dasar. Kemendikbud RI.
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan. (2019). Pendidikan Pancasila untuk SD/MI. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Profil pelajar Pancasila.
Kemendikbudristek.
Lickona, T. (2012). Character
matters. Touchstone.
Majid, A., &
Andayani, D. (2015). Pendidikan karakter dalam pembelajaran.
RajaGrafindo Persada.
Muslich, M. (2011). Pendidikan
karakter: Menjawab tantangan krisis multidimensional. Bumi Aksara.
No comments
Post a Comment