The Social Construction of Knowledge in Learning: A Theoretical Review and Its Implications for Education

link: https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/issue/view/48 

Rozaq Shohibul Ichsan, Mohammad Rofiq

Megister Pendidikan Agama Islam Universitas Kiai Abdullah Faqih

E-mail :  rozakshohibulihsan@gmail.com, berhasilrofiq1@gmail.com

 

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial pengetahuan dalam konteks pembelajaran melalui kajian teoretis terhadap tiga kerangka utama: (1) teori konstruktivisme sosial dalam pendidikan, (2) teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam sosiologi pengetahuan, dan (3) konsep framing dalam media dan komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah tudi pustaka sistematis (systematic literature review) dengan pendekatan filosofis-analitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan dalam pendidikan bukanlah entitas yang objektif dan ditransfer, melainkan hasil konstruksi aktif melalui interaksi sosial, bahasa, dan dialektika eksternalisasi-objektivasi-internalisasi. Pendekatan konstruktivis sosial dalam pembelajaran sejalan dengan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, di mana realitas pedagogis dibangun bersama oleh guru dan siswa dalam lingkungan sosial budaya. Konsep framing memberikan lensa untuk memahami bagaimana wacana pendidikan dikonstruksi dan dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Implikasi bagi pendidikan adalah perlunya pergeseran paradigma menuju pembelajaran yang lebih kolaboratif, reflektif, kritis, dan peka terhadap konteks sosial budaya. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi ketiga perspektif ini dapat memperkaya pemahaman dan praktik pendidikan yang lebih transformatif dan relevan dengan dinamika masyarakat kontemporer.

Kata kunci: Konstruksi Sosial, Teoritis dan Implikasi, Pendidikan.

Abstract

This article aims to analyze the social construction of knowledge in the context of learning through a theoretical review of three main frameworks: (1) social constructivist theory in education, (2) the theory of social construction by Peter L. Berger and Thomas Luckmann in the sociology of knowledge, and (3) the concept of framing in media and communication. The research method employed is a systematic literature review with a philosophical–analytical approach. The analysis shows that knowledge in education is not an objective entity that is simply transferred, but rather the result of active construction through social interaction, language, and the dialectic of externalization, objectivation, and internalization. The social constructivist approach to learning aligns with Berger and Luckmann’s theory of social construction, in which pedagogical reality is jointly constructed by teachers and students within a socio-cultural environment. The concept of framing provides a lens for understanding how educational discourse is constructed and influenced by particular interests. The implications for education include the need for a paradigm shift toward learning that is more collaborative, reflective, critical, and sensitive to socio-cultural contexts. This article concludes that integrating these three perspectives can enrich understanding and promote more transformative educational practices that are relevant to the dynamics of contemporary society.

Keywords: Social Construction, Theory and Implications, Education.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan, sebagai proses sosial yang kompleks, senantiasa menjadi objek kajian yang dinamis. Di tengah tuntutan abad ke-21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah, paradigma pembelajaran pun bergeser dari model transmisi pengetahuan (transfer of knowledge) menuju model konstruksi pengetahuan (construction of knowledge).[1] Dalam konteks ini, pendekatan konstruktivisme sosial dalam pendidikan telah mendapatkan perhatian signifikan, dengan menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi sosial dan pengalaman kontekstual.[2] Namun, landasan filosofis dan sosiologis dari proses konstruksi pengetahuan ini seringkali belum dieksplorasi secara mendalam dalam diskursus pendidikan.

Di sisi lain, dalam ranah sosiologi, teori konstruksi sosial realitas (social construction of reality) yang digagas oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) telah menjadi landasan teoretis utama untuk memahami bagaimana realitas sosial, termasuk pengetahuan, diciptakan, dipertahankan, dan diubah melalui proses sosial yang dialektis.[3] Teori ini menawarkan kerangka konseptual yang kaya untuk menganalisis proses pembelajaran sebagai bentuk konstruksi sosial. Lebih jauh, konsep framing dari studi media dan komunikasi memberikan alat analisis untuk melihat bagaimana wacana dan makna dalam pendidikan “dibingkai” (framed) oleh aktor-aktor tertentu, seperti pembuat kurikulum, guru, media pendidikan, dan kebijakan negara.[4]

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini berupaya untuk menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimana konsep konstruksi sosial pengetahuan dari perspektif Berger dan Luckmann serta konsep framing dapat memperdalam pemahaman teoretis dan memberikan implikasi praktis terhadap penerapan konstruktivisme sosial dalam pembelajaran?

Tujuan artikel ini adalah untuk: (1) Menganalisis titik temu dan kontribusi teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta konsep framing terhadap pemahaman konstruktivisme sosial dalam pendidikan; (2) Menjelaskan proses konstruksi pengetahuan dalam pembelajaran melalui lensa dialektika eksternalisasi-objektivasi-internalisasi; dan (3) Merumuskan implikasi teoretis dan praktis integrasi ketiga perspektif tersebut bagi pengembangan pedagogi yang lebih kritis dan kontekstual.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka sistematis (systematic literature review) dengan pendekatan filosofis-analitis.[5] Prosedur penelitian dilakukan melalui tahapan berikut:

1.       Identifikasi dan Pengumpulan Sumber: Peneliti mengumpulkan dan menelaah tiga naskah utama yang menjadi objek analisis:

a.       Naskah A. Jurnal “Pendekatan Konstruktivis Sosial dalam Pembelajaran” oleh Salsabila & Gumiandari (2024), yang membahas prinsip dan teknik konstruktivisme sosial di kelas.[6]

b.       Naskah B: Jurnal “Teori Konstruktivisme dalam Dunia Pembelajaran” oleh Azzahra dkk. (2025), yang mengkaji penerapan konstruktivisme, khususnya di sekolah dasar.[7]

c.        Naskah C: Artikel “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial” (tanpa tahun), yang menguraikan secara mendalam teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann beserta kritik dan pengembangannya, termasuk konsep framing.[8]

Selain itu, dilakukan penelusuran terhadap referensi kunci yang disebutkan dalam ketiga naskah, seperti karya Berger & Luckmann (1966), Suparno (1997), dan ahli framing seperti Entman dan Gamson.

2.       Analisis dan Sintesis: Ketiga naskah dianalisis secara kritis dengan fokus pada:

a.       Konsep inti tentang pembentukan pengetahuan/realitas.

b.       Proses-proses sosial yang dilibatkan.

c.        Peran aktor (individu, kelompok, institusi).

d.       Asumsi filosofis dan sosiologis yang mendasari.

Analisis dilakukan secara komparatif dan integratif untuk menemukan hubungan, kesenjangan, dan potensi sintesis antar perspektif.

3.       Interpretasi dan Penarikan Kesimpulan: Hasil analisis diinterpretasi untuk membangun argumen utama artikel mengenai integrasi teori dan implikasinya bagi pendidikan. Implikasi teoretis dan praktis dirumuskan berdasarkan sintesis yang dilakukan.

Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang bersifat eksploratif dan konseptual untuk membangun pemahaman teoretis yang komprehensif.[9]

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.       Konstruktivisme Sosial dalam Pendidikan: Dari Teori ke Praktik

Naskah A dan B secara konsisten mendefinisikan konstruktivisme sosial sebagai paradigma pembelajaran yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh siswa melalui interaksi sosial. Prinsipnya adalah pengetahuan sebagai hasil konstruksi bersama (mutual construction), pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered), dan peran guru sebagai fasilitator. Teknik seperti scaffolding, cognitive apprenticeship, tutoring, dan cooperative learning adalah instrument untuk memediasi proses konstruksi sosial ini.[10] Namun, kedua naskah pendidikan ini lebih berfokus pada implikasi pedagogis dalam mikro-konteks kelas, dengan landasan teoretis utama merujuk pada Vygotsky.

2.       Fondasi Sosiologis: Teori Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann

Naskah C memberikan fondasi sosiologis yang lebih dalam. Berger dan Luckmann berargumen bahwa realitas sosial (termasuk pengetahuan) adalah produk manusia yang dikonstruksi melalui proses dialektis tiga momen:[11]

a.       Eksternalisasi: Manusia menuangkan diri mereka ke dalam dunia melalui aktivitas dan ekspresi. Dalam pembelajaran, ini terjadi ketika guru dan siswa mengartikulasikan pemikiran, bertanya, dan berdiskusi.

b.       Objektivasi: Produk dari eksternalisasi (seperti konsep, aturan, norma kelas) menjadi realitas yang terasa objektif dan terlembagakan. Kurikulum, metode pengajaran, dan nilai akademis adalah contoh objektivasi dalam pendidikan.[12]

c.        Internalisasi: Individu menginternalisasi realitas objektif tersebut ke dalam kesadaran subjektif mereka. Siswa “memeluk” pengetahuan bukan sebagai fakta mentah, tetapi sebagai makna yang dibangun melalui interaksi sosial.[13]

Proses ini diperkuat oleh bahasa sebagai sistem simbol utama dan legitimasi yang membuat tatanan sosial (seperti struktur sekolah) terasa masuk akal.

3.       Konstruksi Sosial dalam Pendidikan sebagai Dialektika

Menerapkan kerangka Berger dan Luckmann, pembelajaran dapat dipandang sebagai arena konstruksi sosial di mana:

a.       Guru dan siswa secara aktif ber-eksternalisasi melalui dialog dan aktivitas kolaboratif.

b.       Pengetahuan akademis dan norma kelas merupakan hasil objektivasi dari interaksi historis dan kultural masyarakat (ilmuwan, praktisi pendidikan).

c.        Proses internalisasi pengetahuan oleh siswa dipengaruhi oleh latar belakang sosio-kultural mereka, yang sejalan dengan konsep Vygotsky tentang konteks sosial.[14]

Dengan demikian, konstruktivisme sosial dalam pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi tertanam dalam proses sosial yang lebih luas yang melibatkan pelembagaan dan legitimasi pengetahuan.

4.       Framing: Konstruksi Wacana dan Kekuasaan dalam Pendidikan

 

Teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dikritik karena awalnya kurang menyertakan peran media massa. Naskah C kemudian memperkenalkan konsep framing sebagai pengembangan teori tersebut. Framing adalah proses seleksi dan penonjolan (salience) aspek tertentu dari realitas untuk mempromosikan definisi masalah, interpretasi sebab-akibat, evaluasi moral, atau rekomendasi tertentu.[15]

Dalam konteks pendidikan, konsep framing dapat diaplikasikan untuk menganalisis:

a.       Kurikulum: Bagaimana pengetahuan “dibingkai” oleh negara atau otoritas pendidikan? Aspek mana yang ditonjolkan dan mana yang diabaikan?[16]

b.       Kebijakan Pendidikan: Bagaimana wacana tentang “pendidikan berkualitas” atau “merdeka belajar” dibingkai oleh berbagai pemangku kepentingan?

c.        Praktik Mengajar: Bagaimana guru membingkai sebuah topik pelajaran? Perspektif mana yang disajikan sebagai dominan?

d.       Media Pendidikan: Bagaimana buku teks atau konten digital membingkai narasi sejarah, ilmu pengetahuan, atau nilai-nilai?

Analisis framing mengungkap bahwa konstruksi pengetahuan dalam pendidikan tidak netral, tetapi sarat dengan kepentingan (interest) dan dapat menjadi alat hegemoni (Gramsci) atau dekonstruksi.[17] Hal ini menambahkan dimensi kritis pada konstruktivisme sosial, dengan menyadarkan bahwa interaksi sosial di kelas juga dipengaruhi oleh wacana dan struktur kekuasaan yang lebih besar.

 

Implikasi Bagi Pendidikan

Sintesis ketiga perspektif di atas menghasilkan beberapa implikasi penting:

1.       Pergeseran Peran Guru: Guru bukan hanya fasilitator, tetapi juga arsitek sosial yang menyadari proses objektivitasi dan legitimasi dalam pendidikan. Mereka perlu kritis   

terhadap “bingkai” kurikulum dan mampu menciptakan ruang untuk negosiasi makna.[18]

2.       Pembelajaran sebagai Proses Dialektis: Desain pembelajaran harus memfasilitasi ketiga momen dialektika: menyediakan ruang untuk eksternalisasi (diskusi, proyek), merefleksikan objektivasi (mengkritisi sumber), dan mendalami internalisasi (menghubungkan dengan pengalaman hidup).[19]

3.       Pendidikan yang Kritis dan Reflektif: Siswa perlu dilatih untuk memiliki kesadaran kritis terhadap konstruksi sosial pengetahuan. Mereka harus diajak untuk mempertanyakan dari mana pengetahuan berasal, siapa yang diuntungkan, dan bingkai apa yang digunakan.[20]

4.       Kontekstualisasi dan Relevansi Sosial: Pembelajaran harus dikaitkan dengan konteks sosio-kultural siswa (realitas subjektif mereka) dan tantangan masyarakatnya, sehingga pengetahuan yang dibangun memiliki makna dan relevansi yang mendalam.⁷

5.       Evaluasi yang Autentik: Sistem evaluasi harus bergeser dari mengukur hafalan realitas objektif menuju kemampuan mengeksternalisasi pemikiran, mengkritisi objektivasi, dan merefleksikan proses internalisasi pengetahuan.

SIMPULAN

Artikel ini telah menunjukkan bahwa pemahaman terhadap konstruktivisme sosial dalam pembelajaran dapat diperdalam secara signifikan dengan merujuk pada teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta konsep framing. Pembelajaran bukan sekadar aktivitas kognitif individu dalam kelompok kecil, melainkan sebuah proses sosio-kultural yang dialektis dan politis. Pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi yang berlapis: dari dialog di kelas (eksternalisasi), pelembagaan kurikulum (objektivasi), hingga penerimaan makna oleh siswa (internalisasi), yang kesemuanya dapat dibentuk dan dibingkai oleh wacana dan kekuasaan tertentu.

Integrasi ketiga perspektif ini menawarkan landasan teoretis yang lebih kokoh dan kerangka analitis yang lebih kaya bagi pengembangan pedagogi. Implikasinya adalah seruan untuk mentransformasi pendidikan menuju praktik yang lebih kolaboratif, reflektif, kritis, dan peka konteks, yang tidak hanya membangun pengetahuan (knowledge building) tetapi juga membangun kesadaran kritis (critical consciousness building) pada peserta didik. Untuk penelitian selanjutnya, diperlukan studi empiris yang menguji kerangka integratif ini dalam konteks kelas yang spesifik serta analisis framing terhadap kebijakan dan kurikulum pendidikan nasional.

 

REFERENSI

Azzahra, N. T., Ali, S. N. L., & Bakar, M. Y. A. (2025). Teori konstruktivisme dalam dunia pembelajaran. Jurnal Ilmiah Research Student, 2(2), 64–75.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Denyer, D., & Tranfield, D. (2009). Producing a systematic review. In D. A. Buchanan & A. Bryman (Eds.), The SAGE handbook of organizational research methods (pp. 671–689). SAGE Publications.

Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x

Pemahaman teoritik teori konstruksi sosial. (n.d.). Unpublished manuscript.

Salsabila, S. S., & Gumiandari, S. (2024). Pendekatan konstruktivis sosial dalam pembelajaran. Educational Journal: General and Specific Research, 4(1), 170–178.

 



[1] Nabila Tsuroyya Azzahra dkk., “Teori Konstruktivisme Dalam Dunia Pembelajaran,” Jurnal Ilmiah Research Student 2, no. 2 (2025): 64.

[2] Saarah Shafa Salsabila dan Septi Gumiandari, “Pendekatan Konstruktivis Sosial Dalam Pembelajaran,” Educational Journal: General and Specific Research 4, no. 1 (2024): 170.

[3] Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 1.

[4] Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 1.

[5] David Denyer dan David Tranfield, “Producing a Systematic Review,” dalam The Sage Handbook of Organizational Research Methods, ed. David A. Buchanan dan Alan Bryman (London: Sage Publications, 2009), 671–689.

[6] Salsabila dan Gumiandari, “Pendekatan Konstruktivis Sosial,” 170-178.

[7] Azzahra dkk., “Teori Konstruktivisme,” 64-75.

[8] “Pemahaman Teoritik Teori KOnstruksi Sosial” (naskah tidak diterbitkan), hlm. 1-25.

[9] John W. Creswell, Research Design” Qualtative, Quantitative, and Mixed Metods Approach, 4th ed. (Thousand Oaks: SAGE Publcation, 2014), 185.

[10] Salsabila dan Gumiandri, “Pendekatan Kontruktivis Sosial,” 175-176.

[11] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm. 5-6.

[12] Ibid, hlm. 6. “Objektiasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan.”

[13] Ibid, “Internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri ditengah lembaga-lembaga sosial.”

[14] Salsabila dan Gumiandri, “Pendekatan Konstruksi Sosial,” 173

[15] Robert M. Entman, “Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm,” Journal o Communication 43, no. 4 (1993): 52

[16] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm.8. Membahas hegemoni negara dalam menciptakan  wacana.

[17] Ibid, hlm. 8. “Konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.”

[18] Azzahra dkk. “Teori Konstruksi, “ 71.

[19] Salsabila dan Gumiandari, “Pendekatan Konstruksi Sosial,” 174.

[20] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm. 23. Menekankan pentingnya kesadaran kritis.