Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia
Volume 4, Nomor 10, January 2026, P. 198-203
Licenced by CC BY-SA 4.0
e-ISSN: 2986-7002
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18646263

 Imas Yoyoh, Elang Wibisana, Rita Sekarsari 

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang e-mail: dataimas2@gmail.com 

Abstrak

Kasus HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan global dan nasional, tidak hanya dari aspek medis tetapi juga sosial. Tingginya stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi hambatan dalam deteksi dini, kepatuhan terapi, dan integrasi sosial pasien. Rendahnya literasi kesehatan masyarakat menyebabkan kesalahpahaman terkait penularan HIV dan memicu diskriminasi sosial. Model Brief Health Promotion berbasis leaflet merupakan pendekatan edukasi singkat yang menekankan penyampaian informasi kesehatan secara ringkas dan kontekstual. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan stigma HIV/AIDS pada masyarakat Kota Tangerang melalui model edukasi Brief Health Promotion leaflet. Kegiatan dilaksanakan di Stadion Benteng Kota Tangerang melalui penyebaran leaflet dan edukasi interpersonal singkat. Hasil menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat tergolong tinggi, namun sikap pencegahan stigma masih berada pada kategori sedang. Model edukasi ini efektif sebagai strategi awal peningkatan literasi HIV, namun diperlukan pendekatan edukasi berkelanjutan untuk memperkuat upaya pencegahan stigma di masyarakat.

Kata kunci: brief health promotion, leaflet, HIV/AIDS, stigma, literasi Kesehatan

Abstract

HIV/AIDS remains a significant global and national public health challenge, not only from a clinical perspective but also in its social implications. Persistent stigma toward people living with HIV/AIDS (PLWHA) continues to hinder early detection, treatment adherence, and social integration. Limited public health literacy contributes to misconceptions about HIV transmission and reinforces social discrimination. The Brief Health Promotion leaflet model represents a concise educational approach that delivers contextual and easily understandable health information. This community service initiative aimed to identify the level of knowledge and attitudes toward HIV-related stigma prevention among residents of Tangerang City using a Brief Health Promotion leaflet strategy. The activity was conducted at Benteng Stadium through leaflet distribution combined with brief interpersonal education. The findings indicated that public knowledge was generally high; however, attitudes toward stigma prevention remained at a moderate level. This educational model appears effective as an initial strategy to enhance HIV literacy, yet sustained and comprehensive educational approaches are required to strengthen stigma prevention efforts within the community.

Keywords: brief health promotion, leaflet, HIV/AIDS, stigma, health literacy


PENDAHULUAN

HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan global yang berdampak tidak hanya secara klinis tetapi juga sosial. Data UNAIDS menunjukkan bahwa lebih dari 39 juta orang hidup dengan HIV secara global, dengan kasus baru yang masih terus dilaporkan setiap tahun (UNAIDS, 2023). Di Indonesia, tren HIV masih didominasi kelompok usia produktif, sehingga memerlukan pendekatan promotif dan preventif berbasis komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa HIV bukan hanya masalah medis, tetapi juga fenomena sosial yang membutuhkan intervensi edukatif yang berkelanjutan (WHO, 2022).

Selain tingginya angka kejadian, stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi hambatan utama dalam pengendalian HIV. Stigma berkontribusi terhadap keterlambatan deteksi, rendahnya kepatuhan terapi, dan isolasi sosial pasien. Studi global menunjukkan bahwa stigma HIV berkaitan erat dengan diskriminasi sosial dan rendahnya akses layanan kesehatan (Stangl et al., 2021). Penelitian Nyblade et al. (2019) juga menegaskan bahwa stigma di masyarakat dan fasilitas kesehatan masih menjadi penghambat utama eliminasi HIV.

Rendahnya literasi kesehatan masyarakat merupakan faktor penting yang memicu stigma. Literasi kesehatan mempengaruhi kemampuan individu dalam memahami informasi kesehatan dan mengambil keputusan yang tepat. Sørensen et al. (2012) menyatakan bahwa keterbatasan literasi kesehatan berhubungan dengan meningkatnya kesalahpahaman terhadap penyakit menular. Studi Nutbeam (2021) menegaskan bahwa literasi kesehatan yang rendah berkontribusi terhadap persepsi risiko yang keliru, termasuk terkait penularan HIV.

Pendekatan promosi kesehatan berbasis komunitas menjadi strategi penting dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Salah satu model yang berkembang adalah Brief Health Promotion, yaitu intervensi edukasi singkat yang menekankan penyampaian informasi sederhana dan kontekstual. Model ini efektif dalam meningkatkan awareness awal terhadap isu kesehatan karena mudah diterapkan dan memiliki jangkauan luas (Glanz, Rimer & Viswanath, 2020). Pendekatan edukasi singkat juga selaras dengan konsep microlearning yang terbukti meningkatkan retensi informasi kesehatan dalam waktu singkat (De Gagne et al., 2019).

Media leaflet sebagai bentuk microlearning kesehatan memungkinkan penyampaian informasi secara ringkas dan visual. Penelitian Rochadi et al. (2019) menunjukkan bahwa edukasi berbasis leaflet mampu meningkatkan pengetahuan HIV secara signifikan pada masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan model Brief Health Promotion leaflet menjadi relevan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan stigma HIV/AIDS pada masyarakat Kota Tangerang. 

METODE

Kegiatan menggunakan pendekatan deskriptif komunitas berupa model Edukasi Brief Health Promotion yaitu; pendekatan promosi kesehatan berbasis intervensi dalam waktu terbatas melalui strategi edukasi sederhana berupai media leaflet dan  konseling personal singkat.

Kegiatan PkM ini sasarannya  pada masyarakat kota Tangerang dengan jumlah 35 orang,  semua kalangan usia khususnya yang sedang melakukan aktivitas olah raga di Stadion Benteng Kota Tangerang.

Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan hari HIV sedunia pada tanggal 1 Desember. yang lokasinyas di Stadion Benteng Kota Tangerang.

Tahapan Pelaksanaan

A.     Tahap Perencanaan

1.    Rapat koordinasi dan perencanaan kegiatan program kerja Himpunan Perawat Medikal bedah (HIPMEBI ) Propinsi Banten

2.    Pembagian wilayah dan tim penanggung Jawab

3.    Penyusunan leaflet edukasi HIV

B.      Tahap Pelaksanaan

1.    Pembagian brosur edukatif kepada masyarakat umum

2.    Edukasi langsung secara interpersonal oleh tim pengabdian.

3.    Diskusi singkat dan tanya jawab terkait HIV/AIDS.

C.      Tahap Evaluasi

Pengukuran pemahaman masyarakat melalui pertanyaan singkat tentang pemahaman isi leaflet (pengetahuan dan sikap pencegahan stigma )

HASIL
Berdasarkan hasil observasi, mayoritas responden berada pada kelompok usia produktif, yaitu rentang usia 18–45 tahun. Kelompok usia ini merupakan populasi aktif yang memiliki mobilitas tinggi dan berpotensi menjadi agen perubahan dalam penyebaran informasi kesehatan di masyarakat. Ditinjau dari jenis kelamin, responden didominasi oleh perempuan. Hal ini sejalan dengan karakteristik pengunjung ruang publik seperti stadion, dimana perempuan lebih aktif mengikuti kegiatan olahraga komunitas seperti senam dan jalan santai.
Karakteristik responden yang didominasi usia produktif dan perempuan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan di ruang publik memiliki potensi jangkauan yang luas. Kelompok ini dinilai strategis dalam mendukung penyebaran literasi kesehatan karena memiliki peran penting dalam keluarga dan komunitas, khususnya dalam penyampaian informasi kesehatan preventif.
Adapun hasil identifikasi tingkat pengetahuan dan sikap pencegahan stigma pasian HIV?AIDS dapat diilustrasikan dalam gambar berikut:

Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS

 

Tinggi    ████████████████████  68.6% (24)

Sedang   ████████                                22.9% (8)

Rendah   ███                                            8.5%  (3)

 

Gambar 1. Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS (n=35)

 

Gambar 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang HIV/AIDS, yaitu 68.6% dari total 35 responden. Responden umumnya telah memahami informasi dasar terkait cara penularan dan pencegahan HIV. Namun, masih terdapat sebagian kecil responden dengan tingkat pengetahuan rendah (8.5%), yang menunjukkan bahwa literasi kesehatan belum merata di masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi singkat berbasis leaflet efektif meningkatkan pemahaman awal, tetapi tetap diperlukan upaya edukasi berkelanjutan untuk memperluas jangkauan informasi kesehatan.

Sikap Pencegahan Stigma

 

Tinggi    ████████                               28.6% (10)

Sedang   ███████████████             51.4% (18)

Rendah   ██████                                     20.0% (7)

 

Gambar 2. Sikap Pencegahan Stigma HIV/AIDS (n=35)

 

Gambar 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori sikap pencegahan stigma tingkat sedang, yaitu 51.4%. Meskipun tingkat pengetahuan masyarakat tergolong tinggi, masih terdapat responden dengan sikap pencegahan stigma rendah (20%). Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap sosial terhadap pasien HIV/AIDS. Sikap terhadap stigma tidak hanya dipengaruhi oleh aspek kognitif, tetapi juga faktor sosial dan persepsi risiko yang berkembang di masyarakat.


PEMBAHASAN

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap HIV/AIDS tergolong tinggi setelah edukasi singkat berbasis leaflet. Temuan ini mendukung konsep Brief Health Promotion yang menekankan efektivitas intervensi edukasi singkat dalam meningkatkan literasi kesehatan awal masyarakat (Glanz et al., 2020). Edukasi berbasis komunitas dengan pendekatan sederhana dinilai efektif untuk meningkatkan awareness kesehatan pada populasi umum.

Model Brief Health Promotion bekerja melalui penyederhanaan informasi kesehatan kompleks menjadi pesan yang mudah dipahami. Dalam perspektif teori pembelajaran, penyampaian informasi singkat selaras dengan konsep microlearning yang menekankan efisiensi kognitif dalam proses belajar. Studi De Gagne et al. (2019) menunjukkan bahwa microlearning efektif meningkatkan pemahaman kesehatan dalam waktu singkat dan relevan digunakan pada edukasi komunitas.

Meskipun tingkat pengetahuan tergolong tinggi, sikap terhadap pencegahan stigma masih berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara domain kognitif dan afektif. Literasi kesehatan tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan sikap sosial, karena stigma dipengaruhi oleh norma budaya dan konstruksi sosial penyakit (Nutbeam, 2021). Studi Stangl et al. (2021) menegaskan bahwa stigma kesehatan merupakan fenomena multidimensional yang tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga faktor sosial dan emosional.

Literatur menunjukkan bahwa stigma HIV seringkali dipertahankan oleh ketakutan terhadap penularan dan misinformasi. UNAIDS (2023) menegaskan bahwa stigma berbasis ketakutan masih menjadi penghambat utama dalam pengendalian HIV secara global. Penelitian Nyblade et al. (2019) juga menunjukkan bahwa intervensi berbasis informasi saja belum cukup untuk menurunkan stigma secara signifikan tanpa pendekatan sosial yang lebih luas.

Keunggulan utama model Brief Health Promotion leaflet adalah kemudahan implementasi dan jangkauan luas. Edukasi singkat berbasis leaflet dapat menjangkau masyarakat dengan sumber daya terbatas dan cocok diterapkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat. WHO (2021) menekankan bahwa promosi kesehatan berbasis komunitas merupakan strategi penting dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat secara luas.

Namun demikian, pendekatan edukasi tunggal memiliki keterbatasan dalam mempengaruhi perubahan sikap jangka panjang. Untuk memperkuat upaya pencegahan stigma, diperlukan pendekatan multimodal seperti penggunaan media audiovisual, storytelling, dan komunikasi empatik berbasis komunitas. Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan internalisasi pesan anti stigma secara lebih mendalam.

Dengan demikian, model Brief Health Promotion leaflet efektif dalam mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pencegahan stigma HIV/AIDS. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi strategi edukasi singkat dengan pendekatan edukasi berkelanjutan untuk menghasilkan dampak perubahan sosial yang lebih komprehensif.

IMPLIKASI
1. Model Brief Health Promotion berbasis leaflet efektif sebagai strategi cepat untuk pemetaan literasi HIV/AIDS di komunitas terbuka.
2. Edukasi singkat di ruang publik mampu menjangkau kelompok usia produktif yang berpotensi menjadi agen penyebaran informasi kesehatan.
3. Peningkatan pengetahuan tidak selalu diikuti perubahan sikap, sehingga diperlukan pendekatan edukasi yang menyasar aspek kognitif dan afektif.
4. Integrasi microlearning berbasis leaflet dengan media digital berpotensi memperkuat program pencegahan stigma HIV berbasis komunitas.

SIMPULAN

1.       Responden didominasi kelompok usia produktif dengan mayoritas perempuan, yang menunjukkan potensi strategis sebagai target edukasi kesehatan berbasis komunitas.

2.       Tingkat pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS tergolong tinggi, menunjukkan bahwa model edukasi Brief Health Promotion berbasis leaflet efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan secara cepat dan kontekstual.

3.       Sikap terhadap pencegahan stigma masih berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan adanya kesenjangan antara peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap sosial.

4.       Stigma terhadap HIV/AIDS tidak hanya dipengaruhi faktor kognitif, tetapi juga faktor sosial dan persepsi risiko, sehingga memerlukan pendekatan edukasi yang lebih komprehensif.

5.       Model Brief Health Promotion leaflet terbukti relevan sebagai strategi awal dalam mengidentifikasi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pencegahan stigma HIV/AIDS di ruang publik.


SARAN

1.         Lakukan edukasi HIV/AIDS secara berkelanjutan di ruang publik dan komunitas.

2.         Kombinasikan leaflet dengan media edukasi digital dan audiovisual.

3.         Gunakan pendekatan empatik dan berbasis komunitas untuk menurunkan stigma.

4.         Kembangkan penelitian lanjutan terkait model edukasi anti stigma berbasis multimodal.