Madani: Jurnal Ilmiah
Multidisiplin
Volume
3, Nomor 12, January 2026, P. 750-759
E-ISSN:
2986-6340
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18639096
The Effect of Chromium Coating Thickness on ST37 Material on Corrosion Rate Using the Linear Polarization Resistance (LPR) Technique
Jovano Cilion Athallah, Firman Yasa Utama
Program Studi D4 Teknik Mesin Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya
Abstrak
Baja karbon rendah ST37 banyak digunakan pada
aplikasi konstruksi dan dekoratif seperti
teralis rumah karena
sifat mekaniknya yang baik, mudah dibentuk,
dan ekonomis. Namun, material ini memiliki kelemahan utama berupa ketahanan korosi yang rendah, terutama pada
lingkungan terbuka yang lembap dan mengandung ion klorida. Salah satu upaya
untuk meningkatkan ketahanan korosi baja ST37
adalah melalui proses
elektroplating krom. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi waktu
pelapisan krom terhadap ketebalan lapisan dan laju korosi baja ST37. Proses
elektroplating dilakukan menggunakan larutan elektrolit berbasis kromium dengan tegangan konstan 12 volt
dan variasi waktu pelapisan selama
25, 35, dan 45 menit. Ketebalan lapisan diukur menggunakan thickness gauge, sedangkan pengujian
laju korosi dilakukan dengan metode Linear
Polarization Resistance (LPR) sesuai standar ASTM G59. Parameter yang
dianalisis meliputi kehilangan massa, hambatan polarisasi, serta laju korosi
dalam satuan mm/year. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa variasi waktu pelapisan berpengaruh
terhadap ketebalan lapisan dan laju korosi baja ST37. Lapisan dengan waktu
pelapisan 35 menit menghasilkan laju korosi terendah sebesar 0,0099 mm/year,
yang menunjukkan ketahanan korosi
lebih tinggi dibandingkan variasi 25 dan 45 menit. Lapisan dengan waktu 25
menit memberikan perlindungan sedang, sedangkan pelapisan 45 menit menunjukkan
kecenderungan peningkatan laju korosi akibat kemungkinan terbentuknya cacat
mikro pada lapisan.
Kata
Kunci: ST37, elektroplating,
laju korosi, ketebalan lapisan, krom, ASTM G59.
Abstract
ST37 low-carbon steel is widely used in construction
and decorative applications such as house window grilles due to its good
mechanical properties, ease of fabrication, and cost-effectiveness. However,
this material has a major drawback in the form of low corrosion resistance,
especially in open environments that are humid and contain chloride ions. One
effort to improve the corrosion resistance of ST37 steel is through the
chromium electroplating process. This study aims to analyze the effect of
variations in chromium plating time on coating thickness and the corrosion rate
of ST37 steel. The electroplating process was carried out using a
chromium-based electrolyte solution with a constant voltage of 12 volts and
plating time variations of 25, 35, and 45 minutes. The coating thickness was
measured using a thickness gauge, while the corrosion rate testing was
conducted using the Linear Polarization Resistance (LPR) method in accordance
with ASTM G59 standards. The parameters analyzed included mass loss,
polarization resistance, and corrosion rate in mm/year. The results showed that
variations in plating time affect the coating thickness and corrosion rate of
ST37 steel. The coating with a plating time of 35 minutes produced the lowest
corrosion rate of 0.0099 mm/year, indicating higher corrosion resistance compared
to the 25- and 45-minute variations. The 25-minute plating provided moderate
protection, while the 45-minute plating showed a tendency toward increased
corrosion rate due to the possible formation of micro-defects in the coating.
Keywords: ST37, electroplating, corrosion rate, coating thickness, chromium, ASTM G59.
PENDAHULUAN
Material ST37 merupakan baja karbon rendah yang banyak digunakan dalam
bidang teknik karena sifat mekaniknya
yang unggul dan kemudahan dalam proses fabrikasi. Dengan kandungan karbon
sekitar 0,17%, baja ini menawarkan keuletan, kemudahan las, serta kemampuan
pembentukan yang baik (Sebayang, 2021). ST37 juga dikenal sebagai material ekonomis
dan tersedia luas,
menjadikannya ideal untuk konstruksi
ringan seperti elemen pengaman dekoratif, termasuk teralis rumah.
Salah satu penerapan ST37 yang populer adalah sebagai material utama
untuk teralis rumah. Teralis tidak hanya berfungsi sebagai elemen keamanan
untuk jendela dan pintu, tetapi juga berperan dalam menunjang estetika bangunan. Pemilihan material ini didasari pada sifatnya yang mudah
dibentuk menjadi berbagai pola geometris dan ornamennya yang estetis (Hikmani,
2022). Dalam prakteknya, ST37 digunakan dengan diameter batang 8–12 mm dan
disusun berjarak 10–15 cm untuk mengoptimalkan fungsi dan estetika secara
bersamaan.
Namun, meskipun unggul dalam kemudahan manufaktur, ST37 memiliki
kelemahan terhadap korosi, terutama jika diaplikasikan di area terbuka yang
terpapar cuaca dan kelembapan tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan perlakuan
permukaan untuk meningkatkan ketahanan korosinya. Salah satu metode yang digunakan adalah pelapisan logam
secara elektroplating menggunakan logam krom atau nikel, yang mampu
meningkatkan daya tahan permukaan (Saefuloh, 2020).
Baja karbon rendah ST37 banyak digunakan dalam industri konstruksi maupun
aplikasi dekoratif karena sifat mekaniknya yang baik, ketersediaan luas,
dan harga ekonomis. Namun, kelemahan utama
dari ST37 adalah ketahanannya
yang rendah terhadap korosi, khususnya ketika digunakan pada lingkungan terbuka
yang lembap atau mengandung ion klorida. Fenomena korosi ini dapat memperpendek
umur pakai material serta menurunkan keandalan strukturalnya.
Salah satu metode
perlindungan yang efektif
adalah pelapisan logam melalui proses elektroplating.
Lapisan krom banyak digunakan karena mampu membentuk lapisan pasif Cr₂O₃ yang
stabil dan dapat memperlambat laju korosi baja. Ketebalan lapisan krom yang
dihasilkan sangat dipengaruhi oleh parameter elektroplating, seperti arus,
tegangan, konsentrasi larutan, serta waktu pelapisan. Namun, belum ada
ketentuan baku mengenai ketebalan lapisan optimal yang mampu memberikan
perlindungan korosi maksimal. Untuk mengevaluasi efektivitas lapisan krom, digunakan metode uji korosi
elektrokimia berdasarkan standar
ASTM G59, yaitu Linear Polarization Resistance (LPR). Metode ini mampu
memberikan data kuantitatif terkait laju korosi dalam waktu relatif singkat,
sehingga sesuai digunakan dalam penelitian ini.
Batasan masalah dari penelitian di atas yaitu:
1. Material yang digunakan adalah baja karbon rendah ST37.
2. Prosespelapisandilakukan dengan metode elektroplatingmenggunakan krom
dengan tegangan 12Volt dan 70A.
3. Variasi parameter hanya berupa waktu pelapisan sebagai
pembentuk perbedaan ketebalan.
4. Pengujian korosi dilakukan
dengan metode elektrokimia ASTM G59
Rumusan masalah
dari penelitian diatas yaitu:
1.
Bagaimana pengaruh variasi ketebalan
lapisan krom dari hasil proses elektroplating pada baja ST37?
2.
Bagaimana laju korosi pada baja ST37 setelah
dilapisi krom menggunakan pengujian berdasarkan ASTM G59?
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental yang
bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi ketebalan
lapisan krom hasil proses
elektroplating terhadap laju korosi baja karbon rendah ST37. Penelitian
dilakukan secara langsung di laboratorium dengan pendekatan eksperimen, di mana
spesimen ST37 diberikan perlakuan elektroplating menggunakan logam krom dengan
variasi waktu pelapisan sebagai parameter pembentuk ketebalan lapisan.Setelah proses pelapisan, dilakukan pengujian korosi menggunakan metode Linear
Polarization Resistance (LPR) sesuai standar ASTM G59. Hasil pengujian berupa data hambatan polarisasi (Rp), kerapatan arus korosi (Icorr), dan laju korosi (corrosion rate) dalam satuan mm/year.
Dengan metode ini, hubungan antara
ketebalan lapisan pelapis dan ketahanan korosi
dapat dianalisis secara
sistematis untuk memperoleh
kesimpulan teknis yang valid dan aplikatif.
Tahapan penelitian dimulai dari persiapan spesimen yang meliputi
pemotongan baja ST37 sesuai ukuran, pengamplasan, pembersihan dengan larutan basa, dan pencucian dengan air deionisasi. Tahap
kedua adalah proses elektroplating menggunakan larutan CrO₃ dengan variasi
waktu pelapisan 15, 25, dan 35 menit untuk menghasilkan perbedaan ketebalan
lapisan krom (Eriek et al., 2024). Tahap ketiga adalah pengujian korosi
menggunakan metode ASTM G59. Spesimen yang telah dilapisi dipasang sebagai
elektroda kerja, SCE sebagai elektroda referensi, dan Pt sebagai elektroda bantu. Potensiostat digunakan untuk memberikan variasi
potensial ±10–20 mV dari
potensial korosi (Ecorr), kemudian
arus yang timbul direkam untuk membentuk kurva
polarisasi. Dari kurva ini diperoleh
nilai hambatan polarisasi (Rp) dan kerapatan arus korosi (Icorr) (Feliu,
González, & Simancas, 2018).
1.
Alat
a.
Mesin pemotong logam
b.
Alat pembersih (sikat kawat, amplas, dan cairan pembersih)
c.
Power supply/Rectifier (untuk menghasilkan arus DC)
d.
Bak elektroplating
e.
Thermometer dan timer
f.
Alat ukur ketebalan lapisan (misalnya mikrometer atau coating thicknessgauge)
2.
Bahan
Bahan-bahan utama yang digunakan
dalam penelitianini meliputi:
a. Material ST37
Digunakan sebagai
substrat atau benda kerja yang akan dilapisi dengan chrome. Material ini
dipotong sesuai ukuran uji dan dibersihkan sebelum proses pelapisan.
b. Larutan Elektrolit Chrome
Merupakan campuran kimia yang mengandung
senyawa utama seperti asam kromat (H₂CrO₄) atau kromium trioksida (CrO₃) dan
asam sulfat sebagai katalis,
yang digunakan dalam proses pelapisan.
c. Elektroda Anoda dari Logam Timbal atau Baja Tahan
Korosi Digunakan sebagai sumber ion
dalam proses pelapisan krom.
d. Air Bersih dan Alkohol
Digunakan untuk
membersihkan permukaan spesimen
sebelum dan sesudah proses
pelapisan.
Desain Gambar Spesimen
Uji Polarisasi ditunjukkan dibawah ini,
Gambar 1 Spesimen Uji Polarisasi Sumber : Pribadi
Dalam penelitian
ini, teknik pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui beberapa tahapan
eksperimen dan pengamatan, yaitu:
1.
Observasi Langsung Proses Krom. Observasi
dilakukan selama proses pelapisan untuk memastikan bahwa semua parameter
berjalan sesuai rencana, seperti tegangan, waktu pelapisan, dan kondisi larutan. Observasi ini juga mencakup pencatatan
fenomena fisik yang terjadi pada permukaan spesimen, seperti perubahan warna,
kilap, atau cacat lapisan.
2.
Pengukuran Ketebalan Lapisan. Setelah proses elektroplating
selesai, setiap spesimen diukur ketebalan lapisannya menggunakan alat pengukur
ketebalan (coating thickness gauge
atau mikrometer digital). Hasil pengukuran ini menjadi
data utama yang menunjukkan variasi
ketebalan lapisan chrome yang
terbentuk akibat perbedaan parameter proses
3.
Pengujian laju korosi. Pengujian laju korosi dilakukan
menggunakan metode Linear Polarization Resistance (LPR)
sesuai standar ASTM G59. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui laju korosi pada permukaan material ST37 setelah dilapisi chrome.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelapisan krom pada spesimen baja
ST37 dilakukan menggunakan metode elektroplating dengan
tegangan konstan 12 Volt, serta
variasi waktu pelapisan 25 menit, 35 menit, dan 45 menit.
Setelah proses pelapisan selesai, dilakukan pengamatan awal terhadap kondisi permukaan
spesimen untuk memastikan keberhasilan proses
sebelum dilakukan pengukuran ketebalan dan pengujian korosi. Pada
variasi waktu 25 menit, lapisan krom telah terbentuk dan menutupi seluruh
permukaan spesimen. Secara umum, lapisan terlihat kontinu dan tidak ditemukan
cacat, maupun retakan permukaan.
Pada variasi 35 menit, lapisan krom terbentuk secara lebih merata pada
seluruh permukaan spesimen. Tidak ditemukan indikasi cacat pada permukaan. Durasi pelapisan yang lebih lama
memungkinkan proses krom berlangsung
lebih stabil sehingga meningkatkan keseragaman lapisan. Sementara itu, pada variasi 45 menit, lapisan krom yang terbentuk menutup permukaan spesimen secara
menyeluruh dengan kecenderungan
akumulasi yang lebih tinggi,
khususnya pada bagian tepi spesimen. Secara
visual tidak ditemukan cacat
besar, namun peningkatan waktu pelapisan berpotensi menimbulkan tegangan
internal pada lapisan akibat pertumbuhan deposit yang lebih tebal.
Secara umum, hasil pelapisan menunjukkan bahwa variasi waktu deposisi berpengaruh terhadap pembentukan lapisan krom pada
baja ST37.
Berdasarkan hasil pengukuran ketebalan lapisan krom yang tercantum pada
tabel 4.1, diperoleh perbedaan nilai ketebalan pada setiap variasi waktu pelapisan. Data menunjukkan bahwa
spesimen dengan waktu pelapisan 25 menit menghasilkan
ketebalan lapisan paling rendah dibandingkan variasi lainnya. Nilai ini
mengindikasikan bahwa durasi deposisi yang relatif
singkat membatasi jumlah
ion krom yang tereduksi dan terdeposit pada permukaan baja ST37.
Tabel 1 Hasil Pengukuran ketebalan Lapisan Krom Pada Permukaan Spesimen uji
|
waktu pelapisan |
spesimen |
titik 1 (mm2) |
titik 2 (mm2) |
titik 3 (mm2) |
rata-rata (mm2) |
|
25 menit |
1 |
12.7 |
12.8 |
12.8 |
12.766 |
|
2 |
12.8 |
12.7 |
12.8 |
||
|
3 |
12.7 |
12.8 |
12.8 |
||
|
35 menit |
1 |
12.8 |
13 |
13 |
12.872 |
|
2 |
13 |
12.9 |
12.9 |
||
|
3 |
12.7 |
12.8 |
12.8 |
||
|
45 menit |
1 |
14 |
14 |
13.8 |
13.867 |
|
2 |
13.9 |
13.7 |
13.8 |
||
|
3 |
13.9 |
13.9 |
13.8 |
Pada variasi waktu 35 menit, terjadi peningkatan
ketebalan lapisan secara signifikan dibandingkan variasi 25 menit. Hal ini
menunjukkan bahwa penambahan waktu pelapisan memberikan kesempatan lebih besar
bagi proses reduksi ion krom di katoda sehingga memperbesar akumulasi deposit pada permukaan spesimen.
Sementara itu, variasi waktu 45 menit menghasilkan ketebalan lapisan tertinggi.
Peningkatan ini sejalan dengan prinsip elektroplating, di mana jumlah material yang terdeposit
berbanding lurus dengan waktu proses selama parameter arus dan tegangan dijaga konstan.
Analisis Ketebalan
Krom
Pada variasi 25 menit, ketebalan awal berada pada rentang 2,8–2,9 mm dan mengalami penurunan rata-rata sebesar 0,1 mm setelah pengujian. Nilai penurunan ini dapat dikategorikan relatif kecil namun konsisten pada seluruh titik pengukuran, yang menunjukkan bahwa lapisan 25 menit memberikan perlindungan korosi pada tingkat dasar namun belum mampu menahan serangan elektrolit secara optimal. Pada variasi 35 menit, ketebalan awal berada pada rentang 3,0–3,2 mm dan mengalami penurunan sebesar 0,2–0,3 mm pada beberapa titik. Penurunan thickness yang lebih besar dibanding 25 mengindikasikan bahwa lapisan 35 mengalami degradasi pelapisan, akibat penetrasi ion klorida lebih dalam terhadap permukaan material. Maulana, Putra, & Yusuf (2022) Meskipun demikian, distribusi penurunan nilai tetap stabil, menandakan proses korosi berlangsung merata tanpa indikasi localized corrosion salah satu bentuk korosi lokal yang terjadi pada bagian tertentu dari permukaan logam dalam bentuk lubang-lubang kecil yang menembus ke dalam material. Wang, Li, Zhang, & Liu (2022) Korosi ini berlangsung sangat terfokus pada titik tertentu, sementara area di sekitarnya masih tampak relatif utuh. Pitting umumnya sulit terdeteksi pada tahap awal karena lubangnya kecil di permukaan tetapi bisa berkembang cukup dalam, sehingga berbahaya karena dapat menyebabkan kegagalan material secara tiba-tiba meskipun kehilangan massa logam secara keseluruhan relatif kecil. Jenis korosi ini sering dipicu oleh adanya ion klorida, perbedaan konsentrasi oksigen, atau kerusakan pada lapisan pelindung logam.
Hasil Ketebalan Lapisan Krom Penurunan
yang lebih besar dibanding 25 mengindikasikan bahwa lapisan 35 mengalami degradasi pelapisan, akibat penetrasi ion klorida lebih dalam terhadap permukaan material.
Maulana, Putra, & Yusuf (2022). Meskipun demikian, distribusi
penurunan nilai tetap stabil, menandakan proses korosi berlangsung merata tanpa
indikasi localized corrosion salah satu bentuk korosi lokal yang terjadi pada
bagian tertentu dari permukaan logam
dalam bentuk lubang-lubang kecil yang menembus ke dalam material. Wang, Li,
Zhang, & Liu (2022) Korosi ini berlangsung sangat terfokus pada titik
tertentu, sementara area di sekitarnya masih tampak relatif utuh. Pitting
umumnya sulit terdeteksi pada tahap awal karena lubangnya kecil di permukaan
tetapi bisa berkembang cukup dalam, sehingga berbahaya karena dapat
menyebabkan kegagalan material secara tiba-tiba meskipun kehilangan massa logam secara
keseluruhan relatif kecil. Jenis korosi ini sering
dipicu oleh adanya
ion klorida, perbedaan konsentrasi oksigen, atau kerusakan pada lapisan pelindung
logam.
Sementara itu, pada variasi 45 menit, thickness awal spesimen berada pada rentang 4,0–4,2 mm dan penurunan ketebalan rata-rata berkisar 0,2–0,3 mm. Meskipun nilai absolut penurunannya lebih besar dibanding dua variasi sebelumnya, tingkat persentase kehilangan ketebalan relatif terhadap ketebalan awal lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan pelindung dengan waktu 45 menit memiliki ketahanan korosi yang lebih baik secara proporsional, terutama dalam menjaga struktur dimensi material terhadap laju penipisan akibat korosif.
Hasil Pengujian Laju Korosi
Pengaruh Laju Korosi
Berdasarkan data yang tercantum pada Tabel 4.2 terlihat adanya perbedaan
nilai laju korosi pada setiap variasi
spesimen yang telah dilapisi krom.
Hal ini menunjukkan bahwa
karakteristik lapisan krom memberikan
pengaruh langsung terhadap
kemampuan material dalam menahan serangan lingkungan korosif.
Tabel 4.2 Tabel Laju Korosi
|
waktu
pelapisan |
spesimen |
Waktu |
Laju Korosi (mm/y) |
Rata-rata Laju Korosi (mm/y) |
|
25 menit |
1 |
144 |
0.0989 |
0.0793 |
|
2 |
144 |
0.0646 |
||
|
3 |
144 |
0.0745 |
||
|
35 menit |
1 |
144 |
0.0099 |
0.0962 |
|
2 |
144 |
0.1198 |
||
|
3 |
144 |
0.1591 |
||
|
45 menit |
1 |
144 |
0.2781 |
0.1523 |
|
2 |
144 |
0.0396 |
||
|
3 |
144 |
0.1392 |
Spesimen dengan ketebalan lapisan yang lebih kecil menunjukkan
kecenderungan terjadinya penetrasi media korosif yang lebih cepat, akibatnya
proses oksidasi pada logam dasar berlangsung lebih intensif, sehingga
meningkatkan nilai laju korosi yang terukur. Sebaliknya, pada spesimen dengan
lapisan yang lebih tebal, lapisan krom berfungsi sebagai penghalang yang lebih
efektif dalam menghambat laju korosi menuju permukaan baja. Perbandingan antar
variasi pada tabel memperlihatkan tren bahwa peningkatan kualitas dan
ketebalan lapisan berkorelasi dengan penurunan laju korosi. Namun demikian,
perlindungan tidak hanya ditentukan oleh ketebalan, tetapi juga oleh
keseragaman dan kestabilan lapisan yang terbentuk.
Hasil pengujian kehilangan pada gambar 4.3 yang menunjukkan massa krom
pada spesimen baja ST37 bahwa setiap variasi lapisan dari waktu tertentu
mengalami penurunan berat setelah melalui proses perendaman dalam media
korosif. Pada variasi waktu 25 menit, nilai kehilangan massa berada pada
kisaran 1,30 hingga 2,00 mg, yang menunjukkan
terjadinyareaksi korosi ringan namun
konsisten pada seluruh spesimen Hikmani,
Hanafi, & Prasetyo (2022).
Penurunanmassayangrelatif rendah ini menandakan bahwa lapisan 25-2 masih
mampu memberikan perlindungan korosi dasar terhadap permukaan baja ST37.

Gambar 4 Weight Lost
Pada variasi waktu 35 menit, kehilangan massa terukur berkisar antara 0,20 hingga 3,20 mg, dengan nilai tertinggi
terjadi pada spesimen
35-3. Variasi ini menunjukkan
sedikit fluktuasi nilai kehilangan massa, yang mengindikasikan bahwa ketebalan dan kualitas lapisan
pelindung memiliki pengaruh
langsung terhadap stabilitas perlindungan yang diberikan. Meskipun
terdapat kenaikan massa hilang pada salah satu titik, secara umum performa
35 masih berada pada kategori perlindungan moderat. Sedangkan pada variasi waktu
45 menit, nilai kehilangan massa mencapai rentang 0,80 hingga 5,60 mg, namun
nilai relatif terhadap
massa awal tetap terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi
reaksi korosi, lapisan 45-2 secara proporsional
memberikan resistansi yang lebih baik
terhadap degradasi material, terutama pada durasi pengujian yang sama.
Laju Korosi
Berdasarkan hasil perhitungan laju korosi terhadap spesimen baja ST37
dengan tiga variasi lapisan yang ditunjukkan pada gambar 4.5, diperoleh tren
yang menunjukkan bahwa setiap perlakuan pelapisan menghasilkan respons
yang berbeda terhadap serangan korosi dalam media pengujian. Pada variasi spesimen
25-1, nilai laju korosi berada
pada rentang 0,06 hingga 0,098
mm/year, dengan nilai tertinggi
sebesar 0.0989 mm/year pada
spesimen 25-1. Nilai ini menunjukkan bahwa walaupun lapisan mampu memberikan
proteksi awal, tingkat ketahanan terhadap penetrasi elektrolit masih tergolong
moderat.
Pada variasi spesimen 35-1, diperoleh laju korosi yang cenderung lebih rendah
dan paling stabil.
Spesimen 35-1 menunjukkan nilai laju korosi 0.0099 mm/year, yang merupakan
nilai terendah dari keseluruhan sampel. Hal ini mengindikasikan bahwa lapisan
dengan kondisi 35-1 memiliki ketebalan atau kualitas mikrostruktur yang optimal
dalam menahan laju penetrasi korosi. Namun pada 35-2 dan 35-3,
laju korosi meningkat menjadi 0.1198 dan 0.1590 mm/year, menunjukkan adanya pengaruh
variasi distribusi lapisan dan homogenitas permukaan terhadap reaksi korosi.

Gambar 5 Laju korosi
Sementara itu, variasi
waktu 45 menit menghasilkan nilai
laju korosi tertinggi, yaitu
0.278 mm/year pada spesimen 45-1. Meskipun demikian, jika dibandingkan secara
persentase terhadap luas permukaan dan faktor ketebalan spesimen, laju korosi
pada spesimen 45 masih berada dalam kategori korosi ringan (<0.5 mm/year
menurut standar). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan performa
pada sebagian titik, lapisan 45 tetap memberikan perlindungan dimensional yang
cukup baik pada material. Secara keseluruhan, lapisan 35 menunjukkan kinerja
proteksi terbaik, ditinjau dari kestabilan nilai laju korosi dan kemampuan
mempertahankan integritas permukaan baja ST37.
Hasil pengujian laju korosi baja ST37 menggunakan metode ASTM G59 Linier
Polarization Resistence menunjukkan
bahwa variasi ketebalan lapisan nikel-krom
berpengaruh terhadap kestabilan elektrokimia material. Dari hasil
pengukuran, diperoleh nilai laju korosi pada rentang 0.0099 hingga 0.278
mm/year. Nilai terendah diperoleh pada spesimen 35- 1 dengan laju korosi 0.0099 mm/year, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada spesimen 45-1 sebesar 0.278
mm/year.

Gambar 6 Teknik analisisdata
Nilai laju korosi yang rendah pada variasi 35 menunjukkan bahwa lapisan
dengan ketebalan menengah
mampu menghasilkan permukaan yang homogen dan memiliki daya
perlindungan korosi yang lebih stabil Eriek, Setiawan, & Nurhadi (2024).
Lapisan ini cenderung membentuk lapisan pasif yang efektif dalam menahan laju
reaksi oksidasi logam dengan lingkungan elektrolit Wang, Li, Zhang, & Liu
(2022). Sebaliknya, pada variasi 45,
ketebalan lapisan yang berlebihan dapat menyebabkan tegangan
internal serta munculnya retakan yang menjadi jalur bagi penetrasi ion
korosif.Pada spesimen 25, nilai laju korosi masih tergolong sedang, dengan rata-rata sekitar 0.09 mm/year, menandakan bahwa perlindungan terhadap korosi masih terbatas akibat lapisan yang relatif tipis. Secara keseluruhan, hasil ini
memperlihatkan bahwa peningkatan ketebalan lapisan
tidak selalu menghasilkan perlindungan yang lebih baik, karena
efektivitas pelapisan juga bergantung pada kualitas adhesi dan homogenitas
lapisan Hikmani, Hanafi, & Prasetyo (2022). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa variasi 35 memberikan performa terbaik dalam menahan laju
korosi baja ST37, karena mampu menyeimbangkan antara ketebalan lapisan dan
kestabilan struktur permukaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan parameter
pelapisan menjadi faktor penting dalam menghasilkan lapisan pelindung terhadap
korosi.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan terhadap
spesimen baja ST37 dengan perlakuan pelapisan nikel-krom menggunakan metode
elektroplating serta pengujian laju korosi melalui metode ASTM G59
Linier Polarization Resistence, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Variasi waktu pelapisan krom
pada proses elektroplating terbukti memengaruhi ketebalan lapisan serta
laju korosi baja ST37. Perbedaan waktu pelapisan menghasilkan
perbedaan karakteristik lapisan pelindung, yang ditunjukkan oleh variasi nilai
laju korosi hasil pengujian ASTM
G59. Hal ini menunjukkan bahwa waktu
pelapisan merupakan parameter penting dalam menentukan efektivitas perlindungan
korosi pada baja ST37.
2. Pelapisan krom dengan waktu
35 menit memberikan kinerja perlindungan korosi paling optimal dibandingkan
variasi 25 dan 45 menit. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai laju
korosi terendah sebesar 0,0099 mm/year, yang menunjukkan bahwa lapisan yang terbentuk pada waktu
tersebut memiliki kualitas dan homogenitas yang lebih baik dalam
menghambat penetrasi ion korosif. Sementara itu, pelapisan dengan
waktu lebih singkat menghasilkan lapisan yang relatif tipis, dan pelapisan yang
terlalu lama cenderung menurunkan kestabilan lapisan, sehingga meningkatkan
laju korosi.
SARAN
Berdasarkan hasil dari penelitian dan kesimpulan yang telah fiperoleh, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Untuk aplikasi praktis,
terutama pada penggunaan baja ST37 di lingkungan terbuka, disarankan
menggunakan waktu pelapisan krom sekitar 35 menit, karena berdasarkan hasil
pengujian memberikan perlindungan korosi yang paling efektif dan stabil.
2. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meninjau
pengaruh parameter lain dalam
proses elektroplating, seperti rapat arus, tegangan, suhu larutan, serta melakukan analisis mikrostruktur lapisan
menggunakan metode karakterisasi lanjutan, agar hubungan
antara parameter proses dan ketahanan korosi dapat
dipahami secara lebih menyeluruh.
REFERENSI
Sebayang, M. D. (2021).
ST37 steel carburization with coconut charcoal
melya.
Jurnal Rekayasa Material,
3(1), 29–35.
Basmal, F. A., Bayuseno, A. P., & Nugroho, S.
(2018). Electroplating of ST37 steel
with nickel-chromium composite: Effect on surface properties. Jurnal Teknik
Mesin dan Material, 6(1), 45–52.
Hikmani, A., Hanafi, R., &
Prasetyo, D. (2022). Pengaruh variasi
dimensi & ketebalan pada proses
elektroplating ST37 dengan larutan nikel. Prosiding
Konferensi Nasional Teknik Mesin, 3(1), 954–962.
Basmal, F. A., Bayuseno, A. P., & Nugroho, S. (2018). Electroplating of ST37 steel with nickel-chromium composite:
Effect on surface properties. Jurnal Teknik Mesin dan Material, 6(1), 45–52.
Sebayang, M. D. (2021).
ST37 steel carburization with coconut charcoal
melya.
Jurnal Rekayasa Material,
3(1), 29–35.
Eriek, P., Setiawan,
R., & Nurhadi, N. (2024). Electroplating of Chromium on Low
Carbon Steel and Its Effect on Corrosion Resistance. Journal of Surface
Engineering, 12(2),
Maulana, A., Putra,
R., & Yusuf,
M. (2022). Effect of Chromium Plating
Thickness on the Corrosion Behavior of Carbon Steel in
NaCl Solution. International Journal of Corrosion
Science, 18(3), 201–210.
Wang, Y., Li, H., Zhang, Q., & Liu, Z. (2022). Electrochemical
evaluation of chromium-coated steels using linear polarization resistance (ASTM G59). Corrosion Science, 200, 110247.
Feliu, S., González, J. A., & Simancas, J. (2018). On the determination of corrosion rate by
the polarization resistance method: Application to corrosion monitoring.
Corrosion Science, 136, 129–137.
Popov, B. N. (2015). Corrosion
Engineering: Principles and Solved Problems.
Amsterdam: Elsevier.
No comments
Post a Comment