Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Volume 3, Nomor 12, January  2026, P. 760-766

E-ISSN: 2986-6340

Licenced by CC BY-SA 4.0                                                 

DOI:  https://doi.org/10.5281/zenodo.18640044

The Influence of Qur’anic Stories on Students

Rosdiani Nasution

IAIN Takengon

Abstrak

Kisah qur’ani merupakan salah satu metode pendidikan yang memiliki kedudukan penting dalam sistem pendidikan Islam. Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memuat banyak kisah yang bukan sekadar narasi sejarah, tetapi sarat dengan nilai edukatif, moral, spiritual, dan psikologis. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh kisah qur’ani terhadap anak didik, terutama dalam aspek emosi, motivasi, penghayatan nilai, dan pembentukan pola pikir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap literatur klasik dan kontemporer mengenai metode kisah dalam pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah qur’ani memiliki daya pengaruh yang kuat terhadap perkembangan kepribadian anak didik karena mampu menyentuh aspek afektif, membangun motivasi internal, serta menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual. Dengan demikian, metode kisah qur’ani relevan untuk diimplementasikan dalam pendidikan Islam kontemporer sebagai strategi pembentukan karakter.

Kata kunci: kisah qur’ani, metode pendidikan Islam, psikologi anak, pembentukan karakter.

Abstract

The Qur’anic story is one of the educational methods that holds an important position within the Islamic education system. The Qur’an, as the primary source of Islamic teachings, contains many stories that are not merely historical narratives but are rich with educational, moral, spiritual, and psychological values. This article aims to describe the influence of Qur’anic stories on students, particularly in the aspects of emotion, motivation, value internalization, and the formation of thought patterns. This study employs a qualitative approach through a literature review of classical and contemporary sources regarding the storytelling method in Islamic education. The findings indicate that Qur’anic stories have a strong impact on the development of students’ personalities because they can touch affective aspects, build internal motivation, and foster moral and spiritual awareness. Therefore, the Qur’anic storytelling method is relevant for implementation in contemporary Islamic education as a strategy for character formation.

Keywords: Qur’anic stories, Islamic educational methods, child psychology, character formation.

PENDAHULUAN

Pendidikan Islam bertujuan membentuk insan kamil yang memiliki keseimbangan antara aspek iman, ilmu, dan akhlak. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar materi yang disampaikan tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diamalkan. Metode memiliki kedudukan strategis dalam proses pendidikan karena keberhasilan penyampaian materi sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan (Irfandi, 2017).

Di antara metode yang banyak digunakan dalam al-Qur’an adalah metode kisah (al-qashash). Keberadaan Surah Al-Qashash menunjukkan bahwa kisah memiliki posisi khusus dalam struktur al-Qur’an. Selain itu, dalam Surah Yusuf, Allah menyebut kisah Nabi Yusuf sebagai ahsanal qashash (kisah terbaik), yang mengisyaratkan nilai pedagogis yang tinggi dalam narasi tersebut. Menurut Al-Baqy (1987), kata qashash dan derivasinya disebutkan berulang kali dalam al-Qur’an, menunjukkan urgensi kisah sebagai sarana penyampaian pesan ilahi.

Ahmad Hanafi (1983) menyebutkan bahwa jumlah ayat yang berkaitan dengan kisah dalam al-Qur’an mencapai kurang lebih 1.600 ayat. Hal ini memperlihatkan bahwa pendekatan naratif merupakan metode dominan dalam al-Qur’an untuk menyampaikan ajaran dan nilai moral. Dengan demikian, metode kisah bukan sekadar variasi penyampaian, melainkan bagian integral dari sistem pendidikan Islam.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam konsep dan pengaruh kisah qur’ani terhadap anak didik berdasarkan analisis literatur yang relevan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengkaji sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan metode kisah dalam al-Qur’an dan pendidikan Islam.

Sumber primer dalam penelitian ini adalah al-Qur’an sebagai rujukan utama, khususnya ayat-ayat yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu. Sumber sekunder meliputi buku-buku dan karya ilmiah para ahli pendidikan Islam seperti Al-Nahlawi (1992), Al-Qattan (2011), Quthub (1988), Nata (2001), serta penelitian kontemporer seperti Akrim dan Gunawan (2021) dan Altintas (2018). Literatur-literatur tersebut dianalisis untuk menemukan konsep, karakteristik, serta dampak psikologis dan pedagogis metode kisah.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, yaitu menghimpun dan menelaah berbagai referensi tertulis yang relevan dengan tema penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis), dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan pengaruh kisah qur’ani terhadap aspek emosi, motivasi, penghayatan, dan pola pikir anak didik.

Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data dengan memilih informasi yang relevan, penyajian data secara sistematis dalam bentuk deskriptif-analitis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan interpretasi terhadap temuan-temuan literatur. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai efektivitas metode kisah dalam pendidikan Islam.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsep Metode Kisah dalam Pendidikan Islam

Metode kisah adalah cara menyampaikan materi pelajaran dengan mengungkapkan peristiwa-peristiwa tertentu secara sistematis untuk diambil hikmah dan pelajaran darinya. Dalam perspektif pendidikan Islam, kisah qur’ani merupakan wahyu yang otentik dan mengandung nilai pendidikan yang mendalam. Al-Qattan (2011) menjelaskan bahwa kisah dalam al-Qur’an mencakup berita tentang para nabi, umat terdahulu, serta berbagai peristiwa yang bertujuan memberikan peringatan dan pelajaran bagi manusia.

Menurut Al-Nahlawi (1992), metode kisah memiliki keunggulan karena mampu menghubungkan nilai abstrak dengan realitas konkret melalui tokoh dan peristiwa. Nilai seperti kesabaran, kejujuran, tawakkal, dan keberanian tidak hanya dijelaskan secara teoritis, tetapi diperlihatkan melalui pengalaman nyata para nabi dan umat terdahulu. Hal ini memudahkan anak didik untuk memahami dan menginternalisasikan nilai tersebut.

Kisah Nabi Musa yang tersebar dalam berbagai surat, termasuk dalam Surah Al-A'raf, memberikan gambaran tentang perjuangan menegakkan kebenaran di hadapan kekuasaan tiran. Melalui kisah tersebut, anak didik dapat memahami makna keberanian, keteguhan iman, dan tawakkal kepada Allah secara konkret. Muhammad Quthub (1988) menegaskan bahwa kisah memiliki kekuatan untuk menyentuh perasaan dan mempengaruhi jiwa manusia karena mengandung unsur emosional yang kuat.

 

Dimensi Psikologis Kisah Qur’ani

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menyukai cerita. Sejak masa kanak-kanak, individu lebih mudah memahami nilai dan realitas kehidupan melalui narasi dibandingkan melalui penjelasan abstrak yang konseptual. Cerita mampu menarik perhatian, membangkitkan imajinasi, serta menciptakan keterlibatan emosional yang mendalam. Dalam konteks pendidikan, pendekatan berbasis cerita terbukti meningkatkan minat, fokus, dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Altintas (2018) menunjukkan bahwa pembelajaran melalui cerita secara signifikan meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat pemahaman terhadap materi yang diajarkan karena cerita membantu siswa membangun hubungan makna antara konsep dan pengalaman konkret.

Dalam perspektif Islam, Al-Tihami Naqrah (1974) menjelaskan bahwa kisah dalam al-Qur’an memiliki dimensi psikologis yang sangat mendalam karena menyentuh aspek emosi, kesadaran batin, dan dinamika kejiwaan manusia. Kisah-kisah tersebut tidak sekadar menyampaikan informasi historis, tetapi menggambarkan konflik batin, ujian keimanan, ketakutan, harapan, dan keteguhan para tokohnya. Melalui pendekatan naratif ini, al-Qur’an membangun pengalaman emosional yang memungkinkan pembaca atau pendengar melakukan identifikasi psikologis dengan tokoh yang dikisahkan.

Sebagai contoh, dalam Surah Yusuf, Allah menggambarkan kesedihan Nabi Ya’qub dan keteguhan Nabi Yusuf dalam menghadapi berbagai ujian. Penyajian kisah tersebut tidak hanya menyampaikan fakta sejarah, tetapi juga memperlihatkan dimensi emosional yang kuat. Muhammad Quthub (1988) menegaskan bahwa kisah dalam al-Qur’an memiliki kekuatan untuk menggerakkan perasaan dan membangkitkan kesadaran moral karena ia berbicara langsung kepada hati manusia, bukan hanya kepada akal.

Dari sudut pandang psikologi pendidikan Islam, metode kisah berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai. Al-Nahlawi (1992) menjelaskan bahwa kisah qur’ani menghubungkan konsep abstrak dengan realitas konkret sehingga nilai seperti sabar, tawakkal, dan kejujuran lebih mudah dipahami dan dihayati oleh anak didik. Ketika anak mendengar kisah tentang kesabaran Nabi Ayyub atau keteguhan Nabi Ibrahim, mereka tidak hanya memahami konsep tersebut secara rasional, tetapi juga merasakannya secara emosional. Proses identifikasi emosional ini memperkuat empati dan membentuk kedalaman penghayatan nilai.

Pengaruh kisah terhadap emosi anak didik terlihat dalam tertanamnya kebencian terhadap kezaliman dan kecintaan terhadap kebaikan. Dalam kisah-kisah tentang kehancuran kaum yang durhaka, seperti yang tersebar dalam berbagai surat al-Qur’an, tergambar konsekuensi moral dari perilaku menyimpang. Ahmad Hanafi (1983) menyebutkan bahwa kisah-kisah tersebut memiliki kekuatan sastra yang tinggi dan efektif dalam membangun kesadaran etis pembacanya. Ketika anak didik mendengar kisah tersebut, muncul rasa takut terhadap dampak negatif perbuatan buruk serta kesadaran untuk menjauhinya.

Sebaliknya, ketika mendengar kisah keberhasilan dan kemenangan orang-orang beriman, tumbuh harapan, optimisme, dan motivasi untuk meneladani perilaku mereka. Muchtar (2005) menyatakan bahwa kisah qur’ani berperan dalam membentuk kesadaran moral dan spiritual anak didik melalui sentuhan emosional yang mendalam. Nilai yang disampaikan melalui kisah tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi meresap ke dalam struktur kepribadian dan memengaruhi sikap serta perilaku.

Dimensi psikologis kisah qur’ani juga berkaitan dengan pembentukan kecerdasan emosional. Anak didik belajar mengenali berbagai spektrum emosi melalui pengalaman tokoh-tokoh dalam kisah. Ketika mereka menyimak konflik dan penyelesaian dalam kisah Nabi Musa yang antara lain terdapat dalam Surah Al-A'raf, mereka memahami dinamika ketegangan, keberanian, dan keyakinan dalam menghadapi tekanan. Al-Qattan (2011) menjelaskan bahwa kisah-kisah para nabi dalam al-Qur’an berfungsi sebagai sarana pendidikan yang menyentuh dimensi akidah sekaligus dimensi psikologis manusia.

Selain itu, kisah qur’ani berkontribusi dalam pembentukan motivasi intrinsik. Akrim dan Gunawan (2021) menegaskan bahwa pendekatan storytelling dalam pendidikan agama efektif dalam meningkatkan internalisasi nilai religius karena siswa terdorong oleh kesadaran pribadi, bukan sekadar tekanan eksternal. Kisah memberikan teladan konkret yang menginspirasi anak didik untuk berbuat baik dengan penuh keikhlasan.

Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, Nata (2001) menjelaskan bahwa proses pengambilan ibrah dari sejarah merupakan sarana penting dalam pembentukan kepribadian. Al-Qur’an seringkali menutup kisah dengan ajakan untuk berpikir dan mengambil pelajaran, yang menunjukkan bahwa tujuan utama kisah adalah membangun kesadaran reflektif. Proses refleksi ini memperkuat kemampuan berpikir kritis dan analitis pada anak didik.

Dengan demikian, dimensi psikologis kisah qur’ani mencakup pembentukan emosi moral, penguatan empati, pengembangan kecerdasan emosional, pembentukan motivasi intrinsik, serta pengasahan kemampuan reflektif. Seluruh aspek tersebut menunjukkan bahwa kisah qur’ani merupakan metode pendidikan yang komprehensif karena mampu menyentuh jiwa, membangun kesadaran, dan membentuk karakter anak didik secara berkelanjutan (Naqrah, 1974; Al-Nahlawi, 1992; Muchtar, 2005).

Pengaruh Kisah Qur’ani terhadap Motivasi dan Penghayatan

Kisah qur’ani memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dan penguatan identitas keagamaan anak didik. Akrim dan Gunawan (2021) menyatakan bahwa pendekatan storytelling dalam konteks pendidikan agama mampu menumbuhkan minat belajar dan memperkuat internalisasi nilai-nilai religius pada siswa. Kisah memberikan inspirasi dan keteladanan yang konkret sehingga anak didik memiliki figur yang dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam aspek penghayatan, kisah membantu anak didik memahami makna ibadah dan ketaatan secara lebih mendalam. Nilai tawakkal dalam kisah Nabi Musa ketika menghadapi Fir’aun, misalnya, memberikan gambaran nyata tentang kepercayaan penuh kepada Allah di tengah situasi sulit. Assegaf (2004) menegaskan bahwa pendidikan tanpa kekerasan yang berbasis keteladanan dan kisah lebih efektif dalam membentuk karakter dibandingkan pendekatan yang bersifat otoriter.

Kisah juga melatih pola pikir reflektif dan kritis. Al-Qur’an sering mengakhiri kisah dengan ajakan untuk mengambil pelajaran, yang menunjukkan bahwa tujuan utama kisah adalah pembentukan kesadaran dan perenungan. Nata (2001) menjelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam menekankan pentingnya perenungan dan pengambilan ibrah dari peristiwa sejarah sebagai sarana pembentukan kepribadian.

Implementasi Metode Kisah dalam Pembelajaran

Metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam yang menekankan penggunaan narasi sebagai media pembelajaran. Dalam praktik pendidikan, metode ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai alat membentuk karakter, motivasi, dan kedalaman spiritual anak didik. Keunggulan metode kisah terletak pada kemampuannya membangkitkan imajinasi, perhatian, dan keterlibatan emosional peserta didik, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lebih efektif (Altintas, 2018).

Dalam pelaksanaannya, guru perlu memperhatikan aspek komunikatif dan kontekstual agar kisah yang disampaikan relevan dengan kehidupan anak didik. Penyampaian yang monoton cenderung membuat peserta didik cepat kehilangan minat, sedangkan penyampaian yang penuh ekspresi, intonasi, dan bahasa tubuh mampu membangkitkan perhatian serta empati. Al-Syalhub (2005) menekankan pentingnya pendekatan emosional dan komunikasi efektif dalam proses pembelajaran, karena keberhasilan transfer nilai tidak hanya tergantung pada konten, tetapi juga pada cara guru menyampaikannya.

Selain itu, guru perlu mengadaptasi kisah qur’ani sesuai tingkat perkembangan anak didik. Untuk anak usia dini, penyampaian kisah bisa disertai ilustrasi visual, dramatization, atau storytelling interaktif. Sementara untuk anak usia sekolah menengah, guru dapat mendorong diskusi kritis, refleksi pribadi, dan analisis moral dari kisah tersebut. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan pembentukan akhlak melalui pemahaman mendalam dan penghayatan nilai, bukan sekadar hafalan (Al-Nahlawi, 1992).

Pengintegrasian kisah dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan melalui beberapa strategi. Pertama, diskusi kelompok. Setelah mendengar atau membaca kisah, anak didik diajak mendiskusikan pesan moral, nilai spiritual, dan implikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini melatih kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan kesadaran moral karena anak didik diajak menganalisis perilaku tokoh dalam kisah serta konsekuensinya. Menurut Muchtar (2005), diskusi yang diarahkan oleh guru dapat menstimulus refleksi internal peserta didik sehingga nilai-nilai moral tertanam lebih mendalam.

Kedua, refleksi pribadi atau journaling. Anak didik didorong menulis atau mengungkapkan perasaan mereka terkait kisah yang telah disampaikan. Pendekatan ini membantu peserta didik menginternalisasi pesan, mengaitkan pengalaman kisah dengan pengalaman pribadi, serta menumbuhkan kepekaan spiritual dan emosional. Farid (2011) menyatakan bahwa pendidikan berbasis manhaj ahl al-sunnah menempatkan kisah sebagai sarana utama dalam membentuk akidah dan akhlak, sehingga proses refleksi merupakan langkah penting untuk memaksimalkan pemahaman dan aplikasi nilai-nilai agama.

Ketiga, dramatization atau role-play. Anak didik dapat memerankan tokoh dalam kisah qur’ani, menghadirkan konflik, ketegangan, dan penyelesaian yang mereka pelajari. Dramatization tidak hanya memperkuat daya ingat, tetapi juga melatih kemampuan empati, kreativitas, dan kemampuan sosial. Menurut Quthub (1988), pengalaman emosional yang diperoleh melalui praktik aktif lebih efektif dalam membentuk karakter daripada sekadar mendengar atau membaca cerita.

Keempat, penggunaan media visual dan audio. Ilustrasi, video animasi, dan audio narasi dapat mendukung penyampaian kisah, khususnya bagi anak didik yang belajar secara visual dan auditori. Penggunaan media ini dapat meningkatkan perhatian, motivasi, dan pemahaman konsep moral yang terkandung dalam kisah. Al-Qattan (2011) menegaskan bahwa penyajian kisah dengan berbagai media edukatif mempermudah anak didik memahami nilai-nilai kompleks seperti kejujuran, kesabaran, dan keteguhan iman.

Penerapan metode kisah juga dapat disinergikan dengan evaluasi pendidikan yang bersifat formatif. Guru dapat mengevaluasi pemahaman anak didik melalui tanya jawab, refleksi tertulis, atau praktik perilaku sesuai nilai yang dipelajari. Evaluasi ini tidak hanya mengukur penguasaan kognitif, tetapi juga menilai internalisasi moral dan sikap spiritual anak didik. Menurut Akrim dan Gunawan (2021), pendekatan storytelling memungkinkan pendidik menilai aspek afektif siswa secara lebih objektif karena respons emosional dan perilaku anak didik terhadap kisah dapat diamati langsung.

Lebih jauh, implementasi metode kisah harus memperhatikan konteks budaya dan sosial anak didik. Kisah yang relevan dengan pengalaman dan lingkungan mereka akan lebih mudah diterima. Misalnya, kisah tentang kepemimpinan Nabi Musa dapat diadaptasi dengan menekankan kepemimpinan yang adil dalam konteks sekolah atau masyarakat. Hal ini sesuai dengan prinsip pedagogi kontekstual, di mana pembelajaran efektif terjadi ketika konten dikaitkan dengan dunia nyata anak didik (Irfandi, 2017).

Selain aspek emosional dan kognitif, metode kisah juga berdampak pada pembentukan identitas diri. Anak didik yang secara rutin mendengar kisah para nabi dan orang saleh akan menumbuhkan rasa identifikasi diri sebagai bagian dari komunitas moral yang memiliki sejarah teladan. Hal ini memperkuat rasa percaya diri, kebanggaan beragama, serta motivasi untuk meneladani perilaku baik. Naqrah (1974) menekankan bahwa kisah qur’ani menyentuh psikologi peserta didik sehingga pembentukan karakter berlangsung lebih alami dan berkelanjutan.

Implementasi metode kisah juga mendukung pembentukan kesadaran spiritual yang mendalam. Anak didik tidak hanya belajar tentang fakta atau sejarah, tetapi juga merenungkan makna kehidupan, konsekuensi moral, dan hubungan mereka dengan Tuhan. Al-Syalhub (2005) menyatakan bahwa komunikasi emosional dalam penyampaian kisah dapat mengaktifkan seluruh perasaan anak didik terhadap guru, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan menyentuh dimensi hati.

Secara praktis, guru dapat mengembangkan modul pembelajaran yang mengintegrasikan kisah qur’ani dengan kegiatan interaktif. Misalnya, setiap tema pelajaran dapat dimulai dengan kisah singkat, dilanjutkan diskusi dan refleksi, kemudian diakhiri dengan praktik atau simulasi situasi nyata yang relevan. Model ini memungkinkan anak didik memahami nilai-nilai agama, menginternalisasikannya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Farid (2011) menekankan bahwa metode semacam ini selaras dengan tujuan pendidikan Islam yang ingin membentuk individu berakhlak mulia, beriman, dan cerdas secara spiritual serta sosial.

Selain itu, penggunaan metode kisah harus dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten. Pendidik perlu memastikan bahwa kisah yang dipilih memiliki relevansi tematik dan pedagogis, sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak didik. Pengintegrasian kisah dalam berbagai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat membentuk kerangka nilai yang konsisten, sehingga anak didik memiliki panduan moral yang utuh. Al-Baqy (1987) mencatat bahwa keberulangan kisah dalam al-Qur’an menunjukkan pentingnya penguatan pesan moral secara berulang agar lebih melekat dalam jiwa manusia.

Dalam penerapannya, metode kisah tidak menggantikan pendekatan lain, tetapi berfungsi sebagai pelengkap yang memperkuat pemahaman, motivasi, dan internalisasi nilai. Misalnya, metode ceramah dapat digunakan untuk menjelaskan konsep hukum atau ibadah, sedangkan kisah digunakan untuk membentuk pemahaman moral, keteladanan, dan penghayatan nilai spiritual (Nata, 2001). Integrasi metode ini memungkinkan pendidikan Islam berjalan secara holistik, menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu kesatuan pendidikan yang utuh.

Kesimpulannya, implementasi metode kisah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan strategi yang efektif untuk membentuk karakter, moral, dan spiritual anak didik. Melalui penyampaian yang komunikatif, kontekstual, dan interaktif, kisah qur’ani tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun motivasi, empati, refleksi, dan kesadaran moral. Guru memiliki peran penting dalam memilih kisah yang sesuai, menyampaikannya dengan ekspresi dan media yang tepat, serta menghubungkannya dengan pengalaman nyata anak didik. Dengan demikian, metode kisah menjadi sarana pendidikan yang komprehensif, menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual, serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan Islam secara holistik (Al-Qattan, 2011; Quthub, 1988; Muchtar, 2005).

SIMPULAN

Kisah qur’ani merupakan metode pendidikan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan anak didik, baik dalam aspek emosi, motivasi, penghayatan nilai, maupun pembentukan pola pikir. Keberadaan kisah dalam al-Qur’an yang jumlahnya sangat banyak menunjukkan urgensi pendekatan naratif dalam sistem pendidikan Islam. Para ahli pendidikan Islam seperti Al-Nahlawi (1992), Quthub (1988), dan Nata (2001) sepakat bahwa kisah memiliki kekuatan edukatif dan psikologis yang mendalam.

Dengan mengintegrasikan metode kisah secara kreatif dan kontekstual dalam pembelajaran, tujuan pendidikan Islam untuk membentuk insan beriman dan berakhlak mulia dapat tercapai secara lebih efektif. Oleh karena itu, kisah qur’ani bukan sekadar narasi sejarah, melainkan wahyu yang berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter sepanjang zaman.

 REFERENSI

Akrim, A., & Gunawan, G. (2021). Quranic Storytelling Approach as Educational Model to Teach Religious Values in the Indonesian Context. Educational Sciences: Theory and Practice, 21(1), 53–67.

Al-Baqy, M. F. A. (1987). al-Mu‘jam al-Mufahras li al-Fazh al-Qur’an al-Karim. Dar al-Fikr.

Al-Nahlawi, A. R. (1992). Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Bandung: Diponegoro.

Al-Qattan, M. K. (2011). Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an. Bogor: Pustaka LiteraNusa.

Al-Syalhub, F. A. A. (2005). Panduan Praktis bagi Para Pendidik. Jakarta: Zikrul Hakim.

Altintas, E. (2018). Analyzing Students Views about Mathematics Teaching Through Stories and Story Generation Process. Educational Research and Reviews, 13(7), 249–259.

Assegaf, A. (2004). Pendidikan Tanpa Kekerasan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Farid, A. (2011). al-Tarbiyah ‘ala Manhaj Ahli al-Sunnah. Kairo: Dar Ibn al-Jauziy.

Hanafi, A. (1983). Segi-segi Kesusasteraan pada Kisah-kisah al-Qur’an. Jakarta: Pustaka al-Husna.

Irfandi, M. (2017). Implementasi Metode Kisah dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah. Jurnal Kependidikan, 5(1).

Muchtar, H. J. (2005). Fikih Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Naqrah, A. T. (1974). Sikolojiyyat al-Qashash fi al-Qur’an. Tunis: al-Syirkah al-Tunisiyah li al-Tauzi’.

Nata, A. (2001). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Quthub, M. (1988). Sistem Pendidikan Islam. Bandung: al-Ma‘arif.