Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Volume 3, Nomor 12, January 2026, P. 31-34
E-ISSN: 2986-6340
Licenced by CC BY-SA 4.0

DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18065832  

Utilizing Traditional Teaching Methods to Optimize Aqidah Akhlak Learning in Conditions of Limited Resources: A Case Study at MTs Al-Hidayah Cibodas Wanareja

Fitria Yahya1, Irfan Mu’afi2, Mufti Fatikhatus Sakana3, Farida Musyrifah4

Pogram Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Alma Ata Yogyakarta

Email: 241500034@almaata.ac.id1, 241500035@almaata.ac.id2, 241500038@almaata.ac.id3, faridamusyrifah@almaata.ac.id4

Abstract

Traditional methods of teaching faith and morals, such as lectures, memorization, sorogan, bandungan, and repetition, remain the mainstay of Islamic education. Although often associated with being outdated, these methods still play an important role in shaping moral and spiritual values, as well as a basic understanding of faith. This study aims to explain the characteristics of traditional methods, how these methods are applied in the teaching of faith and morals, and to evaluate the advantages, disadvantages, and relevance of these methods in the context of education in the 21st century at MTS Al-hidayah Cibodas Wanareja. As a new educational institution with limited facilities and infrastructure, it faces challenges in adopting digital technology. However, these limitations have actually triggered a strengthening of conventional methods. The research was conducted using a descriptive qualitative approach, where data was collected through observation, interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that traditional methods are still necessary as a basis for the transfer of knowledge from teachers to students, but they need to be balanced with modern learning approaches to meet the needs of today's students. Traditional methods emphasize emotional and spiritual touch (psychology-pedagogy), which is often reduced in screen-based learning. The effectiveness of character education is not determined by the strength of the interaction between educators and students.

Keywords: Traditional methods, learning of faith and morals, limited facilities, relevance of the modern era.

Abstrak

Metode pembelajaran akidah akhlak yang tradisional, seperti ceramah, hafalan, sorogan, bandungan, serta repetisi, tetap menjadi dasar utama dalam pendidikan Islam . Meskipun sering dikaitkan dengan ketinggalan zaman, metode tersebut masih memainkan peran penting dalam membentuk nilai moral, spiritual, serta pemahaman dasar tentang akidah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ciri-ciri metode tradisional, bagaimana metode ini diterapkan dalam pembelajaran akidah akhlak, serta mengevaluasi kelebihan, kekurangan, serta relevansi metode tersebut dalam konteks pendidikan pada era ke-21 di MTS Al-hidayah Cibodas Wanareja. Sebagai Institusi Pendidikan baru dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang menghadapkan pada tantangan dalam mengadopsi teknologi digital, Namun, keterbatasan tersebut justru memicu penguatan metode konvensional, Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif Dimana data dikumpulkan melalui observasi , wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode tradisional tetap diperlukan sebagai dasar dalam proses transfer ilmu oleh guru kepada siswa, namun perlu diimbangi dengan pendekatan pembelajaran modern agar memenuhi kebutuhan peserta didik di masa kini. Metode tradisional mengedepanlan sentuhan emosional dan spiritual (psikologi-pedagogi) yang seringkali tereduksi dalam pembelajaran berbasis layar. Dimana efektivitas Pendidikan karakter tidak ditentukan oleh kekuataminteraksi antara pendidik dan peserta didik.

Kata kunci: Metode tradisional, pembelajaran akidah akhlak, keterbatasan fasilitas, relevansi era modern.

PENDAHULUAN

Pembelajaran Akidah Akhlak merupakan salah satu komponen inti dalam pendidikan Islam karena bertujuan membentuk keyakinan yang kokoh sekaligus membangun karakter moral peserta didik.(Indriani & Wahyudi Diprata, n.d.) Dua aspek ini saling berkaitan erat: akidah menjadi landasan teologis bagi seorang Muslim, sedangkan akhlak merupakan manifestasi nyata dari keyakinan tersebut dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan Islam sangat ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran Akidah Akhlak yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.

Mata Pelajaran akidah akhlak mempunyai beban moral yang besar bukan hanya sekedar transfer pengetahuan, namun juga pembentukan kepribadian. Dalam konteks ini fenomena di MTS Al-Hidayah Cibodas meskipun fasilitas minim, namun proses internalisasi nilai- nilai agama tetap berjalan efektif dengan mengandalkan metode tradisional. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa esensi Pendidikan agama Adalah li al-tarbiyah (untuk Pendidikan jiwa), bukan sekedar teknis instruksional.(Nacikit et al., 2024)

Dalam praktik keseharian, berbagai lembaga pendidikan Islam—mulai dari madrasah, sekolah Islam, hingga pesantren—telah lama memanfaatkan metode tradisional seperti ceramah, hafalan, kisah keteladanan (qashash), musyawarah, mau‘izhah, serta pengulangan (drill).(Zein Damanik et al., 2025) Metode-metode ini berkembang secara organik dalam tradisi keilmuan Islam dan terbukti efektif menjaga kesinambungan transmisi nilai keagamaan secara turun-temurun. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta didik menyerap nilai-nilai tauhid, ibadah, serta moralitas melalui proses internalisasi yang mendalam dan konsisten. Selain itu, kedekatan emosional antara guru dan peserta didik—yang menjadi karakter khas pendidikan Islam klasik—menjadikan metode tradisional tetap relevan di berbagai konteks sosial-budaya.(Ahmad & Stai Al-Azhary, n.d.)

Namun, memasuki era perkembangan teknologi digital dan transformasi paradigma pedagogik abad ke-21, muncul berbagai kritik terhadap metode tradisional yang dianggap terlalu berpusat pada guru (teacher-centered). Pembelajaran modern saat ini menuntut peserta didik untuk aktif, kritis, kolaboratif, serta mampu memecahkan masalah.(Ismaya et al., n.d.) Kondisi ini menimbulkan tantangan baru: bagaimana mempertahankan esensi nilai dan spiritualitas pembelajaran Akidah Akhlak tanpa mengabaikan tuntutan inovasi pedagogis. Di sinilah muncul perdebatan mengenai posisi metode tradisional—apakah harus digantikan sepenuhnya oleh metode modern, atau justru dikombinasikan sehingga melahirkan pendekatan yang lebih adaptif.(Rahmawati et al., 2021)

Meski menghadapi kritik, berbagai penelitian menunjukkan bahwa metode tradisional tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Nilai-nilai moral dan spiritual sering kali lebih efektif disampaikan melalui metode yang bersifat personal, intuitif, dan memiliki otoritas moral yang kuat.(Indriani & Wahyudi Diprata, n.d.) Dengan kata lain, efektivitas metode tradisional tidak hanya terletak pada teknik penyampaian, tetapi juga pada kedalaman makna yang dihadirkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kajian mendalam untuk memahami bagaimana metode tradisional tetap memiliki relevansi dalam pendidikan Islam kontemporer.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini berusaha menjawab empat pertanyaan utama: (1) apa saja bentuk-bentuk metode tradisional dalam pembelajaran Akidah Akhlak, (2) bagaimana karakteristik dan implementasinya dalam lembaga pendidikan Islam, (3) apa saja kelebihan serta kekurangan metode tersebut, dan (4) bagaimana relevansinya dalam konteks pendidikan modern yang menuntut inovasi dan pembelajaran aktif. Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis sekaligus praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran Akidah Akhlak yang integratif dan kontekstual.

METODE

Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti sebagai instrument kunci untuk menangkap fenomena secara utuh dilapangan. Informan meliputi kepala sekolah dan guru akidah akhlak di MTS Al-hidayah Cibodas Wanareja. Data dianalisis secara interaltif mulai dari reduksi sata, penyajian data (display), hingga verifikasi atau penarikan Kesimpulan. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan Teknik. (Fathun et al., n.d.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.       Pengertian dan Karakteristik Metode Tradisional Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Metode tradisional merujuk pada pendekatan pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pusat utama penyampaian informasi. Pola komunikasi berlangsung satu arah, dan kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mentransfer materi. Dalam konteks pendidikan Islam, metode ini identik dengan ceramah, hafalan, sorogan, bandongan, dan keteladanan yang telah mengakar dalam tradisi pesantren.(Zein Damanik et al., 2025)

Ciri utama metode ini meliputi: 1. Berbasis otoritas guru, sehingga peserta didik cenderung bersikap pasif. 2. Penekanan pada penguasaan teks, terutama sumber ajaran Islam seperti Al-Qur’an, hadis, dan kitab klasik. 3. Orientasi pada penanaman nilai, bukan pada pengembangan kemampuan analitis atau kreativitas. 4. Transfer keilmuan bersanad, yang memastikan kontinuitas otentisitas ajaran. 

2.       Bentuk-bentuk Metode Tradisional Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

a.       Metode Ceramah

Metode ceramah digunakan untuk mejelaskan konsep dasar akidah akhlak seperti tauhid, rukun iman islam atau dalil dalil akhlak. Ceramah dapat menyampaikan materi secara luas dan sistematis kepada kelompok besar dalam waktu yang singkat.

b.       Metode Hafalan

Metode hafalan digunakan untuk memperkuat ingatan terhadap ayat al-quran, hadis atau pemahaman dasar akidah akhlak. Praktek metode hafalan ini sudah lama diakui dapat membantu internalisasi nilai keagamaan.

c.       Sorogan dan Bandungan

Kedua metode khas pesantren ini memiliki struktur pembelajaran mendalam. Sorogan memungkinkan interaksi personal murid dan guru, sedangkan bandongan yaitu menempatkan guru sebagai pembaca dan menjelaskan ilmu yang didengar oleh murid.

d.       Repitisi dan Latihan

Repitisi yaitu pengulangan konsep dan latihamn untuk mengevaluasi kemampuan pemahaman murid terhadap materi yang sifatnya kontekstual atau tertulis.

e.       Metode Kisah

Pembiasaan dalam pembelajaran akidah akhlak yaitu berkaitan dengan ibadah dan perilaku akhlak mulia yang dilakukan melalui rutinitas kegiatan keagamaan di sekolah atau madrasah.(Salsabela, 2024)

3.       Kendala Fasilitas Sebagai Pemantik Kreatifitas Pembelajaran Akidah Akhlak

Sebagai madrasah baru yang disahkan pada tahun 2021, MTS Al- hidayah Cibodas memiliki keterbatasan ruang dan alat peraga. Namun, kondisi ini memaksa guru untuk memksimalkan potensi diri sebagai media pembelajaran  utama. Minimnya sitraksi dari perangkat gadget dikelas justru dapat meciptakan atmosfer belajar yang lebih fokus dan kontemplatif. (Nacikit et al., 2024)

4.       Implementasi Metode Tradisional di MTS Al-hidayah Cibodas Wanareja

Beberapa metode tradisional yang konsisten digunakan oleh guru akidah akhlak di MTS Al-hidayah Cibodas diantaranya: Pertama, metode keteladanan (uswah hasanah) yaitu guru memposisikan riri sebagai “kurikulum berjalan”. Dimana era digital ini, keteladanan langsung secara fisik menjadihal langka yang sangat efektif menyentuh psikologi murid. Kedua, metode pembiasaan pembiasaan ( Habitualization) yaitu kurangnya media audio-visual kemudian digantikan dengan ptaktik langsung seperti bersalaman, berbicara dengan adab sopan santu, dan shalat berjamaah yang dipantau ketat secara individu. Ketiga, ceramah dialogis dan storytelling yaitu guru menggunakan narasi kisah nabi maupun sahabat untuk membangkitkan imajinasi murid. Metode ini lebih membekas secara emosional disbanding menonton video tanpa bimbingan atau dijelaskan kembali oleh guru.(Rahmawati et al., 2021)

5.       Relevansi dan Efektifitas Metode Tradisional dalam Konteks Pendidikan Modern

Efektivitas metode tradisional di Mts Al-hidayah Cibodas terletak pada kedekatan batin (bonding) antara guru dan murid. Di saat banyak sekolah yang terjebak pada formalitas administratif digital, Mts Al- hidayah Cibodas justru menguatkan aspek afektif. Penanaman akhlak memerlukan sentuhan hati yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan uatan atau layar monitor. Kehadiran sosok guru sebagai figur moral memberikan dampak psikologis yang lebih stabil bagi murid ditengah gempuran arus informasi yang tidak terfilter zaman modern ini.(Rubini, 2021)

SIMPULAN

Metode tradisional memiliki kontribusi signifikan dalam pembelajaran Akidah Akhlak, terutama dalam hal efisiensi transfer keilmuan dan penguatan fondasi tekstual. Kendati demikian, metode ini masih menyimpan sejumlah keterbatasan, terutama dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kaitannya dengan realitas kehidupan siswa. Keterbatasan sarana prasarana di MTS al- Hidayah Cibodas bukan menjadi penghambat melainkan sebagai titik balik penguat metode pembelajaran tradisional yang substantial. Metode keteladanan, pembiasaan dan ceramah dialogis terbukti tetap efektif bahkan bisa lebih unggul dalam aspek internal nilai karakter di era modern ini. Hal ini membuktikan bahwa kualitas pembelajaan akidah akhlak lebih pada kompetensi kepribadian guru dan interaksi edukatif yang intens antara murid dan guru disbanding sekedar kelengkapan teknologi.

REFERENSI

Ahmad, R., & Stai Al-Azhary, S. (n.d.). Implementasi moderasi beragama dalam pendidikan agama Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 20.

Indriani, T., & Wahyudi Diprata, A. (n.d.). Pengaruh implementasi pembelajaran akidah akhlak dalam pengembangan karakter religius siswa. Jurnal Pendidikan Sosial Nusantara, 1(2). https://doi.org/10.38035/jpsn.v1i2

Ismaya, B., Kurdi, M. S., Sudarwati, N., & Datokarama Palu, U. (n.d.). Permasalahan dan tantangan pendidikan Islam modern di tengah era digitalisasi. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 12(3). https://doi.org/10.30868/ei.v12i03.4472

Nacikit, N., Gaite, T., & Tuharea, J. (2024). Problematika keterbatasan fasilitas pembelajaran di SMP Negeri 36 Buru. JETISH: Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health, 3(2).

Penulis, T., Niam, M. F., Rumahlewang, E., Umiyati, H., Dewi, S. P. N., Atiningsih, S., Haryati, T., Magfiroh, I. S., Anggraini, R. P., Mamengko, S., Fathin, M., Septian, R., Mola, A. A., & Syaifudin, F. W. (n.d.). Metode penelitian kualitatif. www.freepik.com

Rahmawati, R., Supriadi, G. S. F., Pratiwi, P., Riandi, R., & Supriatno, B. (2021). Inovasi pembelajaran metode konvensional dikombinasikan dengan metode PBL. BIODIK, 7(3), 68–72. https://doi.org/10.22437/bio.v7i3.13020

Rubini, R. (2021). Efektivitas pembelajaran aqidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Gunungkidul Yogyakarta. HUMANIKA, 21(1), 83–98. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.32303

Salsabela, E. (2024). Penggunaan metode pembelajaran konvensional dengan game tebak gambar model TGT (Team Games Tournament) dalam evaluasi pembelajaran akidah akhlak kelas IV (materi kalimat thayyibah). Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam, 2(2), 81–99. https://doi.org/10.62070/kaipi.v2i2.83

Zein Damanik, M., Nurmawan, R. H., & Panca Budi Perdagangan, S. (2025). Klasifikasi metode pembelajaran PAI. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam, 2(2).