The Formulation of
Learning Objectives Based on Operational Action Verbs (OAVs)
Muhammad Idham, Habib Rambe, Gusmaneli
Program Studi Pendidikan Agama Islam (H), Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri, Imam Bonjol Padang
Abstrak
Tulisan ini bertujuan itu mendeskripsikan peran KKO dalam
menghubungkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Kajian ini adalah kajian kepustakaan. Hasil kajian ini menemukan bahwa
Kata Kerja Operasional (KKO) memiliki peran yang sangat penting dalam
merumuskan tujuan pembelajaran agar lebih spesifik, terukur, dan dapat diamati.
Dengan adanya KKO, tujuan pembelajaran tidak hanya bersifat abstrak, tetapi
dapat diwujudkan dalam perilaku nyata yang menunjukkan keberhasilan belajar
peserta didik. KKO membantu guru merancang pembelajaran yang terarah, memilih
strategi yang tepat, serta menyiapkan evaluasi yang sesuai dengan indikator
capaian. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala. Guru sering
kali mengalami kesulitan dalam menggunakan format yang benar, cenderung memilih
KKO pada tingkat kognitif rendah, serta kurang memperhatikan ranah afektif dan
psikomotor. Selain itu, keterbatasan pelatihan dan pemahaman tentang prinsip
ABCD (Audience, Behaviour, Condition, Degree) juga menjadi hambatan dalam
merumuskan tujuan secara utuh. Di sisi lain, peran KKO sangat signifikan dalam
menghubungkan tiga aspek utama pembelajaran, yakni perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi. Dalam perencanaan, KKO membantu memperjelas tujuan; dalam
pelaksanaan, ia menjadi pedoman kegiatan belajar; dan dalam evaluasi, KKO
menjadi dasar penyusunan instrumen penilaian yang sesuai. Dengan demikian, KKO
berfungsi sebagai benang merah yang menjaga konsistensi antar tahapan
pembelajaran. Secara keseluruhan, pemahaman dan keterampilan guru dalam
merumuskan tujuan pembelajaran berbasis KKO harus terus ditingkatkan.
Kata
Kunci: Penulisan,
Tujuan Pembelajaran, Kata Kerja
Operasional (KKO)
Abstract
This paper aims to describe the role of Operational
Action Verbs (OAVs) in linking the planning, implementation, and evaluation of
learning. This study employs a literature review approach. The findings
indicate that Operational Action Verbs play a crucial role in formulating
learning objectives to make them more specific, measurable, and observable.
Through the use of OAVs, learning objectives are no longer abstract but can be
translated into concrete behaviors that demonstrate students’ learning achievement.
OAVs assist teachers in designing well-directed learning activities, selecting
appropriate instructional strategies, and preparing evaluations aligned with
achievement indicators. However, several challenges remain in practice.
Teachers often experience difficulties in applying the correct format, tend to
select OAVs at lower cognitive levels, and pay insufficient attention to the
affective and psychomotor domains. In addition, limited training and
understanding of the ABCD principles (Audience, Behavior, Condition, and
Degree) also hinder the formulation of comprehensive learning objectives. On
the other hand, the role of OAVs is highly significant in connecting the three
main aspects of learning: planning, implementation, and evaluation. In the
planning stage, OAVs help clarify objectives; during implementation, they serve
as guidelines for learning activities; and in evaluation, they form the basis
for developing appropriate assessment instruments. Thus, OAVs function as a
common thread that ensures consistency across all stages of learning. Overall,
teachers’ understanding and skills in formulating OAV-based learning objectives
need to be continuously enhanced.
Keywords: Writing, Learning Objectives, Operational Action Verbs (OAVs)
PENDAHULUAN
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses
yang terencana untuk mengarahkan peserta didik mencapai perkembangan optimal,
baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Salah satu aspek yang
sangat penting dalam perencanaan pembelajaran adalah perumusan tujuan
pembelajaran yang jelas dan terukur. Tujuan pembelajaran berfungsi sebagai arah
yang akan dituju dalam suatu kegiatan belajar mengajar, sehingga guru tidak
sekadar menyampaikan materi, tetapi juga memastikan bahwa hasil dari proses
belajar dapat diukur secara konkret. Di sinilah peran Kata Kerja Operasional
(KKO) menjadi krusial. KKO digunakan agar tujuan pembelajaran tidak
bersifat abstrak, melainkan dapat diamati dan dievaluasi. Dengan pemilihan kata
kerja yang tepat, guru dapat merumuskan atihan keberhasilan pembelajaran secara
lebih terukur, sekaligus membantu peserta didik memahami capaian yang
diharapkan.
Permasalahan yang kerap muncul di
lapangan adalah banyak guru yang masih merumuskan tujuan pembelajaran dengan
kata-kata yang terlalu umum dan abstrak, misalnya “memahami”, “mengetahui”,
atau “mengerti”. Kata-kata ini memang penting, namun sulit untuk diukur secara
objektif. Bagaimana cara menilai bahwa seorang siswa sudah “memahami”? Apakah
cukup dengan mendengar penjelasan? Ataukah perlu bukti berupa tulisan atau atihan
nyata? Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih sistematis, yaitu dengan
menggunakan KKO yang bersumber dari taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom
mengklasifikasikan kemampuan belajar ke dalam beberapa ranah, yaitu kognitif,
afektif, dan psikomotor. Dari masing-masing ranah tersebut, diturunkan kata
kerja operasional yang spesifik, misalnya “menyebutkan”, “menjelaskan”,
“menghitung”, “menganalisis”, atau “mendemonstrasikan”. Dengan begitu, guru
tidak lagi bingung menentukan standar keberhasilan siswa. Selain
membantu guru dan siswa, penggunaan KKO dalam tujuan pembelajaran juga memberikan
kontribusi besar terhadap pengembangan kualitas pembelajaran secara
keseluruhan. Pembelajaran yang terukur akan menghasilkan proses evaluasi yang
lebih objektif. Guru dapat mengetahui sejauh mana peserta didik telah mencapai
tujuan, dan bagian mana yang masih perlu ditingkatkan. Dengan begitu, strategi
pembelajaran pun dapat disesuaikan. Misalnya, jika tujuan “siswa mampu
menganalisis struktur teks eksposisi” belum tercapai, guru bisa mengubah metode
mengajarnya, menambah atihan soal, atau memberikan contoh tambahan. Hal ini
menunjukkan bahwa perumusan tujuan dengan KKO bukan hanya sekadar formalitas
administrasi, melainkan bagian dari strategi peningkatan mutu. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penulisan ini
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Mengapa
penulisan tujuan pembelajaran harus menggunakan kata kerja operasional (KKO)?
2.
Apa
saja kendala yang dihadapi guru dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang
sesuai dengan prinsip KKO?
3.
Bagaimana
peran KKO dalam menghubungkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran?.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Defenisi Kata kerja Operasional /KKO
Kata Kerja Operasional (KKO) merupakan
istilah yang sering digunakan dalam dunia pendidikan untuk merujuk pada kata
kerja yang dapat diamati, diukur, dan dievaluasi dalam proses pembelajaran. KKO
berfungsi untuk merumuskan tujuan pembelajaran agar lebih jelas dan terarah,
sehingga guru maupun peserta didik memiliki panduan mengenai capaian yang ingin
dicapai. Dengan KKO, tujuan pembelajaran tidak hanya sekadar wacana atau
harapan, melainkan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. Misalnya, tujuan dengan
kata “menjelaskan”, “menganalisis”, atau “mendemonstrasikan” jauh lebih konkret
dibandingkan kata “memahami” atau “mengerti”. Oleh karena itu, penggunaan KKO
dianggap penting untuk memastikan proses belajar berjalan secara terukur
(Anderson & Krathwohl, 2001: 25) Definisi
KKO juga tidak bisa dilepaskan dari konsep taksonomi Bloom yang menjadi dasar
dalam klasifikasi tujuan pembelajaran. Taksonomi Bloom membagi ranah
pembelajaran menjadi tiga, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap
ranah tersebut diturunkan berbagai kata kerja yang spesifik dan operasional.
Misalnya, pada ranah kognitif digunakan kata kerja seperti “menyebutkan”,
“menjelaskan”, “menganalisis”, hingga “mencipta”. Pada ranah afektif dapat
digunakan kata kerja “menghargai” atau “menginternalisasi”, sedangkan pada
ranah psikomotor digunakan kata kerja seperti “mengoperasikan” atau
“mendemonstrasikan”. Dengan kata lain, KKO adalah bentuk konkret dari kemampuan
yang harus ditunjukkan peserta didik sesuai dengan jenjang kemampuan dalam
taksonomi Bloom (Bloom, 1956: 12).
Dalam konteks pembelajaran, KKO berfungsi
sebagai jembatan antara guru dengan siswa. Guru menggunakan KKO untuk
merumuskan tujuan yang jelas, sementara siswa memahaminya sebagai target
capaian yang harus diraih. Tanpa KKO, tujuan pembelajaran akan menjadi abstrak,
sulit diukur, dan berpotensi menimbulkan kebingungan. Sebagai contoh, tujuan
yang berbunyi “siswa memahami hukum Newton” tidak memberi gambaran yang jelas
tentang indikator keberhasilan. Namun jika tujuan ditulis “siswa dapat
menjelaskan hukum Newton dengan contoh penerapan sehari-hari”, maka
keberhasilan siswa dapat dievaluasi secara objektif. Oleh karena itu, definisi
KKO tidak hanya menekankan pada penggunaan kata kerja, tetapi juga menegaskan
peran penting KKO juga memiliki makna yang erat dengan prinsip SMART
(Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) dalam perencanaan
pendidikan. Kata kerja operasional membuat tujuan pembelajaran menjadi lebih
spesifik dan terukur. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran bisa dirancang
sesuai indikator yang sudah jelas. Hal ini menunjukkan bahwa definisi KKO tidak
hanya berhenti pada istilah teknis, melainkan juga berkaitan dengan perencanaan
strategis dalam pendidikan. Guru yang memahami KKO dengan baik akan lebih mudah
menyusun perangkat pembelajaran, memilih metode yang sesuai, serta menyiapkan
instrumen penilaian yang valid. Dengan begitu, definisi KKO berimplikasi
langsung terhadap kualitas perencanaan dan praktik pembelajaran (Majid, 2014:
102).nya dalam membangun komunikasi yang efektif dalam pembelajaran (Uno, 2016:
44).
Tujuan menggunakan kata
kerja oprasional KKO
Tujuan utama penggunaan kata kerja
operasional (KKO) dalam pembelajaran adalah agar tujuan pembelajaran dapat
dirumuskan dengan jelas, konkret, dan terukur. Tanpa adanya KKO, tujuan
pembelajaran sering kali hanya bersifat abstrak, misalnya menggunakan kata
“memahami” atau “mengerti”, yang sulit diukur dalam proses evaluasi. Dengan
adanya KKO, seperti “menjelaskan”, “menganalisis”, atau “mendemonstrasikan”,
guru dapat memastikan bahwa keberhasilan belajar siswa bisa diamati melalui
perilaku atau hasil kerja nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan Anderson
& Krathwohl (2001: 31) bahwa KKO membantu guru mengubah kompetensi yang
diharap Penggunaan
KKO juga bertujuan untuk membantu guru dalam menyusun perangkat pembelajaran
yang terintegrasi. Ketika tujuan sudah jelas dengan KKO, maka metode, media,
dan strategi pembelajaran dapat dipilih secara lebih tepat. Misalnya, jika
tujuan berbunyi “siswa dapat membandingkan dua jenis energi terbarukan”, maka
strategi pembelajaran berbasis diskusi atau studi kasus lebih relevan daripada
sekadar ceramah. Dengan demikian, KKO berfungsi sebagai landasan bagi
perencanaan pembelajaran yang efektif. Menurut Uno (2016: 52), perumusan tujuan
pembelajaran dengan KKO memungkinkan guru merancang kegiatan belajar yang
sesuai dengan capaian yang ditargetkan, sehingga proses pembelajaran menjadi
lebih terarah dan sistematis.
Selain bagi guru, penggunaan KKO juga
bertujuan memudahkan siswa memahami arah dan target pembelajaran. Ketika siswa
mengetahui secara spesifik apa yang diharapkan dari mereka, motivasi belajar
meningkat karena mereka memiliki gambaran yang jelas tentang hasil yang harus
dicapai. Misalnya, tujuan “siswa dapat menyusun teks argumentasi dengan
struktur yang tepat” akan lebih mudah dipahami siswa dibanding tujuan abstrak
seperti “siswa memahami teks argumentasi”. Sanjaya (2013: 61) menyatakan bahwa
KKO membantu membangun komunikasi yang lebih efektif antara guru dan siswa,
karena keduanya memiliki kesamaan persepsi mengenai capaian yang ingin
diwujudkan dalam pembelajaran. KKO juga memiliki tujuan penting dalam
penyusunan evaluasi pembelajaran. Evaluasi yang baik harus sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan KKO, instrumen penilaian dapat
dirancang secara lebih akurat. Misalnya, jika tujuan berbunyi “siswa mampu
menganalisis faktor penyebab banjir”, maka evaluasi dapat berupa soal esai atau
studi kasus, bukan sekadar soal pilihan ganda. Hal ini menunjukkan adanya
keterkaitan langsung antara tujuan, proses, dan penilaian pembelajaran. Menurut
Majid (2014: 109), penggunaan KKO dalam merumuskan tujuan memastikan
keselarasan antara indikator pembelajaran dengan instrumen evaluasi yang
digunakan guru di kelas.
Kendala yang dihadapi
dalam merumuskan tujuan pemblajaran seusai KKO
Salah satu tantangan utama guru adalah
ketidaktahuan dalam menerapkan aspek ABCD (Audience, Behaviour, Condition,
Degree) dalam perumusan tujuan pembelajaran. Studi A. Syahputra (2022)
mengungkap bahwa banyak guru belum mahir menempatkan unsur condition dan
degree, sehingga tujuan menjadi terlalu umum atau tidak terukur secara
konkret. Bahkan ada guru yang mencantumkan metode pembelajaran di dalam
kondisi, yang semestinya tidak perlu disebutkan dalam tujuan. Hal ini membuat
tujuan tidak sesuai format dan sulit dievaluasi secara obyektif Kendala
berikutnya adalah dominannya penggunaan kata kerja operasional pada tingkatan
kognitif rendah (C1–C3), seperti menyebutkan, memahami, mengaplikasikan.
Peneliti dari Undana (2024) menyebutkan bahwa 83,33% guru masih menggunakan
level rendah, dan jarang atau tidak sama sekali menggunakan KKO dari tahap
lebih tinggi seperti C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), hingga
C6 (mencipta
Guru sering kali kesulitan dalam
menyesuaikan KKO dengan karakteristik peserta didik, potensi sekolah, dan
kompetensi dasar yang harus dicapai. Penelitian R. Rasyd dkk. (2021) mengungkap
bahwa guru tidak hanya kesulitan memilih kata kerja operasional, tetapi juga
dalam menyelaraskan KD dengan indikator, memilih kegiatan pembelajaran, serta
menentukan jenis penilaian yang sesuai. Banyak guru masih meniru indikator dari
RPP sebelumnya tanpa analisis mendalam terhadap kebutuhan siswa. Menurut
penelitian IAK Wijayanti et al. (sekitar 3,5 tahun lalu), banyak tujuan
pembelajaran yang sudah mencakup audience dan behavior, tetapi
gagal mencantumkan aspek degree tingkat keberhasilan yang
diharapkan—sehingga capaian belajar tidak jelas. Selain itu, tujuan sering
hanya fokus pada ranah kognitif (pengetahuan), tanpa mencakup ranah afektif
atau psikomotor, padahal kurikulum menekankan keselarasan ketiga ranah tersebut
Peran KKO dalam
menghubungkan perencanaan,pelaksanaan ,dan evaluasi
Peran KKO dalam perencanaan pembelajaran
sangat krusial karena ia menjadi landasan awal untuk merumuskan tujuan yang
spesifik, terukur, dan sesuai dengan kompetensi dasar. Guru yang menggunakan
KKO dapat menurunkan kompetensi inti menjadi indikator pembelajaran yang
operasional. Dengan indikator yang jelas, perangkat pembelajaran seperti RPP
atau modul dapat dirancang secara sistematis. Menurut Majid (2019: 47), KKO
menjadikan tujuan pembelajaran lebih konkret sehingga memudahkan guru dalam
menyiapkan strategi, metode, serta media yang sesuai. Tanpa KKO, perencanaan
akan bersifat abstrak dan berpotensi menyulitkan guru dalam memilih
langkah-langkah pembelajaran yang relevan.
Dalam tahap pelaksanaan, KKO berfungsi
sebagai pedoman bagi guru dan siswa untuk memahami capaian yang harus diraih.
Guru dapat mengorganisasi kegiatan belajar berdasarkan kata kerja operasional
yang dipilih, misalnya menyebutkan, menjelaskan, atau menganalisis.
Hal ini membuat pembelajaran berjalan lebih terarah dan interaktif. Misalnya,
jika tujuan pembelajaran berbunyi “siswa mampu menganalisis hubungan
sebab-akibat dalam peristiwa sejarah”, maka kegiatan belajar akan diarahkan
pada diskusi analitis, bukan sekadar hafalan. Uno (2019: 65) menegaskan bahwa
penggunaan KKO dalam pelaksanaan membuat interaksi pembelajaran lebih bermakna,
karena siswa didorong untuk menunjukkan kemampuan nyata sesuai tuntutan tujuan
KKO juga berperan dalam menciptakan
keterkaitan antara perencanaan dan evaluasi. Tujuan yang dirumuskan dengan KKO
menjadi dasar dalam menentukan bentuk penilaian yang sesuai. Misalnya, tujuan
dengan kata kerja menjelaskan lebih tepat diukur melalui tes uraian,
sedangkan kata kerja mendemonstrasikan lebih sesuai dengan penilaian
praktik. Sanjaya (2016: 89) menyebutkan bahwa penilaian hanya akan valid jika
dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Artinya, KKO
bukan hanya membantu merumuskan tujuan, tetapi juga menjembatani hubungan logis
antara rencana pembelajaran dan instrumen evaluasi.
Selain itu, KKO memastikan adanya
konsistensi dalam keseluruhan siklus pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak
ada artinya jika tidak diikuti oleh pelaksanaan dan evaluasi yang relevan.
Dengan KKO, guru dapat memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan di kelas
sejalan dengan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara menilainya. Majid
(2019: 53) menekankan bahwa KKO berfungsi sebagai “benang merah” yang
menghubungkan tiga tahapan penting: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Dengan begitu, tidak ada kesenjangan antara apa yang dirancang dengan apa yang
diajarkan dan diukur.
SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa Kata Kerja Operasional (KKO) memiliki peran yang sangat
penting dalam merumuskan tujuan pembelajaran agar lebih spesifik, terukur, dan
dapat diamati. Dengan adanya KKO, tujuan pembelajaran tidak hanya bersifat
abstrak, tetapi dapat diwujudkan dalam perilaku nyata yang menunjukkan
keberhasilan belajar peserta didik. KKO membantu guru merancang pembelajaran
yang terarah, memilih strategi yang tepat, serta menyiapkan evaluasi yang
sesuai dengan indikator capaian. Namun, dalam praktiknya masih terdapat
berbagai kendala. Guru sering kali mengalami kesulitan dalam menggunakan format
yang benar, cenderung memilih KKO pada tingkat kognitif rendah, serta kurang
memperhatikan ranah afektif dan psikomotor. Selain itu, keterbatasan pelatihan
dan pemahaman tentang prinsip ABCD (Audience, Behaviour, Condition, Degree)
juga menjadi hambatan dalam merumuskan tujuan secara utuh.
Di sisi lain, peran KKO sangat signifikan
dalam menghubungkan tiga aspek utama pembelajaran, yakni perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam perencanaan, KKO membantu memperjelas tujuan;
dalam pelaksanaan, ia menjadi pedoman kegiatan belajar; dan dalam evaluasi, KKO
menjadi dasar penyusunan instrumen penilaian yang sesuai. Dengan demikian, KKO
berfungsi sebagai benang merah yang menjaga konsistensi antar tahapan
pembelajaran. Secara keseluruhan, pemahaman dan keterampilan guru dalam
merumuskan tujuan pembelajaran berbasis KKO harus terus ditingkatkan. Hal ini
dapat dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan praktik berkelanjutan agar
pembelajaran menjadi lebih efektif, objektif, serta relevan dengan kebutuhan
peserta didik dan tuntutan zaman. Dengan penerapan KKO yang baik, pembelajaran
tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan yang
sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
REFERENSI
Anderson, L. W., & Krathwohl,
D. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision
of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.
Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of
Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. New York:
David McKay Company.
Majid, A. (2014). Perencanaan
Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Majid, A. (2019). Perencanaan
Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Majid, A. (2019). Perencanaan Pembelajaran:
Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rasyd, A., et al. (2021). Analisis
Kesulitan Guru dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran di SDN Bottopenno. Jurnal
Pengembangan Pendidikan Dasar. ResearchGate.
Sanjaya, W. (2016). Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Sanjaya, W. (2016). Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Syahputra, A. (2022). Meningkatkan
Kemampuan Guru dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran. Ability: Journal of
Education and Social Analysis. Pusdikra Publishing.
Universitas Nusa Cendana (Undana).
(2024). Analisis Kesulitan Guru SMA dalam Membuat Indikator Tujuan
Pembelajaran. Jurnal Spektro. E-Jurnal Undana.
Wijayanti, et al. (2021). Tujuan
Pembelajaran dan Penilaian. E-Jurnal Undiksha. Diakses dari
https://ejournal.undiksha.ac.id.
Wijayanti, N., et al. (2020).
Tujuan Pembelajaran dan Penilaian. E-Jurnal Universitas Pendidikan Ganesha.
No comments
Post a Comment