Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Volume 3, Nomor 12, January 2026, P. 67-74
E-ISSN: 2986-6340
Licenced by CC BY-SA 4.0
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18073008 

Reconstruction of the Matn Criticism Method Based on Analysis of Variations in Transmission: Formulating a New Approach in Hadith Studies

Nurfaisah, Tasmin Tangngareng
UIN Alauddin Makassar

Abstrak

Kajian kritik matan dalam tradisi ilmu hadis biasanya dilakukan melalui penilaian aspek bahasa, rasionalitas, serta relevansinya dengan prinsip umum ajaran Islam. Pendekatan tersebut kerap bersifat interpretatif dan belum membentuk pola analisis yang sistematis karena tidak berbasis pada keseluruhan data riwayat yang ada. Penelitian ini bertujuan menawarkan rekonstruksi metodologis kritik matan dengan menggunakan analisis variasi riwayat sebagai model baru dalam menguji validitas teks hadis. Penelitian ditempuh melalui kajian pustaka terhadap referensi klasik dan modern, kemudian dilanjutkan dengan perumusan metode melalui tahapan pengumpulan variasi riwayat, pemetaan perbedaan redaksi, kajian konteks penyampaian, hingga penarikan kesimpulan berdasarkan konsistensinya. Dengan cara ini, pemeriksaan matan dilakukan secara komparatif, sehingga potensi kejanggalan makna dapat dikenali secara lebih objektif melalui perbandingan data, bukan hanya melalui pendekatan teori. Temuan penelitian menunjukkan bahwa analisis variasi riwayat memiliki tiga kontribusi penting: pertama, menekan dominasi subjektivitas dalam kritik matan; kedua, membantu mengidentifikasi riwayat yang mengalami perubahan atau penambahan redaksi; dan ketiga, memperkuat penilaian makna melalui bukti tekstual antar riwayat.

Kata kunci: kritik matan, variasi riwayat, metodologi hadis, rekonstruksi, analisis komparatif.

Abstract

Matn criticism in the tradition of Hadith studies is commonly conducted through the assessment of linguistic aspects, rationality, and its relevance to the general principles of Islamic teachings. Such approaches are often interpretative in nature and have not yet formed a systematic analytical framework because they are not based on the entirety of available transmission data. This study aims to propose a methodological reconstruction of matn criticism by employing the analysis of variations in transmission as a new model for examining the validity of Hadith texts. The research is conducted through a literature review of classical and modern references, followed by methodological formulation through stages that include collecting transmission variants, mapping textual differences, examining the context of transmission, and drawing conclusions based on textual consistency. Through this approach, matn examination is carried out comparatively, enabling potential semantic anomalies to be identified more objectively through data comparison rather than solely through theoretical interpretation. The findings indicate that the analysis of transmission variations offers three significant contributions: first, reducing the dominance of subjectivity in matn criticism; second, assisting in the identification of narrations that have undergone textual modification or addition; and third, strengthening semantic evaluation through inter-textual evidence across narrations.

Keywords: matn criticism, transmission variations, hadith methodology, reconstruction, comparative analysis.

PENDAHULUAN

Hadis sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an memegang peran sentral dalam pembentukan hukum, akhlak, dan tradisi keagamaan umat Islam. Namun, dalam praktik keilmuan, kritik terhadap hadis lebih banyak dipusatkan pada aspek sanad, sementara kritik matan kerap diposisikan sekadar pelengkap dan dilakukan secara normatif: apakah sebuah matan bertentangan dengan al-Qur’an, akal sehat, atau fakta sejarah. Upaya perumusan metodologi kritik matan yang lebih sistematis memang telah dilakukan oleh sejumlah sarjana kontemporer, tetapi umumnya masih berfokus pada rumusan kriteria, belum pada langkah operasional yang menjadikan data riwayat sebagai basis utama analisis.[1]

Dalam dua dekade terakhir, studi hadis di Indonesia mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi tema, pendekatan, maupun orientasi riset. Peta kajian hadis kontemporer menunjukkan pergeseran dari kajian normatif-doktrinal menuju pendekatan yang lebih interdisipliner dan metodologis, seperti kritik matan, studi living hadis, hermeneutika hadis, hingga integrasi ilmu-ilmu sosial dalam pemahaman hadis.[2] Perkembangan ini membuka ruang baru bagi penguatan metodologi kritik matan, termasuk kemungkinan merumuskan model kritik matan yang bertumpu pada analisis variasi riwayat (ikhtilāf al-riwāyāt) secara lebih terstruktur.

Sejumlah kajian mutakhir secara eksplisit membahas metode kritik matan. Akbari, misalnya, memetakan metode kritik matan perspektif ulama hadis dengan menekankan pentingnya membandingkan hadis dengan al-Qur’an, hadis lain, ilmu pengetahuan, dan juga dengan beberapa riwayat hadis yang memiliki tema sama.[3] Kajian lain oleh Rusdi menyoroti tawaran Masrukhin Mukhsin dalam pengembangan teori kritik matan sebagai rekomendasi ilmiah bagi peneliti metodologi hadis, tetapi fokusnya masih pada penguatan kerangka teoritis, belum sampai pada formulasi teknis berbasis variasi riwayat yang mudah direplikasi dalam riset terapan.[4]

Di sisi lain, Madiu melalui telaah komparatif terhadap pemikiran Salah al-Din al-Idlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail telah menggarisbawahi urgensi kritik matan yang menggabungkan pendekatan sanad dan matan secara terpadu.[5] Sementara itu, Wazna memperkenalkan metode kontemporer dalam menggali otentisitas hadis melalui analisis isnād cum matn yang memanfaatkan penanggalan riwayat dan stratifikasi sanad untuk menguji klaim skeptisisme terhadap hadis.[6] Kontribusi-kontribusi ini memperkaya wacana metode kritik hadis, tetapi fokus utamanya masih seputar integrasi data sanad dan matan, belum mengelaborasi secara spesifik bagaimana variasi riwayat digunakan sebagai poros utama kritik matan.

Dalam ranah metodologi pemahaman hadis, Rahman menegaskan bahwa keragaman teks, variasi riwayat, dan perbedaan konteks sosial-historis antara masa Nabi dan masa kini merupakan tantangan besar yang menuntut pembaruan metodologis.[7] Beberapa penelitian tematik hadis mulai menjadikan variasi riwayat sebagai salah satu alat analisis misalnya dalam penelitian semantik terhadap hadis-hadis fitan yang memadukan kajian leksikal, sintaksis, dan pragmatik sambil memperhatikan perbedaan redaksi antar riwayat namun penggunaan variasi riwayat di sana lebih bersifat ilustratif, belum dirumuskan sebagai satu paket metode kritik matan yang utuh.

Dari sisi praktik akademik dan pengabdian kepada masyarakat, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa banyak dosen, guru agama, dan dai masih mengandalkan rasa keagamaan dan argumen normatif ketika berhadapan dengan hadis-hadis problematik, tanpa dibekali perangkat teknis untuk menelusuri dan menganalisis variasi riwayat secara sistematis. Pelatihan atau workshop yang diselenggarakan lembaga pendidikan dan ormas Islam umumnya berfokus pada pengenalan dasar-dasar ilmu musthalah dan klasifikasi hadis, belum menyentuh rekonstruksi metode kritik matan berbasis variasi riwayat sebagai keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam merespons isu-isu keagamaan kontemporer di masyarakat.

Bertolak dari konteks tersebut, terdapat dua permasalahan utama. Pertama, secara epistemologis, kritik matan masih didominasi oleh pendekatan normatif yang menempatkan variasi riwayat sekadar sebagai data pelengkap, bukan sebagai titik tolak utama analisis. Kedua, secara praktis, belum tersedia model kritik matan yang operasional, sistematis, dan terukur yang dapat dijadikan panduan baik dalam penelitian akademik maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti pelatihan literasi hadis bagi guru, dai, dan komunitas muslim. Kesenjangan ini memperlihatkan perlunya formulasi ulang metode kritik matan yang bertumpu pada analisis variasi riwayat, sehingga proses verifikasi makna hadis dapat dilakukan secara lebih objektif dan berbasis data teks yang komprehensif.

Tujuan kajian ini adalah merekonstruksi metode kritik matan berbasis analisis variasi riwayat sebagai pendekatan baru dalam ilmu hadis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya diskursus metodologi kritik matan dan melengkapi tawaran-tawaran sebelumnya yang masih berpusat pada kriteria normatif. Secara praktis, formulasi metode ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi kegiatan pengabdian kepada masyarakat di bidang studi hadis, khususnya dalam bentuk pelatihan dan pendampingan peningkatan literasi kritik matan bagi para pendidik, pengkaji, dan praktisi dakwah. Dengan demikian, kajian ini menempati posisi state of the art yang mengisi celah di antara studi-studi terdahulu yang telah mengulas kriteria dan integrasi keilmuan dalam kritik matan dengan menghadirkan model operasional yang menjadikan variasi riwayat sebagai fondasi utama analisis.

Berbeda dengan pendekatan kritik matan klasik yang umumnya memposisikan variasi riwayat sebagai instrumen pelengkap dalam upaya harmonisasi makna (jam‘ wa al-taufīq)[8], penelitian ini menempatkan variasi riwayat sebagai titik tolak utama analisis metodologis. Kritik matan tidak lagi dimulai dari penilaian normatif eksternal, tetapi dari pemetaan relasi internal antarredaksi hadis secara sistematis dan komparatif. Dengan cara ini, variasi riwayat berfungsi bukan sekadar sebagai bahan ilustratif, melainkan sebagai basis data tekstual yang menentukan arah evaluasi makna hadis secara keseluruhan. Pendekatan ini menawarkan pergeseran epistemologis dalam kritik matan, dari pola evaluatif normatif menuju pola analitis berbasis struktur dan konsistensi teks riwayat[9].

METODE  

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan (library research) dengan fokus pada analisis teks hadis. Metode yang diterapkan adalah analisis kritik matan hadis berbasis variasi riwayat, yaitu dengan menghimpun seluruh redaksi hadis yang memiliki kesamaan tema dari berbagai kitab hadis otoritatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan inventarisasi variasi riwayat hadis dari kitab-kitab hadis primer serta literatur syarah dan kajian metodologi hadis kontemporer.

Teknik analisis data dilakukan secara komparatif-tekstual, meliputi pemetaan perbedaan lafaz (ikhtilāf al-lafẓ), identifikasi bentuk ziyādah dan taqyīd, serta kajian hubungan antara riwayat yang bersifat umum (mujmal) dan riwayat yang bersifat penjelas (mufassar). Analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi makna antarriwayat sehingga makna hadis dapat dipahami secara utuh dan proporsional, tanpa bertumpu pada satu redaksi tunggal[10].

Adapun alat penelitian yang digunakan meliputi kitab-kitab hadis primer, kitab syarah hadis, indeks dan perangkat takhrij hadis, serta artikel jurnal ilmiah yang membahas kritik matan dan analisis variasi riwayat. Seluruh alat tersebut digunakan untuk mendukung ketepatan penelusuran data, akurasi perbandingan redaksi, dan objektivitas penilaian makna hadis

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kritik Matan dalam Tradisi Ilmu Hadis dan Keterbatasan Pendekatan Normatif

Dalam tradisi ilmu hadis, kritik terhadap matan telah lama diketahui berjalan secara paralel dengan kritik sanad, tetapi secara praktik mendapatkan perhatian yang lebih sedikit dibandingkan kritik sanad. Hal ini disebabkan dominasi orientasi metodologis terhadap rantai periwayatan (isnād) karena aspek ini lebih terukur secara biografis dan sanad, sedangkan kritik matan sering ditempatkan pada level penilaian eksternal terhadap konten hadis berdasarkan kriteria tertentu. Menurut penelitian kontemporer, kritik matan umumnya menilai kesesuaian teks hadis terhadap prinsip-prinsip syari’ah, konsistensi dengan Al-Qur’an, serta akal dan fakta sejarah sebagai bagian dari upaya memastikan tidak adanya kontradiksi substansial dalam makna teks.[11]

Pendekatan normatif tersebut meskipun memiliki kontribusi dalam mengeliminasi hadis yang bertentangan secara eksplisit dengan nash yang lebih kuat, tetap memiliki keterbatasan ketika tidak ditopang oleh kajian komparatif terhadap variasi riwayat yang ada. Kritik matan yang hanya terpaku pada tes eksternal cenderung menghasilkan evaluasi yang parsial, karena tidak mempertimbangkan dinamika redaksi serta perbedaan konteks periwayatan yang dapat memberikan gambaran komprehensif terhadap makna matan tersebut. Analisis historis menunjukkan bahwa memang budaya kritik baik sanad maupun matan telah dipraktikkan sejak masa Nabi saw dan para sahabat, tetapi perkembangan metodologinya masih didominasi oleh pendekatan normatif hingga era modern.[12]

Kesenjangan ini mendorong kebutuhan terhadap perumusan prosedur operasional yang lebih sistematis dalam kritik matan, yang tidak lagi hanya mengandalkan parameter eksternal, tetapi juga memanfaatkan variasi riwayat sebagai basis data teks. Sebagaimana dicatat dalam kajian metodologi hadis mutakhir, kritik matan prima facie bergantung pada pemetaan variasi dan konfrontasi redaksi antar riwayat untuk menilai konsistensi makna, bukan semata menilai kesesuaian terhadap kriteria normatif semata. Penelitian kontemporer menegaskan bahwa pengembangan metodologi kritik matan yang objektif dan terukur merupakan bagian penting dalam studi hadis modern.[13]

Rekonstruksi Metode Kritik Matan Berbasis Analisis Variasi Riwayat

Rekonstruksi metode kritik matan dalam penelitian ini didasarkan pada kebutuhan akan pendekatan yang tidak lagi bergantung pada penilaian normatif semata, melainkan berangkat dari analisis data tekstual hadis secara menyeluruh. Metode yang ditawarkan disusun melalui tahapan yang jelas, meliputi penghimpunan seluruh variasi riwayat, pengelompokan dan pemetaan perbedaan redaksi, analisis konteks penyampaian hadis, serta penilaian konsistensi makna antarriwayat. Dengan kerangka ini, variasi riwayat tidak diposisikan sebagai data pelengkap, tetapi dijadikan fondasi utama dalam proses kritik matan sehingga penilaian makna hadis bersandar pada perbandingan teks yang komprehensif dan sistematis.[14]

Tahap inventarisasi dan pemetaan variasi riwayat memungkinkan peneliti mengidentifikasi stabilitas dan perubahan redaksi yang terjadi dalam proses periwayatan. Perbedaan lafaz, struktur kalimat, maupun tambahan redaksi dianalisis tidak hanya sebagai fenomena tekstual, tetapi juga sebagai petunjuk untuk memahami dinamika transmisi hadis. Selanjutnya, kajian konteks penyampaian hadis berfungsi menjelaskan latar munculnya variasi tersebut, sehingga setiap perbedaan redaksi dapat ditempatkan dalam kerangka pemaknaan yang proporsional dan berbasis data riwayat yang ada.[15]

Dalam perkembangan metodologi ilmu hadis kontemporer, kritik matan menunjukkan kecenderungan untuk bergerak menuju pendekatan yang lebih analitis dan berbasis teks. Sejumlah kajian menegaskan bahwa kritik matan modern menuntut penggunaan analisis komparatif terhadap matan hadis, termasuk kajian linguistik dan historis, guna menilai konsistensi makna secara internal antar riwayat. Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran penting dari dominasi uji normatif menuju model kritik matan yang lebih terukur, objektif, dan dapat direplikasi dalam penelitian hadis tematik maupun metodologis.[16]

Penerapan Analisis Variasi Riwayat dalam Kritik Matan Hadis

Penerapan analisis variasi riwayat dalam kritik matan hadis dapat dilihat melalui studi terhadap redaksi-redaksi berbeda dari suatu hadis yang sama, misalnya pada teks-teks yang menunjukkan bentuk ikhtilāf al-lafẓ (variasi lafaz). Penelitian yang mengkaji variasi redaksi hadis dengan pendekatan riwayat bil ma‘na menunjukkan bagaimana perbedaan lafaz dapat muncul meskipun makna dasarnya masih utuh, dan bagaimana variasi tersebut dipetakan untuk memahami struktur matan hadis secara lebih luas.[17] Dengan memposisikan variasi riwayat sebagai data utama dalam kritik matan, peneliti dapat menghimpun seluruh redaksi yang ada serta mengelompokkan bentuk-bentuk perubahan seperti ziyādah (penambahan lafaz) atau taqyīd (pembatasan makna) untuk dianalisis secara tekstual.

Tahapan berikutnya adalah melakukan analisis komparatif terhadap variasi-variasi redaksi tersebut guna menilai hubungan antara riwayat yang bersifat umum (mujmal) dan yang memberikan keterangan tambahan (mufassar). Dalam kajian periwayatan bil ma‘na, variasi lafaz yang tetap mempertahankan makna dasar tetapi berbeda dalam haykal redaksi merupakan fenomena yang sering diobservasi, sehingga peneliti perlu menilai apakah variasi tersebut saling melengkapi atau justru menghasilkan ambiguitas makna. Studi seperti ini membantu melihat bagaimana variasi riwayat dapat dipahami bukan sebagai bukti kontradiksi, tetapi sebagai pola tekstual yang memperkaya pemaknaan hadis secara internal.[18]

Selanjutnya, evaluasi konsistensi makna antar riwayat menjadi langkah kunci dalam kritik matan yang berbasis variasi riwayat. Prosedur ini tidak hanya menilai satu redaksi secara terpisah, tetapi membandingkan seluruh variasi untuk melihat stabilitas pesan hadis tersebut secara kolektif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa variasi riwayat berperan sebagai alat untuk menguji validitas makna hadis secara internal antar teks, sehingga kritik matan menjadi lebih objektif dan terukur. Konsep ini diperkuat oleh kajian metodologi kritik matan kontemporer yang melihat perlunya prosedur komparatif tekstual sebagai dasar penilaian makna, bukan hanya uji normatif terhadap satu redaksi teks.[19]

Penerapan analisis variasi riwayat dalam kritik matan dapat dilihat melalui contoh hadis tentang adzab mayit berikut ini.

1. Riwayat dengan redaksi umum (mujmal)

Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim diriwayatkan hadis sebagai berikut:

إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya mayit benar-benar disiksa karena tangisan keluarganya atas dirinya.[20]

Redaksi ini bersifat umum (mujmal) karena tidak memberikan keterangan tambahan mengenai sebab adzab tersebut. Jika dipahami secara terpisah, hadis ini berpotensi menimbulkan pemahaman bahwa seseorang menanggung akibat perbuatan orang lain, yang tampak bertentangan dengan prinsip tanggung jawab individual.

2. Riwayat dengan redaksi penjelas (mufassar)

Namun, dalam riwayat lain ditemukan redaksi yang lebih rinci, antara lain:

إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ[21]

dan dalam riwayat lain:

إِنَّمَا يُعَذَّبُ الْمَيِّتُ إِذَا أَوْصَى بِالنِّيَاحَةِ أَوْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ سُنَّتِهِ فِي حَيَاتِهِ

Riwayat-riwayat ini menunjukkan adanya ziyādah al-lafẓ yang bersifat penjelas, yaitu bahwa adzab tersebut berkaitan dengan praktik niyāḥah (meratap berlebihan) yang diperintahkan, dibenarkan, atau menjadi kebiasaan mayit semasa hidupnya[22].

3. Analisis variasi riwayat dan konsistensi makna

Melalui perbandingan antar riwayat, terlihat bahwa hadis yang bersifat umum (mujmal) harus dipahami dalam cahaya hadis yang bersifat penjelas (mufassar). Variasi redaksi di sini tidak menunjukkan pertentangan makna, melainkan hubungan taqyīd dan tafsīr, sehingga makna hadis menjadi konsisten: adzab tidak disebabkan oleh tangisan itu sendiri, tetapi oleh sikap dan kebiasaan mayit yang membiarkan atau mendorong praktik meratap yang dilarang.

Contoh ini memperlihatkan bahwa analisis variasi riwayat memungkinkan kritik matan dilakukan secara lebih objektif dan berbasis data tekstual yang komprehensif. Dengan menghimpun seluruh redaksi yang relevan, penilaian makna hadis tidak lagi bergantung pada satu teks tunggal, melainkan pada relasi makna antar riwayat yang saling menjelaskan.

Pola analisis yang sama dapat diterapkan pada hadis-hadis lain yang memiliki variasi redaksi signifikan, baik dalam tema hukum, sosial, maupun teologis. Hadis tentang kepemimpinan Quraisy, larangan perempuan bepergian tanpa mahram, serta hadis-hadis fitan, misalnya, menunjukkan keberagaman redaksi yang menuntut analisis komparatif antarriwayat. Dengan demikian, analisis variasi riwayat tidak bersifat kasuistik, tetapi memiliki daya aplikatif lintas tema dan konteks dalam kajian hadis tematik maupun metodologis[23].

D. Implikasi Metodologis Analisis Variasi Riwayat terhadap Kritik Matan

Penggunaan analisis variasi riwayat sebagai basis kritik matan memberikan dampak yang signifikan pada cara pemaknaan teks hadis dalam kajian ilmu hadis kontemporer. Secara epistemologis, pendekatan ini menggeser fokus dari evaluasi matan yang semata bersandar pada kriteria eksternal (normatif) ke arah analisis internal yang memperhatikan hubungan antar riwayat berdasarkan data tekstual yang ada. Dengan menginventarisasi berbagai redaksi hadis yang muncul melalui pola periwayatan bil ma‘na, penelitian kontemporer menemukan bahwa variasi lafaz bukan sekadar variasi kebahasaan, tetapi dapat menjadi alat penting untuk mengevaluasi stabilitas makna matan secara tekstual dan kontekstual. Semantik dan pragmatik terhadap variasi redaksi verbal, misalnya dalam kajian perubahan bentuk kata kerja dalam teks hadis, menunjukkan bahwa variasi tersebut dapat memperkaya pemaknaan komunikasi naratif dalam hadis sehingga pemahaman matan menjadi lebih kontekstual dan tidak fragmentaris.[24]

Dalam praktiknya, pendekatan analisis variasi riwayat mengurangi subjektivitas penafsir karena evaluasi makna hadis dilakukan melalui perbandingan antar riwayat yang konkret, bukan sekadar interpretasi tunggal terhadap satu versi teks. Prosedur ini membantu peneliti membedakan antara variasi yang bersifat ziyādah (penambahan lafaz) atau taqyīd (pembatasan makna) dengan variasi yang mengindikasikan kemungkinan pergeseran makna yang signifikan. Hal ini relevan khususnya ketika menghadapi kasus hadis yang tampak problematik jika hanya dilihat dari satu redaksi saja, tetapi menjadi lebih proporsional ketika dikaji relatif terhadap variasi riwayat lain yang saling melengkapi atau saling menguatkan.[25]

Dari sisi penerapan metodologis, implikasi analisis variasi riwayat membuka peluang luas bagi penelitian hadis tematik dan pengabdian kepada masyarakat, seperti pelatihan literasi kritik matan untuk pendidik agama dan dai. Pendekatan ini menyediakan perangkat konseptual dan operasional yang memungkinkan para praktisi non-ahli untuk melakukan kajian yang lebih objektif dan berbasis data teks, sehingga respons terhadap isu kontemporer terkait hadis dapat dilakukan secara ilmiah, terukur, dan kontekstual. Selain itu, integrasi analisis semantik dan pragmatik terhadap variasi redaksi dapat memperkaya kajian disiplin ilmu lain, seperti linguistik, hermeneutika teks, dan ilmu sosial keagamaan dalam studi hadis.[26]

SIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa analisis variasi riwayat dapat direkonstruksi sebagai metode kritik matan yang sistematis dan operasional dalam kajian hadis. Dengan menjadikan perbandingan antar riwayat sebagai basis utama analisis, kritik matan tidak lagi bergantung pada penilaian normatif semata, tetapi berbasis data tekstual yang komprehensif. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi konsistensi makna, fungsi ziyādah dan taqyīd, serta relasi antar redaksi hadis secara objektif. Secara metodologis, model ini memperkaya khazanah kritik matan kontemporer dan relevan diterapkan baik dalam penelitian akademik maupun dalam kegiatan literasi hadis di masyarakat.

Dengan demikian, analisis variasi riwayat tidak hanya berfungsi sebagai teknik bantu dalam kritik matan, tetapi dapat diposisikan sebagai paradigma metodologis alternatif dalam studi hadis kontemporer. Pendekatan ini menegaskan bahwa validitas makna hadis lebih tepat diuji melalui relasi dan konsistensi antarriwayat daripada melalui penilaian normatif terhadap satu redaksi tunggal. Konsekuensinya, kritik matan berbasis variasi riwayat berpotensi menjadi model analisis yang lebih objektif, terukur, dan relevan dalam merespons problem pemahaman hadis di era modern 

REFERENSI

Akbari, M. F., Hudaya, H., & Munawwarah, H. (2025). Metode kritik matan hadis perspektif ulama hadis. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, 25(1), 16–17.

Aly, M. A. H. A. D., Yunita, M., & Ali, M. (2025). Metode kritik sanad dan matan hadis. Ma’had Aly Journal of Islamic Studies, 4, 111–121.

al-‘Asqalānī, A. ibn ‘Alī ibn Ḥajar. (1379 H). Fatḥ al-Bārī bi sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār al-Ma‘rifah.

al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (1422 H). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.

Hasna, A. (2025). Analisis semantik hadis-hadis fitan dalam Shahih Muslim: Sebuah pendekatan linguistik. Ar-Risalah: Jurnal Pengembangan Islam, 2, 1–22. https://oj.mjukn.org/index.php/jar

Ismail, M. S. (2007). Metodologi penelitian hadis Nabi (Rev. ed.). PT Bulan Bintang.

Kamaluddin. (2024). Perbandingan metodologi kritik hadis klasik dan modern: Studi komparatif dengan pendekatan linguistik dan historis. Ar-Risalah: Journal Study Hadis, 1(2), 99–107.

Kholis, I., & Ridlo, M. A. (2024). Konsekuensi riwayat bil ma‘nā terhadap derivasi lafaz matan hadis. Journal of Hadith Studies, 1–8.

Lestari, W. D. (2021a). Semantik dan pragmatik terhadap variasi redaksi verbal teks: Menyingkap makna kontekstual dalam studi matan hadis. Journal of Hadith Studies, 4(1), 1–11. https://doi.org/10.32506/johs.v4i1-01

Lestari, W. D. (2021b). Semantik dan pragmatik terhadap variasi redaksi verbal teks hadis. Journal of Hadith Studies, 1(4), 7–9.

Muslim ibn al-Ḥajjāj. (1991). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī.

Pahrudin, A. (2022). Tipologi studi hadis kontemporer di Indonesia. Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis, 6, 593–624. https://doi.org/10.15575/jw.v2i2.1770

Rahman, A. (2023). Pendekatan-pendekatan dalam memahami hadis. Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut PTIQ Jakarta.

Rusdi, H. H. (2023). Metode kritik matan hadis perspektif Masrukhin Mukhsin. Al-Shamela: Journal of Quranic and Hadith Studies, 1(1), 36–53. http://jurnal.dokicti.org/index.php/ALSHAMELA

Saofyana, I. F., Permatasari, W., Sahib, M. A., & Sakkad, A. R. (2023). Kajian metode kritik matan hadis. Jawami’ul Kalim: Jurnal Kajian Hadis, 1(1), 79–89. https://doi.org/10.36701/jawamiulkalim.v1i1.987

Wasman, H. (2021). Metodologi kritik hadis. CV. ELSI PRO.


[1] H. Wasman, Metodologi Kritik Hadis, ed. Ahmad Rofii, 1st ed. (Cirebon: CV. ELSI PRO, 2021).

[2] Ade Pahrudin, “Tipologi Studi Hadis Kontemporer Di Indonesia,” Jurnal Dtudi Alquran Dan Hadis 6 (2022): 593–624, https://doi.org/10.15575/jw.v2i2.1770.6.

[3] Muhammad Fikri Akbari et al., “METODE KRITIK MATAN HADIS PERSPEKTIF ULAMA HADIS,” Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman Dan Kemasyarakatan 25, no. 1 (2025): 16–17.

[4] Hilda Husaini Rusdi, “METODE KRITIK MATAN HADIS PRESPEKTIF MASRUKHIN MUKHSIN,” Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies 1, no. 1 (2023): 36–53, http://jurnal.dokicti.org/index.php/ALSHAMELA.

[5] Rusdi.

[6] Andi Rahman, Pendekatan-Pendekatan Dalam Memahami Hadis, ed. Ulin Nuha, 1st ed. (Jakarta Selatan: Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta, 2023).

[7] Alifah Hasnah, “ANALISIS SEMANTIK HADIS-HADIS FITAN DALAM SHAHIH MUSLIM: SEBUAH PENDEKATAN LINGUISTIK,” Ar Risalah Jurnal Pengembangan Islam E-ISSN 2 (2025): 1–22, https://oj.mjukn.org/index.php/jar.

[8] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, 2nd ed. (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2007).

[9] Hilda Husaini Rusdi, “Metode Kritik Matan Hadis Perspektif Masrukhin Mukhsin,” Al-Shamela: Journal of Quranic and Hadith Studies 1, no. 1 (2023): 40–42.

[10] Munawwarah Akbari, Hudaya, “Metode Kritik Matan Hadis Perspektif Ulama Hadis,” Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman Dan Kemasyarakatan 1, no. 25 (2025): 18–19.

[11] Mirna Yunita, and Muhammad Ali, “Metode Kritik Sanad Dan Matan Hadis,” Ma’had Aly Journal of Islamic Studies 4 (2025): 111–121.

[12] Abd. Rahman Sakkad Idha Fadhilah Saofyana, Wiwik Permatasarib, Muhammad Amin Sahibc, “KAJIAN METODE KRITIK MATAN HADIS STUDY OF HADITH MATAN CRITICISM METHOD,” Jawami’ul Kalim Jurnal Kajian Hadis 1, no. 1 (2023): 79–89, https://doi.org/10.36701/jawamiulkalim.v1i1.987.

[13] Idha Fadhilah Saofyana, Wiwik Permatasarib, Muhammad Amin Sahibc.

[14] Akbari et al., “METODE KRITIK MATAN HADIS PERSPEKTIF ULAMA HADIS.”

[15] Kamaluddin, “PERBANDINGAN METODOLOGI KRITIK HADIS KLASIK DAN MODERN: STUDI KOMPARATIF DENGAN PENDEKATAN LINGUISTIK DAN HISTORIS,” Ar-Risalah: Journal Study Hadis 1, no. 2 (2024): 99–107.

[16] Kamaluddin.

[17] Kamaluddin.

[18] Kamaluddin.

[19] Idha Fadhilah Saofyana, Wiwik Permatasarib, Muhammad Amin Sahibc, “KAJIAN METODE KRITIK MATAN HADIS STUDY OF HADITH MATAN CRITICISM METHOD.”

[20] Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī (Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422).

[21] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1991).

[22] Aḥmad ibn ‘Alī ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ Al-Bārī Bi Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379).

[23] Wiwin Dwi Lestari, “Semantik Dan Pragmatik Terhadap Variasi Redaksi Verbal Teks Hadis,” Ournal of Hadith Studies 1, no. 4 (2021): 7–9.

[24] Wiwin Dwi Lestari, “Semantik Dan Pragmatik Terhadap Variasi Redaksi Verbal Teks : Menyingkap Makna Kontekstual Dalam Studi Matan Hadis,” Journal of Hadith Studies 4, no. 1 (2021): 1–11, https://doi.org/10.32506/johs.v4i1-01.

[25] Iskandar Kholis and Muhammad Abdurrasyid Ridlo, “Konsekuensi Riwayat Bil Ma ’ Na Terhadap Derivasi Lafaz Matan Hadis,” 2024, 1–8.

[26] Kamaluddin, “PERBANDINGAN METODOLOGI KRITIK HADIS KLASIK DAN MODERN: STUDI KOMPARATIF DENGAN PENDEKATAN LINGUISTIK DAN HISTORIS.”