Jefry Crisbiantoro,1 Muh ismar2, M. Afiz Nurhaedi3,  Betram4,  Retna Cahyani5, Riby Desmita Sawendari6, Indriyanti7,  Sarni8,  Luh Putu Kansiva Vionika9, Nurul Syafika10,  Irma Afriani Lorensa¹1, Nabila12

1-12Universitas Lakidende

https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/NJPC/article/view/5043 

 

Abstract

This research aims to describe the implementation of Stop Bullying Socialization activities at SDN 1 Andowengga and its impact on student behavior. Bullying is an aggressive action that can have a negative impact physically, emotionally, and socially, especially on elementary school students. This research uses a qualitative descriptive approach with the subject of class V–VI students. Socialization activities include interactive lectures, discussions, educational video screenings, role-playing, and Stop Bullying declarations. Data was collected through observation, interview, documentation, and questionnaire, then analyzed descriptively. Research results show that socialization succeeds in increasing students' understanding of bullying, fostering empathy, and encouraging mutual respect and caring behavior towards friends. The change in positive attitude can be seen from the reduction of small conflicts, increased cooperation, and the courage of students to report bullying behavior. The success of the activity is supported by the active involvement of teachers and principals, as well as an interactive approach that emphasizes direct experience. Although some challenges still arise, this activity is effective as a preventive and educational step in creating a safe, comfortable, and bullying-free school environment. Research results can be a model for other schools in the development of bullying prevention programs sustainably.

Keywords: bullying, elementary school, socialization, character education, empathy, safe school environment.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga serta dampaknya terhadap perilaku siswa. Bullying merupakan tindakan agresif yang dapat berdampak negatif secara fisik, emosional, dan sosial, khususnya pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas V–VI. Kegiatan sosialisasi meliputi ceramah interaktif, diskusi, pemutaran video edukatif, permainan peran, dan deklarasi Stop Bullying. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang bullying, menumbuhkan empati, serta mendorong perilaku saling menghargai dan peduli terhadap teman. Perubahan sikap positif terlihat dari berkurangnya konflik kecil, meningkatnya kerjasama, dan keberanian siswa melaporkan perilaku bullying. Keberhasilan kegiatan didukung oleh keterlibatan aktif guru dan kepala sekolah, serta pendekatan interaktif yang menekankan pengalaman langsung. Meskipun beberapa tantangan masih muncul, kegiatan ini efektif sebagai langkah preventif dan edukatif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Hasil penelitian dapat menjadi model bagi sekolah lain dalam pengembangan program pencegahan bullying secara berkelanjutan.

Kata kunci: bullying, siswa, pendidikan karakter, empati, lingkungan sekolah.

PENDAHULUAN

Sekolah merupakan tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan penting bagi pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam proses pendidikan, interaksi sosial antar siswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Namun, dalam kenyataannya, interaksi tersebut tidak selalu berjalan secara positif. Salah satu permasalahan yang kerap muncul di lingkungan sekolah adalah bullying atau perundungan.

Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap individu lain yang lebih lemah, baik secara fisik maupun psikologis. Bentuk bullying dapat berupa kekerasan fisik (memukul, menendang, mendorong), kekerasan verbal (mengejek, menghina, mengancam), maupun kekerasan sosial (mengucilkan, menyebarkan gosip, atau mempermalukan orang lain di depan umum). Fenomena bullying ini dapat berdampak serius terhadap perkembangan anak, terutama dalam hal emosional, sosial, dan akademik.

Di tingkat sekolah dasar, bullying sering kali muncul dalam bentuk ejekan, olok-olok, saling mengejek karena perbedaan fisik, latar belakang, atau kemampuan belajar. Anak-anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan moral dan emosi yang belum stabil, sehingga mereka sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan dan perilaku teman sebaya. Bila perilaku bullying dibiarkan, hal ini tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi korban, tetapi juga dapat menumbuhkan karakter negatif pada pelaku yang terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Melihat pentingnya peran sekolah dalam membentuk karakter siswa, SDN 1 Andowengga melaksanakan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying sebagai langkah preventif dan edukatif dalam menanggulangi perilaku perundungan di lingkungan sekolah. Program ini dilatarbelakangi oleh keinginan sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat memahami arti bullying, mengenali bentuk-bentuknya, serta menumbuhkan kesadaran untuk menghentikan segala bentuk kekerasan verbal maupun fisik terhadap teman.

Selain itu, program Stop Bullying juga merupakan wujud nyata dukungan sekolah terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat pendidikan karakter. Program ini selaras dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya dalam menanamkan rasa gotong royong, empati, dan akhlak mulia. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan seluruh warga sekolah – baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan – dapat bersinergi menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan bebas dari kekerasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying dan dampaknya terhadap perilaku siswa. Penelitian dilakukan di SDN 1 Andowengga pada semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026, dengan subjek siswa kelas V–VI.

Kegiatan sosialisasi meliputi ceramah interaktif, diskusi, pemutaran video edukatif, dan permainan peran untuk menumbuhkan pemahaman dan empati siswa terhadap bullying. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengetahui efektivitas kegiatan dalam meningkatkan kesadaran siswa dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman.

Keberhasilan kegiatan diukur dari pemahaman siswa tentang bullying, sikap saling menghargai, serta berkurangnya tindakan kekerasan atau ejekan di sekolah.

 

HASIL

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga dilakukan selama satu minggu, melibatkan seluruh siswa kelas V hingga VI. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bullying, menumbuhkan sikap empati, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Pelaksanaan kegiatan mencakup penyampaian materi melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, pemutaran video edukatif, permainan peran (role play), serta kegiatan deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen untuk menghentikan bullying di lingkungan sekolah.

Hasil observasi menunjukkan bahwa mayoritas siswa sangat antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Selama ceramah interaktif, banyak siswa yang aktif bertanya mengenai contoh-contoh perilaku bullying yang sering terjadi di sekolah maupun di lingkungan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa topik bullying menjadi isu yang relevan dan dirasakan penting oleh mereka. Diskusi kelompok yang dilaksanakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi pengalaman, termasuk pengalaman pribadi menghadapi atau menyaksikan perilaku bullying, sehingga materi sosialisasi menjadi lebih nyata dan mudah dipahami.

Permainan peran yang diterapkan dalam kegiatan memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk memahami dampak tindakan bullying dari perspektif korban dan pelaku. Dalam kegiatan ini, siswa yang berperan sebagai korban mengekspresikan perasaan sedih, takut, atau malu, sementara siswa yang berperan sebagai pelaku menyadari konsekuensi dari perilaku mereka. Pengalaman ini terbukti meningkatkan empati siswa secara signifikan, terlihat dari interaksi mereka yang lebih ramah dan saling menghargai setelah kegiatan.

Gambar 1. Pelaksanaan Kegiatan

Hasil angket sederhana yang diberikan kepada siswa sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Sebelum sosialisasi, sebagian besar siswa belum sepenuhnya memahami apa itu bullying dan dampak negatifnya. Setelah kegiatan, sekitar 85% siswa mampu menjawab pertanyaan terkait definisi bullying, bentuk-bentuk bullying, serta menyadari bahwa tindakan tersebut dapat merugikan korban, pelaku, dan lingkungan sekolah secara keseluruhan. Selain itu, siswa menyatakan melalui wawancara bahwa mereka akan lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan teman sebaya, menghindari ejekan, olokan, atau pengucilan terhadap teman lain.

Guru dan kepala sekolah juga melaporkan adanya perubahan sikap positif pada siswa. Guru menyebutkan bahwa terjadi peningkatan kerjasama antar siswa, pengurangan konflik kecil di kelas, dan tumbuhnya perilaku peduli terhadap teman yang sedang mengalami kesulitan. Kepala sekolah menekankan bahwa kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk budaya sekolah yang menekankan nilai empati, saling menghormati, dan tanggung jawab sosial. Dokumentasi berupa foto dan video memperlihatkan keterlibatan aktif siswa, serta adanya tanda komitmen bersama melalui penandatanganan deklarasi Stop Bullying, yang menunjukkan bahwa pesan edukatif tersampaikan secara visual dan emosional.

Selain itu, pengamatan lanjutan di beberapa minggu setelah kegiatan menunjukkan bahwa siswa lebih berani melaporkan perilaku bullying yang mereka saksikan atau alami. Guru melaporkan penurunan kejadian ejekan, olokan, atau pengucilan di kelas, meskipun beberapa kasus kecil masih terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi awal dapat memberikan efek positif, tetapi tetap membutuhkan penguatan secara berkala untuk memastikan perilaku bullying berkurang secara konsisten.

PEMBAHASAN

Hasil kegiatan sosialisasi ini menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dan partisipatif lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran siswa mengenai bullying dibandingkan metode ceramah konvensional. Dengan melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi, permainan peran, dan refleksi pengalaman, siswa dapat memahami konsekuensi dari tindakan bullying baik bagi korban maupun pelaku. Pembelajaran aktif ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan pengalaman langsung dan interaksi sosial sebagai sarana pembentukan pengetahuan dan sikap.

Keterlibatan guru dan kepala sekolah menjadi faktor pendukung utama keberhasilan sosialisasi. Guru berperan sebagai fasilitator yang memandu diskusi, memberikan contoh nyata, serta menekankan pentingnya nilai empati dan kepedulian sosial. Kepala sekolah memberikan dukungan melalui kebijakan dan fasilitas, sehingga kegiatan ini bukan sekadar kegiatan insidental, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah yang menekankan nilai karakter. Hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan sinergi antara pengetahuan, sikap, dan nilai moral.

Perubahan sikap siswa yang terlihat melalui observasi, angket, dan wawancara menunjukkan bahwa sosialisasi berhasil menumbuhkan kesadaran dan empati sosial. Siswa tidak hanya memahami secara intelektual apa itu bullying, tetapi juga mulai mempraktikkan sikap menghargai teman, menghindari olokan atau ejekan, serta berani melaporkan tindakan bullying. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dapat menjadi sarana pencegahan dini terhadap perilaku bullying di sekolah dasar.

Gambar 2. Tim Pelaksana dan Pesera didik

Selain itu, kegiatan ini menekankan pentingnya pendekatan kolektif. Komitmen bersama melalui deklarasi Stop Bullying menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial siswa, guru, dan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan harmonis. Hasil ini menunjukkan bahwa pencegahan bullying tidak cukup dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh warga sekolah.

Meskipun kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran dan mengurangi kejadian bullying, beberapa tantangan tetap muncul, seperti kecenderungan siswa untuk tetap bercanda dengan kata-kata yang menyakiti teman atau adanya kasus kecil pengucilan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan dikombinasikan dengan penguatan aturan sekolah, pengawasan guru, dan pembiasaan nilai-nilai empati dan kerjasama dalam kegiatan sehari-hari.

Secara keseluruhan, sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga berhasil menciptakan perubahan positif baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun perilaku siswa. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif, didukung oleh guru dan kepala sekolah, serta dilengkapi dengan aktivitas refleksi dan komitmen bersama, efektif untuk menumbuhkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak. Hasil ini dapat menjadi model bagi sekolah lain yang ingin melakukan program pencegahan bullying secara menyeluruh dan berkelanjutan.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying serta pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Siswa mampu mengenali berbagai bentuk bullying, memahami dampak negatifnya bagi korban maupun pelaku, serta menunjukkan kesadaran akan pentingnya menghentikan perilaku tersebut.

Perubahan sikap positif terlihat dari meningkatnya perilaku empati, peduli, dan kerja sama antar siswa, serta berkurangnya konflik kecil di kelas. Kegiatan interaktif seperti diskusi, permainan peran, pemutaran video edukatif, dan deklarasi Stop Bullying terbukti efektif dalam menanamkan nilai karakter dan komitmen sosial.

Keberhasilan kegiatan ini juga didukung oleh peran aktif guru dan kepala sekolah, yang memberikan fasilitasi, bimbingan, dan dukungan kebijakan sehingga kegiatan tidak hanya bersifat temporer, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah yang menekankan nilai karakter, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Meskipun kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif, beberapa tantangan tetap ada, seperti kemungkinan siswa tetap bercanda dengan kata-kata yang menyakiti teman atau adanya kasus kecil pengucilan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disertai penguatan aturan sekolah serta pembiasaan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga dapat dijadikan model bagi sekolah lain dalam mengembangkan program pencegahan bullying yang efektif dan berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang peduli, berempati, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial mereka.

SARAN

Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan antara lain:

1.       Saran pertama ditujukan kepada pihak sekolah, khususnya guru dan kepala sekolah. Disarankan untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi Stop Bullying secara berkelanjutan, misalnya melalui kegiatan rutin setiap semester, agar nilai-nilai empati, kepedulian, dan anti-bullying terus tertanam dalam diri siswa. Selain itu, pihak sekolah dapat meningkatkan pengawasan dan pembinaan perilaku siswa melalui pembiasaan nilai karakter dalam kegiatan belajar sehari-hari.

2.       Saran kedua ditujukan kepada siswa. Diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai anti-bullying dalam interaksi sehari-hari, seperti menghargai teman, menghindari olokan atau ejekan, serta berani melaporkan perilaku bullying yang mereka saksikan. Siswa juga dianjurkan untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok yang menumbuhkan kerjasama dan empati.

3.       Saran ketiga ditujukan kepada orang tua. Orang tua diharapkan dapat mendukung program sekolah dengan menanamkan nilai empati dan tanggung jawab sosial di rumah. Orang tua juga dianjurkan untuk berdialog secara terbuka dengan anak tentang pengalaman mereka di sekolah, sehingga dapat membantu mendeteksi atau mencegah perilaku bullying sejak dini.

4.       Saran keempat ditujukan kepada pihak peneliti selanjutnya. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan periode pengamatan lebih panjang dan melibatkan seluruh jenjang kelas, agar dapat melihat dampak jangka panjang dari sosialisasi dan menilai efektivitas metode yang digunakan dalam pencegahan bullying secara menyeluruh.

REFERENSI

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. (2008). Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Efendi, A. (2015). Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar. Bandung: Alfabeta.

Koesoema, S. (2012). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik di Sekolah Dasar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Lickona, T. (2010). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Rigby, K. (2007). Bullying in Schools: And What to Do About It. London: Jessica Kingsley Publishers.

Sudjana, N., & Rivai, A. (2014). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

WHO. (2019). School Violence and Bullying: Global Status Report. Geneva: World Health Organization.