Ratna Dewi1, Rohendi2, Didih Ahmadiah3
Abstrak
Bullying merupakan permasalahan
serius yang masih sering ditemukan di lingkungan sekolah dasar dan dapat
memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis, sosial, serta
karakter peserta didik. Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan awal memiliki
peran penting dalam membentuk kepribadian dan sikap sosial anak. Namun,
rendahnya pemahaman siswa mengenai bentuk, dampak, serta cara mencegah bullying
menyebabkan perilaku tersebut masih kerap terjadi dan dianggap sebagai bentuk
candaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman dan kesadaran siswa mengenai pencegahan bullying melalui kegiatan
sosialisasi anti bullying. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KPM di SDN
1 Sukahaji melalui tahapan persiapan, pelaksanaan sosialisasi, dan evaluasi
menggunakan observasi serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan
peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis bullying, dampaknya, serta cara
pencegahan, sekaligus mendorong sikap saling menghargai dan keberanian melaporkan
perundungan. Sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah untuk mewujudkan
lingkungan sekolah dasar yang aman dan bebas bullying.
Keywords: Bullying, Sosialisasi, Sekolah
Dasar, Pencegahan Bullying.
Abstract
Bullying remains a serious issue
frequently found in elementary school environments and can negatively affect
students’ psychological, social, and character development. As the early stage
of formal education, elementary school plays an important role in shaping
children’s personality and social attitudes. However, students’ limited
understanding of the forms, impacts, and prevention of bullying causes such
behavior to persist and is often perceived as harmless joking. This community
service program aimed to improve students’ understanding and awareness of
bullying prevention through an anti-bullying socialization activity. The
program was conducted by KPM students at SDN 1 Sukahaji through preparation,
implementation, and evaluation stages using observation and interactive
discussions. The results showed an improvement in students’ understanding of
the types of bullying, its negative impacts, and prevention strategies, while
also encouraging mutual respect and the courage to report bullying incidents.
This socialization activity is expected to contribute to creating a safe and
bullying-free elementary school environment.
Keywords: Bullying, Socialization, Elementary School, Bullying Prevention.
PENDAHULUAN
Sekolah dasar merupakan lingkungan pendidikan awal yang
memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada
tahap ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi
juga mempelajari nilai-nilai sosial seperti empati, kerja sama, serta sikap
saling menghormati (Nisa et al. 2025). Namun demikian, dalam
pelaksanaannya masih dijumpai berbagai permasalahan sosial di lingkungan
sekolah, salah satunya adalah perilaku bullying. Bullying di tingkat sekolah
dasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti bullying fisik, verbal,
maupun sosial, yang kerap dianggap sebagai bentuk candaan baik oleh pelaku
maupun oleh lingkungan sekitarnya.
Pendidikan dan lingkungan sekolah pada hakikatnya adalah
lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, serta ketenangan bagi
peserta didik, baik secara fisik maupun psikologis. Sekolah dasar sebagai
jenjang pendidikan awal memiliki peran fundamental dalam mendukung proses
tumbuh kembang peserta didik. Oleh karena itu, seluruh aktivitas dan kondisi
yang terdapat di lingkungan sekolah seharusnya mampu memberikan dorongan
positif dalam pembentukan karakter serta pengembangan kompetensi dan potensi yang
dimiliki peserta didik. Salah satu upaya penting dalam mewujudkan lingkungan
pendidikan yang kondusif di sekolah dasar yaitu dengan cara melindungi peserta
didik dari perilaku dan tindakan yang dapat menghambat perkembangan mereka,
salah satunya melalui pencegahan tindakan perundungan atau bullying (Prasiska 2025).
Meningkatnya kasus perundungan atau bullying kerap dipicu
oleh kurangnya pemahaman antar pihak yang terkait, baik itu pihak sekolah,
orang tua, serta masyarakat yang memang belum memiliki pandangan yang selaras
mengenai tingkat keseriusan permasalahan bullying serta strategi penanganannya (Munawaroh et al. 2024). Perbedaan persepsi tersebut
menyebabkan upaya penanganan bullying menjadi kurang optimal, sehingga kasus
perundungan masih terus terjadi sampai saat ini. Kondisi ini semakian parah
dengan belum adanya kebijakan yang komprehensif dari pemerintah dalam upaya
penanggulangan bullying. Tindakan perundungan tidak dapat dibenarkan dengan
alasan apa pun, termasuk alasan pencarian jati diri yang sering dikaitkan
dengan perilaku agresif pada peserta didik. Sebagai individu yang terdidik,
peserta didik diharapkan mampu membedakan serta menentukan keputusan yang baik
dan buruk, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kesadaran dan upaya
bersama dari seluruh pihak diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang aman dan
kondusif bagi tumbuh kembang anak (Ulfa et al. 2025).
Fenomena bullying di lingkungan pendidikan Indonesia telah
menjadi fokus utama yang banyak mendapat perhatian karena dampaknya yang sangat
luas. Berbagai kajian empiris menegaskan perlunya pemahaman dan penanganan
bullying secara komprehensif. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa bullying
pada peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang meliputi pola asuh
keluarga, kondisi lingkungan sekolah yang kurang mendukung, serta pengaruh
negatif dari hubungan dengan teman sebaya. Selain menelaah faktor penyebab,
sejumlah kajian juga menekankan pentingnya penerapan upaya pencegahan sejak
dini di lingkungan sekolah. Upaya pencegahan tersebut membutuhkan keterlibatan
dan kerja sama yang aktif antara pendidik, orang tua, dan peserta didik agar
kasus bullying dapat dikenali dan ditangani secara tepat (Parisu 2025). Dukungan sosial yang memadai turut
berperan dalam menekan keterlibatan siswa dalam perilaku bullying, khususnya di
lingkungan sekolah. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut memberikan gambaran
yang lebih menyeluruh mengenai kompleksitas permasalahan bullying dalam dunia
pendidikan di Indonesia.(Chairi et al. 2025)
Berdasarkan berbagai temuan penelitian dan kondisi faktual di
lingkungan pendidikan, perilaku bullying masih kerap dijumpai pada peserta
didik, termasuk di sekolah yang idealnya berfungsi sebagai ruang belajar yang
aman, nyaman, dan menyenangkan. Tindakan bullying dapat muncul dalam berbagai
situasi dan waktu yang tidak terduga, khususnya pada jenjang sekolah dasar yang
merupakan tahap awal pembentukan karakter anak. SDN 1 Sukahaji sebagai sekolah
dasar negeri memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pendidikan
sekaligus dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan
terbebas dari segala bentuk kekerasan. Namun demikian, hasil observasi awal
serta interaksi dengan siswa menunjukkan bahwa pemahaman mengenai jenis-jenis
bullying, dampak yang ditimbulkan, serta sikap dan langkah yang tepat ketika
menghadapi atau menyaksikan tindakan perundungan masih tergolong terbatas,
sehingga diperlukan upaya pencegahan yang terencana dan berkelanjutan di
lingkungan sekolah.
Bullying tidak hanya memberikan dampak negatif bagi korban, tetapi juga berpengaruh terhadap iklim pembelajaran serta proses pembentukan karakter peserta didik secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan WPKNS (Wawasan, Pengetahuan, Keterampilan, Nilai, dan Sikap) siswa dalam rangka pencegahan bullying sejak usia dini (Neni et al. 2024). Sosialisasi anti bullying merupakan salah satu bentuk intervensi preventif yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif, meningkatkan kesadaran, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antar peserta didik di lingkungan sekolah dasar. Kemudian dengan adanya kegiatan sosialisasi yang di laksanakan oleh para mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tersebut, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa serta menjadi langkah awal dalam membangun budaya anti bullying di lingkungan sekolah dasar.
METODE
PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode sosialisasi dan
observasi, yang mana kegiatan tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahapan.
1.
Tahap Persiapan
Pada tahap ini kegiatan
yang dilakukan yaitu adanya pelaksanaan observasi awal di SDN 1 Sukahaji,
pengurusan perizinan kepada pihak sekolah, penyusunan materi sosialisasi
anti-bullying, serta penyiapan media pendukung berupa alat peraga edukatif.
Pada tahap ini juga dilakukan koordinasi dengan guru kelas guna menyesuaikan
materi yang akan disampaikan dengan karakteristik peserta didik di tingkat
sekolah dasar.
2.
Tahap Pelaksanaan
Kegiatan sosialisasi
dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2026 dan bertempat di ruang kelas SDN 1
Sukahaji dengan melibatkan peserta didik kelas VI. Pelaksanaan kegiatan
menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, serta simulasi
sederhana yang memuat contoh perilaku bullying dan upaya pencegahannya. Materi
sosialisasi mencakup pengertian bullying, jenis-jenis bullying, dampak bullying
terhadap korban dan pelaku, serta langkah-langkah pencegahan bullying di
lingkungan sekolah.
3.
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan
penilai terhadap efektivitas serta keberhasilan pelaksanaan kegiatan
sosialisasi anti-bullying di SDN 1 Sukahaji. Proses evaluasi mencakup penilaian
terhadap pelaksanaan dan hasil kegiatan. Penilaian pelaksanaan dilakukan
melalui observasi selama kegiatan sosialisasi berlangsung untuk
mengidentifikasi tingkat partisipasi, antusiasme, dan pemahaman siswa terhadap
materi yang diberikan. Setelah kegiatan selesai, wawancara dan tanya jawab
secara langsung dilakukan kepada beberapa siswa guna mengetahui tingkat
pemahaman serta manfaat yang diperoleh terkait upaya pencegahan bullying. Hasil
evaluasi menunjukkan bahwa siswa memperoleh wawasan baru mengenai bullying dan
menunjukkan sikap yang lebih peduli terhadap sesama.
4.
Tahap Pelaporan
Pada tahap pelaporan ini, dilakukan penyusunan laporan kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat. Penyusunan laporan dilaksanakan secara sistematis dan bertahap, yaitu adanya penyusunan laporan awal, laporan kemajuan, revisi laporan, hingga penyusunan laporan akhir. Laporan tersebut memuat keseluruhan rangkaian kegiatan, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta dilengkapi dengan dokumentasi kegiatan sebagai bukti pendukung dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Selain sebagai wujud akuntabilitas, laporan akhir juga disusun untuk keperluan publikasi dan sebagai arsip resmi kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Seluruh tim pelaksana terlibat secara aktif dalam proses penyusunan laporan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Kegiatan sosialisasi anti-bullying merupakan salah satu
upaya yang penting untuk diterapkan di lingkungan sekolah dasar, mengingat
peserta didik berada pada tahap awal pembentukan karakter dan sikap sosial.
Pada usia tersebut, siswa masih dalam proses memahami batasan perilaku yang
dapat diterima secara sosial, sehingga diperlukan pendampingan dan edukasi yang
tepat agar mereka mampu mengenali serta menghindari tindakan yang dapat
merugikan diri sendiri maupun orang lain (Lu'luin et al. 2023).
Pelaksanaan sosialisasi
anti-bullying di SDN 1 Sukahaji menjadi salah satu langkah dalam menanamkan
nilai-nilai positif sekaligus meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya
menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak. Melalui
kegiatan sosialisasi, siswa diberikan pemahaman mengenai pengertian bullying,
bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di sekolah dasar, dampak negatif
bagi korban maupun pelaku, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara
sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sosialisasi juga menjadi
ruang pembelajaran yang membantu siswa menumbuhkan empati, sikap saling
menghargai, serta keberanian untuk bersikap tegas ketika menghadapi tindakan
perundungan. Dengan adanya sosialisasi ini, siswa diharapkan tidak hanya
memahami bullying secara teori, tetapi juga mampu menerapkan sikap anti-bullying
dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Gambar 1. Kegiatan
Sosialisasi di Kelas VI
Kegiatan sosialisasi
anti-bullying di SDN 1 Sukahaji terlaksana dengan baik dan memperoleh respons
positif dari siswa maupun pihak sekolah. Hal tersebut tercermin dari tingginya
antusiasme siswa kelas VI selama kegiatan berlangsung, salah satunya saat
menyimak penyampaian materi. Siswa menunjukkan ketertarikan terhadap topik yang
dibahas serta berani menyampaikan pendapat dan pengalaman yang mereka temui di
lingkungan sekolah. Partisipasi aktif ini menunjukkan bahwa permasalahan
bullying dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dan memerlukan ruang diskusi
yang terbuka agar dapat dipahami secara lebih mendalam. Kondisi tersebut juga
menandakan bahwa metode sosialisasi yang diterapkan oleh mahasiswa KPM mampu
menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Selain penyampaian materi,
kegiatan sosialisasi dilengkapi dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab
yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi
pencegahan bullying. Pada tahap ini, siswa kelas VI diberikan kesempatan secara
terbuka untuk menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, serta berbagi
pengalaman yang pernah dialami atau disaksikan di lingkungan sekolah.
Pendekatan partisipatif tersebut dirancang untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang aman dan kondusif, sehingga siswa merasa nyaman dalam
mengungkapkan pandangan tanpa adanya rasa takut atau tekanan. Keterlibatan
aktif siswa dalam diskusi menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan
relevan dengan kondisi nyata yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Gambar 2 Kegiatan Diskusi dan Tanya Jawab
Melalui kegiatan diskusi, diketahui bahwa sebagian siswa
sebelumnya belum memiliki pemahaman yang jelas mengenai perbedaan antara
perilaku bercanda dan tindakan bullying. Beberapa siswa menyampaikan pengalaman
terkait ejekan verbal, pengucilan sosial, maupun tindakan fisik ringan yang
selama ini dianggap sebagai hal yang wajar. Temuan tersebut menunjukkan adanya
kebutuhan yang nyata akan pemberian edukasi yang berkelanjutan mengenai
bullying di lingkungan sekolah dasar. Melalui sesi tanya jawab, para mahasiswa berkesempatan
meluruskan pemahaman yang kurang tepat serta memberikan penjelasan yang lebih
menyeluruh mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjang perilaku bullying,
baik bagi korban, pelaku, maupun lingkungan sekolah secara umum.
Kegiatan diskusi dan tanya jawab juga berkontribusi dalam
meningkatkan keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat serta melatih
kemampuan berkomunikasi secara asertif. Selain itu, siswa didorong untuk
menumbuhkan sikap empati dengan memahami perasaan korban bullying dan
pentingnya saling menghargai antar sesama. Dalam kegiatan tersebut menunjukkan
terjalinnya interaksi aktif antara mahasiswa dan siswa kelas VI SDN 1 Sukahaji,
yang mencerminkan tingginya partisipasi siswa dalam memahami upaya pencegahan
bullying. Hasil pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa metode diskusi
interaktif efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa serta menjadi langkah
awal dalam membangun budaya saling menghormati dan menolak segala bentuk
perundungan di lingkungan sekolah dasar.
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi anti-bullying diikuti
dengan evaluasi sederhana untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap
materi yang telah disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar
siswa mampu menjelaskan kembali pengertian bullying, jenis-jenis bullying yang
umum terjadi di lingkungan sekolah dasar, serta langkah-langkah pencegahan yang
dapat dilakukan. Siswa juga mampu mengidentifikasi contoh perilaku yang
termasuk dalam tindakan perundungan dan membedakannya dengan perilaku bercanda,
yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman secara kognitif terhadap materi
sosialisasi.
Perubahan positif juga terlihat pada aspek sikap dan kesadaran siswa, khususnya dalam memahami pentingnya saling menghargai, menghormati perbedaan, dan menjaga hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut tercermin dari pernyataan siswa yang menyatakan komitmen untuk tidak melakukan tindakan perundungan serta kesediaan melaporkan kepada guru atau pihak sekolah apabila mengetahui atau menyaksikan adanya kasus bullying. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong terbentuknya sikap preventif dan tanggung jawab sosial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah untuk para siswa.
SIMPULAN
Kegiatan sosialisasi anti-bullying yang dilaksanakan oleh
mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di SDN 1 Sukahaji pada siswa kelas
VI dapat terlaksana dengan baik dan memperoleh tanggapan positif dari peserta
didik. Siswa mengikuti kegiatan secara aktif melalui penyampaian materi,
diskusi, dan sesi tanya jawab, sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih
interaktif. Kegiatan ini memberikan dampak berupa meningkatnya pemahaman siswa
tentang bullying, bentuk-bentuk bullying yang umum terjadi di sekolah dasar,
serta kemampuan membedakan perilaku bercanda dengan tindakan perundungan.
Selain itu, siswa juga menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai dampak
bullying terhadap korban, pelaku, maupun kondisi belajar di kelas.
Sosialisasi anti-bullying menjadi upaya pencegahan yang penting dalam membentuk sikap dan karakter positif sejak dini. Setelah mengikuti kegiatan, siswa tampak lebih peduli, berempati, dan menghargai sesama karena memahami konsekuensi dari tindakan bullying. Munculnya komitmen siswa untuk menolak perundungan serta kesediaan melaporkan kejadian bullying kepada guru menjadi tanda awal terbentuknya budaya anti-bullying di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah dasar yang aman, ramah anak, dan kondusif dapat lebih mudah diwujudkan apabila kegiatan serupa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dukungan sekolah, guru, dan orang tua dalam membangun kebiasaan saling menghormati serta menjaga hubungan sosial yang sehat.
REFERENSI
Chairi, Puspa Melati Hasibuan, Idha Apriliyana, and Utary Maharani Barus. (2025).
Edukasi Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi Bagi Kelompok UMKM Di
Kecamatan Medan Selayang. Sumatera
Utara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
Chairan
and Parisu. (2025). Strategi Efektif Pencegahan Bullying Di Sekolah Dasar
Melalui Pendekatan Pendidikan Karakter. Sulawesi Tenggara: Jurnal Kajian
Pendidikan dan Cakrawala Pembelajaran.
Fijriani anf Prasiska. (2025). Pencegahan Bullying Mulai
Dari Rumah: Strategi Bagi Orang Tua Siswa Di SD Pesona Palad Kahuripan
Kabupaten Bogor. Bogor: Pengabdian Kepada Masyarakat.
Lu'luin.,
dakk. (2023). Sosialisasi Pencegahan Perilaku Bullying Melalui Edukasi
Pendidikan Karakter Dan Pelibatan Orang Tua. Mandalika: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat.
Munawaroh.,
dkk. (2024). Program Peningkatan Empati Untuk Mencegah Perilaku Bullying
Pada Siswa Sekolah Dasar. Semarang: ABDIDAS.
Neni
Sumarni, Neni, Novi, and Fitri. (2024). Menjaga Senyum dan Kebaikan:
Strategi Efektif Pencegahan Bullying Pada Anak Usia Dini (Strategi Efektif
Pencegahan Bullying Pada Anak Usia Dini). Cirebon: Jurnal Pendidikan dan
Pengasuhan Anak.
Nisa, Indi
Khairun, Aqilla Zahra Damanik, Irvan Maulana, Rindi Antika, and Abdul Zikri.
(2025). Upaya Meningkatkan Kesadaran Dan Partisipasi Siswa Dalam Mencegah
Bullying Melalui Sosialisasi Stop Bullying Di SD Negeri 165735 Kelurahan Karya
Jaya Kota Tebing Tinggi. Tebing Tinggi: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat.
Ulfa,
Kosilah, Laode Muhammad, Sry Mayunita, and Esti Rahayu. (2025). Sosialisasi
Pencegahan Bullying Melalui Media Zona Emosi Di SD Negeri 60 Buton Desa Walompo
Kecamatan Siontapina Kabupaten Buton. Buton: Journal Of Human And Education.
No comments
Post a Comment