The Principal’s Strategy in Improving Teachers’
Teaching Performance at RA Hidayatul Khoir Purwakarta
Enung Nurlaela
Program Studi Magister Manajemen
Pendidikan Islam, Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto
Email: nurlaelasyadiah@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru dan dampak
dari strategi tersebut di RA Hidayatul Khoir Purwakarta. Kepemimpinan kepala
sekolah memiliki peran sentral dalam pembinaan dan pengembangan profesionalisme
guru. Kinerja guru yang optimal sangat menentukan kualitas pembelajaran dan
pencapaian tujuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara
mendalam dengan kepala sekolah dan guru, serta dokumentasi. Analisis data
menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber
dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kepala
sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru meliputi: pemberian motivasi
melalui pendekatan emosional dan struktural, mengikutsertakan guru dalam
pelatihan dan workshop untuk peningkatan kompetensi, melakukan supervisi dan
evaluasi berkala, studi banding ke sekolah lain yang lebih maju, menciptakan
lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman, memberikan penghargaan dan apresiasi
kepada guru berprestasi, serta menerapkan kepemimpinan partisipatif dengan
melibatkan guru dalam pengambilan keputusan. Dampak dari strategi tersebut
adalah meningkatnya motivasi kerja guru, profesionalisme guru dalam mengajar,
prestasi akademik dan non-akademik siswa, serta terciptanya budaya kerja yang
positif di sekolah. Kepala sekolah juga memberikan keteladanan langsung dengan
aktif mengisi kekosongan guru dan hadir setiap hari untuk mengkondisikan
sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi kepemimpinan kepala sekolah
yang partisipatif, motivatif, dan keteladanan sangat efektif dalam meningkatkan
kinerja mengajar guru.
Kata Kunci: Strategi Kepala
Sekolah, Kinerja Guru, Motivasi Kerja, Kepemimpinan Pendidikan
Abstract
This study aims to analyze the
principal's strategy in improving teachers' teaching performance and the impact
of this strategy at RA Hidayatul Khoir Purwakarta. The principal's leadership
plays a central role in guiding and developing teacher professionalism. Optimal
teacher performance significantly determines the quality of learning and the
achievement of educational goals. This study employed a qualitative approach
with a case study method. Data collection was conducted through observation,
in-depth interviews with the principal and teachers, and documentation. Data
analysis used the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data
display, and conclusion drawing. Data validity was tested through source
triangulation and technique triangulation. The research findings indicate that
the principal's strategies in improving teachers' teaching performance include:
providing motivation through emotional and structural approaches, involving
teachers in training and workshops to enhance competence, conducting regular
supervision and evaluation, conducting benchmarking visits to more advanced
schools, creating a conducive and comfortable work environment, providing
rewards and recognition to high-performing teachers, and implementing
participatory leadership by involving teachers in decision-making. The impact
of these strategies includes increased teacher work motivation, teacher
professionalism in teaching, students' academic and non-academic achievements,
and the creation of a positive work culture in the school. The principal also
provides direct role modeling by actively filling in for absent teachers and
being present daily to manage the school. This research concludes that
participatory, motivational, and exemplary leadership strategies of school
principals are highly effective in improving teachers' teaching performance.
Keywords: Principal's
Strategy, Teacher Performance, Work Motivation, Educational Leadership
Article Info
Received date: 22
January 2026
Revised date: 29 January 2026
Accepted date: 5 February 2026
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan fondasi
pembangunan bangsa yang berperan strategis dalam menciptakan sumber daya
manusia berkualitas. Sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan, pendidikan
tidak hanya berfungsi mencerdaskan bangsa sesuai amanat Undang-Undang Dasar
1945, tetapi juga bertugas mengembangkan kepribadian manusia yang kreatif,
mandiri, dan mampu membangun diri serta masyarakat (Tilaar, 2010). Dalam
konteks ini, pendidikan menjadi kunci utama dalam transformasi sosial dan
peningkatan daya saing bangsa di era globalisasi yang penuh tantangan.
Indonesia sebagai negara
dengan jumlah penduduk yang besar memiliki tantangan tersendiri dalam mengelola
sistem pendidikan yang berkualitas. Meskipun memiliki jumlah guru yang sangat
banyak tersebar di seluruh nusantara, realitas menunjukkan bahwa kinerja guru
di Indonesia belum sepenuhnya optimal. Berbagai kajian dan evaluasi pendidikan
nasional mengindikasikan adanya kesenjangan antara kuantitas dan kualitas
tenaga pendidik. Padahal, semua komponen dalam proses pembelajaran seperti
kurikulum, materi ajar, media pembelajaran, sarana dan prasarana tidak akan
memberikan dampak maksimal tanpa kehadiran guru yang profesional dan berkinerja
tinggi (Pandoyo & Wuradji, 2015).
Guru sebagai garda terdepan
dalam proses pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam menentukan
keberhasilan pembelajaran. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi
pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab membentuk karakter, mengembangkan potensi,
dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena
itu, kinerja guru menjadi indikator penting dalam mengukur kualitas pendidikan
secara keseluruhan. Kinerja guru yang rendah akan berdampak langsung pada
kualitas pembelajaran dan pada akhirnya mempengaruhi pencapaian hasil belajar
siswa (Wibowo, 2014).
Dalam konteks peningkatan
kinerja guru, peran kepala sekolah menjadi faktor determinan yang tidak dapat
diabaikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di tingkat satuan
pendidikan memiliki tanggung jawab strategis dalam mengelola sumber daya sekolah,
termasuk mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme guru. Kepemimpinan
kepala sekolah yang efektif dapat menciptakan iklim organisasi yang kondusif,
memotivasi guru untuk bekerja lebih baik, serta mendorong inovasi dan
kreativitas dalam pembelajaran (Fathorrazi, 2017).
Sekolah sebagai sebuah
organisasi pendidikan memerlukan kepemimpinan yang visioner dan transformatif.
Kepala sekolah harus mampu mengelola berbagai aspek manajemen sekolah mulai
dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi. Lebih dari
itu, kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memberdayakan guru,
membangun komunikasi yang efektif, menciptakan budaya kerja yang positif, serta
mengembangkan strategi-strategi inovatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan
di sekolahnya (Wahjosumidjo, 2005).
Dalam literatur kepemimpinan
pendidikan, disebutkan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah mereka yang
mampu mengintegrasikan berbagai kompetensi kepemimpinan meliputi kompetensi
manajerial, supervisi, kepribadian, sosial, dan kewirausahaan. Kepala sekolah
harus mampu menjadi motor penggerak perubahan, inspirator bagi guru dan siswa,
serta inovator dalam mengembangkan program-program sekolah yang berorientasi
pada peningkatan mutu (Daryanto, 2011). Tanpa kepemimpinan yang kuat, sekolah
akan kehilangan arah dan sulit mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan.
Salah satu aspek penting dalam
kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan
sumber daya manusia, khususnya guru. Guru merupakan aset paling berharga dalam
sebuah lembaga pendidikan. Kualitas guru akan sangat menentukan kualitas output
pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat
dan terukur dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru. Strategi tersebut
harus disesuaikan dengan konteks dan kondisi sekolah, karakteristik guru, serta
kebutuhan siswa (Tatang, 2016).
Berbagai penelitian telah
mengungkap pentingnya peran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru.
Studi yang dilakukan oleh Battilana et al. (2010) menunjukkan bahwa
kepemimpinan yang efektif memiliki korelasi positif dengan kinerja organisasi,
termasuk dalam konteks sekolah. Kepala sekolah yang mampu menciptakan visi
bersama, membangun kepercayaan, dan mengembangkan kemitraan yang baik dengan
seluruh stakeholder akan lebih berhasil dalam meningkatkan kinerja guru dan
kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Komunikasi menjadi salah satu
kunci keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah. Komunikasi yang efektif
memungkinkan terjadinya pemahaman bersama tentang visi dan misi sekolah,
membangun kepercayaan antara kepala sekolah dan guru, menciptakan kemitraan dengan
pihak eksternal, serta membentuk suasana belajar yang kondusif (Mulyadi, 2015).
Dalam praktiknya, komunikasi kepala sekolah mencakup berbagai aspek mulai dari
struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, proses pengorganisasian,
hingga pengembangan budaya organisasi (Naway, 2017).
Seiring dengan perkembangan
zaman dan tuntutan peningkatan kualitas pendidikan, kepala sekolah dituntut
untuk mengembangkan berbagai strategi kepemimpinan yang adaptif dan inovatif.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan harus mampu menjawab tantangan pendidikan
kontemporer yang semakin kompleks. Kepala sekolah perlu memiliki fleksibilitas
dalam menerapkan berbagai pendekatan kepemimpinan sesuai dengan situasi dan
kondisi yang dihadapi (Afkarina, 2018).
Motivasi merupakan faktor
psikologis yang sangat mempengaruhi kinerja guru. Kepala sekolah yang mampu
memberikan motivasi kepada guru akan menciptakan iklim kerja yang positif dan
produktif. Motivasi dapat diberikan melalui berbagai cara, baik secara intrinsik
maupun ekstrinsik. Pendekatan motivasi intrinsik meliputi pengembangan
profesional, pemberian kepercayaan dan tanggung jawab, serta penciptaan
lingkungan kerja yang mendukung aktualisasi diri. Sementara motivasi ekstrinsik
dapat berupa pemberian penghargaan, insentif, maupun pengakuan terhadap
prestasi guru (Imron, 2011).
Supervisi akademik merupakan
salah satu tugas penting kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru.
Melalui supervisi yang terencana dan berkelanjutan, kepala sekolah dapat
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan guru dalam proses pembelajaran, memberikan
umpan balik konstruktif, serta membantu guru mengembangkan kompetensi
pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Supervisi yang efektif bukan
bersifat menghakimi tetapi lebih kepada pembinaan dan pengembangan profesional
guru (Tatang, 2016).
RA Hidayatul Khoir Purwakarta
sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini memiliki tantangan
tersendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai lembaga yang relatif
baru, RA Hidayatul Khoir harus bekerja keras membangun reputasi dan kepercayaan
masyarakat. Kepala sekolah RA Hidayatul Khoir menyadari bahwa kunci
keberhasilan sekolah terletak pada kualitas guru. Oleh karena itu, berbagai
strategi telah dikembangkan dan diimplementasikan untuk meningkatkan kinerja
mengajar guru.
Berdasarkan observasi awal,
peneliti menemukan beberapa fenomena menarik di RA Hidayatul Khoir Purwakarta.
Kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan yang partisipatif dengan melibatkan
guru dalam berbagai pengambilan keputusan. Komunikasi yang terbangun bersifat
dua arah, terbuka, dan kekeluargaan. Kepala sekolah juga menunjukkan
keteladanan dengan hadir setiap hari di sekolah dan bahkan aktif mengisi
kekosongan jam mengajar ketika ada guru yang berhalangan hadir. Praktik-praktik
kepemimpinan ini menarik untuk dikaji lebih mendalam guna memahami strategi
kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru.
Beberapa indikator menunjukkan
bahwa strategi kepala sekolah di RA Hidayatul Khoir memberikan dampak positif
terhadap kinerja guru. Guru-guru menunjukkan tingkat kedisiplinan yang baik,
antusiasme dalam mengajar, serta kreativitas dalam mengembangkan metode
pembelajaran. Prestasi siswa baik akademik maupun non-akademik juga mengalami
peningkatan. Fenomena ini mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara
kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru.
Penelitian ini menjadi penting
mengingat masih terbatasnya kajian empiris tentang strategi kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerja guru, khususnya di tingkat pendidikan anak usia
dini. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak mengkaji aspek-aspek
parsial seperti gaya kepemimpinan, supervisi, atau motivasi secara terpisah.
Penelitian ini berupaya mengkaji secara komprehensif berbagai strategi yang
diterapkan kepala sekolah serta dampaknya terhadap kinerja guru.
Selain itu, penelitian ini
juga diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi para kepala sekolah
dalam mengembangkan strategi kepemimpinan yang efektif. Best practices yang
ditemukan di RA Hidayatul Khoir dapat menjadi model atau referensi bagi sekolah
lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kinerja guru.
Dengan demikian, penelitian ini memiliki signifikansi baik secara teoretis
maupun praktis dalam pengembangan kepemimpinan pendidikan.
Berdasarkan latar belakang
tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan kajian mendalam tentang strategi
kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru di RA Hidayatul Khoir
Purwakarta. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai strategi yang
diterapkan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi strategi,
serta dampak yang dihasilkan dari penerapan strategi tersebut terhadap kinerja
guru dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Berdasarkan latar belakang
yang telah diuraikan, penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan utama: Pertama,
Bagaimana strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru di
RA Hidayatul Khoir Purwakarta?. Kedua, Bagaimana implikasi (dampak)
strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru di RA
Hidayatul Khoir Purwakarta?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih
karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena
kepemimpinan kepala sekolah dalam konteks natural dan kompleks. Metode studi
kasus memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara intensif suatu kasus
tertentu dalam batasan waktu dan tempat yang jelas (Creswell, 2007). Dalam
penelitian ini, kasus yang dikaji adalah strategi kepala sekolah dalam
meningkatkan kinerja mengajar guru di RA Hidayatul Khoir Purwakarta.
Penelitian dilaksanakan di RA
Hidayatul Khoir Purwakarta yang beralamat di Kampung Cianting RT/RW 014/004,
Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pemilihan
lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa RA Hidayatul Khoir
merupakan lembaga pendidikan yang relatif baru namun menunjukkan perkembangan
yang signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu, kepala
sekolah RA Hidayatul Khoir dikenal memiliki strategi kepemimpinan yang efektif
dalam membina dan mengembangkan kinerja guru.
Subjek penelitian adalah
kepala sekolah dan guru-guru di RA Hidayatul Khoir Purwakarta. Kepala sekolah,
Ibu Yoyoh Khoeriyah, M.Pd, menjadi informan kunci yang memberikan informasi
tentang strategi kepemimpinan yang diterapkan. Sementara guru-guru menjadi
informan yang memberikan perspektif tentang implementasi strategi kepemimpinan
dan dampaknya terhadap kinerja mengajar. Total terdapat 5 guru yang menjadi
informan dalam penelitian ini.
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung praktik
kepemimpinan kepala sekolah, interaksi antara kepala sekolah dengan guru, serta
implementasi berbagai strategi dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Observasi dilakukan secara partisipatif moderat dimana peneliti hadir di lokasi
penelitian tetapi tidak terlibat langsung dalam aktivitas yang diamati
(Sugiyono, 2015).
Wawancara mendalam dilakukan
dengan menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur. Wawancara dilakukan
secara individual dengan kepala sekolah dan guru untuk menggali informasi
tentang strategi kepemimpinan, motivasi kerja, kinerja mengajar, serta dampak
dari strategi yang diterapkan. Wawancara dilakukan dalam suasana yang informal
dan kekeluargaan untuk menciptakan keterbukaan informan dalam memberikan
informasi (Hermawan & Musthaafa, 2018).
Dokumentasi dilakukan dengan
mengumpulkan berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian, seperti
profil sekolah, visi dan misi sekolah, program kerja kepala sekolah, catatan
rapat, hasil supervisi, data prestasi siswa, serta foto-foto kegiatan. Dokumentasi
ini berfungsi sebagai data pendukung yang memperkuat temuan dari observasi dan
wawancara (Amir Hamzah, 2019).
Analisis data dalam penelitian
ini menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri
dari tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan (Ghony & Almanshur, 2012). Reduksi data dilakukan dengan
merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dan
membuang data yang tidak relevan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian
naratif, tabel, dan bagan untuk memudahkan pemahaman terhadap fenomena yang
dikaji. Penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan
sementara yang masih bersifat tentatif hingga kesimpulan final yang didukung
oleh bukti-bukti valid dan konsisten.
Uji keabsahan data dilakukan
melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan
dengan membandingkan dan mengecek informasi yang diperoleh dari berbagai sumber
yaitu kepala sekolah dan beberapa guru. Triangulasi teknik dilakukan dengan
membandingkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi
(Yusuf, 2019). Selain itu, peneliti juga melakukan ketekunan pengamatan dan
perpanjangan waktu penelitian untuk memastikan kredibilitas data yang
diperoleh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan
Kinerja Mengajar Guru
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan di RA Hidayatul Khoir Purwakarta, ditemukan bahwa kepala
sekolah menerapkan berbagai strategi komprehensif dalam meningkatkan kinerja
mengajar guru. Strategi-strategi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling
terintegrasi membentuk sistem kepemimpinan yang holistik dan efektif.
Pemberian Motivasi Melalui Pendekatan
Emosional dan Struktural
Strategi pertama yang
diterapkan kepala sekolah adalah pemberian motivasi kepada guru melalui dua
pendekatan yaitu emosional dan struktural. Pendekatan emosional dilakukan
dengan membangun hubungan yang dekat dan kekeluargaan dengan seluruh guru.
Kepala sekolah menciptakan iklim kerja yang nyaman dimana guru merasa dihargai,
didengarkan, dan menjadi bagian penting dari organisasi sekolah. Hal ini
sejalan dengan teori motivasi Herzberg yang menyatakan bahwa faktor motivator
seperti pengakuan, prestasi, dan tanggung jawab memiliki pengaruh signifikan
terhadap kepuasan kerja (Uno, 2014).
Dalam wawancara dengan kepala
sekolah, beliau menyatakan bahwa menciptakan lingkungan kerja yang nyaman
merupakan prioritas utama. Beliau berupaya agar seluruh warga sekolah merasa
memiliki terhadap lembaga sehingga mampu bertanggung jawab terhadap tugas yang
diberikan. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi
intrinsik guru untuk bekerja dengan sepenuh hati.
Sementara pendekatan
struktural dilakukan melalui penetapan sistem reward dan punishment yang jelas
dan konsisten. Guru yang menunjukkan kinerja baik dan dedikasi tinggi diberikan
apresiasi dalam bentuk pujian di forum rapat, sertifikat penghargaan, maupun
kesempatan untuk mengikuti pelatihan. Sebaliknya, guru yang melanggar aturan
atau menunjukkan kinerja rendah diberikan teguran dan sanksi yang bersifat
mendidik. Sistem ini menciptakan akuntabilitas dan mendorong guru untuk terus
meningkatkan kinerjanya (Rivai, 2014).
Mengikutsertakan Guru dalam Pelatihan dan
Workshop
Strategi kedua adalah
mengikutsertakan guru dalam berbagai program pelatihan dan workshop untuk
meningkatkan kompetensi. Kepala sekolah menyadari bahwa kompetensi guru harus
terus dikembangkan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh
karena itu, secara berkala guru dikirim untuk mengikuti pelatihan baik yang
diselenggarakan oleh dinas pendidikan maupun lembaga lain (Alfiandrizal et al.,
2023).
Kepala sekolah juga mengadakan
workshop internal dimana guru-guru berbagi best practices dan saling belajar
satu sama lain. Forum ini menjadi wadah kolaborasi dan pengembangan profesional
guru yang berkelanjutan. Guru-guru didorong untuk terus berinovasi dan
berkreativitas dalam mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan bagi siswa.
Melakukan Supervisi dan Evaluasi Berkala
Supervisi akademik dilakukan
secara rutin oleh kepala sekolah yang dibantu oleh wakil kepala sekolah.
Supervisi dilakukan minimal satu kali dalam sebulan untuk setiap guru. Melalui
supervisi, kepala sekolah dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan guru
dalam proses pembelajaran, memberikan umpan balik konstruktif, serta membantu
guru menyusun rencana perbaikan (Tatang, 2016).
Supervisi yang dilakukan
bersifat kolaboratif dan kolegial, bukan inspektif. Kepala sekolah memposisikan
diri sebagai mitra guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Setelah
supervisi, dilakukan diskusi reflektif dimana guru dan kepala sekolah bersama-sama
menganalisis pembelajaran dan merumuskan strategi perbaikan.
Evaluasi dilakukan setiap
bulan melalui rapat evaluasi guru. Dalam rapat ini, berbagai aspek kegiatan
sekolah dibahas termasuk proses pembelajaran, pencapaian siswa, kendala yang
dihadapi, serta solusi yang dapat dilakukan. Rapat evaluasi ini menjadi forum
komunikasi yang efektif antara kepala sekolah dan guru dalam meningkatkan
kinerja sekolah secara keseluruhan.
Studi Banding ke Sekolah Lain
Kepala sekolah juga mengadakan
program studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih maju. RA Hidayatul Khoir
telah melakukan studi banding ke RA Hidayatul Mubtadiin Purwakarta yang dikenal
memiliki kualitas pendidikan yang baik. Melalui studi banding, guru dapat
melihat langsung praktik-praktik terbaik yang diterapkan di sekolah lain dan
mengadopsinya sesuai dengan konteks sekolah sendiri.
Studi banding memberikan
wawasan baru bagi guru tentang berbagai inovasi pembelajaran, pengelolaan
kelas, maupun pengembangan kreativitas siswa. Pengalaman ini menjadi sumber
inspirasi dan motivasi bagi guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran
di kelasnya masing-masing.
Menciptakan Lingkungan Kerja yang Kondusif
Kepala sekolah berupaya
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman bagi guru. Hal ini
dilakukan dengan membangun komunikasi yang terbuka, menghargai setiap pendapat
guru, melibatkan guru dalam pengambilan keputusan, serta menciptakan suasana kerja
yang kolaboratif. Kepala sekolah menerapkan prinsip kesetaraan dimana tidak ada
perbedaan perlakuan terhadap semua guru (Mulyadi, 2015).
Budaya organisasi yang
dikembangkan adalah budaya kekeluargaan dimana semua warga sekolah saling
mendukung, membantu, dan berbagi. Ketika ada guru yang menghadapi kesulitan,
guru lain dan kepala sekolah siap membantu mencari solusi. Iklim kerja yang
positif ini sangat mempengaruhi motivasi dan kinerja guru.
Memberikan Penghargaan dan Apresiasi
Penghargaan diberikan kepada
guru yang menunjukkan prestasi baik dalam bentuk kinerja mengajar maupun
pembimbingan siswa. Penghargaan tidak selalu dalam bentuk materi tetapi bisa
berupa pujian, pengakuan publik, sertifikat, maupun kesempatan untuk mengikuti
kegiatan tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa penghargaan dan apresiasi
memiliki dampak signifikan terhadap motivasi kerja guru (Uno, 2014).
Guru-guru menyatakan bahwa
mereka merasa dihargai ketika kepala sekolah memberikan pujian atas kerja keras
mereka. Apresiasi ini mendorong mereka untuk terus memberikan yang terbaik
dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.
Menerapkan Kepemimpinan Partisipatif
Kepala sekolah menerapkan gaya
kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan guru dalam berbagai pengambilan
keputusan. Setiap keputusan penting yang berkaitan dengan sekolah selalu
didiskusikan terlebih dahulu dengan seluruh guru. Kepala sekolah mendengarkan
masukan dan saran dari guru sebelum mengambil keputusan final (Wahjosumidjo,
2005).
Kepemimpinan partisipatif ini
menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap kemajuan sekolah.
Guru tidak merasa hanya sebagai pelaksana tetapi juga sebagai bagian dari tim
manajemen yang ikut menentukan arah dan kebijakan sekolah. Hal ini meningkatkan
komitmen dan dedikasi guru terhadap sekolah.
Keteladanan Langsung
Strategi yang sangat efektif
yang diterapkan kepala sekolah adalah memberikan keteladanan langsung. Kepala
sekolah selalu hadir setiap hari di sekolah bahkan seringkali datang lebih awal
dari guru. Ketika ada guru yang berhalangan hadir, kepala sekolah tidak segan
untuk mengisi kekosongan jam mengajar sehingga siswa tetap terlayani dengan
baik (Daryanto, 2011).
Keteladanan ini memberikan
dampak psikologis yang kuat bagi guru. Mereka merasa malu jika datang terlambat
atau tidak disiplin karena melihat kepala sekolah yang begitu dedikasi terhadap
sekolah. Keteladanan terbukti lebih efektif dalam membentuk perilaku
dibandingkan dengan perintah atau aturan formal.
Dampak Strategi Kepala Sekolah terhadap
Kinerja Mengajar Guru
Implementasi berbagai strategi
kepemimpinan yang telah dijelaskan di atas memberikan dampak yang signifikan
terhadap kinerja mengajar guru di RA Hidayatul Khoir Purwakarta. Dampak-dampak
tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:
Peningkatan Motivasi Kerja Guru
Dampak paling nyata dari
strategi kepala sekolah adalah meningkatnya motivasi kerja guru. Guru-guru
menunjukkan semangat yang tinggi dalam melaksanakan tugas mengajar. Mereka
datang tepat waktu, mempersiapkan pembelajaran dengan baik, dan aktif dalam berbagai
kegiatan sekolah. Motivasi intrinsik guru meningkat karena merasa dihargai,
didukung, dan memiliki kesempatan untuk berkembang (Uno, 2014).
Berdasarkan wawancara dengan
beberapa guru, mereka menyatakan bahwa strategi kepala sekolah dalam memberikan
motivasi sangat efektif. Mereka merasa termotivasi untuk menjadi guru yang
lebih profesional karena mendapat dukungan penuh dari kepala sekolah baik dalam
bentuk pelatihan, bimbingan, maupun apresiasi.
Peningkatan Profesionalisme Guru dalam
Mengajar
Guru-guru menunjukkan
peningkatan dalam profesionalisme mengajar. Mereka lebih kreatif dalam
mengembangkan metode pembelajaran, lebih terampil dalam mengelola kelas, dan
lebih responsif terhadap kebutuhan siswa. Program supervisi dan pelatihan yang
rutin membantu guru terus mengupdate pengetahuan dan keterampilan mengajarnya
(Alfiandrizal et al., 2023).
Guru-guru juga lebih berani
berinovasi dalam pembelajaran. Mereka mengembangkan berbagai aktivitas
pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa seperti pembelajaran
berbasis proyek, penggunaan media kreatif, dan integrasi teknologi dalam
pembelajaran. Inovasi-inovasi ini memberikan pengalaman belajar yang bermakna
bagi siswa.
Peningkatan Prestasi Akademik dan
Non-Akademik Siswa
Peningkatan kinerja guru
berdampak langsung pada prestasi siswa. Prestasi akademik siswa meningkat yang
ditunjukkan dari hasil evaluasi pembelajaran yang semakin baik. Siswa juga
menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam berbagai aspek perkembangan seperti
kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan moral-spiritual.
Prestasi non-akademik juga
mengalami peningkatan. Siswa-siswa RA Hidayatul Khoir berhasil meraih berbagai
prestasi dalam kompetisi dan lomba baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Prestasi-prestasi ini menjadi bukti bahwa kualitas pembelajaran yang dilakukan
guru semakin meningkat.
Terciptanya Budaya Kerja yang Positif
Strategi kepemimpinan yang
diterapkan berhasil menciptakan budaya kerja yang positif di sekolah. Budaya
kolaborasi, saling mendukung, dan berbagi menjadi ciri khas RA Hidayatul Khoir.
Guru-guru bekerja sebagai tim yang solid, saling membantu dalam menyelesaikan
tugas, dan berbagi praktik terbaik dalam pembelajaran (Mulyadi, 2015).
Budaya disiplin juga terbangun
dengan baik. Guru-guru menunjukkan kedisiplinan dalam kehadiran, ketepatan
waktu, dan pelaksanaan tugas. Budaya inovasi juga berkembang dimana guru-guru
terdorong untuk terus mencoba hal-hal baru dalam pembelajaran demi kemajuan
siswa.
Peningkatan Kepercayaan Masyarakat
Kinerja guru yang meningkat
dan prestasi siswa yang gemilang berdampak pada meningkatnya kepercayaan
masyarakat terhadap RA Hidayatul Khoir. Meskipun merupakan lembaga yang relatif
baru, RA Hidayatul Khoir berhasil menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan
anak mereka. Jumlah siswa terus meningkat setiap tahunnya yang menunjukkan
bahwa masyarakat mengapresiasi kualitas pendidikan yang diberikan.
Kepercayaan masyarakat ini
menjadi modal penting bagi keberlanjutan dan pengembangan sekolah. Dengan
dukungan masyarakat yang kuat, RA Hidayatul Khoir dapat terus meningkatkan
kualitas dan mengembangkan berbagai program inovatif untuk kemajuan pendidikan.
Peningkatan Komitmen dan Loyalitas Guru
Guru-guru menunjukkan komitmen
dan loyalitas yang tinggi terhadap sekolah. Mereka tidak hanya menjalankan
tugas sebatas kewajiban tetapi dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi. Tingkat
turnover guru sangat rendah yang menunjukkan bahwa guru betah dan puas bekerja
di RA Hidayatul Khoir (Rivai, 2014).
Komitmen guru terhadap visi
dan misi sekolah juga sangat kuat. Mereka memahami dan mengimplementasikan visi
misi dalam setiap aktivitas pembelajaran. Guru-guru merasa menjadi bagian dari
keluarga besar RA Hidayatul Khoir dan berkontribusi aktif dalam setiap program
sekolah.
PEMBAHASAN
Temuan penelitian ini
menunjukkan bahwa strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar
guru di RA Hidayatul Khoir Purwakarta bersifat komprehensif dan
multidimensional. Strategi-strategi yang diterapkan tidak berdiri sendiri
tetapi saling terkait dan terintegrasi membentuk sistem kepemimpinan yang
holistik. Hal ini sejalan dengan teori kepemimpinan transformasional yang
menekankan bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu mentransformasi
organisasi melalui visi yang jelas, motivasi inspirasional, stimulasi
intelektual, dan perhatian individual terhadap pengikutnya (Northouse, 2017).
Strategi pemberian motivasi
yang diterapkan kepala sekolah mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang
teori motivasi. Kombinasi antara pendekatan emosional dan struktural
menunjukkan bahwa kepala sekolah memahami bahwa motivasi tidak hanya terkait
dengan faktor ekstrinsik seperti reward dan punishment, tetapi juga faktor
intrinsik seperti kebutuhan akan pengakuan, prestasi, dan aktualisasi diri.
Pendekatan ini sejalan dengan teori hierarki kebutuhan Maslow yang menyatakan
bahwa manusia memiliki berbagai tingkatan kebutuhan mulai dari kebutuhan
fisiologis hingga aktualisasi diri (Uno, 2014).
Penerapan supervisi dan
evaluasi berkala menunjukkan komitmen kepala sekolah dalam peningkatan kualitas
pembelajaran secara berkelanjutan. Supervisi yang bersifat kolaboratif dan
kolegial menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan profesional guru.
Hal ini berbeda dengan supervisi tradisional yang bersifat inspektif dan
seringkali menciptakan kecemasan bagi guru. Pendekatan supervisi kolaboratif
terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kinerja guru karena menciptakan
hubungan yang setara dan saling menghormati antara supervisor dan guru (Tatang,
2016).
Program studi banding
merupakan strategi yang sangat efektif dalam membuka wawasan guru tentang
praktik-praktik terbaik di bidang pendidikan. Melalui studi banding, guru tidak
hanya mendapat pengetahuan teoretis tetapi juga dapat melihat langsung implementasi
praktis di lapangan. Pengalaman ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi
guru untuk mengadopsi inovasi-inovasi yang relevan dengan konteks sekolahnya.
Kepemimpinan partisipatif yang
diterapkan kepala sekolah mencerminkan gaya kepemimpinan yang demokratis dan
inklusif. Dengan melibatkan guru dalam pengambilan keputusan, kepala sekolah
menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap kemajuan sekolah.
Hal ini sejalan dengan teori kepemimpinan situasional yang menyatakan bahwa
gaya kepemimpinan yang efektif adalah yang disesuaikan dengan tingkat
kematangan pengikut. Guru-guru di RA Hidayatul Khoir memiliki tingkat
kematangan yang cukup tinggi sehingga gaya kepemimpinan partisipatif menjadi
sangat tepat (Thoha, 1995).
Keteladanan yang ditunjukkan
kepala sekolah merupakan bentuk kepemimpinan transformasional yang sangat
efektif. Teori pembelajaran sosial Bandura menyatakan bahwa manusia belajar
melalui observasi dan modeling. Ketika kepala sekolah menunjukkan dedikasi,
disiplin, dan profesionalisme, guru-guru akan mengobservasi perilaku tersebut
dan cenderung menirunya. Keteladanan terbukti lebih efektif dalam membentuk
perilaku dibandingkan dengan instruksi verbal atau aturan formal (Makuwimbang,
2012).
Dampak dari strategi
kepemimpinan yang diterapkan sangat signifikan tidak hanya terhadap kinerja
guru tetapi juga terhadap kualitas pendidikan secara keseluruhan. Peningkatan
motivasi dan profesionalisme guru berdampak langsung pada kualitas pembelajaran
yang pada akhirnya meningkatkan prestasi siswa. Hal ini membuktikan bahwa
kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor kunci dalam peningkatan mutu
pendidikan (Wahjosumidjo, 2005).
Terciptanya budaya kerja yang
positif merupakan aset tak ternilai bagi sebuah organisasi pendidikan. Budaya
organisasi yang kuat menjadi perekat yang menyatukan seluruh warga sekolah
dalam mencapai visi dan misi. Budaya kolaborasi, inovasi, dan excellence yang
terbangun di RA Hidayatul Khoir menjadi fondasi bagi keberlanjutan peningkatan
kualitas pendidikan (Helmawati, 2014).
Peningkatan kepercayaan
masyarakat menunjukkan bahwa kualitas pendidikan yang baik akan mendapat
apresiasi dan dukungan dari stakeholder. Kepercayaan masyarakat ini menjadi
modal sosial yang sangat penting bagi pengembangan sekolah. Dengan dukungan
masyarakat yang kuat, sekolah dapat mengembangkan berbagai program inovatif dan
berkelanjutan.
Temuan penelitian ini
memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teori dan praktik kepemimpinan
pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif
memerlukan integrasi berbagai pendekatan dan strategi yang disesuaikan dengan
konteks dan karakteristik organisasi. Tidak ada satu strategi tunggal yang
dapat menjamin keberhasilan, tetapi kombinasi berbagai strategi yang saling
memperkuat akan menghasilkan dampak yang optimal.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian
dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa strategi kepala sekolah dalam
meningkatkan kinerja mengajar guru di RA Hidayatul Khoir Purwakarta bersifat
komprehensif dan multidimensional meliputi pemberian motivasi melalui pendekatan
emosional dan struktural, mengikutsertakan guru dalam pelatihan dan workshop,
melakukan supervisi dan evaluasi berkala, studi banding ke sekolah lain,
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, memberikan penghargaan dan
apresiasi, menerapkan kepemimpinan partisipatif, serta memberikan keteladanan
langsung.
Dampak dari strategi
kepemimpinan tersebut sangat signifikan terhadap peningkatan kinerja mengajar
guru yang meliputi peningkatan motivasi kerja guru, peningkatan profesionalisme
guru dalam mengajar, peningkatan prestasi akademik dan non-akademik siswa, terciptanya
budaya kerja yang positif, peningkatan kepercayaan masyarakat, serta
peningkatan komitmen dan loyalitas guru terhadap sekolah. Strategi kepemimpinan
yang partisipatif, motivatif, dan keteladanan terbukti sangat efektif dalam
meningkatkan kinerja mengajar guru dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Penelitian ini
merekomendasikan agar kepala sekolah terus mengembangkan variasi strategi
kepemimpinan yang adaptif sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan tantangan
pendidikan. Program-program yang telah berjalan baik seperti supervisi,
pelatihan, dan studi banding perlu dipertahankan dan ditingkatkan
intensitasnya. Kepala sekolah juga perlu terus menjadi teladan dalam
kedisiplinan, profesionalisme, dan dedikasi terhadap pendidikan. Bagi peneliti
selanjutnya, disarankan untuk mengkaji aspek-aspek lain dari kepemimpinan
pendidikan seperti peran kepala sekolah dalam pengembangan kurikulum, manajemen
keuangan, atau kemitraan dengan stakeholder.
REFERENSI
Afkarina,
N. I. (2018). Strategi komunikasi humas dalam membentuk public opinion lembaga
pendidikan. Jurnal Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, 2(1), 50–63.
Alfiandrizal,
Alfiandrizal, et al. (2023). Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan
disiplin kerja guru di MTS Negeri 2 Agam. Innovative: Journal Of Social Science
Research, 3(2), 14386-14397.
Amir
Hamzah. (2019). Metode penelitian kualitatif. Junrejo: Literasi Nusantara.
Battilana,
J., Gilmartin, M., Sengul, M., Pache, A.-C., & Alexander, J. A. (2010).
Leadership competencies for implementing planned organizational change. The
Leadership Quarterly, 21(3), 422–438.
Creswell,
J. (2007). Qualitative inquiry and research design. California: SAGE
Publications.
Daryanto.
(2011). Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Fathorrazi,
A. (2017). Kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi dan pengembangan
kurikulum 2013. Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(1), 56–63.
Ghony, D.,
& Almanshur, F. (2012). Metodologi penelitian kualitatif. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Helmawati.
(2014). Meningkatkan kinerja kepala sekolah/madrasah melalui managerial skills.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hermawan,
A., & Musthaafa, I. (2018). Metodologi penelitian bahasa Arab konsep dasar
strategi metode teknik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Imron, A.
(2011). Supervisi pembelajaran tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Makuwimbang,
J. H. (2012). Kepemimpinan pendidikan yang bermutu. Bandung: Alfabeta.
Mulyadi.
(2015). Kepemimpinan dan perilaku organisasi. Jakarta: RajawaliPress.
Naway, F.
A. (2017). Komunikasi & organisasi pendidikan. Gorontalo: Ideas Publishing.
Northouse,
P. G. (2017). Kepemimpinan: Teori dan praktik (6th ed.). Jakarta Barat: Indeks.
Pandoyo,
R., & Wuradji, W. (2015). Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, kinerja
guru, komite sekolah terhadap keefektifan SDN Se-Kecamatan Mlati. Jurnal
Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, 3(2), 250-263.
Rivai, V.
(2014). Manajemen sumber daya manusia untuk perusahaan (Edisi kedua). Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Sugiyono.
(2015). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif,
R&D. Bandung: Alfabeta.
Tatang, S.
(2016). Supervisi pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Thoha, M.
(1995). Kepemimpinan dalam manajemen. Jakarta: Rajawali.
Tilaar,
H.A.R. (2010). Paradigma baru pendidikan nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Uno, H. B.
(2014). Teori motivasi dan pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahjosumidjo.
(2005). Kepemimpinan kepala sekolah: Tinjauan teoritik dan permasalahannya.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Wibowo, W.
(2014). Manajemen kinerja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Yusuf, A.
M. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan.
Jakarta: Prenadamedia Group.
No comments
Post a Comment