Feasibility Study of Chatime Franchise Business
Dini Vientiany1, Annisa Riani Simbolon2,
Nur Afiqah Nabila3, Hasbi Rizky Rawy4
1-4Prodi Manajemen, Universitas Islam Negeri
Sumatera Utara
Email: dini1100000167@uinsu.ac.id, rianianisa972@gmail.com, nurafiqahnabila08@gmail.com, hasbirawy@gmail.com
Abstrak
Perkembangan
industri minuman kekinian di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang pesat,
khususnya pada produk berbasis teh susu mutiara. Salah satu merek yang mampu
mempertahankan eksistensinya adalah Chatime, jaringan minuman teh asal Taiwan
yang telah memiliki lebih dari 2.300 gerai di 38 negara, termasuk sekitar 460
gerai di Indonesia hingga tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kelayakan bisnis waralaba Chatime dengan meninjau berbagai aspek,
meliputi aspek pasar dan pemasaran, aspek hukum, aspek teknis dan operasional,
aspek manajemen, aspek keuangan, aspek syariah dan halal, serta aspek ekonomi,
sosial, dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif
kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari literatur
ilmiah, laporan media, serta dokumen resmi perusahaan. Hasil analisis
menunjukkan bahwa Chatime memiliki target pasar yang jelas, sistem operasional
yang terstandarisasi, serta prospek keuangan yang menjanjikan meskipun
memerlukan investasi awal yang relatif besar, yaitu sekitar Rp1,4 miliar.
Secara keseluruhan, bisnis waralaba Chatime dinilai layak untuk dijalankan dan
memiliki potensi keberlanjutan di Indonesia.
Kata kunci: studi kelayakan bisnis, waralaba, Chatime, minuman
kekinian
Abstract
The development of the contemporary
beverage industry in Indonesia shows rapid growth, especially in pearl milk
tea-based products. One brand that has been able to maintain its existence is
Chatime, a Taiwanese tea beverage chain that has more than 2,300 outlets in 38
countries, including around 460 outlets in Indonesia by 2025. This study aims
to analyze the feasibility of the Chatime franchise business by reviewing
various aspects, including market and marketing aspects, legal aspects,
technical and operational aspects, management aspects, financial aspects,
sharia and halal aspects, as well as economic, social, and environmental
aspects. The method used is a qualitative descriptive approach using secondary
data obtained from scientific literature, media reports, and official company
documents. The results of the analysis show that Chatime has a clear target
market, a standardized operational system, and promising financial prospects,
even though it requires a relatively large initial investment of around IDR 1.4
billion. Overall, the Chatime franchise business is considered feasible to run
and has the potential for sustainability in Indonesia.
Keywords:
business feasibility study,
franchise, Chatime, contemporary beverages
PENDAHULUAN
Perkembangan
industri makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan dinamika yang signifikan
dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada segmen minuman kekinian berbasis
teh dan susu. Fenomena ini tak lagi sekadar respons terhadap permintaan
konsumen, tetapi telah menyatu dengan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan terutama generasi muda
yang lebih aktif, berpindah tempat, dan terpapar kuat oleh budaya populer dan
media sosial. Minuman seperti bubble tea, milk tea, dan berbagai varian teh
berperisa kini tidak lagi dilihat sebagai sekadar penyegar dahaga, melainkan
sebagai bagian dari identitas sosial dan ekspresi gaya hidup urban yang ingin
tampil kekinian dan estetik dalam konsumsi sehari-hari (Rahadi et al, 2023). Fenomena tersebut mendorong munculnya berbagai merek
minuman kekinian, baik merek lokal maupun internasional, yang bersaing dalam
menawarkan inovasi produk, konsep gerai, serta strategi pemasaran yang menarik.
Persaingan yang semakin ketat menuntut setiap pelaku usaha untuk memiliki
perencanaan bisnis yang matang agar mampu bertahan dan berkembang secara
berkelanjutan. Dalam konteks inilah, studi kelayakan bisnis menjadi penting
sebagai alat analisis untuk menilai potensi, risiko, serta prospek suatu usaha
sebelum dijalankan atau dikembangkan lebih lanjut.
Chatime merupakan salah satu merek minuman kekinian berbasis teh yang
memiliki reputasi global. Merek ini berasal dari Taiwan dan telah beroperasi di
lebih dari 38 negara dengan jumlah gerai mencapai lebih dari 2.300 unit. Di
Indonesia, Chatime mulai beroperasi sejak tahun 2011 dan dikelola oleh PT Foods
Beverages Indonesia yang berada di bawah naungan Kawan Lama Group. Hingga tahun
2025, Chatime tercatat memiliki sekitar 460 gerai yang tersebar di berbagai
kota besar di Indonesia. Keberhasilan ekspansi tersebut menunjukkan bahwa
Chatime memiliki daya tarik pasar yang kuat serta sistem bisnis yang relatif
stabil.
Keunggulan Chatime terletak pada konsistensi kualitas produk, penggunaan
bahan baku yang terstandarisasi, serta variasi menu yang mampu menyesuaikan
dengan selera konsumen lokal. Selain itu, konsep customized drink yang
memungkinkan pelanggan memilih tingkat gula, es, dan topping sesuai preferensi
pribadi menjadi nilai tambah yang membedakan Chatime dari pesaingnya. Dari sisi
pengalaman pelanggan, desain gerai yang modern dan nyaman turut mendukung citra
Chatime sebagai merek minuman yang dekat dengan gaya hidup anak muda.
Perkembangan
teknologi digital turut mendorong pertumbuhan bisnis minuman kekinian seperti
Chatime melalui integrasi
layanan pemesanan online yang semakin praktis dan terjangkau. Penggunaan
aplikasi food delivery seperti GoFood, GrabFood, dan platform digital lain
telah memungkinkan konsumen untuk melakukan pemesanan tanpa harus datang
langsung ke gerai, sehingga memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan volume
transaksi (Mumtaz et al, 2023). Di samping
itu, strategi promosi melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok membuat
Chatime mampu menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya generasi muda yang
aktif di ruang digital. Program loyalitas pelanggan dan kolaborasi dengan
berbagai pihak turut memperkuat posisi merek di tengah persaingan industri minuman.
Dari
sudut pandang ekonomi dan sosial, kehadiran usaha berbasis waralaba minuman
seperti Chatime juga berdampak positif terhadap lingkungan sekitarnya. Selain
membuka peluang kerja yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal termasuk generasi muda
dan mahasiswa yang mencari pekerjaan paruh waktu atau pengalaman kerja, keberadaan usaha ini
juga berkontribusi dalam penguatan modal ekonomi lokal melalui keterlibatan
pemasok bahan baku, jasa pendukung, serta jaringan usaha mikro kecil di
sekitarnya (Nasution et al, 2023). Namun demikian, investasi awal
yang relatif besar dalam bisnis waralaba Chatime, yaitu sekitar
Rp1.400.000.000, menuntut calon investor untuk melakukan analisis yang cermat
sebelum memutuskan untuk terlibat dalam usaha ini.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan kajian yang komprehensif mengenai
kelayakan bisnis waralaba Chatime di Indonesia. Penelitian ini penting untuk
menilai apakah bisnis tersebut layak dijalankan dan dikembangkan dengan
mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari aspek pasar dan pemasaran, hukum,
teknis dan operasional, manajemen, keuangan, syariah, sosial, hingga
lingkungan. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas
bagi calon investor, pelaku usaha, maupun pihak akademisi mengenai prospek dan
tantangan bisnis waralaba Chatime di Indonesia.
METODE
PENELITIAN
1. Jenis dan
Pendekatan Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif
kualitatif dengan penerapan studi kelayakan bisnis. Pendekatan deskriptif
kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam keadaan nyata dan
menganalisis kelayakan bisnis waralaba Chatime berdasarkan berbagai aspek yang
relevan, bukan untuk menguji hipotesis numerik. Dengan pendekatan ini, peneliti
dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di lapangan secara menyeluruh melalui
data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi
(Syukriah & Nurmaida, 2024).
Studi
kelayakan bisnis dilakukan untuk menilai apakah usaha waralaba Chatime layak
dijalankan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan
operasional, aspek hukum, aspek manajemen, aspek keuangan, serta aspek sosial
dan lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa
studi kelayakan bisnis merupakan alat evaluasi penting dalam menentukan sejauh
mana sebuah usaha layak untuk dijalankan, karena melibatkan evaluasi
komprehensif dari semua dimensi yang berpengaruh terhadap keberhasilan usaha
tersebut melalui analisis kualitatif deskriptif yang mendalam.
2. Objek dan
Lokasi Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah bisnis waralaba Chatime di Indonesia,
yang dikelola oleh PT Foods Beverages Indonesia di bawah naungan Kawan Lama
Group. Fokus penelitian diarahkan pada analisis sistem bisnis, operasional, dan
kinerja usaha Chatime secara umum, khususnya yang berkaitan dengan pembukaan
dan pengelolaan satu gerai waralaba Chatime.
Penelitian ini tidak dilakukan pada satu lokasi fisik tertentu, melainkan
bersifat konseptual dan analitis dengan menggunakan data yang merepresentasikan
kondisi usaha Chatime di Indonesia, termasuk contoh gerai yang berlokasi di
pusat perbelanjaan dan area kampus.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Aspek Pasar dan Pemasaran
Aspek pasar dan pemasaran merupakan faktor penting dalam menentukan
kelayakan bisnis waralaba Chatime. Berdasarkan hasil analisis, Chatime menyasar
segmen konsumen yang jelas, yaitu mahasiswa dan pelajar berusia 15–24 tahun
serta pekerja muda berusia 25–35 tahun. Segmen ini umumnya memiliki gaya hidup
urban, aktif di media sosial, serta memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman
kekinian sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, seperti bersantai, belajar,
maupun bekerja.
Dari sisi segmentasi, Chatime membagi pasar berdasarkan empat pendekatan
utama. Secara demografis, konsumen Chatime berasal dari kelompok usia muda
dengan tingkat pendapatan menengah. Secara geografis, gerai Chatime banyak
ditempatkan di area kampus, pusat perbelanjaan, dan kawasan perkotaan yang
ramai. Dari aspek psikografis, target konsumen memiliki gaya hidup modern,
menyukai produk minuman yang inovatif, serta tertarik pada konsep gerai yang
nyaman dan estetis. Sementara itu, dari sisi perilaku, konsumen cenderung
mencari produk dengan variasi rasa dan topping, harga yang masih terjangkau,
serta pelayanan yang cepat untuk kebutuhan take-away maupun dine-in ringan (Firdayani et al, 2023)..
Dalam menentukan target pasar (targeting), Chatime secara khusus memilih
mahasiswa, pelajar, dan pekerja muda karena kelompok ini memiliki frekuensi
konsumsi yang relatif tinggi terhadap minuman kekinian. Selain itu, kelompok
ini aktif di media sosial dan sering membagikan pengalaman konsumsi mereka,
sehingga berpotensi menciptakan promosi organik melalui unggahan dan ulasan
daring. Kebiasaan konsumsi yang fleksibel juga sejalan dengan konsep gerai
Chatime yang modern dan praktis (Hermawan et al, 2022)
Dari sisi positioning, Chatime memposisikan diri sebagai merek minuman teh
premium dengan kualitas bahan baku yang baik, variasi rasa yang beragam, serta
pengalaman pelanggan yang menyenangkan. Chatime tidak hanya menawarkan minuman,
tetapi juga menghadirkan konsep tempat nongkrong yang estetik dan menjadi
bagian dari gaya hidup sosial anak muda. Positioning ini diperkuat dengan citra
merek global, inovasi menu musiman, serta kemudahan pemesanan melalui aplikasi
digital.
Strategi bauran pemasaran (marketing mix) Chatime meliputi empat unsur
utama. Dari aspek produk, Chatime menawarkan berbagai kategori minuman seperti
milk tea, teh hitam, teh hijau, smoothies, smoothies buah, kopi, serta minuman
lainnya seperti honey lemon juice. Selain itu, Chatime menyediakan beragam
pilihan topping, antara lain pearl (boba), grass jelly, egg pudding, rainbow
jelly, dan coffee jelly. Variasi produk ini memberikan fleksibilitas bagi
konsumen untuk menyesuaikan minuman sesuai preferensi masing-masing (Daryanto & Hasiholan,
2019)
Dari sisi harga, Chatime menetapkan kisaran harga yang relatif terjangkau
untuk segmen menengah, dengan harga minuman Popcan sekitar Rp20.000–Rp33.000,
menu reguler milk tea sekitar Rp26.000–Rp29.000, serta menu “Gede Banget” (1
liter) sekitar Rp65.000–Rp77.000. Penetapan harga ini dinilai sesuai dengan
daya beli target pasar, sebagaimana hasil survei mini terhadap 50 responden
yang menunjukkan bahwa 90% responden menyatakan harga Rp20.000–Rp30.000 masih
tergolong terjangkau.
Dari aspek tempat (place), gerai Chatime ditempatkan di lokasi strategis
seperti pusat perbelanjaan, ruko, dan area kampus dengan akses yang mudah.
Contoh lokasi gerai Chatime di Kota Medan antara lain DELIPARK Mall, Sun Plaza,
dan Plaza Medan Fair. Sementara itu, dari sisi promosi, Chatime memanfaatkan
media sosial seperti Instagram dan TikTok, program diskon mahasiswa, happy
hour, loyalty program, serta kolaborasi dengan komunitas dan acara kampus.
2. Aspek Hukum
Dari aspek hukum, Chatime di Indonesia dikelola oleh PT Foods Beverages
Indonesia yang merupakan bagian dari Kawan Lama Group. Operasional bisnis
Chatime dijalankan dengan sistem waralaba yang telah memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di Indonesia, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 42
Tahun 2007 yang diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024,
serta Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71 Tahun 2019
Perjanjian waralaba antara franchisor dan franchisee dibuat secara tertulis
dan memuat hak serta kewajiban masing-masing pihak, termasuk penggunaan merek,
sistem operasional, dan pembagian keuntungan. Selain itu, setiap usaha waralaba
Chatime wajib memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dan Nomor Induk
Berusaha (NIB) yang diperoleh melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Chatime juga telah memenuhi aspek perlindungan konsumen, antara lain dengan
memiliki sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan nomor
ID00310000225090122 untuk PT Foods Beverages Indonesia. Selain itu, Chatime
mematuhi ketentuan perpajakan, termasuk pajak penghasilan (PPh), pajak
pertambahan nilai (PPN), dan pajak daerah, dengan NPWP PT Foods Beverages
Indonesia yaitu 83.082.311.8-411.000. Dalam aspek ketenagakerjaan, Chatime
menerapkan ketentuan upah sesuai UMR serta jaminan sosial bagi karyawan.
3. Aspek Teknis dan Operasional
Aspek
teknis dan operasional dalam bisnis minuman kekinian, termasuk franchise
seperti Chatime, tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan layanan,
tetapi juga oleh kemampuan dalam memilih lokasi outlet yang strategis. Berbagai
penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa lokasi usaha memegang peranan penting
dalam menarik konsumen dan memengaruhi keputusan pembelian, terutama ketika
outlet tersebut mudah diakses dan terlihat oleh target pasar, seperti anak muda
yang menjadi segmen utama (Manan et al, 2022). Tata letak dan
desain gerai Chatime dirancang dengan konsep modern, minimalis, dan estetik.
Area gerai dibagi menjadi area kasir dan pelayanan, area pembuatan minuman,
area duduk pelanggan, serta area penyimpanan bahan baku dan peralatan. Desain
interior menggunakan warna-warna lembut seperti ungu muda, putih, dan elemen
kayu dengan pencahayaan hangat untuk menciptakan kenyamanan pelanggan.
Dari sisi peralatan dan teknologi, Chatime menggunakan mesin pembuat teh, blender, kulkas dan freezer, topping station, serta sistem kasir digital (POS). Selain itu, diterapkan sistem inventory dan quality control untuk menjaga konsistensi rasa dan kebersihan produk. Operasional harian dijalankan dengan jam operasional sekitar pukul 10.00–22.00 atau 23.00 WIB, menggunakan sistem kerja shift bagi karyawan, serta prosedur operasional standar yang ketat.
4. Aspek Manajemen
Aspek manajemen Chatime ditunjang oleh struktur organisasi yang jelas dan
sistem pengelolaan yang terstandarisasi. Setiap gerai dipimpin oleh seorang
store manager yang bertanggung jawab atas operasional, pengawasan karyawan,
serta pencapaian target penjualan. Supervisor atau shift leader berperan dalam
mengatur jadwal kerja dan memastikan operasional berjalan sesuai SOP.
Karyawan terdiri dari barista, kasir, dan staf pendukung lainnya yang
mendapatkan pelatihan secara berkala. Perencanaan manajemen mencakup
perencanaan sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, pengawasan operasional,
serta strategi promosi dan pengembangan produk.
5. Aspek Keuangan
investasi awal pendirian satu gerai
Chatime diperkirakan sebesar Rp1.400.000.000. Biaya tersebut meliputi biaya
franchise dan lisensi, renovasi dan interior, pengadaan peralatan, modal kerja
awal, serta biaya perizinan dan administrasi (Bisnis.com, 2022)
Biaya operasional bulanan diperkirakan sebesar Rp66.000.000, yang mencakup
gaji karyawan, bahan baku dan kemasan, biaya listrik dan air, promosi, sewa
tempat, serta penyusutan peralatan. Dengan asumsi rata-rata 120 pelanggan per
hari dan nilai transaksi Rp25.000 per orang, maka omzet bulanan diperkirakan
mencapai Rp90.000.000.
6. Aspek Syariah
Ditinjau dari aspek syariah, Chatime telah memenuhi prinsip kehalalan
produk. PT Foods Beverages Indonesia sebagai pengelola Chatime telah memperoleh
sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan nomor
ID00310000225090122. Seluruh bahan baku, proses produksi, serta penyajian
produk dipastikan sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan Undang-Undang Nomor
33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
7. Aspek Sosial
Dari aspek sosial, keberadaan Chatime memberikan dampak positif bagi
masyarakat sekitar. Usaha ini membuka lapangan pekerjaan bagi barista, kasir,
dan staf pendukung, khususnya bagi generasi muda dan mahasiswa. Selain itu,
gerai Chatime berfungsi sebagai ruang sosial yang nyaman untuk berinteraksi,
belajar, dan berdiskusi, sehingga turut mendukung aktivitas sosial yang positif
di lingkungan perkotaan (Chatime Indonesia. (n.d.).
8. Aspek Lingkungan
Dalam aspek lingkungan, Chatime menunjukkan kepedulian terhadap
keberlanjutan melalui berbagai program ramah lingkungan. Program Less Plastic
Movement mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, sementara
kampanye penggunaan tumbler dan sedotan ramah lingkungan bertujuan untuk
mengurangi limbah. Selain itu, Chatime juga menjalankan program tanggung jawab
sosial perusahaan seperti Chatime Cares dan Chatime CommuniTEA yang berfokus
pada kepedulian lingkungan dan sosial.
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisis berbagai aspek dalam laporan studi kelayakan, dapat disimpulkan
bahwa bisnis waralaba Chatime layak untuk dijalankan. Chatime memiliki reputasi
global yang kuat, produk berkualitas tinggi, serta strategi pemasaran yang
efektif dalam menarik konsumen muda di perkotaan. Target pasar yang jelas—yakni
mahasiswa dan pekerja muda memberikan potensi permintaan yang stabil karena
minuman kekinian telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.
Dari sisi hukum dan operasional, Chatime telah
memenuhi ketentuan perundangan terkait waralaba, perizinan usaha, serta
sertifikasi halal dari MUI, yang menambah kepercayaan konsumen di Indonesia.
Secara teknis, desain gerai modern dan lokasi strategis mendukung kenyamanan
pelanggan dan efisiensi layanan. Struktur manajemen yang terorganisir juga
memudahkan pengawasan operasional dan menjaga standar merek.
Dari aspek keuangan, meskipun membutuhkan
investasi awal yang relatif besar (sekitar Rp1,4 miliar), proyeksi pendapatan
menunjukkan potensi keuntungan yang baik dengan omzet bulanan diperkirakan
mencapai Rp90 juta. Selain itu, aspek sosial dan lingkungan turut mendukung
kelayakan usaha, karena Chatime berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja,
penggunaan bahan baku lokal, serta memiliki program tanggung jawab sosial dan
kampanye ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, usaha Chatime tidak hanya
menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, hukum, dan
lingkungan, sehingga dapat dikategorikan sebagai bisnis yang layak,
berkelanjutan, dan prospektif untuk dijalankan di Indonesia.
REFERENSI
Bisnis.com. (2022, Juli 18). Syarat dan biaya franchise Chatime,
minuman yang populer hingga ke luar negeri. https://www.bisnis.com
Chatime Indonesia. (n.d.). Contact us. Diakses dari https://chatime.co.id/contact
Daryanto, L. H., & Hasiholan, L. B. (2019). The influence of
marketing mix on the decision to purchase Martabak “Setiabudi” Pak Man
Semarang. Journal of Management, 5(5).
Nasution, F. D. A., Saputri, A. H., Hambali, R., & Suhairi, S.
(2023). Implementasi digital marketing pada analisis STP (Segmenting,
Targeting, Positioning). Jurnal Minfo Polgan, 12(2), 2369–2378.
Hermawan, F., Nurbaety, N., Oktoria, D., Pardede, H. M., & Kasmad, K.
(2022). Faktor ketertarikan minuman kopi kekinian terhadap keputusan membeli
konsumen di kalangan anak muda. Jurnal Ilmiah PERKUSI, 2(2), 249–254.
Manan, L. O. A., Titop, H., & Yuliasari, W. (2022). Pengaruh lokasi
dan promosi terhadap keputusan pembelian minuman ready-to-drink (RTD): Studi
kasus Kedai Three Thai Tea, Desa Awunio, Konawe Selatan. Sultra Journal of
Economic and Business, 3(2), 163–178.
Mumtaz, N. M., Lisnawati, L., Rahmadani, N. T., & Irawansyah, R.
(2023). Layanan online food delivery dalam membantu meningkatkan penjualan pada
usaha mikro kecil menengah kuliner di daerah Gadog Kabupaten Bogor. Karimah
Tauhid: Jurnal Ilmiah, 4(8).
Nasution, S. Z., Silalahi, M. A. M., Sinambela, E. A., Fauzi, R.,
Sihombing, D., & Triansyah, F. A. (2023). Potensi small business dalam
meningkatkan perekonomian masyarakat: Studi kasus usaha minuman Nay-Nay Kota
Medan. Jurnal Manajemen Kewirausahaan dan Teknologi, 2(3), 877–888.
Rahadi, R. A., Iswara, C., Afgani, K. F., & Boediman, A. (2023).
Examining the factors that influence consumer willingness to pay of bubble tea
among Generation Z in Bandung, Indonesia. International Journal of Global
Optimization and Its Application, 2(1), 74–83.
Mathory, E. S., & Nurmaida, N. (2024). Studi kelayakan bisnis untuk
meningkatkan peluang usaha pada Bakso Goreng Baper. Inkubis: Jurnal Ekonomi
dan Bisnis, 5(2).
No comments
Post a Comment