Sunday, February 8, 2026

Konstruksi Sosial Pengetahuan dalam Pembelajaran: Tinjauan Teoretis dan Implikasinya Bagi Pendidikan

 The Social Construction of Knowledge in Learning: A Theoretical Review and Its Implications for Education

link: https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/issue/view/48 

Rozaq Shohibul Ichsan, Mohammad Rofiq

Megister Pendidikan Agama Islam Universitas Kiai Abdullah Faqih

E-mail :  rozakshohibulihsan@gmail.com, berhasilrofiq1@gmail.com

 

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial pengetahuan dalam konteks pembelajaran melalui kajian teoretis terhadap tiga kerangka utama: (1) teori konstruktivisme sosial dalam pendidikan, (2) teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam sosiologi pengetahuan, dan (3) konsep framing dalam media dan komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah tudi pustaka sistematis (systematic literature review) dengan pendekatan filosofis-analitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan dalam pendidikan bukanlah entitas yang objektif dan ditransfer, melainkan hasil konstruksi aktif melalui interaksi sosial, bahasa, dan dialektika eksternalisasi-objektivasi-internalisasi. Pendekatan konstruktivis sosial dalam pembelajaran sejalan dengan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, di mana realitas pedagogis dibangun bersama oleh guru dan siswa dalam lingkungan sosial budaya. Konsep framing memberikan lensa untuk memahami bagaimana wacana pendidikan dikonstruksi dan dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Implikasi bagi pendidikan adalah perlunya pergeseran paradigma menuju pembelajaran yang lebih kolaboratif, reflektif, kritis, dan peka terhadap konteks sosial budaya. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi ketiga perspektif ini dapat memperkaya pemahaman dan praktik pendidikan yang lebih transformatif dan relevan dengan dinamika masyarakat kontemporer.

Kata kunci: Konstruksi Sosial, Teoritis dan Implikasi, Pendidikan.

Abstract

This article aims to analyze the social construction of knowledge in the context of learning through a theoretical review of three main frameworks: (1) social constructivist theory in education, (2) the theory of social construction by Peter L. Berger and Thomas Luckmann in the sociology of knowledge, and (3) the concept of framing in media and communication. The research method employed is a systematic literature review with a philosophical–analytical approach. The analysis shows that knowledge in education is not an objective entity that is simply transferred, but rather the result of active construction through social interaction, language, and the dialectic of externalization, objectivation, and internalization. The social constructivist approach to learning aligns with Berger and Luckmann’s theory of social construction, in which pedagogical reality is jointly constructed by teachers and students within a socio-cultural environment. The concept of framing provides a lens for understanding how educational discourse is constructed and influenced by particular interests. The implications for education include the need for a paradigm shift toward learning that is more collaborative, reflective, critical, and sensitive to socio-cultural contexts. This article concludes that integrating these three perspectives can enrich understanding and promote more transformative educational practices that are relevant to the dynamics of contemporary society.

Keywords: Social Construction, Theory and Implications, Education.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan, sebagai proses sosial yang kompleks, senantiasa menjadi objek kajian yang dinamis. Di tengah tuntutan abad ke-21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah, paradigma pembelajaran pun bergeser dari model transmisi pengetahuan (transfer of knowledge) menuju model konstruksi pengetahuan (construction of knowledge).[1] Dalam konteks ini, pendekatan konstruktivisme sosial dalam pendidikan telah mendapatkan perhatian signifikan, dengan menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi sosial dan pengalaman kontekstual.[2] Namun, landasan filosofis dan sosiologis dari proses konstruksi pengetahuan ini seringkali belum dieksplorasi secara mendalam dalam diskursus pendidikan.

Di sisi lain, dalam ranah sosiologi, teori konstruksi sosial realitas (social construction of reality) yang digagas oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) telah menjadi landasan teoretis utama untuk memahami bagaimana realitas sosial, termasuk pengetahuan, diciptakan, dipertahankan, dan diubah melalui proses sosial yang dialektis.[3] Teori ini menawarkan kerangka konseptual yang kaya untuk menganalisis proses pembelajaran sebagai bentuk konstruksi sosial. Lebih jauh, konsep framing dari studi media dan komunikasi memberikan alat analisis untuk melihat bagaimana wacana dan makna dalam pendidikan “dibingkai” (framed) oleh aktor-aktor tertentu, seperti pembuat kurikulum, guru, media pendidikan, dan kebijakan negara.[4]

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini berupaya untuk menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimana konsep konstruksi sosial pengetahuan dari perspektif Berger dan Luckmann serta konsep framing dapat memperdalam pemahaman teoretis dan memberikan implikasi praktis terhadap penerapan konstruktivisme sosial dalam pembelajaran?

Tujuan artikel ini adalah untuk: (1) Menganalisis titik temu dan kontribusi teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta konsep framing terhadap pemahaman konstruktivisme sosial dalam pendidikan; (2) Menjelaskan proses konstruksi pengetahuan dalam pembelajaran melalui lensa dialektika eksternalisasi-objektivasi-internalisasi; dan (3) Merumuskan implikasi teoretis dan praktis integrasi ketiga perspektif tersebut bagi pengembangan pedagogi yang lebih kritis dan kontekstual.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka sistematis (systematic literature review) dengan pendekatan filosofis-analitis.[5] Prosedur penelitian dilakukan melalui tahapan berikut:

1.       Identifikasi dan Pengumpulan Sumber: Peneliti mengumpulkan dan menelaah tiga naskah utama yang menjadi objek analisis:

a.       Naskah A. Jurnal “Pendekatan Konstruktivis Sosial dalam Pembelajaran” oleh Salsabila & Gumiandari (2024), yang membahas prinsip dan teknik konstruktivisme sosial di kelas.[6]

b.       Naskah B: Jurnal “Teori Konstruktivisme dalam Dunia Pembelajaran” oleh Azzahra dkk. (2025), yang mengkaji penerapan konstruktivisme, khususnya di sekolah dasar.[7]

c.        Naskah C: Artikel “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial” (tanpa tahun), yang menguraikan secara mendalam teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann beserta kritik dan pengembangannya, termasuk konsep framing.[8]

Selain itu, dilakukan penelusuran terhadap referensi kunci yang disebutkan dalam ketiga naskah, seperti karya Berger & Luckmann (1966), Suparno (1997), dan ahli framing seperti Entman dan Gamson.

2.       Analisis dan Sintesis: Ketiga naskah dianalisis secara kritis dengan fokus pada:

a.       Konsep inti tentang pembentukan pengetahuan/realitas.

b.       Proses-proses sosial yang dilibatkan.

c.        Peran aktor (individu, kelompok, institusi).

d.       Asumsi filosofis dan sosiologis yang mendasari.

Analisis dilakukan secara komparatif dan integratif untuk menemukan hubungan, kesenjangan, dan potensi sintesis antar perspektif.

3.       Interpretasi dan Penarikan Kesimpulan: Hasil analisis diinterpretasi untuk membangun argumen utama artikel mengenai integrasi teori dan implikasinya bagi pendidikan. Implikasi teoretis dan praktis dirumuskan berdasarkan sintesis yang dilakukan.

Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang bersifat eksploratif dan konseptual untuk membangun pemahaman teoretis yang komprehensif.[9]

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.       Konstruktivisme Sosial dalam Pendidikan: Dari Teori ke Praktik

Naskah A dan B secara konsisten mendefinisikan konstruktivisme sosial sebagai paradigma pembelajaran yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh siswa melalui interaksi sosial. Prinsipnya adalah pengetahuan sebagai hasil konstruksi bersama (mutual construction), pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered), dan peran guru sebagai fasilitator. Teknik seperti scaffolding, cognitive apprenticeship, tutoring, dan cooperative learning adalah instrument untuk memediasi proses konstruksi sosial ini.[10] Namun, kedua naskah pendidikan ini lebih berfokus pada implikasi pedagogis dalam mikro-konteks kelas, dengan landasan teoretis utama merujuk pada Vygotsky.

2.       Fondasi Sosiologis: Teori Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann

Naskah C memberikan fondasi sosiologis yang lebih dalam. Berger dan Luckmann berargumen bahwa realitas sosial (termasuk pengetahuan) adalah produk manusia yang dikonstruksi melalui proses dialektis tiga momen:[11]

a.       Eksternalisasi: Manusia menuangkan diri mereka ke dalam dunia melalui aktivitas dan ekspresi. Dalam pembelajaran, ini terjadi ketika guru dan siswa mengartikulasikan pemikiran, bertanya, dan berdiskusi.

b.       Objektivasi: Produk dari eksternalisasi (seperti konsep, aturan, norma kelas) menjadi realitas yang terasa objektif dan terlembagakan. Kurikulum, metode pengajaran, dan nilai akademis adalah contoh objektivasi dalam pendidikan.[12]

c.        Internalisasi: Individu menginternalisasi realitas objektif tersebut ke dalam kesadaran subjektif mereka. Siswa “memeluk” pengetahuan bukan sebagai fakta mentah, tetapi sebagai makna yang dibangun melalui interaksi sosial.[13]

Proses ini diperkuat oleh bahasa sebagai sistem simbol utama dan legitimasi yang membuat tatanan sosial (seperti struktur sekolah) terasa masuk akal.

3.       Konstruksi Sosial dalam Pendidikan sebagai Dialektika

Menerapkan kerangka Berger dan Luckmann, pembelajaran dapat dipandang sebagai arena konstruksi sosial di mana:

a.       Guru dan siswa secara aktif ber-eksternalisasi melalui dialog dan aktivitas kolaboratif.

b.       Pengetahuan akademis dan norma kelas merupakan hasil objektivasi dari interaksi historis dan kultural masyarakat (ilmuwan, praktisi pendidikan).

c.        Proses internalisasi pengetahuan oleh siswa dipengaruhi oleh latar belakang sosio-kultural mereka, yang sejalan dengan konsep Vygotsky tentang konteks sosial.[14]

Dengan demikian, konstruktivisme sosial dalam pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi tertanam dalam proses sosial yang lebih luas yang melibatkan pelembagaan dan legitimasi pengetahuan.

4.       Framing: Konstruksi Wacana dan Kekuasaan dalam Pendidikan

 

Teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dikritik karena awalnya kurang menyertakan peran media massa. Naskah C kemudian memperkenalkan konsep framing sebagai pengembangan teori tersebut. Framing adalah proses seleksi dan penonjolan (salience) aspek tertentu dari realitas untuk mempromosikan definisi masalah, interpretasi sebab-akibat, evaluasi moral, atau rekomendasi tertentu.[15]

Dalam konteks pendidikan, konsep framing dapat diaplikasikan untuk menganalisis:

a.       Kurikulum: Bagaimana pengetahuan “dibingkai” oleh negara atau otoritas pendidikan? Aspek mana yang ditonjolkan dan mana yang diabaikan?[16]

b.       Kebijakan Pendidikan: Bagaimana wacana tentang “pendidikan berkualitas” atau “merdeka belajar” dibingkai oleh berbagai pemangku kepentingan?

c.        Praktik Mengajar: Bagaimana guru membingkai sebuah topik pelajaran? Perspektif mana yang disajikan sebagai dominan?

d.       Media Pendidikan: Bagaimana buku teks atau konten digital membingkai narasi sejarah, ilmu pengetahuan, atau nilai-nilai?

Analisis framing mengungkap bahwa konstruksi pengetahuan dalam pendidikan tidak netral, tetapi sarat dengan kepentingan (interest) dan dapat menjadi alat hegemoni (Gramsci) atau dekonstruksi.[17] Hal ini menambahkan dimensi kritis pada konstruktivisme sosial, dengan menyadarkan bahwa interaksi sosial di kelas juga dipengaruhi oleh wacana dan struktur kekuasaan yang lebih besar.

 

Implikasi Bagi Pendidikan

Sintesis ketiga perspektif di atas menghasilkan beberapa implikasi penting:

1.       Pergeseran Peran Guru: Guru bukan hanya fasilitator, tetapi juga arsitek sosial yang menyadari proses objektivitasi dan legitimasi dalam pendidikan. Mereka perlu kritis   

terhadap “bingkai” kurikulum dan mampu menciptakan ruang untuk negosiasi makna.[18]

2.       Pembelajaran sebagai Proses Dialektis: Desain pembelajaran harus memfasilitasi ketiga momen dialektika: menyediakan ruang untuk eksternalisasi (diskusi, proyek), merefleksikan objektivasi (mengkritisi sumber), dan mendalami internalisasi (menghubungkan dengan pengalaman hidup).[19]

3.       Pendidikan yang Kritis dan Reflektif: Siswa perlu dilatih untuk memiliki kesadaran kritis terhadap konstruksi sosial pengetahuan. Mereka harus diajak untuk mempertanyakan dari mana pengetahuan berasal, siapa yang diuntungkan, dan bingkai apa yang digunakan.[20]

4.       Kontekstualisasi dan Relevansi Sosial: Pembelajaran harus dikaitkan dengan konteks sosio-kultural siswa (realitas subjektif mereka) dan tantangan masyarakatnya, sehingga pengetahuan yang dibangun memiliki makna dan relevansi yang mendalam.⁷

5.       Evaluasi yang Autentik: Sistem evaluasi harus bergeser dari mengukur hafalan realitas objektif menuju kemampuan mengeksternalisasi pemikiran, mengkritisi objektivasi, dan merefleksikan proses internalisasi pengetahuan.

SIMPULAN

Artikel ini telah menunjukkan bahwa pemahaman terhadap konstruktivisme sosial dalam pembelajaran dapat diperdalam secara signifikan dengan merujuk pada teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta konsep framing. Pembelajaran bukan sekadar aktivitas kognitif individu dalam kelompok kecil, melainkan sebuah proses sosio-kultural yang dialektis dan politis. Pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi yang berlapis: dari dialog di kelas (eksternalisasi), pelembagaan kurikulum (objektivasi), hingga penerimaan makna oleh siswa (internalisasi), yang kesemuanya dapat dibentuk dan dibingkai oleh wacana dan kekuasaan tertentu.

Integrasi ketiga perspektif ini menawarkan landasan teoretis yang lebih kokoh dan kerangka analitis yang lebih kaya bagi pengembangan pedagogi. Implikasinya adalah seruan untuk mentransformasi pendidikan menuju praktik yang lebih kolaboratif, reflektif, kritis, dan peka konteks, yang tidak hanya membangun pengetahuan (knowledge building) tetapi juga membangun kesadaran kritis (critical consciousness building) pada peserta didik. Untuk penelitian selanjutnya, diperlukan studi empiris yang menguji kerangka integratif ini dalam konteks kelas yang spesifik serta analisis framing terhadap kebijakan dan kurikulum pendidikan nasional.

 

REFERENSI

Azzahra, N. T., Ali, S. N. L., & Bakar, M. Y. A. (2025). Teori konstruktivisme dalam dunia pembelajaran. Jurnal Ilmiah Research Student, 2(2), 64–75.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Denyer, D., & Tranfield, D. (2009). Producing a systematic review. In D. A. Buchanan & A. Bryman (Eds.), The SAGE handbook of organizational research methods (pp. 671–689). SAGE Publications.

Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x

Pemahaman teoritik teori konstruksi sosial. (n.d.). Unpublished manuscript.

Salsabila, S. S., & Gumiandari, S. (2024). Pendekatan konstruktivis sosial dalam pembelajaran. Educational Journal: General and Specific Research, 4(1), 170–178.

 



[1] Nabila Tsuroyya Azzahra dkk., “Teori Konstruktivisme Dalam Dunia Pembelajaran,” Jurnal Ilmiah Research Student 2, no. 2 (2025): 64.

[2] Saarah Shafa Salsabila dan Septi Gumiandari, “Pendekatan Konstruktivis Sosial Dalam Pembelajaran,” Educational Journal: General and Specific Research 4, no. 1 (2024): 170.

[3] Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 1.

[4] Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 1.

[5] David Denyer dan David Tranfield, “Producing a Systematic Review,” dalam The Sage Handbook of Organizational Research Methods, ed. David A. Buchanan dan Alan Bryman (London: Sage Publications, 2009), 671–689.

[6] Salsabila dan Gumiandari, “Pendekatan Konstruktivis Sosial,” 170-178.

[7] Azzahra dkk., “Teori Konstruktivisme,” 64-75.

[8] “Pemahaman Teoritik Teori KOnstruksi Sosial” (naskah tidak diterbitkan), hlm. 1-25.

[9] John W. Creswell, Research Design” Qualtative, Quantitative, and Mixed Metods Approach, 4th ed. (Thousand Oaks: SAGE Publcation, 2014), 185.

[10] Salsabila dan Gumiandri, “Pendekatan Kontruktivis Sosial,” 175-176.

[11] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm. 5-6.

[12] Ibid, hlm. 6. “Objektiasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan.”

[13] Ibid, “Internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri ditengah lembaga-lembaga sosial.”

[14] Salsabila dan Gumiandri, “Pendekatan Konstruksi Sosial,” 173

[15] Robert M. Entman, “Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm,” Journal o Communication 43, no. 4 (1993): 52

[16] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm.8. Membahas hegemoni negara dalam menciptakan  wacana.

[17] Ibid, hlm. 8. “Konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.”

[18] Azzahra dkk. “Teori Konstruksi, “ 71.

[19] Salsabila dan Gumiandari, “Pendekatan Konstruksi Sosial,” 174.

[20] “Pemahaman Teoritik Teori Konstruksi Sosial,” hlm. 23. Menekankan pentingnya kesadaran kritis.

Sosialiasi Anti Bullying Sebagai Upaya Mencegah Kasus Bullying Pada Lingkungan Sekolah Dasar di SDN 1 Sukahaji

Ratna Dewi1, Rohendi2, Didih Ahmadiah3

Pendidikan Agama Islam, Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta

 Link: https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/NJPC/article/view/5053

Abstrak

Bullying merupakan permasalahan serius yang masih sering ditemukan di lingkungan sekolah dasar dan dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis, sosial, serta karakter peserta didik. Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan awal memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan sikap sosial anak. Namun, rendahnya pemahaman siswa mengenai bentuk, dampak, serta cara mencegah bullying menyebabkan perilaku tersebut masih kerap terjadi dan dianggap sebagai bentuk candaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai pencegahan bullying melalui kegiatan sosialisasi anti bullying. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KPM di SDN 1 Sukahaji melalui tahapan persiapan, pelaksanaan sosialisasi, dan evaluasi menggunakan observasi serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis bullying, dampaknya, serta cara pencegahan, sekaligus mendorong sikap saling menghargai dan keberanian melaporkan perundungan. Sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah untuk mewujudkan lingkungan sekolah dasar yang aman dan bebas bullying.

Keywords: Bullying, Sosialisasi, Sekolah Dasar, Pencegahan Bullying.

Abstract

Bullying remains a serious issue frequently found in elementary school environments and can negatively affect students’ psychological, social, and character development. As the early stage of formal education, elementary school plays an important role in shaping children’s personality and social attitudes. However, students’ limited understanding of the forms, impacts, and prevention of bullying causes such behavior to persist and is often perceived as harmless joking. This community service program aimed to improve students’ understanding and awareness of bullying prevention through an anti-bullying socialization activity. The program was conducted by KPM students at SDN 1 Sukahaji through preparation, implementation, and evaluation stages using observation and interactive discussions. The results showed an improvement in students’ understanding of the types of bullying, its negative impacts, and prevention strategies, while also encouraging mutual respect and the courage to report bullying incidents. This socialization activity is expected to contribute to creating a safe and bullying-free elementary school environment.

Keywords: Bullying, Socialization, Elementary School, Bullying Prevention.

 

PENDAHULUAN

Sekolah dasar merupakan lingkungan pendidikan awal yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mempelajari nilai-nilai sosial seperti empati, kerja sama, serta sikap saling menghormati (Nisa et al. 2025). Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih dijumpai berbagai permasalahan sosial di lingkungan sekolah, salah satunya adalah perilaku bullying. Bullying di tingkat sekolah dasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti bullying fisik, verbal, maupun sosial, yang kerap dianggap sebagai bentuk candaan baik oleh pelaku maupun oleh lingkungan sekitarnya.

Pendidikan dan lingkungan sekolah pada hakikatnya adalah lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, serta ketenangan bagi peserta didik, baik secara fisik maupun psikologis. Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan awal memiliki peran fundamental dalam mendukung proses tumbuh kembang peserta didik. Oleh karena itu, seluruh aktivitas dan kondisi yang terdapat di lingkungan sekolah seharusnya mampu memberikan dorongan positif dalam pembentukan karakter serta pengembangan kompetensi dan potensi yang dimiliki peserta didik. Salah satu upaya penting dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang kondusif di sekolah dasar yaitu dengan cara melindungi peserta didik dari perilaku dan tindakan yang dapat menghambat perkembangan mereka, salah satunya melalui pencegahan tindakan perundungan atau bullying (Prasiska 2025).

Meningkatnya kasus perundungan atau bullying kerap dipicu oleh kurangnya pemahaman antar pihak yang terkait, baik itu pihak sekolah, orang tua, serta masyarakat yang memang belum memiliki pandangan yang selaras mengenai tingkat keseriusan permasalahan bullying serta strategi penanganannya (Munawaroh et al. 2024). Perbedaan persepsi tersebut menyebabkan upaya penanganan bullying menjadi kurang optimal, sehingga kasus perundungan masih terus terjadi sampai saat ini. Kondisi ini semakian parah dengan belum adanya kebijakan yang komprehensif dari pemerintah dalam upaya penanggulangan bullying. Tindakan perundungan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, termasuk alasan pencarian jati diri yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif pada peserta didik. Sebagai individu yang terdidik, peserta didik diharapkan mampu membedakan serta menentukan keputusan yang baik dan buruk, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kesadaran dan upaya bersama dari seluruh pihak diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak (Ulfa et al. 2025).

Fenomena bullying di lingkungan pendidikan Indonesia telah menjadi fokus utama yang banyak mendapat perhatian karena dampaknya yang sangat luas. Berbagai kajian empiris menegaskan perlunya pemahaman dan penanganan bullying secara komprehensif. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa bullying pada peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang meliputi pola asuh keluarga, kondisi lingkungan sekolah yang kurang mendukung, serta pengaruh negatif dari hubungan dengan teman sebaya. Selain menelaah faktor penyebab, sejumlah kajian juga menekankan pentingnya penerapan upaya pencegahan sejak dini di lingkungan sekolah. Upaya pencegahan tersebut membutuhkan keterlibatan dan kerja sama yang aktif antara pendidik, orang tua, dan peserta didik agar kasus bullying dapat dikenali dan ditangani secara tepat (Parisu 2025). Dukungan sosial yang memadai turut berperan dalam menekan keterlibatan siswa dalam perilaku bullying, khususnya di lingkungan sekolah. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kompleksitas permasalahan bullying dalam dunia pendidikan di Indonesia.(Chairi et al. 2025)

Berdasarkan berbagai temuan penelitian dan kondisi faktual di lingkungan pendidikan, perilaku bullying masih kerap dijumpai pada peserta didik, termasuk di sekolah yang idealnya berfungsi sebagai ruang belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Tindakan bullying dapat muncul dalam berbagai situasi dan waktu yang tidak terduga, khususnya pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal pembentukan karakter anak. SDN 1 Sukahaji sebagai sekolah dasar negeri memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pendidikan sekaligus dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Namun demikian, hasil observasi awal serta interaksi dengan siswa menunjukkan bahwa pemahaman mengenai jenis-jenis bullying, dampak yang ditimbulkan, serta sikap dan langkah yang tepat ketika menghadapi atau menyaksikan tindakan perundungan masih tergolong terbatas, sehingga diperlukan upaya pencegahan yang terencana dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Bullying tidak hanya memberikan dampak negatif bagi korban, tetapi juga berpengaruh terhadap iklim pembelajaran serta proses pembentukan karakter peserta didik secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan WPKNS (Wawasan, Pengetahuan, Keterampilan, Nilai, dan Sikap) siswa dalam rangka pencegahan bullying sejak usia dini (Neni et al. 2024). Sosialisasi anti bullying merupakan salah satu bentuk intervensi preventif yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif, meningkatkan kesadaran, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antar peserta didik di lingkungan sekolah dasar. Kemudian dengan adanya kegiatan sosialisasi yang di laksanakan oleh para mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tersebut, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa serta menjadi langkah awal dalam membangun budaya anti bullying di lingkungan sekolah dasar.

METODE PELAKSANAAN

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode sosialisasi dan observasi, yang mana kegiatan tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahapan.

1.       Tahap Persiapan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan yaitu adanya pelaksanaan observasi awal di SDN 1 Sukahaji, pengurusan perizinan kepada pihak sekolah, penyusunan materi sosialisasi anti-bullying, serta penyiapan media pendukung berupa alat peraga edukatif. Pada tahap ini juga dilakukan koordinasi dengan guru kelas guna menyesuaikan materi yang akan disampaikan dengan karakteristik peserta didik di tingkat sekolah dasar.

2.       Tahap Pelaksanaan

Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2026 dan bertempat di ruang kelas SDN 1 Sukahaji dengan melibatkan peserta didik kelas VI. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, serta simulasi sederhana yang memuat contoh perilaku bullying dan upaya pencegahannya. Materi sosialisasi mencakup pengertian bullying, jenis-jenis bullying, dampak bullying terhadap korban dan pelaku, serta langkah-langkah pencegahan bullying di lingkungan sekolah.

3.       Tahap Evaluasi

Pada tahap ini dilakukan penilai terhadap efektivitas serta keberhasilan pelaksanaan kegiatan sosialisasi anti-bullying di SDN 1 Sukahaji. Proses evaluasi mencakup penilaian terhadap pelaksanaan dan hasil kegiatan. Penilaian pelaksanaan dilakukan melalui observasi selama kegiatan sosialisasi berlangsung untuk mengidentifikasi tingkat partisipasi, antusiasme, dan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Setelah kegiatan selesai, wawancara dan tanya jawab secara langsung dilakukan kepada beberapa siswa guna mengetahui tingkat pemahaman serta manfaat yang diperoleh terkait upaya pencegahan bullying. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa memperoleh wawasan baru mengenai bullying dan menunjukkan sikap yang lebih peduli terhadap sesama.

4.       Tahap Pelaporan

Pada tahap pelaporan ini, dilakukan penyusunan laporan kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat. Penyusunan laporan dilaksanakan secara sistematis dan bertahap, yaitu adanya penyusunan laporan awal, laporan kemajuan, revisi laporan, hingga penyusunan laporan akhir. Laporan tersebut memuat keseluruhan rangkaian kegiatan, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta dilengkapi dengan dokumentasi kegiatan sebagai bukti pendukung dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Selain sebagai wujud akuntabilitas, laporan akhir juga disusun untuk keperluan publikasi dan sebagai arsip resmi kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Seluruh tim pelaksana terlibat secara aktif dalam proses penyusunan laporan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan sosialisasi anti-bullying merupakan salah satu upaya yang penting untuk diterapkan di lingkungan sekolah dasar, mengingat peserta didik berada pada tahap awal pembentukan karakter dan sikap sosial. Pada usia tersebut, siswa masih dalam proses memahami batasan perilaku yang dapat diterima secara sosial, sehingga diperlukan pendampingan dan edukasi yang tepat agar mereka mampu mengenali serta menghindari tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain (Lu'luin et al. 2023).

Pelaksanaan sosialisasi anti-bullying di SDN 1 Sukahaji menjadi salah satu langkah dalam menanamkan nilai-nilai positif sekaligus meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak. Melalui kegiatan sosialisasi, siswa diberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di sekolah dasar, dampak negatif bagi korban maupun pelaku, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sosialisasi juga menjadi ruang pembelajaran yang membantu siswa menumbuhkan empati, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk bersikap tegas ketika menghadapi tindakan perundungan. Dengan adanya sosialisasi ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami bullying secara teori, tetapi juga mampu menerapkan sikap anti-bullying dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi di Kelas VI

Kegiatan sosialisasi anti-bullying di SDN 1 Sukahaji terlaksana dengan baik dan memperoleh respons positif dari siswa maupun pihak sekolah. Hal tersebut tercermin dari tingginya antusiasme siswa kelas VI selama kegiatan berlangsung, salah satunya saat menyimak penyampaian materi. Siswa menunjukkan ketertarikan terhadap topik yang dibahas serta berani menyampaikan pendapat dan pengalaman yang mereka temui di lingkungan sekolah. Partisipasi aktif ini menunjukkan bahwa permasalahan bullying dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dan memerlukan ruang diskusi yang terbuka agar dapat dipahami secara lebih mendalam. Kondisi tersebut juga menandakan bahwa metode sosialisasi yang diterapkan oleh mahasiswa KPM mampu menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.

Selain penyampaian materi, kegiatan sosialisasi dilengkapi dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pencegahan bullying. Pada tahap ini, siswa kelas VI diberikan kesempatan secara terbuka untuk menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman yang pernah dialami atau disaksikan di lingkungan sekolah. Pendekatan partisipatif tersebut dirancang untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aman dan kondusif, sehingga siswa merasa nyaman dalam mengungkapkan pandangan tanpa adanya rasa takut atau tekanan. Keterlibatan aktif siswa dalam diskusi menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kondisi nyata yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

 

Gambar 2 Kegiatan Diskusi dan Tanya Jawab

Melalui kegiatan diskusi, diketahui bahwa sebagian siswa sebelumnya belum memiliki pemahaman yang jelas mengenai perbedaan antara perilaku bercanda dan tindakan bullying. Beberapa siswa menyampaikan pengalaman terkait ejekan verbal, pengucilan sosial, maupun tindakan fisik ringan yang selama ini dianggap sebagai hal yang wajar. Temuan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan yang nyata akan pemberian edukasi yang berkelanjutan mengenai bullying di lingkungan sekolah dasar. Melalui sesi tanya jawab, para mahasiswa berkesempatan meluruskan pemahaman yang kurang tepat serta memberikan penjelasan yang lebih menyeluruh mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjang perilaku bullying, baik bagi korban, pelaku, maupun lingkungan sekolah secara umum.

Kegiatan diskusi dan tanya jawab juga berkontribusi dalam meningkatkan keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat serta melatih kemampuan berkomunikasi secara asertif. Selain itu, siswa didorong untuk menumbuhkan sikap empati dengan memahami perasaan korban bullying dan pentingnya saling menghargai antar sesama. Dalam kegiatan tersebut menunjukkan terjalinnya interaksi aktif antara mahasiswa dan siswa kelas VI SDN 1 Sukahaji, yang mencerminkan tingginya partisipasi siswa dalam memahami upaya pencegahan bullying. Hasil pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa metode diskusi interaktif efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa serta menjadi langkah awal dalam membangun budaya saling menghormati dan menolak segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah dasar.

Pelaksanaan kegiatan sosialisasi anti-bullying diikuti dengan evaluasi sederhana untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu menjelaskan kembali pengertian bullying, jenis-jenis bullying yang umum terjadi di lingkungan sekolah dasar, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Siswa juga mampu mengidentifikasi contoh perilaku yang termasuk dalam tindakan perundungan dan membedakannya dengan perilaku bercanda, yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman secara kognitif terhadap materi sosialisasi.

Perubahan positif juga terlihat pada aspek sikap dan kesadaran siswa, khususnya dalam memahami pentingnya saling menghargai, menghormati perbedaan, dan menjaga hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut tercermin dari pernyataan siswa yang menyatakan komitmen untuk tidak melakukan tindakan perundungan serta kesediaan melaporkan kepada guru atau pihak sekolah apabila mengetahui atau menyaksikan adanya kasus bullying. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong terbentuknya sikap preventif dan tanggung jawab sosial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah untuk para siswa.

SIMPULAN

Kegiatan sosialisasi anti-bullying yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di SDN 1 Sukahaji pada siswa kelas VI dapat terlaksana dengan baik dan memperoleh tanggapan positif dari peserta didik. Siswa mengikuti kegiatan secara aktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan sesi tanya jawab, sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif. Kegiatan ini memberikan dampak berupa meningkatnya pemahaman siswa tentang bullying, bentuk-bentuk bullying yang umum terjadi di sekolah dasar, serta kemampuan membedakan perilaku bercanda dengan tindakan perundungan. Selain itu, siswa juga menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai dampak bullying terhadap korban, pelaku, maupun kondisi belajar di kelas.

Sosialisasi anti-bullying menjadi upaya pencegahan yang penting dalam membentuk sikap dan karakter positif sejak dini. Setelah mengikuti kegiatan, siswa tampak lebih peduli, berempati, dan menghargai sesama karena memahami konsekuensi dari tindakan bullying. Munculnya komitmen siswa untuk menolak perundungan serta kesediaan melaporkan kejadian bullying kepada guru menjadi tanda awal terbentuknya budaya anti-bullying di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah dasar yang aman, ramah anak, dan kondusif dapat lebih mudah diwujudkan apabila kegiatan serupa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dukungan sekolah, guru, dan orang tua dalam membangun kebiasaan saling menghormati serta menjaga hubungan sosial yang sehat.

REFERENSI

Chairi, Puspa Melati Hasibuan, Idha Apriliyana, and Utary Maharani Barus. (2025). Edukasi Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi Bagi Kelompok UMKM Di Kecamatan Medan Selayang.  Sumatera Utara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.

Chairan and Parisu. (2025). Strategi Efektif Pencegahan Bullying Di Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Pendidikan Karakter. Sulawesi Tenggara: Jurnal Kajian Pendidikan dan Cakrawala Pembelajaran.

Fijriani anf Prasiska. (2025). Pencegahan Bullying Mulai Dari Rumah: Strategi Bagi Orang Tua Siswa Di SD Pesona Palad Kahuripan Kabupaten Bogor. Bogor: Pengabdian Kepada Masyarakat.

Lu'luin., dakk. (2023). Sosialisasi Pencegahan Perilaku Bullying Melalui Edukasi Pendidikan Karakter Dan Pelibatan Orang Tua. Mandalika: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.

Munawaroh., dkk. (2024). Program Peningkatan Empati Untuk Mencegah Perilaku Bullying Pada Siswa Sekolah Dasar. Semarang: ABDIDAS.

Neni Sumarni, Neni, Novi, and Fitri. (2024). Menjaga Senyum dan Kebaikan: Strategi Efektif Pencegahan Bullying Pada Anak Usia Dini (Strategi Efektif Pencegahan Bullying Pada Anak Usia Dini). Cirebon: Jurnal Pendidikan dan Pengasuhan Anak.

Nisa, Indi Khairun, Aqilla Zahra Damanik, Irvan Maulana, Rindi Antika, and Abdul Zikri. (2025). Upaya Meningkatkan Kesadaran Dan Partisipasi Siswa Dalam Mencegah Bullying Melalui Sosialisasi Stop Bullying Di SD Negeri 165735 Kelurahan Karya Jaya Kota Tebing Tinggi. Tebing Tinggi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.

Ulfa, Kosilah, Laode Muhammad, Sry Mayunita, and Esti Rahayu. (2025). Sosialisasi Pencegahan Bullying Melalui Media Zona Emosi Di SD Negeri 60 Buton Desa Walompo Kecamatan Siontapina Kabupaten Buton. Buton: Journal Of Human And Education.