Saturday, February 21, 2026

Analisis Motivasi Latihan Atlet Atletik di Pasi Kota Kediri Tahun 2025/2026

 An Analysis of the Training Motivation of Track and Field Athletes at PASI Kediri City for the 2025/2026 Season

Sinta Adela Puspita Basiru

Universitas Nusantara PGRI Kediri

Email: sintaadelaaa@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini menganalisis motivasi latihan atlet atletik di PASI Kota Kediri tahun 2025-2026 melalui pendekatan kualitatif studi kasus. Temuan menunjukkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik berperan utama dalam pembinaan atlet, dengan hambatan seperti kejenuhan dan kurangnya dukungan eksternal. Penelitian bertujuan menganalisis motivasi latihan atlet atletik PASI Kota Kediri serta mengidentifikasi hambatannya. Fokus pada informan utama: kepala PASI, pelatih, dan atlet nomor lari yang berpengalaman dalam kompetisi. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, divalidasi melalui triangulasi sumber, metode, serta ketekunan pengamat. Hasil Penelitian ini Motivasi intrinsik meliputi kecintaan olahraga, tantangan diri, dan kepuasan pribadi; ekstrinsik meliputi penghargaan, dukungan keluarga, serta peluang karir. Hambatan internal (jenuh, kehilangan kepercayaan diri) dan eksternal (kurangnya fasilitas, tekanan sosial) mempengaruhi komitmen latihan. Penelitian merekomendasikan pelatihan berbasis Self-Determination Theory untuk keseimbangan motivasi.

Kata Kunci: Motivasi latihan atlet, Motivasi intrinsik, Motivasi ekstrinsik, Hambatan latihan atletik, Pendekatan kualitatif studi kasus.

Abstract

This study analyzes the training motivation of track and field athletes at the PASI Kediri City in 2025-2026 through a qualitative case study approach. Findings indicate that intrinsic and extrinsic motivation play a major role in athlete development, with barriers such as burnout and lack of external support. The study aimed to analyze the training motivation of track and field athletes at the PASI Kediri City and identify these barriers. The focus was on key informants: the head of PASI, coaches, and experienced competitive track athletes. A descriptive qualitative approach was used, using participant observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. Data analysis included data reduction, presentation, and drawing conclusions, validated through triangulation of sources, methods, and observer persistence. The study's findings revealed that intrinsic motivation encompasses a love of sport, self-challenge, and personal satisfaction; extrinsic motivation encompasses rewards, family support, and career opportunities. Internal barriers (burnout, loss of confidence) and external barriers (lack of facilities, social pressure) influence training commitment. The study recommends training based on Self-Determination Theory for motivational balance.

Keywords: Athlete training motivation, Intrinsic motivation, Extrinsic motivation, Barriers to athletic training, Qualitative case study approach.

PENDAHULUAN

Olahraga atletik merupakan cabang olahraga dasar yang menuntut konsistensi latihan, ketahanan mental, serta motivasi yang kuat dari para atlet (Andesta, 2023). Dalam proses pembinaan prestasi, motivasi latihan menjadi faktor krusial yang menentukan keberlangsungan komitmen atlet, khususnya pada nomor lari yang menuntut repetisi latihan tinggi dan disiplin jangka panjang(Anisa & Wijaya, 2022). Tanpa motivasi yang stabil, potensi fisik dan teknik yang dimiliki atlet sulit berkembang secara optimal, meskipun didukung oleh program latihan yang terstruktur. Motivasi atlet tidak hanya bersumber dari dorongan internal seperti kecintaan terhadap olahraga dan keinginan untuk melampaui batas kemampuan diri, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain dukungan lingkungan, apresiasi atas prestasi, serta prospek karier di bidang olahraga. Keseimbangan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik menjadi elemen penting dalam menjaga semangat latihan dan ketahanan psikologis atlet dalam menghadapi tekanan kompetisi maupun rutinitas latihan yang padat (Awennse & Wijaya, 2022).

Dinamika pembinaan atlet di tingkat daerah kerap dihadapkan pada berbagai hambatan, baik yang berasal dari dalam diri atlet maupun dari lingkungan sekitarnya (Ayemi, 2023). Kejenuhan latihan, menurunnya rasa percaya diri, keterbatasan sarana dan prasarana, hingga tekanan sosial dan akademik merupakan kondisi yang dapat mengganggu fokus serta konsistensi latihan atlet. Apabila hambatan-hambatan tersebut tidak dikelola secara tepat, maka proses pembinaan prestasi berisiko mengalami stagnasi (Elzas, 2022). PASI Kota Kediri sebagai organisasi yang berperan dalam pembinaan atlet atletik memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga motivasi latihan atlet, khususnya pada nomor lari yang sering menjadi andalan dalam kejuaraan. Memahami motivasi latihan atlet secara mendalam, serta mengidentifikasi hambatan yang mereka hadapi, menjadi langkah penting untuk merancang strategi pembinaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis motivasi latihan atlet atletik PASI Kota Kediri serta mengungkap berbagai hambatan yang mempengaruhi komitmen latihan mereka. Penelitian ini secara spesifik mengkaji motivasi latihan atlet atletik di tingkat daerah, yaitu PASI Kota Kediri. Banyak penelitian motivasi atlet dilakukan pada level nasional, mahasiswa olahraga, atau atlet elite, sementara konteks pembinaan daerah masih relatif jarang dikaji secara mendalam. Kondisi ini menjadikan penelitian Anda unik karena menangkap realitas lapangan yang sering luput dari kajian akademik. Melalui pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika motivasi atlet, sekaligus menjadi dasar rekomendasi pengembangan pembinaan berbasis pendekatan psikologis, khususnya Self-Determination Theory, guna mendukung peningkatan prestasi atlet secara optimal.

TINJAUAN TEORI

Motivasi merupakan kekuatan psikologis yang mendorong individu untuk memulai, mempertahankan, dan mengarahkan perilaku menuju tujuan tertentu (Hamzah dkk., 2025). Dalam konteks olahraga atletik, motivasi berperan penting dalam menentukan konsistensi latihan, ketekunan menghadapi kelelahan fisik, serta kemampuan atlet dalam mengelola tekanan kompetisi (Jalawasesa & Fajar, 2022). Atlet dengan tingkat motivasi yang baik cenderung menunjukkan komitmen latihan yang lebih tinggi dan performa yang lebih stabil dibandingkan atlet dengan motivasi rendah. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang muncul dari dalam diri individu tanpa bergantung pada imbalan eksternal (Haraz, 2024). Atlet yang termotivasi secara intrinsik melakukan latihan karena adanya rasa senang, ketertarikan terhadap olahraga, serta kepuasan pribadi dalam meningkatkan kemampuan diri. Dalam olahraga atletik, motivasi intrinsik sering diwujudkan melalui kecintaan terhadap aktivitas berlari, keinginan menantang batas kemampuan fisik, dan kepuasan ketika mencapai target latihan atau prestasi tertentu. Motivasi intrinsik memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan mental atlet, terutama ketika menghadapi kondisi latihan yang berat atau minim apresiasi eksternal. Atlet yang memiliki motivasi intrinsik kuat cenderung lebih tahan terhadap kejenuhan dan tetap berkomitmen meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas atau tekanan lingkungan.

Motivasi ekstrinsik merupakan dorongan yang berasal dari faktor di luar individu, seperti penghargaan, pengakuan sosial, dukungan keluarga, maupun peluang karier di bidang olahraga (Mustofa & Wulandari, 2024). Dalam pembinaan atlet, motivasi ekstrinsik berfungsi sebagai penguat yang dapat meningkatkan semangat latihan dan mendorong atlet untuk mencapai target prestasi tertentu (Nopiyanto, 2023). Pada atlet daerah, motivasi ekstrinsik sering berkaitan dengan harapan memperoleh prestasi yang diakui, kesempatan mengikuti kejuaraan, serta dukungan moral dan material dari keluarga dan organisasi olahraga. Meskipun efektif dalam mendorong performa jangka pendek, motivasi ekstrinsik perlu diimbangi dengan motivasi intrinsik agar atlet tidak mudah kehilangan semangat ketika penghargaan atau dukungan eksternal berkurang.

Self-Determination Theory (SDT) menjelaskan bahwa motivasi individu berkembang secara optimal ketika tiga kebutuhan psikologis dasar terpenuhi, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial (Nurfajar, 2023). Dalam konteks pembinaan atlet, otonomi berkaitan dengan keterlibatan atlet dalam pengambilan keputusan latihan, kompetensi berhubungan dengan perasaan mampu dan berkembang, sedangkan keterhubungan sosial mencerminkan dukungan dari pelatih, rekan tim, dan lingkungan sekitar. Dalam pembinaan atlet, pendekatan SDT mendorong terciptanya lingkungan latihan yang mendukung perkembangan psikologis atlet secara menyeluruh (Pramudya, 2022). Pelatih berperan penting dalam memberikan kesempatan bagi atlet untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, memberikan umpan balik yang membangun, serta menciptakan suasana latihan yang positif (Rendra, 2024). Sejumlah penelitian olahraga menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan psikologis dasar tersebut berkontribusi terhadap peningkatan motivasi intrinsik, kesejahteraan psikologis, dan performa atlet.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus (Rachmad, 2024). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam motivasi latihan atlet atletik serta hambatan yang mereka alami dalam konteks pembinaan di PASI Kota Kediri (Firmansyah, 2021). Desain studi kasus memungkinkan peneliti mengeksplorasi fenomena motivasi latihan secara komprehensif dan kontekstual sesuai dengan kondisi nyata di lapangan (Ardyan, 2023). Penelitian dilaksanakan di lingkungan pembinaan atlet PASI Kota Kediri pada periode tahun 2025–2026. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa PASI Kota Kediri aktif dalam pembinaan atlet nomor lari dan memiliki atlet yang berpengalaman mengikuti kejuaraan, sehingga relevan dengan fokus penelitian. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, yaitu dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian (Supratiknya, 2022). Informan dalam penelitian ini terdiri atas: Ketua atau pengurus inti PASI Kota Kediri, Pelatih atletik yang terlibat langsung dalam pembinaan nomor lari, Atlet nomor lari yang memiliki pengalaman mengikuti kompetisi resmi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi latihan atlet atletik di PASI Kota Kediri merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal. Motivasi tidak hanya berfungsi sebagai pendorong awal keterlibatan atlet dalam olahraga, tetapi juga menjadi faktor penentu keberlanjutan komitmen latihan dan ketahanan atlet dalam menghadapi tekanan fisik maupun psikologis selama proses pembinaan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua PASI Kota Kediri, motivasi atlet dipahami sebagai perpaduan antara kebutuhan pribadi atlet dan pengaruh lingkungan yang membentuk arah serta intensitas usaha dalam berolahraga. Atlet yang memiliki tujuan personal yang jelas, seperti keinginan berprestasi, membanggakan keluarga, atau meraih pengakuan, cenderung menunjukkan tingkat keterlibatan latihan yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi atlet tidak berdiri sendiri, melainkan berkembang melalui dinamika individu dan konteks sosial tempat atlet tersebut berlatih.

Hasil wawancara dengan pelatih PASI Kota Kediri memperkuat temuan tersebut dengan menegaskan bahwa motivasi latihan atlet terdiri atas dua dimensi utama, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Pelatih memandang bahwa atlet dengan motivasi intrinsik yang kuat umumnya menunjukkan konsistensi latihan yang lebih baik, ketahanan menghadapi kegagalan, serta kepuasan jangka panjang dalam menjalani proses pembinaan. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berperan sebagai penguat yang dapat meningkatkan intensitas usaha atlet, terutama dalam situasi kompetitif.

Motivasi Intrinsik Atlet dalam Latihan Atletik

Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik merupakan faktor dominan yang mendorong atlet atletik PASI Kota Kediri untuk tetap berlatih secara konsisten. Atlet mengungkapkan bahwa kecintaan terhadap olahraga atletik, khususnya nomor lari, menjadi alasan utama mereka bertahan dalam rutinitas latihan yang berat dan berulang. Rasa senang setelah menyelesaikan latihan, kepuasan saat mencatatkan waktu yang lebih baik, serta tantangan untuk melampaui kemampuan diri menjadi sumber dorongan internal yang kuat.

Wawancara dengan atlet nomor 100 meter menunjukkan bahwa motivasi intrinsik muncul ketika atlet merasa bebas dalam memilih jalur olahraga yang dijalani, merasakan perkembangan kemampuan, dan memperoleh dukungan sosial dari lingkungan latihan. Atlet yang menikmati proses latihan cenderung memaknai latihan bukan sebagai beban, melainkan sebagai sarana aktualisasi diri. Kondisi ini berkontribusi terhadap ketahanan mental atlet dalam menghadapi kelelahan fisik maupun tekanan kompetisi.

Hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa atlet dengan motivasi intrinsik tinggi lebih mampu mengelola emosi, memiliki disiplin latihan yang stabil, serta menunjukkan sikap pantang menyerah ketika menghadapi hambatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa motivasi intrinsik berperan penting dalam membentuk karakter atlet yang tangguh dan berorientasi pada proses.

Motivasi Ekstrinsik Atlet dalam Latihan Atletik

Selain motivasi intrinsik, penelitian ini menemukan bahwa motivasi ekstrinsik juga memiliki peran signifikan dalam mendukung semangat latihan atlet. Atlet mengungkapkan bahwa penghargaan berupa medali, bonus, beasiswa, serta pengakuan dari pelatih dan lingkungan sosial menjadi faktor pendorong yang meningkatkan usaha mereka dalam latihan dan kompetisi. Dukungan keluarga dan pelatih juga menjadi sumber motivasi eksternal yang memperkuat rasa percaya diri atlet.

Motivasi ekstrinsik terbukti efektif sebagai stimulus awal dan penguat dalam proses pembinaan, terutama pada tahap awal pengembangan atlet. Atlet yang memperoleh apresiasi atas usaha dan prestasinya cenderung menunjukkan peningkatan intensitas latihan dan fokus yang lebih baik. Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada motivasi ekstrinsik berpotensi menimbulkan kerentanan psikologis, terutama ketika penghargaan atau pengakuan tidak lagi diperoleh.

Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik perlu dikelola secara proporsional dan diarahkan untuk mendukung internalisasi motivasi, sehingga atlet tidak semata-mata berlatih demi imbalan, tetapi juga memiliki kesadaran akan nilai dan makna latihan bagi pengembangan diri dan masa depan mereka.

Hambatan Motivasi Atlet dalam Latihan Atletik

Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan motivasi yang dialami atlet atletik PASI Kota Kediri. Hambatan tersebut terbagi menjadi hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal meliputi kejenuhan akibat rutinitas latihan yang monoton, kelelahan mental, serta menurunnya kepercayaan diri akibat tekanan kompetisi atau hasil yang tidak sesuai harapan.

Sementara itu, hambatan eksternal mencakup keterbatasan fasilitas latihan, tekanan sosial dan akademik, serta kurangnya dukungan lingkungan dalam situasi tertentu. Atlet yang merasa kurang mendapatkan apresiasi atau menghadapi tuntutan di luar olahraga cenderung mengalami penurunan fokus dan semangat latihan. Apabila hambatan-hambatan tersebut tidak ditangani secara tepat, kondisi ini berpotensi menurunkan performa dan meningkatkan risiko kelelahan psikologis.

Hasil observasi menunjukkan bahwa peran pelatih dan organisasi sangat menentukan dalam meminimalkan hambatan motivasi tersebut. Lingkungan latihan yang suportif, komunikasi yang terbuka, serta variasi program latihan terbukti membantu atlet mempertahankan motivasi dan komitmen latihan.

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi latihan atlet atletik PASI Kota Kediri dipengaruhi oleh keseimbangan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik, serta kemampuan atlet dalam mengelola hambatan internal dan eksternal. Motivasi intrinsik menjadi fondasi utama keberlanjutan latihan, sedangkan motivasi ekstrinsik berperan sebagai penguat yang mendukung pencapaian prestasi. Oleh karena itu, pembinaan atlet perlu diarahkan pada pendekatan yang tidak hanya menekankan hasil, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis atlet secara menyeluruh. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa motivasi latihan atlet atletik PASI Kota Kediri merupakan faktor kunci dalam menjaga konsistensi latihan dan mendukung pencapaian prestasi. Motivasi atlet terbentuk melalui interaksi antara dorongan internal dan pengaruh eksternal yang secara bersama-sama memengaruhi arah serta intensitas keterlibatan atlet dalam proses pembinaan.

Motivasi intrinsik terbukti menjadi fondasi utama dalam keberlanjutan latihan atlet. Kecintaan terhadap olahraga atletik, keinginan untuk mengembangkan kemampuan diri, serta kepuasan pribadi atas pencapaian latihan dan prestasi mendorong atlet untuk tetap berkomitmen meskipun menghadapi tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Atlet dengan motivasi intrinsik yang kuat menunjukkan ketahanan psikologis yang lebih baik serta sikap positif terhadap proses latihan jangka panjang. Di sisi lain, motivasi ekstrinsik berperan sebagai faktor pendukung yang memperkuat semangat dan intensitas latihan atlet. Penghargaan, pengakuan, dukungan keluarga, serta peluang karier di bidang olahraga menjadi stimulus yang meningkatkan usaha atlet, khususnya dalam situasi kompetitif. Namun, ketergantungan berlebihan pada motivasi ekstrinsik berpotensi menurunkan kestabilan motivasi apabila imbalan atau dukungan eksternal tidak terpenuhi.

Penelitian ini juga menemukan adanya hambatan motivasi yang berasal dari faktor internal, seperti kejenuhan latihan dan penurunan kepercayaan diri, serta faktor eksternal berupa keterbatasan fasilitas dan tekanan lingkungan. Hambatan-hambatan tersebut dapat memengaruhi komitmen latihan atlet apabila tidak dikelola secara tepat. Oleh karena itu, pembinaan atlet perlu memperhatikan keseimbangan antara penguatan motivasi dan pengelolaan hambatan secara sistematis dan berkelanjutan.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pelatih dan pengurus PASI Kota Kediri menerapkan pola pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis atlet dengan menumbuhkan motivasi intrinsik melalui pemberian otonomi, umpan balik yang konstruktif, serta variasi program latihan untuk mengurangi kejenuhan. Dukungan fasilitas, apresiasi yang proporsional, dan keterlibatan keluarga perlu terus ditingkatkan sebagai penguat motivasi ekstrinsik tanpa menimbulkan ketergantungan berlebihan. Selain itu, atlet diharapkan mampu memaknai proses latihan sebagai sarana pengembangan diri dan pembentukan karakter, sementara penelitian selanjutnya dapat mengembangkan kajian ini dengan cakupan cabang olahraga yang lebih luas atau menggunakan pendekatan metodologis yang berbeda guna memperkaya pemahaman tentang motivasi dalam pembinaan atlet.

REFERENSI

Andesta, N., Padli, P., Argantos, A., & Sari, D. P. (2023). Tingkat Motivasi Latihan Atlet Renang G Sport Center. Jurnal Gladiator, 3(5), 275–285. https://doi.org/10.24036/gltdor771011

Anisa, B., & Wijaya, F. J. M. (2022). MOTIVASI BERLATIH ATLET ATLETIK USIA 15-20 TAHUN CLUB PREDATOR PADANGAN BOJONEGORO PADA MASA PANDEMI COVID -19. Jurnal Prestasi Olahraga, 5(4), 35–40. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-prestasi-olahraga/article/view/46164

Ardyan, E., Boari, Y., Akhmad, A., Yuliyani, L., Hildawati, H., Suarni, A., Anurogo, D., Ifadah, E., & Judijanto, L. (2023). METODE PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF: Pendekatan Metode Kualitatif dan Kuantitatif di Berbagai Bidang. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Awennse, A., & Wijaya, F. J. M. (2022). Motivasi Berlatih dan Berprestasi Atlet Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kebumen di Era Pandemi Covid-19. Jurnal Prestasi Olahraga, 5(2), 140–150. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-prestasi-olahraga/article/view/45195

Ayemi, M. R. A. (2023). PENGARUH MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP PENINGKATAN PERFORMA ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN PELAJAR (PPLP) PROVINSI PAPUA CABANG OLAHRAGA ATLETIK. Jurnal Prestasi Olahraga, 6(1), 46–50. https://doi.org/10.1234/jpo.v6i1.56607

Elzas, E. N. (2022). Analisis Faktor-Faktor Motivasi Atlet dalam Meraih Prestasi di Kompetisi Liga 3. Journal of Physical and Outdoor Education, 4(1), 45–54. https://doi.org/10.37742/jpoe.v4i1.146

Firmansyah, M., Masrun, M., & S, I. D. K. Y. (2021). ESENSI PERBEDAAN METODE KUALITATIF DAN KUANTITATIF | Elastisitas: Jurnal Ekonomi Pembangunan. https://elastisitas.unram.ac.id/index.php/elastisitas/article/view/46

Hamzah, A. A., Setiawan, T. A., & Faridah, A. (2025). Pengaruh Motivasi Intrinsik Terhadap Prestasi Atlet Karate Bkc Cianjur: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(1), 2020–2025. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i1.1920

HARAZ, R. (2024). ANALISIS MOTIVASI LATIHAN ATLET CRICKET MUARO JAMBI [Other, UNIVERSITAS JAMBI]. https://repository.unja.ac.id/63497/

Jalawasesa, P. V. W., & Fajar, M. K. (2022). Analisis Tingkat Motivasi Berprestasi Atlet Pada Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia Jawa Timur Virtual Tahun 2021. Jurnal Prestasi Olahraga, 5(1), 120–126. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-prestasi-olahraga/article/view/44623

Mustofa, A. I., & Wulandari, F. Y. (2024). MOTIVASI ATLET ATLETIK DALAM MENGIKUTI LATIHAN DI PERSATUAN ATLETIK SELURUH INDONESIA (PASI) KOTA BLITAR UNTUK MENUNJANG PRESTASI DI PORPROV JAWA TIMUR VIII. Jurnal Prestasi Olahraga, 7(1), 48–56. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-prestasi-olahraga/article/view/58233

Nopiyanto, Y. E., Raibowo, S., Prabowo, A., Insanistyo, B., Herdian, H., & Ibrahim, I. (2023). Analisis Tingkat Motivasi Berprestasi Atlet Futsal di Akademi SGF Kota Bengkulu. Jurnal Patriot, 5(2), 138–146. https://doi.org/10.24036/patriot.v5i2.953

Nurfajar, W. A. (2023). Analisis Motivasi Latihan dan Tingkat Efikasi Diri pada Atlet Senam Artistik Kabupaten Karanganyar. https://digilib.uns.ac.id/dokumen/108658/Analisis-Motivasi-Latihan-dan-Tingkat-Efikasi-Diri-pada-Atlet-Senam-Artistik-Kabupaten-Karanganyar

Pramudya, B. D., & M.Pd, W. (2022). Analisis Motivasi Latihan Tim Futsal Putri Bara Katong Ponorogo Selama Covid-19. Jurnal Prestasi Olahraga, 5(2), 122–130. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-prestasi-olahraga/article/view/44771

Rachmad, Y. E., Rahman, A., Judijanto, L., Pudjiarti, E. S., Runtunuwu, P. C. H., Lestari, N. E., Wulandari, D., Suhirman, L., Rahmawati, F. A., Mukhlis, I. R., Fatmah, F., Saktisyahputra, S., Purba, A. E., Nopiah, R., Winarni, A. T., Fanani, A. F., & Mintarsih, M. (2024). Integrasi Metode Kuantitatif dan Kualitatif: Panduan Praktis Penelitian Campuran. PT. Green Pustaka Indonesia.

Rendra Damar Sukma, D., Karlina Dwi Jayanti, -, & Agustanico Dwi Muryadi, S. P. (2024). BIOGRAFI KARIER DAN MOTIVASI DARI OKKY SETYO UTOMO SEBAGAI ATLET ATLETIK [Skripsi, Universitas Tunas Pembangunan]. https://repository.utp.ac.id/2218/

Supratiknya, A. (2022). Metodologi Penelitian Kuantitatif & Kualitatif dalam Psikologi. universitas Sanata Dharma.

 

Thursday, February 19, 2026

ITP Toefl-Reading Prediction 2026-Including Answers

TOEFL ITP Reading Test - 50 Questions

TOEFL ITP Reading Test (50 Questions)

Passage 1: The Amazon Rainforest

The Amazon rainforest is the largest tropical rainforest in the world. It is home to millions of species of plants and animals, many of which are not found anywhere else. The forest plays a crucial role in regulating the Earth's climate by absorbing carbon dioxide and producing oxygen. However, deforestation due to agriculture, logging, and mining threatens its biodiversity and the global climate.

1. What is the main idea of the passage?

A. The Amazon is located in Africa
B. The importance of the Amazon rainforest
C. Methods of deforestation
D. Farming techniques

2. What threatens the Amazon rainforest?

A. Conservation
B. Deforestation
C. Rainfall
D. Oxygen

3. What does the Amazon absorb?

A. Oxygen
B. Carbon dioxide
C. Nitrogen
D. Water

4. Which statement is TRUE?

A. The Amazon produces carbon dioxide
B. The Amazon has many unique species
C. Deforestation increases oxygen
D. Mining protects biodiversity

5. The forest regulates climate by:

A. Absorbing carbon dioxide and producing oxygen
B. Increasing deforestation
C. Reducing rainfall
D. Producing animals

Passage 2: Photosynthesis

Photosynthesis is the process by which green plants make their own food using sunlight, carbon dioxide, and water. Chlorophyll, the green pigment in leaves, captures sunlight. During photosynthesis, plants produce glucose, which is used as energy, and release oxygen into the atmosphere. This process is essential for life on Earth, as it provides food for plants and oxygen for animals and humans.

6. Photosynthesis occurs in:

A. Roots
B. Leaves
C. Flowers
D. Stem

7. What pigment captures sunlight?

A. Hemoglobin
B. Chlorophyll
C. Carotene
D. Xylem

8. Photosynthesis produces:

A. Glucose and oxygen
B. Carbon dioxide
C. Water only
D. Minerals

9. Why is photosynthesis important?

A. It makes food for humans only
B. It provides food and oxygen
C. It produces carbon dioxide
D. It reduces sunlight

10. Which is FALSE?

A. Plants absorb carbon dioxide
B. Oxygen is released
C. Glucose is produced
D. Animals perform photosynthesis

Passage 3: Human Memory

Memory is the process by which humans store, retain, and recall information. There are different types of memory: sensory memory, short-term memory, and long-term memory. Sensory memory holds information for a few seconds. Short-term memory retains information for minutes, while long-term memory can store information for years. Memory is influenced by attention, repetition, and emotional experiences. Improving memory involves practicing recall and organizing information effectively.

11. Which type of memory lasts for only a few seconds?

A. Sensory memory
B. Short-term memory
C. Long-term memory
D. Emotional memory

12. Long-term memory:

A. Stores information for years
B. Stores information for seconds
C. Retains nothing
D. Only stores emotions

13. Memory is influenced by:

A. Attention
B. Repetition
C. Emotional experiences
D. All of the above

14. Practicing recall helps:

A. Reduce memory
B. Improve memory
C. Remove information
D. Cause forgetting

15. Short-term memory lasts for:

A. Seconds
B. Minutes
C. Years
D. Forever

Passage 4: Renewable Energy Sources

Renewable energy comes from natural sources that are constantly replenished, such as sunlight, wind, water, and geothermal heat. Solar panels convert sunlight into electricity, while wind turbines use wind to generate power. Hydropower relies on moving water to produce energy, and geothermal plants use heat from beneath the Earth's surface. Renewable energy reduces greenhouse gas emissions and dependency on fossil fuels, contributing to environmental sustainability. Governments worldwide are investing in renewable technologies to meet future energy demands.

16. The main idea of the passage is:

A. The history of electricity
B. Renewable energy sources
C. Fossil fuel extraction
D. Wind patterns

17. Which is an example of renewable energy?

A. Coal
B. Natural gas
C. Solar energy
D. Oil

18. Wind turbines convert:

A. Heat to electricity
B. Sunlight to electricity
C. Wind to electricity
D. Water to coal

19. Hydropower uses:

A. Moving water
B. Wind
C. Sunlight
D. Geothermal heat

20. Renewable energy helps by:

A. Increasing fossil fuel use
B. Reducing greenhouse gas emissions
C. Raising oil prices
D. Stopping electricity use

Passage 5: Ocean Currents

Ocean currents are large-scale movements of water within the oceans. They are driven by wind, temperature differences, and salinity variations. Currents influence climate, distribute nutrients, and affect marine life migration. Surface currents, like the Gulf Stream, are primarily influenced by wind patterns. Deep-ocean currents, also known as thermohaline circulation, move slowly due to differences in water density. Understanding ocean currents is crucial for navigation, climate prediction, and environmental studies.

21. Ocean currents are caused by:

A. Wind, temperature, and salinity
B. Fish migration
C. Human activity
D. Sunspots

22. Surface currents are influenced by:

A. Earth's core
B. Wind patterns
C. Fish movements
D. Tides

23. Deep-ocean currents are also called:

A. Thermohaline circulation
B. Gulf Stream
C. Surface currents
D. Tide waves

24. Why are ocean currents important?

A. Navigation
B. Climate prediction
C. Environmental studies
D. All of the above

25. The Gulf Stream is an example of:

A. Deep-ocean current
B. Surface current
C. Thermohaline circulation
D. Salinity current

Kemampuan Guru Bercerita dan Kemampuan Anak Menyimak Cerita di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep

The Relationship Between Teachers’ Storytelling Skills and Children’s Listening Skills at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Pangkep Regency

Husnul Khatimah
1Institutit Agama Islam Darud Da’wah Wal Irsyad (IAI DDI) Mangkoso
email:  husnulkhatimahnasir77@gmail.com

 Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak melalui metode bercerita pada anak dengan kemampuan bercerita guru yang dimiliki di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep. Penelitian ini merupakan Penelitian kua;itatif. Subjek penelitian ini adalah anak dan Guru di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. Objek penelitian adalah kemampuan menyimak dan kemampuan guru. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi yang diambil pada saat proses pembelajaran. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menyimak anak dapat ditingkatkan. Hasil observasi pada pertemuan pertama yang memiliki kemampuan menyimak anak yang baik 3 orang anak, pada pertemuan kedua 12 anak, dan pada pertemuan ketiga mengalami peningkatan menjadi 17 anak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode bercerita dengan kemampuan guru bercerita yang dimiliki dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak. Adapun proses dalam meningkatkan kemampuan menyimak melalui metode bercerita yaitu: a) guru benar-benar melakukan persiapan sebelum cerita, b) guru memilih alur yang sesuai dengan karateristik cerita anak, c) guru memberikan penghargaan bagi anak yang aktif saat menyimak cerita.

Kata kunci: Kemampuan Menyimak, Metode Bercerita, Kemampuan Guru Bercerita, Pendidikan Anak Usia Dini, Proses Pembelajaran.  

 Abstract

This study aims to improve children’s listening skills through the storytelling method by utilizing the teacher’s storytelling ability at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Pangkep Regency. This research is a qualitative study. The subjects of this research were children and teachers at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. The objects of the study were listening skills and teacher ability. The data collection methods used were observation and documentation conducted during the learning process. The data analysis technique applied in this study was descriptive quantitative analysis. The research was carried out over three meetings. The results of the study showed that children’s listening skills could be improved. The observation results indicated that in the first meeting, 3 children had good listening skills; in the second meeting, 12 children; and in the third meeting, the number increased to 17 children. Based on these results, it can be concluded that the storytelling method, supported by the teacher’s storytelling ability, can improve children’s listening skills. The process of improving listening skills through the storytelling method includes: (a) the teacher thoroughly preparing before storytelling, (b) the teacher selecting a storyline that is appropriate to the characteristics of children’s stories, and (c) the teacher giving rewards to children who are active while listening to the story.

Keywords: Listening Skills, Storytelling Method, Teacher’s Storytelling Ability, Early Childhood Education, Learning Process.

 

INTRODUCTION

Anak usia 0–8 tahun berada pada masa emas (golden age) yang sangat menentukan perkembangan kehidupan selanjutnya. Pada fase ini, pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat pesat, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Oleh karena itu, potensi anak perlu dikembangkan secara optimal sejak dini, baik melalui lingkungan keluarga maupun melalui pendidikan formal dan nonformal yang terencana dan bermakna (Sanusi Baco, 2018).

Pendidikan anak usia dini memegang peranan strategis dalam membentuk kecerdasan dan kepribadian anak sebagai generasi penerus bangsa. Upaya pemerintah melalui program wajib belajar 12 tahun dan Program Indonesia Pintar (PIP) menunjukkan komitmen kuat dalam menjamin akses pendidikan bagi anak. Namun demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kualitas proses pembelajaran yang diterapkan di lembaga pendidikan (Rakhmaway Popy, 2016).

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan dan kecerdasan anak. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menciptakan suasana belajar yang menarik, variatif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menguasai berbagai metode pembelajaran, salah satunya adalah metode bercerita, agar proses belajar mengajar berjalan efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai (Asmani Jamal Ma’mur, 2009).

Metode bercerita merupakan metode yang sangat relevan untuk dunia anak karena mampu mengembangkan kemampuan menyimak, memperkaya kosa kata, serta merangsang daya imajinasi dan emosi anak. Selain memiliki landasan pedagogis, metode bercerita juga memiliki dasar religius yang kuat karena telah dicontohkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, penerapan metode bercerita masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan keterampilan guru, kurangnya persiapan, minimnya media pendukung, serta rendahnya variasi teknik bercerita yang digunakan (Asmani Jamal Ma’mur, 2009).

Kurangnya penerapan metode bercerita secara optimal berdampak pada rendahnya kemampuan menyimak sebagian anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Oleh karena itu, kesiapan guru, penguasaan teknik bercerita, pemilihan alur cerita yang sesuai, serta penyajian cerita yang menarik menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Dengan penerapan metode bercerita yang tepat dan terencana, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif, menyenangkan, dan mampu mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

 

RESEARCH METHOD

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam kemampuan guru dalam bercerita serta kemampuan anak dalam menyimak cerita di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas dan kedekatan peneliti dengan lingkungan penelitian, sehingga memungkinkan proses pengumpulan data dilakukan secara intensif, alamiah, dan berkelanjutan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi (Imam Gunawan, 2013).

Sumber data dalam penelitian ini meliputi data kepustakaan dan data lapangan, dengan subjek utama berupa guru dan seluruh anak TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, mengingat jumlah populasi yang relatif kecil. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap aktivitas pembelajaran, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan anak, serta dokumentasi untuk melengkapi dan memperkuat data yang diperoleh. Instrumen penelitian menempatkan peneliti sebagai instrumen utama yang terlibat langsung di lapangan untuk menangkap makna, perilaku, dan respons subjek penelitian secara utuh (Abd Rahman A. Ghani, 2014).

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan penalaran induktif, yaitu menarik kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta khusus yang ditemukan di lapangan. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber dan metode, sehingga data yang diperoleh memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi (Suharsimi Arikunto, 2004). Dengan metodologi ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif dan objektif mengenai pelaksanaan metode bercerita serta dampaknya terhadap kemampuan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep.

 

RESULTS AND DISCUSSION

1. Gambaran Umum TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep

TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu merupakan lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 2005 yang berlokasi di Desa Pitusungguh Kel. Bawapitu Kec. Ma’rang Kab. Pangkep. Pada awalnya didirikan oleh pasangan suami istri St. Nurminsabah S.Pd. dan Kamaruddin S.Ag. pada tahun 2003. Setelah beberapa tahun berjalan kemudian diresmikan oleh Deprtemen Agama Kabupaten Pangekep pada tanggal 7 Juli tahun 2005 dengan Surat Keputusan No. 04/PM/- AMB/PS/VII/2005.

Awal didirikan TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu menerima anak didik sekitar 16 orang yang proses belajar mengajar dilakukan di masjid Al Mujahidin dan dari nama masjid Al-Mujahidin itulah sehingga diberi nama TKA/TPA Al-Mujahidin yang dimana dilakukan proses belajar mengajar dilakukan usai sholat ashar. Seiring bertambahnya anak didik, maka pengurus TKA/TPA Al Mujahidin Bawapitu untuk menampuang anak didik yang banyak dan upaya temapat proses belajar mengajar nyaman maka pada tahun berikutnya didirikan bangunan untuk TKA/TPA di dekat masjid dengan bangunan yang cukup sederhana bisa menampung skitar 70 anak dan kini jumlah anak didik di TKA/TPA sekitar 23 orang (Nurmin Shabah, 2018).

2. Penerapan Metode Bercerita untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Bercerita dan Kemampuan Menyimak Anak

TKA/TPA merupakan lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai agama Islam. Program pendidikan di TKA/TPA bukan hanya sekedar mengejarkan pokok bahasan yang telah tertera di kurikulum, tetapi ditunjang pada dengan kreatifitas guru memberikan improvisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak dan memudahkan anak cepat memahami dalam proses belajar yang disampaikan guru misalnya melalui metode bercerita.

Secara umum metode yang digunakan di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu adalah metode ceramah, bermain, meghaflakan surah-surah pendek, mengaji, menyanyi dan bercerita. Metode inilah yang biasa diterapkan oleh guru tapi metode bermain, bernyanyi dan bercerita adalah metode yang sangat digemari oleh anak karena sesuai dengan dunia mereka, apalagi didukung oleh kreatifitas yang dimiliki para guru. Dengan metode bercerita guru dapat memberikan nasehat, bimbingan dan himbauan sehingga diharapkan nasehat, bimbingan dan himabauan tersebut dapat berbekas dalam diri anak yang dapat dijadikan pedoman dan tingkah laku.

Para guru TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu juga menggunakan metode bercerita dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Dalam menyapaikan cerita, guru mengambil sumber dari al-Qur’an dan hadits, buku-buku cerita bergambar, majalah atau yang berasal dari pengalaman dan pengamatan guru memperhatikan kondidi anak didik. Tujuan ide bercerita iti sendiri berupa nasehat guna memperbaiki sikap anak didik, diharapkan agar anak didik tidk merasa dinasehati atau dilarang oleh guru.

Anak tertarik pada cerita-cerita pendek yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya sehari hari. Hal ini sangat membantu perkembangan menyimak anak, karena memiliki ketertarikan dan menarik yang diceritakan guru untuk didengarkan. Setiap cerita yang disampaikan, didengar, dilihat dan dibaca, oleh anak hendaknya mempunyai mutu dan nilai pedagosis agar jangan sampai mereka menemukan teladan-teladan yang tidak baik dalam cerita cerita tersebut.

Dalam kegitan proses belajar mengajar hal yang terpenting dan utama tergantung dari kemampuan seorang guru dalam mengekspresikan cerita. Para guru di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita dan sekreatif mungkin sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimapang dari aspek pedagosis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di TKA/TPA. Program pendidikan di TKA/TPA bukan sekedar mengajrkan pokok bahasan yang tertera pada satuan kegitan harian atau mingguan, tapi ditunjang pula oleh kreatifitas guru memberikan inprovisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak sesuai dengan kondisi anak itu sendiri.

Secara umum anak didik di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu sangat senang dan antusias untuk mendengarkan cerita terutama tema cerita berhubungan dengan dunia Islam seperti kehidupan para Nabi, Wali Songo dan pejuang-pejuang Islam. Ketika seorang guru akan menyajikan sebuah cerita maka anak didik dengan tertib dan antusias mendengarkan apa yang diceritakan oleh guru. Akan tetapi untuk dapat diterima atau tidaknya cerita oleh sebuah anak tergantung kepada peranan guru dalam mengespresikan cerita. Para guru di TKA/TPA diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimpang dari aspek pedagosis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu.

Setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara langsung 66 kepada guru dapat diketahui bahwa sebagian besar anak sangat tertarik terhadap penerapan metode bercerita pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. Pernyataan senada juga disampaikan oleh Bapak Kamaruddin S.Ag. kepala sekolah di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu dalam suatu wawancara sebagai berikut:

“Dalam penerapan metode bercerita, anak sangat antusias. Suasana dalam ruang kelas yang biasanya ribut dan sebagian anak sibuk bermain tidak memperhatikan guru berubah menjadi hening dan tenang pada saat guru sudah mulai bercerita, dan saya sudah sampaikan kepada guru-guru agar sekreatif mungkin untuk meningkatkan kemampuan dan minat anak untuk terus belajar dan saya rasa metode bercerita ini sangat cocok untuk anak karena membuat anak tidak jenuh” (Kamaruddin, 2018).

Metode bercerita terutama bertema atau berkisah tentang Islam seperti kisah Nabi dan lain-lainnya sangat diminatai oleh para siswa. Hal ini terlihat ari kegembiraan yang mereka ekspresikan ketika mendengarkan guru bercerita. Kegembiraan ini tercipta karena kreasi para guru dalam penerapan metode bercerita membuat suara-suaranya berubah-rubah. Menyesuaikan dengan tuntunan tokoh dalam cerita yang dikisahkan, ditambah lagi dengan penyampaian yang dikemas secara penuh kesan saat menyampaikan sehingga tercipta cerita-cerita yang penuh makna dan dapat berguna bagi murid-murid yang mendengarkan.

Menjalin hubungan baik dengan para guru sangatlah penting dalam menciptakan perubahan perilaku anak didik. Banyak diantara orang tua murid menyaksikan perubahan positif perilaku anak yang sesuai dengan cerita yang mereka dengar dari gurunya. Disamping itu jika cerita yang disampaiakan oleh guru menyenangkan dan berkesan dalam diri anak, sesampainya di rumah anak akan menceritakan kemabali kepada orang tuanya untuk mendapatkan penguatan dari apa yang telah diceritakan oleh gurunya. Dengan diterimanya penguatan dari orangtuanya anak akan mengerjakan setiap hal yang diperintahkan atau sebaliknya meninggalkan segala hal yang dikatakan tidak baik. Dengan demikian bahwa penerapan metode bercerita mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam kegiatan proses belajar mengajar terhadap perkembangan keagamaan dan kemampuan menyimak anak dengan baik.

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian. Kemampuan menyimak anak TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, kemampuan anak pada saat penelitian hari pertama belum berkembang dengan optimal. Hal ini terbukti dari hasil observasi yaitu hanya ada 3 anak yang dapat menjawab pertanyaan guru. Anak belum bisa menyebutkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, menilai karakter cerita, dan menjelaskan alur cerita. Selain itu, ketika diminta untuk menceritakan kembali isi cerita, anak masih mengalami kesulitan.

Berdasarkan hasil observasi pada hari kedua menunjukkan sebagian besar anak tertarik menyimak cerita yang disampaikan oleh guru. Pandangan anak melihat gambar yang digunakan guru pada saat bercerita. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dan menceritakan peristiwa yang terjadi dalam cerita. Akan tetapi beberapa anak masih kesulitan untuk menjelaskan alur ataupun menceritakan kembali isi cerita. Hasil observasi pada hari kedua diperoleh bahwa 12 orang anak memiliki kemampuan menyimak anak berkembang sangat baik.

Setelah guru memperbesar volume suara pada saat guru bercerita, terjadi peningkatan persentase anak yang mampu menyimak dengan baik. Akan tetapi berdasarkan indikator keberhasilan dapat disimpulkan bahwa belum berhasil seperti yang diharapkan karena hasil yang diperoleh belum maksimal. Hal ini disebabkan karena struktur kalimat yang digunakan pada saat bercerita masih terlalu panjang. Anak masih sulit untuk mencerna dan mengingatnya.

Pada saat bercerita sebaiknya guru menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah untuk dipahami oleh anak. Selain itu, guru belum lancar mengucapkan cerita. Guru belum hafal isi dan dialog-dialog dalam cerita. Guru masih terpaku pada teks sehingga tidak memperhatikan reaksi anak saat menyimak cerita dan juga tidak melibatkan anak dalam cerita.

Menurut pendapat Tadkiroatun Musfiroh bahwa untuk menyajikan cerita yang menarik, diperlukan beberapa persiapan, mulai dari penyiapan tempat, penyiapan alat peraga, hingga penyajian cerita. Persiapan cerita tersebut terkait erat dengan teknik penyajian cerita. Teknik bercerita dengan benar dapat membuat cerita menjadi lebih hidup dan menarik (Tadkiroatun Musfiroh, 2008).

Belum optimalnya kemampuan menyimak juga disesabkan karena alur cerita terlalu rumit dan panjang sehingga anak masih kebingungan. Alur yang digunakan untuk cerita sebaiknya alur yang sederhana. Menurut Muhammad Nur Mustakim alur cerita untuk anak sangat sederhana. Alur yang biasa digunakan pengarang cerita biasanya mengutamakan alur maju. Hal itu berarti bahwa tahap-tahap cerita dimulai dari perkenalan tokoh cerita, masa menghadapi masalah, klimaks, antiklimaks, kemudiaan penyelesaian cerita. Plot dalam cerita anak-anak biasanya juga menggunakan alur linear. Alur linear adalah alur cerita yang menceritakan secara berurutan dari awal hingga akhir. Selain alur yang terlalu panjang (Muhammad Nur Mustakim, 2005).

Dengan melakukan persiapan tersebut diharapkan gurulancar dalam bercerita dan mampu menyampaikan cerita dengan teknik yang benar. Kalimat yang digunakan pada saat bercerita sebaiknya kalimat yang pendek dan sederhana sehingga mudah untuk dicerna dan diingat oleh anak. Selain itu, alur cerita lebih disederhanakan lagi dan jelas sehingga anak tidak kebingungan.

Pada pertemuan ketiga 17 dari 23 Anak yang mengalami peningkatan dalam kemampuan menyimak adalah anak yang dapat menjawab pertanyaan guru terkait dengan isi cerita. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita, menilai karakter tokoh dalam cerita, menjelaskan alur secara urut, menceritakan peristiwa yang terjadi, serta menceritakan kembali isi cerita dengan benar.

Dari hasil penelitian di atas, 80% kemampuan menyimak anak berkembang sangat baik. Akan tetapi masih terdapat beberapa anak yang kemampuan menyimaknya berkriteria mulai berkembang. Hal ini dikarenakan anak tersebut memiliki kemampuan yang sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Anak tersebut sulit untuk berkonsentrasi, mudah capek, dan kemampuan berbicaranya juga terbatas. Menurut Bromley ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan menyimak yaitu: a) faktor penyimak, b) faktor situasi, dan c) faktor pembicara (Nurbiana Dhieni, dkk, 2005). Sejalan dengan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyimak anak yang belum berkembang sangat baik dapat disebabkan dari faktor penyimak itu sendiri. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa melalui metode bercerita dengan kemampuan guru bercerita dimiliki dalam penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu.

CONCLUSION

Kemampuan guru bercerita berperan penting dalam meningkatkan keterampilan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Penerapan metode bercerita yang interaktif, persiapan materi cerita yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak, pelibatan aktif anak selama kegiatan bercerita, pengelolaan kelas yang tepat, serta pemberian penghargaan kepada anak yang aktif terbukti mampu meningkatkan kemampuan menyimak anak secara signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan jumlah anak dengan kemampuan menyimak berkembang sangat baik, dari hanya 3 anak pada observasi hari pertama, meningkat menjadi 12 anak pada observasi hari kedua, dan mencapai 17 anak pada observasi hari ketiga, sehingga metode bercerita dengan dukungan kemampuan guru yang baik efektif dalam meningkatkan keterampilan menyimak anak.

REFERENCES

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineke Cipta, 2002. upayakan-wajib-belajar-12-tahun-melalui-pip-1473918707. 15 September, 2016.

Baco, Sanusi. ceramah di Mesjid, 16 Mei 2018.

Dhieni, Nurbiana dkk, Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, 2005.

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Kamaruddin, selaku kepala sekolah, di kantor TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep 1, 2018.

Ma’mur, Asmani. Jamal Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan Inovatif, (Jogjakarta: DIVA Press, 2009.

Musfiroh, Tadkiroatun. Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008.

Mustakim, Muhammad Nur. Peranan Cerita Dalam Pembentukan Perkembangan Anak TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005.

PIP. SINDONEWS.com, https://nasional.sindonews.com/read/1139466/144/kemendikbud

Rahman A, Abd. Ghani. Metodologi Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014.

Rakhmaway Popy, Kemindikbud Upayakan Wajib Belajar 12 Tahun Melalui

Shabah, Nurmin. Guru TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Wawancara, Pangkep 13 April 2018.