The Relationship Between Teachers’ Storytelling Skills and Children’s Listening Skills at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Pangkep Regency

Husnul Khatimah
1Institutit Agama Islam Darud Da’wah Wal Irsyad (IAI DDI) Mangkoso
email:  husnulkhatimahnasir77@gmail.com

 Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak melalui metode bercerita pada anak dengan kemampuan bercerita guru yang dimiliki di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep. Penelitian ini merupakan Penelitian kua;itatif. Subjek penelitian ini adalah anak dan Guru di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. Objek penelitian adalah kemampuan menyimak dan kemampuan guru. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi yang diambil pada saat proses pembelajaran. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menyimak anak dapat ditingkatkan. Hasil observasi pada pertemuan pertama yang memiliki kemampuan menyimak anak yang baik 3 orang anak, pada pertemuan kedua 12 anak, dan pada pertemuan ketiga mengalami peningkatan menjadi 17 anak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode bercerita dengan kemampuan guru bercerita yang dimiliki dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak. Adapun proses dalam meningkatkan kemampuan menyimak melalui metode bercerita yaitu: a) guru benar-benar melakukan persiapan sebelum cerita, b) guru memilih alur yang sesuai dengan karateristik cerita anak, c) guru memberikan penghargaan bagi anak yang aktif saat menyimak cerita.

Kata kunci: Kemampuan Menyimak, Metode Bercerita, Kemampuan Guru Bercerita, Pendidikan Anak Usia Dini, Proses Pembelajaran.  

 Abstract

This study aims to improve children’s listening skills through the storytelling method by utilizing the teacher’s storytelling ability at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Pangkep Regency. This research is a qualitative study. The subjects of this research were children and teachers at TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. The objects of the study were listening skills and teacher ability. The data collection methods used were observation and documentation conducted during the learning process. The data analysis technique applied in this study was descriptive quantitative analysis. The research was carried out over three meetings. The results of the study showed that children’s listening skills could be improved. The observation results indicated that in the first meeting, 3 children had good listening skills; in the second meeting, 12 children; and in the third meeting, the number increased to 17 children. Based on these results, it can be concluded that the storytelling method, supported by the teacher’s storytelling ability, can improve children’s listening skills. The process of improving listening skills through the storytelling method includes: (a) the teacher thoroughly preparing before storytelling, (b) the teacher selecting a storyline that is appropriate to the characteristics of children’s stories, and (c) the teacher giving rewards to children who are active while listening to the story.

Keywords: Listening Skills, Storytelling Method, Teacher’s Storytelling Ability, Early Childhood Education, Learning Process.

 

INTRODUCTION

Anak usia 0–8 tahun berada pada masa emas (golden age) yang sangat menentukan perkembangan kehidupan selanjutnya. Pada fase ini, pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat pesat, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Oleh karena itu, potensi anak perlu dikembangkan secara optimal sejak dini, baik melalui lingkungan keluarga maupun melalui pendidikan formal dan nonformal yang terencana dan bermakna (Sanusi Baco, 2018).

Pendidikan anak usia dini memegang peranan strategis dalam membentuk kecerdasan dan kepribadian anak sebagai generasi penerus bangsa. Upaya pemerintah melalui program wajib belajar 12 tahun dan Program Indonesia Pintar (PIP) menunjukkan komitmen kuat dalam menjamin akses pendidikan bagi anak. Namun demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kualitas proses pembelajaran yang diterapkan di lembaga pendidikan (Rakhmaway Popy, 2016).

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan dan kecerdasan anak. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menciptakan suasana belajar yang menarik, variatif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menguasai berbagai metode pembelajaran, salah satunya adalah metode bercerita, agar proses belajar mengajar berjalan efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai (Asmani Jamal Ma’mur, 2009).

Metode bercerita merupakan metode yang sangat relevan untuk dunia anak karena mampu mengembangkan kemampuan menyimak, memperkaya kosa kata, serta merangsang daya imajinasi dan emosi anak. Selain memiliki landasan pedagogis, metode bercerita juga memiliki dasar religius yang kuat karena telah dicontohkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, penerapan metode bercerita masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan keterampilan guru, kurangnya persiapan, minimnya media pendukung, serta rendahnya variasi teknik bercerita yang digunakan (Asmani Jamal Ma’mur, 2009).

Kurangnya penerapan metode bercerita secara optimal berdampak pada rendahnya kemampuan menyimak sebagian anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Oleh karena itu, kesiapan guru, penguasaan teknik bercerita, pemilihan alur cerita yang sesuai, serta penyajian cerita yang menarik menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Dengan penerapan metode bercerita yang tepat dan terencana, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif, menyenangkan, dan mampu mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

 

RESEARCH METHOD

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam kemampuan guru dalam bercerita serta kemampuan anak dalam menyimak cerita di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas dan kedekatan peneliti dengan lingkungan penelitian, sehingga memungkinkan proses pengumpulan data dilakukan secara intensif, alamiah, dan berkelanjutan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi (Imam Gunawan, 2013).

Sumber data dalam penelitian ini meliputi data kepustakaan dan data lapangan, dengan subjek utama berupa guru dan seluruh anak TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, mengingat jumlah populasi yang relatif kecil. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap aktivitas pembelajaran, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan anak, serta dokumentasi untuk melengkapi dan memperkuat data yang diperoleh. Instrumen penelitian menempatkan peneliti sebagai instrumen utama yang terlibat langsung di lapangan untuk menangkap makna, perilaku, dan respons subjek penelitian secara utuh (Abd Rahman A. Ghani, 2014).

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan penalaran induktif, yaitu menarik kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta khusus yang ditemukan di lapangan. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber dan metode, sehingga data yang diperoleh memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi (Suharsimi Arikunto, 2004). Dengan metodologi ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif dan objektif mengenai pelaksanaan metode bercerita serta dampaknya terhadap kemampuan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep.

 

RESULTS AND DISCUSSION

1. Gambaran Umum TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep

TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu merupakan lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 2005 yang berlokasi di Desa Pitusungguh Kel. Bawapitu Kec. Ma’rang Kab. Pangkep. Pada awalnya didirikan oleh pasangan suami istri St. Nurminsabah S.Pd. dan Kamaruddin S.Ag. pada tahun 2003. Setelah beberapa tahun berjalan kemudian diresmikan oleh Deprtemen Agama Kabupaten Pangekep pada tanggal 7 Juli tahun 2005 dengan Surat Keputusan No. 04/PM/- AMB/PS/VII/2005.

Awal didirikan TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu menerima anak didik sekitar 16 orang yang proses belajar mengajar dilakukan di masjid Al Mujahidin dan dari nama masjid Al-Mujahidin itulah sehingga diberi nama TKA/TPA Al-Mujahidin yang dimana dilakukan proses belajar mengajar dilakukan usai sholat ashar. Seiring bertambahnya anak didik, maka pengurus TKA/TPA Al Mujahidin Bawapitu untuk menampuang anak didik yang banyak dan upaya temapat proses belajar mengajar nyaman maka pada tahun berikutnya didirikan bangunan untuk TKA/TPA di dekat masjid dengan bangunan yang cukup sederhana bisa menampung skitar 70 anak dan kini jumlah anak didik di TKA/TPA sekitar 23 orang (Nurmin Shabah, 2018).

2. Penerapan Metode Bercerita untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Bercerita dan Kemampuan Menyimak Anak

TKA/TPA merupakan lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai agama Islam. Program pendidikan di TKA/TPA bukan hanya sekedar mengejarkan pokok bahasan yang telah tertera di kurikulum, tetapi ditunjang pada dengan kreatifitas guru memberikan improvisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak dan memudahkan anak cepat memahami dalam proses belajar yang disampaikan guru misalnya melalui metode bercerita.

Secara umum metode yang digunakan di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu adalah metode ceramah, bermain, meghaflakan surah-surah pendek, mengaji, menyanyi dan bercerita. Metode inilah yang biasa diterapkan oleh guru tapi metode bermain, bernyanyi dan bercerita adalah metode yang sangat digemari oleh anak karena sesuai dengan dunia mereka, apalagi didukung oleh kreatifitas yang dimiliki para guru. Dengan metode bercerita guru dapat memberikan nasehat, bimbingan dan himbauan sehingga diharapkan nasehat, bimbingan dan himabauan tersebut dapat berbekas dalam diri anak yang dapat dijadikan pedoman dan tingkah laku.

Para guru TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu juga menggunakan metode bercerita dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Dalam menyapaikan cerita, guru mengambil sumber dari al-Qur’an dan hadits, buku-buku cerita bergambar, majalah atau yang berasal dari pengalaman dan pengamatan guru memperhatikan kondidi anak didik. Tujuan ide bercerita iti sendiri berupa nasehat guna memperbaiki sikap anak didik, diharapkan agar anak didik tidk merasa dinasehati atau dilarang oleh guru.

Anak tertarik pada cerita-cerita pendek yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya sehari hari. Hal ini sangat membantu perkembangan menyimak anak, karena memiliki ketertarikan dan menarik yang diceritakan guru untuk didengarkan. Setiap cerita yang disampaikan, didengar, dilihat dan dibaca, oleh anak hendaknya mempunyai mutu dan nilai pedagosis agar jangan sampai mereka menemukan teladan-teladan yang tidak baik dalam cerita cerita tersebut.

Dalam kegitan proses belajar mengajar hal yang terpenting dan utama tergantung dari kemampuan seorang guru dalam mengekspresikan cerita. Para guru di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita dan sekreatif mungkin sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimapang dari aspek pedagosis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di TKA/TPA. Program pendidikan di TKA/TPA bukan sekedar mengajrkan pokok bahasan yang tertera pada satuan kegitan harian atau mingguan, tapi ditunjang pula oleh kreatifitas guru memberikan inprovisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak sesuai dengan kondisi anak itu sendiri.

Secara umum anak didik di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu sangat senang dan antusias untuk mendengarkan cerita terutama tema cerita berhubungan dengan dunia Islam seperti kehidupan para Nabi, Wali Songo dan pejuang-pejuang Islam. Ketika seorang guru akan menyajikan sebuah cerita maka anak didik dengan tertib dan antusias mendengarkan apa yang diceritakan oleh guru. Akan tetapi untuk dapat diterima atau tidaknya cerita oleh sebuah anak tergantung kepada peranan guru dalam mengespresikan cerita. Para guru di TKA/TPA diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimpang dari aspek pedagosis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu.

Setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara langsung 66 kepada guru dapat diketahui bahwa sebagian besar anak sangat tertarik terhadap penerapan metode bercerita pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu. Pernyataan senada juga disampaikan oleh Bapak Kamaruddin S.Ag. kepala sekolah di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu dalam suatu wawancara sebagai berikut:

“Dalam penerapan metode bercerita, anak sangat antusias. Suasana dalam ruang kelas yang biasanya ribut dan sebagian anak sibuk bermain tidak memperhatikan guru berubah menjadi hening dan tenang pada saat guru sudah mulai bercerita, dan saya sudah sampaikan kepada guru-guru agar sekreatif mungkin untuk meningkatkan kemampuan dan minat anak untuk terus belajar dan saya rasa metode bercerita ini sangat cocok untuk anak karena membuat anak tidak jenuh” (Kamaruddin, 2018).

Metode bercerita terutama bertema atau berkisah tentang Islam seperti kisah Nabi dan lain-lainnya sangat diminatai oleh para siswa. Hal ini terlihat ari kegembiraan yang mereka ekspresikan ketika mendengarkan guru bercerita. Kegembiraan ini tercipta karena kreasi para guru dalam penerapan metode bercerita membuat suara-suaranya berubah-rubah. Menyesuaikan dengan tuntunan tokoh dalam cerita yang dikisahkan, ditambah lagi dengan penyampaian yang dikemas secara penuh kesan saat menyampaikan sehingga tercipta cerita-cerita yang penuh makna dan dapat berguna bagi murid-murid yang mendengarkan.

Menjalin hubungan baik dengan para guru sangatlah penting dalam menciptakan perubahan perilaku anak didik. Banyak diantara orang tua murid menyaksikan perubahan positif perilaku anak yang sesuai dengan cerita yang mereka dengar dari gurunya. Disamping itu jika cerita yang disampaiakan oleh guru menyenangkan dan berkesan dalam diri anak, sesampainya di rumah anak akan menceritakan kemabali kepada orang tuanya untuk mendapatkan penguatan dari apa yang telah diceritakan oleh gurunya. Dengan diterimanya penguatan dari orangtuanya anak akan mengerjakan setiap hal yang diperintahkan atau sebaliknya meninggalkan segala hal yang dikatakan tidak baik. Dengan demikian bahwa penerapan metode bercerita mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam kegiatan proses belajar mengajar terhadap perkembangan keagamaan dan kemampuan menyimak anak dengan baik.

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian. Kemampuan menyimak anak TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, kemampuan anak pada saat penelitian hari pertama belum berkembang dengan optimal. Hal ini terbukti dari hasil observasi yaitu hanya ada 3 anak yang dapat menjawab pertanyaan guru. Anak belum bisa menyebutkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, menilai karakter cerita, dan menjelaskan alur cerita. Selain itu, ketika diminta untuk menceritakan kembali isi cerita, anak masih mengalami kesulitan.

Berdasarkan hasil observasi pada hari kedua menunjukkan sebagian besar anak tertarik menyimak cerita yang disampaikan oleh guru. Pandangan anak melihat gambar yang digunakan guru pada saat bercerita. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dan menceritakan peristiwa yang terjadi dalam cerita. Akan tetapi beberapa anak masih kesulitan untuk menjelaskan alur ataupun menceritakan kembali isi cerita. Hasil observasi pada hari kedua diperoleh bahwa 12 orang anak memiliki kemampuan menyimak anak berkembang sangat baik.

Setelah guru memperbesar volume suara pada saat guru bercerita, terjadi peningkatan persentase anak yang mampu menyimak dengan baik. Akan tetapi berdasarkan indikator keberhasilan dapat disimpulkan bahwa belum berhasil seperti yang diharapkan karena hasil yang diperoleh belum maksimal. Hal ini disebabkan karena struktur kalimat yang digunakan pada saat bercerita masih terlalu panjang. Anak masih sulit untuk mencerna dan mengingatnya.

Pada saat bercerita sebaiknya guru menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah untuk dipahami oleh anak. Selain itu, guru belum lancar mengucapkan cerita. Guru belum hafal isi dan dialog-dialog dalam cerita. Guru masih terpaku pada teks sehingga tidak memperhatikan reaksi anak saat menyimak cerita dan juga tidak melibatkan anak dalam cerita.

Menurut pendapat Tadkiroatun Musfiroh bahwa untuk menyajikan cerita yang menarik, diperlukan beberapa persiapan, mulai dari penyiapan tempat, penyiapan alat peraga, hingga penyajian cerita. Persiapan cerita tersebut terkait erat dengan teknik penyajian cerita. Teknik bercerita dengan benar dapat membuat cerita menjadi lebih hidup dan menarik (Tadkiroatun Musfiroh, 2008).

Belum optimalnya kemampuan menyimak juga disesabkan karena alur cerita terlalu rumit dan panjang sehingga anak masih kebingungan. Alur yang digunakan untuk cerita sebaiknya alur yang sederhana. Menurut Muhammad Nur Mustakim alur cerita untuk anak sangat sederhana. Alur yang biasa digunakan pengarang cerita biasanya mengutamakan alur maju. Hal itu berarti bahwa tahap-tahap cerita dimulai dari perkenalan tokoh cerita, masa menghadapi masalah, klimaks, antiklimaks, kemudiaan penyelesaian cerita. Plot dalam cerita anak-anak biasanya juga menggunakan alur linear. Alur linear adalah alur cerita yang menceritakan secara berurutan dari awal hingga akhir. Selain alur yang terlalu panjang (Muhammad Nur Mustakim, 2005).

Dengan melakukan persiapan tersebut diharapkan gurulancar dalam bercerita dan mampu menyampaikan cerita dengan teknik yang benar. Kalimat yang digunakan pada saat bercerita sebaiknya kalimat yang pendek dan sederhana sehingga mudah untuk dicerna dan diingat oleh anak. Selain itu, alur cerita lebih disederhanakan lagi dan jelas sehingga anak tidak kebingungan.

Pada pertemuan ketiga 17 dari 23 Anak yang mengalami peningkatan dalam kemampuan menyimak adalah anak yang dapat menjawab pertanyaan guru terkait dengan isi cerita. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita, menilai karakter tokoh dalam cerita, menjelaskan alur secara urut, menceritakan peristiwa yang terjadi, serta menceritakan kembali isi cerita dengan benar.

Dari hasil penelitian di atas, 80% kemampuan menyimak anak berkembang sangat baik. Akan tetapi masih terdapat beberapa anak yang kemampuan menyimaknya berkriteria mulai berkembang. Hal ini dikarenakan anak tersebut memiliki kemampuan yang sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Anak tersebut sulit untuk berkonsentrasi, mudah capek, dan kemampuan berbicaranya juga terbatas. Menurut Bromley ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan menyimak yaitu: a) faktor penyimak, b) faktor situasi, dan c) faktor pembicara (Nurbiana Dhieni, dkk, 2005). Sejalan dengan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyimak anak yang belum berkembang sangat baik dapat disebabkan dari faktor penyimak itu sendiri. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa melalui metode bercerita dengan kemampuan guru bercerita dimiliki dalam penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu.

CONCLUSION

Kemampuan guru bercerita berperan penting dalam meningkatkan keterampilan menyimak anak di TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kabupaten Pangkep. Penerapan metode bercerita yang interaktif, persiapan materi cerita yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak, pelibatan aktif anak selama kegiatan bercerita, pengelolaan kelas yang tepat, serta pemberian penghargaan kepada anak yang aktif terbukti mampu meningkatkan kemampuan menyimak anak secara signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan jumlah anak dengan kemampuan menyimak berkembang sangat baik, dari hanya 3 anak pada observasi hari pertama, meningkat menjadi 12 anak pada observasi hari kedua, dan mencapai 17 anak pada observasi hari ketiga, sehingga metode bercerita dengan dukungan kemampuan guru yang baik efektif dalam meningkatkan keterampilan menyimak anak.

REFERENCES

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineke Cipta, 2002. upayakan-wajib-belajar-12-tahun-melalui-pip-1473918707. 15 September, 2016.

Baco, Sanusi. ceramah di Mesjid, 16 Mei 2018.

Dhieni, Nurbiana dkk, Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, 2005.

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Kamaruddin, selaku kepala sekolah, di kantor TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu Kab. Pangkep 1, 2018.

Ma’mur, Asmani. Jamal Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan Inovatif, (Jogjakarta: DIVA Press, 2009.

Musfiroh, Tadkiroatun. Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008.

Mustakim, Muhammad Nur. Peranan Cerita Dalam Pembentukan Perkembangan Anak TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005.

PIP. SINDONEWS.com, https://nasional.sindonews.com/read/1139466/144/kemendikbud

Rahman A, Abd. Ghani. Metodologi Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014.

Rakhmaway Popy, Kemindikbud Upayakan Wajib Belajar 12 Tahun Melalui

Shabah, Nurmin. Guru TKA/TPA Al-Mujahidin Bawapitu, Wawancara, Pangkep 13 April 2018.