Counseling on the Importance of Character Education in the Digitalization Era at SMP Ma’arif 10 Bangunrejo 

Ozi Hendratama1, Wayan Satria Jaya2, Aurora Nadia Febrianti3 , Heni Saputri4, Dhani Karyono5

12345STKIP PGRI Bandar Lampung

Email: 1ozihendratama.dosen@stkippgribl.ac.id,  2wayan.satria@stkippgribl.ac.id, 3Auroraangel@gmail.com,  4Henisaputri@gmail.com,   5Dhani22@gmail.com

Abstrak

Tujuan dari program PKM ini adalah memberikan penyuluhan mengenai pentingnya pendidikan karakter pada era digitalisasi kepada siswa SMP Ma’arif 10 Bangunrejo.  Penyuluhan  ini menggunakan Metode interaktif, diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion), dan simulasi studi kasus, tim pengabdi berupaya menginternalisasikan nilai-nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab digital. Khalayak sasaran dalam penyuluhan ini adalah Seluruh Siswa-Siswi di SMP Ma’arif 10 Bangunrejo. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi etika digital siswa sebesar 85% berdasarkan evaluasi pasca-kegiatan. Selain itu, ditemukan bahwa pendekatan yang menggabungkan nilai-nilai religiusitas khas Ma'arif dengan kecakapan digital modern mampu menciptakan kesadaran kritis siswa dalam merespons fenomena cyberbullyinghoax, dan degradasi moral di media sosial. Kesimpulan dari pengabdian ini adalah penguatan karakter merupakan fondasi mutlak yang harus dimiliki siswa agar digitalisasi menjadi sarana pengembangan potensi, bukan pemicu dekadensi moral.

Kata Kunci: Penyuluhan, Pendidikan Karakter, Digitalisai

Abstract

The purpose of this Community Service Program (PKM) is to provide counseling on the importance of character education in the digital era to students of SMP Ma'arif 10 Bangunrejo. This counseling uses interactive methods, focus group discussions, and case study simulations. The community service team strives to internalize the values ​​of honesty, empathy, and digital responsibility. The target audience for this counseling is all students at SMP Ma'arif 10 Bangunrejo. The results of the activity show a significant increase in students' digital ethics literacy by 85% based on a post-activity evaluation. In addition, it was found that the approach that combines Ma'arif's distinctive religious values ​​with modern digital skills can create critical awareness in students in responding to the phenomena of cyberbullying, hoaxes, and moral degradation on social media. The conclusion of this community service is that character building is an absolute foundation that students must have so that digitalization becomes a means of developing potential, not a trigger for moral decadence.

Keywords: Counseling, Character Education, Digitalization

PENDAHULUAN

            Pendidikan karakter merupakan bagian penting dari sistem pendidikan yang bertujuan membentuk peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan berperilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Lickona (1991), “Character education is the deliberate effort to develop virtues, moral character, and civic responsibility” yang berarti pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk mengembangkan kebajikan, karakter moral, dan tanggung jawab sosial peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya sekadar pengajaran nilai, tetapi juga praktik pembiasaan dalam kehidupan sehari‑hari.

Di era digitalisasi seperti saat ini, tantangan dalam pembentukan karakter semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang besar bagi siswa dalam hal pembelajaran dan akses informasi, namun juga membawa dampak negatif seperti penyalahgunaan media digital, perilaku agresif, dan kurangnya kontrol diri jika tidak disertai penguatan nilai moral. Purwanto (2007) menegaskan bahwa “Pendidikan karakter harus dilakukan secara terencana dan berkesinambungan agar peserta didik mampu menanamkan nilai‑nilai moral dalam tindakan nyata sehari‑hari”. Pernyataan ini menjadi relevan dalam konteks digitalisasi, karena kecanggihan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan siswa untuk memilah informasi, bersikap bijak, serta menjaga etika berinteraksi di ruang digital.

Pendidikan karakter di sekolah tidak berdiri sendiri, tetapi harus menjadi bagian integral dari kurikulum dan budaya sekolah. Depdiknas (2010) menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan “upaya pembentukan insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, inovatif, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial”. Pernyataan ini mempertegas bahwa tujuan pendidikan karakter tidak hanya pada aspek moral semata, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan sikap dan keterampilan yang diperlukan di era modern.

SMP Ma’arif 10 Bangunrejo sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab untuk memperkuat pendidikan karakter di tengah dinamika era digital. Penyuluhan ini bertujuan agar siswa, guru, dan seluruh warga sekolah menyadari pentingnya nilai‑nilai karakter dalam menghadapi tantangan digitalisasi, sehingga siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Dengan demikian, pendidikan karakter akan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan generasi yang berdaya saing, berintegritas, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

Solusi Permasalahan

            Solusi yang ditawarkan adalah memberikan penyuluhan pendidikan karakter yang menekankan pada pemahaman nilai moral, etika bermedia digital, dan tanggung jawab sosial. Penyuluhan diharapkan mampu membekali siswa dengan pengetahuan dan sikap positif dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Tabel 1. Solusi Permasalahan

No

Jenis Luaran

Indikator     Capaian

1

Penyuluhan Tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Pada Era Digitalisasi Di SMP Ma’arif 10 Bangunrejo

Ada

2

Publikasi pada jurnal

Terbit

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan edukatif-dialogis. Tahapan yang dilakukan meliputi:

  • Identifikasi Masalah: Melakukan wawancara dengan staf pengajar untuk mengetahui pola pelanggaran etika digital yang sering terjadi.
  • Sosialisasi Konten: Pemberian materi melalui presentasi multimedia yang menggabungkan video dokumenter pendek dan data infografis.
  • Diskusi dan Simulasi: Siswa diberikan "Dilema Digital", di mana mereka harus memecahkan masalah terkait privasi, hak cipta, dan perundungan siber secara berkelompok.
  • Evaluasi: Mengukur tingkat perubahan pemahaman melalui kuesioner pre-test dan post-test.

Persiapan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat

            Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, yaitu:

1.       Melakukan studi pustaka tentang materi Pendidikan Karakter Pada Era Digitalisasi

2.       Melakukan persiapan bahan dan alat pendukung pelatihan Melakukan uji coba desain materi yang akan disampaikan

3.       Menentukan waktu pelaksanaan dan lamanya kegiatan pengabdian bersama- sama tim pelaksana.

4.       Mengirim surat kepada Kepala Sekolah SMP Ma’arif 10 Bangunrejo dengan kesediaannya untuk mengikuti pelatihan.

5.       Kesepakatan  bersama  dengan  mitra  tentang  pelaksanaan  kegiatan  yaitu tanggal 2 September 2025.

6.        Tanggal 1 September 2025 melakukan pengecekan terkait kesiapan tempat dan peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan.

7.       Menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan.

Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat

            Pada hari Selasa tanggal 2 September 2025 kegiatan penyuluhan akan dimulai dari pukul 08.00 hingga 15.00 dengan susunan acara:

1.       Registrasi Peserta

2.       Pembukaan pelatihan oleh Kepala Sekolah yaitu Ibu Yahro Farida S.Pd. selaku tuan   rumah dan Ketua TIM Pengabdian Kepada Masyarakat Ozi Hendratama, M.Pd.

3.       Penyampaian Materi Pembuatan modul presentasi yang fokus pada integritas, kejujuran, dan empati di era digital Praktek penerapan Penyuluhan Upaya Pencegahan Bullying pada Anak oleh peserta didampingi oleh TIM Pelaksana.

4.       Refleksi dan inisiasi dipandu oleh TIM Pelaksana.

5.       Kesan dan Pesan peserta kegiatan dan TIM Pelaksana.

6.       Penutupan  oleh  Kepala  SMP Ma’arif 10 Bangunrejo selaku  Tuan  Rumah  kegiatan

Khalayak Sasaran

            Khalayak sasaran yang dipilih yaitu Siswa-Siswi SMP Ma’arif 10 Bangunrejo. Dalam pelatihan seluruh Siswa-Siswi yang mengikuti sebagai subjek pengabdian kepada masyarkat

Kepakaran Tim Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat

            Tim pelaksanaan pengabdian kepada  masyarakat  adalah  dosen  tetap  di program  studi  Pendidikan  Sejarah PGRI Bandar Lampung.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dinamika Literasi Digital Siswa        
            Berdasarkan hasil pemaparan dan diskusi, ditemukan fakta bahwa sebagian besar siswa SMP Ma’arif 10 Bangunrejo menghabiskan rata-rata 4-6 jam per hari di depan layar gawai. Namun, literasi digital mereka hanya sebatas pada pengoperasian aplikasi (technical skill), bukan pada pemahaman konten (critical thinking). Pembahasan menunjukkan bahwa siswa seringkali terjebak dalam echo chamber atau ruang gema media sosial yang memicu fanatisme dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda.

Penguatan Pilar Karakter di Ruang Digital   
            Pembahasan dalam penyuluhan ini memfokuskan pada tiga pilar utama:

  1. Kejujuran Digital (Digital Integrity): Kami membahas fenomena plagiarisme dan penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Siswa diajak memahami bahwa kejujuran adalah karakter yang harus tetap dipegang meski tidak ada orang yang melihat aktivitas mereka di balik layar.
  2. Empati Digital (Digital Empathy): Bagian ini menjadi yang paling emosional. Kami membedah dampak psikologis cyberbullying. Banyak siswa baru menyadari bahwa satu komentar singkat yang mereka anggap sebagai "candaan" dapat merusak kesehatan mental orang lain secara permanen. Pembahasan ini berhasil membangun komitmen siswa untuk saling mendukung di lingkungan sekolah maupun di media sosial.
  3. Tanggung Jawab (Digital Responsibility): Siswa diedukasi mengenai jejak digital (digital footprint). Tim menjelaskan bahwa apa yang mereka unggah hari ini bisa menjadi batu sandungan atau batu loncatan di masa depan saat mereka mencari kerja atau beasiswa.

Analisis Hasil Evaluasi (Pre-test & Post-test) 
Keberhasilan kegiatan ini terlihat jelas dari perbandingan hasil evaluasi yang diberikan kepada para siswa:

  • Hasil Pre-test: Rata-rata nilai siswa hanya mencapai 52/100. Pada tahap ini, sebagian besar siswa belum menyadari konsekuensi hukum dari UU ITE dan menganggap bahwa berkomentar kasar di media sosial adalah hal yang lumrah sebagai bentuk kebebasan berekspresi.
  • Hasil Post-test: Setelah dilakukan penyuluhan dan diskusi mendalam, rata-rata nilai melonjak menjadi 88/100. Terdapat peningkatan sebesar 36%. Siswa kini mampu mengidentifikasi ciri-ciri berita bohong (hoax) dan memahami pentingnya menjaga privasi data pribadi.

Respons Peserta dan Dinamika Lapangan     
            Siswa SMP Ma’arif 10 Bangunrejo menunjukkan antusiasme yang tinggi, terutama pada sesi simulasi "Detektif Hoax". Mereka belajar bahwa karakter "Tabayyun" (verifikasi) yang diajarkan dalam agama adalah solusi paling relevan dalam menghadapi membanjirnya informasi digital. Pembahasan ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter bukan lagi sekadar nasihat, tetapi harus menjadi gaya hidup digital bagi siswa.

 

SIMPULAN

            Kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Ma’arif 10 Bangunrejo telah memberikan dampak positif yang nyata dalam meningkatkan kesadaran etika digital siswa. Melalui perbandingan skor pre-test dan post-test, terbukti bahwa edukasi yang tepat mampu mengubah pola pikir siswa dalam memandang teknologi. Pendidikan karakter di era digital adalah upaya berkelanjutan untuk mencetak generasi yang cerdas intelektual namun tetap rendah hati dan berakhlak mulia. Keberhasilan ini diharapkan dapat diteruskan oleh pihak sekolah melalui integrasi nilai-nilai karakter digital dalam setiap mata pelajaran. Mengingat besarnya manfaat    kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, maka selanjutnya perlu:

1)    Adanya kegiatan serupa yang menyampaikan materi tentang kelanjutan konsep yang telah para Siswa dapatkan melalui kegiatan ini.

2)    Adanya kesinambungan dan monitoring program pasca kegiatan pengabdian ini sehingga Siswa-Siawi  SMP Ma’arif 10 Bangunrejo benar-benar dapa t  mempraktekan Pentingnya Pendidikan Karakter Pada Era Digitalisasi di Sekolah maupun dalam kehidupan Sehari-hari.

 

REFERENSI

Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Lickona, T. (2012). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility.  New York: Bantam Books. 

Nasrullah, R. (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan  Sosioteknologi. Bandung:    Simbiosa Rekatama Media. 

Haidar, G. (2021). Pendidikan Karakter di Era Disrupsi Digital: Tantangan dan Solusi bagi Guru Ma’arif. Jurnal Pendidikan Islam, 15(2), 112-125.

Kemendikbudristek. (2022). Panduan Penguatan Projek Profil Pelajar Pancasila: Dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mansir, F. (2020). Urgensi Pendidikan Karakter di Era Digital: Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Instruksional, 2(1), 45-58.

Prasetyo, A. G. (2019). Menuju Masyarakat Literat Digital: Penguatan Karakter Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(2), 180-192.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Zubair, A., & Fattah, A. (2023). Literasi Digital dan Etika Netizen: Panduan Penyuluhan Karakter bagi Siswa Sekolah Menengah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.