Tuesday, March 31, 2026

Penguatan Peran Keluarga dalam Revitalisasi Bahasa Biak di Kampung Dwar

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village

 Strengthening the Role of the Family in the Revitalization of the Biak Language in Dwar Village | Smas | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

Musa Hefer Smas1*, Tri Handayani2, Meggy Merlin Mokay3 

Abstrak 

Revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya strategis dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat di tengah arus globalisasi. Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua mengalami penurunan penggunaan, terutama pada generasi muda akibat dominasi bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual di Kampung Dwar. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi masalah, sosialisasi, pelatihan, pendampingan keluarga, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman, perubahan sikap, serta keterampilan berbahasa anak-anak. Selain itu, terbentuk kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi. Dengan demikian, pendekatan pendampingan berbasis keluarga terbukti efektif sebagai model revitalisasi bahasa daerah yang berkelanjutan dan berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik serupa.

Kata kunci: bahasa Biak; keluarga; pendampingan; revitalisasi bahasa

Abstract

The revitalization of regional languages is a strategic effort to preserve the continuity of cultural identity amid globalization. The Biak language, as one of the regional languages in Papua, has experienced a decline in usage, particularly among the younger generation, due to the dominance of the Indonesian language in daily communication. This community service activity aims to strengthen the role of the family as the primary agent in the revitalization of the Biak language through a participatory and contextual mentoring approach in Dwar Village. The implementation method includes stages of problem identification, socialization, training, family mentoring, and evaluation. The results of the activity indicate improvements in the cognitive, affective, and psychomotor aspects of participants, as evidenced by increased understanding, changes in attitudes, and enhanced language skills among children. In addition, a habit of using the Biak language within the family environment has been established as a form of language internalization in daily life. These findings confirm that the family plays a strategic role in intergenerational language transmission. Therefore, a family-based mentoring approach has proven effective as a sustainable model for regional language revitalization and has the potential to be replicated in other communities with similar characteristics.

Keywords: Biak language; family; mentoring; language revitalization

PENDAHULUAN  

Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, serta pewarisan nilai-nilai sosial suatu masyarakat. Bahasa daerah tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas budaya dan penentu keberlangsungan nilai serta jati diri suatu komunitas (Suhassatya, 2025; Salam & Hunava, 2024). Dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia, bahasa daerah memiliki posisi strategis sebagai penanda identitas etnis sekaligus sebagai medium transmisi pengetahuan lokal. Namun demikian, fenomena globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa (language shift) yang berdampak pada menurunnya penggunaan bahasa daerah (Sari et.al., 2025).

Bahasa Biak sebagai salah satu bahasa daerah di Papua menghadapi ancaman serius terkait keberlanjutannya. Generasi muda cenderung lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia bahkan dalam interaksi sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan adanya gejala penurunan vitalitas bahasa (language vitality) yang apabila tidak segera diintervensi dapat mengarah pada kepunahan bahasa. Pergeseran ini menegaskan bahwa pemertahanan bahasa sangat bergantung pada praktik penggunaan sehari-hari serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaganya (Putri et al., 2025).

Menurut Fishman (1991), keberhasilan revitalisasi bahasa sangat ditentukan oleh keberadaan domain penggunaan bahasa, khususnya dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan ruang sosial pertama di mana anak memperoleh bahasa (first language acquisition). Apabila bahasa daerah tidak digunakan dalam keluarga, maka peluang keberlanjutan bahasa tersebut menjadi sangat kecil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemertahanan bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan institusional, tetapi juga pada komitmen aktif penutur dalam mempertahankan praktik kebahasaan sebagai bagian dari identitas budaya (Ekarina & Apriyani, 2026).

Permasalahan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Biak secara aktif dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan kemudahan dan tuntutan pendidikan formal. Akibatnya, anak-anak mengalami keterbatasan dalam memahami dan menggunakan bahasa Biak. Kondisi ini juga diperkuat oleh temuan bahwa pembelajaran bahasa daerah yang kurang efektif dapat menyebabkan rendahnya keterampilan berbahasa pada anak (Diu  et.al., 2022).

Selain itu, kurangnya program edukasi berbasis komunitas serta minimnya media pembelajaran bahasa Biak turut memperparah kondisi tersebut. Padahal, pemertahanan bahasa dapat berlangsung secara efektif melalui berbagai praktik sosial dan kultural yang melibatkan masyarakat secara aktif, termasuk dalam ruang-ruang sosial seperti keluarga dan kegiatan komunitas (Suriyani et al., 2025). Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual.

Lebih lanjut, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya dipahami sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai proses adaptasi agar bahasa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika sosial masyarakat (Sembiring & Lestari, 2024). Sesuai dengan masalah yang terjadi di Kampung Dwar, maka strategi revitalisasi perlu dirancang secara sistematis dengan melibatkan keluarga sebagai agen utama dalam transmisi bahasa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang dengan fokus pada penguatan peran keluarga sebagai agen utama dalam revitalisasi bahasa Biak. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya pelestarian bahasa Biak; (2) meningkatkan kompetensi dasar berbahasa Biak pada anak-anak; (3) membangun kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga; dan (4) mengembangkan model pendampingan berbasis keluarga dalam revitalisasi bahasa.

METODE   

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Dwar yang terletak di Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, dan Provinsi Papua dengan menggunakan pendekatan partisipatif (participatory approach). Pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kegiatan. 

Tahapan Pelaksanaan

a.    Identifikasi Masalah: Tahap ini dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan keluarga. Hasil identifikasi menunjukkan rendahnya penggunaan bahasa Biak dalam keluarga.

b.    Sosialisasi Program: Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian bahasa daerah. Kegiatan ini melibatkan diskusi interaktif dan penyampaian materi edukatif.

c.    Pelatihan bahasa Biak: Pelatihan difokuskan pada penguasaan kosakata dasar, ungkapan sehari-hari, dan praktik komunikasi sederhana dalam Bahasa Biak.

d.    Pendampingan Keluarga: Pendampingan dilakukan secara langsung di lingkungan keluarga dengan memberikan bimbingan penggunaan bahasa Biak dalam aktivitas sehari-hari.

e.    Evaluasi: Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman serta observasi perubahan perilaku berbahasa.

     Subjek dan Mitra Kegiatan

Subjek kegiatan dalam pengabdian ini adalah 20 keluarga yang berdomisili di Kampung Dwar dan memiliki anak usia sekolah dasar sebagai sasaran utama dalam proses revitalisasi bahasa. Pemilihan subjek didasarkan pada pertimbangan bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki peran strategis dalam transmisi bahasa antargenerasi, khususnya dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak.

Adapun mitra kegiatan dalam program ini adalah masyarakat lokal dan tokoh adat setempat yang berperan sebagai fasilitator sosial sekaligus penjaga nilai-nilai budaya. Keterlibatan mitra ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan program, karena mereka memiliki otoritas kultural dan kedekatan sosial dengan masyarakat, sehingga mampu memperkuat legitimasi serta keberlanjutan kegiatan revitalisasi Bahasa Biak di lingkungan komunitas.

Indikator Keberhasilan

Dalam kegiatan pengabdian ini ditentukan berdasarkan beberapa aspek utama, yaitu (1) peningkatan skor pemahaman bahasa Biak yang diukur melalui hasil pre-test dan post-test, (2) peningkatan frekuensi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga, (3) tingkat partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung, dan (4) perubahan sikap peserta terhadap bahasa daerah, khususnya dalam hal kesadaran dan komitmen untuk menggunakan serta melestarikan bahasa Biak sebagai bagian dari identitas budaya.

                     HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK  

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Dwar menunjukkan capaian yang signifikan dalam berbagai aspek, meliputi dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta. Temuan ini diperoleh melalui kombinasi instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta wawancara terbimbing terhadap peserta kegiatan. Secara umum, hasil kegiatan tidak hanya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa, tetapi juga perubahan sikap dan terbentuknya kebiasaan baru dalam penggunaan bahasa Biak di lingkungan keluarga.

                 Gambar 1. Interaksi anak dan orang tua dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk praktik penggunaan bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar.

Pada aspek kognitif, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai bahasa Biak secara signifikan. Peningkatan ini ditandai dengan bertambahnya pemahaman terhadap kosakata dasar, struktur kalimat sederhana, serta fungsi penggunaan bahasa Biak dalam komunikasi sehari-hari. Peserta tidak hanya mampu mengenali unsur-unsur dasar bahasa, tetapi juga mulai memahami penggunaannya dalam konteks yang lebih nyata dan fungsional. Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan mampu memberikan kontribusi positif terhadap penguatan pengetahuan peserta, sekaligus mencerminkan efektivitas pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan kontekstual yang dipadukan dengan praktik langsung dapat memudahkan peserta dalam memahami dan menginternalisasi bahasa Biak dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi afektif, kegiatan ini berhasil mendorong perubahan sikap yang cukup signifikan, terutama pada kalangan orang tua. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta memiliki persepsi bahwa penggunaan bahasa daerah kurang relevan dengan kebutuhan modern, terutama dalam konteks pendidikan formal dan mobilitas sosial. Namun, setelah mengikuti rangkaian kegiatan pendampingan, terjadi pergeseran cara pandang yang positif. Orang tua mulai menyadari bahwa Bahasa Biak memiliki fungsi yang lebih luas, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan identitas etnis. Perubahan ini ditandai dengan meningkatnya komitmen orang tua untuk kembali menggunakan bahasa Biak dalam interaksi keluarga dengan anak-anak.

Pada aspek psikomotorik, peningkatan keterampilan berbahasa terlihat dari kemampuan anak-anak dalam menggunakan kosakata dasar dan ungkapan sederhana dalam bahasa Biak. Anak-anak mulai mampu merespons percakapan sehari-hari dan terlibat dalam interaksi verbal menggunakan bahasa Biak. Peningkatan keterampilan ini tidak terlepas dari metode pendampingan yang menekankan praktik langsung, seperti dialog sederhana dan interaksi rutin dalam keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan belajar dan praktik langsung lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi berbahasa dibandingkan pendekatan teoritis semata.

Selain peningkatan pada tiga aspek utama tersebut, capaian penting lainnya adalah mulai terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga. Pembentukan kebiasaan ini merupakan indikator penting dalam keberhasilan revitalisasi bahasa, karena menunjukkan adanya proses internalisasi nilai dan praktik berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini juga berpotensi menjadi strategi berkelanjutan dalam menjaga eksistensi bahasa Biak di tengah tekanan globalisasi dan dominasi bahasa nasional.

Secara teoretis, temuan dalam kegiatan ini memperkuat pandangan Fishman (1991) yang menekankan pentingnya domain keluarga dalam upaya mempertahankan dan merevitalisasi bahasa. Dalam konsep Reversing Language Shift, keluarga dipandang sebagai ruang utama dalam transmisi bahasa antargenerasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa ketika keluarga mulai aktif menggunakan bahasa Biak, anak-anak secara alami akan menyerap dan menginternalisasi bahasa tersebut melalui interaksi sehari-hari.

Lebih lanjut, pendekatan pendampingan yang digunakan dalam kegiatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional seperti ceramah. Pendampingan memungkinkan terjadinya proses belajar yang bersifat partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam praktik penggunaan bahasa dalam situasi nyata. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung.

Dari perspektif pembelajaran sosial, keterlibatan orang tua sebagai role model memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan program. Anak-anak cenderung meniru pola bahasa yang digunakan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Dwar. Oleh karena itu, konsistensi orang tua dalam menggunakan bahasa Biak menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses pemerolehan bahasa pada anak di lingkungan keluarga.

Namun demikian, implementasi program ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Keterbatasan waktu pendampingan menjadi salah satu tantangan dalam memastikan keberlanjutan program. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kemampuan peserta yang memengaruhi kecepatan adaptasi terhadap materi yang diberikan. Faktor eksternal, seperti dominasi penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sosial yang lebih luas, juga menjadi hambatan dalam optimalisasi penggunaan bahasa Biak.

Meskipun menghadapi berbagai kendala, secara keseluruhan kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga merupakan strategi yang efektif dan relevan dalam revitalisasi bahasa daerah, khususnya dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami pergeseran bahasa. Lebih lanjut, hasil ini juga membuka peluang untuk pengembangan model pengabdian berbasis komunitas yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi adat, dalam upaya pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan.

SIMPULAN  

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Dwar menunjukkan bahwa penguatan peran keluarga melalui pendekatan pendampingan berbasis partisipatif dan kontekstual merupakan strategi yang efektif dalam revitalisasi bahasa Biak. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta dalam menggunakan bahasa Biak, yang tercermin dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, kegiatan ini juga mampu mendorong terbentuknya kebiasaan penggunaan bahasa Biak dalam lingkungan keluarga sebagai bentuk internalisasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis sebagai domain utama dalam transmisi bahasa antargenerasi, sehingga menjadi kunci dalam upaya pemertahanan dan revitalisasi bahasa daerah. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu pendampingan dan pengaruh lingkungan eksternal, secara keseluruhan program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran dan praktik berbahasa masyarakat.

Oleh karena itu, model pendampingan berbasis keluarga yang dikembangkan dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan sebagai pendekatan yang berkelanjutan dalam pelestarian bahasa daerah, serta berpotensi untuk direplikasi di komunitas lain dengan karakteristik yang serupa, dengan dukungan berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi adat.

 

REFERENSI

Diu, A.R., Rahmat, A., & Duludu, U. (2022). Pelestarian bahasa daerah Gorontalo dalam aktivitas belajar anak usia dini di Desa Lemito Utara Kecamatan Lemito. Student Journal of Early Childhood Education. https://ejournal-fipung.ac.id/ojs/index.php/SJCE/article/ view/904

Ekarina., & Apriyani, M. (2026). Bahasa dan budaya Jawa di gereja Katolik: Pemertahanan dan identitas. Linguistik Indonesia. http://ojs.linguistikindonesia.org/index.php/linguis tikindonesia/article/view/951

Fishman, Joshua. (1991). Reversing language shift: Theoretical and empirical foundations of assistance to threatened languages. Multilingual Matters. https://doi.org/10.21832/ 9781800418097

Putri, M., Faunelzi, M., Misriani, A., & Iskandar, Z. (2025). Pemertahanan bahasa Bali di lingkungan masyarakat Desa Suro Bali di Kabupaten Kepahiang. e-theses IAIN Curup. http://e-theses.iaincurup.ac.id/id/eprint/8738

Salam, L. F., & Hunava, N. (2024). Menjaga bahasa, merawat bangsa: Strategi pelestarian bahasa daerah. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikankreatif.com/index.php/ BASAYA/article/view/43

Sari, I. P., Insani, N. N., & Ridha, M. R. (2025). Ancaman pergeseran bahasa daerah dan dampaknya terhadap keberlanjutan warisan budaya di era global. Menulis: Jurnal Penelitian. https://padangjurnal.web.id/index. php/menulis/article/view/236

Sembiring, R. P. B., & Lestari, F. A. (2024). Revitalisasi bahasa daerah dalam era globalisasi antara pelestarian dan modernisasi. Jurnal Bahasa. https://jurnal.inovasipendidikan kreatif.com/index.php/BASAYA/article/view/46

Suhassatya, G. K. (2025). Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dalam perspektif bahasa sebagai identitas budaya. Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora. https://publisherqu. com/index.php/pediaqu/article/view/2062

Suriyani, E., Suparmanto, & Akmaluddin. (2025). Bahasa Sasak dalam ekspresi keberagamaan masyarakat Islam Lombok. Journal of Arabic Linguistics and Literature. https://unissa.edu.bn/journal/index.php/jall/article/view/ 1037

 

Sunday, March 29, 2026

Analisis Kinerja Mesin Pemanggang Semi Otomatis Melalui Modifikasi Sistem Pemanas Termokontroler

Performance Analysis of a Semi-Automatic Roasting Machine Through Modification of a Thermocontroller Heating System

Performance Analysis of a Semi-Automatic Roasting Machine Through Modification of a Thermocontroller Heating System | Rialdo | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Moh Bagus Rialdo

1Teknik Mesin, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia 60231

E-mail: mhmdbagus1503@gmail.com  

Abstrak

Proses pemanggangan dalam industri pengolahan makanan memerlukan pengendalian suhu yang stabil untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten. Namun, mesin pemanggang konvensional umumnya masih memiliki kelemahan dalam hal distribusi panas dan kestabilan suhu, sehingga berdampak pada efisiensi energi dan mutu hasil pemanggangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mesin pemanggang semi otomatis melalui modifikasi sistem pemanas berbasis termokontroler menggunakan sensor termokopel. Metode yang digunakan adalah pendekatan rekayasa yang meliputi perancangan, pembuatan, dan pengujian alat pada variasi suhu 160°C hingga 300°C. Parameter yang dianalisis meliputi stabilitas suhu, waktu pemanggangan, serta kualitas hasil masakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan termokopel mampu menurunkan fluktuasi suhu menjadi ±1°C–±2°C, mempercepat waktu pemanggangan, serta meningkatkan konsistensi kualitas masakan dengan nilai rata-rata 4–4,5. Dengan demikian, modifikasi sistem pemanas berbasis termokontroler terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja mesin pemanggang dan berpotensi diterapkan pada industri kecil dan menengah.

Kata kunci: efisiensi energi, mesin pemanggang, stabilitas suhu, termokontroler, termokopel

Abstract

The roasting process in the food processing industry requires stable temperature control to produce consistent product quality. However, conventional roasting machines generally have limitations in heat distribution and temperature stability, which affect energy efficiency and the quality of the final product. Therefore, this study aims to analyze the performance of a semi-automatic roasting machine through the modification of a thermocontroller-based heating system using a thermocouple sensor. The research employed an engineering design method, including the design, fabrication, and testing of the machine at temperature variations ranging from 160°C to 300°C. The evaluated parameters included temperature stability, roasting time, and product quality. The results showed that the implementation of the thermocouple significantly reduced temperature fluctuations to ±1°C–±2%, shortened the roasting time, and improved the consistency of product quality with an average score of 4–4.5. In conclusion, the thermocontroller-based heating system effectively enhances the performance of the roasting machine and has strong potential for application in small and medium enterprises.

Keywords: energy efficiency; roasting machine; temperature stability; thermocontroller; thermocouple


PENDAHULUAN            

Industri pengolahan makanan sangat bergantung pada proses pemanggangan yang presisi untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Mesin pemanggang menjadi salah satu komponen penting karena berperan dalam mengatur suhu dan waktu selama proses berlangsung. Namun, mesin pemanggang konvensional umumnya masih menggunakan sistem pengendalian suhu yang sederhana, sehingga sering menghasilkan distribusi panas yang tidak merata dan berdampak pada kualitas produk akhir [1].

Perkembangan teknologi telah menghadirkan solusi berupa penggunaan sensor suhu seperti termokopel yang mampu memberikan pengukuran suhu secara lebih akurat. Teknologi ini memungkinkan pengendalian suhu yang lebih stabil dan presisi dalam mesin pemanggang modern. Dengan demikian, penggunaan termokopel tidak hanya meningkatkan kualitas hasil pemanggangan, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi energi selama proses berlangsung [2][3].

Meskipun demikian, penerapan teknologi ini pada mesin pemanggang semi otomatis, khususnya di sektor industri kecil dan menengah (UMKM), masih tergolong terbatas. Banyak mesin yang masih mengandalkan sistem pemanas tradisional yang kurang efisien, sehingga menyebabkan tingginya konsumsi energi serta ketidakkonsistenan kualitas produk. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengembangkan sistem pemanas yang lebih optimal dan terjangkau [4], [5].

Modifikasi sistem pemanas menggunakan termokopel pada mesin pemanggang semi otomatis menjadi salah satu solusi yang potensial. Integrasi termokopel memungkinkan pengaturan suhu secara real-time sesuai kebutuhan proses pemanggangan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanasan serta menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih seragam [6].

Penelitian ini berfokus pada analisis kinerja mesin pemanggang semi otomatis yang telah dimodifikasi dengan sistem pemanas berbasis termokopel. Parameter yang dianalisis meliputi pengaturan suhu optimal, kecepatan pemanasan, serta efisiensi energi yang dihasilkan selama proses pemanggangan. Analisis ini bertujuan untuk menemukan konfigurasi sistem yang paling efektif dalam meningkatkan performa mesin [7].

Selain itu, pengembangan mesin pemanggang dengan sistem kontrol suhu yang lebih baik diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap efisiensi operasional dan keberlanjutan lingkungan. Penggunaan energi yang lebih efisien tidak hanya menurunkan biaya operasional, tetapi juga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga teknologi ini memiliki nilai tambah dari sisi keberlanjutan [8], [9].

Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan mesin pemanggang multifungsi semi otomatis dengan sistem pemanas berbasis termokopel, serta mengevaluasi kinerjanya melalui serangkaian pengujian. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa modifikasi yang dilakukan mampu meningkatkan efisiensi energi, kestabilan suhu, dan konsistensi kualitas hasil pemanggangan.

 

KAJIAN TEORITIS        

Prinsip Kerja Mesin Pemanggang

Mesin pemanggang bekerja dengan mentransfer panas melalui tiga mekanisme utama, yaitu radiasi, konveksi, dan konduksi. Radiasi berasal dari elemen pemanas seperti kawat nikrom atau inframerah yang langsung memanaskan permukaan makanan tanpa media perantara, sedangkan konveksi terjadi melalui sirkulasi udara panas di dalam ruang pemanggang untuk menghasilkan distribusi panas yang merata [10]. Mesin pemanggang modern dilengkapi fitur kontrol suhu presisi berbasis sensor untuk menjaga kestabilan suhu serta waktu pemanggangan otomatis guna meningkatkan konsistensi hasil dan mencegah overcooking . Selain itu, desain multifungsi memungkinkan pemanggangan berbagai jenis makanan dalam satu alat sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas . Kombinasi prinsip perpindahan panas dan teknologi ini menjadikan mesin pemanggang lebih efisien serta menghasilkan kualitas pemanggangan yang lebih baik dan konsisten.

 

 

Standar Waktu Kematangan Objek

Waktu dan suhu pemanggangan merupakan faktor penting untuk memastikan tingkat kematangan yang optimal serta menghindari overcooking. Setiap jenis bahan memiliki standar yang berbeda, misalnya sayuran umumnya dipanggang pada suhu 200–220°C selama 20–30 menit, dengan waktu yang dipengaruhi oleh ketebalan potongan [11]. Seafood seperti ikan dan udang memerlukan suhu lebih rendah, yaitu 180–200°C, dengan waktu sekitar 10 menit per inci ketebalan untuk ikan dan 5–8 menit untuk udang. Sementara itu, unggas membutuhkan suhu minimal 165°C dengan durasi sekitar 20–30 menit per 500 gram, tergantung jenis dan ketebalan potongan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa parameter suhu dan waktu harus disesuaikan dengan karakteristik bahan untuk memperoleh hasil pemanggangan yang optimal.

Termokontroler

       Termokontroler merupakan perangkat elektronik yang berfungsi mengatur dan menjaga kestabilan suhu pada sistem pemanasan. Dengan bantuan sensor suhu, perangkat ini mampu mendeteksi perubahan suhu secara cepat dan memberikan umpan balik untuk mengontrol elemen pemanas agar tetap berada pada kondisi yang diinginkan. Sensor sendiri berperan mengubah besaran fisik seperti suhu menjadi sinyal listrik, sedangkan sistem kontrol bertujuan meminimalkan kesalahan hingga batas toleransi tertentu [12]. Dalam mesin pemanggang, integrasi sensor dan termokontroler menjadi kunci untuk menghasilkan proses pemanggangan yang stabil dan konsisten. Beberapa jenis termokontroler yang umum digunakan antara lain thermostat sederhana, PID controller yang lebih presisi, serta kontrol analog yang lebih sederhana.

Kompor

       Kompor merupakan komponen utama dalam sistem pemanas yang berfungsi sebagai sumber energi panas. Seiring perkembangan teknologi, kompor mengalami evolusi dari penggunaan kayu bakar, minyak tanah, hingga gas (Efendi dkk., 2023). Pada mesin pemanggang semi otomatis, kompor didesain untuk menghasilkan distribusi panas yang merata sehingga dapat meningkatkan kualitas pemanggangan dan efisiensi proses.

Perpindahan Panas

       Perpindahan panas adalah proses transfer energi akibat perbedaan suhu yang sangat penting dalam sistem pemanggangan (Kreith, 1973). Terdapat tiga mekanisme utama, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi, yang masing-masing memiliki karakteristik dan persamaan matematis. Konduksi dinyatakan dengan

                      ,                                           (1)

konveksi dengan

                                                                (2)

dan radiasi dengan

                                                               (3)

 Ketiga mekanisme ini bekerja secara simultan dalam mesin pemanggang untuk menghasilkan distribusi panas yang optimal dan meningkatkan efisiensi pemanasan.

 

Metode

       Penelitian ini merupakan penelitian rekayasa (engineering design) yang berfokus pada perancangan, pembuatan, dan pengujian mesin pemanggang multifungsi semi otomatis berbasis termokontroler. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi temperatur (200–250°C) yang mempengaruhi tingkat kematangan dan waktu pemanggangan, sedangkan variabel terikat meliputi efektivitas pemanggangan dan waktu yang dibutuhkan. Variabel kontrol berupa waktu pemanggangan yang dijaga konstan pada setiap percobaan. Penelitian dilakukan selama 6 bulan di De Alamuda Residence, Surabaya. Alur penelitian secara umum ditunjukkan pada Gambar 1 Diagram Alir, yang menggambarkan tahapan mulai dari perencanaan hingga evaluasi sistem.

 

Gambar 1. Diagram Alir

Prosedur penelitian meliputi studi literatur, analisis masalah, perancangan dan desain alat menggunakan perangkat lunak CAD, pembuatan prototipe, perakitan, hingga pengujian kinerja alat. Studi literatur dilakukan untuk memahami teknologi pemanggangan, sistem kontrol suhu, serta penelitian terkait. Tahap analisis masalah bertujuan mengidentifikasi kebutuhan sistem dan menentukan solusi yang tepat. Selanjutnya dilakukan perancangan mekanik dan sistem kontrol, termasuk desain 2D dan 3D termokontroler serta mesin pemanggang. Perakitan dilakukan dengan menggabungkan komponen utama seperti kompor, termokontroler, dan sistem rangka, kemudian dilanjutkan dengan pengujian untuk memastikan alat bekerja sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

Analisis kinerja sistem dilakukan melalui perhitungan perpindahan panas dan pengujian eksperimental. Perpindahan panas yang terjadi meliputi konduksi dan konveksi, dengan perhitungan menggunakan parameter seperti konduktivitas termal, luas penampang, koefisien konveksi, dan perbedaan suhu. Selain itu, pengujian dilakukan dengan mengukur stabilitas suhu, waktu pemanggangan, serta kualitas hasil masakan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas sistem pemanas berbasis termokopel dalam meningkatkan efisiensi dan konsistensi proses pemanggangan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konfigurasi Awal Sebelum Pemasangan Termokopel

       Pengujian awal mesin pemanggang dilakukan pada variasi suhu 160°C, 190°C, 240°C, dan 300°C dengan pengaturan knop gas yang dinaikkan secara bertahap sebesar 25% dari posisi terendah hingga tertinggi untuk mengontrol aliran gas dan suhu ruang pemanggangan. Pada tahap ini, pengukuran suhu dilakukan menggunakan termometer digital yang ditempatkan di dalam ruang pemanggang untuk mengevaluasi stabilitas suhu, waktu pemanggangan, serta kualitas hasil masakan tanpa sistem kontrol elektronik. Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan antara suhu aktual dan suhu target, serta fluktuasi suhu selama proses pemanggangan. Grafik pada Gambar 2. memperlihatkan bahwa stabilitas suhu meningkat seiring kenaikan temperatur, meskipun masih terdapat penyimpangan pada setiap pengaturan.

Gambar 2. Stabilitas Suhu Selama Pengujian

       Pengukuran waktu pemanggangan menggunakan stopwatch digital  menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, waktu pemanggangan semakin singkat, yaitu 27 menit (160°C), 25 menit (190°C), 22 menit (240°C), dan 18 menit (300°C). Hal ini menunjukkan peningkatan efisiensi termal pada suhu yang lebih tinggi, namun tetap memerlukan pengendalian suhu yang baik agar tidak menurunkan kualitas hasil pemanggangan. Hubungan antara suhu dan waktu ini menjadi indikator penting dalam mengevaluasi performa awal alat sebelum dilakukan modifikasi sistem pemanas.

       Hasil pemanggangan jagung tanpa penggunaan termokopel menunjukkan bahwa kualitas masakan meningkat seiring kenaikan suhu, dari nilai 3 pada 160°C hingga 4 pada 240–300°C. Pada suhu rendah, pemanggangan cenderung tidak merata dengan beberapa bagian terlalu matang, sedangkan pada suhu lebih tinggi distribusi panas lebih baik dan menghasilkan warna serta tekstur yang lebih seragam. Namun, masih ditemukan ketidakkonsistenan akibat fluktuasi suhu, sehingga menunjukkan bahwa tanpa sistem kontrol suhu yang presisi, kualitas hasil pemanggangan belum optimal.

 

Data Pengujian Sebelum Pemasangan Termokopel

       Tabel 1 menunjukkan data hasil pengujian mesin pemanggang sebelum pemasangan sistem termokopel, yang mencakup variasi suhu antara 160°C hingga 300°C. Data ini meliputi suhu aktual, stabilitas suhu, waktu pemanggangan, dan kualitas masakan.

Tabel 1. Pengambilan Data Sebelum Modifikasi Sistem Pemanas

 

Parameter Uji

Variasi

Suhu (°C)

Suhu Aktual (°C)

Stabilitas

Suhu (± °C)

Waktu

Pemanggang an (Menit)

Kualitas Masakan (1-5)

Percobaan 1

160

155-162

±6

27

3

Percobaan 2

190

185-196

±5

24

3.5

Percobaan 3

240

235-242

±7

20

4

Percobaan 4

300

285-305

±18

17

4

       Suhu Aktual mengacu pada rentang suhu yang terukur selama proses pemanggangan yang sebenarnya terjadi di dalam ruang pemanggang. Suhu ini dipantau secara langsung menggunakan alat pengukur suhu yang terpasang di dalam mesin pemanggang. Suhu aktual menc   erminkan fluktuasi yang terjadi selama pemanggangan, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti distribusi panas yang tidak merata atau ketidakseimbangan dalam sistem pemanas.

       Stabilitas Suhu adalah ukuran dari seberapa konsisten suhu yang tercatat selama pemanggangan. Dalam hal ini, stabilitas suhu dihitung dengan melihat fluktuasi suhu yang terjadi di antara titik pengukuran selama periode pemanggangan. Nilai stabilitas suhu yang rendah menunjukkan fluktuasi yang lebih besar, sedangkan nilai stabilitas yang lebih tinggi menunjukkan suhu yang lebih stabil. Fluktuasi ini dihitung berdasarkan perbedaan antara suhu maksimum dan minimum yang tercatat pada saat pemanggangan, yang juga dipengaruhi oleh ketepatan kontrol suhu pada mesin pemanggang.

       Kedua parameter ini diperoleh melalui penggunaan sensor suhu yang terpasang di dalam ruang pemanggang, dan data suhu yang tercatat diambil setiap beberapa detik atau menit selama proses pemanggangan. Data ini diolah untuk mendapatkan rentang suhu yang tercatat pada setiap variasi suhu yang diuji (160°C, 190°C, 240°C, dan 300°C).

·         Percobaan 1 (160°C): Suhu aktual berkisar antara 155°C hingga 162°C, dengan stabilitas suhu ±6°C. Fluktuasi suhu yang besar ini menunjukkan kontrol suhu yang kurang baik, yang menyebabkan ketidakmerataan panas. Waktu pemanggangan mencapai 27 menit, yang lebih lama dibandingkan percobaan lainnya. Kualitas masakan dinilai 3, menandakan bahwa pemanggangan pada suhu rendah menghasilkan hasil yang kurang optimal, dengan beberapa bagian terlalu matang sementara lainnya kurang matang.

·          Percobaan 2 (190°C): Suhu aktual tercatat antara 185°C hingga 196°C, dengan stabilitas suhu ±5°C. Fluktuasi suhu mulai berkurang dibandingkan percobaan pertama, meskipun masih belum cukup stabil. Waktu pemanggangan berkurang menjadi 24 menit, sedikit lebih cepat daripada percobaan pertama. Kualitas masakan meningkat menjadi 3.5, menunjukkan distribusi panas yang lebih baik meskipun belum sepenuhnya merata.

·          Percobaan 3 (240°C): Suhu aktual berada pada kisaran 235°C hingga 242°C, dengan stabilitas suhu ±7°C. Stabilitas suhu semakin baik pada suhu ini, yang menghasilkan suhu dalam alat pemanggang lebih terkendali dan merata. Waktu pemanggangan menjadi lebih efisien, hanya membutuhkan 20 menit. Kualitas masakan mencapai nilai 4, menunjukkan bahwa pemanggangan pada suhu ini menghasilkan masakan dengan tekstur dan kematangan yang lebih merata.

·          Percobaan 4 (300°C): Suhu aktual berkisar antara 285°C hingga 305°C, dengan stabilitas suhu ±18°C. Meskipun stabilitas suhu pada suhu tertinggi ini lebih baik dibandingkan percobaan sebelumnya, fluktuasi suhu yang masih cukup besar menunjukkan perlunya kontrol yang lebih baik. Waktu pemanggangan tercepat adalah 17 menit, yang menunjukkan bahwa suhu tinggi mempercepat proses pemanggangan. Kualitas masakan tetap dinilai 4, dengan kematangan dan tekstur yang cukup baik meskipun waktu pemanggangan lebih singkat.

       Dari hasil pengujian ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu, waktu pemanggangan semakin singkat, dan stabilitas suhu semakin membaik. Meskipun demikian, fluktuasi suhu yang masih ada menunjukkan bahwa tanpa penggunaan sistem termokopel, pemanggangan belum mencapai stabilitas suhu yang optimal. Kenaikan suhu berhubungan langsung dengan efisiensi waktu pemanggangan yang lebih baik, namun kontrol suhu yang lebih akurat diperlukan untuk mencapai hasil masakan yang lebih konsisten dan merata.

Konfigurasi Awal Termokopel dan Pengujian Setelah Pemasangan

       Konfigurasi awal sistem termokopel meliputi pemilihan termokopel tipe K yang sesuai dengan rentang suhu hingga 300°C, penempatan sensor di area pemanggangan tanpa kontak langsung dengan api, serta pengkabelan yang baik untuk menghindari gangguan sinyal. Selain itu, dilakukan kalibrasi guna memastikan akurasi pembacaan suhu serta pengaturan parameter kontrol seperti set point dan PID agar sistem bekerja secara cepat, stabil, dan akurat. Setelah seluruh sistem terpasang, dilakukan pengujian awal untuk memastikan termokopel mampu membaca dan mengendalikan suhu sesuai dengan nilai yang diinginkan.

       Pengujian dilakukan dengan variasi suhu 160°C, 190°C, 240°C, dan 300°C untuk membandingkan kinerja setelah pemasangan termokopel. Hasil menunjukkan bahwa pengaturan jarak main jet terhadap titik api mempengaruhi suhu yang dihasilkan, di mana jarak yang lebih dekat menghasilkan suhu yang lebih tinggi. Dengan adanya termokopel, suhu dapat dipertahankan mendekati nilai target dengan fluktuasi yang jauh lebih kecil dibandingkan sebelum modifikasi. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 3 Stabilitas Suhu Setelah Pemasangan Termokopel, di mana deviasi suhu hanya berkisar ±1°C hingga ±2°C, jauh lebih stabil dibandingkan kondisi sebelumnya.

Gambar 3. Stabilitas Suhu Setelah Pemasangan Termokopel

       Selain itu, efisiensi waktu pemanggangan juga mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan suhu, yaitu dari 25 menit pada 160°C menjadi 15 menit pada 300°C. Kualitas hasil pemanggangan menunjukkan kematangan yang lebih merata dengan tekstur dan warna yang lebih konsisten. Secara keseluruhan, penggunaan termokopel terbukti mampu meningkatkan stabilitas suhu, mempercepat proses pemanggangan, serta menghasilkan kualitas masakan yang lebih baik dibandingkan sistem tanpa kontrol suhu.

 

Data Pengujian Setelah Pemasangan Termokopel

Tabel ini menunjukkan hasil pengujian pemanggang setelah menggunakan sistem termokopel. Pengujian dilakukan pada berbagai variasi suhu, dengan data yang dicatat meliputi suhu aktual, stabilitas suhu, waktu pemanggangan, dan kualitas masakan. Sistem termokopel digunakan untuk menjaga suhu tetap stabil selama proses pemanggangan.

Tabel 2. Rancangan Pengujian Alat dengan Sistem Pemanas Termokopel

 

Parameter Uji

Variasi Suhu (°C)

Set Point Termokopel (°C)

Suhu Aktual (°C)

Stabilitas Suhu

 (± °C)

Waktu (Menit)

Kualitas Masakan (1-5)

Percobaan 1

160

160

159-162

±2

15

4

Percobaan 2

190

190

189-191

±1

14

4.5

Percobaan 3

240

240

238-242

±2

13

4

Percobaan 4

300

300

198-302

±2

12

4

 Analisis Hasil Pengujian :

1.    Variasi Suhu dan Set Point Termokopel:

     Suhu yang diatur (set point) mengikuti variasi suhu yang diinginkan, yaitu 160°C, 190°C, 240°C, dan 300°C. Termokopel berfungsi untuk menjaga suhu tetap konstan selama pemanggangan.

2.    Suhu Aktual

·      Pengertian Suhu Aktual: Suhu aktual adalah suhu yang terukur pada alat pemanggang selama proses pemanggangan, yang dapat sedikit berbeda dari suhu set point yang diatur. Pengukuran suhu aktual dilakukan menggunakan sensor suhu yang terpasang pada sistem termokopel, yang secara kontinu memantau fluktuasi suhu di dalam ruang pemanggang.

·      Sumber Data Suhu Aktual: Data suhu aktual diperoleh dari pembacaan langsung alat pengukur suhu yang terhubung dengan sistem termokopel. Setiap percobaan, alat ini merekam suhu yang tercatat pada berbagai titik waktu, yang kemudian dihitung rata-rata atau rentang variasinya. Pada suhu 160°C, misalnya, suhu aktual tercatat dalam rentang 159–162°C, dan pada suhu 300°C, rentangnya adalah 198–302°C. Rentang ini menunjukkan bahwa meskipun ada variasi, pengaruhnya terhadap kualitas pemanggangan tidak signifikan.

3.    Stabilitas Suhu (± °C):

·      Pengertian Stabilitas Suhu: Stabilitas suhu mengacu pada seberapa konsisten suhu dalam ruang pemanggang tetap mendekati suhu yang diinginkan (set point) selama periode pemanggangan. Fluktuasi suhu yang kecil menunjukkan bahwa sistem termokopel dapat menjaga suhu dengan sangat stabil, sementara fluktuasi yang besar menunjukkan kurangnya kontrol yang baik atas suhu.

·      Sumber Data Stabilitas Suhu: Data stabilitas suhu diukur dengan memonitor perubahan suhu yang terjadi selama proses pemanggangan. Sensor suhu yang terhubung dengan sistem termokopel secara real-time merekam fluktuasi suhu pada interval waktu tertentu. Sebagai contoh, pada suhu 160°C dan 240°C, fluktuasi suhu tercatat sekitar ±2°C, sedangkan pada suhu 190°C, fluktuasi lebih kecil yaitu ±1°C. Ini menunjukkan bahwa semakin rendah suhu yang diatur, semakin stabil suhu yang tercatat.

4.    Waktu Pemanggangan

·      Waktu pemanggangan menunjukkan tren yang semakin cepat seiring dengan meningkatnya suhu. Pada suhu 160°C, waktu pemanggangan mencapai 15 menit, sedangkan pada suhu 300°C, waktu pemanggangan hanya 12 menit. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu yang diterapkan, semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk memanggang.

5.    Kualitas Masakan (1-5):

·      Kualitas masakan dinilai dengan skala 1 hingga 5. Pada suhu 190°C, kualitas masakan mencapai nilai tertinggi, yaitu 4.5, yang mencerminkan kematangan dan tekstur yang optimal. Pada suhu lainnya, kualitas masakan dinilai 4, yang juga menunjukkan hasil yang baik meskipun ada sedikit perbedaan dalam kematangan atau tekstur.

       Berdasarkan data yang tercatat, penggunaan sistem termokopel terbukti efektif dalam menjaga kestabilan suhu selama pemanggangan. Meskipun ada sedikit fluktuasi pada suhu aktual, pengaruhnya terhadap kualitas masakan tidak signifikan. Semakin tinggi suhu yang digunakan, semakin cepat waktu pemanggangan, namun kualitas masakan tetap terjaga dengan baik. Sistem termokopel memungkinkan pemanggangan yang lebih efisien dan menghasilkan masakan dengan kualitas yang konsisten.

 

Analisis Perubahan Kalor

       Dalam penelitian ini, perubahan kalor dihitung untuk mengevaluasi hubungan antara energi termal yang disuplai oleh sistem pemanas termokopel dan kualitas masakan. Perhitungan kalor dilakukan dengan rumus:

Q= mcΔT                                                                 (4)

di mana:

· m: massa bahan yang dipanaskan (kg),

·  c: kalor jenis bahan (J/kg°C),

·  ΔT: perubahan suhu (Takhir−Tawal)

Berikut hasil perhitungan kalor untuk setiap variasi suhu:

Tabel 3. Perhitungan Kalor

Percobaan

Massa Bahan (kg)

Kalor Jenis (J/kg°C)

ΔT (°C)

Q (kJ)

1

0,5

4,186

137

286,78

2

0,5

4,186

166

347,44

3

0,5

4,186

202

422,78

4

0,5

4,186

302

633,26

       Dari tabel di atas, terlihat bahwa semakin tinggi variasi suhu, energi yang dibutuhkan untuk memanaskan bahan juga meningkat. Hubungan ini sesuai dengan teori termodinamika, di mana energi kalor Q sebanding dengan perubahan suhu (ΔT)

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pengujian dan analisis terhadap alat pemanggang dengan sistem pemanas berbasis termokopel, dapat disimpulkan bahwa penggunaan termokopel mampu meningkatkan stabilitas suhu secara signifikan, dengan penurunan fluktuasi dari ±30°C menjadi ±1°C hingga ±2°C. Peningkatan ini berdampak langsung pada efisiensi proses pemanggangan, di mana waktu pemanggangan berkurang secara signifikan, dari 27 menit menjadi sekitar 12 menit pada suhu 300°C. Selain itu, kualitas hasil pemanggangan menjadi lebih konsisten dengan nilai rata-rata 4 hingga 4,5 (skala 5), terutama pada rentang suhu optimal 190°C–240°C yang menghasilkan tekstur dan tingkat kematangan terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi sistem pemanas menggunakan termokopel efektif dalam meningkatkan kinerja alat secara keseluruhan.

Berdasarkan hasil tersebut, disarankan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut guna meningkatkan performa alat. Optimasi jarak main jet perlu dilakukan untuk meminimalkan fluktuasi suhu, khususnya pada suhu tinggi. Selain itu, penambahan sensor suhu di beberapa titik dapat meningkatkan pemerataan distribusi panas. Pengujian terhadap berbagai jenis bahan makanan juga perlu dilakukan untuk memperluas validasi kinerja alat. Selanjutnya, integrasi sistem otomatisasi dalam pengaturan suhu dan waktu pemanggangan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemudahan penggunaan serta efisiensi operasional alat pemanggang.

 

Referensi

[1] W. Huang and J. Tan, “Optimization of heating systems in semi-automatic food processors,” Food Control, vol. 133, p. 107245, 2022.

[2] P. Johnson, K. Brown, and R. Taylor, “Thermocontroller integration in modern baking equipment,” J. Food Eng., vol. 115, no. 2, pp. 45–58, 2019.

[3] T. Johnson, S. Lee, and M. Thompson, “Optimal cooking temperatures and times for poultry,” Int. J. Food Saf., vol. 35, no. 3, pp. 182–190, 2021.

[4] V. Kumar and R. Singh, Energy Efficiency in Food Processing: Approaches and Technologies. Wiley, 2018.

[5] X. Liao and Y. Zhang, “Real-time temperature control in baking machines using thermocontrollers,” Int. J. Food Sci. Technol., vol. 56, no. 7, pp. 1323–1331, 2021.

[6] J. Murphy, L. Johnson, and K. Allen, “Cooking methods and their effect on seafood quality,” J. Seaf. Sci., vol. 28, no. 2, pp. 56–64, 2019.

[7] L. McKenzie, Sustainable Food Processing: Innovations for a Green Future. Elsevier, 2023.

[8] R. Singh, R. Patel, and R. Sharma, “Effect of roasting on the quality attributes of vegetables,” J. Food Sci. Technol., vol. 57, no. 4, pp. 1432–1441, 2020.

[9] J. Smith and A. Brown, Advances in Food Processing Technology: Innovations and Applications. Springer, 2020.

[10] M. R. Al Falaq, A. M. Sakti, F. I. Abdi, and A. N. F. Ganda, “Rancang Bangun Mesin Pemanggang Multifungsi Semi Otomatis dengan Sistem Penggerak Berbasis Dimmer Menggunakan Motor Listrik Daya 190 Watt,” J. Rekayasa Mesin, vol. 9, no. 01, pp. 247–254, 2024, doi: 10.26740/jrm.v9i01.61512.

[11] R. Rinaldy, H. Hasbaini, D. S. Saputra, and I. Ihsan, “Alat Pemanggang Dengan Tuas Pembalik,” SULIWA J. Multidisiplin Tek. Sains, Pendidikan dan Teknologi, vol. 2, no. 1, pp. 1–8, 2025, doi: 10.62671/suliwa.v2i1.17.

[12] M. Rizal, P. Bakhtiar, I. Sujana, and D. Wijayanto, “Rancang Bangun Alat Pemanggang Untuk Meningkatkan Efektifitas dan Produktivitas Dengan Mophologi Chart Method,” J. TIN Univ. Tanjungpura, vol. 4, no. 1, p. 36, 2020, [Online]. Available: https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jtinUNTAN/article/view/38910