The Effect of Applying Solid Organic Fertilizer from Quail Waste at Different Dosages on the Growth of Odot Grass (Pennisetum Purpureum cv. Mott)
Mohammad Ali
Yusuf Setiawan, Erna Yuniati, Ardina Tanjungsari
Fakultas Ilmu Kesahatan dan Sains
(FIKS), Universitas Nusantara PGRI Kediri
Email: mohammadaliyusufs7@gmail.com,
ernayuniati@unpkediri.ac.id, ardina.tanjung@unpkdr.ac.id
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik padat dari
limbah burung puyuh dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman Pennisetum
purpureum cv. Mott (rumput gajah odot), serta untuk menganalisis kandungan
unsur hara makro (N, P, K) dalam tanah setelah perlakuan dan memastikan bahwa
pupuk organik padat tersebut memenuhi standar mutu menurut SNI. Metode Rancangan
Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari tidak diberi
kotoran burung puyuh 100% pupuk urea (P0), 25% kotoran burung puyuh + 75% pupuk
urea (P1), 50% kotoran burung puyuh + 50% pupuk urea (P2), 75% kotoran burung puyuh
+ 25% pupuk urea (P3). Parameter pertumbuhan tanaman odot yang diamati meliputi
tinggi tanaman, jumlah daun,panjang daun, berat segar, dan berat kering.
Parameter tanah yang diamati yaitu tanah sesudah dan tanah sebelum ditanami meliputi
N, P2O5, dan K2O. Parameter kandungan pupuk
organik yang diamati meliputi N, P2O5, dan K2O.
Analisis ragam digunakan untuk menganalisis hasil data dalam penelitian ini. Hasil
penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk kotoran burung puyuh berpengaruh
nyata terhadap pertumbuhan tanaman odot meliputi tinggi tanaman, jumlah daun,
panjang daun, tetapi pada berat segar dan kering menghasilkan tidak berbeda
nyata. Pada tinggi tanaman rataan tertinggi P2 yaitu 615 cm, jumlah daun rataan
tertinggi P1 yaitu 83 helai, panjang daun rataan tertinggi P2 yaitu 67,3 cm dan
tidak berpengaruh nyata pada berat segar rataan tertinggi P2 yaitu 476,67 g dan
berat kering dengan rataan tertinggi P1 yaitu 181,67 g.
Kata Kunci: pupuk organik padat, limbah burung puyuh, rumput gajah
odot, Pennisetum purpureum cv. Mott,
unsur hara makro, pertumbuhan tanaman.
Abstract
This study
aimed to determine the effect of applying solid organic fertilizer derived from
quail waste at different dosages on the growth of Pennisetum purpureum cv. Mott
(Odot elephant grass). It also aimed to analyze the macronutrient content (N,
P, K) in the soil after treatment and to ensure that the solid organic
fertilizer met the quality standards according to SNI (Indonesian National
Standard).The study used a Randomized Block Design (RBD) with four treatments
and three replications. The treatments consisted of: no quail manure with 100%
urea fertilizer (P0), 25% quail manure + 75% urea fertilizer (P1), 50% quail
manure + 50% urea fertilizer (P2), and 75% quail manure + 25% urea fertilizer
(P3). The observed growth parameters of Odot grass included plant height,
number of leaves, leaf length, fresh weight, and dry weight. The observed soil
parameters included soil conditions before planting and after planting, namely
N, P₂O₅, and K₂O. The parameters of organic fertilizer content observed
included N, P₂O₅, and K₂O. Analysis of variance (ANOVA) was used to analyze the
research data. The results showed that the application of quail manure
fertilizer had a significant effect on the growth of Odot grass in terms of
plant height, number of leaves, and leaf length. However, it did not show a
significant effect on fresh weight and dry weight. The highest average plant
height was found in treatment P2 (615 cm), the highest average number of leaves
in P1 (83 leaves), and the highest average leaf length in P2 (67.3 cm).
Meanwhile, fresh weight was not significantly affected, with the highest average
found in P2 (476.67 g), and dry weight with the highest average in P1 (181.67
g).
Keywords: solid organic fertilizer, quail waste, Odot elephant grass, Pennisetum purpureum cv. Mott, macronutrients, plant growth.
PENDAHULUAN
Pakan hijauan merupakan sumber utama
makanan bagi ternak ruminansia, yang mendukung kebutuhan hidup pokok,
pertumbuhan, produksi, dan reproduksi ternak. Dalam usaha peternakan
ruminansia, pencapaian produktivitas yang optimal memerlukan penyediaan hijauan
pakan yang memadai, baik dalam hal kualitas, kuantitas, maupun keberlanjutan
penyediaannya.
Salah satu solusi untuk memastikan
ketersediaan hijauan pakan yang cukup adalah dengan memanfaatkan rumput
budidaya, seperti Rumput gajah odot (Pennisetum purpureum cv. Mott). Pennisetum
purpureum cv. Mott merupakan rumput tropis yang mampu beradaptasi dan
tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan, termasuk pada sistem
pertanaman sela di bawah naungan, sebagaimana dilaporkan oleh Tampubolon et al.
(2025).Selain itu, rumput ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan dapat dipanen
secara berkala, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak dalam jangka
panjang. Penggunaan rumput gajah odot juga dapat meningkatkan efisiensi
produksi pakan ternak secara berkelanjutan. Rumput gajah odot (Pennisetum
purpureum cv. Mott) merupakan tanaman hijauan pakan ternak tahunan
(perennial) yang tumbuh tegak membentuk rumpun, memiliki sistem perakaran
serabut yang berkembang kuat dan relatif dalam, serta rimpang yang pendek.
Tanaman ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi
lingkungan tropis dan mampu menghasilkan biomassa hijauan yang tinggi. Batang
rumput gajah odot bersifat lunak, beruas-ruas jelas, dan pada kondisi
pertumbuhan optimal dapat mencapai tinggi sekitar 1–2 meter, dengan diameter
batang relatif kecil dibandingkan rumput gajah biasa, sehingga lebih mudah
dikonsumsi oleh ternak ruminansia (Sirait, Simanihuruk, & Hutasoit, 2017).
Permasalahan pada penanaman rumput gajah
odot petani pedesaan dalam pemupukan sering menggunakan pupuk kimia berlebihan
yang mana dapat merusak lingkungan dan mengurangi keberlanjutan pertanian.
Dengan demekian, untuk memperbaiki kualitas tanah dan nutrisi pada tanaman
rumput gajah odot, akan dilakukan penelitian pemupukan menggunakan pupuk
organik padat dari limbah burung puyuh.
Menurut (Kusuma,2012) Kotoran burung
puyuh termasuk dalam kategori pupuk kandang yang bersifat panas dan cepat
terurai, sehingga dapat segera diserap oleh tanaman. Selain mudah didapatkan,
kotoran burung puyuh juga merupakan salah satu jenis pupuk kandang yang sangat
baik karena mengandung unsur hara makro seperti Ca, P, N, K, dan Cl, serta
unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Zn, Mn, dan Mo yang sangat dibutuhkan oleh
tanaman. Kotoran burung puyuh dipilih karena memiliki kandungan N, P, dan K
yang cukup tinggi serta dapat berfungsi sebagai penyedia bahan organik. Pupuk
ini memiliki kandungan protein sebesar 21%, nitrogen 0,061%, P2O5 0,209%, dan
K2O 3,133%.
Berdasarkan latar belakang diatas ,
maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk
organik padat dari limbah burung puyuh dengan dosis berbeda terhadap tanaman
odot.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan, setiap
ulangan terdiri dari 25 sampel tanaman, dengan jarak tanam 20x20 cm sehingga
terdapat 300 tanaman. Perlakuan dalam penelitian ini adalah:
P0 : Tidak diberi kotoran puyuh 100%
pupuk urea
P1 : 25% pupuk kotoran puyuh + 75% pupuk
urea
P2 : 50% pupuk kotoran puyuh + 50%
pupuk urea
P3 : 75% pupuk kotoran puyuh + 25% pupuk
urea
Catatan :
Pemberian pupuk kotoran puyuh
diberikan sebelum tanam, sedangkan pupuk urea diberikan 2 kali yaitu 1 minggu
setelah tanam dan 7 minggu setelah tanam.
Prosedur Penelitian
1. Penelitian
dilaksanakan di area persawahan Desa Babadan, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk
dengan luas lahan berukuran 2 x 8 meter. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam
20x20 cm, setiap ulangan berisi 25 tanaman, sehingga diperoleh total populasi
tanaman sebanyak 300 tanaman.
2. Tanaman
odot dibeli dari petani dengan usia tanaman berupa tunas sebanyak 300 dengan
harga Rp. 50.000.
3. Proses
pemupukan ada 2 yaitu pupuk organik dari limbah burung puyuh yang dibeli dari peternak
burung puyuh seharga 20.000 rupiah, dan pupuk urea dibeli dari toko pertanian
seharga 25.000 rupiah. Pupuk organik diberikan sebelum tanam dengan dosis
sesuai perlakuan, sedangkan pupuk urea diberikan pada umur tanaman 1 minggu
setelah tanam dan 7 minggu setelah tanam dengan dosis sesuai perlakuan.
4. Penyiraman
atau perairan dilakukan secara
teratur dengan interval setiap 10 hari sekali untuk mendukung pertumbuhan
tanaman.
Analisis Data
Data
yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis menggunakan sidik
ragam (ANOVA). (Ali, Gubali, and Saleh 2019). Model
matematika dalam Rancangan Acak Lengkap (RAK)
adalah sebagai berikut:
Yij = µ + αi + Σij
Keterangan:
Yij = Nilai pengamatan dari hasil perlakuan
ke-I, ulangan ke-j
µ = Nilai rataan umum
αi = Pengaruh perlakuan ke-i
Σij = Pengaruh galat percobaan pada
perlakuan ke-I, ulangan ke-j
jika hasil penelitian
berbeda nyata, akan dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test
(DMRT/duncan 5%).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan
di Desa Babadan, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik 2025 curah hujan selama penelitian tertera pada
tabel berikut :
Tabel 1 Hasil Pengukuran Kondisi
Lingkungan
|
Waktu Penelitian |
Parameter ( Rata-Rata ) Curah Hujan ( mm ) |
|
Mei |
|
|
Minggu ke-3 |
118 mm |
|
Minggu ke-4 |
110 mm |
|
Juni |
|
|
Minggu ke-1 |
85 mm |
|
Minggu ke-2 |
70 mm |
|
Minggu ke-3 |
60 mm |
|
Minggu ke-4 |
55 mm |
|
Juli |
|
|
Minggu ke-1 |
45 mm |
|
Minggu ke-2 |
35 mm |
|
Minggu ke-3 |
30 mm |
Sumber :
Stasiun Klimatologi Jawa Timur,BMKG Prakiraan Curah Hujan Bulanan 2025
Keterangan : rata-rata prediksi BMKG Jawa Timur 2025
·
Bulan
Mei 2025 : 101-150 mm ( kategori tinggi-menengah )
·
Bulan
Juni 2025 : 51-100 mm ( kategori menegah-rendah )
·
Bulan
Juli 2025 : 21-50 mm ( kategori sangat rendah)
Berdasarkan data dari
BMKG Jawa Timur (2025), curah hujan selama periode penelitian menunjukkan
variasi antar bulan. Pada bulan Mei 2025, curah hujan tercatat berkisar antara
105–150 mm yang termasuk dalam kategori menengah. Memasuki bulan Juni 2025, curah
hujan menurun menjadi 51–100 mm, sedangkan pada bulan Juli 2025 curah hujan
semakin berkurang dengan kisaran 21–50 mm, yang tergolong rendah. Pola curah
hujan tersebut menunjukkan adanya peralihan dari musim hujan menuju musim
kemarau, yang dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah serta
pertumbuhan vegetatif tanaman odot di lapangan.
Hasil pengamatan ini
sejalan dengan penelitian Gardner et al. (2014) yang menyatakan bahwa
curah hujan merupakan faktor lingkungan penting yang memengaruhi pertumbuhan
vegetatif tanaman pakan. Penurunan curah hujan dapat menyebabkan keterbatasan
air tanah sehingga menghambat proses fisiologis tanaman. Selain itu, Putra dan
Suryani (2021) juga melaporkan bahwa produksi hijauan odot menurun secara
signifikan pada periode dengan curah hujan di bawah 100 mm per bulan, akibat
berkurangnya laju fotosintesis dan penyerapan unsur hara. Hasil Pengamatan Penelitian
Paremeter pertumbuhan
tanaman yang diamati pada percobaan ini meliputi tinggi tanaman, jumlah daun,
panjang daun, berat segar dan berat kering tanaman. Hasil rataan perlakuan
disajikan pada tabel berikut :
|
Perlakuan |
Variabel |
||||
|
Tinggi Tanaman (cm) |
Jumlah Daun (helai) |
Panjang Daun (cm) |
Berat Segar (g/tanaman) |
Berat Kering (g/tanaman) |
|
|
P0 |
88,6 ± 1,53c |
11 ± 1,00b |
64 ± 1.00c |
430 ± 64,61 |
176,6 ± 28,58 |
|
P1 |
104 ± 1,00a |
12,6 ± 0,58a |
67 ± 1,00a |
466,6 ± 57,74 |
181,6 ± 50,21 |
|
P2 |
104 ± 1,00a |
12,3 ± 0,58a |
67,3 ± 0,58a |
476,6 ± 109,7 |
178,3 ± 41,63 |
|
P3 |
89,6 ± 1,53b |
11,6 ± 0,58b |
64 ± 1,00b |
461,6 ± 43,49 |
180
± 36,06 |
Tabel 2 Pertumbuhan
Tanaman Odot Usia 63 HST ( Hari Setelah Tanam )
Keterangan : a-c )
Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan pengaruh yang sangat nyata
(P<0,05) pada panjang daun serta berpengaruh nyata (P<0,05) pada tinggi tanaman dan jumlah daun
1. Tinggi Tanaman
Berdasarkan analisis
tinggi tanaman pada Tabel 4.2 menunjukan bahwa perbedaan dosis pupuk kotoran
burung puyuh berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (P < 0,05). Setelah 63
HST ( Hari Setelah Tanam ), pengukuran menunjukkan bahwa perlakuan P2 dan P1
menghasilkan tinggi tanaman odot tertinggi masing-masing sebesar 104 cm yang keduanya lebih tinggi dibandingkan
perlakuan P3 (86,9 cm) dan P0 (88,6 cm).
Hasil rataan tinggi
tanaman rumput gajah odot pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil penelitian (Fauzi, 2024) yang menunjukan bahwa rataan tertinggi tanaman
rumput gajah odot diperoleh 90,53 cm dan rataan terendah dengan tinggi 82,90 cm. Perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan
dosis dan jenis pupuk yang digunakan serta kondisi lingkungan yang lebih
mendukung. Pada penelitian ini, seperti ketersediaan unsur hara yang lebih
seimbang dari kombinasi pupuk organik dan anorganik, sehingga dapat mempercepat
pertumbuhan vegetatif tanaman.
Pernyataan ini sejalan
dengan penelitian Kusuma (2012) bahwa penguraian pupuk kandang kotoran puyuh
menghasilkan unsur-unsur seperti fosfat dan kalium serta unsur nitrogen yang
dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman. Selain itu, pemberian pupuk kotoran puyuh
mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, sementara pupuk urea
menyediakan unsur nitrogen dalam jumlah cukup untuk mendukung pembentukan
jaringan vegetatif tanaman, sehingga pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih
optimal dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Hal ini menunjukkan
bahwa kombinasi pupuk organik dan anorganik berimbang mampu meningkatkan
pertumbuhan vegetatif tanaman odot.
Temuan ini sejalan dengan
penelitian Hidayat (2022) yang melaporkan bahwa kombinasi pupuk organik dan
anorganik dapat meningkatkan ketersediaan unsur N, P, dan K dalam tanah,
memperbaiki struktur tanah, serta mempercepat pertumbuhan rumput pakan ternak. Penelitian
ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulaiman, dkk.(2018) yang
menyatakan bahwa pemberian pupuk bokashi pada lahan akan meningkatkan unsur
hara pada tanah dalam meningkatkan pertumbuhan akar tanaman, sehingga
memudahkan tunas baru muncul menebus permukaan tanah.
2. Jumlah Daun
Berdasarkan analisis jumlah daun pada Tabel 4.2 menunjukan bahwa pemberian
pupuk kotoran puyuh dengan dosis berbeda berpengaruh nyata terhadap jumlah daun
(P < 0,05). Setelah 63 HST ( Hari Setelah Tanam ), pengukuran menunjukkan
bahwa perlakuan P1 menghasilkan rata-rata jumlah daun tertinggi yaitu 12,6
helai, diikuti oleh P2 dengan 12,3 helai, P3 dengan 11,6 helai, dan yang paling
rendah adalah P0 dengan 11 helai. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan peran
nitrogen (N) dalam proses pembentukan klorofil pada daun. Penambahan nitrogen
ke dalam tanah dapat merangsang sintesis klorofil, sehingga fotosintesis
bekerja lebih efisien dan merangsang pertumbuhan daun baru. Dengan bertambahnya
waktu, ketersediaan unsur hara terus mendukung kelangsungan pertumbuhan
tanaman, sehingga jumlah daun yang terbentuk semakin banyak.
Pendugaan tersebut sama dengan penelitian (Rohayeti, 2022) yang
mengatakan peran unsur nitrogen (N) berkaitan
sebagai komponen penting pembentukan klorofil daun. Penambahan N pada
tanah meningkatkan sintesis klorofil, sehingga aktivitas fotosintesis lebih
optimal dan memacu pembentukan daun baru. Seiring waktu, suplai hara yang
tersedia memungkinkan tanaman tumbuh lebih lama dan membentuk lebih banyak
daun.Sejalan dengan
pendapat Sumendap et al. (2019), peranan bahan organik dapat mensuplai unsur
hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhannya. Sama seperti yang diamati dalam
penelitian ini, tidak hanya jumlah daun yang berubah, melainkan beberapa helai
daun juga menunjukkan gejala kekuningan dan layu selama pertumbuhan. Hal ini
diduga disebabkan oleh perbedaan dalam kelebihan atau kekurangan unsur hara di
tiap perlakuan, serta terlambatnya suplai air. Kondisi tersebut menyebabkan
akar tidak dapat menyerap air dan unsur hara secara optimal, sehingga terjadi
kekurangan unsur yang diperlukan untuk produksi klorofil, yang akhirnya memicu
daun menjadi kuning.
Gambar 1 : Daun tampak kekuningan
dan layu (Dok. Peneliti)
Hal ini sesuai pendapat Li
et al. (2022) melaporkan bahwa stres kekeringan pada Pennisetum purpureum
mengganggu parameter fotosintesis dan klorofil, sedangkan Kang et al. (2024)
menyebutkan bahwa kekeringan menurunkan efisiensi fluoresensi (Fv/Fm) yang
berarti tanaman berada dalam kondisi fisiologis tertekan, khususnya bagian
fotosintesisnya tidak bekerja optimal dan pertumbuhan daun pada rumput Napier (P.
purpureum) sebagai respons terhadap defisiensi air.
Aritonang dan Surtina
(2018) juga melaporkan bahwa kandungan klorofil yang maksimal pada daun akan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dengan intesitas cahaya yang akan
meningkatkan proses fotolisis yang akan menghasilkan bahan yang akan digunakan
untuk melaksanakan reaksi gelap untuk menghasilkan karbohidrat sebagai sumber
energi sel sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
3. Panjang Daun
Berdasarkan analisis
panjang daun pada Tabel 4.2 menunjukan bahwa pemberian pupuk kotoran burung
puyuh memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,05) terhadap panjang daun
tanaman. Setelah 63 HST ( Hari Setelah Tanam ), pengukuran menunjukkan bahwa
perlakuan P2 menghasilkan ukuran rataan panjang daun tertinggi yaitu 67,3 cm,
diikuti oleh P1 dengan 67 cm, dan P3 dengan 64 cm. Rataan terendah tercatat
pada perlakuan P0 (kontrol) dengan panjang daun 64 cm.
Hasil rataan panjang daun
tanaman rumput gajah odot pada penelitian ini lebih seragam dengan hasil
penelitian (Fauzi,2024) yang menunjukan rataan panjang daun tertinggi 67,07 cm
dan rataan terendah 59,10 cm. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pada penelitian
ini pertumbuhan panjang daun lebih seragam dan stabil, yang mengindikasikan
kondisi perlakuan dan lingkungan tumbuh yang lebih mendukung. Selain itu, perbedaan
pupuk dan dosis mengindikasikan potensi
efektivitas yang lebih besar dari pupuk organik kotoran burung puyuh dalam
perlakuan penelitian ini.
Hal ini sejalan (dalam
Herman dkk., 2018) bahwa pupuk kotoran puyuh dapat menambah unsur hara yang
dibutuhkan tanaman. Kandungan Nitrogen (N) yang tinggi dalam kotoran puyuh
diketahui menjadi kunci pendorong pertumbuhan daun dan biomassa. Peningkatan
panjang daun yang drastis pada tanaman odot ini secara langsung merupakan
manifestasi dari penyerapan N yang efisien, yang memicu sintesis protein dan
pembentukan sel-sel baru, menghasilkan daun yang lebih panjang dan tebal..
4. Berat Segar
Berdasarkan analisis berat segar pada Tabel 4.2 menunjukan bahwa pemberian
pupuk kotoran burung puyuh dengan dosis berbeda tidak berpengaruh nyata
terhadap berat segar tanaman. Setelah 63 HST (Hari Setelah Tanam), pengukuran
menunjukkan bahwa perlakuan P2 menghasilkan rataan berat segar tertinggi yaitu
476,67 g/tanaman, diikuti P1 sebanyak 466,67 g/tanaman, P3 sebanyak 461,67 g/tanaman,
dan perlakuan kontrol P0 memiliki rataan terendah yaitu 430,00 g/tanaman.
Hal ini mungkin disebabkan oleh variasi jenis pupuk kotoran burung puyuh
(kandungan N, P, K dan unsur mikro lainnya), serta variasi dosis pemberian
pupuk yang mungkin lebih mendekati kebutuhan tanaman, atau kondisi media dan
lingkungan (misalnya kelembapan, cahaya, aerasi) yang mendukung penyerapan
unsur hara lebih baik. Faktor-faktor ini dapat mempercepat pertumbuhan jaringan
vegetatif dan meningkatkan berat segar tanaman.
Hal ini sesuai dengan
pendapat Hidayat (2022) bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman, tetapi apabila perbedaan dosis pupuk tidak terlalu jauh,
maka pengaruhnya terhadap pertumbuhan atau berat segar tanaman tidak berbeda
nyata.
Sejalan pendapat
Widyawati (2017), menyatakan bahwa pemberian bahan organik pada tanah berperan
penting dalam memperbaiki struktur tanah sehingga aerasi udara dan pergerakan
air lancar, dengan demikian dapat menambah daya serap air dalam tanah dan mampu
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
5. Berat Kering
Berdasarkan analisis berat kering pada Tabel 4.2 menunjukan bahwa pemberian
pupuk kotoran burung puyuh dengan dosis berbeda tidak berpengaruh nyata
terhadap berat kering tanaman. Setelah 63 HST (Hari Setelah Tanam), pengukuran
berat kering menunjukkan bahwa perlakuan P1 menghasilkan rataan berat kering
tertinggi, yaitu 181,67 g/tanaman, diikuti oleh P3 dengan 180,00 g/tanaman dan
P2 dengan 178,33 g/tanaman, sedangkan perlakuan kontrol (P0) memiliki rataan
terendah, yaitu 176,6 g/tanaman.
Tujuan pengeringan pada tanaman rumput odot dilakukan untuk
menghilangkan kandungan air dalam jaringan tanaman sehingga berat yang
diperoleh mencerminkan berat kering sebenarnya. Berat kering merupakan
indikator akumulasi biomassa hasil fotosintesis dan penyerapan unsur hara,
sehingga lebih akurat dalam menggambarkan pertumbuhan tanaman dibandingkan
berat segar yang sangat dipengaruhi oleh kadar air jaringan (Taiz et al.,
2018). Selain itu, pengeringan bertujuan untuk meminimalkan variasi data akibat
perbedaan kandungan air antar sampel, sehingga hasil pengukuran menjadi lebih
konsisten dan dapat digunakan untuk membandingkan pengaruh perlakuan secara
objektif dalam analisis pertumbuhan tanaman (Sitompul & Guritno, 2019).
B. Uji Tanah
Sampel tanah dikumpulkan
secara komposit dari kedalaman 0–20 cm menggunakan auger pada beberapa titik
representatif di lahan percobaan. Pengambilan dilakukan dua kali, yaitu sebelum
perlakuan untuk memperoleh data dasar mengenai kondisi fisik dan kimia tanah,
serta setelah perlakuan untuk mengevaluasi perubahan sifat tanah yang terjadi
akibat aplikasi pupuk. Seluruh sampel kemudian dihomogenkan, diberi label
sesuai waktu dan perlakuannya, dan selanjutnya dianalisis di laboratorium.
Hasil uji tanah disajikan pada tabel berikut.
|
No |
Komponen |
Satuan |
Uji Tanah |
|
|
Sebelum |
Sesudah |
|||
|
1. |
Nitrogen |
% |
0,17 |
0,21 |
|
2. |
P2O5 |
ppm |
45 |
81 |
|
3. |
K2O |
ppm |
1065 |
818 |
Tabel
3 Hasil Uji Tanah Sebelum dan Sesudah Penanaman Odot
Hasil analisis sifat
kimia tanah sebelum perlakuan menunjukkan bahwa kandungan unsur hara nitrogen
(N) sebesar 0,17%, fosfor (P) sebesar 45 ppm, dan kalium (K) sebesar 1065 ppm.
Setelah dilakukan pemberian pupuk organik padat dari limbah burung puyuh dengan
dosis berbeda, kandungan hara tanah mengalami perubahan, yaitu nitrogen (N)
meningkat menjadi 0,21%, fosfor (P) meningkat menjadi 81 ppm, sedangkan kalium
(K) mengalami penurunan menjadi 818 ppm. Hal ini disebabkan karena serapan
tanaman selama pertumbuhan, ketika tanaman tumbuh aktif terutama fase
vegetatif, tanaman menyerap K dalam jumlah besar sehingga K pada tanah
berkurang. Menurut Agegnehu et al. (2016) menyatakan bahwa penyerapan K
meningkat seiring meningkatnya biomassa tanaman pada tanah yang diberi bahan
organik.
Secara umum, hasil
analisis menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan berhasil meningkatkan
ketersediaan unsur hara N dan P di dalam tanah. Namun, kadar N masih berada
pada batas bawah kategori sedang sehingga belum sepenuhnya optimal untuk
mendukung pertumbuhan tanaman hijauan berproduktivitas tinggi. Kandungan P dan
K sudah tergolong sangat tinggi, sehingga penambahan unsur tersebut perlu
dikontrol agar tidak terjadi ketidakseimbangan hara dalam tanah. Temuan ini
sejalan dengan klasifikasi kesuburan tanah menurut BPT (2009) dan SNI, yang
menyatakan bahwa kadar P optimal berada pada kisaran 21–60 ppm dan K pada 196–391
ppm, sedangkan N optimal pada kisaran 0,3–0,5% untuk mendukung pertumbuhan
tanaman secara optimal.
C. Analisis Pupuk Padat Kotoran Burung
Puyuh
Analisis pupuk organik
padat dari limbah burung puyuh dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan unsur
hara makro dan karakteristik kimianya sebelum diaplikasikan pada tanaman.
Pemeriksaan meliputi penentuan kadar N, P2O5, K2O
sebagai dasar penilaian kualitas pupuk dan potensinya dalam mendukung
pertumbuhan rumput odot. Hasil analisis disajikan pada tabel berikut.
|
No |
Komponen |
Satuan |
Analisis Pupuk |
|
1. |
Nitrogen |
% |
2,95 |
|
2. |
P2O5 |
% |
4,02 |
|
3. |
K2O |
% |
4,35 |
Tabel 4 Hasil Analisis Pupuk Padat Kotoran Burung Puyuh
Hasil analisis pupuk
organik padat dari kotoran puyuh menunjukkan kandungan nitrogen (N) sebesar
2,95 %, fosfor (P) sebesar 4,02 %, dan kalium (K) sebesar 4,35 %. Berdasarkan
SNI 7763:2024 mengenai pupuk organik padat, kandungan hara makro total (N + P₂O₅
+ K₂O) minimal yang dipersyaratkan adalah 2 %, dengan kadar C-organik minimal
15 %, rasio C/N maksimal 25, kadar air 8–25 %, pH 4–9, dan bahan ikutan
maksimal 2 %. Jika dibandingkan dengan standar tersebut, kandungan hara makro
pupuk kotoran puyuh telah melampaui persyaratan minimum SNI, menunjukkan bahwa
pupuk ini memiliki kualitas hara yang tinggi dan berpotensi besar untuk
meningkatkan kesuburan tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman. Namun
demikian, untuk dapat dinyatakan sepenuhnya memenuhi standar mutu pupuk organik
padat, parameter lain seperti kadar C-organik, kadar air, pH, rasio C/N, dan
kandungan logam berat juga perlu diuji lebih lanjut agar sesuai dengan
ketentuan SNI yang berlaku.
SIMPULAN
1. Pemberian
pupuk padat dari limbah burung puyuh dengan dosis berbeda berpengaruh
signifikan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang daun, tetapi tidak
terhadap berat segar dan berat kering tanaman odot (Pennisetum purpureum, Cv.
Mott). Perlakuan P1 dan P2 menunjukkan hasil pertumbuhan yang terbaik dibandingkan
perlakuan lain, sehingga direkomendasikan sebagai dosis pemupukan yang efektif
untuk meningkatkan produktivitas tanaman odot.
2. Pemberian
pupuk mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara N dan P dalam tanah. Namun,
kadar N setelah perlakuan masih tergolong sedang sehingga perlu ditingkatkan
agar mencapai kisaran optimal. Sementara itu, kadar P dan K sudah sangat tinggi
sehingga perlu pengaturan dosis pemupukan agar tidak terjadi ketidakseimbangan
hara.
3.
Pupuk
organik padat dari kotoran puyuh memiliki kandungan hara makro tinggi (N 2,95
%, P 4,02 %, K 4,35 %) telah memenuhi persyaratan minimum SNI 7763:2024 yaitu total
hara makro > 2 % dari berat pupuk. Hal ini menunjukkan potensi besar pupuk
tersebut dalam meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.
SARAN
1.
Untuk
mendapatkan produksi yang optimal pada tanaman odot (Pennisetum purpureum)
dengan pemberian pupuk kotoran burung puyuh sebaiknya dilakukan pemberian pupuk
kotoran burung puyuh sebesar 50% + 50% pupuk urea.
2. Strategi
pemupukan selanjutnya perlu difokuskan pada peningkatan N dan pengendalian P
serta K sesuai kebutuhan tanaman.
REFERENSI
Aini, N. (2022). Pertumbuhan dan Produksi Sistem
Tumpangsari Rumput Odot (Pennisetum Purpureum Cv. Mott) dan Ubi Jalar
Ungu (Ipomea batatas L. var Antin 3) pada Jarak Tanam yang Berbeda. Jurnal
Agroplasma, 9(2), 113-122.
Anggraini, M., &
Yulianto, R. (2023). Profil Produksi Hijauan Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum) di Universitas Jember Kampus Bondowoso. Jurnal
Peternakan Lingkungan Tropis, 6(2), 63-69.
Badan Standardisasi
Nasional. 1998. SNI 13-4721-1998. Cara Uji Nitrogen Total Tanah dengan Metode
Kjeldahl. BSN, Jakarta.
Badan Standardisasi
Nasional. 2012. SNI 2803:2012. Cara Uji Fosfor Tersedia Tanah dengan Metode
Bray I dan Olsen. BSN, Jakarta.
Badan Standardisasi
Nasional. 2012. SNI 2804:2012. Cara Uji Kalium Tersedia Tanah dengan Metode
NH₄OAc. BSN, Jakarta.
Balai Penelitian Tanah
(BPT). 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk.
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.
Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika Jawa Timur. (2025). Data Curah Hujan Bulanan Wilayah Jawa Timur
tahun 2025. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Gea,
I., Saragih, E. W., Lekitoo, M. N., & Djunaedi, M. (2025). Effect Of Fertilizer
Type On The Productivity Of Elephant Grass (Pennisetum Purpureum): A Comparative
Study Of Goat Manure Compost, Urea, And NPK On Inceptisol Soil. Agrisaintifika:
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 9(2), 430-438.
Ginting, A. N., Hasan, U., &
Siswoyo, B. H. (2022). Pemanfaatan Kotoran Burung Puyuh dan Pupuk Organik Cair
Hasil Fermentasi Azolla Pinnata Terhadap Populasi Serta Kepadatan Sel
Spirulina sp. Jurnal Aquaculture Indonesia, 1(2), 120–130.
Harahap, A., Siswoyo,
P., & Rusdhi, A. (2023, April). Pengaruh Pemberian Pupuk Multifungsi
Terhadap Produktivitas Rumput Odot (Pennisetum Purpureum Cv. Mott)
Setelah Defoliasi Pertama. In Scenario (Seminar of Social Sciences
Engineering and Humaniora) (pp. 80-88).
Hidayat, A. (2022).
Respon Pertumbuhan Tanaman Terhadap Pemberian Pupuk Organik Pada Berbagai Dosis.
Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 10(1), 55–63.
HIDAYAT, R. (2022). Pertemuan
Dan Produktivitas Rumput Odot (Pennisetum purpureum Cv. Mott) Dengan
Pemberian Pupuk Organik Cair Feses Kambing (Disertasi Doktor. Universitas
Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Han, F., Ding, R., Deng,
Y., Zha, X., & Fu, G. (2024). Modelling Fresh and Dry Weight of
Aboveground Biomass of Plant Community and Taxonomic Group Using Normalized
Difference Vegetation Index and Climate Data in Xizang’s Grasslands. Agronomy, 14(7),
1515.
Kang, D. J., &
Tazoe, H. (2024). Impacts Of Soil Type and Drought Stress On Growth and Cesium
Accumulation In Napier Grass. Environmental Geochemistry and Health, 46(7),
235.
KILIMANDANG, H., &
Hambakodu, M. (2025). Nilai Nutrisi Dan Kecernaan Nutrien Rumput Odot (Pennisetum
Purpureum Cv. Mott) Pada Jarak Tanam Berbeda. Jurnal
Peternakan Sabana, 4(1), 1-9.
Li, Y., Li, S., Feng, Q., Zhang,
J., Han, X., Zhang, L., ... & Zhou, J. (2022). Effects Of Exogenous
Strigolactone On the Physiological and Ecological Characteristics Of
Pennisetum Purpureum Schum. Seedlings Under Drought Stress. Journal BMC
Plant Biology, 22(1), 578.
Mubarak, Z.M. 2022. Efektivitas
Pemberian Pupuk Organik Kotoran Burung Puyuh Terhadap Pertumbuhan Tanaman. (Skripsi.
Polbangtan Gowa).
Patmawati, S., Rohayeti, Y., &
Setiawan, D. (2023). Pertumbuhan Dan Hasil Rumput Gajah Odot (Pennisetum purpureum
Cv. Mott) Dengan Pemberian Pupuk Kotoran Puyuh Sebagai Hijauan Pakan
Ternak. Jurnal Peternakan Borneo: Livestock Borneo Research, 2(2),
83-95.
Purwawangsah, H dan B. W. Putera. 2014. Pemanfaatan Lahan Tidur
Untuk Penggemukan Sapi. Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan.
1(2):92-96.
Putra, A. R., &
Suryani, D. (2021). Pengaruh Intensitas Curah Hujan Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi
Hijauan Odot (Pennisetum purpureum Cv. Mott). Jurnal Ilmu Peternakan
Tropis, 9(2), 87–94.
Putri, M. Y., Hidayat,
R., Sofiyanti, M., & Pratama, R. W. (2022). Pembuatan Pupuk Organik Fermentasi
Berbahan Dasar Kotoran Burung Puyuh. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat, 4(2),
197-202.
Qohar, A. F., Utami, E.
T. W., Chalisty, V. D., Nuraeni, N., Mugiarto, M., Teguh, M., & Sitohang,
S. (2023). Pengenalan Hijuan Pakan Ternak Rumput Odot (Pennisetum purpureum
Cv. Mott) di Desa Ambalkumolo Kecamatan Buluspesantren. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 4(3), 2215-2220.
Ressie, M. L., Mullik, M. L., &
Dato, T. D. (2018). Pengaruh Pemupukan dan Interval Penyiraman terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Rumput Gajah Odot (Pennisetum purpereum cv Mott). Jurnal
Sain Peternakan Indonesia, 13(2), 182–188.
Rohayeti, Y., Heraini,
D., Setiawan, D., & Patmawati, S. (2022). Pertumbuhan Dan Produktivitas Rumput
Gajah Odot (pennisetum purpureum Cv. Mott) Yang Diberi Pupuk Kotoran Puyuh. Agrinimal
Jurnal Ilmu Ternak Dan Tanaman, 10(2), 59-64.
Sada, S. M. B. B.,
Koten, B. Ndoen, A. Paga, P. Toe, R. Wea dan Ariyanto. 2018. Pengaruh Interval
Waktu Pemberian Pupuk Organik Cair berbahan Baku Keong Mas terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Hijauan Pennisetum Perpureum Cv. Mott. Jurnal
Ilmiah Inovasi. 18(1) : 42-47
Sari, N. P., &
Haryanto, B. (2020). Pertumbuhan dan Produksi Rumput Odot (Pennisetum
purpureum Cv. Mott) pada Tanah Entisol di Lahan Kering Akibat Pemberian
Pupuk Organik Cair Berbahan Feses Babi dengan Volume Air Berbeda. Jurnal
Ilmu Peternakan Terapan, 3(1), 15-22.
Sulaiman, A. A.,
Sulaeman, Y., & Minasny, B. (2019). A Framework For The Development Of Wetland
For Agricultural Use In Indonesia. Resources, 8(1), 34.
Sulaiman, W.A, Dwatmadji
& T. Suteky. 2018. Pengaruh Pemberian Pupuk Feses Sapi dengan Dosis yang
Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Odot (Pennisetum Purpureum
Cv. Mott) di Kabupaten Kepahiang. Jurnal Sain Peternakan Indonesia,
(Online), 13 (4) 365-376
Susruthan, V., Donaghy,
D. J., Kenyon, P. R., Sneddon, N. W., & Cartmill, A. D. (2025). Measuring
Herbage Mass: A Review. Agronomy, 15(10), 2264.
Syaefullah, B. L.,
Labatar, S. C., & Rantika, I. A. (2024, October). Pengaruh Pemberian Pupuk
Bokashi Feses Kambing Terhadap Pertumbuhan Rumput Odot (Pennisetum
purpureum Cv. Mott). In Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan
Pendidikan Vokasi Pertanian. 5(1), 444-451.
Tampubolon, T. P.,
Witariadi, N. M., & Wirawan, I. W. (2025). HASIL ASOSIASI Pennisetum
purpureum cv. Mott DENGAN Centrosema pubescens PADA TINGKAT NAUNGAN
BERBEDA. Jurnal Peternakan Tropika, 13(4), 80-90.
Tanjungsari, A., Utomo,
B., Andaruisworo, S., Yuniati, E., Solikin, N., & Anifiatiningrum, A.
(2023). Pengolahan Limbah Kotoran Burung Puyuh Menjadi Kompos untuk Petani di
Desa Gampeng, Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Jurnal ABDINUS: Jurnal
Pengabdian Nusantara, 7(3), 616-622.
Wahyu, B., & Basri, M. (n.d.).
Pertumbuhan Kembali Rumput Odot (Pennisetum purpureum Cv. Mott) Yang Diberi
Perlakuan Pupuk Nitrogen Pada Perkembangan Awalnya Regrowth of Dwarf Elephant
Grass (Pennisetum purpureum Cv. Mott) Treated with Nitrogen Fertilizer
in its Initial Development. J. Agrisains, 23(3), 139–147.
Widayanti, E., et al.
(2023). Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kadar Flavonoid Pada Daun Jinten.
Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(2), 219-225.
Yan, Q., Wu, F., Xu, P.,
Sun, Z., Li, J., Gao, L., ... & Zhang, J. (2021). The elephant grass
(Cenchrus purpureus) genome provides insights into anthocyanidin accumulation
and fast growth. Molecular ecology resources, 21(2),
526-542.
Zhang, J., Ge, J.,
Dayananda, B., & Li, J. (2022). Effect of light intensities on the
photosynthesis, growth and physiological performances of two maple
species. Frontiers in plant science, 13, 999026.
Volume 4, Nomor 2, March 2026, P. 60-70
E-ISSN: 2986-6340
No comments
Post a Comment