Pseudo-Decentralization:
Contesting the Top-Down and Bottom-Up National Free Nutritional Meal Programs
Akbar, Nayzilah Dea Ristyani Hasbi, Velly, Lauria Desinta Indri, Andini Ayu Okviani, Fajrina Nurasya
Abstrak
Desentralisasi merupakan prinsip fundamental dalam tata kelola
pemerintahan Indonesia yang bertujuan memperkuat peran daerah dalam perencanaan
dan pelayanan publik. Namun, dalam praktiknya, kebijakan sosial berskala
nasional kerap menunjukkan dominasi pendekatan top-down. Artikel ini
bertujuan menganalisis karakteristik pendekatan top-down dan bottom-up
dalam perencanaan Program Makan Bergizi Gratis serta mengidentifikasi potensi
terjadinya desentralisasi semu dalam desain kebijakan tersebut. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur terhadap
berbagai sumber akademik dan dokumen kebijakan yang relevan dengan
desentralisasi, perencanaan pembangunan, kebijakan sosial, serta ketahanan
pangan dalam kerangka Sustainable Development Goals yang dirumuskan oleh
United Nations. Hasil kajian menunjukkan
bahwa desain program didominasi pendekatan top-down melalui standarisasi
nasional dan pengendalian anggaran yang terpusat. Meskipun memberikan
konsistensi kebijakan, dominasi tersebut berpotensi membatasi ruang adaptasi
daerah dan memunculkan indikasi desentralisasi semu. Dalam konteks pencapaian
SDG 2, SDG 3, dan SDG 4, efektivitas program sangat ditentukan oleh sinergi
antara arah strategis pusat dan kapasitas implementatif daerah. Oleh karena
itu, integrasi yang lebih seimbang antara pendekatan top-down dan bottom-up
menjadi prasyarat penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kata kunci: esentralisasi, top-down, bottom-up, kebijakan sosial, SDGs.
Abstract
Decentralization is a fundamental principle in
Indonesia’s system of governance, aimed at strengthening the role of local
governments in planning and public service delivery. However, in practice,
nationally scaled social policies often demonstrate the dominance of a top-down
approach. This article seeks to analyze the characteristics of top-down and
bottom-up approaches in the planning of the Free Nutritious Meal Program and to
identify the potential occurrence of pseudo-decentralization in its policy design.
This study employs a qualitative approach using a literature review method,
drawing on various academic sources and policy documents relevant to
decentralization, development planning, social policy, and food security within
the framework of the Sustainable Development Goals formulated by the United
Nations. The findings indicate that the program design is predominantly
characterized by a top-down approach through national standardization and
centralized budget control. Although this ensures policy consistency, such
dominance may limit local adaptability and generate indications of
pseudo-decentralization. In the context of achieving SDG 2, SDG 3, and SDG 4,
the program’s effectiveness is largely determined by the synergy between
central strategic direction and local implementation capacity. Therefore, a more
balanced integration of top-down and bottom-up approaches is a crucial
prerequisite for supporting sustainable development.
Keywords: decentralization, top-down, bottom-up, social policy, SDGs.
PENDAHULUAN
Desentralisasi merupakan salah
satu pilar utama reformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia. Melalui
kebijakan otonomi daerah, pemerintah daerah memperoleh kewenangan yang lebih
luas dalam mengatur dan mengurus berbagai urusan publik, termasuk pendidikan, Kesehatan,
dan pelayanan sosial (Muhtadin,
2023; Oktavia
et al., 2025). Secara normatif,
desentralisasi bertujuan meningkatkan efektivitas pelayanan publik, mempercepat
pembangunan, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan (Ibrahim,
2024). Dalam perspektif teori
perencanaan pembangunan, desentralisasi identik dengan pendekatan bottom-up, yaitu model perencanaan yang
bertumpu pada aspirasi dan kebutuhan lokal sebagai dasar dalam perumusan
kebijakan (Muliawan
& Hardjo, 2024).
Namun dalam praktik kebijakan
publik, relasi antara pemerintah pusat dan daerah tidak selalu berjalan selaras
dengan prinsip tersebut. Sejumlah kebijakan strategis nasional masih
menunjukkan dominasi pendekatan top-down, terutama pada tahap
perencanaan, penetapan standar operasional, serta pengendalian anggaran (Olfah
et al., 2025). Pemerintah pusat menetapkan
desain program secara komprehensif dan seragam, sedangkan pemerintah daerah
lebih banyak berperan sebagai pelaksana teknis dengan ruang adaptasi yang
relatif terbatas (Hossen
et al., 2022). Kondisi ini memunculkan
perdebatan mengenai konsistensi antara semangat desentralisasi dan
kecenderungan sentralisasi dalam implementasi kebijakan.
Program Makan Bergizi Gratis
sebagai kebijakan sosial berskala nasional menjadi salah satu contoh aktual
yang relevan untuk dikaji dalam perspektif tersebut. Program ini dirancang
untuk meningkatkan kualitas gizi peserta didik, menekan prevalensi stunting,
serta memperkuat pembangunan sumber daya manusia dalam jangka Panjang (Sarjito,
2024). Selain memiliki dimensi
nasional, program ini juga berkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan
yang dicanangkan oleh United Nations melalui Sustainable Development Goals,
khususnya Tujuan 2 Tanpa Kelaparan, Tujuan 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera,
serta Tujuan 4 Pendidikan Berkualitas (Atukunda
et al., 2021).
Dalam konteks SDG 2, ketahanan
pangan tidak hanya dimaknai sebagai ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup
aspek akses, stabilitas, dan kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan. Ketahanan pangan terwujud
ketika setiap individu memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap pangan yang
memadai, aman, dan bergizi untuk menjalani kehidupan yang aktif dan sehat.
Dengan demikian, intervensi negara melalui program makan bergizi dapat diposisikan
sebagai bagian dari strategi memperkuat sistem pangan nasional sekaligus
mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Akbar
& Syafri, 2026).
Sebagai kebijakan nasional
yang bersifat masif dan lintas sektor, Program Makan Bergizi Gratis memerlukan
koordinasi terpusat untuk menjamin standar mutu, keamanan pangan, serta
akuntabilitas penggunaan anggaran. Pendekatan top-down dalam tahap perencanaan
dipandang penting untuk menjaga konsistensi dan keseragaman standar pelayanan.
Akan tetapi, implementasi kebijakan yang dirancang secara terpusat sering kali
berhadapan dengan keragaman kapasitas daerah. Perbedaan kondisi geografis,
infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan fiskal daerah
memengaruhi efektivitas pelaksanaan program (Korir,
2024).
Kajian mengenai ketahanan
pangan menunjukkan bahwa faktor distribusi dan konektivitas wilayah memiliki
peran penting dalam menjaga stabilitas akses pangan, sehingga penguatan sistem
logistik dan infrastruktur menjadi bagian integral dari pencapaian SDG 2 (Akbar
& Syafri, 2026). Hal ini menjadi relevan
dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan disparitas pembangunan
antarwilayah. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh
desain kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kesiapan daerah dalam
mengelola distribusi, pengawasan mutu, serta pelibatan aktor lokal.
Sejumlah dinamika dalam
implementasi kebijakan sosial berskala nasional kerap memperlihatkan adanya
tantangan di tingkat lokal, seperti persoalan kualitas layanan, distribusi yang
tidak merata, serta keterbatasan pengawasan. Fenomena tersebut tidak semata-mata
dapat dipahami sebagai persoalan teknis, melainkan sebagai refleksi dari desain
perencanaan kebijakan. Ketika standar dan mekanisme ditetapkan secara seragam
tanpa mempertimbangkan variasi kapasitas daerah, potensi ketidaksesuaian antara
desain kebijakan dan realitas lapangan menjadi lebih besar. Dalam literatur
kebijakan publik, situasi ini kerap dikaitkan dengan konsep desentralisasi
semu, yaitu kondisi ketika kewenangan daerah diakui secara formal, tetapi
pengambilan keputusan substantif tetap terkonsentrasi di tingkat pusat (Rosidin
et al., 2025; Nurhalimah
& Siahaan, 2025).
Dalam perspektif teori
perencanaan pembangunan, pendekatan top-down dan bottom-up seharusnya tidak diposisikan
secara dikotomis, melainkan dikombinasikan secara sinergis. Pendekatan top-down memberikan arah strategis dan
kerangka regulatif nasional, sedangkan pendekatan bottom-up memastikan kebijakan
responsif terhadap kebutuhan lokal dan memperoleh legitimasi sosial.
Ketidakseimbangan antara kedua pendekatan tersebut berpotensi menghambat
efektivitas implementasi kebijakan dan pencapaian tujuan pembangunan
berkelanjutan (Croese
et al., 2021; Hermansen
& Sundqvist, 2022).
State of the art menunjukkan bahwa penelitian
mengenai program pemberian makan di sekolah umumnya berfokus pada dampak
kesehatan, kecukupan gizi, serta implikasi sosial ekonomi terhadap penerima
manfaat (Qomarullah
et al., 2025). Sementara itu, kajian mengenai
desentralisasi lebih banyak menyoroti distribusi kewenangan fiskal dan
administratif antara pusat dan daerah (Rahman
et al., 2025). Masih relatif terbatas
kajian yang menganalisis Program Makan Bergizi Gratis dalam perspektif
arsitektur perencanaan pembangunan dengan menekankan kontestasi antara
pendekatan top-down
dan bottom-up dalam kerangka desentralisasi
serta pencapaian SDGs.
Berdasarkan uraian tersebut,
artikel ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pendekatan top-down dan bottom-up dalam perencanaan Program
Makan Bergizi Gratis serta mengidentifikasi potensi terjadinya desentralisasi
semu dalam desain kebijakan tersebut. Melalui metode tinjauan literatur dan
analisis konseptual terhadap berbagai sumber akademik dan dokumen kebijakan,
artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis terhadap
pengembangan studi perencanaan pembangunan dan kebijakan publik, sekaligus
memperkaya diskursus mengenai implementasi kebijakan sosial nasional dalam
kerangka pembangunan berkelanjutan.
METODE
Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
tinjauan literatur. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa artikel
jurnal ilmiah, buku, dokumen kebijakan pemerintah, serta laporan resmi yang
relevan dengan desentralisasi, perencanaan top-down dan bottom-up,
kebijakan sosial, serta ketahanan pangan dalam kerangka Sustainable
Development Goals.
Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi
dengan menelusuri sumber literatur yang kredibel dan sesuai dengan fokus
penelitian. Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis isi dan sintesis
konseptual untuk mengidentifikasi pola argumentasi serta keterkaitan antara
pendekatan perencanaan dan potensi desentralisasi semu dalam Program Makan
Bergizi Gratis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dominasi Pendekatan Top Down dalam Desain
Kebijakan
Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa kebijakan
sosial berskala nasional cenderung dirancang dengan pendekatan top-down,
terutama pada tahap perumusan kebijakan, standarisasi teknis, dan pengendalian
anggaran (Ibi
et al., 2025). Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis, desain
kebijakan yang terpusat memungkinkan pemerintah menetapkan standar mutu,
komposisi gizi, mekanisme distribusi, serta sistem pengawasan yang seragam
secara nasional. Pendekatan ini memiliki keunggulan dalam menjaga konsistensi
kebijakan, akuntabilitas fiskal, dan kesetaraan layanan antarwilayah.
Namun, literatur kebijakan publik juga menegaskan
bahwa pendekatan top-down berpotensi mengabaikan variasi kapasitas daerah (Fajria
et al., 2025). Ketika standar ditetapkan secara seragam tanpa
mempertimbangkan kondisi geografis, infrastruktur, serta kesiapan sumber daya
manusia di masing-masing daerah, implementasi kebijakan berisiko mengalami
distorsi. Dalam konteks Indonesia yang memiliki karakteristik kepulauan dan
ketimpangan pembangunan antarwilayah, tantangan distribusi dan pengawasan
menjadi faktor krusial dalam pelaksanaan program pangan nasional.
Keterbatasan Ruang
Bottom-Up dalam Implementasi
Secara normatif, sistem desentralisasi membuka ruang
bagi pendekatan bottom-up melalui partisipasi pemerintah daerah dan
aktor lokal dalam perencanaan pembangunan. Pendekatan ini memungkinkan
kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat serta mendorong inovasi
daerah. Dalam kebijakan pangan, partisipasi lokal penting untuk memastikan
keberlanjutan distribusi, kualitas bahan pangan, serta pelibatan pelaku usaha
mikro kecil dan menengah (Iyer,
2025).
Namun, hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa
dalam kebijakan sosial nasional, ruang adaptasi daerah sering kali terbatas
pada aspek teknis pelaksanaan. Daerah memiliki kewenangan administratif, tetapi
tidak sepenuhnya terlibat dalam perumusan desain kebijakan. Kondisi ini
menciptakan ketimpangan antara kewenangan formal dan kapasitas substantif,
sehingga partisipasi bottom-up belum sepenuhnya
terintegrasi dalam arsitektur perencanaan kebijakan (Ulibarri
et al., 2022; Orczyk,
2025; Gai
et al., 2025).
Indikasi
Desentralisasi Semu
Ketidakseimbangan antara pendekatan top-down dan bottom-up berpotensi memunculkan fenomena
desentralisasi semu. Secara formal, kewenangan daerah diakui dalam kerangka
otonomi, tetapi secara substantif pengambilan keputusan strategis tetap
terkonsentrasi di tingkat pusat. Literatur desentralisasi menunjukkan bahwa
situasi ini dapat menghambat efektivitas implementasi kebijakan, terutama
ketika daerah menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kapasitas pengawasan (Srisaparmi
et al., 2025; Jian
& Mustafa, 2025; Chandamali
& Chibesa, 2025).
Dalam konteks ketahanan pangan dan pencapaian SDG 2,
efektivitas kebijakan tidak hanya ditentukan oleh stabilitas harga atau besaran
anggaran, tetapi juga oleh efektivitas distribusi dan konektivitas wilayah.
Ketahanan pangan bersifat multidimensional dan menuntut koordinasi lintas
sektor serta sinergi antarlevel pemerintahan. Dengan demikian, tanpa integrasi
pendekatan bottom up yang memadai, kebijakan berisiko mengalami ketidaksesuaian
antara desain nasional dan realitas lokal (Akbar
& Syafri, 2026).
Integrasi Top-Down dan Bottom-Up sebagai Model Ideal
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pendekatan top-down dan bottom-up tidak
seharusnya dipertentangkan, melainkan diintegrasikan secara komplementer.
Pendekatan top-down diperlukan untuk memberikan arah strategis, standar
nasional, dan kerangka regulatif. Sementara itu, pendekatan bottom-up berfungsi
memastikan adaptasi lokal, partisipasi masyarakat, serta efektivitas pengawasan
di tingkat daerah (Eicken
et al., 2021; Upton
et al., 2024).
Dalam perspektif perencanaan pembangunan
berkelanjutan, integrasi kedua pendekatan tersebut menjadi prasyarat penting
untuk mendukung pencapaian agenda Sustainable Development Goals yang
dirumuskan oleh United Nations.
Keberhasilan kebijakan sosial nasional tidak hanya ditentukan oleh desain pusat
yang kuat, tetapi juga oleh kapasitas daerah dalam mengimplementasikan
kebijakan sesuai konteks lokal (Croese
et al., 2021; Bardal
et al., 2021; Krantz
et al., 2021).
SIMPULAN
Artikel ini menunjukkan bahwa perencanaan Program
Makan Bergizi Gratis merefleksikan dominasi pendekatan top-down dalam
desain kebijakan, terutama dalam penetapan standar dan pengendalian anggaran.
Pendekatan ini memberikan konsistensi dan keseragaman nasional, namun pada saat
yang sama membatasi ruang adaptasi daerah dalam perumusan kebijakan.
Kondisi tersebut mengindikasikan potensi
desentralisasi semu, yakni ketika kewenangan daerah diakui secara formal tetapi
pengambilan keputusan strategis tetap terpusat. Dalam konteks pencapaian Sustainable
Development Goals yang dirumuskan oleh United
Nations, khususnya SDG 2, SDG 3, dan SDG 4, efektivitas program sangat
bergantung pada sinergi antara pendekatan top-down dan bottom-up.
Oleh karena itu, integrasi yang lebih seimbang antara arah strategis pusat dan
kapasitas adaptif daerah menjadi kunci dalam mendukung pembangunan
berkelanjutan.
REFERENSI
Akbar, & Syafri, M.
(2026). Pengaruh Inflasi Sektor Strategis terhadap Ketahanan Pangan Indonesia
Dalam Pencapaian Sdg 2 ( Zero Hunger ). Jurnal Media Akademik (JMA), 4(2),
1–16. https://doi.org/https://doi.org/10.62281/jbk95g18
Atukunda, P., Eide, W. B., Kardel, K. R., Iversen, P.
O., & Westerberg, A. C. (2021). Unlocking the potential for achievement of
the UN Sustainable Development Goal 2 – ‘ Zero Hunger ’ – in Africa : targets ,
strategies , synergies and challenges. Food & Nutrition Research, 65,
1–11. https://doi.org/https://doi.org/10.29219/fnr.v65.7686
Bardal, K. G., Reinar, M. B., & Lundberg, A. K.
(2021). Factors Facilitating the Implementation of the Sustainable Development
Goals in Regional and Local Planning — Experiences from Norway. Sustainability,
13(8), 1–19. https://doi.org/https://doi.org/10.3390/su13084282
Chandamali, N., & Chibesa, F. (2025). Examining
the Capacity of the Local Government to Implement Decentralization Policy : A
Case Study of Mwense Town Council. International Journal of Advanced
Multidisciplinary Research and Studies, 5(2), 506–517.
https://doi.org/https://doi.org/10.62225/2583049X.2025.5.2.3866
Croese, S., Oloko, M., Simon, D., & Valencia, S.
C. (2021). Bringing the Global to the Local : the challenges of multi-level
governance for global policy implementation in Africa. International Journal
of Urban Sustainable Development, 13(3), 435–447.
https://doi.org/10.1080/19463138.2021.1958335
Eicken, H., Danielsen, F., Sam, J., Fidel, M.,
Johnson, N., Michael, K., Lee, O. A., Spellman, K. A. V, Iversen, L., Pulsifer,
P., & Enghoff, M. (2021). Connecting Top-Down and Bottom-Up Approaches in
Environmental Observing. BioScince, 71(5), 467–483.
https://doi.org/10.1093/biosci/biab018
Fajria, R., Frinaldi, A., Magriasti, L., & Naldi,
H. (2025). Evaluasi Implementasi Desentralisasi Di Indonesia : DOI : PUBLICNESS:
Journal of Public Administration Studies, 4(2), 142–149.
https://doi.org/https://doi.org/10.24036/publicness.v4i2.259
Gai, A., Ernan, R., Fauzi, A., Barus, B., & Putra,
D. (2025). Poverty Reduction Through Adaptive Social Protection and Spatial
Poverty Model in Labuan Bajo , Indonesia ’ s National Strategic Tourism Areas. Sustainability,
17(2), 1–17. https://doi.org/https://doi.org/10.3390/su17020555
Hermansen, E. A. T., & Sundqvist, G. (2022). Top ‑
down or bottom ‑ up ? Norwegian climate mitigation policy as a contested hybrid
of policy approaches. Climatic Change, 171(26), 1–22.
https://doi.org/10.1007/s10584-022-03309-y
Hossen, M. A., Netherton, C., Benson, D., Rezaur, M.,
& Solehin, M. (2022). A governance perspective for climate change
adaptation: Conceptualizing the policy-community interface in Bangladesh. Environmental
Science and Policy, 137, 174–184.
https://doi.org/10.1016/j.envsci.2022.08.028
Ibi, M. B., Baba, J. L., Philip, & Dorathy.
(2025). Policy Implementation In Nigeria: Processes, Goals, And Responsible
Entities. International Journal of Social, 9(6), 74–85.
https://doi.org/https://doi.org/10.70382/tijssra.v09i6.065 Introduction
Ibrahim, A. H. H. (2024). Decentralization and its
Impact on Improving Public Services. International Journal of Social
Sciences, 7(2), 45–53.
https://doi.org/https://doi.org/10.21744/ijss.v7n2.2278
Iyer, S. S. (2025). Indian Community Development – A
bottom-to-top Prospective. Global Journal of Humanities and Social Sciences,
04(03), 23–59. https://doi.org/https://doi.org/10.55640/gjhss
Jian, N., & Mustafa, N. (2025). Local Government
Capacity and Education Policy Outcomes : Evidence from Decentralization Reforms
in Latin American. Advances in Curriculum Design&Education ISSN:, 1(3),
1–12. https://doi.org/https://doi.org/10.63808/acde.v1i3.221
Korir, J. (2024). Multisectoral Approaches For
Sustainable Food And Nutrition Security Actions In Ethiopia. African Journal
of Food, Agriculture, Nutrition and Development, 24(5), 26351–26376.
https://doi.org/https://doi.org/10.18697/ajfand.130.24180
Krantz, V., Gustafsson, S., & Ã, V. K. (2021).
Localizing the sustainable development goals through an integrated approach in
municipalities : early experiences from a Swedish forerunner from a Swedish
forerunner. Journal of Environmental Planning and Management, 64(14),
2641–2660. https://doi.org/10.1080/09640568.2021.1877642
Muhtadin. (2023). Analisis Pelaksanaan Otonomi Daerah
Dan Desentralisasi Pemerintahan Dalam Perspektif Undang-Undang 23 Tahun 2014
Tentang Pemerintah Daerah. Jurnal Hukum Islam Dan Humaniora, 2(2),
233–251. https://doi.org/https://doi.org/10.58578/ahkam.v2i2
Muliawan, D. R., & Hardjo, D. (2024). Legal
Certainty of the Position of a Notary Appointed as a Member of the Legislative
Assembly. Jurnal Kajian Konstitusi, 04(02), 200–221.
https://doi.org/https://doi.org/10.19184/j.kk.v4i2.53688
Nurhalimah, & Siahaan, A. (2025). Manajemen Risiko
Proyek Pendidikan : Analisis Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di
Indonesia. Kognisi: Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Konseling, 2(1),
57–68.
Oktavia, Y., Frinaldi, A., Magriasti, L., & Naldi,
H. (2025). Desentralisasi Dan Otonomi Pemerintahan Daerah : Studi Literatur
Tentang Dinamika Kebijakan Pemerintahan Daerah Pasca-Reformasi. PUBLICNESS:
Journal of Public Administration Studies, 4(2), 157–165.
https://doi.org/https://doi.org/10.24036/publicness.v4i2.260
Olfah, S. T., Wardani, A. N., Bagjo, H. W., &
Hartanto. (2025). Does the System of State Planning and Budgeting Support the
National Development Planning System? (A Case Study on The Major Project for
Accelerating the Reduction of Maternal Mortality and Stunting). Jurnal
Manajemen Keuangan Publik, 9(1), 40–58.
https://doi.org/https://doi.org/10.31092/jmkp.v9i1.3317
Orczyk, J. (2025). Social Investments and Regionalism
as a Phase in the Development of Social Policy ? CENTRAL EUROPEAN REVIEW OF
ECONOMICS AND MANAGEMENT, 9(3), 7–20.
https://doi.org/https://doi.org/10.29015/cerem.1034.
Qomarullah, R., Suratni, S, W. L., & Sawir, M.
(2025). Dampak Jangka Panjang Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Kesehatan
Dan Keberlanjutan Pendidikan T. Indonesian Journal of Intellectual
Publication, 5(2), 130–137.
https://doi.org/https://doi.org/10.51577/ijipublication.v5i2.660
Rahman, A., Fikri, M., & Maysha, H. M. (2025).
Reformasi Program Makan Bergizi Gratis Untuk Pemenuhan Hak Sosial. Legislatif,
9(1), 82–104.
Rosidin, A., Maulana, J., & Dharmawan, A. (2025).
Tantangan dan Strategi Implementasi Program Makan Bergizi Gratis : Studi Kasus
Pemerintah Daerah Provinsi Banten. Jurnal Hukum Dan Administrasi Publik,
3(2), 131–143.
https://doi.org/https://ejournal.literaaksara.com/index.php/JHAP/index
Sarjito, A. (2024). Free Nutritious Meal Program as a
Human Resource Development Strategy to Support National Defense. International
Journal Administration, Business & Organization, 5(3), 129–141.
https://doi.org/https://doi.org/10.61242/ijabo.24.454
Srisaparmi, Frinaldi, A., Magriasti, L., & Naldi,
H. (2025). Problematika Dan Tantangan Desentralisasi Di Indonesia : Kajian
Literatur Review Pasca Reformasi. Jurnal Manajemen Dan Ilmu Administrasi
Publik, 7(2), 213–220.
Ulibarri, N., Ajibade, I., Galappaththi, E. K., Joe,
E. T., Lesnikowski, A., Mach, K. J., Musah-surugu, J. I., Alverio, G. N.,
Segnon, A. C., Siders, A. R., Sotnik, G., Chalastani, V. I., Jagannathan, K.,
Khavhagali, V., Reckien, D., Shang, Y., Singh, C., Zommers, Z., Ulibarri, N., …
Shang, Y. (2022). A global assessment of policy tools to support climate
adaptation. Climate Policy, 22(1), 77–96.
https://doi.org/10.1080/14693062.2021.2002251
Upton, S., Reichstein, M., Gans, F., Peters, W.,
Kraft, B., & Bastos, A. (2024). Constraining biospheric carbon dioxide
fluxes by combined top-down and bottom-up approaches. Atmospheric Chemistry
and Physics, 24(4), 2555–2582.
https://doi.org/https://doi.org/10.5194/acp-24-2555-2024 © Author(s) 2024. This
work is distributed
Volume 4, Nomor 2, March 2026, P. 54-59
E-ISSN: 2986-6340
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18857370
No comments
Post a Comment