Introduction to Chili Drying
Using a Greenhouse-Effect Dryer to Increase Value Added and Post-Harvest
Quality in the Village
Hikmah Yuliasari, Kavadya Syska, Ropiudin, Verry, Feriani Budiyah, Muhamad Ridwan, Dhimas Oki Permata Aji
Abstrak
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan
untuk mengintroduksi teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) pada komoditas
cabai di Desa Kedungweru. Permasalahan utama yang dihadapi petani adalah
tingginya kehilangan hasil (losses) pascapanen akibat fluktuasi cuaca
dan metode pengeringan konvensional yang masih mengandalkan sinar matahari
langsung. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi permasalahan, pelatihan
teknis, demonstrasi penggunaan alat pengering ERK, serta pendampingan dan
monitoring berbasis partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan percepatan waktu
pengeringan hingga 40–60% dibanding penjemuran terbuka, peningkatan kualitas
warna dan kebersihan cabai kering, serta kenaikan nilai jual produk hingga
25–35%. Kegiatan ini meningkatkan kapasitas teknis masyarakat dalam pengelolaan
pascapanen, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong peningkatan ekonomi
desa berbasis teknologi tepat guna dan energi surya. Model ini berpotensi
direplikasi di wilayah sentra cabai lainnya dengan karakteristik agroklimat
serupa.
Kata kunci: cabai, pengering efek rumah
kaca, pascapanen, energi surya, nilai tambah
Abstract
This community service activity aimed to introduce a
greenhouse-effect solar dryer (GESD) technology for chili postharvest
processing in Kedungweru Village. The main issue faced by farmers was high
postharvest losses due to unpredictable weather and conventional open
sun-drying methods. The implementation included problem identification,
technical training, field demonstrations, and participatory-based mentoring and
monitoring. The results showed a 40–60% reduction in drying time compared to
traditional sun drying, improved product quality in terms of color and hygiene,
and increased selling prices by 25–35%. The activity enhanced community
technical capacity in postharvest management, strengthened food resilience, and
promoted village-based economic development through appropriate renewable
energy technology. This model is replicable in other chili-producing regions
with similar agroclimatic conditions.
Keywords: chili, greenhouse solar dryer, postharvest, solar energy, value addition
PENDAHULUAN
Sektor hortikultura memiliki kontribusi strategis dalam mendukung
ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi masyarakat perdesaan di Indonesia (Susanto
et al., 2024). Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peran
penting dalam struktur pangan nasional adalah cabai (Capsicum annuum
L.), yang tidak hanya menjadi bahan pangan utama rumah tangga, tetapi juga
memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpengaruh terhadap laju inflasi (Pella, 2024).
Permintaan cabai yang relatif stabil sepanjang tahun menjadikan komoditas ini
sebagai sumber pendapatan utama bagi banyak petani di desa (Jeksen & Sari,
2022). Namun demikian, karakteristik cabai yang mudah rusak (perishable)
menyebabkan tingginya kehilangan hasil pascapanen, terutama pada musim hujan
dan saat produksi melimpah (Syska & Ropiudin, 2023).
Desa Kedungweru merupakan wilayah dengan potensi produksi cabai yang
cukup besar, namun masih menghadapi permasalahan klasik dalam pengelolaan
pascapanen. Sebagian besar petani masih mengandalkan metode penjemuran terbuka
dengan memanfaatkan sinar matahari langsung. Metode ini sangat bergantung pada
kondisi cuaca, rentan terhadap kontaminasi debu dan hewan, serta membutuhkan
waktu pengeringan yang relatif lama. Pada musim hujan, proses pengeringan
sering terganggu sehingga menyebabkan pembusukan dan penurunan mutu produk (Syska,
2022a). Kondisi ini berdampak pada fluktuasi harga yang tajam dan rendahnya
nilai tambah produk cabai di tingkat petani (Syska et al., 2024).
Berdasarkan hal tersebut, introduksi teknologi pengering efek rumah kaca
(ERK) berbasis energi surya menjadi solusi inovatif yang relevan untuk
meningkatkan efisiensi dan kualitas proses pengeringan cabai. Pengering efek
rumah kaca bekerja berdasarkan prinsip akumulasi panas melalui penutup
transparan yang memungkinkan radiasi matahari masuk dan terperangkap dalam
ruang tertutup, sehingga meningkatkan suhu ruang pengering dibanding suhu
lingkungan sekitar (Syska & Nurhayati, 2023). Teknologi ini relatif
sederhana, hemat energi, dan sesuai untuk skala kelompok tani atau UMKM desa (Djamalu, 2024).
Penggunaan pengering efek rumah kaca tidak hanya mempercepat waktu
pengeringan, tetapi juga meningkatkan kualitas produk melalui proses yang lebih
higienis dan terkontrol (Ropiudin & Syska, 2023). Pengeringan yang lebih
cepat dan stabil membantu menurunkan kadar air cabai hingga tingkat aman simpan
(<10%), sehingga memperpanjang umur simpan dan menjaga warna serta kandungan
nutrisi produk (Ajuebor et al., 2022). Selain itu, teknologi ini
mendukung pengurangan kehilangan hasil dan meningkatkan konsistensi mutu, yang
pada akhirnya berdampak pada peningkatan harga jual dan daya saing produk di
pasar (Syska, 2022b).
Lebih lanjut, penerapan pengering efek rumah kaca membuka peluang
diversifikasi produk seperti cabai kering premium, cabai bubuk, maupun produk
olahan lainnya yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding cabai segar
(Syska, 2022b). Dengan demikian, teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai
solusi teknis pascapanen, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam
memperkuat ekonomi desa berbasis agribisnis berkelanjutan (Takari &
Subagio, 2025). Dalam jangka panjang, model pengeringan berbasis energi surya
ini berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik agroklimat
serupa sebagai bagian dari transformasi sistem pangan yang tangguh dan ramah
lingkungan (Barzigar et al., 2025).
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
bertujuan untuk mengedukasi, mendampingi, dan memberdayakan masyarakat Desa Kedungweru
dalam mengimplementasikan teknologi pengering efek rumah kaca pada komoditas
cabai. Pendekatan partisipatif dan berbasis potensi lokal menjadi landasan
utama dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk, mengurangi kehilangan
pascapanen, serta memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa yang
berkelanjutan (Fiza et al., 2025).
METODE
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif
yang melibatkan petani cabai, kelompok tani, perangkat desa, serta pemangku
kepentingan lokal di Desa Kedungweru. Pendekatan partisipatif dipilih untuk
memastikan bahwa teknologi yang diperkenalkan tidak hanya dipahami secara
teoritis, tetapi juga diterapkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu: (1) identifikasi permasalahan pascapanen cabai, (2) pelatihan dan pendidikan teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK), serta (3) pendampingan dan monitoring penerapan teknologi di lokasi percontohan. Pemilihan Desa Kedungweru didasarkan pada potensi produksi cabai yang cukup tinggi serta adanya permasalahan signifikan terkait kehilangan hasil pascapanen, fluktuasi harga, dan keterbatasan fasilitas pengeringan yang efisien.
Identifikasi
Permasalahan
1.
Melakukan survei awal untuk memahami kondisi sistem
pengeringan dan penanganan pascapanen cabai di desa, meliputi metode
pengeringan, waktu proses, tingkat kehilangan hasil, serta ketergantungan
terhadap kondisi cuaca
Langkah awal yang dilakukan untuk mengidentifikasi
permasalahan dalam sistem pascapanen cabai di Desa Kedungweru adalah
melakukan survei lapangan terhadap praktik pengeringan yang selama ini
diterapkan oleh para petani dan kelompok tani. Survei ini bertujuan untuk
memperoleh gambaran faktual mengenai metode pengeringan yang digunakan, lama
waktu pengeringan, kadar air akhir produk, serta tingkat kerusakan yang terjadi
selama proses tersebut.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar petani
masih mengandalkan metode penjemuran terbuka dengan memanfaatkan sinar matahari
langsung di atas terpal atau lantai semen. Metode ini sangat bergantung pada
kondisi cuaca dan sering terganggu oleh hujan atau kelembaban udara tinggi.
Waktu pengeringan dapat mencapai 4–6 hari pada kondisi cerah, namun bisa lebih
lama pada musim penghujan. Selain itu, cabai yang dijemur secara terbuka rentan
terhadap kontaminasi debu, kotoran, dan gangguan hewan, sehingga menurunkan
mutu produk.
Dari sisi teknis, pengeringan belum dilakukan
berdasarkan standar kadar air aman simpan (<10%), melainkan hanya
berdasarkan perkiraan visual. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan mutu
produk serta meningkatnya risiko pertumbuhan jamur selama penyimpanan. Survei
juga mencatat bahwa kehilangan hasil (postharvest losses) dapat mencapai
20–30% terutama pada saat produksi melimpah dan cuaca tidak mendukung.
Informasi ini menjadi dasar penting untuk menentukan kebutuhan teknologi
pengeringan yang lebih terkontrol dan efisien berbasis energi terbarukan.
2.
Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam
peningkatan nilai tambah dan efisiensi sistem pascapanen cabai
Berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi hortikultura
desa, salah satu tantangan utama yang dihadapi petani adalah rendahnya nilai
tambah produk cabai. Sebagian besar hasil panen dijual dalam bentuk segar
dengan harga yang sangat fluktuatif. Ketika terjadi panen raya, harga cabai di
tingkat petani sering jatuh drastis karena pasokan melimpah dan keterbatasan
fasilitas penyimpanan maupun pengolahan.
Metode pengeringan konvensional yang tidak efisien
menyebabkan petani kesulitan mengonversi cabai segar menjadi cabai kering
berkualitas tinggi. Ketidakkonsistenan warna, aroma, dan tingkat kekeringan
membuat produk kurang kompetitif di pasar. Selain itu, proses penjemuran
terbuka memerlukan area luas dan tenaga kerja untuk membalik cabai secara
berkala agar pengeringan merata. Hal ini meningkatkan biaya tenaga kerja dan
memperpanjang waktu proses.
Kendala lainnya adalah minimnya pengetahuan petani
mengenai teknologi pengering berbasis efek rumah kaca dan prinsip kerja
akumulasi panas dalam ruang tertutup. Sebagian besar petani belum familiar
dengan konsep pengeringan terkontrol yang mampu meningkatkan suhu ruang 10–20°C
di atas suhu lingkungan secara alami. Padahal, kondisi geografis Desa Kedungweru yang
memiliki intensitas radiasi matahari tinggi sepanjang tahun merupakan potensi
besar untuk pemanfaatan teknologi pengering berbasis energi surya. Kurangnya
akses terhadap pelatihan teknis dan demonstrasi alat menjadi faktor penghambat
adopsi inovasi ini.
3.
Melakukan wawancara dengan petani dan pelaku kelompok
tani cabai guna memperoleh pemahaman lebih dalam mengenai tantangan aktual dan
potensi adopsi teknologi pengering efek rumah kaca
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif,
tim pengabdian melakukan wawancara langsung dengan petani cabai dan pengurus
kelompok tani di Desa Kedungweru. Wawancara
ini menggali pengalaman petani dalam menghadapi fluktuasi harga, kendala
pengeringan pada musim hujan, serta strategi yang selama ini dilakukan untuk
mengurangi kerugian.
Petani menyampaikan bahwa tantangan terbesar adalah
menjaga kualitas cabai saat harga turun dan produksi melimpah. Banyak petani
terpaksa menjual cabai dalam kondisi belum optimal karena tidak memiliki
fasilitas pengeringan yang memadai. Beberapa petani juga mengeluhkan pembusukan
yang terjadi ketika proses penjemuran terganggu oleh hujan mendadak. Kondisi
ini menyebabkan penurunan pendapatan dan ketidakstabilan ekonomi rumah tangga
petani.
Wawancara juga mengungkap adanya minat tinggi terhadap
teknologi pengering efek rumah kaca, terutama jika teknologi tersebut
sederhana, tidak memerlukan bahan bakar tambahan, serta mudah dirawat. Sebagian
petani bahkan telah melihat contoh pengering surya di desa lain dan menunjukkan
ketertarikan untuk mengembangkan model serupa. Hal ini menunjukkan adanya
peluang besar untuk membangun unit percontohan (pilot project) yang
dapat menjadi pusat pembelajaran dan replikasi teknologi di tingkat desa.
Melalui proses identifikasi ini, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama terletak pada ketergantungan terhadap metode pengeringan konvensional yang tidak efisien, tingginya kehilangan hasil, serta rendahnya nilai tambah produk. Oleh karena itu, introduksi pengering efek rumah kaca berbasis energi surya menjadi solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pascapanen, menjaga mutu produk, dan memperkuat ketahanan ekonomi desa secara berkelanjutan.
Pelatihan dan
Pendidikan
1.
Mengadakan sesi sosialisasi kepada masyarakat desa
mengenai konsep pengering efek rumah kaca dan manfaatnya bagi peningkatan mutu
serta nilai tambah cabai
Sesi sosialisasi dilakukan sebagai tahapan awal untuk
memperkenalkan teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) kepada masyarakat Desa
Kedungweru, khususnya petani cabai dan kelompok tani
hortikultura. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip
dasar efek rumah kaca, yaitu mekanisme penyerapan dan akumulasi panas matahari
dalam ruang tertutup transparan sehingga suhu ruang pengering meningkat secara
signifikan dibandingkan suhu lingkungan luar.
Materi sosialisasi juga menjelaskan perbedaan antara
penjemuran terbuka dan pengeringan terkontrol menggunakan ERK, termasuk aspek
efisiensi waktu, kebersihan produk, stabilitas suhu, serta konsistensi kadar
air akhir. Penekanan diberikan pada manfaat praktis teknologi ini, seperti
percepatan waktu pengeringan, pengurangan kehilangan hasil, peningkatan warna
dan kualitas cabai kering, serta potensi kenaikan harga jual produk.
Sosialisasi dirancang dalam format partisipatif dan
interaktif. Diskusi kelompok, pemutaran video singkat tentang model pengering
surya, serta studi kasus keberhasilan desa lain digunakan untuk membangun
pemahaman kontekstual. Pemerintah desa dan penyuluh pertanian turut dilibatkan
untuk memperkuat legitimasi kegiatan dan membangun kepercayaan masyarakat
terhadap teknologi yang diperkenalkan. Dengan pendekatan ini, sosialisasi
menjadi fondasi penting dalam membentuk kesadaran kolektif bahwa pengelolaan
pascapanen yang baik merupakan kunci peningkatan daya saing produk hortikultura
desa (Yogita et al., 2024).
2.
Memberikan pelatihan teknis kepada petani dan kelompok
tani mengenai desain, instalasi, pengoperasian, dan perawatan pengering efek
rumah kaca
Pelatihan teknis merupakan tahap krusial untuk
memastikan masyarakat tidak hanya memahami konsep ERK secara teoritis, tetapi
juga mampu membangun dan mengoperasikannya secara mandiri. Dalam pelatihan ini,
peserta diperkenalkan dengan komponen utama pengering efek rumah kaca, meliputi
rangka konstruksi, penutup plastik UV, rak pengering bertingkat, sistem
ventilasi alami, serta mekanisme sirkulasi udara panas.
Peserta dilatih mengenai tahapan konstruksi mulai dari
penentuan lokasi yang optimal berdasarkan arah radiasi matahari, pemasangan
rangka, hingga pemasangan penutup transparan yang berfungsi sebagai media
transmisi dan perangkap panas. Selain itu, materi pelatihan mencakup teknik
penyusunan cabai di atas rak agar distribusi panas merata, pengaturan ventilasi
untuk menjaga sirkulasi udara, serta metode pengukuran suhu dan kelembaban
ruang pengering.
Pendekatan praktik langsung (hands-on training)
diterapkan agar peserta dapat merakit dan menguji sistem secara mandiri (Suarez et al., 2023). Peserta
juga diberikan pemahaman mengenai standar kadar air aman simpan (<10%) serta
cara sederhana mengidentifikasi tingkat kekeringan cabai berdasarkan uji
tekstur dan berat. Modul pelatihan disusun dalam bentuk panduan bergambar yang
mudah dipahami sehingga dapat digunakan kembali sebagai referensi setelah
kegiatan selesai.
Selain aspek teknis, pelatihan juga menekankan
manajemen operasional dan perawatan alat, seperti pembersihan plastik UV,
pengecekan kekencangan rangka, serta pengaturan ventilasi saat kondisi cuaca
ekstrem. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga
pengelola teknologi secara berkelanjutan.
3.
Melakukan demonstrasi langsung penggunaan pengering
efek rumah kaca di lokasi percontohan dan simulasi pengeringan pada berbagai
kondisi cuaca
Demonstrasi lapangan dilaksanakan di salah satu lahan
atau halaman milik anggota kelompok tani sebagai lokasi percontohan (pilot
project). Pada tahap ini, peserta secara bergiliran terlibat dalam proses
pengisian cabai segar ke dalam rak pengering, pemantauan suhu ruang, serta
pencatatan waktu pengeringan. Demonstrasi ini memberikan pengalaman nyata
mengenai perbedaan signifikan antara penjemuran terbuka dan pengeringan
menggunakan ERK.
Simulasi dilakukan dengan membandingkan proses
pengeringan pada kondisi cuaca cerah dan mendung untuk menunjukkan stabilitas
suhu di dalam ruang pengering. Peserta diajak menganalisis bagaimana akumulasi
panas tetap terjadi meskipun intensitas matahari menurun, sehingga proses
pengeringan tetap berlangsung lebih stabil dibanding metode konvensional.
Kegiatan ini juga mengedukasi petani mengenai
pentingnya pengeringan bertahap dan pengendalian suhu agar warna cabai tetap
cerah dan kandungan nutrisinya terjaga. Dengan melihat hasil langsung berupa
cabai kering yang lebih bersih, seragam, dan cepat kering, kepercayaan petani
terhadap teknologi meningkat secara signifikan.
Melalui tiga tahapan pelatihan yang komprehensif ini, masyarakat Desa Kedungweru diharapkan mampu mengadopsi teknologi pengering efek rumah kaca secara mandiri dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar transfer teknologi, kegiatan ini membangun kapasitas lokal dalam pengelolaan pascapanen, memperkuat nilai tambah produk, serta mendorong ketahanan ekonomi desa berbasis energi surya dan teknologi tepat guna.
Pendampingan dan
Monitoring
1.
Mendampingi masyarakat dalam menerapkan pengering efek
rumah kaca sesuai materi pelatihan
Pendampingan lapangan merupakan tahap krusial untuk
memastikan bahwa teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) benar-benar diadopsi
dan dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat. Dalam tahap ini, fasilitator
terlibat langsung dalam membantu kelompok tani membangun unit pengering,
mengatur tata letak rak pengering, serta mengoptimalkan posisi alat agar memperoleh
paparan radiasi matahari maksimal. Pendampingan dilakukan secara bertahap dan
partisipatif, dengan pendekatan praktik langsung (hands-on assistance)
serta dialog terbuka agar petani dapat menyampaikan kendala teknis yang
dihadapi selama implementasi (Dangi & Yadav, 2025).
Tim pendamping juga membantu masyarakat menyesuaikan
desain pengering dengan kondisi lokal, seperti luas lahan, kapasitas produksi,
dan ketersediaan bahan konstruksi. Pada beberapa lokasi, dilakukan penyesuaian
ventilasi tambahan untuk meningkatkan sirkulasi udara panas dan mencegah
kondensasi berlebih di dalam ruang pengering. Pendampingan ini memastikan bahwa
sistem tidak hanya terpasang secara fisik, tetapi juga berfungsi optimal sesuai
prinsip efek rumah kaca.
Selain aspek teknis, pendampingan juga diarahkan untuk
membangun kesadaran petani mengenai pentingnya manajemen pascapanen yang
terstandar. Petani diajak memahami bahwa pengeringan bukan sekadar proses
mengurangi kadar air, tetapi bagian dari strategi peningkatan mutu dan daya
saing produk. Dengan pendampingan yang intensif, petani menjadi lebih percaya
diri dalam mengoperasikan pengering ERK dan mengembangkan inovasi sederhana
sesuai kebutuhan lokal tanpa ketergantungan penuh pada pihak eksternal.
2.
Melakukan monitoring berkala terhadap hasil penerapan
pengering efek rumah kaca dengan mengukur efisiensi waktu pengeringan, mutu
produk, dan dampak ekonomi
Monitoring dilakukan secara sistematis untuk
mengevaluasi efektivitas teknologi ERK dalam meningkatkan kualitas dan nilai
tambah cabai kering. Indikator yang diamati meliputi waktu pengeringan, suhu
ruang pengering, kadar air akhir produk, tingkat kehilangan hasil, serta
perbandingan harga jual sebelum dan sesudah penggunaan teknologi.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung,
pencatatan harian (logbook) oleh petani, serta pengukuran suhu dan
kelembaban menggunakan alat sederhana. Selain itu, dilakukan wawancara berkala
untuk mengetahui persepsi petani terhadap kemudahan operasional dan manfaat
ekonomi yang dirasakan (Connor et al., 2021).
Hasil monitoring menunjukkan adanya percepatan waktu
pengeringan sebesar 40–60% dibanding metode penjemuran terbuka. Kadar air cabai
lebih konsisten berada di bawah 10%, dengan warna produk lebih cerah dan
bersih. Kehilangan hasil akibat pembusukan menurun secara signifikan hingga
30–50%. Dari sisi ekonomi, terjadi peningkatan harga jual cabai kering sebesar
25–35% karena mutu produk lebih seragam dan memenuhi standar pasar.
Monitoring juga berfungsi untuk mendeteksi potensi
masalah seperti penurunan transparansi plastik UV atau ventilasi yang kurang
optimal. Dengan identifikasi dini, perbaikan dapat segera dilakukan sehingga
keberlanjutan sistem tetap terjaga. Pendekatan monitoring partisipatif ini
memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap teknologi yang diterapkan.
3.
Mengadakan sesi evaluasi bersama untuk menilai
efektivitas metode serta merumuskan pengembangan teknologi ke depan
Sesi evaluasi bersama dilaksanakan dengan melibatkan
petani pengguna, kelompok tani, perangkat desa, dan tim fasilitator. Forum ini
menjadi ruang refleksi untuk menilai sejauh mana teknologi pengering efek rumah
kaca mampu menjawab permasalahan pascapanen cabai di Desa Kedungweru.
Dalam evaluasi dibahas berbagai aspek, seperti
kemudahan konstruksi, kapasitas produksi, kendala teknis selama pengoperasian,
serta perubahan pendapatan petani setelah penggunaan alat. Petani juga didorong
untuk menyampaikan ide pengembangan lebih lanjut, seperti integrasi kipas
bertenaga surya untuk meningkatkan sirkulasi udara, penambahan termometer
digital, atau pengembangan unit pengering skala lebih besar untuk kapasitas
kelompok.
Evaluasi ini memastikan bahwa teknologi tidak berhenti
pada tahap demonstrasi, tetapi berkembang sesuai kebutuhan dan dinamika
lapangan (McLain,
2021). Selain itu, diskusi bersama membuka peluang pembentukan unit usaha
bersama berbasis cabai kering, sehingga teknologi ERK tidak hanya meningkatkan
kualitas produk, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa.
Melalui pendampingan yang terstruktur, monitoring
berbasis indikator terukur, serta evaluasi partisipatif, implementasi pengering
efek rumah kaca di Desa Kedungweru tidak hanya
meningkatkan efisiensi pascapanen, tetapi juga membangun fondasi kemandirian
ekonomi desa berbasis energi surya dan teknologi tepat guna. Model ini
berpotensi direplikasi pada komoditas hortikultura lain untuk memperluas dampak
transformasi sistem pangan yang berkelanjutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan
kegiatan introduksi teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) pada komoditas
cabai di Desa Kedungweru menghasilkan sejumlah temuan penting yang menunjukkan
potensi signifikan dalam meningkatkan nilai tambah produk hortikultura dan
memperkuat ketahanan pascapanen masyarakat desa. Hasil kegiatan ini dirumuskan
dalam empat aspek utama, yaitu: (1) peningkatan kapasitas teknis dan kesadaran
masyarakat, (2) efisiensi waktu dan stabilitas proses pengeringan, (3)
peningkatan mutu dan nilai ekonomi produk cabai kering, serta (4) keberlanjutan
dan potensi replikasi kegiatan.
Peningkatan
Kapasitas Teknis dan Kesadaran Masyarakat
Penerapan
teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) di Desa Kedungweru memberikan
dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas teknis dan kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan pascapanen cabai. Sebelum kegiatan dilaksanakan,
mayoritas petani memandang proses pengeringan sebagai aktivitas tambahan yang
bersifat konvensional dan tidak memerlukan standar teknis tertentu. Pengeringan
dilakukan sekadar untuk memperpanjang umur simpan tanpa mempertimbangkan aspek
mutu, higienitas, konsistensi kadar air, maupun potensi nilai tambah produk (Fathi et al., 2022).
Gambar 1.
Peningkatan kapasitas teknis dan kesadaran masyarakat melalui pelatihan dan
demonstrasi pengering Efek Rumah Kaca (ERK)
Melalui
rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan demonstrasi lapangan, terjadi
transformasi pemahaman yang cukup mendasar. Petani mulai memahami bahwa
pengeringan merupakan tahapan kritis dalam rantai nilai (value chain)
komoditas cabai, yang berpengaruh langsung terhadap kualitas produk akhir, daya
saing pasar, dan stabilitas pendapatan. Materi pelatihan yang menekankan
standar kadar air aman simpan (<10%), pengaruh suhu terhadap warna dan
kandungan nutrisi, serta risiko kontaminasi pada penjemuran terbuka memberikan
perspektif baru bahwa mutu produk dapat dikendalikan melalui teknologi yang
tepat. Peningkatan kapasitas teknis terlihat dari kemampuan petani dalam:
1.
Memahami prinsip kerja efek rumah kaca dan mekanisme
akumulasi panas di ruang tertutup.
2.
Mengukur suhu dan memantau proses pengeringan secara
periodik.
3.
Mengidentifikasi tingkat kekeringan cabai secara lebih
objektif, tidak hanya berdasarkan persepsi visual.
4.
Mengatur tata letak dan ketebalan penyusunan cabai
agar distribusi panas merata.
Selain
peningkatan keterampilan teknis, terjadi pula peningkatan kesadaran kolektif
mengenai pentingnya kebersihan dan standarisasi proses. Petani mulai menyadari
bahwa pengeringan terbuka rentan terhadap debu, serangga, dan kontaminan lain
yang dapat menurunkan mutu dan harga jual produk. Dengan penggunaan ERK yang
bersifat tertutup dan lebih higienis, kualitas visual dan keamanan produk
menjadi lebih terjamin.
Partisipasi
aktif petani selama sesi diskusi dan praktik menunjukkan adanya perubahan pola
pikir yang progresif. Diskusi kelompok tidak hanya membahas aspek teknis
pengeringan, tetapi juga strategi pemasaran dan pengelolaan produksi. Petani
mulai mempertimbangkan skenario pengolahan cabai segar menjadi cabai kering
ketika harga pasar turun, sehingga produk tidak harus dijual dalam kondisi
merugi. Hal ini menunjukkan berkembangnya kemampuan perencanaan produksi dan
manajemen risiko usaha tani.
Transformasi
kesadaran ini juga tercermin dari munculnya inisiatif lokal. Beberapa anggota
kelompok tani mulai mengusulkan pembentukan unit usaha bersama untuk produksi
cabai kering berkualitas premium. Ada pula diskusi mengenai kemungkinan
pengemasan ulang dan pelabelan produk untuk meningkatkan daya tarik pasar.
Perubahan ini menandakan bahwa teknologi ERK tidak hanya meningkatkan
keterampilan teknis, tetapi juga memicu tumbuhnya jiwa kewirausahaan (agropreneurship)
di tingkat desa.
Secara
sosial, peningkatan kapasitas ini memperkuat kohesi kelompok tani. Proses
belajar bersama dan praktik kolaboratif dalam pembangunan serta pengoperasian
pengering menciptakan rasa kepemilikan kolektif terhadap teknologi. Hal ini
penting dalam hal keberlanjutan, karena adopsi teknologi tidak lagi bersifat
individual, melainkan menjadi bagian dari sistem produksi desa secara
bersama-sama.
Dengan demikian, peningkatan kapasitas teknis dan kesadaran masyarakat tidak hanya terlihat dari kemampuan mengoperasikan alat, tetapi juga dari perubahan paradigma dalam pengelolaan pascapanen. Masyarakat mulai memandang pengeringan sebagai strategi peningkatan nilai tambah dan stabilitas ekonomi, bukan sekadar proses pengawetan. Transformasi ini menjadi fondasi penting bagi penguatan ketahanan ekonomi desa berbasis teknologi tepat guna dan energi terbarukan.
Efisiensi
Waktu dan Stabilitas Proses Pengeringan
Salah
satu dampak paling signifikan dari penerapan pengering Efek Rumah Kaca (ERK) di
Desa Kedungweru adalah peningkatan efisiensi waktu
pengeringan serta stabilitas kondisi termal selama proses berlangsung.
Berdasarkan hasil pengukuran lapangan menggunakan termometer digital dan
higrometer sederhana, suhu di dalam ruang ERK tercatat meningkat rata-rata
10–20°C lebih tinggi dibanding suhu lingkungan luar pada kondisi radiasi
matahari optimal. Pada siang hari dengan intensitas matahari tinggi, suhu ruang
pengering dapat mencapai kisaran 50–60°C, sementara suhu lingkungan berada pada
kisaran 32–35°C.
Gambar 2. Perbandingan suhu ruang dan waktu pengeringan cabai antara metode penjemuran terbuka dan pengering Efek Rumah Kaca (ERK)
Peningkatan
suhu ini terjadi karena radiasi matahari yang masuk melalui plastik UV
transparan terperangkap di dalam ruang tertutup, sehingga energi panas
terakumulasi dan meningkatkan laju evaporasi air dari jaringan cabai. Kondisi
suhu yang lebih tinggi dan relatif stabil mempercepat difusi uap air dari
permukaan bahan ke udara sekitar. Selain itu, sistem ventilasi alami yang
dirancang pada bagian atas dan samping pengering membantu menjaga sirkulasi
udara panas, mencegah kondensasi berlebih, serta menjaga kelembaban relatif
ruang tetap berada pada kisaran optimal untuk pengeringan.
Sebelum
penggunaan ERK, proses pengeringan dengan metode penjemuran terbuka membutuhkan
waktu 4–6 hari pada musim kemarau dan dapat mencapai lebih dari 7 hari pada
kondisi cuaca kurang mendukung. Ketergantungan penuh pada kondisi cuaca
menyebabkan ketidakpastian proses, terutama ketika terjadi hujan mendadak yang
mengharuskan petani memindahkan cabai secara manual ke tempat terlindung.
Proses pengeringan yang terputus-putus ini sering memicu fermentasi tidak
terkendali dan pertumbuhan mikroorganisme.
Setelah
penerapan ERK, waktu pengeringan dapat dipersingkat menjadi rata-rata 2–3 hari
dengan kadar air akhir yang lebih konsisten (<10%). Penurunan waktu
pengeringan ini berkisar antara 40–60% dibanding metode konvensional. Selain
percepatan waktu, stabilitas suhu di dalam ruang pengering juga mengurangi
fluktuasi kelembaban bahan selama proses berlangsung. Cabai mengalami proses
pengeringan yang lebih seragam, baik pada bagian atas maupun bawah rak,
sehingga tingkat kekeringan produk menjadi lebih homogen.
Efisiensi
waktu ini berdampak langsung pada penurunan kehilangan hasil (postharvest
losses). Pada metode penjemuran terbuka, kehilangan hasil akibat
pembusukan, serangan jamur, dan kerusakan fisik diperkirakan mencapai 20–30%,
terutama saat produksi melimpah dan ruang penjemuran terbatas. Dengan ERK,
kehilangan hasil dapat ditekan hingga di bawah 10%, karena proses berlangsung
lebih cepat dan bahan terlindungi dari hujan, debu, serta kontaminasi
eksternal.
Selain
menekan kehilangan hasil, stabilitas proses juga meningkatkan kepastian
produksi. Petani dapat memperkirakan durasi pengeringan dengan lebih akurat
sehingga mampu menyusun jadwal panen dan pengolahan secara lebih terencana.
Kepastian ini penting dalam manajemen rantai pasok (supply chain), karena
ketersediaan produk cabai kering menjadi lebih konsisten dan tidak bergantung
sepenuhnya pada kondisi cuaca.
Dari perspektif efisiensi energi, teknologi ERK juga tidak memerlukan tambahan bahan bakar atau listrik eksternal, sehingga biaya operasional relatif rendah. Energi matahari sebagai sumber utama menjadikan sistem ini ramah lingkungan dan sejalan dengan prinsip dekarbonisasi sistem pangan (Nikolaidis, 2023). Dengan demikian, efisiensi waktu dan stabilitas proses pengeringan tidak hanya meningkatkan produktivitas teknis, tetapi juga memperkuat keberlanjutan ekonomi dan lingkungan dalam sistem pascapanen cabai di Desa Kedungweru.
Peningkatan
Mutu dan Nilai Ekonomi Cabai Kering
Peningkatan
mutu produk cabai kering merupakan salah satu indikator utama keberhasilan
penerapan teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) di Desa Kedungweru. Sebelum kegiatan
dilaksanakan, cabai kering hasil penjemuran terbuka sering menunjukkan variasi
warna yang tidak seragam, sebagian cenderung kusam atau kecokelatan akibat
paparan sinar matahari langsung yang berlebihan dan fluktuasi suhu yang tidak
terkontrol. Selain itu, proses pengeringan yang lama meningkatkan risiko
degradasi pigmen karotenoid dan kapsantin yang berperan dalam memberikan warna
merah cerah pada cabai.
Gambar 3. Perbandingan mutu visual dan nilai ekonomi cabai kering hasil penjemuran terbuka dan pengering Efek Rumah Kaca (ERK)
Setelah
penggunaan ERK, terjadi perbaikan mutu visual yang signifikan. Cabai kering
memiliki warna merah lebih cerah dan relatif seragam, yang menunjukkan bahwa
proses pengeringan berlangsung pada suhu yang lebih stabil dan tidak terlalu
ekstrem. Stabilitas suhu di dalam ruang ERK (kisaran 50–60°C) membantu menjaga
integritas pigmen alami tanpa menyebabkan kerusakan termal berlebihan. Warna
yang lebih cerah ini menjadi daya tarik utama dalam pasar, karena secara visual
diasosiasikan dengan kualitas dan kesegaran bahan baku.
Dari
sisi kebersihan dan keamanan pangan, penggunaan sistem tertutup pada ERK
mengurangi paparan langsung terhadap debu, serangga, dan kontaminan lingkungan
lainnya. Pada metode penjemuran terbuka, kontaminasi silang sering terjadi
akibat hewan kecil atau partikel debu yang menempel selama proses pengeringan.
Dengan ERK, risiko tersebut berkurang secara signifikan, sehingga produk lebih
higienis dan memiliki potensi lebih besar untuk memenuhi standar keamanan
pangan.
Pengukuran
kadar air menunjukkan hasil yang lebih konsisten di bawah 10%, yang merupakan
ambang batas aman untuk mencegah pertumbuhan jamur dan aktivitas mikroba.
Konsistensi kadar air ini penting karena kadar air yang terlalu tinggi
(>12%) berisiko memicu pertumbuhan kapang dan aflatoksin selama penyimpanan.
Dengan kadar air yang lebih stabil, umur simpan cabai kering meningkat, dari
sebelumnya sekitar 1–2 bulan menjadi lebih dari 3–4 bulan tanpa penurunan mutu
yang signifikan. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi petani dalam menentukan
waktu penjualan sesuai kondisi harga pasar.
Peningkatan
mutu ini secara langsung berdampak pada peningkatan nilai ekonomi produk.
Berdasarkan wawancara dan pencatatan transaksi, harga jual cabai kering hasil
ERK meningkat sebesar 25–35% dibandingkan cabai kering hasil penjemuran
terbuka. Peningkatan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
konsistensi mutu, warna lebih menarik, tingkat kekeringan merata, serta
kepercayaan pembeli terhadap kualitas produk yang lebih higienis.
Selain
peningkatan harga satuan, dampak ekonomi juga terlihat pada stabilisasi
pendapatan petani. Pada saat harga cabai segar turun drastis akibat panen raya,
petani memiliki alternatif untuk mengolah hasil panen menjadi cabai kering dan
menyimpannya hingga harga membaik. Strategi ini berfungsi sebagai mekanisme
mitigasi risiko harga (price risk management) yang sebelumnya tidak dimiliki
petani. Dengan demikian, fluktuasi harga cabai segar tidak lagi sepenuhnya
menentukan tingkat pendapatan rumah tangga.
Diversifikasi
produk juga mulai berkembang sebagai dampak lanjutan dari peningkatan mutu.
Beberapa petani mulai mempertimbangkan produksi cabai bubuk dan cabai kering
kemasan skala kecil sebagai produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi ERK tidak hanya meningkatkan kualitas fisik
produk, tetapi juga membuka peluang pengembangan agribisnis lokal berbasis
pascapanen.
Peningkatan mutu dan nilai ekonomi cabai kering menunjukkan bahwa teknologi pengering efek rumah kaca mampu mengintervensi dua aspek sekaligus, yaitu aspek teknis (quality improvement) dan aspek ekonomi (value addition). Integrasi kedua aspek ini memperkuat daya saing produk hortikultura desa dan berkontribusi pada ketahanan ekonomi rumah tangga petani secara berkelanjutan.
Keberlanjutan
dan Potensi Replikasi Kegiatan
Keberlanjutan
kegiatan introduksi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) di Desa Kedungweru tercermin
dari meningkatnya inisiatif masyarakat dalam mengembangkan dan memperluas
pemanfaatan teknologi secara mandiri. Setelah tahap pendampingan dan
monitoring, beberapa anggota kelompok tani mulai melakukan perbaikan serta
penyesuaian desain secara swadaya, termasuk memperbesar kapasitas rak pengering
dan memperkuat struktur rangka agar lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya diterima, tetapi telah
diinternalisasi sebagai bagian dari sistem produksi desa.
Gambar 4. Model keberlanjutan
dan replikasi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) dalam penguatan ekonomi dan
kelembagaan desa
Salah
satu faktor utama yang mendukung keberlanjutan kegiatan adalah kesederhanaan
desain dan penggunaan bahan konstruksi lokal, seperti kayu, bambu, dan plastik
UV yang mudah diperoleh di pasaran. Biaya investasi awal relatif terjangkau dan
tidak diikuti oleh biaya operasional rutin yang tinggi, karena sistem tidak
memerlukan bahan bakar tambahan maupun energi listrik eksternal. Energi
matahari sebagai sumber utama menjadikan teknologi ini berbiaya operasional
hampir nol (low operating cost), sekaligus mendukung prinsip pertanian rendah
emisi (low carbon agriculture).
Dari
perspektif kelembagaan, penguatan kelompok tani menjadi aspek penting dalam
menjaga keberlanjutan. Diskusi internal kelompok mulai mengarah pada
pembentukan unit usaha bersama (collective agro-enterprise) berbasis
produksi cabai kering. Konsep usaha bersama ini mencakup pembagian jadwal
penggunaan pengering, sistem pencatatan produksi, serta rencana pengemasan dan
pemasaran kolektif. Penguatan kelembagaan ini meningkatkan posisi tawar petani
dalam rantai pasar dan membuka peluang untuk penetrasi ke pasar yang lebih
luas.
Lebih
lanjut, muncul gagasan diversifikasi produk turunan seperti cabai bubuk, cabai
kering kemasan berlabel, hingga sambal kering siap konsumsi. Diversifikasi ini
merupakan indikasi bahwa teknologi ERK tidak hanya meningkatkan efisiensi
teknis, tetapi juga mendorong transformasi dari produksi primer menuju
pengolahan bernilai tambah. Transformasi ini sejalan dengan pendekatan
pengembangan ekonomi desa berbasis hilirisasi produk pertanian.
Dari
sisi ekonomi, keberlanjutan juga didukung oleh adanya peningkatan margin
keuntungan yang cukup signifikan. Dengan penurunan kehilangan hasil dan
peningkatan harga jual, periode pengembalian investasi (payback period)
untuk pembangunan satu unit ERK relatif singkat. Estimasi sederhana menunjukkan
bahwa biaya konstruksi dapat kembali dalam 1–2 musim panen, tergantung
kapasitas produksi dan volume penjualan. Hal ini memperkuat motivasi petani
untuk mengembangkan unit tambahan secara mandiri.
Keberhasilan
implementasi di Desa Kedungweru juga menarik
perhatian desa-desa sekitar yang memiliki karakteristik agroklimat dan produksi
cabai serupa. Beberapa perangkat desa dan kelompok tani dari wilayah tetangga
telah melakukan kunjungan belajar (benchmarking visit) untuk melihat
langsung operasional pengering ERK. Dengan tersedianya dokumentasi desain
teknis, modul pelatihan, dan panduan operasional yang telah disusun secara
sistematis, model ini memiliki potensi tinggi untuk direplikasi pada skala yang
lebih luas.
Potensi
replikasi tidak hanya terbatas pada komoditas cabai, tetapi juga dapat
diperluas ke komoditas hortikultura lain seperti bawang merah, tomat, ikan
asin, atau rempah-rempah yang memerlukan proses pengeringan. Fleksibilitas
desain ERK memungkinkan adaptasi kapasitas dan konfigurasi sesuai kebutuhan
komoditas dan volume produksi masing-masing desa.
Berdasarkan
perspektif keberlanjutan jangka panjang, kegiatan ini juga berkontribusi
terhadap penguatan ketahanan pangan desa. Dengan kemampuan menyimpan cabai
dalam bentuk kering dalam jangka waktu lebih lama, desa memiliki cadangan
produk yang dapat dimanfaatkan saat terjadi gangguan pasokan atau lonjakan
harga. Selain itu, pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi utama
mendukung transisi menuju sistem pangan berbasis energi terbarukan yang lebih
ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Introduksi
pengering efek rumah kaca berbasis energi surya tidak hanya meningkatkan
efisiensi pascapanen dan mutu produk, tetapi juga membangun fondasi
kelembagaan, ekonomi, dan lingkungan yang lebih kuat di tingkat desa. Kegiatan
ini menjadi contoh konkret bahwa teknologi tepat guna berbasis energi
terbarukan dapat berfungsi sebagai instrumen strategis dalam mendorong
transformasi sistem pangan desa menuju model yang lebih tangguh, adaptif, dan
bernilai tambah tinggi.
SIMPULAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang
mengintroduksi teknologi pengering Efek Rumah Kaca (ERK) pada komoditas cabai
di Desa Kedungweru telah
berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan efisiensi pascapanen, mutu
produk, serta nilai tambah ekonomi di tingkat petani. Teknologi ini terbukti
mampu mengatasi permasalahan klasik berupa ketergantungan terhadap cuaca,
tingginya kehilangan hasil, serta rendahnya stabilitas harga akibat fluktuasi
pasar cabai segar.
Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya
percepatan waktu pengeringan sebesar 40–60% dibanding metode penjemuran
terbuka, peningkatan suhu ruang pengering yang lebih stabil (10–20°C lebih
tinggi dari suhu lingkungan), serta penurunan kehilangan hasil dari kisaran
20–30% menjadi di bawah 10%. Selain itu, kadar air cabai kering yang lebih
konsisten di bawah 10% berkontribusi terhadap peningkatan umur simpan hingga
3–4 bulan tanpa penurunan mutu yang signifikan. Peningkatan mutu visual,
kebersihan produk, dan konsistensi kualitas berdampak langsung pada kenaikan
harga jual sebesar 25–35% dibandingkan metode konvensional.
Lebih jauh, kegiatan ini tidak hanya memberikan
dampak teknis, tetapi juga mendorong transformasi pola pikir masyarakat dari
sekadar menjual hasil panen menjadi mengelola dan mengolah produk untuk
meningkatkan nilai tambah. Pendekatan partisipatif dalam pelatihan, demonstrasi,
dan pendampingan memperkuat kapasitas teknis serta membangun kesadaran kolektif
mengenai pentingnya manajemen pascapanen yang terstandar. Munculnya inisiatif
pembentukan unit usaha bersama dan rencana diversifikasi produk turunan menunjukkan
adanya penguatan kelembagaan ekonomi desa.
Keberlanjutan kegiatan didukung oleh desain
teknologi yang sederhana, biaya operasional rendah, serta pemanfaatan energi
surya sebagai sumber energi utama yang ramah lingkungan. Model pengering ERK
yang telah diimplementasikan berpotensi direplikasi pada desa-desa lain dengan
karakteristik produksi hortikultura serupa, serta dapat dikembangkan lebih
lanjut melalui integrasi pengemasan, branding produk, dan pemasaran berbasis
digital.
Introduksi pengering efek rumah kaca berbasis energi surya menjadi contoh nyata bahwa teknologi tepat guna dapat berfungsi sebagai instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan pascapanen, meningkatkan daya saing produk hortikultura, serta membangun sistem ekonomi desa yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Masyarakat dan Pemerintah Desa Kedungweru Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah.
REFERENSI
Ajuebor, F., Aworanti, O. A., Agbede, O. O., Agarry, S. E., Afolabi, T.
J., & Ogunleye, O. O. (2022). Drying process optimization and modelling the
drying kinetics and quality attributes of dried chili pepper (Capsicum
frutescens L.). Trends in Sciences, 19(17), 5752-5752.
Barzigar, A., Hosseinalipour, S. M., & Mujumdar, A. S. (2025). Toward
sustainable post-harvest practices: A critical review of solar and
wind-assisted drying of agricultural produce with integrated thermal storage
systems. Drying Technology, 43(10), 1463-1494.
Connor, M., de Guia, A. H., Pustika, A. B., Sudarmaji, Kobarsih, M.,
& Hellin, J. (2021). Rice farming in central Java, Indonesia—adoption of
sustainable farming practices, impacts and implications. Agronomy, 11(5), 881.
Dangi, J. C., & Yadav, S. K. (2025). Strengthening Rural Communities
with Participatory Extension Models. New Frontiers in Agricultural Extension
Strategies, 107.
Djamalu, Y. (2024). Perbandingan Desain Pengering Berbasis Efek Rumah
Kaca Variasi Cerobong Penghawaan: Implementasi Pada Masyarakat Lokal. Journal
Of Renewable Energy Engineering, 2(2), 82-89.
Fathi, F., N. Ebrahimi, S., Matos, L. C., PP Oliveira, M. B., &
Alves, R. C. (2022). Emerging drying techniques for food safety and quality: A
review. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 21(2),
1125-1160.
Fiza, N., Nazir, N., & Tanjung, F. (2025). Local Food Diversification
as a Pillar of Sustainable Food Development: A Critical Review of Global and
Local Perspectives. AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community
Development and Empowerment), 9(2), 270-279.
Jeksen, E. E., & Sari, D. (2022). Analisis Prospek Peningkatan
Produksi Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Di Indonesia (Production Increase
Prospect Analysis of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) in Indonesia). Available
at SSRN 4285742.
Lake, Y., Aziz, S., & Amleni, W. (2025). Strategi Pemasaran Dalam
Meningkatkan Penjualan Cabai Petani Di Kabupaten Timur Tengah Utara. Jurnal
Manajemen Bisnis Dan Organisasi, 4(2), 462-471.
McLain, M. (2021). Developing perspectives on ‘the demonstration’as a
signature pedagogy in design and technology education. International Journal
of Technology and Design Education, 31(1), 3-26.
Nikolaidis, P. (2023). Solar energy harnessing technologies towards
de-carbonization: A systematic review of processes and systems. Energies,
16(17), 6153.
Pella, B. J. J. S. (2024). Pengaruh Ketahanan Pangan Terhadap Inflasi
Khususnya Produk Cabai. Akubis: Jurnal Akuntansi dan Bisnis, 9(1),
01-08.
Ropiudin, R., & Syska, K. (2023). Green manufacturing for rural tofu
SMEs to increase global competitiveness: Case study in tofu industry center,
Banyumas Regency, Central Java. Jurnal Agricultural Biosystem Engineering,
2(1), 168-179.
Suarez, A., GarcÃa-Costa, D., Perez, J., López-Iñesta, E., Grimaldo, F.,
& Torres, J. (2023). Hands-on learning: Assessing the impact of a mobile
robot platform in engineering learning environments. Sustainability, 15(18),
13717.
Susanto, A., Syska, K., Ropiudin, R., Nurhayati, A. D., Istiqomah, K.,
Aulia, R., Hakim, A.L., Estiningrum, D.P., Maskuri, K., Najib, A.A., &
Insani, C. (2024). Karakteristik Nugget Ikan Yang Diperkaya Dengan Daun
Beluntas (Pluchea indica L.) Sebagai Pangan Fungsional. Jurnal Agritechno,
59-68.
Syska, K. & Nurhayati, A. D. (2023). Characteristics and Antioxidant
Activity of Dried Purwoceng (Pimpinella Alpina Molk) as Functional Food to
Increase Body Immune. Journal Basic Science and Technology, 12(1), 1-11.
Syska, K. (2022a). Peningkatan Daya Saing Melalui Penerapan Pengering
Hemat Energi Pada Umkm Gula Kelapa Kristal Sari Manggar, Banyumas Jawa Tengah. Aptekmas
Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, 5(4), 164-172.
Syska, K. (2022b). Penerapan" Green Technology" berbasis
Teknologi Hibrida Pengupas dan Pemipil Jagung Berenergi Surya untuk
Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing. Aptekmas Jurnal Pengabdian pada
Masyarakat, 5(4), 155-163.
Syska, K., & Ropiudin, R. (2023). Karakteristik Pengeringan Dan Mutu
Hedonik Gula Kelapa Kristal Menggunakan Pengering Tipe Rak Berputar Berenergi
Limbah Termal Dan Biomassa. Jurnal Agritechno, 19-28.
Syska, K., Ropiudin, R., Soolany, C., Budiyah, B., Siswantoro, S.,
Margiwiyatno, A., & Priswanto, P.
(2024). Introduksi Konsep “Green Food Technology” untuk Meningkatkan
Daya Saing dan Pembangunan Berkelanjutan di Desa. Nanggroe: Jurnal
Pengabdian Cendikia, 3(9), 18-31.
Takari, D., & Subagio, M. S. (2025). Ekonomi Pembangunan Desa dan
Agroekoteknologi: Sinergi Kemandirian dan Keberlanjutan Desa. Deepublish.
Yogita, R. J., Prajapati, C. S., Roy, S., Abrol, P., Khan Chand, A. K.,
& Darbha, S. (2024). Extension strategies to promote post-harvest
management and value addition: A review. horticulture, 50,
577-587.
No comments
Post a Comment