Wednesday, April 29, 2026

Analisis Komparatif Ayat-Ayat Tumbuhan Perspektif Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI

Comparative Analysis of Plant-Related Verses from the Perspectives of Agus Purwanto and the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kemenag RI) Tafsir

Comparative Analysis of Plant-Related Verses from the Perspectives of Agus Purwanto and the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kemenag RI) Tafsir | Najil | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Fahmi Ilmi Najil1, Abdul Muhaimin2

Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas KH Abdul Chalim, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia

Email: fahmiilminajil6@gmail.com

 

Abstrak

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penafsiran Al-Qur'an yang relevan dengan zamannya. Sebagaimana diyakini umat Islam, Al-Qur'an bersifat shalih fii kulli zaman wa makan—relevan untuk setiap waktu dan tempat. Al-Qur'an tidak hanya memuat ayat-ayat ibadah, tetapi juga menyebutkan tumbuhan secara eksplisit sebagai bukti kekuasaan Allah dan sumber manfaat bagi makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan, serta menemukan persamaan dan perbedaan di antara keduanya. Metode yang digunakan adalah kualitatif-komparatif (muqaran) dengan pendekatan kepustakaan. Sumber primer berupa karya Agus Purwanto (Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta) dan Al-Qur'an dan Tafsirnya edisi Kemenag RI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya menjelaskan fungsi dan manfaat tumbuhan secara ilmiah, menggunakan bahasa Indonesia, dan merenungi nikmat Allah. Perbedaan terletak pada cakupan ayat yang ditafsirkan—Agus Purwanto berfokus pada Q.S. Al-Insan: 17 (jahe), sementara Tafsir Kemenag RI menafsirkan lebih banyak ayat—serta perbedaan dalam menafsirkan rasa dan asal-usul jahe.

Kata Kunci: Tumbuhan, Agus Purwanto, Tafsir Kemenag RI, Tafsir Ilmi, Komparatif

Abstract

The advancement of science and technology demands interpretation of the Qur'an that remains relevant to contemporary times. As Muslims believe, the Qur'an is shalih fii kulli zaman wa makan—relevant for every time and place. The Qur'an not only contains verses of worship but also explicitly mentions plants as evidence of Allah's power and as sources of benefit for all living beings. This study aims to comparatively analyze the interpretations of Agus Purwanto and the Kemenag RI Tafsir regarding plant-related verses, as well as to identify their similarities and differences. The method used is qualitative-comparative (muqaran) with a library research approach. Primary sources include Agus Purwanto's works (Ayat-Ayat Semesta and Nalar Ayat-Ayat Semesta) and the Al-Qur'an dan Tafsirnya by Kemenag RI. The results show that both explain the functions and benefits of plants scientifically, use the Indonesian language, and reflect on Allah's blessings. Differences lie in the scope of verses interpreted—Agus Purwanto focuses on Q.S. Al-Insan: 17 (ginger), while the Kemenag RI Tafsir covers more verses—as well as differences in interpreting the taste and origin of ginger.

Keywords: Plants, Agus Purwanto, Kemenag RI Tafsir, Scientific Tafsir, Comparative

 

Article Info

Received date: 10 April  2026                                 Revised date: 20 April 2026                                   Accepted date: 28 April  2026

 

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era modern ini telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memahami alam semesta dan kitab-kitab suci agama. Dalam konteks Islam, kemajuan ini mendorong para ulama dan ilmuwan Muslim untuk membaca Al-Qur'an dengan kacamata yang lebih luas dan mendalam, terutama yang berkaitan dengan ayat-ayat kauniyah (ayat-ayat alam semesta). Sebagaimana diyakini oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia, Al-Qur'an bersifat shalih fii kulli zaman wa makan, yakni relevan untuk setiap waktu dan tempat (Mustaqim, 2014). Keyakinan inilah yang menjadi faktor utama yang mendorong para ulama untuk terus melahirkan karya-karya baru dalam bidang tafsir (Nazifah, 2021).

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin banyak fakta yang ditemukan di dalam Al-Qur'an yang terbukti kebenarannya secara ilmiah. Mulai dari berbagai fenomena alam, proses penciptaan makhluk hidup, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan dunia tumbuhan dan hewan. Al-Qur'an bukan hanya berisi ayat-ayat tentang ibadah dan hukum semata, tetapi juga memuat kandungan yang berkaitan dengan sains, termasuk di dalamnya adalah pembahasan mengenai tumbuhan secara eksplisit (Zannah, 2023). Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an sesungguhnya merupakan kitab yang komprehensif dan tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan saja. Para penafsir Al-Qur'an dari masa ke masa telah mengubah pendekatan dan corak penafsiran mereka sesuai dengan perkembangan zaman dan disiplin ilmu yang mereka kuasai. Pada era modern, genre tafsir ilmi (tafsir ilmiah) semakin berkembang pesat, di mana para mufasir berusaha mempertemukan antara teks-teks Al-Qur'an dengan fakta-fakta ilmiah yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern (Daneshgar, 2023). Pendekatan ini menjadikan penafsiran Al-Qur'an lebih sistematis dan relevan, sekaligus memperkuat keyakinan umat Islam terhadap kebenaran dan kemukjizatan Al-Qur'an (Fangesty dkk., 2024).

Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan berbagai jenis tumbuhan sebagai bukti kekuasaan Allah SWT dan sebagai perumpamaan untuk menyampaikan hikmah kepada manusia. Menurut Sayyed Abdul Satar Al-Miliji dalam tafsir tematik Pelestarian Lingkungan Hidup yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, terdapat tidak kurang dari 115 ayat Al-Qur'an yang secara langsung maupun tidak langsung membahas tentang tumbuhan dari berbagai sudut pandang (Kemenag RI, 2012). Jumlah yang sangat besar ini menunjukkan betapa Al-Qur'an memberikan perhatian yang serius terhadap dunia tumbuhan, dan sekaligus menjadi dorongan kuat bagi para ulama untuk mengkaji secara mendalam ayat-ayat tersebut. Beberapa tumbuhan yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an di antaranya adalah kurma (Q.S. Yasin: 34), anggur (Q.S. Al-An'am: 99), jahe (Q.S. Al-Insan: 17), pisang (Q.S. Al-Waqi'ah: 29), delima (Q.S. Al-An'am: 141), bawang (Q.S. Al-Baqarah: 61), dan mentimun (Q.S. Al-Baqarah: 61). Penyebutan nama-nama tumbuhan ini bukan tanpa sebab dan tujuan, melainkan mengandung hikmah dan pesan ilmiah yang sangat mendalam (Rifaanudin & Hibban, 2022). Ilmu yang secara khusus mempelajari tumbuhan disebut botani, yang merupakan cabang dari ilmu biologi (Fauzan, 2015).

Fenomena kelalaian dan pengabaian terhadap ilmu pengetahuan di dunia Islam telah menjadi persoalan serius yang disorot oleh banyak cendekiawan Muslim. Agus Purwanto, dalam karyanya yang monumental, sependapat dengan Syaikh Thanthawi yang menyatakan bahwa ulama dan umat Islam selama ini masih terlalu terpusat perhatiannya pada masalah fiqh, sementara ayat-ayat kauniyah yang jumlahnya sangat banyak justru sering diabaikan (Purwanto, 2015). Menurut Agus Purwanto, ayat-ayat hukum hanya mencakup sekitar seperlima dari keseluruhan ayat kauniyah, namun energi dan perhatian para ulama hampir seluruhnya tersedot ke bidang fiqh. Di sisi lain, sains sebagai manifestasi dari ayat-ayat kauniyah tidak dianggap memiliki peran dalam menentukan nasib seseorang di akhirat, sehingga jarang dibahas dalam konteks keagamaan. Agus Purwanto, seorang doktor fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menyelesaikan program S3-nya di Universitas Hiroshima, Jepang, menawarkan pendekatan yang segar dan berbeda dalam menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan alam semesta, termasuk tumbuhan. Ia berpendapat bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah perlu melibatkan perspektif ilmiah agar agama dan sains dapat saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain (Purwanto, 2015).

Dalam karya-karyanya yang berjudul Ayat-Ayat Semesta (2008) dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (2015), Agus Purwanto mengklasifikasikan ayat-ayat kauniyah dari A sampai Z, mulai dari surat Al-Fatihah hingga An-Nas, yang berjumlah 800 ayat. Salah satu ayat yang mendapat perhatian khusus dalam analisisnya adalah Q.S. Al-Insan ayat 17 yang membahas jahe sebagai minuman surga. Di sisi lain, Tafsir Kemenag RI hadir sebagai karya monumental yang lahir dari rahim para ulama Indonesia yang bergabung dalam tim Kementerian Agama RI. Kehadiran tafsir berbahasa Indonesia ini memberikan kontribusi besar dalam mempermudah pemahaman masyarakat Indonesia terhadap isi dan kandungan Al-Qur'an, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan bahasa Arab (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI berusaha menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur'an dengan pendekatan yang kontekstual dan relevan untuk kondisi masyarakat modern. Dengan demikian, tafsir ini tidak hanya berfungsi sebagai penjelas teks suci, tetapi juga sebagai panduan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penelitian komparatif ini, diharapkan dapat ditemukan keselarasan dan perbedaan antara pemahaman Agus Purwanto yang bercorak sains-fisika dengan pendekatan Tafsir Kemenag RI yang lebih bersifat kontekstual dan komprehensif. Perbandingan kedua perspektif ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik dan mendalam mengenai ayat-ayat tumbuhan dalam Al-Qur'an, serta mendorong pengembangan kajian tafsir ilmi di Indonesia. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjembatani antara dunia sains dan agama, menunjukkan bahwa keduanya tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dalam membentuk pemahaman manusia tentang alam dan ciptaan Allah SWT. Signifikansi penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengintegrasikan perspektif ilmuwan Muslim (Agus Purwanto) dengan perspektif institusi keagamaan resmi (Kemenag RI) dalam memahami ayat-ayat tumbuhan. Dengan mengetahui persamaan dan perbedaan keduanya, para akademisi, pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum dapat memperoleh wawasan yang lebih luas dan komprehensif tentang bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang tumbuhan dan relevansinya dengan ilmu pengetahuan modern. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Muslim lainnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi kandungan ilmiah yang tersembunyi di dalam ayat-ayat Al-Qur'an.

Batasan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada beberapa ayat yang secara eksplisit menyebutkan nama tumbuhan dalam Al-Qur'an, yaitu Q.S. Al-Insan ayat 17 (jahe/zanjabil), Q.S. Al-An'am ayat 99 (anggur, zaitun, delima), dan Q.S. Yasin ayat 34 (kurma dan anggur). Pemilihan ayat-ayat ini didasarkan pada kesesuaiannya dengan sumber primer yang digunakan, yakni karya Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara lain: pertama, skripsi Nur Fatmawati (mahasiswa IAIN Pekalongan) yang berjudul "Siklus Kehidupan Tumbuhan dalam Al-Qur'an: Perspektif Tafsir An-Nur Karya Hasbi Ash-Shiddieqy", yang membahas siklus kehidupan tumbuhan dalam Al-Qur'an melalui tafsir An-Nur. Kedua, artikel Mahmud Rifaanudin dan Muhammad Faishal Hibban (Universitas Darussalam Gontor) berjudul "Manfaat Tumbuhan dalam Al-Qur'an bagi Kesehatan" menggunakan pendekatan tafsir ilmi. Ketiga, skripsi Siti Jaronah (UIN Syarif Hidayatullah, 2020) berjudul "Tumbuhan sebagai Sumber Gizi dalam Tafsir Kementerian Agama" yang membahas kandungan gizi tumbuhan dalam Tafsir Kemenag. Keempat, skripsi Aisyah Fajar Putriartini yang membahas "Zaitun dan Jahe: Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Al-Qur'an dan Sains Modern". Kelima, skripsi Apriadi Fauzan (UIN Sunan Kalijaga) berjudul "Tumbuhan-Tumbuhan dan Buah-Buahan dalam Al-Qur'an". Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya terletak pada fokusnya yang membandingkan secara komparatif perspektif seorang ilmuwan fisika Muslim (Agus Purwanto) dengan perspektif institusi resmi keagamaan negara (Tafsir Kemenag RI) dalam menafsirkan ayat-ayat tumbuhan.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini merumuskan dua permasalahan utama yang menjadi fokus kajian, yaitu: Pertama, Bagaimana penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan dalam Al-Qur'an, khususnya Q.S. Al-Insan ayat 17, Q.S. Al-An'am ayat 99, dan Q.S. Yasin ayat 34?. Kedua, Bagaimana persamaan dan perbedaan penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan tumbuhan tersebut?. Kedua rumusan masalah ini merupakan inti dari penelitian komparatif yang dilakukan, sehingga seluruh pembahasan dalam artikel ini akan diarahkan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut secara mendalam dan komprehensif.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara menelaah dan menganalisis bahan-bahan pustaka atau sumber-sumber tertulis yang relevan dengan topik yang dikaji, berupa kitab, buku, jurnal, dan berbagai referensi lainnya (Zed, 2004). Pendekatan ini dipilih karena objek kajian penelitian ini adalah teks-teks tertulis berupa karya tafsir dan buku-buku ilmiah. Dalam kajian ilmu Al-Qur'an dan tafsir, penelitian ini menerapkan metode komparatif atau muqaran. Metode muqaran merupakan pendekatan penafsiran Al-Qur'an yang bersifat komparatif dengan membandingkan berbagai ayat suci, hadis Nabi, dan pendapat para ulama (Mustaqim, 2022). Elemen yang dibandingkan dapat berupa konsep, pemikiran, teori, atau metodologi. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi: (1) menetapkan tema yang akan dibahas; (2) mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dibandingkan; (3) menunjukkan kekhasan dari masing-masing pemikiran; (4) melakukan analisis secara komprehensif disertai argumentasi data; dan (5) merumuskan kesimpulan untuk menjawab masalah penelitian (Mustaqim, 2022).

Sumber data primer dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber utama: pertama, karya Agus Purwanto yang berjudul Ayat-Ayat Semesta: Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan (2015) dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (2015); kedua, Al-Qur'an dan Tafsirnya edisi yang disempurnakan oleh Kementerian Agama RI (2012). Sumber data sekunder meliputi buku-buku, jurnal ilmiah, skripsi, dan tesis yang membahas topik-topik yang relevan dengan penelitian ini (Yusuf, 2017). Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah teknik dokumentasi, yakni mengumpulkan data dari dokumen-dokumen tertulis seperti buku, kitab, jurnal, dan artikel yang relevan. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-komparatif: pertama, menginventarisasi dan menyeleksi data dari kedua sumber primer; kedua, mengkaji secara mendalam dengan pendekatan komprehensif; ketiga, melakukan analisis komparatif untuk menemukan persamaan dan perbedaan; serta keempat, menginterpretasikan hasil dan menyimpulkan temuan penelitian.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penafsiran Ayat-Ayat Tumbuhan Menurut Agus Purwanto

1. Q.S. Al-Insan Ayat 17 (Jahe/Zanjabil)

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا

"Dan di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe." (Q.S. Al-Insan: 17)

 

Kata yasqauna (يُسْقَوْنَ) adalah bentuk mabni majhul dari saqa-yasqi-saqyan yang berarti "memberi minum". Kata ka'sun (كَأْس) berarti gelas, mizajun (مِزَاج) berarti campuran, dan zanjabilun (زَنجَبِيل) adalah jahe (Purwanto, 2015). Yang menjadi titik perhatian utama Agus Purwanto bukanlah gambaran surga itu sendiri, melainkan mengapa jahe—dan bukan bahan lain—yang dipilih sebagai campuran minuman surga. Pertanyaan ini, menurut beliau, seharusnya menjadi tantangan ilmiah bagi para ilmuwan Muslim untuk menggali lebih dalam keistimewaan jahe. Agus Purwanto mempertanyakan: mengapa bukan kelapa muda, alpukat, jus lemon, atau cappuccino? Fakta bahwa Al-Qur'an secara spesifik menyebut jahe sebagai minuman surga menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki keistimewaan luar biasa yang belum sepenuhnya dipahami oleh ilmuwan Muslim (Purwanto, 2015).

Secara ilmiah, bahwa jahe (Zingiber officinale) mengandung senyawa aktif berupa gingerol dan minyak atsiri yang memberikan rasa pedas dan aroma khas sekaligus memiliki khasiat sebagai penguat tubuh, penangkal infeksi, dan pereda berbagai keluhan kesehatan. Jahe secara tradisional digunakan untuk mengatasi mual, asma, batuk, nyeri yang parah, gangguan jantung berdebar, gangguan pencernaan, hilangnya nafsu makan, dan muntah. Jahe bahkan dikenal memiliki kemampuan anti-pembekuan darah yang lebih baik dibandingkan bawang putih dan bawang merah, serta dapat menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah (Purwanto, 2015).

Dalam pembahasan tentang jahe memaparkan anggota keluarga jahe (Zingiberaceae) yang lain, yaitu kencur (Kaempferia galanga L.), temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), dan kunyit (Curcuma domestica). Ketiga tumbuhan ini juga memiliki khasiat yang sangat berguna bagi kesehatan manusia dan asli berasal dari Nusantara, khususnya temu lawak yang terbukti berasal dari Indonesia (Purwanto, 2015). Hal ini menegaskan dengan penuh keprihatinan bahwa penelitian intensif tentang jahe yang telah menghasilkan ratusan publikasi ilmiah sayangnya tidak dilakukan oleh ilmuwan Muslim yang terinspirasi dari petunjuk Al-Qur'an. Inilah yang menjadi motivasi beliau untuk mendorong para ilmuwan Muslim agar menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai landasan utama dalam penelitian mereka (Purwanto, 2015).

 

Penafsiran Ayat-Ayat Tumbuhan Menurut Tafsir Kemenag RI

1. Q.S. Yasin Ayat 34 (Kurma dan Anggur)

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

"Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air." (Q.S. Yasin: 34)

Menurut Tafsir Kemenag RI, ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan berbagai kebun, ladang, dan sawah di bumi yang dapat ditanami dengan beragam jenis tumbuhan penghasil bahan makanan bagi manusia. Kurma dan anggur merupakan contoh tumbuhan yang menjadi sumber makanan utama masyarakat Arab, sementara padi, gandum, dan jagung menjadi makanan pokok bagi bangsa-bangsa lainnya di seluruh dunia (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI juga menekankan bahwa Allah menciptakan sumber-sumber mata air yang sangat penting bagi kemakmuran dan keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Sumber air ini tidak hanya mendukung pertumbuhan kebun-kebun tumbuhan, tetapi juga berperan krusial dalam kehidupan manusia secara lebih luas, termasuk untuk kebutuhan irigasi pertanian dan pembangkit listrik (Kemenag RI, 2012). Keberagaman hasil pertanian yang disebutkan dalam ayat ini mencerminkan kebijaksanaan Allah dalam menyediakan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh umat manusia.

2. Q.S. Al-An'am Ayat 99 (Anggur, Zaitun, Delima)

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ...

"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan..." (Q.S. Al-An'am: 99)

Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kebesaran Allah dalam mengatur siklus air dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang berbeda-beda bentuk, jenis, dan rasanya. Allah mendorong manusia untuk memperhatikan dan merenungi proses pertumbuhan tumbuhan sebagai bukti kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya (Kemenag RI, 2012). Dalam tafsir ini, para ahli botani dikutip untuk menjelaskan peran vital tumbuhan dalam menjaga kelayakhunian bumi bagi manusia. Tumbuhan membersihkan udara, menjaga suhu atmosfer, menyeimbangkan proporsi gas di udara, serta menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan melalui "pabrik hijau" mereka yang disebut kloroplas. Proses fotosintesis—yang dirumuskan sebagai 6H₂O + 6CO₂ + Cahaya matahari → C₆H₁₂O₆ + 6O₂—dipandang sebagai salah satu ayat kauniyah yang membuktikan bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah, Pemelihara seluruh alam (Kemenag RI, 2012).

3. Q.S. Al-Insan Ayat 17 (Jahe/Zanjabil)

Berbeda dengan Agus Purwanto, Tafsir Kemenag RI menafsirkan jahe (zanjabil) dalam Q.S. Al-Insan: 17 dengan perspektif yang lebih kontekstual-historis. Tafsir ini menjelaskan bahwa jahe adalah sejenis tanaman yang memiliki rasa yang lezat dan tumbuh di wilayah Timur Tengah pada masa lalu. Zanjabil sering digunakan sebagai bahan wangi-wangian dan sangat digemari oleh masyarakat Arab (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI juga mengutip pandangan Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa semua hal yang disebutkan dalam Al-Qur'an berkaitan dengan surga—baik makanan, minuman, buah-buahan, maupun tumbuhan tidak memiliki tandingan di dunia ini. Satu-satunya kesamaan yang ada hanyalah pada namanya, sementara rasa dan kualitasnya jauh melampaui apa yang ada di dunia (Kemenag RI, 2012). Pandangan ini mengajak manusia untuk tidak membatasi imajinasi mereka tentang kenikmatan surga hanya pada apa yang mereka kenal di dunia.

 

Analisis Persamaan Penafsiran

Terdapat beberapa persamaan yang signifikan antara penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan, yang dapat dirangkum sebagai berikut:

Pertama, keduanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium penyampaian tafsir, yang merupakan cerminan dari latar belakang dan konteks sosial keduanya sebagai karya tafsir yang dihasilkan di Indonesia untuk masyarakat Indonesia. Hal ini menjadikan tafsir keduanya lebih mudah dipahami dan diakses oleh masyarakat luas yang tidak memiliki kemampuan bahasa Arab. Kedua, keduanya menggunakan pendekatan penafsiran yang berbasis ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat tumbuhan. Tafsir Kemenag RI menjelaskan proses fotosintesis dan peran kloroplas dalam memproduksi makanan, sementara Agus Purwanto memaparkan kandungan kimia jahe seperti gingerol dan minyak atsiri beserta manfaat kesehatannya. Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa sains dan Al-Qur'an dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat. Ketiga, keduanya sama-sama menjelaskan fungsi dan manfaat tumbuhan yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibahas. Agus Purwanto memaparkan manfaat jahe dan keluarganya secara rinci, sementara Tafsir Kemenag RI menguraikan manfaat kurma, anggur, dan berbagai tumbuhan lainnya bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Penjelasan tentang manfaat ini bersifat praktis dan aplikatif. Keempat, keduanya sama-sama mengajak pembaca untuk merenungi nikmat dan kekuasaan Allah yang terwujud melalui ciptaan-Nya berupa berbagai jenis tumbuhan. Baik Agus Purwanto maupun Tafsir Kemenag RI memandang tumbuhan tidak hanya sebagai objek ilmiah semata, tetapi juga sebagai tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah yang harus disyukuri dan direnungi.

 

 

 

 

 

Analisis Perbedaan Penafsiran

Aspek

Agus Purwanto

Tafsir Kemenag RI

Cakupan Ayat

Hanya menafsirkan 1 ayat tumbuhan secara mendalam: Q.S. Al-Insan: 17

Menafsirkan lebih banyak ayat tumbuhan secara lengkap dan sistematis

Rasa Jahe

Rasa jahe pedas, disebabkan oleh senyawa gingerol

Rasa jahe lezat dan nikmat, digemari masyarakat Arab

Asal-Usul Jahe

Asal usul jahe belum dapat dipastikan; diperkirakan dari India atau Asia Tenggara

Jahe berasal dari Timur Tengah

Pendekatan

Ilmiah-sains (fisika & biologi), fokus pada penelitian dan ekplorasi ilmiah

Kontekstual-historis, melibatkan riwayat, konteks sosial, dan ilmiah botani

Kedalaman Ilmiah

Sangat mendalam untuk satu ayat; menyebut senyawa kimia spesifik (gingerol, minyak atsiri)

Komprehensif untuk banyak ayat; menjelaskan proses fotosintesis dan peran ekologi

Metode

Tematik (maudhu'i), klasifikasi A-Z ayat kauniyah

Tahlili (analitis), ayat per ayat secara berurutan

 

Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak pada cakupan penafsiran. Agus Purwanto, meskipun telah mengklasifikasikan berbagai subjek tumbuhan dalam karya-karyanya (timun, anggur, zaitun, kurma), namun hanya memberikan penafsiran mendalam terhadap satu ayat tumbuhan, yaitu Q.S. Al-Insan: 17 yang membahas jahe. Hal ini berbeda dengan Tafsir Kemenag RI yang menafsirkan ayat-ayat tumbuhan secara lebih lengkap dan komprehensif (Purwanto, 2015; Kemenag RI, 2012). Perbedaan kedua terletak pada pemaknaan rasa dan asal-usul jahe. Agus Purwanto menjelaskan secara ilmiah bahwa rasa pedas jahe disebabkan oleh senyawa gingerol, dan asal-usul jahe yang masih diperdebatkan oleh para ahli—ada yang berpendapat dari India, ada pula yang mengatakan dari Asia Tenggara. Sementara itu, Tafsir Kemenag RI lebih menekankan cita rasa jahe yang lezat dalam konteks tradisi Arab, dan menyebutkan bahwa jahe berasal dari Timur Tengah (Kemenag RI, 2012).

Perbedaan ketiga berkaitan dengan orientasi pembaca yang dituju. Agus Purwanto dalam karya-karyanya secara eksplisit menargetkan pembaca dari kalangan ilmuwan dan akademisi Muslim yang ingin mengintegrasikan sains dengan keimanan. Beliau secara terus-menerus mendorong ilmuwan Muslim untuk melakukan penelitian yang terinspirasi dari petunjuk Al-Qur'an. Di sisi lain, Tafsir Kemenag RI ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat Muslim Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan dan sosial, sehingga pendekatannya lebih inklusif dan komprehensif. Perbedaan keempat menyangkut kedalaman dan fokus analisis ilmiah. Agus Purwanto menggali satu ayat secara sangat dalam dengan menyebut senyawa-senyawa kimia spesifik dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan komponen minyak atsiri (zingiberene, curcumene, sitral, sineol, zingiberol), serta manfaatnya dalam berbagai industri seperti kosmetik, farmasi, dan aromaterapi.

Tafsir Kemenag RI cenderung lebih luas dalam membahas banyak jenis tumbuhan sekaligus, menjelaskan proses fotosintesis, siklus air, dan ekosistem secara umum, namun tidak mendalami satu jenis tumbuhan secara sangat spesifik seperti yang dilakukan oleh Agus Purwanto. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI merupakan dua sumber yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Agus Purwanto unggul dalam kedalaman analisis ilmiah terhadap satu ayat, sementara Tafsir Kemenag RI unggul dalam kelengkapan cakupan ayat dan kontekstualisasinya dengan kehidupan masyarakat. Keduanya secara bersama-sama dapat menjadi rujukan yang komprehensif bagi siapapun yang ingin memahami pesan Al-Qur'an tentang tumbuhan dari perspektif sains dan agama sekaligus.

Integrasi Sains dan Al-Qur'an dalam Kajian Tumbuhan

Penelitian ini memperlihatkan bahwa upaya mengintegrasikan sains dengan Al-Qur'an dalam kajian tumbuhan bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam. Kedua perspektif Agus Purwanto yang berasal dari dunia sains fisika dan biologi, serta Tafsir Kemenag RI yang berasal dari tradisi ulama dan institusi agama sesungguhnya memiliki titik temu yang sangat kuat: keduanya memandang tumbuhan sebagai ciptaan Allah yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran-Nya dan manfaat bagi seluruh makhluk hidup.

Dalam perspektif epistemologi Islam, pendekatan yang dilakukan oleh Agus Purwanto dapat dikategorikan sebagai upaya membangun sains Islam yang berlandaskan pada tauhid dan wahyu. Sains, dalam pandangan ini, bukanlah sesuatu yang terpisah dari agama, melainkan merupakan bagian integral dari upaya manusia untuk memahami dan menghargai ciptaan Allah. Setiap penemuan ilmiah tentang tumbuhan sejatinya adalah pengungkapan atas salah satu rahasia yang telah Allah isyaratkan dalam Al-Qur'an ribuan tahun yang lalu (Thayyarah, 2013). Di sisi lain, Tafsir Kemenag RI menunjukkan bahwa institusi keagamaan pun tidak harus menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan melibatkan tim ahli dari LIPI dalam proses penyempurnaannya, Tafsir Kemenag RI menunjukkan komitmennya untuk menyajikan tafsir yang tidak hanya valid secara teologis, tetapi juga relevan secara ilmiah. Kolaborasi antara ulama dan ilmuwan dalam menafsirkan Al-Qur'an ini merupakan model yang ideal dan patut diteruskan serta dikembangkan lebih lanjut di masa mendatang (Kemenag RI, 2012).

Temuan penelitian ini juga mengimplikasikan pentingnya pendidikan integratif di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, di mana kajian Al-Qur'an dan tafsir tidak hanya diajarkan secara tekstual semata, tetapi juga dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini, termasuk di bidang biologi, kimia, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Dengan demikian, generasi Muslim yang terdidik tidak hanya mampu memahami Al-Qur'an secara spiritual, tetapi juga secara intelektual-saintifik, sehingga dapat berkontribusi nyata dalam pengembangan peradaban manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islami.

 

SIMPULAN

Berdasarkan analisis komparatif yang telah dilakukan terhadap penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI mengenai ayat-ayat tumbuhan dalam Al-Qur'an, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, penafsiran Agus Purwanto terhadap ayat-ayat tumbuhan berfokus pada Q.S. Al-Insan: 17 yang membahas jahe sebagai minuman surga. Penafsirannya sangat mendalam dan komprehensif dari perspektif ilmiah, mencakup analisis linguistik, kandungan kimia jahe (gingerol, minyak atsiri), berbagai manfaat kesehatan jahe, serta keluarga tumbuhan jahe lainnya seperti kencur, temu lawak, dan kunyit. Agus Purwanto secara konsisten mendorong ilmuwan Muslim untuk menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai landasan penelitian ilmiah mereka. Sementara itu, Tafsir Kemenag RI menafsirkan ayat-ayat tumbuhan secara lebih luas dan sistematis, mencakup Q.S. Yasin: 34 (kurma dan anggur), Q.S. Al-An'am: 99 (berbagai tumbuhan beserta proses fotosintesis), dan Q.S. Al-Insan: 17 (jahe sebagai minuman surga). Tafsir Kemenag RI menggunakan pendekatan kontekstual-historis yang memadukan riwayat, konteks sosial, dan perspektif ilmiah botani secara lebih seimbang.

Kedua, persamaan antara keduanya meliputi: (a) sama-sama menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami; (b) sama-sama menggunakan pendekatan ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat tumbuhan; (c) sama-sama menjelaskan fungsi dan manfaat tumbuhan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya; dan (d) sama-sama mengajak pembaca untuk merenungi nikmat dan kekuasaan Allah melalui ciptaan-Nya berupa tumbuhan. Perbedaan antara keduanya meliputi: (a) Agus Purwanto menafsirkan hanya satu ayat tumbuhan secara sangat mendalam, sementara Tafsir Kemenag RI menafsirkan lebih banyak ayat; (b) dalam hal rasa jahe, Agus Purwanto menyebutnya pedas (mengandung gingerol), sedangkan Tafsir Kemenag RI menyebutnya lezat; (c) dalam hal asal-usul jahe, Agus Purwanto menyebutnya belum pasti (diperkirakan dari India atau Asia Tenggara), sedangkan Tafsir Kemenag RI menyebutnya dari Timur Tengah.

Penelitian ini merekomendasikan agar kajian tafsir ilmi terus dikembangkan di Indonesia dengan mengintegrasikan perspektif ilmiah yang lebih beragam, serta mendorong ilmuwan-ilmuwan Muslim untuk terus menggali kandungan sains dalam Al-Qur'an sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Agus Purwanto. Sebagai rekomendasi akademis, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan kajian ini dengan memperluas cakupan ayat-ayat tumbuhan yang dianalisis, melibatkan lebih banyak tokoh tafsir Indonesia, serta mengintegrasikan perspektif sains terkini dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tumbuhan. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi implikasi praktis dari penafsiran ayat-ayat tumbuhan ini dalam bidang farmasi, gizi, dan pertanian modern yang berbasis Al-Qur'an. Dengan demikian, sinergi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan alam dapat terus diperkuat demi kemajuan peradaban Islam yang rahmatan lil 'alamin.

 

REFERENSI

Alby, S. (2020). Makna syifa' dalam Al-Qur'an: Studi komparatif penafsiran M. Quraish Shihab dan Asy-Sya'rawi. Skripsi, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an, Jakarta.

Alifa, A. Z., Anshari, M. I., & Barizi, A. (2023). Epistemologi integralisme Islam sebagai solusi membangun peradaban global: Pemikiran Mahzard dan Agus Purwanto. Jurnal Sastra Arab dan Studi Islam6(3).

Arifin, G., & Abu Fakih, S. (2010). Al-Qur'an Sang Mahkota. Jakarta: Elek Media Komputindo.

Arisiana, T., & Prasetiawati, E. (2019). Wawasan Al-Qur'an tentang khamr menurut Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an. Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya4(2).

Baidan, N. (2011). Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daneshgar, M. (2023). Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan. Zygon58(4).

Fangesty, M. A. S., dkk. (2024). Karakteristik dan model tafsir kontemporer. Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir3(1).

Fathrrohman, A., & Iltiham, F. (2011). Pendalaman Ilmu Tafsir di PTAI Non Tafsir. Pasuruan: be-A Publisher.

Fauzan, A. (2015). Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan dalam Al-Qur'an. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Imam Al-Qurtubi. (2007). Tafsir Al-Qurtubi (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Azzam.

Ibnu Katsir. (2009). Tafsir Ibn Katsir (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Azzam.

Jannah, M. (2023). Peta sumber rujukan Al-Qur'an dan Tafsirnya karya Tim Kementerian Agama (Edisi yang disempurnakan). Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Jaronah, S. (2020). Tumbuhan sebagai sumber gizi dalam Tafsir Kementerian Agama. Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2009). Tafsir Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2010). Tafsir Ilmi: Tumbuhan dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2012). Al-Qur'an dan Tafsirnya, Edisi Disempurnakan (10 Jilid). Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia.

Muqtadir. (2021). Ayat-ayat kosmologi dalam tinjauan Agus Purwanto. Skripsi, IKHAC, Mojokerto.

Mustaqim, A. (2014). Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur'an. Yogyakarta: Adab Press.

Mustaqim, A. (2022). Metode Penelitian Al-Qur'an dan Tafsir. Yogyakarta: IDEA Press.

Nazifah, D. (2021). Tafsir-tafsir modern dan kontemporer abad ke-19–21 M. Jurnal Iman dan Spiritualitas1(2).

Nur Haliza, D. A. (2023). Obat herbal perspektif Al-Qur'an: Analisis obat herbal sebagai pengobatan alternatif (studi tematik tafsir ilmi ayat-ayat obat herbal). Skripsi, IAIN Kediri.

Purwanto, A. (2015). Ayat-Ayat Semesta: Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Purwanto, A. (2015). Nalar Ayat-Ayat Semesta: Menjadikan Al-Qur'an sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan. Bandung: Mizan Pustaka.

Rahmadewi, R., Efelina, V., & Purwanti, E. (2018). Identifikasi jenis tumbuhan menggunakan citra daun berbasis jaringan saraf tiruan. Jurnal Media Elektro7(2).

Rifaanudin, M., & Hibban, M. F. (2022). Manfaat tumbuhan dalam Al-Qur'an bagi kesehatan: Pendekatan tafsir ilmi. Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir2(1).

Rofiqoh, A. (2015). Studi pemikiran Agus Purwanto tentang ayat-ayat kauniyah. Tesis, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember.

Syarifuddin, & Harahap, A. (2021). Integrasi struktur dan fungsi bagian tumbuhan dengan bayani, burhani, irfani di SDIT Bunayya. Dirasatul Ibtidaiyah1(1).

Thayyarah, N. (2013). Sains dalam Al-Qur'an. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Wahbah az-Zuhaili. (2013). Tafsir Al-Munir (Terjemahan). Jakarta: Gema Insani.

Wardani. (2017). Metodologi Tafsir Al-Qur'an di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Yusuf, A. M. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Kencana.

Yusuf, M. Y., Sutrisno, & Karwadi. (2017). Sains Islam: Pemikiran Agus Purwanto dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta. EDUKASI: Jurnal Pendidikan Islam5(1).

Zannah, F. (2023). Sains Kajian Tumbuhan dan Hewan Berbasis Riset dan Al-Qur'an. Yogyakarta: K-Media.

Zed, M. (2004). Metodologi Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

No comments:

Post a Comment