Comparative Analysis of Plant-Related Verses from the Perspectives of Agus Purwanto and the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kemenag RI) Tafsir
Fahmi
Ilmi Najil1, Abdul Muhaimin2
Program
Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas KH
Abdul Chalim, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia
Email:
fahmiilminajil6@gmail.com
Abstrak
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penafsiran Al-Qur'an yang relevan
dengan zamannya. Sebagaimana diyakini umat Islam, Al-Qur'an bersifat shalih
fii kulli zaman wa makan—relevan untuk setiap waktu dan tempat. Al-Qur'an
tidak hanya memuat ayat-ayat ibadah, tetapi juga menyebutkan tumbuhan secara
eksplisit sebagai bukti kekuasaan Allah dan sumber manfaat bagi makhluk hidup.
Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif penafsiran Agus
Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan, serta menemukan
persamaan dan perbedaan di antara keduanya. Metode yang digunakan adalah
kualitatif-komparatif (muqaran) dengan pendekatan kepustakaan. Sumber primer
berupa karya Agus Purwanto (Ayat-Ayat Semesta dan Nalar
Ayat-Ayat Semesta) dan Al-Qur'an dan Tafsirnya edisi
Kemenag RI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya menjelaskan fungsi dan
manfaat tumbuhan secara ilmiah, menggunakan bahasa Indonesia, dan merenungi
nikmat Allah. Perbedaan terletak pada cakupan ayat yang ditafsirkan—Agus Purwanto
berfokus pada Q.S. Al-Insan: 17 (jahe), sementara Tafsir Kemenag RI menafsirkan
lebih banyak ayat—serta perbedaan dalam menafsirkan rasa dan asal-usul jahe.
Kata
Kunci: Tumbuhan,
Agus Purwanto, Tafsir Kemenag RI, Tafsir Ilmi, Komparatif
Abstract
The
advancement of science and technology demands interpretation of the Qur'an that
remains relevant to contemporary times. As Muslims believe, the Qur'an
is shalih fii kulli zaman wa makan—relevant for every time and place. The
Qur'an not only contains verses of worship but also explicitly mentions plants
as evidence of Allah's power and as sources of benefit for all living beings.
This study aims to comparatively analyze the interpretations of Agus Purwanto
and the Kemenag RI Tafsir regarding plant-related verses, as well as to
identify their similarities and differences. The method used is
qualitative-comparative (muqaran) with a library research approach. Primary
sources include Agus Purwanto's works (Ayat-Ayat Semesta and Nalar
Ayat-Ayat Semesta) and the Al-Qur'an dan Tafsirnya by Kemenag RI. The
results show that both explain the functions and benefits of plants
scientifically, use the Indonesian language, and reflect on Allah's blessings.
Differences lie in the scope of verses interpreted—Agus Purwanto focuses on
Q.S. Al-Insan: 17 (ginger), while the Kemenag RI Tafsir covers more verses—as
well as differences in interpreting the taste and origin of ginger.
Keywords: Plants,
Agus Purwanto, Kemenag RI Tafsir, Scientific Tafsir, Comparative
Article Info
Received date: 10 April 2026 Revised date: 20 April 2026 Accepted date: 28 April 2026
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era
modern ini telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memahami alam
semesta dan kitab-kitab suci agama. Dalam konteks Islam, kemajuan ini mendorong
para ulama dan ilmuwan Muslim untuk membaca Al-Qur'an dengan kacamata yang
lebih luas dan mendalam, terutama yang berkaitan dengan ayat-ayat kauniyah
(ayat-ayat alam semesta). Sebagaimana diyakini oleh seluruh umat Muslim di
seluruh dunia, Al-Qur'an bersifat shalih fii kulli zaman wa makan,
yakni relevan untuk setiap waktu dan tempat (Mustaqim, 2014). Keyakinan inilah
yang menjadi faktor utama yang mendorong para ulama untuk terus melahirkan
karya-karya baru dalam bidang tafsir (Nazifah, 2021).
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin banyak
fakta yang ditemukan di dalam Al-Qur'an yang terbukti kebenarannya secara
ilmiah. Mulai dari berbagai fenomena alam, proses penciptaan makhluk hidup,
hingga berbagai hal yang berkaitan dengan dunia tumbuhan dan hewan. Al-Qur'an
bukan hanya berisi ayat-ayat tentang ibadah dan hukum semata, tetapi juga
memuat kandungan yang berkaitan dengan sains, termasuk di dalamnya adalah
pembahasan mengenai tumbuhan secara eksplisit (Zannah, 2023). Hal ini membuktikan
bahwa Al-Qur'an sesungguhnya merupakan kitab yang komprehensif dan tidak
terbatas pada satu dimensi kehidupan saja. Para penafsir Al-Qur'an dari masa ke
masa telah mengubah pendekatan dan corak penafsiran mereka sesuai dengan
perkembangan zaman dan disiplin ilmu yang mereka kuasai. Pada era modern, genre
tafsir ilmi (tafsir ilmiah) semakin berkembang pesat, di mana para mufasir
berusaha mempertemukan antara teks-teks Al-Qur'an dengan fakta-fakta ilmiah
yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern (Daneshgar, 2023). Pendekatan ini
menjadikan penafsiran Al-Qur'an lebih sistematis dan relevan, sekaligus
memperkuat keyakinan umat Islam terhadap kebenaran dan kemukjizatan Al-Qur'an
(Fangesty dkk., 2024).
Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan berbagai jenis
tumbuhan sebagai bukti kekuasaan Allah SWT dan sebagai perumpamaan untuk
menyampaikan hikmah kepada manusia. Menurut Sayyed Abdul Satar Al-Miliji dalam
tafsir tematik Pelestarian Lingkungan Hidup yang diterbitkan
oleh Kementerian Agama RI, terdapat tidak kurang dari 115 ayat Al-Qur'an yang
secara langsung maupun tidak langsung membahas tentang tumbuhan dari berbagai
sudut pandang (Kemenag RI, 2012). Jumlah yang sangat besar ini menunjukkan betapa
Al-Qur'an memberikan perhatian yang serius terhadap dunia tumbuhan, dan
sekaligus menjadi dorongan kuat bagi para ulama untuk mengkaji secara mendalam
ayat-ayat tersebut. Beberapa tumbuhan yang disebutkan secara jelas dalam
Al-Qur'an di antaranya adalah kurma (Q.S. Yasin: 34), anggur (Q.S. Al-An'am:
99), jahe (Q.S. Al-Insan: 17), pisang (Q.S. Al-Waqi'ah: 29), delima (Q.S.
Al-An'am: 141), bawang (Q.S. Al-Baqarah: 61), dan mentimun (Q.S. Al-Baqarah:
61). Penyebutan nama-nama tumbuhan ini bukan tanpa sebab dan tujuan, melainkan
mengandung hikmah dan pesan ilmiah yang sangat mendalam (Rifaanudin &
Hibban, 2022). Ilmu yang secara khusus mempelajari tumbuhan disebut botani,
yang merupakan cabang dari ilmu biologi (Fauzan, 2015).
Fenomena kelalaian dan pengabaian terhadap ilmu
pengetahuan di dunia Islam telah menjadi persoalan serius yang disorot oleh
banyak cendekiawan Muslim. Agus Purwanto, dalam karyanya yang monumental,
sependapat dengan Syaikh Thanthawi yang menyatakan bahwa ulama dan umat Islam
selama ini masih terlalu terpusat perhatiannya pada masalah fiqh, sementara
ayat-ayat kauniyah yang jumlahnya sangat banyak justru sering diabaikan
(Purwanto, 2015). Menurut Agus Purwanto, ayat-ayat hukum hanya mencakup sekitar
seperlima dari keseluruhan ayat kauniyah, namun energi dan perhatian para ulama
hampir seluruhnya tersedot ke bidang fiqh. Di sisi lain, sains sebagai
manifestasi dari ayat-ayat kauniyah tidak dianggap memiliki peran dalam
menentukan nasib seseorang di akhirat, sehingga jarang dibahas dalam konteks
keagamaan. Agus Purwanto, seorang doktor fisika dari Institut Teknologi Bandung
(ITB) yang juga menyelesaikan program S3-nya di Universitas Hiroshima, Jepang,
menawarkan pendekatan yang segar dan berbeda dalam menganalisis ayat-ayat
Al-Qur'an yang berkaitan dengan alam semesta, termasuk tumbuhan. Ia berpendapat
bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah perlu melibatkan perspektif ilmiah
agar agama dan sains dapat saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain
(Purwanto, 2015).
Dalam karya-karyanya yang berjudul Ayat-Ayat
Semesta (2008) dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (2015),
Agus Purwanto mengklasifikasikan ayat-ayat kauniyah dari A sampai Z, mulai dari
surat Al-Fatihah hingga An-Nas, yang berjumlah 800 ayat. Salah satu ayat yang
mendapat perhatian khusus dalam analisisnya adalah Q.S. Al-Insan ayat 17 yang
membahas jahe sebagai minuman surga. Di sisi lain, Tafsir Kemenag RI hadir
sebagai karya monumental yang lahir dari rahim para ulama Indonesia yang
bergabung dalam tim Kementerian Agama RI. Kehadiran tafsir berbahasa Indonesia
ini memberikan kontribusi besar dalam mempermudah pemahaman masyarakat
Indonesia terhadap isi dan kandungan Al-Qur'an, terutama bagi mereka yang tidak
memiliki kemampuan bahasa Arab (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI berusaha
menjelaskan makna-makna ayat Al-Qur'an dengan pendekatan yang kontekstual dan
relevan untuk kondisi masyarakat modern. Dengan demikian, tafsir ini tidak
hanya berfungsi sebagai penjelas teks suci, tetapi juga sebagai panduan praktis
dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penelitian komparatif ini, diharapkan dapat
ditemukan keselarasan dan perbedaan antara pemahaman Agus Purwanto yang
bercorak sains-fisika dengan pendekatan Tafsir Kemenag RI yang lebih bersifat
kontekstual dan komprehensif. Perbandingan kedua perspektif ini diharapkan
dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik dan mendalam mengenai ayat-ayat
tumbuhan dalam Al-Qur'an, serta mendorong pengembangan kajian tafsir ilmi di
Indonesia. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjembatani antara dunia sains
dan agama, menunjukkan bahwa keduanya tidak bertentangan melainkan saling
melengkapi dalam membentuk pemahaman manusia tentang alam dan ciptaan Allah
SWT. Signifikansi penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengintegrasikan
perspektif ilmuwan Muslim (Agus Purwanto) dengan perspektif institusi keagamaan
resmi (Kemenag RI) dalam memahami ayat-ayat tumbuhan. Dengan mengetahui
persamaan dan perbedaan keduanya, para akademisi, pelajar, mahasiswa, maupun
masyarakat umum dapat memperoleh wawasan yang lebih luas dan komprehensif
tentang bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang tumbuhan dan relevansinya dengan
ilmu pengetahuan modern. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat
menjadi inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan Muslim lainnya untuk terus menggali dan
mengeksplorasi kandungan ilmiah yang tersembunyi di dalam ayat-ayat Al-Qur'an.
Batasan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada
beberapa ayat yang secara eksplisit menyebutkan nama tumbuhan dalam Al-Qur'an,
yaitu Q.S. Al-Insan ayat 17 (jahe/zanjabil), Q.S. Al-An'am ayat 99 (anggur,
zaitun, delima), dan Q.S. Yasin ayat 34 (kurma dan anggur). Pemilihan ayat-ayat
ini didasarkan pada kesesuaiannya dengan sumber primer yang digunakan, yakni
karya Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI. Adapun beberapa penelitian terdahulu
yang relevan dengan penelitian ini antara lain: pertama, skripsi Nur Fatmawati
(mahasiswa IAIN Pekalongan) yang berjudul "Siklus Kehidupan Tumbuhan dalam
Al-Qur'an: Perspektif Tafsir An-Nur Karya Hasbi Ash-Shiddieqy", yang
membahas siklus kehidupan tumbuhan dalam Al-Qur'an melalui tafsir An-Nur.
Kedua, artikel Mahmud Rifaanudin dan Muhammad Faishal Hibban (Universitas
Darussalam Gontor) berjudul "Manfaat Tumbuhan dalam Al-Qur'an bagi
Kesehatan" menggunakan pendekatan tafsir ilmi. Ketiga, skripsi Siti
Jaronah (UIN Syarif Hidayatullah, 2020) berjudul "Tumbuhan sebagai Sumber
Gizi dalam Tafsir Kementerian Agama" yang membahas kandungan gizi tumbuhan
dalam Tafsir Kemenag. Keempat, skripsi Aisyah Fajar Putriartini yang membahas
"Zaitun dan Jahe: Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Al-Qur'an dan Sains
Modern". Kelima, skripsi Apriadi Fauzan (UIN Sunan Kalijaga) berjudul
"Tumbuhan-Tumbuhan dan Buah-Buahan dalam Al-Qur'an". Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya terletak pada fokusnya
yang membandingkan secara komparatif perspektif seorang ilmuwan fisika Muslim
(Agus Purwanto) dengan perspektif institusi resmi keagamaan negara (Tafsir
Kemenag RI) dalam menafsirkan ayat-ayat tumbuhan.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di
atas, penelitian ini merumuskan dua permasalahan utama yang menjadi fokus
kajian, yaitu: Pertama, Bagaimana penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir
Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan dalam Al-Qur'an, khususnya Q.S. Al-Insan
ayat 17, Q.S. Al-An'am ayat 99, dan Q.S. Yasin ayat 34?. Kedua, Bagaimana
persamaan dan perbedaan penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap
ayat-ayat yang berkaitan dengan tumbuhan tersebut?. Kedua rumusan masalah ini
merupakan inti dari penelitian komparatif yang dilakukan, sehingga seluruh
pembahasan dalam artikel ini akan diarahkan untuk menjawab kedua pertanyaan
tersebut secara mendalam dan komprehensif.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Penelitian
kepustakaan adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara menelaah dan
menganalisis bahan-bahan pustaka atau sumber-sumber tertulis yang relevan
dengan topik yang dikaji, berupa kitab, buku, jurnal, dan berbagai referensi
lainnya (Zed, 2004). Pendekatan ini dipilih karena objek kajian penelitian ini
adalah teks-teks tertulis berupa karya tafsir dan buku-buku ilmiah. Dalam
kajian ilmu Al-Qur'an dan tafsir, penelitian ini menerapkan metode komparatif
atau muqaran. Metode muqaran merupakan pendekatan penafsiran
Al-Qur'an yang bersifat komparatif dengan membandingkan berbagai ayat suci,
hadis Nabi, dan pendapat para ulama (Mustaqim, 2022). Elemen yang dibandingkan
dapat berupa konsep, pemikiran, teori, atau metodologi. Langkah-langkah yang
ditempuh dalam penelitian ini meliputi: (1) menetapkan tema yang akan dibahas;
(2) mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dibandingkan; (3) menunjukkan
kekhasan dari masing-masing pemikiran; (4) melakukan analisis secara
komprehensif disertai argumentasi data; dan (5) merumuskan kesimpulan untuk
menjawab masalah penelitian (Mustaqim, 2022).
Sumber data primer dalam penelitian ini terdiri dari
dua sumber utama: pertama, karya Agus Purwanto yang berjudul Ayat-Ayat
Semesta: Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan (2015) dan Nalar
Ayat-Ayat Semesta (2015); kedua, Al-Qur'an dan Tafsirnya edisi
yang disempurnakan oleh Kementerian Agama RI (2012). Sumber data sekunder
meliputi buku-buku, jurnal ilmiah, skripsi, dan tesis yang membahas topik-topik
yang relevan dengan penelitian ini (Yusuf, 2017). Teknik pengumpulan data yang
diterapkan adalah teknik dokumentasi, yakni mengumpulkan data dari
dokumen-dokumen tertulis seperti buku, kitab, jurnal, dan artikel yang relevan.
Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-komparatif: pertama,
menginventarisasi dan menyeleksi data dari kedua sumber primer; kedua, mengkaji
secara mendalam dengan pendekatan komprehensif; ketiga, melakukan analisis
komparatif untuk menemukan persamaan dan perbedaan; serta keempat,
menginterpretasikan hasil dan menyimpulkan temuan penelitian.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Penafsiran
Ayat-Ayat Tumbuhan Menurut Agus Purwanto
1.
Q.S. Al-Insan Ayat 17 (Jahe/Zanjabil)
وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ
مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا
"Dan
di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya
adalah jahe." (Q.S. Al-Insan: 17)
Kata yasqauna (يُسْقَوْنَ)
adalah bentuk mabni majhul dari saqa-yasqi-saqyan yang berarti
"memberi minum". Kata ka'sun (كَأْس)
berarti gelas, mizajun (مِزَاج)
berarti campuran, dan zanjabilun (زَنجَبِيل)
adalah jahe (Purwanto, 2015). Yang menjadi titik perhatian utama Agus Purwanto
bukanlah gambaran surga itu sendiri, melainkan mengapa jahe—dan bukan bahan
lain—yang dipilih sebagai campuran minuman surga. Pertanyaan ini, menurut
beliau, seharusnya menjadi tantangan ilmiah bagi para ilmuwan Muslim untuk menggali
lebih dalam keistimewaan jahe. Agus Purwanto mempertanyakan: mengapa bukan
kelapa muda, alpukat, jus lemon, atau cappuccino? Fakta bahwa Al-Qur'an secara
spesifik menyebut jahe sebagai minuman surga menunjukkan bahwa tumbuhan ini
memiliki keistimewaan luar biasa yang belum sepenuhnya dipahami oleh ilmuwan
Muslim (Purwanto, 2015).
Secara ilmiah, bahwa jahe (Zingiber officinale)
mengandung senyawa aktif berupa gingerol dan minyak atsiri yang memberikan rasa
pedas dan aroma khas sekaligus memiliki khasiat sebagai penguat tubuh,
penangkal infeksi, dan pereda berbagai keluhan kesehatan. Jahe secara
tradisional digunakan untuk mengatasi mual, asma, batuk, nyeri yang parah,
gangguan jantung berdebar, gangguan pencernaan, hilangnya nafsu makan, dan
muntah. Jahe bahkan dikenal memiliki kemampuan anti-pembekuan darah yang lebih
baik dibandingkan bawang putih dan bawang merah, serta dapat menurunkan kadar
kolesterol dan tekanan darah (Purwanto, 2015).
Dalam pembahasan tentang jahe memaparkan anggota
keluarga jahe (Zingiberaceae) yang lain, yaitu kencur (Kaempferia
galanga L.), temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), dan
kunyit (Curcuma domestica). Ketiga tumbuhan ini juga memiliki khasiat
yang sangat berguna bagi kesehatan manusia dan asli berasal dari Nusantara,
khususnya temu lawak yang terbukti berasal dari Indonesia (Purwanto, 2015). Hal
ini menegaskan dengan penuh keprihatinan bahwa penelitian intensif tentang jahe
yang telah menghasilkan ratusan publikasi ilmiah sayangnya tidak dilakukan oleh
ilmuwan Muslim yang terinspirasi dari petunjuk Al-Qur'an. Inilah yang menjadi
motivasi beliau untuk mendorong para ilmuwan Muslim agar menjadikan ayat-ayat
Al-Qur'an sebagai landasan utama dalam penelitian mereka (Purwanto, 2015).
Penafsiran
Ayat-Ayat Tumbuhan Menurut Tafsir Kemenag RI
1.
Q.S. Yasin Ayat 34 (Kurma dan Anggur)
وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ
وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ
"Dan
Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya
beberapa mata air." (Q.S. Yasin: 34)
Menurut Tafsir Kemenag RI, ayat ini menjelaskan bahwa
Allah menciptakan berbagai kebun, ladang, dan sawah di bumi yang dapat ditanami
dengan beragam jenis tumbuhan penghasil bahan makanan bagi manusia. Kurma dan
anggur merupakan contoh tumbuhan yang menjadi sumber makanan utama masyarakat
Arab, sementara padi, gandum, dan jagung menjadi makanan pokok bagi
bangsa-bangsa lainnya di seluruh dunia (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI
juga menekankan bahwa Allah menciptakan sumber-sumber mata air yang sangat penting
bagi kemakmuran dan keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Sumber air ini
tidak hanya mendukung pertumbuhan kebun-kebun tumbuhan, tetapi juga berperan
krusial dalam kehidupan manusia secara lebih luas, termasuk untuk kebutuhan
irigasi pertanian dan pembangkit listrik (Kemenag RI, 2012). Keberagaman hasil
pertanian yang disebutkan dalam ayat ini mencerminkan kebijaksanaan Allah dalam
menyediakan berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh umat
manusia.
2.
Q.S. Al-An'am Ayat 99 (Anggur, Zaitun, Delima)
وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ
مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ...
"Dan
Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air
itu segala macam tumbuh-tumbuhan..." (Q.S. Al-An'am: 99)
Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa ayat ini
menggambarkan kebesaran Allah dalam mengatur siklus air dan menumbuhkan
berbagai jenis tanaman yang berbeda-beda bentuk, jenis, dan rasanya. Allah
mendorong manusia untuk memperhatikan dan merenungi proses pertumbuhan tumbuhan
sebagai bukti kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya (Kemenag RI, 2012). Dalam tafsir
ini, para ahli botani dikutip untuk menjelaskan peran vital tumbuhan dalam
menjaga kelayakhunian bumi bagi manusia. Tumbuhan membersihkan udara, menjaga
suhu atmosfer, menyeimbangkan proporsi gas di udara, serta menjadi sumber
makanan bagi manusia dan hewan melalui "pabrik hijau" mereka yang
disebut kloroplas. Proses fotosintesis—yang dirumuskan sebagai 6H₂O + 6CO₂ +
Cahaya matahari → C₆H₁₂O₆ + 6O₂—dipandang sebagai salah satu ayat kauniyah yang
membuktikan bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah, Pemelihara seluruh
alam (Kemenag RI, 2012).
3.
Q.S. Al-Insan Ayat 17 (Jahe/Zanjabil)
Berbeda dengan Agus Purwanto, Tafsir Kemenag RI
menafsirkan jahe (zanjabil) dalam Q.S. Al-Insan: 17 dengan perspektif
yang lebih kontekstual-historis. Tafsir ini menjelaskan bahwa jahe adalah
sejenis tanaman yang memiliki rasa yang lezat dan tumbuh di wilayah Timur
Tengah pada masa lalu. Zanjabil sering digunakan sebagai bahan wangi-wangian
dan sangat digemari oleh masyarakat Arab (Kemenag RI, 2012). Tafsir Kemenag RI
juga mengutip pandangan Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa semua hal yang
disebutkan dalam Al-Qur'an berkaitan dengan surga—baik makanan, minuman,
buah-buahan, maupun tumbuhan tidak memiliki tandingan di dunia ini.
Satu-satunya kesamaan yang ada hanyalah pada namanya, sementara rasa dan
kualitasnya jauh melampaui apa yang ada di dunia (Kemenag RI, 2012). Pandangan
ini mengajak manusia untuk tidak membatasi imajinasi mereka tentang kenikmatan
surga hanya pada apa yang mereka kenal di dunia.
Analisis
Persamaan Penafsiran
Terdapat beberapa persamaan yang signifikan antara
penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI terhadap ayat-ayat tumbuhan,
yang dapat dirangkum sebagai berikut:
Pertama, keduanya menggunakan bahasa Indonesia
sebagai medium penyampaian tafsir, yang merupakan cerminan dari latar belakang
dan konteks sosial keduanya sebagai karya tafsir yang dihasilkan di Indonesia
untuk masyarakat Indonesia. Hal ini menjadikan tafsir keduanya lebih mudah
dipahami dan diakses oleh masyarakat luas yang tidak memiliki kemampuan bahasa
Arab. Kedua, keduanya menggunakan pendekatan penafsiran yang berbasis
ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat tumbuhan. Tafsir Kemenag RI menjelaskan
proses fotosintesis dan peran kloroplas dalam memproduksi makanan, sementara
Agus Purwanto memaparkan kandungan kimia jahe seperti gingerol dan minyak
atsiri beserta manfaat kesehatannya. Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa
sains dan Al-Qur'an dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat. Ketiga,
keduanya sama-sama menjelaskan fungsi dan manfaat tumbuhan yang terkandung
dalam ayat-ayat yang dibahas. Agus Purwanto memaparkan manfaat jahe dan
keluarganya secara rinci, sementara Tafsir Kemenag RI menguraikan manfaat
kurma, anggur, dan berbagai tumbuhan lainnya bagi kesehatan dan kehidupan
manusia. Penjelasan tentang manfaat ini bersifat praktis dan aplikatif. Keempat,
keduanya sama-sama mengajak pembaca untuk merenungi nikmat dan kekuasaan Allah
yang terwujud melalui ciptaan-Nya berupa berbagai jenis tumbuhan. Baik Agus
Purwanto maupun Tafsir Kemenag RI memandang tumbuhan tidak hanya sebagai objek
ilmiah semata, tetapi juga sebagai tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah yang
harus disyukuri dan direnungi.
Analisis
Perbedaan Penafsiran
|
Aspek |
Agus
Purwanto |
Tafsir
Kemenag RI |
|
Cakupan
Ayat |
Hanya
menafsirkan 1 ayat tumbuhan secara mendalam: Q.S. Al-Insan: 17 |
Menafsirkan
lebih banyak ayat tumbuhan secara lengkap dan sistematis |
|
Rasa
Jahe |
Rasa
jahe pedas, disebabkan oleh senyawa gingerol |
Rasa
jahe lezat dan nikmat, digemari masyarakat Arab |
|
Asal-Usul
Jahe |
Asal
usul jahe belum dapat dipastikan; diperkirakan dari India atau Asia Tenggara |
Jahe
berasal dari Timur Tengah |
|
Pendekatan |
Ilmiah-sains
(fisika & biologi), fokus pada penelitian dan ekplorasi ilmiah |
Kontekstual-historis,
melibatkan riwayat, konteks sosial, dan ilmiah botani |
|
Kedalaman
Ilmiah |
Sangat
mendalam untuk satu ayat; menyebut senyawa kimia spesifik (gingerol, minyak
atsiri) |
Komprehensif
untuk banyak ayat; menjelaskan proses fotosintesis dan peran ekologi |
|
Metode |
Tematik
(maudhu'i), klasifikasi A-Z ayat kauniyah |
Tahlili
(analitis), ayat per ayat secara berurutan |
Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak
pada cakupan penafsiran. Agus Purwanto, meskipun telah mengklasifikasikan
berbagai subjek tumbuhan dalam karya-karyanya (timun, anggur, zaitun, kurma),
namun hanya memberikan penafsiran mendalam terhadap satu ayat tumbuhan, yaitu
Q.S. Al-Insan: 17 yang membahas jahe. Hal ini berbeda dengan Tafsir Kemenag RI
yang menafsirkan ayat-ayat tumbuhan secara lebih lengkap dan komprehensif
(Purwanto, 2015; Kemenag RI, 2012). Perbedaan kedua terletak pada pemaknaan rasa
dan asal-usul jahe. Agus Purwanto menjelaskan secara ilmiah bahwa rasa pedas
jahe disebabkan oleh senyawa gingerol, dan asal-usul jahe yang masih
diperdebatkan oleh para ahli—ada yang berpendapat dari India, ada pula yang
mengatakan dari Asia Tenggara. Sementara itu, Tafsir Kemenag RI lebih
menekankan cita rasa jahe yang lezat dalam konteks tradisi Arab, dan
menyebutkan bahwa jahe berasal dari Timur Tengah (Kemenag RI, 2012).
Perbedaan ketiga berkaitan dengan orientasi pembaca
yang dituju. Agus Purwanto dalam karya-karyanya secara eksplisit menargetkan
pembaca dari kalangan ilmuwan dan akademisi Muslim yang ingin mengintegrasikan
sains dengan keimanan. Beliau secara terus-menerus mendorong ilmuwan Muslim
untuk melakukan penelitian yang terinspirasi dari petunjuk Al-Qur'an. Di sisi
lain, Tafsir Kemenag RI ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat Muslim
Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan dan sosial, sehingga pendekatannya
lebih inklusif dan komprehensif. Perbedaan keempat menyangkut kedalaman dan
fokus analisis ilmiah. Agus Purwanto menggali satu ayat secara sangat dalam
dengan menyebut senyawa-senyawa kimia spesifik dalam jahe seperti gingerol,
shogaol, dan komponen minyak atsiri (zingiberene, curcumene, sitral, sineol,
zingiberol), serta manfaatnya dalam berbagai industri seperti kosmetik,
farmasi, dan aromaterapi.
Tafsir Kemenag RI cenderung lebih luas dalam membahas
banyak jenis tumbuhan sekaligus, menjelaskan proses fotosintesis, siklus air,
dan ekosistem secara umum, namun tidak mendalami satu jenis tumbuhan secara
sangat spesifik seperti yang dilakukan oleh Agus Purwanto. Secara keseluruhan,
dapat disimpulkan bahwa Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI merupakan dua
sumber yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Agus Purwanto unggul
dalam kedalaman analisis ilmiah terhadap satu ayat, sementara Tafsir Kemenag RI
unggul dalam kelengkapan cakupan ayat dan kontekstualisasinya dengan kehidupan
masyarakat. Keduanya secara bersama-sama dapat menjadi rujukan yang
komprehensif bagi siapapun yang ingin memahami pesan Al-Qur'an tentang tumbuhan
dari perspektif sains dan agama sekaligus.
Integrasi
Sains dan Al-Qur'an dalam Kajian Tumbuhan
Penelitian ini memperlihatkan bahwa upaya
mengintegrasikan sains dengan Al-Qur'an dalam kajian tumbuhan bukan hanya
mungkin dilakukan, tetapi juga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya dan
mendalam. Kedua perspektif Agus Purwanto yang berasal dari dunia sains fisika
dan biologi, serta Tafsir Kemenag RI yang berasal dari tradisi ulama dan
institusi agama sesungguhnya memiliki titik temu yang sangat kuat: keduanya
memandang tumbuhan sebagai ciptaan Allah yang penuh dengan tanda-tanda
kebesaran-Nya dan manfaat bagi seluruh makhluk hidup.
Dalam perspektif epistemologi Islam, pendekatan yang
dilakukan oleh Agus Purwanto dapat dikategorikan sebagai upaya membangun sains
Islam yang berlandaskan pada tauhid dan wahyu. Sains, dalam pandangan
ini, bukanlah sesuatu yang terpisah dari agama, melainkan merupakan bagian
integral dari upaya manusia untuk memahami dan menghargai ciptaan Allah. Setiap
penemuan ilmiah tentang tumbuhan sejatinya adalah pengungkapan atas salah satu
rahasia yang telah Allah isyaratkan dalam Al-Qur'an ribuan tahun yang lalu (Thayyarah,
2013). Di sisi lain, Tafsir Kemenag RI menunjukkan bahwa institusi keagamaan
pun tidak harus menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan
melibatkan tim ahli dari LIPI dalam proses penyempurnaannya, Tafsir Kemenag RI
menunjukkan komitmennya untuk menyajikan tafsir yang tidak hanya valid secara
teologis, tetapi juga relevan secara ilmiah. Kolaborasi antara ulama dan
ilmuwan dalam menafsirkan Al-Qur'an ini merupakan model yang ideal dan patut
diteruskan serta dikembangkan lebih lanjut di masa mendatang (Kemenag RI,
2012).
Temuan penelitian ini juga mengimplikasikan pentingnya
pendidikan integratif di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, di mana
kajian Al-Qur'an dan tafsir tidak hanya diajarkan secara tekstual semata,
tetapi juga dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini, termasuk di
bidang biologi, kimia, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Dengan demikian, generasi
Muslim yang terdidik tidak hanya mampu memahami Al-Qur'an secara spiritual,
tetapi juga secara intelektual-saintifik, sehingga dapat berkontribusi nyata
dalam pengembangan peradaban manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islami.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis komparatif yang telah dilakukan
terhadap penafsiran Agus Purwanto dan Tafsir Kemenag RI mengenai ayat-ayat
tumbuhan dalam Al-Qur'an, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, penafsiran Agus Purwanto terhadap
ayat-ayat tumbuhan berfokus pada Q.S. Al-Insan: 17 yang membahas jahe sebagai
minuman surga. Penafsirannya sangat mendalam dan komprehensif dari perspektif
ilmiah, mencakup analisis linguistik, kandungan kimia jahe (gingerol, minyak
atsiri), berbagai manfaat kesehatan jahe, serta keluarga tumbuhan jahe lainnya
seperti kencur, temu lawak, dan kunyit. Agus Purwanto secara konsisten
mendorong ilmuwan Muslim untuk menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai landasan
penelitian ilmiah mereka. Sementara itu, Tafsir Kemenag RI menafsirkan
ayat-ayat tumbuhan secara lebih luas dan sistematis, mencakup Q.S. Yasin: 34
(kurma dan anggur), Q.S. Al-An'am: 99 (berbagai tumbuhan beserta proses
fotosintesis), dan Q.S. Al-Insan: 17 (jahe sebagai minuman surga). Tafsir
Kemenag RI menggunakan pendekatan kontekstual-historis yang memadukan riwayat,
konteks sosial, dan perspektif ilmiah botani secara lebih seimbang.
Kedua, persamaan antara keduanya meliputi: (a)
sama-sama menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami; (b) sama-sama
menggunakan pendekatan ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat tumbuhan; (c)
sama-sama menjelaskan fungsi dan manfaat tumbuhan bagi manusia dan makhluk
hidup lainnya; dan (d) sama-sama mengajak pembaca untuk merenungi nikmat dan
kekuasaan Allah melalui ciptaan-Nya berupa tumbuhan. Perbedaan antara keduanya
meliputi: (a) Agus Purwanto menafsirkan hanya satu ayat tumbuhan secara sangat
mendalam, sementara Tafsir Kemenag RI menafsirkan lebih banyak ayat; (b) dalam
hal rasa jahe, Agus Purwanto menyebutnya pedas (mengandung gingerol), sedangkan
Tafsir Kemenag RI menyebutnya lezat; (c) dalam hal asal-usul jahe, Agus
Purwanto menyebutnya belum pasti (diperkirakan dari India atau Asia Tenggara),
sedangkan Tafsir Kemenag RI menyebutnya dari Timur Tengah.
Penelitian ini merekomendasikan agar kajian tafsir
ilmi terus dikembangkan di Indonesia dengan mengintegrasikan perspektif ilmiah
yang lebih beragam, serta mendorong ilmuwan-ilmuwan Muslim untuk terus menggali
kandungan sains dalam Al-Qur'an sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Agus
Purwanto. Sebagai rekomendasi akademis, peneliti selanjutnya diharapkan dapat
mengembangkan kajian ini dengan memperluas cakupan ayat-ayat tumbuhan yang
dianalisis, melibatkan lebih banyak tokoh tafsir Indonesia, serta mengintegrasikan
perspektif sains terkini dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan
dengan tumbuhan. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi
implikasi praktis dari penafsiran ayat-ayat tumbuhan ini dalam bidang farmasi,
gizi, dan pertanian modern yang berbasis Al-Qur'an. Dengan demikian, sinergi
antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan alam dapat terus diperkuat demi kemajuan
peradaban Islam yang rahmatan lil 'alamin.
REFERENSI
Alby, S.
(2020). Makna syifa' dalam Al-Qur'an: Studi komparatif penafsiran M. Quraish
Shihab dan Asy-Sya'rawi. Skripsi, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an,
Jakarta.
Alifa, A.
Z., Anshari, M. I., & Barizi, A. (2023). Epistemologi integralisme Islam
sebagai solusi membangun peradaban global: Pemikiran Mahzard dan Agus
Purwanto. Jurnal Sastra Arab dan Studi Islam, 6(3).
Arifin,
G., & Abu Fakih, S. (2010). Al-Qur'an Sang Mahkota. Jakarta:
Elek Media Komputindo.
Arisiana,
T., & Prasetiawati, E. (2019). Wawasan Al-Qur'an tentang khamr menurut
Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an. Jurnal Kajian
Agama, Sosial dan Budaya, 4(2).
Baidan, N.
(2011). Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Daneshgar,
M. (2023). Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan. Zygon, 58(4).
Fangesty,
M. A. S., dkk. (2024). Karakteristik dan model tafsir kontemporer. Ilmu
Al-Qur'an dan Tafsir, 3(1).
Fathrrohman,
A., & Iltiham, F. (2011). Pendalaman Ilmu Tafsir di PTAI Non Tafsir.
Pasuruan: be-A Publisher.
Fauzan, A.
(2015). Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan dalam Al-Qur'an. Skripsi, UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta.
Imam
Al-Qurtubi. (2007). Tafsir Al-Qurtubi (Terjemahan). Jakarta:
Pustaka Azzam.
Ibnu
Katsir. (2009). Tafsir Ibn Katsir (Terjemahan). Jakarta:
Pustaka Azzam.
Jannah, M.
(2023). Peta sumber rujukan Al-Qur'an dan Tafsirnya karya Tim Kementerian Agama
(Edisi yang disempurnakan). Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Jaronah,
S. (2020). Tumbuhan sebagai sumber gizi dalam Tafsir Kementerian Agama.
Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Kementerian
Agama Republik Indonesia. (2009). Tafsir Tematik: Pelestarian
Lingkungan Hidup. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.
Kementerian
Agama Republik Indonesia. (2010). Tafsir Ilmi: Tumbuhan dalam
Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an.
Kementerian
Agama Republik Indonesia. (2012). Al-Qur'an dan Tafsirnya, Edisi
Disempurnakan (10 Jilid). Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia.
Muqtadir.
(2021). Ayat-ayat kosmologi dalam tinjauan Agus Purwanto. Skripsi, IKHAC,
Mojokerto.
Mustaqim,
A. (2014). Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur'an. Yogyakarta: Adab
Press.
Mustaqim,
A. (2022). Metode Penelitian Al-Qur'an dan Tafsir. Yogyakarta: IDEA
Press.
Nazifah,
D. (2021). Tafsir-tafsir modern dan kontemporer abad ke-19–21 M. Jurnal
Iman dan Spiritualitas, 1(2).
Nur
Haliza, D. A. (2023). Obat herbal perspektif Al-Qur'an: Analisis obat herbal
sebagai pengobatan alternatif (studi tematik tafsir ilmi ayat-ayat obat
herbal). Skripsi, IAIN Kediri.
Purwanto,
A. (2015). Ayat-Ayat Semesta: Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan.
Bandung: PT Mizan Pustaka.
Purwanto,
A. (2015). Nalar Ayat-Ayat Semesta: Menjadikan Al-Qur'an sebagai Basis
Konstruksi Ilmu Pengetahuan. Bandung: Mizan Pustaka.
Rahmadewi,
R., Efelina, V., & Purwanti, E. (2018). Identifikasi jenis tumbuhan
menggunakan citra daun berbasis jaringan saraf tiruan. Jurnal Media
Elektro, 7(2).
Rifaanudin,
M., & Hibban, M. F. (2022). Manfaat tumbuhan dalam Al-Qur'an bagi
kesehatan: Pendekatan tafsir ilmi. Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an
dan Tafsir, 2(1).
Rofiqoh,
A. (2015). Studi pemikiran Agus Purwanto tentang ayat-ayat kauniyah. Tesis, UIN
Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember.
Syarifuddin,
& Harahap, A. (2021). Integrasi struktur dan fungsi bagian tumbuhan dengan
bayani, burhani, irfani di SDIT Bunayya. Dirasatul Ibtidaiyah, 1(1).
Thayyarah,
N. (2013). Sains dalam Al-Qur'an. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Wahbah
az-Zuhaili. (2013). Tafsir Al-Munir (Terjemahan). Jakarta:
Gema Insani.
Wardani.
(2017). Metodologi Tafsir Al-Qur'an di Indonesia. Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta.
Yusuf, A.
M. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian
Gabungan. Jakarta: Kencana.
Yusuf, M.
Y., Sutrisno, & Karwadi. (2017). Sains Islam: Pemikiran Agus Purwanto dalam
buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta. EDUKASI: Jurnal
Pendidikan Islam, 5(1).
Zannah, F.
(2023). Sains Kajian Tumbuhan dan Hewan Berbasis Riset dan Al-Qur'an.
Yogyakarta: K-Media.
Zed, M.
(2004). Metodologi Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
No comments:
Post a Comment