Utilization of Katuk Leaves (Sauropus androgynus) as an Herbal Food to Support Breast Milk Production in Breastfeeding Mothers: A Literature Review
Email: tiyaarahmah@gmail.com
Abstrak
Produksi ASI yang kurang lancar
masih menjadi salah satu kendala dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Salah satu bahan pangan lokal yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk
mendukung produksi ASI adalah daun katuk (Sauropus androgynus). Kajian
ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan daun katuk sebagai pangan herbal
pendukung produksi ASI pada ibu menyusui. Metode yang digunakan adalah kajian
literatur naratif dengan menelaah tiga artikel yang relevan mengenai pengaruh
daun katuk terhadap produksi ASI, budidaya daun katuk sebagai bahan olahan
pangan, serta pemanfaatan katuk sebagai tanaman herbal di masyarakat. Hasil
kajian menunjukkan bahwa daun katuk dilaporkan memiliki potensi sebagai
galaktagog karena mengandung senyawa seperti sterol, alkaloid, papaverin,
flavonoid, vitamin, dan mineral. Daun katuk juga dapat diolah dalam berbagai
bentuk, seperti sayur bening, rebusan, ekstrak, biskuit, dan olahan pangan
lainnya. Selain itu, kajian etnobotani menunjukkan bahwa pemanfaatan tertinggi
daun katuk di masyarakat adalah sebagai pelancar ASI. Dengan demikian, daun katuk
berpotensi digunakan sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI, namun
penggunaannya perlu memperhatikan cara pengolahan yang tepat dan batas konsumsi
yang aman.
Keywords: Daun Katuk; Sauropus Androgynus; ASI;
Ibu Menyusui; Pangan Herbal
Abstract
Insufficient breast milk production remains one of the obstacles to the
success of exclusive breastfeeding. One of the local food ingredients widely
used by the community to support breast milk production is katuk leaves
(Sauropus androgynus). This study aims to analyze the utilization of katuk
leaves as an herbal food to support breast milk production in breastfeeding
mothers. The method used was a narrative literature review by examining three
relevant articles regarding the effect of katuk leaves on breast milk
production, the cultivation of katuk leaves as processed food ingredients, and
the use of katuk as a herbal plant in the community. The results of the review
indicate that katuk leaves have potential as a galactagogue because they
contain compounds such as sterols, alkaloids, papaverine, flavonoids, vitamins,
and minerals. Katuk leaves can also be processed into various forms, such as
clear vegetable soup, decoctions, extracts, biscuits, and other food products.
In addition, ethnobotanical studies show that the most common use of katuk
leaves in the community is to promote breast milk production. Therefore, katuk
leaves have the potential to be used as an herbal food to support breast milk
production; however, their use should consider proper processing methods and
safe consumption limits.
Keywords: Katuk
Leaves; Sauropus androgynus; Breast Milk; Breastfeeding Mothers; Herbal Food
Article Info
Received date: 28 April 2026 Revised date: 30 April 2026 Accepted date: 07 May 2026
PENDAHULUAN
Air Susu Ibu (ASI) merupakan
sumber nutrisi utama bagi bayi, terutama pada masa awal kehidupan. Pemberian
ASI berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
kecerdasan, serta daya tahan tubuh bayi. Pemenuhan gizi bayi usia 0–6 bulan
melalui ASI menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan anak, sebab
gangguan gizi pada usia dini dapat berdampak terhadap pertumbuhan,
perkembangan, dan produktivitas anak pada tahap kehidupan berikutnya (Prasetya
et al., 2019). Oleh karena itu, keberhasilan pemberian ASI tidak hanya menjadi
tanggung jawab ibu, tetapi juga berkaitan dengan dukungan keluarga, tenaga
kesehatan, kader, dan lingkungan sosial di sekitar ibu menyusui.
Meskipun ASI memiliki peran
penting, praktik pemberian ASI eksklusif masih menghadapi berbagai hambatan.
Salah satu alasan yang sering muncul adalah kekhawatiran ibu terhadap kecukupan
produksi ASI. Banyak ibu merasa cemas apakah ASI yang diberikan sudah cukup
bagi bayi, karena jumlah ASI yang dikonsumsi bayi secara langsung tidak selalu
mudah diukur. Selain itu, produksi ASI yang tidak adekuat dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti kurangnya stimulasi payudara, frekuensi menyusui
yang jarang, aktivitas berat, stres, serta pola makan ibu (Maryunani, 2012).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelancaran produksi ASI tidak hanya
bergantung pada faktor biologis, tetapi juga pada kondisi psikologis, pola
menyusui, dan pemenuhan nutrisi ibu.
Keberhasilan pemberian ASI
eksklusif juga dipengaruhi oleh dukungan sosial. Dukungan suami, keluarga,
nenek bayi, serta kader kesehatan dapat memberikan rasa nyaman dan meningkatkan
motivasi ibu selama menyusui (Aini, 2017; Retnowati & Pujiastuti, 2022).
Kader kesehatan memiliki peran strategis karena mereka sering berinteraksi
langsung dengan ibu hamil dan ibu menyusui di masyarakat. Melalui penyuluhan,
pendampingan, kunjungan, serta pemberian informasi mengenai olahan pangan
pendukung ASI, kader dapat membantu meningkatkan pemahaman ibu tentang cara
menjaga kelancaran produksi ASI (Sukmawati et al., 2019). Dengan demikian,
upaya peningkatan produksi ASI perlu dilihat secara menyeluruh, mencakup aspek
nutrisi, edukasi, dukungan keluarga, serta akses terhadap bahan pangan lokal
yang bermanfaat.
Secara fisiologis, produksi
ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin berperan
dalam proses pembentukan ASI, sedangkan hormon oksitosin membantu proses
pengeluaran ASI dari payudara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
mendukung produksi ASI adalah memperbaiki kualitas makanan ibu menyusui,
terutama melalui konsumsi bahan pangan yang memiliki kandungan zat gizi dan
senyawa bioaktif tertentu (Apreliasari & Risnawati, 2020; Dolang et al.,
2021). Sayuran hijau menjadi salah satu kelompok pangan yang sering dikaitkan
dengan peningkatan produksi ASI, karena mengandung vitamin, mineral, serat, dan
senyawa aktif yang dapat menunjang metabolisme tubuh ibu menyusui.
Salah satu tanaman lokal yang
banyak dikenal masyarakat sebagai pangan pendukung produksi ASI adalah daun
katuk (*Sauropus androgynus*). Daun katuk telah lama digunakan masyarakat
Indonesia sebagai sayuran hijau dan tanaman herbal, terutama oleh ibu menyusui.
Tanaman ini dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk, seperti lalapan, sayur
bening, rebusan, ekstrak, simplisia, biskuit, bolu kukus, stik, maupun olahan
pangan lainnya (Juliastuti, 2019; Panjaitan et al., 2020; Indrayani et al.,
2020; Pujiastuti & Febrianti, 2022). Berbagai bentuk olahan tersebut
menunjukkan bahwa daun katuk tidak hanya dipandang sebagai tanaman obat, tetapi
juga sebagai bahan pangan lokal yang mudah diintegrasikan dalam pola konsumsi
sehari-hari.
Potensi daun katuk sebagai
pendukung produksi ASI berkaitan dengan kandungan gizi dan senyawa bioaktif di
dalamnya. Daun katuk mengandung sterol, alkaloid, papaverin, polifenol,
flavonoid, saponin, vitamin, mineral, serta klorofil. Kandungan sterol dilaporkan
dapat membantu metabolisme glukosa untuk sintesis laktosa, sedangkan polifenol
dan steroid berkaitan dengan refleks prolaktin dan oksitosin dalam proses
produksi serta pengeluaran ASI (Ramayulis, 2015). Selain itu, daun katuk
mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, kalsium, zat besi, fosfor, dan
beberapa mineral lain yang penting bagi ibu menyusui (Ibrahim & Pratiwi,
2021). Kandungan tersebut menjadi dasar mengapa daun katuk sering dimanfaatkan
sebagai galaktagog alami atau bahan yang dipercaya dapat membantu kelancaran
produksi ASI.
Beberapa kajian terdahulu
menunjukkan bahwa daun katuk digunakan dalam berbagai bentuk intervensi untuk
mendukung produksi ASI. Ibrahim dan Pratiwi (2021) dalam kajian literaturnya
menemukan bahwa konsumsi daun katuk dilakukan melalui beberapa cara, antara
lain ekstrak daun katuk, simplisia, rebusan daun katuk, sayur bening, biskuit,
dan camilan bagi ibu menyusui. Hasil telaah terhadap sembilan artikel
menunjukkan bahwa konsumsi daun katuk dilaporkan berpengaruh terhadap
peningkatan produksi ASI. Namun, klaim tersebut tetap perlu dibaca secara
hati-hati karena bentuk olahan, dosis, lama konsumsi, dan indikator pengukuran
produksi ASI pada tiap penelitian dapat berbeda-beda.
Selain aspek khasiat,
pemanfaatan daun katuk juga berkaitan dengan ketersediaan tanaman dan
pengetahuan masyarakat. Pujiastuti et al. (2023) menunjukkan bahwa daun katuk
memiliki potensi sebagai bahan olahan pangan bagi ibu menyusui, tetapi tanaman
ini masih jarang ditemui di beberapa lingkungan masyarakat karena kurangnya
pengetahuan tentang manfaat dan cara pengolahannya. Melalui kegiatan edukasi
dan praktik budidaya, pengetahuan serta keterampilan peserta dalam menanam dan
memanfaatkan daun katuk dapat meningkat. Hal ini memperlihatkan bahwa
pemanfaatan daun katuk tidak cukup hanya dibahas dari sisi kandungan zat aktif,
tetapi juga perlu dikaitkan dengan edukasi, budidaya, akses bahan, dan
kemampuan masyarakat dalam mengolahnya secara tepat.
Kajian etnobotani juga
memperkuat bahwa daun katuk masih memiliki tempat penting dalam praktik
pengobatan tradisional masyarakat. Firdaus et al. (2025) menemukan bahwa
masyarakat RW 08 Desa Sindangsari, Kabupaten Garut, memanfaatkan daun katuk
untuk berbagai tujuan, seperti pelancar ASI, bahan pangan, obat batuk, obat
panas dalam, obat demam, dan penyubur rambut. Dari berbagai manfaat tersebut,
penggunaan daun katuk sebagai pelancar ASI memiliki nilai tertinggi, yaitu *Use
Value* sebesar 0,87 dan *Fidelity Level* sebesar 66,67%. Temuan ini menunjukkan
bahwa pemanfaatan daun katuk sebagai pelancar ASI bukan hanya muncul dalam
kajian kesehatan, tetapi juga hidup dalam pengetahuan tradisional masyarakat.
Walaupun daun katuk memiliki
potensi sebagai pangan herbal, penggunaannya tetap perlu memperhatikan aspek
keamanan dan cara pengolahan. Kajian etnobotani mencatat bahwa konsumsi daun
katuk mentah secara berlebihan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan,
sehingga penggunaan daun katuk sebagai pangan atau obat tradisional perlu
dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan (Zhang et al., 2020). Selain itu,
proses pengolahan seperti perebusan, pemerasan, penumbukan, dan penyayuran
dapat memengaruhi keamanan serta kualitas kandungan daun katuk. Dengan
demikian, pembahasan mengenai daun katuk sebagai pangan pendukung ASI perlu
mencakup manfaat, bentuk olahan, praktik masyarakat, dan batasan penggunaannya.
Berdasarkan uraian tersebut,
daun katuk memiliki potensi untuk dikaji sebagai pangan herbal lokal yang
mendukung produksi ASI pada ibu menyusui. Namun, penelitian sebelumnya masih
banyak berfokus pada pengaruh daun katuk terhadap produksi ASI atau pada pemanfaatannya
sebagai tanaman herbal secara umum. Oleh karena itu, kajian ini penting
dilakukan untuk menyintesis pemanfaatan daun katuk dari beberapa aspek, yaitu
kandungan bioaktif, bentuk pengolahan, potensi sebagai pendukung produksi ASI,
serta praktik penggunaannya di masyarakat. Kajian ini diharapkan dapat
memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pemanfaatan daun katuk sebagai
pangan herbal pendukung produksi ASI pada ibu menyusui.
TINJAUAN PUSTAKA
Air Susu Ibu dan Produksi ASI
Air
Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi, terutama pada usia 0–6 bulan.
ASI mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi dan berperan penting
dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta daya tahan tubuh. Dalam
konteks kesehatan ibu dan anak, pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu
upaya penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi pada masa awal kehidupan.
Pemenuhan gizi pada usia dini perlu diperhatikan karena gangguan gizi pada anak
usia kurang dari dua tahun dapat berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan
otak, kecerdasan, dan produktivitas pada masa berikutnya (Prasetya et al.,
2019).
Produksi
ASI tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi biologis ibu, tetapi juga oleh faktor
psikologis, frekuensi menyusui, stimulasi payudara, pola makan, aktivitas, dan
dukungan lingkungan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan produksi ASI tidak
adekuat antara lain stimulasi payudara yang kurang, frekuensi menyusui yang
jarang, aktivitas berat, stres, dan pola diet ibu yang kurang tepat (Maryunani,
2012). Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan menyusui tidak dapat dilepaskan
dari kondisi fisik dan psikologis ibu serta pola dukungan yang diterima selama
masa menyusui.
Secara
fisiologis, produksi ASI terutama dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan
oksitosin. Prolaktin berperan dalam proses pembentukan ASI di alveoli payudara,
sedangkan oksitosin membantu pengeluaran ASI melalui refleks let-down. Apabila
ibu mengalami stres, kelelahan, atau kurang mendapat dukungan, refleks
oksitosin dapat terganggu sehingga pengeluaran ASI menjadi tidak lancar. Oleh
karena itu, peningkatan produksi ASI perlu dilakukan melalui pendekatan yang
menyeluruh, yaitu memperbaiki pola menyusui, menjaga kondisi psikologis ibu,
memberikan dukungan keluarga, serta memperhatikan asupan makanan ibu menyusui
(Apreliasari & Risnawati, 2020; Dolang et al., 2021).
Pangan Herbal dan Galaktagog
Pangan
herbal merupakan bahan pangan yang tidak hanya dikonsumsi sebagai sumber
nutrisi, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan tertentu. Dalam
masyarakat Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai pangan sekaligus obat
tradisional telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun. Salah
satu bentuk pemanfaatan pangan herbal pada ibu menyusui adalah penggunaan bahan
alami yang dipercaya dapat membantu memperlancar produksi ASI.
Bahan
yang dapat membantu meningkatkan atau melancarkan produksi ASI dikenal dengan
istilah galaktagog. Galaktagog dapat berasal dari obat-obatan, bahan pangan,
maupun tanaman herbal. Dalam praktik masyarakat, tanaman lokal sering digunakan
sebagai galaktagog karena dianggap lebih mudah diperoleh, relatif murah, dan
sesuai dengan kebiasaan konsumsi sehari-hari. Namun, pemanfaatan galaktagog
herbal tetap perlu dilihat secara hati-hati karena efektivitasnya dapat
dipengaruhi oleh bentuk olahan, jumlah konsumsi, kondisi ibu, serta pola
menyusui. Dengan demikian, tanaman herbal seperti daun katuk lebih tepat
diposisikan sebagai pangan pendukung produksi ASI, bukan sebagai satu-satunya
faktor yang menentukan keberhasilan menyusui.
Daun Katuk (Sauropus androgynus)
sebagai Tanaman Herbal
Daun
katuk (*Sauropus androgynus*) merupakan tanaman herbal yang banyak dikenal di
wilayah Asia, termasuk Indonesia. Tanaman ini termasuk salah satu tumbuhan yang
banyak dimanfaatkan masyarakat karena memiliki kandungan zat gizi dan senyawa
bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Daun katuk mengandung berbagai senyawa
seperti resin, flavonoid, tanin, saponin, sterol, karbohidrat, mineral, dan
vitamin (Santana et al., 2021; Zhang et al., 2020; Arif & Shetty, 2020;
Anju et al., 2022; Senthamarai Selvi & Basker, 2012).
Di
Indonesia, daun katuk banyak digunakan sebagai sayuran hijau dan tanaman obat
tradisional. Masyarakat mengolah daun katuk dalam berbagai bentuk, seperti
sayur bening, lalapan, rebusan, ekstrak, simplisia, biskuit, bolu kukus, stik,
dan olahan pangan lainnya. Penggunaan daun katuk sebagai pangan herbal
menunjukkan bahwa tanaman ini tidak hanya memiliki nilai kesehatan, tetapi juga
memiliki nilai sosial dan budaya dalam praktik konsumsi masyarakat (Juliastuti,
2019; Panjaitan et al., 2020; Indrayani et al., 2020; Pujiastuti &
Febrianti, 2022).
Daun
katuk juga dikenal sebagai salah satu tanaman yang berhubungan dengan kesehatan
ibu menyusui. Dalam beberapa kajian, daun katuk disebut sebagai tanaman yang
dipercaya dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Pemanfaatan ini berkaitan
dengan kandungan senyawa aktif dan nilai gizinya, sehingga daun katuk sering
dijadikan salah satu alternatif pangan lokal bagi ibu menyusui (Ibrahim &
Pratiwi, 2021).
Kandungan Gizi dan Senyawa
Bioaktif Daun Katuk
Daun
katuk memiliki kandungan gizi yang cukup beragam. Dalam 100 gram daun katuk,
terdapat energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi,
vitamin B1, vitamin C, dan air (Ramayulis, 2015). Kandungan tersebut menjadikan
daun katuk sebagai salah satu sayuran hijau yang berpotensi mendukung kebutuhan
nutrisi ibu menyusui. Selain kandungan gizi makro dan mikro, daun katuk juga
mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid,
polifenol, steroid, papaverin, dan sterol (Ibrahim & Pratiwi, 2021).
Kandungan
sterol pada daun katuk dikaitkan dengan peningkatan metabolisme glukosa untuk
sintesis laktosa. Laktosa merupakan salah satu komponen utama dalam ASI,
sehingga proses sintesis laktosa berkaitan dengan produksi ASI. Selain itu,
polifenol dan steroid disebut berperan dalam refleks prolaktin dan oksitosin,
yaitu dua hormon penting dalam produksi dan pengeluaran ASI (Ramayulis, 2015).
Dengan demikian, kandungan bioaktif daun katuk menjadi salah satu dasar ilmiah
mengapa tanaman ini banyak digunakan sebagai pangan pendukung ASI.
Daun
katuk juga mengandung papaverin, yaitu senyawa alkaloid yang disebut dapat
mendukung proses produksi ASI. Papaverin dikaitkan dengan pelepasan prolaktin
serta relaksasi otot polos dan pelebaran pembuluh darah, sehingga dapat
membantu sirkulasi hormon yang berperan dalam menyusui (Indrayani et al.,
2020). Selain itu, daun katuk kaya akan provitamin A, vitamin B, vitamin C,
vitamin K, kalsium, fosfor, magnesium, dan klorofil. Kandungan tersebut
mendukung pemanfaatan daun katuk sebagai pangan lokal yang bernilai gizi bagi
ibu menyusui (Kostania, 2015).
Mekanisme Daun Katuk dalam
Mendukung Produksi ASI
Secara
teoritis, potensi daun katuk dalam mendukung produksi ASI berkaitan dengan
kandungan senyawa bioaktif yang dapat memengaruhi proses hormonal. Produksi ASI
sangat erat hubungannya dengan hormon prolaktin dan oksitosin. Prolaktin
berfungsi merangsang sel-sel alveoli payudara untuk menghasilkan ASI, sedangkan
oksitosin berperan dalam pengeluaran ASI dari payudara. Daun katuk mengandung
fitosterol, papaverin, polifenol, dan senyawa lain yang dikaitkan dengan
peningkatan kerja hormon tersebut (Apreliasari & Risnawati, 2020; Indrayani
et al., 2020).
Fitosterol
dalam daun katuk memiliki efek hormonal yang bersifat estrogenik dan dapat
berhubungan dengan peningkatan hormon prolaktin. Sementara itu, papaverin pada
daun katuk disebut dapat merangsang pelepasan prolaktin dan mendukung
peningkatan hormon oksitosin dalam aliran darah. Mekanisme ini menjadi salah
satu penjelasan mengapa daun katuk sering digunakan sebagai galaktagog alami
oleh masyarakat (Indrayani et al., 2020).
Meskipun
demikian, mekanisme tersebut tidak boleh dipahami secara berlebihan. Produksi
ASI tidak hanya ditentukan oleh konsumsi daun katuk. Faktor seperti frekuensi
bayi menyusu, pelekatan bayi, kecukupan istirahat, kondisi psikologis ibu,
status gizi, serta dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting. Oleh karena
itu, daun katuk lebih tepat dipahami sebagai salah satu pangan pendukung, bukan
sebagai faktor tunggal yang menjamin peningkatan produksi ASI.
Bentuk Pengolahan Daun Katuk
Daun
katuk dapat diolah dalam berbagai bentuk. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
daun katuk dikonsumsi dalam bentuk ekstrak, simplisia, rebusan, sayur bening,
biskuit, dan camilan. Ibrahim dan Pratiwi (2021) menemukan bahwa dalam beberapa
artikel yang dikaji, partisipan mengonsumsi daun katuk dalam bentuk ekstrak
daun katuk, simplisia, dan rebusan daun katuk. Kajian tersebut juga
menyimpulkan bahwa daun katuk dapat dikonsumsi dalam bentuk sayur bening,
ekstrak, rebusan, maupun biskuit atau camilan bagi ibu menyusui.
Pengolahan
daun katuk menjadi penting karena dapat memengaruhi penerimaan masyarakat
terhadap bahan pangan tersebut. Daun katuk yang diolah menjadi sayur bening
atau rebusan cenderung mudah diterapkan dalam pola makan rumah tangga.
Sementara itu, olahan seperti biskuit, bolu kukus, stik, atau nugget dengan
campuran daun katuk dapat menjadi alternatif inovasi pangan agar daun katuk
lebih mudah dikonsumsi oleh ibu menyusui (Panjaitan et al., 2020; Indrayani et
al., 2020; Pujiastuti & Febrianti, 2022; Dewi & Astriana, 2022).
Selain
aspek variasi olahan, cara pengolahan juga perlu diperhatikan. Pengolahan yang
kurang tepat dapat mengurangi manfaat daun katuk. Misalnya, pemanasan yang
terlalu lama dapat menurunkan kandungan zat tertentu, sedangkan konsumsi mentah
dalam jumlah berlebihan juga perlu dihindari karena berpotensi menimbulkan
risiko kesehatan. Oleh karena itu, pemanfaatan daun katuk sebagai pangan herbal
perlu memperhatikan prinsip keamanan pangan, cara pengolahan, dan jumlah
konsumsi yang wajar.
Pemanfaatan Daun Katuk dalam
Masyarakat
Pemanfaatan
daun katuk dalam masyarakat tidak hanya didasarkan pada aspek medis, tetapi
juga pada pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam
kajian etnobotani, daun katuk dipahami sebagai tanaman yang memiliki banyak
fungsi, baik sebagai bahan pangan maupun sebagai tanaman obat. Etnobotani
sendiri merupakan kajian mengenai hubungan antara manusia dan tumbuhan,
terutama dalam konteks budaya, tradisi, dan praktik penggunaan tumbuhan dalam
kehidupan masyarakat (Zhang et al., 2020).
Firdaus,
Rahayu, dan Cahyanto (2025) menemukan bahwa masyarakat RW 08 Desa Sindangsari,
Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, memanfaatkan daun katuk untuk beberapa
tujuan, seperti pelancar ASI, bahan pangan, obat batuk, obat panas dalam, obat
demam, dan penyubur rambut. Dari berbagai manfaat tersebut, pemanfaatan daun
katuk sebagai pelancar ASI memiliki nilai tertinggi, yaitu “Use Value” sebesar
0,87 dan “Fidelity Level” sebesar 66,67%. Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi
daun katuk sebagai pelancar ASI merupakan pemanfaatan yang paling dikenal dan
paling kuat dalam praktik masyarakat setempat.
Pemanfaatan
daun katuk dalam masyarakat juga menunjukkan bahwa tanaman lokal masih memiliki
peran penting dalam mendukung kesehatan keluarga. Namun, pengetahuan
tradisional perlu dilengkapi dengan edukasi kesehatan agar penggunaannya lebih
aman dan tepat. Masyarakat perlu memahami manfaat, cara pengolahan, batas
konsumsi, serta kondisi tertentu yang memerlukan konsultasi dengan tenaga
kesehatan. Dengan demikian, pemanfaatan daun katuk dapat tetap mempertahankan
nilai lokal, tetapi juga sejalan dengan prinsip kesehatan yang rasional.
Budidaya Daun Katuk sebagai
Pendukung Ketersediaan Pangan Herbal
Ketersediaan
daun katuk menjadi faktor penting dalam pemanfaatannya sebagai pangan herbal.
Meskipun daun katuk dikenal masyarakat, tanaman ini tidak selalu mudah
ditemukan di lingkungan tempat tinggal. Pujiastuti et al. (2023) menunjukkan
bahwa salah satu masalah dalam pemanfaatan daun katuk adalah keterbatasan
tanaman di pekarangan warga serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai
manfaat dan bentuk olahan daun katuk. Oleh karena itu, budidaya daun katuk
menjadi salah satu upaya untuk menyediakan bahan pangan herbal bagi ibu
menyusui.
Budidaya
daun katuk relatif dapat dilakukan di lingkungan rumah karena tanaman ini mudah
dirawat. Kegiatan edukasi dan praktik budidaya dapat meningkatkan pengetahuan
serta keterampilan masyarakat dalam menyediakan bahan olahan pangan berbasis
daun katuk. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Pujiastuti et
al. (2023), peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi
dan praktik pembuatan bibit daun katuk. Kegiatan tersebut juga memotivasi
peserta untuk membudidayakan daun katuk sebagai upaya menyediakan bahan olahan
pangan bagi ibu menyusui.
Dengan
adanya budidaya di tingkat rumah tangga atau komunitas, daun katuk dapat
menjadi pangan lokal yang lebih mudah diakses. Hal ini penting karena
pemanfaatan tanaman herbal tidak hanya bergantung pada pengetahuan tentang
manfaat, tetapi juga pada ketersediaan bahan, kemampuan mengolah, dan
keberlanjutan praktik di masyarakat.
Kerangka Konseptual Kajian
Berdasarkan
beberapa kajian tersebut, pemanfaatan daun katuk sebagai pangan herbal
pendukung produksi ASI dapat dipahami melalui beberapa aspek yang saling
berkaitan. Pertama, produksi ASI dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal,
psikologis, dan nutrisi ibu. Kedua, daun katuk memiliki kandungan gizi dan
senyawa bioaktif seperti sterol, alkaloid, papaverin, flavonoid, polifenol,
vitamin, dan mineral yang berpotensi mendukung produksi ASI. Ketiga,
pemanfaatan daun katuk dalam masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan
tradisional, bentuk pengolahan, ketersediaan tanaman, dan edukasi kesehatan.
Dengan
demikian, kajian ini menempatkan daun katuk bukan sebagai satu-satunya penyebab
peningkatan produksi ASI, tetapi sebagai salah satu pangan herbal lokal yang
berpotensi mendukung kelancaran ASI. Pemanfaatannya perlu dipahami secara
proporsional, yaitu sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas asupan ibu
menyusui, didukung dengan pola menyusui yang tepat, dukungan keluarga, edukasi
kesehatan, serta pengolahan yang aman.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode kajian literatur naratif. Kajian literatur naratif
dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, membandingkan, dan
menyintesis hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai pemanfaatan daun katuk
(*Sauropus androgynus*) sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI pada ibu
menyusui. Metode ini tidak melakukan pengambilan data langsung kepada
responden, melainkan menelaah informasi dari artikel ilmiah yang relevan dengan
topik penelitian.
Pemilihan
metode kajian literatur naratif dianggap sesuai karena sumber yang dianalisis
memiliki fokus yang saling berkaitan, yaitu pengaruh daun katuk terhadap
produksi ASI, budidaya daun katuk sebagai bahan olahan pangan ibu menyusui,
serta pemanfaatan daun katuk sebagai tanaman herbal dalam masyarakat. Dengan
demikian, penelitian ini berupaya menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai
potensi daun katuk dari sisi kesehatan, pangan lokal, pengolahan, dan praktik
pemanfaatannya di masyarakat.
Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini berupa artikel ilmiah yang membahas daun katuk
(*Sauropus androgynus*) dan relevansinya dengan produksi ASI, pangan herbal,
serta pemanfaatan tanaman obat di masyarakat. Artikel yang digunakan sebagai
sumber utama terdiri atas tiga artikel.
Pertama,
artikel Ibrahim dan Pratiwi (2021) yang membahas pengaruh daun katuk terhadap
peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui melalui kajian literatur. Artikel
tersebut menggunakan pendekatan PICO dan menelaah sembilan jurnal yang
berkaitan dengan daun katuk dan produksi ASI. Kedua, artikel Pujiastuti et al.
(2023) yang membahas budidaya tanaman daun katuk untuk bahan olahan pangan ibu
menyusui melalui kegiatan edukasi dan praktik budidaya. Ketiga, artikel Firdaus
et al. (2025) yang mengkaji pemanfaatan katuk sebagai tanaman herbal di
masyarakat melalui pendekatan etnobotani dengan analisis *Use Value* dan
*Fidelity Level*.
Ketiga
artikel tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan fokus
kajian, yaitu pemanfaatan daun katuk sebagai pangan herbal pendukung produksi
ASI. Artikel Ibrahim dan Pratiwi (2021) memberikan dasar mengenai potensi daun
katuk terhadap produksi ASI, artikel Pujiastuti et al. (2023) memperkuat aspek
budidaya dan pengolahan pangan, sedangkan artikel Firdaus et al. (2025)
memberikan gambaran mengenai praktik pemanfaatan daun katuk dalam masyarakat.
Kriteria Pemilihan Literatur
Literatur
yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan beberapa kriteria.
Pertama, artikel membahas daun katuk (*Sauropus androgynus*) sebagai objek
utama atau bagian penting dalam pembahasan. Kedua, artikel memiliki keterkaitan
dengan produksi ASI, ibu menyusui, pangan herbal, olahan pangan, atau
pemanfaatan tanaman herbal dalam masyarakat. Ketiga, artikel memuat informasi
mengenai manfaat, kandungan, bentuk pengolahan, atau praktik penggunaan daun
katuk. Keempat, artikel tersedia dalam bentuk teks lengkap sehingga dapat
dianalisis secara utuh.
Adapun
literatur yang tidak digunakan dalam kajian utama adalah sumber yang tidak
membahas daun katuk secara langsung, tidak berkaitan dengan produksi ASI atau
pangan herbal, serta tidak menyediakan informasi yang cukup untuk dianalisis.
Dengan kriteria tersebut, penelitian ini berfokus pada literatur yang paling
relevan dengan tujuan kajian.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap artikel ilmiah
yang telah dipilih. Setiap artikel dibaca secara menyeluruh, kemudian informasi
penting dicatat dan dikelompokkan berdasarkan tema tertentu. Informasi yang
dikumpulkan meliputi identitas artikel, tujuan penelitian, metode penelitian,
fokus pembahasan, kandungan daun katuk, bentuk pengolahan, hasil utama, serta
kesimpulan yang berkaitan dengan pemanfaatan daun katuk.
Proses
pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca artikel secara berulang agar
informasi yang diperoleh tidak hanya bersifat umum, tetapi juga mencakup
bagian-bagian penting yang mendukung pembahasan. Data dari setiap artikel
kemudian disusun ke dalam beberapa kategori, yaitu: 1) potensi daun katuk
sebagai pendukung produksi ASI; 2) kandungan gizi dan senyawa bioaktif daun
katuk; 3) bentuk pengolahan daun katuk; 4) pemanfaatan daun katuk dalam
masyarakat; dan 5) catatan keamanan dalam penggunaan daun katuk.
Teknik Analisis Data
Data
dianalisis menggunakan teknik **analisis deskriptif-kualitatif**. Analisis
dilakukan dengan cara mengidentifikasi, membandingkan, dan menyintesis temuan
dari artikel-artikel yang dikaji. Setiap artikel dianalisis berdasarkan fokus
kajian, metode, hasil, dan kontribusinya terhadap pemahaman mengenai
pemanfaatan daun katuk sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI.
Tahap
pertama analisis dilakukan dengan mengidentifikasi informasi utama dari
masing-masing artikel. Tahap kedua dilakukan dengan membandingkan persamaan dan
perbedaan temuan antarartikel. Tahap ketiga dilakukan dengan menyusun sintesis
pembahasan berdasarkan tema-tema utama. Melalui proses ini, penelitian tidak
hanya merangkum isi artikel, tetapi juga menghubungkan hasil-hasil penelitian
terdahulu agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Hasil
analisis disajikan secara naratif dalam bagian hasil dan pembahasan. Penyajian
dilakukan dengan menguraikan temuan utama dari setiap artikel, kemudian
mengaitkannya dengan teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Dengan
demikian, pembahasan dalam penelitian ini tidak berdiri sebagai ringkasan
terpisah, tetapi sebagai sintesis dari beberapa sumber yang saling melengkapi.
Keabsahan Data
Untuk
menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik pembandingan sumber.
Informasi dari satu artikel dibandingkan dengan artikel lainnya untuk melihat
kesesuaian, perbedaan, dan keterkaitan temuan. Misalnya, temuan mengenai
potensi daun katuk dalam mendukung produksi ASI dibandingkan dengan temuan
mengenai bentuk pengolahan daun katuk dan praktik pemanfaatannya dalam
masyarakat.
Selain
itu, peneliti juga memperhatikan kesesuaian antara fokus artikel dengan tujuan
kajian. Artikel yang digunakan tidak hanya dipilih karena membahas daun katuk,
tetapi juga karena memiliki hubungan dengan produksi ASI, ibu menyusui, pangan
herbal, dan pemanfaatan tanaman obat. Dengan cara ini, hasil kajian diharapkan
lebih relevan dan tidak keluar dari fokus penelitian.
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Kajian Literatur
Berdasarkan hasil kajian
terhadap tiga artikel utama, diperoleh bahwa daun katuk (Sauropus androgynus) memiliki keterkaitan kuat dengan
pemanfaatannya sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI pada ibu menyusui.
Ketiga artikel yang dianalisis memiliki fokus yang berbeda, tetapi saling
melengkapi. Artikel Ibrahim dan Pratiwi (2021) menekankan pengaruh konsumsi
daun katuk terhadap peningkatan produksi ASI melalui kajian literatur. Artikel
Pujiastuti et al. (2023) membahas budidaya daun katuk sebagai bahan olahan
pangan bagi ibu menyusui. Sementara itu, artikel Firdaus et al. (2025) mengkaji
pemanfaatan daun katuk sebagai tanaman herbal dalam praktik masyarakat melalui
pendekatan etnobotani. Artikel Ibrahim dan Pratiwi menelaah 9 jurnal dengan
pendekatan PICO, sedangkan Pujiastuti et al. menggunakan edukasi dan praktik
budidaya, dan Firdaus et al. menggunakan analisis Use Value
serta Fidelity Level pada masyarakat
lokal.
Tabel
1. Sintesis Artikel yang Dikaji
|
No. |
Penulis dan Tahun |
Fokus Kajian |
Metode |
Temuan Utama |
|
1 |
Ibrahim
& Pratiwi (2021) |
Pengaruh
daun katuk terhadap peningkatan produksi ASI |
Kajian
literatur dengan pendekatan PICO terhadap 9 jurnal |
Daun
katuk dikonsumsi dalam bentuk ekstrak, simplisia, rebusan, sayur bening,
biskuit, dan camilan. Hasil kajian menunjukkan konsumsi daun katuk dilaporkan
berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI. |
|
2 |
Pujiastuti
et al. (2023) |
Budidaya
daun katuk sebagai bahan olahan pangan ibu menyusui |
Edukasi
dan praktik budidaya kepada peserta pengabdian |
Edukasi
dan praktik budidaya meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta
dalam menyediakan daun katuk sebagai bahan olahan pangan ibu menyusui. |
|
3 |
Firdaus
et al. (2025) |
Pemanfaatan
katuk sebagai tanaman herbal di masyarakat |
Kajian
etnobotani dengan Use Value
dan Fidelity Level |
Daun
katuk paling banyak dimanfaatkan sebagai pelancar ASI dengan nilai UV 0,87
dan FL 66,67%. |
Hasil sintesis
menunjukkan bahwa daun katuk tidak hanya memiliki potensi dari aspek kandungan
zat aktif, tetapi juga memiliki nilai praktis sebagai bahan pangan lokal. Daun
katuk dapat diolah dalam berbagai bentuk, seperti sayur, rebusan, ekstrak,
simplisia, biskuit, bolu kukus, dan olahan pangan lainnya. Selain itu,
pemanfaatan daun katuk juga masih hidup dalam praktik masyarakat sebagai
tanaman herbal, khususnya sebagai pelancar ASI.
Potensi Daun Katuk sebagai
Pendukung Produksi ASI
Hasil kajian menunjukkan
bahwa daun katuk banyak dikaitkan dengan peningkatan atau kelancaran produksi
ASI. Dalam kajian Ibrahim dan Pratiwi (2021), beberapa penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa daun katuk dikonsumsi dalam bentuk ekstrak, simplisia,
rebusan, sayur bening, maupun olahan pangan lain. Kajian tersebut menyimpulkan
bahwa konsumsi daun katuk dilaporkan memiliki pengaruh terhadap peningkatan
produksi ASI pada ibu menyusui.
Temuan tersebut diperkuat
oleh kajian Pujiastuti et al. (2023), yang menyebutkan bahwa produksi ASI
dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Daun katuk dianggap sebagai
salah satu sayuran hijau yang dapat mendukung produksi ASI karena memiliki kandungan
gizi dan senyawa aktif yang berkaitan dengan proses sintesis dan pengeluaran
ASI. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa daun katuk telah digunakan
masyarakat dalam bentuk lalapan, sayur rebus, bolu kukus, biskuit, stik, hingga
campuran nugget sebagai olahan pangan bagi ibu menyusui (Pujiastuti et al.,
2023).
Dengan demikian, potensi
daun katuk tidak hanya terletak pada klaim tradisional, tetapi juga didukung
oleh beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi
daun katuk dan peningkatan indikator produksi ASI. Namun, perlu ditegaskan
bahwa daun katuk lebih tepat dipahami sebagai pangan pendukung produksi ASI,
bukan sebagai satu-satunya faktor penentu keberhasilan menyusui. Produksi ASI
tetap dipengaruhi oleh frekuensi menyusui, pelekatan bayi, kondisi psikologis
ibu, status gizi, dan dukungan keluarga.
Kandungan Bioaktif Daun Katuk dan
Hubungannya dengan Produksi ASI
Daun katuk memiliki
kandungan gizi dan senyawa bioaktif yang menjadi dasar pemanfaatannya sebagai
pangan herbal. Ibrahim dan Pratiwi (2021) menjelaskan bahwa daun katuk
mengandung klorofil, isoflavonoid, sterol, polifenol, steroid, vitamin,
mineral, tanin, flavonoid, saponin, serta alkaloid papaverin. Kandungan sterol
disebut dapat meningkatkan metabolisme glukosa untuk sintesis laktosa,
sedangkan polifenol dan steroid berperan dalam refleks prolaktin serta
oksitosin yang berkaitan dengan produksi dan pengeluaran ASI (Ramayulis, 2015,
dalam Ibrahim & Pratiwi, 2021).
Pujiastuti et al. (2023)
juga menjelaskan bahwa fitosterol pada daun katuk memiliki efek hormonal yang
bersifat estrogenik sehingga dapat meningkatkan hormon prolaktin. Selain itu,
papaverin pada daun katuk dapat merangsang pelepasan prolaktin dan mendukung
peningkatan hormon oksitosin dalam aliran darah. Kedua hormon tersebut memiliki
peran penting dalam proses menyusui, yaitu prolaktin dalam pembentukan ASI dan
oksitosin dalam pengeluaran ASI.
Selain itu, daun katuk
memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik bagi ibu menyusui. Daun katuk
mengandung protein, serat kasar, vitamin K, provitamin A, vitamin B, vitamin C,
kalsium, kalium, fosfor, magnesium, dan klorofil (Kostania, 2015, dalam Pujiastuti
et al., 2023). Kandungan tersebut membuat daun katuk tidak hanya berfungsi
sebagai tanaman herbal, tetapi juga sebagai bahan pangan lokal yang bernilai
gizi.
Bentuk Pengolahan Daun Katuk
Bentuk pengolahan daun
katuk menjadi salah satu aspek penting dalam pemanfaatannya. Ibrahim dan
Pratiwi (2021) menemukan bahwa daun katuk dikonsumsi dalam beberapa bentuk,
seperti ekstrak daun katuk, simplisia, rebusan daun katuk, sayur bening,
biskuit, dan camilan bagi ibu menyusui. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan
daun katuk cukup fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebiasaan konsumsi
masyarakat.
Pujiastuti et al. (2023)
memperluas pembahasan tersebut dengan menunjukkan bahwa daun katuk dapat diolah
menjadi berbagai jenis pangan, seperti bolu kukus daun katuk, biskuit daun
katuk, stik daun katuk, dan nugget dengan campuran daun katuk. Bentuk olahan
ini penting karena tidak semua ibu menyusui menyukai konsumsi daun katuk dalam
bentuk sayur atau rebusan. Dengan adanya variasi olahan, daun katuk dapat lebih
mudah diterima sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari.
Kajian Firdaus et al.
(2025) menunjukkan bahwa dalam praktik masyarakat, daun katuk umumnya diolah
dengan cara direbus, diperas, ditumbuk, dan disayur. Cara aplikasinya juga
beragam, yaitu diminum, dimakan, atau dioleskan pada luka untuk penggunaan
tertentu. Perebusan disebut sebagai salah satu cara paling umum untuk
memperoleh ekstrak daun katuk pada skala rumah tangga. Namun, proses pengolahan
perlu diperhatikan karena pemanasan berlebihan dapat menurunkan kandungan
tertentu, sedangkan konsumsi mentah secara berlebihan juga berisiko bagi
kesehatan.
Pemanfaatan Daun Katuk dalam
Praktik Masyarakat
Pemanfaatan daun katuk
sebagai pelancar ASI tidak hanya ditemukan dalam kajian kesehatan, tetapi juga
dalam praktik masyarakat. Firdaus et al. (2025) menemukan bahwa masyarakat RW
08 Desa Sindangsari, Kabupaten Garut, memanfaatkan daun katuk untuk berbagai
tujuan, antara lain sebagai pelancar ASI, bahan pangan, obat batuk, obat panas
dalam, obat demam, dan penyubur rambut. Dari beberapa pemanfaatan tersebut,
penggunaan sebagai pelancar ASI memiliki nilai tertinggi, yaitu Use Value sebesar 0,87 dan Fidelity Level
sebesar 66,67%.
Nilai tersebut
menunjukkan bahwa fungsi daun katuk sebagai pelancar ASI merupakan pemanfaatan
yang paling dominan dibandingkan manfaat lainnya. Penggunaan sebagai bahan
pangan, obat batuk, obat panas dalam, dan obat demam memiliki nilai yang lebih
rendah, sedangkan penggunaan sebagai penyubur rambut menjadi yang paling rendah
(Firdaus et al., 2025). Temuan ini memperlihatkan bahwa daun katuk memiliki
posisi kuat dalam pengetahuan tradisional masyarakat, terutama dalam konteks
kesehatan ibu menyusui.
Hasil ini sejalan dengan
kajian Ibrahim dan Pratiwi (2021) serta Pujiastuti et al. (2023), yang
sama-sama menempatkan daun katuk sebagai bahan pangan atau tanaman herbal yang
berhubungan dengan produksi ASI. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan
daun katuk sebagai pendukung produksi ASI memiliki dua dasar, yaitu dasar
empiris dari penelitian terdahulu dan dasar tradisional dari praktik
masyarakat.
Budidaya Daun Katuk sebagai Upaya
Mendukung Ketersediaan Bahan Pangan Herbal
Selain manfaat dan bentuk
pengolahan, ketersediaan daun katuk juga menjadi faktor penting. Pujiastuti et
al. (2023) menunjukkan bahwa daun katuk masih jarang ditemui di beberapa
lingkungan masyarakat karena kurangnya pengetahuan tentang manfaat dan berbagai
olahan yang dapat dibuat dari tanaman tersebut. Hal ini menjadi masalah karena
potensi daun katuk tidak dapat dimanfaatkan secara optimal apabila masyarakat
kesulitan memperoleh bahan bakunya.
Kegiatan budidaya daun
katuk dapat menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan bahan pangan herbal bagi
ibu menyusui. Dalam kegiatan pengabdian yang dilakukan Pujiastuti et al.
(2023), peserta diberikan edukasi mengenai manfaat daun katuk dan praktik membuat
bibit tanaman daun katuk. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta
memiliki pengetahuan yang masih kurang, sedangkan hasil post-test menunjukkan
peningkatan pengetahuan. Nilai praktik juga meningkat setelah peserta diberikan
contoh cara membuat bibit daun katuk.
Hasil tersebut
menunjukkan bahwa edukasi dan praktik langsung dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan motivasi masyarakat dalam membudidayakan daun katuk. Dengan
adanya budidaya di pekarangan rumah atau lingkungan sekitar, masyarakat dapat
lebih mudah memperoleh daun katuk sebagai bahan olahan pangan. Hal ini penting
karena pemanfaatan tanaman herbal tidak hanya bergantung pada manfaat
biologisnya, tetapi juga pada akses, ketersediaan, dan kemampuan masyarakat
untuk mengolahnya.
Catatan
Kritis terhadap Pemanfaatan Daun Katuk
Meskipun
daun katuk memiliki potensi sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI,
pemanfaatannya tetap perlu dipahami secara proporsional. Klaim bahwa daun katuk
dapat meningkatkan produksi ASI perlu ditempatkan dalam konteks yang hati-hati.
Produksi ASI tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi satu jenis pangan, tetapi
juga oleh frekuensi menyusui, pelekatan bayi, kondisi emosional ibu, kecukupan
istirahat, status gizi, serta dukungan sosial.
Selain itu, cara
pengolahan daun katuk perlu diperhatikan. Firdaus et al. (2025) mencatat bahwa
konsumsi daun katuk mentah dalam jumlah berlebihan berpotensi menimbulkan
risiko kesehatan, sehingga penggunaan daun katuk sebagai obat atau nutrisi
perlu dilakukan dengan pengolahan yang tepat dan dalam batas aman. Oleh karena
itu, daun katuk sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti konsultasi
kesehatan, melainkan sebagai salah satu pangan lokal yang dapat mendukung
asupan ibu menyusui.
Dengan demikian,
pemanfaatan daun katuk perlu disertai edukasi mengenai manfaat, cara
pengolahan, dan batas konsumsi yang aman. Tenaga kesehatan, kader posyandu, dan
keluarga memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang benar kepada
ibu menyusui agar penggunaan daun katuk tidak hanya berdasarkan kebiasaan
tradisional, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan dan kesehatan.
Sintesis Pembahasan
Berdasarkan hasil kajian,
daun katuk (Sauropus androgynus)
dapat dipahami sebagai tanaman lokal yang memiliki potensi sebagai pangan
herbal pendukung produksi ASI. Potensi tersebut didukung oleh kandungan senyawa
bioaktif seperti sterol, alkaloid papaverin, flavonoid, polifenol, steroid,
vitamin, dan mineral. Senyawa-senyawa tersebut berkaitan dengan proses
hormonal, khususnya prolaktin dan oksitosin, yang berperan dalam produksi dan
pengeluaran ASI.
Dari aspek pengolahan,
daun katuk dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk, mulai dari sayur bening,
rebusan, ekstrak, simplisia, biskuit, bolu kukus, hingga olahan pangan lainnya.
Variasi olahan ini menjadi penting karena dapat meningkatkan penerimaan
masyarakat terhadap daun katuk sebagai pangan pendukung ibu menyusui. Dari
aspek sosial budaya, pemanfaatan daun katuk sebagai pelancar ASI masih kuat
dalam praktik masyarakat, sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya nilai Use Value dan Fidelity Level
dalam kajian etnobotani Firdaus et al. (2025).
Secara keseluruhan, hasil
kajian ini menunjukkan bahwa daun katuk memiliki peran potensial dalam
mendukung produksi ASI, tetapi penggunaannya perlu tetap rasional. Daun katuk
tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk masalah produksi ASI. Pemanfaatannya
perlu dikombinasikan dengan pola menyusui yang benar, kecukupan gizi, dukungan
keluarga, kondisi psikologis yang baik, serta edukasi dari tenaga kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, daun katuk dapat menjadi bagian dari strategi
pangan lokal yang mendukung kesehatan ibu menyusui dan bayi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan tafsir
di dua PTKIN Jawa Barat berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap
moderasi beragama mahasiswa, baik pada rumpun ilmu agama (RA) maupun rumpun ilmu
non-agama (RNA). Seluruh kelompok sampel berada pada kategori moderasi beragama
yang cukup hingga tinggi, dan korelasi antara Pendidikan Tafsir (PT) dan
Moderasi Agama (MA) konsisten berada pada taraf kuat (r = 0,662–0,765). Dengan
demikian, pendidikan tafsir dapat diposisikan sebagai salah satu faktor kunci
yang membentuk kecenderungan keberagamaan moderat di kalangan mahasiswa PTKIN.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil kajian
literatur, daun katuk (Sauropus androgynus) merupakan salah satu tanaman lokal
yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pangan herbal pendukung produksi ASI pada
ibu menyusui. Potensi tersebut berkaitan dengan kandungan gizi dan senyawa
bioaktif yang terdapat dalam daun katuk, seperti sterol, alkaloid, papaverin,
flavonoid, polifenol, vitamin, mineral, dan klorofil. Beberapa kandungan
tersebut dikaitkan dengan proses produksi dan pengeluaran ASI karena
berhubungan dengan kerja hormon prolaktin dan oksitosin (Ibrahim & Pratiwi,
2021; Pujiastuti et al., 2023).
Daun katuk dapat diolah dalam berbagai bentuk,
seperti sayur bening, rebusan, ekstrak, simplisia, biskuit, bolu kukus, stik,
dan olahan pangan lainnya. Keberagaman bentuk olahan ini menunjukkan bahwa daun
katuk tidak hanya berfungsi sebagai tanaman herbal, tetapi juga dapat
dikembangkan sebagai pangan lokal yang mudah diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Pemanfaatan daun katuk sebagai pelancar ASI juga masih kuat dalam
praktik masyarakat, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian etnobotani yang
menemukan bahwa penggunaan daun katuk sebagai pelancar ASI memiliki nilai Use
Value tertinggi sebesar 0,87 dan Fidelity Level sebesar 66,67% (Firdaus et al.,
2025).
Namun, hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa daun
katuk tidak dapat dipahami sebagai satu-satunya faktor yang menentukan
kelancaran produksi ASI. Produksi ASI tetap dipengaruhi oleh banyak faktor,
seperti frekuensi menyusui, pelekatan bayi, kondisi psikologis ibu, kecukupan
nutrisi, istirahat, serta dukungan keluarga. Oleh karena itu, daun katuk lebih
tepat diposisikan sebagai pangan herbal pendukung, bukan sebagai pengganti
penanganan kesehatan atau konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, pemanfaatan daun katuk sebagai
pangan herbal pendukung produksi ASI memiliki dasar yang cukup kuat dari sisi
literatur, praktik masyarakat, dan potensi kandungan bioaktif. Akan tetapi,
penggunaannya tetap perlu memperhatikan cara pengolahan yang tepat, jumlah
konsumsi yang wajar, serta edukasi yang memadai agar manfaatnya dapat diperoleh
secara aman.
SARAN
Bagi ibu menyusui, daun katuk dapat dimanfaatkan
sebagai salah satu pilihan pangan pendukung produksi ASI dengan tetap
memperhatikan cara pengolahan yang aman. Penggunaan daun katuk sebaiknya
dilakukan dalam bentuk olahan yang lazim dikonsumsi, seperti sayur bening atau
rebusan, dan tidak dikonsumsi secara berlebihan, terutama dalam keadaan mentah.
Bagi keluarga dan masyarakat, dukungan terhadap ibu
menyusui perlu diberikan tidak hanya melalui penyediaan makanan bergizi, tetapi
juga melalui suasana psikologis yang nyaman. Daun katuk dapat menjadi salah
satu bahan pangan lokal yang dikembangkan di lingkungan rumah atau pekarangan
agar lebih mudah diakses oleh ibu menyusui.
Bagi tenaga kesehatan dan kader posyandu, edukasi
mengenai daun katuk perlu disampaikan secara proporsional. Informasi yang
diberikan sebaiknya mencakup manfaat, kandungan, cara pengolahan, serta batasan
penggunaannya. Edukasi juga perlu menegaskan bahwa kelancaran ASI tidak hanya
bergantung pada konsumsi daun katuk, tetapi juga pada teknik menyusui,
frekuensi menyusui, kondisi ibu, dan dukungan keluarga.
Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk
melakukan penelitian lapangan dengan desain yang lebih kuat, misalnya
eksperimen sederhana atau survei kuantitatif, agar pengaruh konsumsi daun katuk
terhadap produksi ASI dapat diukur secara lebih objektif. Penelitian lanjutan
juga dapat membandingkan beberapa bentuk olahan daun katuk, seperti rebusan,
sayur, ekstrak, atau biskuit, untuk mengetahui bentuk konsumsi yang paling
efektif, aman, dan mudah diterima oleh ibu menyusui.
REFERENSI
Aini, A. N. (2017). Gambaran dukungan suami dalam
pemberian ASI [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Semarang].
Anju, T., Rai, N. K. S. R., & Kumar, A. (2022). Sauropus
androgynus (L.) Merr.: A multipurpose plant with multiple uses in
traditional ethnic culinary and ethnomedicinal preparations. Journal of
Ethnic Foods, 9(1). https://doi.org/10.1186/s42779-022-00125-8
Apreliasari, H., & Risnawati. (2020). Pengaruh
pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI. JIKA, 5(1), 49–52.
Arif, T., & Shetty, G. R. (2020). Therapeutic
potential and traditional uses of Sauropus androgynus: A review. Journal
of Pharmacognosy and Phytochemistry, 9(3), 2131–2137.
Dewi, D. P., & Astriana, K. (2022). Pemberian
nugget lele (Clarias batrachus) pencampuran dengan daun katuk (Sauropus
androgynus Merr.) fortifikasi lele terhadap kadar hemoglobin ibu hamil
anemia. Journal of Nutrition College, 11(1), 35–41. https://doi.org/10.14710/jnc.v11i1.31962
Dolang, M. W., Wattimena, F. P., Kiriwenno, E.,
Cahyawati, S., & Sillehu, S. (2021). Pengaruh pemberian rebusan daun katuk
terhadap produksi ASI pada ibu nifas. JUMANTIK: Jurnal Ilmiah Penelitian
Kesehatan, 6(3), 256–261. https://doi.org/10.30829/jumantik.v6i3.9570
Firdaus, A., Rahayu, A. G., & Cahyanto, T. (2025).
Kajian pemanfaatan katuk (Sauropus androgynus) sebagai tanaman herbal di
RW 08 Desa Sindangsari Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut. Tumbuhan:
Publikasi Ilmu Sosiologi Pertanian dan Ilmu Kehutanan, 2(1), 55–63. https://doi.org/10.62951/tumbuhan.v2i1.195
Ibrahim, I., & Pratiwi, A. (2021). Literature
review: Pengaruh daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap peningkatan
produksi ASI pada ibu menyusui. Jurnal Kesehatan, 10(1), 31–36. https://doi.org/10.37048/kesehatan.v10i2.353
Indrayani, D., Shahib, M. N., & Husin, F. (2020).
The effect of katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) leaf biscuit on
increasing prolactine levels of breastfeeding mother. Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 16(1), 1–7.
Juliastuti, J. (2019). Efektivitas daun katuk (Sauropus
androgynus) terhadap kecukupan ASI pada ibu menyusui di Puskesmas Kuta Baro
Aceh Besar. Indonesian Journal for Health Sciences, 3(1), 1–5. https://doi.org/10.24269/ijhs.v3i1.1600
Kostania, G. (2015). Pelaksanaan pelayanan kebidanan
komplementer pada bidan praktek mandiri di Kabupaten Klaten. Gaster, 12(1),
46–72.
Maryunani, A. (2012). Inisiasi menyusu dini, ASI
eksklusif dan manajemen laktasi. Trans Info Media.
Panjaitan, R., Irwanto, R., Husna, N., &
Cholilullah, A. B. (2020). Pengaruh pemberian bolu kukus daun katuk terhadap
produksi ASI di wilayah kerja Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam. Jurnal
Kesehatan Masyarakat & Gizi, 3(1), 110–114.
Prasetya, F., Jumakil, & Sidiq, N. M. (2019). Prosiding
Seminar Nasional Kesehatan: Penguatan dan inovasi pelayanan kesehatan dalam era
revolusi industri. UHO Edu Press.
Pujiastuti, N., Antarsih, N. R., Apriningsih, Suriani,
H., & Faridha, N. (2023). Budidaya tanaman Sauropus androgynus (daun
katuk) untuk bahan olahan pangan ibu menyusui. Masyarakat Berdaya dan
Inovasi, 4(1), 10–15. https://doi.org/10.33292/mayadani.v4i1.109
Pujiastuti, N., & Febrianti, E. A. (2022). Bolu
kukus daun katuk sebagai upaya meningkatkan produksi ASI ibu menyusui. LINK,
18(2), 149–154. https://doi.org/10.31983/link.v18i2.9174
Ramayulis, R. (2015). Green smoothie ala Rita
Ramayulis: 100 resep 20 khasiat. Gramedia Pustaka Utama.
Retnowati, L., & Pujiastuti, N. (2022). Peran
nenek sebagai personal reference dalam upaya meningkatkan perilaku menyusui
eksklusif. Jurnal Masyarakat Mandiri, 6(5), 3502–3509.
Santana, T., Rahayu, A., & Mulyaningsih, Y.
(2021). Karakterisasi morfologi dan kualitas berbagai aksesi katuk (Sauropus
androgynus (L.) Merr.). Jurnal Agronida, 7(1), 15–25. https://doi.org/10.30997/jag.v7i1.4102
Senthamarai Selvi, V., & Basker, A. (2012).
Phytochemical analysis and GC-MS profiling in the leaves of Sauropus
androgynus (L.) Merr. International Journal of Drug Development and
Research, 4(1), 162–167.
Situmorang, T. S., & Singarimbun, A. P. B. (2019).
Pengaruh konsumsi air rebusan daun katuk terhadap pengeluaran produksi ASI pada
ibu nifas. Indonesian Trust Health Journal, 1(2), 55–60. https://doi.org/10.37104/ithj.v1i2.13
Sukmawati, Mamuroh, L., & Nurhakim, F. (2019).
Pemberdayaan keluarga dan kader kesehatan dalam pemanfaatan ASI eksklusif. Media
Karya Kesehatan, 2(1), 1–10. https://doi.org/10.24198/mkk.v2i1.19067
Triananinsi, N., Andryani, Z. Y., & Basri, F.
(2020). Hubungan pemberian sayur daun katuk terhadap kelancaran ASI pada ibu
multipara di Puskesmas Caile. Journal of Healthcare Technology and Medicine,
6(1), 12–20.
Zhang, B. D., Cheng, J. X., Zhang, C. F., Bai, Y. D.,
Liu, W. Y., Li, W., Koike, K., Akihisa, T., Feng, F., & Zhang, J. (2020). Sauropus
androgynus L. Merr.—A phytochemical, pharmacological and toxicological
review. Journal of Ethnopharmacology, 257, 112778. https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.112778
No comments:
Post a Comment