Thursday, April 2, 2026

Utilization of the “Talking Bottle” as an Interactive Communication Medium to Improve the Communication Skills of Deaf Students in an Inclusive Campus

Pemanfaatan Botol Bicara Sebagai Media Komunikasi Interaktif Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Mahasiswa Disabilitas Rungu di Kampus Inklusif

Bambang Yulianto, Sujarwanto, Riki Nasrullah

Abstrak

Mahasiswa disabilitas rungu di perguruan tinggi masih menghadapi hambatan komunikasi verbal yang berpengaruh terhadap partisipasi akademik, interaksi sosial, dan rasa percaya diri dalam berbagai situasi kampus. Kondisi ini menunjukkan perlunya media komunikasi yang lebih adaptif, praktis, dan mudah digunakan dalam konteks interaksi sehari-hari. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu melalui pemanfaatan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif di lingkungan kampus inklusif. Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif yang mencakup pelatihan teknis penggunaan alat, pendampingan individual, simulasi komunikasi dalam situasi nyata, serta kampanye kesadaran komunikasi inklusif di lingkungan Universitas Negeri Surabaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap cara kerja botol bicara, tumbuhnya keterampilan dasar dalam membentuk ujaran sederhana, meningkatnya keberanian untuk tampil dalam simulasi dan presentasi, serta terbukanya ruang interaksi yang lebih suportif melalui dukungan fasilitator, juru bahasa isyarat, dan media visual pendukung. Program ini juga memperlihatkan bahwa penguatan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu perlu dipahami sebagai proses yang mencakup aspek teknis, psikososial, dan lingkungan sosial kampus. Dengan demikian, botol bicara dapat berfungsi sebagai media komunikasi interaktif yang relevan untuk mendukung penguatan kampus inklusif, terutama apabila disertai pelatihan berkelanjutan, modul operasional, dan dukungan komunitas akademik.

Kata kunci: botol bicara; disabilitas rungu; komunikasi inklusif; pelatihan; kampus inklusif

Abstract

Deaf students in higher education still face barriers in verbal communication that affect academic participation, social interaction, and self-confidence in various campus situations. This condition indicates the need for communication media that are more adaptive, practical, and easy to use in everyday interactions. This community service program aims to improve the communication skills of deaf students through the use of a “talking bottle” as an interactive communication medium in an inclusive campus environment. The program was implemented using a participatory approach, which included technical training on the use of the device, individual mentoring, communication simulations in real-life situations, and an inclusive communication awareness campaign at Universitas Negeri Surabaya. The results showed an increase in participants’ understanding of how the talking bottle works, the development of basic skills in forming simple utterances, increased confidence to participate in simulations and presentations, and the creation of more supportive interaction spaces through the assistance of facilitators, sign language interpreters, and supporting visual media.The program also demonstrates that strengthening communication skills among deaf students needs to be understood as a process involving technical, psychosocial, and campus social environment aspects. Therefore, the talking bottle can function as a relevant interactive communication medium to support the development of an inclusive campus, especially when accompanied by continuous training, operational modules, and support from the academic community.

Keywords: talking bottle; deaf disability; inclusive communication; training; inclusive campus

 

PENDAHULUAN

Perguruan tinggi inklusif menuntut lebih dari penyediaan akses administratif dan layanan akademik. Lingkungan belajar yang benar-benar inklusif perlu ditopang oleh ekosistem komunikasi yang memungkinkan setiap mahasiswa terlibat secara bermakna dalam kegiatan perkuliahan, interaksi sosial, organisasi kemahasiswaan, serta forum-forum publik kampus (Fadhlurrahman & Karnita, 2024; Maris & Rahmi, 2022; Prastiwi & Huwae, 2025; Riswari et al., 2021). Dalam konteks mahasiswa disabilitas rungu, persoalan komunikasi masih menjadi titik krusial karena keterbatasan pada ranah verbal sering berpengaruh langsung terhadap kualitas partisipasi akademik dan sosial mereka (Amin & Pribadi, 2022; Andreansyah et al., 2024; Dhilah et al., 2023; Erwinda, V. P., & Rezi, 2021; Junaenah et al., 2023; Kristyaningsih, 2021). Hasil program pengabdian menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas rungu di Universitas Negeri Surabaya masih menghadapi hambatan komunikasi verbal yang memengaruhi interaksi sehari-hari, baik di ruang kelas maupun di luar kelas. Kondisi tersebut juga berimplikasi pada berkurangnya keberanian untuk menyampaikan gagasan, bertanya, atau terlibat aktif dalam forum yang lebih luas.

Selama ini, komunikasi mahasiswa disabilitas rungu banyak bertumpu pada bahasa isyarat dan aplikasi digital tertentu (Agung Novariyanto et al., 2024; Meirista et al., 2020). Dua sarana tersebut tetap penting, namun dalam praktiknya belum selalu memadai untuk menjawab kebutuhan komunikasi yang bersifat spontan, khususnya ketika berhadapan dengan masyarakat umum atau sivitas akademika yang tidak memahami bahasa isyarat (Agus Nugroho et al., 2023; Putra et al., 2023). Dalam situasi seperti itu, keterbatasan alat bantu yang mudah digunakan dan cepat diakses dapat memperlebar jarak interaksi. Program pengabdian ini menegaskan bahwa kondisi ini menghambat partisipasi mahasiswa disabilitas rungu dalam diskusi kelas, kegiatan organisasi, dan forum publik, sekaligus memengaruhi rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan pikiran di lingkungan sosial maupun akademik.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguatan kampus inklusif perlu diarahkan pada pengembangan media komunikasi yang fungsional, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan riil mahasiswa (Darmawan et al., 2025; Halim et al., 2025; Mujab et al., 2025; Septiani et al., 2024; Syamzaimar, 2025). Dalam kerangka itulah program pengabdian ini dikembangkan, yaitu dengan memanfaatkan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif yang diharapkan dapat memperluas peluang mahasiswa disabilitas rungu untuk berkomunikasi secara lebih efektif (Rohman, 2018). Program ini juga diposisikan sebagai bagian dari upaya membangun budaya komunikasi inklusif di lingkungan Universitas Negeri Surabaya, sehingga mahasiswa disabilitas rungu memperoleh ruang partisipasi yang lebih terbuka dan lebih setara.

Berdasarkan analisis situasi dan identifikasi kebutuhan mitra, terdapat empat persoalan utama yang dihadapi mahasiswa disabilitas rungu di Universitas Negeri Surabaya. Persoalan pertama ialah keterbatasan komunikasi verbal. Laporan mencatat bahwa mahasiswa masih mengalami kendala besar ketika harus berinteraksi secara verbal, terutama dalam situasi spontan dengan pihak yang tidak terbiasa menggunakan bahasa isyarat. Persoalan kedua ialah terbatasnya media komunikasi yang praktis dan inovatif. Solusi yang tersedia cenderung bergantung pada perangkat digital tertentu, padahal akses teknologi, kemudahan penggunaan, dan kesiapan situasional tidak selalu mendukung.

Persoalan ketiga berkaitan dengan rendahnya kepercayaan diri dalam interaksi sosial. Hambatan komunikasi verbal berdampak pada keraguan untuk menyampaikan ide, berinteraksi dengan teman sejawat, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan kampus dan masyarakat. Persoalan keempat ialah minimnya kesadaran dan dukungan terhadap inklusivitas. Laporan menunjukkan bahwa masih banyak individu di lingkungan kampus maupun masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai kebutuhan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu. Keadaan ini menyebabkan dukungan terhadap terciptanya lingkungan komunikasi yang inklusif belum berkembang secara optimal.

Keempat persoalan tersebut saling berkaitan. Hambatan komunikasi yang tidak tertangani dapat mempersempit ruang partisipasi, menurunkan rasa percaya diri, dan pada saat yang sama memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar belum sepenuhnya siap menjadi ruang interaksi yang aksesibel. Oleh sebab itu, kebutuhan mitra tidak berhenti pada penyediaan alat bantu komunikasi, melainkan mencakup pelatihan penggunaan alat, penguatan psikososial, dan perluasan pemahaman komunitas kampus mengenai pentingnya komunikasi inklusif. Laporan akhir juga menegaskan bahwa pelatihan pemanfaatan botol bicara dipilih sebagai solusi yang konkret, relevan, dan dapat diterapkan secara lebih luas sesuai kebutuhan mitra.

Pemilihan botol bicara dalam program ini didasarkan pada pertimbangan fungsional dan kontekstual. Laporan menyebutkan bahwa mahasiswa disabilitas rungu memerlukan alat bantu komunikasi yang sederhana, terjangkau, praktis, dan mudah dipelajari. Dalam hal ini, botol bicara dipandang sesuai karena tidak bergantung pada teknologi canggih, dapat digunakan secara langsung dalam situasi komunikasi tertentu, dan berpotensi menjembatani kebutuhan penyampaian pesan verbal secara lebih efektif. Alat ini juga diposisikan sebagai solusi yang menjanjikan untuk mendukung interaksi mahasiswa disabilitas rungu di lingkungan akademik dan sosial.

Secara lebih khusus, laporan menjelaskan bahwa botol bicara bekerja dengan prinsip tekanan udara yang menghasilkan bunyi menyerupai suara manusia. Karakter tersebut memberi peluang bagi mahasiswa disabilitas rungu untuk mengembangkan bentuk komunikasi baru yang dapat dipakai dalam latihan percakapan, simulasi interaksi sosial, dan presentasi sederhana. Karena sifatnya praktis dan aksesibel, botol bicara memiliki kelebihan sebagai media bantu yang tidak menuntut infrastruktur digital yang rumit. Inilah alasan mengapa alat tersebut dipandang relevan untuk dijadikan media utama dalam program pengabdian ini.

Rasional pemilihan botol bicara juga berkaitan dengan kebutuhan akan media yang dapat digunakan dalam konteks kampus inklusif. Alat bantu komunikasi akan lebih bermakna ketika dapat dioperasikan dalam suasana belajar yang adaptif, didukung pendampingan, dan diintegrasikan dengan sarana lain yang memudahkan komunikasi dua arah. Dalam pelaksanaan program, botol bicara memang ditempatkan sebagai media utama yang didukung teknologi visual, teks besar, kartu ekspresi, serta juru bahasa isyarat. Dengan demikian, pemilihan botol bicara tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari desain komunikasi yang lebih luas dan lebih responsif terhadap kebutuhan peserta.

Kebaruan program ini terletak pada cara botol bicara dihadirkan dalam kerangka pengabdian yang terpadu. Program tidak berhenti pada pengenalan alat bantu komunikasi, tetapi dikembangkan melalui pelatihan teknis yang terstruktur, pendampingan psikososial, dan kampanye komunikasi inklusif di lingkungan kampus. Laporan menjelaskan bahwa pelatihan dirancang melalui beberapa tahapan, yakni pemahaman teoretis, latihan praktis berbasis skenario nyata, serta pendampingan personal untuk membantu peserta mengatasi kendala teknis dan psikologis selama proses belajar. Pola ini menunjukkan bahwa inovasi program terletak pada integrasi antara alat, metode pelatihan, dan dukungan personal.

Dimensi kebaruan berikutnya terlihat pada perhatian program terhadap aspek kepercayaan diri. Penguatan komunikasi dipahami sebagai proses yang juga bersentuhan dengan dimensi psikologis peserta. Karena itu, program memasukkan strategi penguatan motivasi melalui apresiasi atas capaian kecil, simulasi situasi nyata, dan kehadiran role model yang memberi inspirasi kepada peserta. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa peningkatan keterampilan komunikasi diperlakukan sebagai proses pemberdayaan yang menyatukan latihan teknis dengan penguatan keberanian tampil di ruang sosial.

Kebaruan lainnya tampak pada upaya memperluas dampak program ke tingkat institusional. Sivitas akademika dilibatkan dalam kampanye kesadaran komunikasi inklusif melalui seminar, workshop, pameran hasil pelatihan, dan publikasi media. Arah ini penting karena tantangan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu tidak dapat diselesaikan hanya dari sisi individu peserta. Lingkungan sosial kampus perlu bergerak ke arah yang lebih peka terhadap kebutuhan komunikasi yang beragam. Dengan desain seperti ini, program hadir sebagai model pengabdian yang menggabungkan teknologi sederhana, pendidikan inklusif, dan rekayasa sosial dalam satu kerangka implementasi.

Berdasarkan permasalahan mitra dan rancangan solusi yang ditetapkan, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu melalui pelatihan penggunaan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif. Tujuan ini sejalan dengan fokus program yang menempatkan penguasaan alat bantu komunikasi sebagai fondasi awal untuk memperluas kemampuan peserta dalam menyampaikan pesan secara lebih efektif. Kedua, memperkuat rasa percaya diri peserta dalam interaksi sosial dan akademik melalui latihan, simulasi, pendampingan, dan penguatan motivasional. Ketiga, membangun kesadaran sivitas akademika tentang pentingnya komunikasi inklusif sebagai prasyarat terbentuknya lingkungan kampus yang ramah, aksesibel, dan mendukung partisipasi mahasiswa disabilitas rungu secara lebih utuh.

Perumusan tujuan tersebut juga konsisten dengan arah prioritas program yang tercantum dalam laporan, yakni memberikan pelatihan terstruktur kepada mahasiswa disabilitas rungu, meningkatkan kepercayaan diri melalui simulasi interaksi sosial berbasis skenario nyata, serta membangun kesadaran komunitas kampus melalui diseminasi hasil pelatihan dan kampanye kesetaraan komunikasi. Dengan demikian, tujuan kegiatan ini mencerminkan hubungan yang jelas antara masalah yang dihadapi mitra, solusi yang ditawarkan, dan perubahan yang ingin dicapai melalui program pengabdian.

Artikel ini berkontribusi pada dokumentasi ilmiah mengenai praktik pengabdian berbasis inovasi media sederhana untuk mendukung komunikasi mahasiswa disabilitas rungu di perguruan tinggi. Kontribusi tersebut penting karena laporan program menempatkan botol bicara sebagai produk teknologi tepat guna yang dikembangkan dalam kerangka pelatihan terstruktur, pendampingan personal, dan penguatan ekosistem kampus inklusif. Dari sudut pengembangan keilmuan, artikel ini dapat memperkaya diskusi tentang pendidikan inklusif, pemanfaatan media bantu komunikasi, serta strategi pemberdayaan mahasiswa disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Di samping itu, artikel ini memiliki kontribusi praktis sebagai rujukan bagi institusi pendidikan lain yang ingin mengembangkan program serupa. Laporan akhir telah menegaskan adanya arah keberlanjutan melalui penyusunan modul pelatihan, mekanisme monitoring penggunaan botol bicara, dan pelibatan mahasiswa sebagai duta komunikasi inklusif. Tiga aspek tersebut menunjukkan bahwa program ini tidak dipandang sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai model yang dapat direplikasi dan disesuaikan pada konteks kelembagaan lain. Oleh karena itu, artikel ini diharapkan dapat menjadi pijakan konseptual dan praktis bagi upaya penguatan komunikasi inklusif di perguruan tinggi Indonesia.

 

METODE PELAKSANAAN

Desain Kegiatan

Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif yang menempatkan mahasiswa disabilitas rungu sebagai subjek aktif dalam seluruh rangkaian program. Desain kegiatan disusun secara sistematis agar mampu menjawab kebutuhan mitra secara langsung melalui lima orientasi utama, yaitu pelatihan, pendampingan, simulasi, evaluasi, dan diseminasi. Dalam laporan akhir, metode pelaksanaan dirancang melalui identifikasi kebutuhan dan survei awal, penyusunan modul pelatihan, pelatihan teoretis dan praktis, pendampingan individual, serta evaluasi dan diseminasi hasil. Rancangan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak diposisikan sebagai pelatihan sesaat, melainkan sebagai intervensi terstruktur yang menghubungkan kebutuhan peserta, penguasaan media bantu, penguatan psikososial, dan perluasan dampak di lingkungan kampus.

Pendekatan partisipatif dipilih karena pengembangan keterampilan komunikasi bagi mahasiswa disabilitas rungu menuntut keterlibatan langsung peserta dalam praktik, refleksi, dan penyesuaian strategi komunikasi. Dalam pelaksanaannya, peserta dilibatkan dalam simulasi komunikasi berbasis skenario nyata, diskusi reflektif, presentasi pengalaman, dan pameran hasil pelatihan. Desain ini memberi ruang bagi peserta untuk belajar secara bertahap, menguji penggunaan botol bicara dalam konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta memperoleh umpan balik langsung dari narasumber, fasilitator, dan pendamping.

Lokasi dan Waktu

Pelaksanaan inti kegiatan berlangsung pada 2–4 Juli 2025. Kegiatan dipusatkan di Pusat Unggulan Inovasi (PUI) Disabilitas Universitas Negeri Surabaya dan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Dua lokasi ini dipilih untuk mendukung aksesibilitas, koordinasi pelaksanaan, dan visibilitas program dalam lingkungan kampus inklusif.

Tabel 1. Lokasi dan waktu pelaksanaan kegiatan

Komponen

Keterangan

Waktu pelaksanaan inti

2–4 Juli 2025

Lokasi 1

PUI Disabilitas Universitas Negeri Surabaya

Lokasi 2

Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Lingkup waktu program

Maret–Desember 2025

Fokus artikel metode

Tahap pelaksanaan inti pelatihan dan evaluasi lapangan

 

Kegiatan inti pada 2–4 Juli 2025 merupakan puncak implementasi lapangan, sedangkan keseluruhan program dijalankan dalam rentang Maret sampai Desember 2025. Dengan demikian, artikel ini menempatkan fase pelaksanaan inti sebagai fokus metode karena pada fase inilah proses pelatihan, pendampingan, evaluasi awal, dan diseminasi hasil berlangsung secara langsung.

Sasaran Kegiatan

Sasaran utama kegiatan ini adalah mahasiswa disabilitas rungu yang terdaftar di Universitas Negeri Surabaya. Mereka menjadi kelompok prioritas karena menghadapi kebutuhan komunikasi yang beragam dan memerlukan dukungan yang lebih adaptif untuk meningkatkan partisipasi akademik dan sosial. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan komunikasi verbal yang mereka alami melalui media yang inovatif dan inklusif, yakni botol bicara.

Di samping sasaran utama tersebut, program juga memiliki sasaran tidak langsung, yaitu sivitas akademika kampus yang meliputi mahasiswa non-difabel, dosen, dan staf. Kelompok ini dilibatkan dalam kampanye kesadaran komunikasi inklusif guna mendukung terciptanya lingkungan kampus yang lebih ramah, aksesibel, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa disabilitas rungu. Pelibatan sasaran tidak langsung ini penting karena efektivitas komunikasi inklusif sangat dipengaruhi oleh kesiapan lingkungan sosial tempat interaksi berlangsung.

Peserta dan Pendukung Program

Pelaksanaan kegiatan melibatkan 16 mahasiswa disabilitas rungu sebagai peserta inti. Selama pelatihan, peserta didampingi oleh 7 fasilitator dan dukungan juru bahasa isyarat (JBI) untuk memastikan aksesibilitas komunikasi pada seluruh sesi. Narasumber utama kegiatan adalah Mat Kusen, penemu botol bicara, yang berperan memberikan penjelasan teknis, demonstrasi penggunaan alat, dan masukan dalam proses latihan. Kombinasi antara peserta inti, fasilitator, JBI, dan narasumber utama membentuk sistem dukungan yang memungkinkan kegiatan berlangsung secara adaptif dan inklusif.

Tabel 2. Komponen peserta dan pendukung program

Komponen

Jumlah/Status

Peran dalam kegiatan

Mahasiswa disabilitas rungu

16 orang

Peserta inti pelatihan

Fasilitator

7 orang

Mendampingi proses latihan, refleksi, dan evaluasi

Juru bahasa isyarat

Dukungan aksesibilitas

Menjembatani komunikasi selama kegiatan

Narasumber utama

1 orang

Demonstrasi, pelatihan teknis, dan penguatan penggunaan alat

Sivitas akademika

Sasaran tidak langsung

Terlibat dalam kampanye komunikasi inklusif

 

Selain unsur teknis tersebut, laporan juga menunjukkan keterlibatan komunitas disabilitas dan sivitas akademika dalam mendukung suasana pelatihan, memperluas dampak program, dan membangun jejaring keberlanjutan. Kehadiran unsur-unsur pendukung ini memperlihatkan bahwa metode pelaksanaan dirancang dengan prinsip kolaboratif, bukan berbasis kerja tim pelaksana saja.

 

Tahapan Pelaksanaan

a) Tahap Persiapan

Tahap persiapan diarahkan pada pembentukan fondasi program. Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan koordinasi dengan mitra, pengumpulan data mahasiswa disabilitas rungu beserta profil kebutuhan komunikasinya, penyusunan modul pelatihan, penyediaan alat bantu berupa botol bicara, dan koordinasi dengan narasumber utama untuk menyiapkan materi dan demonstrasi. Tahap persiapan juga mencakup survei awal dan identifikasi kebutuhan yang menjadi dasar penyusunan desain pelatihan. Dengan demikian, tahap ini berfungsi untuk memastikan bahwa materi, media, pendampingan, dan aksesibilitas yang disediakan selaras dengan karakteristik peserta.

b) Tahap Pelatihan

Tahap pelatihan dilaksanakan melalui tiga bentuk kegiatan yang saling berhubungan, yakni sesi teoretis, sesi praktis, dan sesi interaktif. Pada sesi teoretis, peserta memperoleh pemahaman mengenai prinsip kerja botol bicara, mekanisme operasional alat, dan kemungkinan aplikasinya dalam komunikasi sehari-hari. Pada sesi praktis, peserta berlatih menggunakan botol bicara melalui simulasi percakapan informal, diskusi kelompok, pembentukan kalimat sederhana, hingga situasi komunikasi publik seperti bertanya dan menjawab. Pada sesi interaktif, peserta mengikuti diskusi reflektif dan tanya jawab untuk membahas pengalaman penggunaan alat serta hambatan yang mereka rasakan selama proses latihan.

Pelatihan inti pada hari kedua menunjukkan bentuk implementasi yang sangat operasional. Peserta mengikuti latihan individu penggunaan botol bicara dalam kalimat sederhana, simulasi komunikasi di situasi publik, diskusi reflektif, dan sesi apresiasi. Struktur ini menunjukkan bahwa pelatihan dirancang bertahap, dari pengenalan alat menuju penerapan dalam konteks komunikasi yang lebih nyata.

c) Tahap Pendampingan

Pendampingan dilakukan secara personal untuk memastikan setiap peserta mampu menggunakan botol bicara secara lebih optimal. Kegiatan pendampingan mencakup observasi langsung atas kemampuan peserta, pemberian umpan balik individual untuk memperbaiki keterampilan teknis maupun mengatasi hambatan psikologis, serta penguatan motivasi melalui kehadiran role model. Dalam laporan, penguatan psikososial merupakan bagian penting dari metode karena sebagian mahasiswa mengalami keraguan untuk berbicara atau tampil di ruang publik. Oleh karena itu, pendampingan ditempatkan sebagai jembatan antara penguasaan alat dan kesiapan peserta untuk memanfaatkan alat tersebut dalam interaksi yang lebih luas.

Pada tahap ini, dukungan simbolik seperti pemberian “pita keberanian” juga berfungsi sebagai instrumen penguatan rasa percaya diri. Praktik tersebut menunjukkan bahwa pendampingan dalam program ini memadukan aspek teknis penggunaan alat dan aspek afektif yang berkaitan dengan keberanian berkomunikasi.

d) Tahap Evaluasi dan Diseminasi

Evaluasi dilakukan untuk menilai ketercapaian tujuan program dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta dan memperkuat keberanian berinteraksi. Laporan mencatat bahwa evaluasi dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif, meliputi observasi keterampilan, wawancara, diskusi kelompok, survei kepuasan, dan analisis dokumentasi visual. Diseminasi hasil dilakukan melalui publikasi media, pameran hasil pelatihan, dan penyusunan artikel ilmiah. Pada hari ketiga, kegiatan unjuk diri dan pameran hasil menjadi bentuk nyata diseminasi internal di lingkungan kampus, karena peserta mempresentasikan pengalaman mereka menggunakan botol bicara dalam format bebas, seperti teks, gambar, dan bahasa isyarat.

Tabel 3. Tahapan pelaksanaan program

Tahap

Kegiatan utama

Luaran antara

Persiapan

Identifikasi kebutuhan, survei awal, koordinasi mitra, penyusunan modul, penyediaan alat, penyiapan narasumber

Desain pelatihan dan kesiapan teknis program

Pelatihan

Sesi teoretis, praktis, dan interaktif berbasis simulasi

Pemahaman prinsip kerja alat dan keterampilan awal penggunaan

Pendampingan

Observasi personal, umpan balik individual, penguatan psikososial, role model

Penguatan keterampilan dan keberanian berkomunikasi

Evaluasi dan diseminasi

Survei, wawancara, observasi, dokumentasi visual, pameran, publikasi

Data capaian, umpan balik, dan perluasan dampak program

 

Pendekatan Program

a) Pendekatan Edukatif

Pendekatan edukatif berfokus pada pemberian pemahaman konseptual dan keterampilan aplikatif mengenai penggunaan botol bicara. Melalui pendekatan ini, peserta diajak memahami prinsip tekanan udara yang menjadi dasar kerja alat, mengenali fungsi alat dalam konteks komunikasi, dan mempraktikkan penggunaannya dalam berbagai skenario yang relevan. Pendekatan edukatif penting karena peserta perlu memahami alat secara rasional sebelum mampu menggunakannya secara efektif dalam percakapan.

b) Pendekatan Psikologi Sosial

Pendekatan psikologi sosial diarahkan pada penguatan rasa percaya diri, pengurangan kecemasan berkomunikasi, dan pembentukan suasana belajar yang suportif. Strategi yang digunakan mencakup simulasi situasi nyata, pemberian penghargaan simbolis atas capaian peserta, dan kehadiran role model yang memberi inspirasi serta dukungan emosional. Dalam konteks program ini, penguasaan alat dipandang berkaitan erat dengan kesiapan psikologis pengguna. Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan komunikasi dibangun bersama penguatan aspek afektif peserta.

c) Pendekatan Partisipasi Masyarakat

Pendekatan partisipasi masyarakat menekankan pelibatan komunitas kampus dalam membangun komunikasi inklusif. Sivitas akademika, termasuk mahasiswa non-difabel, dosen, dan staf, diajak berpartisipasi melalui seminar, workshop, simulasi, pameran hasil pelatihan, dan kampanye kesadaran komunikasi inklusif. Mahasiswa non-difabel juga diposisikan sebagai mitra belajar dalam simulasi komunikasi, sehingga mereka memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas rungu dalam kehidupan akademik sehari-hari. Melalui pendekatan ini, program diarahkan untuk mempengaruhi lingkungan sosial kampus, bukan terbatas pada peningkatan kapasitas peserta inti.

Teknik Pengumpulan Data dan Evaluasi

Teknik pengumpulan data dalam program ini memadukan observasi, survei, wawancara atau diskusi reflektif, serta dokumentasi visual. Observasi digunakan untuk menilai keterampilan peserta dalam menggunakan botol bicara, termasuk kejelasan penyampaian pesan, kemampuan beradaptasi dalam simulasi, dan penggunaan alat pada konteks komunikasi yang berbeda. Survei disusun untuk mengukur tingkat kepuasan peserta serta efektivitas program secara umum. Wawancara dan diskusi reflektif digunakan untuk memperoleh pandangan yang lebih mendalam mengenai manfaat pelatihan, perubahan rasa percaya diri, dan hambatan yang masih dirasakan. Sementara itu, dokumentasi visual berupa foto dan video dimanfaatkan untuk merekam proses kegiatan sekaligus mendukung analisis progres peserta.

Secara metodologis, kombinasi teknik ini memberi dua keuntungan. Pertama, data yang diperoleh mencakup dimensi performatif dan persepsional secara bersamaan. Kedua, evaluasi program dapat dilakukan dengan membaca perubahan perilaku komunikasi, pengalaman subjektif peserta, serta respons lingkungan pendukung. Dengan pilihan teknik seperti ini, metode pelaksanaan memiliki landasan evaluatif yang cukup kuat untuk artikel pengabdian berbasis praktik.

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan program ditetapkan untuk membaca capaian dari sisi keterampilan, keberanian berkomunikasi, partisipasi aktif, dan dampak sosial program. Laporan menetapkan target bahwa 90% peserta diharapkan mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi komunikasi sehari-hari. Di samping itu, keberhasilan juga dibaca dari meningkatnya kenyamanan dan keberanian peserta saat berkomunikasi, keterlibatan mereka dalam sesi unjuk diri dan presentasi, serta meningkatnya kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya komunikasi inklusif. Indikator-indikator tersebut memperlihatkan bahwa program menilai hasil dari sisi teknis dan sosial secara bersamaan.

Tabel 4. Indikator keberhasilan program

Indikator

Bentuk capaian yang diharapkan

Penguasaan alat

Peserta mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi komunikasi

Target minimal program

90% peserta mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi sehari-hari

Keberanian berkomunikasi

Peserta lebih nyaman dan lebih berani tampil dalam interaksi sosial-akademik

Partisipasi aktif

Peserta terlibat dalam latihan, refleksi, presentasi mini, dan pameran hasil

Dampak lingkungan

Tumbuhnya kesadaran sivitas akademika terhadap komunikasi inklusif

 

Dengan indikator tersebut, metode pelaksanaan program dapat dipahami sebagai desain pengabdian yang menempatkan peningkatan keterampilan komunikasi dalam kerangka yang lebih luas, yaitu pemberdayaan individu dan pembentukan kultur kampus yang lebih inklusif. Oleh karena itu, keberhasilan program tidak ditakar dari kemampuan menggunakan alat semata, melainkan juga dari kesiapan peserta untuk berpartisipasi dan kesiapan lingkungan untuk menerima komunikasi yang lebih aksesibel.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Pelaksanaan Kegiatan

Program pengabdian ini terlaksana sesuai rencana pada 2–4 Juli 2025 di PUI Disabilitas Universitas Negeri Surabaya dan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Kegiatan melibatkan 16 mahasiswa disabilitas rungu sebagai peserta inti, didampingi 7 fasilitator, serta juru bahasa isyarat untuk menjaga aksesibilitas selama seluruh sesi. Struktur pelaksanaan dibagi ke dalam tiga tahap utama, yaitu pengantar dan pembukaan program, latihan dan penguatan kemandirian berbicara, serta unjuk diri, pameran, dan penutupan. Rangkaian ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak dirancang sebagai lokakarya satu arah, melainkan sebagai proses pembelajaran yang bertahap, adaptif, dan berorientasi pada pengalaman peserta.

Suasana pelaksanaan program tampak diarahkan pada prinsip inklusivitas praktis. Botol bicara ditempatkan sebagai media utama, lalu dipadukan dengan dukungan visual, teks besar, kartu ekspresi, peran aktif fasilitator, relawan, dan juru bahasa isyarat. Kombinasi tersebut penting karena peserta tidak diposisikan sebagai penerima materi pasif, melainkan sebagai pengguna media yang perlu diberi ruang untuk mencoba, menyesuaikan diri, dan mengembangkan cara komunikasinya sendiri. Dengan demikian, lingkungan kegiatan berfungsi sebagai ruang belajar yang aman dan terbuka bagi mahasiswa disabilitas rungu untuk membangun keberanian berkomunikasi.

 

Gambar 1. Dokumentasi Pelaksanaan PkM

 

Implementasi Pelatihan Botol Bicara

Pelaksanaan pelatihan menunjukkan alur pembelajaran yang tersusun secara bertahap. Hari pertama diarahkan pada pengantar program, penguatan literasi komunikasi inklusif, dan demonstrasi awal penggunaan botol bicara. Sesi pembukaan diisi registrasi, pembagian kit visual, sambutan, penjelasan tujuan dan alur kegiatan, serta demonstrasi alat oleh narasumber utama. Fungsi hari pertama terletak pada pembentukan pemahaman awal peserta mengenai posisi botol bicara dalam konteks komunikasi inklusif. Demonstrasi langsung memberi landasan penting sebelum peserta memasuki tahap latihan yang lebih intensif.

Hari kedua menjadi inti program karena pada tahap ini peserta memasuki latihan individual dan simulasi komunikasi. Peserta berlatih menggunakan botol bicara dalam kalimat sederhana, lalu mengikuti role play bertanya dan menjawab dalam situasi publik. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi reflektif dan tanya jawab. Dari segi metodologis, hari kedua memperlihatkan pola latihan yang progresif: dari penguasaan alat, menuju penerapan dalam situasi komunikatif, lalu masuk ke tahap refleksi pengalaman. Penambahan apresiasi simbolis berupa “pita keberanian” pada akhir sesi juga memberi makna bahwa latihan komunikasi dipahami sebagai proses teknis sekaligus proses afektif.

Hari ketiga menempatkan peserta pada tahap ekspresi dan pengakuan publik. Melalui presentasi mini bertema “Cerita Saya dengan Botol Bicara”, peserta diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman menggunakan alat dalam format bebas, baik melalui teks, gambar, maupun bahasa isyarat. Kegiatan ini lalu dilanjutkan dengan penutupan resmi dan penyerahan sertifikat. Secara pedagogis, tahap ini penting karena memperlihatkan pergeseran posisi peserta dari individu yang sedang belajar menjadi individu yang mulai menunjukkan kemampuan komunikasinya di hadapan orang lain.

Tabel 5. Implementasi pelatihan per hari

Hari

Fokus kegiatan

Bentuk implementasi

Hari 1

Pengantar dan pembukaan

Literasi komunikasi inklusif, penjelasan tujuan, demonstrasi awal botol bicara

Hari 2

Latihan dan penguatan keterampilan

Pelatihan individu, role play situasi publik, diskusi reflektif, apresiasi simbolis

Hari 3

Unjuk diri dan diseminasi hasil

Presentasi mini, pameran pengalaman, penutupan dan penyerahan sertifikat

 

Peningkatan Keterampilan Komunikasi Peserta

Laporan pelaksanaan menunjukkan bahwa program telah memenuhi target tahap awal berupa pemberian pemahaman, keterampilan dasar, dan ruang unjuk diri dalam penggunaan botol bicara. Capaian ini penting karena mengindikasikan bahwa peserta tidak berhenti pada pengenalan alat, tetapi mulai bergerak menuju penggunaan yang lebih fungsional dalam situasi komunikasi tertentu. Peserta diperkenalkan pada prinsip kerja alat, dilatih membentuk kalimat sederhana, dan diberi kesempatan menggunakan botol bicara dalam simulasi percakapan, diskusi, serta presentasi.

Perubahan yang paling tampak berada pada empat ranah. Pertama, peserta semakin memahami cara kerja botol bicara sebagai alat bantu komunikasi. Kedua, peserta mulai mampu membentuk ujaran sederhana melalui latihan individual. Ketiga, peserta mulai berani menggunakan alat dalam role play dan presentasi mini. Keempat, peserta menunjukkan kemampuan adaptif yang lebih baik ketika komunikasi didukung dengan kartu visual, teks besar, papan ekspresi, dan juru bahasa isyarat. Artinya, peningkatan keterampilan komunikasi dalam program ini berkembang di dalam ekosistem dukungan yang multimodal.

Dari sudut evaluasi program, keterampilan peserta memang diukur melalui simulasi percakapan, diskusi, dan presentasi, dengan indikator seperti kejelasan pesan, kecepatan adaptasi, serta kemampuan menggunakan alat dalam konteks yang berbeda. Kerangka evaluasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak dibaca secara sempit sebagai kemampuan teknis menghasilkan bunyi, melainkan sebagai kemampuan menggunakan alat untuk menyampaikan pesan yang dapat dipahami dalam situasi komunikasi nyata.

Tabel 6. Indikasi peningkatan keterampilan komunikasi peserta

Aspek perkembangan

Bentuk perubahan yang tampak

Pemahaman alat

Peserta memahami prinsip dasar penggunaan botol bicara

Keterampilan awal

Peserta mulai membentuk kalimat sederhana

Keberanian performatif

Peserta bersedia mengikuti simulasi dan presentasi mini

Adaptasi multimodal

Peserta memanfaatkan dukungan visual, teks, dan JBI dalam komunikasi

 

Penguatan Rasa Percaya Diri dan Keberanian Berinteraksi

Salah satu kekuatan utama program ini terletak pada perhatian terhadap dimensi psikososial peserta. Laporan sejak awal menegaskan bahwa hambatan komunikasi verbal berdampak langsung pada rasa percaya diri mahasiswa disabilitas rungu dalam interaksi sosial dan akademik. Oleh karena itu, penguatan komunikasi dalam program ini selalu berjalan bersama upaya membangun keyakinan diri peserta untuk tampil, mencoba, dan mengambil peran dalam ruang komunikasi yang lebih luas.

Pendampingan personal, diskusi reflektif, dan kehadiran role model berfungsi sebagai perangkat penguat psikologis. Role model dari alumni atau pengguna alat serupa memberi contoh konkret bahwa hambatan komunikasi dapat dikelola melalui latihan, ketekunan, dan dukungan sosial. Di samping itu, pemberian penghargaan simbolis seperti “pita keberanian” memberi pesan bahwa keberanian berbicara di depan umum merupakan capaian yang patut dihargai. Dalam konteks ini, program membangun rasa percaya diri melalui pengalaman berhasil yang kecil, tetapi bermakna bagi peserta.

Secara analitis, strategi tersebut efektif karena komunikasi bagi mahasiswa disabilitas rungu tidak dapat dilepaskan dari faktor emosional. Penguasaan alat akan sulit berkembang apabila peserta masih dibayangi rasa ragu, takut salah, atau enggan tampil. Program ini memperlihatkan bahwa dukungan afektif, pengakuan sosial, dan suasana belajar yang suportif merupakan syarat penting bagi pertumbuhan keberanian berinteraksi. Dengan demikian, hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi perlu dibaca bersama penguatan identitas dan rasa aman peserta dalam ruang sosial.

Botol Bicara sebagai Media Komunikasi Interaktif dan Inklusif

Botol bicara dalam program ini berfungsi sebagai media komunikasi yang interaktif karena penggunaannya berlangsung di dalam percakapan, simulasi, diskusi, dan presentasi. Alat ini tidak dihadirkan sebagai benda demonstratif, melainkan sebagai sarana yang dioperasikan peserta dalam relasi komunikatif bersama fasilitator, relawan, dan peserta lain. Interaktivitasnya tampak ketika peserta menggunakan alat untuk membentuk kalimat sederhana, menjawab pertanyaan, berpartisipasi dalam role play, dan menceritakan pengalaman pada sesi presentasi mini.

Sifat inklusif botol bicara juga tidak berdiri sendiri. Laporan menunjukkan bahwa alat ini didukung oleh teknologi visual, teks besar, kartu ekspresi, papan tulis mini, sticky note berwarna, emoji komunikasi, dan juru bahasa isyarat. Konfigurasi ini memperlihatkan bahwa botol bicara bekerja secara optimal ketika ditempatkan dalam sistem komunikasi multimodal. Dengan kata lain, kekuatan alat ini terletak pada kemampuannya menjadi jembatan di antara berbagai kanal komunikasi, bukan sebagai pengganti mutlak bentuk komunikasi lain yang telah lebih dulu digunakan peserta.

Dari sudut pengembangan model, temuan ini penting. Botol bicara dapat dipahami sebagai media teknologi tepat guna yang relevan bagi kampus inklusif karena sifatnya sederhana, praktis, dan dapat dipadukan dengan dukungan aksesibilitas lain. Di sinilah letak nilai konseptual program: komunikasi inklusif tidak dibangun dari satu media tunggal, melainkan dari perancangan ekosistem belajar yang memungkinkan setiap peserta menemukan cara berkomunikasi yang paling sesuai bagi dirinya.

 

Kampanye Inklusivitas dan Keterlibatan Sivitas Akademika

Dampak program ini bergerak melampaui tingkat individual. Sejak tahap perencanaan, sivitas akademika diposisikan sebagai sasaran tidak langsung yang perlu dilibatkan dalam kampanye kesadaran komunikasi inklusif. Dosen, mahasiswa non-difabel, dan staf kampus didorong ikut berpartisipasi melalui seminar, workshop, simulasi, pameran hasil, serta dukungan dalam publikasi media. Dengan desain seperti itu, program tidak berhenti pada peningkatan kemampuan peserta inti, tetapi berupaya membentuk ekosistem kampus yang lebih peka terhadap kebutuhan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu.

Keterlibatan sivitas akademika penting karena keberhasilan komunikasi inklusif ditentukan pula oleh kesiapan pihak lain untuk memahami dan merespons cara komunikasi yang berbeda. Saat mahasiswa non-difabel dilibatkan dalam simulasi komunikasi, mereka memperoleh pengalaman langsung untuk membaca kebutuhan lawan bicara, menyesuaikan tempo komunikasi, dan memanfaatkan dukungan visual. Pengalaman semacam ini berpotensi menggeser komunikasi inklusif dari wacana normatif menjadi praktik sosial yang hidup di lingkungan kampus.

Pameran hasil pelatihan dan presentasi peserta juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Kegiatan ini membuka ruang apresiasi publik terhadap kemampuan mahasiswa disabilitas rungu, sekaligus mengurangi jarak simbolik antara peserta program dan komunitas kampus. Dalam kerangka pengabdian, langkah tersebut memperlihatkan bahwa perubahan budaya inklusif dapat dibangun melalui perjumpaan, pengalaman bersama, dan penyaksian langsung atas proses belajar peserta.

Faktor Pendukung Keberhasilan Program

Keberhasilan awal program ini didukung oleh beberapa faktor yang saling menguatkan. Faktor pertama adalah keterlibatan narasumber utama, yakni pencipta botol bicara, yang memberi legitimasi teknis dan inspirasi langsung kepada peserta. Kehadiran narasumber seperti ini memudahkan proses demonstrasi, latihan, dan penyesuaian penggunaan alat sesuai kebutuhan lapangan.

Faktor kedua ialah dukungan fasilitator, relawan, dan juru bahasa isyarat. Kehadiran mereka memastikan bahwa proses belajar berlangsung dengan pengawalan intensif dan komunikasi tetap terbuka bagi seluruh peserta. Faktor ketiga adalah penggunaan desain visual yang aksesibel, seperti teks besar, kartu visual, papan ekspresi, dan pengingat tertulis. Unsur ini sangat penting karena memperluas kemungkinan pemahaman peserta terhadap alur kegiatan dan isi interaksi.

Faktor keempat terletak pada pendekatan personal dan reflektif. Pelatihan tidak disusun dalam format ceramah yang kaku, melainkan melalui latihan individual, role play, diskusi reflektif, dan penguatan motivasional. Faktor kelima ialah suasana pelatihan yang suportif. Laporan menegaskan bahwa kegiatan berlangsung lancar, inklusif, dan penuh antusiasme dari peserta maupun penyelenggara. Suasana seperti ini menjadi kondisi yang sangat penting bagi keberanian peserta untuk mencoba bentuk komunikasi baru.

Tabel 7. Faktor pendukung keberhasilan program

Faktor pendukung

Kontribusi terhadap hasil

Narasumber utama/inovator alat

Memberi demonstrasi teknis dan inspirasi langsung

Fasilitator, relawan, dan JBI

Menjaga aksesibilitas dan kelancaran interaksi

Desain visual yang aksesibel

Memudahkan pemahaman dan partisipasi peserta

Pendekatan personal-reflektif

Menguatkan keterampilan dan keberanian peserta

Suasana suportif

Mendorong peserta mencoba dan tampil lebih percaya diri

 

Kendala dan Catatan Kritis

Walaupun program menunjukkan capaian awal yang positif, beberapa catatan kritis perlu ditegaskan agar pembahasan tidak berhenti pada narasi keberhasilan. Pertama, penguasaan botol bicara memerlukan latihan berulang. Laporan memang menunjukkan bahwa peserta telah mencapai tahap pemahaman dan keterampilan dasar, tetapi capaian ini masih berada pada level awal. Agar penggunaan alat menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi sehari-hari, latihan perlu dilanjutkan dalam jangka yang lebih panjang.

Kedua, keberhasilan komunikasi tidak ditentukan oleh alat semata. Botol bicara bekerja lebih efektif ketika didukung oleh visual card, teks besar, papan ekspresi, juru bahasa isyarat, fasilitator, dan lingkungan yang siap merespons. Ini berarti bahwa kampus inklusif memerlukan kesiapan institusional dan sosial, bukan cukup menghadirkan alat bantu komunikasi. Tanpa lingkungan yang mendukung, potensi alat akan berkurang pada penggunaan yang terbatas.

Ketiga, laporan sendiri menekankan pentingnya modul, monitoring, dan pendampingan berkelanjutan. Catatan ini memperlihatkan bahwa program belum dianggap selesai setelah pelatihan inti berakhir. Kebutuhan akan pertemuan berkala, laporan pengalaman penggunaan alat, pelatihan tambahan, dan dukungan teknis lanjutan menandakan bahwa perubahan komunikasi memerlukan proses penguatan pascapelatihan. Dari sini tampak bahwa keberlanjutan merupakan bagian inheren dari desain program, bukan tambahan administratif setelah kegiatan selesai.

Implikasi Program bagi Pengembangan Kampus Inklusif

Program ini memiliki implikasi yang cukup luas bagi pengembangan kampus inklusif. Pertama, kegiatan ini memperlihatkan pentingnya layanan dukungan disabilitas yang memadukan media bantu, pendampingan personal, dan rekayasa lingkungan komunikasi. Kampus inklusif tidak cukup dipahami sebagai penyedia akses fisik atau administrasi akademik, tetapi juga sebagai ruang yang memungkinkan mahasiswa berpartisipasi melalui sistem komunikasi yang lebih terbuka dan adaptif.

Kedua, program ini menyediakan model pelatihan yang berpotensi direplikasi. Laporan telah menyiapkan arah keberlanjutan melalui distribusi modul, mekanisme monitoring, dan pelibatan mahasiswa sebagai duta komunikasi inklusif. Tiga komponen ini memberi dasar yang kuat bagi pengembangan program serupa di fakultas lain, di perguruan tinggi lain, atau pada komunitas dengan kebutuhan komunikasi yang sejenis.

Ketiga, program ini memperluas pemahaman bahwa komunikasi inklusif menuntut inovasi media, pendampingan yang konsisten, dan perubahan budaya institusi. Dengan memadukan botol bicara, pendekatan psikososial, dan keterlibatan sivitas akademika, program ini menunjukkan bahwa inklusivitas lahir dari kerja bersama antara teknologi sederhana dan komitmen sosial. Dalam konteks itulah pengabdian ini layak dibaca sebagai model intervensi kampus yang menempatkan mahasiswa disabilitas rungu sebagai subjek aktif dalam pembangunan ruang akademik yang lebih adil.

 

SIMPULAN

Pelatihan pemanfaatan botol bicara dalam program pengabdian ini menunjukkan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan keterampilan komunikasi dasar mahasiswa disabilitas rungu di Universitas Negeri Surabaya. Melalui rangkaian kegiatan yang meliputi pengenalan alat, latihan individual, simulasi komunikasi, dan presentasi mini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja botol bicara serta mulai mampu menggunakannya dalam situasi komunikasi sederhana. Capaian ini menegaskan bahwa botol bicara dapat difungsikan sebagai media bantu yang relevan untuk mendukung proses komunikasi dalam konteks kampus inklusif.

Program ini juga memperlihatkan hasil penting pada ranah psikososial. Pendampingan personal, diskusi reflektif, kehadiran role model, dan bentuk apresiasi simbolis memberikan dampak positif terhadap tumbuhnya rasa percaya diri peserta. Perubahan tersebut tercermin pada meningkatnya keberanian untuk tampil dalam simulasi, berdialog dalam situasi publik, dan menyampaikan pengalaman pada sesi presentasi. Dengan demikian, program ini membuka ruang partisipasi sosial-akademik yang lebih baik bagi mahasiswa disabilitas rungu, sebab keterampilan komunikasi yang berkembang berjalan beriringan dengan bertambahnya keyakinan diri dalam berinteraksi.

Berdasarkan hasil tersebut, botol bicara layak diposisikan sebagai media komunikasi interaktif yang potensial dalam penguatan kampus inklusif. Nilai penting alat ini terletak pada sifatnya yang sederhana, praktis, dan dapat dipadukan dengan dukungan visual, juru bahasa isyarat, serta strategi komunikasi lain yang aksesibel. Walaupun demikian, efektivitas penggunaannya akan lebih kuat apabila disertai pendampingan berkelanjutan, modul pelatihan yang operasional, dan dukungan komunitas kampus yang memahami prinsip komunikasi inklusif. Oleh sebab itu, program ini dapat dipandang sebagai model awal yang memberi arah bagi pengembangan layanan komunikasi yang lebih adaptif di perguruan tinggi.

Berdasarkan pelaksanaan dan hasil program, pelatihan lanjutan serta pendampingan berkala perlu dirancang sebagai tindak lanjut agar keterampilan komunikasi yang telah mulai tumbuh dapat berkembang menjadi kebiasaan yang lebih mantap. Penguasaan botol bicara memerlukan proses latihan yang berulang, sehingga sesi lanjutan akan membantu peserta memperluas penggunaan alat dalam beragam situasi komunikasi akademik dan sosial.

Pengembangan modul pelatihan yang lebih operasional juga perlu menjadi perhatian. Modul tersebut sebaiknya memuat petunjuk penggunaan alat, tahapan latihan, contoh skenario komunikasi, bentuk evaluasi, dan strategi pendampingan yang mudah diterapkan oleh fasilitator maupun unit layanan disabilitas. Dengan adanya modul yang lebih rinci, program akan memiliki dasar implementasi yang lebih kuat dan lebih mudah direplikasi.

Di samping itu, monitoring penggunaan alat setelah pelatihan inti perlu diperkuat. Monitoring dapat dilakukan melalui observasi berkala, laporan pengalaman peserta, forum refleksi, atau pendampingan langsung pada kegiatan akademik tertentu. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa penggunaan botol bicara tidak berhenti pada ruang pelatihan, melainkan berlanjut dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Mahasiswa peserta yang telah mengikuti program juga layak dilibatkan sebagai duta komunikasi inklusif di lingkungan kampus. Keterlibatan mereka akan memperluas dampak program karena pengalaman langsung peserta dapat menjadi sumber pembelajaran bagi sivitas akademika lain. Posisi ini juga memberi ruang bagi mahasiswa disabilitas rungu untuk tampil sebagai agen perubahan dalam penguatan budaya kampus yang lebih aksesibel.

 

REFERENSI

Agung Novariyanto, R., Pebri Setiani, P., Ulumi Firdausi, F., Bashofi, F., Sinta Utami, P., & Rahadian, S. (2024). Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Bantu Website Ramah Difabel “Evernoted” di SLB Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) Malang. Journal Of Human And Education (JAHE), 4(6), 1402–1409. https://doi.org/10.31004/jh.v4i6.1986

Agus Nugroho, Setiawan, R., Harris, A., & Beny. (2023). Deteksi Bahasa Isyarat Bisindo Menggunakan Metode Machine Learning. Jurnal PROCESSOR, 18(2). https://doi.org/10.33998/processor.2023.18.2.1380

Amin, N. A. M., & Pribadi, F. (2022). Urgensi Bahasa Isyarat dalam Pendidikan Formal sebagai Media Komunikasi dan Transmisi Informasi Penyandang Disabilitas Rungu dan Wicara. Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian, Dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan, 9(1), 77–86. https://ojs.unm.ac.id/sosialisasi/article/view/31732/15008

Andreansyah, R., Purnomo, A. M., & Setiawan, K. (2024). Penerapan Komunikasi Non Verbal di Yayasan Penyandang Disabilitas. Karimah Tauhid, 3(1), 726–738. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v3i1.11514

Darmawan, I. G. N. S. E., Prasetya, D. A. R., Suroso, H. E., Rani, F., & Febriyani, M. (2025). Penguatan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Ideologi Bangsa untuk Mencegah Radikalisme dan Intoleransi di Kalangan Mahasiswa. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4(4), 4485–4492. https://doi.org/10.31004/riggs.v4i4.4313

Dhilah, F., Kasoni, D., Ningsih, L., & Pardi, M. (2023). Rancang Bangun Smart Gloves Untuk Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara. MULTINETICS, 9(1), 61–70. https://doi.org/10.32722/multinetics.v9i1.5779

Erwinda, V. P., & Rezi, M. (2021). Hubungan Antara Komunikasi Orangtua Dengan Ketahanan Keluarga Remaja Disabilitas Rungu Relationships Between Parent Communication With Family Resilience Of Adolescent Disabilities. EProceedings …, 8(4), 3915–3923. https://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/view/15380%0Ahttps://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/view/15380/15103

Fadhlurrahman, M. N., & Karnita, R. (2024). Mengenalkan Neurodiversity Melalui Perancangan Buku Interaktif Sebagai Media Pembelajaran Inklusif Di Perguruan Tinggi. Institut Teknologi Nasional, 3(1), 1–12.

Halim, A. V., Dalimoenthe, I., & Kabelen, M. C. S. (2025). Optimalisasi Strategi Satgas PPKS UNJ dalam Membangun Kultur Anti Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus. SASKARA: Indonesian Journal of Society Studies, 5(01), 338–356. https://doi.org/10.21009/saskara.051.04

Junaenah, I., Hermawan, H., Samodro, S., & ... (2023). Accessibility to Religious Information for Persons with Hard of Hearing (HOH): Visualization of Signs in the Pusdai Complex of West Java. Jurnal …. https://ejournal.balitbangham.go.id/index.php/ham/article/view/3548

Kristyaningsih, P. (2021). PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP. Jurnal Ilmu Kesehatan, 10(1), 57. https://doi.org/10.32831/jik.v10i1.377

Maris, A. W. I., & Rahmi, I. (2022). Strategi lembaga pendidikan tinggi inklusif dalam meningkatkan kemampuan kerja mahasiswa difabel : Praktik baik di Indonesia. Seminar Nasional Inovasi Vokasi, 1(1), 106–115. http://prosiding-old.pnj.ac.id/index.php/sniv/article/

Meirista, E., Rahayu, M., & Lieung, K. W. (2020). Analisis penggunaan model think talk and write berbantuan video pada mahasiswa disabilitas. Jurnal Pendidikan Edutama, 7(2), 9. https://doi.org/10.30734/jpe.v7i2.727

Mujab, S., Budhi, H. S., & Alfiya, N. (2025). Pembentukan Komunitas Dalam Penguatan Karakter Kebangsaan Berbasis Moderasi Beragama Bagi Mahasiswa Di Kabupaten Kudus. Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 8(2), 174. https://doi.org/10.21043/cdjpmi.v8i2.31904

Prastiwi, H. B., & Huwae, A. (2025). Berjuang Ditengah Kesulitan: Potret Academic Well-being Mahasiswa Difabel di Perguruan Tinggi Inklusif. Bulletin of Counseling and Psychotherapy, 7(1). https://doi.org/10.51214/002025071234000

Putra, I. N. T. A., Kartini, K. S., Suyitno, Y. K., Sugiarta, I. M., & Puspita, N. K. E. (2023). Penerapan Library Tensorflow, Cvzone, dan Numpy pada Sistem Deteksi Bahasa Isyarat Secara Real Time. Jurnal Krisnadana, 2(3), 412–423. https://doi.org/10.58982/krisnadana.v2i3.335

Riswari, F., Yuniarti, N., Ediyanto, E., & Sunandar, A. (2021). Implementasi Lingkungan Belajar yang Inklusif sebagai Wujud Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi. Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori Dan Praktik Kependidikan, 6(2), 85. https://doi.org/10.17977/um027v6i22021p085

Rohman, B. N. (2018). Pelaksanaan Pembelajaran Bina Wicara Bagi Siswa Tunarungu di SLB Negeri 2 Bantul. Jurnal Widia Ortodidaktika, 7(6), 662–675.

Septiani, F., Saputri, A., Hidayat Baeha, A., Mutianda, L., & Tamara, R. (2024). Analisis Perbandingan Pengalaman Kesehatan Mental antara Mahasiswa Perantau dan Lokal. Adijaya Jurnal Multidisiplin, 03, 115–124. https://e-journal.naureendigition.com/index.php/mj

Syamzaimar. (2025). Pengaruh Media Sosial terhadap Sikap Nasionalisme Mahasiswa dalam Konteks Pendidikan Kewarganegaraan. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(2), 917–925. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1255