Pemanfaatan Botol Bicara Sebagai Media Komunikasi Interaktif Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Mahasiswa Disabilitas Rungu di Kampus Inklusif
Bambang Yulianto, Sujarwanto, Riki Nasrullah
Abstrak
Mahasiswa
disabilitas rungu di perguruan tinggi masih menghadapi hambatan komunikasi
verbal yang berpengaruh terhadap partisipasi akademik, interaksi sosial, dan
rasa percaya diri dalam berbagai situasi kampus. Kondisi ini menunjukkan
perlunya media komunikasi yang lebih adaptif, praktis, dan mudah digunakan
dalam konteks interaksi sehari-hari. Program pengabdian ini bertujuan
meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu melalui
pemanfaatan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif di lingkungan
kampus inklusif. Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif yang
mencakup pelatihan teknis penggunaan alat, pendampingan individual, simulasi
komunikasi dalam situasi nyata, serta kampanye kesadaran komunikasi inklusif di
lingkungan Universitas Negeri Surabaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya
peningkatan pemahaman peserta terhadap cara kerja botol bicara, tumbuhnya
keterampilan dasar dalam membentuk ujaran sederhana, meningkatnya keberanian
untuk tampil dalam simulasi dan presentasi, serta terbukanya ruang interaksi
yang lebih suportif melalui dukungan fasilitator, juru bahasa isyarat, dan
media visual pendukung. Program ini juga memperlihatkan bahwa penguatan
komunikasi mahasiswa disabilitas rungu perlu dipahami sebagai proses yang
mencakup aspek teknis, psikososial, dan lingkungan sosial kampus. Dengan
demikian, botol bicara dapat berfungsi sebagai media komunikasi interaktif yang
relevan untuk mendukung penguatan kampus inklusif, terutama apabila disertai
pelatihan berkelanjutan, modul operasional, dan dukungan komunitas akademik.
Kata
kunci:
botol bicara; disabilitas rungu; komunikasi inklusif; pelatihan; kampus
inklusif
Abstract
Deaf students in higher education still face barriers
in verbal communication that affect academic participation, social interaction,
and self-confidence in various campus situations. This condition indicates the
need for communication media that are more adaptive, practical, and easy to use
in everyday interactions. This community service program aims to improve the
communication skills of deaf students through the use of a “talking bottle” as
an interactive communication medium in an inclusive campus environment. The
program was implemented using a participatory approach, which included
technical training on the use of the device, individual mentoring,
communication simulations in real-life situations, and an inclusive
communication awareness campaign at Universitas Negeri Surabaya. The results
showed an increase in participants’ understanding of how the talking bottle
works, the development of basic skills in forming simple utterances, increased
confidence to participate in simulations and presentations, and the creation of
more supportive interaction spaces through the assistance of facilitators, sign
language interpreters, and supporting visual media.The program also
demonstrates that strengthening communication skills among deaf students needs
to be understood as a process involving technical, psychosocial, and campus
social environment aspects. Therefore, the talking bottle can function as a
relevant interactive communication medium to support the development of an
inclusive campus, especially when accompanied by continuous training,
operational modules, and support from the academic community.
Keywords: talking bottle; deaf disability; inclusive communication; training; inclusive campus
PENDAHULUAN
Perguruan tinggi inklusif menuntut
lebih dari penyediaan akses administratif dan layanan akademik. Lingkungan
belajar yang benar-benar inklusif perlu ditopang oleh ekosistem komunikasi yang
memungkinkan setiap mahasiswa terlibat secara bermakna dalam kegiatan
perkuliahan, interaksi sosial, organisasi kemahasiswaan, serta forum-forum
publik kampus (Fadhlurrahman & Karnita, 2024; Maris & Rahmi,
2022; Prastiwi & Huwae, 2025; Riswari et al., 2021).
Dalam konteks mahasiswa disabilitas rungu, persoalan komunikasi masih menjadi
titik krusial karena keterbatasan pada ranah verbal sering berpengaruh langsung
terhadap kualitas partisipasi akademik dan sosial mereka (Amin & Pribadi, 2022; Andreansyah et al., 2024;
Dhilah et al., 2023; Erwinda, V. P., & Rezi, 2021; Junaenah et al., 2023;
Kristyaningsih, 2021).
Hasil program pengabdian menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas rungu di
Universitas Negeri Surabaya masih menghadapi hambatan komunikasi verbal yang
memengaruhi interaksi sehari-hari, baik di ruang kelas maupun di luar kelas.
Kondisi tersebut juga berimplikasi pada berkurangnya keberanian untuk
menyampaikan gagasan, bertanya, atau terlibat aktif dalam forum yang lebih
luas.
Selama ini, komunikasi mahasiswa
disabilitas rungu banyak bertumpu pada bahasa isyarat dan aplikasi digital
tertentu (Agung Novariyanto et al., 2024; Meirista et al.,
2020).
Dua sarana tersebut tetap penting, namun dalam praktiknya belum selalu memadai
untuk menjawab kebutuhan komunikasi yang bersifat spontan, khususnya ketika
berhadapan dengan masyarakat umum atau sivitas akademika yang tidak memahami
bahasa isyarat (Agus Nugroho et al., 2023; Putra et al., 2023).
Dalam situasi seperti itu, keterbatasan alat bantu yang mudah digunakan dan
cepat diakses dapat memperlebar jarak interaksi. Program pengabdian ini menegaskan
bahwa kondisi ini menghambat partisipasi mahasiswa disabilitas rungu dalam
diskusi kelas, kegiatan organisasi, dan forum publik, sekaligus memengaruhi
rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan pikiran di lingkungan sosial maupun
akademik.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa
penguatan kampus inklusif perlu diarahkan pada pengembangan media komunikasi
yang fungsional, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan riil mahasiswa (Darmawan et al., 2025; Halim et al., 2025; Mujab et
al., 2025; Septiani et al., 2024; Syamzaimar, 2025).
Dalam kerangka itulah program pengabdian ini dikembangkan, yaitu dengan
memanfaatkan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif yang diharapkan
dapat memperluas peluang mahasiswa disabilitas rungu untuk berkomunikasi secara
lebih efektif (Rohman, 2018).
Program ini juga diposisikan sebagai bagian dari upaya membangun budaya
komunikasi inklusif di lingkungan Universitas Negeri Surabaya, sehingga
mahasiswa disabilitas rungu memperoleh ruang partisipasi yang lebih terbuka dan
lebih setara.
Berdasarkan analisis situasi dan
identifikasi kebutuhan mitra, terdapat empat persoalan utama yang dihadapi
mahasiswa disabilitas rungu di Universitas Negeri Surabaya. Persoalan pertama
ialah keterbatasan komunikasi verbal. Laporan mencatat bahwa mahasiswa masih
mengalami kendala besar ketika harus berinteraksi secara verbal, terutama dalam
situasi spontan dengan pihak yang tidak terbiasa menggunakan bahasa isyarat.
Persoalan kedua ialah terbatasnya media komunikasi yang praktis dan inovatif.
Solusi yang tersedia cenderung bergantung pada perangkat digital tertentu,
padahal akses teknologi, kemudahan penggunaan, dan kesiapan situasional tidak
selalu mendukung.
Persoalan ketiga berkaitan dengan
rendahnya kepercayaan diri dalam interaksi sosial. Hambatan komunikasi verbal
berdampak pada keraguan untuk menyampaikan ide, berinteraksi dengan teman
sejawat, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan kampus dan
masyarakat. Persoalan keempat ialah minimnya kesadaran dan dukungan terhadap
inklusivitas. Laporan menunjukkan bahwa masih banyak individu di lingkungan
kampus maupun masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai
kebutuhan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu. Keadaan ini menyebabkan
dukungan terhadap terciptanya lingkungan komunikasi yang inklusif belum
berkembang secara optimal.
Keempat persoalan tersebut saling
berkaitan. Hambatan komunikasi yang tidak tertangani dapat mempersempit ruang
partisipasi, menurunkan rasa percaya diri, dan pada saat yang sama
memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar belum sepenuhnya siap menjadi ruang
interaksi yang aksesibel. Oleh sebab itu, kebutuhan mitra tidak berhenti pada
penyediaan alat bantu komunikasi, melainkan mencakup pelatihan penggunaan alat,
penguatan psikososial, dan perluasan pemahaman komunitas kampus mengenai
pentingnya komunikasi inklusif. Laporan akhir juga menegaskan bahwa pelatihan
pemanfaatan botol bicara dipilih sebagai solusi yang konkret, relevan, dan
dapat diterapkan secara lebih luas sesuai kebutuhan mitra.
Pemilihan botol bicara dalam program
ini didasarkan pada pertimbangan fungsional dan kontekstual. Laporan
menyebutkan bahwa mahasiswa disabilitas rungu memerlukan alat bantu komunikasi
yang sederhana, terjangkau, praktis, dan mudah dipelajari. Dalam hal ini, botol
bicara dipandang sesuai karena tidak bergantung pada teknologi canggih, dapat
digunakan secara langsung dalam situasi komunikasi tertentu, dan berpotensi
menjembatani kebutuhan penyampaian pesan verbal secara lebih efektif. Alat ini
juga diposisikan sebagai solusi yang menjanjikan untuk mendukung interaksi
mahasiswa disabilitas rungu di lingkungan akademik dan sosial.
Secara lebih khusus, laporan
menjelaskan bahwa botol bicara bekerja dengan prinsip tekanan udara yang
menghasilkan bunyi menyerupai suara manusia. Karakter tersebut memberi peluang
bagi mahasiswa disabilitas rungu untuk mengembangkan bentuk komunikasi baru
yang dapat dipakai dalam latihan percakapan, simulasi interaksi sosial, dan
presentasi sederhana. Karena sifatnya praktis dan aksesibel, botol bicara
memiliki kelebihan sebagai media bantu yang tidak menuntut infrastruktur
digital yang rumit. Inilah alasan mengapa alat tersebut dipandang relevan untuk
dijadikan media utama dalam program pengabdian ini.
Rasional pemilihan botol bicara juga
berkaitan dengan kebutuhan akan media yang dapat digunakan dalam konteks kampus
inklusif. Alat bantu komunikasi akan lebih bermakna ketika dapat dioperasikan
dalam suasana belajar yang adaptif, didukung pendampingan, dan diintegrasikan
dengan sarana lain yang memudahkan komunikasi dua arah. Dalam pelaksanaan
program, botol bicara memang ditempatkan sebagai media utama yang didukung
teknologi visual, teks besar, kartu ekspresi, serta juru bahasa isyarat. Dengan
demikian, pemilihan botol bicara tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi
bagian dari desain komunikasi yang lebih luas dan lebih responsif terhadap
kebutuhan peserta.
Kebaruan program ini terletak pada
cara botol bicara dihadirkan dalam kerangka pengabdian yang terpadu. Program
tidak berhenti pada pengenalan alat bantu komunikasi, tetapi dikembangkan
melalui pelatihan teknis yang terstruktur, pendampingan psikososial, dan
kampanye komunikasi inklusif di lingkungan kampus. Laporan menjelaskan bahwa
pelatihan dirancang melalui beberapa tahapan, yakni pemahaman teoretis, latihan
praktis berbasis skenario nyata, serta pendampingan personal untuk membantu
peserta mengatasi kendala teknis dan psikologis selama proses belajar. Pola ini
menunjukkan bahwa inovasi program terletak pada integrasi antara alat, metode
pelatihan, dan dukungan personal.
Dimensi kebaruan berikutnya terlihat
pada perhatian program terhadap aspek kepercayaan diri. Penguatan komunikasi
dipahami sebagai proses yang juga bersentuhan dengan dimensi psikologis
peserta. Karena itu, program memasukkan strategi penguatan motivasi melalui
apresiasi atas capaian kecil, simulasi situasi nyata, dan kehadiran role model
yang memberi inspirasi kepada peserta. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa
peningkatan keterampilan komunikasi diperlakukan sebagai proses pemberdayaan
yang menyatukan latihan teknis dengan penguatan keberanian tampil di ruang
sosial.
Kebaruan lainnya tampak pada upaya
memperluas dampak program ke tingkat institusional. Sivitas akademika
dilibatkan dalam kampanye kesadaran komunikasi inklusif melalui seminar,
workshop, pameran hasil pelatihan, dan publikasi media. Arah ini penting karena
tantangan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu tidak dapat diselesaikan hanya
dari sisi individu peserta. Lingkungan sosial kampus perlu bergerak ke arah
yang lebih peka terhadap kebutuhan komunikasi yang beragam. Dengan desain
seperti ini, program hadir sebagai model pengabdian yang menggabungkan
teknologi sederhana, pendidikan inklusif, dan rekayasa sosial dalam satu
kerangka implementasi.
Berdasarkan permasalahan mitra dan
rancangan solusi yang ditetapkan, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa disabilitas rungu
melalui pelatihan penggunaan botol bicara sebagai media komunikasi interaktif.
Tujuan ini sejalan dengan fokus program yang menempatkan penguasaan alat bantu
komunikasi sebagai fondasi awal untuk memperluas kemampuan peserta dalam
menyampaikan pesan secara lebih efektif. Kedua, memperkuat rasa percaya diri
peserta dalam interaksi sosial dan akademik melalui latihan, simulasi,
pendampingan, dan penguatan motivasional. Ketiga, membangun kesadaran sivitas
akademika tentang pentingnya komunikasi inklusif sebagai prasyarat terbentuknya
lingkungan kampus yang ramah, aksesibel, dan mendukung partisipasi mahasiswa
disabilitas rungu secara lebih utuh.
Perumusan tujuan tersebut juga
konsisten dengan arah prioritas program yang tercantum dalam laporan, yakni
memberikan pelatihan terstruktur kepada mahasiswa disabilitas rungu,
meningkatkan kepercayaan diri melalui simulasi interaksi sosial berbasis skenario
nyata, serta membangun kesadaran komunitas kampus melalui diseminasi hasil
pelatihan dan kampanye kesetaraan komunikasi. Dengan demikian, tujuan kegiatan
ini mencerminkan hubungan yang jelas antara masalah yang dihadapi mitra, solusi
yang ditawarkan, dan perubahan yang ingin dicapai melalui program pengabdian.
Artikel ini berkontribusi pada
dokumentasi ilmiah mengenai praktik pengabdian berbasis inovasi media sederhana
untuk mendukung komunikasi mahasiswa disabilitas rungu di perguruan tinggi.
Kontribusi tersebut penting karena laporan program menempatkan botol bicara
sebagai produk teknologi tepat guna yang dikembangkan dalam kerangka pelatihan
terstruktur, pendampingan personal, dan penguatan ekosistem kampus inklusif.
Dari sudut pengembangan keilmuan, artikel ini dapat memperkaya diskusi tentang
pendidikan inklusif, pemanfaatan media bantu komunikasi, serta strategi
pemberdayaan mahasiswa disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.
Di samping itu, artikel ini memiliki
kontribusi praktis sebagai rujukan bagi institusi pendidikan lain yang ingin
mengembangkan program serupa. Laporan akhir telah menegaskan adanya arah
keberlanjutan melalui penyusunan modul pelatihan, mekanisme monitoring
penggunaan botol bicara, dan pelibatan mahasiswa sebagai duta komunikasi
inklusif. Tiga aspek tersebut menunjukkan bahwa program ini tidak dipandang
sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai model yang dapat direplikasi dan
disesuaikan pada konteks kelembagaan lain. Oleh karena itu, artikel ini
diharapkan dapat menjadi pijakan konseptual dan praktis bagi upaya penguatan
komunikasi inklusif di perguruan tinggi Indonesia.
METODE
PELAKSANAAN
Desain
Kegiatan
Kegiatan pengabdian ini menggunakan
pendekatan partisipatif yang menempatkan mahasiswa disabilitas rungu sebagai
subjek aktif dalam seluruh rangkaian program. Desain kegiatan disusun secara
sistematis agar mampu menjawab kebutuhan mitra secara langsung melalui lima
orientasi utama, yaitu pelatihan, pendampingan, simulasi, evaluasi, dan
diseminasi. Dalam laporan akhir, metode pelaksanaan dirancang melalui
identifikasi kebutuhan dan survei awal, penyusunan modul pelatihan, pelatihan
teoretis dan praktis, pendampingan individual, serta evaluasi dan diseminasi
hasil. Rancangan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak diposisikan sebagai
pelatihan sesaat, melainkan sebagai intervensi terstruktur yang menghubungkan
kebutuhan peserta, penguasaan media bantu, penguatan psikososial, dan perluasan
dampak di lingkungan kampus.
Pendekatan partisipatif dipilih
karena pengembangan keterampilan komunikasi bagi mahasiswa disabilitas rungu
menuntut keterlibatan langsung peserta dalam praktik, refleksi, dan penyesuaian
strategi komunikasi. Dalam pelaksanaannya, peserta dilibatkan dalam simulasi
komunikasi berbasis skenario nyata, diskusi reflektif, presentasi pengalaman,
dan pameran hasil pelatihan. Desain ini memberi ruang bagi peserta untuk
belajar secara bertahap, menguji penggunaan botol bicara dalam konteks yang
dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta memperoleh umpan balik langsung dari
narasumber, fasilitator, dan pendamping.
Lokasi
dan Waktu
Pelaksanaan inti kegiatan berlangsung
pada 2–4 Juli 2025. Kegiatan dipusatkan di Pusat Unggulan Inovasi (PUI)
Disabilitas Universitas Negeri Surabaya dan Sekolah Pascasarjana Universitas
Negeri Surabaya. Dua lokasi ini dipilih untuk mendukung aksesibilitas,
koordinasi pelaksanaan, dan visibilitas program dalam lingkungan kampus
inklusif.
Tabel 1. Lokasi
dan waktu pelaksanaan kegiatan
|
Komponen |
Keterangan |
|
Waktu
pelaksanaan inti |
2–4
Juli 2025 |
|
Lokasi
1 |
PUI
Disabilitas Universitas Negeri Surabaya |
|
Lokasi
2 |
Sekolah
Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya |
|
Lingkup
waktu program |
Maret–Desember
2025 |
|
Fokus
artikel metode |
Tahap
pelaksanaan inti pelatihan dan evaluasi lapangan |
Kegiatan inti pada 2–4 Juli 2025 merupakan puncak
implementasi lapangan, sedangkan keseluruhan program dijalankan dalam rentang
Maret sampai Desember 2025. Dengan demikian, artikel ini menempatkan fase
pelaksanaan inti sebagai fokus metode karena pada fase inilah proses pelatihan,
pendampingan, evaluasi awal, dan diseminasi hasil berlangsung secara langsung.
Sasaran
Kegiatan
Sasaran utama kegiatan ini adalah
mahasiswa disabilitas rungu yang terdaftar di Universitas Negeri Surabaya.
Mereka menjadi kelompok prioritas karena menghadapi kebutuhan komunikasi yang
beragam dan memerlukan dukungan yang lebih adaptif untuk meningkatkan
partisipasi akademik dan sosial. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan
komunikasi verbal yang mereka alami melalui media yang inovatif dan inklusif,
yakni botol bicara.
Di samping sasaran utama tersebut,
program juga memiliki sasaran tidak langsung, yaitu sivitas akademika kampus
yang meliputi mahasiswa non-difabel, dosen, dan staf. Kelompok ini dilibatkan
dalam kampanye kesadaran komunikasi inklusif guna mendukung terciptanya
lingkungan kampus yang lebih ramah, aksesibel, dan responsif terhadap kebutuhan
mahasiswa disabilitas rungu. Pelibatan sasaran tidak langsung ini penting
karena efektivitas komunikasi inklusif sangat dipengaruhi oleh kesiapan
lingkungan sosial tempat interaksi berlangsung.
Peserta
dan Pendukung Program
Pelaksanaan kegiatan melibatkan 16
mahasiswa disabilitas rungu sebagai peserta inti. Selama pelatihan, peserta
didampingi oleh 7 fasilitator dan dukungan juru bahasa isyarat (JBI) untuk
memastikan aksesibilitas komunikasi pada seluruh sesi. Narasumber utama
kegiatan adalah Mat Kusen, penemu botol bicara, yang berperan memberikan
penjelasan teknis, demonstrasi penggunaan alat, dan masukan dalam proses
latihan. Kombinasi antara peserta inti, fasilitator, JBI, dan narasumber utama
membentuk sistem dukungan yang memungkinkan kegiatan berlangsung secara adaptif
dan inklusif.
Tabel 2. Komponen
peserta dan pendukung program
|
Komponen |
Jumlah/Status |
Peran
dalam kegiatan |
|
Mahasiswa
disabilitas rungu |
16
orang |
Peserta
inti pelatihan |
|
Fasilitator |
7
orang |
Mendampingi
proses latihan, refleksi, dan evaluasi |
|
Juru
bahasa isyarat |
Dukungan
aksesibilitas |
Menjembatani
komunikasi selama kegiatan |
|
Narasumber
utama |
1
orang |
Demonstrasi,
pelatihan teknis, dan penguatan penggunaan alat |
|
Sivitas
akademika |
Sasaran
tidak langsung |
Terlibat
dalam kampanye komunikasi inklusif |
Selain unsur teknis tersebut, laporan
juga menunjukkan keterlibatan komunitas disabilitas dan sivitas akademika dalam
mendukung suasana pelatihan, memperluas dampak program, dan membangun jejaring
keberlanjutan. Kehadiran unsur-unsur pendukung ini memperlihatkan bahwa metode
pelaksanaan dirancang dengan prinsip kolaboratif, bukan berbasis kerja tim
pelaksana saja.
Tahapan
Pelaksanaan
a)
Tahap Persiapan
Tahap persiapan diarahkan pada
pembentukan fondasi program. Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan koordinasi
dengan mitra, pengumpulan data mahasiswa disabilitas rungu beserta profil
kebutuhan komunikasinya, penyusunan modul pelatihan, penyediaan alat bantu
berupa botol bicara, dan koordinasi dengan narasumber utama untuk menyiapkan
materi dan demonstrasi. Tahap persiapan juga mencakup survei awal dan
identifikasi kebutuhan yang menjadi dasar penyusunan desain pelatihan. Dengan
demikian, tahap ini berfungsi untuk memastikan bahwa materi, media,
pendampingan, dan aksesibilitas yang disediakan selaras dengan karakteristik
peserta.
b)
Tahap Pelatihan
Tahap pelatihan dilaksanakan melalui
tiga bentuk kegiatan yang saling berhubungan, yakni sesi teoretis, sesi
praktis, dan sesi interaktif. Pada sesi teoretis, peserta memperoleh pemahaman
mengenai prinsip kerja botol bicara, mekanisme operasional alat, dan
kemungkinan aplikasinya dalam komunikasi sehari-hari. Pada sesi praktis,
peserta berlatih menggunakan botol bicara melalui simulasi percakapan informal,
diskusi kelompok, pembentukan kalimat sederhana, hingga situasi komunikasi
publik seperti bertanya dan menjawab. Pada sesi interaktif, peserta mengikuti
diskusi reflektif dan tanya jawab untuk membahas pengalaman penggunaan alat
serta hambatan yang mereka rasakan selama proses latihan.
Pelatihan inti pada hari kedua
menunjukkan bentuk implementasi yang sangat operasional. Peserta mengikuti
latihan individu penggunaan botol bicara dalam kalimat sederhana, simulasi
komunikasi di situasi publik, diskusi reflektif, dan sesi apresiasi. Struktur
ini menunjukkan bahwa pelatihan dirancang bertahap, dari pengenalan alat menuju
penerapan dalam konteks komunikasi yang lebih nyata.
c) Tahap Pendampingan
Pendampingan dilakukan secara
personal untuk memastikan setiap peserta mampu menggunakan botol bicara secara
lebih optimal. Kegiatan pendampingan mencakup observasi langsung atas kemampuan
peserta, pemberian umpan balik individual untuk memperbaiki keterampilan teknis
maupun mengatasi hambatan psikologis, serta penguatan motivasi melalui
kehadiran role model. Dalam laporan, penguatan psikososial merupakan bagian
penting dari metode karena sebagian mahasiswa mengalami keraguan untuk
berbicara atau tampil di ruang publik. Oleh karena itu, pendampingan
ditempatkan sebagai jembatan antara penguasaan alat dan kesiapan peserta untuk
memanfaatkan alat tersebut dalam interaksi yang lebih luas.
Pada tahap ini, dukungan simbolik
seperti pemberian “pita keberanian” juga berfungsi sebagai instrumen penguatan
rasa percaya diri. Praktik tersebut menunjukkan bahwa pendampingan dalam
program ini memadukan aspek teknis penggunaan alat dan aspek afektif yang
berkaitan dengan keberanian berkomunikasi.
d) Tahap Evaluasi dan Diseminasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai
ketercapaian tujuan program dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta
dan memperkuat keberanian berinteraksi. Laporan mencatat bahwa evaluasi
dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif, meliputi observasi
keterampilan, wawancara, diskusi kelompok, survei kepuasan, dan analisis
dokumentasi visual. Diseminasi hasil dilakukan melalui publikasi media, pameran
hasil pelatihan, dan penyusunan artikel ilmiah. Pada hari ketiga, kegiatan
unjuk diri dan pameran hasil menjadi bentuk nyata diseminasi internal di
lingkungan kampus, karena peserta mempresentasikan pengalaman mereka
menggunakan botol bicara dalam format bebas, seperti teks, gambar, dan bahasa
isyarat.
Tabel 3. Tahapan
pelaksanaan program
|
Tahap |
Kegiatan
utama |
Luaran
antara |
|
Persiapan |
Identifikasi
kebutuhan, survei awal, koordinasi mitra, penyusunan modul, penyediaan alat,
penyiapan narasumber |
Desain
pelatihan dan kesiapan teknis program |
|
Pelatihan |
Sesi
teoretis, praktis, dan interaktif berbasis simulasi |
Pemahaman
prinsip kerja alat dan keterampilan awal penggunaan |
|
Pendampingan |
Observasi
personal, umpan balik individual, penguatan psikososial, role model |
Penguatan
keterampilan dan keberanian berkomunikasi |
|
Evaluasi
dan diseminasi |
Survei,
wawancara, observasi, dokumentasi visual, pameran, publikasi |
Data
capaian, umpan balik, dan perluasan dampak program |
Pendekatan Program
a) Pendekatan Edukatif
Pendekatan edukatif berfokus pada
pemberian pemahaman konseptual dan keterampilan aplikatif mengenai penggunaan
botol bicara. Melalui pendekatan ini, peserta diajak memahami prinsip tekanan
udara yang menjadi dasar kerja alat, mengenali fungsi alat dalam konteks
komunikasi, dan mempraktikkan penggunaannya dalam berbagai skenario yang
relevan. Pendekatan edukatif penting karena peserta perlu memahami alat secara
rasional sebelum mampu menggunakannya secara efektif dalam percakapan.
b) Pendekatan Psikologi Sosial
Pendekatan psikologi sosial diarahkan
pada penguatan rasa percaya diri, pengurangan kecemasan berkomunikasi, dan
pembentukan suasana belajar yang suportif. Strategi yang digunakan mencakup
simulasi situasi nyata, pemberian penghargaan simbolis atas capaian peserta,
dan kehadiran role model yang memberi inspirasi serta dukungan emosional. Dalam
konteks program ini, penguasaan alat dipandang berkaitan erat dengan kesiapan
psikologis pengguna. Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan komunikasi
dibangun bersama penguatan aspek afektif peserta.
c) Pendekatan Partisipasi Masyarakat
Pendekatan partisipasi masyarakat
menekankan pelibatan komunitas kampus dalam membangun komunikasi inklusif.
Sivitas akademika, termasuk mahasiswa non-difabel, dosen, dan staf, diajak
berpartisipasi melalui seminar, workshop, simulasi, pameran hasil pelatihan,
dan kampanye kesadaran komunikasi inklusif. Mahasiswa non-difabel juga
diposisikan sebagai mitra belajar dalam simulasi komunikasi, sehingga mereka
memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas rungu dalam kehidupan akademik
sehari-hari. Melalui pendekatan ini, program diarahkan untuk mempengaruhi
lingkungan sosial kampus, bukan terbatas pada peningkatan kapasitas peserta
inti.
Teknik Pengumpulan Data dan Evaluasi
Teknik pengumpulan data dalam program
ini memadukan observasi, survei, wawancara atau diskusi reflektif, serta
dokumentasi visual. Observasi digunakan untuk menilai keterampilan peserta
dalam menggunakan botol bicara, termasuk kejelasan penyampaian pesan, kemampuan
beradaptasi dalam simulasi, dan penggunaan alat pada konteks komunikasi yang
berbeda. Survei disusun untuk mengukur tingkat kepuasan peserta serta
efektivitas program secara umum. Wawancara dan diskusi reflektif digunakan
untuk memperoleh pandangan yang lebih mendalam mengenai manfaat pelatihan,
perubahan rasa percaya diri, dan hambatan yang masih dirasakan. Sementara itu,
dokumentasi visual berupa foto dan video dimanfaatkan untuk merekam proses
kegiatan sekaligus mendukung analisis progres peserta.
Secara metodologis, kombinasi teknik
ini memberi dua keuntungan. Pertama, data yang diperoleh mencakup dimensi
performatif dan persepsional secara bersamaan. Kedua, evaluasi program dapat
dilakukan dengan membaca perubahan perilaku komunikasi, pengalaman subjektif
peserta, serta respons lingkungan pendukung. Dengan pilihan teknik seperti ini,
metode pelaksanaan memiliki landasan evaluatif yang cukup kuat untuk artikel
pengabdian berbasis praktik.
Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan program
ditetapkan untuk membaca capaian dari sisi keterampilan, keberanian
berkomunikasi, partisipasi aktif, dan dampak sosial program. Laporan menetapkan
target bahwa 90% peserta diharapkan mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi
komunikasi sehari-hari. Di samping itu, keberhasilan juga dibaca dari
meningkatnya kenyamanan dan keberanian peserta saat berkomunikasi, keterlibatan
mereka dalam sesi unjuk diri dan presentasi, serta meningkatnya kesadaran
sivitas akademika terhadap pentingnya komunikasi inklusif. Indikator-indikator
tersebut memperlihatkan bahwa program menilai hasil dari sisi teknis dan sosial
secara bersamaan.
Tabel 4. Indikator
keberhasilan program
|
Indikator |
Bentuk
capaian yang diharapkan |
|
Penguasaan
alat |
Peserta
mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi komunikasi |
|
Target
minimal program |
90%
peserta mampu menggunakan botol bicara dalam simulasi sehari-hari |
|
Keberanian
berkomunikasi |
Peserta
lebih nyaman dan lebih berani tampil dalam interaksi sosial-akademik |
|
Partisipasi
aktif |
Peserta
terlibat dalam latihan, refleksi, presentasi mini, dan pameran hasil |
|
Dampak
lingkungan |
Tumbuhnya
kesadaran sivitas akademika terhadap komunikasi inklusif |
Dengan indikator tersebut, metode
pelaksanaan program dapat dipahami sebagai desain pengabdian yang menempatkan
peningkatan keterampilan komunikasi dalam kerangka yang lebih luas, yaitu
pemberdayaan individu dan pembentukan kultur kampus yang lebih inklusif. Oleh
karena itu, keberhasilan program tidak ditakar dari kemampuan menggunakan alat
semata, melainkan juga dari kesiapan peserta untuk berpartisipasi dan kesiapan
lingkungan untuk menerima komunikasi yang lebih aksesibel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil Pelaksanaan Kegiatan
Program pengabdian ini terlaksana
sesuai rencana pada 2–4 Juli 2025 di PUI Disabilitas Universitas Negeri
Surabaya dan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Kegiatan
melibatkan 16 mahasiswa disabilitas rungu sebagai peserta inti, didampingi 7
fasilitator, serta juru bahasa isyarat untuk menjaga aksesibilitas selama
seluruh sesi. Struktur pelaksanaan dibagi ke dalam tiga tahap utama, yaitu
pengantar dan pembukaan program, latihan dan penguatan kemandirian berbicara,
serta unjuk diri, pameran, dan penutupan. Rangkaian ini menunjukkan bahwa
kegiatan tidak dirancang sebagai lokakarya satu arah, melainkan sebagai proses
pembelajaran yang bertahap, adaptif, dan berorientasi pada pengalaman peserta.
Suasana pelaksanaan program tampak
diarahkan pada prinsip inklusivitas praktis. Botol bicara ditempatkan sebagai
media utama, lalu dipadukan dengan dukungan visual, teks besar, kartu ekspresi,
peran aktif fasilitator, relawan, dan juru bahasa isyarat. Kombinasi tersebut
penting karena peserta tidak diposisikan sebagai penerima materi pasif,
melainkan sebagai pengguna media yang perlu diberi ruang untuk mencoba,
menyesuaikan diri, dan mengembangkan cara komunikasinya sendiri. Dengan
demikian, lingkungan kegiatan berfungsi sebagai ruang belajar yang aman dan
terbuka bagi mahasiswa disabilitas rungu untuk membangun keberanian
berkomunikasi.
Gambar 1. Dokumentasi
Pelaksanaan PkM
Implementasi Pelatihan Botol Bicara
Pelaksanaan pelatihan menunjukkan
alur pembelajaran yang tersusun secara bertahap. Hari pertama diarahkan pada
pengantar program, penguatan literasi komunikasi inklusif, dan demonstrasi awal
penggunaan botol bicara. Sesi pembukaan diisi registrasi, pembagian kit visual,
sambutan, penjelasan tujuan dan alur kegiatan, serta demonstrasi alat oleh
narasumber utama. Fungsi hari pertama terletak pada pembentukan pemahaman awal
peserta mengenai posisi botol bicara dalam konteks komunikasi inklusif.
Demonstrasi langsung memberi landasan penting sebelum peserta memasuki tahap
latihan yang lebih intensif.
Hari kedua menjadi inti program
karena pada tahap ini peserta memasuki latihan individual dan simulasi
komunikasi. Peserta berlatih menggunakan botol bicara dalam kalimat sederhana,
lalu mengikuti role play bertanya dan menjawab dalam situasi publik. Sesi ini
kemudian dilanjutkan dengan diskusi reflektif dan tanya jawab. Dari segi
metodologis, hari kedua memperlihatkan pola latihan yang progresif: dari
penguasaan alat, menuju penerapan dalam situasi komunikatif, lalu masuk ke
tahap refleksi pengalaman. Penambahan apresiasi simbolis berupa “pita
keberanian” pada akhir sesi juga memberi makna bahwa latihan komunikasi
dipahami sebagai proses teknis sekaligus proses afektif.
Hari ketiga menempatkan peserta pada
tahap ekspresi dan pengakuan publik. Melalui presentasi mini bertema “Cerita
Saya dengan Botol Bicara”, peserta diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman
menggunakan alat dalam format bebas, baik melalui teks, gambar, maupun bahasa
isyarat. Kegiatan ini lalu dilanjutkan dengan penutupan resmi dan penyerahan
sertifikat. Secara pedagogis, tahap ini penting karena memperlihatkan
pergeseran posisi peserta dari individu yang sedang belajar menjadi individu
yang mulai menunjukkan kemampuan komunikasinya di hadapan orang lain.
Tabel 5. Implementasi
pelatihan per hari
|
Hari |
Fokus
kegiatan |
Bentuk
implementasi |
|
Hari
1 |
Pengantar
dan pembukaan |
Literasi
komunikasi inklusif, penjelasan tujuan, demonstrasi awal botol bicara |
|
Hari
2 |
Latihan
dan penguatan keterampilan |
Pelatihan
individu, role play situasi publik, diskusi reflektif, apresiasi simbolis |
|
Hari
3 |
Unjuk
diri dan diseminasi hasil |
Presentasi
mini, pameran pengalaman, penutupan dan penyerahan sertifikat |
Peningkatan Keterampilan Komunikasi
Peserta
Laporan pelaksanaan menunjukkan bahwa
program telah memenuhi target tahap awal berupa pemberian pemahaman,
keterampilan dasar, dan ruang unjuk diri dalam penggunaan botol bicara. Capaian
ini penting karena mengindikasikan bahwa peserta tidak berhenti pada pengenalan
alat, tetapi mulai bergerak menuju penggunaan yang lebih fungsional dalam
situasi komunikasi tertentu. Peserta diperkenalkan pada prinsip kerja alat,
dilatih membentuk kalimat sederhana, dan diberi kesempatan menggunakan botol
bicara dalam simulasi percakapan, diskusi, serta presentasi.
Perubahan yang paling tampak berada
pada empat ranah. Pertama, peserta semakin memahami cara kerja botol bicara
sebagai alat bantu komunikasi. Kedua, peserta mulai mampu membentuk ujaran
sederhana melalui latihan individual. Ketiga, peserta mulai berani menggunakan
alat dalam role play dan presentasi mini. Keempat, peserta menunjukkan
kemampuan adaptif yang lebih baik ketika komunikasi didukung dengan kartu
visual, teks besar, papan ekspresi, dan juru bahasa isyarat. Artinya,
peningkatan keterampilan komunikasi dalam program ini berkembang di dalam
ekosistem dukungan yang multimodal.
Dari sudut evaluasi program,
keterampilan peserta memang diukur melalui simulasi percakapan, diskusi, dan
presentasi, dengan indikator seperti kejelasan pesan, kecepatan adaptasi, serta
kemampuan menggunakan alat dalam konteks yang berbeda. Kerangka evaluasi ini
menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak dibaca secara sempit sebagai
kemampuan teknis menghasilkan bunyi, melainkan sebagai kemampuan menggunakan
alat untuk menyampaikan pesan yang dapat dipahami dalam situasi komunikasi
nyata.
Tabel 6. Indikasi
peningkatan keterampilan komunikasi peserta
|
Aspek
perkembangan |
Bentuk
perubahan yang tampak |
|
Pemahaman
alat |
Peserta
memahami prinsip dasar penggunaan botol bicara |
|
Keterampilan
awal |
Peserta
mulai membentuk kalimat sederhana |
|
Keberanian
performatif |
Peserta
bersedia mengikuti simulasi dan presentasi mini |
|
Adaptasi
multimodal |
Peserta
memanfaatkan dukungan visual, teks, dan JBI dalam komunikasi |
Penguatan Rasa Percaya Diri dan Keberanian
Berinteraksi
Salah satu kekuatan utama program ini
terletak pada perhatian terhadap dimensi psikososial peserta. Laporan sejak
awal menegaskan bahwa hambatan komunikasi verbal berdampak langsung pada rasa
percaya diri mahasiswa disabilitas rungu dalam interaksi sosial dan akademik.
Oleh karena itu, penguatan komunikasi dalam program ini selalu berjalan bersama
upaya membangun keyakinan diri peserta untuk tampil, mencoba, dan mengambil
peran dalam ruang komunikasi yang lebih luas.
Pendampingan personal, diskusi
reflektif, dan kehadiran role model berfungsi sebagai perangkat penguat
psikologis. Role model dari alumni atau pengguna alat serupa memberi contoh
konkret bahwa hambatan komunikasi dapat dikelola melalui latihan, ketekunan,
dan dukungan sosial. Di samping itu, pemberian penghargaan simbolis seperti
“pita keberanian” memberi pesan bahwa keberanian berbicara di depan umum
merupakan capaian yang patut dihargai. Dalam konteks ini, program membangun
rasa percaya diri melalui pengalaman berhasil yang kecil, tetapi bermakna bagi
peserta.
Secara analitis, strategi tersebut
efektif karena komunikasi bagi mahasiswa disabilitas rungu tidak dapat
dilepaskan dari faktor emosional. Penguasaan alat akan sulit berkembang apabila
peserta masih dibayangi rasa ragu, takut salah, atau enggan tampil. Program ini
memperlihatkan bahwa dukungan afektif, pengakuan sosial, dan suasana belajar
yang suportif merupakan syarat penting bagi pertumbuhan keberanian
berinteraksi. Dengan demikian, hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa
peningkatan kemampuan komunikasi perlu dibaca bersama penguatan identitas dan
rasa aman peserta dalam ruang sosial.
Botol Bicara sebagai Media Komunikasi
Interaktif dan Inklusif
Botol bicara dalam program ini
berfungsi sebagai media komunikasi yang interaktif karena penggunaannya
berlangsung di dalam percakapan, simulasi, diskusi, dan presentasi. Alat ini
tidak dihadirkan sebagai benda demonstratif, melainkan sebagai sarana yang
dioperasikan peserta dalam relasi komunikatif bersama fasilitator, relawan, dan
peserta lain. Interaktivitasnya tampak ketika peserta menggunakan alat untuk
membentuk kalimat sederhana, menjawab pertanyaan, berpartisipasi dalam role
play, dan menceritakan pengalaman pada sesi presentasi mini.
Sifat inklusif botol bicara juga
tidak berdiri sendiri. Laporan menunjukkan bahwa alat ini didukung oleh
teknologi visual, teks besar, kartu ekspresi, papan tulis mini, sticky note
berwarna, emoji komunikasi, dan juru bahasa isyarat. Konfigurasi ini memperlihatkan
bahwa botol bicara bekerja secara optimal ketika ditempatkan dalam sistem
komunikasi multimodal. Dengan kata lain, kekuatan alat ini terletak pada
kemampuannya menjadi jembatan di antara berbagai kanal komunikasi, bukan
sebagai pengganti mutlak bentuk komunikasi lain yang telah lebih dulu digunakan
peserta.
Dari sudut pengembangan model, temuan
ini penting. Botol bicara dapat dipahami sebagai media teknologi tepat guna
yang relevan bagi kampus inklusif karena sifatnya sederhana, praktis, dan dapat
dipadukan dengan dukungan aksesibilitas lain. Di sinilah letak nilai konseptual
program: komunikasi inklusif tidak dibangun dari satu media tunggal, melainkan
dari perancangan ekosistem belajar yang memungkinkan setiap peserta menemukan
cara berkomunikasi yang paling sesuai bagi dirinya.
Kampanye Inklusivitas dan Keterlibatan
Sivitas Akademika
Dampak program ini bergerak melampaui
tingkat individual. Sejak tahap perencanaan, sivitas akademika diposisikan
sebagai sasaran tidak langsung yang perlu dilibatkan dalam kampanye kesadaran
komunikasi inklusif. Dosen, mahasiswa non-difabel, dan staf kampus didorong
ikut berpartisipasi melalui seminar, workshop, simulasi, pameran hasil, serta
dukungan dalam publikasi media. Dengan desain seperti itu, program tidak
berhenti pada peningkatan kemampuan peserta inti, tetapi berupaya membentuk
ekosistem kampus yang lebih peka terhadap kebutuhan komunikasi mahasiswa
disabilitas rungu.
Keterlibatan sivitas akademika
penting karena keberhasilan komunikasi inklusif ditentukan pula oleh kesiapan
pihak lain untuk memahami dan merespons cara komunikasi yang berbeda. Saat
mahasiswa non-difabel dilibatkan dalam simulasi komunikasi, mereka memperoleh
pengalaman langsung untuk membaca kebutuhan lawan bicara, menyesuaikan tempo
komunikasi, dan memanfaatkan dukungan visual. Pengalaman semacam ini berpotensi
menggeser komunikasi inklusif dari wacana normatif menjadi praktik sosial yang
hidup di lingkungan kampus.
Pameran hasil pelatihan dan
presentasi peserta juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Kegiatan ini membuka
ruang apresiasi publik terhadap kemampuan mahasiswa disabilitas rungu,
sekaligus mengurangi jarak simbolik antara peserta program dan komunitas kampus.
Dalam kerangka pengabdian, langkah tersebut memperlihatkan bahwa perubahan
budaya inklusif dapat dibangun melalui perjumpaan, pengalaman bersama, dan
penyaksian langsung atas proses belajar peserta.
Faktor Pendukung Keberhasilan Program
Keberhasilan awal program ini
didukung oleh beberapa faktor yang saling menguatkan. Faktor pertama adalah
keterlibatan narasumber utama, yakni pencipta botol bicara, yang memberi
legitimasi teknis dan inspirasi langsung kepada peserta. Kehadiran narasumber
seperti ini memudahkan proses demonstrasi, latihan, dan penyesuaian penggunaan
alat sesuai kebutuhan lapangan.
Faktor kedua ialah dukungan
fasilitator, relawan, dan juru bahasa isyarat. Kehadiran mereka memastikan
bahwa proses belajar berlangsung dengan pengawalan intensif dan komunikasi
tetap terbuka bagi seluruh peserta. Faktor ketiga adalah penggunaan desain visual
yang aksesibel, seperti teks besar, kartu visual, papan ekspresi, dan pengingat
tertulis. Unsur ini sangat penting karena memperluas kemungkinan pemahaman
peserta terhadap alur kegiatan dan isi interaksi.
Faktor keempat terletak pada
pendekatan personal dan reflektif. Pelatihan tidak disusun dalam format ceramah
yang kaku, melainkan melalui latihan individual, role play, diskusi reflektif,
dan penguatan motivasional. Faktor kelima ialah suasana pelatihan yang
suportif. Laporan menegaskan bahwa kegiatan berlangsung lancar, inklusif, dan
penuh antusiasme dari peserta maupun penyelenggara. Suasana seperti ini menjadi
kondisi yang sangat penting bagi keberanian peserta untuk mencoba bentuk
komunikasi baru.
Tabel 7. Faktor pendukung keberhasilan
program
|
Faktor
pendukung |
Kontribusi
terhadap hasil |
|
Narasumber
utama/inovator alat |
Memberi
demonstrasi teknis dan inspirasi langsung |
|
Fasilitator,
relawan, dan JBI |
Menjaga
aksesibilitas dan kelancaran interaksi |
|
Desain
visual yang aksesibel |
Memudahkan
pemahaman dan partisipasi peserta |
|
Pendekatan
personal-reflektif |
Menguatkan
keterampilan dan keberanian peserta |
|
Suasana
suportif |
Mendorong
peserta mencoba dan tampil lebih percaya diri |
Kendala dan Catatan Kritis
Walaupun program menunjukkan capaian
awal yang positif, beberapa catatan kritis perlu ditegaskan agar pembahasan
tidak berhenti pada narasi keberhasilan. Pertama, penguasaan botol bicara
memerlukan latihan berulang. Laporan memang menunjukkan bahwa peserta telah
mencapai tahap pemahaman dan keterampilan dasar, tetapi capaian ini masih
berada pada level awal. Agar penggunaan alat menjadi bagian dari kebiasaan
komunikasi sehari-hari, latihan perlu dilanjutkan dalam jangka yang lebih
panjang.
Kedua, keberhasilan komunikasi tidak
ditentukan oleh alat semata. Botol bicara bekerja lebih efektif ketika didukung
oleh visual card, teks besar, papan ekspresi, juru bahasa isyarat, fasilitator,
dan lingkungan yang siap merespons. Ini berarti bahwa kampus inklusif
memerlukan kesiapan institusional dan sosial, bukan cukup menghadirkan alat
bantu komunikasi. Tanpa lingkungan yang mendukung, potensi alat akan berkurang
pada penggunaan yang terbatas.
Ketiga, laporan sendiri menekankan
pentingnya modul, monitoring, dan pendampingan berkelanjutan. Catatan ini
memperlihatkan bahwa program belum dianggap selesai setelah pelatihan inti
berakhir. Kebutuhan akan pertemuan berkala, laporan pengalaman penggunaan alat,
pelatihan tambahan, dan dukungan teknis lanjutan menandakan bahwa perubahan
komunikasi memerlukan proses penguatan pascapelatihan. Dari sini tampak bahwa
keberlanjutan merupakan bagian inheren dari desain program, bukan tambahan
administratif setelah kegiatan selesai.
Implikasi Program bagi Pengembangan Kampus
Inklusif
Program ini memiliki implikasi yang
cukup luas bagi pengembangan kampus inklusif. Pertama, kegiatan ini
memperlihatkan pentingnya layanan dukungan disabilitas yang memadukan media
bantu, pendampingan personal, dan rekayasa lingkungan komunikasi. Kampus inklusif
tidak cukup dipahami sebagai penyedia akses fisik atau administrasi akademik,
tetapi juga sebagai ruang yang memungkinkan mahasiswa berpartisipasi melalui
sistem komunikasi yang lebih terbuka dan adaptif.
Kedua, program ini menyediakan model
pelatihan yang berpotensi direplikasi. Laporan telah menyiapkan arah
keberlanjutan melalui distribusi modul, mekanisme monitoring, dan pelibatan
mahasiswa sebagai duta komunikasi inklusif. Tiga komponen ini memberi dasar
yang kuat bagi pengembangan program serupa di fakultas lain, di perguruan
tinggi lain, atau pada komunitas dengan kebutuhan komunikasi yang sejenis.
Ketiga, program ini memperluas
pemahaman bahwa komunikasi inklusif menuntut inovasi media, pendampingan yang
konsisten, dan perubahan budaya institusi. Dengan memadukan botol bicara,
pendekatan psikososial, dan keterlibatan sivitas akademika, program ini
menunjukkan bahwa inklusivitas lahir dari kerja bersama antara teknologi
sederhana dan komitmen sosial. Dalam konteks itulah pengabdian ini layak dibaca
sebagai model intervensi kampus yang menempatkan mahasiswa disabilitas rungu
sebagai subjek aktif dalam pembangunan ruang akademik yang lebih adil.
SIMPULAN
Pelatihan pemanfaatan botol bicara
dalam program pengabdian ini menunjukkan kontribusi yang nyata terhadap
peningkatan keterampilan komunikasi dasar mahasiswa disabilitas rungu di
Universitas Negeri Surabaya. Melalui rangkaian kegiatan yang meliputi pengenalan
alat, latihan individual, simulasi komunikasi, dan presentasi mini, peserta
memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja botol bicara serta
mulai mampu menggunakannya dalam situasi komunikasi sederhana. Capaian ini
menegaskan bahwa botol bicara dapat difungsikan sebagai media bantu yang
relevan untuk mendukung proses komunikasi dalam konteks kampus inklusif.
Program ini juga memperlihatkan hasil
penting pada ranah psikososial. Pendampingan personal, diskusi reflektif,
kehadiran role model, dan bentuk apresiasi simbolis memberikan dampak positif
terhadap tumbuhnya rasa percaya diri peserta. Perubahan tersebut tercermin pada
meningkatnya keberanian untuk tampil dalam simulasi, berdialog dalam situasi
publik, dan menyampaikan pengalaman pada sesi presentasi. Dengan demikian,
program ini membuka ruang partisipasi sosial-akademik yang lebih baik bagi
mahasiswa disabilitas rungu, sebab keterampilan komunikasi yang berkembang
berjalan beriringan dengan bertambahnya keyakinan diri dalam berinteraksi.
Berdasarkan hasil tersebut, botol
bicara layak diposisikan sebagai media komunikasi interaktif yang potensial
dalam penguatan kampus inklusif. Nilai penting alat ini terletak pada sifatnya
yang sederhana, praktis, dan dapat dipadukan dengan dukungan visual, juru
bahasa isyarat, serta strategi komunikasi lain yang aksesibel. Walaupun
demikian, efektivitas penggunaannya akan lebih kuat apabila disertai
pendampingan berkelanjutan, modul pelatihan yang operasional, dan dukungan
komunitas kampus yang memahami prinsip komunikasi inklusif. Oleh sebab itu,
program ini dapat dipandang sebagai model awal yang memberi arah bagi
pengembangan layanan komunikasi yang lebih adaptif di perguruan tinggi.
Berdasarkan pelaksanaan dan hasil
program, pelatihan lanjutan serta pendampingan berkala perlu dirancang sebagai
tindak lanjut agar keterampilan komunikasi yang telah mulai tumbuh dapat
berkembang menjadi kebiasaan yang lebih mantap. Penguasaan botol bicara
memerlukan proses latihan yang berulang, sehingga sesi lanjutan akan membantu
peserta memperluas penggunaan alat dalam beragam situasi komunikasi akademik
dan sosial.
Pengembangan modul pelatihan yang
lebih operasional juga perlu menjadi perhatian. Modul tersebut sebaiknya memuat
petunjuk penggunaan alat, tahapan latihan, contoh skenario komunikasi, bentuk
evaluasi, dan strategi pendampingan yang mudah diterapkan oleh fasilitator
maupun unit layanan disabilitas. Dengan adanya modul yang lebih rinci, program
akan memiliki dasar implementasi yang lebih kuat dan lebih mudah direplikasi.
Di samping itu, monitoring penggunaan
alat setelah pelatihan inti perlu diperkuat. Monitoring dapat dilakukan melalui
observasi berkala, laporan pengalaman peserta, forum refleksi, atau
pendampingan langsung pada kegiatan akademik tertentu. Langkah ini penting
untuk memastikan bahwa penggunaan botol bicara tidak berhenti pada ruang
pelatihan, melainkan berlanjut dalam praktik komunikasi sehari-hari.
Mahasiswa peserta yang telah
mengikuti program juga layak dilibatkan sebagai duta komunikasi inklusif di
lingkungan kampus. Keterlibatan mereka akan memperluas dampak program karena
pengalaman langsung peserta dapat menjadi sumber pembelajaran bagi sivitas
akademika lain. Posisi ini juga memberi ruang bagi mahasiswa disabilitas rungu
untuk tampil sebagai agen perubahan dalam penguatan budaya kampus yang lebih
aksesibel.
REFERENSI
Agung Novariyanto, R., Pebri
Setiani, P., Ulumi Firdausi, F., Bashofi, F., Sinta Utami, P., & Rahadian,
S. (2024). Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Bantu Website Ramah Difabel
“Evernoted” di SLB Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) Malang. Journal Of
Human And Education (JAHE), 4(6), 1402–1409.
https://doi.org/10.31004/jh.v4i6.1986
Agus Nugroho, Setiawan, R., Harris, A.,
& Beny. (2023). Deteksi Bahasa Isyarat Bisindo Menggunakan Metode Machine
Learning. Jurnal PROCESSOR, 18(2).
https://doi.org/10.33998/processor.2023.18.2.1380
Amin, N. A. M., & Pribadi, F.
(2022). Urgensi Bahasa Isyarat dalam Pendidikan Formal sebagai Media Komunikasi
dan Transmisi Informasi Penyandang Disabilitas Rungu dan Wicara. Jurnal
Hasil Pemikiran, Penelitian, Dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan,
9(1), 77–86. https://ojs.unm.ac.id/sosialisasi/article/view/31732/15008
Andreansyah, R., Purnomo, A. M., &
Setiawan, K. (2024). Penerapan Komunikasi Non Verbal di Yayasan Penyandang
Disabilitas. Karimah Tauhid, 3(1), 726–738.
https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v3i1.11514
Darmawan, I. G. N. S. E., Prasetya, D.
A. R., Suroso, H. E., Rani, F., & Febriyani, M. (2025). Penguatan
Nilai-Nilai Pancasila sebagai Ideologi Bangsa untuk Mencegah Radikalisme dan
Intoleransi di Kalangan Mahasiswa. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence
and Digital Business, 4(4), 4485–4492.
https://doi.org/10.31004/riggs.v4i4.4313
Dhilah, F., Kasoni, D., Ningsih, L.,
& Pardi, M. (2023). Rancang Bangun Smart Gloves Untuk Penyandang
Disabilitas Sensorik Rungu Wicara. MULTINETICS, 9(1), 61–70.
https://doi.org/10.32722/multinetics.v9i1.5779
Erwinda, V. P., & Rezi, M. (2021).
Hubungan Antara Komunikasi Orangtua Dengan Ketahanan Keluarga Remaja
Disabilitas Rungu Relationships Between Parent Communication With Family
Resilience Of Adolescent Disabilities. EProceedings …, 8(4),
3915–3923.
https://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/view/15380%0Ahttps://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/view/15380/15103
Fadhlurrahman, M. N., & Karnita, R.
(2024). Mengenalkan Neurodiversity Melalui Perancangan Buku Interaktif Sebagai
Media Pembelajaran Inklusif Di Perguruan Tinggi. Institut Teknologi Nasional,
3(1), 1–12.
Halim, A. V., Dalimoenthe, I., &
Kabelen, M. C. S. (2025). Optimalisasi Strategi Satgas PPKS UNJ dalam Membangun
Kultur Anti Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus. SASKARA: Indonesian
Journal of Society Studies, 5(01), 338–356.
https://doi.org/10.21009/saskara.051.04
Junaenah, I., Hermawan, H., Samodro, S.,
& ... (2023). Accessibility to Religious Information for Persons with Hard
of Hearing (HOH): Visualization of Signs in the Pusdai Complex of West Java. Jurnal
…. https://ejournal.balitbangham.go.id/index.php/ham/article/view/3548
Kristyaningsih, P. (2021). PENERAPAN
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP. Jurnal Ilmu Kesehatan,
10(1), 57. https://doi.org/10.32831/jik.v10i1.377
Maris, A. W. I., & Rahmi, I. (2022).
Strategi lembaga pendidikan tinggi inklusif dalam meningkatkan kemampuan kerja
mahasiswa difabel : Praktik baik di Indonesia. Seminar Nasional Inovasi
Vokasi, 1(1), 106–115.
http://prosiding-old.pnj.ac.id/index.php/sniv/article/
Meirista, E., Rahayu, M., & Lieung,
K. W. (2020). Analisis penggunaan model think talk and write berbantuan video
pada mahasiswa disabilitas. Jurnal Pendidikan Edutama, 7(2), 9.
https://doi.org/10.30734/jpe.v7i2.727
Mujab, S., Budhi, H. S., & Alfiya,
N. (2025). Pembentukan Komunitas Dalam Penguatan Karakter Kebangsaan Berbasis
Moderasi Beragama Bagi Mahasiswa Di Kabupaten Kudus. Community Development:
Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 8(2), 174.
https://doi.org/10.21043/cdjpmi.v8i2.31904
Prastiwi, H. B., & Huwae, A. (2025).
Berjuang Ditengah Kesulitan: Potret Academic Well-being Mahasiswa Difabel di
Perguruan Tinggi Inklusif. Bulletin of Counseling and Psychotherapy, 7(1).
https://doi.org/10.51214/002025071234000
Putra, I. N. T. A., Kartini, K. S.,
Suyitno, Y. K., Sugiarta, I. M., & Puspita, N. K. E. (2023). Penerapan
Library Tensorflow, Cvzone, dan Numpy pada Sistem Deteksi Bahasa Isyarat Secara
Real Time. Jurnal Krisnadana, 2(3), 412–423.
https://doi.org/10.58982/krisnadana.v2i3.335
Riswari, F., Yuniarti, N., Ediyanto, E.,
& Sunandar, A. (2021). Implementasi Lingkungan Belajar yang Inklusif
sebagai Wujud Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi. Ilmu Pendidikan:
Jurnal Kajian Teori Dan Praktik Kependidikan, 6(2), 85.
https://doi.org/10.17977/um027v6i22021p085
Rohman, B. N. (2018). Pelaksanaan
Pembelajaran Bina Wicara Bagi Siswa Tunarungu di SLB Negeri 2 Bantul. Jurnal
Widia Ortodidaktika, 7(6), 662–675.
Septiani, F., Saputri, A., Hidayat
Baeha, A., Mutianda, L., & Tamara, R. (2024). Analisis Perbandingan
Pengalaman Kesehatan Mental antara Mahasiswa Perantau dan Lokal. Adijaya
Jurnal Multidisiplin, 03, 115–124.
https://e-journal.naureendigition.com/index.php/mj
Syamzaimar. (2025). Pengaruh Media
Sosial terhadap Sikap Nasionalisme Mahasiswa dalam Konteks Pendidikan
Kewarganegaraan. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(2),
917–925. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1255