Thursday, February 5, 2026

Kegiatan Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Proses Pembelajaran Sekolah Dasar Negeri 050 Cibiru Kota Bandung

Activities for the Actualization of Pancasila Values in the Learning Process at State Elementary School 050 Cibiru, Bandung City

Dio Ramadhan1, Reysheeka Kayla Fitriani Adriansyah2, Femi Chantika Putri3, Salwa Marsyadina4, Susan Salsabila5, Dendi Tegar Deristianzah6, Muhammad Ikhwan Hanif7, Angka Wijaya Eka8, Miqdar Shibghotullah9, Hanif Muwahhid Maris10, Dian Herdiana11

Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Link: https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/NJPC/article/view/4879 

Abstrak

Penanaman nilai-nilai Pancasila sejak jenjang sekolah dasar merupakan langkah strategis dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila melalui proses pembelajaran berbasis permainan pada siswa kelas V SD Negeri 050 Cibiru Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif yang berfokus pada internalisasi nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui ceramah, diskusi, tanya jawab, contextual learning, serta role play yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dan aplikatif dalam memahami makna setiap sila. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan keberanian siswa dalam berpendapat, membangun sikap toleransi, menghargai perbedaan, serta mempraktikkan gotong royong dalam aktivitas kelas. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan dapat mengaitkan nilai Pancasila dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran berbasis permainan dinilai efektif dalam menguatkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila pada peserta didik sekolah dasar, serta dapat direkomendasikan sebagai strategi alternatif dalam pendidikan karakter.

Kata Kunci: Pancasila, Pembelajaran Berbasis Permainan, Pendidikan Karakter, Sekolah Dasar, Aktualisasi Nilai

Abstract

The cultivation of Pancasila values from elementary school is a strategic step in shaping the character of the nation’s future generation. This study aims to describe how activities that promote Pancasila values are implemented through game-based learning for fifth-grade students at SD Negeri 050 Cibiru, Bandung City. The method used is Classroom Action Research (CAR) with a qualitative approach focused on internalizing the values of Divinity, Humanity, and Unity. Learning activities included lectures, discussions, Q&A sessions, contextual learning, and role-play, which allowed students to actively and practically engage in understanding each principle. The results indicate that the game-based learning model can boost students’ confidence in sharing opinions, foster tolerance, appreciate differences, and practice mutual cooperation during class activities. Additionally, students showed high enthusiasm and were able to connect Pancasila values to everyday life. Therefore, game-based learning is effective in reinforcing understanding and appreciation of Pancasila values among elementary students and can be recommended as an alternative method in character education.

Keywords: Pancasila, Game-Based Learning, Character Education, Elementary School, Value Actualization.

PENDAHULUAN

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang   terkandung di dalamnya menjadi pedoman dalam bersikap, berpikir, dan bertindak bagi seluruh warga negara, termasuk peserta didik di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini, khususnya di jenjang Sekolah Dasar (SD), menjadi hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter generasi muda. Peserta didik kelas 5 SD berada pada tahap perkembangan kognitif konkret-operasional, yaitu tahap di mana anak lebih mudah memahami sesuatu yang bersifat nyata, dapat dilihat, dan dialami langsung. Pada tahap ini, pembelajaran yang hanya bersifat teori dan hafalan cenderung kurang efektif. Anak-anak membutuhkan pengalaman belajar yang aktif, menyenangkan, dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang kreatif, menarik, serta melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.

   Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah pembelajaran berbasis permainan (game-based learning). Metode ini memanfaatkan permainan edukatif sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran. Melalui permainan, siswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai pendapat  orang lain, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang  dada. Nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila, seperti nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Dengan adanya pembelajaran berbasis permainan, nilai-nilai Pancasila tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga langsung dipraktikkan dalam suasana yang menyenangkan dan bermakna. Hal ini membuat peserta didik lebih mudah memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam  kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di  rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

SD Negeri 050 Kota Bandung memiliki komitmen yang kuat dalam membentuk karakter peserta didik melalui penguatan nilai-nilai Pancasila. Namun, penanaman nilai tersebut tidak boleh dilakukan secara verbalistik atau hanya berupa nasihat dan hafalan semata. Nilai-nilai Pancasila harus dihadirkan dalam bentuk kegiatan yang kontekstual, aplikatif, dan sesuai dengan dunia anak. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran berbasis permainan menjadi salah satu alternatif yang potensial untuk mendukung tujuan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis efektivitas program aktualisasi dengan judul “Kegiatan Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Proses Pembelajaran Berbasis Permainan di Kelas 5 SD Negeri 050 Kota Bandung”. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana kegiatan pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila pada peserta didik, serta menjadi referensi bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berorientasi pada penguatan karakter.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dipakai dalam artikel ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Metode ini bertujuan untuk memahami berbagai gejala yang muncul pada siswa saat menerapkan nilai-nilai Pancasila, terutama pada nilai-nilai dari sila pertama, kedua dan ketiga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mencatat dan mendeskripsikan situasi yang sedangmberlangsung. Pendekatan kualitatif ini lebih mudah disesuaikan dan responsif terhadap pola nilai yang dihadapi.

Kami memperkenalkan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila, mengenalkan nilai dari kelima sila tersebut dan menjelaskan bagaimana isi pancasila penting dalam kehidupan sehari hari. Siswa-siswa yang kami bimbing berlokasi di SDN 050 Cibiru Kota Bandung, dengan jumlah anggota kami ada 10 orang, yang terdiri dari:

Dendi Tegar Daristianzah dan Femi Chantika Putri bertugas membuka acara dengan berdoa dan memberi beberapa kata sambutan juga sebagai moderator untuk fasilitator lainnya. Salwa Marsadina dan Susan Salsabila bertugas melanjutkan pembukaan dengan memperkenalkan anggota kelompok kami dan memaparkan materi tentang dasar negara Indonesia yaitu pancasila juga membuka sesi diskusi untuk seluruh siswa siswi. Angka Wijaya Eka dan Muhammad Ikhwan Hanif bertugas membantu dan mendorong agar siswa siswi berani menjawab pertanyaan dari apa yang fasilitator tanyakan. Reysheeka Kayla Fitriank Adriansyah dan Dio Ramadhan bertugas memandu sebuah permainan teka teki tentang tempat ibadah yang ada di Indonesia dan Role Play untuk siswa menceritakan pengalaman mereka tentang sikap toleransi, keadilan, gotong royong, sesuai sila Pancasila. Hanif Muwahhid Maris dan Miqdar Shibghotullah bertugas mengawasi dan selalu mengarahkan anak anak agar bisa aktif selama kegiatan  berlangsung.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis efektivitas program aktualisasi dengan judul "kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran berbasis permainan di kelas 5 SD Negeri 050 Kota Bandung" dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila pada peserta didik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil kegiatan dan pembahasan dalam makalah ini berupa deskripsi mengenai pengenalan tentang dasar negara yaitu Pancasila, yang diarahkan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mengenai hal-hal dasar tentang agama; seperti macam-macam Hasil kegiatan dan pembahasan dalam makalah ini berupa deskripsi mengenai pengenalan tentang dasar negara yaitu Pancasila, yang diarahkan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mengenai hal-hal dasar tentang agama; seperti macam-macam agama yang ada di Indonesia serta tempat ibadah dari agama tersebut, toleransi terhadap sesame, menghargai setiap perbedaan (ras, suku, dan budaya), bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat dan melakukan musyawarah untuk mengambil keputusan bersama.

Gambaran Umum

Dasar negara adalah seperangkat nilai, prinsip, dan cita-cita yang disepakati bersama oleh seluruh rakyat untuk menjadi pedoman hidup bernegara. Di Indonesia, dasar negara ini dirumuskan dalam bentuk Pancasila yang memiliki lima sila. Pancasila bukan hanya lambang burung garuda, melainkan benar-benar menjadi jiwa bangsa Indonesia sejak negara ini merdeka pada 17 Agustus 1945.

Pancasila adalah suatu ideologi dan dasar dari negara pancasila yang menjadi tumpuan dari semua keputusan yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia. Yang juga dimana pancasila juga merepresentasikan kepribadian dari bangsa Indonesia itu sendiri. Kata pancasila berawal dari sebuah bahasa sanserkerta India, yaitu kata panca yang berarti lima, sedangkan kata sila memiliki arti dasar. Jadi istilah pancasila menurut setiap arti katanya adalah lima dasar, yang kemudian dibuatkan masing-masing lambang dari pancasila tersebut yang berjumlah lima, serta isi dari pancasila ini juga berjumlah 5 sesuai arti kata pancasila tadi.

Gambaran Umum

Dasar negara adalah seperangkat nilai, prinsip, dan cita-cita yang disepakati bersama oleh seluruh rakyat untuk menjadi pedoman hidup bernegara. Di Indonesia, dasar negara ini dirumuskan dalam bentuk Pancasila yang memiliki lima sila. Pancasila bukan hanya lambang burung garuda, melainkan benar-benar menjadi jiwa bangsa Indonesia sejak negara ini merdeka pada 17 Agustus 1945.

Pancasila adalah suatu ideologi dan dasar dari negara pancasila yang menjadi tumpuan dari semua keputusan yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia. Yang juga dimana pancasila juga merepresentasikan kepribadian dari bangsa Indonesia itu sendiri. Kata pancasila berawal dari sebuah bahasa sanserkerta India, yaitu kata panca yang berarti lima, sedangkan kata sila memiliki arti dasar. Jadi istilah pancasila menurut setiap arti katanya adalah lima dasar, yang kemudian dibuatkan masing-masing lambang dari pancasila tersebut yang berjumlah lima, serta isi dari pancasila ini juga berjumlah 5 sesuai arti kata pancasila tadi.

Pada kesempatan kali ini, kami menggunakan sila pertama, kedua, dan ketiga sebagai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sila pertama Pancasila, yaitu 'Ketuhanan yang Maha Esa' memiliki makna bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebebasan untuk menganut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya, mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang antar sesama manusia

Indonesia, antar bangsa, maupun dengan makhluk iptaan Tuhan yang lainnya. Sila kedua Pancasila, yaitu ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ berarti, tiap-tiap manusia diakui dan diperlakukan sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam kata lain, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban asasi yang sama. Hak dan kewajiban ini sama, baik di hadapan hukum maupun pemerintahan. Alhasil, faktor-faktor pembeda seperti suku, agama, kepercayaan, keturunan, jenis kelamin, maupun kedudukan sosial tidak berpengaruh. Sila ketiga Pancasila,

yaitu ‘Persatuan Indonesia’ bahwasanya, biarpun Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa, agama, bahasa, dan status sosial yang berbeda, semuanya berada di bawah payung nama 'bangsa Indonesia'. Sebuah bangsa yang menempati wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berbicara dengan bahasa persatuan.

SD Negeri 050 Cibiru tempat kami melaksanakan penelitian atau kegiatan aktualisasi ini, dalam proses pembelajarannya dirancang berdasarkan referensi digital yang kami temukan di platform TikTok, terutama konten edukasi yang membahas nilai-nilai Pancasila dan strategi pembelajaran untuk anak sekolah dasar. Dengan jumlah siswa yang kami pegang dua kelas, dalam satu kelas berjumlah 25 orang serta tenaga pengajar 5 orang. Adapun kisaran usia para siswa yakni 10-11 tahun.

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 050 Cibiru, yang beralamatkan di Jl. A.H. Nasution Km.14,5 Cibiru, Pasir Biru, Kec. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1987 dengan status akreditasi A yang dikenal sebagai sekolah yang memiliki kualitas pendidikan baik dan didukung oleh tenaga pendidik yang kompeten. Sebagai sekolah negeri, SDN 050 Cibiru menyelenggarakan pembelajaran untuk siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan menerapkan kurikulum nasional. Lingkungan sekolahnya cukup kondusif dan dirancang agar siswa dapat belajar dengan nyaman, aktif, dan berkarakter. Selain itu, sekolah ini juga menjadi pilihan masyarakat sekitar karena aksesnya yang mudah dan fasilitasnya yang memadai. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada Rabu, 5 November 2025, pukul 10.00 - 12.00 WIB.

METODE PELAKSANAAN

Metode pembelajaran ceramah merupakan teknik penyampaian materi oleh pengajar secara langsung kepada peserta didik dengan

tujuan memberikan pemahaman secara sistematis dan jelas. Contohnya dalam kegiatan pembelajaran ini, fasilitator membuka sesi dengan menyampaikan tujuan pembelajaran serta menjelaskan kelima sila Pancasila secara singkat beserta maknanya, dan memberikan penguatan serta contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila. Metode ceramah efektif untuk menyampaikan informasi dasar yang perlu dipahami secara menyeluruh.

Selanjutnya, metode tanya jawab digunakan untuk mengaktifkan peserta didik dengan mengajukan pertanyaan yang mendorong mereka mengingat pengalaman pribadi atau pengetahuan sebelumnya. Dalam pembelajaran ini, apersepsi dilakukan dengan fasilitator menanyakan pengalaman siswa terkait sikap gotong royong, kejujuran, atau toleransi. Metode ini membangun hubungan antara materi dan pengalaman siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.

Metode diskusi adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan interaksi antara peserta didik untuk bertukar pikiran dan membahas suatu topik secara bersama-sama. Dalam kegiatan ini, siswa diajak berdiskusi tentang contoh sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah dan masyarakat, serta melanjutkan diskusi tentang penerapan sila Pancasila, seperti sikap membantu teman yang kesulitan pada sila kedua tentang kemanusiaan, dan sikap toleransi pada sila pertama tentang ketuhanan. Diskusi membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menghargai pendapat orang lain, dan memperdalam pemahaman materi.

Terakhir, metode pembelajaran kontekstual menekankan keterkaitan materi dengan pengalaman di kehidupan nyata siswa agar pembelajaran lebih bermakna dan aplikatif. Contohnya adalah saat siswa dan fasilitator merefleksikan apa yang dipelajari hari itu, dan melalui aktivitas bermain peran (role play) yang mengajak siswa untuk menceritakan pengalaman mereka tentang sikap toleransi, keadilan, dan gotong royong dengan cara yang menyenangkan seperti sambil bernyanyi lagu nasional dan memutar spidol. Metode ini membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara praktis dan menyenangkan.

Dengan menggabungkan berbagai metode ini, proses pembelajaran menjadi lebih variatif, interaktif, dan efektif dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada siswa.

Kegiatan Pembelajaran

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa mekanisme yang kami terapkan adalah metode diskusi, kontekstual (pengalaman), tanya jawab, dan penyampaian materi (ceramah). Didasari pada hal tersebut, kami membuat proses pembelajaran yang mengakomodasikan hal tersebut seperti:

 1.  Memahami Tujuan Pembelajaran

Pada awal kegiatan, fasilitator membuka pembelajaran dengan menjelaskan secara sederhana apa yang akan dipelajari hari itu. Fasilitator menyampaikan bahwa topik kali ini adalah mengenai nilai-nilai Pancasila dan bagaimana nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembukaan ini, siswa jadi paham arah kegiatan dan lebih siap mengikuti proses belajar.

 

Gambar 1. Kegiatan Penyampaian Tujuan Pembelajaran Kelas 5 A

Gambar 2. Kegiatan Penyampaian Tujuan Pembelajaran Kelas 5 B

2. Membangun Keterkaitan dengan Pengalaman Pribadi

Setelah itu fasilitator melakukan apersepsi agar siswa menghubungkan materi dengan pengalaman mereka sendiri. Fasilitator  menanyakan contoh sikap seperti gotong royong, jujur, saling menghargai, dan toleransi yang pernah mereka alami, baik di rumah maupun di sekolah. Dari kegiatan ini, siswa mulai menyadari bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya sudah sering mereka lakukan tanpa mereka sadari.

 

Gambar 3. Kegiatan Membangun Keterkaitan Pribadi Kelas 5 A

Gambar 4. Kegiatan Membangun Keterkaitan Pribadi Kelas 5 B

3. Mengenal dan Memahami Isi serta Makna Pancasila pada sila ke 1, 2, dan 3

Pada tahap berikutnya, Fasilitator  menjelaskan materi pancasila pada dila 1, 2, dan 3 menggunakan bahasa yang sederhana, contoh yang dekat dengan kehidupan mereka, dan visual yang mudah dipahami. Penjelasan ini membantu siswa memahami makna setiap silanya, bukan hanya menghafal urutannya.

Gambar 5. Kegiatan dan Memahami Isi serta Makna Pancasila Pada sila ke 1, 2, dan 3 Kelas 5 A

Gambar 6. Kegiatan dan Memahami Isi serta Makna Pancasila Pada sila ke 1, 2, dan 3 Kelas 5 B

4. Mampu Memberi Contoh Sikap Pancasila pada sila ke 1,2, dan 3

Dalam sesi diskusi, Fasilitator meminta siswa menyebutkan contoh nyata sikap yang sesuai dengan nilai Pancasila pada sila ke 1, 2, dan 3 Misalnya, membantu teman yang kesulitan, tidak mengejek teman yang berbeda agama, ikut kerja bakti, atau menjaga kebersihan kelas. Dari sini terlihat bahwa siswa mampu mengaitkan teori dengan situasi sehari-hari.

Gambar 7. Kegiatan Memberi contoh Sikap pancasila pada sila ke 1,2, & 3 Kelas 5 A

Gambar 8. Kegiatan Memberi contoh Sikap pancasila pada sila ke 1,2 dan 3 Kelas 5 B

5. Mendapat Penguatan Nilai

Untuk memperkuat pemahaman mereka, Fasilitator menambahkan beberapa contoh dari tokoh nasional maupun pengalaman pribadi yang relevan. Tujuannya supaya siswa memahami bahwa nilai-nilai Pancasila bukan hanya teori, tapi juga pedoman hidup yang penting diterapkan oleh siapa pun.

Gambar 9. Kegiatan Mendapat Penguatan Nilai Kelas 5 A

Gambar 10. Kegiatan Mendapat Penguatan Nilai Kelas 5 B.

6. Merefleksikan Pembelajaran

Di akhir kegiatan, Fasilitator mengajak siswa melakukan refleksi sederhana. Mereka diminta menyebutkan nilai apa saja yang sudah mereka terapkan selama ini serta memberikan sedikit apresiasi dengan di berikan sedikit hadiah yang telah fasilitator siapkan, serta hal apa yang ingin mereka perbaiki. Dari kegiatan refleksi ini, siswa bisa memahami perkembangan diri mereka.

Gambar 11. Kegiatan Mereflesikan Pembelajaran Kelas 5 A

Gambar 12.  Kegiatan Mereflesikan Pembelajaran Kelas 5 B

7. Meningkatkan Rasa Nasionalisme dan Interaksi Sosial

Sebagai penutup, Fasilitator melakukan kegiatan role play dan aktivitas ringan seperti bernyanyi atau bercerita yang berkaitan dengan nilai Pancasila. Selain membuat suasana belajar lebih menyenangkan, kegiatan ini juga melatih siswa untuk berani berbicara, mendengarkan teman, dan saling menghargai pendapat.

Gambar 13. Kegiatan Meningkatkan Rasa Nasionalisme dan Interaksi sosial Kelas 5 A.

Gambar 14. Kegiatan Meningkatkan Rasa Nasionalisme dan Interaksi Sosial Kelas 5 B 

SIMPULAN

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di SD Negeri 050 Cibiru menunjukkan bahwa pengenalan dan penguatan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama, kedua, dan ketiga, dapat berjalan dengan efektif apabila disampaikan melalui metode yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran yang memanfaatkan pendekatan berbasis permainan, interaksi langsung, serta dukungan media digital membuat siswa lebih mudah memahami konsep penting seperti toleransi, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan. Lingkungan sekolah yang kondusif, tenaga pendidik yang kompeten, serta kesiapan fasilitas turut mendukung kelancaran proses pembelajaran. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil menumbuhkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai dasar negara dan membantu mereka mengaitkannya dengan perilaku sehari-hari.

SARAN

Agar kegiatan serupa dapat semakin optimal, diperlukan pengembangan metode pembelajaran yang lebih variatif sehingga siswa tetap antusias dan mampu memahami nilai-nilai Pancasila secara mendalam. Keterlibatan guru dalam proses kegiatan juga penting agar materi yang diberikan dapat terintegrasi dengan pembelajaran rutin di kelas. Pengembangan media edukatif mandiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, akan memperkuat efektivitas penyampaian materi. Selain itu, pelaksanaan evaluasi sederhana diperlukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah kegiatan berlangsung. Kegiatan lanjutan yang berfokus pada praktik nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari juga disarankan agar pembentukan karakter siswa dapat berlangsung secara berkesinambungan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada pihak sekolah SDN 050 Cibiru Kota Bandung yang telah mengizinkan kami untuk melaksanakan kegiatan aktualisasi ini, juga kepada dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila, Dian Herdiana, S.I.P., M.A.P. yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan yang positif. Serta seluruh rekan kelompok yang telah berkontribusi mengerjakan semua kegiatan dan artikel ini sampai selesai, juga seluruh pihak yang terlibat. Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila pada program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun Akademik 2025/2026.


REFERENSI

ppkn. 2024. “Pancasila: Pengertian, Sejarah, Makna, Tujuan, Dasar, Bunyi, Fungsi.” PPKN.CO.ID. August 26, 2024.

Thalatie Yani. 2025. “Dasar Negara Indonesia Pengertian Pancasila Dan 4 Fungsi Utamanya Bagi Bangsa.” Mediaindonesia.com. November 24, 2025

Trisna Wulandari. 2021. “Makna Sila Pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa, Ini Penjelasannya.” Detikedu. detikcom. July 17, 2021.

Akashi, Nur Umar. 2024. “Makna Sila-Sila Pancasila Dan Contoh Penerapan Dalam Kehidupan Sehari-Hari.” Detikjogja. detikcom. July 25, 2024

Kaelan. 2017. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

Samani, Muchlas & Hariyanto. 2012. Pendidikan Karakter: Konsep dan Model. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kemendikbud. 2017. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK): Pedoman Umum. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Arikunto, Suharsimi. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat, Rahmat. 2020. “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara 5(2): 112–120.

Suyadi. 2019. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

 

Penyuluhan Pembuatan Permen dan Teh dari Kayu Manis di Kelurahan Antirogo Kabupaten Jember


Dina Trianggaluh Fauziah1, Dyan Wigati2, Ayu Angger Putri M.Sholeh3, Moch Rafa Firdaus4, Brian Sapta Nuriandra5, Ika Oktavianawati6, Atok Ainur Ridho7

1,2,3,4,5 Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas dr. Soebandi, Indonesia

6 Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember, Indonesia

7 Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhamammadiyah Jember, Indonesia

E-mail: dinatrianggaluhfauziah@uds.ac.id

 

Abstrak

Pemanfaaatan bahan alam sebagai obat telah digunakan sejak jaman dahulu sebagai upaya pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan. Bahan alam seperti kayu manis memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan polifenol yang diduga memiliki manfaat sebagai antiinflamasi, antibakteri, antioksidan dan antikanker. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk mengajarkan kepada masyarakat membuat sediaan permen dan teh berbahan kayu manis yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan materi dan dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan. Hasil evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa 92% peserta puas dengan materi yang diberikan oleh tim pelaksana, hal ini juga menunjukkan bahwa materi penyuluhan yang diberikan dapat memberikan informasi baru dan manfaat kepada masyarakat serta harapannya dari kegiatan ini nantinya dapat diaplikasikan oleh masyarakat dan dapat rutin dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didaerah tersebut untuk menambah wawasan masyarakat setempat tentang pemanfaatan bahan alam.

Kata kunci : Kayu Manis, Permen, Teh

Abstract

The use of natural ingredients as medicine has been practiced since ancient times as a means of maintaining health, preventing disease, and treating illness. Natural materials such as cinnamon contain secondary metabolites such as flavonoids and polyphenols, which are believed to have anti-inflammatory, antibacterial, antioxidant, and anticancer properties. The purpose of this community service activity is to teach the community how to make cinnamon-based candy and tea that can be consumed by children and adolescents. The method used is material counseling followed by activity evaluation. The results of the evaluation of this community service activity showed that 92% of participants were satisfied with the material provided by the implementation team. This also shows that the educational material provided can give new information and benefits to the community. It is hoped that this activity can be applied by the community and that community service activities can be carried out regularly in the area to increase the local community's knowledge about the use of natural ingredients.

Keywords : Cinnamomum burmannii, Candy, Tea

 

PENDAHULUAN  

Pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dan pembangunan dalam sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.  (Kemenkes RI, 2016). Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat ini dapat dilakukan dengan pelayanan kesehatan tradisional menggunakan bahan alam yang banyak tumbuh di Indonesia. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat lengkap. Beragam jenis tanaman obat dapat tumbuh dengan subur dan tanaman obat ini menjadi bahan utama dalam pembuatan jamu dan obat herbal (Priyono, 2024). Pengolahan tanaman obat dari bahan alam yang digunakan sebagai alternatif kesehatan dapat diolah menjadi produk herbal minuman yang bermanfaat untuk kesehatan (Fauziah dan Isnawati, 2023).

Saat ini, minat generasi muda, baik anak-anak maupun remaja, terhadap konsumsi jamu atau ramuan herbal tradisional terus menurun. Mereka cenderung lebih memilih jajanan modern yang tinggi gula dan minim manfaat kesehatan karena rasa jamu yang identik dengan pahit dan tampilan yang kurang menarik. Padahal, kekayaan rempah Indonesia seperti kayu manis memiliki potensi besar sebagai agen anti-inflamasi alami yang sangat bermanfaat untuk mendukung kesehatan fisik mereka di masa pertumbuhan kesehatan (Astika, 2022); (Yuwanda, et. al., 2023); (Fadhlurrohman, et. al., 2023).

Khusus bagi remaja di Kelurahan Antirogo, masalah nyeri haid (dysmenorrhea) seringkali mengganggu aktivitas harian. Kayu manis hadir sebagai solusi alami untuk meredakan peradangan dan nyeri tersebut jika dikonsumsi dalam bentuk teh hangat. Namun, tantangannya adalah bagaimana menyajikan ramuan herbal ini agar bisa diterima oleh selera remaja dan anak-anak. Jika tidak ada inovasi dalam cara penyajiannya, warisan pengobatan alami ini akan semakin ditinggalkan oleh generasi muda di Antirogo.

Oleh karena itu, program pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan para ibu di Kelurahan Antirogo melalui pelatihan pembuatan permen dan teh kayu manis. Dengan mengubah kayu manis menjadi permen yang disukai anak-anak serta teh kesehatan yang relevan untuk kebutuhan remaja, para ibu dapat menyediakan asupan sehat buatan sendiri di rumah. Melalui langkah ini, diharapkan kesehatan keluarga dapat terjaga secara mandiri dan kebiasaan mengonsumsi herbal dapat kembali dihidupkan dengan cara yang lebih menyenangkan dan kekinian.

Melalui kegiatan pengabdian ini juga, tim pelaksana memberikan solusi berupa penyuluhan dan pelatihan pembuatan permen serta teh berbasis kayu manis. Inovasi pengolahan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah (value-added) kayu manis sehingga menjadi produk yang lebih menarik dan memiliki daya jual lebih tinggi. Dengan membekali warga Antirogo melalui keterampilan praktis dan pemahaman tentang manfaat kesehatan produk tersebut, diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan varian produk lokal unggulan yang khas dari Kabupaten Jember.

 

METODE

Tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan metode penyuluhan dengan menyampaikan teknik pembuatan permen dan teh kayu manis, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan evaluasi hasil pelaksanaan. Berikut ini tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat :

1.       Tahap persiapan

Tahapan persiapan diawali oleh tim pengabdian melakukan survey pada tempat lokasi pengabdian dan berkoordinasi dengan perangkat desa setempat yang kemudian diteruskan kepada ibu-ibu kader PKK sebagai peserta. Setelah mendapatkan persetujuan dan tanggal untuk pelaksanaan kegiatan, tim pelaksana pengabdian kemudian melanjutkan dengan membuat video dan materi untuk penyuluhan pembuatan permen dan teh kayu manis.

2.       Tahap pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan dilakukan dengan memberikan materi penyuluhan terkait pemanfaatan kayu manis, lalu dilanjutkan menanyangkan video terkait tahapan dalam pembuatan permen dan teh dari kayu manis. Ibu-ibu kader PKK dan juga diberikan leaflet cara pembuatannya sambil melihat video yang ditayangkan.

3.       Tahap akhir

Tahapan akhir yaitu dengan evaluasi yang dilakukan dengan memberikan kuesioner mengenai kepuasan peserta terhadap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan. Tanya jawab juga dilakukan kepada peserta oleh tim pelaksana untuk mengetahui bahwa peserta memahami dan mampu menjelaskan terkait materi penyuluhan yang telah diberikan sebelumnya.

Berikut ini bagan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat :

Gambar 1. Bagan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lokasi tempat kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Kelurahan Antirogo Kabupaten Jember dengan peserta yaitu perwakilan Ibu-Ibu PKK dari tiap Desa di Kelurahan Antirogo sebanyak 25 orang. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada hari minggu 09 November 2025 pukul 09.00 hingga selesai. Lokasi pengabdian kepada masyarakat terlihat pada gambar 2 berikut:

Gambar 2. Lokasi Pengabdian Kepada Masyarakat

Penggunaan tumbuhan berkhasiat obat atau yang lebih dikenal dengan jamu atau herbal telah lama dikenal oleh masyarakat, jamu-jamuan ini banyak diproduksi dan dikemas secara modern, salah satunya menggunakan tumbuhan yang berkhasiat obat seperti kulit kayu manis (Materia medika batu, 2018).

Kayu manis memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan polifenol (Liana, 2025) dan kayu manis memiliki kandungan senyawa kimia yaitu asam sinamat, eugenol, cinnamaldehyde, kumarin yang diduga dapat digunakan sebagai antiinflamasi, antibakteri, antioksidan, antikanker (Gracia, 2024). Menurut penelitian dari Hayani et al., 2025 terkait kayu manis yang diseduh dan dikonsumsi rutin selama 1 minggu terdapat perbedaan signifikan pada gula darah responden sebelum dan sesudah mengkonsumsi seduhan kayu manis.

Pada tahap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan memberikan materi penyuluhan terkait pembuatan permen dan teh kayu manis dan Ibu-ibu PKK diberikan leaflet cara pembuatannya seperti pada gambar 3 serta peserta melihat video yang ditayangkan oleh tim pelaksana kegiatan agar lebih memahami teknik pembuatannya dan kegiatan penyuluhan yang dilakukan terlihat pada gambar 4.

Gambar 3. Leaflet Penyuluhan Pembuatan Permen dan Teh Kayu Manis

Gambar 4. Penyuluhan Pembuatan Permen dan Teh Kayu Manis

Pada tahap akhir yaitu evaluasi kegiatan yang dilakukan terkait kepuasan peserta terhadap kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dengan cara peserta mengisi kuesinoer yang diberikan oleh tim pelaksana kegiatan, terlihat seperti pada gambar 5 bahwa 92% peserta puas dengan materi yang diberikan dan harapannya manfaat dari kayu manis ini dapat bermanfaat dan dapat dikonsumsi anak-anak dan remaja yang kurang suka dengan olahan bahan alam yang berbau khas dan beraroma rempah-rempah. Evaluasi kegiatan ini meliputi materi kegiatan, waktu pelaksanaan, teknik penyampaian materi dan manfaat kegiatan.

Kegiatan tanya jawab dengan peserta juga dilakukan untuk mengukur secara langsung bahwa peserta memahami dan mampu menjelaskan terkait materi penyuluhan yang diberikan oleh tim pelaksana dan dalam kegiatan tanya jawab ini peserta aktif dalam menjawab pertanyaan secara langsung yang diberikan oleh tim pelaksana yang menandakan bahwa peserta antusias dan menyimak penyuluhan dari awal kegiatan hingga akhir kegiatan.

Gambar 5. Grafik Evaluasi Kepuasan Peserta

 

SIMPULAN

Kegiatan penyuluhan pembuatan permen dan teh dari kayu manis di Kelurahan Antirogo Kabupaten Jember mendapatkan antusias yang baik dari peserta yaitu ibu-ibu PKK perwakilan dari tiap Desa di Kelurahan Antirogo. Evaluasi kepuasan peserta terkait materi penyuluhan yang diberikan adalah 92% menyatakan puas bahwa materi yang diberikan dapat memberikan informasi dan wawasan baru bagi peserta terkait kayu manis. Informasi terkait bahan alam yaitu kayu manis yang belum banyak diketahui oleh peserta selain dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada minuman namun juga dapat dibuat sebagai permen dan teh yang tidak hanya dikonsumsi oleh orang dewasa namun dapat dikonsumsi anak-anak dan remaja karena manfaatnya dapat digunakan sebagai antiinflamasi, antibakteri, antioksidan dan antikanker. Harapan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini kedepannya agar masyarakat bisa mengaplikasikan penggunaan bahan alam dilingkungan sekitarnya dan dapat membuat produk makanan maupun minuman dari bahan alam.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada Ibu-ibu Kader PKK perwakilan dari tiap Desa di Kelurahan Antirogo Kabupaten Jember yang meluangkan waktunya di hari libur untuk mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Terimakasih kepada Universitas dr. Soebandi yang telah mendukung program pengabdian kepada masyarakat ini. Terimakasih juga disampaikan kepada seluruh tim pelaksana yang terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.

 

REFERENSI

Astika, R., Y. (2022). Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmanni). Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi dan Kesehatan. 8(1):14-23.

Fadhlurrohman, I., Wulandari, C., Al-Ryadhl, M., R. (2023). Diversifikasi Produk Susu Fermentasi dengan Pemanfaatan Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) sebagai Inovasi Pangan Fungsional. In: Prosiding Seminar Nasionl Pembangunan Dan Pendidikan Vokasi Pertanian.

Fauziah, D., T., Isnawati, N. (2023). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembuatan Produk Menggunakan Bahan Alam. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN). Vol.3 No.2. 2 Februari 2023 page 2178-2181. e-ISSN: 2745 4053.

Fensynthia, Gracia. (2024). 10 Manfaat Kayu Manis Untuk Kesehatan. Diakses dari: https://www.alodokter.com/manfaat-kayu-manis-belum-sepenuhnya-manis#:~:text=Manfaat%20kayu%20manis%20cukup%20beragam,%2C%20kue%20kering%2C%20atau%20minuman.

Hayani, N., Suryati B., Zulkarnaini, Azwarni, Ramadhani Y. (2025). Efektifitas Seduhan Kayu Manis Terhadap Kadar Gula Darah Pada Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Langsa Barat. Jurnal SAGO Dizi dan Kesehatan; 6(1) April.

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Liana, Verdini. (2025). Profil Metabolit Sekunder Kulit Kayu Manis Dan Potensi Cookies Cinnamon Pada Model Tikus Diabetes Melitus. Disertasi. IPB Program Studi Ilmu Gizi. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160548.

Maslahah, N., dan Nurhayati, H. (2023). Kandungan Senyawa Bioaktif dan Kegunaan Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmannii). Vol. 1 No. 3 (2023): Warta BSIP Perkebunan. Diakses dari: https://epublikasi.pertanian.go.id/berkala/wartabun/article/view/3458.

Materia Medika Batu. (2018). Modul Workshop Pengelolaan Tanaman Obat. Dinkes Propinsi Jawa Timur UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu.

Priyiono, W. (2024). Mengenal Tanaman Obat Keluarga. Diakses dari: https://ditwasotsk.pom.go.id/post/mengenal-tanaman-obat-keluarga.

Yuwanda, A., Adina, A., B., Budiastuti, R., F. (2023). Kayu Manis (Cinnamomum burmannii (Nees & T. Nees) Blume): Review tentang Botani, Penggunaan Tradisional, Kandungan Senyawa Kimia, dan Farmakologi. J Pharm Halal Stud. 1(1):17-22. https://doi.org/10.70608/3mk0s904.